📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenEVALUASI SISTEM WAYFINDING BERDASARKAN WALKABILITY INDEX DI KAWASAN TRANSIT BLOK M
Penelitian tentang hubungan antara sistem wayfinding dan kualitas walkability di kawasan stasiun masih sangat terbatas. Padahal, indeks walkability secara umum mengukur kualitas jalur pejalan kaki melalui tiga komponen utama, yaitu keselamatan dan keamanan, kenyamanan, serta dukungan kebijakan yang dikemukakan oleh Krambeck (2006). Namun, parameter-parameter spesifik yang menilai kontribusi sistem wayfinding terhadap indeks tersebut belum pernah dieksplorasi secara mendalam. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami profil dan perilaku navigasi pengguna di kawasan Blok M untuk mengidentifikasi kebutuhan dalam perbaikan sistem wayfinding, mengevaluasi kualitas sistem wayfinding di kawasan tersebut menggunakan Walkability Index (WI) dan Global Walkability Index (GWI), serta merumuskan rekomendasi perbaikan sistem wayfinding yang dapat meningkatkan kualitas walkability secara keseluruhan. Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan didukung analisis kuantitatif. Pedekatan kualitatif dengan melakukan tinjauan desain wayfinding di berbagai negara. Dirumuskan juga sembilan indikator utama wayfinding, yaitu kemudahan menemukan titik tujuan, kejelasan dan kecermatan informasi pada papan penunjuk arah, penempatan signage di lokasi strategis, konektivitas jalur pejalan kaki dengan pemisahan dari kendaraan bermotor, ketersediaan zebra cross, ketersediaan pelican crossing, pemberian prioritas oleh pengendara kepada pejalan kaki, serta kebebasan terhadap hambatan permanen. Sementara itu, analisis kuantitatif dilakukan dengan menghitung skor Walkability Index (WI) berdasarkan bobot sembilan parameter walkability, lalu membandingkannya dengan skor Global Walkability Index (GWI) yang juga mempertimbangkan panjang segmen jalan dan volume pejalan kaki selama lima menit pengamatan. Hasil penghitungan menunjukkan nilai GWI sebesar 93, sedangkan nilai WI hanya 72, yang menghasilkan perhitungan yang berbeda. perbedaan ini menegaskan bahwa panjang jalan dan kuantitas pejalan kaki tidak sepenuhnya mencerminkan kualitas sistem wayfinding. Hasil penelitian mengidentifikasi parameter walkability yang masih di bawah ambang rata-rata, yaitu: (a) kelengkapan informasi pada papan penunjuk arah, (b) ketersediaan zebra cross, (c) ketersediaan pelican crossing, (d) pemberian prioritas oleh pengendara kepada pejalan kaki, dan (e) kebebasan terhadap hambatan permanen. Berdasarkan hasil tersebut, rekomendasi perbaikan sistem wayfinding dapat dilakukan dengan meningkatkan kelengkapan signage melalui penempatan totem besar di titik keputusan utama dan totem sempit di sepanjang koridor pejalan kaki, masing-masing memuat peta, simbol pejalan kaki, nama lokasi, dan estimasi waktu ke POI (Point of Interest), kemudian mengecat ulang zebra cross yang sudah memudar untuk memastikan visibilitas dan keamanan penyebrangan, menambah pelican crossing di lokasi bertrafik tinggi seperti akses keluar stasiun menuju pusat komersial, menertibkan parkir liar dan pedagang kaki lima di beberapa segmen agar jalur pejalan kaki bebas hambatan, serta menambah bangku dan tempat duduk di halte dan koridor tunggu untuk meningkatkan kenyamanan pengguna.
STUDI PENGARUH PERILAKU PESEPEDA TERHADAP PROBABILITAS KECELAKAAN BERSEPEDA DI JALAN
Peningkatan kebutuhan terhadap sarana transportasi seiring meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia memiliki dampak yang cukup serius terhadap lingkungan. Salah satu sarana transportasi yang dinilai ramah lingkungan adalah sepeda. Akan tetapi, penggunaan sepeda di jalan raya juga menimbulkan tantangan tersendiri karena adanya lalu lintas campuran yang meningkatkan risiko kecelakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku pesepeda terhadap probabilitas terjadinya kecelakaan dalam bersepeda di jalan. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data melalui kuesioner dengan mengamati jawaban responden pada aspek pematuhan dan pelanggaran aturan yang dilakukan. Selanjutnya, data dianalisis dengan menggunakan analisis regresi logistik sehingga diperoleh koefisien masing-masing variabel terkait. Hasil penelitian ini menemukan bahwa aspek pematuhan aturan memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap probabilitas terjadinya kecelakaan saat bersepeda di jalan dibandingkan dengan pelanggaran aturan. Meskipun demikian, peningkatan pematuhan aturan dan pengurangan pelanggaran aturan dapat dilakukan secara bersama-sama untuk meminimalkan probabilitas terjadinya kecelakaan saat bersepeda di jalan.
PEMODELAN DESAIN SURVEI SEISMIK 3D MARINE PADA CEKUNGAN UTARA JAWA TIMUR
Survei seismik tiga dimensi (3D) merupakan metode yang sangat penting dalam eksplorasi karena mampu memberikan pencitraan bawah permukaan yang detail. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemodelan desain survei seismik 3D marine guna memperoleh desain yang optimal baik dari segi biaya maupun waktu. Penelitian dilakukan secara eksperimental di wilayah laut dangkal pada Cekungan Utara Jawa Timur dengan luas area ± 15 × 5 km² pada target dengan kedalaman 1.500 – 2.000 meter. Untuk mendapatkan desain survei yang optimal, dilakukan serangkaian tahapan mulai dari penentuan target, analisis foto udara, penentuan parameter akuisisi, hingga evaluasi atribut survei seperti offset, fold, dan azimuth. Desain survei yang dilakukan menggunakan pola akuisisi racetrack dan pola shot flip-flop untuk meningkatkan efisiensi waktu dan distribusi cakupan data. Selain itu, metode Narrow Azimuth Surveys (NAZ) diterapkan untuk menyesuaikan keterbatasan instrumen yang digunakan dan kondisi area survei. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak MESA Expert untuk memodelkan distribusi atribut yang nantinya digunakan untuk simulasi surface binning. Pemodelan subsurface binning, ray tracing, dan pembentukan seismogram sintetis menunjukkan bahwa desain ini mencapai objektif survei dengan distribusi fold dan offset yang baik. Perbedaan signifikan antara CMP fold dan CRP fold terlihat pada daerah timur yang merupakan daerah geologi kompleks. Desain ini juga mampu menghasilkan sudut maximum AVO yang telah memenuhi kriteria. Dengan mempertimbangkan parameter teknis, keterbatasan operasional, dan efisiensi biaya, desain survei ini dapat dijadikan acuan untuk survei seismik marine di area serupa
ENERGY AND EXERGY AUDITS TO IMPROVE THE PERFORMANCE OF GEOTHERMAL POWER PLANTS CASE STUDY: PATUHA GEOTHERMAL POWER PLANT
Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, disertai dengan meningkatnya kebutuhan listrik. Berdasarkan RUPTL 2025 2034, PLN memproyeksikan pertumbuhan rata-rata kebutuhan listrik sebesar 5,3% per tahun, dengan rencana pembangunan pembangkit total 69.512 MW, termasuk 42.569 MW dari energi baru terbarukan dan 10.256 MW dari sistem penyimpanan energi. Energi panas bumi menjadi salah satu kontributor utama, dengan potensi nasional mencapai 23.965,5 MW, terbesar kedua di dunia. Jawa Barat memiliki cadangan terbesar, dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Patuha sebagai salah satu fasilitas utamanya. Penelitian ini mengevaluasi kinerja PLTP Patuha melalui audit energi dan eksergi. Data operasional perusahaan tahun 2021 2024 digunakan dalam simulasi Aspen HYSYS, dengan perhitungan tambahan menggunakan MS Excel. Hasil simulasi divalidasi melalui perhitungan manual sebelum dilakukan identifikasi konsumsi internal terbesar serta peluang optimasi, termasuk analisis ekonominya. Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio pemakaian sendiri turun dari 5,02% pada 2021 menjadi 4,23% pada 2024, menandakan pengurangan konsumsi internal. Hot Well Pump (HWP), Liquid Ring Vacuum Pump (LRVP), dan Cooling Tower Fan teridentifikasi sebagai konsumen internal terbesar. Pemasangan Variable Speed Drive (VSD) pada HWP menghasilkan penghematan bersih tahunan sebesar Rp 2,12 miliar dengan periode balik modal 2,08 tahun, sedangkan penerapan VSD pada Cooling Tower Fan memberikan penghematan bersih tahunan Rp 3,93 miliar dengan periode balik modal hanya 0,37 tahun. Dari sisi eksergi, komponen dengan irreversibilitas terbesar adalah kondensor, cooling tower, dan turbin, dengan fokus perbaikan diarahkan pada pengurangan irreversibilitas kondensor melalui optimasi kinerja cooling tower.
PENERAPAN PRE STACK TIME MIGRATION DENGANALGORITMA KIRCHOFF UNTUK MENGURANGI EFEKDIFRAKSI PADA DATA SEISMIK SINTETIK MARMOUSI 2D
Akuisisi seismik pada area yang memiliki kemiringan dan sesar akan menghasilkan data seismik dengan efek difraksi dan kemiringan semu. Oleh karena itu, diperlukannya migrasi seismik untuk memindahkan rekaman semu gelombang refleksi ke posisi bawah permukaan yang sebenarnya dan untuk mengurangi efek difraksi. Dalam penelitian ini digunakan migrasi berjenis pre stack time migration (PSTM) algoritma Kirchoff agar dapat mengurangi efek difraksi dan merekonstruksi reflektor dengan kemiringan hingga 90 derajat secara efisien sehingga memberikan citra yang lebih baik pada bawah permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan PSTM algoritma Kirchoff dalam mengurangi efek difraksi pada data sintetik Marmousi 2D secara efisien dan memastikkan amplitudo yang dihasilkan dari proses PSTM algoritma kirchoff tetap preserve. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data seismik sintetik laut Marmousi 2D. Data diolah dengan melakukan preprocessing data, velocity analysis, dan stacking untuk melihat pola difraksi pada data. Kemudian dilakukan proses PSTM dengan algoritma Kirchoff dengan inputan data yang disortir dalam common offset gather. Setelah didapatkan hasil migrasi, data di stack dan dibandingkan dengan velocity model referensi sebagai validasi. Hasil dari penerapan PSTM algoritma Kirchoff berhasil meningkatkan resolusi pada reflektor dibawah permukaan, tetapi pada struktur yang lebih dalam hasil PSTM belum dapat mencitrakan reflektor dengan baik akibat perbedaan kecepatan secara lateral yang sangat tinggi. Amplitudo yang dihasilkan pun tetap preserve sehingga dapat digunakan untuk analisis lanjutan.
THE EFFECT OF ADDITIVE CONCENTRATION VARIATIONS ON THE PERFORMANCE OF B40 FUEL IN EURO 2 AND EURO 4 DIESEL ENGINES
Biodiesel B40, yang terdiri dari 40% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan 60% solar konvensional, telah banyak digunakan di Indonesia namun menghadapi tantangan seperti stabilitas bahan bakar selama penyimpanan dan memastikan proses pembakaran yang sempurna. Untuk mengatasi masalah tersebut, penelitian ini mengevaluasi B40 yang dicampur dengan aditif yang diformulasikan sesuai pedoman Worldwide Fuel Charter (WWFC) pada konsentrasi 0, 73, dan 300 ppm pada mesin diesel Euro 2 dan Euro 4. Pengujian dilakukan dengan menganalisis kondisi sebelum dan sesudah pemakaian melalui uji laboratorium (dynamometer untuk daya dan torsi, kinerja bahan bakar dan pelumas, serta emisi yang diatur), uji bengkel (kehilangan aliran injektor, aliran filter bahan bakar, dan pembongkaran mesin untuk mengevaluasi Combustion Chamber Deposits (CCD), Intake Valve Deposits (IVD), dan Exhaust Valve Deposits (EVD)), serta uji jalan sejauh 10.000 km pulang-pergi pada rute Sentul–Salatiga untuk menilai driveability dan konsumsi bahan bakar di kondisi nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada mesin Euro 2, konsentrasi 73 ppm memberikan performa daya dan torsi paling stabil, kehilangan aliran injektor terendah, dan pengendalian deposit yang baik. Pada mesin Euro 4, 0 ppm terbukti paling stabil karena ukuran injektor dan filter yang lebih kecil lebih sensitif terhadap overdosis aditif. Meskipun 300 ppm tetap mampu menurunkan emisi berbahaya (CO, HC, NOx, dan opasitas) dan menjaga kestabilan pelumas, konsentrasi ini cenderung meningkatkan pembentukan deposit. Pada kedua jenis mesin, kehilangan aliran injektor menjadi faktor utama yang memengaruhi penurunan kinerja, sedangkan CCD, IVD, dan EVD lebih merefleksikan perilaku pembentukan deposit dan aspek ketahanan jangka panjang dibandingkan memengaruhi daya dan torsi secara langsung. Secara keseluruhan, berdasarkan penilaian WWFC yang memprioritaskan kebersihan injektor dan kehilangan aliran injektor, diikuti oleh performa daya dan torsi, konsentrasi 73 ppm merupakan pilihan paling optimal untuk mesin Euro 2. Sementara itu, 0 ppm menjadi pilihan terbaik untuk mesin Euro 4 guna mempertahankan efisiensi, regulasi emisi, dan ketahanan mesin jangka panjang.
EKSPLORASI POTENSI SENYAWA ANTIMIKROBA BARU DARI ISOLAT BAKTERI DANAU GILI MENO DI MUSIM HUJAN MELALUI ANLISIS GENOME MINING
Eksplorasi produk alami dari mikroba menjadi salah satu pendekatan penting dalam penemuan antibiotik baru untuk mengatasi masalah resistensi antimikroba (AMR) yang kian mengancam kesehatan global. AMR terjadi ketika mikroorganisme berevolusi dan menjadi resistan terhadap obat-obatan yang biasa digunakan, seperti antibiotik, yang mengakibatkan penyebaran penyakit yang luas dan peningkatan angka kematian. Tingkat AMR yang terus meningkat serta minimnya penemuan kelas antibiotik baru sejak tahun 1987 telah menciptakan urgensi untuk mencari agen antimikroba baru. Salah satu sumber potensial adalah mikroorganisme yang hidup di lingkungan ekstrem, seperti danau air asin Gili Meno (Lombok) dengan salinitas 54.00 ± 0.82 ppt, karena adanya produksi metabolit sekunder unik sebagai respons adaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi mikroba dari Danau air asin Gili Meno yang menjadi habitat mikroorganisme halofilik, dan mengeksplorasi potensi kemampuan produksi antimikroba mereka melalui analisis klaster gen biosintetik (BGC). Sampel air dan sedimen danau diambil, kemudian mikroba yang terkandung diisolasi dan kemampuan aktivitas antimikrobanya diuji terhadap patogen model Gram negatif Escherichia coli dan positif Bacillus subtilis menggunakan uji tantang double layer agar. Spesies dari isolat aktif diidentifikasi melalui sekuensing DNA pengkode 16S rRNA. Kemudian, genome mining dilakukan menggunakan perangkat lunak AntiSMASH dari data whole genome yang tersedia dari spesies yang teridentifikasi di pusat data publik untuk mengidentifikasi BGC yang berpotensi menghasilkan antibiotik baru. Visualisasi struktur 2D dari produk akhir yang diprediksi juga dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian, 40 isolat mikroba berhasil diisolasi dengan 11 di antaranya menunjukkan aktivitas antimikroba. Dari 11 isolat tersebut, dua spesies berhasil diidentifikasi berdasarkan hasil sekuensing DNA pengkode 16S rRNA, yaitu Bacillus paralicheniformis dan Priestia megaterium. Analisis genome mining pada isolat-isolat tersebut menunjukkan adanya dua BGC yang potensial, yaitu klaster yang mirip Paeninodin dan Amyloliquecidin GF610. Prediksi struktur 2D dari produk akhir BGC tersebut mengidentifikasi senyawa Paeninodin B, PamA1, dan PamA2, yang menjadi titik awal untuk penelitian lanjut dalam pengembangan senyawa antimikroba baru.
IDENTIFIKASI KONTAMINASI MIKROPLASTIK UNTUK MENU TERPILIH DI RESTORAN X
Penelitian ini menginvestigasi keberadaan dan karakteristik kontaminasi mikroplastik pada tiga menu sushi populer, yaitu salmon norimaki, ebi tempura norimaki, dan salmon skin norimaki, dari salah satu restoran di Kota Bandung. Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, dan pengambilan sampel menu sushi. Analisis laboratorium melibatkan identifikasi mikroplastik menggunakan pengamatan mikroskopis untuk kuantifikasi dan kategorisasi, serta spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR) untuk identifikasi polimer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salmon norimaki memiliki konsentrasi kontaminan yang diduga tertinggi. Kontaminan mikroplastik yang paling banyak ditemukan teridentifikasi sebagai fragmen berwarna hitam. Melalui analisis FTIR, jenis polimer yang dominan diduga adalah zat pewarna hitam, kapas, dan kain rayon. Studi ini juga menganalisis proses penyiapan makanan dan bahan-bahannya untuk mengidentifikasi sumber kontaminasi potensial, dan menyimpulkan bahwa perbedaan jenis bahan dan prosedur penanganan dapat memengaruhi tingkat serta karakteristik kontaminasi. Temuan ini bertujuan untuk memberikan wawasan berharga bagi praktik penyiapan makanan yang lebih aman dan menawarkan rekomendasi untuk mencapai produksi makanan yang lebih bersih dalam industri sushi.
EFEK PENAMBAHAN CHITIN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK AEROBIC GRANULAR SLUDGE DI SISTEM SEQUENCING BATCH REACTOR
Aerobic Granular Sludge (AGS) adalah kumpulan mikroba yang dapat berperan dalam penyisihan organik di air limbah secara simultan dalam satu sistem reaktor. Pembentukan AGS dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah keberadaan kation. Dalam penelitian ini, pembentukan AGS dilakukan dengan penambahan chitosan, polimer kationik alami. Tujuan perlakuan tersebut adalah untuk melihat pengaruh yang diberikan chitosan terhadap karakteristik fisik AGS. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sistem Sequencing Batch Reactor (SBR) pada volume kerja 3 L, Organic Loading Rate (OLR) sebesar 2,5 kg COD/m3 .hari yang diperoleh dari glukosa (C6H12O6) sebagai sumber karbon tunggal di air limbah artifisial, dan waktu siklus reaktor 8 jam. Lalu, variasi dosis chitosan dengan konsentrasi 3.333 dan 6.667 mg/L masing-masing ditambahkan di reaktor 1 dan 2 (R1 dan R2), sedangkan reaktor lainnya (R0) dioperasikan sebagai reaktor kontrol. Setelah reaktor dioperasikan selama 21 hari, hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan chitosan dapat meningkatkan kualitas beberapa parameter terkait karakteristik fisik AGS, yaitu SVI, aspect ratio, dan kecepatan pengendapan partikel. Jika dilihat dari pertumbuhan biomassa, penambahan chitosan tidak berpengaruh terhadap hal tersebut, sehingga biomassa dapat bertumbuh tanpa adanya gangguan yang berarti. Jika dilihat dari performa penyisihan organik, penambahan chitosan dapat sedikit menurunkan efisiensi penyisihan organik. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah dosis chitosan sebanyak 6.667 mg/L merupakan dosis optimum bila dibandingkan dengan dosis chitosan sebanyak 3.333 mg/L.
POTENSI PLANT-DERIVED EXOSOME-LIKE NANOPARTICLE (PDEN) JAHE EMPRIT (ZINGIBER OFFICINALE VAR. AMARUM) PADA EKSPRESI GEN BAX DAN MCL1 YANG BERPERAN DALAM APOPTOSIS SEL KANKER SERVIKS HELA
Kanker serviks merupakan kanker keempat terbanyak yang diderita oleh wanita. Indonesia berada di posisi ketiga tertinggi di dunia atas kasus kematian akibat kanker serviks. Akan tetapi, terapi kanker konvensional masih memiliki berbagai keterbatasan seperti terjadinya komplikasi, resistensi, serta efek samping yang menurunkan kualitas hidup pasien. Kanker kanker merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan sel yang tidak terkontrol sehingga induksi terjadinya apoptosis merupakan target utama dalam terapi kanker. Apoptosis diregulasi oleh 2 kelompok gen yang berperan dalam mendukung atau mencegah apoptosis. Salah satu ciri terjadinya apoptosis yaitu adanya fragmentasi nukleus. Saat ini, plant-derived exosome-like nanoparticles (PDEN) banyak diteliti sebagai agen antikanker yang biokompatibel dan rendah imunogenisitas, salah satunya yaitu PDEN dari jahe emprit (Zingiber officinale var. amarum) yang memiliki kandungan senyawa aktif antiinflamasi yang tinggi. Penelitian sebelumnya menunjukkan pemberian PDEN jahe emprit secara tidak langsung dapat memicu terjadinya apoptosis pada sel kanker. Namun, penelitian terkait pemanfaatan PDEN jahe emprit sebagai agen antikanker secara langsung pada sel masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi PDEN jahe emprit yang diberikan secara in vitro dalam menginduksi apoptosis pada lini sel kanker serviks HeLa. Hasil karakterisasi PDEN jahe emprit menunjukkan partikel memiliki ukuran rata-rata 190,98 ± 152,88 nm dengan morfologi bulat dan memiliki membran bilayer. Uji sitotoksisitas pada lini sel HeLa menggunakan uji MTT menunjukkan PDEN jahe emprit dapat menurunkan viabilitas sel HeLa secara signifikan (p-value < 0,05) jika dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif dengan nilai IC50 sebesar 6,742 ?g/mL setelah 48 jam inkubasi. Pemberian PDEN jahe emprit dengan konsentrasi 2,1, 6,7, dan 22 ?g/mL pada sel HeLa menyebabkan penurunan sel yang masih menempel pada permukaan plastik kultur serta meningkatkan jumlah sel yang mengalami kematian secara signifikan. Lebih lanjut, jika dibandingkan dengan kelompok kontrol, analisis ekspresi gen melalui RT-qPCR menunjukkan adanya penurunan ekspresi gen antiapoptosis MCL1 secara signifikan pada konsentrasi 22 ?g/mL (p-value < 0,05) serta peningkatan ekspresi gen proapoptosis BAX secara signifikan pada konsentrasi 6,7 dan 22 ?g/mL (p-value < 0,05). Analisis rasio BAX/MCL1, sebagai faktor krusial yang menentukan kemampuan sel untuk menstimulasi apoptosis, menunjukkan adanya peningkatan nilai rasio ekspresi BAX/MCL1 yang signifikan pada konsentrasi 22 ?g/mL jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan PDEN jahe emprit berpotensi untuk menurunkan viabilitas sel, menurunkan persentase sel yang menempel pada plastik kultur, meningkatkan jumlah sel yang mengalami kematian, menurunkan ekspresi gen antiapoptosis MCL1, meningkatkan ekspresi gen proapoptosis BAX, serta meningkatkan nilai rasio ekspresi BAX/MCL1 pada lini sel kanker serviks HeLa.
DESAIN DAN ANALISIS KONDISI IN-SERVICE SERTA LIFTING STRUKTUR ANJUNGAN LEPAS PANTAI TIPE TETAP TIGA KAKI DI LAUT TENGGARA SUMATERA
Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai yang sangat panjang, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Menyadari ancaman ini, Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060. Salah satu cara paling menjajikan adalah dengan penerapan teknologi Carbon Capture, and Storage (CCS) yang didukung oleh kondisi geologis Indonesia. Studi oleh Kementerian ESDM (LEMIGAS) mengidentifikasi potensi kapasitas penyimpanan karbon nasional mencapai 577.62 giga ton, di mana sebagian dari kapasitas tersebut dapat dialokasikan untuk luar negeri. Realisasi seluruh potensi mitigasi dan peluang ekonomi ini bergantung pada satu faktor kritis. Sebagian besar kapasitas penyimpanan karbon yang telah teridentifikasi berlokasi di lepas pantai, jauh di bawah dasar laut. Oleh karena itu, pembangunan dan pemanfaatan infrastruktur anjungan lepas pantai menjadi faktor penentu untuk dapat mengakses situs-situs penyimpanan karbon tersebut. Pada Tugas Akhir ini, dilakukan desain anjungan lepas pantai tipe tetap tiga kaki yang mengacu pada standar API RP 2A WSD. Guna mengetahui kelayakan struktur terhadap kombinasi pembebanan dan kondisi lingkungan di lapangan, dilakukan analisis in-service yang mencakup analisis in-place, analisis seismik, dan analisis fatigue. Setelah itu, dilakukan analisis pada kondisi instalasi yaitu analisis lifting pada topside. Analisis lifting diawali dengan menentukan hook point berdasarkan CoG dari struktur. Selanjutnya, dilakukan pengecekan kekuatan struktur untuk memperoleh nilai gaya yang bekerja pada sling. Kemudian, dilanjutkan dengan pemilihan tali sling berdasarkan standar OSHA dan shackle berdasarkan standar Crosby sesuai nilai gaya yang didapat. Sehingga, dapat melakukan perhitungan desain padeye dengan memenuhi kapasitas tegangan izin berdasarkan standar API RP 2A WSD, DNV ST-N001, dan BV NR 595 DT R01 E. Untuk setiap analisis dan perhitungan, sudah memenuhi standar yang ditentukan. Oleh karena itu, desain anjungan lepas pantai ini sudah memenuhi standar dan kriteria.
ANALISIS TRANSPORTASI, DESAIN GRILLAGE DAN SEA-FASTENING, SERTA BARGE UNDER-DECK STRENGTH CHECK PADA ANJUNGAN LEPAS PANTAI TIPE JACKET EMPAT KAKI
Transportasi anjungan lepas pantai menggunakan barge memiliki dua aspek analisis. Aspek analisis tersebut di antaranya adalah stabilitas statis ketika struktur diletakkan di atas barge yang belum bergerak serta stabilitas dinamis ketika barge ditarik dengan tugboat sehingga menerima beban angin dan gelombang. Kedua analisis tersebut bertujuan untuk memastikan kekuatan dan integritas struktur selama transportasi. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, transportasi topside dan/atau jacket memerlukan struktur pendukung untuk menopang anjungan lepas pantai di atas barge. Struktur tersebut adalah grillage dan sea-fastening yang memberikan dukungan dan meneruskan beban dari struktur ke bagian terkuat barge. Bagian terkuat barge ini merupakan struktur under-deck barge yang terdiri dari rangka baja (webframe) dan pelat baja (bulkhead) arah longitudinal serta transverse. Untuk memastikan barge yang digunakan dalam transportasi anjungan lepas pantai dapat digunakan dengan aman, maka diperlukan pengecekan terhadap kekuatan struktur under-deck barge tersebut (barge under-deck strength check). Pada tugas akhir ini, dilakukan analisis transportasi topside dan jacket tipe empat kaki dengan berpedoman pada API RP 2A-ASD dan DNV GL-ST-N001. Analisis transportasi dilakukan menggunakan software SACS Offshore Structure modul tow dengan trial section pada member grillage dan sea-fastening. Analisis tersebut dikerjakan dengan menggunakan pendekatan konservatif yaitu menempatkan struktur topside dan jacket pada ujung stern atau bow dari barge. Hasil analisis transportasi yaitu member end forces maksimal pada trial section member grillage dan sea-fastening digunakan untuk melakukan desain struktur grillage dan seafastening. Selain itu, layout transportasi diubah untuk menyesuaikan posisi grillage dan sea-fastening pada titik terkuat under-deck barge. Dari member end forces dan layout transportasi tersebut, dilakukan desain penampang grillage dan seafastening. Desain grillage dan sea-fastening pada tugas akhir ini diasumsikan menggunakan penampang yang sama untuk topside dan jacket serta mengacu pada AISC-ASD. Metode desain grillage yang digunakan dengan menyederhanakan penampang grillage sebagai simply supported beam dengan tumpuan struktur rangka under-deck barge terkuat. Jarak antara rangka under-deck barge tersebut menjadi panjang bentang simply supported beam dan penampang beam yang digunakan adalah wide flange. Untuk desain sea-fastening, terdapat tiga tahapan ii yaitu desain penampang tubular untuk sea-fastening, desain gusset plate, dan desain sambungan las. Desain gusset plate dan sambungan las tersebut digunakan untuk sambungan sea-fastening dengan kaki topside atau jacket serta sea-fastening dengan deck pada bagian terkuat. Untuk barge under-deck strength check pada tugas akhir ini, pengecekan kekuatan yang dilakukan adalah pengecekan lokal. Metode pengecekan disederhanakan menjadi simply supported beam dengan underdeck webframe/bulkhead sebagai tumpuan. Hasil UC untuk barge under-deck strength check didapatkan melalui perbandingan gaya vertikal dari grillage dan/atau sea-fastening terhadap kapasitas under-deck webframe/bulkhead. Hasil analisis transportasi yang dilakukan berupa member UC dan joint punching shear memenuhi kriteria API RP 2A-ASD. Nilai terbesar member UC untuk topside dan jacket masing-masing 0.80 dan 0.39 serta nilai terbesar joint punching shear untuk topside dan jacket masing-masing 0.56 dan 0.50. Untuk desain penampang grillage menggunakan wide flange W18x65 didapatkan UC terbesar 0.99 dan penampang sea-fastening menggunakan tubular ø7.5x0.5 dengan UC terbesar 0.43. Untuk desain sambungan didapatkan desain gusset plate menggunakan PL½’’ dengan UC terbesar 0.88 dan las menggunakan las jenis fillet weld 7 ????16’’ elektroda E70 dengan UC terbesar 0.79. Sementara untuk barge under-deck strength check didapatkan nilai UC terbesar 0.51.
EXPERIMENTAL STUDY OF INTEGRATED CO2 ABSORPTION BY KOH AND MINERALIZATION WITH FLY ASH
Pemanfaatan limbah industri seperti abu terbang batubara untuk sekuestrasi CO2 melalui karbonasi mineral merupakan jalur yang menjanjikan untuk penangkapan dan penyimpanan karbon. Studi ini menginvestigasi proses sekuestrasi CO2 terintegrasi menggunakan larutan kalium hidroksida (KOH) 1,0 M untuk absorpsi dan abu terbang batubara untuk mineralisasi. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengamati perilaku proses, menentukan parameter proses yang optimal, serta mengembangkan model siklus penuh dari sistem absorpsi-mineralisasi terintegrasi. Investigasi pada tahap absorpsi semi-batch menggunakan pelarut KOH mengidentifikasi muatan CO2 maksimum sebesar 0,79 mol CO2/mol KOH saat jenuh. Parameter cairan pelarut keluaran absorber yang optimal juga didapatkan pada pH 12, menyeimbangkan efisiensi absorpsi yang tinggi sebesar 90% dengan konsentrasi ion karbonat (CO32-) sebesar 0,364 mol/L untuk mineralisasi. Hal ini tervalidasi melalui eksperimen absorpsi kontinu. Studi parametrik dengan variabel rasio molar Ca/C pada tahap mineralisasi menunjukkan hubungan yang berbanding terbalik antara efisiensi mineralisasi dan efisiensi karbonasi. Efisiensi karbonasi menunjukkan tren yang relatif datar, berfluktuasi dalam rentang sempit 25,5% hingga 32,2% pada semua rasio molar Ca/C. Hal ini disebabkan oleh efek gabungan dari rendahnya aksesibilitas mikrostruktur dan pasivasi permukaan partikel abu terbang. Rasio molar Ca/C optimal didapat pada nilai 3, menghasilkan efisiensi mineralisasi mendekati maksimum sebesar 89,96% serta pH 13.23. Titrasi hidroksida pada filtrat cair dan analisis ion siklus tunggal menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai [OH?] teoretis dan eksperimental pasca-mineralisasi. Diskrepansi ini meningkat seiring dengan peningkatan rasio molar Ca/C dengan nilai perbedaan maksimum sebesar 0,67 M, memerlukan kebutuhan KOH makeup 6,41 kali lebih tinggi dari prediksi teoretis. Hal ini mengindikasikan kehilangan pelarut ireversibel akibat reaksi samping dengan mineral aluminosilikat yang terkandung dalam abu terbang. Analisis ini juga mengidentifikasi akumulasi kalium karbonat (K?CO?) sebagai penyebab utama kejenuhan pada akhirnya. Temuan dari penelitian ini menyediakan parameter-parameter dasar untuk perancangan sistem skala pilot siklus penuh kontinu, dengan proyeksi efisiensi keseluruhan mampu menyekuestrasi 19,5 kg CO2 per ton abu terbang batubara yang dikonsumsi. Penelitian ini mengkonfirmasi kelayakan teknis dari sistem absorpsi-mineralisasi CO2 terintegrasi ini.
POTENSI PLANT-DERIVED EXOSOME-LIKE NANOVESICLE (PDEN) JAHE EMPRIT (ZINGIBER OFFICINALE VAR. AMARUM) DALAM MENGHAMBAT MIGRASI SEL HELA
Kanker Serviks merupakan kanker ganas dengan tingkat mortalitas yang tinggi dan merupakan penyebab kematian kedua pada wanita di dunia. Peningkatan kasus kematian menunjukkan keterbatasan dari metode penanganan yang umum dilakukan. Salah satu keterbatasan dari metode penanganan saat ini adalah ketidakefektifan dalam menghambat penyebaran sel kanker yang bermigrasi dan merusak ke jaringan sehat disekitarnya. Vimentin (VIM) dan Signal Transducer and Activator of Transcription 1 (STAT-1) merupakan gen yang berperan dalam proses Epithelial-Mesenchymal Transition (EMT) pada invasi dan metastasis sebagai salah satu penanda pada sel kanker. STAT-1 bersifat antagonis terhadap VIM karena STAT-1 adalah faktor transkripsi penghambat ekspresi VIM yang menyebabkan penurunan probabilitas sel kanker dalam melakukan migrasi. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, penggunaan Plant-derived Exosome-like Nanovesicle Jahe Emprit (PDEN-JE) menunjukkan kemampuan dalam menurunkan laju migrasi secara tidak langsung pada lini sel kanker serviks HeLa. Namun, potensi PDEN-JE dalam menghambat laju migrasi dengan pemberian secara langsung pada sel kanker serviks masih belum dieksplorasi lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek sitotoksiksitas PDEN-JE, serta kemampuan dalam menghambat laju migrasi pada lini sel kanker serviks HeLa secara in vitro, melalui tingkat ekspresi gen VIM dan STAT-1 yang berperan dalam proses migrasi sel. PDEN didapatkan melalui kombinasi penggunaan metode presipitasi dengan polietilen glikol 6000 (PEG6000), sentrifugasi bertahap dan filtrasi bertahap. Selanjutnya, dilakukan karakterisasi PDEN-JE dengan menggunakan Particle Size Analyzer (PSA) dan Transmission Electron Microscopy (TEM). Hasil yang didapatkan menunjukkan ukuran PDEN sebesar 115.32 ± 10.37 nm dengan morfologi cup shaped. Konsentrasi PDEN dikuantifikasi menggunakan Bradford assay dan didapatkan konsentrasi sebesar 1673.3 ± 38.6 ?g/mL. Uji sitotoksiksitas pada lini sel HeLa dilakukan dengan metode MTT assay yang menunjukkan PDEN-JE memiliki efek sitotoksik pada konsentrasi IC25 sebesar 2.085 ?g/mL; IC50 sebesar 6.742 ?g/mL; dan IC75 sebesar 21.99 ?g/mL secara signifikan (p-value < 0,05). Dari hasil penelitian, didapatkan nilai IC50 PDEN-JE yang dikategorikan ke dalam sitotoksik kuat/potent (IC50 < 30 ?g/mL). Uji internalisasi PDEN pada lini sel HeLa dilakukan dengan menggunakan PKH67 menunjukkan PDEN-JE telah masuk ke dalam sel HeLa pada durasi 45 menit. Analisis tingkat ekspresi gen VIM dan STAT-1 dilihat dengan menggunakan metode RT-qPCR yang menunjukkan penurunan ekspresi gen VIM secara signifikan pada seluruh kelompok perlakuan hingga 0.14-fold dengan nilai p-value < 0.01, serta peningkatan ekspresi gen STAT-1 secara signifikan pada seluruh kelompok perlakuan hingga 7.867-fold dengan nilai p-value < 0.001 dibandingkan kelompok kontrol negatif. Berdasarkan data dan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan, bahwa PDEN-JE memiliki potensi untuk menurunkan viabilitas lini sel HeLa pada konsentrasi IC50 sebesar 6.742 ?g/mL,serta menurunkan ekspresi gen VIM, dan meningkatkan ekspresi gen STAT-1 secara signifikan pada seluruh kelompok perlakuan.
ANALISIS ALIRAN MATERIAL DAN OPTIMALISASI INFRASTRUKTUR PENGELOLAAN SAMPAH REDUCE, REUSE, RECYCLE (3R): STUDI KASUS BANK SAMPAH INDUK, PUSAT DAUR ULANG, DAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH 3R DI KOTA BANDUNG
Pertumbuhan penduduk Kota Bandung yang mencapai 2,5 juta jiwa pada tahun 2024 dengan laju 0,91% per tahun telah memicu peningkatan timbulan sampah hingga rata-rata 1.496,3 ton per hari. Pemerintah Kota Bandung telah berupaya menekan beban TPA Sarimukti melalui pembangunan infrastruktur pengelolaan berbasis konsep 3R, yaitu Bank Sampah Induk (BSI), Pusat Daur Ulang (PDU), dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Meskipun demikian, porsi sampah anorganik yang masih berakhir di TPA tercatat cukup tinggi, yakni 38,7% dari total timbulan dengan dominasi plastik (9,07%) dan kertas (8,45%), sehingga menandakan adanya inefisiensi dalam sistem aliran material. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun paradigma pengelolaan sampah berbasis 3R telah diatur melalui Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 dan ditargetkan untuk mencapai Indeks Kinerja Pengeloalan Sampah (IKPS) sebesar 65 pada tahun 2029, implementasinya di lapangan masih menghadapi kendala teknis, kelembagaan, dan finansial. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan kajian integratif mengenai aliran material dan optimalisasi infrastruktur 3R, yang belum banyak disentuh oleh penelitian sebelumnya. Tujuan penelitian meliputi: (1) menganalisis kondisi eksisting pengelolaan sampah anorganik pada BSI, PDU, dan TPS 3R menggunakan Material Flow Analysis (MFA); (2) mengidentifikasi kesenjangan sistem termasuk residu yang masih berakhir di TPA serta potensi daur ulang yang belum dimanfaatkan; dan (3) menentukan skenario optimalisasi pengelolaan dengan mempertimbangkan aspek teknis, kelembagaan, dan pembiayaan melalui Analytical Hierarchy Process (AHP). Selain itu, penelitian ini juga mencakup rencana penggunaan Life Cycle Costing (LCC) untuk menilai kelayakan finansial dari skenario optimalisasi yang dihasilkan. Data penelitian meliputi data primer berupa wawancara dan observasi pada lokasi penelitian, serta data sekunder dari laporan pengelolaan sampah tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan fokus dan kapasitas pengelolaan antar infrastruktur. BSI dan PDU mengelola sampah anorganik, ii sementara TPS 3R lebih berorientasi pada sampah organik dengan kapasitas terbatas untuk anorganik. Kapasitas olah anorganik tercatat 452,33 ton/tahun di BSI, 3,78 ton/tahun di PDU, dan 365,85 ton/tahun di TPS 3R. Pada ketiga fasilitas tersebut, proses pemilahan dan penyimpanan merupakan aktivitas utama, dengan tambahan pemadatan di PDU apabila mesin berfungsi. Seluruh sampah anorganik hasil pemilahan kemudian dijual ke sektor informal, khususnya bandar, sementara residu tetap dibuang ke TPA. Analisis D-Stock menunjukkan adanya akumulasi material yang tertahan di beberapa fasilitas, seperti BSI Babakan Sari (+24,68 ton/tahun) dan TPS 3R (+540,23 ton/tahun), yang menandakan potensi daur ulang belum sepenuhnya termanfaatkan. Sebaliknya, BSI Sadang Serang menunjukkan D-Stock negatif (-7,64 ton/tahun), yang mencerminkan struktur aliran yang lebih linear. Hasil AHP menegaskan bahwa aspek teknis (0,37) dan pembiayaan (0,36) memiliki bobot lebih dominan dibanding aspek kelembagaan (0,27). Strategi prioritas yang muncul meliputi peningkatan kapasitas pengolahan sesuai dengan volume sampah masuk, penyelarasan teknologi antar fasilitas, penguatan partisipasi masyarakat melalui aturan internal yang jelas, serta penjaminan keberlanjutan sumber pendanaan dengan memadukan APBD, insentif, dan kemitraan swasta. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi sistem 3R di Kota Bandung memerlukan pendekatan integratif yang menggabungkan dimensi teknis, kelembagaan, dan finansial agar mampu menekan residu ke TPA serta meningkatkan nilai ekonomi material daur ulang. Implementasi strategi prioritas diharapkan dapat memperkuat kontribusi BSI, PDU, dan TPS 3R dalam mendukung target pengurangan sampah 30% pada tahun 2025. Lebih lanjut, analisis LCC diharapkan melengkapi kajian dengan memberikan perspektif keberlanjutan finansial sebagai dasar perumusan kebijakan pengelolaan sampah 3R yang lebih komprehensif dan berorientasi jangka panjang.