πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

SIMULASI KONSUMSI BAHAN BAKAR DAN EMISI GAS BUANG CO2 PADA KENDARAAN HYUNDAI SONATA HYBRID 2021 DENGAN VARIASI SIKLUS BERKENDARA

Isu energi dan lingkungan yang disebabkan oleh sektor transportasi saat ini tengah menjadi sorotan utama. Sektor transportasi menjadi kontributor dalam penggunaan bahan bakar fosil dan pelepasan emisi gas polutan. Penelitian ini bertujuan membangun dan melakukan validasi model simulasi full-vehicle Hyundai Sonata Hybrid 2021 pada perangkat lunak serta membandingkan hasilnya dengan data uji Argonne National Laboratory (ANL) pada tiga siklus berkendara, yaitu Urban Dynamometer Driving Schedule (UDDS) yang merepresentasikan lalu lintas perkotaan, Highway Fuel Economy Test (HWFET) yang mewakili jelajah jalan raya, dan Supplemental Federal Test Procedure (US06) yang mencerminkan cara mengemudi yang agresif dengan kecepatan dan percepatan tinggi. Validasi dilakukan secara kualitatif melalui kesesuaian jejak sinyal (kecepatan kendaraan, nomor gigi, daya pada roda, state of charge, kecepatan motor bakar dan motor listrik) dan secara kuantitatif memakai galat metrik kumulatif konsumsi bahan bakar dan emisi CO?. Hasil menunjukkan model secara akurat memprediksi konsumsi bahan bakar dan emisi CO? pada ketiga siklus yang dibandingkan dengan galat dari capaian kumulatif berada di bawah 10% antara hasil pengujian dan simulasi. Secara dinamis, kendaraan uji menerapkan strategi kontrol yang mengelola state of charge sebagai sumber daya dinamis untuk mengoperasikan motor bakar pada titik efisiensi puncaknya, sedangkan model simulasi menggunakan strategi kontrol yang menjaga state of charge dalam rentang yang aman dan mengoperasikan motor bakar terutama sebagai respons terhadap permintaan daya yang tinggi. Perbedaan strategi kontrol ini menjelaskan bentuk kurva state of charge, konsumsi bahan bakar, dan emisi CO? yang berbeda. Temuan ini menegaskan akurasi pemodelan fisik yang baik dan menyoroti pentingnya penyesuaian strategi kontrol untuk manajemen energi untuk mereplikasi kendaraan nyata yang optimal.

2025
πŸ‘€ Penulis: Habib Rayhan Gunawan
🏷️ Kendaraan Listrik 🏷️ Simulasi Kontrol Dinamis 🏷️ Energi Transportasi

ANALISIS PENGARUH TATA GUNA LAHAN TERHADAP SEDIMENTASI DENGAN MODEL QSWAT STUDI KASUS: SUNGAI CIKAO, PURWAKARTA

Tata guna lahan DAS Citarum Hulu untuk tahun 1994 dan 2001, terjadi perubahan ekstrem di bagian selatan Jawa Barat (sekitar hulu sungai Citarum) berupa konversi hutan menjadi tanah terbuka (semak, belukar atau lahan kering). Konversi hutan menjadi lahan terbuka dengan luas yang memiliki dampak spasial yang berarti berada pada wilayah tersebut menyebabkan peningkatan laju ekspor sedimen tahunan yang melebihi 100 ton/km2 . Penumpukan sedimen ini dapat menyebabkan debit sungai akan menurun dan penumpukan sedimen yang semakin tinggi ini sangat berpotensi dalam mengurangi kapasitas tampung sungai terhadap air hujan yang berintensitas besar, terutama pada saat musim hujan. Penelitian ini memanfaatkan model hidrologi SWAT (Soil and Water Assessment Tool) yang merupakan model terdistribusi yang terhubung dengan SIG (Sistem Informasi Geografis) dan mengintegrasikan dengan DSS (Decision Support System). Lokasi Penelitian berada di Sungai Cikao, Kabupaten Purwakarta. Tahapan penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan studi ini adalah pengumpulan data, delineasi DAS, pendefinisian tata guna lahan dan jenis tanah, pengeditan basis data model, pendefinisian stasiun cuaca, parameterisasi dan pengeditan input, menjalankan model, membaca dan memplot hasil, kalibrasi hasil dan parameter, analisis data. Data yang digunakan adalah peta dasar DAS Cikao, peta Sungai Cikao, data curah hujan pada stasiun cuaca terdekat. Pada skenario eksisting pada tahun 2016, didapat rata-rata nilai TSS sebesar 178 mg/l. Untuk skenario 1 dengan penggunaan lahan berupa perkebunan, didapat hasil rata-rata TSS pada model ini adalah 183 mg/l. Sementara skenario 2 dengan penggunaan lahan berupa hutan menunjukkan rata-rata nilai TSS sebesar 75 mg/l. Pada skenario ke 3, dengan penambahan hutan selebar 50 m di sekitar daerah kritis dan sungai, menunjukkan terjadi peningkatan kualitas sungai. Tetapi skenario yang paling baik dan mungkin untuk dilakukan adalah skenario 4, yaitu dengan menambahkan reservoir pada daerah pertemuan antara 3 anak sungai, yang dapat menurunkan nilai TSS sebesar 20%, yaitu menjadi 142 mg/l.

2025
πŸ‘€ Penulis: Manggala Anindyaguna
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGUKURAN TINGGI SUNGAI SEBAGAI PERINGATAN DINI BANJIR BERBASIS INTERNET OF THINGS (IOT)

Banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling merusak di Indonesia. Salah satu faktor penyebab banjir adalah curah hujan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan merancang sistem pengawasan dan pengiriman data tinggi air sungai dan curah hujan untuk memprediksi terjadinya banjir. Pengawasan tinggi air sungai menggunakan model computer vision yang membaca angka pada meteran tinggi air yang dipasang pada sisi sungai. Data tinggi air sungai dan curah hujan kemudian dikirim menggunakan LoRa. Sementara itu, sistem menggunakan panel surya sebagai sumber energi sehingga penempatan sistem lebih leluasa. Dari hasil pengambilan data, didapat model computer vision yang dapat membaca angka dengan akurasi keseluruhan sebesar 0.809, namun tidak dapat membaca meteran tinggi air. Modul LoRa yang digunakan dapat mengirim sinyal yang cukup baik dengan batasan jarak yang bergantung kondisi sekitar, mulai dari 50 meter di kawasan dengan banyak gedung dan pohon hingga 175 meter di lapangan terbuka. Daya yang dihasilkan panel surya yang digunakan terukur dapat mencapai 6 watt saat intensitas sinar matahari di atas 30 ribu lux.

2025
πŸ‘€ Penulis: Hafiz Arshad Ramadan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DESAIN BILAH TURBIN ANGIN SUMBU HORIZONTAL: INTERAKSI AERODINAMIK DAN STRUKTUR PADA KECEPATAN ANGIN RENDAH

Energi angin di Indonesia dengan potensi sebesar 60,6 GW dapat dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Kecepatan angin rata-rata yang cenderung rendah hingga menengah di Indonesia dapat dimanfaatkan dan disinergikan terhadap teknologi turbin angin. Untuk menghadapi tantangan dan mencari solusi yang sesuai, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai turbin angin yang mampu beroperasi efektif pada kecepatan angin rendah, yang berkisar antara 3 hingga 7 meter per detik. Salah satu faktor kunci yang memengaruhi kinerja turbin angin, khususnya turbin angin sumbu horizontal (Horizontal Axis Wind Turbine (HAWT)), adalah Pemilihan profil airfoil dan desain sudu (blade) yang optimal. Penelitian ini fokus pada desain geometri dan dimensi airfoil, sudu, dan struktur-internal (web) sudu. Adapun tujuannya untuk meningkatkan nilai lift-to-drag ratio, coefficient of power (Cp), mendapatkan dimensi yang sesuai untuk menurunkan massa sudu pada Tip Speed Ratio (TSR) yang terpilih. Profil airfoil dan web yang digunakan meniru morfologi dan topologi tulang pelepah daun pisang. Desain awal airfoil dan sudu dianalisis menggunakan pendekatan Blade Element Momentum Theory (BEM Theory), Computer Fluid Dynamic Modelling (CFD Modelling) dan mekanika statis dengan memvariasikan kecepatan angin. Proses optimasi web sudu dilakukan dengan memadukan metode penggabungan fungsi aerodinamis dan struktur (Multi-objektif Aerodinamis dan Struktur) dengan tujuan meminimalkan massa sudu dan memaksimalkan torsi berdasarkan prinsip kelembaman massa. Hasil penelitian menunjukkan nilai lift-to-drag ratio airfoil maksimal menjadi 123,07 pada Re 700.000 dan Cp meningkat menjadi 0,46 pada TSR 6. Begitu juga dengan penurunan displacement sebesar 12% dibandingkan dengan web konvensional. Harapannya, airfoil dan sudu yang dikembangkan dalam penelitian ini akan berkontribusi dalam pengembangan turbin angin yang mampu beroperasi efisien pada kecepatan angin rendah di Indonesia.

2025
πŸ‘€ Penulis: Firlya Rosa
🏷️ Aerodinamika Energi Angin 🏷️ Desain Turbin Angin Horizontal 🏷️ Optimasi Struktur Dan Profil Airfoil

KEBERLANJUTAN PENYEDIAAN AIR BERSIH TERPUSAT (STUDI KASUS : KABUPATEN BANDUNG)

Air merupakan kebutuhan dasar manusia yang memiliki peran penting dalam keberlangsungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) khususnya poin ke-6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, penyediaan air bersih harus menjamin aspek ketersediaan, kualitas, dan keterjangkauan bagi seluruh lapisan masyarakat secara berkelanjutan. Kabupaten Bandung sebagai wilayah dengan pertumbuhan penduduk tinggi menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan sistem penyediaan air bersih terpusat, baik dari sisi sumber daya maupun manajemen layanan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat keberlanjutan penyediaan air bersih terpusat di Kabupaten Bandung berdasarkan aspek kuantitas, kualitas, kontinuitas, serta tata kelola dan kelembagaan. Pendekatan yang digunakan adalah deduktif-kuantitatif dengan penerapan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot dan prioritas setiap kriteria keberlanjutan. Data diperoleh melalui studi pustaka, survei lapangan, Focus Group Discussion (FGD), serta penyebaran kuesioner kepada pakar dan pemangku kepentingan. Hasil penelitian mengidentifikasi 8 kategori dan 20 kriteria keberlanjutan, dengan kategori kebijakan menjadi prioritas tertinggi (37,1%), diikuti oleh infrastruktur (18,9%) dan tata kelola (12,9%). Kriteria prioritas meliputi dukungan pemerintah (30,90%), diikuti Kinerja ketahan jaringan air (9,45%) serta teknologi pengolahan distribusi (9,45%). Secara umum, sistem SPAM di Kabupaten Bandung telah memenuhi standar mutu, namun masih menghadapi keterbatasan sumber air baku, kehilangan air yang tinggi, dan ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan. Rekomendasi utama penelitian mencakup penguatan kebijakan dan regulasi, optimalisasi sistem eksisting, serta modernisasi teknologi dan digitalisasi pelayanan untuk mendukung pencapaian target SDGs dan meningkatkan keberlanjutan penyediaan air bersih di masa mendatang.

2025
πŸ‘€ Penulis: Imam Abdullah Bashir
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

PREDIKSI DAN KONTROL OSILASI SIKLUS BATAS PADA SISTEM TIDAK LINEAR

Salah satu elemen pada sistem kontrol yang cukup sulit untuk dikendalikan adalah elemen tidak linear. Elemen tidak linear dapat memicu terjadinya fenomena osilasi siklus batas yang dapat menyebabkan masalah pada sistem. Osilasi siklus batas dapat diprediksi eksistensinya menggunakan metode describing function. Setelah diprediksi, osilasi siklus batas dapat dikontrol dan diredam menggunakan beberapa jenis sistem kontrol. Pada penelitian ini, sistem kontrol untuk meredam osilasi siklus batas dirancang dan disimulasikan pada sistem tidak linear. Sebelum sistem kontrol dirancang, osilasi siklus batas yang akan timbul diprediksi terlebih dahulu. Tesis ini dimulai dari peninjauan ulang pustaka terdahulu terkait osilasi siklus batas dan sistem kontrol pada sistem tidak linear. Elemen tidak linear yang diteliti adalah saturasi. Setelah itu, dilakukan penurunan fungsi ketidaklinearan dengan metode describing function. Fungsi tersebut diturunkan untuk memprediksi eksistensi dan parameter osilasi siklus batas yang timbul. Hasil prediksi dengan fungsi tersebut selanjutnya divalidasi dengan hasil simulasi. Sistem kontrol untuk meredam osilasi siklus batas kemudian dirancang. Namun, sebelum dirancang, DR&O dari rancangan sistem kontrol disusun terlebih dahulu. Rancangan sistem kontrol tersebut meliputi kontroler PID linear, kontroler PID tidak linear, dan MRAC. Ketiga sistem kontrol tersebut dirancang sesuai DR&O yang telah disusun. Setelah dirancang, ketiga sistem kontrol disimulasikan di Simulink. Sistem kontrol tersebut lalu dianalisis dan dievaluasi terhadap DR&O. Terakhir, performa kontrol dari semua sistem kontrol dibandingkan. Pada penelitian ini, osilasi siklus batas yang terjadi akibat ketidaklinearan saturasi telah berhasil diprediksi eksistensi dan parameternya dengan metode describing function. Parameter osilasi siklus batas hasil prediksi tersebut memiliki nilai yang hampir sama dengan hasil simulasi. Lebih lanjut, sistem kontrol yang dirancang telah berhasil digunakan untuk mengontrol dan meredam osilasi siklus batas yang timbul. Sistem kontrol tersebut berupa kontroler PD, PID, PID dengan anti windup dan MRAC. Hasil penelitian ini berguna untuk membantu pada pengembangan sistem kontrol yang lebih baik untuk meredam osilasi siklus batas.

2025
πŸ‘€ Penulis: Fikri Avicena Al-Farabi
🏷️ Kontrol Dinamis 🏷️ Osilasi Siklus Batas 🏷️ Describing Function

STUDI PENDAHULUAN UNTUK INVENTARISASI POTENSI UNSUR TANAH JARANG PADA ENDAPAN DI PULAU BELITUNG, PROVINSI KEP. BANGKA BELITUNG

Unsur tanah jarang (UTJ), dapat dijumpai pada berbagai jenis endapan, merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk menunjang perkembangan teknologi di permukaan bumi ini. Mineral yang mengandung unsur tanah jarang terdapat sebagai mineral ikutan pada komoditas utama, salah satunya timah aluvial, yang mempunyai peluang untuk diusahakan sebagai produk sampingan yang dapat memberikan nilai tambah dari seluruh potensi bahan galian. Namun, masih sedikit penelitian yang membahas mengenai inventarisasi potensi unsur tanah jarang pada endapan plaser di Indonesia, terutama di Pulau Belitung. Penelitian ini bertujuan untuk mendata sebaran potensi unsur tanah jarang yang berasal dari endapan plaser di Pulau Belitung serta menentukan strategi eksplorasi yang akan dilakukan terhadap potensi unsur tanah jarang di Pulau Belitung agar dapat dikembangkan dan dikelola dengan baik. Pengambilan sampel dilakukan pada 34 titik sampel yang direduksi menjadi 20 titik sampel representatif mengikuti aliran sungai purba di Pulau Belitung. Sampel dianalisis menggunakan metode perhitungan butir yang bertujuan untuk mendapatkan persentase berat mineral dan metode Inductively Coupled Plasma – Mass Spectrometry (ICP–MS) yang bertujuan untuk mendapatkan kadar unsur tanah jarang. Berdasarkan analisis ICP– MS, diperoleh potensi unsur tanah jarang di Pulau Belitung lebih terkayakan pada unsur tanah jarang ringan pada endapan plaser dibandingkan pada endapan primer. Analisis mineral butir menunjukkan sebaran potensi unsur tanah jarang di Pulau Belitung berada pada daerah Kecamatan Sijuk (arah baratlaut Pulau Belitung), Kecamatan Kalapa Kampit meluas kearah Kecamatan Damar hingga Kecamatan Gantung bagian atas (arah timurlaut ke arah timur Pulau Belitung), dan Kecamatan Membalong bagian bawah (arah baratdaya Pulau Belitung).

2025
πŸ‘€ Penulis: Ahnaf Muhammad
🏷️ Geologi Mineral 🏷️ Inventarisasi Potensi Bahan Galian 🏷️ Analisis Hidrologi

DESAIN DAN UJI PENGUKURAN KETEBALAN DINDING PIPA ALIR DI JALUR REINJEKSI DENGAN METODE ULTRASONIK

Pemanfaatan energi panas bumi sebagai sumber energi terbarukan memerlukan sistem pemantauan yang akurat dan berkelanjutan untuk memastikan keandalan infrastruktur, terutama pada jaringan pipa alir panas bumi. Saat ini, monitoring kondisi pipa, khususnya untuk mendeteksi ketebalan dinding, korosi, dan scaling, masih sangat minim dan sebagian besar mengandalkan metode konvensional seperti pembelahan pipa yang bersifat invasif, mahal, dan tidak memungkinkan pengawasan secara real-time. Hal ini meningkatkan risiko kerusakan yang tidak terdeteksi secara dini, sehingga menurunkan efisiensi dan umur pipa. Penelitian ini bersifat pragmatis dan berhasil mengembangkan perangkat sensor ultrasonik inovatif yang mampu mendeteksi ketebalan dinding, korosi, serta keberadaan scaling pada pipa secara non-destruktif (NDT) dan real-time menggunakan mikrokontroler Arduino Uno R3 sebagai kontrol utama, yang mengintegrasikan sensor ultrasonik, pengolahan sinyal, dan konektivitas IoT. Perangkat ini memanfaatkan transduser ultrasonik dengan probe delay line yang dioptimalkan melalui pengaturan impuls tegangan tinggi sebesar (-)148 volt dan lebar pulsa 140 nanodetik, sehingga menghasilkan sinyal ultrasonik yang optimal. Dengan menggunakan informasi bahwa gelombang ultrasonik merambat dalam baja pada kecepatan sekitar 5900 m/detik, pengujian pada sampel baja setebal 4 mm menunjukkan waktu dari impuls awal ke echo pertama sebesar 9,36 mikrodetik, dan dari echo pertama ke echo kedua sebesar 1,36 mikrodetik. Dengan mengurangi kedua waktu tersebut, diperoleh nilai delay line sebesar 8 mikrodetik. Pengujian pada 32 titik pengukuran di pipa menunjukkan bahwa tingkat keakuratan pengukuran ketebalan mencapai 97,58%, dengan error rata-rata 2,42% dan MSE (Mean Square Error) sebesar 0,0535 mm. Pengujian dengan alat komersial GM 100 dari Benetech, perangkat ini menunjukkan akurasi 95,57% dan error rata-rata 4,43%. Selain mendeteksi ketebalan dan korosi, sistem ini mampu mengidentifikasi keberadaan scaling melalui analisis amplitudo gelombang ultrasonik, dimana nilai Vpp ? 25 mV menandakan adanya scaling. Disamping itu, dikembangkan sistem IoT (Internet of Things) terintegrasi yang mampu menampilkan data secara realtime dalam bentuk tabel, grafik, dan visualisasi pipa 2 dimensi. Koneksi dan pengiriman data dilakukan melalui modul GPRS dengan protokol HTTP berbasis JSON, mendukung pemantauan jarak jauh yang efektif dan efisien. Meskipun ii masih pada tahap prototipe, penelitian ini bersifat pragmatis dan menawarkan solusi yang berpotensi diterapkan di lapangan setelah penyesuaian lanjutan. Untuk pengembangan lebih lanjut, disarankan menguji hubungan antara tingkat scaling dan peredaman sinyal ultrasonik, serta meningkatkan performa perangkat dengan menambahkan penguat sinyal dan ADC (Analog Digital Converter) 1 Gs/s guna meningkatkan akurasi deteksi kerusakan dan pengukuran ketebalan scaling secara lebih akurat. Selain itu, rancang perangkat mekanis yang memungkinkan pemutaran sensor mengelilingi pipa agar profil ketebalan di seluruh keliling (360Β°) dapat diukur. Ketahanan terhadap air dan panas serta bentuk yang lebih kompak juga perlu diprioritaskan agar perangkat optimal digunakan di lingkungan luar ruang, sehingga mendukung pengelolaan infrastruktur panas bumi yang lebih efisien, berkelanjutan, dan responsif.

2025
πŸ‘€ Penulis: Dwi Danang Hermawan
🏷️ Ultrasonik 🏷️ Pemantauan Pipa Alir Panas Bumi 🏷️ Analisis Scaling

Proses Integrasi Paska Pembentukan Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Sektoral di Indonesia untuk Mencapai Kinerja Keberlanjutan dan Meningkatkan Daya Saing

gfhgfhfghfghfghgf

2025
πŸ‘€ Penulis: WEDYA KRISTI SETIAWAN
🏷️ Integrasi Korporasi 🏷️ Restrukturisasi Bumn 🏷️ Kinerja Keberlanjutan

KAJIAN AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK BULBUS ALLIUM SATIVUM DAN RIMPANG CURCUMA DOMESTICA SERTA KOMBINASINYA PADA MENCIT DIABETES YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN

Abstrak dapat dilihat di file

2025
πŸ‘€ Penulis: HADI SUNARYO
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN DESAIN TERMOSIFON NATURAL CONVECTION CLOSED LOOP SEBAGAI METODE PENDINGINAN PADA PANEL SURYA TERAPUNG MENUJU SKALA KOMERSIAL

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung atau Floating Photovoltaic (FPV) memiliki potensi besar di Indonesia, namun kinerjanya masih dipengaruhi oleh temperatur operasional panel yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain sistem pendingin termosifon Natural Convection Closed Loop (NCCL) yang terintegrasi penuh dengan FPV untuk meningkatkan kelayakan komersialnya, serta mengevaluasi dampaknya terhadap temperatur dan kinerja elektrik panel. Metodologi yang digunakan adalah pengujian eksperimental dengan membandingkan tiga konfigurasi: PV di darat (ground), FPV biasa, dan FPV dengan termosifon NCCL (FPVT). Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem termosifon efektif menurunkan temperatur panel. Pada pengujian hari yang berbeda, FPVT mencatatkan temperatur 8,59Β°C lebih dingin dibanding ground PV dan 7,55Β°C lebih dingin dari FPV biasa pada iradians puncak. Pada pengujian hari yang sama yang lebih terkontrol, tercatat penurunan temperatur maksimum 2,5Β°C dibandingkan FPV biasa. Penurunan temperatur ini berdampak positif pada kinerja elektrik, di mana pengujian hari yang sama menunjukkan peningkatan daya rata-rata sebesar 10,08% terhadap PV on ground dan 5,17% terhadap FPV biasa setelah normalisasi. Kesimpulannya, integrasi termosifon NCCL merupakan metode yang valid dan menjanjikan untuk meningkatkan hasil energi dari instalasi PLTS Terapung.

2025
πŸ‘€ Penulis: M. Nadhif Rajendra Yussanto
🏷️ Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung 🏷️ Desain Sistem Pendingin 🏷️ Kinerja Elektrik Panel Surya

PENGEMBANGAN MODEL PENERAPAN KONSEP BANGUNAN GEDUNG HIJAU PADA PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN MELALUI PENDEKATAN ANALISIS BIAYA MANFAAT

Urbanisasi di Indonesia berlangsung sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir, ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk yang bermigrasi ke kawasan perkotaan. Pertumbuhan ini menimbulkan kebutuhan akan hunian yang layak, sementara backlog perumahan masih tinggi. Sebagai respons, pemerintah mempercepat pembangunan rumah susun atau rusun untuk menjawab kebutuhan perumahan hunian ini. Namun, pembangunan rusun secara masif juga membawa konsekuensi negatif berupa tingginya konsumsi energi dan air, serta meningkatnya emisi karbon yang memperburuk isu perubahan iklim. Kondisi ini menimbulkan urgensi untuk mengadopsi pendekatan pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya menyediakan hunian, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan. Salah satu pendekatan yang banyak dibicarakan adalah penerapan konsep Bangunan Gedung Hijau (BGH). BGH menekankan prinsip efisiensi energi, konservasi air, penggunaan material ramah lingkungan, dan penciptaan kenyamanan ruang bagi penghuninya. Secara global, konsep ini sudah diterapkan melalui berbagai sistem sertifikasi seperti LEED di Amerika Serikat, BREEAM di Inggris, serta EDGE yang banyak digunakan di negara berkembang. Indonesia memiliki sistem sendiri yang diatur melalui regulasi Kementerian PUPR dengan tiga tingkatan sertifikasi: Pratama (dasar), Madya (menengah), dan Utama (lanjutan). Namun, implementasi BGH di rumah susun menghadapi tantangan utama berupa biaya investasi tambahan yang relatif tinggi serta belum adanya mandatori implementasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan model penerapan BGH pada pembangunan rumah susun berbasis analisis biaya-manfaat (Cost Benefit Analysis/CBA). Pendekatan penelitian dibagi ke dalam lima tahap yang saling melengkapi. Tahap pertama berfokus pada analisis regulasi dengan mengidentifikasi arah pengembangan regulasi terkait BGH di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa regulasi Bangunan Gedung Hijau (BGH) di Indonesia belum secara spesifik mengatur hunian vertikal. Kemudian arah pengembangan dibagi ked alam aspek organisasi, aspek bangunan, sistem mandatori, dan sistem insentif. Tahap kedua menilai tingkat ketercapaian sertifikasi dan perolehan poin penilaian kinerja BGH pada proyek pembangunan rumah susun melalui studi kasus. Empat dari lima rumah susun studi kasus memenuhi level minimum (Pratama), satu proyek lainnya mencapai level Madya. Tahap ketiga mengevaluasi besaran tambahan biaya investasi yang diperlukan pada setiap level penilaian kinerja BGH dalam proyek pembangunan rumah susun. Evaluasi dilakukan dengan mengelompokkan biaya standar (biaya yang harus dipenuhi dalam proyek konstruksi konvensional) dan biaya non-standar (biaya tambahan terkait dengan pemenuhan kriteria penilaian BGH). Hasilnya menunjukkan bahwa tambahan biaya investasi berkisar 10%–33% dari total biaya konstruksi, dengan kriteria efisiensi energi sebagai komponen terbesar. Tahap keempat berfokus pada pengukuran manfaat dari implementasi BGH, terutama penghematan energi listrik dan penggunaan air. Proyeksi simulasi menunjukkan seluruh studi kasus memiliki intensitas konsumsi energi (IKE) sangat efisien, yaitu 4,31–5,61 kWh/mΒ²/bulan. Manfaat ekonomi yang diperoleh antara lain potensi penghematan energi sekitar Rp116 juta per tahun dan air sekitar Rp69 juta per tahun. Tahap kelima mengembangkan model analisis biaya-manfaat menggunakan dua pendekatan, yakni deterministik dan probabilistik. Pendekatan deterministik meliputi perhitungan Net Present Value (NPV), Benefit-Cost Ratio (BCR), dan payback period dari rumah susun studi kasus, sedangkan pendekatan probabilistik menggunakan simulasi Monte Carlo untuk melihat variasi risiko dan ketidakpastian. Hasil analisis menunjukkan bahwa level Pratama adalah opsi paling feasible secara finansial, karena biaya tambahan relatif rendah sementara manfaat dapat menutupi sebagian besar investasi. Sebaliknya, level Madya dan Utama membutuhkan strategi optimasi biaya dan dukungan insentif, misalnya dalam bentuk subsidi, keringanan pajak, atau skema pembiayaan hijau, agar layak secara ekonomi. Temuan penelitian ini memiliki implikasi penting bagi para pemangku kepentingan. Bagi pengembang, hasil ini memberikan gambaran realistis mengenai besaran biaya dan manfaat yang dapat diharapkan dari penerapan BGH. Bagi pemerintah, hasil ini menegaskan pentingnya kehadiran regulasi yang lebih spesifik untuk hunian vertikal serta kebijakan insentif yang mampu menekan beban biaya awal. Bagi masyarakat, penerapan BGH berarti mendapatkan hunian yang lebih nyaman, sehat, dan hemat energi. Jika strategi ini dijalankan, rumah susun tidak hanya berfungsi sebagai solusi atas backlog perumahan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya transisi menuju pembangunan rendah karbon. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menegaskan bahwa penerapan konsep Bangunan Gedung Hijau pada rumah susun berbasis analisis biaya-manfaat dapat menjadi acuan strategis bagi Indonesia. Level Pratama layak dijadikan titik masuk karena realistis secara finansial. Sementara itu, level Madya dan Utama dapat diposisikan sebagai target jangka panjang yang membutuhkan dukungan kebijakan, inovasi teknologi, serta keterlibatan semua pihak. Dengan langkah bertahap tersebut, rumah susun hijau berpotensi menjadi solusi yang tidak hanya menyelesaikan masalah perumahan, tetapi juga mendukung agenda pembangunan berkelanjutan dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia.

2025
πŸ‘€ Penulis: Furry Andini Wilis
🏷️ Pembangunan Rumah Susun Hijau 🏷️ Analisis Biaya-Manfaat 🏷️ Regulasi Lingkungan

STUDI INTEGRASI MULTI-ENERGI PLTP ATADEI, PLTS, DAN PLTD UNTUK OPTIMASI SUSUT ENERGI, STABILITAS TEGANGAN, SERTA EVALUASI KEMAMPUAN TEKNIS PLTP PADA SISTEM ISOLATED DI LEMBATA

Sistem kelistrikan di wilayah kepulauan Indonesia masih menghadapi keterbatasan mendasar akibat beroperasi dalam bentuk isolated grid yang sangat bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Kondisi ini tidak hanya menimbulkan biaya pokok penyediaan listrik yang tinggi, tetapi juga meningkatkan kerentanan pasokan akibat ketergantungan pada distribusi bahan bakar minyak. Pulau Lembata di Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu contoh nyata, di mana pasokan listrik saat ini didominasi oleh PLTD Lamahora dan Omesuri dengan tambahan kapasitas kecil PLTS Ile Ape. Untuk mengatasi permasalahan ini, dokumen RUPTL PLN 2025–2034 merencanakan pembangunan PLTP Atadei 2 Γ— 5 MW yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2030, disertai dengan PLTS 2 Γ— 3 MW yang didukung Battery Energy Storage System (BESS). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi integrasi PLTP Atadei ke dalam sistem distribusi 20 kV Pulau Lembata dengan proyeksi beban tahun 2030. Metode yang digunakan adalah Quasi-Dynamic Load Flow (QDLF) berbasis DIgSILENT PowerFactory, yang mampu memodelkan variasi beban harian selama 24 jam. Analisis dilakukan terhadap tiga skenario utama integrasi PLTP, serta optimasi lokasi PLTS menggunakan metode Loss Sensitivity Index (LSI). Parameter teknis yang dievaluasi meliputi susut energi, profil tegangan, ramp rate PLTP, dan minimum output. Penelitian ini menggunakan 3 skenario dengan Skenario 1 dimana PLTP dihubungkan secara radial melalui gardu hubung eksisting dimana masing-masing PLTD masih beroperasi secara radial (terpisah). Skenario 2 dimana Operasi radial seperti Skenario 1 dengan pengalihan penyulang Atadei langsung dari PLTP Atadei 2 dan penyulang Lamalera langsung dari PLTP Atadei. Skenario 3 dengan PLTP diintegrasikan ke dalam sistem secara penuh dengan konfigurasi interkoneksi, sehingga kedua unit dapat beroperasi secara paralel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi PLTP paling optimal pada Skenario 3 (full interkoneksi) dengan konfigurasi terbaik dicapai ketika PLTP dioperasikan pada set point 2 Γ— 2 MW untuk proyeksi kebutuhan beban 2030 sebagai baseload. Konfigurasi ini mampu menjaga profil tegangan seluruh bus pada rentang standar SPLN (0,90–1,05 p.u.), dengan susut energi lebih rendah dibandingkan skenario radial. Sementara itu, untuk penetrasi energi surya, hasil optimasi LSI menunjukkan bahwa PLTS paling optimal dibatasi pada kapasitas 1 Γ— 3 MW, dengan titik integrasi terbaik di bus PLTD Lamahora. Pada kombinasi PLTP 2 Γ— 2 MW sebagai load following/fleksibel, PLTS 3 MW, dan PLTD sebagai residual load following, rugi-rugi energi harian tercatat hanya sekitar 4,19%, ramp rate PLTP < Β±0,1 MW/menit, dan minimum output PLTP tetap di atas 0,75 MW. Sehingga PLTP Atadei 2 Γ— 5 MW layak dikembangkan dengan dua pendekatan: sebagai baseload pada skenario interkoneksi penuh dengan set point 2 Γ— 2 MW pada tahun 2030, serta sebagai pembangkit fleksibel (load following) pada sistem isolated yang dipadukan dengan PLTS 1 Γ— 3 MW. Konfigurasi ini terbukti memberikan keseimbangan terbaik antara efisiensi energi, kestabilan tegangan, dan fleksibilitas operasional, sehingga menjadikan PLTP Atadei sebagai tulang punggung transisi energi bersih di sistem isolated kepulauan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Rudiat Harri Sukma
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Optimisasi Sistem Listrik 🏷️ Integrasi Multi-Energi

PROSES INTEGRASI PASKA PEMBENTUKAN HOLDING BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) SEKTORAL DI INDONESIA UNTUK MENCAPAI KINERJA KEBERLANJUTAN DAN MENINGKATKAN DAYA SAING

Latar Belakang – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan kontributor utama dalam pembangunan ekonomi Indonesia, menyumbang lebih dari sepertiga Produk Domestik Bruto (PDB) serta berperan strategis dalam infrastruktur, layanan publik, dan ekspor. Meski memiliki aset yang lebih besar dibanding Temasek (Singapura) dan Khazanah (Malaysia), BUMN Indonesia masih tertinggal dalam efisiensi dan daya saing global. Untuk mengatasi hal ini, Kementerian BUMN membentuk Holding BUMN Sektoral guna mengonsolidasikan entitas, mengurangi duplikasi, dan meningkatkan sinergi. Namun, proses integrasi pasca pembentukan holding menghadapi tantangan kompleks akibat perbedaan sektoral, ketidaksesuaian tata kelola, dan dinamika kompetitif yang belum dijawab oleh model integrasi konvensional. Tujuan – Meningkatkan nilai daya saing menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang besar, kuat, dan gesit untuk bersaing di pasar global merupakan salah satu tujuan dari pendirian holding usaha sektoral BUMN Indonesia. Setelah terbentuknya Holding BUMN, proses integrasi dan sinergi dari masing-masing Anggota Perusahaan di dalam holding sangat kompleks dan penuh ketidakpastian meskipun proses ini cenderung sangat krusial dalam menciptakan penciptaan nilai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor keberhasilan dan kendala-kendala yang dihadapi selama proses integrasi dan sinergi, kemudian mengembangkan model integrasi untuk mencapai kinerja keberlanjutan dan meningkatkan daya saing. Metodologi– Penelitian ini menggabungkan case study, Soft Systems Methodology (SSM), dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengkaji integrasi sektoral Holding BUMN di Indonesia. Pendekatan ini menangkap kedua aspek kualitatif dan kuantitatif dari integrasi, dengan case studies memberikan wawasan kontekstual, SSM menyusun pemecahan masalah, dan AHP memprioritaskan faktor-faktor. Peserta, yang dipilih dari eksekutif senior, pejabat pemerintah, dan pemimpin anak perusahaan, dipilih berdasarkan pengalaman luas mereka dalam manajemen Holding BUMN. Sebanyak 16 peserta berkontribusi pada fase kualitatif, dan 12 pada analisis AHP. Data dikumpulkan melalui wawancara, analisis dokumen, dan observasi, memastikan triangulasi metodologis yang ketat untuk rekomendasi yang komprehensif. Metodologi ini sangat sesuai untuk menangani kompleksitas integrasi Holding BUMN di Indonesia, menawarkan kerangka kerja yang seimbang untuk mengembangkan rekomendasi teoretis dan praktis untuk strategi integrasi yang berhasil. Hasil Penelitian - Temuan penelitian menyoroti bahwa keselarasan tata kelola adalah faktor utama yang mendorong keberhasilan integrasi dalam Holding BUMN Indonesia, dengan pendekatan yang berbeda dibutuhkan untuk setiap kategori holding. Tata kelola, keberlanjutan, sinergi finansial dan operasional, serta manajemen pemangku kepentingan sangat penting untuk integrasi pasca-pendirian. Hambatan seperti pengambilan keputusan yang terfragmentasi, tantangan regulasi, dan inkonsistensi kepemimpinan memperumit upaya konsolidasi. Integrasi menghasilkan manfaat ekonomi, seperti efisiensi finansial dan pengurangan biaya, serta nilai non-ekonomi, termasuk peningkatan layanan dan kontribusi sosial. Wawasan ini memberikan strategi yang dapat diterapkan untuk integrasi Holding BUMN yang sukses, dengan menekankan struktur tata kelola, kepemimpinan, dan prioritas keberlanjutan untuk memaksimalkan kontribusi ekonomi dan sosial. Temuan ini juga memberikan masukan kebijakan yang dapat diterapkan bagi Kementerian BUMN, terutama dalam penyempurnaan sistem pengukuran kinerja dan pengembangan pedoman integrasi yang lebih adaptif sesuai dengan mandat dan prioritas masing-masing kategori Holding BUMN. Wawasan ini menegaskan pentingnya penguatan struktur tata kelola, pengembangan kapasitas kepemimpinan, dan penekanan pada prioritas keberlanjutan untuk memaksimalkan kontribusi ekonomi dan sosial di seluruh lanskap BUMN Indonesia.

2025
πŸ‘€ Penulis: Raden Gerald Setiawan Grisanto
🏷️ Badan Usaha Milik Negara (Bumn) 🏷️ Holding Badan Usaha Milik Negara (Bumn) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS TEKNO EKONOMI PEMANFAATAN PLTP KAMOJANG SEBAGAI PENGHASIL HYDROGEN

Perubahan iklim dan ketahanan energi menjadi isu yang semakin mendesak seiring dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca akibat peningkatan penggunaan energi fosil. Energi baru dan terbarukan (EBT) dengan emisi yang lebih rendah dipandang sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Dalam konteks transisi energi, pengembangan teknologi rendah emisi, termasuk produksi hidrogen berbasis EBT, menjadi sangat penting. Penelitian ini menganalisis kelayakan teknis dan ekonomi produksi hidrogen sebagai bahan bakar dengan memanfaatkan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Data teknis dan ekonomi diperoleh dari data operasi, spesifikasi teknis Hydrogen Plant yang saat ini ada di PLTP Kamojang, serta asumsi-asumsi dari literatur. Analisis teknis dilakukan melalui pemodelan kinerja dua jenis teknologi elektrolisis, yaitu Alkaline Water Electrolysis (AWE) dan Proton Exchange Membrane (PEM) menggunakan aplikasi Aspen Plus V14, dengan mempertimbangkan parameter-parameter seperti kapasitas produksi, konsumsi energi, dan umur ekonomis alat. Analisis ekonomi difokuskan pada perhitungan Capital Expenditure (CAPEX), Operational Expenditure (OPEX), dan Electricity Cost untuk menentukan nilai Levelized Cost of Hydrogen (LCOH). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai LCOH dari AWE yang saat ini digunakan di PLTP Kamojang adalah sebesar 16,09 USD/kg dengan kapasitas produksi 56 ton/tahun. Sementara LCOH dari PEM menunjukkan nilai sebesar 7,78 USD/kg dengan kapasitas produksi lebih dari 16 ribu ton/tahun. Teknologi PEM menunjukkan kinerja teknis dan ekonomi yang lebih unggul dibandingkan AWE, dengan LCOH yang lebih kompetitif untuk kebutuhan komersial, sementara AWE lebih cocok untuk menjadi pilot project. Temuan ini memberikan dasar pertimbangan dalam perencanaan pengembangan infrastruktur hidrogen di PLTP Kamojang dalam rangka mendukung kebijakan dekarbonisasi nasional. Kajian ini juga menyarankan perlunya optimalisasi kapasitas dan efisiensi teknologi elektroliser untuk menjamin keekonomian proyek jangka panjang.

2025
πŸ‘€ Penulis: Yusuf Satria Prihardana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Proyek Energi
Halaman 274 dari 6754
πŸ’¬