📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS KINERJA LABORATORIUM CAMPURAN HANGAT AC-WC FOAMED-ASBUTON TERHADAP KETAHANAN FATIGUE & NILAI MODULUS RESILIEN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan membandingkan kinerja laboratorium antara campuran AC-WC berbasis foamed-asbuton dan foamed-aspal Pen 60/70. Penelitian ini secara spesifik berfokus pada evaluasi nilai Resilient Modulus (MR) dan ketahanan terhadap kelelahan (fatigue resistance) dari kedua jenis campuran tersebut. Pemanfaatan asbuton sebagai bahan perkerasan jalan lokal menghadapi kendala suhu pencampuran dan pemadatan yang tinggi, sehingga teknologi Warm Mix Asphalt (WMA) dengan foaming bitumen diperkenalkan sebagai solusi untuk menurunkan suhu kerja. Metodologi penelitian ini diawali dengan penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO) untuk kedua campuran menggunakan metode Marshall. Selanjutnya, pengujian modulus resilien dilakukan menggunakan Universal Testing Machine (UTM) pada suhu 25oC, 35oC, dan 41oC. Selain itu, pengujian ketahanan fatigue dievaluasi menggunakan four-point bending test. Proses foaming juga dianalisis untuk menentukan kadar air optimum (OWC) melalui pengujian Expansion Ratio dan Half-Life. Analisis data dilakukan dengan membandingkan parameter-parameter volumetrik dan empiris dari pengujian Marshall, seperti kepadatan, VIM, VMA, VFA, stabilitas, dan flow. Analisis juga mencakup perbandingan nilai MR dan fatigue life antara campuran HMA (Hot Mix Asphalt) dan WMA (Warm Mix Asphalt). Pengaruh penurunan kepadatan akibat proses foaming terhadap penurunan modulus dan ketahanan fatigue juga dianalisis secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KAO untuk kedua jenis aspal adalah 6%. Nilai Resilient Modulus (MR) pada WMA lebih rendah dibandingkan HMA. Foaming-asbuton memiliki MR yang lebih tinggi pada suhu rendah (2113.5 MPa pada 25oC) dibandingkan Foaming-Aspal Pen.60/70, namun sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Secara keseluruhan, teknologi foaming secara signifikan menurunkan umur lelah campuran, dengan dampak yang lebih parah pada asbuton, sehingga penggunaannya belum bisa direkomendasikan untuk aplikasi perkerasan jalan yang memerlukan ketahanan tinggi.
STUDI GEOLOGI DAN KARAKTERISTIK NIKEL LATERIT DI DAERAH SELOGIRI, KABUPATEN KEBUMEN, JAWA TENGAH
Kebutuhan akan nikel di Indonesia mengalami peningkatan pesat seiring dengan perkembangan teknologi dan tingginya permintaan industri. Untuk menjawab tantangan tersebut, eksplorasi sumber daya nikel perlu dilakukan secara berkelanjutan. Nikel laterit yang berasal dari pelapukan batuan ultramafik tersebar di berbagai wilayah khusus di Indonesia, salah satunya adalah daerah Selogiri yang memiliki prospek nikel akibat kehadiran batuan ultramafik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik nikel laterit serta kondisi geologi yang memengaruhi proses laterisasi. Pengambilan data lapangan dilakukan melalui pemetaan geologi dan pengeboran manual menggunakan hand auger. Pemetaan mencakup persebaran litologi, kondisi stratigrafi, dan struktur geologi. Data sampel dari pengeboran dianalisis menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF) untuk menentukan kandungan unsur kimia dari masing-masing zona laterit. Sebanyak tujuh sampel tanah dan satu batuan dasar dianalisis untuk mewakili setiap zona laterit di daerah penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa daerah penelitian terdiri atas satuan serpentinit, gabro, basalt, batulempung bersisik, dan aluvial. Struktur geologi yang berkembang mencakup dua jenis sesar, yaitu sesar naik menganan berarah timur laut – barat daya dan sesar geser menganan turun berarah utara – selatan. Profil laterit dilokasi penelitian terbagi menjadi tanah penutup setebal 0,9 m, zona limonit setebal 1,8 m, zona saprolit setebal 1,35 m dari hasil pengeboran dan batuan dasar berupa serpentinit. Satuan batuan daerah penelitian tersingkap pada umur Plio-Pleistosen dan dilanjutkan dengan proses laterisasi. Berdasarkan analisis geokimia, tingkat laterisasi di daerah penelitian tergolong dalam kategori laterisasi lemah. Nikel ditemukan terkonsentrasi pada zona saprolit, dengan kadar tertinggi sebesar 0,061%. Kehadiran mineral serpentin pada zona saprolit yang teridentifikasi melalui pengeboran serta pengayaan pada zona saprolit mengindikasikan bahwa tipe nikel laterit di daerah ini termasuk dalam kategori tipe silikat.
STUDI LINGKUNGAN PENGENDAPAN, KARAKTERISTIK, KUALITAS, DAN ESTIMASI SUMBER DAYA BATUBARA BLOK BARAT PIT X, KABUPATEN PASER, KALIMANTAN TIMUR
Formasi Warukin yang berumur Miosen Tengah dikenal sebagai salah satu formasi pembawa batubara di Indonesia. Formasi ini terendapkan di Cekungan Pasir yang dipisahkan oleh Pegunungan Meratus dari Cekungan Barito. Salah satu perusahaan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) di cekungan ini adalah PT Kideco Jaya Agung, yang mengoperasikan Blok Barat Pit X. Penelitian ini berfokus pada peninjauan kondisi geologi, lingkungan pengendapan, karakteristik, dan kualitas batubara serta melakukan perhitungan terhadap estimasi sumber daya batubara di lokasi penelitian yang memiliki luas total 1,6 km2. Data primer pada penelitian ini meliputi hasil penampang stratigrafi dan observasi singkapan yang disajikan dalam bentuk kolom stratigrafi untuk melakukan analisis lingkungan pengendapan berdasarkan litofasies. Karakteristik batubara diperoleh dengan analisis data sekunder berupa kualitas batubara. Selain itu, digunakan data pemboran dan data log untuk memperoleh korelasi lapisan batubara. Pemodelan lapisan dan estimasi sumber daya batubara dilakukan melalui perangkat lunak Minescape Ventyx 5.7 dengan mengadopsi metode circular USGS. Terdapat lima lapisan batubara, dengan penelitian yang difokuskan pada lapisan 4, 5, dan 6 berdasarkan ketersediaan data kualitas. Kondisi geologi daerah penelitian memiliki indikasi sebagai salah satu sayap lipatan berdasarkan keberadaan pada peta geologi regional dan tren dari kedudukan lapisan. Secara litostratigrafi, terdiri atas dua satuan tidak resmi, yaitu Satuan Batupasir-Batulanau dan Satuan Batulempung-Batupasir. Hasil analisis litofasies menunjukkan lingkungan pengendapan transitional lower delta plain dengan asosiasi fasies channel, interdistributary bay, dan swamp. Batubara pada daerah ini tergolong peringkat subbituminus B dengan nilai kalori rata-rata 9.924,7 btu/lb, kadar sulfur rendah (0,08–0,09% adb), dan kadar abu sangat rendah (2,84–3,78% adb). Kompleksitas geologi pada ketiga lapisan yang dianalisis termasuk dalam kategori sederhana hingga moderat dengan total estimasi sumber daya batubara mencakup 0,002 juta ton tereka, 1,2 juta ton tertunjuk, dan 37,6 juta ton terukur.
ANALISIS KARAKTERISTIK TEKANAN PORI BERDASARKAN DATA SUMUR PADA LAPANGAN LARUNA, CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA
Lapangan Laruna merupakan salah satu lapangan produksi hidrokarbon di Indonesia yang terletak di Cekungan Jawa Barat Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai dan kondisi tekanan pori area penelitian, menentukan distribusi puncak kedalaman zona abnormal pressure area penelitian, menganalisis hubungan geologi dari karakteristik rezim tegasan area penelitian. Penelitian dilakukan pada enam sumur di Lapangan Laruna, Cekungan Jawa Barat Utara. Estimasi nilai serta kondisi tekanan pori menggunakan Metode Eaton dengan data wireline log, laporan pengeboran, data geomekanika, dan data seismik untuk kemudian diperoleh distribusi puncak kedalaman zona abnormal pressure dengan spesifik pada area penelitian ini yaitu underpressure. Perhitungan serta analisis nilai tegasan berikutnya dilakukan untuk memperoleh karakteristik rezim tegasan area penelitian lalu dilihat keterkaitannya dengan kondisi tektonik regional. Penelitian menunjukkan tekanan pori di Lapangan Laruna terdiri dari kondisi underpressure serta kondisi hidrostatik dengan rata-rata gradien tekanan pori pada kondisi hidrostatik sebesar 0.41 psi/ft. Zona underpressure ditemukan di Lapangan Laruna mulai dari Formasi Cibulakan Atas tepatnya pada marker L-28. Kedalaman puncak zona underpressure terdapat pada Sumur LNA-01 di kedalaman 2762 ft, LNA-02 di kedalaman 2772 ft, LNA-03 di kedalaman 2752 ft, LNA-04 di kedalaman 2780 ft, LNA-05 di kedalaman 2771 ft dan LNA-06 di kedalaman 2812 ft. Berdasarkan perhitungan nilai tekanan pori dan analisis nilai tegasan horizontal diperoleh bahwa kategori rezim tegasan area penelitian ini adalah normal fault. Kondisi underpressure pada lapangan ini terjadi akibat depleting reservoir dari produksi hidrokarbon jangka panjang sehingga menyebabkan penurunan tekanan pori secara progresif hingga tekanan formasi jauh lebih rendah dari kondisi normal
STUDI PEMODELAN GEOLOGI 3D DAN ESTIMASI SUMBER DAYA TERUKUR NIKEL LATERIT DENGAN METODE INVERSE DISTANCE WEIGHT (IDW) DI AREA TAMBANG X, DAERAH POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, SULAWESI TENGGARA
Nikel merupakan komoditas dengan permintaan global yang terus meningkat. Permintaan yang terus tumbuh menyebabkan perlu suatu tahapan untuk memperkirakan potensi sumber daya nikel baru di suatu wilayah. Salah satu tahapan penting tersebut adalah pemodelan zona endapan dan estimasi sumber daya nikel laterit. Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik geologi dan zona endapan nikel laterit, melakukan pemodelan geologi 3D zona laterit berdasarkan karakteristiknya, serta mengestimasi sumber daya terukur nikel laterit di area penelitian yang berlokasi di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Data yang digunakan adalah data pengamatan singkapan, sayatan tipis batuan dasar, topografi orisinil hasil akuisisi LiDAR, dan inti bor. Endapan nikel laterit di lokasi penelitian terdiri atas empat zona utama, yaitu tanah pucuk, limonit, saprolit, dan batuan dasar. Keempat zona ini menunjukkan kemenerusan geologi yang baik. Batuan dasar terdiri dari harzburgit, lherzolit, dunit, dan serpentinit. Pengayaan nikel tertinggi ditemukan pada zona limonit dan saprolit dengan kemenerusan kadar yang baik. Pemodelan geologi 3D dan pemodelan blok dilakukan di area penelitian. Model 3D dibangun dengan mengorelasikan empat domain utama laterit berdasarkan data titik bor. Domain limonit serta saprolit dari model 3D ditransformasikan menjadi blok-blok kubus dalam pemodelan blok yang kemudian diisi dengan interpolasi kadar Ni menggunakan metode Inverse Distance Weight (IDW). Nilai power optimal masing-masing sebesar 3 untuk limonit dan 4 untuk saprolit. Estimasi kadar nikel dibatasi oleh nilai cut-off grade (COG), yaitu 1,2% untuk domain limonit dan 1,5% untuk domain saprolit. Hasil estimasi menunjukkan bahwa domain limonit memiliki sumber daya terukur sebesar 1,42 juta ton dengan kadar rata-rata nikel 1,36%, sedangkan domain saprolit memiliki sumber daya terukur sebesar 1,84 juta ton dengan kadar rata-rata nikel 1,86%.
STUDI PEMODELAN GEOLOGI 3D DAN ESTIMASI SUMBER DAYA TERUKUR NIKEL LATERIT DENGAN METODE INVERSE DISTANCE WEIGHT (IDW) DI AREA TAMBANG X, DAERAH POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, SULAWESI TENGGARA
Nikel merupakan komoditas dengan permintaan global yang terus meningkat. Permintaan yang terus tumbuh menyebabkan perlu suatu tahapan untuk memperkirakan potensi sumber daya nikel baru di suatu wilayah. Salah satu tahapan penting tersebut adalah pemodelan zona endapan dan estimasi sumber daya nikel laterit. Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik geologi dan zona endapan nikel laterit, melakukan pemodelan geologi 3D zona laterit berdasarkan karakteristiknya, serta mengestimasi sumber daya terukur nikel laterit di area penelitian yang berlokasi di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Data yang digunakan adalah data pengamatan singkapan, sayatan tipis batuan dasar, topografi orisinil hasil akuisisi LiDAR, dan inti bor. Endapan nikel laterit di lokasi penelitian terdiri atas empat zona utama, yaitu tanah pucuk, limonit, saprolit, dan batuan dasar. Keempat zona ini menunjukkan kemenerusan geologi yang baik. Batuan dasar terdiri dari harzburgit, lherzolit, dunit, dan serpentinit. Pengayaan nikel tertinggi ditemukan pada zona limonit dan saprolit dengan kemenerusan kadar yang baik. Pemodelan geologi 3D dan pemodelan blok dilakukan di area penelitian. Model 3D dibangun dengan mengorelasikan empat domain utama laterit berdasarkan data titik bor. Domain limonit serta saprolit dari model 3D ditransformasikan menjadi blok-blok kubus dalam pemodelan blok yang kemudian diisi dengan interpolasi kadar Ni menggunakan metode Inverse Distance Weight (IDW). Nilai power optimal masing-masing sebesar 3 untuk limonit dan 4 untuk saprolit. Estimasi kadar nikel dibatasi oleh nilai cut-off grade (COG), yaitu 1,2% untuk domain limonit dan 1,5% untuk domain saprolit. Hasil estimasi menunjukkan bahwa domain limonit memiliki sumber daya terukur sebesar 1,42 juta ton dengan kadar rata-rata nikel 1,36%, sedangkan domain saprolit memiliki sumber daya terukur sebesar 1,84 juta ton dengan kadar rata-rata nikel 1,86%.
EVALUASI GEOTEKNIK LERENG TAMBANG TERBUKA PIT X PT TIMAH UNTUK PENENTUAN FAKTOR KEAMANAN DAN DESAIN LERENG OPTIMAL
Timah merupakan salah satu komoditas strategis Indonesia dengan Kepulauan Bangka Belitung sebagai salah satu produsen utama yang menempati peringkat keempat dunia. PT Timah Tbk., sebagai perusahaan milik negara, memegang peran penting dalam pengelolaan penambangan timah di wilayah tersebut. Geologi Pulau Bangka yang kompleks, khususnya pada endapan timah primer, menuntut perhatian khusus terhadap aspek kestabilan lereng dan efisiensi produksi tambang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kestabilan lereng eksisting tambang timah primer dengan mempertimbangkan variasi muka airtanah (MAT), beban alat berat, dan pengaruh gempa, menggunakan Metode Kesetimbangan Batas (Limit Equilibrium Method/LEM). Penilaian kestabilan lereng mengacu pada Keputusan Menteri ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018. Lereng dengan tinggi 60 meter tersusun atas batupasir meta dan batulempung dari Formasi Tanjunggenting, dengan ketebalan lapisan 1–18 meter. Berdasarkan klasifikasi massa batuan Bieniawski (1989) dari data talipindai, lereng dikategorikan sebagai fair rock. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam kondisi kering, nilai Faktor Keamanan (FK) berkisar antara 1,2–1,9. Namun, pada kondisi jenuh, Faktor Keamanan menurun drastis, dengan PL mencapai 0%–100%, melampaui batas aman. Oleh karena itu, dilakukan desain ulang lereng dengan pengaturan ulang geometri lereng, seperti penambahan bench dan ramp serta pelandaian sudut lereng. Desain akhir menghasilkan lereng setinggi 58,7 meter dengan sudut keseluruhan 37°, memberikan nilai Faktor Keamanan serta PL pada semua skenario muka airtanah sesuai dengan standar keamanan.
STUDI KETAHANAN KOROSI PADUAN ZN-1,5MG-0,5CU YANG DIFABRIKASI VIA EQUAL CHANNEL ANGULAR PRESSING DALAM LARUTAN SIMULATED BODY FLUID DENGAN PENGUJIAN FLOW IMMERSION CORROSION
Paduan berbasis seng (Zn) berpotensi sebagai material implan biodegradable karena biokompatibilitas yang baik dan laju korosi yang moderat. Namun, kekuatan mekaniknya masih rendah sehingga diperlukan peningkatan melalui penambahan unsur paduan dan perlakuan Equal Channel Angular Pressing (ECAP). Penelitian ini mempelajari pengaruh penambahan magnesium (Mg) dan tembaga (Cu) serta proses ECAP terhadap struktur mikro, sifat mekanik, dan ketahanan korosi paduan Zn–1,5Mg–0,5Cu. Spesimen dibuat melalui pengecoran, homogenisasi, dan ECAP dua lintasan Rute C pada temperatur 200 °C. Karakterisasi dilakukan menggunakan mikroskop optik dan SEM-EDS, uji mekanik dengan kekerasan Vickers, serta uji korosi metode Flow Immersion Corrosion (FIC) dalam larutan Simulated Body Fluid (SBF) pada temperatur 37 °C dengan kecepatan aliran 1,62–6,25 mm/s selama 48 jam pada masing-masing spesimen. Hasil penelitian menunjukkan ECAP menghasilkan butir lebih halus dan distribusi fasa yang merata. Paduan Zn–1,5Mg–0,5Cu memiliki kekerasan tertinggi, meningkat dari 103,8 HV menjadi 122,4 HV setelah ECAP 2 lintasan. Uji korosi memperlihatkan Zn murni mengalami laju korosi awal tinggi, sedangkan paduan Zn–1,5Mg–0,5Cu membentuk lapisan pasif yang lebih protektif. Kehadiran fasa Mg2Zn11 dan Mg?Cu memicu korosi galvanik, tetapi ECAP mampu menurunkan laju korosi dibanding kondisi homogenisasi. Secara keseluruhan, kombinasi alloying Zn–1,5Mg–0,5Cu dan ECAP meningkatkan kekerasan dan menurunkan laju korosi sehingga berpotensi untuk aplikasi stent biodegradable.
CEKAMAN SALINITAS TERHADAP PERTUMBUHAN, KADAR KUERSETIN, TANIN, DAN VITAMIN C TANAMAN KELOR (MORINGA OLEIFERA L.)
Tanaman pepohonan Moringa oleifera Lam. memiliki potensi tinggi sebagai sumber senyawa bioaktif, seperti kuersetin, tanin, dan vitamin C yang berperan sebagai antioksidan alami. Kandungan metabolit sekunder tersebut memiliki nilai penting dalam bidang pangan fungsional dan kesehatan. Akumulasi senyawa bioaktif dalam tanaman dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cekaman salinitas. Cekaman salinitas dapat menginduksi jalur metabolisme sekunder tanaman sebagai bentuk adaptasi terhadap stres abiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian salinitas terhadap pertumbuhan serta kadar kuersetin, tanin, dan vitamin C pada tanaman kelor. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh cekaman salinitas terhadap pertumbuhan dan kandungan kuersetin, tanin, serta vitamin C pada tanaman kelor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima cekaman salinitas berupa konsentrasi NaCl (0 mM, 25 mM, 50 mM, 75 mM, dan 100 mM) selama 35 hari dengan enam ulangan pada setiap cekaman. Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan mutlak tinggi tanaman dan jumlah daun yang diukur setiap minggu, serta kadar kuersetin, tanin, dan vitamin C pada akhir periode cekaman. Analisis kuantitatif metabolit sekunder dilakukan secara spektrofotometrik, sedangkan data dianalisis secara statistik menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman salinitas tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan tinggi tanaman, laju pertumbuhan jumlah daun, dan kadar kuersetin tanaman kelor. Cekaman salinitas 50 mM menghasilkan kadar tanin tertinggi sebesar 18,02 ± 0,61 g(GAE)/kg, sedangkan cekaman 75 mM menghasilkan kadar vitamin C tertinggi sebesar 0,425 ± 0,093 mg/100 g pada tanaman kelor. Cekaman salinitas tidak berpengaruh terhadap kadar kuersetin tanaman kelor. Penelitian ini menunjukkan bahwa salinitas dapat meningkatkan kandungan metabolit sekunder pada tanaman kelor tanpa menurunkan performa pertumbuhan secara drastis.
SISTEM SOSIAL-EKOLOGI DALAM PENGEMBANGAN BUDIDAYA LEBAH MADU (APIS CERANA) BERKELANJUTAN DI TAMAN HUTAN RAYA IR. H. DJUANDA
Interaksi antara peternak lebah madu dan pengelola kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda menunjukkan dinamika kompleks dalam pengelolaan sumber daya alam. Di satu sisi, praktik budidaya lebah madu menjadi sumber penghidupan dan mendukung penyediaan jasa ekosistem berupa penyerbukan; namun di sisi lain, meskipun regulasi nasional seperti Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2021 menyediakan skema kemitraan konservasi sebagai jalur legalitas bagi kegiatan masyarakat di kawasan konservasi, implementasi dan interpretasi di tingkat lokal terdapat kesenjangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variabel sosial dan ekologi yang membentuk sistem budidaya lebah madu di kawasan tersebut, menganalisis interaksi antar komponennya, dan merumuskan strategi pengelolaan berkelanjutan. Studi ini menggunakan kerangka kerja Sistem Sosial-Ekologi (SES) dengan mengacu pada Ostrom dan pengembangan lanjutannya. Data dikumpulkan melalui wawancara, diskusi kelompok terfokus, kuesioner, dan observasi lapangan, serta dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem sumber daya (RS) berupa vegetasi hutan menyediakan pakan utama bagi lebah, terutama selama musim berbunga dari Februari hingga Juli. Unit sumber daya (RU) berupa koloni Apis cerana dikelola secara stasioner oleh peternak dengan skala kecil. Sebanyak 83% peternak sebagai aktor (A) dalam sistem merupakan peternak paruh waktu, dan 17% lainnya adalah peternak penuh waktu. Dari sisi kelembagaan (GS), belum ditemukan sistem pengelolaan kolaboratif yang mendukung budidaya lebah madu di kawasan konservasi, meskipun beberapa bentuk interaksi informal dengan pengelola Tahura dan Cabang Dinas Kehutanan terjadi. Produksi madu pada tahun 2024 tercatat sebesar 1.730 kg di Batu Garok, 230 kg di Bantar Awi, dan 2.050 kg di Maribaya. Interaksi sosial-ekologi (I) menunjukkan ketergantungan tinggi pada musim dan sumber daya bunga, pertukaran informasi informal, serta ketiadaan musyawarah kolektif. Kinerja sosial-ekonomi (O) menunjukkan adanya ketimpangan akses dan hasil produksi, sementara kontribusi ekologis belum dimonitor secara sistematis. Beberapa eksternalitas positif seperti jasa penyerbukan dan potensi ekowisata teridentifikasi, namun eksternalitas negatif berupa risiko kompetisi dengan spesies lain dan penularan penyakit belum mendapat perhatian. Kajian ini merekomendasikan pentingnya penguatan kelembagaan dan kebijakan lintas sektor, penyusunan strategi adaptif berbasis pengelolaan lanskap dan pengetahuan lokal, serta peningkatan kapasitas dan kolaborasi multipihak untuk mendukung keberlanjutan budidaya lebah madu di kawasan konservasi seperti Tahura Djuanda.
PRARANCANGAN SISTEM PERTANIAN TANAMAN KELOR (MORINGA OLEIFERA LAM.) TERINTEGRASI BIOFLOK IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS)
Tanaman kelor (Moringa oleifera L.) dikenal kaya manfaat nutrisi dan senyawa bioaktif. Namun, produksinya dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti kelembaban tanah. Kelor memiliki potensi yang perlu dieksplorasi responsnya terhadap variasi ketersediaan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi kelembaban tanah terhadap laju pertumbuhan mutlak tinggi tanaman dan laju pertumbuhan mutlak jumlah daun tanaman kelor, serta mengetahui pengaruh variasi kelembaban tanah terhadap kadar kuersetin, tanin, dan vitamin C pada tanaman kelor. Penelitian menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan variasi kelembaban tanah berbasis %WHC (Water Holding Capacity), yaitu 100% WHC, 80% WHC, 60% WHC, 50% WHC, dan 30% WHC. Parameter yang diukur meliputi laju pertumbuhan mutlak tinggi tanaman, laju pertumbuhan mutlak jumlah daun, serta kadar kuersetin, tanin, dan vitamin C. Analisis data dilakukan dengan One Way ANOVA dengan taraf kepercayaan 95% dan uji lanjut Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan mutlak tinggi tanaman tertinggi dan jumlah daun terbanyak pada 7 hst hingga 35 hst terdapat pada perlakuan 100%WHC. Kadar tanin tertinggi terdapat pada perlakuan 30%WHC dengan nilai 0,016 mgGAE/g. Kadar Vitamin C tertinggi ada perlakuan 50%WHC dengan nilai 24,22 mg/L. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah variasi kelembaban tanah berpengaruh terhadap laju pertumbuhan mutlak tinggi tanaman dan laju pertumbuhan mutlak jumlah daun, tidak berpengaruh pada kadar kuersetin, dan berpengaruh terhadap kadar vitamin C dan tanin pada tanaman kelor.
STUDI GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI DI DAERAH DOLOK MARAWA, KABUPATEN SIMALUNGUN, PROVINSI SUMATRA UTARA
Penelitian mengenai kondisi geologi dan hidrogeologi di Daerah Dolok Marawa, Kabupaten Simalungun, masih terbatas, meskipun hal ini sangat penting untuk memahami potensi sumber daya air tanah, pengembangan kawasan wisata, serta konservasi lingkungan di wilayah tersebut. Daerah ini memiliki keberadaan mata air panas dan hangat di sepanjang aliran Sungai Balakbak serta endapan travertin yang tersebar di sekitar keluaran mata air. Metode penelitian meliputi pemetaan geologi skala 1:25.000 melalui penginderaan jauh, pengamatan lapangan, dan analisis petrografi, serta analisis fisik dan kimia air yang mencakup parameter suhu, pH, Total Dissolved Solids (TDS), Electrical Conductivity (EC), kandungan kation–anion utama (Na?, K?, Ca²?, Mg²?, Cl?, SO?²?, HCO??, NO??), dan isotop stabil ¹?O dan ²H. Hasil pemetaan mengidentifikasi lima satuan geologi utama yaitu Satuan Lava Andesit (Qlva), Satuan Tuf Terlaskan (Qtt), Satuan Tuf Lapili (Qtl), Satuan Travertin (Qtr), dan Satuan Aluvium (Qa), serta dua struktur geologi. Berdasarkan diagram Piper, sampel air di daerah penelitian diklasifikasikan sebagai fasies Ca+Mg–HCO?. Seluruh sampel menunjukkan karakter immature water yang belum mencapai kesetimbangan geokimia dengan batuan akuifer. Mata air panas diduga berasal dari air meteorik yang telah mengalami pemanasan atau pencampuran. Model hidrogeologi yang dikembangkan menunjukkan bahwa pola aliran air tanah cenderung ke arah timur laut, dengan zona resapan mata air panas berada pada elevasi sekitar ±534 mdpl dan mata air dingin pada ±800 mdpl. Litologi di daerah penelitian bervariasi dari permeabel hingga impermeabel sehingga membentuk akuifer bertipe ruang antarbutir, bercelah, atau kombinasi keduanya. Sumber panas diduga berasal dari sisa aktivitas vulkanik, khususnya Dolok Bahtopu. Air meteorik meresap ke bawah, mengalami pemanasan, kemudian naik melalui rekahan sambil membawa material karbonat yang selanjutnya mengendap di permukaan sebagai travertin.
PENGARUH ALTERASI TERHADAP KUALITAS MASSA BATUAN DAN KESTABILAN TEROWONGAN PADA TAMBANG BAWAH TANAH DI WILAYAH IUP PONGKOR, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT
Gunung Pongkor adalah daerah dengan endapan epitermal sulfidasi rendah yang ditambang di bawah tanah sehingga memerlukan analisis geologi dan geoteknik. Proses pengambilan data dilakukan dengan metode inspeksi muka terowongan pada tujuh bukaan terowongan produksi yang akan digunakan untuk mengklasifikasikan kualitas massa batuan serta analisis kestabilan terowongan dengan metode elemen hingga. Kualitas massa batuan ditentukan dengan menggunakan klasifikasi Sistem-Q. Tipe alterasi ditentukan melalui pengamatan megaskopis, analisis petrografi, serta Analytical Spectral Devices (ASD). Hasil analisis telah diidentifikasi empat tipe alterasi di lokasi penelitian, yaitu klorit-kuarsa ± ilit, klorit-ilit, klorit-montmorilonit, dan kuarsa-kalsit ± ilit. Tipe klorit-kuarsa ± ilit memiliki kualitas massa batuan yang paling baik dengan nilai Q sebesar 5,39–6,17 (kelas sedang) dan kondisi terowongan paling stabil. Tipe klorit-ilit memiliki nilai Q sebesar 3,24–3,5 (kelas buruk) namun masih tetap dalam kondisi stabil. Tipe kuarsa-kalsit ± ilit memiliki nilai Q sebesar 2,79–6,63 (kelas buruk–sedang) dengan kecenderungan tidak stabil, sedangkan tipe klorit–montmorilonit memiliki kualitas terburuk dengan nilai Q sebesar 2,1–3,31 (kelas buruk) dan kondisi terowongan tidak stabil. Alterasi pada batuan memengaruhi mineralogi batuan, dengan kehadiran mineral sekunder yang paling berpengaruh terhadap kualitas massa batuan dan tingkat kestabilan terowongan adalah mineral lempung (montmorilonit dan ilit), kalsit, dan kuarsa. Kandungan mineral lempung, terutama montmorilonit dan kalsit, menyebabkan kualitas massa batuan dan tingkat kestabilan terowongan semakin buruk, sedangkan kandungan kuarsa yang tinggi menghasilkan kualitas massa batuan dan tingkat kestabilan terowongan yang semakin baik.
STUDI VISKOSITAS BATUAN HASIL ALTERASI HIDROTERMAL DAN PEMODELAN 3D-NYA PADA PIT PURNAMA, BATANGTORU, TAPANULI SELATAN, SUMATRA UTARA
Proses ekstraksi emas melalui metode pelindian sering kali menghadapi kendala akibat sifat fisik batuan yang diolah, salah satunya adalah tingginya viskositas batuan. Viskositas batuan yang tinggi setelah menjadi slurry menyebabkan penurunan efisiensi pemisahan partikel emas dengan gangue. Permasalahan tersebut terdapat pada daerah penelitian, yaitu di Pit Purnama, salah satu pit pada Tambang Emas Martabe yang dikelola oleh PT Agincourt Resources dan terletak di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi, sebaran alterasi, serta zona alterasi yang berpotensi memiliki viskositas tinggi. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi, analisis petrografi, analisis ASD (Analytical Spectral Device), uji viskositas menggunakan viskometer, analisis XRD (X-ray Diffraction), serta rekonstruksi model tiga dimensi secara implisit menggunakan perangkat lunak Leapfrog Geo. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa daerah penelitian terdiri dari tujuh satuan batuan, yaitu Satuan Batulanau, Satuan Lava Andesit, Satuan Breksi Volkanik, Satuan Breksi Diatrema A, Satuan Breksi Diatrema B, Satuan Kubah Lava Andesit Hornblenda, Satuan Breksi Hidrotermal. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian terdiri dari sesar geser menganan berarah barat laut–tenggara dan sesar geser mengiri timur laut–barat daya. Alterasi yang terdapat di daerah penelitian, yaitu zona smektit - klorit, zona illit ± kaolinit ± illit - smektit, zona kuarsa - dikit ± kaolinit, dan zona kuarsa - alunit ± dikit ± kaolinit. Hasil uji viskositas menunjukkan bahwa nilai rata-rata pada masing-masing zona alterasi adalah sebagai berikut: zona smektit–klorit sebesar 37,6 cP, zona illit ± kaolinit sebesar 217,7 cP, zona kuarsa–dikit ± kaolinit sebesar 31,8 cP, dan zona kuarsa–alunit ± dikit ± kaolinit sebesar 23,2 cP. Dengan demikian, zona alterasi yang berpotensi menghasilkan batuan dengan viskositas tinggi adalah zona illit ± kaolinit.
OPTIMALISASI RANCANGAN GAS REMOVAL SYSTEM PADA PLTP GUNUNG SALAK UNIT 3
PLTP Gunung Salak Unit 3 telah beroperasi selama 28 tahun sejak tahun 1997 dengan kapasitas terpasang 60 MWe, sehingga kinerja pembangkit yang optimal dibutuhkan untuk mempertahankan produksi listrik secara berkelanjutan. Optimalisasi pembangkit dapat dilakukan dari sisi hulu melalui pengaturan strategi produksi dan injeksi, ataupun dari sisi hilir melalui pengaturan strategi operasi dan pemeliharaan, serta pemilihan rancangan peralatan pembangkit. Rancangan Gas Removal System (GRS) yang digunakan pada PLTP Gunung Salak Unit 3 saat ini adalah sistem multistage SJE (Steam Jet Ejector) dengan 3 tingkat ejektor. Kecenderungan kandungan NCG (Non-Condensable Gas) yang meningkat, studi mengenai prediksi kenaikan kandungan NCG di lapangan Awibengkok Salak, dan hasil uji kinerja GRS menjadi latar belakang penelitian untuk meningkatkan kemampuan GRS melalui pemilihan rancangan GRS yang optimal. Penelitian dilakukan dengan memodelkan heat and mass balance proses PLTP Gunung Salak Unit 3 pada beban penuh 60 MWe menggunakan perangkat lunak Aspen HYSYS® V14 dan menyimulasikan rancangan GRS hybrid dengan 2 variasi konfigurasi pada kandungan NCG 0,7 % wt hingga 1,5 % wt. Selanjutnya, hasil simulasi dari setiap rancangan GRS dianalisis berdasarkan aspek termodinamika dan ekonomi. Parameter kinerja termodinamika yang diamati adalah output daya listrik pada skenario laju alir massa uap konstan, dan nilai konsumsi uap spesifik pada skenario output daya listrik konstan. Sedangkan kinerja ekonomi ditentukan dengan menghitung Net Present Value (NPV) pembangkit untuk operasi selama 30 tahun ke depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan GRS hybrid 2 tingkat menghasilkan daya listrik netto yang paling tinggi, memiliki konsumsi uap spesifik netto yang paling rendah, serta menghasilkan keuntungan NPV paling tinggi dibandingkan GRS sistem multistage SJE eksisting dan sistem hybrid 3 tingkat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah GRS sistem hybrid 2 tingkat merupakan rancangan GRS yang optimal untuk diterapkan di PLTP Gunung Salak Unit 3 maupun PLTP single flash dengan GRS sistem hybrid lainnya di Indonesia.