📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

IDENTIFIKASI FAKTOR PEMICU FENOMENA KEMARAU BASAH AGUSTUS TAHUN 2025 DI BENUA MARITIM INDONESIA

Bulan Agustus di Benua Maritim Indonesia (BMI) secara klimatologis merupakan puncak defisit curah hujan akibat dominasi sirkulasi Monsun Australia. Namun, pada Agustus 2025 terjadi fenomena kemarau basah dengan anomali curah hujan yang meluas secara spasial, menampilkan pola yang berbeda dari kejadian historis pada tahun 2021. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan meluasnya anomali pemanasan sea surface temperature (SST) di perairan Indonesia yang diduga kuat bertindak sebagai penyuplai uap air lokal. Secara keseluruhan, kejadian anomali ini ditengarai dipicu oleh interaksi forcing lintas skala yang kompleks, mencakup skala dasar monsun, pengaruh iklim global, skala intraseasonal dan sinoptik, hingga termodinamika lautan lokal dan modifikasi siklus diurnal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi tingkat keekstreman anomali tersebut, mengidentifikasi faktor pemicu beserta mekanisme fisis lintas skalanya, dan mengkuantifikasi porsi kontribusi anomali SST lokal terhadap presipitasi menggunakan pemodelan numerik Weather Research and Forecasting (WRF). Data observasi menggunakan reanalisis ERA5, Outgoing Longwave Radiation (OLR), dan SST satelit untuk menganalisis dinamika atmosfer dari skala dasarian hingga diurnal. Eksperimen sensitivitas pemodelan WRF dilakukan untuk memvalidasi kontribusi termodinamika lautan terhadap presipitasi. Simulasi dijalankan dalam Skenario Aktual (SST 2025) dan Skenario Klimatologi (SST rata rata historis). Hasil analisis menunjukkan bahwa kemarau basah Agustus 2025 dipicu oleh terjadinya pelemahan monsun Australia yang bertepatan dengan fase Indian Ocean Dipole (IOD) negatif dalam kondisi ENSO netral. Kondisi ini memicu pemanasan SST di perairan barat Indonesia, bersamaan dengan pemanasan SST independen di Pasifik Utara. Gangguan Gelombang Kelvin, Equatorial Rossby, dan Madden Julian Oscillation (MJO) bertindak sebagai mekanisme pengangkatan. Interaksi dinamik ini mengubah siklus diurnal lokal, menggeser puncak presipitasi ke dini hari, dan memicu propagasi sistem konvektif dari laut ke daratan. Eksperimen WRF mengonfirmasi bahwa tanpa suplai energi laten tambahan dari anomali SST lokal tersebut, gangguan gelombang atmosfer tidak mampu menghasilkan curah hujan di periode kemarau.

2026
👤 Penulis: Nuran Dhiya Annafi
🏷️ Klimatologi 🏷️ Hidrologi 🏷️ Meteorologi

ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS PENGHAMBATAN ?-GLUKOSIDASE LIGNAN DIBENZOSIKLOOKTADIENA DARI KAYU BATANG DEHAASIA SUMATRANA (LAURACEAE)

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau kombinasi keduanya. Meningkatnya prevalensi diabetes di dunia serta risiko komplikasi yang ditimbulkannya menjadikan pengendalian kadar glukosa darah sebagai salah satu aspek penting dalam terapi. Keterbatasan obat antidiabetes yang tersedia mendorong eksplorasi senyawa alam sebagai kandidat obat baru. Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, dan salah satu genus yang belum banyak diteliti adalah Dehaasia. Tumbuhan genus ini telah dilaporkan memiliki beragam aktivitas biologis seperti antiplasmodial, antibakteri, sitotoksik, antioksidan, dan antimalaria. Salah satu spesies dari genus Dehaasia adalah Dehaasia sumatrana, yakni pohon atau semak tropis yang dapat tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penelitian mengenai metabolit sekunder D. sumatrana yang tumbuh di Indonesia masih sangat terbatas dan penelitian terhadap kayu batangnya belum pernah dilaporkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan isolasi senyawa, karakterisasi struktur, serta mengevaluasi aktivitas penghambatan ?-glukosidase dari kayu batang D. sumatrana yang tumbuh di Indonesia. Tahapan isolasi meliputi ekstraksi menggunakan metanol yang kemudian diuapkan dengan rotary vacuum evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak dipisahkan dan dimurnikan menggunakan kromatografi cair vakum, kromatografi kolom gravitasi dan kromatografi radial. Kemurnian senyawa hasil isolasi diuji menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan tiga eluen yang berbeda. Struktur senyawa hasil isolasi dikarakterisasi menggunakan NMR 1D (1H-NMR dan 13C-NMR), NMR 2D (HSQC, HMBC, dan COSY), serta spektrometri massa resolusi tinggi (HR-ESI-TOF-MS), sedangkan konfigurasi absolutnya ditentukan menggunakan analisis putaran optik dan difraksi sinar-X kristal tunggal (SC-XRD). Selanjutnya, aktivitas penghambatan ?-glukosidase dari senyawa hasil isolasi dievaluasi. Penelitian ini berhasil mengisolasi tiga metabolit sekunder dari kayu batang D. sumatrana yang diidentifikasi sebagai kadsulignan L (2,73 g), kadsulignan N (36,4 mg), dan neokadsuranin (56,1 mg). Tiga senyawa tersebut merupakan lignan dengan kerangka dibenzosiklooktadiena yang pertama kali ditemukan dari genus Dehaasia, meskipun sebelumnya telah dilaporkan dari genus Kadsura (Schisandraceae). Selanjutnya, ekstrak metanol kayu batang serta tiga senyawa hasil isolasi diuji terhadap aktivitas penghambatan ?-glukosidase dan menunjukkan aktivitas penghambatan yang lemah.

2026
👤 Penulis: Aisyah Assyifa
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ESTIMASI POSISI DAN KECEPATAN TRANSLASI MENGGUNAKAN UWB-TDOA PADA SISTEM POSISI DALAM RUANGAN

Peneliti robotika di Institut Teknologi Bandung membutuhkan sistem posisi dalam ruangan (indoor positioning system) yang mampu menyediakan informasi posisi, orientasi, kecepatan, dan percepatan drone secara akurat dan terjangkau untuk keperluan pengembangan sistem kendali maupun algoritma. Teknologi konvensional seperti Global Positioning System (GPS) tidak dapat digunakan di dalam ruangan akibat atenuasi sinyal satelit, sedangkan sistem komersial berbasis motion capture memiliki harga yang tidak terjangkau untuk skala laboratorium. Tugas akhir ini mengembangkan sistem posisi dalam ruangan berbasis teknologi ultra-wideband (UWB) dengan topologi time difference of arrival (TDoA) sebagai alternatif yang memenuhi kebutuhan tersebut. Subsistem yang dikerjakan pada tugas akhir ini adalah TDoA Positioning Calculation, yang berfungsi menghitung estimasi posisi dan kecepatan translasi drone berdasarkan data waktu kedatangan (time of arrival, ToA) yang telah tersinkronisasi antar-anchor. Sistem terdiri atas lima buah anchor, dengan empat anchor berperan sebagai pengukuran (SA) dan satu anchor berperan sebagai master clock (MC) untuk sinkronisasi waktu. Keempat anchor pengukuran ditempatkan secara non-coplanar pada arena berdimensi 5.026 × 5.191 × 3.5 m untuk menjamin seluruh koordinat tag berada di dalam volume kerja. Spesifikasi teknis yang ditetapkan mencakup akurasi posisi ±10 cm dan akurasi kecepatan translasi ±0.1 m/s pada setiap sumbu koordinat. Perancangan algoritma estimasi posisi dilakukan melalui dua fase iteratif. Pada fase pertama, algoritma dirancang berdasarkan asumsi noise Gaussian yang bersumber dari tinjauan manufaktur transceiver DW1000, menghasilkan pipeline berbasis algoritma Chan sebagai closed-form method yang diperhalus oleh linear Kalman Filter. Setelah karakterisasi noise aktual dilakukan, distribusi noise pengukuran teridentifikasi sebagai contaminated-Gaussian dengan outlier yang berasal dari kondisi fisik lingkungan seperti multipath. Temuan ini memicu revisi perancangan pada fase kedua melalui dua pendekatan penanganan outlier, yaitu outlier removal menggunakan pre-filter berlapis (triangle inequality dan predictive TDoA gate), serta robust filtering berbasis Weighted observation Likelihood Filter–Extended Kalman Filter (WoLF-EKF) dengan pembobotan Inverse Multi-Quadratic (IMQ). Ketiga pipeline yang dihasilkan (Chan+KF konvensional, Chan+Robust KF berbasis Student’s-t, dan WoLF-EKF) diimplementasikan sebagai node ROS 2 dan diuji secara real-time pada arena pengujian, dengan sistem motion capture OptiTrack PrimeX 13 digunakan sebagai ground truth. Hasil pengujian menunjukkan ketiga pipeline memenuhi spesifikasi akurasi posisi pada skenario statis, dengan RMSE per-sumbu berada pada rentang 0.6–3.7 cm. Namun, pada skenario dinamis, hanya pipeline WoLF-EKF yang memenuhi spesifikasi dengan RMSE persumbu 5.2–9.8 cm, sedangkan Chan+KF konvensional dan Chan+Robust KF mengalami degradasi akurasi yang signifikan. Berdasarkan hasil ini, WoLF-EKF terpilih sebagai algoritma estimasi posisi yang diimplementasikan pada sistem final. Estimasi kecepatan translasi diperoleh langsung dari vektor state WoLF-EKF untuk menghindari amplifikasi noise akibat finite difference estimasi posisi, dengan hasil pengukuran menunjukkan RMSE pada rentang 0.11–0.15 m/s. Spesifikasi akurasi kecepatan translasi belum sepenuhnya tercapai karena kecepatan diperoleh melalui propagasi matriks transisi tanpa measurement update langsung, sekaligus keterbatasan metodologis dari ground truth kecepatan yang dihitung melalui finite difference posisi OptiTrack. Secara keseluruhan, tugas akhir ini menghasilkan subsistem estimasi posisi yang memenuhi spesifikasi akurasi ±10 cm pada dua skenario pengujian, sekaligus mengidentifikasi keterbatasan pada estimasi kecepatan translasi yang menjadi arahan pengembangan lanjutan berupa sensor fusion dengan Inertial Measurement Unit (IMU). Selain itu, langkah lain yang dapat dilakukan adalah dengan menangani noise yang muncul pada GT sehingga perbandingan hasil pengukuran dapat mencerminkan RMSE yang sebenarnya.

2026
👤 Penulis: Kania Ika Putri
🏷️ Estimasi Posisi Dan Kecepatan Translasi 🏷️ Teknologi Ultra-Wideband (Uwb) 🏷️ Algoritma Kalman Filter

PERANCANGAN DESAIN ALAS KAKI BAGI IBU HAMIL TRIMESTER 3

Kehamilan trimester ketiga merupakan fase adaptasi fisiologis dan perubahan struktural maksimal pada seluruh tubuh. Pada tubuh bagian bawah terutama kaki, keluhan yang sering ditemui adalah edema (pembengkakan) dan kram kaki pada ibu hamil. Kondisi ini menjadi lebih berisiko bagi ibu hamil penderita hipertensi karena pembuluh darah yang cenderung kaku. Pada kondisi ini, kaki ibu hamil dapat mengalami perubahan ukuran seperti penambahan panjang kaki, lebar kaki, lebar tumit, lebar pergelangan kaki, lebar area forefoot, peningkatan foot posture index, berkurangnya lengkung kaki, dan penambahan size kaki. Kondisi dema dan kram kaki sulit diprediksi, membuat mereka tidak nyaman, dan tidak percaya diri. Penanganan non-farmakologis konvensional seperti yoga dan pijat kehamilan tidak dianjurkan bagi penderita hipertensi karena berisiko memicu kontraksi prematur. Sedangkan penanganan yang aman untuk dilakukan seperti merendam kaki dengan air hangat/dingin, stretching, menaikkan kaki ke tembok, dan menggunakan stocking khusus, pelaksanaannya sulit untuk dilakukan di luar rumah, membutuhan space yang besar, dan seringkali membutuhkan bantuan dari orang lain. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan merancang desain alas kaki khusus yang mampu meredakan keluhan kaki pada ibu hamil trimester ketiga menggunakan pendekatan user-centered design (UCD). Metode perancangan didasarkan pada pengumpulan data primer melalui wawancara dan kuesioner, serta data sekunder melalui studi produk preseden dan literatur medis. Penelitian ini menghasilkan rancangan alas kaki berkonsep hands-free slip-on yang dilengkapi fitur kompres hangat/dingin berupa removable gel pack dan outsole dengan slot untuk pemasangan stretching band. Desain disesuaikan secara ergonomis untuk memberikan ruang bagi kaki yang membengkak serta menghindari penekanan pada titik-titik meridian kaki yang dilarang bagi ibu hamil. Produk final ini terbukti secara mandiri dapat meningkatkan kenyamanan dan relaksasi ibu hamil tanpa memicu kontraksi.

2026
👤 Penulis: Philia Iona
🏷️ Desain Alat Kesehatan 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EVALUASI EFEKTIVITAS PROGRAM SUPLEMENTASI ZAT BESI PADA SISWI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DALAM UPAYA PENCEGAHAN ANEMIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BABATAN KOTA BANDUNG

Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak terjadi pada remaja putri dan dapat berdampak pada kesehatan, kemampuan belajar, serta produktivitas di masa kini dan masa mendatang. Sebagai upaya pencegahan anemia, pemerintah melaksanakan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program pemberian TTD pada siswi kelas VII Sekolah Menengah Pertama dalam wilayah kerja Puskesmas Babatan Kota Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain kohort prospektif yang dilakukan pada 110 siswi yang memenuhi kriteria penelitian. Data kadar hemoglobin awal diperoleh dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Puskesmas Babatan Kota Bandung pada bulan Oktober 2025, sedangkan data kadar hemoglobin akhir diperoleh melalui pemeriksaan pada minggu keempat bulan Januari 2026. Kepatuhan konsumsi TTD diukur berdasarkan proporsi tablet yang dikonsumsi selama periode penelitian. Data persepsi terhadap TTD, pengetahuan mengenai anemia, dan pola makan diperoleh melalui kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswi memiliki persepsi positif terhadap manfaat TTD dan mengetahui dampak anemia, namun tingkat kepatuhan konsumsi TTD tergolong rendah, dengan hanya 8,18% siswi yang termasuk kategori patuh. Rata-rata kadar hemoglobin menurun dari 13,38 ± 1,78 g/dL menjadi 12,32 ± 1,76 g/dL (p < 0,001), sedangkan proporsi anemia meningkat dari 17,27% menjadi 40,91% (p < 0,001). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan konsumsi TTD dengan status anemia pada pemeriksaan akhir (p = 0,735). Berdasarkan hasil penelitian, program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada periode penelitian belum menunjukkan efektivitas yang optimal dalam meningkatkan kadar hemoglobin maupun menurunkan kejadian anemia pada siswi.

2026
👤 Penulis: Raisha Dean Almira
🏷️ Anemia 🏷️ Program Suplementasi Zat Besi 🏷️ Pengawasan Kesehatan Remaja

PENGEMBANGAN MODEL MACHINE LEARNING UNTUK MEMPREDIKSI OUTCOME PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU BERDASARKAN DATA FDA ADVERSE EVENT REPORTING SYSTEM (FAERS)

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi kronik menular yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat secara global. Berdasarkan pedoman tata laksana TB nasional, pasien diwajibkan menjalani terapi menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) lini pertama, namun berpotensi memicu reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) yang dapat mempengaruhi outcome pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan pola kejadian ROTD serius pada pasien TB paru, serta mengevaluasi performa beberapa algoritma machine learning dalam memprediksi outcome pasien TB paru berdasarkan database FDA Adverse Event Reporting System (FAERS) periode 2023-2025. Data diunduh melalui situs resmi FDA dalam format ASCII, yang selanjutnya diolah menggunakan platform KNIME (Konstanz Information Miner) melalui serangkaian tahapan meliputi proses pra-pengolahan data, exploratory data analysis (EDA), pembersihan data, dan rekayasa fitur. Pemodelan dilakukan melalui tujuh algoritma supervised learning yang mencakup Naïve Bayes, Logistic Regression, Decision Tree, Tree Ensemble, Random Forest, Gradient Boosted Trees, dan XGBoost Tree Ensemble dengan empat tipe model prediktif (outcome multikelas, HO vs non-HO, LT vs non-LT, DE vs non-DE), yang dievaluasi menggunakan metrik F-measure dan Area Under the Receiver Operating Characteristic Curve (AUROC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gradient Boosted Trees merupakan algoritma dengan performa terbaik pada model prediktif outcome multikelas (F-measure: 0,320 dan AUROC: 0,903) dan outcome HO (F-measure: 0,361 dan AUROC: 0,808). XGBoost Tree Ensemble menjadi algoritma terbaik pada model prediktif outcome LT dengan F-measure: 0,183 dan AUROC: 0,910, sedangkan Decision Tree sebagai algoritma terbaik pada model prediktif outcome DE dengan F-measure: 0,219 dan AUROC: 0,956. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan sistem pemantauan keamanan obat berbasis machine learning untuk mendukung praktik farmakovigilans pada pasien tuberkulosis paru.

2026
👤 Penulis: Nadia
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kejadian Reaksi Obat 🏷️ Pengelolaan Risiko Tuberkulosis Paru

PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI FILLET BANDENG (CHANOS CHANOS) COATED MENGGUNAKAN EDIBLE COATING KARAGENAN DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN DAN FILTRAT KUNYIT (CURCUMA LONGA)

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun bersifat mudah rusak (perishable) dan memiliki banyak duri halus yang mengurangi minat konsumen. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan inovasi teknologi pascapanen yang mampu meningkatkan mutu, memperpanjang umur simpan, serta memberikan nilai tambah pada produk. Perancangan ini mengembangkan industri fillet bandeng tanpa duri dengan penerapan edible coating berbasis karagenan yang diperkaya filtrat rimpang kunyit (Curcuma longa) dan kitosan sebagai bahan aktif alami yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan mempertahankan kualitas produk selama penyimpanan dingin. Industri yang dirancang berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku bandeng yang melimpah, akses distribusi yang baik, serta kedekatan dengan pasar potensial. Sistem produksi menggunakan proses batch selama 10 jam kerja per hari dengan kapasitas bahan baku sebesar 857 kg ikan bandeng segar per hari yang menghasilkan sekitar 330 kg fillet bandeng berlapis edible coating atau 1.500 kemasan berukuran 220 gram per hari. Proses produksi meliputi penerimaan bahan baku, pembersihan, filleting dan pencabutan duri, aplikasi edible coating, pengemasan, penyimpanan dingin, dan distribusi menggunakan kendaraan berpendingin. Produk yang dihasilkan merupakan fillet bandeng siap masak dengan lapisan edible coating berbahan alami yang mampu mempertahankan mutu mikrobiologis, kimia, fisik, dan sensori selama penyimpanan dingin suhu 4°C hingga 8 hari. Penerapan teknologi ini memberikan nilai tambah berupa umur simpan yang lebih panjang, keamanan pangan yang lebih baik, serta mengurangi potensi food loss selama distribusi. Produk dipasarkan pada segmen konsumen menengah ke atas melalui supermarket dan ritel modern. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri memerlukan investasi awal sebesar Rp4,374,608,625 dengan sistem membeli bangunan. Biaya operasional terdiri atas biaya tetap sebesar Rp2,539,550,262 per tahun dan biaya variabel 4 sebesar Rp10,205,008,555 per tahun. Dengan kapasitas produksi 468.000 kemasan per tahun dan harga jual Rp33,500 per kemasan, industri diproyeksikan memperoleh pendapatan sebesar Rp15,678,000,000 per tahun. Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa nilai Net Present Value (NPV) positif, Internal Rate of Return (IRR) lebih besar daripada tingkat diskonto, Benefit Cost Ratio (BCR) lebih besar dari satu, Profitability Index (PI) lebih besar dari satu, Payback Period (PP) lebih pendek daripada umur proyek, serta kapasitas produksi telah melampaui Break Even Point (BEP), sehingga industri dinyatakan layak untuk dikembangkan. Selain itu, dilakukan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga jual untuk mengevaluasi ketahanan finansial industri terhadap perubahan kondisi ekonomi. Secara keseluruhan, perancangan industri fillet bandeng tanpa duri dengan teknologi edible coating berbasis karagenan, filtrat kunyit, dan kitosan menawarkan solusi inovatif dalam meningkatkan nilai tambah komoditas bandeng sekaligus menghasilkan produk yang aman, praktis, berkualitas, dan layak dikembangkan secara teknis maupun finansial. 5

2026
👤 Penulis: Muhammad Ridho Ardiansyah
🏷️ Teknologi Pascapanen 🏷️ Produksi Ikan Bandeng 🏷️ Edible Coating

MIXED MATRIX MEMBRANE PVDF/MXENE TERMODIFIKASI PEI UNTUK FILTRASI ZAT WARNA METILEN BIRU

Industri tekstil memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan ekonomi di seluruh dunia. Namun, industri tersebut juga menimbulkan masalah seperti limbah zat warna. Limbah zat warna yang dihasilkan salah satunya adalah metilen biru (MB). Jika terbuang ke perairan, keberadaan limbah metilen biru ini dapat merusak lingkungan, karena mempunyai sifat yang sulit terdegradasi dalam perairan. Selain itu, limbah zat warna juga dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia. Pada penelitian ini penanganan limbah metilen biru dilakukan menggunakan teknologi membran filtrasi. Membran filtrasi menawarkan keunggulan seperti efisiensi pemisahan yang relatif tinggi serta aplikasi yang mudah, sederhana dan ekonomis. Polyvinylidene Fluoride (PVDF) merupakan polimer semi-kristalin yang banyak diaplikasikan pada membran karena stabil secara termal dan mekanik. Namun, membran PVDF juga memiliki kelemahan karena sifatnya hidrofobik sehingga rentan mengalami fouling. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan modifikasi PVDF dengan material MXene Ti3C2 menjadi mixed matrix membrane (MMM) untuk diaplikasikan pada filtrasi zat warna MB. MXene merupakan material anorganik 2D dengan struktur berlapis nano yang memiliki hidrofilisitas yang baik serta selektivitas yang unggul. Lebih lanjut, MXene dapat dimodifikasi dengan polyethyleneimine (PEI) untuk melihat pengaruhnya terhadap kinerja membran. Penelitian ini dibagi menjadi empat tahap yaitu sintesis MXene dan MXene termodifikasi PEI, sintesis mixed matrix membrane (MMM), filtrasi zat warna metilen biru, dan karakterisasi membran. Sintesis MXene dilakukan dengan melakukan proses etching fasa MAX menggunakan campuran LiF/HCl. Selanjutnya dilakukan delaminasi melalui proses interkalasi DMSO dan sonikasi selama 10 jam agar diperoleh material 2D MXene. Dilakukan juga modifikasi pada MXene menggunakan PEI sehingga diperoleh MXene-PEI. MXene dan MXene- PEI kemudian ditambahkan pada matriks PVDF membentuk membran komposit PVDF/MXene (PM) dan PVDF/MXene-PEI (PM-PEI). Pembuatan membran PM dengan variasi konsentrasi MXene yang berbeda (0,25%; 0,5% dan 1%) dilakukan. Membran komposit disintesis melalui metode inversi fasa dengan bak koagulan berupa aquades. Uji kinerja membran diamati melalui uji permeabilitas, selektivitas, dan antifouling membran. Sementara itu, karakteristik membran diamati melalui hidrofilisitas dan morfologinya. Pada penelitian ini, telah berhasil dilakukan sintesis MXene (Ti3C2) dari fasa MAX (Ti3AlC2). Karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan keberhasilan etching lapisan Al pada fase MAX, ditunjukkan melalui penurunan intensitas puncak khas Al pada 38,8° serta pergeseran puncak (002) pada 2? dari 9,52° ke 5,67°. Pada karakterisasi Scanning Electron Microscope (SEM), MXene Ti3C2 menunjukkan bentuk lembaran-lembaran yang berlapis dan unsur-unsur penyusun material tersebut diperlihatkan melalui karakterisasi Energi Dispersive X-Ray (EDX). Sementara itu, modifikasi MXene oleh PEI dapat dikonfirmasi oleh karakterisasi Fourier Transform Infrared (FTIR) melalui keberadaan pita serapan N-H stretching pada bilangan gelombang 3438 cm-1 dan -NH2 pada bilangan gelombang 1634 cm-1. Penambahan MXene dapat meningkatkan hidrofilisitas membran ditunjukkan dengan penurunan nilai sudut kontak dari PVDF 82,04° menjadi sebesar 65,43° untuk PM 0,25, 69,95° untuk PM 0,5 dan 74,34° untuk PM 1, berturut-turut. Pada filtrasi MB, kondisi optimum dicapai pada konsentrasi MXene 0,25%, memberikan nilai fluks air murni 85,56 L m-2 jam-1 dan rejeksi sebesar 95,73%. Sementara itu, modifikasi MXene menggunakan PEI menurunkan permeabilitas membran namun meningkatkan selektivitas membran terhadap zat warna MB. Membran PVDF/MXene-PEI menunjukkan nilai fluks air murni 51,73 L m-2 jam-1 dan rejeksi sebesar 97,43%. Lebih lanjut, nilai FDR pada membran PVDF/MXene-PEI diperoleh sebesar 95,75%. Nilai FDR tinggi dari PVDF/MXene-PEI menandakan sedikit terjadinya fouling dan membran memiliki sifat antifouling yang cukup baik.

2026
👤 Penulis: Asep Rizki Pradana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI FILLET BANDENG (CHANOS CHANOS) COATED MENGGUNAKAN EDIBLE COATING KARAGENAN DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN DAN FILTRAT KUNYIT (CURCUMA LONGA)

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun bersifat mudah rusak (perishable) dan memiliki banyak duri halus yang mengurangi minat konsumen. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan inovasi teknologi pascapanen yang mampu meningkatkan mutu, memperpanjang umur simpan, serta memberikan nilai tambah pada produk. Perancangan ini mengembangkan industri fillet bandeng tanpa duri dengan penerapan edible coating berbasis karagenan yang diperkaya filtrat rimpang kunyit (Curcuma longa) dan kitosan sebagai bahan aktif alami yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan mempertahankan kualitas produk selama penyimpanan dingin. Industri yang dirancang berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku bandeng yang melimpah, akses distribusi yang baik, serta kedekatan dengan pasar potensial. Sistem produksi menggunakan proses batch selama 10 jam kerja per hari dengan kapasitas bahan baku sebesar 857 kg ikan bandeng segar per hari yang menghasilkan sekitar 330 kg fillet bandeng berlapis edible coating atau 1.500 kemasan berukuran 220 gram per hari. Proses produksi meliputi penerimaan bahan baku, pembersihan, filleting dan pencabutan duri, aplikasi edible coating, pengemasan, penyimpanan dingin, dan distribusi menggunakan kendaraan berpendingin. Produk yang dihasilkan merupakan fillet bandeng siap masak dengan lapisan edible coating berbahan alami yang mampu mempertahankan mutu mikrobiologis, kimia, fisik, dan sensori selama penyimpanan dingin suhu 4°C hingga 8 hari. Penerapan teknologi ini memberikan nilai tambah berupa umur simpan yang lebih panjang, keamanan pangan yang lebih baik, serta mengurangi potensi food loss selama distribusi. Produk dipasarkan pada segmen konsumen menengah ke atas melalui supermarket dan ritel modern. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri memerlukan investasi awal sebesar Rp4,374,608,625 dengan sistem membeli bangunan. Biaya operasional terdiri atas biaya tetap sebesar Rp2,539,550,262 per tahun dan biaya variabel 4 sebesar Rp10,205,008,555 per tahun. Dengan kapasitas produksi 468.000 kemasan per tahun dan harga jual Rp33,500 per kemasan, industri diproyeksikan memperoleh pendapatan sebesar Rp15,678,000,000 per tahun. Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa nilai Net Present Value (NPV) positif, Internal Rate of Return (IRR) lebih besar daripada tingkat diskonto, Benefit Cost Ratio (BCR) lebih besar dari satu, Profitability Index (PI) lebih besar dari satu, Payback Period (PP) lebih pendek daripada umur proyek, serta kapasitas produksi telah melampaui Break Even Point (BEP), sehingga industri dinyatakan layak untuk dikembangkan. Selain itu, dilakukan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga jual untuk mengevaluasi ketahanan finansial industri terhadap perubahan kondisi ekonomi. Secara keseluruhan, perancangan industri fillet bandeng tanpa duri dengan teknologi edible coating berbasis karagenan, filtrat kunyit, dan kitosan menawarkan solusi inovatif dalam meningkatkan nilai tambah komoditas bandeng sekaligus menghasilkan produk yang aman, praktis, berkualitas, dan layak dikembangkan secara teknis maupun finansial.

2026
👤 Penulis: Najma Izzati Azhar
🏷️ Teknologi Pascapanen 🏷️ Produksi Ikan Bandeng 🏷️ Edible Coating

KUANTIFIKASI NITROGEN DAN BIOMASSA PADA TANAMAN CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUSTESCENS L.) DENGAN APLIKASI BIOKONTROL TRICHODERMA HARZIANUM TERHADAP FUSARIUM OXYSPORUM

Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura dengan produksi yang tinggi di Indonesia, namun terjadi penurunan produksi pada beberapa tahun kebelakang. Salah satu penurunan produksi ini dikarenakan serangan patogen Fusarium oxysporum yang menyebabkan penyakit layu Fusarium. Penggunaan Trichoderma harzianum pada media tanam dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman dan menyediakan unsur hara. Selain itu, penggunaan biokontrol Trichoderma harzianum dapat menekan pertumbuhan Fusarium oxysporum dengan mekanisme kompetisi, mikroparasitisme, dan antibiosis. Penelitian bertujuan untuk menentukan pengaruh pemberian Trichoderma harzianum dan Fusairum oxysporum pada pertumbuhan, produksi biomassa, laju pertumbuhan, pemodelan matematis, serta nitrogen total pada media tanam dan tanaman cabai rawit. Kemudian, menentukan pengaruh pemberian Trichoderma harzianum terhadap neraca massa nitrogen. Rancangan penelitian menggunakan metode destruktif dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu tanpa inokulasi (K0), inokulasi Fusarium oxysporum (K1), inokulasi Fusarium oxysporum dan Trichoderma harzianum (K2), serta inokulasi Trichoderma harzianum saja (K3). Parameter yang diamati berupa tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, dan rasio tajuk-akar pada 44-86 HST, serta kandungan nitrogen dalam media tanam dan tanaman cabai rawit pada 30-143 HST dengan menggunakan metode Kjeldahl. Hasil dari penelitian perlakuan Trichoderma harzianum (K3) meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai rawit, seperti tinggi tanaman, luas daun, dan diameter batang terutama pada 44 hingga 65 HST serta shoot-root ratio terbaik pada tiap HST. Sedangkan, pada perlakuan Fusarium oxysporum menyebabkan penurunan pertumbuhan tanaman cabai rawit pada 44 hingga 58 HST dan peningkatan pertumbuhan pada 72 hingga 86 HST dengan spesifikasi Fusarium oxysporum spatial complex odoratissimum. Perlakuan Trichoderma hazianum dan Fusarium oxysporum dapat memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan pemberian Fusarium oxysporum saja. Laju pertumbuhan rata-rata terbaik pada pemberian Fusarium oxysporum sebesar 1,701 cm/hari untuk tinggi tanaman, 2 helai/hari untuk jumlah daun, 3,240 cm²/hari untuk luas daun, dan 0,016 cm/hari untuk diameter batang. Pemodelan matematis pada perlakuan Trichoderma harzianum + Fusarium oxysporum pada parameter tinggi tanaman, luas daun, dan diameter batang menggunakan model Gompertz dengan persamaan berturut-turut, yaitu ???? = 0,334 + 89,522??????????0,054(?????60,736) , ???? = 10,179 + 98,461??????????0,156(?????53,846) , dan ???? = 0,302 + 0,674??????????0,084(?????59,239) . Sedangkan, pada jumlah daun digunakan model logistic dengan persamaan ???? = 57,294 1+?????0,125(?????60,307) . Pemberian Trichoderma harzianum dapat meningkatkan kadar nitrogen pada tanaman cabai rawit dibandingkan perlakuan lainnya serta memiliki nitrogen total dalam tanah paling tinggi dibandingkan perlakuan lainnya pada 30, 44, dan 143 HST. Pemberian Fusarium oxysporum menurunkan nitrogen total pada media tanam dibandingkan perlakuan yang lainnya terutama pada 143 HST. Sedangkan, perlakuan Trichoderma harzianum dan Fusarium oxysporum tidak berbeda nyata dibandingkan tanpa inokulasi. Neraca massa nitrogen pada perlakuan Trichoderma harzianum + Fusarium oxysporum memiliki input sebesar 0,171 g N dan nilai output sebesar 0,101 g N, sehingga terjadi kehilangan nitrogen sebesar 6,62 g N.

2026
👤 Penulis: Wandha Asokawaty Devy
🏷️ Kebudayaan Pertanian 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EVALUASI KATALIS UNTUK SINTESIS BAHAN AKTIF WEWANGIAN ESTRAGOL YANG RAMAH LINGKUNGAN

Pembcntukan ikatan karbon-karbon mclalui reaksi Fricdcl-Crafls, khususnya dalam pcmbuatan scnyawa turunan bcnzcna fungsional scpcrti cstragol mcmiliki nilai tinggi di industri wewangian dan fannasi. Penelitian ini bertujuan untuk mcngkaji hasil rcaksi alilasi anisol dcngan alil asetat dalam sintesis estragol bcscrta cvaluasi katalis yang digunakan, yaitu katalis hcterogen dan homogcn. Katalis asam hcterogcn yang digunakan adalah Silica Sulfuric Acid (SSA) dan Ambcrlyst-16, scdangkan katalis asam homogen yang digunakan adalah asam sulfat, asam fosfat, dan asam trifluoroasetat. Rcaksi dengan katalis hcterogen dijalankan dalam sistcm tanpa pclarut pada suhu 100-120 °C dalam tabung Schlcnk, sedangkan rcaksi dcngan katalis homogcn dijalankan menggunakan sistem mikrorcaktor alir pada suhu 150-200 °C. Karaktcrisasi produk hasil reaksi dilakukan mcnggunakan spektroskopi NMR . Basil penclitian menunjukkan bahwa kedua katalis hetcrogen mampu memfasilitasi reaksi alilasi Friedel-Crafls dan mcnghasilkan estragol, berdasarkan terkonfmnasinya keberadaan sinyal-sinyal khas proton alilik yang tcrikat pada karbon aromatik pada daerah o'H 3,3-5,9 ppm di spektrum 'H-NMR, dcngan Amberlyst-16 menunjukkan aktivitas katalitik yang Jebih unggul dengan nilai konvcrsi 10,08% dibandingkan SSA dengan nilai konversi 4,86% pada suhu yang relatif lebih rendah . Sementara itu, penggunaan katalis homogcn asam sulfat dan asam fosfat pada mikroreaktor alir berhasil mengonversi anisol sccara optimal, tcrutama pada suhu 200 °C dan laju alir 0,3 mUmcnit, namun bukan menghasilkan cstragol sebagai produk utama. Pcnggunaan katalis hctcrogcn SSA dan Ambcrlyst-16 dalam sintesis cstragol mcnawarkan altematif prosedur sintcsis yang memiliki performa lebih baik, ramah lingkungan, dapat diregencrasi, serta lebih mudah dipisahkan dari produk dibandingkan dcngan katalis homogcn yang diuji.

2026
👤 Penulis: Karina Tifani
🏷️ Kemurnian Lingkungan 🏷️ Sintesis Esteragol 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI FILLET BANDENG (CHANOS CHANOS) COATED MENGGUNAKAN EDIBLE COATING KARAGENAN DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN DAN FILTRAT KUNYIT (CURCUMA LONGA)

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun bersifat mudah rusak (perishable) dan memiliki banyak duri halus yang mengurangi minat konsumen. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan inovasi teknologi pascapanen yang mampu meningkatkan mutu, memperpanjang umur simpan, serta memberikan nilai tambah pada produk. Perancangan ini mengembangkan industri fillet bandeng tanpa duri dengan penerapan edible coating berbasis karagenan yang diperkaya filtrat rimpang kunyit (Curcuma longa) dan kitosan sebagai bahan aktif alami yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan mempertahankan kualitas produk selama penyimpanan dingin. Industri yang dirancang berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku bandeng yang melimpah, akses distribusi yang baik, serta kedekatan dengan pasar potensial. Sistem produksi menggunakan proses batch selama 10 jam kerja per hari dengan kapasitas bahan baku sebesar 857 kg ikan bandeng segar per hari yang menghasilkan sekitar 330 kg fillet bandeng berlapis edible coating atau 1.500 kemasan berukuran 220 gram per hari. Proses produksi meliputi penerimaan bahan baku, pembersihan, filleting dan pencabutan duri, aplikasi edible coating, pengemasan, penyimpanan dingin, dan distribusi menggunakan kendaraan berpendingin. Produk yang dihasilkan merupakan fillet bandeng siap masak dengan lapisan edible coating berbahan alami yang mampu mempertahankan mutu mikrobiologis, kimia, fisik, dan sensori selama penyimpanan dingin suhu 4°C hingga 8 hari. Penerapan teknologi ini memberikan nilai tambah berupa umur simpan yang lebih panjang, keamanan pangan yang lebih baik, serta mengurangi potensi food loss selama distribusi. Produk dipasarkan pada segmen konsumen menengah ke atas melalui supermarket dan ritel modern. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri memerlukan investasi awal sebesar Rp4,374,608,625 dengan sistem membeli bangunan. Biaya operasional terdiri atas biaya tetap sebesar Rp2,539,550,262 per tahun dan biaya variabel 4 sebesar Rp10,205,008,555 per tahun. Dengan kapasitas produksi 468.000 kemasan per tahun dan harga jual Rp33,500 per kemasan, industri diproyeksikan memperoleh pendapatan sebesar Rp15,678,000,000 per tahun. Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa nilai Net Present Value (NPV) positif, Internal Rate of Return (IRR) lebih besar daripada tingkat diskonto, Benefit Cost Ratio (BCR) lebih besar dari satu, Profitability Index (PI) lebih besar dari satu, Payback Period (PP) lebih pendek daripada umur proyek, serta kapasitas produksi telah melampaui Break Even Point (BEP), sehingga industri dinyatakan layak untuk dikembangkan. Selain itu, dilakukan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga jual untuk mengevaluasi ketahanan finansial industri terhadap perubahan kondisi ekonomi. Secara keseluruhan, perancangan industri fillet bandeng tanpa duri dengan teknologi edible coating berbasis karagenan, filtrat kunyit, dan kitosan menawarkan solusi inovatif dalam meningkatkan nilai tambah komoditas bandeng sekaligus menghasilkan produk yang aman, praktis, berkualitas, dan layak dikembangkan secara teknis maupun finansial.

2026
👤 Penulis: Adinda Fadhilla Ramadhani S
🏷️ Teknologi Pascapanen 🏷️ Produksi Ikan Bandeng 🏷️ Edible Coating

PENGEMBANGAN SEPATU SINGLE PLATFORM CONVERTIBLE BAGI PEKERJA PEREMPUAN DENGAN INTENSITAS KERJA TINGGI

Sepatu hak tinggi banyak digunakan oleh pekerja perempuan sebagai bagian dari penampilan profesional, khususnya di sektor layanan publik dan perhotelan. Namun, penggunaannya dalam durasi panjang menimbulkan risiko gangguan muskuloskeletal yang signifikan meliputi nyeri kaki, lutut, dan punggung bawah akibat perubahan postur tubuh dan pola berjalan yang tidak alami. Data BPS (2024) menunjukkan bahwa pekerja perempuan di sektor jasa Indonesia, yang mencakup 54,6% dari total angkatan kerja perempuan nasional, rata-rata bekerja 45,1 jam per minggu, dengan durasi berdiri hingga 7–9 jam per hari sambil mengenakan alas kaki yang tidak ergonomis. Penelitian ini bertujuan merancang sepatu hak tinggi konvertibel berbasis ergonomi yang mampu menjawab kebutuhan fungsional, kenyamanan jangka panjang, serta tuntutan estetika profesional pekerja perempuan. Pendekatan kualitatif berbasis user-centered design digunakan melalui observasi lapangan etnografis, wawancara terstruktur dengan lima pekerja perempuan berusia 20–45 tahun di sektor jasa, konsultasi ahli dengan praktisi senior industri sepatu, serta tinjauan literatur dan produk eksisting. Temuan lapangan mengidentifikasi tiga pain point utama: (1) nyeri fisik akibat distribusi beban yang tidak merata dan desain toe box yang sempit, menyebabkan lecet pada tumit, ketegangan otot betis, dan nyeri punggung bawah; (2) penurunan stabilitas pola berjalan dan pemendekan langkah setelah pemakaian berkepanjangan; serta (3) ketidakpraktisan membawa alas kaki cadangan. Temuan ini diperkuat oleh literatur yang mengkonfirmasi bahwa penggunaan sepatu hak tinggi secara rutin meningkatkan tekanan plantar di area metatarsal secara signifikan, mengurangi rentang gerak pergelangan kaki, dan meningkatkan risiko jatuh hingga 40% pada perempuan usia kerja. Solusi desain yang dikembangkan adalah prototipe sepatu konvertibel yang memungkinkan pengguna beralih secara efisien antara mode hak tinggi profesional (maksimal 5 cm) dan mode flat untuk istirahat atau aktivitas dinamis. Desain mengintegrasikan berbagai prinsip ergonomi, meliputi toe box luas, dukungan lengkung telapak, bantalan forefoot, lebar dasar hak ?2–3 cm, serta sudut kemiringan hak kurang dari 15°. Mekanisme konversi dirancang agar andal, intuitif, dan tidak mengorbankan estetika profesional sepatu, dengan siluet yang ramping dan material yang breathable. Diharapkan solusi ini dapat menjadi alternatif yang inklusif dan berorientasi kesehatan, mendukung kesejahteraan fisik pekerja perempuan sekaligus menjaga citra profesional mereka dalam lingkungan kerja modern.

2026
👤 Penulis: Najda Afifah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

SINTESIS DAN OPTIMASI KINERJA MATERIAL ?-ALUMINA MESOPORI HASIL ISOLASI ABU TERBANG BATUBARA PLTU PAITON TERMODIFIKASI POLIDOPAMIN UNTUK ADSORPSI ION NEODIMIUM

Pemanfaatan limbah abu terbang batubara PLTU Paiton masih kurang optimal dan menimbulkan permasalahan lingkungan. Kandungan alumina pada limbah abu terbang batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam sintesis material adsorben termodifikasi untuk adsorpsi logam tanah jarang seperti ion neodimium (Nd(III)). Modifikasi dengan polidopamin dilakukan untuk memperkaya gugus fungsi aktif pada permukaan material sehingga meningkatkan afinitas terhadap ion neodimium dan memperbaiki kinerja adsorpsinya. Penelitian ini bertujuan mengisolasi alumina dari abu terbang batubara serta menyintesis material alumina mesopori yang dimodifikasi dengan polidopamin untuk adsorpsi ion neodimium. Isolasi alumina dilakukan melalui tahapan pra-perlakuan, amorfisasi terkontrol, serta proses hidrometalurgi yang meliputi pelindian asam, pelindian basa, dan penetralan larutan. Alumina hasil isolasi kemudian disintesis menjadi alumina mesopori menggunakan surfaktan Pluronic P123 dan selanjutnya dimodifikasi melalui pelapisan polidopamin. Material yang berhasil disintesis dan dikarakterisasi menggunakan FTIR, XRF, XRD, BET, dan SEM kemudian dilakukan optimasi kinerja adsorpsi pada adsorben.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses isolasi menghasilkan silika, besi, dan alumina dengan tingkat kemurnian masing-masing sebesar 96,63; 10,3; dan 94,3%, serta rendemen masing-masing sebesar 35,66; 56,77; dan 11,40%. Penggunaan Pluronic P123 terbukti meningkatkan luas permukaan material hingga 246,87 m²/g sekaligus membentuk struktur mesopori dengan diameter pori sebesar 4,29 nm. Pada penelitian ini dilakukan optimasi kinerja tiga material meliputi Al(OH)3 hasil ekstraksi tanpa modifikasi (AI), alumina mesopori (AM), dan alumina polidopamin (AP) berpori hierarki pada kondisi optimum pH 6, massa adsorben 15 mg, dan waktu kontak 60 menit. Data hasil adsorpsi mengikuti model isoterm Freundlich melalui fitting non linier dengan nilai Kf untuk material AI, AM, dan AP sebesar 2,4707; 3,266; dan 5,2202 dan nilai n masing-masing sebesar 1,0098; 1,3137; dan 1,6122. Proses adsorpsi mengikuti model kinetika orde dua semu berdasarkan analisis fitting nonlinier dengan nilai kapasitas adsorpsi (Qe) AP sebesar 6,994 atau 4,9 kali lebih besar dari Al(OH)3 hasil ekstraksi tanpa modifikasi (AI) sebesar 1,4287. Selain itu, hasil kajian termodinamika mengindikasikan bahwa proses adsorpsi berlangsung secara spontan dan bersifat endotermik, sedangkan uji ANOVA menunjukkan bahwa model yang diperoleh signifikan secara statistik (p < 0,001), R2 dari persamaan regresi material AI, AM, dan AP masing-masing sebesar 0,9321; 0,9175; dan 0,9299 dengan parameter konsentrasi ion neodimium sebagai variabel paling mempengaruhi adsorpsi. Berdasarkan hasil tersebut, material AP berpori hierarki berpotensi dikembangkan sebagai adsorben yang efektif untuk studi pemisahan ion neodimium.

2026
👤 Penulis: Rima Rachmania Arfida
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN FRUIT STORAGE CHAMBER (FSC) BERBASIS FOTOKATALIS TIO2/MN PADA SISTEM PENYIMPANAN PASCAPANEN MULTI-PRODUK PISANG CAVENDISH DI PT. EKONOMI SIRKULAR INDONESIA

Indonesia merupakan salah satu produsen pisang terbesar di dunia, namun masih menghadapi tingginya kehilangan pascapanen akibat proses pematangan yang dipicu oleh akumulasi gas etilen. Kondisi ini menyebabkan penurunan mutu dan masa simpan serta kerugian ekonomi di sepanjang rantai pasok. Oleh karena itu, dilakukan perancangan sistem pascapanen Fruit Storage Chamber (FSC) berbasis fotokatalis TiO2/Mn pada penyimpanan pisang Cavendish di PT. Ekonomi Sirkular Indonesia untuk memperpanjang umur simpan, mempertahankan kualitas buah, dan mengurangi kehilangan pascapanen. Sistem ini dirancang sebagaimana proses yang dilakukan oleh PT. Ekonomi Sirkular Indonesia, yakni proses penerimaan bahan baku, pencucian, sortasi dan grading, penyimpanan, produksi buah utuh, buah potong, dan smoothies, pengemasan, hingga distribusi ke retailer. Inovasi utama terletak pada sistem fotokatalis TiO2/Mn pada tahap penyimpanan di warehouse dan retail, yang mampu mendegradasi etilen sehingga proses pematangan dapat diperlambat tanpa bergantung pada sistem cold storage konvensional. Selain itu, sistem ini menerapkan konsep optimalisasi pemanfaatan buah sesuai tingkat kematangannya sehingga dapat menekan kehilangan hasil pascapanen. Berdasarkan analisis 3 altermatif sistem pascapanen, skenario FSC berbasis TiO2/Mn dipilih karena memberikan nilai terbaik antara efisiensi teknis, ekonomi, dan keberlanjutan. Sistem ini memiliki kapasitas penerimaan 500 kg pisang per hari atau 132.000 kg per tahun dengan hasil produksi berupa 63,05% buah utuh, 13% buah potong, dan 5,2% smoothies. Produk yang dihasilkan memiliki keunggulan berupa umur simpan lebih panjang, mutu dan tingkat kematangan lebih seragam, dan meningkatkan nilai tambah buah overripe dari diversifikasi produk sehingga mengurangi food loss serta mendukung efisiensi pemanfaatan bahan baku. Indikator kelayakan finansial yang digunakan menunjukkan performa usaha yang positif. Sistem mencatatkan Gross Profit Margin (GPM) sebesar 42,74%, Net Profit Margin (NPM) sebesar 9,42%, dan Net Present Value (NPV) selama 10 tahun sebesar Rp1,237,135,044.47. Internal Rate of Return (IRR) sebesar 62,56% berada jauh di atas tingkat diskonto 12%, dengan Profitability Index (PI) sebesar 3,56. Titik impas (Break Even Point) tercapai pada utilisasi 76.80% dari kapasitas terpasang, dengan periode pengembalian modal (Payback Period) selama 1,59 tahun. Secara keseluruhan, perancangan FSC berbasis TiO2/Mn layak diterapkan karena mampu menjaga kualitas dan meningkatkan nilai jual pisang Cavendish, mengurangi kehilangan pascapanen, dan mendukung sistem rantai pasok yang lebih efisien dan berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Amelia Syabina Izzati
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
Halaman 3 dari 6754
💬