📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR SUBSISTEM PABEAN, KOTA PEKALONGAN, PROVINSI JAWA TENGAH
Kota Pekalongan, khususnya Subsistem Drainase Pabean, merupakan wilayah yang sering mengalami banjir akibat topografi dataran rendah, alih fungsi lahan, sedimentasi sungai, serta penurunan muka tanah. Penelitian ini bertujuan merencanakan sistem pengendalian banjir berbasis curah hujan periode ulang 5 tahun untuk drainase dan 20 tahun untuk inflow sungai. Upaya pengendalian dilakukan melalui penambahan kolam retensi yang dilengkapi dengan pompa berkapasitas 1.200 liter/detik. Analisis dilakukan menggunakan pemodelan hidraulika dengan bantuan perangkat lunak PCSWMM, baik 1D maupun 2D, untuk mengevaluasi genangan dan tinggi muka air banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solusi yang direncanakan mampu mereduksi luas genangan sebesar 53,14% dari luas genangan eksisting. Berdasarkan analisis rencana anggaran biaya (RAB), Pembangunan sistem pengendalian banjir untuk Subsistem Pabean, Kota Pekalongan memerlukan biaya sebesar Rp26.315.420.253,30 (dua puluh enam miliar tiga ratus lima belas juta empat ratus dua puluh ribu dua ratus lima puluh tiga rupiah koma tiga puluh).
EVALUASI STRUKTUR DAN PERENCANAAN RETROFIT JEMBATAN AKIBAT KOROSI DAN KEBAKARAN
Deteriorasi pada komponen struktur beton bertulang jembatan bisa terjadi akibat berbagai macam penyebab, diantaranya adalah akibat korosi baja tulangan dan paparan suhu tinggi akibat kebakaran. Berdasarkan penelitian terbaru, baik deteriorasi akibat korosi baja tulangan maupun paparan suhu tinggi dapat mengurangi kuat lekatan (Bond Strength) antara baja tulangan dengan beton. Hal ini menyebabkan penurunan kapasitas lentur dari penampang komponen beton bertulang struktur jembatan akibat kuat lekatan beton yang tidak mampu menyalurkan seluruh gaya ke tulangan. Sehingga kegagalan pada penampang beton bertulang bukan lagi karena kelelehan baja tulangan tarik tetapi karena kegagalan pengangkuran baja tulangan oleh beton. Pada penelitian ini, evaluasi kapasitas lentur struktur beton bertulang jembatan akan memperhitungkan pengaruh degradasi bond strength antara baja tulangan dan beton akibat korosi baja tulangan dan paparan suhu tinggi kebakaran. Dimana hasil analisis menunjukan jumlah elemen struktur beton bertulang jembatan yang mengalami kegagalan meningkat akibat adanya pengaruh degradasi bond strength. Jembatan yang menjadi objek penelitian ini adalah jembatan imajiner yang diasumsikan selesai dibangun pada tahun 1984. Setelah 40 tahun operasional, tingkat kerusakan yang telah terjadi akibat korosi baja tulangannya diasumsikan cukup signifikan dimana laju korosi (icorr) dimodelkan pada tingkat sedang sebesar 1 ?A/cm2 yang menurunkan bond strength sebesar 26% menjadi 4,05 Mpa dari batas bond strength normal sebesar 5,48 MPa menurut CEB FIP-1990. Kerusakan ini diperparah dengan terjadinya kebakaran dimana skenario komponen struktur jembatan yang terpapar suhu tinggi adalah kolom pilar dan kepala pilar. Akibat kebakaran, kuat tarik beton turun drastis dan mengakibatkan bond strength juga menurun sebesar 53% menjadi 2,58 MPa. Terdapat 2 pemodelan struktur jembatan, yaitu segmen P36-P46 yang terpapar suhu rendah, dan segmen PA-P10 yang terpapar suhu tinggi akibat kebakaran. Dari hasil analisis linear statik dan analisis dinamik metode spektra multimoda berdasarkan kombinasi pembebanan SNI 1725:2016, menunjukan bahwa kegagalan terjadi pada nilai DCR lebih besar dari 1, yaitu 1) Kegagalan lentur pada elemen gelagar bagian tumpuan dan bagian lapangan, 2) Kegagalan aksial-momen pada elemen kolom pilar baik segmen P36-P46 terpapar suhu rendah maupun segmen PA-P10 yang terpapar suhu tinggi, 3) Kegagalan geser pada elemen kolom pilar segmen P36-P46 yang terpapar suhu rendah maupun segmen PA-P10 yang terpapar suhu tinggi, dan 4) Kegagalan aksial-momen pada elemen kepala pilar segmen PA-P10 bagian tumpuan dan lapangan yang terpapar suhu tinggi kebakaran. Selain itu, dari hasil pemeriksaan detailing penulangan pada jembatan eksisting berdasarkan as built drawing memperlihatkan bahwa terdapat defisiensi pada detailing tulangan yaitu spasi tulangan confinement pada zona sendi plastis tidak memenuhi persyaratan perencanaan jembatan terhadap beban gempa. Pada penelitian ini, perkuatan untuk elemen yang mengalami defisiensi hanya direncanakan untuk segmen yang paling kritis. Untuk memperbaiki defisiensi kapasitas lentur pada elemen gelagar, direncanakan perkuatan menggunakan Near Surface Mounted (NSM) CFRP Rod yang dipasang memanjang elemen gelagar sebanyak 10 batang pada sisi atas untuk bagian tumpuan dan 10 batang pada sisi bawah untuk bagian lapangan. Dari hasil perhitungan, perkuatan CFRP Rod pada elemen gelagar bagian lapangan dapat mereduksi DCR sebesar 44%. Sedangkan untuk elemen gelagar bagian tumpuan dengan perkuatan 10 batang CFRP Rod di sisi atas berhasil menurunkan DCR sebesar 74%. Pada elemen kolom pilar, direncanakan perkuatan aksial-momen untuk segmen PA-P10 yang terpapar suhu tinggi kebakaran dalam 2 metoda perkuatan, yaitu concrete jacketing setebal 125 mm dengan 20 baja tulangan D19 dan perkuatan lentur dengan kombinasi 12 CFRP Rod longitudinal dan 2 lapis CFRP Wrap. Hasil komparasi menunjukan bahwa untuk reduksi DCR lentur sebesar 59% dan reduksi DCR Geser sebesar 95% biaya metode perkuatan dengan CFRP 40% lebih mahal sehingga perkuatan yang lebih efektif adalah concrete jacketing. Perkuatan aksial-lentur juga direncanakan pada kepala pilar lapangan segmen PAP10 yang terpapar suhu tinggi kebakaran. CFRP Rod sebanyak 10 batang dipasang arah memanjang elemen kepala pilar pada bagian lapangan. Hasilnya menunjukan perkuatan CFRP Rod pada elemen kepala pilar mereduksi DCR sebesar 54%. Dari analisis yang sudah dilakukan dalam penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa efek dari bond strength baja tulangan yang menurun sangat berpengaruh dalam perhitungan kapasitas dan keamanan struktur beton. Kemudian, direkomendasi juga metode perkuatan yang efektif secara ekonomis guna mengembalikan fungsi jembatan seperti awal.
NUMERICAL ANALYSIS OF 3D RE-ENTRANT AUXETIC STRUCTURE USING DIRECT IMPACT HOPKINSON BAR
This study presents a numerical study on the dynamic penetration behavior of 3D re-entrant auxetic honeycomb structures subjected to direct impact using a Hopkinson bar. The research aims to develop and validate a finite element model capable of replicating experimental conditions reported in previous studies. Simulations were conducted in LS-Dyna using polymer-based auxetic specimens manufactured via stereolithography, with three variations of cell strut thickness (1.5 mm, 2.0 mm, and 2.5 mm) tested under three impact velocities (5 m/s, 10 m/s, and 15 m/s). The results show that increasing strut thickness enhances impact resistance by reducing penetration depth and increasing peak force. Comparisons between elasto-plastic and elasto-plastic with damage models revealed consistent auxetic behavior, including effective stress localization and improved energy absorption. The findings confirm that auxetic geometries provide superior load distribution and resilience against catastrophic failure, highlighting their potential for lightweight, impact-resistant applications in aerospace and related engineering fields.
PERANCANGAN AWAL SISTEM PERPIPAAN LAUT DALAM DARI WELL MENUJU RISER
Energi merupakan kebutuhan vital yang terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan aktivitas manusia, termasuk di Indonesia yang masih sangat bergantung pada energi fosil. Di antara sumber energi fosil, gas alam memiliki peran penting karena emisinya lebih rendah serta prospeknya menjanjikan di tengah transisi energi global (500 ton CO2/GWh). Indonesia sendiri memiliki cadangan gas alam yang besar, baik di darat maupun laut, dengan kontribusi yang signifikan terhadap produksi global (peringkat ke-8 di dunia). Namun, distribusi gas dari sumber offshore, khususnya laut dalam, menghadapi tantangan besar akibat kondisi operasi yang ekstrem. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada perancangan sistem perpipaan laut dalam sebagai salah satu infrastruktur utama dalam transportasi gas alam. Penelitian ini berfokus pada perancangan awal sistem perpipaan yang meliputi diameter pipa, material dan ketebalan pipa, analisis penggunaan buckle arrestor, stabilitas, panjang free span maksimum, dan potensi lateral buckling. Hasil penelitian menunjukkan pipa NPS 32 dengan material API 5L grade X65 dengan ketebalan 0,688 inch. Buckle arrestor diperlukan di seluruh kedalaman. Tebal concrete coating yang dibutuhkan adalah 80 mm untuk menjaga stabilitas pipa. Lalu untuk panjang free span yang dipilih adalah 20 m. Potensi lateral buckling dengan parameter tersebut dapat dicegah karena nilainya masih aman dari gaya aksial mode infinite Hobbs.
PENILAIAN KEBOCORAN TUBING PADA SUMUR - X DENGAN ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP DI LAPANGAN MINYAK DAN GAS LEPAS PANTAI
This study focuses on the optimization of oil production in a Well-X that is constrained by low reservoir pressure (1277 psig), high water cut (80%), and wellbore leakage, which significantly reduce natural flow capacity. With a measured depth of 3916 ft and moderate deviation, the well requires artificial lift for sustainable production. The research aims to evaluate the well’s inflow performance and production potential, optimize the design of the Electrical Submersible Pump (ESP), and establish a reliable strategy that ensures long-term operational stability. The methodology integrates several technical analyses, including Pressure-Volume-Temperature (PVT) characterization, flowline and pump emulsion behavior, Inflow Performance Relationship (IPR) analysis, and ESP design simulations using PROSPER software. The ESP selected for this study is the REDA D3500N, consisting of 400 stages and powered by a 150 HP Centrilift 562 motor, designed to be installed at 3500 ft. Performance simulations account for pump intake and discharge pressures, viscosity variations, flow patterns, and gas separator efficiency. The results demonstrate that the ESP achieves a liquid production rate between 853.33 and 2400 RB/day with a best efficiency point (BEP) of 66%. Sensitivity analysis further highlights that production can be optimized closer to the Absolute Open Flow (AOF) of 716 STB/day, provided drawdown and gas expansion are carefully managed. Based on flow regime analysis the well is confirmed to operate under stable distributed flow conditions, without excessive risk of gas lock.
ANALISIS PENGARUH VARIABILITAS IKLIM DAN PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP DEBIT DAN KEKERUHAN DI HULU DAS CITARUM (STUDI KASUS: INTAKE CIBANGOAK SPAM CIPARAY, PDAM TIRTA RAHARJA, KABUPATEN BANDUNG)
Abstrak bisa dilihat di file aslinya
FUEL REACTOR DESIGN AND COLD-FLOW EXPERIMENT FOR CHEMICAL LOOPING HYDROGEN GENERATION
Dalam era dekarbonisasi, hidrogen muncul sebagai pembawa energi bersih yang krusial karena mampu menyediakan panas bertemperatur tinggi untuk membantu dekarbonisasi sektor hard-to-abate. Chemical looping hadir sebagai solusi melalui produksi hidrogen terintegrasi dengan oxy-fuel combustion. Dalam sistem chemical looping, fuel reactor (FR) berperan penting dalam konversi bahan bakar, dimana penelitian ini memanfaatkan biomassa sebagai bahan bakar padat karena keterlimpahannya di Indonesia. Di antara berbagai sistem chemical looping, penelitian mengenai FR berbasis bahan bakar padat masih terbatas. Skripsi ini bertujuan merancang secara komprehensif FR berbasis biomassa dan menguji perilaku partikel padat di dalamnya. Konfigurasi multi-tahap vertikal dengan baffle internal dikembangkan dengan zona terpisah untuk proses reduksi oxygen carrier (OC) dan devolatilisasi biomassa. Desain ini memberikan keuntungan berupa kemampuan mengendalikan volatil biomassa agar bereaksi langsung dengan OC di zona atas, sekaligus memperpanjang waktu tinggal partikel. Hasil eksperimen menunjukkan, untuk mencapai kondisi tunak, FR memerlukan aerasi minimum sebesar 20 LPM dengan rasio aerasi ?=3 pada bagian bawah inlet FR. Sementara itu, solid circulation rate (SCR) maksimum sebesar 3,52 g/s dicapai pada ?=1,67. Peningkatan total aerasi meningkatkan SCR sistem tetapi menurunkan waktu tinggal, yang berkisar maksimum 4.45 menit pada aerasi minimum. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan adanya trade-off antara SCR dan waktu tinggal. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan chemical looping berbasis biomassa dan menunjukkan potensinya dalam produksi hidrogen berkelanjutan.
PERANCANGAN GEDUNG 11 LANTAI DI JAKARTA DENGAN KETIDAKBERATURAN HORIZONTAL DAN VERTIKAL MENGGUNAKAN SISTEM GANDA
Tugas akhir ini membahas perancangan gedung rumah sakit dan pendidikan 11 lantai di Jakarta dengan ketidakberaturan horizontal dan vertikal. Sistem struktur yang digunakan adalah kombinasi Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Sistem Dinding Struktural Khusus (SDSK) untuk meningkatkan kekakuan lateral, mengurangi simpangan antar tingkat, serta memperbaiki distribusi beban gempa akibat ketidakberaturan. Analisis linear dilakukan menggunakan metode respons spektrum ragam dengan perangkat lunak ETABS, serta evaluasi kinerja struktur dilakukan melalui analisis pushover sesuai dengan ASCE 41-17 dan ATC-40. Elemen dirancang menggunakan gaya dalam envelope untuk struktur beton bertulang, meliputi balok, kolom, pelat lantai, dan dinding geser. Dilakukan pemberian penalti pada struktur akibat adanya ketidakberaturan horizontal torsi dan sudut dalam serta ketidakberaturan vertikal berat massa, tindak lanjut dilakukan dengan melakukan analisis desain diafragma. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan sistem ganda mampu menurunkan drift antar tingkat hingga memenuhi batas SNI 1726:2019, mengurangi efek torsi, dan memberikan tingkat kinerja struktur pada kondisi Immediate Occupancy (IO) untuk beban gempa rencana (BSE-1N) dan Life Safety untuk beban gempa MCER (BSE-2N).
PENGEMBANGAN BIOMARKER DIAGNOSTIK BERBASIS GEN VIRULENSI PADA ISOLAT KANDIDAT PATOGEN PENYEBAB STUNTING DARI FESES BAYI
Data Kementerian Kesehatan tahun 2023 mencatat prevalensi stunting di Indonesia sebesar 21,5%, lebih tinggi dari target nasional 14%. Kondisi ini mendorong pengembangan pendekatan diagnostik yang mampu mengidentifikasi risiko stunting lebih dini, salah satunya melalui deteksi faktor virulensi bakteri usus. Disbiosis di kolon dapat merusak integritas lapisan usus dan memicu inflamasi yang mengganggu penyerapan nutrisi, sehingga berpotensi berkontribusi terhadap stunting. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi isolat kandidat patogen penyebab stunting yang terdapat pada komunitas bakteri feses; (2) mengidentifikasi gen faktor virulensi yang berasosiasi dengan stunting yang terdapat pada isolat murni kandidat patogen sebagai biomarker diagnostik; (3) mendeteksi keberadaan biomarker pada isolat kandidat patogen dari isolat murni dan komunitas bakteri feses individu sehat dan stunting. Determinasi faktor virulensi dilakukan melalui analisis mikroba patogen terkait stunting berdasarkan data 16S rRNA metagenomics dan isolat kandidat menggunakan Matrix-Assisted Laser Desorption/Ionization Time-of-Flight (MALDI-TOF). Gen virulensi dipilih berdasarkan relevansi mekanisme patogenitas terhadap stunting, kemudian sekuensnya dianalisis untuk menemukan daerah lestari yang digunakan sebagai primer. PCR dilakukan terhadap DNA feses bayi sehat (n = 10) dan stunting (n = 10), yang dikelompokkan berdasarkan usia menjadi 0-6 bulan, 6-12 bulan, dan 12-24 bulan. Data hasil PCR diolah dengan menghitung sensitivitas dan spesifisitas biomarker, serta mengukur intensitas pita DNA sampel menggunakan ImageJ. Analisis 16S rRNA metagenomics dan MALDI-TOF mengidentifikasi patogen dari Klebsiella pneumoniae complex (KpSC), sehingga penelitian difokuskan pada pengembangan biomarker gen virulensinya. Dari faktor virulensi utama KpSC, dipilih tiga gen kandidat, yaitu fimH (fimbriae tipe 1), entB (enterobactin synthase), dan hcp (hemolysin-coregulated protein/T6SS). Hasil visualisasi elektroforesis menunjukkan gen hcp merupakan kandidat biomarker berpotensi dibandingkan yang lain, dengan sensitivitas 100% dan spesifisitas 30%. Di sisi lain, fimH dan entB menunjukkan sensitivitas masing-masing 90%, dengan spesifisitas lebih rendah, yaitu 10% dan 20%. Gen hcp terdeteksi konsisten pada semua sampel stunting usia 0-24 bulan, sedangkan pada kelompok sehat cenderung menurun seiring usia, mengindikasikan stabilitas virulensi pada stunting yang terkait dengan imaturitas mikrobiota Selain itu, kuantifikasi pita DNA menunjukkan perbedaan kelimpahan gen virulensi antar kelompok sehat dan stunting, dengan intensitas tertinggi pada fimH, diikuti hcp dan entB. Penelitian selanjutnya perlu dilakukan pada populasi yang lebih besar, dengan replikasi teknis memadai serta integrasi data klinis dan lingkungan untuk memperkuat relevansi diagnostik.
KARAKTERISASI RESERVOIR KARBONAT MENGGUNAKAN PENDEKATAN TERHADAP ATRIBUT PSEUDO ELASTIC IMPEDANCE FOR LITHOLOGY (PEI-L) DENGAN INVERSI SIMULTAN PADA FORMASI KUJUNG, LAPANGAN “NARENDRA“, CEKUNGAN JAWA TIMUR
Lapangan “NARENDRA” merupakan salah satu lapangan migas produktif di Indonesia yang berada di wilayah Cekungan Jawa Timur. Potensi reservoir pada cekungan ini berada pada formasi Kujung yang tersusun atas batuan karbonat dengan perselingan batu serpih. Penelitian ini berfokus pada interval Formasi Kujung, khususnya pada zona Kujung-1 hingga Kujung-2. Formasi Kujung didominasi oleh batugamping yang diendapkan di lingkungan karbonat laut dangkal, tepatnya pada interior platform dengan dominasi fasies lagoonal–back reef. Oleh karena itu, diperlukan metode untuk mengetahui penyebaran distribusi karakteristik reservoir karbonat dan mengidentifikasi sebaran batuan karbonat yang dapat berpotensi sebagai reservoir. Berdasarkan analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kombinasi parameter AI dan densitas dapat memisahkan litologi dan fluida reservoir. Pembentukan volume kedua parameter elastik tersebut dilakukan dengan menggunakan metode inversi simultan. Berdasarkan hasil inversi simultan yang didapatkan zona target berupa porous carbonate berada di nilai AI dan densitas yang relatif rendah dengan nilai AI sekitar 6800 – 9000 (m/s)*(g/cc) dan nilai densitas sekitar 1.9 – 2.3 g/cc. Untuk menghubungkan hasil inversi parameter elastik terhadap karakteristik petrofisika seperti porositas dan densitas diperlukan adanya pendekatan terhadap hubungan yang bersifat non-linear. Metode yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut antara lain pendekatan trigonometri terhadap atribut Pseudo Elastic Impeadance for Lithology (PEIL) dengan memperhatikan pola rock physics templates (RPT). Atribut PEIL dibentuk untuk membentuk volume pseudo densitas dan porositas dengan menggunakan kurva AI dengan rasio Vp/Vs yang memiliki trend kurva non-linear wet trend pada domain RPT. Hasil penelitian pada formasi Kujung-1 hingga Kujung-2 nilai AI dan rasio Vp/Vs yang rendah dapat berasosiasi dengan nilai densitas yang rendah dan porositas yang tinggi dimana mengindikasikan adanya akumulasi hidrokarbon.
PERFORMANCE ANALYSIS OF OXYGEN CARRIER FOR CHEMICAL LOOPING HYDROGEN PRODUCTION USING INDONESIA’S POTENTIAL NATURAL RESERVES
As global efforts intensify to find clean energy alternatives, hydrogen has emerged as a promising energy carrier. Chemical Looping Hydrogen (CLH) systems offer an innovative pathway for clean hydrogen production with inherent CO2 capture, a process driven by the performance of solid oxygen carriers (OCs). While synthetic OCs exhibit high reactivity, their significant cost hinders large-scale application. This research evaluates the performance of low-cost natural OCs with high abundance in Indonesia's mineral reserves, specifically limonite, iron sand, ilmenite, chromite, and laterite. The methodology involved reactivity screening via thermogravimetric analysis, performance evaluation in a fixed-bed reactor over 10 redox cycles, and a comprehensive techno-economic assessment. The screening identified ilmenite, chromite, and laterite as inert under CLH conditions. Performance analysis revealed that limonite possessed a high initial hydrogen production capacity (45.5 mL/g OC) but suffered from poor cyclability, retaining only 7.0% of its capacity due to liquid-phase sintering. Conversely, iron sand exhibited a lower initial capacity (18.4 mL/g OC) but demonstrated excellent stability, retaining 52.6% of its performance. The synthetic Fe2O3 benchmark yielded an initial capacity of 84.2 mL/g OC but retained only 36.5%. The addition of a 5 wt% CeO2 promoter did not significantly impact initial capacity but improved the long-term cyclability of both limonite and iron sand. The techno-economic analysis concluded that the synthetic OC yielded the lowest minimum selling price of hydrogen at 2.62 USD/kg, followed by limonite at 2.89 USD/kg, while iron sand was the least economically viable at 3.69 USD/kg due to significantly higher capital costs. Despite the less favorable economic results, the utilization of domestic natural OCs offers a significant strategic advantage for Indonesia, supporting the national goal of adding value to its mineral wealth to enhance economic sovereignty, build technological capacity, increase employment rate, and ensure national energy security.
PERANCANGAN APARTEMEN RENDAH KONSUMSI ENERGI
Sektor bangunan merupakan komponen yang menyumbang konsumsi energi cukup besar, yaitu sebesar 31% (22-57% di tingkat regional) dari nilai konsumsi energi secara global. Konsumsi energi bangunan terus meningkat karena beberapa faktor, yaitu urbanisasi, perubahan iklim, dan lain-lain. Berdasarkan De Cian et al., 2025, rumah tinggal yang menggunakan AC memiliki rata-rata konsumsi energi 36% lebih tinggi. Beban pendinginan bulanan di daerah perkotaan yang padat dapat mencapai sekitar 120% lebih tinggi. Hunian berkontribusi dalam pelepasan emisi karbon untuk fungsi-fungsi pendinginan seperti AC dan lemari es. Berdasarkan C. D. Putra et al., 2021, UHI yang terjadi di Jakarta pada tahun pada tahun 2018 didominasi dengan suhu ? 34,10 C. Tingginya konsumsi energi juga berdampak terhadap kenaikan suhu global. Oleh karena itu, diperlukan strategi desain yang mampu mengurangi konsumsi energi tersebut, khususnya beban pendinginan yang cukup besar untuk hunian vertikal. Tesis ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan strategi desain pasif untuk apartemen tipe serviced apartment. Beberapa konsep yang diterapkan dalam perancangan apartemen ini adalah penerapan passive cooling, desain fasad untuk mengurangi pemanasan pada bangunan, dan pengaturan massa serta layout ruang untuk meningkatkan pendinginan melalui penghawaan alami. Strategi desain yang diterapkan dapat menurunkan Energy Use Intensity (EUI) tahunan rata-rata sebesar 41.44 kWh/m2, dari rata-rata konsumsi energi sebesar 263.946 kWh/m2 menjadi 222.501 kWh/m2.
EFEK KONEKTIVITAS MANGROVE DAN TERUMBU KARANG TERHADAP KOMUNITAS IKAN KARANG DI PULAU SAPARUA, MALUKU TENGAH
Pulau Saparua di Kabupaten Maluku Tengah merupakan biodiversity hotspot yang termasuk ke dalam area Coral Triangle dan bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Lease. Pulau ini menjadi habitat yang penting bagi berbagai fauna laut, terutama ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa konektivitas antara mangrove dan terumbu karang memberi efek positif terhadap kelimpahan dan keanekaragaman ikan karang di daerah konservasi. Namun, efek konektivitas terhadap komunitas ikan karang bersifat region-specific sehingga diperlukan kajian efek konektivitas mangrove dan terumbu karang terhadap komunitas ikan karang di Pulau Saparua. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konektivitas mangrove dan terumbu karang terhadap kelimpahan dan komposisi komunitas ikan karang pada tiga mozaik habitat yang berbeda, yaitu mozaik dengan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang berdampingan (MSR/mangrove-seagrass-reef); padang lamun dan terumbu karang yang berdampingan (SR); serta terumbu karang yang terisolasi (R). Komunitas ikan karang diamati menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC) dan tutupan bentik diamati menggunakan metode Point Intercept Transect (PIT) sebanyak masing-masing tiga kali pada empat stasiun di bulan Februari 2025. Data dianalisis dengan metode PERMANOVA diikuti uji post hoc Pairwise Adonis, Non-metric Multidimensional Scaling (NMDS) diikuti uji post hoc PERMANOVA, dan Similarity Percentage (SIMPER). Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan total 97 spesies dalam 24 famili ikan karang, dengan kelimpahan total 2016 individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konektivitas mangrove-karang memberikan efek positif yang signifikan (p-value<0,01) terhadap kelimpahan ikan karang, tetapi dengan nilai R2 25,6%. Kombinasi variabel konektivitas, tutupan karang, dan habitat mozaik menunjukkan hasil yang signifikan dan menjelaskan 58,7% variasi (p-value<0,01, R2 58,7%). Komposisi ikan karang pada mozaik MSR dan SR, serta MSR dan R menunjukkan perbedaan signifikan (p-value<0,05), sedangkan komposisi ikan karang pada SR dan R tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Hasil ini mengindikasikan bahwa keberadaan dan kedekatan jarak antara mangrove dan terumbu karang dapat memfasilitasi komposisi spesies yang berbeda dibandingkan habitat terumbu karang yang terisolasi. Hal ini dapat disebabkan oleh fungsi mangrove sebagai habitat nursery bagi spesies ikan yang mengalami migrasi ontogenetik (Lutjanus fulvus, L. semicinctus, Cephalopholis boenak, dan Diploprion bifasciatum), dan refugia bagi spesies ikan mangsa (Dascyllus aruanus, Chromis viridis, dan Dascyllus reticulatus). Selain itu, mangrove juga dapat meregulasi mikroklimat di terumbu karang yang berdampingan dengan mangrove sehingga berpotensi meningkatkan tutupan karang di sekitarnya, yang menjadi habitat bagi berbagai ikan karang. Dengan demikian, konektivitas mangrove dan terumbu karang harus dipertahankan karena akan memengaruhi kelimpahan dan komposisi komunitas ikan karang.
STUDI KOMPARATIF PERILAKU JEMBATAN KOMPOSIT TIPE KOMBINASI PELENGKUNG-RANGKA BAJA TERHADAP PEMBEBANAN BERDASARKAN BMS 1992 DAN SNI 1725:2016
Jembatan merupakan infrastruktur vital yang harus mampu menyalurkan beban lalu lintas dengan aman dan efisien selama umur layanannya. Perubahan standar pembebanan dari Bridge Management System 1992 ke Standar Nasional Indonesia 1725:2016 memengaruhi perencanaan dan evaluasi kinerja jembatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan perilaku struktural jembatan komposit tipe kombinasi pelengkung–rangka baja terhadap pembebanan berdasarkan BMS 1992 dan SNI 1725:2016. Parameter yang dianalisis adalah perbandingan gaya dalam, lendutan, dan rasio permintaan terhadap kapasitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa pembebanan berdasarkan SNI 1725:2016 menghasilkan gaya dalam, lendutan, dan rasio permintaan terhadap kapasitas yang berbeda dibandingkan BMS 1992. Faktor terbesar yang berkontribusi terhadap perbedaan ini adalah beban lateral yang terdiri dari beban angin dan beban rem. Dengan demikian, penggunaan SNI 1725:2016 dinilai lebih sesuai untuk kondisi pembebanan lalu lintas terkini di Indonesia, sekaligus dapat menjadi dasar evaluasi jembatan eksisting yang sebelumnya didesain berdasarkan BMS 1992.
PENINGKATAN LEAD TIME PREDIKSI TINGGI MUKA AIR BENDUNG KATULAMPA MENGGUNAKAN MODEL HYBRIDA LSTM DAN HEC-HMS BERBASIS GSMAP
Jakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang hampir setiap tahun mengalami permasalahan banjir. Kota ini terletak di wilayah hilir dari DAS Ciliwung, di mana peristiwa banjir yang terjadi diperparah oleh banjir kiriman dari wilayah hulu melalui luapan sungai Ciliwung. Banjir kiriman ini umumnya dideteksi melalui pembacaan tinggi muka air di Bendung Katulampa dan peringatan dini melalui status siaga yang dikeluarkan sehingga memberikan waktu persiapan untuk warga Jakarta selama 13 hingga 14 jam sebelum banjir mencapai Jakarta. Kerugian yang ditimbulkan akibat peristiwa banjir ini cukup signifikan sehingga dilakukan upaya untuk memperpanjang waktu persiapan melalui prediksi lead time hujan terhadap respon katulampa di DAS Ciliwung Hulu. Metode yang digunakan adalah prediksi berbasis machine learning dengan LSTM, yaitu membaca pola dari data hujan GSMaP untuk memprediksi tinggi muka air di Katulampa. Penggunaan GSMaP dipilih karena akses data hujan yang terbatas dan dibutuhkan sumber data dalam jumlah besar dan realtime. Namun penggunaan kedua sumber data ini memiliki korelasi yang lemah, terbukti dari performa LSTM 1 dengan nilai R² negatif pada set data testing, sedangkan LSTM 2 yang merupakan model pembanding menggunakan data GSMaP dan debit HEC-HMS menunjukkan performa sangat baik pada t=0 dengan nilai R² training 0.999, testing 0.998, dan debit ekstrem pada data testing sebesar 0.998. Selain itu, LSTM 2 juga membuktikan bahwa model mampu mengemulasi proses fisik dan hidrologi HEC- HMS serta memprediksi debit ekstrem (?80 m³/s) hingga 6 jam ke depan dan debit non ekstrem hingga 9 jam.