📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenSTUDI ANALISIS SEKATAN SESAR PADA LAPANGAN DIABLO, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN, JAMBI
Analisis sekatan sesar merupakan komponen penting untuk menentukan sifat sesar sebagai jalur migrasi atau penyekat bagi hidrokarbon. Lapangan Diablo yang terletak pada bagian paling tenggara dari Blok Jabung, merupakan salah satu lapangan yang masih dalam tahap eksplorasi dan diperlukan pemahaman sistem sekatan sesar yang konklusif. Penelitian ini menganalisis sekatan sesar pada interval Formasi Talangakar Bawah hingga Formasi Air Benakat dari Lapangan Diablo, Cekungan Sumatra Selatan, menggunakan metode Shale Gouge Ratio (SGR) dan Jukstaposisi sebagai parameter utama. Data yang digunakan pada penelitian berupa data seismik 3D dengan luas sekitar 21 km² dan data 3 sumur eksplorasi. Pemodelan geologi 3D dilakukan menggunakan parameter utama petrofisika berupa volume serpih. Analisis sekatan sesar dilakukan dengan memodelkan diagram jukstaposisi, diagram throw, diagram volume serpih, dan diagram SGR pada bidang sesar untuk menentukan sifat sekatan sesar pada tiap interval formasi. Hasil analisis menunjukkan terdapat 21 sesar berarah dominan NE-SW memiliki nilai throw rata-rata 34 ft. Analisis jukstaposisi menunjukkan dominasi pertemuan batuserpih dengan batuserpih, sementara potensi kebocoran umumnya terjadi pada pertemuan batupasir dengan batupasir di Formasi Talangakar Atas serta antara batupasir berserpih dengan batupasir berserpih di Formasi Gumai. Perhitungan SGR menunjukkan kisaran nilai 16–87% dengan rata-rata 49%, menunjukkan tingginya proporsi serpih pada zona sesar. Berdasarkan ambang batas SGR 15–20% (Yielding, 2002), seluruh sesar bersifat sekat pada interval Formasi Air Benakat dan Talangakar Bawah, sedangkan pada interval Talangakar Atas (Sesar A, B, C, dan D) dan Formasi Gumai (Sesar B dan D) cenderung bersifat bocor yang divalidasi dengan perbedaan data tekanan formasi pada sumur SOKA-1 dan SOKA-2.
KARAKTERISASI RESERVOIR DAN ESTIMASI SUMBERDAYA HIDROKARBON PADA FORMASI UPPER RED BED, LAPANGAN BONNIE, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Lapangan Bonnie terletak di South Aman Sub- Basin yang merupakan half graben yang terbentuk akibat sistem transtensional pada Eosen hingga Oligosen. Interval penelitian berada pada Formasi Upper Red Bed yang merupakan bagian atas dari Kelompok Pematang dengan litologi yang terdiri dari batupasir dan shale lacustrine. Bentuk karakterisasi yang dilakukan dalam penelitian meliputi interpretasi lingkungan pengendapan dan perhitungan properti petrofisika. Dalam perhitungan estimasi sumberdaya hidrokarbon dilakukan analisis kontak fluida dan perhitungan original oil in place pada interval Sand A dan Sand B. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa empat sumur penelitian dengan ketersediaan data secara umum berupa data log tali kawat, data deskripsi batuan, peta struktur kedalaman, laporan analisis biostratigrafi, dan data uji sumur. Dalam penelitian ini didapatkan tiga fasies arsitektur, yaitu distributary channel, deltafront mouth bar, dan prodelta yang menunjukkan lingkungan pengendapan lacustrine delta. Distribusi nilai properti petrofisika pada fasies distributary channel memiliki distribusi yang paling baik diantara dua fasies lain dengan nilai volume serpih sebesar 0,42, porositas efektif sebesar 0,08, dan saturasi air sebesar 0,70. Berdasarkan data tampilan hidrokarbon, terdapat dua interval reservoir Sand A dan Sand B yang menerus pada sumur B-2 dan B-3. Perhitungan volume sumberdaya dibagi menjadi dua kompartemen karena adanya batas sesar dengan penentuan kontak fluida didasarkan pada lowest tested oil dan lowest known oil. Volume sumberdaya hidrokarbon pada kompartemen 1 memiliki estimasi sebesar 39,602 MMSTB, sementara kompartemen 2 memiliki estimasi sebesar 0,257 MMSTB
STUDI KARAKTERISASI DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA METALURGI DI PT X, KECAMATAN LAUNG TUHUP, KALIMANTAN TENGAH
Salah satu bentuk hilirisasi sektor batubara di Indonesia adalah melalui pemanfaatan batubara metalurgi sebagai bahan baku kokas. Formasi Batuayau, yang berumur Eosen Tengah hingga Akhir dan terletak di Sub-Cekungan Kutai Atas, merupakan salah satu formasi pembawa batubara yang berpotensi sebagai sumber batubara metalurgi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lingkungan pengendapan, karakterisasi batubara metalurgi, hubungan lingkungan pengendapan terhadap karakterisasi batubara, serta genesa pembentukan batubara metalurgi Formasi Batuayau yang berlokasi di Provinsi Kalimantan Tengah. Lingkungan pengendapan batubara ditentukan melalui analisis stratigrafi dari Pengukuran Penampang Stratigrafi (PPS) pada singkapan dan deskripsi bor inti. Analisis karakterisasi batubara menggunakan data sekunder berupa uji proksimat serta data Crucible Swelling Number (CSN) dan maximum fluidity untuk mengetahui karakterisasi batubara metalurgi. Lingkungan pengendapan di area penelitian merupakan dataran pasang surut (tidal flats) dengan fasies arsitektur berupa swamp, supratidal, dan intertidal dengan kondisi lingkungan telmatik yang diperoleh dari analisis litofasies dan maseral menggunakan perhitungan Tissue Preservation Index (TPI) dan Gelification Index (GI). Lapisan batubara O, P, Q, dan R menjadi fokus dalam menentukan karakterisasi. Lapisan batubara memiliki kandungan abu rendah hingga sedang (7–14,6 %adb) dan kadar sulfur rendah hingga sedang (0,4–1,1 %adb), serta termasuk dalam peringkat batubara bituminus volatil tinggi A hingga bituminus volatil medium dengan nilai kalor 15.049–15.868 btu/lb (%mmmf). Batubara area penelitian termasuk ke dalam kategori semi-hard hingga standard hard coking coal dan kemampuan mengembang yang kuat (strongly caking). Nilai reflektansi vitrinit yang berkisar 1,1–1,2 % serta gradien geotermal sebesar 3,5 oC/100 m, yang diperkuat oleh data burial history Sub-Cekungan Kutai Atas, menunjukkan bahwa genesa pembentukan batubara metalurgi di area penelitian dipengaruhi oleh proses pembebanan sebagai sumber panas pematangan batubara.
SEISMIK-STRATIGRAFI DAN KARAKTERISASI KELOMPOK PEMATANG PADA LAPANGAN “X”, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Cekungan Sumatera Tengah merupakan salah satu cekungan di Indonesia yang telah lama menjadi fokus eksplorasi dan produksi hidrokarbon. Salah satu interval yang penting dalam cekungan ini adalah Kelompok Pematang yang berumur Eosen–Oligosen. Interval ini diendapkan dalam lingkungan fluvial-lakustrin dan berpotensi sebagai sumber batuan induk serta reservoir hidrokarbon. Namun, pemahaman terhadap Kelompok ini khususnya di bagian batas barat cekungan, yaitu Sub-Cekungan Pendalian di Lapangan “X” masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lingkungan pengendapan serta karakter seismik-stratigrafi dari Kelompok Pematang di Lapangan “X”. Metode yang digunakan mencakup analisis biostratigrafi untuk penentuan umur dan paleobatimetri, interpretasi lingkungan pengendapan berbasis data sumur yaitu analisis litofasies dan elektrofasies serta data seismik yaitu fasies seismik, dan juga korelasi stratigrafi sikuen. Kelompok Pematang interval penelitian terdiri atas lima litofasies utama: batupasir sangat halus hingga kasar, batulempung–serpih, batulanau, serta batubara. Analisis elektrofasies memperlihatkan asosiasi fasies dari fasies fluvial (Overbank, Crevasse splay, dan Point Bar) dan lakustrin (Mouth bar, Delta front, dan Prodelta). Analisis geometri lingkungan pengendapan menunjukkan bahwa distribusi sedimen dikontrol oleh dua sistem danau yang menerima suplai sedimen dari arah timur (Tinggian Langga Payung). Kelompok Pematang daerah penelitian menunjukkan dua dari tiga tahap pengisian cekungan yang khas dalam sistem syn-rift, yaitu fase underfilled dan fase balanced-filled. Interpretasi struktur memperlihatkan bahwa daerah penelitian berada dalam sistem half-graben yang dikontrol oleh sesar utama yang berarah utara- selatan.
USULAN PENINGKATAN KINERJA SARANA BONGKAR MUAT DI DERMAGA SAMUDERA TERMINAL CURAH KERING (TCK) BENGKULU DENGAN METODE SIMULASI
Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu melayani aktivitas bongkar muat produk curah kering, khususnya batu bara dengan total throughput pelabuhan 3,21 juta ton pada tahun 2024. Meskipun begitu, terdapat potensi throughput yang dapat dimuat sebesar 7,76 juta ton per tahun yang berasal dari cadangan batu bara di wilayah Bengkulu dan sekitarnya, namun belum bisa terealisasi karena adanya keterbatasan pada kapasitas pelabuhan yang disebabkan oleh gangguan operasional seperti faktor cuaca dan pemadaman listrik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sarana bongkar muat di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, khususnya di Dermaga Samudera Terminal Curah Kering Bengkulu melalui perbaikan pada bottleneck operasi serta analisis skema implementasi paling efektif. Permasalahan ini diselesaikan dengan menggunakan metode simulasi karena cakupan masalah yang kompleks berupa sistem operasional terminal curah kering dan interaksi antar komponennya dengan nilai waktu proses yang stokastik. Pendekatan simulasi yang digunakan adalah discrete event simulation dengan dibantu oleh perangkat lunak AnyLogic untuk menghitung total throughput tahunan batu bara di Dermaga Samudera. Terdapat 3 skenario simulasi, yaitu skenario existing, skenario usulan 1, dan skenario usulan 2. Skenario existing memodelkan kondisi nyata dari sistem saat ini, skenario usulan 1 mengatasi permasalahan gangguan operasional dan memaksimasi jam kerja peralatan, sedangkan skenario 2 melakukan penggantian peralatan bottleneck pada Konveyor C. Pemilihan skenario terbaik dilakukan dengan perbandingan rasio kenaikan manfaat-biaya dari masing-masing skenario. Berdasarkan analisis, skenario usulan 2 terpilih sebagai opsi paling layak dengan nilai rasio manfaat-biaya inkremental 8,92 terhadap skenario usulan 1. Hasil simulasi menunjukkan skenario usulan 2 mampu meningkatkan throughput tahunan Dermaga Samudera dari 1,06 juta ton menjadi 1,97 juta ton, meningkat 85,59%. Melalui analisis skema kemitraan, implementasi skenario usulan 2 di Dermaga Samudera direkomendasikan dengan menggunakan skema full equity.
KARAKTERISASI RESERVOIR DAN PENENTUAN SUMBERDAYA HIDROKARBON PADA INTERVAL A, FORMASI SIHAPAS BAWAH, LAPANGAN SALVADOR, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH
Peran karakterisasi reservoir komprehensif dalam mengoptimalkan perolehan hidrokarbon sangat krusial untuk pengembangan lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi resevoir yang meliputi penentuan geometri, properti reservoir, dan potensi hidrokarbon pada Interval A, Formasi Sihapas Bawah di Lapangan Salvador, Cekungan Sumatra Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan terintegrasi yang menggabungkan data log kawat dari 15 sumur, deskripsi batuan inti dan sidewall core, laporan sumur, serta data seismik 3D. Analisis stratigrafi sekuen dilakukan untuk mengidentifikasi system tract dan set parasekuen. Analisis fasies dilakukan melalui deskripsi inti batuan terinci dan interpretasi elektrofasies. Analisis petrofisika mencakup perhitungan volume serpih, porositas efektif, saturasi air, dan net pay menggunakan model petrofisika standar dan kriteria batas pancung. Sumber daya hidrokarbon diestimasi menggunakan metode volumetrik Original Oil in Place (OOIP). Analisis mengidentifikasi tiga asosiasi fasies utama: Tidal-Fluvial Channel, Tidal Sand Bar, dan Intertidal Flat yang mengindikasikan lingkungan pengendapan Estuari dominasi pasang-surut. Analisis stratigrafi sekuen membagi Formasi Sihapas Bawah menjadi dua set parasekuen yang terdiri dari satu Highstand System Tract dan satu Transgressive System Tract yang didalamnya terdapat Interval A. Analisis petrofisika Interval A menghasilkan nilai rata-rata volume serpih 0,33, porositas efektif 0,17, dan saturasi air 0,77, dengan net pay rata-rata 0,45 yang terdistribusi heterogen. Estimasi Original Oil in Place (OOIP) untuk reservoir Interval A adalah sebesar 8 MMSTB. Interval A Formasi Sihapas Bawah merupakan unit reservoir signifikan di Lapangan Salvador dengan asosiasi fasies dan lingkungan pengendapan yang dapat diidentifikasi dengan jelas. Karakteristik reservoir dan volume hidrokarbon yang terestimasi mendukung potensi untuk kegiatan pengembangan lebih lanjut pada interval ini. Karakterisasi reservoir terintegrasi memberikan wawasan berharga untuk mengoptimalkan strategi perolehan hidrokarbon di lapangan matang ini.
PERANCANGAN STRATEGI PENGELOLAAN RISIKO PEMANGKU KEPENTINGAN BERBASIS PROSES BISNIS PADA PT PUTRA KATES SIMOELIKKI
PT Putra Kates Simoelikki merupakan perusahaan keluarga yang bergerak di bidang obat tradisional dengan produk berupa jamu lancar haid. Perusahaan mengalami penurunan volume penjualan dari distributor existing dalam periode 2022 hingga 2024 meskipun permintaan pasar diperkirakan stabil. Hal ini ditandai dengan adanya 8 distributor yang tidak lagi melakukan repeat order. Mereka mengeluhkan keterlambatan pengiriman produk dan inkonsistensi mutu produk yang terjadi secara berulang. Di sisi lain, terjadi peningkatan proporsi biaya pabrik tidak terduga hingga 52%. Setelah ditelusuri, peningkatan ini disebabkan oleh pembelian simplisia pada periode yang tidak tepat sehingga harga tinggi dan kebutuhan biaya perawatan reaktif mesin tak terduga. Permasalahan tersebut menunjukkan adanya hambatan yang tidak diselesaikan sehingga terakumulasi. Hambatan ini dipicu oleh adanya risiko operasional dan kompleksitas interaksi pemangku kepentingan yang ditimbulkan ketidakpastian. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan risiko berbasis pemangku kepentingan untuk mencegah masalah terhadap pencapaian tujuan strategis terjadi kembali di kemudian hari. Penelitian ini menggunakan risiko pendekatan berbasis pemangku kepentingan yang dipetakan menurut proses bisnis inti dari kerangka American Productivity & Quality Center (APQC). Terdapat 8 pemangku kepentingan utama yang dianalisis, terdiri dari 6 pihak internal (pemilik, manajer umum, produksi, pengemasan, procurement & distribusi, dan SG&A) serta 2 pihak eksternal (distributor dan supplier). Dari identifikasi awal sebanyak 136 risiko, dilakukan 3 tahap penyaringan, yaitu validasi risiko dengan 93 risiko dilanjutkan, Pareto Analysis dari hasil Risk Significance (RS) dengan 50 risiko diprioritaskan, dan pemetaan interaksi antar risiko menggunakan Risk Network Model (RNM) dengan 15 risiko berjenis source terpilih untuk dimitigasi. Strategi pengelolaan yang diusulkan mencakup pendekatan avoid, transfer, mitigate, dan accept, serta strategi keterlibatan pemangku kepentingan melalui communicate, negotiate, monitor, dan collaborate. Setiap strategi dilengkapi dengan penanggung jawab, rencana aksi yang implementasinya disesuaikan dengan Integrated Risk Priority (IRP), output, dan periode pemantauan dalam risk mitigation charter.
KARAKTERISASI RESERVOIR DAN ESTIMASI SUMBER DAYA HIDROKARBON PADA FORMASI TALANGAKAR, LAPANGAN MONACO, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN
Cekungan Sumatra Selatan, khususnya Formasi Talangakar, memiliki potensi besar sebagai reservoir utama dan telah terbukti menyimpan akumulasi hidrokarbon yang signifikan. Salah satu lapangan prospektif adalah Lapangan Monaco, Formasi Talangakar, yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4. Berdasarkan data DST (drill stem test), sumur MNC-001 dan MNC-002 menunjukkan aliran minyak dari Lapisan A sebesar 1550 BOPD dan 1588 BOPD. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik reservoir melalui analisis fasies, korelasi stratigrafi, analisis properti petrofisika, dan estimasi sumber daya hidrokarbon pada Lapisan A, serta membandingkan properti petrofisika pada asosiasi fasies yang teridentifikasi. Data yang digunakan mencakup enam sumur berupa log talikawat, data DST, batuan inti, dan laporan sumur lainnya. Hasil analisis menunjukkan terdapat 10 litofasies yang dikelompokkan ke dalam empat asosiasi fasies utama: marshes, mud flat, tidal sand bar, dan estuarine channel yang menunjukkan lingkungan pengendapan estuari dominasi pasang surut. Analisis stratigrafi sikuen mengindikasikan bahwa pengendapan Formasi Talangakar pada Lapangan Monaco dimulai dari Highstand System Tract (HST) dan diakhiri oleh Highstand System Tract (HST) dengan total tujuh system tract. Analisis petrofisika menunjukkan asosiasi fasies estuarine channel (Lapisan A) berperan sebagai reservoir terbaik. Berdasarkan analisis properti petrofisika pada Lapisan A, ditetapkan rata-rata volume serpih sebesar 22%, porositas efektif 21%, dan saturasi air sebesar 42%. Pada Lapisan B, ditetapkan rata-rata volume serpih sebesar 27%, porositas efektif 21%, dan saturasi air sebesar 44%. Pada Lapisan C, ditetapkan rata-rata volume serpih sebesar 81%, porositas efektif 3%, dan saturasi air sebesar 85%. Pada Lapisan D, ditetapkan rata-rata volume serpih sebesar 73%, porositas efektif 5%, dan saturasi air sebesar 72%. Estimasi kandungan minyak awal di permukaan (STOIIP) pada Lapisan A sebesar 11,813 juta barel minyak (MMSTB) menunjukkan bahwa zona ini memiliki potensi ekonomis yang layak dikembangkan lebih lanjut.
KARAKTERISASI RESERVOIR INTERVAL FORMASI BATURAJA, LAPANGAN OAP, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN
Formasi Baturaja merupakan endapan karbonat yang berperan sebagai reservoir hidrokarbon penting di Cekungan Sumatra Selatan. Salah satu sumur di lapangan minyak dan gas bumi di Sumatra Selatan menghasilkan gas bumi sebesar 1,25 MMSCFD. Namun, belum dilakukan analisis lanjutan terkait hubungan antara litofasies dengan properti petrofisika sehinnga diperlukan karakterisasi reservoir. Studi ini dilakukan untuk melakukan karakterisasi interval reservoir Formasi Baturaja, Lapangan “OAP”, Cekungan Sumatra Selatan. Karakterisasi reservoir terdiri atas analisis persebaran fasies melalui korelasi penampang stratigrafi dan analisis properti petrofisika. Studi ini juga dilakukan untuk mengestimasi volumetrik hidrokarbon interval reservoir Formasi Baturaja, Lapangan “OAP”, Cekungan Sumatra Selatan. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data deskripsi batuan inti, data log tali kawat 14 sumur, peta kedalaman struktur, dan data pendukung lainnya dari laporan sumur. Dalam melakukan analisis persebaran fasies, dilakukan pengelompokan data log (log gamma ray, log densitas, log neutron, resistivitas dalam, dan faktor fotoelektrik) di semua sumur dengan metode Multi Resolution Graphic-based Clustering (MRGC). Hasil MRGC menunjukkan pembagian klaster sebanyak 11 dengan pola klaster yang menyusun litofasies. Berdasarkan analisis fasies yang dilakukan, Formasi Baturaja terdiri atas 5 litofasies (Coral Floatstone, Foraminiferal Grainstone, Skeletal-Coralclast Grainstone, Coral Boundstone, dan Foraminiferal Wackestone) dengan asosiasi fasies dan lingkungan pengendapan berupa Platform Margin Reef. Analisis petrofisika menghasilkan properti petrofisika; seperti volume serpih, porositas efektif, dan saturasi air. Nilai rata-rata volume serpih adalah 0,2; porositas efektif sebesar 0,1; dan saturasi air 0,4 untuk semua closure. Litofasies Foraminiferal Wackestone memiliki nilai properti petrofisika paling baik yaitu volume serpih sebesar 0,2; porositas efektif sebesar 0,1; dan saturasi air sebesar 0,4. Hasil estimasi volumetrik hidrokarbon dari tiga closure sejumlah 951,2 MMSCF.
DEKOMPOSISI REGULAR KUAT DARI GRAF LENGKAP
Untuk sembarang bilangan prima ganjil p, graf lengkap dengan p2(p+2) titik, dapat didekomposisi menjadi sebanyak p + 1 graf regular kuat. Sebanyak p graf regular kuat memiliki parameter (p2(p+2), p2+p, p, p) dan sebanyak satu graf regular kuat memiliki parameter (p2(p+2), p2?1, p2?2, 0). Kemudian, akan diberikan metode untuk mengontruksi matriks ketetanggaan dari setiap kelas graf.
PEMETAAN INDIKASI MINERAL RADIOAKTIF MENGGUNAKAN ANALISIS CITRA SENTINEL-2, INDEKS VEGETASI DAN VALIDASI KANDUNGAN KLOROFIL PADA TUMBUHAN PAKU: STUDI KASUS MAMUJU, SULAWESI BARAT
Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, dikenal memiliki tingkat radioaktivitas alami yang tinggi akibat keberadaan mineral pembawa uranium dan torium pada batuan vulkanik Formasi Gunung Api Adang. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan indikasi sebaran mineral radioaktif menggunakan pendekatan pengindraan jauh dan analisis vegetasi sebagai bioindikator. Metode yang digunakan meliputi analisis rasio saluran citra Sentinel-2 untuk mengidentifikasi mineral alterasi (besi, oksida besi, dan lempung), serta perhitungan indeks vegetasi Red Edge Vegetation Index (REVI) untuk mendeteksi tingkat cekaman vegetasi. Validasi lapangan dilakukan melalui pengukuran kandungan klorofil pada tumbuhan paku dengan Soil Plant Analysis Development (SPAD) meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vegetasi pada daerah dengan tingkat alterasi tinggi mengalami penurunan kandungan klorofil, perubahan warna daun menjadi kemerahan, dan morfologi yang terhambat. Analisis korelasi memperlihatkan hubungan linear dengan gradien negatif antara nilai SPAD dan laju dosis radiasi (R² = 0,90), serta hubungan linear dengan gradien positif antara REVI dan SPAD (R² = 0,76). Hasil integrasi data citra satelit dengan pengukuran vegetasi mampu meningkatkan akurasi pendugaan mineral radioaktif. Penelitian ini memberikan manfaat dalam penyediaan informasi spasial yang efisien untuk eksplorasi awal mineral radioaktif sekaligus mendukung upaya pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia.
ANALISIS PENGARUH BLOCKAGE TERHADAP KINERJA TURBIN ARUS PASANG SURUT SUMBU VERTIKAL TIGA BILAH DENGAN MODEL FISIK
Pengembangan teknologi turbin arus pasang surut sumbu vertikal atau vertical axis tidal turbine (VATT) menawarkan solusi energi terbarukan yang potensial. Namun, model teoretis klasik seperti teori Lanchester-Betz yang berlaku untuk aliran bebas (unconfined flow) membatasi koefisien daya maksimum hingga 0.593. Batasan ini tidak relevan untuk turbin yang beroperasi di saluran terbatas (confined flow), di mana interaksi antara turbin dan dinding saluran menimbulkan fenomena penyumbatan (blockage). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh blockage ratio dan peningkatan kecepatan aliran terhadap performa turbin VATT tipe H-Darrieus. Analisis dilakukan dengan mengacu pada model teori Garrett dan Cummins (GC07) serta Houlsby-Whelan. Teori GC07 menjelaskan bahwa blockage ratio dapat meningkatkan koefisien daya melebihi batas Betz, sementara teori Houlsby-Whelan memperluas konsep tersebut dengan mempertimbangkan pengaruh deformasi permukaan bebas (free-surface deformation) dan bilangan Froude. Pengujian model fisik dilakukan di Laboratorium Gelombang Teknik Kelautan ITB menggunakan dua model turbin dengan dimensi berbeda, yaitu turbin D40 (diameter 40 cm) dengan blockage ratio sebesar 0.4, serta turbin D20 (diameter 20 cm) dengan blockage ratio sebesar 0.1. Pengujian dilakukan pada kolam arus tipe open channel dalam kondisi terendam penuh, dengan empat variasi frekuensi inverter (35 Hz, 40 Hz, 45 Hz, dan 50 Hz). Performa turbin diukur menggunakan sensor Inertial Measurement Unit (IMU) untuk memperoleh data kecepatan sudut dan percepatan sudut, serta load cell untuk mengukur thrust. Data hasil pengujian kemudian diolah untuk memperoleh koefisien daya, koefisien torsi, dan koefisien thrust sebagai fungsi dari kecepatan aliran dan blockage ratio. Hasil pengujian menunjukkan bahwa frekuensi inverter 35 – 50 Hz mampu menghasilkan kecepatan arus sebesar 0.23 – 0.48 m/s. Pada rentang kecepatan arus 0.23 – 0.37 m/s, kinerja turbin meningkat seiring dengan kenaikan bilangan Froude, sesuai dengan prediksi teori Houlsby–Whelan. Selain itu, hasil eksperimen secara signifikan memvalidasi teori GC07, di mana turbin D40 dengan blockage ratio 0.4 menunjukkan performa jauh lebih baik dibandingkan turbin D20 dengan blockage ratio 0.1, ditandai dengan peningkatan koefisien daya hingga 7 – 8 kali lipat. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan efek blockage dalam perancangan dan analisis kinerja turbin arus pasang surut pada saluran terbatas.
IMPLEMENTASI NEURO-ARSITEKTUR DALAM PERANCANGAN PUSAT REHABILITASI DAN RUMAH SUSUN TERHADAP ANAK AUTISME DI KECAMATAN BEKASI TIMUR
Autisme, atau Autism Spectrum Disorder (ASD), merupakan gangguan perkembangan neurologis yang memengaruhi kemampuan berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta berperilaku adaptif. Anak dengan spektrum autisme sering mengalami tantangan signifikan, seperti sensitivitas tinggi terhadap rangsangan sensorik hingga kesulitan dalam mengatur emosi dan berinteraksi sosial. Pendekatan terhadap autisme, khususnya dalam gerakan neurodiversitas, memandang autisme bukan sebagai gangguan yang perlu "disembuhkan," melainkan sebagai suatu kondisi yang membutuhkan dukungan untuk membantu anak dalam mencapai potensi terbaiknya. Dalam mendukung perkembangan anak dengan spektrum autisme, pada umumnya orang tua membawa anak tersebut ke sekolah luar biasa sebagai sarana edukasi yang lebih formal. Akan tetapi, pendidikan formal saja sering kali belum cukup untuk memenuhi kebutuhan perkembangan holistik anak dengan spektrum autisme. Anak-anak dengan kondisi autisme membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif, yang melibatkan terapi multidisiplin guna memaksimalkan perkembangan mereka di berbagai aspek, seperti komunikasi, perilaku, keterampilan sosial, dan kemandirian sehari-hari. Selain itu, kondisi lingkungan tempat tinggal anak juga menjadi aspek yang penting. Hal ini disebabkan oleh lingkungan tempat tinggal anak berperan dalam membantu anak autisme menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya seiring bertambahnya usia dalam jangka waktu yang panjang. Ketersediaan tempat tinggal seperti rumah juga menjadi semakin penting mengingat tantangan yang dihadapi oleh keluarga yang memiliki anak-anak dengan spektrum autisme. Banyak keluarga merasa kesulitan dalam menyediakan lingkungan rumah yang inklusif atau ramah bagi anak-anak autisme. Di Indonesia, angka prevalensi anak autisme tercatat mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Hal ini tidak sebanding dengan angka ketersediaan fasilitas layanan dukungan inklusif, seperti rumah atau tempat rehabilitasi anak autisme. Di Kota Bekasi, tepatnya di Kecamatan Bekasi Timur, tercatat bahwa jumlah anak yang terdaftar di sekolah luar biasa adalah sebanyak 393 peserta. Jumlah ini merupakan yang tertinggi di antara kecamatan-kecamatan lain di Kota Bekasi. Namun, di Kota Bekasi hanya terdapat dua sekolah luar biasa, yaitu SLB Negeri Bekasi Jaya dan SLB ABC Citra Mandala. Dengan demikian, proyek ini hadir untuk menjawab isu tingginya jumlah anak autisme yang terus meningkat di Kecamatan Bekasi Timur, ditambah dengan ketiadaan rumah khusus anak autisme serta minimnya pusat layanan anak autisme yang tersedia. Proyek ini menggunakan pendekatan lahan campuran yang mengintegrasikan rumah susun dengan pusat rehabilitasi secara inklusif untuk anak autisme. Kedua sarana residensial dan kesehatan tersebut menjadi fungsi utama dari perancangan massa bangunan. Pendekatan mixed-use development ini menjadi satu-satunya proyek yang mengimplementasikan konsep penggabungan hunian dengan fasilitas rehabilitasi khusus anak autisme di Kota Bekasi. Untuk merespons lokasi tapak yang berada di dekat permukiman dengan kepadatan tinggi, serta potensi tapak yang berada di sekitar lahan perkebunan, proyek ini juga merancang pembangunan Sensory Garden Spaces dan program urban farming yang terintegrasi dengan hunian sebagai fungsi sekundernya. Fungsi primer maupun sekunder bangunan ini didasari oleh pendekatan konseptual dalam ranah arsitektur, yaitu dengan mengimplementasikan konsep neuro-arsitektur ke dalam rancangan bangunan. Adapun pendekatan mixed-use building ini mendukung prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) terutama pada SDG 3, yaitu good health and well-being dan SDG 11, yaitu Sustainable Cities and Communities.
ANALISIS PENGARUH KURVATUR PENGHUBUNG LENGAN-BILAH TERHADAP KARAKTERISTIK MODEL TURBIN ARUS PASANG SURUT SUMBU VERTIKAL
Turbin sumbu vertikal (VAT) merupakan jenis turbin yang memiliki poros utama tegak lurus terhadap tanah atau permukaan dasar. Salah satu tipe turbin sumbu vertikal yang umum digunakan adalah tipe Darrieus yang menggunakan basis sistem gaya angkat untuk memutar rotor. Tipe ini memiliki dua jenis konfigurasi, yakni bilah lengkung dan bilah lurus. Turbin Darrieus bilah lengkung memiliki koefisien daya lebih tinggi dan tip speed ratio dua kali lipas dibandingkan turbin Darrieus bilah lurus. Namun, bentuk turbin Darrieus bilah lengkung menyisakan celah antar-turbin sehingga blockage ratio lebih kecil, sedangkan bilah lurus dapat menutup celah dan menghasilkan blockage ratio yang lebih besar. Maka dari itu, dilakukan tinjauan terhadap turbin arus pasang surut sumbu vertikal dengan pendekatan desain yang menggabungkan kedua bentuk bilah untuk mengoptimalkan performa turbin. Bentuk dasar yang digunakan adalah turbin Darrieus bilah lurus dengan modifikasi pada bagian ujung atas dan bawah bilah yang terhubung dengan lengan turbin, atau blade tip. Bagian ujung tersebut dibentuk melengkung agar menyerupai sebagian karakteristik bilah lengkung, yang kemudian disebut sebagai kurvatur. Pengujian dilakukan menggunakan model fisik di kolam arus pada Laboratorium Gelombang, Institut Teknologi Bandung. Performa turbin arus pasang surut sumbu vertikal ditinjau berdasarkan karakteristik kecepatan sudut, percepatan sudut, torsi dinamik, koefisien torsi dinamik, koefisien thrust, dan koefisien daya. Pengujian dilakukan terhadap dua model turbin arus pasang surut sumbu vertikal, masing-masing dengan kurvatur 2.5 cm dan 5.0 cm. Pengujian dilakukan berdasarkan tiga parameter batasan, yakni seluruh bagian badan turbin terendam, nilai blockage ratio 0.093 untuk turbin dengan kurvatur 2.5 cm dan 0.085 untuk turbin dengan kurvatur 5.0 cm, dan variasi nilai inverter senilai 35 Hz, 40 Hz, 45 Hz, dan 50 Hz. Pengukuran data dilakukan dengan mengukur besar putaran turbin berdasarkan sensor gyroscope pada Inertial Measurement Unit (IMU) dan pengambilan beban thrust berdasarkan sensor load cell. Didapatkan bahwa turbin dengan kurvatur 5.0 cm memiliki kinerja dan efisiensi yang lebih baik dari turbin dengan kurvatur 2.5 cm dengan peningkatan sebesar 11.60%, 7.06%, dan 15.14% pada koefisien torsi dinamik, koefisien thrust, dan koefisien daya.
STRATEGI PENGELOLAAN BERBASIS MODEL HYBRID SUSTAINABILITY DAN MULTI-ROLES LANDSCAPE AGROFORESTRY PADA KAWASAN GUNUNG MANGLAYANG DI KABUPATEN SUMEDANG
Amidst the urgency of achieving the 2030 SDGs, Indonesia faces significant challenges, particularly in goals 13 (climate action) and 15 (life on land), where 53% of targets have stagnated or even regressed. This condition is reflected in the Mount Manglayang Area, a critical landscape confronting persistent pressures from deforestation, low diversification of competitive products, and land-use conflicts. Agroforestry offers an integrated solution—enhancing land productivity, carbon storage, and biodiversity—yet its study often remains focused at the plot scale, hindering the adoption of practices deemed sustainable. In the context of sustainability assessment, obstacles arise from the conceptual tension between the Weak and Strong Sustainability paradigms, as well as a methodological gap in managing complex agroforestry systems at a landscape scale. To bridge this gap, a Hybrid Sustainability framework and model were developed and integrated with the landscape agroforestry concept. Therefore, this research aims to evaluate the sustainability performance of various agroforestry systems, analyze the dynamics of landscape economic value for the 2018-2024 period and its projection for 2024-2030, formulate a spatial strategy for the area based on a landscape agroforestry system, and estimate the sustainability performance and economic value of the Mount Manglayang agroforestry landscape in 2030 based on the formulated strategy. This study employed a mixed-methods research design (quantitative and qualitative) using systematic sampling for 60 inventory and stand observation plots, alongside purposive sampling for interviews aided by questionnaires. Gaviglio et al.'s three-stage Framework was used as the basis for classifying agroforestry sustainability. The data collection phase integrated SAFA Guidelines to establish ecological, economic, and social parameters. In the data elaboration phase, Total Economic Value (TEV) was used as a reductionist approach through the economic valuation of each parameter. In the score analysis phase, classification was conducted based on descriptive statistics from a systematic literature review, with sustainability categorization referencing the SAFA Guidelines. Sustainability performance was analyzed descriptively and quantitatively, and further deepened using a Multinomial Logistic Regression (MLR) model to identify the key parameters most significantly influencing agroforestry's sustainability status. For spatial analysis, all parameters were interpolated (Kriging/IDW) to map the Landscape Economic Value (LEV), which was then overlaid with Land Cover/Land Use (LCLU) maps derived from On-Screen Digitizing (OSD) to analyze the dynamics of landscape economic value from 2018-2024. This dynamic became the basis for projecting the 2030 LCLU using a Cellular Automata-Markov model, resulting in a Business as Usual (BAU) scenario. As a counter-scenario, a Landscape Agroforestry Strategy (LAFS) was formulated through an integrated approach: at the macro-scale, AHP-TOPSIS and AHP-SWOT methods were used with 20 expert respondents to select and prioritize the most optimal agroforestry pattern-system alternatives. At the micro-scale, a heuristic prescriptive model was used to arrange plant composition. The selected strategy was then implemented to generate the 2030 LAFS scenario, ultimately enabling a quantitative comparison between the impacts of the BAU and LAFS scenarios on the landscape's economic value and sustainability performance. The results indicate that the overall sustainability performance of agroforestry in the Mount Manglayang landscape ranges from 26.67% to 66.67%, corresponding to a Less Sustainable – Ongoing Sustainable status. The hybrid sustainability model shows that the most significant parameters for ecological sustainability are CO2 sequestration, biodiversity, soil nutrient content, and erosion and land degradation. All economic and social parameters—land expectation value, mean annual income, and the presence of seedlings—were significant for their respective aspects. The landscape's sustainability performance in 2024 was dominated by the Moderately Tolerable class (47.00%), followed by Less Sustainable (20.60%) and Ongoing Sustainable (10.50%). The landscape's economic value in 2024 was dominated by the Rp162.50M - Rp423.17M class, covering 375.70 ha (47.00%), with the 2030 BAU scenario projecting a significant increase of 32.85% in the Rp0.00 - Rp162.50M class and an average decrease of 2.26% across the four upper classes. Multi-Role Landscape Agroforestry can be achieved by integrating the strong social capital of family labor to build strategic partnerships with the private sector, which simultaneously transforms the weakness of water scarcity into an investment opportunity, while also building collective resilience against pests and diseases through sustainable agroforestry design. This sustainable agroforestry landscape constitutes a spatial strategy comprising 260.22 ha of Alternative 2, 415.65 ha of Alternative 3, 3.58 ha of Alternative 5, 54.09 ha of Alternative 6, and 25.03 ha of Alternative 9. The formulated strategy successfully shifted the sustainability performance into the 53.33% - 93.33% range, or a Moderately Tolerable – Very Sustainable status, with the landscape now dominated by the Very Sustainable class (90.43%). The landscape's economic value in the 2030 LAFS scenario is dominated by the Rp423.17M - Rp944.50M class, covering 439.91 ha (55.00%), successfully increasing the value of the Rp944.50M - Rp1205.17M class by 289.29% and reducing the areas of the Rp162.50M - Rp423.17M and Rp0.00 - Rp162.50M classes by 97.63% and 6.23% respectively from 2024 levels.