📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISA FAKTOR FINANSIAL, SOSIO-RELIGIUS, DAN SPASIAL DALAM INTENSI DAN PREFERENSI LOKASI INVESTASI RESIDENSIAL DI WILAYAH SUBURBAN JAKARTA
Investasi properti residensial di Indonesia terus mengalami pertumbuhan seiring dengan urbanisasi, perluasan kawasan suburban, dan pembangunan infrastruktur berskala besar, khususnya di wilayah metropolitan Jakarta. Kawasan suburban Jakarta semakin menarik bagi investor privat dan rumah tangga karena meningkatnya permintaan hunian, pengembangan jaringan transportasi, serta peluang untuk memperoleh keuntungan melalui apresiasi harga dan pendapatan sewa. Namun demikian, penelitian akademik yang ada masih cenderung membahas investasi properti residensial secara terpisah, baik dari sisi finansial yang menekankan imbal hasil, maupun dari sisi spasial yang berfokus pada atribut lokasi. Penelitian perilaku investasi juga umumnya terbatas pada pengukuran intensi investasi secara umum, tanpa menjelaskan bagaimana intensi tersebut diwujudkan dalam preferensi lokasi yang spesifik. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman mengenai keterkaitan antara faktor finansial, sosio- religius, dan spasial dalam pengambilan keputusan investasi properti residensial di konteks masyarakat mayoritas Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perilaku investasi properti residensial dengan mengembangkan kerangka perilaku–spasial yang terintegrasi. Theory of Planned Behavior (TPB) digunakan sebagai landasan untuk menganalisis pembentukan intensi investasi melalui sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku. Ekspektasi finansial terkait pertumbuhan harga dan pendapatan sewa dianalisis sebagai pembentuk sikap, karakteristik sosial dan religius lingkungan sebagai sumber norma subjektif, serta kondisi spasial seperti aksesibilitas, infrastruktur, dan perkembangan kawasan sebagai elemen persepsi kontrol perilaku. Penelitian ini mengasumsikan bahwa intensi investasi terbentuk terlebih dahulu dan selanjutnya memengaruhi preferensi lokasi, sehingga proses pengambilan keputusan dianalisis sebagai dua tahap yang berbeda namun saling berkaitan. Pendekatan metodologis yang digunakan bersifat kuantitatif dan dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap awal melibatkan pengolahan data spasial dan pasar properti di Jakarta dan wilayah suburban sekitarnya untuk membentuk indikator empiris harga, aksesibilitas, dan karakteristik lingkungan. Selanjutnya dilakukan pengelompokan wilayah untuk mengidentifikasi profil spasial dominan yang digunakan sebagai dasar penyusunan profil lokasi dalam Discrete Choice Experiment (DCE). Data survei dari investor privat dan rumah tangga kemudian dianalisis menggunakan partial least squares structural equation modeling untuk mengestimasi model TPB dan menilai pengaruh faktor finansial, sosio-religius, dan spasial terhadap intensi investasi. Pada tahap akhir, DCE digunakan untuk menganalisis preferensi investor terhadap alternatif lokasi investasi dan mengidentifikasi trade-off antar atribut lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku investasi properti residensial merupakan proses pengambilan keputusan dua tahap. Intensi investasi dipengaruhi secara signifikan oleh ekspektasi finansial, norma sosio-religius, dan persepsi kelayakan spasial, sementara preferensi lokasi mencerminkan perbedaan evaluasi investor terhadap kombinasi atribut lokasi. Integrasi TPB dan DCE menunjukkan bahwa intensi investasi yang kuat tidak selalu menghasilkan preferensi lokasi yang seragam, sehingga menegaskan adanya heterogenitas dalam perilaku investor. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dengan menghubungkan teori intensi perilaku dan pemodelan preferensi lokasi berbasis data empiris dalam konteks investasi properti residensial. Selain itu, penelitian ini menegaskan pentingnya dimensi sosio-religius dalam memahami perilaku investasi di kawasan urban dan suburban Indonesia. Secara praktis, temuan penelitian ini dapat digunakan oleh pembuat kebijakan, pengembang, dan lembaga keuangan untuk merancang strategi pengembangan dan produk investasi yang lebih selaras dengan karakteristik pasar dan nilai sosial budaya di wilayah suburban Jakarta.
MENGEMBANGKAN MODEL KETAHANAN ORGANISASI UNTUK PERUSAHAAN KONSULTANSI TEKNIK DI INDONESIA MELALUI INTEGRASI RESOURCE-BASED VIEW, DYNAMIC CAPABILITIES, TRAITS FOR RESILIENCE DAN PERSPEKTIF SUKSESI KEPEMIMPINAN
Perusahaan Konsultan Rekayasa (Engineering Consulting Firms/ECFs) di Indonesia beroperasi dalam lingkungan proyek yang dinamis dan sangat kompetitif, yang ditandai oleh fluktuasi beban kerja, hubungan klien yang bersifat personal, serta ketergantungan yang kuat pada pendiri yang sering kali juga berperan sebagai pemimpin organisasi sekaligus pakar teknis senior. Karakteristik kontekstual ini meningkatkan kerentanan perusahaan terhadap disrupsi dan menjadikan ketahanan organisasi (organizational resilience/OR) sebagai kebutuhan strategis untuk keberlanjutan jangka panjang. Meskipun studi-studi sebelumnya tentang ketahanan organisasi banyak menekankan peran sumber daya dan kapabilitas, perhatian empiris terhadap peran karakter ketahanan (traits for resilience) dan suksesi kepemimpinan masih terbatas, khususnya pada perusahaan jasa profesional di negara berkembang. Disertasi ini bertujuan untuk mengembangkan model ketahanan organisasi yang terkonseptualisasi secara kontekstual bagi ECFs di Indonesia dengan mengintegrasikan Resource for Resilience (RR), Dynamic Capabilities (DC), Traits for Resilience (TR), serta mekanisme kontekstual Leadership Succession (LS). Penelitian ini menggunakan desain metode campuran sekuensial eksplanatori. Tahap kuantitatif dilakukan dengan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) untuk menganalisis hubungan antara RR, DC, TR, dan OR berdasarkan data survei yang dikumpulkan dari para profesional ECFs. Tahap ini dilanjutkan dengan kajian kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan para pendiri, eksekutif, insinyur senior, serta perwakilan asosiasi industri guna mengeksplorasi bagaimana ketahanan organisasi diwujudkan dalam praktik. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa RR, DC, dan TR berkontribusi signifikan terhadap ketahanan organisasi, dengan TR sebagai prediktor terkuat. Temuan ini mengindikasikan bahwa ketahanan dalam perusahaan berbasis pengetahuan tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan sumber daya dan fleksibilitas adaptif, tetapi juga sangat bergantung pada pola perilaku dan dinamika relasional. Temuan kualitatif memperkaya pemahaman tersebut dengan mengungkap bagaimana RR, DC, dan TR beroperasi melalui mekanisme seperti keahlian teknis, otonomi dalam inovasi, kemampuan improvisasi, praktik komunikasi, dan kohesi tim. Secara khusus, suksesi kepemimpinan muncul sebagai mekanisme kontekstual yang memengaruhi seluruh jalur ketahanan organisasi melalui perannya dalam menjaga keberlanjutan keahlian, kepercayaan klien, kejelasan pengambilan keputusan, motivasi, serta konsistensi budaya organisasi. Variasi dalam praktik suksesi kepemimpinan menjelaskan perbedaan efektivitas transformasi RR, DC, dan TR menjadi ketahanan organisasi antar ECFs. Penelitian ini menghasilkan model ketahanan organisasi terintegrasi yang menunjukkan bahwa ketahanan terbentuk melalui interaksi antara sumber daya struktural, kapabilitas adaptif, karakter ketahanan, dan keberlanjutan kepemimpinan. Secara teoretis, studi ini memperluas perspektif Resource-Based View, Dynamic Capabilities, dan Traits for Resilience dalam konteks perusahaan konsultan rekayasa di negara berkembang, sekaligus memposisikan suksesi kepemimpinan sebagai mekanisme kontekstual yang relevan dalam kajian ketahanan organisasi. Secara praktis, temuan penelitian ini memberikan implikasi bagi penguatan pengembangan sumber daya manusia, perencanaan suksesi kepemimpinan, pelaksanaan proyek, serta tata kelola organisasi untuk meningkatkan ketahanan ECFs di Indonesia.
SOFT SYSTEMS THINKING DALAM STRATEGI PEMBERDAYAAN EKONOMI KREATIF DENGAN MEMANFAATKAN KEKAYAAN INTELEKTUAL LOKAL MELALUI PERSPEKTIF SERVICE SCIENCE: KASUS KOTA PALU, SULAWESI TENGAH
Silo Strategis dalam Ekosistem Kewirausahaan Masyarakat Adat berdampak pada penguatan sistematis Ekonomi Kreatif Tenun Donggala pada populasi di Kota Palu. Merupakan "masalah pelik" (messy problems) bagi pengrajin kain tenun Kaili Donggala untuk mengakomodasi warisan budaya selagi melawan "lingkaran kemiskinan pengrajin." Pengetahuan akan membantu sistem bergerak melampaui inisiatif top-down yang melihat adanya kesenjangan kemanusiaan dan sosial. Meskipun terdapat perlindungan hukum bersama dalam IG (Indikasi Geografis), pengrajin masih bergantung pada bahan baku, akses pasar yang terbatas, dan berjuang untuk mewariskan keahlian mereka. Penelitian ini mengasumsikan "kebutaan operasional" oleh institusi dan pendukungnya dengan bertujuan menetapkan bahwa pendekatan sistem lunak yang partisipatif dapat menyeimbangkan sistem untuk menghasilkan nilai ko-kreasi (co- creation value). Dengan demikian, komponen dan desain sistem akan dibatasi pada ekosistem Tenun Donggala serta sistem mono-struktur dan poli-struktur domestik. Penelitian studi kasus kualitatif ini menggunakan Soft Systems Methodology (SSM), Strategic Options Development and Analysis (SODA), dan Service Science. Proses penelitian meliputi evaluasi kontekstual, wawancara semi-terstruktur, dan lokakarya partisipatif dengan pemerintah provinsi dan kota, tokoh desa, distributor, serta pengrajin. Analisis data menggunakan pengkodean tematik, pemetaan kognitif, dan model konseptual CATWOE. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa aturan kota lebih mempromosikan pemasaran hilir daripada mengatasi kelangkaan bahan baku dan penghentian industri akibat adat istiadat setempat. Perlindungan HKI (Hak Kekayaan Intelektual) kolektif dan branding ikon yang dipimpin oleh kota saling bertentangan. Rekomendasi adanya "Badan Kolaboratif" untuk mengoordinasikan stabilitas rantai pasok, pendidikan keuangan, dan branding yang sinergis. Pariwisata budaya menjadi layanan eksperiensial dengan menggunakan Service Science.
PENARGETAN TINGKAT KABUPATEN/KOTA UNTUK SISTEM PADI DI INDONESIA: KLASTERISASI, REGRESI PENENTU HASIL (YIELD), DAN DASHBOARD INTERAKTIF UNTUK PRIORITISASI INTERVENSI
Sektor beras di Indonesia sangat penting untuk ketahanan pangan, keberlangsungan hidup petani, dan juga stabilitas sosial ekonomi, karena beras adalah bahan pokok utama. Terdapat perbedaan produktifitas padi antar daerah, akan tetapi kebijakankebijakan cenderung dirancang secara terpusat dengan mengabaikan keunikan kondisi lokal di daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan kebijakan-kebijakan terkait dengan rantai pasok beras menggunakan framework business analytics yang terintegrasi, dimulai dari analisis deskripsi, clustering, regresi, dan juga visualisasi interaktif. Data yang digunakan adalah Sensus Pertanian 2023 dari BPS, ditambah data Inarisk dari BNPB, dan juga indikator konsumsi-nutrisi dari Bapanas, yang mencakup kelompok variable produktifitas, demografi, struktur pertanian, risiko bencana, dan akses ke pelayanan. Data-data tersebut diolah menggunakan metodologi CRISP-DM and hasilnya akan diinput ke dalam dashboard interaktif. Clustering PAM (Partitioning Around Medoids) menghasilkan 2 klaster dengan Klaster 1 (417 kota/kabupaten) memiliki ukuran rata-rata lahan pertanian yang lebih besar, input pertanian yang lebih besar, angka partisipasi program yang lebih tinggi, dan juga profil nutrisi yang lebih baik; sedangkan untuk klaster 2 (97 kota/kabupaten) memiliki ukuran lahan yang lebih kecil, kurangnya akses terhadap input dan layanan pertanian, kurangnya adopsi teknologi dan juga memiliki resiko bencana lebih tinggi. Welch’s t-tests dan effect size mengkonfirmasi bahwa antarklaster secara signifikan berbeda untuk variable produktifitas (yield), Angka Kecukupan Energi (AKE), level konsumsi rata-rata, dan Pola Pangan Harapan (PPH). Hasil regresi untuk kedua klaster menunjukkan bahwa ukuran lahan dan usia petani memiliki asosiasi positif untuk yield, sementara yang lainnya (bantuan teknologi, asuransi, dan partnership) menunjukkan hasil yang lemah, tidak konsisten, dan cenderung berasosiasi negatif dengan yield. Explanatory power pada klaster 2 (Adj R^2 = 0.41) memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan klaster 1 (0.29), sehingga batasan secara structural lebih tinggi di daerah yang produktifitasnya lebih rendah. Dengan pendekatan multimodel yang bisa diduplikasi ini, memberikan bukti bahwa pengambilan keputusan berbasis data untuk pembuatan kebijakan-kebijakan yang spesifik daerah (misalkan KUR harus diprioritaskan untuk daerah di cluster 2 dibandingkan cluster 1) bisa dilakukan untuk meningkatkan produktifitas padi, meningkatkan resiliensi rantai pasok, dan juga menuju kearah yang positif terhadap SDG 2 (Zero Hunger) di Indonesia.
ANTARA GAIRAH DAN PEMBELIAN: EKSPLORASI KUALITATIF TERHADAP HAMBATAN ADOPSI PLANET PERSIB PADA KOMUNITAS BOBOTOH, PENDUKUNG PERSIB BANDUNG
Sepak bola Indonesia merepresentasikan fenomena sosio-kultural mendalam yang melampaui sekadar olahraga, berperan sebagai wadah identitas regional dan kebanggaan nasional. Persib Bandung, salah satu klub sepak bola paling ikonik dan bersejarah di tanah air, menjadi sosok sentral dalam lanskap ini dengan dukungan basis massa yang masif, yakni sekitar 14 juta penggemar yang dikenal sebagai "Bobotoh." Seiring dengan pergeseran ekonomi olahraga global menuju transformasi digital, PT Persib Bandung Bermartabat berupaya memodernisasi keterlibatan penggemar dengan meluncurkan "Planet Persib" pada Februari 2024. Platform keanggotaan digital pelopor ini dirancang untuk memonetisasi keterlibatan penggemar dan memperdalam loyalitas melalui manfaat eksklusif dan integrasi digital. Namun, meskipun tingkat kesadaran (awareness) mencapai 99% di kalangan pendukung, muncul kesenjangan adopsi yang signifikan di mana hanya 7% dari mereka yang sadar benar-benar berlangganan layanan tersebut. Kesenjangan yang mencolok ini menghadirkan persoalan ilmiah dan bisnis yang kritis, karena menyoroti friksi antara strategi digital korporat modern dengan budaya penggemar akar rumput tradisional yang mengakar kuat di pasar berkembang. Penelitian ini menyelidiki penyebab mendasar dari rendahnya adopsi tersebut dengan mengeksplorasi hambatan fungsional dan psikologis yang menghalangi Bobotoh untuk menerima platform tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang ketat, studi ini diawali dengan survei kuantitatif pendahuluan yang melibatkan 340 responden untuk memvalidasi masalah penelitian. Tahap ini dilanjutkan dengan fase pengumpulan data utama yang terdiri dari wawancara mendalam semi-terstruktur dengan 10 partisipan yang dipilih secara purposif, mewakili kelompok pengadopsi (adopters) dan non-pengadopsi. Data dianalisis melalui pengodean tematik yang difasilitasi oleh perangkat lunak NVivo untuk mengidentifikasi pola dan sentimen yang berulang. Penelitian ini didasarkan pada kerangka teoretis yang mengintegrasikan Innovation Resistance Theory (IRT), Theory of Planned Behavior (TPB), Diffusion of Innovations (DOI), dan Social Identity Theory (SIT), yang memberikan lensa multidimensi untuk memeriksa fenomena resistensi tersebut. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa resistensi terhadap Planet Persib tidak semata-mata bersifat finansial, melainkan didorong oleh lima hambatan tematik utama. Pertama, adanya hambatan penggunaan dan nilai yang signifikan akibat titik harga sebesar Rp5,5 juta yang dianggap eksklusif dan tidak konsisten dengan akar "kerakyatan" klub. Kedua, ditemukan kurangnya relevansi manfaat, terutama bagi penggemar yang berdomisili di luar Bandung yang tidak dapat mengakses fasilitas fisik, sehingga menyebabkan "penundaan" adopsi. Ketiga, studi ini menyoroti konflik mendalam antara keanggotaan digital formal dengan identitas "Bobotoh" tradisional yang organik, di mana penggemar khawatir komersialisasi digital dapat mengikis autentisitas dukungan mereka. Keempat, pengaruh sosial negatif dari kelompok sebaya dan komunitas pendukung bertindak sebagai pencegah, karena budaya kolektif sering kali memandang platform tersebut dengan skeptisisme. Terakhir, masalah kepercayaan dan komunikasi terkait pemenuhan janji manfaat jangka panjang semakin memperburuk hambatan psikologis berupa risiko. Sebaliknya, studi ini mengidentifikasi bahwa segmen kecil pengadopsi utamanya dipicu oleh imbalan ekstrinsik, seperti prestise sosial dan keinginan untuk mendapatkan barang koleksi fisik eksklusif seperti jersei edisi terbatas. Berdasarkan wawasan ini, penelitian menyimpulkan bahwa agar inovasi digital berhasil dalam budaya olahraga lokal, klub harus bergerak melampaui strategi "one-size-fits-all." Studi ini mengusulkan peta jalan strategis bagi Persib Bandung dengan merekomendasikan adopsi struktur harga bertingkat yang inklusif dan model keanggotaan khusus digital yang mengakomodasi keragaman demografi geografis dan ekonomi Bobotoh. Dengan menghormati kecerdasan budaya lokal dan memprioritaskan inklusivitas di atas eksklusivitas, klub dapat menjembatani kesenjangan antara inovasi dan loyalitas penggemar. Akhirnya, penelitian ini berkontribusi pada diskursus akademik yang lebih luas mengenai transformasi digital dalam manajemen olahraga, yang menunjukkan bahwa keberhasilan suatu platform bergantung pada keselarasan dengan identitas sosial penggunanya.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN STRATEGIS UNTUK MENINGKATKAN VOLUME TRANSAKSI DAN LOYALITAS PELANGGAN PADA AHASS BERSAMA JAYA PRIMA
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengambilan keputusan strategis terkait peningkatan volume transaksi dan loyalitas pelanggan di AHASS Bersama Jaya Prima, bengkel resmi Honda di Bekasi. Meskipun terjadi pemulihan ekonomi setelah resesi pasca-pandemi, bisnis terus mengalami stagnasi karena kunjungan layanan berkurang 40% dibandingkan dengan yang diperoleh sebelum pandemi. Studi ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dalam mewawancarai pemangku kepentingan utama seperti pelanggan, karyawan, dan pemasok secara efektif. Teknik analisis data yang saya gunakan adalah analisis akar masalah (5 Mengapa) dan kemudian diinterpretasikan melalui kerangka Teori Perilaku Terencana (TPB). Hasilnya menunjukkan bahwa inefisiensi dalam operasional, terutama ketidakkonsistenan mereka dalam mematuhi Prosedur Operasional Standar (SOP) karena fokus pada kuantitas layanan dibandingkan kualitas layanan, menyebabkan pengalaman pelanggan yang buruk, waktu tunggu lebih lama, dan tingkat kepuasan pelanggan yang menurun. Menggunakan Proses Hirarki Analitik (AHP), sistem antrean dan pemesanan digital diprioritaskan sebagai strategi yang paling efektif. Oleh karena itu, sistem ini memberikan kontrol yang lebih baik atas persepsi kontrol perilaku, meningkatkan efisiensi dalam penyediaan layanan, dan memperkuat loyalitas pelanggan untuk mendorong pemulihan bisnis.
WAJIT CILILIN PACKAGING DESIGN INNOVATION USING THE PRODUCT MARKET FIT AND VALUE PROPOSITION CANVAS APPROACH: CASE STUDY LEGIETA BOGA PRIANGAN
Penelitian ini membahas inovasi kemasan pada UMKM Legieta Boga Priangan (Wajit Cililin) untuk meningkatkan kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar modern tanpa menghilangkan identitas produk tradisional sebagai oleh-oleh. Studi ini berangkat dari kelangkaan pasokan daun jagung sebagai bahan kemasan terutama pada periode Idulfitri dan potensi inovasi kemasan untuk masuk ke pasar baru. Tujuan penelitian meliputi: (1) mengidentifikasi preferensi konsumen terhadap kemasan Wajit Cililin berdasarkan Value Proposition Canvas, (2) merumuskan perbaikan yang diperlukan melalui umpan balik konsumen hingga menghasilkan pengembangan prototipe pada iterasi kedua, dan (3) menyusun implementation plan sebagai panduan penerapan kemasan baru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan 13 responden. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan evaluasi langsung terhadap prototipe kemasan, sehingga temuan mencerminkan kebutuhan, persepsi, serta pengalaman responden saat berinteraksi dengan kemasan. Dihasilkan 9 preferensi konsumen terhadap wajit cililin yang kemudian menjadi dasar pembuatan prototype. Hasil iterasi pertama sudah menjawab kebutuhan fungsional, namun aspek daya tarik visual dan penguatan identitas merek masih perlu ditingkatkan. Masukan tersebut diterjemahkan menjadi penyempurnaan pada iterasi kedua, mencakup desain, warna dan typography sehingga mendorong tampilan yang lebih premium. Pada tahap akhir, penelitian menghasilkan implementation plan yang memetakan langkah implementasi agar inovasi kemasan dapat dijalankan. Secara teoretis, studi ini memperlihatkan penerapan terstruktur integrasi Product Market Fit dan Value Proposition Canvas pada konteks produk tradisional Indonesia, yang masih jarang dibahas dalam literatur pemasaran UMKM.
PERCEPATAN ADOPSI SEMEN HIJAU DALAM KONSTRUKSI BERKELANJUTAN DI INDONESIA: PERAN PROYEK PERCONTOHAN BERBASIS BUKTI DAN ADVOKASI KEBIJAKAN DALAM MENJEMBATANI KESENJANGAN REGULASI
Penelitian ini mengkaji faktor-faktor struktural, regulasi, dan institusional yang mempengaruhi adopsi semen hijau di sektor konstruksi Indonesia serta mengusulkan seperangkat solusi bisnis terintegrasi untuk mempercepat pemanfaatannya. Studi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak untuk menurunkan emisi karbon dari industri konstruksi, yang masih menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi CO? nasional. Meskipun produsen semen, khususnya PT Semen Indonesia (Persero) Tbk sebagai produsen terbesar di Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam menurunkan faktor klinker dan meningkatkan efisiensi produksi, pemanfaatan semen hijau pada proyek konstruksi masih terbatas. Ketidaksesuaian antara kesiapan sisi pasokan dan tingkat serapan pasar ini mengindikasikan adanya hambatan sistemik yang perlu dikaji lebih mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa serapan semen hijau masih rendah meskipun terdapat komitmen nasional terhadap dekarbonisasi, serta mengidentifikasi intervensi strategis yang dapat mendorong transisi yang lebih luas menuju material konstruksi berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode-multi dengan mengombinasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Dilakukan wawancara mendalam dengan delapan responden yang terdiri atas regulator, perwakilan industri, kontraktor, dan asosiasi profesi untuk menangkap perspektif institusional dan operasional. Kemudian survei persepsi juga dilakukan dengan melibatkan 51 responden dari berbagai kelompok pemangku kepentingan untuk menilai tingkat kesadaran, kesiapan, dan hambatan yang dirasakan dalam pemakaian semen hijau. Data sekunder melalui reviu terhadap regulasi pemerintah, laporan industri, dan literatur akademik, juga dianalisis untuk memberikan konteks dan mendukung proses triangulasi. Analisis penelitian ini berlandaskan pada Diffusion of Innovation Theory, Institutional Theory, dan Policy Adoption Theory, yang secara bersama-sama memberikan kerangka terpadu untuk memahami dinamika teknologi, organisasi, dan kebijakan yang membentuk adopsi semen hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekosistem konstruksi Indonesia secara konseptual telah selaras dengan tujuan keberlanjutan dan dekarbonisasi, namun masih menghadapi kendala operasional akibat sejumlah permasalahan sistemik. Pertama, penelitian ini mengidentifikasi adanya asimetri regulasi, di mana pelaku di sisi produksi berada di bawah tekanan mandat dekarbonisasi, sementara sisi permintaan belum memiliki kewajiban atau insentif yang mengikat untuk mengadopsi material rendah karbon. Kedua, tekanan institusional terhadap kontraktor dan pemilik proyek masih lemah, dengan pengaruh koersif, normatif, dan mimetik yang terbatas. Ketiga, ketidakpastian teknis masih terjadi akibat ketiadaan proyek percontohan yang terstruktur, pedoman aplikasi yang terstandarisasi, serta komunikasi pasar yang konsisten terkait karakteristik kinerja semen hijau. Keempat, belum adanya mekanisme pengadaan yang terintegrasi menghambat masuknya semen hijau ke dalam alur kerja konstruksi. Hasil survei memperkuat temuan ini, yang menunjukkan rendahnya persepsi terhadap koherensi regulasi namun diiringi dengan tingginya kesediaan untuk mengadopsi semen hijau apabila tersedia validasi teknis dan dukungan pelatihan. Berdasarkan analisis terintegrasi, penelitian ini mengusulkan empat solusi saling memperkuat, yang diinisiasi dan didukung oleh SIG sebagai pelaku industri utama dalam ekosistem konstruksi, melalui kolaborasi intensif dengan institusi pemerintah, asosiasi profesi, dan pemangku kepentingan lainnya. Solusi tersebut meliputi: (1) Structured National Pilot Program untuk menghasilkan bukti kinerja yang kredibel dan memperkuat legitimasi institusional; (2) Green Public Procurement Framework untuk mengaktifkan insentif di sisi permintaan dan menyelaraskan praktik pengadaan dengan tujuan lingkungan nasional; (3) National Technical Guideline untuk menstandarkan metode aplikasi dan menurunkan persepsi risiko; serta (4) program Awareness and Capacity-Building berskala nasional untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi teknis di seluruh ekosistem. Sebuah peta jalan implementasi untuk periode 2025–2030 disusun menggunakan kerangka 5W+1H guna memastikan kelayakan, keterurutan, dan koordinasi antar pemangku kepentingan. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan kerangka kebijakan–pasar– institusional yang terintegrasi untuk mempercepat serapan semen hijau di Indonesia. Studi ini menunjukkan bahwa keberhasilan sangat bergantung pada keselarasan antara sinyal regulasi, tekanan kelembagaan, perangkat teknis, dan kapasitas profesional. Dengan memposisikan SIG sebagai aktor industri kunci yang berperan sebagai inisiator dan katalis dalam kerangka regulasi yang dipimpin oleh pemerintah, solusi yang diusulkan memungkinkan kesiapan teknologi diterjemahkan menjadi aktivasi pasar serta peningkatan pemanfaatan semen hijau. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan yang bersifat aplikatif bagi pembuat kebijakan, praktisi industri, dan asosiasi profesi dalam mendorong transisi menuju konstruksi rendah karbon dalam konteks negara berkembang.
RANCANGAN ULANG PERATURAN PERUSAHAAN YANG SELARAS DENGAN HUKUM KETENAGAKERJAAN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN: STUDI KASUS PT XYZ
Perkembangan sektor industri di Indonesia menuntut perusahaan untuk menyeimbangkan efisiensi operasional dengan kepatuhan terhadap hukum ketenagakerjaan. Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja mengharuskan perusahaan menyesuaikan peraturan perusahaan agar selaras dengan ketentuan hukum yang berlaku serta mendukung kinerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian peraturan perusahaan dengan hukum ketenagakerjaan dan implikasinya terhadap kinerja karyawan pada PT XYZ di Batam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sosio-legal melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peraturan perusahaan PT XYZ belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan masih terdapat beberapa ketidaksesuaian, terutama terkait pengupahan, mekanisme pengaduan, dan perlindungan karyawan. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya keterlibatan karyawan dan tingginya tingkat perputaran tenaga kerja. Penelitian ini merekomendasikan penyusunan ulang peraturan perusahaan secara adaptif dan partisipatif guna meningkatkan kepatuhan hukum, kepercayaan karyawan, serta kinerja organisasi.
PENERAPAN MANAJEMEN PENGETAHUAN UNTUK MENINGKATKAN KINERJA TIM KEBUN PISANG DI PT XYZ
Final project ini dilakukan untuk merancang sebuah sistem manajemen pengetahuan yang komprehensif guna meningkatkan kinerja tim kebun pisang di PT XYZ. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya penurunan bobot buah sebesar 8% yang berkaitan dengan ketidakkonsistenan pelaksanaan operasional di lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi campuran dengan mengintegrasikan APO Knowledge Management Framework, model SECI, dan kerangka PPT untuk menelaah kondisi people, process, dan technology. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan kuesioner. Temuan menunjukkan bahwa infrastruktur KM masih terfragmentasi, akses pengetahuan bersifat terbatas dan bergantung pada atasan, pelatihan bersifat reaktif dan dominan teknis, pengetahuan tacit di lapangan belum tertangkap secara optimal, praktik berbagi pengetahuan antar rekan kerja belum didukung oleh sistem yang memadai, serta keberlanjutan pengetahuan kritis masih bergantung pada individu dan belum terinstitusionalisasi. Berdasarkan temuan tersebut, sebuah sistem KM yang holistik kemudian dirancang dengan mengintegrasikan dimensi APO, proses SECI, dan komponen PPT. Sistem yang diusulkan terdiri dari mekanisme Socialization yang terstruktur, proses Externalization yang distandarkan, infrastruktur Combination yang terkonsolidasi, serta mekanisme Internalization yang diperkuat.
INOVASI BERPUSAT PADA MANUSIA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA: MENGATASI RENDAHNYA KETERLIBATAN MELALUI DESIGN THINKING
Penelitian ini mengkaji bagaimana sebuah bisnis pembelajaran bahasa di Indonesia dapat mengatasi stagnasi pertumbuhan melalui pendekatan inovasi yang berpusat pada pengguna. Framework Design Thinking digunakan sebagai pendekatan utama untuk menggali ekspektasi, tantangan dan preferensi pelanggan, sehingga dapat menjadi dasar pengembangan produk dan penyesuaian model bisnis. Data dikumpulkan melalui focus group discussion (FGD) dengan enam grup pelajar yang dilakukan di tahap eksplorasi awal. Data kualitatif dianalisis menggunakan thematic analysis Braun dan Clarke untuk menemukan kebutuhan yang berulang terkait motivasi, kepercayaan diri, struktur belajar, fleksibilitas dan peran manusia. Temuan ini kemudian diterjemahkan menjadi dua persona utama yang mencerminkan tipe pelajar, dan digunakan untuk merumuskan lima pertanyaan How Might We (HMW) sebagai dasar proses ideasi. Penelitian menghasilkan tiga prototipe awal yang saling terintegrasi, yaitu: (1) pilihan pembelajaran terstruktur, (2) peta belajar mingguan adaptif, dan (3) alat ukur perkembangan kepercayaan diri. Ketiga komponen ini membentuk ekosistem pembelajaran yang bertujuan meningkatkan keterlibatan peserta dan mendukung keberlanjutan bisnis melalui nilai yang lebih jelas, retensi yang lebih kuat dan penawaran produk yang lebih terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian desain produk dengan kebutuhan pengguna dapat memperkuat keberlanjutan usaha EdTech (pembelajaran berbasis teknologi) skala kecil. Studi ini juga merekomendasikan pengujian kuantitatif lanjutan untuk menilai tingkat penerimaan dan kegunaan dari prototipe yang diusulkan.
ANALISIS KELAYAKAN EKONOMI PERENCANAAN SUMUR HORIZONTAL DI SISI DARAT DELTA MAHAKAM, LAPANGAN A – KALIMANTAN TIMUR
Lapangan A terletak di sisi darat Delta Mahakam, Cekungan Kutei, Kalimantan Timur. Hingga saat ini, Lapangan A aktif memproduksikan minyak dan gas melalui Wilayah Kerja Sanga Sanga yang dioperasikan oleh PT. X sebagai operator. Lapangan ini berkontribusi lebih dari setengah kumulatif produksi perusahaan melalui aktivitas pengembangan lapangan yang intensif. Meskipun target produksi secara tahunan dapat dicapai, trend kenaikan dari produksi masih lebih rendah dari ekspektasi. PT. X menyadari bahwa kondisi ini disebabkan oleh penurunan tekanan reservoir karena produksi dari area yang serupa / sudah ada secara berulang-ulang dengan menerapkan konsep penempatan sumur baru berdasarkan sumur sekitarnya sebagai referensi dan penerapan teknologi yang terbatas untuk mencapai efisiensi perolehan yang optimal. Menyadari tantangan tersebut, PT. X selanjutnya berfokus pada area reservoir yang belum diproduksi secara optimal dan mengaplikasikan teknologi yang lebih modern dibandingkan dengan penerapan metode pengeboran dan komplesi yang konvensional. Sebagai inisiatif, PT. X berencana untuk menerapkan pengeboran sumur horizontal dengan target gas reservoir J.01. Reservoir ini masih belum terproduksi secara optimal oleh delapan sumur konvensional dengan kumulatif produksi sebesar 1.83 Bcf, setara dengan 24% total perolehan. Kualitas properti reservoir yang kurang baik merupakan faktor utama yang memengaruhi performa produksi. Penelitian ini mengadaptasi pendekatan secara terintegrasi dengan menggabungkan antara analisis kualitatif dan kuantitatif, didukung dengan fokus pada implikasi praktis terhadap tantangan yang ada di PT.X. Analisis kualitatif membantu untuk mengidentifikasi kelayakan melalui inisiatif strategi pada lingkungan yang relevan menggunakan PESTEL (Politik, Ekonomi, Sosial, Teknologi, Lingkungan dan Legal) dan Porter’s Five Forces. Analisis kuantitatif menjembatani kelayakan melalui evaluasi teknis dan ekonomi. Hal tersebut meliputi maturasi bawah permukaan, perencanaan sumur, dan penganggaran modal. Maturasi bawah permukaan membantu menestimasi volume gas dari reservoir dan memahami performa produksi. Perencanaan sumur diarahkan berdasarkan pemahaman maturasi bawah permukaan, secara langsung memengaruhi biaya modal dan operasi, dalam batasan menentukan panjang bagian horizontal berdasarkan kenaikan cadangan yang optimal menggunakan analisis sensitivitas dengan properti dan geometri reservoir sebagai parameter. Praktik yang umum dilakukan di PT. X untuk analisis penganggaran modal terbatas pada metode Discounted Cash Flow (DCF) melalui pendekatan deterministik, didukung dengan analisis sensitivitas. Hal ini mengasumsikan suatu kondisi tertentu tanpa mempertimbangkan rentang ketidakpastian. Analisis ketidakpastian membantu pendekatan deterministic melalui berbagai scenario probabilitas yang dapat memengaruhi dalam keputusan penganggaran modal, dengan mengaplikasikan pendekatan prbabilistik menggunakan simulasi monte carlo untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kemungkinan rentang keberhasilan dan mengukur probabilitas untuk mencapai tujuan. Penerapan sumur horizontal secara signifikan meningkatkan perolehan produksi pada kualitas properti reservoir yang kurang baik sebesar 3.59 Bcf penambahan cadangan atau setara dengan 48% faktor perolehan produksi sepanjang 1300 feet di reservoir J.01. Integrasi antara pendekatan deterministik dan probabilistic memberikan gambaran yang lebih detail terkait ketidakpastian. Berdasarkan pendekatan deterministik, penerapan sumur horizontal secara dasar perhitungan dapat memberikan NPV sebesar 7.66 juta USD. Mengacu kepada pendekatan probabilistik, nilai P50 dari setiap skenario penambahan cadangan mengindikasikan rentang analisis ketidakpastian diantaranya skenario rendah (1.93 Bcf), menengah dasar (3.59 Bcf), dan tinggi (4.45 Bcf), yang berhubungan dengan nilai ekspektasi NPV sebesar 1.57 juta USD (skenario rendah), 6.74 juta USD (skenario menengah dasar), dan 9.74 juta USD (skenario tinggi).
IMPLEMENTASI STANDAR PENGUNGKAPAN KEBERLANJUTAN BERDASARKAN PERNYATAAN STANDAR PENGUNGKAPAN KEBERLANJUTAN 1 DAN 2 PADA PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)
Penerbitan Standar Pengungkapan Keberlanjutan di Indonesia, yaitu Pernyataan Standar Pengungkapan Keberlanjutan (PSPK) 1 dan PSPK 2 yang mengadopsi IFRS S1 dan IFRS S2, merupakan perkembangan penting dalam pelaporan keuangan terkait keberlanjutan. Standar ini akan berlaku efektif mulai tahun 2027 dengan opsi penerapan dini dan mewajibkan entitas untuk mengungkapkan risiko dan peluang keberlanjutan serta iklim yang material. Sebagai badan usaha milik negara yang menerbitkan instrumen utang di pasar modal Indonesia, PT Kereta Api Indonesia (Persero) (PT KAI) perlu melakukan persiapan dalam mengimplementasikan standar tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman PT KAI dalam menerapkan PSPK 1 dan PSPK 2, mengidentifikasi langkah-langkah persiapan yang diperlukan, serta mengkaji penerapan standar tersebut dalam rancangan laporan keberlanjutan PT KAI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) dan Actor–Network Theory (ANT). Analisis SWOT digunakan untuk mengevaluasi laporan keberlanjutan PT KAI yang saat ini disusun berdasarkan Standar Global Reporting Initiative (GRI) dan ketentuan POJK dengan membandingkannya terhadap persyaratan pengungkapan PSPK 1 dan PSPK 2. Selanjutnya, ANT digunakan untuk menganalisis proses implementasi melalui interaksi antara aktor manusia dan aktor non-manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT KAI memiliki fondasi untuk mengimplementasikan PSPK 1 dan PSPK 2 melalui praktik pelaporan berbasis GRI dan ketersediaan data keberlanjutan. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan dalam integrasi antara pelaporan keberlanjutan dan keuangan, tata kelola isu iklim, kuantifikasi risiko, serta pengungkapan emisi gas rumah kaca. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan implementasi PSPK 1 dan PSPK 2 memerlukan penguatan tata kelola, integrasi sistem pelaporan, serta koordinasi jaringan aktor yang efektif di dalam organisasi.
KREDENSIAL LINGKUNGAN DAN IMBAL HASIL OBLIGASI HIJAU DI ASIA-PASIFIK (2022-2024): BUKTI DARI SERTIFIKASI DAN ALOKASI USE-OF-PROCEEDS DI PASAR KORPORASI
Penelitian ini mengkaji bagaimana sertifikasi Climate Bonds Initiative dan alokasi use-of- proceeds memengaruhi imbal hasil obligasi hijau korporasi di 15 pasar Asia-Pasifik selama periode 2022-2024. Menggunakan analisis regresi berganda dengan fixed effects pada 667 obligasi, penelitian ini menguji apakah kredensial lingkungan menurunkan biaya pembiayaan dengan mengontrol karakteristik obligasi, kinerja ESG, dan fundamental makroekonomi. Temuan mengungkapkan divergensi fundamental dari literatur sebelumnya dan teori yang mapan. Sertifikasi CBI tidak menunjukkan efek signifikan terhadap imbal hasil (? = 0,092, p = 0,150), bertentangan dengan diskon 12-36 basis poin yang terdokumentasi selama 2013- 2018. Pada prevalensi 71,5%, sertifikasi telah bertransisi dari sinyal pembeda menjadi ekspektasi dasar pasar, menghilangkan nilai informasional melalui saturasi pasar. Bertentangan dengan teori, alokasi use-of-proceeds menunjukkan premi imbal hasil sistematis: bangunan hijau 36,2 basis poin, infrastruktur air 32,8 basis poin, energi terbarukan 21,1 basis poin. Hanya adaptasi iklim yang menunjukkan diskon sesuai prediksi sebesar negatif 14,7 basis poin. Analisis subsampel mengungkapkan premi terkonsentrasi di pasar berkembang, dengan bangunan hijau menunjukkan premi 53,2 basis poin versus koefisien sedikit negatif di pasar maju. Fundamental tradisional mendominasi penetapan harga, dengan tingkat kupon (73,1 bps, t = 19,76) dan premi risiko negara (100,5 bps, t = 3,22) mengalahkan efek lingkungan. Kinerja ESG menunjukkan besaran yang secara ekonomi dapat diabaikan di bawah 5 basis poin untuk semua indikator. Gangguan pasokan selama 2022-2024 dan inflasi biaya 25-40% mengubah komitmen lingkungan dari sinyal kredibilitas menjadi eksposur risiko eksekusi yang memerlukan kompensasi imbal hasil. Temuan menantang kerangka sustainable finance yang mengasumsikan efek greenium universal, mendemonstrasikan ketergantungan konteks di mana kendala infrastruktur membalikkan hubungan yang diprediksi. Sertifikasi memberikan manfaat non-imbal hasil daripada pengurangan biaya, sementara transparansi use-of-proceeds menandakan kerentanan eksekusi ketika hambatan sistematis mendominasi. Mekanisme berbasis pasar memerlukan intervensi kebijakan komplementer untuk memobilisasi pembiayaan iklim secara efektif.
MEMBANGUN STRATEGI PEMASARAN DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN PRODUK DAN KESADARAN MEREK: STUDI KASUS SENTRALOKA INDONESIA
Penelitian ini mengkaji tantangan strategis berupa stagnasi penjualan dan lemahnya kesadaran merek yang dihadapi oleh Sentraloka Indonesia, sebuah ritel digital yang memasarkan produk makanan ringan kemasan dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Beroperasi dalam ekosistem marketplace digital yang sangat kompetitif, Sentraloka menunjukkan ketergantungan tinggi pada iklan berbayar jangka pendek sebagai penggerak penjualan, yang berdampak pada volatilitas pendapatan serta rendahnya pertumbuhan permintaan organik. Selain itu, aktivitas komunikasi digital perusahaan masih terfragmentasi dan tidak konsisten, sehingga menghambat pembentukan identitas merek yang kuat. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan Sentraloka Indonesia sebagai unit analisis. Analisis internal dilakukan menggunakan Resource-Based View (RBV) dan kerangka VRIO, sementara analisis eksternal menggunakan Porter’s Five Forces. Temuan kedua analisis tersebut disintesiskan melalui analisis SWOT dan matriks TOWS untuk merumuskan alternatif strategi, yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam strategi pemasaran digital berbasis Integrated Marketing Communication (IMC) dengan perspektif omnichannel. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan tiga informan internal dan sepuluh informan eksternal, serta didukung oleh data sekunder perusahaan dan pasar. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik refleksif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Sentraloka memiliki sumber daya intangible yang bernilai, kelemahan pada dimensi Organization (O) dalam kerangka VRIO membatasi pencapaian keunggulan bersaing berkelanjutan. Strategi IMC diposisikan sebagai mekanisme integrasi organisasi untuk mengurangi fragmentasi komunikasi, memperkuat kredibilitas merek, dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan berbasis relasi pelanggan.