📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENGEMBANGAN FRONTEND APLIKASI DAN MODUL PEMODELAN DATA GRAF BERARAH PADA BEBRAS QUEST UNTUK PEMBELAJARAN COMPUTATIONAL THINKING INTERAKTIF
Pembelajaran Berpikir Komputasional (Computational Thinking/CT) seringkali menyajikan soal dalam format statis dan non-interaktif, seperti pada platform Bebras Challenge konvensional, yang belum optimal dalam membangun pemahaman siswa terhadap konsep abstrak seperti pemodelan data graf berarah. Tugas Akhir ini merancang dan membangun modul soal interaktif berbasis Bebras Challenge dengan elemen gamifikasi sebagai bagian dari Bebras Quest, mengadaptasi metodologi pengembangan incremental yang sistematis melalui tahapan analisis kebutuhan, desain sistem, implementasi modul interaktif, hingga pengujian fungsionalitas dan kegunaan. Metode teknis yang diterapkan berfokus pada transformasi konsep graf berarah menjadi modul interaktif kontekstual dan visual menggunakan elemen-elemen gamifikasi seperti poin, level, dan tantangan, serta implementasi sistem yang memungkinkan visualisasi hubungan antar simpul dan arah busur dalam bentuk tantangan edukatif interaktif. Hasil dari tugas akhir ini adalah sebuah aplikasi fungsional yang telah divalidasi; pengujian unit testing, integration testing, dan usability testing menghasilkan nilai rata-rata SUS sebesar 68,5 dalam kategori "Marginally Acceptable". Dapat disimpulkan bahwa penelitian ini berhasil menciptakan modul pembelajaran graf berarah yang interaktif untuk mendukung kemampuan berpikir komputasional siswa, sekaligus membuktikan bahwa implementasi elemen gamifikasi perlu didukung dengan antarmuka pengguna yang mudah dipahami guna mencapai efektivitas pembelajaran yang optimal.
SISTEM MANAJEMEN PENGETAHUAN UNTUK MENDUKUNG PENDAYAGUNAAN ZISWAF PADA LEMBAGA X
Pengelolaan pengetahuan yang efektif menjadi kebutuhan penting dalam mendukung kolaborasi dan akuntabilitas lembaga pengelola Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF). Penelitian ini dilakukan untuk merancang dan mengembangkan sistem manajemen pengetahuan berbasis web yang terintegrasi dan sesuai kebutuhan pengguna dalam konteks pendayagunaan ZISWAF di Lembaga X. Permasalahan yang dikaji adalah belum adanya sistem terstruktur untuk mendokumentasikan dan menyebarkan pengetahuan antara tim penghimpun dan pendayaguna, yang menyebabkan aliran informasi tidak efisien dan menghambat proses pendayagunaan. Penelitian menggunakan pendekatan metodologi waterfall yang mencakup planning, requirements analysis, design, development, testing, dan deployment. Evaluasi dilakukan melalui pengujian fungsional (black-box testing), evaluasi kemudahan penggunaan (Single Ease Question/SEQ), serta pengujian persepsi pengguna terhadap sistem (Net Promoter Score/NPS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem berhasil memenuhi 21 kebutuhan fungsional utama dan dapat dijalankan oleh perwakilan kelompok pengguna yang terlibat dalam pengujian. Skor SEQ menunjukkan bahwa sistem mudah digunakan oleh admin, sementara user umum masih mengalami hambatan pada beberapa alur interaksi. Skor NPS dari admin (8,7 dan 9,3) lebih tinggi dibandingkan dengan user umum (6 dan 7), menunjukkan adanya perbedaan persepsi manfaat yang perlu ditindaklanjuti. Kesimpulannya, sistem manajemen pengetahuan ini telah berhasil menjawab kebutuhan dasar pengelolaan pengetahuan pada tahap uji coba terbatas bersama pihak penguji. Namun, implementasi lebih luas pada seluruh pengurus lembaga masih diperlukan, dengan peningkatan pada aspek antarmuka serta pelibatan lebih awal dari pengguna umum agar adopsi kebutuhan fungsional dapat lebih optimal.
PERSONALISASI ALGORITMIK, BUKTI SOSIAL, DAN KEPERCAYAAN: MEMAHAMI PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PERILAKU KONSUMEN DI INDONESIA
Di era digital, algoritma media sosial memainkan peran yang semakin dominan dalam membentuk perilaku pengambilan keputusan konsumen. Dengan konten yang dipersonalisasi, umpan yang didorong oleh algoritma, dan mekanisme validasi sosial, platform seperti Instagram dan TikTok secara signifikan mempengaruhi niat pembelian online pengguna. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana personalisasi, bukti sosial, dan kepercayaan mempengaruhi niat konsumen untuk membeli secara online, khususnya dalam konteks penggunaan media sosial. Pertanyaan penelitian utama adalah: Bagaimana personalisasi, bukti sosial, dan kepercayaan yang dimediasi oleh pengiriman konten algoritmik mempengaruhi niat pembelian online? Metode penelitian kuantitatif digunakan, dengan survei yang didistribusikan kepada 38 konsumen online aktif yang sering berinteraksi dengan iklan media sosial. Data dianalisis menggunakan uji validitas dan reliabilitas untuk menguji model yang diusulkan. Berdasarkan hasil deskriptif, tampaknya personalisasi dan kepercayaan mungkin terkait dengan niat pembelian online, sementara bukti sosial memiliki hubungan positif, tetapi hubungan yang kurang menonjol. Secara spesifik, uji inferensial diperlukan untuk memverifikasi hubungan-hubungan ini. Temuan ini menyoroti mekanisme psikologis dan perilaku yang mendasari cara paparan algoritmik membentuk sikap dan keputusan konsumen. Studi ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang efektivitas pemasaran digital dan memberikan implikasi praktis bagi merek yang memanfaatkan iklan algoritmik. Penelitian lebih lanjut dianjurkan untuk mengeksplorasi variabel tambahan seperti dinamika spesifik platform atau peran skeptisisme konsumen dalam lingkungan iklan digital.
DEVELOPMENT OF SIO2 AND MOF-DERIVED HYBRID ARCHITECTURE FOR HIGH-PERFORMANCE LITHIUM-ION BATTERY ANODES
The increasing carbon dioxide (CO2) emissions from the energy and transportation sectors have accelerated vehicle electrification, thereby driving the growing demand for lithium-ion batteries (LIBs). Currently, commercial graphite-based anodes, with a specific capacity of ~372 mAh/g, are insufficient to meet the requirements of highcapacity LIBs. Graphite anodes also exhibit performance limitations at high current densities, making them less suitable for fast-charging applications needed in the development of batteries for electric vehicles. Compared to graphite anodes, silica (SiO2) is a promising alternative candidate due to its abundant availability, low cost, and significantly higher theoretical capacity (~1965 mAh/g). However, the application of SiO2-based anodes is still hindered by low electrical conductivity, poor initial coulombic efficiency, and significant volume expansion during cycling. These factors result in SiO2-based anodes performing far below their theoretical capacity and exhibiting low stability. In this research, a hybrid anode structure was designed by integrating silica particles into a carbon matrix derived from a metal-organic framework (MOF), specifically ZIF- 67. Additionally, nitrogen-doped carbon nanofibers sourced from melamine were grown on the surface of the hybrid anode to create conductive pathways, thereby enhancing the performance of the SiO2-based anode. The sample morphology was characterized using a field-emission scanning electron microscope (FESEM), while the elemental composition was analyzed through energy-dispersive X-ray spectroscopy (EDS). X-ray diffraction (XRD) and Raman spectroscopy were employed to analyze the crystal structure and phase formed. The silica-based electrode was fabricated using a mixed slurry method and subsequently coated onto a copper current collector. The electrode sheets were then assembled into coin-type battery cells (CR2032). To evaluate the electrochemical performance of the battery cells, a series of tests was conducted, including electrochemical impedance spectroscopy (EIS), cyclic voltammetry (CV), cycling and long-term cycling performance, and rate capability tests. The experimental results demonstrated that structural modification effectively enhanced the electrochemical performance of the SiO2-based anode. Material characterization revealed that the modified samples exhibited improved morphology and higher crystallinity compared to the unmodified sample. The modified sample also demonstrates superior electrochemical performance, as evidenced by lower charge transfer resistance, higher lithium-ion diffusion coefficient, and more stable cycling performance. The SiO2@CoNC-CNF anode delivers outstanding performance, achieving a specific capacity of 245 mAh/g and a capacity retention of 134% after 1000 cycles at a current density of 1 A/g.
IMPLEMENTATION OF DIGITAL TRANSFORMATION IN URBAN HOUSING MANAGEMENT: A CASE STUDY IN PURWAKARTA REGENCY
Urban housing development in Indonesia faces persistent challenges related to the provision, management, and formal handover of public infrastructure, facilities, and utilities (PSU). Although national regulations mandate that housing developers transfer PSU assets to local governments, the process is often delayed or incomplete due to insufficient documentation, technical verification bottlenecks, and inconsistent data management practices. This study explores the use of photogrammetry as a lightweight and scalable digital tool to support PSU asset verification in urban housing developments, with a case study conducted in Purwakarta Regency, West Java. By applying photogrammetry techniques to two housing clusters, Cluster Marsela and Bumi Gandasari, this research demonstrates how spatial data can be generated and analyzed to measure PSU areas, including roads, drainage, and green open spaces. Orthomosaic images and area calculations were produced using Agisoft Metashape and QGIS, allowing for comparison against existing site plans and regulatory standards. The findings highlight the discrepancies between planned and actual PSU provisions and underscore the potential of photogrammetry to improve technical verification processes in housing asset management. While not equivalent to a full-scale digital twin system, the use of photogrammetry represents an early-stage application of digital transformation in local housing governance. This approach contributes to more efficient data collection, enhances monitoring capabilities, and lays groundwork for future adoption of more integrated digital tools in urban infrastructure management.
PEMODELAN GRAVITY DAN MAGNETIC UNTUK ESTIMASI KEDALAMAN BASEMENT
Pemetaan kedalaman batuan dasar penting untuk mengurangi ketidakpastian eksplorasi pada cekungan sedimen. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan membandingkan hasil inversi gravitasi dan magnetik untuk estimasi batuan dasar, serta menilai sensitivitas metode terhadap parameter input. Empat model sintetik (graben, half graben, horst–graben, dan horst–graben dengan noise) dibangun dan dihitung respon anomali gravitasi serta magnetiknya melalui pemodelan kedepan. Data anomali kemudian di inversi menggunakan GRV_D_inv untuk data gravitasi dan MagB_Inv untuk data magnetik. Hasil inversi kemudian dievaluasi melalui perbandingan penampang kedalaman batuan dasar antara model awal dengan kedalaman setelah inversi serta galat RMS. Hasil awal menunjukkan kedua metode mampu merekonstruksi geometri batuan dasar dengan galat kecil. Secara umum, inversi gravitasi menangkap tren gelombang panjang dan garis dasar kedalaman yang halus, sedangkan inversi magnetik lebih peka terhadap perubahan detail lokal. Temuan ini mengindikasikan bahwa integrasi keduanya berpotensi meningkatkan keandalan estimasi kedalaman batuan dasar. percobaan parameter (AvgZo, kontras magnetisasi M, filter SH–WH, serta kontras densitas pada gravitasi) yang menunjukkan pengaruh signifikan terhadap hasil inversi. Percobaan ini menegaskan pentingnya pemilihan parameter yang tepat agar estimasi kedalaman batuan dasar lebih representatif. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa kombinasi metode gravitasi dan magnetik dapat saling melengkapi dalam interpretasi geologi bawah permukaan pada model sintetik, serta berpotensi diterapkan pada data lapangan dengan dukungan verifikasi geologi seperti seismik maupun data sumur.
ANALISIS REKUALIFIKASI DAN LIFTING STRUKTUR ANJUNGAN LEPAS PANTAI TIPE JACKET PLATFORM DI LAUT JAWA
Kebutuhan energi nasional Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk, sementara produksi minyak domestik hanya mampu memenuhi sekitar separuh dari total konsumsi harian yang melebihi 1,2 juta barel. Ketimpangan ini memaksa Indonesia untuk mengandalkan impor minyak, sehingga ketahanan energi nasional menjadi rentan. Salah satu strategi untuk mengatasi permasalahan ini adalah memperpanjang masa operasi infrastruktur migas yang sudah ada, termasuk anjungan lepas pantai. Penelitian ini melakukan analisis requalification terhadap struktur fixed wellhead platform berkaki empat di perairan dangkal kedalaman 100 kaki, dengan tujuan memastikan kelayakan teknis apabila masa operasional diperpanjang selama 20 tahun. Analisis mencakup empat aspek utama: in-place, seismic, fatigue, dan lifting. Pemodelan struktur dan pembebanan dilakukan menggunakan perangkat lunak Structural Analysis Computer System (SACS) berdasarkan data survei lapangan, laporan Asset Integrity Management, serta acuan desain dari API RP 2A WSD, AISC, dan DNV. Data metocean terkini digunakan untuk mendukung evaluasi. Hasil analisis in-place menunjukkan satu member dan satu joint mengalami overstress, sedangkan defleksi vertikal maupun horizontal memenuhi kriteria. Analisis seismic menghasilkan faktor beban gempa 0.443–0,448 untuk kondisi SLE dan 0,939–0,923 untuk DLE, dengan total 27 joint kritis; kapasitas aksial pile memenuhi kriteria. Analisis fatigue menunjukkan beberapa joint utama memiliki umur lelah kurang dari 63 tahun. Sebagai tindak lanjut terhadap overstressed joint pada kondisi in-place dan seismic SLE, dilakukan pembaharuan beban workover rig. Berdasarkan data terbaru, beban rig berkurang signifikan dari 213,87 kips menjadi 116,94 kips akibat menurunnya kapasitas produksi sumur. Setelah update beban, analisis in-place, seismic, dan fatigue kembali dilakukan, dengan hasil menunjukkan nilai UC memnuhi standar, serta peningkatan umur lelah pada beberapa joint sehingga kondisi struktur menjadi lebih aman. Pada analisis lifting, pengangkatan topside dilakukan dengan metode single hook point pada elevasi 28 m sehingga sudut sling terhadap bidang horizontal lebih dari 60°. Empat sling baja terhubung ke pilar deck utama, dengan hasil menunjukkan gaya maksimum pada sling sebesar 95.16 kips, member unity check maksimum 0,71, joint punching shear maksimum 0,22, dan seluruh nilai memenuhi kriteria API RP 2A. Pemilihan peralatan rigging meliputi sling 6×36 IWRC (diameter 60 mm, MBL 3040 kN), shackle Crosby G-2160 WLL 55 ton, serta padeye yang didesain khusus dengan material ASTM A36 dan las E-70, semuanya sesuai faktor keamanan yang disyaratkan. Rekomendasi perkuatan meliputi penambahan stiffener box pada member overstress, inspeksi rutin area rawan fatigue, serta perawatan marine growth. Kesimpulan akhir menyatakan bahwa struktur memenuhi kriteria kelayakan untuk perpanjangan umur layan 20 tahun dengan implementasi perkuatan dan inspeksi berkala, serta desain lifting dinyatakan aman tanpa memerlukan modifikasi tambahan. Kata Kunci: Requalification struktur, anjungan lepas pantai, wellhead platform, in-place analysis, seismic analysis, fatigue analysis, lifting, umur layan struktur, ketahanan energi. Indonesia’s national energy demand continues to increase in line with economic growth and population expansion, while domestic oil production is only able to meet approximately half of the total daily consumption exceeding 1.2 million barrels. This imbalance compels Indonesia to rely on oil imports, thereby rendering national energy security vulnerable. One strategy to address this challenge is to extend the service life of existing oil and gas infrastructure, including offshore platforms. This study conducts a requalification analysis of a fixed four-legged wellhead platform in shallow water at a depth of 100 feet, with the objective of assessing its technical feasibility for a 20-year service life extension. The analysis encompasses four main aspects: in-place, seismic, fatigue, and lifting. Structural modeling and load application were carried out using the Structural Analysis Computer System (SACS) software, based on field survey data, Asset Integrity Management reports, and design standards from API RP 2A WSD, AISC, and DNV. Updated metocean data were employed to support the evaluation. The in-place analysis revealed one overstressed member and one overstressed joint, although vertical and horizontal deflections satisfied the criteria. The seismic analysis yielded seismic load factors of 0.443–0.448 for the SLE condition and 0.939–0.923 for the DLE condition, with a total of 27 critical joints, while axial pile capacity remained adequate. The fatigue analysis indicated that several critical joints had fatigue lives of less than 63 years. As a follow-up to the overstressed joints under in-place and SLE seismic conditions, an update was applied to the workover rig loads. Based on the latest data, the rig load was significantly reduced from 213.87 kips to 116.94 kips due to declining well production capacity. After this adjustment, in-place, seismic, and fatigue analyses were repeated, yielding unity check values that met the standards and improved fatigue lives for several joints, thus enhancing the overall structural safety. In the lifting analysis, the topside was lifted using a single hook point method at an elevation of 28 m, resulting in sling angles greater than 60° relative to the horizontal plane. Four steel wire rope slings were connected to the main deck columns, with results showing a maximum sling force of 95.16 kips, a maximum member unity check of 0.71, and a maximum joint punching shear of 0.22—all satisfying API RP 2A criteria. Rigging equipment selection included 6×36 IWRC slings (60 mm diameter, MBL 3040 kN), Crosby G-2160 shackles (WLL 55 tons), and specially designed padeyes using ASTM A36 steel and E-70 welds, all of which complied with the required safety factors. Recommended strengthening measures include the addition of stiffener boxes on overstressed members, routine inspection of fatigue-prone areas, and marine growth maintenance. The overall conclusion is that the structure satisfies the technical requirements for a 20-year service life extension with the implementation of strengthening and periodic inspection, while the lifting design is deemed safe without requiring further modification.
ANALISIS CROSSWALKING AKIBAT VORTEX INDUCED VIBRATION (VIV) PADA CROSSING PIPA BAWAH LAUT PROYEK CARBON CAPTURE, UTILIZATION, & STORAGE (CCUS) DI LAUT JAWA
Analisis crossing pipa bawah laut untuk proyek CCUS dengan CO? supercritical (tekanan tinggi, suhu moderat) memicu kompresi aksial efektif besar sehingga memperkecil frekuensi natural pipa. Akibatnya, allowable span berkurang dan membutuhkan banyak crossing support yang berimplikasi pada biaya konstruksi. Dengan kombinasi kompresi aksial besar dan getaran VIV dapat mengakibatkan crosswalking, perpindahan lateral crossing pipeline. Studi ini memodelkan kasus crossing pipa X65-PSL 2 12” ketebalan 12.7 mm dengan CRA Clad 3 mm N06625-Alloy, ketebalan concrete coating 25 mm, dan crossing support berupa concrete sleeper pada lingkungan current-dominated menggunakan OrcaFlex. Studi dilakukan dengan uji sensitivitas 4 model time-domain VIV (Milan WO, Iwan–Blevins WO, VT1, VT2) pada fase hydrotest. Serta mengevaluasi parameter fisik tiga fase (instalasi, hydrotest, operasi) terhadap indikator crosswalking. Hasilnya, VT2 dipilih sebagai model utama VIV pada kasus ini; VT1 dan WO sebagai batas model lebih konservatif. Pemilihan VT2 diperkuat dengan Fase hydrotest menunjukkan tujuh mode awal didominasi mode shape in-line >95%, cross-flow baru muncul pada mode ke-8, menandakan lock-in cross-flow kemungkinannya terjadi kecil. Perpindahan lateral puncak di mid-node terbesar pada fase operasi, yaitu 4,43 m. clearance vertikal minimum tetap memenuhi kriteria DNV ?0,3 m pada semua fase. Fase dengan kompresi aksial berkurang menuju ~0 kN ketika post-crosswalking disertai kenaikan frekuensi natural. Von Mises Stress pada tiap fase dalam batas aman, yaitu <0,87·SMYS. Dengan perubahan fisik yang terjadi post-crosswalking, crosswalking yang terkendali justru menguntungkan karena mereduksi beban kompresi, menjauhkan frekuensi alami dari lock-in, dan memberi peluang optimasi ulang tata letak crossing support.
ELEKRODEIONISASI UNTUK DESALINASI AIR LAUT
Banyak komunitas di seluruh dunia, berjumlah sekitar empat miliar orang, mengalami kekeringan dan kelangkaan air bersih selama setidaknya selama satu bulan per tahun. Krisis air global akan semakin parah pada tahun 2050. Ketersediaan air terbesar di bumi merupakan air laut yang tidak dapat langsung dikonsumsi langsung karena salinitasnya sangat tinggi. Agar dapat dikonsumsi, dibutuhkan teknologi untuk mengolah air laut menjadi air layak minum. Salah satu teknologi yang umum digunakan adalah desalinasi. Teknologi yang paling umum digunakan saat ini di pabrik desalinasi ai laut berskala besar adalah RO. Meskipun RO adalah solusi terbaik yang tersedia untuk desalinasi air laut berskala besar, sistem RO menunjukkan konsumsi energi yang buruk seiring dengan menurunnya konsentrasi umpa sehingga tidak layak untuk desalinasi daerah terpencil. Selain itu, pabrik RO juga memerlukan investasi modal yang besar dan infrastruktur yang lebih mahal, memakan tempat, serta sulit untuk diperkecil sehingga tidak feasible untuk desalinasi di daerah terpencil. Metode desalinasi yang sedang berkembang adalah metode elektrokimia seperti elektrodialisis (ED) dan turunannya seperti EDI. Proses EDI dapat bekerja pada tekanan rendah dan infrastruktur modul yang tidak rumit. Penambahan resin pada EDI, dibandingkan ED dapat meningkatkan efisiensi penyisihan garam dari 70% hingga mencapai lebih dari 90%. Penelitian ini akan menguji hubungan I-V, hubungan I terhadap penyisihan garam, serta hubungan I terhadap analisis energi pada proses EDI desalinasi air laut. Percobaan akan dilakukan dengan variasi arus dari 0,3 – 10,8A, dilakukan pada desalinasi mode operasi kontinu, perolehan 50%, dan pada laju aliran sebesar 8,05 ml/min
PENGOLAHAN AMPAS NIRA SAWIT UNTUK MEDIA PEMBIAKAN BSF
Indonesia adalah negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Dengan tujuan meningkatkan produktivitas, pemerintah melakukan program replanting yang berakibat kepada peningkatan limbah kelapa sawit. Penelitian ini ditujukan untuk mengatasi masalah tersebut dengan mengolah kembali limbah kelapa sawit. Batang sawit tanpa nira atau ampas nira sawit dapat difermentasikan untuk dijadikan sebagai media pembiakan larva Black Soldier Fly (BSF). Larva BSF dapat dijual sebagai pakan untuk hewan yang menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan variasi proses hidrolisis ampas nira sawit terbaik dari seluruh variasi yang diteliti, berdasarkan parameter-parameter yang telah ditetapkan. Tahap Penelitian dimulai dengan persiapan alat dan bahan baku. Selanjutnya, media maggot dibuat dan dihidrolisis menggunakan salah satu larutan. Tahap terakhir, Maggot dibesarkan di media. . Pada penelitian ini, Media terbaik dihasil dari ampas nira sawit yang dihidrolisis selama 4 hari dengan enzim selulase 1% + urea 1% dengan ukuran 20 Mesh dengan pertambahan berat maggot tertinggi sebesar 0,638 gram, survival rate tertinggi sebesar 100%, FCR terendah yaitu 1,017, dan persentase media terkonsumsi yang tertinggi yaitu 91,20%.
A COMPARATIVE STUDY ON THE GLOBAL PERFORMANCE ANALYSIS OF SEMI-SUBMERSIBLE FLOATING OFFSHORE WIND TURBINES (FOWT) BETWEEN SINGLE 22 MW ROTOR AND DUAL 2X10 MW ROTORS
Studi ini menyajikan analisis komparatif dua desain FOWT: rotor tunggal 22 MW dan dual rotor 2 × 10 MW yang dipasang pada platform semi-submersible yang sama. Simulasi numerik dilakukan menggunakan Maxsurf Stability untuk analisis hidrostatik, OrcaWave untuk analisis radiasi–difraksi, serta OrcaFlex untuk simulasi dinamis terkopel penuh, dilengkapi dengan estimasi redaman viskos linier. Kinerja kedua sistem dievaluasi berdasarkan stabilitas, respons hidrodinamika, perilaku mooring, serta perkiraan awal capital expenditure (CAPEX). Hasil menunjukkan bahwa kedua konfigurasi memenuhi kriteria stabilitas, meskipun desain dual-rotor menghasilkan momen oleng yang lebih besar akibat peningkatan gaya dorong dan ketinggian hub. Periode natural pada gerakan roll dan pitch lebih panjang pada dual-rotor, sementara heave relatif serupa. Analisis mooring memperlihatkan tegangan tali yang lebih tinggi pada dual-rotor, tetapi berkurang setelah dilakukan optimisasi rantai mooring. Dari sisi ekonomi, dual-rotor menghasilkan biaya ter-normalisasi per MW yang lebih rendah dibandingkan turbin tunggal 22 MW. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa sistem dual-rotor berpotensi menjadi alternatif yang layak secara teknis dan kompetitif secara ekonomi untuk pengembangan tenaga angin lepas pantai skala besar, meskipun optimisasi lanjutan dan pengendalian aerodinamika tetap diperlukan untuk penerapan praktis.
KAJIAN KOMPARATIF PEMODELAN HYDRATE FORMATION DAN WAX DEPOSITION MENGGUNAKAN ASPEN HYSYS DAN OLGA
Produksi minyak dan gas bumi melalui sumur dan pipa dapat terhambat oleh penyumbatan, salah satunya adalah penyumbatan hidrolik yang disebabkan oleh akumulasi cairan di pipa. Analisis manual terhadap penyumbatan ini tidak praktis, sehingga diperlukan software simulasi seperti OLGA dan Aspen Hydraulic untuk pemodelan dan prediksi perilaku aliran yang akurat. Meskipun OLGA lebih umum digunakan di industri, perbandingan kinerja antara OLGA dan Aspen Hydraulic dalam menganalisis dinamika aliran perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan membandingkan performa OLGA dan Aspen Hydraulic dalam menganalisis permasalahan liquid holdup, hilang tekan sepanjang pipa, pigging, hydrate formation, slugging, dan wax deposition pada aliran multifasa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi industri minyak dan gas dalam memilih software simulasi yang optimal untuk menganalisis aliran multifasa. Penelitian ini menggunakan software OLGA 2022.1.0 dan Aspen HYSYS V14 dengan data yang telah tersedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hydrate formation, Aspen HYSYS lebih unggul dalam memodelkan hydrate–liquid–vapor equilibrium (HLVE) karena dilengkapi model CSM yang mempertimbangkan efek inhibisi minyak dan pengaruh komposisi air; pada wax deposition, Aspen HYSYS mampu menandingi hasil OLGA dengan tuning menggunakan overall heat transfer coefficient; sedangkan pada CO? injection, kedua perangkat lunak memberikan prediksi flow regime yang berbeda dari hasil eksperimen.
SINTESIS CARBON FOAM BERBASIS BATUBARA DAN COAL TAR PITCH DENGAN METODE PRESSURIZED SELFFOAMING
Carbon foam (CF) berbasis batubara dan coal tar pitch memiliki aplikasi luas meliputi insulasi termal, aerospace material, dan lain-lain karena sifatnya yang berpori, memiliki kekuatan tekan tinggi, dan densitas rendah. Namun, metode sintesis berbasis tekanan tinggi masih menghadapi keterbatasan pada keamanan sehingga diperlukan pendekatan alternatif yang lebih aman. Penelitian ini mengkaji sintesis CF dari campuran batubara dan coal tar pitch (CTP) (1:1) dengan metode pressurized self?foaming. Selain itu, modifikasi permukaan batubara berupa deoksidasi melalui perlakuan alkali dilakukan untuk meningkatkan homogenitas campuran dan mengoptimalkan pembentukan pori. Penelitian menggunakan 6 jenis batubara dari tiga lokasi, yakni Lima Puluh Koto, Painan, dan Sawah Lunto. Setelah deoksidasi, campuran batubara dan pitch dilakukan foaming pada suhu devolatilisasi sampel, yakni 475 °C dan 570 °C dengan tekanan awal 0 dan 8,5 bar, diikuti karbonisasi pada 900 °C. Analisis proksimat dilakukan pada sampel batubara awal, CTP, batubara hasil deoksidasi, dan CF untuk melihat perubahan komposisi. Analisis Fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR) dilakukan pada sampel CTP, Raw Coal C2 (RC-C2), Deoxidized Coal C2 (DC-C2), Carbon Foam C2 hasil foaming dengan tekanan awal 0 bar (CF0-C2), dan Carbon Foam C2 hasil foaming dengan tekanan awal 8,5 bar (CF8.5-C2) untuk mempelajari perubahan komposisi gugus fungsi selama proses sintesis. Analisis ultimat dan uji nilai kalori dilakukan pada sampel batubara awal untuk melengkapi analisis proksimat sehingga dapat diketahui peringkat batubara yang digunakan dalam penelitian ini. Thermogravimetric analysis (TGA) dilakukan pada sampel batubara awal dan CTP untuk mengetahui suhu devolatilisasi masing-masing sampel awal yang seterusnya digunakan sebagai suhu operasional foaming. Selain itu, sampel CF juga dilakukan analisis N2 adsorptiondesorption isotherm dan pengamatan optik menggunakan polarized light microscope (PLM) untuk mengetahui karakteristiknya. Data diolah untuk menghubungkan kondisi proses dengan karakteristik pori yang dihasilkan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa deoksidasi dapat mengurangi sedikit polaritas batubara sehingga sampel batubara dan CTP yang digunakan pada penelitian ini berbeda polaritasnya. Sedangkan, CF yang dihasilkan memiliki porositas dominan pada rentang mesopori (15–20 Å). Kontrol tekanan pada tahap foaming berpengaruh signifikan terhadap struktur pori. Foaming dengan tekanan yang dijaga 8,5 bar sejak awal proses menghasilkan luas permukaan spesifik tertinggi (217,29 m²/g) dan distribusi ukuran pori lebih seragam dibandingkan foaming dengan tekanan awal 0 bar. Selain itu, berdasarkan pengamatan PLM, produk menunjukkan karakteristik material isotropik. Temuan ini menunjukkan bahwa sintesis CF dengan metode ini berpotensi menghasilkan material yang memiliki karakteristik yang homogen di segala arah.
ANALISIS IN-SERVICE DAN TRANSPORTASI PADA STRUKTUR ANJUNGAN LEPAS PANTAI TIPE JACKET EMPAT KAKI
Pemenuhan kebutuhan energi nasional di Indonesia yang masih didominasi oleh minyak dan gas bumi harus dipastikan agar ketahanan energi nasional dapat dipastikan dalam kondisi yang baik. Keberlangsungan pemenuhan energi ini akan berimplikasi pada kebutuhan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi. Perairan Indonesia menjadi salah satu lokasi strategis untuk kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi. Untuk itu, diperlukan kesiapan dalam berbagai aspek termasuk dari ranah infrastruktur. Struktur anjungan lepas pantai menjadi salah satu infrastruktur penting yang digunakan dalam kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di lepas pantai. Pada tugas akhir ini, dilakukan proses analisis in-service terhadap struktur anjungan lepas pantai secara menyeluruh serta analisis transportasi struktur topside yang direncanakan untuk diinstalasi di perairan Indonesia. Analisis in-service yang mencakup analisis in-place, seismic, dan juga fatigue dilakukan untuk memastikan kekuatan struktur ketika masa operasionalnya. Sementara analisis transportasi dilakukan untuk memastikan kekuatan struktur topside ketika ditransportasikan dari lokasi pembangunan ke lokasi struktur akan beroperasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada analisis in-service maupun transportasi telah memenuhi kriteria standar API RP 2A-WSD dan DNVGL-ST-N001. Pada kondisi in-place dan seismic, seluruh parameter utama seperti unity check, joint punching shear, pile safety factor, pile lateral displacement, serta defleksi memenuhi kriteria yang ditentukan. Analisis fatigue memperlihatkan bahwa fatigue life struktur pada seluruh kategori berada di atas design life 30 tahun. Sementara itu, pada analisis transportasi, struktur juga memenuhi batas kriteria yang ditetapkan. Secara keseluruhan, struktur anjungan lepas pantai yang dianalisis dinyatakan aman dan layak digunakan baik dalam kondisi operasional maupun saat transportasi.
PENGEMBANGAN ADSORBEN BERBASIS METAL OKSIDA UNTUK DESULFURISASI GAS ALAM
Gas alam mengandung hidrogen sulfida (H2S), senyawa berbahaya yang korosif, beracun, dan mengurangi nilai bakar gas, sehingga desulfurisasi menjadi krusial. Penelitian ini berfokus pada pengembangan adsorben berbasis seng oksida (ZnO) untuk menghilangkan H2S. Adsorben disintesis dari ZnSO4·7H2O dan Na2CO3 menggunakan metode presipitasi dan ko-presipitasi. Karakterisasi adsorben meliputi X-Ray Diffraction (XRD) untuk analisis struktur kristal, X-Ray Fluorescence (XRF) sebagai identifikasi komposisi kimia, N2-Physisorption (BET) untuk identifikasi luas permukaan, kerapatan unggun (bulk density) untuk identifikasi nilai kepadatan adsorben dalam suatu unggun, dan uji kuat tekan (crushing strength test) untuk identifikasi nilai kekuatan mekanik. Kinerja adsorpsi H2S diuji pada 27°C selama satu jam dalam satu partaian dengan konsentrasi H2S diukur menggunakan Orsat Apparatus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ko-presipitasi menghasilkan adsorben ZnO dengan luas permukaan spesifik yang lebih besar dibandingkan metode presipitasi tunggal. Adsorben ZnO yang dikembangkan dalam penelitian ini menunjukkan kinerja penyerapan yang dapat menyaingi adsorben komersial, namun ketahanan mekanisnya masih perlu ditingkatkan. Pengembangan lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan ketahanan mekanis dan kemampuan regenerasi adsorben untuk aplikasi industri berkelanjutan.