📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

ANALISIS KINERJA ALAT DI PELABUHAN PETIKEMAS PADA PROSES UNLOADING DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI OTOMATISASI (STUDI KASUS: TELUK LAMONG, SURABAYA)

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang cukup besar dan cukup luas yang ada Dunia dengan jumlah pulau mencapai ±17.000 Pulau, dan luas lautan NKRI sebesar 6,4 juta ????????2, menjadikan transportasi laut berperan penting dalam mendukung sistem logistik nasional. Di Indonesia hingga tahun 2020 tercatat sudah memiliki sebanyak ±3.100 pelabuhan, Berdasarkan peraturan pemerintah No.61 tahun 2009 tentang penetapan Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN), pelabuhan dikelompokan menjadi 4 herarki, yaitu pelabuhan utama, pelabuhan pengumpul, pelabuhan pengumpan regional, dan pelabuhan pengumpan lokal. Salah satu pelabuhan di Indonesia adalah pelabuhan Teluk Lamong Surabaya, yang dikenal sebagai pelabuhan semi-otomatis pertama di Indonesia. Penerapan teknik otomatisasi dipandang sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan waktu kerja alat sebagai parameter yang akan dimasukan dalam model simulasi menggunakan software Simulink, pembuatan model simulasi hanya mencangkup 1 sesi untuk 1 hari yaitu selama 8 jam waktu operasional di Pelabuhan dan hanya memodelkan untuk 1 proses, yaitu proses bongkar, yang dimulai dari proses di dermaga hingga proses di Lapangan penumpukan. Dari proses pengambilan data dan hasil analisis yag telah dilakukan dapat diketahui bahwa waktu bongkar muat kapal terpadat di Pelabuhan Teluk lamong surabaya sesuai dengan hasil pengambilan data yang telah dilakukan yaitu pada pukul 16:00 – 00:00. Selain itu dketahui bahwa waktu efektif kerja alat yang digunakan adalah 41% dari total waktu kerja untuk tiap sesi (8 Jam), dimana dari total 8 jam kerja, efektif waktu kerja alat hanyalah 3,3 jam. Perbandingan utilitas hasil eksisting dan pengembangan model dengan selisih tertinggi yaitu 28% pada STS 8, dan 17,45% pada ASC 3, Dimana throughtput dari hasil pengembangan model lebih besar daripada throughput hasil eksisting. Dari analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa pengemangan model simulasi dapat diketahui bahwa rencana perpanjangan dermaga dapat dilakukan di Pelabuhan Teluk Lamong Surabaya apabila throughput pada alat meningkat, yang mana fungsi dari perpanjang dermaga tersebut dapat digunakan untuk menambahkan unit STS pada dermaga agar dapat membantu proses unloading yang padat pada dermaga.

2025
👤 Penulis: Novida Dinayazni Pelu
🏷️ Teknologi Otomatisasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Kinerja Pelabuhan

PENAMBAHAN PEWARNA ALAMI PADA PRODUK PANGAN SARAPAN FERCAF YANG DIPRODUKSI DENGAN METODE EKSTRUSI

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan pewarna alami terhadap kualitas produk sereal berbasis tepung singkong terfermentasi (Fercaf) yang diproduksi dengan metode ekstrusi. Tiga jenis pewarna alami yang digunakan yaitu ekstrak kulit buah naga (merah), kunyit (kuning), dan bunga telang (biru), dengan kadar 10% dan 20%. Pewarna ditambahkan melalui dua metode, yakni sebelum dan setelah ekstrusi, dengan tambahan bahan penyalut maltodekstrin atau gum arabic pada metode setelah ekstrusi. Analisis dilakukan terhadap parameter warna (L*, a*, b*), derajat pengembangan, dan kekerasan produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode penambahan warna dan kadar pewarna berpengaruh signifikan terhadap intensitas warna produk. Produk dengan pewarnaan setelah ekstrusi menghasilkan warna lebih pekat, sementara pewarnaan sebelum ekstrusi memberikan distribusi warna yang lebih merata dan degradasi warna yang lebih rendah selama penyimpanan. Uji ANOVA menunjukkan bahwa metode pewarnaan berpengaruh signifikan terhadap derajat pengembangan dan kekerasan produk, di mana produk dengan pewarnaan sebelum ekstrusi cenderung memiliki derajat pengembangan yang lebih tinggi dan kekerasan yang lebih rendah. Namun, variasi jenis pewarna dan jenis aditif tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap derajat pengembangan maupun kekerasan. Metode terbaik untuk menambahkan pewarna alami pada produk sereal Fercaf adalah penambahan warna sebelum ekstrusi. Penelitian ini menunjukkan potensi Fercaf sebagai bahan baku sereal sarapan bebas gluten, serta penambahan pewarna alami untuk meningkatkan daya tarik visual produk sekaligus mendukung inovasi pangan berbasis bahan lokal.

2025
👤 Penulis: Tiara Nur Insyirah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STARFISHING: PENGGUNAAN NAVIGASI BINTANG UNTUK MEMBANGUN PENGALAMAN ASTRONOMI DALAM ASTROWISATA

Astrowisata sebagai bentuk pariwisata berbasis pengalaman memiliki potensi untuk dikembangkan dengan mengadaptasi kearifan lokal navigasi bintang. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model konseptual wisata edukasi Starfishing dengan mengidentifikasi, memvalidasi, dan menerjemahkan sistem pengetahuan navigasi bintang menjadi sebuah metode yang praktis dan dapat diakses. Metodologi penelitian mengintegrasikan data kualitatif dari wawancara dengan narasmuber lokal, observasi partisipatoris, data kuantitatif dari simulasi astronomi, serta pengujian kelayakan melalui pelayaran di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya diversitas sistem pengetahuan maritim, bukan sistem tunggal, yang mencakup: sistem non-astronomis, sistem navigasi berbasis benda langit tunggal, dan sistem asterisme lokal yang kompleks. Dengan temuan utama adalah identifikasi dan pemetaan asterisme. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep "Starfishing" terbukti fungsional dan berhasil merumuskan model transformasi pengetahuan etnoastronomi dan pengetahuan rasi bintang modern menjadi produk wisata inovatif. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa implementasi praktisnya menuntut pengembangan strategi mitigasi risiko cuaca dan standardisasi protokol keselamatan yang ketat untuk menjamin keberlanjutan dan keamanan.

2025
👤 Penulis: Surya Novrian
🏷️ Etnoastronomi 🏷️ Navigasi Bintang 🏷️ Astrowisata

ANALISIS PERILAKU KONSUMEN GEN Z UNTUK MAKAN DI LUAR RUMAH SEBAGAI BASIS PREDIKSI TEMPAT MAKAN BARU DI MASA POST-COVID -19

Pandemi Covid-19 telah mengganggu tatanan hidup masyarakat global sejak kemunculannya di Wuhan, Cina, tahun 2019. Pemberlakuan lockdown atau pembatasan sosial diterapkan sesuai dengan kondisi di tiap negara untuk mengantisipasi lonjakan penderita. Penutupan sarana publik seperti restoran mempengaruhi keinginan konsumen untuk makan di luar rumah padahal sebelumnya kegiatan makan di luar rumah merupakan kebutuhan konsumen Gen Z untuk bersosialisasi, berelaksasi, dan mencari pengalaman lain selain makan di rumah. Kondisi lingkungan yang dirasa belum aman dari penularan virus Covid-19 mempengaruhi persepsi konsumen Gen Z untuk bersosialisasi dan memunculkan kekhawatiran untuk makan di luar rumah sehingga mereka akan memilih restoran yang dianggap aman dari penyebaran virus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan faktor-faktor baru terkait perilaku makan di luar rumah dan menemukan variabel-variabel lingkungan yang mendukung persepsi bersosialiasi dan emosi terkait makan di luar rumah konsumen Gen Z di masa post-Covid-19. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama menggunakan Exploratory Factor Analysis untuk mencari faktor-faktor baru pembentuk perilaku makan di luar rumah konsumen Gen Z pada masa post-Covid-19. Tahap kedua dengan menggunakan metode eksperimen dengan menguji stimulus lingkungan yang mengandung variabel tema, partisi, dan zonasi masing-masing dalam dua level kualitas terhadap persepsi bersosialisasi, emosi, dan perilaku makan di luar rumah konsumen Gen Z. Hasil dari penelitian Tahap I diperoleh informasi tentang faktor-faktor baru perilaku makan di luar rumah, yaitu keamanan, kesenangan (pleasure), mood, sosialisasi, kecemasan, dan kepraktisan (convenience). Sedangkan hasil penelitian Tahap II diperoleh hasil bahwa variabel partisi buram, tema modern, dan zona indoor menunjang persepsi bersosialisasi, respon emosi, dan perilaku makan di luar rumah konsumen Gen Z. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perilaku untuk makan di luar rumah konsumen Gen Z telah kembali seperti sebelum masa pandemi, namun dengan adanya faktor keamanan dan kecemasan mempengaruhi harapan lingkungan baru yang menunjang perilaku konsumen Gen Z untuk makan di luar rumah di masa post-Covid-19.

2025
👤 Penulis: Niken Savitri Anggraeni
🏷️ Perilaku Konsumen 🏷️ Makan Luar Rumah 🏷️ Pandemi Covid-19

KAJIAN WAYFINDING BERBASIS DESAIN UNIVERSAL PADA INTERIOR STASIUN FEEDER KERETA CEPAT JAKARTA–BANDUNG

Wayfinding yang inklusif merupakan prasyarat layanan stasiun dalam jaringan transportasi publik modern. Kehadiran Kereta Cepat Jakarta-Bandung menempatkan stasiun feeder sebagai simpul penting first last mile, terutama bagi lansia dan pengguna kursi roda. Penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk menilai kecukupan informasi arah di stasiun serta menjembatani ukuran kepatuhan dengan pengalaman pengguna di lapangan. Tujuan penelitian adalah menilai kondisi aktual elemen penuntun arah di tiga stasiun feeder, yaitu Bandung, Cimahi, dan Padalarang, mengidentifikasi kesenjangan antara capaian dan kebutuhan penumpang, serta menyusun urutan perbaikan yang realistis dan dapat diterapkan. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method. Bagian kuantitatif mencakup audit lapangan terstruktur atas jalur tanpa anak tangga, jalur pemandu, penanda tepi peron, dan penanda pada titik keputusan, serta kuesioner tentang kejelasan arah, kemudahan menemukan lokasi, keterbacaan sambil berjalan, dan kebutuhan dukungan petugas. Bagian kualitatif meliputi observasi perilaku bernavigasi dan pencatatan konteks ruang pada momen naik turun kereta dan perpindahan moda. Responden dipilih secara purposive dari tiga kelompok, yaitu penumpang umum, lansia, dan pengguna kursi roda. Hasil kuantitatif dan kualitatif dipadankan untuk menandai bagian yang selaras dan bagian yang masih menyisakan keraguan, lalu disintesis menjadi prioritas perbaikan per stasiun. Hasil menunjukkan pola yang konsisten di ketiga stasiun. Elemen dasar akses dan keselamatan menjadi fondasi kemandirian, sehingga jalur tanpa hambatan yang menyambung, jalur pemandu berkesinambungan, dan penanda tepi peron yang terbaca baik mempercepat keputusan arah. Pesan tentang langkah berikutnya perlu hadir berurutan sebelum persimpangan, tepat di titik pilihan, dan sesudahnya. Layar informasi stasiun dan pengumuman suara harus menampilkan isi sejalan pada momen naik turun kereta dan perpindahan moda. Segmen setelah turun hingga keluar paling rawan kebingungan, sehingga peneguhan arah dan kelancaran jalur menjadi kunci. Bandung paling rawan di area keluar dan awal keberangkatan, Cimahi pada rentang setelah turun hingga keluar yang menuntut konsistensi di kedua sisi peron, dan Padalarang pada sisi keberangkatan yang memerlukan jalur tanpa hambatan utuh dan penataan antre, sementara kedatangan butuh arahan menuju layanan lanjutan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan studi wayfinding dan desain inklusif di stasiun. Dari sisi keilmuan, penelitian memperjelas keterpaduan prasarana akses dengan informasi arah dan menawarkan cara baca gabungan untuk menilai kemajuan lintas lokasi dan waktu. Dari sisi praksis, temuan memberi pijakan bagi pengelola untuk menata urutan pesan di titik keputusan, merapikan area padat visual, menyelaraskan isi layar dan pengumuman suara, serta menjaga kesinambungan jalur tanpa hambatan dari pintu masuk hingga pintu keluar. Kerangka prioritas dapat direplikasi sesuai konteks operasional setempat agar pengalaman bernavigasi menjadi lebih mudah, aman, dan setara bagi seluruh penumpang.

2025
👤 Penulis: Dyah Ellne Rahmawityana
🏷️ Desain Universal 🏷️ Wayfinding Stasiun Kereta Cepat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Transportasi Publik

USULAN SISTEM MANAJEMEN PENGETAHUAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS DI DIVISI STRATEGI DAN ANALITIK PT XL AXIATA TBK

Penelitian ini membahas permasalahan produktivitas di divisi Strategy and Analytics PT. XL Axiata Tbk, seperti ketergantungan yang berlebihan pada individu tertentu, minimnya dokumentasi terpusat, lamanya proses onboarding, dan kualitas deliverable yang tidak konsisten. Permasalahan ini telah menyebabkan keterlambatan, rendahnya tingkat First Time Right (FTR), dan menurunnya kelincahan operasional. Pendekatan kualitatif digunakan dengan menggabungkan wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Analisis tematik mengidentifikasi empat kesenjangan utama: tidak adanya dokumentasi yang terstandarisasi dan terpusat, tingginya ketergantungan pada PIC kunci, kurangnya evaluasi pengetahuan, serta terbatasnya praktik berbagi pengetahuan. Penelitian ini menggunakan Strategi Knowledge Management (KM) yang berbasis pada tiga komponen—People, Process, dan Technology—yang diintegrasikan dengan Model SECI (Socialization, Externalization, Combination, Internalization) untuk mengatasi permasalahan tersebut. Integrasi ini menawarkan metode yang terstruktur untuk mengumpulkan, menyebarluaskan, dan menerapkan pengetahuan organisasi dengan mengintegrasikan praktik KM ke dalam operasi sehari-hari. Solusi utama yang diusulkan meliputi pengembangan tata kelola KM, penunjukan KM Champions, standarisasi template dokumentasi, integrasi repositori DataHub terpusat, dan penerapan prosedur peer review. Peta jalan KM yang terdiri dari tiga tahap—Foundational, Implementation, dan Evaluation—dirancang untuk memandu pelaksanaan serta mengukur hasil melalui KPI seperti peningkatan tingkat FTR, pengurangan waktu onboarding, penggunaan repositori, dan kepuasan karyawan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan penerapan KM memerlukan upaya transformasi organisasi secara menyeluruh, bukan sekadar inisiatif teknologi. Melalui intervensi pada aspek organisasi, prosedur, dan teknologi, divisi dapat meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas deliverable, serta membangun budaya berbagi pengetahuan yang berkelanjutan untuk mendukung tujuan strategis XL Axiata di industri telekomunikasi yang kompetitif.

2025
👤 Penulis: Dimas Natajiwa
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

INVERSI SEISMIK FULL WAVEFORM (FWI) MENGGUNAKAN FUNGSI OBJEKTIF ENVELOPE DAN OPTIMISASI QUASI-NEWTON

Full Waveform Inversion (FWI) merupakan metode pencitraan seismik yang andal untuk merekonstruksi model bawah permukaan beresolusi tinggi, namun sangat bergantung pada model kecepatan awal yang akurat agar terhindar dari jebakan minimum lokal. Penelitian ini mengusulkan pendekatan dua tahap dengan mengombinasikan FWI berbasis envelope dan waveform, dimulai dari model kecepatan gradien linear yang divariasikan dalam tiga rentang kecepatan berbeda untuk mengevaluasi efektivitas pembentukan informasi frekuensi rendah sebagai pondasi model awal. Simulasi dilakukan pada data sintetik kompleks dari SEG/EAGE Overthrust 2D menggunakan pustaka JUDI, dengan fungsi objektif berbasis envelope yang dibangun melalui ekstraksi sinyal, lalu dioptimalkan menggunakan metode mini-batch stochastic dalam algoritma quasi-Newton L-BFGS dari pustaka NLopt di lingkungan JULIA. Strategi ini tidak hanya berhasil mengurangi kebutuhan memori dan waktu komputasi secara signifikan, tetapi juga menghasilkan model kecepatan akhir yang mendekati model aktual tanpa ketergantungan pada informasi geologi apriori. Pendekatan ini menunjukkan kontribusi penting dalam desain model awal yang strategis dan efisiensi proses inversi, serta memberikan alternatif praktis dan tangguh untuk implementasi FWI dalam kondisi data yang terbatas

2025
👤 Penulis: M Nur Alamsyah Rahman
🏷️ Full Waveform Inversion (Fwi) 🏷️ Optimisasi Metode Quasi-Newton 🏷️ Desain Model Awal Strategis

ANALISIS KEBERLANJUTAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM BERBASIS MASYARAKAT (SPAM) PROGRAM PAMSIMAS DENGAN SUMBER AIR TANAH DI KECAMATAN TANJUNGSARI, KABUPATEN SUMEDANG, JAWA BARAT

Salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2030 adalah akses universal air minum, terutama di perdesaan yang rentan krisis akibat peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan air. Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan akses air di perdesaan. Namun implementasinya masih belum berfungsi optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor yang mempengaruhi keberlanjutan Program PAMSIMAS menggunakan metode CFA (Confirmatory Factor Analysis) dan merumuskan strategi berkelanjutan menggunakan metode SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Penelitian dilakukan pada lima lokasi PAMSIMAS di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang dengan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Penelitian ini menganalisis keberlanjutan terhadap lima aspek keberlanjutan, yaitu teknis, kelembagaan, keuangan, sosial, dan lingkungan. Hasil analisis CFA menunjukkan seluruh aspek keberlanjutan berkontribusi dalam mengukur keberlanjutan program dengan dengan aspek keuangan menjadi aspek paling berpengaruh ditinjau dari sisi pengguna sedangkan dari sisi pengelola adalah aspek kelembagaan. Faktor-faktor utama yang berkontribusi tinggi mempengaruhi keberlanjutan dari perspektif pengguna meliputi kemampuan membayar, kepercayaan terhadap pengelola, regulasi keuangan, kuantitas air, kondisi lingkungan. Dari perspektif pengelola meliputi pembuatan laporan kinerja, keteraturan pembayaran, ketersediaan sumber air, dan perlindungan sumber air. Faktor-faktor tersebut memiliki nilai factor loading berkisar 0,578 – 0,923. Semakin mendekati 1, semakin besar kontribusinya. Hasil analisis SWOT menunjukkan empat lokasi PAMSIMAS berada pada kuadran I yang memerlukan strategi agresif (menggunakan kekuataan untuk mengambil peluang). Untuk satu lokasi PAMSIMAS tersisa berada pada kuadran III yang memerlukan strategi turnaround (mengurangi kelemahan yang ada dengan memanfaatkan peluang). Penelitian ini diharapkan memberi masukan bagi pihak terkait dalam penyusunan strategi keberlanjutan program PAMSIMAS.

2025
👤 Penulis: Regia Afiyanti Putri
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

REKONSEPSI PASAR KOSAMBI DALAM PARADIGMA PRODUKSI RUANG

Pasar Kosambi merupakan salah satu dari sekian kasus revitalisasi pasar tradisional di Indonesia yang hasilnya tidak berfungsi secara optimal. Kami melihat permasalahan ini disebabkan oleh ketidaksesuaian antara ruang yang direncanakan dengan kebutuhan ruang masyarakat yang kemudian kami sebut sebagai kesenjangan spasial. Ruang pasar cenderung diperlakukan secara kaku, homogen, dan netral, padahal dalam praktiknya terdapat aktivitas sosial yang berlapis dan dinamis. Tesis ini menggunakan paradigma teori produksi ruang oleh Henri Lefebvre—yang memandang ruang terdiri dari conceived space, perceived space, dan lived space—sebagai kerangka berpikir perancangan untuk memetakan konflik spasial antar dimensi ruang yang terjadi dalam praktik keseharian masyarakat. Hasil pemetaan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi hipotesis perancangan melalui beberapa pendekatan, antara lain; adaptive reuse sebagai siasat terhadap conceived space, deconstructive programming untuk perceived dan lived space, serta open building untuk mengantisipasi siklus produksi ruang di masa depan. Temuan dalam tesis ini menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan ruang pasar di luar dari apa yang sudah direncanakan, termasuk di antaranya bagaimana pasar dipersepsikan dan dihidupi tidak hanya sebagai ruang niaga, tetapi juga sebagai ruang untuk aktivitas sosial. Selain itu, masyarakat kerap melakukan penyesuaian terhadap ruang pasar sesuai dengan kebutuhan mereka. Di satu sisi, tindakan ini dapat memberikan dinamika dan warna baru pada ruang pasar, namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan konflik spasial serta mengganggu kelancaran aktivitas lain. Oleh karena itu, rancangan yang dihasilkan berupaya mengakomodasi dan menyinergikan praktik sosial tersebut melalui penyesuaian terhadap ruang yang telah dirancang sebelumnya. Tesis ini mencoba merekonsepsi ruang pada Pasar Kosambi dengan menawarkan perancangan yang lebih inklusif di mana kesenjangan spasial antara kebutuhan ruang masyarakat dan ruang hasil revitalisasi dapat diminimalkan sehingga pasar dapat lebih relevan dan tepat guna bagi masyarakat.

2025
👤 Penulis: Muhammad Alim Hanafi
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGUKURAN KELIMPAHAN MIKROPLASTIK POLIVINYL CHLORIDE DAN POLYETHYLENE TEREPHTHALATE BERBASIS IMAGE PROCESSING TECHNIQUE PADA AIR PERMUKAAN

Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kebutuhan industri, plastik menjadi salah satu produk yang bermanfaat namun dapat membawa dampak besar bagi lingkungan. Pengelolaan limbah yang belum optimal menjadikan plastik yang tidak terolah mengalir ke badan air dan dapat terdegradasi atau mengalami fragmentasi menjadi mikroplastik yang dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Salah satu pengembangan metode kuantifikasi mikroplastik secara cepat dan praktis yaitu dengan image processing technique (IPT). Metode IPT memanfaatkan kamera untuk menangkap citra digital dan menghitung partikel mikroplastik dalam region of interest (ROI) dengan bantuan larutan dispersant optimum. Penelitian ini berfokus pada pengukuran kelimpahan dan validasi metode IPT menggunakan artificial sample mikroplastik jenis polivinyl chloride (PVC) dan polyethylene terephthalate (PET), serta sampel air permukaan. Dispersant optimum untuk mikroplastik jenis PVC adalah larutan ZnCl2 48% dengan tambahan 0,01% SDS dan untuk mikroplastik jenis PET adalah larutan ZnCl2 62%. Uji korelasi antara konsentrasi massa dengan jumlah partikel mikroplastik yang ditandai dengan R2 > 90 dan nilai p-value < 0,05 menunjukkan terdapat hubungan signifikan. Hasil pengujian sampel air permukaan menunjukkan mikroplastik jenis PVC dan PET mendominasi jumlah total mikroplastik dan dibuktikan dengan terdeteksinya polimer pada uji FTIR. Nilai %RSD dan %Recovery kedua metode menunjukkan hasil yang presisi dan akurat dengan nilai %RSD di bawah 15% dan %Recovery berada tidak lebih dari toleransi 10%. Uji-t menunjukkan nilai p-value > 0,05 yang menandakan tidak ada perbedaan signifikan dari rata-rata variasi hasil pengukuran jumlah partikel mikroplastik dengan menggunakan metode mikroskop dan metode IPT.

2025
👤 Penulis: Ikhlasul Qolby Zacky N.
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Limbah Air 🏷️ Hidrologi

UNDERSTANDING THE RIDESHARING IN IMPROVING RURAL WORKER MOBILITY AND SOCIAL NETWORKS: A CASE STUDY IN BOLAANG MONGONDOW REGENCY, NORTH SULAWESI, INDONESIA

Ridesharing has gained attention as an alternative mobility solution, particularly in areas with limited public transport. Beyond economic and environmental benefits, it also facilitates interpersonal interactions, yet empirical evidence on its behavioural drivers and social impacts in rural contexts remains scarce. This paper examines informal ridesharing among government employees in Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi, Indonesia. A two-stage framework was developed. First, a Hybrid Choice Model (HCM) incorporating latent factors such as acceptability, cost–time benefit, social experience, community commitment, and public transport condition together with observable variables was used to analyse participation behaviour. Second, Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) was applied to evaluate the relationship between ridesharing usage and social outcomes, with social expansion and social ties as mediators. The results show that acceptability strongly influences participation as a driver, while cost–time benefit is more relevant for passengers. Younger, lower-income, and low educated individuals rely more on ridesharing, while older users are also engaged through socially embedded, non-digital practices. SEM findings indicate that frequent usage promotes social expansion, which subsequently strengthens social ties and inter-divisional friendships. These insights highlight the dual role of ridesharing as both a mobility solution and a facilitator of social integration in rural areas, offering implications for transport planning in regions with limited public transit.

2025
👤 Penulis: Sitty Rukmini Mokobombang
🏷️ Ridesharing 🏷️ Mobilitas Desa 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

PERANCANGAN CULTURAL SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES (SMES) CENTER DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR PERILAKU PADA KAWASAN WISATA MALIOBORO

Pedagang Kaki Lima (PKL) memainkan peran penting dalam perekonomian sektor informal di Indonesia, dengan 70,8% dari usaha non-pertanian tidak menempati bangunan tetap, termasuk PKL. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016 menunjukkan bahwa terdapat 18,9 juta usaha informal dari total 26,7 juta usaha. PKL membantu memenuhi kebutuhan hidup banyak orang, tetapi pertumbuhannya sering tidak teratur, mengakibatkan masalah seperti gangguan akses fasilitas umum, kebersihan, dan kemacetan lalu lintas. Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berada di Kawasan Malioboro merupakan salah satu unsur atraksi utama di kawasan ini. Pemerintah Kota Yogyakarta menilai bahwa Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di sepanjang di kawasan ini mengganggu sirkulasi dan kenyamanan khususnya bagi pejalan kaki. Bersamaan dengan diajukannya Kawasan Malioboro sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda ke UNESCO, Pemerintah memiliki rencana untuk menertibkan Pedagang Kaki Lima (PKL) dengan merelokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) ke Teras Malioboro 1 dan Teras Malioboro 2. Setelah dilakukannya relokasi, Pedagang Kaki Lima (PKL) pada Teras Malioboro 1 dan Teras Malioboro 2, para Pedagang Kaki Lima (PKL) mengalami penurunan pendapatan yang drastis sejak lokasi berjualan mereka dipindahkan dan hal ini berujung menuai aksi demonstrasi yang terjadi beberapa kali dari Pedagang Kaki Lima (PKL). Permasalahan yang ada disebabkan oleh beberapa permasalahan baik dari aspek arsitektur maupun sosial. Dengan melakukan inovasi dalam bidang arsitektur melalui perancangan bangunan Cultural Small and Medium Enterprises (SMEs) Center melalui pendekatan arsitektur perilaku diharapkan dapat menghasilkan suatu bangunan yang memiliki interaksi antar pengguna yang baik, memiliki daya tarik, dan mengembalikan nilai-nilai budaya Kawasan Malioboro sehingga dapat menciptakan suatu Kawasan perdagangan yang berkelanjutan bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) dan Sektor Informal lainnya di Kawasan Malioboro

2025
👤 Penulis: Arhetta Amadeus Brilliant P
🏷️ Arsitektur Perilaku 🏷️ Kawasan Wisata 🏷️ Pedagang Kaki Lima

PERANCANGAN PERBAIKAN KUALITAS JASA GYM PADA PERUSAHAAN REVOLT SPACE

Revolt Space merupakan pusat kebugaran yang berdiri sejak 2022 dan menargetkan segmen mahasiswa serta pekerja muda di Jawa Barat. Meski berhasil memperluas cabang dan menarik banyak pelanggan melalui harga terjangkau serta diskon promo, perusahaan menghadapi tantangan serius berupa tingkat retensi pelanggan yang rendah. Data 2024 menunjukkan retention rate hanya sebesar 32%, jauh di bawah rata-rata industri sebesar 60%. Ketergantungan pada akuisisi anggota baru membuat omzet fluktuatif, sementara evaluasi kualitas jasa belum pernah dilakukan secara sistematis. Penelitian ini hadir untuk merancang strategi perbaikan kualitas jasa yang dapat meningkatkan kepuasan sekaligus mempertahankan pelanggan Revolt Space. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan kuesioner kepada pelanggan. Analisis diawali dengan service blueprint untuk memetakan proses jasa beserta masalahnya. Selanjutnya, metode fuzzy SERVQUAL digunakan untuk mengukur kesenjangan antara harapan dan persepsi pelanggan yang diperkaya dengan model Kano meliputi fuzzy Kano, hybrid mix Kano, dan better-worse Kano untuk mengklasifikasikan atribut layanan sesuai pengaruhnya terhadap kepuasan. Hasil identifikasi atribut prioritas kemudian diterjemahkan ke dalam solusi melalui pendekatan TRIZ dengan proses pemilihan fokus perbaikan dilakukan menggunakan analisis Pareto. Pendekatan TRIZ menghasilkan empat usulan perbaikan yaitu gym management system, dokumentasi dan standardisasi standard operating procedure (SOP), penyusunan dan penyebaran aturan layanan kepada member, serta edukasi berkelanjutan dan multikanal. Usulan solusi yang dirancang melalui kombinasi service blueprint, SERVQUAL, Kano, dan TRIZ menghasilkan arah perbaikan yang sistematis, inovatif, dan berorientasi pada retensi pelanggan. Dengan penerapan usulan ini, Revolt Space diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada akuisisi anggota baru dan mencapai pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Burju Eagle P. S.
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

KARAKTERISASI DAN ANALISIS SUMBER POTENSIAL AIRBORNE MICROPLASTICS (AMPS) DI KOTA BANDUNG DAN JAKARTA BARAT

Airborne microplastics (AMPs) berpotensi menimbulkan dampak ekologis dan kesehatan yang serius melalui transportasi atmosferik, deposisi lintas• kompartemen, serta inhalasi. Namun, pengetahuan terkait polutan ini masih terbatas. Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan menentukan konsentrasi, karakteristik, dan sumber potensial AMPs di Kota Bandung (musim basah dan musim kering) serta Kota Jakarta Barat (musim basah). Pengambilan sampel dilakukan secara aktif menggunakan multi-nozzle cascade impactor (MCI) yang memisahkan tiga fraksi ukuran (PM>10, PM2,s-10, PM2,s), kemudian dianalisis menggunakan µ-FTIR. Ditemukan bahwa konsentrasi dan karakteristik AMPs bervariasi secara temporal dan spasial. Bandung musim basah menunjukkan median konsentrasi tertinggi (::::::5,36 partikel/m3, rentang 1,03-13,24 partikel/m3), Bandung musim kering lebih rendah dan stabil (median ::::::2,28 partikel/m3, 1,29- 3,40), sedangkan Jakarta Barat musim basah berada pada level menengah-rendah (median ::::::1,77 partikel/rn'', 1,54-3,91). Fraksi PM2,s dominan di semua kondisi (±54-71 %) sehingga potensi inhalasi tinggi. Terdapat total 16 polimer teridentifikasi. AMPs Bandung musim basah sangat didominasi PE, sedangkan Bandung musim kering dan Jakarta Barat musim basah didominasi PE dan Nylon. Distribusi ukuran fisik miring ke kanan, Bandung kering memiliki ukuran tipikal paling kecil dan homogen (rata-rata 11,00 ± 34,04 µm), diikuti Jakarta Barat basah (12,41 ± 26,53), dan Bandung basah (21,53 ± 26,42). Morfologi pada semua kelompok serupa, dengan dominasi fragment (>74%) dibandingkan granule (0- 14%) danfiber (0-11 %). Sebagian besar AMPs memiliki tingkat degradasi tinggi dengan estimasi usia >28 hari. Sumber potensial utama AMPs rneliputi penggunaan plastik sekali pakai, tekstil, debu j alan, konstruksi, serta industri. Penilaian risiko menunjukkan kategori rendah (Bandung basah) hingga rendah-menengah (Bandung kering dan Jakarta Barat basah). Strategi mitigasi AMPs mencakup pengurangan plastik sekali pakai, pengendalian emisi dari berbagai sektor, perbaikan pengelolaan sampah, dan peningkatan edukasi publik.

2025
👤 Penulis: Aurellia Felita Shandy
🏷️ Airborne Microplastics 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PEMODELAN DAN ANALISIS SEBARAN KEBISINGAN DARI SUMBER SPESIFIK KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA

Kebisingan lalu lintas di permukiman berkaitan dengan dua hal yaitu emisi (kebisingan sumber) yang diproduksi kendaraan dan imisi (kebisingan reseptor) yang diterima manusia pada titik paparan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara emisi dan perambatan atau penyebarannya sampai menjadi imisi di penerima. Emisi ditentukan oleh karakter mesin dan operasi kendaraan sebagai sumber bising, sementara imisi terbentuk setelah mengalami sebaran atau atenuasi geometrik serta interferensi pemantulan atau penyerapan kondisi permukaan. Pendekatan empiris dan numerik diterapkan melalui pengukuran dua jenis motor (matic dan kopling), dua status sumber (diam dan bergerak), serta dua tipe permukaan (aspal dan rumput). Untuk menganalisis hubungan emisi sumber diam ke imisi, dikembangkan simulasi model dengan persamaan Helmholtz 2D berbasis finite difference di MATLAB dengan kondisi batasan yaitu frekuensi tetap (steady state) dan impedansi dari kondisi permukaan. Sedangkan untuk skenario sumber bergerak dimodelkan sebagai rangkaian keadaan stasioner di sepanjang lintasan, sehingga puncak pass-by dan pengaruh efek Doppler dapat teridentifikasi pada titik penerima (reseptor). Hasil penelitian menunjukkan penurunan kebisingan yang menyerupai sumber titik yaitu mengikuti penurunan sebesar 6 dB per penggandaan jarak, sedangkan dalam kondisi bergerak mendekati 3 dB per penggandaan. Berdasarkan kondisi permukaan, aspal menghasilkan imisi lebih tinggi daripada rumput akibat ground effect yang lebih reflektif. Selain itu pada fase akselerasi, motor kopling cenderung memunculkan puncak pass-by yang lebih tinggi daripada matic. Secara keseluruhan, model menggambarkan pola sebaran dengan kesesuaian tinggi pada skenario sumber diam dan kesesuaian yang masih memadai pada skenario bergerak yang dipengaruhi oleh variasi kecepatan serta parameter impedansi. Hasil tersebut dapat dijadikan landasan untuk memvalidasi model kebisingan jarak dekat, menetapkan jarak aman antara hunian dan jalan, serta merancang mitigasi berbasis material permukaan dan pengelolaan perilaku sumber kebisingan.

2025
👤 Penulis: Santi Trilina
🏷️ Kebisingan Lalu Lintas 🏷️ Analisis Sebaran Kebisingan 🏷️ Model Numerik
Halaman 299 dari 6754
💬