📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGEMBANGAN STRATEGIS LOGAM TANAH JARANG DI INDONESIA: STUDI PENDEKATAN SYSTEMS THINKING ATAS KESIAPAN KEBIJAKAN DAN TEKNOLOGI
Indonesia memiliki potensi sumber daya logam tanah jarang (LTJ) yang signifikan, namun pengembangan industrinya masih terkendala, khususnya pada tahapan pemrosesan menengah (midstream). Penelitian ini menggunakan pendekatan systems thinking dengan metode Causal Loop Diagram (CLD) untuk menganalisis keterkaitan kompleks antara kesiapan kebijakan, kapabilitas teknologi, dan variabel kritis lainnya yang memengaruhi optimalisasi pengolahan LTJ di Indonesia. Berdasarkan tinjauan pustaka mendalam dan sembilan wawancara ahli, studi ini mengidentifikasi tiga tantangan sistemik utama yang saling berkaitan: (1) lemahnya koordinasi lintas kelembagaan, (2) keterputusan antara eksplorasi dan industrialisasi hilir, serta (3) kerentanan strategis akibat ketergantungan internasional dan technological lock-in. Ketiga isu ini membentuk umpan balik penguat (reinforcing feedback loop) yang mempertahankan kondisi stagnasi sektor LTJ nasional. Melalui pemodelan CLD, studi ini menemukan titik- titik ungkit strategis dan merekomendasikan intervensi sistemik, seperti formalisasi strategi nasional LTJ (GSKM), penguatan tata kelola eksplorasi, insentif investasi midstream domestik, serta pengembangan kapabilitas teknologi jangka panjang. Temuan ini memberikan kerangka sistemik yang holistik dan berbasis empiris untuk mendukung perumusan kebijakan dan penguatan kapasitas nasional di sektor LTJ Indonesia. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori maupun strategi praktis dalam tata kelola mineral kritis di negara berkembang yang kaya sumber daya.
DETERMINASI STRUKTUR MODAL DAN KECEPATAN PENYESUAIAN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR ASEAN: KAJIAN DARI INDONESIA, THAILAND, MALAYSIA, DAN FILIPINA (2009–2023)
Studi ini meneliti faktor penentu struktur modal dan kecepatan penyesuaian (SOA) perusahaan manufaktur di Indonesia, Thailand, Filipina, dan Malaysia selama 2009– 2023. Dengan pendekatan positivis dan strategi pengarsipan, data dikumpulkan dari laporan keuangan serta basis data Thomson Reuters Datastream dan Bloomberg. Fokus utama adalah pengaruh faktor spesifik perusahaan terhadap keputusan struktur modal dan SOA, termasuk dampak profitabilitas, wujud aset, ukuran, pertumbuhan, serta guncangan eksternal seperti pandemi COVID-19. Studi ini menargetkan perusahaan manufaktur yang terdaftar di empat negara ASEAN, tidak termasuk Singapura, dan berfokus pada perusahaan dengan nilai pasar minimal 100 juta USD. Sampel akhir terdiri dari 30 perusahaan manufaktur. Berbagai model ekonometrik, termasuk regresi data panel, efek tetap, dan model efek acak, digunakan untuk menganalisis data. Pengujian asumsi dilakukan untuk memastikan validitas model-model ini, dengan penyesuaian yang dilakukan untuk heteroskedastisitas, autokorelasi, dan ketergantungan lintas sektor menggunakan kesalahan standar yang kuat.
PENINGKATAN PENGELOLAAN PERIKANAN BERBASIS KUOTA: MODEL TATA KELOLA KOLABORATIF UNTUK MENGATASI TANTANGAN IMPLEMENTASI
Penerapan Manajemen Perikanan Berbasis Kuota (QBFM) merupakan pendekatan strategis untuk mendorong keberlanjutan ekologi dan ketahanan ekonomi dalam perikanan tangkap. Namun, tantangan seperti tata kelola yang terdesentralisasi, koordinasi pemangku kepentingan yang terfragmentasi, keterbatasan infrastruktur, dan kesenjangan dalam literasi digital menghambat pelaksanaannya yang efektif. Studi ini menggunakan Soft System Methodology (SSM) untuk menganalisis kompleksitas tata kelola dengan mengumpulkan data melalui wawancara, FGD, dan observasi lapangan di area implementasi percontohan. Temuan penelitian ini menyoroti hambatan utama, termasuk inefisiensi birokrasi, penegakan kebijakan yang tidak konsisten, kendala ekonomi, dan resistensi terhadap adopsi teknologi. Sebagai upaya mengatasi masalah- masalah tersebut, penelitian ini mengusulkan model tata kelola kolaboratif yang mengintegrasikan sistem pengelolaan bersama digital untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan inklusivitas. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya peningkatan kapasitas, investasi dalam infrastruktur digital, dan peningkatan keterlibatan pemangku kepentingan untuk memperkuat mekanisme tata kelola. Dengan menawarkan kerangka kerja tata kelola yang terstruktur, penelitian ini memberikan wawasan yang berharga bagi para pembuat kebijakan dan praktisi yang ingin meningkatkan implementasi QBFM dalam konteks pengelolaan perikanan yang terdesentralisasi, untuk memastikan pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan dan manfaat ekonomi yang adil.
INTEGRASI BUDAYA PASCA-MERGER DAN PENGALAMAN PELANGGAN: ANALISIS NLP ATAS ULASAN BANDARA INDONESIA
Integrasi pasca-merger dalam industri kebandarudaraan tidak hanya mencakup harmonisasi operasional, tetapi juga penyelarasan budaya, yang secara signifikan dapat memengaruhi pengalaman pelanggan. Meskipun pentingnya umpan balik pelanggan dalam evaluasi layanan semakin meningkat, studi yang memanfaatkan ulasan digital berskala besar untuk mengeksplorasi hasil integrasi budaya masih terbatas. Penelitian ini menginvestigasi hubungan antara artefak budaya dan pengalaman pelanggan (Customer Experience/CX) dalam konteks merger bandara di Indonesia dengan menganalisis 1.290 ulasan Google Maps menggunakan pendekatan metode campuran. Teknik Natural Language Processing (NLP) digunakan untuk mengklasifikasi ulasan berdasarkan sentimen dan dimensi CX, dilanjutkan dengan analisis statistik inferensial termasuk ANOVA, chi-square, dan regresi logistik untuk mengidentifikasi pola signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sentimen negatif kuat berkorelasi dengan artefak yang mencerminkan koordinasi tim yang buruk, terutama dalam dimensi CX seperti waktu tunggu dan arus penumpang. Sebaliknya, artefak simbolik yang berkaitan dengan citra nasionalisme dan branding menunjukkan keterkaitan dengan sentimen positif, khususnya dalam dimensi kualitas layanan dan loyalitas pelanggan. Analisis naratif terhadap ulasan pilihan memperkuat temuan ini dengan menampilkan pengalaman nyata pelanggan. Temuan ini menekankan pentingnya simbol budaya dalam membentuk persepsi publik pasca-merger dan menunjukkan potensi data digital sebagai alat diagnosis organisasi. Studi ini berkontribusi pada wacana teoritis tentang budaya organisasi dengan mengintegrasikan analisis artefak dan kerangka CX, serta memberikan implikasi praktis bagi manajemen bandara dalam memantau hasil integrasi melalui analitik suara pelanggan.
MODIFIKASI DAN KONFIRMASI MODEL PAF (BIAYA PENCEGAHAN, BIAYA PENILAIAN, DAN BIAYA KEGAGALAN) BERDASARKAN TEORI BIAYA KUALITAS
Perusahaan manufaktur sering menghadapi kesulitan dalam menyeimbangkan efisiensi biaya dan kualitas, dengan biaya kualitas menyerap sumber daya yang signifikan namun seringkali tidak dikelola secara efektif. Penelitian ini menanggapi kesenjangan antara teori dan praktik dalam model Prevention–Appraisal–Failure (PAF) yang banyak digunakan dengan menerapkan pendekatan campuran berbasis abduktif, mencakup tinjauan literatur sistematis, eksperimen action research, serta Analytic Hierarchy Process (AHP). Studi dilakukan pada perusahaan manufaktur elektronik milik Jepang di Indonesia dan menunjukkan bahwa strategi berbasis appraisal memang menurunkan tingkat cacat, tetapi justru meningkatkan total biaya kualitas. Sebaliknya, investasi pencegahan menghasilkan penurunan total biaya sebesar 84,1% dan terbukti lebih berkelanjutan. Temuan ini menghasilkan modifikasi model PAF dengan menempatkan pencegahan sebagai variabel independen utama, yang divalidasi melalui analisis sensitivitas serta uji robustnes dengan metode TOPSIS. Dari sisi manajerial, analisis AHP menegaskan bahwa pelatihan karyawan dan program perbaikan proses merupakan strategi pencegahan yang paling efektif. Meskipun penelitian ini terbatas pada konteks satu perusahaan, hasilnya memberikan wawasan praktis bagi industri manufaktur produk diskret serta menekankan perlunya validasi lebih luas secara lintas industri dan longitudinal untuk memperkuat generalisasi model.
DESAIN DAN SIMULASI MICROFLUIDA UNTUK PEMBUATAN ALAT FRAKSINASI ALIRAN TERJEPIT ASIMETRIS SEBAGAI ALAT UNTUK PEMISAHAN PARTIKEL
Teknologi mikrofluida menawarkan keunggulan dalam manipulasi fluida berskala mikroliter hingga nanoliter, salah satunya untuk pemisahan partikel. Salah satu metode yang banyak dikembangkan adalah Pinched Flow Fractionation (PFF), yang bekerja berdasarkan aliran fluida pada saluran penyempit. Pada penelitian ini dikaji variasinya, yaitu Asymmetric Pinched Flow Fractionation (APFF), yang memiliki fleksibilitas lebih baik melalui modifikasi outlet asimetris. Penelitian dilakukan dengan metode simulasi numerik menggunakan perangkat lunak COMSOL Multiphysics dan didukung uji eksperimen skala laboratorium. Variasi parameter meliputi ukuran, massa jenis, volume partikel, serta perbandingan laju aliran pada inlet. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pemisahan partikel dipengaruhi oleh massa dan ukuran partikel, di mana partikel dengan massa lebih kecil terdorong menuju outlet awal, sedangkan partikel lebih berat cenderung menuju outlet tengah. Simulasi pewarna menunjukkan dominasi aliran dengan kecepatan lebih tinggi, yang konsisten dengan hasil eksperimen. Keselarasaan antara simulasi dan eksperimen membuktikan bahwa simulasi numerik dapat digunakan sebagai prediksi awal sebelum eksperimen nyata. Penelitian ini memberikan kontribusi pada desain sistem APFF yang lebih efisien untuk aplikasi biomedis dan lingkungan, khususnya dalam pemisahan partikel dan sel.
PENGARUH PERBEDAAN KANDUNGAN PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BUDIDAYA IKAN GABUS (CHANNA STRIATA) PADA DUTCH BUCKET SYSTEM (DBS) YANG TERINTEGRASI DENGAN BUDIDAYA TOMAT CERI (LYCOPERSICON ESCULENTUM MILL. VAR. CERASIFORME)
Budidaya tanaman tomat dengan sistem dutch bucket yang diintegrasikan dengan budidaya ikan menjadi menjadi salah satu jenis sistem budidaya akuaponik yang menjawab problematika ketahanan pangan di masa kini. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh perbedaan kandungan pakan terhadap pertumbuhan dan hasil budidaya ikan gabus (Channa striata) pada Dutch Bucket System (DBS) yang terintegrasi dengan budidaya tomat ceri (Lycopersicon esculentum Mill. car. cerasiforme), dan menentukan neraca massa dan energi yang dihasilkan dalam kegiatan budidaya ikan gabus (Channa striata) yang terintegrasikan dengan budidaya tomat ceri (Lycopersicum esculentum Mill. var. cerasiforme). Penelitian ini dilakukan pada tanggal 15 Desember 2023 - 1 Maret 2024 di greenhouse Tani Kota yang berlokasi di Jl. Cisitu Indah 1A, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, selain itu, pembuatan pakan ikan dilakukan di Laboratorium Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Cigadung, Cibiru, Kota Bandung. Jenis penelitian ini adalah percobaan eksperimental dengan satu faktorial. Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini ada 4 perlakuan dengan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan formulasi pakan dan kombinasinya dengan tepung larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan formulasi pakan 75% memberikan hasil terbaik terhadap parameter pertumbuhan dan hasil biomassa ikan gabus (Channa striata).
LIFE CYCLE ASSESSMENT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (STUDI KASUS: STAR ENERGY GEOTHERMAL WAYANG WINDU, LTD)
Kandungan panas bumi di Indonesia diperkirakan dapat menghasilkan sumber daya terbarukan sebesar 29 GW, dan baru termanfaatkan sekitar 5% atau sekitar 1643 MW hingga 2016, dari jumlah tersebut sekitar 227 MW diproduksi dari pembangkit listrik Wayang Windu. Masukan berupa bahan baku, energi dan air akan menghasilkan keluaran berupa produk, co-product, emisi, limbah padat dan limbah cair dalam proses operasionalnya. Seluruh proses operasional industri harus dapat memenuhi standar lingkungan, dan bahkan lebih dari memenuhi standar serta melakukan perbaikan berkelanjutan. Metoda yang dipilih untuk perbaikan ini adalah Life Cycle Assessment (Penilaian Daur Hidup) berdasarkan ISO 14040. Penelitian ini menggunakan metoda cradle to gate dengan unit fungsional MegaWatt Hours. Analisis inventarisasi menunjukkan secara detail seluruh input dan output pada setiap unit proses dan menunjukkan bahwa subsistem penghasil gas-gas yang tidak terkondensasi dan kondensat memiliki dampak lingkungan terbesar. Setiap MWh produksi Listrik yang dihasilkan membutuhkan 6,87 ton uap kering atau 8,16 ton cairan panas bumi. Kategori dampak yang dilakukan pada penilaian potensi dampak adalah potensi pemanasan global (Global Warming Potential), Potensi Asidifikasi (Acidification Potential), dan potensi Eutrofikasi (Eutrophication Potential) untuk tingkatan midpoint dan penggunaan lahan untuk tingkatan endpoint. Nilai GWP adalah 0,155 Ton CO2eq./MWh, AP 1,69 kg SO2eq./MWh, EP 5,36 gPO4eq./MWh dan penggunaan lahan 0,000024 PDF/m2. Hasil normalisasi menunjukkan bahwa potensi asidifikasi memiliki potensi dampak terbesar yakni 78% dari seluruh dampak dan 98% diantaranya berasal dari H2S gas-gas yang tidak terkondensasi. Pada perbandingan nilai GWP dan AP beberapa PLTP dry steam lain, nilai potensi dampak berada pada posisi yang baik. Analisis biaya manfaat menunjukkan industri ini masih layak.
PEMODELAN SISTEM FISIS TRANSFER PANAS BAHAN BAKAR NUKLIR PADA KEADAAN STEADY STATE MENGGUNAKAN METODE FINITE VOLUME
Prediksi distribusi temperatur yang akurat pada bahan bakar nuklir sangat penting untuk operasi reaktor nuklir yang aman dan efisien. Akan tetapi, pengukuran temperatur secara langsung di dalam teras reaktor sangat sulit dilakukan, sehingga diperlukan model komputasi untuk memahami perilaku temperaturnya. Penelitian ini memodelkan transfer panas pada kondisi steady-state dalam penampang 2D dari pelet bahan bakar pressurized water reactor (PWR) menggunakan dua pendekatan: solusi analitik teoretis dan simulasi numerik berbasis metode finite volume (FVM) pada kisi berukuran 500 × 100. Hasil numerik FVM diverifikasi terhadap solusi analitik dan menunjukkan akurasi yang tinggi, dengan rata-rata eror persentase hanya sebesar 1.3959%; eror ini dikarenakan oleh eror diskritisasi yang wajar dari metode numerik. Namun, saat dievaluasi terhadap kode fidelitas tinggi seperti CTFFRAPCON dan CTF-BISON, model yang dikembangkan memprediksi temperatur yang jauh lebih tinggi. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa meskipun model transfer panas tidak terkopel ini akurat dalam lingkupnya, simulasi yang sepenuhnya memprediksi distribusi temperatur dalam teras reaktor harus menyertakan kerangka multi-fisis terkopel (neutronik-termal-mekanik-hidrolik) untuk menangkap efek umpan balik yang ada pada kode fidelitas tinggi.
DESIGN OF FLOATING NET CAGES WITH LOBSTER HOUSE TECHNOLOGY BASED ON FLUID STRUCTURE INTERACTION ANALYSIS
This study aims to design floating net cages with lobster house technology under the environmental conditions of Komodo Island, while also assessing their financial feasibility. The scope of the research includes structural optimization and analysis based on environmental data from Komodo Island and predetermined design targets, as well as financial feasibility analysis using investment cost (CAPEX), operational cost (OPEX), interest rates, inflation, and taxation parameters applicable in Indonesia. The financial assessment employs the Net Present Value (NPV), Benefit-Cost Ratio (B/C), and Internal Rate of Return (IRR) methods. The research methodology involves superstructure modeling using OrcaWave software for radiation–diffraction analysis, as well as OrcaFlex for static and dynamic simulations, followed by extreme value analysis to obtain the results. These results are compared with the design targets for optimization, and subsequently, financial evaluation is conducted based on cost and revenue data provided by the patent holder. The findings show that the optimized floating net cage with lobster house technology meets all design targets. Financial feasibility analysis, conducted by comparing projects with and without lobster house technology, indicates that although CAPEX and OPEX are higher, the lobster house technology increases harvest frequency, thereby generating higher annual revenue compared to floating net cage without lobster house technology. In conclusion, besides increasing financial feasibility, the lobster house also improves technical feasibility by allowing floating net cages to be installed in more extreme environments.
DESAIN LIFTING DAN LOWERING LAYOUT, KONFIGURASI MOORING DAN ANALISIS MOORING PADA HEAVY LIFT VESSEL UNTUK INSTALASI OFFSHORE WIND TURBINE
Instalasi offshore wind turbine merupakan tantangan teknis yang kompleks karena kondisi lingkungan laut yang dinamis, ditandai dengan gelombang, angin, dan arus yang kuat. Operasi lifting dan lowering komponen turbin berukuran besar membutuhkan Heavy Lift Vessel (HLV) dengan kapasitas crane yang memadai serta sistem mooring yang mampu menjaga posisi kapal secara presisi. Tugas Akhir ini bertujuan untuk merancang konfigurasi mooring HLV dan menganalisis kinerjanya dalam proses instalasi offshore wind turbine pada sepuluh lokasi berbeda, dengan fokus memastikan offset HLV dan tension mooring berada dalam batas kriteria desain sehingga operasi dapat berjalan dengan aman dan efisien. Pemilihan HLV dilakukan berdasarkan kapasitas angkat, tinggi hook, dan radius lifting, di mana HLV A dipilih dengan penyesuaian kapasitas crane agar sesuai kebutuhan instalasi. Analisis dilakukan dengan pemodelan numerik untuk memperoleh karakteristik hidrodinamika HLV melalui analisis difraksi dan radiasi, serta penentuan weather restricted condition. Desain lifting layout dan konfigurasi mooring selanjutnya diuji melalui simulasi statik dan dinamik menggunakan perangkat lunak OrcaFlex pada kondisi intact, transient, dan redundancy check sesuai standar DNVGL-ST-N001. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi operasi aman dapat dicapai pada batas weather restricted dengan significant wave height (Hs) maksimum 2,5 m, kecepatan arus 0,84 m/s, dan kecepatan angin 21,29 m/s. Konfigurasi mooring yang dirancang terbukti mampu menjaga posisi HLV dalam batas offset aman, memenuhi kapasitas desain mooring dan anchor holding, serta menjaga clearances terhadap struktur di sekitar lokasi instalasi.
DETERMINATION OF HYDRODYNAMIC PARAMETERS OF OFFSHORE FLOATING SOLAR POWER PLANTS USING THE DMB NUMERICAL MODEL AND LABORATORY TEST RESULTS
Floating photovoltaic (FPV) systems are a promising offshore renewable energy solution, but their performance depends on accurately predicting hydroelastic responses under wave loading. This study investigates the dynamic behavior of an FPV island through laboratory experiments and numerical modeling. A scaled FPV model was tested at the ITB Wave Laboratory, with Inertial Motion Units (IMUs) measuring acceleration, angular velocity, and pitch. The numerical model was developed in OrcaFlex using the Discrete Modular Beam (DMB) method, with hydrodynamic data obtained from OrcaWave. Baseline comparisons showed large discrepancies between experiment and simulation, particularly in acceleration responses. Through iterative tuning of equivalent beam stiffness, drag coefficients, and structural damping, the numerical model was significantly improved. The final calibrated parameters reduced errors and provided validated input for FPV hydroelastic simulations. This study highlights the DMB method as an efficient tool for FPV analysis, bridging physical and numerical approaches.
PENGARUH WAKTU PENAHANAN RAPID TEMPERING PADA METODE PERLAKUAN PANAS RAPID AUSTENITIZATION TERHADAP MIKROSTRUKTUR DAN SIFAT MEKANIK BAJA KARBON RENDAH
Tuntutan dari berbagai sektor industri untuk menghasilkan baja yang berkualitas tinggi terus meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor konstruksi, otomotif, dan aplikasi industri lainnya. Peningkatan kebutuhan ini menimbulkan tantangan serius terhadap lingkungan, terutama dalam hal konsumsi energi dan emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari proses peleburan bijih besi dan produksi baja dalam skala besar. Upaya untuk meningkatkan sifat mekanis sekaligus efisiensi energi dan waktu produksi, serta mengurangi emisi CO? yang dihasilkan dalam proses produksi baja masih menjadi tantangan tersendiri dalam proses manufaktur. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan laju tempering melalui penerapan metode rapid tempering. Rapid tempering akan meningkatkan kekuatan material melalui proses perlakuan panas singkat yang menghasilkan mikrostruktur halus dan seragam. Melalui peningkatan kekuatan hasil rapid tempering, struktur baja dapat dirancang lebih ringan namun tetap memenuhi standar beban, sehingga jumlah baja yang digunakan dalam produksi berkurang. Implikasinya, kebutuhan terhadap proses peleburan dan pembentukan baja juga menurun, yang secara langsung berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon dioksida (CO?) yang dihasilkan dalam proses produksi baja. Serangkaian percobaan rapid tempering telah dilakukan untuk mempelajari pengaruh dari waktu penahanan terhadap mikrostruktur dan sifat mekanik baja karbon rendah. Percobaan dilakukan dengan perlakuan panas rapid austenitization pada induction furnace 7 kW selama 90 detik dengan temperatur 1000 °C pada masing-masing spesimen. Setelah dilakukan austenisasi, dilakukan quenching menggunakan air es. Setelah itu, spesimen dilakukan perlakuan panas rapid tempering menggunakan induction furnace dengan variasi waktu perendaman dilakukan selama 5, 15, dan 20 detik dengan pendinginan celup pada air es. Dilakukan percobaan perlakuan panas konvensional sebagai pembanding. Pada percobaan perlakuan panas konvensional dilakukan perlakuan panas austenisasi konvensional pada muffle furnace dengan temperatur 1000 °C selama 30 menit pada masing-masing spesimen dan dilakukan quenching menggunakan air es. Setelah itu, spesimen dilakukan perlakuan panas tempering konvensional menggunakan muffle furnace dengan temperatur 200, 400, dan 600 °C selama 1 jam dan dilakukan pendinginan celup pada air es. Hasil penelitian rapid tempering menunjukkan terbentuknya mikrostruktur berupa tempered martensite dengan perubahan martensit yang tidak begitu signifikan berubah dibandingkan pada tempering konvensional, serta presipitasi sementit yang terbentuk sangat halus. Perlakuan rapid tempering memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan pada perlakuan tempering konvensional untuk hampir seluruh sifat mekanik. Nilai kekerasan tertinggi sebesar 422,667 HV, kekuatan tarik maksimum 1308,9 MPa, dan kekuatan luluh maksimum 1270 MPa diperoleh pada perlakuan rapid tempering pada waktu penahanan 5 detik, sedangkan ketangguhan dan elongasi tertinggi masing-masing tercapai pada 20 detik, yaitu 139,336 J/cm² dan 33,833%. Berdasarkan keseimbangan antara kekuatan tarik, kekerasan, dan ketangguhan, spesimen RA-RT 5s menunjukkan performa paling optimal.
PERANCANGAN SALURAN TERBUKA DENGAN OPTIMALISASI ALIRAN AIR TAMBANG DI TIMBUNAN SELATAN SJS PIT 3 BANKO TENGAH BLOK B PT. BUKIT ASAM, TBK.
PT Bukit Asam Tbk adalah perusahaan tambang batubara terbuka di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, yang mengoperasikan Pit 3 di wilayah IUP Banko Barat dan Banko Tengah B. Intensitas kegiatan penambangan di area Pit 3 menuntut optimalisasi sistem drainase untuk mengantisipasi permasalahan limpasan air hujan dari Timbunan Selatan SJS yang masuk ke Pit 3 dan mengganggu produksi. Penelitian ini merancang saluran terbuka berbasis evaluasi hidrologi untuk mengalirkan limpasan air hujan menuju Kolam Pengendapan Lumpur (KPL) secara efisien. Perencanaan ini dimulai dengan analisa data hujan selama periode Januari 2000 hingga Juni 2025 menggunakan distribusi Log Pearson Tipe III sehingga didapatkan curah hujan rencana sebesar 149,72 mm dan intensitas hujan rencana sebesar 26,77 mm/jam untuk periode ulang 10 tahun. Debit limpasan yang mengalir menuju Pit 3 dari Timbunan Selatan SJS dengan daerah tangkapan hujan seluas 6,48 km2 adalah sebesar 33,79 m3/s. Proses recontouring topografi dilakukan agar limpasan air terekayasa tidak masuk ke dalam Pit 3. Saluran berbentuk trapesium dirancang dalam dua tipe dimensi (3×9×3 m dan 2×7×2m) dengan kemiringan 1,04% menuju KPL BTB 02 dan 1,52% menuju KPL BB 08 serta tetap mempertahankan aliran dalam bentuk subcritial flow. Hasil perancangan menunjukkan efektivitas dalam menurunkan debit limpasan sebesar 34,8% dan mempercepat proses dewatering hingga 18,6% dari kondisi aktual dengan kebutuhan volume galian mencapai 384.300 BCM untuk merealisasikan rancangan saluran terbuka ini.
KAJIAN PREDIKSI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN SERTA KESESUAIANNYA DENGAN RENCANA TATA RUANG KOTA JAKARTA SELATAN
Kota Jakarta Selatan berada di bawah tekanan pembangunan masif yang berisiko memicu perubahan fungsi lahan secara tidak terkendali. Kondisi ini tidak hanya membahayakan peran ekologis vitalnya sebagai kawasan resapan air, tetapi juga menyebabkan kesenjangan dengan arahan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Untuk mengatasi tantangan tersebut, penelitian ini bertujuan memprediksi perubahan penggunaan lahan di masa depan dan menganalisis tingkat kesesuaiannya terhadap RDTR. Sebagai sebuah kebaruan, studi ini menerapkan model Cellular Automata-Artificial Neural Network (CA-ANN) pada data penggunaan lahan yang terperinci, bukan sekadar tutupan lahan, sehingga analisisnya lebih tajam dan relevan dengan kebijakan tata ruang. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor pendorong utama perubahan lahan melalui analisis regresi logistik biner yang menemukan bahwa jarak dari jalan dan permukiman adalah variabel paling berpengaruh. Hasil tersebut kemudian menjadi dasar bagi model prediksi spasial yang telah divalidasi dan terbukti memiliki akurasi sangat tinggi untuk memproyeksikan kondisi di masa mendatang. Proyeksi hasil penelitian mengindikasikan adanya potensi ketidaksesuaian dengan RDTR. Sebesar 32,66% dari keseluruhan wilayah diprediksi akan mengalami perkembangan yang menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan. Penyimpangan yang terjadi mencakup perluasan kawasan perumahan dan perkantoran yang cenderung tidak terencana, serta pada saat yang sama terjadi penyusutan drastis pada zona perdagangan dan jasa yang seharusnya menjadi prioritas RDTR. Tren ini juga mengidentifikasi risiko keberlanjutan ekologis kota melalui potensi pengurangan luas zona badan air dan kawasan perlindungan setempat. Temuan ini menegaskan bahwa dinamika penggunaan lahan belum sepenuhnya selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, sekaligus menyumbangkan alat bantu prediksi spasial yang valid bagi pemerintah untuk mendeteksi potensi penyimpangan pemanfaatan ruang secara proaktif dan mengarahkan pembangunan agar selaras dengan visi tata ruang yang telah ditetapkan.