📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPOTENSI PLANT DERIVED EXOSOME-LIKE NANOPARTICLES (PDEN) DAUN PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA) SEBAGAI AGEN ANTI-PHOTOAGING: STUDI IN VITRO PADA LINI SEL FIBROBLAS 1BR3
Paparan sinar ultraviolet (UV) berlebih memicu akumulasi stres oksidatif dan degradasi kolagen pada sel yang dapat mempercepat penuaan dini. Identifikasi agen yang mampu mengatasi stres oksidatif menjadi krusial dalam pengembangan terapi perawatan kulit. Plant-derived exosome-like nanoparticles (PDEN) kini kian dikaji dalam pengembangan nanokosmetik karena diketahui memiliki biokompatibilitas tinggi dan imunogenisitas yang rendah. Pegagan (Centella asiatica) dikenal akan senyawa bioaktifnya yang terbukti memiliki aktivitas antioksidan dan pro-kolagen yang kuat. Namun, eksplorasi potensi PDEN dari tanaman ini masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi PDEN dari daun pegagan (CA-PDEN) dalam menghambat proses penuaan dini melalui analisis antioksidan dan pro-kolagennya. CA-PDEN diisolasi dari daun pegagan segar melalui metode sentrifugasi bertingkat, presipitasi berbasis polietilen glikol 6000 (PEG6000), dan filtrasi bertahap. Diperoleh total konsentrasi protein isolat sebesar 1203,71 ± 20 ?g/mL berdasarkan Bicinchoninic Acid (BCA) Protein Assay. Karakterisasi isolat dengan particle size analyzer (PSA) dan transmission electron microscope (TEM) menunjukkan morfologi bulat bermembran lipid ganda, berukuran rata-rata 154,17 ± 1,59 nm dengan homogenitas tinggi. Aktivitas antioksidan ekstraseluler melalui uji DPPH menunjukkan bahwa CAPDEN memiliki aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC50 (inhibition concentration) sebesar 43 ?g/mL. Uji sitotoksisitas secara in vitro pada sel 1BR3 dengan uji MTT menunjukkan bahwa CAPDEN tidak bersifat toksik (viabilitas > 70%) hingga konsentrasi 100 ?g/mL. Analisis internalisasi dengan pewarnaan DAPI dan PKH67 menunjukkan akumulasi CA-PDEN di dalam sel setelah 6 jam inkubasi. Pada level seluler, hasil pengukuran kadar reactive oxygen species (ROS) intraseluler dengan pewarna fluoresens (red ROS dye) menunjukkan bahwa pra-inkubasi CA-PDEN (20, 40, dan 100 ?g/mL) mampu menekan kadar ROS intraseluler secara dose-dependent pada sel terinduksi UVB (151 mJ/cm²). Kemudian, analisis restorasi sintesis kolagen tipe 1 melalui imunositokimia mengindikasikan bahwa pra-inkubasi CA-PDEN (40 dan 100 ?g/mL) mampu memulihkan ekspresi kolagen tipe 1 pada sel terinduksi UVB. Validasi secara kuantitatif melalui Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) menunjukkan bahwa pemberian CA-PDEN pada konsentrasi 100 ?g/mL dapat meningkatkan ekspresi kolagen tipe 1 secara signifikan (p < 0,05). Terakhir, evaluasi potensi dalam mendukung regenerasi sel melalui pengamatan scratch assay selama 96 jam mengindikasikan bahwa perlakuan CA-PDEN 100 ?g/mL menunjukkan peningkatan persentase area tutupan luka gores secara signifikan (p < 0,05) pada jam ke-84 dan 96 pengamatan dibandingkan kontrol. Secara keseluruhan, hasil yang diperoleh menunjukkan kemampuan CA-PDEN dalam menekan stres oksidatif, merestorasi sintesis kolagen sel, serta mendukung migrasi sel. Temuan ini menggarisbawahi potensinya sebagai agen anti penuaan dini yang menjanjikan dalam pengembangan nanokosmetik.
IDENTIFIKASI MONSUN DAN INDIAN OCEAN DIPOLE PADA VARIABILITAS CURAH HUJAN DI SUMATERA UTARA DAN SUMATERA SELATAN
Pulau Sumatera memiliki dua rezim iklim yang berbeda akibat posisinya melintasi ekuator. Sumatera Utara bercirikan pola curah hujan bimodal yang dipengaruhi ITCZ, sedangkan Sumatera Selatan menunjukkan pola monomodal yang dikendalikan oleh sirkulasi Monsun Asia–Australia. Perbedaan ini mendorong pertanyaan tentang bagaimana monsun dan Indian Ocean Dipole (IOD) memengaruhi variabilitas curah hujan di kedua wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh monsun dan IOD serta membandingkan kontribusi relatif keduanya pada periode 1991–2020. Data yang digunakan berupa curah hujan bulanan 1991–2020 yang diolah melalui anomaly standardization. Analisis dilakukan menggunakan Continuous Wavelet Transform (CWT) untuk mengidentifikasi periodisitas, Butterworth Bandpass Filter untuk menyoroti sinyal monsun (0,8–1,15 tahun) dan IOD (3–5 tahun), serta Cross Wavelet Transform (XWT) untuk mengkaji keterkaitan curah hujan dengan indeks iklim (DMI dan AUSMI). Selain itu, regresi linier berganda diterapkan untuk mengevaluasi kontribusi relatif kedua indeks terhadap variabilitas curah hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa monsun tahunan merupakan pengendali utama di kedua wilayah, sedangkan IOD berperan pada variabilitas antar-tahunan dengan amplitudo lebih kuat di Sumatera Utara. Analisis XWT memperlihatkan koherensi DMI dengan curah hujan pada periode 2–4 tahun, sementara AUSMI dominan pada skala tahunan. Regresi berganda mengungkapkan bahwa DMI dan AUSMI tidak signifikan di Sumatera Utara (R² = 0,012), tetapi signifikan di Sumatera Selatan (R² = 0.356), dengan DMI berpengaruh negatif dan AUSMI berpengaruh positif. Dengan demikian, Sumatera Utara lebih dipengaruhi dinamika ekuatorial dan variabilitas jangka panjang, sedangkan Sumatera Selatan lebih sensitif terhadap kombinasi IOD dan monsun Australia.
STRATEGI TATA KELOLA KOLABORATIF PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK (STUDI KASUS PROGRAM PPSP DI KOTA TASIKMALAYA)
Pada Tahun 2023, cakupan pelayanan air limbah di Kota Tasikmalaya masih jauh dibawah target RPJMD. Hanya 4,7% penduduk yang memiliki akses aman, 27,8% memiliki akses layak, dan 34,1% masih melakukan BABS. Hal ini menyebabkan penurunan kualitas lingkungan dan ancaman kesehatan masyarakat. Pada periode yang sama, Pemerintah Kota Tasikmalaya menyelenggarakan program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP), yang melibatkan NGO SNV, sektor swasta, lembaga pendidikan, media dan masyarakat dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi praktik kolaborasi yang terjadi sehingga dapat merumuskan strategi tata kelola kolaboratif untuk peningkatan layanan akses air limbah domestik di Kota Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif studi kasus dengan beberapa teknik analisis, diantaranya analisis irisan peran stakeholder, analisis jejaring sosial untuk hubungan stakeholder, dan evaluasi praktik kolaborasi dengan kerangka collaborative governance. Wawancara mendalam dilakukan terhadap 20 informan dari berbagai tingkatan stakeholder yang terlibat. Hasil temuan menunjukan ketidakjelasan distribusi peran, rendahnya hubungan antar stakeholder, dan kriteria collaborative governance yang belum terpenuhi dalam desain kelembagaan serta pemimpin yang fasilitatif saling berkaitan sebagai hambatan dalam kolaborasi program PPSP. Usulan strategi yang bisa diterapkan untuk meningkatkan efektifitas kolaborasi program PPSP melalui: Akselerasi capaian akses air limbah domestik melalui penguatan program berbasis partisipasi masyarakat, formalisasi peran dan mekanisme kolaborasi dalam Peraturan Walikota serta pembentukan kelompok kerja khusus di bidang air limbah domestik. Strategi ini dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah daerah lainnya dalam merancang model tata kelola air limbah domestik yang kolaboratif dan berkelanjutan untuk mendukung kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
IMPLEMENTASI HARDWARE ACCELERATOR PADA ALGORITMA LIFELONG REINFORCEMENT LEARNING DALAM PEMECAHAN MASALAH COVERAGE PATH PLANNING
Coverage path planning merupakan sebuah masalah pemrograman yang biasa digunakan dalam robotika yang mana sebuah agen perlu melintasi seluruh area tempatnya bekerja. Hal ini sering dilakukan untuk melakukan pemetaan atau eksplorasi terutama di area-area yang tidak diketahui strukturnya. Akan tetapi, karena area eksplorasi ini tidak diketahui struktur dan luas areanya, agen yang dipekerjakan dapat memiliki kemampuan pemetaan yang tidak sesuai. Pada penelitian ini, algoritma retracking spiral algorithm dibuat untuk melakukan covergae path planning pada daerah yang tidak diketahui dengan pasti strukturnya. Selain itu, algoritma lifelong reinforcement learning berupa model as partition juga diimplementasikan untuk mengatasi luas area yang tidak diketahui pada environment tempat agen bekerja. Akan tetapi, kedua algoritma ini didasarkan pada model reinforcement learning yang mana memiliki kelemahan dari sisi kecepatan, skalabilitas, dan fleksibilitas. Oleh karena itu, hardware accelerator untuk kedua algoritma ini juga dibuat untuk menghadapi kelemahan-kelemahan tersebut. Berdasarkan hasil yang didapatkan, algoritma retracking spiral algorithm yang diteliti memilik rata-rata nilai coverage ratio sebesar 1.16 dan path efficiency sebesar 0.93 dengan kemampuan untuk melakukan coverage di area yang tidak diketahui. Untuk algoritma model as partition sendiri memiliki rata-rata coverage ratio sebesar 1.37 dan rata-rata path efficiency sebesar 0.78. Ditemukan pula tren kenaikan coverage ratio dan penurunan path efficiency ketika jumlah training dan obstacle naik. Model hardware accelerator yang dibuat juga diimplementasikan pada FPGA PYNQ-Z1 yang mana saat diukur resource utilization dari desain memiliki nilai di bawah 6% kecuali pada BRAM Tile dan memiliki frekuensi maksimum mencapai 142 MHz untuk retracking spiral algorithm dan mencapai 160 MHz untuk model as partition. Speedup antara hardware accelerator. Penelitian ini menunjukkan bahwa algoritma yang dibuat masih memiliki kemungkinan untuk dikembangkan, terutama dari sisi performa dan ukuran arena maksimal yang dapat dipetakan.
STUDI TEKNO EKONOMI PERENCANAAN PLTS TERAPUNG PADA DANAU SINGKARAK KABUPATEN SOLOK PROVINSI SUMATERA BARAT
Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar, dengan intensitas radiasi matahari rata-rata sekitar 4,8 kWh/m² per hari. Perencanaan dan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya merupakan salah satu inisiatif utama pemerintah dalam mendukung visi nasional Indonesia untuk mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2060. Provinsi Sumatera Barat memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar, di mana energi surya menjadi sumber paling menjanjikan dengan estimasi potensi mencapai 5,9 GW. Penerapan teknologi PLTS terapung menjadi salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan dengan memanfaatkan wilayah perairan seperti waduk dan danau sebagai lokasi instalasi. Danau Singkarak, yang merupakan salah satu danau terbesar di Sumatera Barat, menawarkan lokasi yang strategis untuk pengembangan PLTS terapung. Dengan luas permukaan air yang cukup besar, pembangunan PLTS di danau ini tidak hanya mengurangi kebutuhan akan lahan darat, tetapi juga memberikan manfaat tambahan seperti mengurangi laju penguapan air dan membantu menjaga kelestarian ekosistem di sekitarnya. Untuk mengoptimalkan implementasi proyek PLTS terapung di Danau Singkarak, Sumatera Barat, telah diajukan tiga skenario dengan kapasitas terpasang yang berbeda, yaitu: Skenario 1 dengan kapasitas 118 MWp/93 MW, Skenario 2 dengan kapasitas 239 MWp/186 MW, dan Skenario 3 dengan kapasitas 357MWp/277 MW. Studi teknis dan ekonomis secara menyeluruh dilakukan untuk menganalisis ketiga skenario tersebut. Berdasarkan hasil simulasi menggunakan PVsyst terhadap ketiga skenario yang direncanakan, skenario tiga menghasilkan produksi energi tertinggi, yaitu sebesar 483.785.295 kWh, dengan nilai performance ratio mencapai 81% dan juga Berdasarkan hasil simulasi analisis keekonomian menggunakan aplikasi PVsyst, skenario 3 menunjukkan hasil paling optimal. Skenario ini memiliki nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp 733.424.366.361, dengan Payback Period (PP) selama 11,2 tahun, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 12,91%, Return on Investment (ROI) sebesar 21,1%, serta Levelized Cost of Electricity (LCoE) sebesar Rp 824,36/kWh. Akan tetapi, pada saat dilakukan simulasi ramp down dan ramp up pada DIgSILENT dengan penurunan daya 80%, frekuensi turun lebih jauh ke 49,18 Hz, dan pada ramp down 100%, tercatat penurunan maksimum hingga 49,05 Hz. Pada saat disimulasikan pada kondisi ramp down dan ramp up kembali dengan 80% dan 100%, DIgSILENT membaca ada ketidakstabilan sistem pada sistem Sumatera dikarenakan terjadinya beberapa GI trip melepaskan beban dengan kondisi relay UFR bekerja yang disebabkan kondisi frekuensi mencapai 49,18 Hz dan 49,05 Hz. Hasil analisis menunjukkan bahwa Skenario 2 merupakan pilihan terbaik karena menghasilkan energi lebih besar dibandingkan Skenario 1, yaitu sebesar 323.974.764 kWh. Dari sisi keekonomian, skenario ini juga menunjukkan hasil yang unggul, dengan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp 488.592.823.565, Payback Period (PP) selama 11,2 tahun, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 12,89%, Return on Investment (ROI) sebesar 20,9%, serta Levelized Cost of Electricity (LCoE) sebesar Rp825,21/kWh lebih baik dibandingkan nilai-nilai keekonomian pada Skenario 1. Dari hasil simulasi sistem, Skenario 2 juga menunjukkan kinerja yang andal. Sistem tetap stabil meskipun dilakukan simulasi ramp down dan ramp up dalam kondisi terburuk, yakni ketika seluruh produksi energi (100%) hilang secara tiba-tiba. Dalam kondisi ini, frekuensi terendah yang tercatat adalah 49,31 Hz, dan tidak menyebabkan ketidakstabilan sistem. Hal ini berbeda dengan Skenario 3, yang pada simulasi ramp down dan ramp up sebesar 80% dan 100% justru memicu ketidakstabilan sistem yang berakibat beberapa Gardu Induk (GI) mengalami trip karena bekerja nya proteksi Under Frequency Relay (UFR). Sebagai tambahan objek penelitian, dilakukan simulasi kestabilan sistem terhadap PLTS terapung dengan kapasitas sebesar 50% dari total kapasitas pembangkit fosil di Sumatera Barat, yaitu sebesar 227 MW, menggunakan aplikasi DIgSILENT. Hasil simulasi ramp down dan ramp up pada tingkat penurunan daya 20%, 50%, 80%, dan 100% menunjukkan bahwa sistem masih dalam kondisi stabil untuk penurunan daya sebesar 20% (frekuensi 49,81 Hz), 50% (49,59 Hz), dan 80% (49,32 Hz). Namun, saat dilakukan simulasi ramp down dan ramp up sebesar 100%, terjadi trip pada beberapa Gardu Induk (GI) akibat terjadinya penurunan frekuensi hingga 49,18 Hz, yang memicu aktifnya proteksi UFR (Under Frequency Relay).
ANALISIS KOMPARATIF SAGA CHOREOGRAPHY DAN SAGA ORCHESTRATION PADA EVENT-DRIVEN MICROSERVICES BERBASIS EVENT SOURCING UNTUK SISTEM E-COMMERCE
Pertumbuhan pengguna e-commerce global yang mencapai 2,77 juta pada tahun 2025 dengan proyeksi 2,86 juta di tahun 2026 dan adopsi arsitektur microservices oleh 85% perusahaan e-commerce enterprise secara global memunculkan tantangan baru dalam mengelola konsistensi data pada transaksi terdistribusi. Meskipun saga pattern telah dikenal sebagai solusi teoritis, kajian empiris yang membandingkan efektivitas pendekatan saga choreography dan saga orchestration dalam konteks e-commerce dan penerapan event sourcing masih terbatas. Penelitian ini menganalisis perbandingan kinerja antara saga choreography dan saga orchestration pada implementasi event-driven microservices dengan pendekatan event sourcing untuk sistem e-commerce. Implementasi menggunakan domain order, inventory, dan payment dengan fokus pada koordinasi terdistribusi versus terpusat. Pengujian fungsional memverifikasi pemenuhan kebutuhan sistem, sedangkan pengujian nonfungsional menganalisis lima metrik, yaitu response time, throughput, success rate, eventual consistency delay, dan CPU usage pada beban 50-6400 virtual users. Hasil menunjukkan saga choreography unggul pada beban rendah dengan response time P50 85-145ms, tetapi mengalami degradasi drastis (P95 2000ms) pada beban tinggi. Saga orchestration menunjukkan kinerja yang lebih baik pada beban tinggi dengan throughput maksimal 4200 sagas/s, success rate 92.5%, eventual consistency 2.2 kali lebih cepat (0.17s vs 0.39s), dan CPU usage yang linear (48-76%). Saga choreography memiliki titik awal CPU rendah (35%), tetapi pertumbuhan eksponensial hingga 102%. Penelitian menyimpulkan bahwa saga choreography optimal untuk sistem skala kecil-menengah (<1600 VUs) dengan efisiensi resources, sedangkan saga orchestration lebih sesuai untuk enterprise dengan traffic tinggi (>3200 VUs) yang memerlukan reliability tinggi.
SISTEM INFORMASI NUTRISI DENGAN PENGENALAN GAMBAR MAKANAN BERBASIS CNN PADA PLATFORM SMART CANTEEN (STUDI KASUS: ITB GANESHA)
Kesadaran akan pentingnya informasi nutrisi di lingkungan kampus ITB terus meningkat, namun akses terhadap informasi tersebut masih terbatas. Penelitian ini, dengan menggunakan pendekatan Design Science Research Methodology (DSRM), bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan sebuah modul informasi nutrisi yang dapat diintegrasikan ke dalam platform Smart Canteen ITB Ganesha. Modul ini memanfaatkan arsitektur CNN custom dengan pendekatan klasifikasi dua tahap untuk menyediakan estimasi nutrisi secara otomatis dari gambar makanan. Tahap pertama adalah model deteksi makanan (biner), diikuti oleh model klasifikasi jenis makanan (multi-kelas). Sistem ini diimplementasikan menggunakan arsitektur three-tier yang terdiri dari React Native (frontend), Node.js (backend), dan TensorFlow.js untuk inferensi model. Model dilatih menggunakan dataset custom yang terdiri dari 12.203 gambar (11 kelas makanan dan 1 kelas non-makanan). Informasi nutrisi yang disajikan merupakan estimasi yang didasarkan pada data referensi dari Tabel Komposisi Pangan Indonesia dan USDA FoodData Central. Hasil evaluasi menunjukkan performa model yang sangat baik. Model tahap pertama mencapai akurasi 92,7% dengan AUC 0,979 untuk deteksi makanan, sementara model tahap kedua mencapai akurasi 84,36% untuk klasifikasi jenis makanan. Pengujian fungsional memvalidasi bahwa seluruh fitur inti sistem berjalan sesuai rancangan. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa pendekatan CNN bertingkat yang dirancang secara custom merupakan solusi yang efektif dan layak secara teknis untuk mengidentifikasi makanan dan menyajikan informasi nutrisi secara otomatis dalam ekosistem kantin kampus.
ANALISIS PERBANDINGAN PERFORMA FEDERATED LEARNING DENGAN CENTRALIZED LEARNING PADA MODEL MULTI-LAYER PERCEPTRON UNTUK PREDIKSI BIAYA MEDIS
Federated Learning adalah bentuk pembelajaran mesin terdesentralisasi yang merupakan alternatif yang lebih baik secara privasi karena sifat pembelajaran mesin yang melatih model secara lokal tanpa perlu ada perpindahan data ke server pusat. Pembaruan model kemudian dikirim ke server, sehingga proses pembelajaran tidak terpusat di satu titik saja. Multi Layer Perceptron (MLP) merupakan salah satu model kompleks yang fleksibel dan dapat digunakan dalam pembelajaran mesin untuk prediksi data bertipe regresi. Buku ini akan membahas perbandingan pelatihan model prediksi MLP dengan pendekatan Centralized Learning dan Federated Learning berdasarkan metrik performa seperti R 2 , MAE, MSE, RMSE dan kemampuannya dalam memprediksi biaya medis. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah Federated Learning, dengan segala kelebihannya seperti tidak perlu adanya perpindahan data untuk pembelajaran yang terpusat, dapat menggantikan Centralized Learning dalam segi performa untuk kepentingan bisnis. Hasil dari percobaan yang dibuat adalah, Federated Learning masih belum dapat menggantikan Centralized Learning dalam sisi performa. Hal ini tentunya kurang baik diimplementasikan dalam ranah bisnis seperti bisnis asuransi, karena estimasi biaya yang tidak akurat akan sangat memengaruhi biaya premi yang ditetapkan kepada calon pelanggan. Penulis berkesimpulan bahwa model yang dilatih dengan Federated Learning belum mampu menjadi alternatif bagi Model yang dilatih dengan Centralized Learning, dan perlu adanya optimisasi lebih lanjut atau eksplorasi dengan model lain yang lebih kuat dan kompleks. Penulis juga menyarankan agar calon peneliti hendaknya memiliki pengetahuan yang tinggi mengenai pembelajaran mesin, agar dapat membuat desain model yang lebih baik dan mendapatkan hasil yang lebih valid dari penulis.
PENGEMBANGAN WEARABLE SENSOR BERBASIS MIKROKONTROLER DAN MACHINE LEARNING UNTUK KLASIFIKASI ABNORMAL GAIT: STUDI KASUS PADA DATASET PASIEN PARKINSON
Penyakit Parkinson merupakan gangguan neurodegeneratif yang memengaruhi sistem motorik, khususnya pola berjalan (gait). Abnormalitas gait menjadi indikator penting untuk mendeteksi dan menilai tingkat keparahan penyakit. Instrumen konvensional seperti motion capture dan gait analysis system dinilai kurang praktis karena biaya tinggi dan keterbatasan mobilitas. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem wearable sensor berbasis mikrokontroler ESP32 dengan sensor tekanan FSR, serta membangun pipeline analisis gait berbasis machine learning untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan tingkat abnormal gait pada pasien Parkinson. Sistem terdiri atas empat subsistem utama, yaitu: (1) catu daya berbasis baterai LiPo 3,7 V dengan modul step-up; (2) sensor berupa tiga FSR yang ditempatkan pada area tumit, tengah telapak, dan ujung kaki; (3) unit pemrosesan berbasis ESP32 Devkit V4 dengan komunikasi UDP; serta (4) antarmuka perangkat lunak untuk akuisisi dan analisis data. Data gait diproses melalui digital filtering, segmentasi berdurasi 5 detik, dan ekstraksi 20 fitur statistik maupun kinematik. Hasil pengujian menunjukkan perangkat mampu merekam sinyal gait dengan konsistensi yang baik, dengan coefficient of variation (CV) fitur utama pada rentang 2,7–6,8%. Model machine learning terbaik diperoleh dari algoritma Random Forest, yang setelah dilakukan remapping label H&Y menjadi tiga kelas (normal gait: H&Y 0 & 2, mild abnormal gait: H&Y 2,5, medium abnormal gait: H&Y 3) menghasilkan akurasi validasi 84% dan akurasi pengujian 81,6%, dengan nilai precision, recall, dan F1-score konsisten di atas 80%. Analisis confusion matrix menunjukkan tantangan utama dalam membedakan kelas normal dan mild, yang dapat dijelaskan oleh kesamaan profil gait pada H&Y 0–2. Pada pengujian langsung dengan 10 subjek sehat, sebagian besar prediksi mengarah ke kelas normal, meskipun beberapa masih terklasifikasi sebagai mild, yang menandakan potensi perbaikan melalui perluasan dataset dan optimasi sensor. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa sistem wearable berbasis ESP32 mampu menangkap parameter gait secara stabil dan valid, serta mendukung klasifikasi tingkat abnormal gait menggunakan machine learning. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi perangkat sederhana dengan pipeline analisis yang komprehensif, sementara kontribusinya adalah menyediakan dasar pengembangan perangkat portabel, ekonomis, dan potensial untuk digunakan dalam monitoring progresivitas Parkinson di luar laboratorium klinis.
EVALUASI PROTOTIPE MODUL PELATIHAN KESELAMATAN BERBASIS VIRTUAL REALITY (VR) TERKAIT PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG MATA PADA PEKERJA MANUFAKTUR
Keselamatan kerja merupakan aspek yang sangat penting untuk diperhatikan pada industri manufaktur yang memiliki berbagai jenis risiko bahaya dan kecelakaan. Salah satu bentuk pencegahan yang dilakukan adalah dengan melakukan pelatihan keselamatan. Kendala yang dihadapi saat ini adalah masih terbatasnya media penyampaian dari pelatihan keselamatan yang sering kali belum cukup representatif dan menggambarkan situasi nyata. PT Motiolabs Digital Indonesia sebagai perusahaan pengembang perangkat lunak dan teknologi digital berusaha menjawab tantangan tersebut dengan mengembangkan pelatihan keselamatan berbasis virtual reality untuk para pekerja manufaktur. Pelatihan keselamatan yang dilakukan dikembangkan saat ini berupa prototipe pelatihan keselamatan terkait penggunaan alat pelindung mata pada pekerja manufaktur. Penelitian dilakukan untuk mengukur efektivitas prototipe pelatihan keselamatan berbasis virtual reality dan dibandingkan dengan pelatihan keselamatan berbasis video. Penelitian juga mengukur tingkat usability prototipe serta mengukur beban kerja mental pengguna saat menjalani pelatihan keselamatan berbasis virtual reality. Penelitian terdiri dari evaluasi prototipe modul keselamatan yang dilakukan berdasarkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Evaluasi dilakukan dengan eksperimen between-subject pada 24 responden dengan 12 responden pada setiap kelompok. Kelompok pertama mendapatkan pelatihan keselamatan berbasis virtual reality sementara kelompok kedua mendapat pelatihan keselamatan berbasis video. Kedua kelompok responden mendapatkan pelatihan keselamatan tentang penggunaan alat pelindung mata pada lingkungan manufaktur. Dilakukan pengukuran performansi, beban kerja mental, dan penilaian tingkat usabaility pada setiap responden. Performansi diukur dengan pengerjaan pre-test dan post-test oleh responden. Beban kerja mental diukur secara subjektif menggunakan NASA-RTLX dan secara objektif menggunakan Heart Rate Variability (HRV). Usability diukur secara kualitatif menggunakan Retrospective Thinking-Aloud (RTA) dan secara kuantitatif dengan kuesioner System Usability Scale (SUS) dan kuesioner Virtual Reality System Usability Questionnaire (VRSUQ). Penelitian mengungkapkan bahwa metode pelatihan berbasis VR dan video tidak memiliki perbedaan signifikan dalam hal performansi responden. Sementara pada aspek beban kerja mental, responden dengan metode pelatihan berbasis VR terbukti mengalami tingkat stres dan beban kerja mental yang lebih tinggi. Pada pengukuran usability tidak ditemukan perbedaan signifikan pada tingkat usability kedua metode. Berdasarkan temuan pada penelitian yang telah didukung pengujian secara statistik tersebut, perlu dilakukan evaluasi usability pada metode pelatihan VR untuk memberikan pengalaman usability dan tingkat performansi yang lebih baik. Kemudian disusun 11 rancangan perbaikan yang disusun berdasarkan hasil kuesioner usability serta masukan partisipan pada RTA. Perbaikan yang dirancang juga disusun dengan mempertimbangkan usability heuristic.
EVALUASI SKEMA PARAMETERISASI KUMULUS DAN MIKROFISIKA DALAM MODEL WEATHER RESEARCH AND FORECASTING (WRF) TERHADAP AKTIVITAS PETIR DI BANDUNG (STUDI KASUS: 10 FEBRUARI 2024)
Kejadian petir di wilayah tropis seperti Bandung merupakan indikator penting dari aktivitas konvektif yang kompleks dan sulit diprediksi. Akurasi simulasi petir dalam model numerik sangat bergantung pada pemilihan parameterisasi fisik, khususnya skema konveksi dan mikrofisika. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kombinasi skema parameterisasi tersebut dalam mensimulasikan kejadian petir pada 10 Februari 2024 menggunakan model Weather Research and Forecasting (WRF). Simulasi dilakukan dengan enam kombinasi skema parameterisasi dan konfigurasi domain bertingkat (9 km, 3 km, 1 km). Evaluasi dilakukan terhadap enam parameter meteorologis: SBCAPE, Lifted Index, K-Index, vertical velocity, equivalent potential temperature (??), dan Ice Mixing-Ratio (QICE). Data petir diperoleh dari Lightning Detector dan dianalisis menggunakan regresi OLS, Ridge, dan Lasso setelah transformasi logaritmik dilakukan untuk memenuhi asumsi normalitas. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi Betts-Miller-Janjic dan WSM6 (BMWSM) memberikan performa terbaik dalam semua model regresi, dengan nilai koefisien determinasi (R²) tertinggi dan galat kuadrat rata-rata (RMSE) terendah. Sebaliknya, kombinasi Grell-Devenyi dan WSM6 menunjukkan performa terendah. Temuan ini menegaskan pentingnya pemilihan skema parameterisasi yang sesuai dalam meningkatkan kualitas simulasi kejadian petir untuk mendukung sistem peringatan dini cuaca ekstrem.
USULAN INTERVENSI BERDASARKAN ANALISIS INTENSI DAN PERILAKU SCRAMBLING PENGENDARA SEPEDA MOTOR INDONESIA
Kecelakaan lalu lintas di Indonesia merupakan isu krusial dalam manajemen sistem transportasi yang mengakibatkan kerugian jiwa dan ekonomi secara signifikan. Pusiknas Polri mencatat bahwa tingginya angka kecelakaan lalu lintas didominasi oleh sepeda motor sebanyak 76,42% dari total seluruh kendaraan yang terlibat per tahunnya. Penyebab utama terjadinya kecelakaan diakibatkan oleh faktor manusia sebanyak 81,72% yang dapat terwujud dalam bentuk perilaku berkendara berisiko. Salah satu bentuk perilaku berisiko yang umum ditemukan namun istilahnya belum umum dikenal adalah scrambling. Scrambling berkaitan dengan tindakan memperebutkan hak melintas dengan pengguna jalan lain di jalan raya. Mengingat adanya urgensi peningkatan keselamatan lalu lintas serta keterbatasan kajian ilmiah di Indonesia terkait perilaku yang umum dilakukan masyarakat, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap intensi dan perilaku pengendara sepeda motor dalam melakukan scrambling di jalan raya Indonesia dan merancang usulan berdasarkan faktor yang berpengaruh secara signifikan pada intensi dan perilaku tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 415 responden di Indonesia yang merupakan pengendara sepeda motor dengan status Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki pengalaman mengendarai sepeda motor setidaknya satu tahun lamanya. Data yang dihasilkan melalui kuesioner kemudian diolah menggunakan metode PLS-SEM. Konstruk dan indikator kuesioner yang digunakan mengacu pada model modifikasi Theory of Planned Behavior yang mencakup attitude, subjective norm, perceived behavioral control, behavior intention, serta behavior yang terbagi menjadi dua tipe, yaitu behavior towards other vehicles dan behavior towards pedestrians. Hasil penelitian menunjukkan bahwa attitude, subjective norm, dan perceived behavioral control berpengaruh secara signifikan terhadap intensi pengendara sepeda motor Indonesia dalam melakukan scrambling di jalan raya. Hasil analisis ini menjadi input perancangan usulan dalam beberapa bentuk, yaitu media komunikasi audiovisual, edukasi keselamatan lalu lintas, driver training, serta traffic enforcement. Usulan ini diharapkan dapat menurunkan intensi scrambling pengendara sepeda motor sebagai upaya peningkatan keselamatan lalu lintas Indonesia.
MENEMUKAN & MENGHIDUPKAN KEMBALI RUANG KOTA YANG HILANG: EKSPLORASI PENDEKATAN SISTEMATIS UNTUK MEREGENERASI LOST SPACE
Lost space adalah ruang yang kehilangan fungsi dan makna, sering ditemukan di bawah infrastruktur seperti jalan layang. Banyak upaya penataan fisik tidak berhasil mengubahnya menjadi tempat yang aktif dan bertahan karena pendekatan yang digunakan cenderung perbaikan visual, serta tidak people-centered, dan belum didukung metode perancangan yang sistematis berbasis pengguna. Penelitian ini bertujuan menyusun pendekatan sistematis untuk meregenerasi lost space, mengujinya di koridor bawah Jalan Layang Pasupati sebagai laboratorium studi, lalu menyempurnakannya menjadi versi akhir yang dinamai 4R+4M. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, behavior mapping, dan kuesioner kognisi– persepsi–preferensi, dengan sampel segmen yang mewakili empat tipologi: unused, underutilized, neglected, dan abandoned. Hasil penelitian berupa alur sistematis yang terdiri dari tahapan deliniasi–diagnosis, klasifikasi tipologi, pemetaan perilaku, serta analisis kognisi–persepsi–preferensi untuk menghasilkan arahan regenerasi yang kontekstual. Instrumen yang disusun dinilai jelas dan dapat digunakan oleh praktisi, sehingga pendekatan awal disempurnakan menjadi 4R+4M yang memadukan tahapan regenerasi fisik dan pengelolaan berkelanjutan. Penelitian ini berkontribusi pada praktik regenerasi dengan menghadirkan pendekatan yang dapat digunakan secara universal, sehingga mendukung kota-kota menjadi lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghidupkan kembali lost space.
DESAIN DAN ANALISIS IN-SERVICE DAN UPENDING STRUKTUR ANJUNGAN LEPAS PANTAI TIPE JACKET EMPAT KAKI DI LAUT UTARA JAWA
Untuk meningkatkan minyak dan gas bumi yang berada di perairan Indonesia dengan cadangan minyak dan gas bumi sebesar 70% dengan pemanfaatan yang baru di angka 10%, Kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di perairan Indonesia harus ditingkatkan. Untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi ini, diperlukannya kesiapan dari infrastruktur pendukungnya. Untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di lepas pantai, diperlukan struktur anjungan lepas pantai. Struktur anjungan lepas pantai yang akan beroperasi di laut lepas ini akan menerima beban yang sangat besar baik dari lingkungan atau pun beban peralatan yang terpasang. Oleh karena itu, pada tugas akhir ini dilakukan proses desain dari struktur anjungan lepas pantai untuk memastikan kekuatan dari struktur anjungan lepas pantai ketika beroperasi melalui tahapanan analisisi in-service yakni in-place, seismic, dan juga fatigue. Selain itu, struktur anjungan lepas pantai yang dirancang juga harus dipastikan kekuatannya ketika proses instalasi berlangsung. Oleh sebab itu, di tugas akhir ini juga dilakukan pengecekan analisis jacket upending untuk meninjau kekuatan struktur jacket ketika diinstalasi di lokasi yang ditentukan. Dari hasil yang diperoleh, baik untuk analisis in-service dan juga analisis jacket-upending, struktur dalam kondisi yang aman dan kuat ketika menerima berbagai pembebanan yang bekerja pada struktur. Dari hasil analisis in-place, nilai maksimum untuk paramater member UC sebesar 0.91 untuk kondisi operating dan 0.87 untuk kondisi storm. Kemudian untuk analisis jacket upending juga sudah memenuhi kriteria member UC maksimum di bawah 1, yakni sebesar 0.84 untuk connected member dan 0.70 untuk nonconnected member.
PENERAPAN METODE HAZARD AND OPERATION (HAZOP) UNTUK PENENTUAN SAFETY INTEGRITY LEVEL (SIL) PADA PLTP ULUMBU UNIT 1 DAN UNIT 2
Studi ini membahas mengenai pengamanan risiko pada tahap produksi di PLTP menggunakan metode Hazard and Operability Study (HAZOP) dan Safety Integrity Level (SIL) secara mendetail. Penelitian ini memberikan alternatif acuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya pada proses operasional PLTP menggunakan metode tersebut dan menerapkannya menggunakan studi kasus pada PLTP Ulumbu Unit 1 dan 2. Analisis dilakukan terhadap delapan node utama yang merepresentasikan PLTP tersebut, mulai dari steam gathering, demister, turbin & generator, lube oil system, hingga auxiliary cooling system. Evaluasi risiko dilakukan melalui pendekatan risk matrix yang menggabungkan parameter severity dan likelihood. Studi menunjukkan bahwa dari seluruh node, steam gathering, turbin & generator, dan lube oil system memiliki tingkat risiko dengan skor medium risk (6-9), Demister memiliki skor high risk (10) dan Auxilarry Cooling System dengan skor low risk (4). Penilaian SIL menunjukkan bahwa sebagian besar node berada pada tingkat SIL 1–2, sementara node 2 dan 3 pada sistem demister menunjukkan nilai SIL 0 yaitu pada point 2.1.1 dan 3.1.1 dengan nilai PFDavg sebesar 0,103. Hal ini menunjukan adanya kesenjangan proteksi, terutama pada sistem pembuangan air pada demister yang berpotensi menyebabkan carryover uap basah ke dalam turbin. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan rekomendasi perbaikan yang sudah sesuai dengan standar internasional berupa penambahan satu aktuator dan satu sensor flow switch pada saluran drainase Demister Unit 1, serta penyesuaian logika kontrol menjadi arsitektur 1oo2. Hasil simulasi ulang menunjukkan penurunan PFDavgloop menjadi 0,0095, sehingga meningkatkan nilai SIL dari 0 menjadi SIL 2 yang telah sesuai dengan target level SIL. Dengan penggunaan pedoman HAZOP dan SIL ini, dapat menja untuk mengidentifikasi risiko yang signifikan, tetapi juga menyusun langkah-langkah mitigasi yang konkret dan terukur. Dari pedoman yang di propose dalam penelitian ini dapat menjadi acuan dalam implementasi HAZOP dan SIL di industri Geothermal. Selain itu, hasil perhitungan SIL dapat dijadikan rujukan penting dalam evaluasi dan pengembangan sistem keselamatan di fasilitas pembangkit panas bumi lainnya di Indonesia, yang memiliki karakteristik proses serupa.