📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PERANCANGAN PERMAINAN EDUKATIF UNTUK PENGENALAN MINAT DAN PERLUASAN WAWASAN PROFESI PADA ANAK

Wawasan cita-cita anak-anak di pedesaan cenderung terbatas akibat kurangnya referensi dan pendekatan edukatif yang hanya mengenalkan profesi umum, serta menekankan aspek fisik dari profesi tersebut. Hal ini berimplikasi pada rendahnya minat anak desa untuk melanjutkan pendidikan jenjang tinggi, rendahnya minat dan dorongan anak desa untuk mencapai profesi yang lebih tinggi, dan rendahnya pertumbuhan serta perkembangan desa itu sendiri. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan wawasan anak mengenai cita-cita serta mendorong anak untuk berani memiliki cita-cita, melalui perancangan permainan edukatif yang kontekstual, yang dapat memperkenalkan profesi dan nilai minat yang dibangun dibaliknya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan desain yang berpusat pada pengguna. Data dikumpulkan dengan teknik observasi lapangan, wawancara, dan penyebaran kuesioner kepada anak usia 9-12 tahun di lingkungan pedesaan. Sebagai respons terhadap temuan rendahnya wawasan dan referensi profesi bagi anak di desa, dirancang sebuah permainan edukatif interaktif yang memasukkan unsur refleksi didalamnya. Melalui visualisasi dan permainan dengan tema yang dekat dengan keseharian di desa, diharapkan anak-anak dapat lebih terhubung dan menyadari potensi cita-cita yang tersedia di daerahnya, yang akhirnya juga berkontribusi pada pengembangan daerahnya.

2025
👤 Penulis: Hana Abigail
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Produk Edukasi

PERANCANGAN PRODUK POSTURE CORRECTION UNTUK ANAK PENYANDANG LOW VISION USIA 2-6 TAHUN

Low vision adalah kondisi seseorang yang mengalami penurunan indera penglihatan hingga kurang dari 20/60 secara permanen. Secara umum, kondisi ini disebabkan oleh 2 faktor yaitu cacat bawaan ataupun penyakit yang diderita. Kedua faktor tersebut tentunya masing-masing dapat memberikan perbedaan yang signifikan dan memiliki proses adaptasi yang berbeda. Penyandang yang mengalami low vision sejak kecil mengalami berbagai keterbatasan dalam melihat yang mempengaruhi pengalaman dan perkembangan dikarenakan 80% informasi diproses melalui penglihatan sehingga mengharuskan mereka untuk menggunakan alat bantu. Selain dampak pada kognitif dan perkembangan, penyandang low vision juga menghadapi resiko komplikasi lain salah satunya adalah kelainan tulang belakang seperti skoliosis, kifosis, dan lordosis. Pada anak dengan low vision, kelainan tulang belakang dapat berkembang dari kebiasaan postur tubuh yang buruk akibat kebutuhan untuk mengimbangi indera visual yang terbatas. Penyandang low vision seringkali menghabiskan waktu dalam posisi yang tidak ergonomis misalnya sering menunduk ketika mengamati objek dengan sisa penglihatan yang dimiliki saat beraktivitas. Hal ini terbukti pada penelitian terdahulu yang melibatkan 9 anak low vision berumur rata-rata 12 tahun. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa semua anak tersebut menderita skoliosis dengan status postural tingkat sedang. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih mengenai kebiasaan dan masalah yang dialami anak low vision khususnya mereka yang mengalami kondisi ini sejak usia dini dan mencari solusi dengan produk yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup mereka.

2025
👤 Penulis: Azzahra Shafa Aleyna Putri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN PROSES BIOFLOKULASI SELEKTIF BESI DARI RED MUD

Red mud adalah residu proses pengolahan bauksit menjadi alumina. Sifat red mud yang basa, dengan kisaran pH 9-12, mengklasifikasikannya sebagai limbah berbahaya. Selain itu, volume yang signifikan yang dihasilkan selama proses pengolahan bauksit membuat red mud perlu ditangani secara hati-hati. Red mud mengandung unsur-unsur berharga seperti besi, aluminium, titanium, silika, dan elemen tanah jarang, dengan besi sebagai komponen utama dengan kandungan lebih dari 30%. Terlepas dari potensinya, pemanfaatan besi dalam red mud masih terbatas dan dianggap tidak ekonomis untuk pengolahan skala besar. Bioflokulasi selektif diusulkan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis untuk pemanfaatan besi dari red mud. Metode ini menggunakan bakteri dan metabolitnya untuk melekat pada mineral tertentu, dalam hal ini besi, sehingga kadar besi dalam flok meningkat. Penelitian sebelumnya telah mengindikasikan bahwa selektivitas pemisahan besi dan pengotor dapat meningkat jika pH red mud dinetralkan sebelum proses bioflokulasi selektif. Namun, jumlah besar asam yang diperlukan untuk netralisasi membuat proses ini tidak ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk merekayasa bakteri agar dapat digunakan baik sebagai bioflokulan maupun pH regulator dalam proses pemisahan besi dari red mud. Pendekatan ini memiliki potensi untuk mengurangi biaya yang terkait dengan reagen lain, sehingga menciptakan proses yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan flok yang mengandung 60% besi, dengan nilai perolehan proses sekitar 60-80%. Serangkaian percobaan dilakukan untuk mencapai tujuan ini, dimulai dengan karakterisasi umpan, diikuti dengan empat tahap pengujian bioflokulasi selektif, yang berpuncak pada studi skala besar yang menggunakan proses berkelanjutan. Pengujian bioflokulasi selektif menggunakan metode uji pengendapan, dengan produk akhir berupa flok dan hasil akhir berupa supernatant. Karakterisasi bakteri dilakukan pada setiap tahap untuk mengevaluasi kemampuan pertumbuhan bakteri hasil rekayasa dalam kondisi yang tidak ideal dan pengaruhnya terhadap proses bioflokulasi selektif. Hasil optimal dari penelitian ini adalah flok dengan kadar besi 60,58 ± 1,36% dan perolehan proses sebesar 96%. Hasil tersebut dicapai menggunakan bioreagen dari kultur Bacillus nitratireducens strain SKC/L-2 pada pH awal 3 serta beberapa kondisi uji lainnya. Meskipun kadar besi tersebut telah memenuhi kriteria umpan untuk proses peleburan (smelting) di industri baja, kadar unsur pengotornya masih tergolong tinggi, sehingga optimasi lebih lanjut diperlukan. Sementara itu, studi bioflokulasi selektif pada skala yang lebih besar dengan proses kontinu menghasilkan flok berkandungan besi 56,91% dan perolehan 21,98%. Walaupun hasil dari proses berskala besar ini belum memenuhi kriteria umpan industri baja, temuan tersebut menunjukkan potensi yang menjanjikan untuk pengolahan besi dari lumpur merah dalam skala industri. Penemuan ini sangat penting untuk memajukan tata kelola pengolahan sirkular dan zero wase bauksit menjadi alumina.

2025
👤 Penulis: Erian Jeremy
🏷️ Bioflokulasi Selektif 🏷️ Red Mud 🏷️ Pemanfaatan Mineral Berharga

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI DASHBOARD INDEKS KEPERCAYAAN INDUSTRI PADA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memanfaatkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebagai indikator utama kondisi sektor industri. Namun, proses penyajian data IKI saat ini bergantung pada vendor pihak ketiga, melibatkan pengolahan manual, dan tidak terintegrasi dengan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS). Alur kerja ini menyebabkan inefisiensi dan kurangnya visualisasi data interaktif untuk pengambilan keputusan pada bagian dashboard pengguna secara real time. Akar masalahnya adalah tidak adanya modul dashboard yang terintegrasi di dalam SIINAS. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah perancangan sistem informasi berupa dashboard IKI yang terintegrasi langsung ke dalam platform SIINAS. Perancangan sistem informasi ini dilakukan menggunakan metode perancangan terstruktur yang terdiri dari empat fase utama yaitu inisiasi dan analisis awal, analisis dan pemodelan sistem, perancangan antarmuka (UI/UX), dan evaluasi desain. Fokus dari metodologi ini adalah sebuah prototype desain yang detail, bukan implementasi perangkat lunak fungsional. Penelitian ini menghasilkan rancangan sistem informasi yang terdiri dari model proses bisnis usulan, model data, model proses, serta prototype high fidelity interaktif dalam bentuk antarmuka pengguna (UI) yang dibuat menggunakan Figma. Rancangan sistem informasi ini kemudian divalidasi melalui sesi Maze Testing dengan pengguna akhir untuk memastikan kesesuaian dengan kebutuhan dan kemudahan penggunaan. Berdasarkan hasil validasi, dapat disimpulkan bahwa rancangan dashboard IKI yang diusulkan dapat menjadi solusi untuk mengintegrasikan dan mengotomatisasi penyajian data berbentuk grafik secara langsung pada dashboard pengguna ataupun pihak Kementerian, sehingga mempermudah proses pemantauan dan pengambilan keputusan di Kementerian Perindustrian secara keseluruhan.

2025
👤 Penulis: Maharani
🏷️ Sistem Informasi 🏷️ Indeks Kepercayaan Industri 🏷️ Manajemen Data Industri

I STRUKTUR MODAL OPTIMAL PT BARITO RENEWABLES TBK UNTUK PEMBIAYAAN EKSPANSI KAPASITAS PANAS BUMI

Dalam rangka mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada 2060, PT Barito Renewables Energy Tbk merencanakan ekspansi kapasitas panas bumi senilai USD 346 juta. Namun, Barito Renewables belum mempublikasi strategi pembiayaannya. Per akhir 2024, struktur modal perusahaan terdiri dari 74.11% utang, jauh di atas rata-rata industri panas bumi sebesar 50.16%, yang menimbulkan kekhawatiran atas risiko keuangan dan efisiensi biaya modal. Penelitian ini mengevaluasi apakah struktur modal tersebut optimal melalui simulasi berbagai skenario rasio utang dari 0% hingga 100%. Biaya utang diestimasi menggunakan synthetic rating spread Damodaran berdasarkan interest coverage ratio, sementara biaya ekuitas dihitung melalui Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan beta yang diperoleh dari regresi return saham BREN terhadap indeks JKSE. Hasil simulasi menunjukkan bahwa WACC minimum sebesar 10.02% dicapai pada struktur 77% utang, lebih rendah dari kondisi aktual sebesar 10.06%. Oleh karena itu, ekspansi direkomendasikan untuk dibiayai sepenuhnya dengan utang, yang akan mendorong struktur modal ke 76.93% utang tanpa perlu penerbitan ekuitas baru. Meskipun leverage Barito lebih tinggi dari rata-rata industri, kondisi keuangan yang kuat menjustifikasi struktur ini. Temuan ini menegaskan bahwa keputusan struktur modal harus spesifik terhadap kondisi internal perusahaan, bukan hanya berdasarkan tolak ukur industri.

2025
👤 Penulis: Asyifa Dinda Nurani
🏷️ Strategi Pembiayaan Eksplorasi Panas Bumi 🏷️ Analisis Biaya Modal 🏷️ Optimisasi Struktur Modal Perusahaan

PENERAPAN DESIGN OF EXPERIMENT UNTUK MENENTUKAN PARAMETER KUNCI YANG MEMPENGARUHI KINERJA MICELLAR-POLYMER FLOODING

This study applies the Design of Experiments (DoE) methodology to evaluate the performance of micellar polymer flooding (MPF) in three reservoir models using the Chemical Flooding Predictive Model (CFPM) in EORgui. A two-level full factorial design with 64 simulation runs was implemented to quantify the effects of six key parameters: pattern area, porosity, permeability, net pay thickness, Dykstra Parsons coefficient, and oil viscosity. The results show that volumetric parameters, particularly pattern area, porosity, and net pay thickness, consistently have the strongest influence on cumulative oil production across the three reservoirs. Interaction terms, such as pattern area × porosity and pattern area × thickness, were also found to be significant, showing the importance of volumetric and geometric synergy in chemical flood performance. Although regression analysis highlights these dominant drivers, residual diagnostics indicate limitations in predictive adequacy, especially at higher recovery estimates. However, the study confirms the usefulness of DoE in ranking the relative importance of reservoir and production parameters, providing a screening-level framework to guide micellar polymer flooding design.

2025
👤 Penulis: Tobias R. J. Simanungkalit
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DESAIN PERLAKUAN PROPPANT REKAHAN HIDRAULIK PADA ZONA TERPILIH DI FORMASI GL-E: STUDI KASUS SUMUR XX UNTUK MENINGKATKAN PERFORMA PRODUKSI

Global gas demand continues to rise, positioning natural gas as a cleaner fossil fuel in the transition towards low-carbon energy systems. To meet this demand, tight gas reservoirs have become increasingly important, yet many of these formations cannot deliver sufficient rates without stimulation. Hydraulic fracturing is widely recognized as an essential stimulation technique to improve well productivity that overcomes those challenges. This study investigates the GL-E formation of XX Well in the BB Field, Natuna Sea, which is known to present challenging conditions. A geomechanical evaluation was carried out to determine the most favorable zone for fracturing treatment. Based on the integration of geomechanical parameters, the GL-E2 zone was identified as the optimal target because it combines higher Young’s modulus, lower Poisson’s ratio, and greater thickness compared to the other zones, indicating brittleness and fracture potential. Fracturing design and simulation were then performed with sensitivity analysis by varying the type and total mass of proppant. The results demonstrate that resin-coated sand (RCS) proppant at 220,000 lbs yields the most effective treatment scenario, achieving higher productivity improvement with a favorable cost-to-performance balance compared to ceramic proppant alternatives. Post-treatment evaluation through nodal analysis shows a substantial increase in gas production rate, from 4.84 MMscf/d to 16.85 MMscf/d. The findings emphasize that geomechanical screening and fracture design treatment can significantly enhance well productivity.

2025
👤 Penulis: Ahmad Faizal Rais Al Faruq
🏷️ Geomekanika 🏷️ Stimulasi Produksi Minyak Dan Gas 🏷️ Analisis Proppant

EVALUASI PERILAKU ALIRAN DUA FASA DALAM MIKROMODEL MENGGUNAKAN TEKNOLOGI MIKROFLUIDA DAN SIMULASI SKALA PORI

The Capillary Desaturation Curve (CDC) provides a coNceptual framework to describe the relationship between the capillary number (Nc) and residual oil saturation (SOR) a key indicator of displacement performaNce. Understanding this relationship is essential for optimizing Enhanced Oil Recovery (EOR) strategies in the field. However, most previous studies have relied on laboratory micromodel simus, which, while offering direct visualization, remain limited and often overlook the role of pore-scale pressure distribution a factor that can strongly influeNce oil ganglia mobilization and desaturation patterns. This study addresses these limitations by applying a numerical approach based on immiscible two-phase (oil–water) simulations using COMSOL Multiphysics. Pore geometry was derived from digital micromodel images, and validation was performed by comparing simulation results with experimental data in terms of absolute SOR values, CDC trends, pressure drop, and oil ganglia distribution. Additional sensitivity analyses were conducted to assess the effects of wettability and interfacial tension (IFT) variations. The results reveal a nonlinear relationship between Nc and SOR. At low Nc, capillary forces dominate, maintaining high SOR, while a significant reduction occurs only after Nc exceeds the criticalical threshold (Nc critical). Pressure distribution analysis indicates a clear link between low-pressure zones and the preseNce of oil ganglia, along with greater heterogeneity in pressure gradients at higher injection rates. Validation shows consistent trends between simulations and experiments, despite a slight tendeNcy toward underprediction. In coNclusion, pore-scale pressure distribution is shown to be a criticalical factor that complements the CDC framework and should be considered in oil mobilization analysis. The simulation approach adopted here provides new insights into multiphase flow mechanisms at the pore scale and offers practical guidaNce for optimizing EOR strategies through improved injection control. The novelty of this work lies in combining CDC analysis with simultaneous evaluation of pressure distribution, a rarely addressed aspect in previous studies, thereby advaNcing the fundamental understanding of the process.

2025
👤 Penulis: Muhammad Idlan Hamis
🏷️ Kapilasi 🏷️ Desaturasi Kapilasi 🏷️ Analisis Tekanan Pore

IMPLEMENTASI FRAKTUR BERTAHAP PADA RESERVOIR BERKUALITAS RENDAH X-33 DAN X-35 MENGGUNAKAN MODEL MULTIFRAC PSEUDO-PERKINS, KERN & NORDGREN (MLF_PKN)

This study is design multistage hydraulic fracturing in low-resistivity reservoirs X-33 and X-35 in Field X, Indonesia, to boost oil and gas production from zones. These reservoirs are made of shaly sandstone with low resistivity of 1-2 ohm.m, porosity between 13-18%, permeability of 0.86-2.43 mD, and water saturation from 40-90%, under initial pressures of 1420-1450 psig. The goal is to address production decline in old fields by using the Multifrac Pseudo-Perkins, Kern & Nordgren (MLF_PKN) model to create fractures that increase well-reservoir contact, lower skin effect, and raise the productivity index. The research focuses on choosing the right fracture model, proppant, and fluid, while analyzing sensitivities in well placement and design to find the most cost-effective options. Using the FracCADE 5.1 software, the MLF_PKN model was applied with simplifications fracture width of 0.3 inches and average permeability to calculate dimensionless fracture conductivity (FCD). For the X-33 zone at depths of 4585-4665 ft true vertical depth (TVD), the optimized four-stage design produced fracture half-lengths ranging from 51.5 to 85.1 feet, average widths from 0.281 to 0.393 inches, effective FCD values from 3.5 to 5.9, and conductivities between 3221 and 4159 millidarcy-feet (md.ft). The chosen proppant was 20/40 Brady sand, which can handle closure stresses up to 2969 psi for X-35 and 2824 psi for X-33, combined with YF560HT cross-linked fluid at 60 pounds per thousand gallons gel loading, plus additives like KCl, stabilizers, and fluid loss agents to reduce leak-off and keep proppant in place. Sensitivity analysis tes showed that adding more fracturing stages has a bigger impact on production than changing half-lengths, since FCD variations in this range give only small improvements in fold-of-increase (FOI). Economic analysis, varying proppant placement area (PPA) from 3 to 11, highlighted net present value (NPV) benefits. X-33 well, increasing proppant concentration resulted in higher production performance and a clear improvement in NPV, demonstrating the positive impact of greater fracture conductivity. This improvement came with a significant rise in proppant cost, which reduces the overall economic efficiency. X-35 well, use of higher proppant concentration also contributed to better production outcomes and NPV growth. The cost escalation was relatively moderate, making this case more economically attractive. These results evaluates importance of balancing proppant concentration and cost, where optimization is necessary to achieve maximum productivity while maintaining economic feasibility.

2025
👤 Penulis: Ivan Digna Pradhana
🏷️ Fraktur Bercabang 🏷️ Optimisasi Proppant

EVALUASI GAP ANALYSIS DAN STRATEGI PADA TRANSISI ENERGI DI INDONESIA UNTUK MENILAI KESIAPAN INDONESIA MENUJU NET ZERO EMISSION 2060

Net-Zero Emission (NZE) is an idea that emerged from the Paris Agreement in 2015. Many countries, including Indonesia, have committed to achieving NZE. Climate Change Performance Index (CCPI), as an indicator that provides comparative scores between countries, shows Indonesia is ranked quite far. This study aims to examine the progress of Indonesia's strategy in achieving NZE. This final project assesses Indonesia's readiness to achieve NZE based on a gap analysis (GHG emission reductions in the energy sector, the integration of renewable energy (RE), renewable energy investment costs, coal capacity increases, and Indonesia's electric vehicle population), questionnaire results, and evaluation of Indonesia's strategy. This study will then provide alternative policy recommendations that can help drive the energy transition. Based on the gap analysis, questionnaire results, Indonesia is not yet ready to achieve NZE 2060. Improvements are needed in efforts to reduce coal-fired power plants and increase the integration of RE. To help encourage the transition from coal-fired power plants to RE, the government must increase RE capacity by 2 GW/year and focus on increasing EBT in solar power plants in Kalimantan. In addition, the government can raise coal prices and impose a carbon tax to increase the price of coal-fired electricity to USD 0,068/kWh to compete with the price of electricity from the Cirata solar power plant. Another effort is to create a Climate/Net-Zero Act to show determination and use an auction scheme to lower EBT prices and transparency to attract investors.

2025
👤 Penulis: Rahel Margaretha
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Gap 🏷️ Strategi Transisi Energi

PENGARUH RENTANG WAKTU DAN UKURAN PARTIKEL TANAH TERHADAP PENYISIHAN TOTAL PETROLEUM HYDROCARBON (TPH) DALAM REMEDIASI TANAH TERKONTAMINASI MINYAK BUMI DENGAN METODE SOIL WASHING BERBANTUAN ULTRASOUND

Pencemaran tanah oleh hidrokarbon minyak bumi merupakan permasalahan lingkungan yang penting karena dapat menurunkan kualitas tanah serta berpotensi menimbulkan dampak toksik bagi ekosistem. Oleh karena itu, diperlukan metode remediasi yang efektif untuk menurunkan konsentrasi hidrokarbon di lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan efektivitas tiga metode remediasi, yaitu soil washing, remediasi ultrasonik, serta soil washing berbantuan ultrasonik, dalam menurunkan kadar Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) pada tanah tercemar. Evaluasi dilakukan dengan mengukur konsentrasi TPH pada tanah sebelum dan sesudah perlakuan, sehingga diperoleh gambaran kuantitatif mengenai efektivitas masing-masing metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode soil washing konvensional mampu menurunkan TPH hingga 36,05% pada durasi pencucian 60 menit dan ukuran partikel 0,85 mm pada kondisi optimal. Efektivitas metode ini lebih tinggi pada partikel berukuran besar karena struktur pori yang lebih terbuka sehingga larutan pencuci lebih mudah mengalir dan membawa kontaminan keluar. Remediasi ultrasonik menunjukkan hasil yang lebih baik dengan penurunan TPH mencapai 83,49% pada durasi sonifikasi 60 menit dan ukuran partikel 0,125 mm, di mana partikel kecil lebih efektif karena memiliki luas permukaan lebih besar sehingga energi ultrasonik lebih mudah ditransmisikan dan meningkatkan proses desorpsi hidrokarbon. Sementara itu, kombinasi soil washing berbantuan ultrasonik terbukti paling efektif dengan penurunan TPH tertinggi sebesar 86,67% pada durasi pencucian dan sonifikasi 60 menit dan ukuran partikel 0,85 mm, meskipun hasilnya lebih fluktuatif karena adanya dua mekanisme yang bekerja secara bersamaan. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa durasi perlakuan 60 menit memberikan hasil lebih baik dibandingkan durasi lebih singkat pada ketiga metode.

2025
👤 Penulis: Nadhira Shafa Amira
🏷️ Hidrologi 🏷️ Remediasi Lingkungan 🏷️ Kecerdasan Buatan

INVENTARISASI EMISI PENCEMAR UDARA DAN GAS RUMAH KACA DARI KEGIATAN AKADEMIK (STUDI KASUS: KAMPUS ITB JATINANGOR)

Studi ini menetapkan baseline inventarisasi emisi untuk ITB Jatinangor, dengan fokus pada gas rumah kaca (GRK) dan pencemar udara dari kegiatan akademik dan penunjangnya. Dengan menggunakan metode IPCC Tier 1, faktor emisi jaringan listrik nasional, serta basis data faktor emisi (USEPA, EMEP/EEA), emisi Scope 1 dan 2 dihitung dari penggunaan listrik, kebocoran refrigeran, pembakaran, pengomposan, dan pengolahan air limbah. Data dikumpulkan melalui survei, wawancara, dan catatan resmi, sementara pola spasial divisualisasikan menggunakan interpolasi SIG (GIS). Hasil menunjukkan laboratorium menyumbang emisi GRK terbesar (2,068.09 ton CO?e/tahun) akibat tingginya kebutuhan listrik dan pemrosesan sampel, sedangkan fasilitas penunjang mendominasi emisi pencemar udara dari pembakaran bahan bakar stasioner. Emisi terutama didorong oleh penggunaan listrik tidak langsung (Scope 2), tetapi emisi langsung (Scope 1) masih belum terlaporkan sepenuhnya, khususnya dari lemari asam (fume hood) dan unit pembakaran karena adanya celah pemantauan. Perbandingan dengan universitas yang memiliki sistem data matang menyoroti peluang bagi ITB Jatinangor untuk meningkatkan pelacakan emisi dan mengadopsi praktik terbaik menuju kampus berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Marcia Alana Sjarief
🏷️ Inventarisasi Energi Dan Gas Rumah Kaca 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Polusi Lingkungan

ANALISIS KEBERLANJUTAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS 3R DENGAN METODE MULTIDIMENSIONAL SCALING (MDS)–RAPFISH(STUDI KASUS: MRF, TPST KOTA HIJAU, DAN BANK SAMPAH KOTA HIJAU BALIKPAPAN)

ABSTRAK ANALISIS KEBERLANJUTAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS 3R DENGAN METODE MULTIDIMENSIONAL SCALING (MDS)–RAPFISH (STUDI KASUS: MRF, TPST KOTA HIJAU, DAN BANK SAMPAH KOTA HIJAU BALIKPAPAN) Oleh Khairunisa NIM: 25723007 (Program Studi Magister Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi) Sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), Kota Balikpapan menghadapi pertumbuhan jumlah penduduk yang berbanding lurus dengan pertumbuhan produksi sampah. Pada tahun 2023, timbulan sampah tercatat sebesar 528,87 ton/hari, yang mana naik sebesar 2,74% dari tahun sebelumnya. Prediksi menunjukkan bahwa TPA Manggar akan mencapai kapasitas penuh pada tahun 2026, sehingga tidak mampu lagi menampung sampah dari Kota Balikpapan. Pada Tahun 2017, Pemerintah Kota Balikpapan bersama KLHK dan JICA bekerjasama dalam pengelolaan sampah berbasis 3R, yaitu dengan integrasi Material Recovery Facility (MRF), Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), dan Program Bank Sampah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sistem pengelolaan sampah di MRF, TPST Kota Hijau, dan Bank Sampah Kota Hijau serta merumuskan strategi pengembangannya. Metode yang digunakan meliputi Multidimensional Scaling (MDS) dengan pendekatan RAPFISH dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Bank Sampah Kota Hijau memiliki status keberlanjutan tertinggi karena didukung oleh kemandirian finansial dan partisipasi masyarakat dan masuk dalam kategori cukup berkelanjutan. Untuk pengelolaan sampah di MRF juga tergolong cukup berkelanjutan, namun masih bergantung pada anggaran Pemerintah Kota. Begitu juga untuk pengelolaan sampah di TPST Kota Hijau yang masuk dalam kategori cukup berkelanjutan, namun memiliki tingkat keberlanjutan paling rendah akibat beberapa kendala teknis operasional dan minimnya partisipasi masyarakat. Saat ini pengelolaan sampah di ketiga infrastruktur masuk kedalam kategori cukup berkelanjutan, yang mana untuk ditingkatkan statusnya menjadi berkelanjutan atau sangat berkelanjutan dapat dilakukan upaya strategis dengan optimalisasi kebijakan atau peraturan di lingkungan Pemerintah Kota dan sinkronisasi program antar pemangku kepentingan, penguatan kapasitas kelembagaan dan SDM, diversifikasi sumber pendanaan, melakukan upaya peningkatan partisipasi masyarakat, dan melakukan peningkatan dalam aspek teknis operasional.

2025
👤 Penulis: Khairunisa
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Swot 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS HUBUNGAN CROP WATER STRESS INDEX (CWSI) DAN PHOTOSYNTHETICALLY ACTIVE RADIATION (PAR) DENGAN PRODUKSI BUAH DAN AKUMULASI BIOMASSA TANAMAN KOPI PADA SISTEM AGROFORESTRI PINUS (PINUS MERKUSII) DAN KOPI (COFFEA ARABICA) DI DESA MEKARMANIK, KECAMATAN CIMENYAN, JAWA BARAT

Sistem agroforestri kopi di Jawa Barat memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan produksi, khususnya melalui pengaturan kondisi mikroklimat yang mendukung pertumbuhan optimal tanaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara Crop Water Stress Index (CWSI) dan Photosynthetically Active Radiation (PAR) terhadap akumulasi biomassa dan produksi buah kopi pada sistem agroforestri pinus (Pinus merkusii)–kopi (Coffea arabica) di Desa Mekarmanik, Cimenyan, Jawa Barat. Agroforestri kopi berperan penting dalam menciptakan kondisi cahaya, suhu, dan kelembapan yang optimal, di mana PAR (400–700 nm) merupakan faktor utama produktivitas, sedangkan CWSI menjadi indikator stres air tanaman. Penelitian dilakukan pada 10 plot acak dengan pengukuran kerapatan kanopi, intensitas cahaya, suhu udara, kelembapan, suhu daun, diameter batang, dan jumlah buah kopi, dilengkapi data sekunder tutupan awan, kecepatan angin, dan panjang daun. PAR dihitung dari intensitas cahaya, CWSI dari suhu–kelembapan, dan biomassa dari diameter batang. Analisis menggunakan korelasi Spearman serta regresi linear. Hasil menunjukkan PAR dan CWSI tidak berkorelasi (?=0,193) karena tanaman tidak mengalami stres air (rata-rata CWSI 0,09). Model regresi biomassa (R²=0,697) menunjukkan biomassa meningkat saat PAR dan CWSI menurun, berbeda dari teori akibat tutupan awan tinggi (70,29%). Model produksi buah (R²=0,258) menunjukkan produksi meningkat seiring kenaikan PAR dan penurunan CWSI. Rata-rata PAR (164,80 ?mol/m²s) belum mencapai kisaran optimal fotosintesis kopi (300–700 ?mol/m²s). Disimpulkan bahwa PAR dan CWSI berpengaruh terhadap biomassa dan produksi buah, meski faktor lain seperti nutrisi dan hormon perlu dianalisis untuk memperkuat korelasi model.

2025
👤 Penulis: Rodrigo Ignasius Sinaga
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STUDI PARAMETRIK PERILAKU SEISMIK SISTEM STRUKTUR TEROWONGAN PADA LERENG TANAH

Penelitian ini merupakan studi parametrik mengenai perilaku seismik sistem struktur terowongan pada lereng tanah yang ditujukan untuk memperluas pemahaman tentang interaksi tanah–struktur di bawah pengaruh beban gempa. Kajian ini disusun sebagai bentuk kontribusi dalam pengembangan ilmu ketekniksipilan, khususnya pada bidang geoteknik dan rekayasa terowongan, mengingat pentingnya aspek kestabilan lereng dan keandalan terowongan di wilayah rawan gempa. Analisis dilakukan dengan pendekatan numerik menggunakan metode elemen hingga (Plaxis 2D), yang dikombinasikan dengan kajian literatur untuk memperkuat validasi hasil. Beberapa skenario pemodelan disusun secara parametrik, meliputi kondisi flat ground dan sloping ground, keberadaan maupun ketiadaan terowongan, serta variasi metode analisis, yaitu pseudostatik dan dinamik dengan input gempa shallow crustal dan megathrust. Parameter utama yang dikaji mencakup amplification factor, amplification factor of tunnel (AFt), deformasi lereng, dan nilai racking yang terbentuk. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa metode pseudostatik cenderung menghasilkan nilai racking yang lebih besar dibandingkan analisis dinamik, sehingga memberikan estimasi yang lebih konservatif. Keberadaan terowongan juga terbukti memperbesar deformasi racking sekaligus memengaruhi pola perambatan gelombang seismik. Fenomena ini terlihat dari kecenderungan deamplifikasi pada bagian mid-slope dan amplifikasi pada bagian crest slope. Selain itu, nilai AFt pada kondisi sloping ground tercatat sekitar 10% lebih kecil dibandingkan kondisi flat ground.

2025
👤 Penulis: Reagan Caesar Cahyadi
🏷️ Seismik 🏷️ Geoteknik 🏷️ Rekayasa Terowongan
Halaman 291 dari 6754
💬