📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenDESAIN DAN ANALISIS JACKET UPENDING PADA ANJUNGAN LEPAS PANTAI TIPE JACKET EMPAT KAKI
Perbedaan antara produksi minyak dengan kebutuhan minyak yang lebih tinggi di Indonesia membuat diperlukannya peningkatan proses eksplorasi dan produksi minyak di Indonesia terutama di sektor lepas pantai agar kebutuhan nasional dapat terpenuhi. Untuk mendukung proses ini maka diperlukan infrastruktur yang memadai yang salah satunya adalah anjungan lepas pantai. Lautan Indonesia yang termasuk dalam kriteria laut dangkal sehingga membuat struktur anjungan lepas pantai tipe jacket yang termasuk dalam tipe tetap menjadi pilihan. Pada Tugas Akhir ini dilakukan pemodelan dan analisis anjungan lepas pantai tipe jacket empat kaki. Analisis yang dilakukan adalah analisis in-service yang berisikan analisis in-place, analisis seismik, dan analisis fatigue dengan tujuan untuk memastikan keamanan struktur selama masa operasi yang seluruh analisis ini berdasarkan standar API RP 2A WSD 21st Edition dan apabila terjadi kegagalan maka harus dilakukan optimasi struktur. Kemudian dilakukan juga analisis jacket upending untuk mengetahui kekuatan struktur jacket dan skema jacket upending yang sesuai selama proses instalasi struktur jacket tersebut. Analisis jacket upending ini mengacu pada standar API RP 2A WSD 21st Edition dan DNV STN001. Hasil analisis in-service secara keseluruhan telah memenuhi kriteria standar yang digunakan dan pada analisis jacket upending telah didapatkan konfigurasi lifting dan tahapan upending yang sesuai dengan standar yang digunakan akan tetapi pada tahapan upending diperlukan dua internal ring stiffener pada 2 joint agar kriteria joint punching shear dapat terpenuhi.
DESAIN GEDUNG 10 LANTAI DI JAKARTA DENGAN KATEGORI RISIKO TINGGI MENGGUNAKAN SISTEM GANDA
Tugas akhir ini berfokus pada perancangan bangunan gedung 10 lantai yang terletak di Jakarta dengan mengadopsi sistem ganda (dual system), yang menggabungkan konsep dari Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan kekakuan Sistem Dinding Struktural Khusus (SDSK). Gedung ini dikategorikan memiliki risiko tinggi karena fungsinya sebagai pusat kesiapsiagaan darurat, yang harus tetap beroperasi optimal bahkan setelah terjadi bencana besar. Seluruh proses perancangan ini berlandaskan pedoman dan standar yang ketat, termasuk SNI 1726:2019, SNI 1727:2020, dan SNI 2847:2019. Proses desain dimulai dengan pemodelan struktur menggunakan perangkat lunak ETABS, diikuti serangkaian analisis untuk memastikan kepatuhan terhadap standar tahan gempa. Tahapan ini mencakup penentuan beban, pengecekan ketidakberaturan, dan pemeriksaan stabilitas struktur. Puncaknya, analisis non-linear (pushover) dilakukan untuk mengevaluasi kinerja gedung saat menghadapi gempa. Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa bangunan ini mencapai level kinerja Immediate Occupancy untuk gempa desain, yang berarti struktur dan fungsi esensialnya tetap utuh dan siap digunakan pasca-gempa. Dengan demikian, perancangan ini berhasil memenuhi semua kriteria dan tujuan untuk memastikan keselamatan dan keberlangsungan fungsi bangunan di tengah kondisi darurat.
PENGEMBANGAN PRODUKSI ENZIM PETASE MUTAN PADA BAKTERI REKOMBINAN ESCHERICHIA COLI STRAIN SCM 6 ?LPP
Limbah plastik, khususnya polyethylene terephthalate (PET), merupakan limbah yang paling berkontribusi dalam pencemaran lingkungan akibat sifatnya yang sangat resisten terhadap degradasi alami. Enzim PETase (polietilen tereftalat hidrolase) merupakan enzim yang memiliki kemampuan untuk menghidrolisis plastik PET menjadi monomer penyusunnya, Enzim ini pertama kali ditemukan pada bakteri Ideonella sakaiensis. Salah satu penelitian yang telah dilakukan sebelumnya adalah mengekspresikan PETase mutan dalam sistem ekspresi Escherichia coli BL21 (DE3). Namun, sebagian besar protein tertahan dalam fraksi intraseluler yang tidak larut (insoluble). Oleh karena itu, pada penelitian ini mengeksplorasi sistem ekspresi alternatif, yaitu Escherichia coli strain SCM6 ?lpp, yang memiliki delesi pada gen lpp untuk meningkatkan permeabilitas membran luar untuk meningkatkan sekresi enzim ke fraksi ekstraseluler. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonstruksi plasmid, menguji ekspresi gen PETase mutan pada E. coli SCM6 ?lpp, dan optimasi ekspresi enzim. Konstruksi plasmid ekspresi yang membawa gen PETase mutan dilakukan dengan metode Gibson Assembly, selanjutnya ditransformasikan ke E. coli TOP10 untuk amplifikasi, kemudian ke E. coli SCM6 ?lpp sebagai inang ekspresi. Keberadaan gen target PETase dikonfirmasi dengan PCR dan sekuensing DNA. Ekspresi enzim PETase mutan dianalisis menggunakan SDS-PAGE dan uji aktivitas enzim terhadap substrat p-nitrofenil butirat (PNPB). Optimasi ekspresi dilakukan terhadap konsentrasi IPTG (0; 0,25; 0,5; 1 mM) pada suhu 24 °C, dilanjutkan dengan variasi waktu inkubasi (8, 12, 18, dan 24 jam). Fraksi ekstraseluler dari kondisi terbaik kemudian dipurifikasi menggunakan kolom Ni-NTA. Aktivitas enzim hasil purifikasi diuji terhadap PET film, dan dianalisis menggunakan mikroskop elektron (SEM). Hasil dari penelitian ini, plasmid rekombinan berhasil dikonstruksi dan ditransformasikan ke E. coli SCM6 ?lpp. Optimasi konsentrasi IPTG menunjukkan bahwa 0,5 mM menghasilkan aktivitas tertinggi pada fraksi ekstraseluler dengan aktivitas 58 unit/mL enzim dan menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan 0 mM dan 0,25 mM (p < 0,05). Pada optimasi waktu induksi, aktivitas enzim pada 24 jam menunjukkan aktivitas tertinggi secara signifikan (p < 0,05) yaitu mencapai 78 unit/mL enzim pada fraksi ekstraseluler. Purifikasi protein menggunakan kolom Ni-NTA menunjukkan efisiensi yang rendah. Namun demikian, uji aktivitas terhadap substrat PET film menunjukkan adanya aktivitas degradasi yang jelas pada PET murni, PET crude, dan flowthrough, sedangkan kontrol negatif tidak menunjukkan aktivitas. Dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menunjukkan E. coli SCM6 ?lpp memiliki potensi sebagai sistem ekspresi alternatif untuk produksi enzim PETase mutan, dan optimasi konsentrasi IPTG dan waktu inkubasi menghasilkan peningkatan ekspresi dan aktivitas enzim, terutama pada fraksi ekstraseluler.
PENGARUH SUBSTITUSI AZOLLA PINNATA SEBAGAI PAKAN UTAMA TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA VAR. NIRWANA (OREOCHROMIS NILOTICUS) DAN KUALITAS AIR PEMELIHARAAN DALAM SISTEM RESIRKULASI
Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan yang banyak digemari masyarakat karena memiliki rasa yang khas, daging berwarna putih, dan tidak memiliki banyak duri. Selain gemar dikonsumsi, ikan nila juga memiliki prospek budidaya yang baik karena relatif resisten terhadap kualitas air dan penyakit. Namun salah satu permasalahan yang cukup sering mempengaruhi kegiatan budidaya ikan nila adalah faktor biaya yang umumnya berasal dari pakan. Untuk mengatasinya, diperlukan alternatif pakan dengan harga yang lebih murah, namun tetap dapat memenuhi standar kebutuhan nutrisi ikan nila. Salah satu alternatif untuk pakan ikan Nila adalah Azolla pinnata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh pemberian pakan komersial dan pakan Azolla segar terhadap Weight Gain, Relative Growth Rate, dan nilai Food Conversion Ratio dari ikan nila (Oreochromis niloticus) serta nilai pH, kadar amonia, nitrit, dan nitrat air kolam. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 60 ekor ikan nila var. nirwana dengan dua perlakuan berbeda, yaitu perlakuan dengan pakan pelet komersil (pelet kiloan) dan perlakuan dengan pakan Azolla. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pakan pelet komersil masih lebih unggul dalam parameter pertambahan bobot, laju pertumbuhan relatif, dan FCR (1,43 terhadap 1,77), namun perlakuan perlakuan pakan Azolla memberikan hasil parameter kualitas air yang relatif lebih baik pada parameter pH, kadar amonia, nitrit, dan nitrat.
RESERVOIR SIMULATION: EVALUATION OF CO2 INJECTION FOR ENHANCED OIL RECOVERY IN NORNE FIELD
The global demand for energy, coupled with the need to reduce carbon emissions, has driven the exploration of innovative methods such as CO2 injection for Enhanced Oil Recovery (EOR). This study evaluates CO2 injection in the Norne Field, focusing on its potential for improving oil recovery and CO? sequestration. compositional PVT modeling is used and the variation of CO2 injection scenarios for simulating field conditions, which is explored in this study. The methodology involved history matching to calibrate the reservoir model, followed by simulations of different CO2 injection scenarios. The results indicated that CO2 injection significantly enhances oil production, with Scenario X achieving the highest cumulative oil production due to the addition of water injection wells. Additionally, CO2 sequestration was effective, with significant storage achieved through structural, residual, and solubility trapping mechanisms. The findings suggest that combining high CO2 injection rates with optimized water injection wells can improve both oil recovery and CO2 storage. Further economic analysis considering carbon taxes could provide a more comprehensive evaluation of the optimal development scenario.
PERANCANGAN PLTS – DIESEL UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN LISTRIK PERUMAHAN KARYAWAN PERKEBUNAN SAWIT DI KABUPATEN MUARA TEBO, PROVINSI JAMBI
Listrik merupakan kebutuhan mendasar bagi peningkatan ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Meski demikian, masih banyak wilayah terpencil di Indonesia yang belum terjangkau jaringan listrik nasional. Salah satunya adalah perumahan karyawan perkebunan sawit di Kabupaten Muara Tebo, Provinsi Jambi, yang hingga kini bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Ketergantungan ini menimbulkan permasalahan serius berupa biaya operasional tinggi akibat volatilitas harga bahan bakar serta emisi gas rumah kaca yang berlawanan dengan target Net Zero Emission (NZE) Indonesia 2060. Perluasan jaringan PLN ke lokasi penelitian juga tidak layak secara finansial, karena biaya investasi sangat besar dan periode pengembalian melebihi 20 tahun. Kondisi tersebut menegaskan kebutuhan solusi elektrifikasi berbasis energi terbarukan yang lebih andal, efisien, dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan merancang sistem hibrida Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), PLTD, dan Battery Energy Storage System (BESS) untuk menyediakan pasokan listrik 24 jam di lokasi penelitian. Metodologi yang digunakan bersifat terintegrasi menggunakan tiga perangkat lunak utama. Pertama, PVSyst digunakan untuk menganalisis potensi surya dan merancang sistem PLTS berdasarkan data iradiasi SolarGIS untuk Desa Sungai Keruh. Kedua, HOMER Pro digunakan untuk evaluasi tekno-ekonomi dan optimasi konfigurasi sistem dengan empat skenario: (1) PLTD eksisting, (2) hibrida PLTD–PLTS, (3) hibrida PLTD–PLTS–BESS, dan (4) PLTS–BESS. Evaluasi meliputi Levelized Cost of Energy (LCOE), Net Present Cost (NPC), fraksi energi terbarukan, dan total emisi CO2. Ketiga, dari keempat skenario dilakukan penilaian untuk mendapat nilai terbaik, dan skenario dengan nilai terbaik akan dilanjutkan analisis dengan menggunakan perangkat lunak DIgSILENT PowerFactory untuk analisis aliran daya, simulasi operasi harian quasi-dynamic, dan simulasi RMS guna menguji keandalan sistem terhadap gangguan kritis. Hasil analisis menunjukkan Skenario 3 (PLTD–PLTS–BESS) sebagai konfigurasi paling optimal. Skenario 1 menghasilkan LCOE sebesar, 0,371 USD/kWh, dengan emisi CO2 tahunan 483.196 kg, sehingga tidak berkelanjutan dan menghasilkan polusi CO2 terbesar selama setahun. Skenario 2 mampu menurunkan LCOE menjadi 0,319 USD/kWh, namun menghasilkan kelebihan energi hingga 43% karena tidak adanya penyimpanan. Skenario 4 (PLTS–BESS) tidak andal secara teknis karena kapasitas penyimpanan tidak mencukupi untuk suplai malam hari dan dilakukan optimasi dengan cara mengubah kapasitas BESS namun menghasilkan LCOE yang lebih tinggi disbanding PLTD sebagai base case. Sebaliknya, Skenario 3, dengan konfigurasi optimal PLTS 493 kWp, BESS 1.300 kWh, dan PLTD eksisting, menghasilkan LCOE terendah 0,2667 USD/kWh, NPC 1.872.781 USD, serta fraksi energi terbarukan 81,1%. Kehadiran BESS terbukti penting untuk menyerap surplus energi siang hari dan mendukung kebutuhan malam hari, sehingga jam operasi PLTD berkurang signifikan dan emisi CO2 turun 81% menjadi 92.669 kg/tahun. Validasi stabilitas dinamik memperkuat hasil tersebut. Simulasi quasi-dynamic memperlihatkan koordinasi yang baik antara PLTS, BESS, dan PLTD dalam melayani beban 24 jam. Sementara simulasi RMS terhadap pelepasan daya PLTS akibat tertutup awan menunjukkan sistem tetap stabil. Deviasi frekuensi berada dalam rentang ±0,0012 Hz dari nominal 50 Hz, dan tegangan cepat kembali ke kondisi normal. Hal ini membuktikan kemampuan BESS tidak hanya sebagai penyimpan energi, tetapi juga penopang frekuensi dan tegangan sistem. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan integrasi perangkat lunak yang menghasilkan pendekatan komprehensif dari sisi teknis, ekonomi, dan stabilitas dinamik, dengan studi kasus spesifik elektrifikasi di perumahan karyawan perkebunan sawit di Desa Sungai Keruh, Kabupaten Muara Tebo, Provinsi Jambi, Indonesia. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah berupa model desain sistem off-grid yang tervalidasi, sekaligus rekomendasi praktis bagi PLN maupun pihak swasta untuk pengembangan elektrifikasi pedesaan yang efisien, berkelanjutan, dan mendukung agenda transisi energi nasional.
EMISSION INVENTORY OF AIR POLLUTANTS AND GREENHOUSE GASSES FROM VEHICULAR SOURCES AT INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (CASE OF GANESHA AND JATINANGOR CAMPUS)
Emisi kendaraan merupakan kontributor signifikan terhadap polusi udara perkotaan. Penelitian ini menyajikan inventarisasi emisi dari sumber kendaraan di lingkungan ITB Ganesha dan Kampus Jatinangor untuk mendukung upaya pengelolaan kualitas udara dan mempromosikan praktik sadar lingkungan sebagai lembaga pendidikan. Metodologi ini menggabungkan pengumpulan data primer dan penerapan faktor emisi berdasarkan pedoman nasional. Survei lapangan dan catatan kampus digunakan untuk mengumpulkan data yang tepat tentang jenis kendaraan, jumlah, dan proporsi penggunaan bahan bakar. Emisi polutan udara dari sektor transportasi seperti CO, NO?, PM, THC, dan SO?, dan gas rumah kaca seperti CO?, CH?, dan N?O dihitung menggunakan faktor emisi yang ditetapkan dari inventarisasi emisi nasional dan rekomendasi IPCC. Studi ini menggunakan pendekatan berjenjang, memanfaatkan Tier 2 untuk data yang tersedia (misalnya, jumlah kendaraan) dan Tier 1 dengan menerapkan faktor emisi nasional untuk data yang kurang dapat diakses (misalnya, proporsi penggunaan bahan bakar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sepeda motor berbahan bakar bensin adalah kontributor terbesar. Total emisi tahunan ITB Ganesha dan Kampus Jatinangor dihitung sebesar 77.884 kgCO/tahun, 5.387 kgNOx/tahun, 227 kg SO?/tahun, 257 kgPM/tahun, 742 kgTHC/tahun, 451.235 kg CO?/tahun, 113 kgCH?/tahun dan 1.734 kgN?O/tahun. Inventarisasi emisi menyediakan data dasar penting untuk kebijakan pengurangan emisi yang ditargetkan dan inisiatif keberlanjutan kampus. Temuan tersebut memberikan bukti ilmiah untuk mengoptimalkan manajemen lalu lintas, meningkatkan ketersediaan data, dan memperkuat inisiatif Kampus Hijau ITB untuk menjaga kualitas udara dan keberlanjutan di kampus.
PERANCANGAN AWAL SISTEM PERPIPAAN DARAT TRANSMISI GAS STUDI KASUS: BELAWAN - DURI
Energi gas alam merupakan salah satu sumber energi strategis yang penggunaannya terus meningkat setiap tahun. Sistem perpipaan masih menjadi sistem utama yang paling efisien untuk transmisi gas alam. Perancangan sistem perpipaan gas yang optimal diperlukan untuk mendistribusikan gas secara efisien dan aman, dengan memperhatikan tekanan operasi, bahan pipa, serta standar keamanan dan lingkungan. Penelitian ini berfokus pada perancangan awal sistem perpipaan darat yang meliputi pemilihan diameter pipa, material dan tebal pipa, perlindungan korosi, analisis tegangan, dan pipa persilangan. Hasil penelitian menunjukkan diameter optimum yaitu 20 inci dengan material API 5L X52, dengan ketebalan pipa yang berbeda di setiap segmen. Sistem proteksi korosi yang digunakan adalah 3 Layer Polyethylene (3LPE) dikombinasikan dengan proteksi katodik arus tanding. Analisis tegangan memperlihatkan bahwa seluruh nilai tegangan berada di bawah tegangan izin yang ditetapkan sesuai ASME B31.8 Lalu untuk pipa persilangan dengan jalan raya juga memenuhi kriteria keamanan sesuai API RP 1102.
ANALISIS BAHAYA BANJIR DENGAN MODEL HYDRODYNAMIC CAMA-FLOOD DI PULAU KALIMANTAN
Kalimantan adalah salah satu pulau di Indonesia yang sering mengalami banjir, terutama selama musim hujan. Banjir di wilayah ini seringkali membutuhkan waktu lama untuk surut, terkadang berlangsung selama beberapa hari atau bahkan minggu sebelum benar-benar surut. Kondisi ini disebabkan oleh curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim, karakteristik topografi, bentuk jaringan sungai dan deforestasi yang luas yang telah secara signifikan mengubah sistem hidrologi wilayah tersebut. Untuk mengatasi masalah ini, analisis bahaya banjir diperlukan untuk mengidentifikasi risiko potensial di wilayah tersebut. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah pemodelan hidrodinamik, yang digunakan untuk mensimulasikan, memprediksi, dan mengevaluasi bahaya banjir pada berbagai skala spasial, termasuk skala global. Studi ini menerapkan model hidrodinamika global CaMa-Flood untuk mensimulasikan bahaya banjir pada skala regional di Kalimantan, Indonesia. Model ini menggunakan data aliran harian (resolusi 0,25°) dari data runoff reanalisis ERA5, sementara data jaringan sungai dan topografi diperoleh dari dataset MERIT Hydro dan MERIT DEM. Simulasi dilakukan pada resolusi spasial 1 menit (~1 km), dengan memasukkan mekanisme percabangan saluran dan representasi dataran banjir skala subgrid. Validasi model dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, dengan membandingkan hasil simulasi debit terhadap data observasi dari beberapa stasiun hidrologi utama di Kalimantan. Kedua, dengan membandingkan peta genangan hasil simulasi dengan area banjir yang terdeteksi menggunakan citra radar Sentinel-1 SAR. Hasil validasi menunjukkan bahwa debit rata-rata simulasi cenderung 9–35% lebih tinggi dibandingkan debit observasi, meskipun pola temporal keduanya cukup sejalan. Ketidaksesuaian antara data hasil simulasi ERA-5 dan observasi menunjukkan bahwa perlunya ada faktor koreksi. Pada beberapa stasiun, korelasi (R²) antara simulasi dan observasi meningkat setelah dilakukan koreksi faktor pengali, yang mengindikasikan perbaikan performa model. Dari sisi spasial, peta genangan hasil simulasi CaMa-Flood memperlihatkan area tergenang yang terdistribusi luas di sepanjang sungai utama, rawa, lahan basah, dan dataran banjir. Pola genangan ini secara umum selaras dengan hasil deteksi Sentinel-1, khususnya pada wilayah dataran rendah di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Namun, hasil simulasi cenderung menghasilkan luas genangan lebih besar dibandingkan citra satelit. Perbedaan ini dapat dijelaskan oleh keterbatasan Sentinel-1 dalam mendeteksi genangan dangkal yang tertutup vegetasi atau sawah, keterlambatan waktu satelit terhadap puncak banjir, serta pengaruh speckle noise pada data radar. Sebaliknya, CaMa-Flood menghitung banjir secara kontinu, sehingga mampu menangkap potensi maksimum luapan air sungai. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa CaMa-Flood dapat digunakan secara efektif untuk mensimulasikan banjir di Pulau Kalimantan. Model ini mampu menggambarkan baik dinamika debit maupun distribusi genangan dengan tingkat kesesuaian yang memadai terhadap data observasi dan citra satelit. Meskipun demikian, masih terdapat kebutuhan untuk kalibrasi lebih lanjut, khususnya dalam penyesuaian parameter data input runoff dan hidrolik sungai (lebar, kedalaman, dan koefisien Manning) agar hasil simulasi semakin mendekati kondisi aktual. Dengan demikian, CaMa-Flood berpotensi besar sebagai alat analisis risiko banjir, perencanaan pengelolaan sumber daya air, serta mendukung strategi mitigasi bencana di wilayah tropis dengan keterbatasan data observasi seperti Kalimantan.
ANALISIS FLOW ASSURANCE PADA SUMUR PACKERLESS “S-7” UNTUK MEMINIMALKAN FLUMPING ESP
Electrical Submersible Pumps (ESP) are commonly used in oil wells when natural reservoir pressure cannot push fluids to the surface. However, in packerless wells, ESP operations can encounter a problem called flumping— where fluids flow simultaneously through both tubing and annulus. This situation can cause unstable flow, gas backflow, and increase the risk of equipment failure, especially in wells with high gas–oil ratio and dynamic multiphase flow conditions. To address this, this research uses a combination of well performance analysis, ESP design, and flow assurance simulation. The well’s production potential is analyzed using IPR and VLP curves, followed by ESP selection with attention to liquid rates, gas–oil ratio, and water cut. Main calculations include a Productivity Index (PI) of 6.3STB/day/psi and Absolute Open Flow (AOF) of about 13,800STB/day, with pump power needs around 263hp for the selected pump depth and stage. The fluid flow patterns, pressure, and temperature were further examined through multiphase simulation by testing different parameters, such as tubing size, roughness, wellhead pressure, and pump depth. The overall results show that flow regimes like annular and stratified flow are dominant in the annulus, with water cut often above 90%. Changes in tubing design, pump position, or wellhead pressure can trigger unwanted flumping or stabilize production. The most effective mitigation is installing a packer and optimizing operating conditions, which significantly reduces fluid entry into the annulus and gas backflow. This study confirms that a combination of ESP design, operational adjustments, and well-targeted flow assurance can minimize flumping and improve the reliability of oil production in packerless, gas-prone wells.
ANALISIS KINERJA LALU LINTAS PADA SIMPANG DAGO KOTA BANDUNG
Penelitian ini menganalisis kinerja lalu lintas Simpang Dago, Kota Bandung, dengan mengacu pada Panduan Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023. Evaluasi dilakukan menggunakan parameter utama, seperti Rasio Arus Simpang (RAS), Waktu Siklus (s), Waktu Hijau per Fase, Derajat Kejenuhan (Dj), Panjang Antrean Maksimum (PAmax), Rasio Kendaraan Henti (RKH), dan Tundaan rata-rata (T rata-rata). Hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi eksisting telah mengalami kejenuhan lalu lintas dengan derajat kejenuhan (Dj) terbesar 1,031 dan tundaan rata-rata sebesar 88,7 detik per kendaraan untuk kondisi minggu siang dan derajat kejenuhan (Dj) terbesar 1,307 dan tundaan rata-rata sebesar 207,7 detik per kendaraan untuk kondisi selasa sore. Untuk mengatasi permasalahan ini, dikembangkan tiga skenario manajemen rekayasa lalu lintas, yaitu (1) pengaturan ulang waktu siklus, (2) pelarangan belok kanan dengan pengalihan U-turn, dan (3) perubahan fase isyarat dan waktu siklus. Dari ketiga skenario, skenario ketiga adalah yang paling efektif, menurunkan derajat kejenuhan terbesar menjadi 0,64 dan tundaan rata-rata menjadi 37,4 detik per kendaraan untuk kondisi minggu siang dan menurunkan derajat kejenuhan terbesar menjadi 0,77 dan tundaan rata-rata menjadi 39,5 detik per kendaraan untuk kondisi selasa sore. Oleh karena itu, skenario ini direkomendasikan sebagai alternatif peningkatan kinerja lalu lintas di Simpang Dago.
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI JALAN TOL DENGAN BANTUAN BIM (STUDI KASUS: JALAN TOL TRANS SUMATRA BENGKULU – TABA PENANJUNG ZONA 1, KM 0-6.5)
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rencana penjadwalan dan estimasi biaya pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatra Seksi Bengkulu – Taba Penanjung dengan memanfaatkan pendekatan Building Information Modeling (BIM) untuk mendukung efisiensi waktu dan biaya. Tahapan perencanaan dimulai dengan pengumpulan koefisien produktivitas alat melalui Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bina Marga dan metode resource enumeration. Pekerjaan dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu pekerjaan jalan dan pekerjaan jembatan, yang masing-masing dijadwalkan secara paralel berdasarkan 15 segmen jalan yang dikelompokkan menjadi tiga sequence. Durasi awal dihitung dari total volume dan koefisien produktivitas, kemudian disesuaikan menggunakan rasio terhadap target penyelesaian proyek sehingga diperoleh durasi yang realistis per pekerjaan dan per sequence. Seluruh data kegiatan, durasi, dan hubungan ketergantungan kegiatan dimasukkan ke dalam Microsoft Project untuk menghasilkan jadwal akhir. Hasil penjadwalan menunjukkan total durasi proyek selama 295 hari dengan pembagian front kerja paralel yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan alat dan meminimalkan waktu menganggur. Estimasi biaya pekerjaan yang dihitung melalui Analisis Harga Satuan dan dikalikan volume aktual menghasilkan total anggaran sebesar Rp 722.313.413.351,32.
OPTIMASI SISTEM HIDRAULIKA PENGEBORAN PADA SUMUR Y DI LAPANGAN Z DALAM KONDISI NARROW MUD WINDOW
This study aims to evaluate the drilling hydraulics of Well Y located in Jambi Province, which is characterized by dominant claystone, sandstone, shale, and siltstone formations. Well Y also exhibits pore pressure and fracture gradient conditions that are closely spaced, indicating the presence of a narrow mud window that increases the technical risks during drilling operations. The research focuses on analyzing the relationship between minimum flow rate and rate of penetration (ROP), pressure losses, equivalent circulating density (ECD), flow regime, annular velocity, as well as bit optimization using the hydraulic horsepower per square inch (HSI) parameter. The study was conducted using reference data from wells X-1 and X-2, and modeling was performed with Landmark software. Compass was used for trajectory design, StressCheck for casing design and strength evaluation, and WellPlan for BHA design and hydraulic optimization. The evaluation covered the relationship between minimum flow rate and ROP, distribution of pressure losses, ECD analysis, flow regime and annular velocity, and bit optimization by considering nozzle size and pump rate. The results indicate that the minimum flow rate requirement increases with higher ROP. In Section 9 5/8”, the required flow rate ranged from 380–410 GPM at low ROP and increased to >740 GPM at 320 ft/hr, while in Section 7” the requirement was lower, ranging from 170–340 GPM, and started to increase after the ROP exceeded 160–200 ft/hr. The relationship between flow rate and ROP was strongly influenced by annulus geometry. The largest pressure losses occurred in the drill string, recorded at 1,448.96 psi (59.05%) in Section 9 5/8” and 1,761.76 psi (70.55%) in Section 7”, although the resulting standpipe pressure remained below the maximum operating limit of 2,500 psi. The ECD values were within the mud window, ranging from 9.13–9.16 ppg in Section 9 5/8” and 10.17–10.32 ppg in Section 7”. Flow regime analysis showed laminar flow in Section 9 5/8” at pump rates below 1,100 GPM, while in Section 7” turbulent flow occurred beyond 3,653 ft MD at pump rates greater than 350 GPM. HSI evaluation also indicated optimum conditions, with HSI of 3.0 (TFA = 0.862 in², pump rate 916.5 GPM) in Section 9 5/8” and HSI of 2.1 (TFA = 0.985 in², pump rate 602.6 GPM) in Section 7”, ensuring effective hole cleaning without exceeding the surface pressure limit. This study provides a comprehensive approach to drilling hydraulics optimization by integrating casing design, BHA configuration, and hydraulic system performance. It presents an evaluation of the interaction between flow rate, pressure losses, ECD, and bit hydraulics optimization under geological conditions with a narrow mud window.
PENENTUAN LOKASI SUMUR PRODUKSI PANAS BUMI MENGGUNAKAN METODE PLAY FAIRWAY ANALYSIS DI LAPANGAN PANAS BUMI TULEHU, MALUKU
Pengembangan Lapangan Panas Bumi Tulehu dihadapkan pada tantangan signifikan pasca-pengeboran empat sumur eksplorasi yang belum menunjukkan temperatur maupun permeabilitas yang memadai untuk eksploitasi skala komersial. Perlu dilakukan revisi model konseptual dan melakukan re-evaluasi potensi sumber daya panas bumi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan deliniasi target pengeboran produksi yang optimal melalui penerapan kuantitatif metode Play Fairway Analysis (PFA) dalam domain tiga dimensi (3D). Metodologi ini berdasarkan parameter temperatur, permeabilitas, dan batuan penutup serta aspek keekonomian pengeboran. Hasil analisis menghasilkan model spasial Favorability Index yang secara kuantitatif mendelineasi zona dengan favorabilitas tertinggi (indeks > 0,91) terkonsentrasi di sepanjang segmen selatan Sesar Banda sesuai dengan posisi feed zone produktif sumur TLU-B-02. Melalui model favorabilitas bawah permukaan dengan peta batasan infrastruktur well pad, penelitian ini berhasil merekomendasikan area prioritas untuk pembangunan well pad baru di sisi selatan sesar. Penempatan strategis ini akan memfasilitasi pengeboran dengan sudut inklinasi yang kecil yang lebih efisien secara operasional dan ekonomis, sekaligus memberikan justifikasi untuk realokasi fundamental dalam rencana pengembangan Lapangan Panas Bumi Tulehu.
RESPON IMPAK DAN KETAHANAN TEKAN SETELAH IMPAK PADA MATERIAL KOMPOSIT SANDWICH TENUNAN 3D SERAT GELAS-POLIESTER: EFEK PENAMBAHAN KULIT
Komposit sandwich tenunan 3D diaplikasikan sebagai lantai LRT atau fuselage pesawat ada kemungkinan mengalami pembebanan impak. Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan lapisan kulit terhadap respon impak dan tekan arah aksial setelah impak.Variasi yang digunakan pada penelitian ini ialah tanpa penambahan kulit, penambahan satu dan dua kulit pada energi impak 15J, 30J, dan 45J dengan metode yang digunakan ialah impak drop-weight menggunakan massa impactor 36,6kg dan impactor hemispherical. Pengujian tekan mengunakan metode tekan arah aksial setelah impak yang dilakukan pada orientasi bidang warp dan weft. Penambahan hingga dua kulit pada komposit sandwich tenunan 3D serat gelas-polyester mengakibatkan nilai maximum force naik hingga sebesar 178% dan menurunkan nilai perpindahan/displacement impactor sebesar 84%. Untuk penyerapan energi/absorbed energy dengan penambahan satu kulit mengakibatkan peningkatan sebesar 17% akibat modus kerusakan delaminasi dan penambahan dua kulit menjadi turun dari 10,8J menjadi 5,6J atau sebesar 48%. Penambahan hingga dua kulit pada komposit sandwich tenunan 3D serat gelas-poliester mengakibatkan peningkatan kekuatan tekan sisa dari 40% menjadi 56% di energi impak 15J, dari 23% menjadi 40% di energi impak 30J, dan dari 16% menjadi 30% di energi impak 45J. Dengan penambahan satu dan dua kulit mampu mereduksi modus kerusakan pada energi impak 15J dan merubah modus kerusakan dari facesheet buckling dan panel buckling menjadi facesheet dislocation pada energi impak 30J dan 45J.