📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

EVALUASI PERILAKU PENGGUNA ADVANCED DRIVER ASSISTANCE SYSTEM (ADAS) DI INDONESIA DENGAN PENDEKATAN COGNITIVE-AFFECTIVE-CONATIVE

Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) merupakan inovasi krusial untuk meningkatkan keselamatan berkendara dengan meminimalkan human error, penyebab utama kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Meskipun potensinya besar, pemanfaatan ADAS di Indonesia belum optimal karena adanya kesenjangan pada pemanfaatan teknologi ADAS akibat variabel perilaku pengguna. Penelitian ini hadir untuk mengevaluasi faktor-faktor perilaku yang memengaruhi penggunaan ADAS yang umum digunakan di Indonesia dengan mengadopsi kerangka teori Cognitive-Affective-Conative (CAC), sehingga dapat dikembangkan rekomendasi strategi untuk meningkatkan penggunaan ADAS di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei kuesioner yang disebarkan kepada 430 pengguna ADAS di Indonesia. Kuesioner yang dikembangkan didasari oleh model konseptual penggunaan ADAS dari penelitian Mudiastuti, (2025) yang terdiri dari variabel Pemahaman dan Persepsi (Kognitif), Preferensi dan Intensi (Afektif), serta Penggunaan (Konatif). Data survei dianalisis menggunakan beberapa uji statistik non parametrik dan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji perbedaan statistik serta menguji setiap hipotesis hubungan antar variabel pada model konseptual. Hasil evaluasi model struktural menunjukkan bahwa semua jalur hipotesis secara signifikan memiliki hubungan positif. Hal tersebut mengkonfirmasi adanya pengaruh variabel perilaku dalam konteks adopsi ADAS di Indonesia. Preferensi (PF) ADAS terbukti menjadi variabel perilaku paling penting dengan nilai effect size (f 2 ) terbesar dalam mendorong Penggunaan (PG) ADAS di Indonesia. Selain itu, hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan perilaku signifikan berdasarkan jenis kelamin, namun ditemukan adanya kesenjangan generasi yang jelas, di mana pengemudi berusia 17-25 tahun menunjukkan tingkat pemahaman dan penggunaan aktual yang lebih rendah dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan penggunaan ADAS, dikembangkan rekomendasi berupa pelatihan berbasis simulator dan kampanye ADAS berbasis sosial media.

2025
👤 Penulis: Farhan Azmi Fathia
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EVALUASI DESAIN UNTUK MINIMASI KESALAHAN IDENTIFIKASI NOMINAL: TINJAUAN ATENSI UNTUK UANG KERTAS 2.000 DAN 20.000 RUPIAH TAHUN EMISI 2022

Di antara pecahan uang Rupiah kertas Tahun Emisi 2022, Rp2.000 dan Rp20.000 merupakan pecahan yang paling sering tertukar dalam transaksi sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi desain uang kertas rupiah nominal dari segi atensi berdasarkan uang Rp2.000 dan Rp20.000, sehingga dapat diberikan usulan desain untuk meminimasi kesalahan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Adapun metode kuantitatif dilakukan dengan eksperimen eye tracking, sedangkan kualitatif dengan wawancara. Penelitian dilakukan pada sebanyak 24 partisipan yang berumur 20-30 tahun. Eksperimen dilakukan dengan mengamati uang Rp2.000 dan Rp20.000 dalam berbagai orientasi, sementara data direkam menggunakan perangkat Pupil Core. Metrik utama yang dianalisis meliputi Time to First Fixation (TTFF), Total Fixation Duration (TFD), dan Fixation Count (FC). Selebihnya, wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi tambahan terkait persepsi partisipan terhadap uang Rupiah terbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atensi partisipan paling lama cenderung tertuju pada area potret dan angka nominal utama. Potret pahlawan sebagai elemen paling besar menjadi area yang paling dahulu dilihat. Visualisasi heatmap dan scanpath memperkuat temuan ini. Selebihnya, wawancara menunjukkan bahwa aspek warna, kontras, serta jumlah angka nol turut memengaruhi preferensi partisipan. Temuan ini memberikan implikasi desain terhadap kejelasan identifikasi uang.

2025
👤 Penulis: Ivanna Naisha Agastya
🏷️ Desain Uang Kertas 🏷️ Analisis Perhatian Pengguna 🏷️ Kecerdasan Buatan

DEVELOPMENT AND IMPLEMENTATION OF SCALABLE ROBUST MODEL REFERENCE ADAPTIVE CONTROLLERS IN A DUAL-AXIS SOLAR TRACKING SYSTEM

Meningkatkan efisiensi sistem energi surya telah menjadi hal yang kritis dalam skala global dan mengimplikasikan kebutuhan sistem pelacakan surya (SPS) yang presisi. Hal ini mencakup peningkatan akurasi SPS untuk meminimalisasi galat pelacak surya pada arah azimuth dan elevasi. Galat pelacak surya dapat meningkat akibat nonlinearitas, gangguan eksternal seperti angin, dan kesalahan model dari ketidakpastian hasil identifikasi sistem. Penolakan gangguan dan robustness tidak diatasi sepenuhnya dengan pelacakan konvensional. Oleh karena itu, pengendali adaptif diterapkan dalam penelitian ini, khususnya Robust Model Reference Adaptive Controller (RMRAC). Pengembangan RMRAC ini menampilkan keunikan dalam metode optimasi ????? sehingga tindakan sistem kendali dapat diskalakan. Hal ini dimungkinkan melalui derivasi pertidaksamaan matriks linier yang dapat diskalakan, yang dimodifikasi dari RMRAC yang diusulkan sebelumnya. Implementasi RMRAC yang baru dikembangkan pada sistem SPS dua sumbu di Simscape, bersama dengan implementasi Linear Quadratic Regulator (LQR) konvensional dan ? Modified MRAC (MMRAC) diinvestigasi dan dibandingkan dalam hal galat pelacak surya untuk penolakan terhadap gangguan, serta ketahanan terhadap kesalahan model (ketidakpastian terstruktur). Dalam kondisi ideal, RMRAC sebanding dengan LQR, sementara RMRAC memiliki penurunan galat pelacak surya sebesar 10,90 % dalam arah elevasi dan 0,14 % dalam arah azimuth dibandingkan dengan MMRAC. Dengan gangguan eksternal, RMRAC terbukti mampu mempertahankan galat pelacak surya yang lebih baik sebesar 1,47 % dan 1,91 % daripada LQR, tetapi menunjukkan penurunan galat pelacak surya sebesar 0,14 % dan 11,36 % dibandingkan MMRAC, pada arah azimuth dan elevasi. Terakhir, dengan ketidakpastian terstruktur, pengendali disimulasikan dan Root Mean Squared Error dihitung serta ditampilkan pada diagram probabilitas normal untuk setiap ketidakpastian. Namun, RMRAC memiliki rentang efek kesalahan terkecil dengan peningkatan sebesar 99,59 % dibandingkan dengan rentang efek LQR.

2025
👤 Penulis: Siti Abyad Khadijah Ghozali
🏷️ Kontrol Autopembaruan 🏷️ Pelacakan Surya 🏷️ Optimasi Kontrol

ANALISIS EFEKTIVITAS PERAN BANK SAMPAH DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN BANDUNG BARAT MENGGUNAKAN THEORY OF PLANNED BEHAVIOUR (TPB)

Permasalahan persampahan di wailayah Bandung Raya masih tetap menjadi persoalan yang belum juga terselesaikan. Tidak terkecuali dengan permasalahan persampahan di Kabupaten Bandung Barat (KBB). KBB merupakan lokasi dari keberadaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Satimukti, TPA Sarimukti sendiri awalnya adalah tempat pengolahan sampah kompos yang lahannya dimiliki oleh perhutani yang memiliki luas sebesar 21,2 Ha. Dalam catatan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, setiap tahun timbulan sampah yang masuk ke TPA Sarimukti selalu bertambah. Kota Bandung menjadi penyumbang terbanyak se-Bandung Raya dengan total sampah yang dihasilkan sebanyak 6.495.971 ton atau sekitar 77,15% dari keseluruhan sampah yang menjadi beban TPA, kemudian ada pula timbulan sampah yang dihasilkan oleh Kabupaten Bandung Barat sebanyak 546.566 ton. Karena banyaknya sampah yang masuk ke Sarimukti dan bertambah seiring waktu akhirnya membuat TPA Sarimukti sudah tidak layak lagi untuk menampung sampah karena sudah melebihi kapasitasnya. TPA Sarimukti awalnya diracang hanya untuk menampung sampah sebesar 1.962.637 m3, sedangkan sampah yang telah masuk pada laporan akhirnya sebesar 15.434.994 m3 dan sudah harus ditutup sejak tahun 2017 lalu. Kelebihan kapasitas ini yang kemudian menyebabkan sungai di sekitarnya menjadi tercemar hingga membuat DLH Provinsi Jawa Barat terkena sanksi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan hingga pada akhirnya mengalami kebakaran pada 20 Agustus 2023. Hingga pada akhirnya pemerintah Kabupaten Bandung Barat mengeluarkan surat Intruksi Bupati Nomor 8 Tahun 2023 Tentang Penanganan Sampah Pada Masa Darurat dan Pasca Masa Darurat Sampah Kabupaten Bandung Barat yang intinya mengintruksikan untuk wajib mengelola sampah secara mandiri melalui bank sampah. Untuk itu, Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya jumlah timbulan sampah yang terus meningkat setiap tahunnya yang menyebabkan sampah tidak dapat dikelola dengan baik sehingga pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung Barat belum efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana efektivitas pengelolaan sampah melalui aktivitas yang ada di Bank Sampah. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah pendekatan kuantitatif. Teori yang digunakan dalam penelitian ini dalam kegiatan pengelolaan sampah yang kurang efektif dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek pengelolaan sampah dalam proses pencapaian tujuannya yaitu aspek pengelolaan sampah yang diukur melalui metode Theory of Planned Behaviour (TPB) yang menyasar aspek tingkat pengetahuan, persepsi dan sikap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah melalui Bank Sampah cukup efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dalam bertanggung jawab terhadap sampah yang ditimbulkannya.

2025
👤 Penulis: Irsan Muzaki Fadilah
🏷️ Theory Of Planned Behaviour (Tpb) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

RESILIENSI MANUSIA TERHADAP HAWA PANAS: TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIK MENGENAI STRATEGI ADAPTASI BAGI KESEHATAN LINGKUNGAN DI KAWASAN ASIA TENGGARA

Asia Tenggara merupakan rumah bagi sekitar 679 juta orang, mewakili 8,3% dari populasi dunia. Delapan dari sebelas negara di kawasan tropis ini menyatakan bahwa mereka mengalami gelombang panas. Tren ini diperkirakan akan semakin intensif seiring waktu, menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia di kawasan ini, sehingga diperlukan strategi adaptasi yang efektif. Studi ini melakukan Systematic Literature Review (SLR) untuk mensintesis bagaimana negara-negara di Asia Tenggara terpapar dan merespons panas. Pedoman PRISMA digunakan dalam studi ini, dan alat SLR berbasis web (Watase Uake) digunakan untuk mengumpulkan artikel dari jurnal bereputasi yang terindeks Scopus dalam 10 tahun terakhir (2015–2025) mengenai isu panas dan adaptasi di Asia Tenggara. Dari pencatatan awal, ditemukan 144 artikel relevan yang dianalisis. Data yang diekstraksi mencakup isu kesehatan terkait panas, adaptasi masyarakat, strategi untuk mengurangi dampak panas, dan kebijakan nasional. Hasil studi ini mengungkapkan kelompok rentan, risiko kesehatan secara fisik dan psikologis, strategi, serta efektivitas respons masing-masing negara terhadap panas, termasuk kebijakan dan regulasi yang diterapkan terkait kejadian panas. Banyak studi menunjukkan bahwa lansia, pekerja luar ruangan, dan komunitas berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling terdampak oleh panas, dengan penyakit yang umum terjadi adalah penyakit terkait panas seperti stres panas dan stroke panas. Peningkatan ruang terbuka hijau merupakan strategi yang paling umum digunakan di semua negara untuk mengatasi panas, diikuti oleh modifikasi teknologi dan material. Hasil ini dibandingkan dengan status gelombang panas di setiap negara, sehingga dapat menyiratkan kesiapan negara dalam menghadapi panas di wilayah masing-masing. Kami merekomendasikan peningkatan integrasi adaptasi terhadap panas ke dalam perencanaan kesehatan masyarakat dan tata kota, serta memperkuat kolaborasi regional untuk meningkatkan ketahanan komunitas terhadap panas.

2025
👤 Penulis: Dian Anggreani Sugesti
🏷️ Resiliensi Manusia 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EVALUASI KINERJA SEISMIK BERDASARKAN ASCE 41-17 GEDUNG RUMAH SAKIT EKSISTING DENGAN KETIDAKBERATURAN TORSI DAN SUDUT DALAM YANG DIRANCANG MENGGUNAKAN SNI 1726:2002

Gedung rumah sakit merupakan bangunan dengan risiko tinggi jika mengalami kegagalan. Oleh karena itu perlu adanya regulasi terkait bangunan tahan gempa mengingat Indonesia termasuk wilayah yang rawan terjadi gempa sebagaimana diatur dalam SNI 1726. Akan tetapi, SNI gempa mengalami beberapa kali pembaruan sehingga menuntut evaluasi kinerja struktur yang didesain dengan peraturan lama agar tetap memenuhi target kinerja sesuai peraturan yang terbaru. Evaluasi kinerja seismik bangunan eksisting di Indonesia semakin penting mengingat kerentanan struktur lama terhadap gempa, terutama yang memiliki ketidakberaturan sehingga memperketat batasan untuk evaluasi kinerja struktur eksisting. Penelitian ini menganalisis kinerja seismik gedung rumah sakit (kategori risiko IV) lima lantai dengan basement, yang didesain berdasarkan SNI 1726:2002 dan memiliki ketidakberaturan torsi (horizontal 1b) serta sudut dalam, dengan evaluasi kinerja mengacu pada ASCE 41-17. Hasil evaluasi bangunan eksisting adalah kurangnya kekakuan yang dimiliki oleh struktur sehingga simpangan antar tingkat melampaui batasan sedangkan untuk level elemen memenuhi secara keseluruhan. Retrofit dilakukan dengan penambahan dinding geser sehingga kekakuan lantai meningkat signifikan, kapasitas story shear naik sebesar 12–40%, periode fundamental struktur memendek, dan base shear meningkat cukup signifikan pada kedua arah, sementara massa bangunan hanya bertambah 5,27%. Analisis respons struktur dilakukan menggunakan ETABS dengan metode Non-Linear Time History Analysis (NLTHA) terhadap 11 pasang gempa yang telah diskalakan menggunakan spectral matching bidirectional RotD100. Kriteria global dievaluasi berdasarkan interstory drift, sedangkan kriteria lokal menggunakan sendi plastis dan Demand Capacity Ratio (DCR). Hasil menunjukkan struktur eksisting memenuhi persyaratan kekuatan (DCR ? 1,0) dan sendi plastis masih berada di bawah batas izin, namun simpangan antar tingkat melampaui batas yang diizinkan sehingga mengindikasikan kekakuan lateral yang tidak memadai. Setelah retrofit, interstory drift menurun secara signifikan dan memenuhi acceptance criteria untuk BSE-1E (Immediate Occupancy) dan BSE-2E (Life Safety), dengan DCR dan sendi plastis pasca retrofit tetap berada dalam batas aman.

2025
👤 Penulis: Gilang Mahardhika
🏷️ Gedung Rumah Sakit 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Retrofit Struktur

ESTIMASI KANDUNGAN BIOMASSA ATAS TANAH (ABOVEGROUND BIOMASS) HUTAN MANGROVE MENGGUNAKAN CITRA SATELIT SENTINEL-2 DI KELURAHAN MANGUNHARJO, KOTA SEMARANG

Hutan mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki peran penting dalam perlindungan pantai, penopang keanekaragaman hayati, serta sebagai penyerap karbon yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi kandungan Aboveground Biomass (AGB) hutan mangrove di Kelurahan Mangunharjo, Kota Semarang, serta mengevaluasi kemampuan indeks vegetasi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) sebagai variabel penduga AGB menggunakan citra satelit Sentinel-2. Pengambilan data lapangan dilakukan pada sepuluh plot pengamatan dengan dua rumpun kawasan yang memiliki komposisi vegetasi berbeda. Estimasi AGB dihitung menggunakan persamaan alometrik spesifik untuk Avicennia marina dan Rhizophora mucronata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata AGB pada Rumpun A sebesar 149,408 ton/ha dan Rumpun B sebesar 160,144 ton/ha, dengan total AGB kawasan mencapai 4.740,01 ton. Analisis regresi linier menunjukkan hubungan yang lemah antara NDVI dan AGB (R² = 0,1292) dengan kemiringan negatif, sehingga NDVI tidak dapat digunakan sebagai penduga biomassa pada lokasi penelitian. Sebaliknya, NDVI memiliki hubungan yang kuat dengan tutupan kanopi (R² = 0,686), sehingga lebih tepat digunakan untuk estimasi kerapatan kanopi daripada biomassa. Dengan demikian, variabel atau indeks tambahan seperti EVI, SAVI, atau parameter struktur vegetasi direkomendasikan untuk meningkatkan akurasi estimasi AGB.

2025
👤 Penulis: Abhinaya Farrel Gardamandala
🏷️ Hidrologi 🏷️ Ekosistem Pesisir 🏷️ Analisis Biomassa Vegetasi

SIMULATED IDENTITY SEBAGAI MANIFESTASI DESAIN DIRI DIGITAL: STUDI KASUS PENGGUNAAN PLATFORM ZEPETO

baru bagi individu untuk mengekspresikan diri dan membangun identitas yang bersifat cair, fleksibel, serta tidak selalu merujuk pada representasi fisik di dunia nyata. Fenomena ini dikenal sebagai simulated identity, yakni identitas digital yang diwujudkan melalui avatar yang dapat dikustomisasi, diubah, dan dipresentasikan dalam interaksi sosial virtual. Avatar tidak hanya berfungsi sebagai elemen visual semata, tetapi juga sebagai medium komunikasi, sarana eksplorasi diri, serta strategi pengelolaan impresi dalam pergaulan digital. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana seorang pengguna Zepeto membentuk dan memaknai simulated identity melalui avatar yang digunakannya. Fokus analisis diarahkan pada pengalaman pengguna dalam mengartikulasikan identitas, berinteraksi dengan pengguna lain, dan menegosiasikan representasi diri di dalam ruang virtual. Dalam penelitian ini, aspek-aspek tersebut dipahami melalui perspektif desain interaksi dan pengalaman pengguna (UI/UX), yang membantu menjelaskan bagaimana fitur kustomisasi, elemen visual, dan antarmuka Zepeto mendukung terbentuknya pengalaman identitas digital pengguna. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap seorang partisipan yang aktif menggunakan Zepeto. Data dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke, yang meliputi proses transkripsi, pengkodean awal, identifikasi tema, peninjauan, pendefinisian, hingga penyusunan laporan. Analisis menghasilkan empat tema pada tahap awal yang kemudian disintesiskan menjadi tiga temuan utama: (1) ekspresi kreativitas melalui kustomisasi avatar yang merepresentasikan aspirasi diri ideal; (2) dinamika interaksi sosial yang dibentuk oleh karakteristik dan estetika avatar; serta (3) strategi manajemen identitas dalam pergaulan virtual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simulated identity dalam Zepeto berfungsi sebagai ruang interaksi yang kompleks, menggabungkan ekspresi estetis, dinamika relasi sosial, dan pengelolaan identitas. Melalui perspektif desain interaksi, terlihat bahwa keputusan visual dan fitur antarmuka turut memediasi cara individu mengekspresikan diri, memahami identitas digitalnya, serta membangun hubungan dengan pengguna lain. Temuan ini membuka peluang kajian lebih lanjut mengenai hubungan antara desain platform avatar, pengalaman pengguna, dan pembentukan identitas digital di era media virtual.

2025
👤 Penulis: Bebay Hana Balqis
🏷️ Desain Interaksi Digital 🏷️ Avatar Dalam Media Virtual 🏷️ Pengelolaan Identitas Digital

KAJIAN FENOMENOLOGI PENGALAMAN ARTISTIK PERUPA LINTAS-MEDIA SEBAGAI PROSES EPISTEMIK DALAM KREASI MENGGUNAKAN VIRTUAL REALITY

Praktik artistik berevolusi secara fundamental seiring perkembangan teknologi media, dengan virtual reality (VR) menjadi salah satu lompatan paling transformatif di era seni rupa kontemporer. Sebagai lingkungan kreasi yang imersif, VR secara radikal mengubah cara seni diproduksi, dialami, dan diketahui. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan pemahaman mengenai bagaimana perupa dengan basis pengetahuan pada media fisik atau digital non-imersif mengalami proses transformasi epistemik (sebuah restrukturisasi mendalam pada cara mengetahui, merasakan, dan mencipta) saat pertama kali berinteraksi dengan medium baru ini. Penelitian ini menjembatani tiga kesenjangan utama: (1) kesenjangan empiris mengenai minimnya dokumentasi proses kognitif dan embodied pada momen transisi perdana perupa ke VR; (2) kesenjangan teoretis, di mana teori mapan seperti pengalaman artistik John Dewey dan Limas Citra Manusia Primadi Tabrani memerlukan perluasan untuk menjelaskan fenomena imaterialitas dan interaktivitas digital; serta (3) kesenjangan praktis-epistemologis terkait ketiadaan landasan berbasis riset untuk pengembangan pedagogi seni VR di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar dan memodelkan proses transformasi pengetahuan artistik yang dialami perupa pada momen inisiasi dengan VR. Dengan berlandaskan paradigma interpretif-konstruktivis dan pendekatan fenomenologi, penelitian dirancang sebagai studi kasus mendalam pada tiga perupa profesional (ilustrator, pematung, dan pelukis) yang belum memiliki pengalaman VR. Data primer dikumpulkan melalui eksperimen praktik berkarya tiga tahap yang terstruktur menggunakan aplikasi OpenBrush, yang didukung oleh strategi triangulasi metodologis mencakup observasi non-interventif, protokol thinking out loud, dan wawancara reflektif semi-terstruktur. Hasil penelitian menemukan sebuah pola transformatif yang konsisten dan dirumuskan sebagai kontribusi teoretis utama: sebuah “Model Epistemologi Artistik VR”. Model ini memetakan sebuah trajektori pembelajaran yang dialami perupa melalui empat tahap epistemik sekuensial: (1) Inisiasi Kognitif, ditandai oleh disorientasi spasial dan upaya rasional untuk memahami logika teknis medium; (2) Konflik Pengetahuan Embodied, sebuah fase krisis di mana memori otot dan kebiasaan kerja dari media fisik berbenturan dengan ketiadaan umpan balik haptik dan materialitas virtual; (3) Sintesis Intuitif-Kreatif, momen terobosan di mana perupa berhenti mereplikasi pengetahuan lama dan mulai “berpikir melalui medium” dengan merangkul affordance unik VR; dan (4) Integrasi Epistemik, tercapainya harmoni praktik di mana perupa secara metakognitif memposisikan VR dalam ekosistem kreatifnya yang diperluas. Model ini secara teoretis memberikan perluasan kritis terhadap kerangka yang ada. Ia merevitalisasi teori pengalaman Dewey dengan memperkenalkan konsep “resistensi algoritmik” sebagai pengganti resistensi fisik dalam siklus doing undergoing. Selain itu, model ini juga memperkaya Model Limas Citra Manusia Tabrani dengan menganalisis “krisis haptik” dan perlunya rekonfigurasi makna “Fisik”, “Gerak”, dan “Perasaan” dalam konteks digital. Pada puncaknya, penelitian ini tidak hanya memetakan proses adaptasi, tetapi juga mengusulkan pergeseran pemahaman filosofis terhadap subjek perupa di era digital, bukan sebagai posthuman, melainkan sebagai “subjek epistemik yang diperluas” (expanded epistemic subject), yang kerangka pengetahuan dan kapabilitas sensorimotornya menyatu dan diperluas melalui medium teknologinya. Implikasi praktis penelitian ini menawarkan landasan bagi pengembangan pedagogi seni VR yang sensitif terhadap proses pembelajaran embodied dan transformatif.

2025
👤 Penulis: Muhamad Fauzan Sidik
🏷️ Virtual Reality 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

REPRESENTASI VISUAL ELEMEN MUSIK DAN MAKNA LIRIK LAGU DALAM PERANCANGAN MOTIF TEKSTIL (STUDI PADA LAGU DOLANAN JAWA GUNDHUL- GUNDHUL PACUL)

Sebagai bentuk media untuk pengayaan dan diseminasi budaya, alih wahana dalam seni sudah banyak diterapkan dan digunakan seperti pada musik, film, tari, puisi, ataupun seni rupa. Sebagai dua disiplin yang berbeda namun sama-sama menjadi bagian dari rumpun seni, seni musik dan seni visual memiliki struktur dan prinsipnya masing – masing dengan penamaannya yang serupa pula. Persamaan dan perbedaan ini menimbulkan banyak ruang untuk didiskusikan ketika keduanya diteliti, dibandingkan, serta dikolaborasikan untuk membuat sebuah karya seni alih wahana sebagai bentuk diseminasi dari budaya Indonesia. Disertasi ini mengajukan kerangka translasi intersemiotik yang komprehensif untuk memindahkan tanda-tanda musik dan lirik ke dalam tanda-tanda visual pada perancangan motif tekstil, dengan studi kasus lagu dolanan Jawa “Gundhul - Gundhul Pacul.” Berangkat dari kritik atas praktik desain yang selama ini hanya “terinspirasi” musik yang cenderung literal, menonjolkan lirik semata, serta mengabaikan elemen musik, penelitian ini menawarkan pendekatan terpadu yang menyeimbangkan elemen musik (melodi, irama, harmoni, struktur, tempo, dinamika, timbre) dan nilai/makna lirik, serta menempatkannya dalam konteks sosio-kultural masyarakat Jawa. Secara teoretik, riset ini memadukan gagasan interelasi seni (Munro; Langer) dengan translasi intersemiotik (Jakobson) dan rekognisi dalam pemaknaan tanda, guna menunjukkan bahwa representasi visual musik bukan sekadar kode teknis, melainkan produk pengalaman budaya yang hidup. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif interdisipliner dengan rancangan research-led-practice yang iteratif. Pengumpulan data dilakukan melalui (1) studi literatur untuk menelusuri sejarah hubungan musik–visual (termasuk Nut Rante sebagai representasi awal gendhing Jawa); (2) wawancara semi-terstruktur dengan ahli sastra/etnolinguistik Jawa, etnomusikologi, antropologi musik, dan psikologi musik untuk menggali makna lirik, karakter elemen musik, serta jembatan perseptualnya ke visual; (3) participant-produced free-drawing exploratory study pada partisipan (?17 tahun) untuk menangkap representasi visual elemen musik dari perspektif pengguna budaya; (4) focus group discussion (FGD) baik dengan pakar motif/ musik maupun perwakilan Generasi Y dan Z untuk menguji keterbacaan makna, kesinambungan visual-musikal, serta potensi aplikasinya. Data gambar dikodekan (arah, posisi, bentuk, warna) dan dianalisis frekuensinya menggunakan NVivo, kemudian ditafsir secara semiotik. Tahap akhir berupa perancangan motif tekstil berbasis formula visual hasil analisis, dengan validasi kuantitatif (Skala Likert) dan penilaian kualitatif terhadap kesesuaian musik–visual dan keterbacaan nilai. Kontribusi utama penelitian ini mencakup tiga aspek. (1) Teoretis, penelitian ini merumuskan model translasi intersemiotika musik-ke-visual yang mengintegrasikan struktur musik, makna lirik, dan konteks sosio-kultural sebagai tiga poros setara. (2) Metodologis, menghadirkan protokol research-led practice yang dapat direplikasi dengan menggabungkan wawancara ahli, studi free-drawing lintas latar, analisis tematik-semiotik, dan validasi multi-pihak untuk menjembatani riset dan praktik desain. (3) Praktis, menghasilkan prototipe motif tekstil yang aplikatif bagi generasi Y dan Z, serta menawarkan panduan bagi perajin agar tidak mereduksi lagu menjadi ikon literal, melainkan menerjemahkan struktur dan makna musikal ke dalam komposisi rupa yang bermakna. Lebih jauh, hasil penelitian ini membuka paradigma baru dalam desain berbasis sensoris, di mana pengalamans ensoris dan emosional dipertemukan dalam satu sistem penciptaan yang integratif. Model translasi intersemiotika ini juga dapat diterapkan di bidang lain seperti desain produk, arsitektur, dan media digital interaktif.

2025
👤 Penulis: Christabel Annora P Parung
🏷️ Seni Rupa 🏷️ Intersemiotika 🏷️ Desain Sensoris

ANALISIS HUBUNGAN KESEDIAAN PARTISIPASI MASYARAKAT (WILLINGNESS TO CONTRIBUTE) DENGAN PENINGKATAN SANITASI AMAN DI KECAMATAN SOREANG, KABUPATEN BANDUNG

Target pelayanan sanitasi di Indonesia adalah terwujudnya 90% akses sanitasi layak, termasuk di dalamnya 15% rumah tangga memiliki akses sanitasi aman, serta penurunan angka BABS hingga 0% pada akhir tahun 2024. Persentase capaian layanan sanitasi di Kabupaten Bandung pada tahun 2024 adalah sebesar 93,66%, dengan 67,26% memiliki akses layak, 16,55% memiliki akses aman dengan penggunaan SPALD-S, dan 9,85% memiliki akses aman dengan penggunaan SPALD-T. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi existing sanitasi di Kabupaten Bandung, partisipasi masyarakatnya, dan faktor yang memengaruhi kemauan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan air limbah domestik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear untuk melihat faktor yang memberikan pengaruh terhadap keinginan masyarakat untuk berkontribusi dalam pengelolaan air limbah domestik. Pengelola mengutarakan bahwa infrastruktur yang saat ini dimiliki belum cukup untuk memfasilitasi kebutuhan pengolahan air limbah domestik di Kabupaten Bandung, dan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan air limbah domestik masih rendah, sehingga pengelola mengalami kesulitan untuk melibatkan masyarakat dalam perencanaan program sanitasi. Dari hasil kuesioner, sebagian masyarakat sudah mengetahui pengelolaan air limbah domestik di tempat tinggalnya dan sudah berkontribusi baik dalam bentuk jasa maupun finansial, namun sebagian lagi belum paham dan belum terlibat dalam pengelolaan air limbah domestik. Hasil regresi linear menunjukkan bahwa faktor pengetahuan memberikan dampak signifikan terhadap keinginan masyarakat untuk berkontribusi.

2025
👤 Penulis: Grace Novita Alexandra
🏷️ Sanitasi 🏷️ Partisipasi Masyarakat 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMODELAN DAN SIMULASI PRODUKSI HIDROGEN INSITU MENGGUNAKAN AMONIAK SEBAGAI UMPAN BAHAN BAKAR KAPAL BERDAYA 2 X 1200 HP

Dorongan global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) telah mendorong eksplorasi bahan bakar alternatif dan sistem energi, terutama di sektor seperti maritim/perkapalan yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Merespon hal tersebut International Maritime Organization (IMO) sebagai organisasi maritim internasional menetapkan penggunaan energi bebas GRK minimal 5%, dengan harapan dapat mencapai 10%, dari total energi yang digunakan oleh pelayaran internasional pada tahun 2030. Hidrogen dipilih sebagai salah satu pilihan bahan bakar yang bebas dari GRK, namun penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar masih mempunyai kedala terutama dari sisi penyimpanan. Amoniak dipandang sebagai bentuk hidrogen carrier yang potensial karena mempunyai kandungan hidrogen yang cukup tinggi yakni 17,8% dari berat amoniak dan mempunyai kematangan teknologi dan fasilitas yang cukup banyak tersebar karena telah banyak digunakan dalam industri pembuatan pupuk, namun aplikasi amoniak masih mempunyai kendala yakni dekomposisi amoniak yang bersifat sangat endotermik sehingga membutuhkan kondisi operasi yang optimal dan memiliki rapat energi yang rendah dibandingkan dengan bahan bakar lain berbasis karbon sehingga membutuhkan tangki bahan bakar yang besar. Penelitian ini membahas pemanfaatan NH3 sebagai bahan bakar alternatif kapal tunda bertenaga 2 x 1200 HP atau 1,8 MW melalui dekomposisi menjadi H2. Simulasi pertama dilakukan dengan analisis kinetik reaktor dekomposisi amoniak menggunakan reaktor aliran sumbat (plug flow reactor) yang dimodelkan menggunakan dengan modul RPLUG pada pengakat lunak Aspen Plus V.14 dengan memvariasikan dimensi reaktor seperti panjang reaktor serta jumlah dan diameter tabung pada reaktor. Hasil simulasi menunjukkan dimensi reaktor optimum didapatkan pada dimensi rektor: panjang 0,5 m, diameter 0,1 m, dan jumlah tabung 30. Setelah dimensi reaktor didapatkan, hasil tersebut digunakan untuk menyusun dua konfigurasi sistem berbasis fuel cell yakni sistem alternatif pertama (berbahan bakar NH3 untuk energi dekomposisi NH3) dan sistem alternatif kedua (berbahan bakar minyak diesel yang dimodelkan dengan n-hexadecane sebagai energi dekomposisi NH3). Hasil simulasi menunjukkan bawa sistem alternatif pertama menghasilkan emisi GRK lebih rendah sebesar 309,24 kg/jam dibanding sistem alternatif kedua sebesar 456,81 kg/jam, hasil simulasi tersebut menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah emisi yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan emisi kapal eksisting dengan daya yang sama yakni sebesar 522,56 kg/jam. Pada alternatif sistem pertama kondisi tersebut dicapai ketika fraksi massa H2 pada burner: 0,0046 dan NH3: 0,0058, sedangkan sistem alternatif kedua mencapai kondisi tersebut ketika fraksi massa H2 pada burner: 0, NH3: 0,0028 dan minyak diesel: 0,014. Hal yang berbeda terjadi pada parameter efisiensi sistem, efisiensi maksimum sistem alternatif kedua: 40,62% sedikit lebih tinggi daripada alternatif pertama: 40,06% pada kondisi tanpa H2 di burner, dan keduanya menurun hingga 39,81% pada fraksi massa H2 sebesar 4,64 × 10?³. Simulasi ketiga dilakukan dengan analisis variasi daya (pada sistem alternatif pertama di mana mempunyai emisi GRK terendah) menunjukkan bahwa kebutuhan umpan NH3 meningkat hampir linear dengan beban, dari 22,94 kg/jam (50 kW) hingga 433,65 kg/jam (900 kW), sedangkan efisiensi mencapai puncak 43,94% pada daya 300 kW sebelum kembali menurun. Perhitungan kebutuhan bahan bakar pada rute dari Pelabuhan Muat Tarahan ke Pelabuhan Bongkar di PLTU Rembang (394 nm) menghasilkan konsumsi 220.448 kg NH3 atau 30.883 kg H2 per perjalanan, jauh lebih besar dibandingkan kapal eksisting berbahan bakar diesel: 50.635 kg. Kajian volume peralatan menunjukkan bahwa sistem berbasis NH3 memerlukan ruang lebih besar dibandingkan sistem eksisting, sementara penyimpanan H2 cair lebih efisien daripada NH3 tetapi tetap lebih besar daripada minyak diesel. Hasil ini menegaskan bahwa NH3 berpotensi lebih layak digunakan sebagai bahan bakar alternatif kapal dibanding H2 bertekanan tinggi, meskipun masih terdapat tantangan dari sisi kebutuhan ruang peralatan.

2025
👤 Penulis: Aniq Luthfi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENYINGKAPAN PERISTIWA SAKRAL MELALUI SENI SPIRITUAL KONTEMPORER WACANA POST-TRADISI

Penelitian disertasi ini berupaya menyingkap kembali hakikat seni sebagai peristiwa kebenaran (the happening of truth) melalui riset artistik berbasis praktik (artistic research). Latar permasalahan berangkat dari krisis eksistensial manusia kontemporer yang hidup di tengah arus digitalisasi dan rasionalitas instrumental, yang mengikis ruang perenungan dan spiritualitas dalam kehidupan. Melalui pertemuan dengan seni tradisi Cirebon, khususnya lukisan kaca Srabad BantengWindu, Peneliti menemukan konsep “keseimbangan dalam ketidakseimbangan” sebagai simbol kesadaran spiritual dalam wujud harmoni dualitas paradoks. Konsep ini menjadi gagasan penciptaan karya seni kontemporer bertema spiritualitas dengan media plexiglass sebagai material kultural-industrial yang bersifat profan. Penelitian ini merupakan riset artistik (artistic research), menggunakan pendekatan Fenomenologi Hermeneutik Heidegger dan Filsafat Wujud Mulla Sadra untuk menelusuri makna keterbukaan (Aletheia/disclosure) dalam konteks seni sebagai peristiwa pengungkapan kebenaran. Melalui proses refleksi dan tindakan (reflection-in-action), peneliti mengeksplorasi gaya visual tradisi Larapan, serta eksperimen material plexiglass dengan tindakan intuitif, seperti pemanasan, pembakaran, dan pemukulan, untuk mengungkap hakikat materialnya yang transparan, reflektif, dan rapuh. Tindakan destruktif dan kontemplatif tersebut menjadi simbol pertumbuhan jiwa menuju wujud yang lebih nyata—sebuah proses kesadaran eksistensial-spiritual yang mencerminkan tegangan antara “world” (penyingkapan) dan “earth” (penyembunyian) sebagaimana dijelaskan oleh Heidegger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plexiglass, meskipun merupakan ii material profan dan produk budaya industrial-modern, dapat menjadi wahana bagi penyingkapan nilai-nilai sakral dalam konteks seni kontemporer. Intertekstualitas antara seni tradisi dan seni kontemporer melahirkan pendekatan post-tradisi, di mana nilai-nilai spiritual dan simbolik tradisi diinterpretasi ulang melalui teknologi dan medium baru tanpa kehilangan makna aslinya. Karya-karya yang dihasilkan menghadirkan ambiguitas visual antara keteraturan dan kekacauan, antara transparansi dan defraksi, sebagai cerminan harmoni dalam dualitas paradoks. Pada kesimpulannya seni sebagai modus keberadaan akan bersifat paradoks. Karena melalui dualitas paradoks yang harmonis dalam karya seni, jiwa terbebas dari dunia material sekaligus mengekspresikan dirinya di dunia imajiner. Terbebasnya jiwa dari dunia material merupakan peristiwa sakral bagi para pencari hikmah melalui tassawuf sepanjang hidupnya. Sehingga penelitian ini memperlihatkan fungsi seni sebagai jalan penyingkapan peristiwa sakral dan rahasia tersebut. Secara konseptual, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan paradigma seni spiritual kontemporer dengan menegaskan bahwa seni merupakan bentuk kesadaran eksistensial yang membuka jalan bagi keterhubungan antara manusia, material, dan realitas transenden. Proses penciptaan menjadi ruang dialektika antara teori dan praktik, antara keheningan spiritual dan tindakan artistik, yang menghasilkan pemahaman baru tentang seni sebagai peristiwa kebenaran dan jalan menuju kesadaran ilahiah. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan posisi seni post-tradisi sebagai medium penghubung antara sakralitas tradisi dan profanitas modernitas dalam lanskap seni rupa kontemporer.

2025
👤 Penulis: Ilhamsyah
🏷️ Kesadaran Spiritual 🏷️ Seni Kontemporer 🏷️ Post-Tradisi

MENGURANGI LEAD TIME PENGADAAN SUKU CADANG PERAWATAN DI PT BUKIT ASAM TBK

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memproses 2.679 permintaan pengadaan pada paruh pertama tahun 2025, di mana 55% di antaranya merupakan suku cadang perawatan yang penting untuk menjaga kelancaran dan keandalan operasi dengan total 1.368 Purchase Requisition (PR). Fokus penelitian ini adalah menganalisis dan meningkatkan waktu pengadaan untuk suku cadang perawatan mulai dari saat PR diajukan hingga Purchase Order (PO) selesai diterbitkan. Metodologi penelitian menggabungkan analisis kuantitatif terhadap data transaksi dengan pemodelan proses menggunakan BPMN dan simulasi melalui perangkat lunak Bizagi. Wawasan tambahan diperoleh melalui wawancara dan diskusi kelompok terarah bersama para pemangku kepentingan terkait. Simulasi proses As-Is menunjukkan bahwa total waktu pengadaan mencapai 60,5 hari dari awal hingga akhir, jauh melebihi target perusahaan sebesar 50 hari. Keterlambatan utama terjadi pada tahap pelaksanaan pengadaan dan pembuatan PO, terutama karena adanya prosedur berulang dan proses persetujuan yang masih dilakukan secara manual. Untuk mengatasi hal tersebut, penulis mengusulkan beberapa solusi bisnis melalui pendekatan Business Process Reengineering (BPR) seperti penerapan tanda tangan elektronik untuk mempercepat persetujuan, penerapan umbrella contract untuk menghilangkan siklus pengadaan yang berulang, serta implementasi sistem vendor rating dan risk dashboard yang memberikan visibilitas waktu nyata terhadap potensi masalah. Simulasi To-Be dari perbaikan yang diusulkan menunjukkan bahwa dalam skenario campuran, di mana 45% pengadaan menggunakan umbrella contract dan 55% tetap dengan metode konvensional, rata-rata waktu pengadaan menurun menjadi 44.7 hari dan berhasil melampaui target KPI yang diharapkan. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi alur persetujuan digital, pengaturan kontrak yang terstandar, dan pemantauan risiko secara proaktif dapat meningkatkan efisiensi operasional pengadaan. Selain itu, penelitian ini juga membuktikan nilai praktis dari penerapan BPR dalam meningkatkan proses pengadaan agar lebih responsif dan andal di sektor pertambangan.

2025
👤 Penulis: Oktavia Indriani
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi Pertambangan 🏷️ Analisis Kuantitatif

MANAJEMEN GALERI BERBASIS TEKNOLOGI PADA INSTITUSI PENDIDIKAN TINGGI MELALUI STUDI KASUS RMIT GALLERY DAN GEORGE PATON GALLERY PERIODE 2019-2025

Galeri seni di institusi pendidikan tinggi memainkan peran strategis sebagai ruang pembelajaran, produksi wacana, dan interaksi publik dalam ekosistem akademik. Keberadaannya mendukung proses pendidikan melalui pengembangan literasi visual, eksplorasi artistik, dan keterlibatan mahasiswa dalam praktik kuratorial. Namun banyak galeri universitas di Indonesia masih menghadapi keterbatasan dalam struktur manajemen, pemanfaatan teknologi digital, dan integrasi dengan kurikulum. Kondisi ini menyebabkan galeri belum mampu merespons perubahan sosial dan perkembangan teknologi secara optimal terutama ketika menghadapi dinamika yang dipicu oleh pandemi COVID 19. Periode tersebut mempertegas kelemahan dalam kesiapan digital sekaligus menyoroti urgensi pengembangan model pengelolaan galeri universitas yang lebih adaptif responsif dan terintegrasi dengan teknologi. Berdasarkan permasalahan tersebut penelitian ini mengkaji pengelolaan galeri seni pada institusi pendidikan tinggi melalui studi kasus RMIT Gallery dan George Paton Gallery di Melbourne yang selama kurun waktu penelitian menunjukkan kemampuan adaptasi yang signifikan dari pra pandemi hingga pasca pandemi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua galeri berhasil membangun pola institusional baru melalui penguatan digitalisasi arsip pengembangan program hibrida dan kuratorial yang mengangkat isu sosial serta mendorong partisipasi komunitas. RMIT Gallery menerapkan pendekatan pengelolaan profesional berbasis riset dengan dukungan dokumentasi digital yang terintegrasi serta kolaborasi interdisipliner dalam penyelenggaraan pameran. Sementara itu George Paton Gallery mengembangkan model partisipatif yang memberi ruang kuratorial bagi mahasiswa serta memanfaatkan media digital sebagai sarana presentasi karya diskusi dan interaksi publik. Adaptasi ini mencerminkan transformasi fungsi galeri universitas dari ruang fisik semata menjadi medium pembelajaran dan produksi wacana yang berlangsung dalam format luring daring maupun gabungan. Analisis komparatif terhadap kedua galeri menghasilkan rancangan model adaptif yang dapat diterapkan pada konteks Indonesia. Model ini meliputi penguatan struktur manajemen galeri pengembangan kurikulum berbasis proyek integrasi digitalisasi arsip serta pengembangan jejaring kolaboratif antar institusi seni dan pendidikan. Bentuk jejaring ini mencakup pameran kolaboratif program residensi kuratorial lokakarya profesional dan pertukaran pengetahuan yang dirancang untuk memperluas kapasitas sumber daya serta mendukung keberlanjutan program galeri universitas. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian manajemen seni dan praktik kuratorial berbasis teknologi dengan menawarkan dasar implementatif bagi institusi pendidikan tinggi seni di Indonesia. Dengan dukungan kelembagaan yang lebih fleksibel dan integrasi teknologi yang berkelanjutan galeri universitas berpotensi menjadi pusat riset kreatif inovasi kuratorial dan diplomasi budaya yang relevan dalam era pasca pandemi.

2025
👤 Penulis: Dea Ananda Azalia
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kurikulum Berbasis Proyek 🏷️ Digitalisasi Arsip
Halaman 266 dari 6754
💬