📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenKARAKTERISTIK GELOMBANG INTERNAL SOLITER KETIKA INSIDEN KAPAL SELAM KRI NANGGALA-402 APRIL 2021 DI PERAIRAN BALI
Pada 21 April 2021, pukul 04.30 WIB, kapal selam KRI Nanggala-402 dinyatakan hilang ketika sedang melakukan latihan penembakan torpedo di perairan Laut Bali. Seluruh 53 awak kapal gugur dalam insiden tersebut. Faktor teknis seperti listrik padam total diduga menjadi penyebab kapal selam kehilangan kendali. Namun, fenomena alam, khususnya keberadaan gelombang internal soliter juga diyakini sebagai salah satu penyebab kecelakaan. Selat Lombok dikenal sebagai salah satu lokasi utama pembangkitan gelombang internal di Indonesia, dan Laut Bali sebagai area penjalaran gelombang internal soliter. Keberadaan gelombang internal soliter dapat menimbulkan gangguan vertikal yang signifikan pada kolom air. Gangguan ini berpotensi menyebabkan pengurangan daya apung kapal selam secara tiba-tiba dan cepat. Observasi citra satelit yang dilakukan selama periode kecelakaan menunjukkan adanya gelombang internal soliter yang signifikan di sekitar lokasi insiden. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki karakteristik gelombang internal soliter selama periode kecelakaan KRI Nanggala-402. Pendekatan numerik dengan menggunakan model hidrodinamika MIKE 3 Flow Model FM non-hidrostatik digunakan untuk menyimulasikan gelombang ini dan memberikan pemahaman rinci mengenai pengaruh penjalaran gelombang internal soliter terhadap kondisi perairan yang relevan dengan insiden tersebut. Hasil model menunjukkan aktivitas gelombang internal soliter mencapai amplitudo maksimum ±3 m dengan panjang gelombang mencapai ±400 m menuju ke arah barat laut di area kecelakaan pada periode hilang kontak. Kecepatan arus komponen-u berkisar 0,04-0,24 m/s, arus komponen-v 0,02-0,17 m/s, arus komponen-w 0,0004-0,0147 m/s. Berdasarkan ukuran dimensi kapal selam dan aktivitas piknoklin, beban tambahan yang dirasakan kapal selam ketika hilang kontak di area kecelakaan diperkirakan mencapai 517,935 kg.
OKSIDA LOGAM SEBAGAI FAKTOR PEMBENTUKAN BIOETANOL PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT
Setiap satu ton tandan buah segar kelapa sawit akan menghasilkan sekitar 0,7-0,8 m³ limbah pome; limbah cair pome mencemari lingkungan dan menimbulkan pencemaran gas rumah kaca (GRK). Kandungan limbah pome dapat dimanfaatkan menjadi energi alternatif untuk produksi biogas pada proses pengolahan anaerobik, keuntungan pengolahan anaerobik dari segi biaya yang lebih murah. Proses anaerobik menghasilkan bioetanol yang menjadi produk fermentasi biomassa dengan bantuan mikroorganisme. Mikroorganisme memanfaatkan limbah pome sebagai substrat dan kultur campuran bakteri anaerobik untuk produksi bioetanol, dengan penambahan unsur hara mikro seperti logam berupa ion Fe, Ni, dan Mo dapat memaksimalkan pembentukan bioetanol. Jumlah bioetanol masih dapat ditingkatkan melalui efisiensi penggunaan oksida logam. Penelitian ini menggunakan uji coba skala laboratorium, dengan menggunakan sistem batch reaktor unggun tersirkulasi. Perlakuan awal berupa penyemaian dan karakterisasi limbah, serta pengamatan total asam volatil dan parameter bioetanol selama operasi reaktor, dengan variasi jenis oksida logam FeO, NiO, dan MoO. Oksida logam diharapkan dapat meningkatkan produksi gas bioetanol, sehingga percobaan ini merupakan pengembangan pemanfaatan limbah pome menjadi sumber energi baru terbarukan yang relatif lebih bermanfaat dalam mencegah pencemaran lingkungan.
SEPARATOR SERAT NANO KOMPOSIT POLIMIDA- GARNET UNTUK MENGHAMBAT PERTUMBUHAN DENDRIT PADA BATERAI LOGAM LITIUM TANPA ANODA
Baterai logam litium tanpa anoda (AFLMB) merupakan teknologi penyimpanan energi masa depan yang menjanjikan dikarenakan mampu mencapai kerapatan energi tinggi dengan desain sel yang lebih sederhana. Namun, realisasinya secara praktis masih menghadapi sejumlah tantangan meliputi pembentukan dendrit litium dan stabilitas siklus yang terbatas. Dalam penelitian ini, kami merekayasa separator serat nano komposit berbahan polimida (PI) yang dipadukan dengan pengisi material tipe garnet yaitu Li6.75La3Zr1.75Ta0.25O12 (LLZTO) yang difabrikasi melalui metode electrospinning dan dikombinasikan proses imidisasi termal. Membran separator PI/LLZTO yang dihasilkan membentuk jaringan serat tiga dimensi dengan distribusi partikel LLZTO yang merata. Di mana arsitektur ini secara signifikan meningkatkan penyerapan elektrolit dan sekaligus membentuk jalur konduksi ion yang berkelanjutan sehingga menghasilkan fluks Li+ yang lebih seragam yang merupakan faktor penting dalam menekan pertumbuhan dendrit. Separator PI/LLZTO menunjukkan konduktivitas ionik tinggi mencapai 3,16 mS cm-1, dengan angka transferensi Li+ sebesar 0,76. Pada sel simetris Li, separator PI/LLZTO mempertahankan siklus yang sangat stabil selama lebih dari 2900 jam dengan overpotential yang sangat rendah (~0,007 V). Ketika digunakan pada konfigurasi sel penuh Cu||NMC622 AFLMB, separator PI/LLZTO menghasilkan deposisi litium yang halus dan bebas dendrit, dengan kapasitas pelepasan awal sebesar 181 mAh g-1 dan retensi kapasitas sebesar 40% setelah 100 siklus. Sebagai perbandingan, separator polipropilena (PP) komersial hanya mampu mempertahankan retensi kapasitas sekitar 10%. Penelitian ini menunjukkan bahwa desain separator fungsional, khususnya melalui sinergi keramik-polimer dapat membuka jalur baru menuju sistem baterai logam litium tanpa anoda yang lebih stabil dan berperforma tinggi.
STUDI EKSPERIMENTAL PERFORMA SINGLE LOOP PULSATING HEAT PIPE DENGAN VARIASI PARAMETER FLUIDA KERJA, SUDUT INKLINASI, DAYA MASUKAN, DAN FILLING RATIO
Perangkat elektronik, misalnya PV, mengalami penurunan efisiensi ketika temperatur kerjanya naik, sehingga butuh sistem pendingin yang sesuai. PHP dapat dikategorikan sebagai sistem pendinginan pasif karena tidak memerlukan tenaga dari luar untuk menggerakkan fluida yang ada di dalamnya. PHP merupakan pengembangan lebih lanjut dari heat pipe konvensional tanpa menggunakan struktur wick dalam pipanya. Dalam penelitian eksperimental skala lab ini, digunakan PHP dengan struktur single loop dan tembaga sebagai material pipanya. Variabel bebas yang diuji yaitu fluida kerja, sudut inklinasi saat pemasangan, daya masukan, dan Filling Ratio (FR). Fluida kerja yang digunakan yaitu air dan ethanol, diuji pada sudut inklinasi 0°, 20°, 40°, 60°, dan 90°, menggunakan daya masukan 45-75 watt, juga variasi FR 50% dan 70% untuk ethanol. Analisis terhadap data eksperimental dilakukan untuk menentukan performa start up dan performa termal masing-masing variasi parameter PHP. Dari hasil yang didapat, performa start up yang lebih baik ditunjukkan oleh fluida kerja ethanol, dan performa termal yang lebih baik ditunjukkan oleh air. Daya masukan yang semakin tinggi akan mengakibatkan peningkatan performa start up, namun dampaknya terhadap performa termal masih bergantung pada fluida kerja yang digunakan dan FR-nya. Sudut inklinasi yang menunjukkan performa start up terbaik berdasarkan variasi parameter yang digunakan yaitu 60°, sedangkan performa termal terbaik ditunjukkan oleh sudut inklinasi 20°. Pada fluida kerja ethanol, FR yang lebih rendah menunjukkan performa start up yang lebih baik, dan FR yang lebih tinggi menunjukkan performa termal yang lebih baik.
PEMANFAATAN PANAS BUANG DARI PLTP UNTUK PENGERINGAN HASIL PANEN MASYARAKAT SEKITAR SEBAGAI BENTUK CORPORATE SOCIAL RENSPONSBILITY (CSR) DARI PENGELOLA WILAYAH KERJA PANAS BUMI.STUDI KASUS: PLTP KAMOJANG
Pengembangan PLTP tidak jarang memunculkan tantangan sosial, terutama persepsi terkait manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Uap dari sumur produksi sering melebihi kebutuhan pembangkit, kelebihan uap ini dibuang ke lingkungan sebagai panas buang. Uap berlebih ini dapat dimanfaatkan untuk pengeringan. Buah kopi yang tidak segera diproses kurang dari 24 jam akan mengalami penurunan mutu, sementara pengeringan tradisional yang mengandalkan panas matahari sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Tantangan ini yang menjadi dasar sistem pengering berbasis panas buang sebagai bentuk CSR bersifat berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan teknis dan ekonomi pemanfaatan panas buang PLTP Kamojang untuk pengeringan kopi pada tiga kelompok tani terdekat dari Unit II Indonesia Power. Penelitian dimulai dengan menganalisis perpindahan panas uap sepanjang pipa, merancang konfigurasi penukar panas yang menghasilkan udara pengering sesuai kebutuhan operasi pengering. Kedua, kinerja pengering menggunakan perangkat lunak CFD dan memvalidasinya terhadap model numerik pengeringan lapis tipis yang telah dilakukan pada studi terdahulu. Ketiga, menentukan Kelompok Tani yang paling sesuai untuk penerapan sistem ini melalui analisa multi kriteria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa temperatur akhir uap pada Kelompok Tani Wanoja, Gunung Kamojang, dan Bersama Harapan Warga berturut-turut adalah 138,3°C (5,64 bar), 126,9°C (5,18 bar), dan 121,8°C (4,97 bar). Simulasi CFD metode natural, dryer mampu menampung 185,29 kg buah kopi dengan waktu pengeringan 30,53 jam, sedangkan metode full wash dapat menampung 183,65 kg dengan waktu pengeringan 24,53 jam. Hasil analisa multi kriteria menunjukkan Kelompok Tani Wanoja menjadi kandidat paling layak, kemudian Kelompok Tani Bersama Harapan Warga dan Gunung Kamojang. Pemanfaatan panas buang PLTP untuk pengeringan kopi bagi masyarakat sekitar dapat menjadi model CSR berkelanjutan energi terbarukan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
PENILAIAN KRITERIA DAN INDIKATOR PADA IMPLEMENTASI SISTEM TRANSPORTASI BERKELANJUTAN DI KOTA BALIKPAPAN
Peran Kota Balikpapan sebagai kawasan pendukung rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Provinsi Kalimantan Timur, menyebabkan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan kegiatan investasi seperti pembangunan infrastruktur. Hal ini tentunya memberikan dampak peningkatan aktivitas transportasi yang dapat menimbulkan berbagai masalah seperti kemacetan, polusi udara dan penurunan kualitas lingkungan. Oleh karena itu Kota Balikpapan memerlukan sistem transportasi yang mengacu pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Penelitian ini bertujuan untuk menyusun set indikator kinerja yang dapat digunakan untuk menilai sistem transportasi berkelanjutan di Kota Balikpapan dan menyusun rekomendasi kebijakan sistem transportasi yang sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Penyusunan sebelas set indikator yang mewakili tiga aspek keberlanjutan yakni aspek lingkungan, sosial dan ekonomi dilakukan menggunakan studi literatur, kemudian dinormalisasi dengan metode min-max dan pembobotan indikator menggunakan metode equal weighting. Penilaian kinerja sistem transportasi dilakukan dengan metode benchmarking berdasarkan kota best practice dan SUTI kemudian dinilai menggunakan klasifikasi UST-SDGs Index. Pemilihan rekomendasi kebijakan dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui simulasi skenario kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan performa sistem transportasi secara keseluruhan Kota Balikpapan berada pada rentang nilai 61,2%, menandakan bahwa nilai kinerja transportasi berkelanjutan cukup baik namun masih rendah dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan Smart Mobility. Khususnya dalam kinerja penyediaan transportasi berkelanjutan. Dari hasil penilaian simulasi kebijakan skenario yang dapat meningkatkan kinerja transportasi berkelanjutan adalah dengan menerapkan skenario 2 yakni peningkatan jalan, jalur pedestrian, jalur sepeda, penataan kawasan TOD, penyediaan ruuang terbuka hijau yang bersifat publik dan pengembangan koridor Balikpapan City Trans secara bersamaan.
PENGEMBANGAN MODEL EMPIRIS KECEPATAN GELOMBANG AKUSTIK BAWAH LAUT DI PERAIRAN SAMUDERA INDONESIA MENGGUNAKAN MODEL HYBRID LINEAR DAN NON LINEAR
Ada berbagai penelitian di bidang kelautan yang menggunakan profil kecepatan suara, atau sound speed profile (SSP) sebagai basis dalam menentukan karakteristik perairan, hanya saja ketersediaan data dalam lingkup spasial dan secara real time sangat terbatas. Rumus ‘Empiris’ membantu memperoleh profil kecepatan suara secara praktis, menyebabkan banyak bermunculan penelitian-penelitian yang mengembangkan model empiris kecepatan suara berdasarkan data Atlantik atau Pasifik—seperti Medwin, Leroy, Mackenzie, Coppens, dan Del Grosso. Sayangnya untuk saat ini belum ada rumus empiris kecepatan suara akustik bawah laut khusus yang dirancang untuk penggunaan di Indonesia, terutama di Perairan Samudera Indonesia, yang memiliki stratifikasi perairan lebih spesifik daripada perairan sub tropis. Sejauh ini, Medwin, Leroy, Mackenzie, Coppens, dan Del Grosso masih banyak digunakan secara praktis untuk wilayah perairan Indonesia apabila ditinjau dari range input parameter lingkungan, yang masih bisa menghasilkan kecepatan suara (C) dan SSP di perairan Indonesia. Maka, menggunakan data 14 stasiun yang didapatkan dari wilayah Perairan Samudera Indonesia yang memiliki data C hasil ukur lapangan disertai dengan data salinitas (S), suhu (T) dan kedalaman (D) yang mewakili parameter lingkungan penyusun kecepatan suara akustik bawah laut. Hal yang pertama-tama dianalisa adalah pembagian lapisan kedalaman menjadi Mixed Layer, Termoklin, dan Deep Layer untuk melihat korelasi parameter lingkungan terhadap stratifikasi gradien parameter, terutama di T untuk melihat karakteristik masing-masing perairan pada stasiun uji. Lalu, memastikan 5 rumus yang disebutkan apakah masih relevan digunakan pada perairan Indonesia, dilihat dari segi residual dan Root Mean Square (RMSE) terhadap C data yang ada. Kemudian, dilaksanakan penelitian yang menggunakanlah metode Hybrid yang menggabungkan aspek linear dan Non-Linear. Metode tersebut terbagi dalam aspek linear, dimana lima rumus referensi milik Medwin, Leroy, Mackenzie, Coppens, dan Del Grosso diregresi berdasarkan parameter lingkungan S,T,dan D, kemudian dikombinasikan dengan korektor Non-Linear sesuai dengan pemberatan (w) layer iii kedalaman berdasarkan gradien serupa setiap segmen geometrik yang dilihat dari grafik SSP dan parameter lingkungan S,T dan D. Didapatkan rumus akhir ???????????????? ???? ????????~???? ???? ????????????~???????? , dimana t merupakan term linear dari regresi 5 rumus referensi terhadap parameter lingkungan S, T, dan D. Kemudian terdapat term et berupa korektor Non-Linear 16 w per kluster gradien kedalaman. Pengujian akhir dilakukan sebagai bentuk validasi untuk melihat apakah Rumus baru ???????????????? relevan digunakan untuk Indonesia dibandingkan dengan rumus empiris kecepatan suara yang sudah ada. Setelah dihitung ulang nilai C masing-masing rumus, ???????????????? memiliki RMSE dan residual tidak melebihi 1m/s pada tiap stasiun uji pada setiap lapisan Mixed Layer, Termoklin, dan Deep Layer. Angka 1m/s menandakan rumus baru CABA memiliki kinerja yang baik tanpa adanya performance bias pada karakteristik laut spesifik, karena bisa menangkap ketidakpastian apabila digunakan di perairan samudera Indonesia.Rumus ???????????????? memiliki kinerja baik dibandingkan dengan rumus existing yang digunakan sebagai rumus referensi pada lapisan kedalaman Termoklin dan Deep Layer, menandakan rumus ini bisa mewakili stratifikasi tipikal yang terjadi di Perairan Samudera Indonesia akibat iklim tropis dan efek Indonesian Throughflow (ITF).
ANALISIS KEANDALAN LIMPASAN GELOMBANG TERHADAP BANGUNAN STRUKTUR PANTAI SEAWALL DI WILAYAH PESISIR MALALAYANG KOTA MANADO SULAWESI UTARA
Kawasan pesisir Malalayang di Kota Manado dalam beberapa tahun terakhir semakin sering mengalami limpasan gelombang, terutama ketika gelombang ekstrem bertepatan dengan muka air laut tinggi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa seawall eksisting berpotensi tidak lagi memadai dalam memberikan perlindungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keandalan struktur seawall eksisting terhadap limpasan gelombang serta menilai kemampuan struktur dalam menghadapi kondisi ekstrem jangka panjang. Analisis dilakukan menggunakan data angin dan gelombang selama 22 tahun (2002–2024). Tinggi gelombang signifikan diturunkan dari hasil hindcasting dan dianalisis nilai ekstremnya menggunakan distribusi Generalized Extreme Value (GEV). Tinggi gelombang rencana yang diperoleh kemudian digunakan untuk menghitung run-up berdasarkan Shore Protection Manual (SPM, 1984) dengan acuan muka air pasang tertinggi (HHWL). Hasil menunjukkan bahwa run-up maksimum untuk periode ulang 100 tahun mencapai 5,76 m, sementara elevasi puncak seawall eksisting hanya +4,90 m. Bahkan pada kondisi statis (HHWL = 4,12 m), elevasi muka air telah mendekati crest, menunjukkan bahwa struktur berada dalam kondisi kritis sebelum mempertimbangkan efek run-up. Analisis keandalan menggunakan metode FORM II (HL–RF) memperlihatkan bahwa tinggi gelombang ambang pada kondisi eksisting jauh lebih rendah dibandingkan variasi gelombang aktual, sehingga sebagian besar kejadian gelombang melampaui elevasi puncak struktur. Probabilitas kegagalan yang dihasilkan mendekati 1, menunjukkan bahwa seawall eksisting tidak andal dalam menahan limpasan. Sebaliknya, skenario peninggian crest hingga +9,86–9,89 m menghasilkan probabilitas kegagalan mendekati nol, menandakan peningkatan keandalan yang signifikan. Temuan ini menegaskan perlunya peninggian crest serta penyesuaian geometri seawall sebagai upaya perbaikan agar struktur kembali mampu berfungsi secara efektif menghadapi gelombang ekstrem.
STUDI PERBANDINGAN ANALISIS PUSHOVER PERFECLTY PLASTIC DAN MATERIAL NONLINEAR PADA STRUKTUR BAJA SEDERHANA SEBAGAI REPERESENTASI PERILAKU DASAR ANJUNGAN LEPAS PANTAI
Keamanan operasional anjungan lepas pantai tipe fixed platform sangat bergantung pada integritas struktural dalam mempertahankan stabilitas lateral saat menghadapi beban lingkungan ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan verifikasi analisis pushover hingga titik leleh (yield) melalui studi komparatif antara perangkat lunak SACS dan ABAQUS. Fokus utama penelitian ini adalah menginvestigasi pengaruh parameter kelangsingan (KL/r) dan mekanisme nonlinieritas geometri terhadap kapasitas beban ultimat serta mekanisme keruntuhan pada model kantilever dan portal sederhana. Metodologi yang diterapkan melibatkan pemodelan elemen hingga dengan mempertimbangkan aspek Geometric Nonlinearity, yang mencakup efek P-? (global) dan P-???? (lokal). Efek P-? dianalisis sebagai konsekuensi dari simpangan lateral global yang menghasilkan momen sekunder tambahan, sementara efek P-???? dikaji sebagai fenomena kelengkungan lokal elemen yang mempercepat instabilitas tekuk (buckling). Hasil perhitungan menunjukkan sensitivitas yang signifikan pada nilai KL/r, reduksi diameter luar (Outer Diameter) tiang dari 0,6128 m menjadi 0,5012 m menyebabkan kenaikan rasio kelangsingan dari 76,39 menjadi 131,31. Hal ini membuktikan bahwa penurunan kekakuan penampang secara simultan meningkatkan kerentanan struktur terhadap instabilitas orde kedua. Hasil simulasi numerik menunjukkan bahwa degradasi kekakuan awal dan distribusi plastisitas pada penampang pipa lingkaran (Circular Hollow Section) bermula dari serat terluar yang mencapai tegangan leleh maksimum sebelum terjadi Studi Perbandingan Analisis Pushover Perfectly Plastic dan Material Nonlinear pada Struktur Baja Sederhana sebagai Representasi Perilaku Dasar Struktur Anjungan Lepas Pantai plastisitas penuh di seluruh penampang. Verifikasi menunjukkan bahwa tumpuan jepit pada kolom fixed-free merupakan titik paling kritis akibat akumulasi momen sekunder maksimum. Penelitian ini memformulasikan batasan parameter KL/r sebagai kriteria untuk membedakan antara fenomena immediate collapse dan progressive collapse. Validasi menggunakan ABAQUS memberikan referensi analisis material nonlinier yang lebih realistis dibandingkan SACS dalam menangkap perilaku deformasi besar. Implikasi dari penelitian ini memberikan kontribusi pada evaluasi kapasitas ultimate desain anjungan lepas pantai, memastikan mekanisme keruntuhan yang diprediksi sesuai dengan perilaku struktural aktual di lapangan.
PEMODELAN BIOMASSA KARBON DINAMIS DAN VALUASI POTENSI EKONOMI KARBON BERBASIS DATA PENGINDRAAN JAUH DAN MACHINE LEARNING DI ASIA TENGGARA
Hutan merupakan penyimpan biomassa terbesar di ekosistem daratan yang mampu menyerap dua pertiga emisi karbon setiap tahunnya. Asia Tenggara memiliki 15% hutan hujan tropis dunia yang dapat menyimpan biomassa serta stok karbon, sehingga berpotensi mendukung mitigasi perubahan iklim global. Namun, kawasan ini menghadapi ancaman serius terhadap eksistensi hutan, dikarenakan tingginya tingkat deforestasi, ekspansi lahan pertanian, dan kelapa sawit. Tantangan lain muncul terkait pengukuran biomassa hutan pada temporal dan skala spasial yang luas, sementara pengukuran secara langsung membutuhkan waktu yang lama, tenaga besar, akses yang terbatas ke wilayah terpencil, dan biaya yang mahal. Selain itu, informasi terkait biomassa karbon hutan masih terbatas dan bersifat statis, yaitu tersedia untuk tahun dan wilayah tertentu saja, sehingga belum memadai untuk menggambarkan dinamika perubahan biomassa karbon secara temporal yang diperlukan untuk perencanaan konservasi dan mitigasi. Penelitian ini mengatasi keterbatasan tersebut dengan tujuan utama mengembangkan model biomassa karbon dinamis pada tahun 2000 hingga 2020 di Asia Tenggara dengan memanfaatkan data pengindraan jauh dan teknik Machine Learning (ML) serta mengestimasi potensi nilai ekonomi karbon berdasarkan model biomassa karbon dinamis tersebut. Tujuan pendukung penelitian ini, yaitu memetakan distribusi spasio-temporal tutupan hutan di Asia Tenggara. Metodologi penelitian ini mengintegrasikan berbagai dataset dan parameter pengindraan jauh—meliputi parameter indeks vegetasi, produktivitas vegetasi, biofisik, parameter iklim, dan topografi—dengan algoritma ML Random Forest (RF) untuk membuat model biomassa karbon, mencakup Aboveground (AGBC) dan Belowground (BGBC) Biomass Carbon yang bersifat dinamis dan lebih akurat. Kebaruan penelitian ini menekankan pada integrasi spasio-temporal antara area tutupan hutan dan biomassa karbon dinamis, serta pendekatan valuasi nilai ekonomi berbasis model biomassa karbon di skala regional Asia Tenggara. Analisis hasil penelitian ini menunjukkan terjadi penurunan luas hutan sebesar ~1,29 juta km2 (59,35%) selama dua dekade ini yang diakibatkan oleh aktivitas deforestasi, ekspansi lahan pertanian, dan kelapa sawit. Temuan utama pada penelitian ini menunjukkan penurunan AGBC dan BGBC berturut-turut sebesar, 26.177,36 ± 5,93 Mega Ton Carbon (MtC) tahun 2000 menjadi 15.957,03 ± 4,09 MtC tahun 2020 dan sebesar 6.609,37 ± 1,65 MtC tahun 2000 menjadi 3.956,9 ± 1,07 MtC tahun 2020. Secara spasial, penurunan biomassa karbon dominan terjadi di wilayah Indonesia dan Malaysia di mana wilayah-wilayah ini memiliki tingkat deforestasi dan ekspansi lahan sawit yang sangat tinggi. Selain itu, di beberapa wilayah ekspansi lahan pertanian juga telah berkontribusi signifikan terhadap konversi tutupan hutan, seperti di Thailand dan Myanmar. Kemudian, Penelitian ini juga memvaluasi potensi ekonomi yang dapat dihasilkan oleh biomassa karbon hutan. Valuasi ekonomi potensial dilakukan dengan mengonversi biomassa karbon menjadi total emisi ekuivalen karbon dioksida (CO?e). Potensi nilai ekonomi karbon diestimasi berdasarkan dua skenario harga, yaitu harga rata-rata di kawasan ASEAN plus China, Jepang, dan Korea Selatan (ASEAN+3) dan harga rekomendasi global. Estimasi menunjukkan terjadi penurunan potensi ekonomi karbon hutan antara tahun 2000 dan 2020, yaitu sebesar USD 776 miliar menjadi USD 471 miliar untuk skenario harga ASEAN+3, sedangkan untuk skenario harga rekomendasi global terjadi penurunan dari USD 9,02 triliun menjadi USD 5,48 triliun. Penelitian ini telah berhasil menganalisis penurunan tutupan hutan, mengembangkan model biomassa karbon dinamis, dan memvaluasi potensi ekonomi ekonomi karbon di Asia Tenggara selama 2000 sampai 2020. Berdasarkan hasil dan analisis, penelitian ini menegaskan bahwa penurunan hutan yang terjadi selama dua dekade terakhir berdampak signifikan terhadap berkurangnya biomassa karbon hutan dan potensi ekonomi yang dapat dihasilkan—dengan kerugian mencapai USD 305 miliar hingga USD 3,54 triliun. Temuan ini menyoroti tingginya urgensi dalam upaya konservasi, pengelolaan hutan berkelanjutan, serta pengembangan kebijakan ekonomi berbasis hutan guna mendukung mitigasi perubahan iklim dan optimalisasi perdagangan karbon berbasis hutan di Asia Tenggara.
ESTIMASI RISIKO GEMPA BUMI MELALUI PENGEMBANGAN PETA EKSPOSUR BERBASIS TAKSONOMI BANGUNAN, STUDI KASUS KAWASAN KONVERGENSI AKTIF SEGMEN BANDA
Penelitian ini menilai eksposur dan potensi kerugian akibat gempa pada fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan permukiman di Kawasan konvergensi aktif segmen Banda, yang berada pada zona tektonik kompleks antara Lempeng Australia, Pasifik, Eurasia, serta mikroblok lokal. Urgensi penelitian muncul dari kebutuhan informasi spasial rinci mengenai bangunan publik, karena fasdik dan faskes tidak hanya menyediakan layanan dasar tetapi juga sering berfungsi sebagai lokasi evakuasi darurat. Data eksposur makro saat ini belum cukup untuk mitigasi risiko lokal, sementara permukiman merupakan kategori bangunan paling luas dan rentan. Oleh karena itu, pemetaan mikrospasial berbasis taksonomi LW, MUR, MCF, dan CR menjadi penting untuk menilai kerentanan dan mendukung pengambilan keputusan. Hasil pemetaan menunjukkan sebagian besar fasdik (SD–SMP–SMA) bertipe MCF, dengan jumlah tertinggi di Sulawesi Tengah (SD: 2.277; SMP: 696; SMA: 180) dan Sulawesi Utara (SD: 1.892; SMP: 618; SMA: 193), sedangkan Maluku dan Maluku Utara masih didominasi MUR. Puskesmas sebagian besar juga MCF, terutama di Sulawesi Tengah (109 unit) dan Maluku (102 unit), sementara MUR dan LW hadir di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Analisis populasi terdampak (bangunan dengan damage ratio ?10%) menunjukkan jumlah penduduk terdampak fasdik 12.438–35.343 jiwa (SD), 14.895–33.837 jiwa (SMP), dan 11.448–26.970 jiwa (SMA); faskes 1.125–18.874 jiwa per fasilitas; sedangkan permukiman menampilkan paparan tertinggi, mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta jiwa per provinsi. Penelitian ini menyediakan peta eksposur mikrospasial, estimasi kerugian ekonomi, dan jumlah populasi terdampak, yang dapat digunakan sebagai dasar ilmiah untuk mitigasi bencana, prioritisasi perkuatan bangunan, alokasi sumber daya, dan strategi kesiapsiagaan, mendukung pembangunan wilayah tangguh terhadap risiko gempa bumi.
STRATEGI PENGUATAN SISTEM PENGENDALIAN PEKERJAAN PROCESS HAZARD ANALYSIS (PHA) UNTUK MENGATASI KETERLAMBATAN DAN MENCAPAI ZERO OVERDUE: STUDI KASUS DALAM TECHNICAL ENGINEERING PT PERMONO RAKIN
Penelitian ini membahas mengenai kajian efektivitas sistem pengendalian pemantauan item pekerjaan Process Hazard Analysis (PHA) pada PT Permono Rakin yang belum konsisten mencapai target perusahaan Zero Overdue, di mana 12 dari 73 pekerjaan PHA dalam dua tahun terakhir mengalami keterlambatan atau overdue. Penggunaan kerangka Management Control System (MCS) Anthony dan Govindarajan yang memiliki empat elemen utama (Perencanaan, Pengukuran, Evaluasi, dan Tanggung Jawab) dalam studi ini, mendorong adanya identifikasi terhadap akar masalah yang meliputi penjadwalan yang tidak berbasis kapasitas, pengukuran yang reaktif dan bulanan, serta kurangnya feedback control yang efektif. Untuk meresponi teori MCS, pendekatan kualitatif dengan metode analisis Control Adequacy, Feedback Control Effectiveness, Gap Analysis, dan RACI Matrix diterapkan sebagai bahan evaluasi elemen MCS yang ada dan memverifikasi akar masalah. Sebagai solusi, strategi penguatan MCS diusulkan, berfokus pada transisi dari Action Control ke Results Control melalui implementasi sistem perencanaan yang diselaraskan dengan kapasitas, pengukuran mingguan berbasis milestone, dan learning integration untuk peningkatan berkelanjutan. Implementasi strategi terhadap system monitoring PHA ini diharapkan dapat menguatkan sistem pengendalian manajerial, secara fundamental mengatasi masalah keterlambatan PHA, dan membantu PT Permono Rakin agar dapat mencapai target Zero Overdue.
DENOISING CITRA GALAKSI MENGGUNAKAN PENDEKATAN DEEP LEARNING BERBASIS NEURAL NETWORK
Citra astronomi (astronomical image) memiliki peran yang krusial dalam pengamatan astronomi (baik untuk identifikasi, analisis, maupun visualisasi). Namun, kualitas citra sering terdegradasi oleh berbagai masalah, salah satunya distraksi derau noise. Derau noise dapat muncul akibat berbagai faktor, seperti sifat intrinsik dan proses elektronik instrumen observasi, kondisi atmosfer, fluktuasi latar belakang, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan untuk mengurangi noise pada citra astronomi agar dihasilkan citra yang lebih baik. Neural network merupakan subset dari pembelajaran mesin (machine learning) dan inti dari algoritma pembelajaran mesing mendalam (deep learning). Cara kerja neural network yaitu dengan mereplikasi cara kerja otak manusia yang terdiri dari berbagai neuron untuk mempelajari serta memahami suatu hal, termasuk identifikasi noise pada gambar. Secara garis besar, cara kerja model berbasis neural network dalam mengurangi noise adalah dengan mengidentifikasi noise pada citra dan menghasilkan citra yang lebih bersih. Pada tugas akhir ini, dilakukan proses denoising pada citra gugus galaksi Stephan’s Quintet (koordinat ? 22:36:07.99 dan ? +33:57:53.1) dari Hubble Space Telescope (HST) menggunakan metode Denoising Convolutional Neural Network (DnCNN) dengan data training set berasal dari pemodelan GALFIT. Hasil denoising tersebut kemudian dibandingkan dengan citra galaksi yang sama dari instrumen yang lebih canggih, yaitu James Webb Space Telescope (JWST). Tujuan perbandingan ini adalah untuk mengevaluasi kemampuan metode DnCNN dalam meningkatkan kualitas citra melalui pengurangan noise. Evaluasi ini dilakukan secara kuantitatif dengan melakukan estimasi nilai Peak Signal-to-Noise Ratio (PSNR), Naturalness Image Quality Evaluator (NIQE), dan analisis profil S´ersic. Selain itu, dilakukan juga peninjauan tingkat kesalah error dari model yang sudah dilatih menggunakan loss function Mean Squared Error. Lalu, dilakukan juga evaluasi kualitatif performa model melalui perbandingan residual dan perbandingan visual melalui detektor alami (mata pengamat) berdasarkan hasil inferensi model.
PERANCANGAN GEDUNG RUMAH SAKIT SEMBILAN LANTAI DENGAN KETIDAK BERATURAN DI JAKARTA
Tugas akhir ini berfokus pada perancangan struktur gedung rumah sakit sembilan lantai yang berlokasi di Jakarta, dengan konfigurasi podium pada lantai 1-3 dan menara (tower) pada lantai 4-9. Struktur didesain menggunakan Sistem Ganda yang mengombinasikan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Sistem Dinding Struktural Khusus (SDSK) sesuai dengan Kategori Desain Seismik (KDS) D. Perancangan mengacu pada SNI 2847:2019 untuk persyaratan beton struktural, SNI 1727:2020 untuk pembebanan gravitasi, dan SNI 1726:2019 untuk pembebanan gempa. Berdasarkan hasil analisis, penempatan dinding geser terbukti efektif dalam memperbaiki mode ragam struktur, sementara pembesaran dimensi kolom di area podium diterapkan untuk memitigasi ketidakberaturan torsi berlebih. Identifikasi ketidakberaturan struktur meliputi ketidakberaturan torsi, sudut dalam, dan massa, di mana konsekuensi desain akibat ketidakberaturan tersebut telah diaplikasikan. Evaluasi kinerja seismik menggunakan analisis pushover menunjukkan bahwa struktur berada pada level kinerja Immediate Occupancy (IO), yang sesuai untuk fungsi gedung rumah sakit. Selanjutnya, dilakukan studi komparasi dengan memodelkan ulang struktur menggunakan dilatasi pada podium. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur awal memiliki kekakuan yang lebih baik dalam menahan simpangan dibandingkan struktur dengan dilatasi. Namun, penerapan dilatasi menghasilkan penyederhanaan geometri sehingga beberapa ketidakberaturan struktur dapat dieliminasi pada massa bangunan yang terpisah. Hasil perbandingan ini dapat berbeda pada variasi konfigurasi geometri, denah, dan sistem struktur yang lain.
ANALISIS HUKUM KEDUA TERMODINAMIKA UNTUK EVALUASI DAN OPTIMALISASI KINERJA PEMBANGKIT PADA PLTP ULUBELU UNIT 1-2
Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Ulubelu Unit 1 dan 2 di WKP Waypanas, Lampung, telah beroperasi sejak 2012 dan berperan sebagai base load power plant dengan kontribusi sekitar 25% terhadap pasokan listrik Provinsi Lampung. Setelah lebih dari satu dekade beroperasi, degradasi kinerja pada komponen utama seperti turbin, kondenser, dan cooling tower menjadi tantangan besar karena meningkatkan irreversibilitas dan menurunkan efisiensi sistem secara keseluruhan. Analisis hukum kedua termodinamika berbasis eksergi digunakan untuk mengidentifikasi sumber irreversibilitas, distribusi kerugian terbesar serta merumuskan strategi optimasi kinerja PLTP Ulubelu Unit 1 dan 2 yang layak secara teknis maupun ekonomis. Analisis dilakukan melalui pemodelan termodinamika menggunakan Cycle Tempo 5.0 dengan data operasi aktual yang dibandingkan terhadap kondisi desain (baseline), dilanjutkan dengan analisis exergy destruction pada tiap komponen utama. Selanjutnya, evaluasi kelayakan ekonomi strategi optimasi dilakukan menggunakan indikator Internal Rate of Return (IRR) dan Pay Out Time (POT). Hasil penelitian menunjukkan efisiensi eksergi eksisting sebesar 58,1% (Unit 1) dan 57,9% (Unit 2), lebih rendah dibandingkan kondisi baseline sebesar 66,5%. Kontributor utama kerugian eksergi berasal dari kondenser, turbin, dan cooling tower dengan kontribusi masing-masing di atas 10%. Strategi optimasi yang diusulkan meliputi optimasi sistem Gas Ejector melalui pemasangan Variable Frequency Drive (VFD) pada Liquid Ring Vacuum Pump (LRVP), perbaikan seal dan bearing turbin, serta pemasangan VFD pada kipas cooling tower. Hasil evaluasi ekonomi menunjukkan pemasangan VFD LRVP dan kipas cooling tower layak secara ekonomi dengan IRR di atas 30% dan POT kurang dari 3,5 tahun. Implementasi optimasi meningkatkan efisiensi eksergi menjadi 64,8% (Unit 1) dan 64,7% (Unit 2).