📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PENGARUH EL NINO-SOUTHERN OSCILLATION (ENSO) DAN INDIAN OCEAN DIPOLE (IOD) TERHADAP ANOMALI CURAH HUJAN DI PROVINSI LAMPUNG

Fenomena iklim global seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) diketahui memengaruhi variabilitas curah hujan di Indonesia, termasuk Provinsi Lampung yang sangat rentan terhadap perubahan iklim global karena lokasinya yang strategis di ujung selatan Sumatra dan kondisi topografinya yang rumit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ENSO dan IOD terhadap anomali curah hujan di Provinsi Lampung serta mengidentifikasi interaksi keduanya. Data curah hujan satelit GPM-IMERG periode 1998-2023 digunakan untuk menghitung anomali bulanan, sedangkan indeks ONI dan DMI digunakan sebagai representasi ENSO dan IOD. Analisis dilakukan melalui wavelet transform untuk mengidentifikasi dominasi skala periode, bandpass filter (2-8 tahun) untuk mengekstraksi sinyal terkait variabilitas iklimglobal, dan regresi multivariat dengan variabel interaksi untuk menilai signifikansi statistic pengaruh ENSO dan IOD. Hasil wavelet spectrum menunjukkan dominasi periode sekitar 4 tahun yang konsisten dengan siklus ENSO. Regresi multivariat mengindikasikan bahwa DMI memiliki pengaruh signifikan secara statistik terhadap anomali curah hujan (p < 0.01), sementara ONI tidak signifikan secara individu (p > 0.05). Interaksi ENSO dan IOD tidak signifikan secara statistic, namun secara fisik kombinasi El Niño x IOD berasosiasi dengan penurunan curah hujan paling ekstrem, sedangkan La Niña x IOD- berasosiasi dengan peningkatan curah hujan tertinggi.

2025
👤 Penulis: Allya Aulia Putri
🏷️ El Niño-Southern Oscillation (Enso) 🏷️ Indian Ocean Dipole (Iod) 🏷️ Hidrologi

STUDI PERUBAHAN GARIS PANTAI DI MUARA CIMANUK INDRAMAYU TAHUN 2014-2024 BERDASARKAN CITRA SATELIT DAN SURVEI LAPANGAN MENGGUNAKAN DRONE

Muara Sungai Cimanuk di Kabupaten Indramayu merupakan wilayah pesisir yang mengalami dinamika garis pantai signifikan akibat proses akresi dan abrasi, yang dipicu oleh kombinasi faktor oseanografi dan aktivitas manusia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk (1) mengestimasi perubahan garis pantai di Muara Cimanuk dari tahun 2014 hingga 2024 dan (2) menghitung laju perubahan serta luas area terkait proses erosi dan akresi. Metode yang digunakan mencakup analisis citra satelit Landsat 8 OLI dengan teknik Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) dan analisis garis pantai menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Selain itu, dilakukan survei lapangan menggunakan drone di dua area representatif, yaitu Pantai Waledan (akresi) dan Pantai Tiris (abrasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muara Cimanuk didominasi oleh akresi, dengan rata-rata pergeseran garis pantai sebesar 46,77 m dan laju perubahan mencapai 4,68 m/tahun. Secara keseluruhan, terjadi perubahan area daratan seluas 818,27 ha, terdiri dari akresi sebesar 515,12 ha dan abrasi sebesar 303,16 ha. Validasi spasial terhadap data dari Badan Informasi Geospasial (BIG) dan penginderaan drone menunjukkan rata-rata Shoreline Change Envelope (SCE) antara 12–16 m, yang masih dalam batas toleransi resolusi citra satelit Landsat (30 m). Faktor oseanografi seperti pasang surut, topografi landai, dan arah gelombang dominan dari barat daya, serta konversi lahan pesisir menjadi tambak, turut memengaruhi pola sedimentasi dan abrasi di wilayah studi.

2025
👤 Penulis: Muhamad Alfren Rolegian
🏷️ Geologi Pantai 🏷️ Analisis Citra Satelit 🏷️ Manajemen Laut

BIOMECHANICAL EVALUATION OF GAIT CHARACTERISTICS IN MIDDLE CHILDHOOD PATIENTS WITH FLATFOOT ABNORMALITY

The foot in the human body is one of the most frequently used locomotor organs. One of the activities that use the body organ feet is walking. Gait is one of the most common activities carried out by humans. Not only for mobility and moving places, but gait is also used by many people as a means of exercise or sport since it is considered by many to be easy and cheap to do. Therefore, using the feet for walking or anything else cannot be separated from the daily life of all human beings. There are many foot disorders that can cause abnormal walking patterns and posture which may cause pain, one of which is flatfoot. This disorder causes the arch of the foot to drop so that all (or almost all) of the sole of the foot is in contact with the ground. Many factors influence the shape of the foot, although it is not easy to define individually, these factors cause the deformation of the foot. This research aims to examine the differences between individuals with a normal foot arch and those with flatfoot. The investigation involves a comparative analysis of kinematic parameters in both groups, alongside an evaluation of muscle activity obtained through surface electromyography (sEMG). The outcomes will be illustrated through graphical representations, facilitating direct comparison and detailed interpretation of the observed patterns. The study will conclude with a conclusion of the findings, highlighting the key results and their implications.

2025
👤 Penulis: Timothy Nicholas Tanudjaja
🏷️ Gait Analysis In Children'S Foot Disorders 🏷️ Analisis Aktivitas Otot Pada Gaya Berjalan

EVALUASI KINERJA MOBILE CORN DRYER CPI-ITB BERDASARKAN NERACA MASSA, NERACA ENERGI, DAN NERACA EKSERGI

Mayoritas pakan ternak unggas di Indonesia berasal dari jagung. Untuk menjaga kualitas jagung tetap baik dalam waktu yang lama, kadar air jagung harus rendah. Di Indonesia, kadar air jagung hasil panen cukup tinggi dan sentral produksi jagung tersebar di berbagai lokasi. Oleh karena itu, dibutuhkan mesin pengering yang dapat menjangkau area hasil panen jagung. Mobile Corn Dryer (MCD) CPI-ITB hadir sebagai solusi kebutuhan mesin pengering jagung dengan kapasitas dan mobilitas tinggi. Dalam aspek keenergian, pengembangan MCD CPI-ITB memiliki tiga target: kapasitas pengeringan, konsumsi bahan bakar spesifik, dan temperatur akhir jagung. Analisis keenergian dibutuhkan untuk mengetahui kinerja dan potensi peningkatan kinerja MCD CPI-ITB. MCD CPI-ITB merupakan mesin pengering jagung tipe aliran kontinu dengan ruang pengeringan berbentuk drum. Analisis keenergian dilakukan dengan mengevaluasi kesetimbangan massa, energi, dan eksergi MCD CPI-ITB. Skematik sistem secara global dan detail dibuat sebagai dasar persamaan keenergian. Pendefinisian dan perumusan efisiensi pengeringan, konsumsi bahan bakar spesifik, dan efisiensi eksergi pengeringan dijadikan sebagai parameter kinerja pengeringan. Data hasil pengujian digunakan untuk mengevaluasi keenergian dengan menggunakan persamaan yang telah dirumuskan. Analisis terhadap kesetimbangan eksergi dilakukan untuk mendeteksi opsi perbaikan. Hasil evaluasi menunjukkan nilai efisiensi pengeringan, konsumsi bahan bakar spesifik, dan efisiensi eksergi MCD CPI-ITB secara berturut-turut sebesar 48,2 ± 0,3%, 1,58 liter solar/?1%w.b/ton jagung input, dan 43,10%. Nilai efisiensi pengeringan masih rendah dan konsumsi bahan bakar spesifik belum mencapai target. Walaupun demikian, efisiensi eksergi MCD CPI-ITB lebih baik daripada mesin pengering jagung pada umumnya. Peningkatan kinerja dapat dilakukan dengan memperbaiki insulasi termal dan meningkatkan efektivitas perpindahan panas dari udara pengering ke jagung di dalam drum dryer.

2025
👤 Penulis: Yogie Ariana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PHYSICS-INFORMED NEURAL NETWORKS (PINN) UNTUK PENDEKATAN SOLUSI PERSAMAAN DIFERENSIAL

Penyelesaian persamaan diferensial parsial (PDP) secara numerik seringkali menghadapi tantangan terkait ketergantungan pada diskritisasi domain (mesh). PhysicsInformed Neural Network (PINN) muncul sebagai alternatif metode mesh-free yang menjanjikan dengan mengintegrasikan hukum fisika langsung ke dalam proses optimisasi jaringan saraf tiruan (JST). Tugas akhir ini berfokus pada implementasi suatu kerangka kerja PINN menggunakan PyTorch, serta melakukan evaluasi kinerjanya pada beberapa studi kasus PDP dan menganalisis pengaruh perubahan hyperparameter. Kinerja model diuji pada tiga kasus: persamaan kalor (parabolik) serta persamaan Laplace dua dimensi (eliptik), dengan akurasi yang diukur terhadap solusi analitik atau metode beda hingga (FDM). Selain itu, analisis pengaruh jumlah epoch, jumlah neuron, dan kedalaman JST dilakukan pada persamaan Burgers satu dimensi yang non-linear. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model PINN yang diimplementasikan berhasil mencapai akurasi tinggi di semua studi kasus. Untuk persamaan kalor 1D, galat relatif L2 yang diperoleh adalah 0.95% terhadap solusi analitik. Pada kasus 2D, model menunjukkan kesesuaian yang sangat baik dengan solusi FDM, dengan galat relatif L2 sebesar 4.80% untuk persamaan kalor dan 2.79% untuk persamaan Laplace. Analisis hyperparameter pada persamaan Burgers menunjukkan bahwa peningkatan jumlah epoch dan kapasitas JST (lebar dan kedalaman) secara signifikan meningkatkan kemampuan model dalam menangkap fitur kompleks seperti gelombang kejut, meskipun penambahan kedalaman menunjukkan adanya diminishing returns. Penelitian ini berhasil mendemonstrasikan bahwa PINN merupakan salah satu metode alternatif untuk menyelesaikan berbagai jenis PDP, dengan penekanan bahwa pemilihan arsitektur dan parameter pelatihan yang tepat sangat krusial untuk mencapai kinerja optimal.

2025
👤 Penulis: Muhammad Afief Abdurrahman
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Persamaan Diferensial Parsial 🏷️ Optimisasi Jaringan Saraf Tiruan

ANALISIS LOCAL ECOLOGICAL KNOWLEDGE (LEK) TERKAIT PENGELOLAAN EKOSISTEM PESISIR DAN STRATEGI KEBERLANJUTAN KONSERVASI DI PULAU SAPARUA, MALUKU

Masyarakat adat di wilayah coral trangle pada umumnya membentuk budaya dan pengetahuan lokal terkait ekosistem yang mereka huni, terutama ekosistem pesisir, sehingga membentuk suatu konsep yang disebut Local Ecological Knowledge (LEK). LEK dapat menjadi dasar pertimbangan dalam pengelolaan wilayah konservasi yang berkelanjutan di suatu wilayah dengan sistem adat yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi LEK terkait ekosistem pesisir; mengevaluasi aktivitas pemanfaatan ekosistem pesisir, kondisi ekosistem, perekonomian masyarakat, dan kondisi sosial terhadap potensi LEK; serta merancang rekomendasi strategi terkait pengelolaan konservasi yang berkelanjutan di Pulau Saparua, Provinsi Maluku. Pengambilan data dilakukan dengan observasi lapangan, pembagian kuesioner, dan wawancara para pemangku kepentingan. Data yang dihasilkan berupa data kualitatif dan kuantitatifyang diolah dengan beberapa metode seperti content analysis, statistika dekriptif, uji korelasi Spearman, dan analytic network process (ANP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Pulau Saparua memiliki pemahaman yang cukup tinggi tentang ekosistem pesisir seperti padang lamun, terumbu karang, dan hutan bakau. Aktivitas pemanfaatan jasa ekosistem pesisir oleh masyarakat Pulau Saparua cenderung ekstraktif secara tradisional, namun terdapat pengetahuan dan aturan yang mengatur aktivitasyang dilakukan seperti konsep sasi, sa’aro, nanaku, nase, totem mataruma, dan lain-lain. Kondisi ekosistem di Pulau Saparua menurut persepsi masyarakat telah mengalami penurunan, sedangkan kondisi perekonomian dan sosial di Pulau Saparua mengalami sedikit perbaikan dibandingkan sebelumnya. Pemerintah negeri setara desa yang dipimpin oleh raja (Kepala Pemerintahan Negeri atau KPN) berperan krusial dalam pemerintahan sekaligus adat, di samping gereja (diwakili pendeta sebagai pemuka agama) menjadi pihak dengan tingkat kepercayaan masyarakat tertinggi. Keduanya dapat menjadi kunci dalam pengelolaan konservasi ekosistem pesisir. Tingkat koordinasi dan komunikasi antar pihak di Pulau Saparua masih rendah dan belum dimaksimalkan. Data menunjukkan bahwa LEK cenderung tidak berkaitan dengan aktivitas dan demografi kecuali terkait jenis kelamin dan pekerjaan. Persepsi masyarakat terkait kondisi ekonomi dan sosial dapat mempengaruhi LEK yang berlaku secara positif maupun negatif, serta persepsi masyarakat terkait kondisi ekosistem pesisir masih belum terakomodasi hanya dengan LEK yang berlaku. LEK secara umum juga tidak terkait dengan hubungan antar pemangku kepentingan, kecuali pada beberapa kasus seperti kepercayaan masyarakat terhadap usaha pemerintah dalam mengelola ekosistem pesisir. Alternatif strategi yang diutamakan untuk pengelolaan ekosistem pesisir di Pulau Saparua berdasarkan perhitungan ANP adalah “penguatan kelembagaan adat dan integrasi dengan aspek modern” dan “penguatan forum komunikasi, koordinasi, dan resolusi konflik antar pemangku kepentingan”.

2025
👤 Penulis: Muhammad Rheyhan Izza Wahyudi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN DAN ANALISIS INTEGRITAS PADA SISTEM PERPIPAAN HOOK-UP GEOTERMAL DUA FASA STUDI KASUS: WELLPAD 31 PLTP DIENG UNIT 2

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi memerlukan sistem penghubung yang andal antara sumur dengan fasilitas permukaan untuk menjaga kelancaran aliran proses. Tugas sarjana ini membahas perancangan sistem perpipaan dengan mengacu pada standar API RP 14E dan ASME B31.1. Studi kasus diambil dari PT Geo Dipa Energi (Persero) yang memerlukan sistem perpipaan dua fasa untuk aliran geofluida dengan temperatur tinggi (hingga 250°C). Perancangan dimulai dengan menentukan diameter pipa berdasarkan kriteria API RP 14E dengan bantuan software HYSYS. Dilanjutkan dengan menentukan ketebalan pipa, jarak tumpuan, pemilihan valve, flange, blind, dan reducer berdasarkan ASME B31.1. Analisis tambahan berupa studi parametrik dilakukan untuk melihat pola perubahan tegangan akibat variasi beban. Seluruh proses pemodelan dan analisis tegangan menggunakan software AutoPIPE. Hasil perancangan menunjukkan kebutuhan spesifikasi pipa adalah NPS 24 sch 60 pada segmen aliran 5 dan NPS 18 sch 80 pada segmen aliran 8, dengan material API 5L Grade B. Simulasi numerik terhadap rancangan awal menunjukkan terjadinya overstress akibat beban ekspansi termal, dengan rasio tegangan (CSR) mencapai 2,00 atau 558 MPa. Oleh karena itu, dilakukan modifikasi desain berupa penyesuaian panjang s-loop, penggantian jenis tumpuan dari guide menjadi v-stop, dan perubahan dimensi pada expansion loop. Setelah modifikasi, rasio tegangan maksimum turun menjadi 0,79 atau 187 MPa pada bagian yang paling kritis.

2025
👤 Penulis: Bimar Dwi Anggoro
🏷️ Geotermi 🏷️ Sistem Perpipaan 🏷️ Analisis Tegangan

MENUJU AKUNTABILITAS DAN TRANSPARANSI BERKELANJUTAN: STUDI KASUS PUSAT INVESTASI PEMERINTAH DENGAN STANDAR GRI

Negara Indonesia sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa, bertekad untuk mencapai target Agenda SDGs 2030. Dukungan dari semua pihak, pemerintah memainkan peran penting termasuk Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kemenkeu secara khusus mengelola dana bergulir di sektor ultra-mikro dan UMKM. Studi ini mengkaji kesiapan PIP untuk mengadopsi prinsip-prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) dan menyelaraskan Pelaporan Keberlanjutan dengan Standar Universal Global Reporting Initiative (GRI) 2021. Dengan menggunakan metodologi kualitatif dengan data primer dari wawancara dan data sekunder dari dokumen resmi seperti Laporan Tahunan, Laporan Kinerja, Peraturan Kemenkeu, dan dokumen internal lainnya, analisis kesenjangan dilakukan untuk membandingkan praktik PIP yang ada dengan 30 metrik dari GRI 2 Universal 2021. Temuan menunjukkan bahwa operasi PIP secara inheren selaras dengan banyak prinsip ESG, memenuhi 73,3% dari persyaratan GRI. Namun, terdapat kesenjangan yang signifikan dalam formalisasi tata kelola ESG, terutama terkait struktur organisasi khusus, pendelegasian tanggung jawab yang jelas untuk manajemen dampak, peran eksplisit badan tata kelola tertinggi dalam pelaporan keberlanjutan, dan pengungkapan rasio kompensasi total tahunan yang komprehensif. Studi ini mengusulkan peta jalan tiga fase bagi PIP untuk membangun sistem pelaporan keberlanjutan yang kuat dan sesuai dengan GRI, mengatasi kekurangan yang teridentifikasi, dan mendorong transparansi serta akuntabilitas yang lebih besar dalam pengelolaan dana publik.

2025
👤 Penulis: Dini Salamah
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kepatuhanan Publik

NUMERICAL STUDY OF FLUE GAS RECIRCULATION IMPACTS ON COAL- AMMONIA CO-FIRING IN A SUBCRITICAL CAROLINA-TYPE BOILER

Power generation activities rely heavily on the combustion of fossil fuels, leading to substantial greenhouse gas emissions. Among these fuels, coal is one of the most carbon-intensive. Numerous studies have been conducted to reduce CO2 emissions from coal-fired power plants, with non-carbon fuels being one of the proposed solutions. Ammonia (NH3) has recently gained attention as a promising alternative fuel, particularly through coal-NH3 co-firing technology, to mitigate CO2 emissions. Numerous studies on coal-NH3 co-firing have shown that implementing this technology in existing boilers can result in increased NO emissions. While these studies provide valuable insights, uncertainties remain regarding the performance of coal-NH3 co-firing in boilers specifically modified for ammonia co-firing. The objective of this study is to design a flue gas recirculation retrofit aimed at increasing the feasible NH3 co-firing ratio threshold while maintaining acceptable NO emission levels. The study was carried out using Computational Fluid Dynamics (CFD) simulations in Ansys Fluent, modeling coal-NH3 co-firing in a 350 MWe subcritical Carolina-type boiler with a tangential burner. This study found that applying flue gas recirculation (FGR) lowers the maximum temperature from 1393 oC at a 20% FGR ratio to 1297 oC at a 20% FGR ratio. It was also found that FGR utilization up to 20% could reduce NO concentration by up to 31% on coal-NH3 co-firing.

2025
👤 Penulis: Alvian Rico Ristian
🏷️ Kebakaran Batu Bara 🏷️ Simulasi Fluida Komputasi (Cfd) 🏷️ Manajemen Eksokimia Dalam Kombinasi Bahan Bakar

OPTIMASI STRUKTUR MULTISPAR KONVENSIONAL KOMPOSIT SAYAP PESAWAT TEMPUR DENGAN METODE GRADIEN

Dalam tugas sarjana ini, dilakukan analisis dan optimasi terhadap model sayap pesawat tempur menggunakan struktur komposit sayap dengan konfigurasi multi-spar konvensional. Struktur multi-spar pada sayap adalah konfigurasi struktur yang menggunakan lebih dari satu spar sebagai elemen penopang utama dalam menahan beban. Dengan adanya lebih dari satu spar, beban struktural dapat didistribusikan secara lebih merata, sehingga mengurangi tegangan pada masing-masing spar. Tugas sarjana ini merupakan lanjutan dari tugas sarjana sebelumnya oleh Bakti [1] dan Ilham [2], yang melakukan optimasi pada model sayap pesawat tempur dengan konfigurasi multispar dan anisogrid secara manual. Pada penelitian ini, dilakukan analisis statik pada sayap pesawat dengan konfigurasi multi-spar. Selanjutnya, struktur sayap dioptimasi berdasarkan batasan statik dan dilakukan studi sensitivitas berat. Hasil optimasi menunjukan bahwa massa setengah sayap dengan konfigurasi multi-spar dengan distribusi pembeban segitiga adalah 438 kg, dengan distribusi pembebanan schrenk sebesar 522 kg, dan dengan distribusi pembebanan konstan sebesar 670 kg.

2025
👤 Penulis: Fachrudin Hanafi
🏷️ Optimasi Struktur Komposit Sayap Pesawat Tempur 🏷️ Analisis Statik Struktur 🏷️ Kecerdasan Buatan Dalam Pengoptimalan Struktur

PERILAKU PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI UMUM JAKARTA-BANDUNG SETELAH BEROPERASINYA KCJB

Sebelum adanya KCJB, terdapat beberapa pilihan moda transportasi dari Jakarta menuju Bandung seperti KA Konvensional dan Shuttle. Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) telah hadir dan diresmikan pada 2 Oktober 2023. Keunggulan dan kelemahan yang dimiliki setiap moda yaitu KA konvensional, Shuttle dan Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) dapat menjadi sebuah bahan pertimbangan yang akan diambil oleh setiap calon pengguna transportasi dalam memilih moda transportasi yang akan digunakan dari Jakarta - Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berpengaruh dalam pemilihan moda transportasi umum dari Jakarta ke Bandung, membangun model pemilihan moda setelah beroperasinya Kereta Cepat Jakarta– Bandung (KCJB), serta mengevaluasi potensi pergeseran pengguna dari moda transportasi umum eksisting seperti kereta api konvensional dan shuttle menuju KCJB, termasuk dampak penghapusan kereta api konvensional terhadap peningkatan jumlah penumpang KCJB. Pengambilan data menggunakan jenis kuisioner Revealed Preference yang digunakan untuk merekam perilaku aktual responden berdasarkan pengalaman nyata mereka dalam melakukan perjalanan antara Jakarta dan Bandung dan stated preference yang digunakan untuk mengetahui pilihan deklaratif responden, responden diberikan pertanyaan mengenai moda mana yang pada akhirnya akan mereka pilih untuk perjalanan Jakarta–Bandung, serta teknik wawancara. Penelitian ini menggunakan teori discrete choice model (multinomial logic model). Model utilitas didapatkan dengan bantuan perangkat lunak berbasis python yaitu biogeme. Penelitian ini hanya mengkaji dari sisi pengguna yang sudah pernah menggunakan moda transportasi KA konvensional, Shuttle dan KCJB dari Jakarta menuju Bandung. Hasil penelitian menjelaskan bahwa KAP dan Shuttle memiliki nilai konstanta (ASC) negatif, yaitu –0.406 untuk KAP dan –1.18 untuk Shuttle. Ini menunjukkan bahwa, secara umum dan dengan asumsi variabel lainnya tetap, preferensi terhadap KCJB lebih tinggi dibandingkan dua moda lainnya. Koefisien untuk AD dan TC bernilai negatif pada semua moda, yang berarti bahwa semakin jauh jarak akses atau semakin tinggi total biaya perjalanan, maka utilitas moda tersebut akan menurun. koefisien total biaya (–0.0338) lebih besar dibandingkan koefisien access distance (–0.0152), mengindikasikan bahwa total biaya perjalanan adalah faktor yang paling berpengaruh dalam keputusan pemilihan moda. Berdasarkan analisis sensitivitas terhadap perubahan total biaya perjalanan KCJB, diketahui bahwa peningkatan biaya secara signifikan menurunkan probabilitas pemilihan KCJB dan meningkatkan preferensi terhadap moda lain seperti KAP, sehingga faktor total biaya memegang peranan penting dalam menentukan pilihan moda transportasi Jakarta–Bandung. Di sisi lain, didapatkan bahwa ketika probabilitas penggunaan KA Konvensional mendekati atau sama dengan nol, terjadi peningkatan probabilitas perpindahan pengguna ke Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang lebih tinggi dibanding probabilitas perpindahan ke Shuttle. Analisis elastisitas menunjukkan bahwa probabilitas pemilihan KCJB terhadap total biaya bersifat inelastik pada biaya minimum, namun semakin sensitif seiring kenaikan tarif, menandakan biaya mulai memengaruhi keputusan pengguna. Analisis point cross elasticity mengindikasikan bahwa kenaikan biaya KCJB sedikit mendorong peralihan ke KA Konvensional dan Shuttle, namun diperkirakan keunggulan waktu tempuh, kenyamanan, dan kualitas layanan membuat daya tarik KCJB tetap tinggi, sehingga potensi pergeseran pengguna dari moda eksisting relatif terbatas. Temuan ini juga menegaskan bahwa penghapusan KA Konvensional dapat meningkatkan jumlah penumpang KCJB secara signifikan, mengingat sebagian pengguna akan beralih ke moda tercepat dan paling nyaman.

2025
👤 Penulis: Princess Audrey Salsabila
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Kcjb) 🏷️ Analisis Discrete Choice Model

OPTIMASI TRANSPORTASI DAN LOGISTIK PADA INSTALASI TURBIN ANGIN LEPAS PANTAI DENGAN PENDEKATAN STOKASTIK

Transportasi dan logistik memiliki peran signifikan dalam pembangunan infrastruktur lepas pantai. Kompleksitas dan keterbatasan seperti ketidakpastian performa peralatan, kondisi perairan, serta ketersediaan kapal dan dermaga menuntut perencanaan yang tepat sekaligus efisien dari segi biaya dan waktu. Perencanaan transportasi dan logistik dengan pendekatan deterministik sering kali kurang mampu menangkap variasi yang terjadi di lapangan, sehingga diperlukan pendekatan stokastik yang lebih representatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi transportasi dan logistik turbin angin lepas pantai (offshore wind turbine/OWT) dengan pendekatan stokastik, sehingga ketidakpastian yang memengaruhi biaya maupun durasi dapat dimitigasi. Simulasi dilakukan menggunakan pemrograman Python untuk memodelkan rangkaian proses transportasi dan logistik OWT, meliputi loadout/unloading dan pelayaran, dengan mempertimbangkan variasi probabilistik kondisi lingkungan dan operasional. Pendekatan Monte Carlo digunakan untuk mengacak parameterparameter dalam transportasi, seperti kecepatan kapal, kondisi lingkungan (gelombang, arus, dan angin), serta waktu operasi pelabuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan stokastik mampu memberikan gambaran distribusi probabilistik terkait estimasi durasi dan biaya transportasi pada setiap tahapan dan konfigurasi, sehingga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan OWT.

2025
👤 Penulis: Hasya Farhana
🏷️ Analisis Stokastik 🏷️ Kecerdasan Buatan Dalam Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN STRATEGI UNTUK PERUSAHAAN INTEGRATOR SISTEM ELEKTRIK & OTOMASI UNTUK MENGHADAPI KETIDAKPASTIAN BISNIS DI MASA DEPAN (STUDI KASUS: PT. MITRA)

PT Mitra adalah perseroan terbatas swasta yang telah berdiri sejak tahun 1996. PT Mitra mengkhususkan diri dalam bidang kelistrikan dan otomasi dan memiliki banyak klien di perusahaan milik negara seperti PT. Pertamina, PT Semen Indonesia, PT PLN, PT. Biofarma dan perusahaan swasta seperti PT. British Petroleum Berau, PT Indocement, dll. Dalam empat tahun terakhir, pendapatan PT. Mitra tumbuh secara eksponensial. Hal ini membuat perusahaan tumbuh menjadi perusahaan berskala besar yang dinilai dari pendapatan, karyawan, dan modal mereka. Pertumbuhan PT. Mitra yang tiba-tiba didukung oleh pendapatan siklus mereka yang dapat menimbulkan masalah jika pemilik dan manajemen PT. Mitra tidak dapat mengelola perusahaan dengan baik. Metode SCENARIO PLANNING mencoba memberikan beberapa skenario alternatif dan bagaimana pemilik serta manajemen harus bereaksi dengan mengembangkan strategi mereka. Perencanaan skenario dalam studi ini dirancang untuk durasi lima tahun dan strategi akan dikembangkan menggunakan analisis TOWS untuk membuat strategi yang berbeda untuk setiap skenario.

2025
👤 Penulis: Dody Budi Satriyo
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Swot 🏷️ Kecerdasan Buatan

STUDI KERENTANAN LONGSOR DENGAN MODEL SLOPE INFILTRATION DISTRIBUTED EQUILIBRIUM (SLIDE) SERTA PEMANFAATAN MACHINE LEARNING UNTUK PEMODELAN SPASIAL. STUDI KASUS DI KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT.

Pada tahun 2020-2024, di Kabupaten Garut tercatat 26 kasus bencana longsor dari total 52 kasus bencana secara keseluruhan. Berdasarkan Peta Prakiraan Gerakan Tanah Provinsi Jawa Barat, >50% area di Kabupaten Garut tergolong kerentanan menengah – tinggi. Namun, peta ini didasari dari karakteristik regional saja dengan penyusunannya menggunakan metode heuristik. Selain itu, metode deterministik pun mulai diterapkan oleh para peneliti dalam perkembangan asesmen bahaya longsor di Indonesia. Namun, metode ini memiliki keterbatasan, yakni ketergantungannya terhadap kualitas data spasial serta ketidakmampuannya dalam merepresentasikan variabilitas karakteristik tanah. Oleh karena itu, dalam analisis berskala regional, integrasi variasi karakteristik tanah dengan pemodelan spasial menjadi penting untuk meningkatkan keandalan hasil evaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk evaluasi kerentanan longsor dengan metode kuantitatif serta pemodelan spasial dengan metode geostatistik dan machine learning untuk mendapatkan akurasi spasial yang lebih baik. Studi kasus di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Karakteristik tanah daerah penelitian diperoleh dari data uji laboratorium tahun 2017, yang terdiri dari 100 sampel tanah tidak terganggu. Sampel ini mewakili karakteristik tanah dekat permukaan, memberikan informasi tentang sifat dasar tanah dan memungkinkan estimasi parameter kuat geser tanah melalui korelasi empiris. Variabilitas spasial dimodelkan menggunakan teknik geostatistik dan machine learning. Metode SLIDE (Slope Infiltrationn Distributed Equilibrum) digunakan untuk memodelkan stabilitas tanah permukaan dengan pengaruh infiltrasi hujan. Hasil dari penelitian ini adalah peta kerentanan terhadap longsor yang digambarkan oleh nilai faktor keamanan. Studi ini menunjukkan kemanjuran teknik geostatistik dan machine learning dalam memodelkan variabilitas spasial karakteristik tanah secara sistematis untuk memungkinkan analisis stabilitas lereng secara deterministik.

2025
👤 Penulis: Hamzah Zamzami Mahmud
🏷️ Geotanah 🏷️ Analisis Stabilitas Lereng 🏷️ Pemodelan Spasial

EVALUASI TINGKAT PELAYANAN TERMINAL BANDARA MENGGUNAKAN MIKROSIMULASI (STUDI KASUS: BANDARA INTERNASIONAL MINANGKABAU)

Tingkat pelayanan gedung terminal tidak hanya secara langsung berkaitan dengan kenyamanan penumpang tapi juga berkaitan dengan efisiensi operasional. Tingkat pelayanan yang tidak efisien dapat mengurangi kapasitas terminal secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat pelayanan terminal Bandar Udara Internasional Minangkabau khususnya di area check in. Analisis dilakukan dengan mengevaluasi fasilitas sisi darat eksisting Bandar Udara Internasional Minangkabau mengacu kepada SKEP No 77/VI/2005 serta mengevaluasi sistem antrian check in dengan model antrian M/M/1 dan model simulasi menggunakan PTV Vissim. Parameter antrian yang menjadi dasar evaluasi adalah waktu tunggu maksimum di dalam antrian dan ruang per penumpang (m²/pax). Kedua parameter dibandingkan dengan kerangka tingkat pelayanan oleh IATA. Hasil penelitian menunjukan bahwa fasilitas sisi darat eksisting Bandar Udara Internasional Minangkabau selain luas selasar keberangkatan sudah memenuhi syarat teknik yang tercantum dalam SKEP No 77/VI/2005. Parameter antrian waktu tunggu maksimum diperoleh kurang dari 20 menit sehingga masih memenuhi acceptible waiting time oleh IATA. Parameter ruang per penumpang diperoleh lebih dari 1.3 m²/pax yang juga memenuhi batas minimum yang ditetapkan oleh IATA. Beberapa upaya untuk meningkatkan kinerja sistem antrian proses check in di Bandar Udara Internasional Minangkabau untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penumpang pada peak season yaitu mengoptimalkan penggunaan self check in, membuat zonasi antara antrian check in dan antrian baggage drop serta menerapkan common use check in system.

2025
👤 Penulis: Ardelia Deani Adithia
🏷️ Simulasi 🏷️ Manajemen Terminal Bandar Udara 🏷️ Kepatuhan Pelayanan
Halaman 300 dari 6754
💬