📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenOPTIMASI SIKLUS PADA MESIN STIRLING ALFA MENGGUNAKAN MEKANISME MULTI-PISTON BERDASARKAN SUPERPOSISI FUNGSI SINUSOIDAL
Mesin Stirling merupakan mesin kalor dengan nilai efisiensi teoritis sama dengan efisiensi Carnot, yaitu efisiensi tertinggi yang dapat dicapai mesin kalor. Namun, efisiensi mesin Stirling aktual lebih rendah dibandingkan efisiensi Stirling ideal karena siklusnya menyimpang dari siklus idealnya dan proses regenerasi kalor tidak terjadi secara sempurna. Penyimpangan siklus Stirling terjadi karena mekanisme penggerak piston tidak mampu mengondisikan fluida kerja agar mengikuti lintasan volume ideal, yaitu lintasan volume yang akan menghasilkan siklus Stirling ideal. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki siklus Stirling aktual dengan cara mendekati lintasan volume idealnya. Pada penelitian ini, perbaikan lintasan volume dilakukan dengan menggunakan mesin Stirling alfa multi-piston, yaitu mesin Stirling alfa yang menggabungkan beberapa piston melalui superposisi deret Fourier. Kemudian, nilai koefisien hasil superposisi deret Fourier akan dioptimasi agar dihasilkan mesin Stirling alfa multi-piston yang dapat memperbaiki siklus Stirling dengan hanya menambah sedikit piston. Selanjutnya, hasil optimasi mesin Stirling alfa multi-piston akan disajikan dalam grafik ????????????????????????????? vs ???????????????????????????????? yang dievaluasi pada 3 nilai ?????????????. Hal ini dilakukan agar hasil optimasi dapat berlaku umum dan dengan tambahan informasi nilai koefisien hasil optimasi, maka mesin Stirling alfa multi-piston dapat diterapkan secara aktual. Mesin Stirling alfa multi-piston hasil optimasi terdiri dari 4 silinder-piston. Mesin ini menghasilkan nilai ????????????????????????????? yang lebih mendekati nilai idealnya dibandingkan mesin Stirling alfa slider-crank pada semua titik dalam grafik tak berdimensi. Artinya, mesin stirling alfa multi-piston dalam penelitian ini berhasil memperbaiki siklus Stirling aktual.
STUDI TEKNO-EKONOMI PLTP KEPAHIANG MENGGUNAKAN FLASH-BINARY CYCLE
Studi ini menganalisis kelayakan teknis dan finansial dari PLTP dengan sistem flash-binary cycle pada Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kepahiang, sebuah lapangan geotermal yang diduga bertemperatur tinggi dan dominasi air di Bengkulu, Indonesia. Dua model flash-binary dibuat untuk meningkatkan efisiensi konversi energi dengan mengoptimasi sistem single flash brine binary menggunakan tipe turbin condensing (Model 1) dan single flash back pressure bottoming binary (Model 2). Pemodelan termodinamika dilakukan menggunakan Makro Excel dan CoolProp, dengan mengevaluasi lima fluida kerja tipe kering: Isopentane, n-pentane, R123zd(E), R123, dan R245ca. Hasil simulasi dan pemodelan menunjukkan bahwa flash-binary Model 2 dengan fluida kerja n-pentane dan R245ca mampu meningkatkan efisiensi konversi energi sistem hingga 18,1%, Specific Steam Consumption (SSC) 1,40 kg/s.MW, dan Specific Geothermal Consumption (SGC) 7,58 kg/s.MW pada tekanan separator 10 bar. Sedangkan flash-binary Model 1 dengan fluida kerja R245ca menghasilkan efisiensi konversi energi sistem sebesar 17,1%, SSC 1,44 kg/s.MW, dan SGC 7,81 kg/s.MW pada tekanan 10 bar. Hasil model evaluasi finansial proyek PLTP Kepahiang dengan produksi daya listrik ekivalen 110 MW menunjukkan nilai NPV sebesar 86,5 juta USD dan harga jual listrik yang ditawarkan sebesar 7,34 cent USD/kWh dengan IRR 8,28% dan Payback Period selama 18 tahun. Hasil penelitian ini memberikan kerangka desain praktis yang dapat diterapkan pada pengembangan lapangan geotermal serupa untuk mendukung transisi Indonesia menuju energi yang berkelanjutan.
ANALISIS PEMBAKARAN LEAN-PREMIXED PADA RUANG PEMBAKARAN TURBIN GAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE DINAMIKA FLUIDA KOMPUTASI
Turbin gas menghadapi tantangan utama berupa tingginya konsumsi energi dan emisi nitrogen oksida (NOx) akibat temperatur pembakaran yang ekstrem. Kondisi ini mendorong kebutuhan teknologi ruang bakar yang mampu menekan emisi tanpa mengurangi performa. Ruang bakar pra-campur miskin ditawarkan sebagai solusi dengan cara mencampur bahan bakar dan udara sebelum masuk ke ruang bakar sehingga temperatur puncak dapat dikendalikan lebih rendah dan pembentukan NOx berkurang. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi rasio ekuivalensi, temperatur pemanasan, temperatur pemicu, dan panjang ruang bakar terhadap distribusi temperatur, posisi zona nyala, serta pembentukan emisi NOx pada pembakaran pra-campur metana–udara menggunakan metode Dinamika Fluida Komputasi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada temperatur awal 300 K, rasio ekuivalensi 1 menghasilkan temperatur puncak 2.275 K dengan emisi NOx tertinggi yaitu 345 ppm. Peningkatan pemanasan awal menjadi 500 K dan 600 K memperluas area temperatur tinggi hingga 1,53 × 10?² m² dan meningkatkan emisi NOx sampai 1.044 ppm pada rasio ekuivalensi 1. Variasi panjang ruang bakar dari 200 mm menjadi 400 mm menaikkan temperatur outlet 69–99 K dan emisi NOx 105–843 ppm dengan nilai tertinggi pada rasio ekuivalensi 0,8 sebesar 1.921 ppm. Pemanasan awal terbukti lebih dominan dibandingkan pemicu dengan kenaikan temperatur rata-rata 251 K dan emisi NOx hingga 30 ppm sedangkan temperatur pemicu hanya memberi perubahan kecil. Temuan ini memberikan dasar rancangan ruang bakar pra-campur miskin yang menyeimbangkan stabilitas nyala, efisiensi termal, dan emisi rendah.
REDUKSI DATA JURNAL PADA SITUS SCIMAGO JOURNAL RANK DENGAN SELF-ORGANIZING MAP (SOM): STUDI KOMPARASI METODE KLASTERISASI MENGGUNAKAN SOM-NORMALIZED CUT, SOM-K-MEANS, DAN K-MEANS
Pertumbuhan publikasi ilmiah yang pesat menimbulkan tantangan dalam pengelompokan jurnal berdasarkan dampak yang dihasilkan. Banyak bibliometrik yang telah dikembangkan untuk mengukur dan mengelompokkan jurnal berdasarkan dampaknya, namun pada pengukuran tersebut kerap kali konteks open access, muldisiplin, dan umur jurnal hilang, padahal hal-hal tersebut berpengaruh terhadap ukuran dampak jurnal. Oleh karenanya, Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengungkap struktur pada data bibliometrik jurnal dengan melakukan klasterisasi menggunakan beberapa metode, untuk kemudian dilakukan analisis komparasi terhadap performanya secara kuantitatif dan kualitatif (kontekstual). Metode yang digunakan adalah kombinasi dari Self-Organizing Map (SOM), Normalized Cut (Ncut), dan K-Means, untuk kemudian dilakukan klasterisasi terhadap data jurnal pada situs Scimago Journal Rank (ScimagoJR). Tahapan penelitian mencakup analisis data eksploratoris, prapemrosesan data, perumusan model klasterisasi, pelatihan SOM, klasterisasi menggunakan Ncut dan K-Means, dan analisis komparasi terhadap setiap model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat terdeteksi struktur yang jelas pada data jurnal, setiap metode klasterisasi cenderung memberikan hasil klaster yang mirip. Struktur tersebut dapat terdeteksi dengan jelas saat diperkenalkan variabel kategorikal pada model. Penggunaan K-Means secara langsung memberikan hasil klasterisasi yang cukup memuaskan, namun mereduksi data terlebih dahulu dengan SOM untuk kemudian dilakukan klasterisasi menggunakan K-Means, memberikan hasil yang lebih baik dari sisi interpretasi dibandingkan dengan menggunakan K-Means secara langsung.
OPTIMALISASI KONFIGURASI JARINGAN RANTAI PASOK DIMETIL ETER (DME) DI WILAYAH-WILAYAH KONVERSI MENGGUNAKAN PEMROGRAMAN LINIER
Indonesia masih menghadapi ketergantungan tinggi pada impor liquefied petroleum gas (LPG), karena produksi domestik hanya mampu memenuhi sekitar 20,3% kebutuhan nasional. PT X sebagai pemegang mandat utama distribusi LPG nasional menjadi aktor kunci yang rantai pasoknya akan sangat dipengaruhi oleh program substitusi LPG dengan Dimetil Eter (DME) berbasis batubara kalori rendah. Penelitian ini bertujuan membantu PT X dalam: (1) menentukan lokasi optimal pembangunan pabrik DME, (2) menghitung kuantitas distribusi DME yang efisien, (3) mengidentifikasi Terminal LPG milik PT X yang berpotensi dikonversi, (4) menentukan moda transportasi paling efektif, dan (5) menganalisis dampak implementasi DME terhadap pengurangan impor LPG dalam jaringan distribusi PT X. Pendekatan yang digunakan adalah Supply Chain Network Design (SCND) dengan pemodelan Mixed Integer Linear Programming (MILP). Horizon analisis ditetapkan 20 tahun yang merepresentasikan umur operasional pabrik (2030–2049). Model dibangun dan diselesaikan menggunakan Pyomo serta CPLEX untuk mengevaluasi konfigurasi jaringan distribusi PT X di bawah berbagai skenario. Evaluasi dilakukan melalui dua kondisi. Pada skenario dasar, pembangunan pabrik DME sepenuhnya ditentukan oleh hasil optimasi dan impor LPG tetap diperbolehkan. Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi DME ke dalam rantai pasok PT X tidak layak secara ekonomis. Sementara itu, pada skenario alternatif, diasumsikan pemerintah tetap memaksakan implementasi DME penuh dengan kewajiban pembangunan pabrik serta pelarangan impor LPG. Kondisi ini menghasilkan konfigurasi rantai pasok baru bagi PT X, yaitu pembangunan dua pabrik di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur dengan kapasitas masing-masing 5,66 juta MT dan 3,84 juta MT per tahun. Konfigurasi tersebut memungkinkan PT X mendistribusikan DME hingga memenuhi 69,7% kebutuhan LPG domestik, tetapi menimbulkan konsekuensi kenaikan biaya sistem sebesar Rp170,6 triliun atau kerugian tahunan sekitar Rp8,53 triliun dibandingkan skenario dasar. Hal ini menegaskan bahwa keberlanjutan rantai pasok PT X dalam mengintegrasikan DME hanya dapat tercapai apabila disertai dukungan kebijakan dan insentif pemerintah.
PENGEMBANGAN MODEL SELEKSI ALTERNATIF BIOMASSA UNTUK KEBUTUHAN CO-FIRING BATUBARA DENGAN PENDEKATAN STRUCTURAL EQUATION MODELING-PARTIAL LEAST SQUARES (SEM-PLS) DAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP): STUDI KASUS PLTU PANGKALAN SUSU
Program co-firing biomassa pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) merupakan langkah strategis dalam mendukung pencapaian bauran energi nasional dan pengurangan emisi karbon. Namun, pemilihan alternatif biomassa yang tepat masih menghadapi tantangan kompleks karena keterbatasan model evaluasi yang mempertimbangkan aspek multi-dimensi secara sistematis. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pemilihan alternatif biomassa berbasis integrasi Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Pendekatannya kuantitatif dalam dua tahap: (i) SEM-PLS digunakan untuk menguji hubungan kausal lima kriteria teknis, ekonomi, lingkungan, sosial, dan kebijakan/regulasi berdasarkan survei 100 responden (praktisi/pengelola biomassa PLTU) sekaligus memperoleh bobot kriteria (Aj) melalui normalisasi koefisien jalur; (ii) AHP digunakan untuk menilai 15 subkriteria dan 4 alternatif (A1–A4) oleh pakar guna memperoleh prioritas lokal alternatif per subkriteria, yang kemudian diintegrasikan menjadi skor alternatif biomassa. Hasil menunjukkan seluruh kriteria berpengaruh positif dan signifikan (p<0,05) terhadap keputusan, Hasil AHP menunjukkan bahwa kriteria sosial dan ekonomi menempati bobot tertinggi dalam pemilihan alternatif. Pada tingkat alternatif, Cangkang Sawit meraih skor alternatif biomassa tertinggi (0,298), diikuti Sekam Padi (0,293), Pelet Kayu (0,206), dan Serbuk Kayu(0,205). Secara praktis, model ini memberi alat keputusan yang komprehensif dan replikabel bagi pengelola PLTU, pembuat kebijakan, dan penyedia biomassa untuk menyusun strategi yang sejalan regulasi, berdampak sosial-ekonomi positif, efisien secara biaya, serta dapat dioperasikan secara teknis dan ramah lingkungan.
MODEL OPTIMASI RELOKASI PETI KEMAS DAN PENJADWALAN JANJI TEMU TRUK UNTUK MEMINIMASI PERPINDAHAN PETI KEMAS
Peningkatan throughput dunia membawa tantangan besar bagi terminal dan depo peti kemas khususnya dalam aspek pengelolaan peti kemas di ruang penyimpanan yang terbatas. Salah satu tantangan utama yaitu penumpukan peti kemas dari berbagai perusahaan dengan jadwal pengambilan yang tidak seragam yang menghambat proses penyusunan, pengambilan, dan pemindahan peti kemas. Peti kemas yang hendak diambil sering berada di tengah tumpukan sehingga membutuhkan waktu dan usaha ekstra untuk mengaksesnya. Operasi pemindahan peti kemas sangat mahal sehingga penting untuk meminimasi jumlah pemindahan yang dilakukan. Oleh karena itu, optimalisasi relokasi peti kemas sangat dibutuhkan untuk memperbaiki sistem tersebut. Penjadwalan janji temu truk (TAS) dan relokasi peti kemas (RBRP) merupakan dua masalah utama dalam manajemen operasional di lapangan penumpukan peti kemas. Penelitian ini mengusulkan model optimasi yang mengintegrasikan Truck Appointment Scheduling (TAS) dengan Restricted Block Relocation Problem (RBRP). Model yang diusulan dikembangkan dengan mempertimbangkan kendala-kendala yang belum dipertimbangkan sebelumnya seperti kapasitas maksimum tumpukan yang diperbolehkan, pencegah pergerakan redundan, pengisian slot kosong yang tepat, mempertimbangkan perbedaan prioritas pengambilan dalam kondisi nyata. Penelitian ini mengusulan pendekatan yang berbeda yaitu penyelesaian secara simultan dan sequential. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan kedua masalah tersebut untuk meminimasi jumlah relokasi peti kemas yang dibutuhkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah integer programming yang memungkinkan pengoptimalan jadwal kedatangan truk dan pergerakan peti kemas dalam satu model terkoordinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi TAS dan RBRP secara simultan memberikan hasil yang lebih optimal dan stabil dibandingkan dengan pendekatan yang mengoptimalkan keduanya secara terpisah dalam jumlah relokasi yang dibutuhkan. Pertimbangan prioritas peti kemas dapat iii membantu pengelolaan relokasi peti kemas tanpa mempengaruhi hasil dari jumlah relokasi, hasil jumlah relokasi akan berpengaruh pada metode pendekatan penyelesaian yang diterapkan.
PERANCANGAN MODEL PENENTUAN LOKASI, INVENTORI, DAN RUTE PADA SISTEM DISTRIBUSI GAS ELPIJI UNTUK AGEN DENGAN MEMPERTIMBANGKAN ASPEK EKONOMI, LINGKUNGAN, DAN SOSIAL
Distribusi tabung gas elpiji sebagai bahan bakar memasak memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang memiliki karakteristik geografis dan kepadatan penduduk yang beragam seperti Kabupaten Subang. Dalam praktiknya, proses distribusi tabung elpiji tidak hanya mencakup pengiriman tabung terisi, tetapi juga pengembalian tabung kosong dari pangkalan ke agen sebagai bagian dari sistem logistik tertutup. Tantangan utama dalam sistem ini adalah bagaimana merancang keputusan lokasi agen, pengelolaan inventori, dan penjadwalan rute pengiriman secara simultan dalam suatu kerangka terpadu yang memperhatikan keterbatasan sumber daya dan keberlanjutan operasional. Permasalahan ini dikenal sebagai Location Inventory Routing Problem (LIRP), yang dalam penelitian ini diterapkan pada studi kasus PT X sebagai Agen distribusi di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Penelitian ini berkontribusi dalam penerapan model LIRP multi-objektif secara komprehensif pada studi kasus nyata distribusi gas elpiji sebuah Agen di Kabupaten Subang, dengan mempertimbangkan karakteristik sistem logistik pengembalian tabung kosong. Penelitian ini juga berkontribusi dalam integrasi tiga aspek pada fungsi objektif, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial ke dalam satu kerangka optimisasi tunggal. Fungsi objektif ekonomi yaitu minimasi total biaya yang dikeluarkan oleh PT X dalam satu horizon perencanaan meliputi biaya pembukaan Agen, biaya perutean, biaya inventori, biaya kekurangan stok, dan biaya pelanggaran jendela waktu. Fungsi objektif lingkungan yaitu minimasi emisi karbon kendaraan selama proses distribusi yang meliputi jarak tempuh dan laju emisi rata-rata.. Fungsi objektif sosial bertujuan meminimalkan dampak negatif pada internal dan eksternal perusahaan, yang diukur melalui Indeks Dampak Sosial (IDS) yang mengintegrasikan dua komponen yaitu stres fisik pengemudi berdasarkan energi aktivitas bongkar muat dan kualitas layanan kepada masyarakat berdasarkan akumulasi keterlambatan pengiriman. Penelitian ini secara metodologis memberikan kontribusi dengan menerapkan dan membandingkan secara sistematis tiga metode solusi multi-objektif yang berbeda, yaitu Weighted Sum, Epsilon-Constraint, dan Lexicographic ii Model matematis yang dikembangkan memformulasikan keputusan pembukaan lokasi Agen, pengelolaan persediaan pada Agen, serta perutean distribusi tabung gas elpiji yang melibatkan SPBE, Agen, dan Pangkalan dalam suatu kerangka terintegrasi. Formulasi model matematis yang dikembangkan sebagai Mixed- Integer Linear Programming (MILP) dan memiliki batasan seperti kapasitas kendaraan, kapasitas Agen, dan kapasitas energi pengemudi. Data primer dan sekunder dikumpulkan dari PT X yang mencakup jumlah pasokan dan permintaan harian, lokasi SPBE, Agen, dan Pangkalan untuk menentukan jarak antar entitas, dan parameter-parameter lainnya. Model ini dilakukan uji coba dengan menggunakan bahasa pemrograman Python dan perangkan lunak optimisasi Gurobi. Uji coba dilakukan terhadap dua model, yaitu model saat ini dengan mengoperasikan Agen yang sudah berdiri dan model usulan dengan terdapat opsi membuka Agen yang menjadi kandidat. Berdasarkan hasil uji coba, seluruh metode menghasilkan bahwa model usulan menunjukkan efisiensi signifikan dalam seluruh aspek objektif. Dari sisi ekonomi, total biaya distribusi dapat ditekan hingga 8,59% dibandingkan model saat ini, terutama melalui pengurangan biaya rute dan pengelolaan inventori yang lebih adaptif sehingga tidak terjadi pelanggaran jendela waktu. Dari aspek lingkungan, emisi karbon kendaraan berkurang sebesar 27,49% kg CO2 akibat perencanaan rute yang lebih pendek dan efisien. Sementara dari aspek sosial, Indeks Dampak Sosial menunjukkan perbaikan hingga 17,48%, yang didorong oleh eliminasi total keterlambatan pengiriman dan penurunan stres fisik pengemudi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan model logistik yang bersifat multi-objektif. Secara praktis, model yang diusulkan dapat diimplementasikan oleh agen distribusi untuk mendukung pengambilan keputusan strategis terkait lokasi fasilitas, pengelolaan persediaan, dan perencanaan rute, dengan mempertimbangkan efisiensi biaya sekaligus dampak sosial dan lingkungan. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya khazanah ilmu di bidang riset operasi, logistik berkelanjutan, dan optimisasi multiobjektif. Penelitian lanjutan dapat diarahkan pada pengembangan algoritma heuristik atau metaheuristik untuk menangani skala data yang lebih besar, atau integrasi ketidakpastian permintaan dan ketersediaan kendaraan ke dalam model saat ini.
EVALUASI PAJANAN PANAS PADA PEKERJA DI PANDAI BESI DESA MEKARMAJU, KECAMATAN PASIRJAMBU, KABUPATEN BANDUNG
Desa Mekarmaju merupakan desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai Pengrajin Besi dengan total jumlah pekerja pandai besi sebanyak 563 orang. Industri pandai besi tergolong sebagai industri dengan risiko tekanan panas terhadap pekerja karena proses produksinya menggunakan suhu yang sangat tinggi. Hal tersebut dapat menyebabkan adanya risiko kecelakaan akibat kerja dan terjadi peningkatan sumber bahaya yang ada di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi bahaya pajanan panas serta dampaknya terhadap kondisi fisiologis pekerja pandai besi di Desa Mekarmaju, Kabupaten Bandung. Metode penelitian berupa observasional analitik dengan desain penelitian sebelum dan setelah (pretest-posttest) untuk melihat perubahan kondisi fisiologis setelah terpapar lingkungan kerja panas dengan sampel sebanyak 40 pekerja. Hasil pengukuran iklim kerja menunjukkan bahwa nilai ISBB tertinggi terdapat pada kategori home industri produksi menengah (26,1°C). Faktor signifikan yang memengaruhi nilai ISBB adalah lokasi penelitian (p<0,001), luas bangunan (p=0,007), laju metabolik (p<0,001), dan durasi kerja (p=0,045). Analisis kondisi fisiologis menunjukkan terdapat perubahan signifikan sesudah bekerja dan sesudah beristirahat pada tekanan sistolik (p=0,002), tekanan diastolik (p<0,001), dan suhu tubuh (p < 0,001), yang menegaskan adanya respon fisiologis akibat pajanan panas. Analisis korelasi menunjukkan suhu tubuh memiliki hubungan positif yang signifikan dengan nilai ISBB (p < 0,001; ? = 0,540). Analisis heat strain mengungkapkan bahwa faktor utama berhubungan signifikan dengan kejadian heat strain adalah konsumsi air minum (p = 0,013). Keluhan gejala heat strain yang paling banyak dialami pekerja adalah rasa haus (39 keluhan), pegal otot (38 keluhan), dan kram otot (21 keluhan). Penelitian ini menyimpulkan bahwa lingkungan kerja pandai besi memiliki potensi bahaya signifikan terhadap kesehatan pekerja, sehingga diperlukan strategi pengendalian pajanan panas melalui pengaturan jam kerja, beban kerja, serta penyediaan hidrasi yang memadai.
PENGEMBANGAN MODEL PREDIKSI KADAR VITAMIN C BUAH MANGGA MULTI-VARIETAS BERDASARKAN SPEKTROSKOPI NEAR INFRARED MENGGUNAKAN PARTIAL LEAST SQUARES REGRESSION (PLSR) DENGAN METODE PEMBAGIAN DAERAH PANJANG GELOMBANG
Pengukuran kadar Vitamin C pada buah mangga (Mangifera indica L.) merupakan aspek penting untuk menentukan kualitas dan nilai gizi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi kadar Vitamin C pada mangga multi-varietas menggunakan spektroskopi near infrared dengan metode Partial Least Squares Regression (PLSR), memanfaatkan strategi pembagian daerah panjang gelombang untuk mengekstraksi fitur spektral yang paling informatif. Data spektrum dikumpulkan dari beberapa varietas mangga dan diproses menggunakan kombinasi prapemrosesan seperti, Standard Normal Variate (SNV), Multiplicative Scatter Correction (MSC), Savitzky-Golay (SG) derivative, detrending (DT), dan normalisasi vektor (VNORM). Spektrum kemudian dibagi menjadi beberapa sub-daerah untuk pemodelan terfokus, dan jumlah latent variables (LV) dioptimalkan untuk setiap kombinasi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model Unifikasi dengan prapemrosesan SNV+SG-D1 memberikan performa terbaik, dengan ????2 kalibrasi = 0,937; ????2 validasi = 0,724; RMSE validasi = 7,914 mg/100g; dan RPD validasi = 1,902; mengindikasikan kemampuan prediksi yang baik pada data baru. Model ini memanfaatkan panjang gelombang spektral pada rentang (1136,7-1316,1 nm; 1430,1-1563,8 nm; dan 2176,9-2500,2 nm), sehingga mampu menangkap sinyal relevan Vitamin C dengan presisi lebih tinggi dibandingkan model pada mode Gen A dan Gen B. Hasil ini menunjukkan bahwa pembagian daerah panjang gelombang efektif dalam meningkatkan performa model PLSR untuk prediksi komponen bioaktif pada buah mangga multi-varietas.
EVALUASI METODE KOREKSI PENCAHAYAAN NON-UNIFORM PADA PENCITRAAN MIKROSKOPIK KERUTAN PERMUKAAN KULIT DENGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS JARINGAN SARAF KONVOLUSIONAL DAN FILTER MORFOLOGI
Analisis citra mikroskopik digunakan secara luas dalam bidang dermatologi dan industri kosmetik untuk mengevaluasi kerutan kulit secara kuantitatif. Namun, hasil analisis sangat dipengaruhi oleh kondisi akuisisi citra, terutama adanya pencahayaan tidak merata dan blur pada bagian tepi akibat perbedaan kelengkungan permukaan kulit. Permasalahan ini dapat menurunkan akurasi pengukuran parameter tekstur, seperti korelasi dan entropi. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada evaluasi metode koreksi pencahayaan non-uniform menggunakan filter morfologi dan Convolutional Neural Network (CNN) dengan membandingkan hasil koreksi terhadap kondisi ideal, yaitu citra kulit pada bidang datar. Rumusan masalah penelitian meliputi: (1) bagaimana nilai parameter kerutan kulit yang diperoleh dari citra hasil akuisisi mikroskop digital sebelum dan setelah dilakukan koreksi pencahayaan, serta (2) bagaimana perbandingan kinerja metode koreksi morfologi dan CNN. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perubahan nilai parameter kerutan kulit akibat koreksi pencahayaan dan mengevaluasi perbedaan performa kedua metode tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode morfologi secara umum memberikan hasil pengukuran yang lebih mendekati kondisi ideal dibandingkan CNN. Metode Flat Field menghasilkan rata-rata selisih korelasi sebesar 0,008 dan entropi sebesar 0,031, metode Open Close sebesar 0,011 untuk korelasi dan 0,033 untuk entropi, sedangkan CNN sebesar 0,013 untuk korelasi dan 0,138 untuk entropi. Keunggulan metode morfologi terletak pada kemampuannya meratakan distribusi intensitas cahaya sekaligus mempertahankan fitur kerutan pada citra kulit, meskipun terdapat reflektansi tinggi dan blur pada area tepi citra. Sebaliknya, model CNN yang digunakan belum optimal karena hanya melakukan koreksi pada komponen iluminasi tanpa memperbaiki blur tepi, serta dipengaruhi keterbatasan data latih dari pre-trained model yang berbasis citra kulit manusia dengan karakteristik reflektansi berbeda. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode morfologi lebih efektif dalam mengoreksi pencahayaan non-uniform pada citra mikroskopik kerutan kulit dibandingkan CNN dalam kondisi penelitian ini.
EVALUASI PENGARUH PRESIPITASI GARAM TERHADAP INDEKS INJEKTIVITAS SUMUR PADA INJEKSI CO? DI AKUIFER SALIN
Carbon Capture and Storage (CCS) in saline aquifers offers large-scale potential for CO? sequestration, yet operational challenges persist due to salt precipitation near the wellbore. When dry CO? is injected, brine vaporization can trigger halite deposition, causing permeability impairment and injectivity decline—two critical issues that directly affect the efficiency and economics of CCS projects. This study applies numerical simulation using CMG-GEM to investigate the mechanisms of salt precipitation and its impact on injectivity in a synthetic high-permeability reservoir model (35% porosity, 740 mD permeability). The analysis specifically examines the influence of grid size, injection rate, salinity, and capillary pressure parameter on the extent and distribution of salt deposition, as well as the resulting changes in reservoir properties and well performance. Through sensitivity studies on these governing parameters, the research aims to provide a clearer understanding of the physical mechanisms driving injectivity reduction during CO? injection. The findings are expected to support better design and optimization of CCS operations in saline aquifers, ensuring more reliable and sustainable longterm CO? storage.
PREDICTIVE MODELING OF ACID CONSUMPTION AND MAGNETITE (FE?O?) REMOVAL TO DETERMINE OPTIMUM PUMPING RATE DURING TUBING PICKLING OPERATION: A CASE STUDY ON WELL A-1
Tubing pickling is a well operation aimed at removing scale deposits from the inner surface of production tubing to restore flow efficiency and prevent operational damage prior to acidizing operation. In this study, a predictive model was applied to simulate acid consumption and magnetite (Fe?O?) scale removal during the tubing pickling process, focusing on determining the optimum pumping rate under various acid concentrations. The study examined six scenarios, combining three acid concentrations (15, 7.5, and 3 wt% HCl) with two magnetite scale thicknesses (0.01 and 0.001-inch), representing a range of possible wellbore conditions. Acid volume requirements were calculated based on the assumed scale thickness parameter, with magnetite evenly distributed along the tubing. For lower acid concentrations, additional volumes were determined through sensitivity analysis to ensure complete magnetite scale dissolution at a minimum operational pumping rate of 1 bbl/min. Results demonstrated that for 0.01-inch magnetite thickness, the optimum tubing pickling design was achieved using 15 wt% HCl at 3 bbl/min with a volume of 1052 gallons, while for 0.001-inch magnetite thickness, the optimum design used 7.5 wt% HCl at 1.8 bbl/min with 218 gallons. All optimum designs achieved more than 95% magnetite scale removal. Lower acid concentrations required significantly larger volumes to meet the same dissolution target, with 3 wt% HCl at 0.01-inch magnetite thickness requiring six times the acid volume of the base case (15 wt%). The analysis also revealed operational phenomena, such as the unexpected higher peak HCl concentration at 1 bbl/min in one of the cases, explained by early reaction saturation in the tubing. Such insights emphasize the importance of matching acid volume and pumping rate to the scale thickness and acid specification, preventing prolonged acid–metal contact that could damage the tubing’s base metal.
GEOLOGI, GEOMORFOLOGI, DAN LATERISASI ENDAPAN BAUKSIT DI BLOK X, KECAMATAN MELIAU HILIR, KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT
Kebutuhan aluminium dunia diperkirakan akan terus meningkat, namun produksi dalam negeri hanya memenuhi sekitar 1,3 juta ton meskipun produksi bijih bauksit mencapai 32 juta ton pada tahun 2024. Hal ini menyebabkan ketergantungan pada impor untuk memenuhi sisa kebutuhan tersebut. Potensi cadangan bauksit Indonesia diperkirakan sebesar 2,8 miliar ton yang dapat dimanfaatkan lebih baik lagi melalui hilirisasi tambang bauksit. Akan tetapi pada proses metalurgi terdapat hambatan terutama saat pemisahan bijih bauksit karena beberapa mineral sulit diekstraksi, kecuali gibsit. Sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui jenis mineral pembawa aluminium pada laterit di Indonesia dan menentukan litologi serta morfologi yang sesuai untuk pembentukan bauksit. Penelitian dilakukan pada wilayah blok X, Kecamatan Meliau Hilir, Kabupaten Sanggau, area tersebut milik PT Aneka Tambang Tbk., UBP Bauksit Tayan. Secara geografis, area penelitian ini terletak sekitar 120 km ke arah timur dari Kota Pontianak. Jenis mineral yang ada pada endapan laterit bauksit dapat diketahui melalui metode eksplorasi. Metode tersebut di antaranya adalah pemetaan geologi, pemetaan geomorfologi, pemetaan laterisasi, analisis petrografi, deskripsi sampel, analisis mineralogi, serta analisis mineralisasi batuan. Analisis mineralogi dilakukan melalui metode Analytical Spectral Devices (ASD) dan X-Ray Diffraction (XRD). Penelitian ini menggunakan data primer yang terdiri dari 40 sampel batuan, 52 sampel bauksit dan 582 sampel latosol. Pada area penelitian terdapat empat satuan geomorfologi yaitu Dataran Rawa dan Aluvial, Perbukitan Bergelombang Intrusi, Perbukitan Bergelombang Terjal Intrusi, serta Perbukitan Terjal Malihan. Secara geologi terdapat tujuh satuan yaitu Metasedimen, Diorit, Granit, Tonalit, Diorit Hornblenda, Gabro, dan Endapan Aluvial. Morfologi perbukitan bergelombang dengan litologi diorit memiliki derajat laterisasi tinggi dengan gibsit yang dominan. Mineralisasi pada bauksit menghasilkan gibsit, hematit, gutit, haloisit dan kaolinit. Sedangkan pada latosol terdapat gutit, gibsit, muskovit, paragonit, dan kaolinit.
KARAKTERISTIK ENDAPAN NIKEL LATERIT DAN PERSEBARAN UNSUR KOBALT (CO) PADA ENDAPAN NIKEL LATERIT DI DAERAH BULI, HALMAHERA TIMUR, MALUKU UTARA
Nikel menjadi salah satu logam yang banyak dieksploitasi dan dimanfaatkan dalam berbagai sektor industri. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara produsen nikel terbesar yang salah satu cadangannya berada di Kabupaten Halmahera Timur. Dalam endapan nikel laterit, terdapat mineral penyerta yaitu kobalt (Co) yang menjadi produk sampingan dari proses metalurgi endapan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik endapan nikel laterit, mengetahui zona pengayaan unsur kobalt, hubungan unsur kobalt dengan unsur atau senyawa lainnya pada endapan nikel laterit, dan memperkirakan persebaran unsur kobalt pada endapan nikel laterit di daerah penelitian. Data yang digunakan yaitu data geokimia XRF, peta geologi lembar Maluku, dan data DEM. Profil endapan nikel laterit di daerah penelitian terbagi menjadi tiga zona yaitu limonit, saprolit, dan batuan dasar. Batuan dasar yang ditemukan pada daerah penelitian berjenis harsburgit dan dunit. Endapan nikel laterit pada daerah penelitian memiliki tipe endapan nikel dominan silika Mg terhidrasi dan beberapa tipe oksida. Berdasarkan analisis geokimia XRF lainnya, kobalt mengalami pengayaan pada zona limonit. Analisis Korelasi Spearman (rs) menunjukkan bahwa unsur Co memiliki korelasi positif sangat kuat dengan MnO (rs=0,89),dan berkorelasi positif kuat dengan Fe2O3(rs=0,75). Kelimpahan unsur Co dipengaruhi oleh kemiringan dan memiliki nilai (IOL) yang tinggi. Estimasi persebaran unsur kobalt dilakukan menggunakan IDW pada zona limonit. Berdasarkan hasil estimasi tersebut,konsentrasi unsur kobalt yang tertinggi (Co > 0,1847%) berada di timur laut dan barat daya dari daerah penelitian dengan limonit yang relatif tidak tebal namun diduga kuat dikontrol oleh kemiringan lereng dan kontrol struktur. Konsentrasi unsur kobalt yang rendah (Co < 0,0739%) berada pada tengah daerah dengan limonit yang tebal dan berada di kemiringan lereng yang kurang optimal.