📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenREACTIVATE: REVITALISASI TERMINAL BLOK M DENGAN PENDEKATAN ACTIVE DESIGN
Berangkat dari permasalahan meningkatnya kepadatan penduduk perkotaan di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta, penelitian ini menyoroti dampaknya terhadap kesehatan masyarakat yang semakin rentan terhadap gaya hidup tidak aktif (sedentary lifestyle). Kondisi ini diperburuk oleh keterbatasan ruang terbuka hijau, polusi udara, serta dominasi penggunaan kendaraan pribadi yang mengurangi aktivitas fisik masyarakat. Data menunjukkan tingginya prevalensi penyakit kardiometabolik seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung di wilayah perkotaan, yang sebagian besar dipengaruhi oleh rendahnya tingkat aktivitas fisik harian. Untuk menjawab tantangan tersebut, tesis ini mengusulkan penerapan pendekatan Active Design pada perancangan ruang publik di kawasan berorientasi transit. Terminal Blok M dipilih sebagai lokasi studi karena posisinya yang strategis sebagai simpul transportasi sekaligus pusat aktivitas masyarakat. Melalui penerapan Active Design, perancangan diarahkan untuk meningkatkan keaktifan fisik masyarakat kota melalui fungsi transit yang terintegrasi dengan lingkungan binaan yang sehat, sekaligus menghidupkan kembali peran Terminal Blok M sebagai pusat mobilitas dan interaksi sosial. Konsep penerapan Active Design dalam perancangan ini dieksplorasi melalui tiga narasi utama, yaitu Move, bagaimana membuat Terminal Blok M kembali aktif; Arrive, bagaimana mentransformasi terminal dari sekadar ruang transit menjadi destinasi; dan Thrive, bagaimana ruang publik aktif yang dirancang dapat meningkatkan kesehatan penggunanya maupun masyarakat sekitar. Kriteria Active Design yang diterapkan merupakan sintesis dari berbagai rujukan strategi desain, sehingga dirumuskan tujuh kriteria utama: mixed-use, connectivity and accessibility, space activation, pedestrian infrastructure, bicycle infrastructure, active infrastructure, dan vertical circulation design. Implementasi kriteria ini diwujudkan melalui rancangan sirkulasi yang menghubungkan titik-titik magnet kawasan, pemrograman fasilitas multifungsi, penyediaan serta desain sirkulasi vertikal yang melimpah, hingga fasilitas aktif berupa running track di atap podium sebagai generator utama selain fungsi terminal. Kesimpulannya, dalam perancangan revitalisasi Terminal Blok M, pemetaan konteks kawasan serta programming kegiatan dalam tapak menjadi aspek penting untuk menghadirkan aktivitas berkelanjutan yang menjadikan terminal kembali hidup. Tanpa adanya aktivitas yang terus berlangsung, bangunan tidak akan mampu berfungsi secara aktif. Dengan menggunakan pendekatan Active Design, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada terciptanya kawasan perkotaan yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan.
PENGARUH WAKTU DAN TEMPERATUR KARBONISASI PADA PENGOLAHAN SABUT KELAPA SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF
Indonesia sebagai negara agraris menghasilkan limbah kelapa dalam jumlah besar, terutama dari bagian sabut kelapa yang belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi temperatur dan waktu karbonisasi terhadap kualitas biochar dari sabut kelapa sebagai bahan bakar alternatif. Variabel yang diamati meliputi kadar air, abu, volatil, karbon tetap, nilai kalor, serta kesesuaiannya terhadap standar SNI 8675:2018. Karbonisasi dilakukan pada dua temperatur (300°C dan 500°C) serta enam durasi waktu (20, 30, 40, 60, 90, dan 180 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa temperatur memiliki pengaruh signifikan terhadap kadar air, kadar abu, dan nilai kalor, sedangkan waktu karbonisasi tidak menunjukkan korelasi yang signifikan terhadap kualitas biochar. Biochar hasil karbonisasi umumnya memenuhi standar SNI, kecuali pada parameter densitas yang melebihi batas. Penelitian ini menunjukkan bahwa sabut kelapa berpotensi sebagai bahan bakar alternatif yang layak digunakan, dengan pengolahan yang tepat.
EVALUASI KONDISI INFRASTRUKTUR BUDIDAYA PETERNAKAN LELE TERHADAP POTENSI KONTAMINASI MIKROPLASTIK PADA BUDIDAYA IKAN LELE
Ikan lele, sebagai komoditas akuakultur vital di Indonesia, kini menghadapi ancaman serius dari kontaminasi mikroplastik. Penelitian ini secara kuantitatif menghubungkan kondisi infrastruktur budidaya dengan tingkat kontaminasi, mengevaluasi kondisi infrast, dan merumuskan kriteria pencegahan yang efektif. Metode riset melibatkan observasi lapangan, wawancara, dan pengambilan sampel air serta ikan (usus dan daging) di sekitar Sungai Citarum. Sampel diisolasi menggunakan metode oksidasi Fenton dan flotasi ZnCl2 untuk menghilangkan bahan organik dan memisahkan mikroplastik berdasarkan densitasnya, kemudian diidentifikasi dan diklasifikasikan berdasarkan bentuk, ukuran, dan warna menggunakan mikroskop cahaya binokuler. Hasil menunjukkan dominasi mikroplastik berbentuk fiber dan fragmen berwarna hitam dan transparan. Ikan lele berukuran kecil (4-6 cm) menunjukkan konsentrasi mikroplastik yang jauh lebih tinggi dibandingkan ikan lele yang lebih besar (7-9 cm), dengan partikel 0–100 ?m paling dominan di jaringan daging, mengindikasikan kemungkinan translokasi partikel berukuran sangat kecil. Praktik budidaya hanya memenuhi 50,67% terhadap standar (FAO, PERMEN KP 22/2024, SNI 6418.3:2014). Infrastruktur yang buruk, terutama penggunaan terpal sebagai alas kolam, secara langsung meningkatkan kontaminasi fiber. Oleh karena itu, studi ini merekomendasikan penerapan kriteria infrastruktur yang lebih ketat, mencakup material kolam tahan degradasi, sistem filtrasi air, manajemen limbah terstruktur, dan edukasi berkelanjutan bagi pembudidaya.
KARAKTERISASI MIKROPLASTIK PADA GREYWATER YANG MENGANDUNG PERSONAL CARE AND COSMETIC PRODUCT (PCCP) DAN POTENSI KETEROLAHANNYA DENGAN KARBON AKTIF
Greywater yang mengandung produk perawatan pribadi dan kosmetik (PCCP) merupakan sumber pencemaran mikroplastik yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi mikroplastik dalam Greywater dan menguji potensi pengolahannya menggunakan karbon aktif melalui metode batch dan kolom kontinu untuk pemanfaatan kembali (reuse). Karakterisasi awal menemukan kelimpahan mikroplastik sebesar 162 partikel/100 mL, yang didominasi oleh bentuk pelet (49%) dan warna biru (53%). Kualitas air awal tidak memenuhi baku mutu, dengan nilai COD 117,33 mg/L dan TSS 89 mg/L. Metode batch terbukti tidak efektif karena pelepasan partikel halus karbon menyebabkan peningkatan TSS secara drastis. Sebaliknya, metode kolom adsorpsi menunjukkan kinerja sangat baik, dengan efisiensi penyisihan mikroplastik >94%, COD terlarut 96%, dan TDS 96% pada titik breakthrough (360 menit). Disimpulkan bahwa adsorpsi kolom karbon aktif efektif mengolah Greywater hingga memenuhi baku mutu air Kelas III, sehingga berpotensi untuk digunakan kembali pada aplikasi non-konsumsi seperti pembilasan toilet atau irigasi tanaman.
PRELIMINARY ANALYSIS OF IMPACT?REFERENCED LOADING PATTERNS IN THE GOLF SWING
Golf merupakan olahraga yang menuntut keterampilan teknis, koordinasi antarsegmen tubuh, serta ketepatan waktu untuk mencapai performa optimal. Salah satu aspek penting dalam menghasilkan pukulan yang efektif adalah pemanfaatan rantai kinetik secara efisien, khususnya melalui pergerakan segmen tubuh bagian bawah dan distribusi beban pada kaki. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik biomekanika ayunan antara pegolf profesional dan pegolf amatir dengan fokus pada rotasi panggul, sudut lutut, dan komponen vertikal gaya reaksi tanah (vGRF) pada lead leg. Penelitian melibatkan dua subjek, masing-masing satu pegolf profesional dan satu pegolf amatir, yang melakukan ayunan menggunakan iron 7. Data kinematika diperoleh menggunakan sistem motion capture OptiTrack, sedangkan data vGRF lead leg direkam dengan force plate. Analisis kinematika dilakukan menggunakan perangkat lunak OpenSim dan hasilnya disinkronkan dengan data force plate untuk menentukan waktu terjadinya puncak vGRF terhadap momen impact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pegolf profesional mencapai puncak vGRF lead leg sebesar ±1,1 kali berat badan, terjadi 57 ms sebelum impact. Sebaliknya, pegolf amatir mencapai puncak vGRF setelah impact dengan nilai yang tidak melebihi 1 kali berat badan. Selain itu, pegolf profesional menunjukkan rotasi panggul yang lebih besar, fleksi lutut yang lebih dalam, durasi downswing yang lebih singkat, serta kecepatan clubhead yang lebih tinggi (98 km/jam) dibandingkan pegolf amatir (73 km/jam). Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa pegolf profesional mampu memanfaatkan rantai kinetik secara lebih efisien melalui perpindahan beban pada lead leg yang lebih tepat waktu serta koordinasi mekanika tubuh bawah yang lebih optimal. Hal ini berdampak pada peningkatan kecepatan clubhead dan performa pukulan secara keseluruhan.
ANALISIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PENENTUAN PERUSAHAAN AUDITOR PIHAK KETIGA UNTUK MELAKSANAKAN AUDIT INITIAL DENGAN METODE ANALISIS HIRARKI UNTUK SALAH SATU PERUSAHAAN EXPORTIR SAPI SATU PERUSAHAAN EXPORTIR SAPI ASAL AUSTRALIA
Industri ekspor sapi hidup Australia ke Indonesia beroperasi di bawah kerangka peraturan ketat, Exporter Supply Chain Assurance System (ESCAS), yang mewajibkan Independent Initial Audit Report (IIAR) untuk fasilitas baru. Tantangan utama bagi eksportir adalah pemilihan auditor independen yang kompeten, sebuah keputusan yang sering dibuat secara informal, sehingga berisiko menyebabkan kegagalan audit, pembengkakan biaya, dan penundaan pengiriman. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan menerapkan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengembangkan model pengambilan keputusan multi-kriteria yang terstruktur bagi seleksi auditor.Penelitian mengidentifikasi empat kriteria seleksi kunci melalui wawancara ahli: Fleksibilitas Waktu, Kredibilitas, Biaya per Fasilitas, dan Pengalaman di Lapangan. Perbandingan berpasangan oleh para ahli industri menentukan bobot prioritas, mengungkapkan Fleksibilitas Waktu sebagai faktor paling kritis (55,8%), diikuti oleh Kredibilitas (26,3%). Tiga firma auditor dievaluasi terhadap kriteria ini. Analisis AHP menghitung skor prioritas global, menempatkan Auditor A di peringkat pertama (38,4%) karena fleksibilitasnya yang luar biasa, yang terpenting untuk mengurangi risiko gangguan rantai pasokan. Auditor B peringkat kedua (35,9%), dihargai karena kredibilitasnya yang kuat, sementara Auditor C (25,7%) dinilai tidak cocok meskipun biayanya rendah karena kurangnya fleksibilitas.Studi ini menyimpulkan bahwa model AHP yang terstruktur secara efektif mengubah keputusan subjektif menjadi proses yang transparan dan dapat dipertahankan. Temuan ini merekomendasikan untuk memilih Auditor A, dengan memprioritaskan ketahanan operasional dan keamanan regulasi daripada penghematan biaya jangka pendek. Pendekatan ini memberikan eksportir kerangka kerja yang kuat untuk memastikan kepatuhan, melindungi akses pasar, dan meningkatkan pengambilan keputusan strategis dalam industri berisiko tinggi.
PENGARUH PRE-TREATMENT CHEMICAL OXIDATION TERHADAP DEGRADASI BENZENA, TOLUENA, ETILBENZENA, DAN XILENA (BTEX) PADA TANAH TERKONTAMINASI PERTALITE
Aktivitas perekonomian sangat bertumpu pada ketersediaan energi, salah satunya Bahan Bakar Minyak (BBM). BBM jenis Pertalite mengandung senyawa hidrokarbon aromatik volatil, yaitu benzena, toluena, etilbenzena, dan xilena (BTEX) dengan konsentrasi hingga 15,825% dengan benzena bersifat karsinogenik. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan BBM nasional, tumpahan pada proses produksi dan distribusi berpotensi mencemari tanah sehingga diperlukan pemulihan lahan terkontaminasi Pertalite. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis oksidator sebagai pre-treatment pada pemulihan lahan terkontaminasi Pertalite terhadap efisiensi degradasi BTEX serta memilih jenis oksidator terbaik untuk dilanjutkan dengan bioremediasi. Dalam penelitian ini digunakan variasi jenis oksidator hidrogen peroksida, kalium persulfat, dan kalium permanganat dengan konsentrasi 1% sebagai agen pre-treatment chemical oxidation. Variabel yang dipertimbangkan meliputi efisiensi degradasi dan laju penyisihan BTEX. Tanah uji berjenis sandy loam dengan konsentrasi BTEX awal 0,3-0,5%, total fosfat 218,772 mg/kg, total nitrogen 621,739 mg/kg, dan pH 7. Penelitian yang dilakukan menunjukkan hidrogen peroksida 1% dapat mendegradasi kontaminan BTEX hingga 54% dalam 7 (tujuh) hari dengan laju degradasi 0,11/hari dan dipilih untuk dilanjutkan ke tahap bioremediasi. Pada akhir penelitian, kondisi reaktor menunjukkan pH akhir 7, kadar air 22%, total fosfat 198,5 mg/kg, total nitrogen 931,057 mg/kg, dan total bakteri 9,03 log CFU/g-tanah. Rasio C:N:P akhir bioremediasi mencapai 100:7:1 yang berkontribusi dalam meningkatkan efisiensi degradasi BTEX. Secara keseluruhan, bioremediasi yang didahului pretreatment CO melalui penambahan hidrogen peroksida 1% menghasilkan efisiensi degradasi BTEX hingga 72% dalam 28 hari dengan efisiensi dan laju degradasi tertinggi secara berturut-turut terjadi pada fraksi benzena > toluena > etilbenzena > total xilena.
ANALISIS IN-PLACE, SEISMIK, LIFTING, ON-BOTTOM STABILITY PADA DESAIN PLATFORM TETAP LEPAS PANTAI TIPE JAKET TIGA KAKI
Perancangan struktur lepas pantai harus memastikan ketahanan terhadap berbagai beban, baik selama operasional (in-service) maupun fase konstruksi dan instalasi (pre-service). Analisis in-place mengevaluasi kekuatan terhadap beban lingkungan, sementara analisis seismik menjamin ketahanan terhadap gempa. Pada fase pre-service, analisis lifting krusial untuk memastikan kekuatan struktur saat pengangkatan dan analisis on-bottom stability vital untuk stabilitas saat diletakkan di dasar laut sebelum pemancangan tiang. Tugas akhir ini berfokus pada analisis komprehensif desain platform tetap lepas pantai tipe jaket tiga kaki. Permasalahan yang dikaji meliputi metode perancangan dan pemodelan untuk analisis lifting, on-bottom stability, in-place, dan seismik lalu mengevaluasi safety factor dari tiang pancang serta unity check dari member dan joint pada masing-masing kondisi. Selanjutnya, perhitungan stabilitas struktur pada analisis on-bottom stability meliputi bearing capacity, sliding safety factor, dan overturning moment ratio. Metodologi penelitian ini menggunakan perangkat lunak Bentley SACS serta merujuk pada standar API RP 2A-WSD 22nd Edition. Struktur jaket dimodelkan secara detail dengan beban gravitasi, lingkungan (gelombang, angin, dan arus), serta seismik diaplikasikan. Analisis lifting dan on-bottom stability juga dimodelkan secara spesifik untuk mengevaluasi kinerja struktur pada tahapan kritis instalasi.
MENGELOLA RISIKO OPERASIONAL LAYCAN DALAM FMEA (ANALISIS MODE DAN EFEK KEGAGALAN) – STUDI KASUS PELABUHAN DRAGON
PT NSA Tbk merupakan perusahaan pertambangan batubara Indonesia yang memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan energi domestik dan ekspor. Saat ini, PT NSA Tbk menghadapi tantangan dalam mengelola jadwal laycan. Situasi ini menimbulkan risiko operasional, memperparah kemacetan pelabuhan, mengganggu kelancaran proses pemuatan batubara. Untuk mengatasi tantangan bisnis ini, tujuan dari studi ini untuk mengidentifikasi risiko operasional, menilai dan mengusulkan mitigasi, menerapkan pemantauan dan pengendalian risiko operasional di Pelabuhan Dragon. Kerangka kerja penelitian ini menggunakan gap analysis dengan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mengurangi resiko operasional laycan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer menggunakan forum diskusi grup yang dikembangkan berdasarkan FMEA untuk mengukur tingkat keparahan, kejadian, dan deteksi. Narasumber berjumlah 13 orang: delapan dari tim distribusi, satu supervisor pelabuhan, dan empat dari tim pendukung operasional. Data sekunder menggunakan data operasional historis tahun 2023 dan 2024. Metode analisis data menggunakan Analisis Mode dan Efek Kegagalan (FMEA) dan Analisis Akar Penyebab (RCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis akar penyebab masalah menggunakan 5 Why, terdapat 25 akar penyebab masalah. Berdasarkan urutan nomor prioritas risiko (RPN) sebagai berikut: (1) Antrian bongkar muat karena jetty masih digunakan oleh kapal sebelumnya (jetty 3), (2) Kapal datang bersamaan, (3) Menunggu antrian domestik di jetty 1, (4) Menunggu antrian domestik di jetty 3 (5) Laporan Hasil Verifikasi (LHV) tidak disetujui oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, sehingga Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) tertunda hingga 2 hari. Rekomendasi memprioritaskan area berdampak tinggi dengan fokus pada penanganan isu yang mendesak, yaitu antrian bongkar muat di jetty 3; implementasi sistematis; Mendorong kolaborasi lintas fungsi antara tim distribusi, pengawas pelabuhan, dan tim pendukung operasional; strategi bertahap untuk implementasi jangka pendek, menengah, dan panjang; dan pemantauan kinerja berkelanjutan.
STUDI KOMPARASI BENTUK PENAMPANG LAS TERHADAP KONSENTRASI TEGANGAN DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
Secara umum, sambungan las merupakan salah satu metode penyambungan yang paling fleksibel dalam menyesuaikan geometri sambungan baja. Dibandingkan dengan sambungan baut. Sambungan las dapat diaplikasikan pada berbagai bentuk struktur, termasuk sambungan yang memiliki kelengkungan atau penampang tidak beraturan. Hal ini sering dijumpai pada struktur lepas pantai, jembatan, serta struktur gedung tinggi yang menggunakan elemen baja dengan kontur permukaan melengkung. Misalnya, link dalam sistem struktur Eccentrically Braced Frame (EBF) pada bangunan, sambungan las digunakan pada link yang berfungsi sebagai fuse atau elemen pendisipasi energi. Dalam konteks ini, sambungan las menjadi lebih efektif karena mampu menyalurkan gaya dengan merata dan mendukung mekanisme disipasi energi saat struktur mengalami gaya gempa. Pemodelan sambungan las dalam analisis numerik, khususnya metode elemen hingga, harus dilakukan dengan ketelitian tinggi. Distribusi tegangan yang terjadi pada kedua elemen baja yang disambungkan harus dapat ditangkap dengan benar. Jika tidak, terdapat risiko terjadinya konsentrasi tegangan berlebihan pada titik-titik tertentu, terutama di daerah weld toe atau weld root. Konsentrasi tegangan berlebih tersebut dinyatakan dalam parameter Stress Concentration Factor (SCF). Dengan memodelkan sambungan las secara lebih akurat, distribusi tegangan dapat lebih merata, nilai SCF dapat direduksi, dan potensi kegagalan lokal pada daerah sambungan dapat diminimalisasi. SCF sendiri memiliki keterkaitan langsung dengan ketahanan fatigue dari sambungan. Pada kondisi beban berulang, misalnya beban akibat lalu lintas pada jembatan atau beban siklik akibat gempa, sambungan dengan nilai SCF tinggi akan lebih rentan mengalami retak inisiasi. Retak ini biasanya bermula di daerah weld toe dan kemudian berkembang menjadi retak propagasi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kegagalan fatigue. Oleh karena itu, pengendalian geometri las dan reduksi SCF bukan hanya penting untuk kapasitas statis, tetapi juga krusial untuk memperpanjang umur kelelahan struktur baja. ii Beberapa strategi geometri, seperti pemangkasan pipa untuk penetrasi las dapat meningkatkan kualitas transfer tegangan. Dengan penetrasi las yang lebih baik ke dalam pipa, distribusi tegangan menjadi lebih stabil dan homogen, sehingga risiko inisiasi retak fatigue dapat ditekan. Variasi bentuk penampang las juga sangat berpengaruh, misalnya fillet segitiga, las cekung, las cembung, cembung poligon, maupun kombinasi Complete Joint Penetration (CJP) dengan cekung. Masing- masing bentuk penampang memiliki perilaku struktural yang berbeda dalam menghantarkan tegangan, sehingga penelitian ini memodelkan seluruh variasi bentuk tersebut, termasuk kondisi ekstrem berupa model tanpa las. Selain aspek geometri, penelitian ini juga mengkaji material nonlinier dalam pemodelan. Baja tidak hanya bekerja dalam rentang elastis, tetapi dapat memasuki fase plastis hingga mendekati kondisi fraktur. Pemodelan dengan material nonlinier memungkinkan analisis yang lebih realistis terhadap daktilitas sambungan. Daktilitas, dalam konteks ini, didefinisikan sebagai kemampuan struktur untuk berdeformasi secara signifikan sebelum mengalami keruntuhan secara tiba-tiba. Sambungan las dengan geometri tertentu dapat memberikan kapasitas daktilitas lebih tinggi dibanding sambungan tanpa las, bergantung pada jenis pembebanannya (aksial tarik, aksial tekan, momen, maupun P lateral). Efek P–? juga tidak dapat diabaikan. Pada struktur dengan deformasi besar, gaya aksial yang bekerja dapat menimbulkan tambahan momen sekunder akibat pergeseran lateral. Fenomena ini memperbesar respon deformasi sambungan, yang pada gilirannya dapat memengaruhi nilai SCF, tingkat daktilitas, serta umur fatigue. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya mengkaji distribusi tegangan pada kondisi elastis, tetapi juga meninjau interaksi antara pembebanan berulang, nonlinieritas material, dan ketidakstabilan geometrik. Di Indonesia, aspek detail kualitas las masih sering kurang diperhatikan. Kerapian hasil las, keseragaman ukuran kaki las, serta transisi geometri yang halus antara las dan elemen induk sering kali diabaikan. Hal ini berpotensi meningkatkan SCF dan mempercepat kegagalan akibat fatigue. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memahami pengaruh variasi geometri las terhadap distribusi tegangan, daktilitas, ketahanan fatigue, serta keandalan sambungan baja, sekaligus menjadi dasar rekomendasi peningkatan praktik pengelasan di lapangan.
ANALISIS KESEHATAN POHON DAN PENDUGAAN PRODUKSI OKSIGEN DI JALUR HIJAU JALAN KOTA BANDUNG
Ruang Terbuka Hijau (RTH) memiliki peran penting dalam menjaga kualitas lingkungan perkotaan, salah satunya melalui Jalur Hijau Jalan (JHJ) yang berfungsi sebagai penyedia jasa ekosistem, terutama produksi oksigen. Kota Bandung menghadapi tantangan serius terkait kualitas udara akibat kepadatan penduduk dan aktivitas transportasi yang tinggi. Namun, persentase JHJ hanya sekitar 1,06% dari total luas wilayah kota, sehingga perlu adanya evaluasi terhadap kondisi kesehatan pohon JHJ serta pendugaan kontribusinya dalam produksi oksigen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi status kesehatan pohon menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM), dan menduga produksi oksigen yang dihasilkan oleh pohon JHJ di empat ruas jalan utama Kota Bandung, yaitu Jalan Pasirkaliki, Jalan Pajajaran, Jalan Cihampelas, dan Jalan Wastukencana. Metode penelitian dilakukan melalui observasi lapangan dengan sistem sensus, mencatat parameter dimensi pohon, serta kerusakan pohon berdasarkan standar FHM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pohon JHJ berada dalam kondisi sehat, yaitu 94,81% (402 individu), dengan 4,48% (19 individu) mengalami kerusakan ringan, dan 0,71% (3 individu) kerusakan sedang. Tidak ditemukan pohon dengan kerusakan berat. Estimasi produksi oksigen pohon JHJ mencapai 259,45 kg/hari. Kontribusi terbesar berasal dari jalan Pajajaran (134,55 kg/hari), diikuti Jalan Cihampelas (60,50 kg/hari), Jalan Pasirkaliki (36,97 kg/hari), dan Jalan Wastukencana (27,43 kg/hari). Jumlah tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan oksigen sekitar 300 jiwa per hari. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan JHJ secara berkelanjutan, baik melalui pemeliharaan pohon eksisting maupun penanaman lanjutan dengan spesies yang tahan terhadap tekanan perkotaan dan kapasitas produksi oksigen tinggi. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah dan pemangku kebijakan dalam mengoptimalkan peran JHJ sebagai penyedia jasa ekosistem, terutama dalam mendukung kualitas udara Kota Bandung.
ANALISIS DAYA DUKUNG HABITAT MONYET EKOR PANJANG (MACACA FASCICULARIS) BERDASARKAN DAYA JELAJAH DI RESORT KAREUMBI BARAT, TAMAN BURU GUNUNG MASIGIT KAREUMBI
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dikategorikan sebagai spesies Terancam (Endangered) sejak tahun 2022 oleh IUCN. Penelitian ini dilakukan di Resort Kareumbi Barat, Taman Buru Masigit Kareumbi, yang merupakan salah satu habitat alami primata ini yang memiliki konflik satwa liar-manusia dan fragmentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis sejauh mana habitat di TBGMK mampu mendukung kehidupan monyet ekor panjang dengan menduga populasi, menghitung luas daya jelajah, dan menentukan daya dukung habitat berdasarkan daya jelajahnya. Metode yang digunakan meliputi estimasi populasi dengan metode hitung langsung (direct count) menggunakan survey jalur sepanjang ±52 km pada 8 transek berbeda, analisis daya jelajah menggunakan metode Minimum Convex Polygon (MCP), serta analisis daya dukung habitat berdasarkan daya jelajahnya. Hasil penelitian menunjukkan estimasi populasi monyet ekor panjang sebanyak 84 individu (95% Interval Kepercayaan, CI: 80—88 individu), daya jelajah rata-rata seluas 13,65 ha, dan daya dukung habitat di area tersebut mampu menampung sekitar 382 individu berdasarkan daya jelajahnya. Meskipun populasi saat ini masih di bawah daya dukung habitat, penelitian ini menyoroti bahwa konflik yang ada datang dari faktor-faktor lain yang mendorong spesies ini untuk keluar kawasan seperti ketiadaan zona penyangga dan fenologi pakan musiman. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan berkelanjutan untuk mengurangi konflik dan memastikan kelestarian spesies.
FRACTURE ANALYSIS OF API 5L X52 PIPELINE FOR CO2 TRANSPORT AT HIGHWAY CROSSING
Meningkatnya gas rumah kaca sebagaimana telah ditetapkan oleh Paris Agreement, mendorong pengembangan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). Indonesia sebagai salah satu pihak yang menandatangani perjanjian ini, memiliki tanggungan untuk turut berkontribusi pada pengembangan teknologi CCUS, salah satu cara metode cost-efficient yang dapat dilakukan untuk mendorong pengembangan CCUS di Indonesia berupa penggunaan ulang pipa transmisi minyak dan gas untuk transmisi CO2. Namun penggunaan ulang pipa memerlukan studi kelayakan lebih lanjut, beberapa tantangan seperti aspek keselamatan, integritas struktural, terutama di bawah kondisi beban yang ditimbulkan oleh lintasan jalan raya. Penelitian ini menganalisis retakan melingkar dan perilaku propagasi retak pada pipa API 5L X52 untuk transmisi gas CO2 yang dikenai beban lintasan jalan raya. Dengan menggunakan Extended Finite Element Method (XFEM) pada perangkat lunak Abaqus, penelitian ini memodelkan retakan melingkar dan mengevaluasi respons dari retakan tersebut akibat kombinasi tekanan internal dan eksternal akibat beban lintasan jalan raya. Berdasarkan studi ini, ditemukan bahwa model elemen hingga yang tervalidasi dapat dibuat menggunakan perangkat lunak Abaqus. Kedua, tambahan pembebanan dari perlintasan jalan raya mengurangi safety margin dari retakan pada pipa, dibuktikan oleh API 579 Failure Assessment Diagram (FAD). Terakhir, alat keputusan kuantitatif, grafik Maximum Allowable Working Pressure (MAWP), dibuat untuk pengendalian retakan pada kasus retakan melingkar pada persimpangan jalan raya, dengan panjang retakan awal yang bervariasi
COMPARATIVE ANALYSIS OF GAIT DEVIATION INDEX AND GAIT VARIABILITY INDEX IN 6–12-YEAR-OLD CHILDREN WITH NORMAL FEET AND FLAT FEET
Berjalan adalah salah satu aktivitas manusia yang paling alami dan penting; gerakan ini juga menawarkan manfaat kesehatan yang sederhana dan praktis. Namun, pola berjalan dapat terganggu oleh variasi bentuk kaki, salah satunya dikenal dengan sebutan flat foot. Flat foot ditandai dengan menurunnya atau hilangnya lengkung longitudinal medial. Kondisi ini dapat memicu rasa tidak nyaman, ketidakstabilan, dan, seiring waktu, berisiko menimbulkan masalah muskuloskeletal jangka panjang. Mengetahui seberapa besar flat foot dapat mengubah pola berjalan sangatlah krusial, baik dalam konteks pemeriksaan klinis maupun dalam perumusan program rehabilitasi yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan kualitas pola berjalan pada anak dengan kaki normal dan anak dengan flat foot. Analisis dilakukan menggunakan dua parameter kuantitatif, yaitu Gait Deviation Index (GDI) dan Gait Variability Index (GVI). Sebanyak 32 subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini terbagi atas 16 anak dengan kaki normal dan 16 anak dengan flat foot. Data marker trajectories direkam melalui sistem motion capture OptiTrack. Pola kinematik yang diperoleh kemudian diolah dengan program OpenSim untuk menghitung nilai GDI dan GVI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok flat foot memiliki nilai GDI yang lebih rendah dibandingkan kelompok normal, dengan nilai GVI yang masih berada di kisaran normal walaupun terdapat selisih nilai GVI. Hal ini menandakan deviasi pada kelompok flat foot lebih jauh dari pola optimal tetapi tidak mempengaruhi variabilitas berjalan secara signifikan. Hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa flat foot berdampak negatif terhadap kualitas dan stabilitas pola berjalan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dukungan faktual bagi tenaga kesehatan dalam membuat keputusan klinis dan merancang program rehabilitasi yang lebih terarah dan efektif bagi pasien.
PENGEMBANGAN SISTEM PEMANDU PEREMUKAN CRASH BOX UNTUK PENINGKATAN PENYERAPAN ENERGI PADA APLIKASI KERETA KECEPATAN TINGGI
Kelaiktabrakkan pada kereta kecepatan tinggi sangat peka terhadap ketidaksempurnaan perakitan—terutama ketidakselarasan—yang dapat mengalihkan beban dari kotak serap energi tumbukan (crash box) ke sambungan dan memicu kegagalan dini. Hal ini bertentangan dengan maksud Manajemen Energi Tabrakan (EN 15227) yang menuntut deformasi terkontrol pada komponen penyerap. Berangkat dari temuan uji tumbuk skala penuh yang menunjukkan bahwa ketidakselarasan dan integritas sambungan mendominasi jalur beban, studi ini mengembangkan serta memvalidasi sistem pemandu peremukan. Metodologi menggabungkan tiga uji tumbuk skala penuh dengan analisis elemen-hingga dinamik eksplisit; model elemen-hingga dikalibrasi terhadap set uji paling andal dan diperkaya untuk merepresentasikan degradasi las/daerah terpengaruh panas (HAZ) serta konektor baut dengan kapasitas/prategang. Kajian sensitivitas mengeksplorasi ketidakselarasan sudut dan kapasitas sambungan, kemudian dilanjutkan dengan prototipe virtual sistem pemandu. Validasi menekankan metrik yang relevan bagi aplikasi—gaya–perpindahan, fitur kecepatan–waktu serta kesesuaian mode kegagalan—bukan semata dekomposisi energi.