📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PENGARUH POLIDOPAMIN (PDA) SEBAGAI SENYAWA JANGKAR DALAM SINTESIS PERANCAH ANTIBAKTERI PCL/ZNO UNTUK APLIKASI REKAYASA JARINGAN TULANG

Rekayasa jaringan tulang menawarkan alternatif menjanjikan pencangkokan tulang tradisional. Akan tetapi, infeksi terkait implan tetap menjadi tantangan utama akibat pembentukan biofilm bakteri. Penelitian ini berfokus pada pengembangan perancah antibakteri dengan melapisi perancah polycaprolactone (PCL) hasil 3D-printing dengan partikel nano seng oksida (ZnO). Untuk mengatasi tidak kompatibelnya permukaan antara PCL hidrofobik dan ZnO hidrofilik, polidopamin (PDA) digunakan sebagai senyawa jangkar. Penelitian ini membandingkan tiga metode deposisi untuk memodifikasi permukaan perancah PCL: (i) tanpa dopamin (PCL/ZnO), (ii) dengan PDA melalui imobilisasi satu tahap (PCL/PDA/ZnO-1), dan (iii) dengan PDA melalui imobilisasi dua tahap (PCL/PDA/ZnO-2). Perancah yang dihasilkan dikarakterisasi menggunakan fourier transform infrared (FTIR), thermogravimetric analysis (TGA), scanning electron microscopy – energy dispersive spectroscopy (SEM-EDS), dan pengukuran sudut kontak untuk mengevaluasi kualitasnya. Hasilnya menunjukkan bahwa metode imobilisasi dua tahap adalah yang paling efektif. Hasil TGA menunjukkan bahwa perancah PCL/PDA/ZnO-2 memiliki kandungan ZnO tertinggi (17,8 wt%) dibandingkan dengan PCL/ZnO (12,0 wt%) dan PCL/PDA/ZnO-1 (10,4 wt%). Analisis SEM-EDS mengonfirmasi hal ini dengan temuan bahwa PCL/PDA/ZnO-2 memiliki lapisan partikel nano ZnO yang terdispersi dengan baik. Selain itu, semua perancah yang dilapisi dengan ZnO terbukti menjadi lebih hidrofilik. Kesimpulannya, penggunaan PDA dengan metode imobilisasi dua tahap merupakan metode unggul untuk menempelkan partikel nano ZnO yang terdispersi dengan baik ke perancah PCL, sehingga secara signifikan dapat meningkatkan sifat permukaannya untuk aplikasi potensial dalam rekayasa jaringan tulang antibakteri.

2025
👤 Penulis: Muhammad Alvaro
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

RESPON KUALITAS AIR DAN MIKROBA TERHADAP INJEKSI CO? DI BERBAGAI MEDIA SINTETIK SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BIOINDIKATOR KEBOCORAN DI SEKITAR LOKASI CARBON CAPTURE AND STORAGE ATAU CARBON CAPTURE UTILIZATION AND STORAGE (CCS/CCUS)

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis respon kualitas air dan mikroba terhadap injeksi CO? pada sistem media sintetik. Fokus kajian mencakup perubahan parameter fisik-kimia, identifikasi keterkaitan pola antarparameter, dan dinamika jumlah koloni serta komunitas mikroba. Eksperimen batch dilakukan menggunakan sedimen lapangan pada media cair. Media yang digunakan meliputi Synthetic Ground Water (SGW), yaitu SGW 6 dengan komposisi menyerupai kondisi eksisting dan SGW 4 dengan komposisi serupa namun dengan konsentrasi sulfat lebih tinggi. Selain itu, digunakan pula media Luria-Bertani (LB) sebagai media kaya nutrien untuk mengamati potensi pertumbuhan mikroba tanpa keterbatasan substrat. Setiap media diuji dengan dua perlakuan, yaitu injeksi CO? dan kontrol tanpa injeksi. Hasil menunjukkan injeksi CO?, dengan kontrol sebagai pembanding, mendorong kondisi yang cenderung asam dan reduktif pada media SGW, memicu mobilisasi ion dan logam berdasarkan parameter-parameter yang diukur (DIC, pH, DO, ORP, TDS, EC, Salinitas, dan Mn). Kondisi ini juga disertai dengan dinamika konsentrasi nitrat dan besi yang menunjukkan adanya aktivitas respirasi sekunder oleh mikroba, sedeangkan sulfat yang terukur tetap stabil. Media LB di lain sisi tidak menunjukkan perbedaan antara perlakuan dan kontrol, menandakan injeksi CO2 tidak mempengaruhi media ini secara signifikan. Berdasarkan Total Plate Count (TPC), mikroba total mengalami penurunan, tetapi inkubasi anaerob menunjukkan mikroba dengan kemampuan adaptasi pada kondisi ekstrem menunjukkan adaptasi dan penyesuaian. Analisis multivariat (Principal Component Analysis dan Hierrarchial Component Analysis) mengelompokkan parameter ke dalam tiga kelompok, yaitu indikator sensitif CO2 (DIC, EC, TDS, salinitas, Mn; pH, DO, ORP), akseptor elektron (nitrat dan sulfat), dan respon sekunder (Suhu, Fe, TPC Aerob dan Anaerob). Analisis metagonemik Nanoporore Sequencing menunjukkan pergeseran komunitas setelah injeksi CO2 selama 14 hari dari filum Firmicutes dan Proteobacteria menjadi Campylobacterota dengan dominasi spesies Acrobacter suis, serta Hydrogenophaga sp. strain SL48 bakteri fiksasi CO2 di media SGW, dan tetap Firmicutes pada media LB.

2025
👤 Penulis: Muhammad Rifqi Adiwangsa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Bioindikator Kebocoran

EVALUATION OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY (OHS) IMPLEMENTATION IN MICRO, SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES (MSME) BASED ON WORKERS' ASSESSMENT (CASE STUDY: MSME X FURNITURE)

Penelitian ini mengevaluasi penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berdasarkan penilaian pekerja. K3 penting untuk melindungi pekerja dan menjaga produktivitas, namun UMKM sering menghadapi tantangan karena keterbatasan sumber daya, manajemen informal, serta perilaku budaya yang menormalisasi praktik tidak aman. Tujuan penelitian ini adalah menilai kesadaran pekerja terkait K3 pada aspek persepsi, pemahaman, dan kemampuan memproyeksikan risiko; mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada kecelakaan kerja; serta memberikan rekomendasi yang selaras dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Penelitian dilakukan di UMKM X furniture dengan 28 responden dari divisi produksi, finishing, dan kantor. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertutup yang didukung wawancara dan referensi literatur. Analisis korelasi mengonfirmasi adanya hubungan negatif yang signifikan secara statistik antara kesadaran K3 dan kecelakaan kerja. Kesadaran yang lebih tinggi terkait dengan lebih sedikit insiden, mendukung pandangan teoritis bahwa kesadaran adalah faktor pencegahan. Hasil menunjukkan bahwa kesadaran K3 di kalangan pekerja umumnya berada pada tingkat sedang, didominasi oleh dimensi pemahaman, sementara faktor kecelakaan kerja juga berada pada tingkat sedang dengan faktor manusia paling berpengaruh. Hasil subkelompok menunjukkan pekerja produksi tetap pada kesadaran sedang meskipun risikonya lebih tinggi, sedangkan staf kantor melaporkan kesadaran lebih tinggi dan insiden lebih sedikit, serta karakteristik demografis seperti jenis kelamin, usia, pendidikan, dan lama kerja juga memengaruhi hasil. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti tantangan bagi UMKM, termasuk keterbatasan finansial, lemahnya sistem manajemen, dan hambatan budaya terhadap penggunaan APD. Rekomendasi mencakup penguatan kesadaran melalui pelatihan partisipatif, peningkatan fasilitas dengan langkah berbiaya rendah, peningkatan komitmen manajerial, dan mencari dukungan eksternal, sementara adopsi pedoman ILO WISE by PAOT diusulkan untuk mendukung peningkatan teknis maupun partisipatif.

2025
👤 Penulis: Patricia G E Sitohang
🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

INFLUENCE OF WORK ENVIRONMENT CONDITIONS AND INDIVIDUAL FACTORS ON WORKER FATIGUE (CASE STUDY: MSME X FURNITURE)

Penelitian ini mengkaji pengaruh kondisi lingkungan kerja dan faktor individu terhadap kelelahan kerja pada UMKM X Furnitur dengan menggunakan desain cross-sectional yang melibatkan seluruh 25 pekerja UMKM tersebut. Variabel independen dalam penelitian ini terdiri atas kondisi lingkungan kerja (intensitas pencahayaan, tingkat kebisingan, suhu, kelembaban) dan faktor individu (usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan terakhir, kebiasaan merokok, masa kerja, jam kerja per hari, durasi tidur per hari, dan beban kerja). Kelelahan kerja dinilai menggunakan Subjective Self-Rating Test (SSRT). Distribusi kelelahan kerja menunjukkan bahwa 64% pekerja mengalami kelelahan rendah, dan 36% mengalami kelelahan sedang. Sebagian besar pekerja mengalami kelelahan dalam bentuk pelemahan aktivitas dan kelelahan fisik, sedangkan pelemahan motivasi hanya ditemukan pada sebagian kecil pekerja. Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kelelahan kerja dengan tingkat kebisingan (Sig.=0,004) dan jam kerja per hari (Sig.=0,009), sedangkan intensitas pencahayaan (Sig.=0,426), suhu (Sig.=0,175), kelembaban (Sig.=0,175), usia (Sig.=0,646), jenis kelamin (Sig.=0,465), status pernikahan (Sig.=0,426), tingkat pendidikan (Sig.=0,189), kebiasaan merokok (Sig.=0,426), masa kerja (Sig.=0,175), durasi tidur per hari (Sig.=0,843), dan beban kerja (Sig.=0,567) tidak signifikan. Analisis regresi linier berganda mengonfirmasi bahwa tingkat kebisingan merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi kelelahan kerja (Sig.=0,013). Rekomendasi mencakup strategi pengendalian kebisingan, solusi pendinginan, serta pengaturan jam kerja yang optimal untuk mengurangi kelelahan dan meningkatkan produktivitas serta keselamatan.

2025
👤 Penulis: Najma Aileen Shadrina
🏷️ Keuangan Manajemen 🏷️ Kesehatan Kerja 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STRATEGI MANAJEMEN PEMASARAN RITEL UNTUK PERTUMBUHAN PASCA COVID-19 DI INDUSTRI SALON RAMBUT (STUDI KASUS: HASAMI KUSHI)

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan yang dihadapi industri salon rambut akibat dampak pandemi COVID-19, khususnya pada aspek penurunan jumlah pelanggan, pergeseran perilaku konsumen, dan stagnasi pertumbuhan pendapatan. Hasami Kushi Salon, sebagai studi kasus dalam penelitian ini, mengalami penurunan jumlah cabang dan kesulitan mempertahankan pelanggan tetap pasca- pandemi. Permasalahan ini menunjukkan urgensi untuk mengevaluasi kembali strategi pemasaran ritel yang diterapkan, khususnya dalam konteks perubahan preferensi konsumen dan dinamika pasar pasca krisis kesehatan global. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi manajemen pemasaran ritel yang efektif dalam meningkatkan kepuasan dan retensi pelanggan di industri salon rambut setelah pandemi. Penelitian ini menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, dimulai dengan studi literatur dan observasi lapangan, diikuti oleh penyebaran kuesioner kepada pelanggan, serta wawancara dengan pihak manajemen. Model analisis yang digunakan mencakup analisis SWOT-TOWS, analisis deskriptif demografis dan perilaku konsumen, serta analisis statistik variabel marketing mix, kepuasan pelanggan, dan niat kunjungan ulang menggunakan Skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel marketing mix secara signifikan mempengaruhi kepuasan pelanggan, yang selanjutnya berdampak pada niat kunjungan ulang. Strategi utama yang diusulkan meliputi peningkatan kualitas layanan, optimalisasi media digital untuk promosi, dan diferensiasi pengalaman pelanggan berbasis gaya hidup. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan strategi pemasaran ritel yang adaptif terhadap perubahan pasca- pandemi, serta memberikan rekomendasi praktis bagi bisnis salon dalam meningkatkan loyalitas pelanggan di era pemulihan ekonomi.

2025
👤 Penulis: Ribka Adhika Purwoko
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pemasaran Retail 🏷️ Hidrologi Bisnis

MENINGKATKAN BRAND EQUITY MELALUI KEBANGKITAN MEREK SIMPATI UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELI PELANGGAN

Penelitian ini mengkaji efektivitas inisiatif rebranding Telkomsel, khususnya kebangkitan kembali merek prabayar SIMPATI, dalam meningkatkan brand equity dan mempengaruhi minat beli konsumen di pasar telekomunikasi Indonesia yang sudah jenuh. Berlandaskan kerangka kerja bauran pemasaran 7P, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana setiap elemen pemasaran—produk, harga, tempat, promosi, orang, proses, dan bukti fisik—berdampak terhadap persepsi brand equity. Brand equity diuji sebagai variabel mediasi terhadap minat beli, sedangkan persepsi keadilan, yang dibentuk oleh nostalgia merek, diperkenalkan sebagai variabel moderasi. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM), dan data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dari 120 pengguna SIMPATI. Temuan penelitian menunjukkan bahwa beberapa komponen bauran pemasaran berpengaruh signifikan terhadap brand equity, yang selanjutnya berdampak positif terhadap minat beli. Selain itu, persepsi keadilan secara positif memoderasi hubungan antara brand equity dan minat beli, khususnya ketika asosiasi nostalgia memperkuat persepsi keadilan tersebut. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi perusahaan telekomunikasi yang ingin memanfaatkan strategi rebranding, dengan menegaskan peran strategis keselarasan bauran pemasaran dan sentimen konsumen dalam memulihkan nilai merek.

2025
👤 Penulis: Nabila As Syifa
🏷️ Rebranding 🏷️ Brand Equity 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Konsumen

PENGUKURAN FOSFAT (PO43-) DAN KROMIUM HEKSAVALEN (CR(VI)) BERBASIS IMAGE PROCESSING TECHNIQUE PADA AIR PERMUKAAN DENGAN PENDEKATAN INTENSITAS WARNA

Aktivitas manusia dapat menjadi salah satu sumber masuknya polutan seperti fosfat dan kromium heksavalen ke air permukaan. Pengukuran kedua polutan tersebut umumnya menggunakan metode kolorimetri dan spektrofotometer yang membutuhkan biaya tinggi untuk pembelian alat dan reagen yang dibutuhkan. Oleh karena itu dikembangkan metode pengukuran Image Processing Technique (IPT) yang menggunakan alat measurement chamber berbasis kamera dengan harga terjangkau untuk melakukan pengambilan dan pemrosesan gambar berbasis intensitas warna. Gambar dianalisa secara otomatis oleh software ImageJ untuk mengukur komponen warna dari gambar dan mengolahnya menjadi nilai grayscale yang merepresentasikan intensitas cahaya. Dari pengujian fosfat didapatkan nilai R 2 , r, dan RSD untuk metode IPT adalah 0,983, -0,991, dan 2,378% dan nilai pvalue untuk perbandingan metode IPT dan metode konvensional adalah 0,552. Dari pengujian kromium heksavalen didapatkan nilai R2 , r, dan RSD untuk metode IPT 0,926, -0,962, dan 0,294% dan nilai p-value untuk perbandingan metode IPT dan metode konvensional adalah 0,993. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan secara keseluruhan dari metode IPT dan kolorimetri untuk pengujian sampel air artifisial dan sampel air permukaan dan metode IPT memiliki kepresisian dan linearitas yang baik dan memiliki potensi untuk dikembangkan dan ditingkatkan lebih lanjut.

2025
👤 Penulis: David Ahmad Zulfian
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Air 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG TELUR MENJADI POT PENCEGAH KELAINAN BLOSSOM-END ROT PADA TANAMAN SOLANACEAE

Limbah cangkang telur ayam merupakan masalah lingkungan signifikan, dengan proyeksi volume mencapai 623 ribu ton pada tahun 2024. Tingkat dekomposisi yang sangat rendah menjadikannya sumber polusi serius, memicu bau tak sedap dan pertumbuhan berbagai mikroba patogen. Penelitian ini hadir sebagai pencarian solusi dengan mengeksplorasi potensi daur naik (upcycling) limbah ini, mengubahnya menjadi produk yang fungsional dan ramah lingkungan. Penelitian ini berupaya memanfaatkan limbah cangkang telur ayam tersebut melalui proses eksplorasi ke bentuk produk yang fungsional dengan pendekatan daur naik (upcycling) kontekstual. Penelitian eksploratif ini menemukan bahwa limbah cangkang telur dapat diolah menjadi sebuah produk yang bermanfaat lebih terhadap tanaman tertentu, khususnya dengan genus Solanum seperti tomat dan terong berupa dengan sebuah pot yang dapat terdegradasi secara alami dan menjadi sumber kalsium untuk mencegah kelainan blossom-end rot.

2025
👤 Penulis: K. M. Addib Baaj
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KAJIAN PENGELOLAAN AIR BERKELANJUTAN DI PERGURUAN TINGGI - STUDI KASUS: INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (KAMPUS GANESHA)

Pengelolaan air yang berkelanjutan menjadi hal yang krusial dalam menjawab tantangan global terkait deplesi sumber daya alam dan perubahan iklim. Penerapan ini dapat dimulai dari lingkungan terkecil, seperti rumah, sekolah, kantor, universitas, hingga pemerintah. Universitas menjadi faktor pendorong dalam pengembangan pengetahuan dan contoh bagi lingkungan lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penilaian dan evaluasi dalam pengelolaan air yang berkelanjutan pada universitas untuk menghasilkan rekomendasi dalam optimalisasi pengelolaan air yang berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai tingkat penerapan air yang berkelanjutan di ITB menggunakan kuesioner UI (Universitas Indonesia) GreenMetric, mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat dalam menerapkan konsep pengelolaan air yang berkelanjutan pada universitas, serta memberikan rekomendasi agar penerapan pengelolaan air yang berkelanjutan dapat berjalan optimal dan aman. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pengukuran lapangan, hingga kuesioner, sedangkan pengolahan data menggunakan metode penilaian dari UI GreenMetric dan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk memberikan rekomendasi dalam optimalisasi penerapan pengelolaan air yang berkelanjutan. Didapatkan skor dalam penerapan pengelolaan air yang berkelanjutan di kampus ITB sebesar 550 dari 1.000. Adapun faktor pendorong dalam penerapan air yang berkelanjutan adalah peran dan wewenang pemangku kepentingan, beban biaya air bersih ke pihak ketiga berkurang, dan lainnya. Sedangkan faktor penghambat adalah keterbatasan dana, lahan, hingga pemilihan teknologi yang masih konvensional. Rekomendasi dalam penerapan air yang berkelanjutan di lingkup universitas berupa analisis keuangan proyek dengan NPV dan BCR, pelatihan bagi pimpinan, studi kelayakan, advokasi kebijakan, implementasi Water Safety Plan, dan penerapan teknologi sederhana seperti Rain Water Harvesting (RWH).

2025
👤 Penulis: Yulianty Kusuma Dewi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERFORMA PERTUMBUHAN DAN ANALISIS PROKSIMAT BLACK SOLDIER FLY (HERMETIA ILLUCENS L.) PADA SUBSTRAT LIMBAH DAUN BUNGA KOL (BRASSICA OLERACEA VAR. BOTRYTIS) DAN DARAH SAPI

Limbah organik mendominasi jenis sampah di Indonesia, mencapai 54,69% dari total 175.000 ton per hari. Aktivitas rumah potong hewan (RPH) juga menghasilkan sekitar 3 juta liter darah sapi per tahun yang berpotensi mencemari lingkungan bila tidak dikelola. Salah satu metode penanganan limbah organik adalah biokonversi menggunakan larva black soldier fly (BSF), yang mampu mengurai berbagai jenis limbah. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh substrat limbah daun bunga kol dengan kosubstrat darah sapi terhadap pertumbuhan, pencernaan, dan komposisi nutrisi larva BSF. Perlakuan berupa campuran daun bunga kol dan darah sapi (rasio 80:20) pada variasi feeding rate 25, 50, 75, 100, dan 125 mg/larva/hari, serta kontrol berupa pur ayam. Parameter diamati meliputi kadar air substrat, periode hidup, survival rate, laju pertumbuhan, approximate digestibility (AD), waste reduction index (WRI), efficiency of conversion of digested food to body substance (ECD), serta analisis proksimat prepupa. Hasil menunjukkan kontrol menghasilkan pertumbuhan terbaik dengan laju 7,90 ± 0,39 mg/hari, periode hidup tercepat (53 hari), survival rate imago 89,27 ± 2,16, dan WRI (12,65 ± 0,58). Meski demikian, perlakuan substrat limbah organik dengan feeding rate 75 mg menunjukkan AD tertinggi dan paling signifikan (86,56 ± 2,93), laju pertumbuhan 7,425 ± 0,048 mg/hari, survival rate paling tinggi untuk perlakuan non-kontrol, dan WRI yang mendekati kontrol (12,37 ± 0,42). Sedangkan ECD tertinggi pada perlakuan 25 mg (0,45 ± 0,22). Analisis proksimat perlakuan 75 mg menunjukkan kadar air 84%, abu 16,30%, protein 38,17%, serat 2,19%, lemak 19,33%, dan karbohidrat 24,01%.

2025
👤 Penulis: Galuh Azzahra Satyakinasih
🏷️ Biokonversi Limbah Organik 🏷️ Kecerdasan Buatan (Abp) 🏷️ Hidrologi

ANALISIS PERBANDINGAN EFISIENSI PERBANKAN SYARIAH: BUKTI EMPIRIS DARI INDONESIA DAN QATAR

Indonesia dan Qatar memiliki sektor perbankan syariah yang tumbuh pesat, namun berada dalam kondisi regulasi dan pasar yang berbeda. Bank syariah di Qatar dikenal sebagai salah satu yang paling efisien secara global. Studi ini mengkaji efisiensi bank syariah di Indonesia dan Qatar pada periode 2017–2024 serta mengidentifikasi faktor utama efisiensi pendapatan, dengan tujuan merumuskan strategi untuk meningkatkan kinerja bank syariah Indonesia melalui pembandingan (benchmarking) terhadap Qatar. Data Envelopment Analysis (DEA) digunakan dengan pendekatan intermediasi (intermediation approach), di mana variabel input meliputi biaya pegawai, total simpanan/dana pihak ketiga (DPK), dan aset tetap, sedangkan variabel output adalah total pembiayaan dan total investasi. Model DEA mengasumsikan variable returns to scale (VRS), menggunakan orientasi output untuk mengukur efisiensi pendapatan (revenue efficiency) dan orientasi input untuk efisiensi biaya (cost efficiency). Selanjutnya, dilakukan regresi panel pada 18 bank syariah (13 dari Indonesia dan 5 dari Qatar) untuk mengevaluasi pengaruh faktor spesifik bank dan faktor makroekonomi terhadap efisiensi pendapatan. Berdasarkan hasil DEA, bank syariah di Qatar secara konsisten mengungguli bank syariah di Indonesia baik dalam efisiensi pendapatan maupun efisiensi biaya. Ratarata bank syariah di Qatar mencapai sekitar 88,7% efisiensi pendapatan dan 93,1% efisiensi biaya, dibandingkan dengan 70,1% dan 74,8% pada bank syariah Indonesia. Perbedaan ini signifikan secara statistik pada tingkat p < 0,001, sebagaimana dikonfirmasi oleh uji t Welch. Temuan regresi panel menunjukkan bahwa ukuran bank (bank size), permodalan (capitalization), dan likuiditas merupakan penentu positif yang signifikan bagi efisiensi pendapatan. Sebaliknya, kualitas aset (misalnya rasio pembiayaan bermasalah/NPF), efisiensi manajemen (misalnya rasio biaya terhadap aset), kekuatan pasar (market power), serta kondisi makroekonomi seperti PDB dan inflasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap efisiensi pendapatan di kedua negara selama periode analisis. Bagi bank syariah di Indonesia, hasil ini menekankan perlunya peningkatan skala operasional, investasi pada inovasi perbankan digital untuk menurunkan biaya, serta optimalisasi pemanfaatan dana (penyaluran pembiayaan) guna menghasilkan pendapatan. Regulator direkomendasikan untuk mendukung upaya-upaya tersebut melalui kebijakan yang mendorong konsolidasi industri dan digitalisasi.

2025
👤 Penulis: Yoga Pratama
🏷️ Efisiensi Perbankan Syariah 🏷️ Analisis Data Envelopment Analysis (Dea)

PROTOTIPE HARDWARE DAN SOFTWARE UNTUK JAVA-PROGRAMMABLE SMART CARD PADA FPGA

Smart card merupakan perangkat komputasi yang tertanam dalam bentuk kartu. Sejak pengembangan pertama pada tahun 1950, smart card terus dikembangkan dan digunakan secara global. Pada tahun 2025, diperkirakan penggunaan smart card berada pada rentang 30 – 50 miliar unit dengan kebutuhan per tahun mencapai 10 miliar unit. Dari nilai tersebut, 40 – 67% smart card merupakan Java Card. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan platform Java Card sebagai bagian dari pengembangan smart card. Tulisan ini berfokus pada pengembangan prototipe hardware dan software untuk Java-programmable smart card. Pengembangan dilakukan pada tiga bagian, yaitu perangkat keras diskret, arsitektur komputasi, dan implementasi Java Card Virtual Machine (JCVM). Perangkat keras diskret dikembangkan dalam bentuk system-on-module (SoM) yang bersifat configurable, meskipun memerlukan carrier board. Di sisi lain, pengembangan arsitektur komputasi dan implementasi JCVM dilakukan secara bersamaan dengan pendekatan hardware-software co-design. Pengembangan JCVM dilakukan untuk memaksimalkan figure-of-merit (FoM) yang didefinisikan berdasarkan luas area, frekuensi clock maksimum, ukuran kode, dan banyaknya instruksi per bytecode. Pada sisi perangkat keras diskret, telah dikembangkan model smart card berbasis FPGA Xilinx Artix-7. FPGA ini bersifat mass-producable, reconfigurable, serta dapat digunakan untuk menyimulasikan hampir semua aplikasi smart card, kecuali medical record. Dibandingkan dengan prototyping board sebelumnya yang berbasis Altera Cyclone III, kapasitas logic resource dan memory resource pada FPGA ini masing-masing meningkat sebesar 412% dan 818%. Pada sisi arsitektur komputasi, pengembangan dilakukan dengan dua macam processor, yaitu MC8051 dan PicoRV32. Jika dilihat murni dari segi hardware, FoM untuk PicoRV32 berada pada rentang 2,837 sampai 6,546 kali lebih tinggi dibandingkan MC8051. Jika dilihat murni dari segi implementasi JCVM, FoM untuk PicoRV32 berada pada rentang 3,516 sampai 4,781 kali lebih tinggi jika dibandingkan MC8051. Secara keseluruhan, sistem yang dikembangkan menghasilkan peningkatan yang mencapai 23,01 kali lebih tinggi.

2025
👤 Penulis: Gotawa Aryo Prakoso
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGUSULAN UNSUR GAMIFIKASI SEBAGAI BAGIAN DARI PRODUCT IMPROVEMENT UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN KARYAWAN DI SF HRIS

Penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan unsur gamifikasi dalam peningkatan produk (product improvement) sistem informasi sumber daya manusia (HRIS) yang disebut SF HRIS guna meningkatkan keterlibatan karyawan. Nama perusahaan dan produk yang digunakan dalam studi ini merupakan nama samaran untuk menjaga kerahasiaan organisasi. Permasalahan utama yang diidentifikasi adalah rendahnya interaksi sukarela terhadap aplikasi mobile HRIS, yang saat ini hanya digunakan untuk keperluan administratif wajib. Pendekatan kualitatif berpusat pada pengguna diterapkan menggunakan kerangka kerja Design Thinking yang didukung oleh Value Proposition Canvas, Empathy Map, dan Hook Model. Wawancara semi-terstruktur dilakukan terhadap lima peserta yang mewakili tiga user persona, admin HR, karyawan aktif, dan karyawan pasif, dan dianalisis menggunakan metode tematik untuk mengidentifikasi kebutuhan pengguna dan pemicu motivasi. Temuan kemudian diterjemahkan ke dalam prototipe gamifikasi yang diintegrasikan ke dalam modul Employee Self-Service (ESS) yang sudah ada. Unsur-unsur yang diusulkan meliputi sistem level berbasis XP, pencapaian tugas, papan peringkat sosial, dan hadiah yang dapat ditukar. Mockup fidelitas tinggi diuji dan dievaluasi menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) sebagai interpretasi kualitatif, yang menunjukkan persepsi kegunaan, kemudahan penggunaan, dan niat perilaku untuk terlibat dengan fitur baru tersebut. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa gamifikasi dapat melengkapi fitur HRIS yang sudah ada dengan meningkatkan motivasi, pengakuan, dan keterlibatan, sehingga mendukung pengalaman kerja karyawan yang lebih dinamis dan partisipatif.

2025
👤 Penulis: Vyoni Reviolencia Octarivinski
🏷️ Gamifikasi 🏷️ Product Improvement Dalam Sistem Informasi Hris 🏷️ Manajemen Keterlibatan Karyawan

PERANCANGAN ANTENA SYNTHETIC APERTURE RADAR PADA SATELIT LEO

Kapasitas volume payload pada launcher satelit menuntut efisiensi ruang sehingga antena Synthetic Aperture Radar (SAR) berapertur besar sulit diintegrasikan ke dalam fairing peluncur. Penelitian ini bertujuan merancang antena slotted waveguide beroperasi pada 3 GHz untuk satelit Low Earth Orbit (LEO), dengan mekanisme lipat yang mempertahankan kontinuitas arus permukaan dan kinerja elektromagnetik. Perancangan menggabungkan distribusi amplitudo Taylor pada edge wall WR-284, optimasi sudut dan kedalaman slot longitudinal, serta joint mechanism berbahan aluminium alloy di titik simpul arus, diintegrasikan melalui welding untuk meminimalkan diskontinuitas. Simulasi di CST Studio Suite menghasilkan return loss ? –27,7 dB, VSWR 1,08, bandwidth 54 MHz, dan gain 18,4 dBi setelah deployment. Antena realisasi setelah deployment menunjukkan return loss –19,7 dB, VSWR 1,23, bandwidth 54 MHz, dan gain hingga 21,09 dBi di mana tetap memenuhi spesifikasi SAR. Hasil ini membuktikan bahwa antena lipat memperkecil dimensi stowage tanpa menurunkan performa resonansi, impedance matching, maupun pola radiasi, sehingga desain ini layak diimplementasikan pada misi SAR satelit LEO.

2025
👤 Penulis: Annaz Vatica Zahrahtun Nissa
🏷️ Antena Synthetic Aperture Radar 🏷️ Desain Elektronika Satelit 🏷️ Optimisasi Performa Antena

DESAIN RADAR TRACKING MENGGUNAKAN FREQUENCY SCAN ARRAY

RADAR tracking berperan penting dalam sistem pertahanan dan navigasi dengan kebutuhan utama untuk mendeteksi posisi target dalam tiga dimensi (range, azimuth, dan elevasi). RADAR memerlukan antena yang dapat melakukan beam scanning. Salah satu pendekatan scanning yang banyak digunakan adalah phase/frequency scanning di mana beam antena pada azimuth diarahkan dengan phase shifter, sedangkan pada elevasi beam antena diarahkan melalui perubahan frekuensi dari sinyal yang dipancarkan. Ini menjadi solusi alternatif dibanding sistem phase/phase scanning karena lebih sederhana dan ekonomis. Selain itu, cakupan scan yang lebih cepat karena arah antena dapat dilakukan dengan variasi frekuensi secara instan. Salah satu struktur antena yang digunakan sebagai frequency scan yaitu antena slotted waveguide. Struktur ini memiliki keterbatasan pada cakupan scan yang sempit untuk kebutuhan RADAR tracking. Namun, cakupan scan tersebut dapat ditingkatkan salah satunya dengan cara menambahkan corrugation. Penelitian ini berfokus pada perancangan frequency scan slotted waveguide S- band dengan narrow wall untuk sistem RADAR tracking berbasis phase/frequency scanning. Untuk meningkatkan sensitivitas scan dilakukan penambahan corrugated pin guna memodifikasi karakteristik dispersi. Sehingga dengan bandwidth tersedia cakupan scan dapat meningkat. Metode yang diterapkan meliputi desain loaded waveguide dengan corrugation dan desain narrow wall slotted waveguide. Hasil desain akhir kemudian di fabrikasi, dan dilakukan pengukuran. Hasil pengukuran menunjukkan antena yang dirancang memiliki bandwidth 640 MHz dan memiliki gain maksimum sebesar 16.6 dBi dengan sidelobe level –10 dB. Antena mampu melakukan pemindaian sudut hingga 31° hanya dengan perubahan frekuensi operasi 2.7 hingga 3.1 GHz, dengan sensitivitas scan mencapai 224.75 derajat.

2025
👤 Penulis: Muh. Fakhri
🏷️ Desain Antena Radar 🏷️ Teknologi Frequency Scan 🏷️ Optimisasi Sensitivitas Scan
Halaman 296 dari 6754
💬