📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

DETEKSI KERUSAKAN BANTALAN GELINDING PADA MESIN DENGAN TRANSMISI RODA GIGI MENGGUNAKAN METODE GETARAN DAN SHOCK PULSE

Kerusakan bantalan gelinding dapat dideteksi dengan pengukuran getaran maupun shock pulse. Namun, pendeteksian kerusakan bantalan gelinding pada mesin dengan transmisi roda gigi sering terkendala karena getaran dari roda gigi yang dapat mengganggu hasil pembacaan, sehingga ciri kerusakan tidak dideteksi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah metode getaran dan shock pulse dapat mendeteksi kerusakan bantalan gelinding pada mesin dengan transmisi roda gigi. Pada penelitian ini, dilakukan pendeteksian terhadap empat kondisi bantalan gelinding, yaitu tanpa cacat, cacat pada outer ring, cacat pada inner ring, dan cacat pada rolling element. Selain itu, dilakukan variasi beban torsi yang diterapkan, yaitu sebesar 0 Nm, 1 Nm, dan 2 Nm. Setiap variasi kondisi tersebut kemudian diukur menggunakan tiga teknik pengukuran yang berbeda, yaitu EVAM (Envelope Vibration Analysis Method), SPM HD (Shock Pulse Method High Definition), dan HD ENV, dengan memanfaatkan alat akuisisi data Leonova Diamond. Seluruh pengujian dilakukan pada alat uji di Laboratorium Dinamika ITB yang telah dimodifikasi sehingga dilengkapi dengan sistem pengereman cakram. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengukuran EVAM tidak berhasil mendeteksi kerusakan bantalan gelinding, begitu juga dengan HD ENV Filter 1. Namun, SPM HD dan HD ENV Filter 2, 3, dan 4 hanya berhasil mendeteksi kerusakan pada outer ring dan rolling element. Jadi, pengaruh getaran roda gigi pada sistem transmisi tidak sepenuhnya menghalangi deteksi kerusakan bantalan gelinding.

2025
👤 Penulis: Ridho Fikri Zein
🏷️ Getaran Mesin Roda Gigi 🏷️ Analisis Getaran 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Teknikal

IMPLEMENTASI OPTICAL CHARACTER RECOGNITION (OCR) BERBASIS KECERDASAN BUATAN UNTUK OTOMATISASI PENCATATAN KEUANGAN PADA FAKTUR PENJUALAN DAN PEMBAYARAN BERBASIS WEBSITE

Perkembangan teknologi Optical Character Recognition (OCR) semakin berperan penting dalam otomatisasi ekstraksi informasi dari dokumen digital maupun non-digital. Namun, sebagian besar sistem OCR yang tersedia masih bersifat umum (general-purpose) dan belum optimal dalam menangani data domain tertentu yang memiliki struktur dan terminologi spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem OCR berbasis pre-trained models yang dioptimalkan melalui pendekatan fine-tuning, dengan fokus pada perbandingan dua arsitektur utama: OCR+LLM (pipeline berbasis ekstraksi teks dan pemahaman konteks oleh language model) dan Donut (end-to-end multimodal transformer). Evaluasi dilakukan secara bertahap pada tiga skenario: baseline (tanpa fine-tuning), fine-tuning parsial (20% langkah pelatihan), dan fine-tuning penuh (90% langkah pelatihan). Tiga metrik utama digunakan dalam pengujian, yaitu Exact Match (EM), Field Accuracy (FA), dan Edit Distance (ED). Hasil eksperimen menunjukkan bahwa pada baseline, Donut unggul tipis dengan field accuracy 13,2% dibandingkan OCR+LLM yang hanya 9,9%. Namun, setelah fine-tuning penuh, OCR+LLM secara konsisten melampaui Donut dengan EM 30,9%, field accuracy 60,9%, dan edit distance 0,3. Temuan ini menegaskan bahwa proses fine-tuning merupakan faktor krusial dalam meningkatkan kinerja model OCR domain-spesifik, serta menunjukkan bahwa arsitektur pipeline OCR+LLM memiliki kapasitas adaptasi yang lebih tinggi dibandingkan model end-to-end seperti Donut. Penelitian ini membuktikan kelayakan pengembangan sistem OCR berbasis pre-trained models yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan domain tertentu, sekaligus membuka ruang eksplorasi lebih lanjut terkait optimisasi strategi fine-tuning dan integrasi multimodal untuk meningkatkan akurasi serta efisiensi.

2025
👤 Penulis: Gevyndo Gunawan
🏷️ Optical Character Recognition (Ocr) 🏷️ Pre-Trained Models 🏷️ Fine-Tuning Strategi

PENGEMBANGAN BACKEND PADA PLATFORM PEMBELAJARAN COMPUTATIONAL THINKING DENGAN PENDEKATAN MAZE-BASED PROGRAMMING

Pembelajaran pemrograman merupakan tantangan bagi pemula, bukan hanya karena sifatnya yang abstrak, tetapi juga karena kesulitan dalam membentuk model mental yang akurat mengenai cara kerja program. Penelitian ini mengkaji permasalahan tersebut dengan mengembangkan platform pembelajaran computational thinking berbasis maze yang berfungsi sebagai jembatan untuk memvisualisasikan eksekusi kode secara interaktif. Untuk meningkatkan motivasi belajar, platform ini didukung oleh elemen gamifikasi. Fokus dari penelitian ini adalah merancang dan mengimplementasikan sistem backend yang andal untuk platform tersebut, dengan tujuan utama mengintegrasikan komponen frontend dan interpreter, serta menjamin skalabilitas sistem. Metode yang digunakan adalah pengembangan backend dengan arsitektur microservice, yang memecah fungsionalitas sistem menjadi layanan-layanan independen. Pendekatan ini dipilih untuk mempermudah pengembangan, deployment, dan skalabilitas setiap layanan. Proses implementasi mencakup perancangan arsitektur, basis data, dan API, yang divalidasi melalui serangkaian pengujian fungsional dan performance testing untuk mengevaluasi fungsionalitas dan kinerja. Hasil pengujian performa menunjukkan bahwa arsitektur microservice yang diterapkan mampu menangani lonjakan beban pengguna secara efektif melalui horizontal scaling. Dengan menambah jumlah replika layanan, sistem berhasil membuktikan skalabilitas dari platform pada metrik HTTP success rate dan HTTP response time saat dilakukan simulasi dengan meningkatan jumlah pengguna. Kesimpulannya, penelitian ini berhasil mengimplementasikan backend yang tidak hanya mengintegrasikan seluruh alur interaksi secara andal, tetapi juga terbukti scalable untuk mendukung pertumbuhan jumlah pengguna di masa depan.

2025
👤 Penulis: Ahmad Nadil
🏷️ Computational Thinking 🏷️ Backend Pembelajaran Pemrograman 🏷️ Microservice Architecture

BIOPROSPEKSI AKTINOMISETES BARU ASAL LAUT DALAM SEBAGAI PENGHASIL KANDIDAT SENYAWA ANTI-TUBERKULAR DENGAN PENDEKATAN DIFUSI AGAR PLUG DAN GENOME MINING

Tuberkulosis hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan global utama dengan meningkatnya kasus resistensi obat, sehingga diperlukan pencarian sumber senyawa anti-tuberkular baru. Mikroorganisme laut dalam, khususnya aktinomisetes diketahui memiliki potensi besar dalam menghasilkan senyawa bioaktif unik yang belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi, karakterisasi dan bioprospeksi spesies baru aktinomisetes asal sampel sedimen laut dalam (1.457 mbsl) dari perairan Arafuru, Maluku guna mencari kandidat senyawa anti-tuberkular baru menggunakan metode skrining tradisional berbasis agar plug dan genome mining. Aktinomisetes laut dalam diisolasi dengan menggunakan metode pengenceran bertingkat dan teknik soil stamping pada tiga media selektif yaitu ISP-2, AIA dan R2A. Skrining aktivitas senyawa anti-tuberkular terhadap Mycobacterium smegmatis DSM 43756T dilakukan dengan pendekatan difusi agar plug. Isolat terpilih dikarakterisasi secara molekuler dengan sekuensing marka gen 16S rRNA dan Whole Genome Sequencing (WGS). Keberadaan gen kluster penyandi senyawa anti-tuberkular diidentifikasi melalui teknik genome mining. Sebanyak 15 kandidat isolat aktinomisetes berhasil diisolasi dan metode paling baik untuk isolasi aktinomisetes dari sedimen laut dalam yaitu menggunakan media AIA dan ISP-2 dengan teknik pengenceran bertingkat tanpa pre-treatment panas. Hasil skrining aktivitas anti-tuberkular menunjukkan isolat LA_06 dapat menghambat pertumbuhan M. smegmatis DSM 43756T dengan luas diameter zona hambat sebesar 5,67 ± 0,57 mm. Karakterisasi molekuler menggunakan marka gen 16S rRNA menunjukkan isolat LA_06 merupakan aktinomisetes dari genus Nocardia. Hasil ini dikonfirmasi dengan WGS yang menunjukkan isolat Nocardia sp. LA_06 berkerabat dekat dengan Nocardia spumae DSM 111726T; serta berdasarkan nilai ANI (84,17%) dan dDDH (24,10%), isolat LA_06 diindikasikan merupakan kandidat spesies baru. Isolat Nocardia sp. LA_06 teridentifikasi memiliki klaster gen BGC 19, homolog dengan BGC piericidin A1 dari Streptomyces sp. SCSIO 03032 yang memiliki tingkat similarity yang rendah yaitu 33,3%. Piericidin A1 diketahui mampu menghambat NADH-ubiquinone oxidoreductase (kompleks I) yang telah dilaporkan memiliki aktivitas antimikroba. Analisis domain dan modul PKS menunjukkan bahwa BGC 19 memiliki jumlah gen inti (core genes) dan susunan domain yang berbeda, serta tidak mengandung domain thioesterase (TE) yang berperan penting dalam pembentukan cincin ?-pyridone pada piericidin A1. Selain itu, BGC 19 memiliki gen tailoring seperti oxidoreductase dan aminotransferase yang berpotensi menghasilkan produk akhir dengan modifikasi struktur yang berbeda dari piericidin A1. Oleh karena itu, BGC 19 diprediksi mampu mengkode senyawa analog piericidin A1 dengan struktur dan mekanisme aksi yang berbeda sehingga dapat menghambat pertumbuhan M. smegmatis, meskipun piericidin A1 hanya NADH-ubiquinone oxidoreductase (kompleks I). Temuan ini menunjukkan pentingnya eksplorasi aktinomisetes laut dalam sebagai sumber kandidat antibiotik baru, terutama untuk menghadapi meningkatnya masalah resistensi Mycobacterium tuberculosis.

2025
👤 Penulis: Leggina Rezzy Vanggy
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PREDIKSI UTILISASI PORT SEBAGAI DASAR PERENCANAAN CAPEX MENGGUNAKAN GATED RECURRENT UNIT

Pertumbuhan pengguna internet di Indonesia menuntun peningkatan pada infrastruktur jaringan telekomunikasi, menuntut peningkatan kualitas layanan (QoS) yang berkelanjutan. Tantangan utama yang dihadapi oleh penyedia layanan adalah melakukan ekspansi kapasitas jaringan secara efektif tanpa menimbulkan inefisiensi alokasi Capital Expenditure (CapEx). Perencanaan investasi yang tidak tepat dapat mengakibatkan pemborosan sumber daya yang berdampak negatif pada profitabilitas dan kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, diperlukan sebuah pendekatan proaktif berbasis data untuk memprediksi kebutuhan infrastruktur di masa depan. Penelitian ini menerapkan model deep learning Gated Recurrent Unit (GRU) untuk melakukan prediksi terhadap utilisasi port pada jaringan telekomunikasi. Model ini mempelajari pola kompleks dari data historis. Kinerja dan akurasi model dievaluasi secara kuantitatif menggunakan empat metrik standar, yaitu Mean Squared Error (MSE), Mean Absolute Error (MAE), Mean Absolute Percentage Error (MAPE), dan koefisien determinasi (R2). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model GRU yang dikembangkan memiliki performa prediksi yang sangat tinggi dan tingkat kesalahan yang rendah. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai MSE sebesar 0,2774, MAE sebesar 0,1437, dan MAPE sebesar 0,2816. Lebih lanjut, nilai R2 yang mencapai 0,9545 mengindikasikan bahwa model mampu menjelaskan 95,45% variabilitas data utilisasi port, yang menegaskan keandalannya dalam menangkap dinamika lalu lintas jaringan. Kesimpulannya, Gated Recurrent Unit (GRU) efektif untuk melakukan prediksi utilisasi port, memberikan implikasi praktis sebagai alat bantu presisi untuk perencanaan CapEx dan kapasitas. Potensi analisis juga dapat ditingkatkan dengan mengintegrasikan hasil prediksi dan indikator sosio-ekonomi, guna meningkatkan efisiensi serta profitabilitas perusahaan.

2025
👤 Penulis: Juan Kevin Aritonang
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Perencanaan Investasi 🏷️ Analisis Lalu Lintas Jaringan

OPTIMASI KONDISI PRODUKSI DAN UJI AKTIVITAS ENZIM REVERSE TRANSCRIPTASE DARI MOLONEY MURINE LEUKEMIA VIRUS YANG DIFUSIKAN DENGAN PROTEIN SIS7A

Reverse transcriptase (RT) merupakan enzim yang dapat mengkatalisisasi sintesis cDNA dari template RNA. Salah satu RT yang paling umum digunakan adalah moloney murine leukemia virus reverse transcriptase (MMLV RT) yang masih memiliki prosesivitas dan termostabilitas yang rendah. Pada penelitian sebelumnya dilakukan fusi MMLV RT dengan protein Sis7a dari 7 kDa DNA binding protein family yang berhasil meningkatkan termostabilitas, parameter fisikokimia, dan lebih hidrofilik dibandingkan dengan RT komersial (RTK). Namun, produksi MMLV RT fusi masih dilakukan dalam skala kecil, yakni 80 mL. Maka dari itu, dalam penelitian ini dilakukan produksi MMLV RT fusi dalam skala yang lebih besar, yakni 330 mL volume kultur. Yield (konsentrasi protein) dan aktivitas enzim kemudian diukur untuk menentukan kondisi produksi terbaik. MMLV RT fusi diekspresikan pada Escherichia coli (E. coli) BL21(DE3) dengan dan tanpa induksi isopropil ?-D-1-tiogalaktopiranosid (IPTG) selama 24 jam. Saat inkubasi, dilakukan pengukuran pH, OD600, berat kering sel (dry cell weight/DCW) serta ekstraksi MMLV RT fusi setiap 6 jam sekali yang kemudian diuji aktivitasnya. Selain itu, uji aktivitas juga dilakukan dengan membandingkan kultur setelah inkubasi 24 jam dengan metode pemekatan presipitasi dengan aseton dan ultra centrifugal filters. Aktivitas enzim kemudian diukur dengan menggunakan two step RT-qPCR pada protein yang dipurifikasi dengan kolom Ni-NTA dan tidak dipurifikasi (ekstrak kasar). Setelah 24 jam inkubasi, pertumbuhan E. coli BL21(DE3) rekombinan MMLV RT fusi, baik diinduksi maupun tidak, meningkat ditunjukkan oleh kenaikan OD600 dan DCW. Kepadatan sel (OD600 = 1,4725) dan DCW (1,1 mg) kultur yang tidak diinduksi tertinggi pada jam ke-18 sementara pada kultur yang diinduksi (OD600 = 1,5775, DCW = 1.3 mg) diperoleh tertinggi pada jam ke-24 (fase stasioner). Selama 24 jam, pH kedua kultur menurun selama fase log, dan kemudian meningkat saat memasuki fase stasioner yang menandakan adanya perubahan metabolit untuk menghasilkan produk. Berdasarkan hasil uji aktivitas, diperoleh aktivitas MMLV RT fusi tertinggi (Cq = 25,9) saat diinkubasi selama 24 jam dan tanpa induksi. MMLV RT fusi yang tidak dipurifikasi menghasilkan aktivitas yang lebih tinggi (Cq = 31,07) dibandingkan dengan MMLV RT fusi yang dipurifikasi. Sementara itu, kedua proses pemekatan yang berbeda tidak menunjukkan metode yang lebih baik dalam memengaruhi hasil uji aktivitas. Secara keseluruhan, kondisi produksi MMLV RT fusi paling optimal diperoleh ketika sel dipanen saat fase stasioner akhir tanpa induksi dan tanpa purifikasi. .

2025
👤 Penulis: Patricia Anita Rosiana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STRESS BALL DENGAN SENSOR UNTUK KLASIFIKASI DAN MONITORING KEKUATAN GENGGAMAN PADA ANAK DENGAN AUTISM SPECTRUM DISORDER (ASD)

Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) seringkali menghadapi tantangan dalam perkembangan keterampilan motorik halus, salah satu indikatornya adalah rendahnya kekuatan genggaman tangan (Hand Grip Strength/HGS). Terapi okupasi, khususnya yang berbasis permainan menggunakan media seperti stress ball, merupakan intervensi yang efektif untuk meningkatkan kemampuan ini. Namun, alat terapi konvensional yang ada saat ini memiliki keterbatasan signifikan, yaitu tidak adanya kemampuan untuk menyediakan data kuantitatif yang objektif mengenai perkembangan kekuatan genggaman anak selama sesi terapi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang, mengimplementasikan, dan menguji sebuah stress ball yang terintegrasi dengan sistem sensor untuk melakukan klasifikasi dan pemantauan kekuatan genggaman tangan pada anak dengan ASD. Sistem perangkat keras dirancang menggunakan sensor Force Sensing Resistor (FSR) tipe Interlink 406 sebagai transduser utama, mikrokontroler Seeed Studio XIAO ESP32S3 sebagai unit pemrosesan data dan komunikasi nirkabel Wi-Fi, serta 5 buah LED Strip WS2812B sebagai umpan balik visual yang intensitas kecerahannya termodulasi secara linear sesuai kekuatan genggaman. Untuk memastikan validitas data, dilakukan proses kalibrasi sensor menggunakan Universal Testing Machine (UTM) A&D Tensilon RTF-1310. Data hasil kalibrasi kemudian dianalisis untuk menemukan model matematis konversi terbaik. Di sisi perangkat lunak, dikembangkan sebuah antarmuka pengguna (UI) di laptop yang mampu menerima data secara real-time melalui protokol UDP, melakukan analisis statistik, dan mengklasifikasikan kekuatan genggaman. Pengujian fungsionalitas prototipe dilakukan secara menyeluruh, mencakup uji akurasi dengan membandingkannya terhadap alat standar Biopac Hand Dynamometer SS25LA, uji presisi, uji responsivitas dinamis, dan uji klasifikasi. Hasil penelitian menunjukkan prototipe stress ball berhasil diimplementasikan dengan baik. Proses kalibrasi sensor menetapkan model interpolasi linear dengan lookup table sebagai metode konversi paling akurat, dengan nilai Root Mean Square Error (RMSE) sebesar 0.128 kg dan koefisien determinasi (R2) 0.9986. Pada uji akurasi, prototipe menunjukkan korelasi linear positif yang sangat kuat (r = 0.986) dengan alat standar, didukung oleh analisis Bland-Altman yang menunjukkan bias sistematis yang dapat diabaikan. Uji presisi membuktikan konsistensi dan presisi alat yang sangat tinggi, dengan nilai Koefisien Variansi ii (CV) di bawah 3% pada pengujian beban berulang. Sistem juga terbukti responsif dalam melacak perubahan kekuatan genggaman secara dinamis tanpa jeda waktu (lag) yang signifikan. Lebih lanjut, fungsi klasifikasi berhasil divalidasi dan mampu mengkategorikan kekuatan genggaman pengguna ke dalam tiga kelas (Lemah, Normal, Kuat) secara akurat untuk kelompok usia 7 dan 8 tahun. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada pengembangan alat terapi yang tidak hanya fungsional sebagai media latihan, tetapi juga sebagai instrumen pemantauan kuantitatif.

2025
👤 Penulis: Aisyah Amalia
🏷️ Autisme 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Perawatan Motorik

DAMPAK PENDAPATAN BUNGA DARI PENGURANGAN EKSPOSUR PINJAMAN BATUBARA: ANALISIS SKENARIO ATAS SAMPEL PORTOFOLIO PINJAMAN BANK PERMATA

Peralihan global menuju ekonomi rendah karbon telah meningkatkan tekanan regulasi, pasar, investor, dan masyarakat terhadap bank untuk menyelaraskan portofolio pembiayaan dengan prinsip keuangan berkelanjutan. Di Indonesia, di mana batu bara masih menjadi pusat bauran energi, bank menghadapi dilema strategis antara mempertahankan profitabilitas dari pembiayaan batu bara dan mematuhi persyaratan taksonomi hijau. Penelitian ini mengevaluasi implikasi pendapatan bunga dari penghentian bertahap sektor batu bara bagi Bank Permata, salah satu bank komersial terkemuka di Indonesia, serta menelaah strategi mitigasinya. Analisis ini mengintegrasikan Teori Sinyal, Teori Ketergantungan Sumber Daya, Teori Stakeholder, dan Keuangan Berkelanjutan terkait pertimbangan strategis, risiko, dan kepentingan pemangku kepentingan dalam realokasi portofolio. Analisis skenario kuantitatif diterapkan pada empat perusahaan batu bara terbuka dengan fasilitas kredit di Bank Permata sebagai sampel. Dengan pendekatan perencanaan laba, proyeksi keuangan dikembangkan untuk laporan laba rugi, neraca, dan arus kas berdasarkan data publik dan asumsi yang divalidasi. Hasil kemudian dibandingkan antara skenario dasar dan tiga skenario penghentian, dengan skenario paling ketat menargetkan nol eksposur pada tahun 2030. Temuan menunjukkan bahwa penghentian dalam jangka pendek akan menurunkan pendapatan bunga, yang disebabkan oleh berkurangnya saldo pinjaman dan yield, namun memberikan manfaat jangka panjang berupa berkurangnya risiko ketidakpatuhan regulasi dan menurunnya eksposur reputasi terhadap risiko transisi. Potensi kerugian juga dapat diminimalkan dengan mengalokasikan kembali ke sektor yang selaras dengan taksonomi hijau dengan yield yang kompetitif. Penelitian ini menawarkan kerangka pemodelan berbasis skenario yang dapat direplikasi untuk mengkuantifikasi dampak finansial dari strategi penghentian batu bara di perbankan pasar berkembang. Penelitian ini menekankan pentingnya realokasi portofolio strategis, diversifikasi ke sektor berkelanjutan, dan penguatan penilaian risiko ESG untuk menjaga profitabilitas sekaligus mendukung tujuan keberlanjutan nasional dan global.

2025
👤 Penulis: Aditya Nugraha
🏷️ Eksposur Batu Bara 🏷️ Analisis Sinyal Keuangan Berkelanjutan 🏷️ Realokasi Portofolio Strategis

MENINGKATKAN MANAJEMEN PERSEDIAAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PERAMALAN: KASUS PERUSAHAAN AFTERMARKET OTOMOTIF

Peramalan inventaris sangat penting untuk memastikan keberlanjutan bisnis, terutama di industri otomotif, di mana fluktuasi permintaan dapat berdampak signifikan terhadap efisiensi operasional dan kepuasan pelanggan. PT AAC, penyedia terkemuka cakram rem berkinerja tinggi untuk mobil, menghadapi tantangan dalam mempertahankan tingkat inventaris yang optimal untuk memenuhi permintaan pasar sekaligus meminimalkan biaya penyimpanan dan biaya inventaris. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan model peramalan inventaris canggih yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik PT AAC, dengan mengintegrasikan data penjualan historis dan tren pasar untuk meningkatkan akurasi prediksi permintaan.Penelitian ini memanfaatkan model statistik seperti pemulusan eksponensial, penelitian ini berupaya menciptakan kerangka kerja prediktif yang beradaptasi dengan kondisi pasar yang dinamis. Penelitian ini berfokus pada perancangan strategi peramalan persediaan yang spesifik untuk PT AAC dengan mengintegrasikan riset pasar dan data penjualan historis. Berdasarkan analisis Pareto, delapan produk penting dipilih dari portofolio produk asli karena produk-produk tersebut menyumbang porsi penjualan terbesar dan, oleh karena itu, memiliki pengaruh terbesar terhadap perencanaan persediaan. Setelah menguji sejumlah model peramalan, hasil Mean Absolute Deviation, Mean Absolute Percentage Error, Mean Absolute Error, Mean Squarred Error, dan Tracking Signal menunjukkan bahwa pemulusan eksponensial dengan ? = 0,8 memiliki akurasi tertinggi. Untuk menciptakan sistem pengendalian persediaan yang lebih andal, pendekatan ini kemudian dikombinasikan dengan perhitungan Economic Order Quantity (EOQ), Safety Stock, dan Reorder Point (ROP). Dengan menggunakan metode ini, biaya persediaan berkurang sekitar 17% sebagai hasil dari peramalan permintaan dan perencanaan pengadaan yang lebih baik. Kesimpulan penelitian ini menawarkan saran praktis bagi PT AAC untuk manajemen lead time, pelacakan permintaan, dan penjadwalan pengadaan. Mereka juga dapat digunakan sebagai panduan oleh bisnis otomotif lain yang ingin meningkatkan kinerja inventaris.

2025
👤 Penulis: Hadrian Sergio A.P.
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Data

STUDI ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL PARAMETER KEKAKUAN TANAH DENGAN MODEL HARDENING SOIL PADA KASUS TIMBUNAN BANDUNG SOFT CLAY

Deformasi timbunan pada tanah lunak sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian parameter tanah yang bervariasi secara spasial. Pengabaian variabilitas spasial berpotensi menghasilkan desain yang terlalu konservatif atau tidak aman. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variabilitas spasial parameter kekakuan tanah pada kasus timbunan di Bandung Soft Clay dengan Random Finite Element Method (RFEM). Metode ini menggabungkan random field theory dan Monte Carlo Simulation, dengan parameter tanah hasil uji lapangan dan laboratorium yang diinterpolasi menggunakan kriging dan dimodelkan dalam Hardening Soil Model. Simulasi dilakukan dengan FEM deterministik dan RFEM, lalu divalidasi terhadap data settlement plate. Hasil menunjukkan bahwa prediksi RFEM lebih representatif dibanding FEM, dengan rata-rata deformasi mendekati observasi lapangan serta menghasilkan rekomendasi parameter tanah yang konsisten dengan kondisi aktual. Kesimpulannya, variabilitas spasial berpengaruh signifikan pada analisis geoteknik dan penerapan RFEM dapat meningkatkan reliabilitas desain secara keseluruhan.

2025
👤 Penulis: Imanullah Rafi Priambodo
🏷️ Geoteknik 🏷️ Model Hardening Soil 🏷️ Metode Random Finite Element

ANALISIS PENGGUNAAN FLY ASH PADA STABILISASI TANAH SEMEN UNTUK MENINGKATKAN STABILITAS TANAH.

Tanah lempung plastisitas tinggi (CH) menyajikan tantangan geoteknik yang signifikan untuk pembangunan infrastruktur, termasuk kekuatan rendah dan potensi perubahan volume yang tinggi. Meskipun stabilisasi semen merupakan solusi umum, biaya ekonomis dan dampak lingkungannya mendorong eksplorasi alternatif yang berkelanjutan. Penelitian ini menginvestigasi penggunaan fly ash Kelas F sebagai material tambahan pada stabilisasi tanah lempung plastisitas tinggi dari Meulaboh, Aceh, untuk meningkatkan sifat-sifat rekayasanya dan mengevaluasi potensi reduksi semen. Pengujian laboratorium, meliputi Batas Atterberg, pemadatan, dan Kuat Tekan Bebas (UCS) pada umur 7 hari, dilakukan pada sampel yang distabilisasi dengan 5% dan 10% semen, yang masing-masing dikombinasikan dengan 0%, 20%, 30%, dan 40% fly ash. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fly ash sangat efektif dalam memperbaiki sifat indeks tanah, dengan menurunkan Indeks Plastisitas (PI) dari 31.995% menjadi serendah 18.039%1. Nilai UCS juga meningkat signifikan dari kuat tekan tanah asli sebesar 1.044 kg/cm²; kadar optimum untuk seri 5% semen tercapai pada 20% fly ash (4.73 kg/cm²), sedangkan kekuatan tertinggi untuk seri 10% semen dicapai pada 40% fly ash (11.05 kg/cm²). Studi ini menyimpulkan bahwa kadar optimum fly ash bergantung pada kadar semen, yang berperan sebagai aktivator kimia. Sebuah analisis kesetaraan kekuatan menunjukkan bahwa fly ash memiliki potensi untuk mereduksi semen sekitar 1.57%.

2025
👤 Penulis: Mohammad Fathan Islamika
🏷️ Stabilitas Tanah 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS PANEL DATA KRISIS EKONOMI ASIA DARI SUDUT PANDANG KEBIJAKAN FISKAL DAN MONETER

Krisis Ekonomi Asia 1997–1998 merupakan salah satu krisis keuangan paling signifikan dalam sejarah ekonomi modern. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau kembali Krisis Ekonomi Asia melalui dua kerangka teori kebijakan moneter dan fiskal dengan menerapkan metodologi data panel kuantitatif untuk menilai interaksi antara alat kebijakan moneter dan fiskal serta indikator-indikator makroekonomi utama di beberapa negara Asia Timur dan Tenggara. Studi ini didorong oleh kebutuhan ilmiah untuk memahami bagaimana koordinasi kebijakan makroekonomi membentuk krisis dan dampaknya. Penelitian ini menerapkan model regresi data panel yang mencakup delapan negara Asia, termasuk Indonesia, Thailand, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Hong Kong, dan Jepang, selama periode dari 1995 hingga 2005. Studi ini beroperasi di bawah serangkaian dalil teoritis yang didasarkan pada teori moneter, teori fiskal, dan teori siklus bisnis. Hipotesis ini mengeksplorasi apakah kebijakan moneter dan fiskal memiliki hubungan dengan Krisis Ekonomi Asia yang mengambil peran sebagai penyebab atau sarana mitigasi krisis. Di luar kontribusi empirisnya, studi ini juga menawarkan implikasi teoritis dengan meninjau kembali asumsi-asumsi utama dalam teori moneter, fiskal, dan siklus bisnis dalam konteks ekonomi terbuka yang rentan terhadap arus modal yang fluktuatif. Hasil riset menunjukkan bahwa kebijakan moneter yang memiliki efek terkuat pada indikator makroekonomi, sementara kebijakan fiskal menunjukkan pengaruh terlemah terhadap performa makroekonomi, namun dapat menstimulasi ekonomi negara Penelitian ini tidak hanya memberikan validasi empiris bagi teori-teori ekonomi makro yang berlaku, tetapi juga menawarkan wawasan kebijakan praktis tentang bagaimana instrumen fiskal dan moneter dapat dikoordinasikan secara efektif di masa krisis sistemik. Kontribusinya terhadap sains terletak pada pendekatan metodologisnya yang terintegrasi, sudut pandang komparatif regionalnya, dan relevansinya terhadap tantangan kebijakan kontemporer di era interkoneksi keuangan yang semakin meningkat.

2025
👤 Penulis: Azra Adianski
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

OPTIMALISASI BASIS DATA PROFIL SPASIAL KEBENCANAAN UNTUK KEPENTINGAN ANALISIS SPASIAL RISIKO BENCANA

Tingginya jumlah kejadian dan beragamnya jenis bencana alam di Indonesia menuntut sistem manajemen risiko yang responsif, berbasis data, terintegrasi, dan mutakhir. Namun, kondisi saat ini masih dihadapkan pada masih terpisah dan tersebarnya data spasial dan nonspasial, kurangnya interoperabilitas antar lembaga, serta ketergantungan terhadap data statis yang menyulitkan analisis dinamis risiko kebencanaan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan sistem basis data profil spasial kebencanaan yang dinamis, terintegrasi, dan berbasis web dengan studi kasus di Kabupaten Lebak, suatu wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap berbagai macam jenis bencana. Metode yang digunakan meliputi perancangan struktur basis data berdasarkan standar Risiko Bencana Indonesia (RBI), pengembangan backend dengan MongoDB, Python, dan JavaScript untuk manajemen data spasial yang fleksibel dan antarmuka frontend interaktif berbasis HTML. Sistem mendukung pembaruan otomatis melalui integrasi API dari sumber primer dan menyajikan fitur visualisasi spasial, klasifikasi tematik, serta statistik ringkas berbasis kecamatan. Evaluasi menunjukkan bahwa sistem ini meningkatkan efisiensi dalam pengumpulan dan pemanfaatan data, mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti, serta memperkuat sinergi lintas sektor dalam pengelolaan bencana. Kebaruan utama dari penelitian ini terletak pada penggabungan arsitektur basis data nonrelasional yang dioptimalkan untuk data spasial dinamis dengan fitur pembaruan tersinkronisasi dan kemampuan distribusi spasial berbasis web. Hasil penelitian ini memberi kontribusi penting terhadap pengembangan sistem informasi kebencanaan yang adaptif dan terstandar di tingkat lokal dan dapat direplikasi untuk wilayah lain dengan risiko sejenis.

2025
👤 Penulis: Diagy Muhammad Haviz
🏷️ Optimisasi Basis Data Profil Spasial Kebencanaan 🏷️ Analisis Risiko Bencana Alam 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Lingkungan

ANALISIS VARIABEL YANG MEMENGARUHI KEBERLANJUTAN TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) SAMPAH DI PROVINSI JAWA BARAT PASCA KEBAKARAN MENGGUNAKAN METODE STRUCTURAL EQUATION MODELING (SEM) (STUDI KASUS: TPA BURANGKENG, TPA JALUPANG, DAN TPA CIKOLOTOK)

Pengelolaan sampah di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 dengan prinsip penanganan, termasuk pemrosesan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah. Namun, penerapan sistem open dumping menyebabkan kebakaran di beberapa TPA Jawa Barat seperti TPA Burangkeng, Jalupang, dan Cikolotok sehingga tidak dapat mencegah terjadinya kebakaran hingga menimbulkan dampak lanjutan, yaitu penutupan TPA resmi yang hanya satu satunya di wilayah masing-masing. Penelitian ini bertujuan menganalisis variabel yang memengaruhi keberlanjutan TPA pasca kebakaran, menyusun strategi pencegahan kebakaran berulang, dan menganalisis variabel yang memengaruhi kesediaan masyarakat membayar pengelolaan sampah termasuk mengetahui besaran kesediaan dan kemampuan masyarakat untuk membayar jasa pengelolaan sampah di TPA. Metode yang digunakan meliputi Structural Equation Modeling (SEM) untuk variabel keberlanjutan TPA pasca kebakaran, Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) untuk strategi, dan Contingent Valuation Method (CVM) untuk kesediaan membayar. Hasil menunjukkan variabel yang berpengaruh secara signifikan berdasarkan perspektif masyarakat adalah pembiayaan di TPA Burangkeng, peraturan di TPA Jalupang, dan teknis operasional di TPA Cikolotok. Sedangkan, tidak secara signifikan berdasarkan perspektif pengelola adalah peraturan di TPA Burangkeng, kelembagaan di TPA Jalupang, dan pembiayaan di TPA Cikolotok. Strategi SWOT pada masing-masing TPA lebih difokuskan berdasarkan aspek keberlanjutan masing-masing TPA. Kesediaan membayar dipengaruhi oleh pendapatan, pengeluaran, dan layanan di TPA Burangkeng; pendidikan, kepemilikan rumah, serta penanganan sampah di TPA Jalupang; dan pengeluaran (tidak signifikan), penanganan sampah, serta layanan di TPA Cikolotok.

2025
👤 Penulis: Ninne Sevtiana Dewi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DINAMIKA KOMUNITAS MIKROBA PADA AIR BUDIDAYA DAN KINERJA KULTUR IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) MENGGUNAKAN SISTEM AKUAKULTUR TERTUTUP HYBRID: BIOFLOC - RECIRCULATING AQUACULTURE SYSTEM (RAS)

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar dengan konsumsi terbesar kedua di Indonesia. Namun, sistem budidaya ikan nila di Indonesia masih didominasi oleh metode konvensional dengan padat tebar yang rendah, kualitas air yang kurang terkontrol, serta kualitas dan kuantitas produksi yang tidak stabil. Pengembangan sistem akuakultur tertutup antara bioflok dan Recirculating Aquaculture System (RAS) diharapkan dapat menjadi alternatif untuk mengatasi masalah tersebut, dengan mengontrol kadar Total Ammonium Nitrogen (TAN), nitrit, dan nitrat yang bersifat toksik bagi ikan menggunakan kombinasi bakteri heterotrof pada bioflok dan bakteri nitrifikasi pada biofilter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika komunitas mikroba yang terjadi pada air budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) pada sistem akuakultur tertutup Hybrid: Bioflok–Recirculating Aquaculture System (RAS) serta pengaruhnya terhadap performa budidaya. Penelitian ini dilakukan dalam empat langkah utama: (1) persiapan konsorsium mikroba heterotrof pembentuk bioflok dan konsorsium mikroba nitrifikasi; (2) persiapan, pengkondisian, dan pemasangan komponen sistem RAS dan bioflok; (3) aklimatisasi ikan dari tingkat air bioflok 0%, 10%, lalu 30% dengan selang waktu 24 jam; (4) budidaya ikan selama 60 hari diikuti dengan analisis parameter fisika kimia air, dinamika komunitas mikroba, dan parameter biologis, serta analisis data menggunakan t-test dan one-way ANOVA. Sistem Hybrid dilakukan dengan menggabungkan komponen RAS dan bioflok. Tanki kultivasi ikan dikondisikan dengan penambahan komponen mikroba heterotrof pembentuk bioflok selama 24 jam, sementara biofilter dikondisikan dengan dari tingkat NH4Cl 5 ppm menjadi 200 ppm secara berkala. RAS dioperasikan setiap 48 jam dengan durasi 2 jam. Parameter kualitas air selama masa budidaya berada dalam batas toleransi, serta menunjukkan bahwa sistem Hybrid: Bioflok-RAS mampu mempertahankan kualitas air lebih baik dibandingkan sistem kontrol bioflok dengan perbedaan yang signifikan (p < 0,05) untuk kadar TAN (1,15 ± 1,78 dan 2,38± 3,43 ppm) dan kadar nitrit (1,3 ± 1,0 dan 2,4± 1,6 ppm). Pada akhir masa budidaya, sistem Hybrid: Bioflok-RAS memiliki nilai diversitas mikroba total yang lebih rendah serta nilai dominansi yang lebih besar dibandingkan kontrol bioflok berdasarkan indeks Shannon (0,57 ± 0,10 dan 0,890 ± 0,16) dan Simpson (0,70 ± 0,24 dan 0,47 ± 0,13), serta dinamika komunitas mikroba yang relatif stabil berdasarkan dendogram komunitas mikroba menggunakan metode Bray-Curtis dissimilarity. Hasil analisis statistik menunjukkan performa pertumbuhan pada sistem Hybrid: Bioflok-RAS yang lebih baik dibandingkan kontrol bioflok dengan total biomassa akhir (10,4 ± 0,3 dan 8,9 ± 0,5 kg) yang berbeda secara signifikan (p< 0,05), serta tingkat kesintasan (83,7 ± 0,9 dan 79,3 ± 0,9 %) dan rasio konversi pakan (1,9 ± 0,1 dan 2,3 ± 0,1) yang tidak berbeda secara signifikan (p> 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa sistem Hybrid: Bioflok-RAS memiliki produktivitas dan efektivitas budidaya yang lebih baik dibandingkan sistem kontrol bioflok, yang didukung oleh dinamika komunitas mikroba yang lebih stabil dan parameter kualitas air yang lebih baik. Secara keseluruhan, penerapan sistem Hybrid: Bioflok-RAS dapat menjaga kualitas air dengan lebih baik dengan profil komunitas mikroba air kultur yang lebih stabil dan meningkatkan performa budidaya ikan nila, serta berpotensi untuk diaplikasikan pada skala produksi yang lebih besar.

2025
👤 Penulis: Darryl Francis
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Bioflok 🏷️ Recirculating Aquaculture System (Ras)
Halaman 298 dari 6754
💬