📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPARAMETRIC STUDY OF WELDING SEQUENCES FOR MINIMIZING RESIDUAL DEFORMATION IN MULTI-LAYER WELDS
Welding is a process used to join two metal or plastic components by melting them, with or without the use of additional materials. It is a critical technique across various industrial sectors. This process relies on applying heat, pressure, or a combination of both to create strong, durable joints. Welding is widely utilized due to the versatility and extensive applications of metals in industry. However, this technique can introduce residual stresses and deformations that may compromise structural integrity. Welding-induced deformation remains a significant challenge in the fabrication of steel structures, often leading to assembly issues and extended production times. This study focuses on optimizing the welding sequence for a bracket axle component in a dump truck chassis using finite element method (FEM) simulations. A coupled thermo-mechanical analysis was employed to predict temperature distribution and the resulting deformation during multi-layer welding. Three different welding sequences, initial, first modified, and second modified, were simulated and validated through field experiments. The simulations, based on SS400 material properties, incorporated calibrated heat flux values aligned with measured temperature data. Results indicate a significant reduction in deformation up to 38.59% when optimal welding sequences are applied. Field trials confirmed these findings, with the second modified sequence achieving perfect axle alignment in all tested brackets. This study underscores the value of simulation-driven welding optimization in enhancing structural precision and manufacturing efficiency.
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI MODEL PREDICTIVE CONTROL BERBASIS MODEL ARX UNTUK KENDALI GLIDE DAN YAW PADA GANESHBLUE UNDERWATER GLIDER
Penggunaan teknologi yang semakin maju menjadi pendorong kegiatan eksplorasi perairan, salah satunya melalui penggunaan peralatan pendukung seperti Autonomous Underwater Glider (AUG). AUG merupakan sebuah robot otonom bawah air yang bergerak naik dan turun dengan memanfaatkan gaya apung. Pergerakan tersebut diatur oleh sebuah Buoyancy Engine (BE) melalui mekanisme pemindahan fluida yang memengaruhi berat dari GAUG. Sehingga tercipta kendali terhadap gaya apung yang membuatnya dapat mengapung dan tenggelam. Tetapi, penggunaannya memiliki berbagai macam tantangan terkhusus dalam sektor kendali. Sehingga dapat memengaruhi performa, respon sistem dan efisiensi penggunaan energi. Penelitian ini berfokus kepada perancangan suatu kendali menggunakan metode Model Predictive Control (MPC). Metode ini menggunakan suatu model diskrit sebagai model utama untuk mebangun prediksi dengan pendekatan AutoRegressive eXogenous input (ARX). Dimana kendali MPC-ARX diterapkan kepada sebuah Ganeshblue AUG (GAUG). Sistem kendali MPC-ARX dirancang untuk mengendalikan sudut pitch, depth rate dan yaw rate pada sistem GAUG. Dengan menggunakan model ARX yang dibangun melalui proses identifikasi sistem dengan pemilihan orde berdasarkan metode Bayesian Information Criterion (BIC). Dalam perancangan kendali MPC, digunakan Trapezoidal Motion Profile (TMP) pada depth rate dan yaw rate untuk membatasi kecepatan perubahan serta memberikan referensi yang halus terhadap depth ataupun yaw. Berdasarkan hasil BIC, diperoleh model ARX untuk gerak glide dengan orde keluaran 2 dan orde masukan 1, sementara untuk gerak yaw diperoleh orde keluaran 2 dan orde masukan 3. Parameter MPC yang digunakan meliputi horizon prediksi sebesar 10 dan horizon kendali sebesar 3 Simulasi dilakukan dengan menambahkan gangguan sinusoidal sebagai representasi gelombang perairan guna mengevaluasi kinerja kendali yang diusulkan. Gangguan sinusoidal yang diterapkan berfrekuensi 0,2 Hz untuk masing-masing gerak, serta amplituda gangguan untuk masing-masing gerak adalah 2. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada masing-masing jenis gerak, penggunaan bobot adaptif memiliki keunggulan efisiensi energi dibandingkan bobobt tetap. Keunggulan ini terlihat dari penggunaan aktuator pada simulasi. Pada ii kendali gerak glide dengan bobot adaptif, total penggunaan aktuator adalah 1901,64 mL untuk BE dan 418,57 g untuk MM. Sementara itu, pada kendali gerak glide dengan bobot tetap, total penggunaan aktuator adalah 1967,52 mL untuk BE dan 449,61 g untuk MM. Tetapi, gerak glide dengan bobot adaptif memiliki performa penjejakan pitch yang sedikit lebih buruk, meskipun lebih baik pada penjejakan depth rate. Hal ini terlihat dari rata-rata galat pitch sebesar 1,785 derajat pada bobot adaptif, sedangkan pada bobot tetap sebesar 1,700 derajat. Sementara itu, galat depth rate pada bobot adaptif adalah 1,342 mm/detik, sedangkan pada bobot tetap sebesar 1,366 mm/detik. Pada gerak yaw, bobot adaptif menggunakan aktuator sebanyak 4,89 masukan thruster, sedangkan bobot tetap menggunakan 5,60 masukan thruster. sehingga, pada gerak yaw bobot adaptif unggul dalam efisiensi penggunaan aktuator. Tetapi, performa penjejakan yaw rate pada bobot adaptif lebih buruk dibandingkan bobot tetap. Rata-rata galat yaw rate pada bobot adaptif adalah 1,448 rad/detik, sedangkan pada bobot tetap sebesar 0,960 rad/detik. Hasil implementasi menunjukkan bahwa kendali MPC–ARX berkinerja baik pada gerak glide maupun yaw, dan mampu menjejaki referensi yang diberikan. Tetapi, ketidakpastian model menyebabkan MPC-ARX membatasi penggunaan aktuator. Kondisi ini terjadi karena data latih yang digunakan tidak sepenuhnya merepresentasikan dinamika sesungguhnya. Untuk mencegah pelanggaran batasan pada sistem nyata, MPC-ARX memilih solusi yang lebih konservatif dengan memanfaatkan aktuator di bawah kapasitas maksimum. Akibatnya, respon sistem menjadi lebih lambat. Perbandingan antara MPC-ARX dan PID menunjukkan bahwa MPC-ARX unggul dalam meredam overshoot, mengurangi galat serta lebih efisein terhadap penggunaan aktuator. Pada gerak yaw, MPC-ARX menghasilkan overshoot sebesar 0,11% dan galat sebesar 1,85%. MPC-ARX unggul 3,6 % efisien dalam penggunaan aktuator dibandingkan dengan PID. Sementara, PID unggul dalam kecepatan respons sistem, dengan rise time selama 2 detik.
PENGARUH BAKTERI INDIGENOUS TERHADAP RESPON FISIOLOGIS DAN PERTUMBUHAN BIBIT JATI PUTIH (GMELINA ARBOREA) DAN KALIANDRA (CALLIANDRA CALOTHYRSUS) PADA MEDIA TAILING TAMBANG EMAS
Revegetasi lahan pasca tambang tercemar tailing menggunakan tanaman toleran seperti Kalindra (Calliandra calothyrsus) dan Jati Putih (Gmelina arborea) seringkali terhambat oleh stres lingkungan akibat defisiensi hara dan toksisitas logam berat. Pemanfaatan bakteri indigenous dari lingkungan tailing merupakan strategi potensial untuk meningkatkan ketahanan dan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh isolat bakteri indigenous terhadap respons fisiologis dan pertumbuhan kedua spesies tanaman tersebut di media tanam tailing. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor yaitu jenis tanaman (G. arborea dan C. calothyrsus) dan perlakuan bakteri indigenous (kontrol dan dengan bakteri). Parameter yang diukur meliputi konsentrasi MDA, kadar klorofil dan karotenoid, tinggi, dan berat segar bibit. Data dianalisis dengan ANOVA dua arah. Hasil menunjukkan adanya pengaruh utama yang signifikan dari kedua faktor secara independen. Secara umum, perlakuan bakteri mampu menurunkan stres oksidatif (p = 0.032) dan meningkatkan berat segar (p = 0.020) bibit. Selain itu, C. calothyrsus secara konsisten menunjukkan performa lebih baik dengan tingkat stres lebih rendah (p = 0.045) dan pertumbuhan lebih unggul (p = 0.017) dibandingkan G. arborea. Tidak ditemukan adanya efek interaksi yang signifikan antara jenis tanaman dan perlakuan bakteri pada seluruh parameter yang diuji (p > 0.05), yang mengindikasikan bahwa manfaat bakteri bersifat konsisten pada kedua spesies.
OPTIMASI KONSENTRASI C DAN N DALAM MEDIUM M9 MINIMAL YANG DIMODFIKASI TERHADAP PEROLEHAN BIOMASSA ESCHERICHIA COLI BL21(DE3) UNTUK MENDUKUNG PRODUKSI EKTOIN DENGAN PENDEKATAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY
Ektoin merupakan compatible solute yang disintesis oleh bakteri sebagai respons terhadap tekanan osmotik tinggi, serta memiliki aplikasi luas di industri farmasi dan kosmetik karena kemampuannya dalam melindungi kulit dari dehidrasi dan paparan sinar UV. Umumnya, ektoin diproduksi oleh bakteri halofilik dan halotoleran, namun saat ini Escherichia coli rekombinan seperti BL21(DE3) lebih banyak digunakan karena memiliki waktu generasi yang cepat dan tidak memerlukan kondisi hipersalin, sehingga lebih menguntungkan untuk produksi skala industri. Escherichia coli BL21(DE3) merupakan bakteri rekombinan yang disisipkan dengan gen ectABC dari Virgibacillus salarius 19.PP.SC1.6. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan perolehan biomassa E. coli BL21(DE3) melalui penentuan konsentrasi karbon (C) dan nitrogen (N) yang optimal dalam medium M9 minimal yang dimodifikasi menggunakan pendekatan Response Surface Methodology dengan desain Box-Behnken Design (BBD), serta menentukan parameter kinetika pertumbuhan E. coli BL21(DE3) pada medium M9 minimal yang dimodifikasi dengan konsentrasi C dan N yang optimum. Sumber karbon yang digunakan adalah HFCS dengan variasi konsentrasi 1,56; 3,56; dan 5,56 g/L, sedangkan sumber nitrogen yang digunakan adalah amonium klorida (NH?Cl) dengan variasi 0,75; 1,00; dan 1,25 g/L. Laktosa digunakan sebagai agen penginduksi dengan konsentrasi akhir 5 g/L yang ditambahkan pada jam ke- 10. Proses kultivasi dilakukan dalam labu Erlenmeyer 1000 mL dengan volume kerja 500 mL pada suhu 37?°C, kecepatan agitasi 180 rpm, dan konsentrasi inokulum awal 10? CFU/mL menggunakan shaker incubator. Pengambilan sampel dilakukan setiap 2 jam selama 20 jam dengan parameter respon berupa berat biomassa kering dan konsumsi substrat. Kurva pertumbuhan E. coli BL21(DE3) pada medium M9 minimal yang dimodifikasi dengan sumber karbon glukosa menunjukkan laju pertumbuhan spesifik (?) sebesar 0,45 ?????????????1 dan waktu generasi (Gt) sebesar 1,53 jam. Sedangkan pada medium dengan sumber karbon HFCS, laju pertumbuhan spesifik sebesar 0,39 ?????????????1 dan waktu generasi 1,78 jam. Hasil analisis respon biomassa maksimum menunjukkan bahwa biomassa maksimum (>0,85 g/L) dicapai pada rentang konsentrasi karbon sekitar 3,0–6,0 g/L dan nitrogen 0,9–1,2 g/L pada waktu induksi 10 jam. Berdasarkan response optimizer, konsentrasi optimum karbon dan nitrogen adalah 4,55 g/L dan 1,06 g/L, dengan estimasi perolehan biomassa sebesar 0,896 g/L. Pada kondisi optimum tersebut diperoleh laju pertumbuhan spesifik (?) sebesar 0,23 jam?¹, waktu generasi 2,99 jam, dan biomassa maksimum sebesar 0,83 g/L dengan galat sebesar 7,33%. Yield biomassa terhadap substrat (YX/S) mencapai 0,43 g/g, dan diproduksi ektoin mencapai 0,49 g/L pada 48 jam setelah induksi.
OPTIMASI WAKTU INDUKSI DAN KONSENTRASI NITROGEN PADA PRODUKSI BIOMASSA ESCHERICHIA COLI BL21(DE3) PENGHASIL EKTOIN DALAM MEDIUM M9 YANG DIMODIFIKASI DENGAN PENDEKATAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY
Ektoin merupakan metabolit sekunder berupa asam amino siklik turunan aspartat yang berfungsi sebagai osmoprotektan dan banyak dimanfaatkan dalam industri kosmetik serta bioteknologi. Namun, produksi ektoin menggunakan bakteri halofilik memerlukan salinitas tinggi sehingga berpotensi merusak peralatan dan meningkatkan biaya operasional. Sebagai alternatif, Escherichia coli BL21(DE3) yang telah diinserikan gen biosintesis ektoin dari Virgibacillus salarius dapat digunakan untuk produksi ektoin tanpa memerlukan salinitas tinggi. Akumulasi biomassa berkorelasi positif terhadap produksi ektoin sehingga optimasi dapat dilakukan secara tidak langsung melalui peningkatan biomassa. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu induksi dan konsentrasi nitrogen yang optimum terhadap produksi biomassa E. coli BL21(DE3) dalam medium M9 yang dimodifikasi dengan sumber karbon high fructose corn syrup (HFCS) serta menentukan parameter kinetika pertumbuhannya. Penelitian ini diawali dengan pembuatan kurva pertumbuhan E. coli BL21(DE3) dan dilanjutkan dengan kultivasi untuk produksi ektoin. Kultivasi dilakukan menggunakan medium M9 yang dimodifikasi dengan sumber karbon HFCS dan sumber nitrogen NH4Cl dalam Erlenmeyer baffled 1000 mL pada suhu 37?°C dan 180 rpm dengan kepadatan inokulum 10? CFU/mL dan konsentrasi inokulum 10%. Analisis optimasi dilakukan menggunakan Response Surface Methodology dengan desain Box-Behnken yang mempertimbangkan tiga faktor, yaitu waktu induksi pada rentang 8 – 12 jam pasca inokulasi, konsentrasi nitrogen pada rentang 0,75 – 1,25 g/L, dan konsentrasi karbon pada nilai tetap 3,56 g/L. Induksi dilakukan menggunakan laktosa dengan konsentrasi akhir 5 g/L. Sampling dilakukan setiap dua jam sekali sebanyak 10 mL dengan respons yang dianalisis adalah berat biomassa kering maksimum. Kurva pertumbuhan E. coli dalam medium M9 menunjukkan bahwa sumber karbon glukosa menghasilkan generation time 1,53 jam dan laju pertumbuhan spesifik (?) 0,453 /jam, sedangkan HFCS menghasilkan generation time 1,77 jam dan ? sebesar 0,390 /jam. Hasil analisis RSM memiliki nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 75,92%. Rentang optimum untuk faktor konsentrasi nitrogen berada pada kisaranv 1–1,3 g/L dan untuk faktor waktu induksi adalah ?8 jam dan ?12 jam pasca inokulasi. Analisis lebih lanjut menggunakan response optimizer menunjukkan bahwa kondisi optimum diperoleh pada konsentrasi nitrogen sebesar 1,043 g/L dan waktu induksi 8 jam pasca inokulasi. Percobaan validasi pada kondisi ini menghasilkan biomassa maksimum sebesar 0,98 g/L, dengan laju pertumbuhan spesifik 0,28 /jam, waktu penggandaan 2,44 jam, serta Y?/? sebesar 0,29 g/g. Galat antara hasil validasi dan prediksi model adalah sebesar 3,96% yang mengindikasikan bahwa model memiliki tingkat keakuratan yang cukup baik.
DETEKSI MATERIAL LOGAM BERLAPIS BAJA-ALUMINIUM-BAJA DENGAN MENGGUNAKAN UJI TAK MERUSAK ULTRASONIK PADA DOMAIN WAKTU DAN FREKUENSI
Logam berlapis telah banyak digunakan dalam berbagai bidang industri yang produknya sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti misalnya kendaraan bermotor dan alat makan. Walau begitu, adanya teknologi logam berlapis juga membawa risiko bagi pengguna. Adanya teknologi ini memungkinkan penjual dan distributor yang tidak bertanggung jawab dapat melakukan penipuan material logam, dimana mereka dapat mengklaim bahwa suatu benda logam terbuat atas satu jenis logam murni, padahal sebenarnya benda tersebut dibuat dengan logam berlapis. Kasus penipuan ini tidak hanya dapat menghasilkan kerugian materi bagi pembeli, tetapi juga dapat memunculkan risiko keamanan jika material tersebut digunakan untuk konstruksi yang membutuhkan material dengan spesifikasi tertentu. Untuk menghadapi masalah ini, penelitian ini mencari metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi material-material berlapis dan membedakannya dengan material-material murni. Pendeteksian material ini dilakukan dengan mencari perbedaan-perbedaan hasil uji tak merusak (UTM) ultrasonik dari dua jenis material, yaitu 1 balok baja murni dan 1 balok sandwitch, yang disusun atas sebuah balok aluminium yang diapit oleh 2 buah balok baja murni. Perbedaan-perbedaan hasil UTM ultrasonik tersebut ditemukan dengan membandingkan grafik hasil UTM ultrasonik. Tidak hanya itu, hasil UTM ultrasonik juga diubah dari domain waktu ke domain frekuensi dengan fast Fourier transform (FFT) untuk melihat apakah domain hasil UTM ultrasonik mempengaruhi tingkat perbedaan yang terlihat pada grafik. Setelah grafik-grafik hasil pengukuran balok baja murni dan placeholder dibandingkan, ditemukan bahwa grafik UTM ultrasonik dalam domain waktu dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu material merupakan material murni atau berlapis. Hasil UTM ultrasonik juga diujikan menggunakan uji T untuk mengetahui titik-titik puncak sinyal manakah yang mengalami perbedaan paling signifikan antara hasil pengukuran balok murni dan placeholder, serta uji ANOVA untuk mengetahui pengaruh titik pengujian terhadap nilai amplitudo yang terukur. Hasil dari kedua pengukuran tersebut mengindikasikan bahwa perbedaan terbesar dapat dilihat pada titik puncak ke-4, ke-5 dan ke-6 tertinggi pada sinyal, serta bahwa titik pengukuran tidak mempengaruhi nilai amplitudo yang terukur.
PENINGKATAN KINERJA ISOLASI DAN TERMAL PADA BAHAN PELAPIS RTV KARET SILIKON DENGAN PENGISI NANO BORON NITRIDA DAN NANO ALUMINIUM OKSIDA UNTUK ISOLATOR TEGANGAN TINGGI PASANGAN LUAR
Isolator tegangan tinggi pasangan luar terekspos secara terus-menerus terhadap kelembapan, polusi, suhu tinggi, dan radiasi ultraviolet (UV) yang dapat meningkatkan konduktivitas permukaan, memperbesar arus bocor, serta menyebabkan flashover dan degradasi jangka panjang. Pelapis Room Temperature Vulcanized (RTV) silicone rubber (SiR) banyak digunakan untuk mengatasi permasalahan ini, namun mempertahankan kinerja isolasi di bawah paparan jangka panjang tetap menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kinerja RTV SiR dengan menambahkan nano boron nitrida (nBN) dan nano aluminium oksida (nAl2O3) sebagai bahan pengisi. Berbagai komposisi diuji untuk mengoptimalkan sifat dielektrik, termal, dan permukaan, dengan karakterisasi meliputi resistivitas permukaan, permitivitas relatif, faktor rugi dielektrik, hidrofobisitas, serta analisis TGA, SEM, dan TEM. Penambahan 2 wt% nAl2O3 dan 1 wt% nBN menunjukkan kinerja paling optimal dengan peningkatan stabilitas termal sekitar 20°C dibandingkan RTV SiR tanpa filler. Uji arus bocor pada isolator memperlihatkan bahwa pelapis nAl2O3/nBN menurunkan Irms dan THD hingga 7.48% pada kabut bersih dan 20.87% pada kabut garam, serta hingga 39.96% dan 71.26% dengan adanya polutan. Selain itu, penambahan 1 wt% nBN dan 2 wt% nAl2O3 meningkatkan tegangan flashover sebesar 75.1% dibandingkan isolator tanpa pelapis dan 40.5% dibandingkan isolator berpelapis RTV SiR tanpa filler. Hasil ini mengonfirmasi efektivitas nAl2O3 dan nBN dalam meningkatkan kinerja listrik, termal, dan permukaan RTV SiR sebagai material pelapis untuk isolator tegangan tinggi pasangan luar.
PERANCANGAN EXTERNAL HUMAN-MACHINE INTERACTION PADA AUTONOMOUS PERSONAL MOBILITY VEHICLE O-SEATER BERBASIS TRUST DAN ACCEPTANCE PEJALAN KAKI DENGAN METODE DESIGN THINKING
Indonesia memiliki sekitar 1,43% penyandang disabilitas, dengan gangguan mobilitas menjadi salah satu gangguan yang paling umum (2,88%). Gangguan mobilitas dapat disebabkan oleh faktor bawaan lahir, penyakit, usia, ataupun alasan lainnya. Karena itu, Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Autonomous Personal Mobility Vehicle (APMV) yang dinamakan SEATER, terdiri dari I-SEATER untuk indoor dan O- SEATER untuk outdoor. O-SEATER, sebagai prototipe AV level 4, menimbulkan ketidakpastian dan kekhawatiran dari pejalan kaki karena tingkat trust dan acceptance yang rendah sehingga dibutuhkan alat bantu untuk mencapai komunikasi ideal antara pejalan kaki dan APMV. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk mengevaluasi trust dan acceptance pejalan kaki terhadap O-SEATER dengan keluaran berupa rancangan external Human- Machine Interaction (eHMI) menggunakan metode design thinking yang efektif meningkatkan trust dan acceptance pejalan kaki terhadap APMV. Evaluasi trust dan acceptance terhadap APMV dilakukan melalui eksperimen dan penyebaran kuesioner. Eksperimen menggunakan APMV dengan kecepatan 5 km/jam dengan 14 skenario yang mengkombinasikan penyeberangan di jalan datar dan tanjakan, kondisi ada dan tidak ada penumpang, serta penyeberangan di depan dan belakang kendaraan. Terdapat 20 partisipan pada eksperimen terdiri dari 10 laki-laki dan 10 perempuan dengan rata-rata usia 20,80 tahun (± 1,91); tinggi badan 165,20 cm (± 10,92); dan berat badan 63,35 kg (± 17,15). Alat yang digunakan adalah eye tracker Pupil Core untuk mengukur trust berdasarkan gaze durations serta motion capture Neuron Perception 2 untuk menganalisis kecepatan dan keseimbangan partisipan. Perilaku partisipan direkam menggunakan kamera saat eksperimen. Partisipan melakukan retrospective thinking aloud (RTA) dan evaluasi subjektif yang dikuantifikasikan menggunakan visual analogue scale (VAS). Partisipan juga diminta mengisi kuesioner autonomous vehicle acceptance questionnaire for pedestrians (AVAQ-P) untuk menilai acceptance pejalan kaki terhadap APMV. Kuesioner terdiri dari 24 pertanyaan menggunakan skala Likert dari 1 (sangat tidak setuju) sampai 7 (sangat setuju) dan disebarkan secara daring kepada 254 responden. Penemuan pada penelitian ini adalah partisipan belum trust terhadap APMV. Gaze durations partisipan lebih besar ketika APMV tidak berpenumpang yang artinya partisipan tidak trust pada APMV sepenuhnya. Perilaku partisipan juga lebih berhati-hati ketika berinteraksi dengan APMV yang tidak berpenumpang. Hasil evaluasi subjektif menunjukkan bahwa 20% partisipan belum memahami intensi pergerakan APMV dan 35% merasa tidak aman saat berinteraksi dengan APMV. Penemuan ini juga didukung oleh hasil RTA, yaitu 80% partisipan merasa lebih aman ketika APMV berpenumpang. Hasil kuesioner AVAQ-P menunjukkan bahwa pejalan kaki cukup optimis untuk berinteraksi dengan APMV dengan rata-rata skor 4,82/7,00 tetapi masih dapat dikembangkan. Berdasarkan penemuan ini, dirancang solusi alat komunikasi berupa eHMI visual menggunakan indikator lampu dan LCD yang menunjukkan intensi pergerakan APMV. eHMI diharapkan dapat meningkatkan trust dan acceptance pejalan kaki terhadap APMV.
PERANCANGAN IN-VEHICLE INFORMATION DISPLAY PROTOTIPE KENDARAAN OTONOM " O-SEATER " MENGGUNAKAN METODE DESIGN THINKING
Pengembangan kendaraan otonom semakin relevan sebagai solusi mobilitas masa depan, khususnya dalam konteks personal mobility di area terbatas. O-Seater, sebagai prototipe kendaraan otonom perorangan yang dikembangkan BRIN, telah dilengkapi layar display namun belum memiliki rancangan tampilan informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Kurangnya informasi yang ditampilkan berisiko menghambat pemahaman pengguna terhadap perjalanan dan sistem otonom itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk merancang prototipe awal tampilan in-vehicle information display (IVID) berbasis kebutuhan informasi pengguna melalui pendekatan design thinking. Metode design thinking diterapkan melalui lima tahap utama. Pada tahap empathize, peneliti melibatkan 10 partisipan melalui simulasi pengalaman berkendara, observasi perilaku, dan wawancara semi-terstruktur untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi pengguna. Tahap define berisi penyusunan pernyataan masalah dan daftar kebutuhan final yang divalidasi melalui kuesioner penilaian prioritas. Pada tahap ideate, dilakukan perancangan struktur informasi dan pengembangan alternatif visualisasi menggunakan morphological chart, kemudian alternatif tersebut digabungkan menjadi tiga konsep tampilan. Konsep-konsep ini dievaluasi menggunakan metode concept scoring untuk menentukan konsep terbaik. Pada tahap prototype, dibuat rancangan non-interaktif dari konsep terpilih. Tahap test melibatkan partisipan yang sama untuk evaluasi menggunakan Net Promoter Score (NPS) dan feedback capture grid. Hasil tahap empathize berupa user journey map dan empathy map yang memetakan kebutuhan informasi pengguna. Pada tahap ideate, diperoleh tiga konsep tampilan dan terpilih konsep dengan kombinasi simbol dan teks sebagai desain akhir. Hasil prototipe yang dirancang berupa tampilan informasi yang terdiri dari indikator visual yang jelas mengenai status kendaraan, informasi rute, dan sistem otonom, dengan penggunaan kombinasi simbol dan teks untuk meningkatkan pemahaman pengguna. Evaluasi pada tahap test menunjukkan bahwa prototipe terpilih mendapat respons positif dari partisipan, disertai masukan untuk pengembangan selanjutnya.
PERANCANGAN PERBAIKAN PROSES BISNIS DEPARTEMEN PERENCANAAN PRODUKSI DAN PENGENDALIAN INVENTORI PADA CV SINAR BAJA ELECTRIC
CV Sinar Baja Electric, produsen speaker yang menerapkan batch processing dan menyediakan produk brand sendiri serta layanan Original Equipment Manufacturer (OEM) dan Original Design Manufacturer (ODM), berupaya meningkatkan daya saing melalui efisiensi. Ketepatan pemenuhan jadwal produksi yang belum mencapai target, sebagai hambatan utama perusahaan, salah satunya terjadi karena Departemen PPIC masih melakukan aktivitas tidak bernilai. Lebih daripada itu, perusahaan belum memiliki instrumen pengukuran efisiensi, sehingga kesulitan mengidentifikasi akar masalah dan mengambil keputusan perbaikan. Untuk itu dilakukan pemetaan dan perbaikan proses bisnis guna merumuskan proses usulan yang lebih efisien. Metodologi Model-based and Integrated Process Improvement (MIPI) digunakan untuk perbaikan proses bisnis. Pemahaman proses bisnis existing dilakukan dengan observasi singkat, wawancara dengan narasumber terpilih, serta studi dokumen perusahaan. Pemetaan proses bisnis menggunakan format Process Classification Framework (PCF). Evaluasi efisiensi proses bisnis via Value-Added Analysis (VAA) menunjukkan proporsi proses bisnis bersifat VA, BVA, dan NVA secara berturut-turut sebesar 11%, 53%, dan 36%. Diagram Pareto digunakan untuk menentukan proses bisnis kritis berdasarkan kelompok proses dengan NVA terbanyak. Perancangan proses bisnis usulan diberlakukan kepada proses bisnis kritis berdasarkan analisis pemborosan yang mencakup identifikasi pemborosan, penentuan akar masalah dengan kerangka kerja 6M, dan membuat usulan dengan systematic reengineering method yang lebih dikenal dengan ESIA. Perancangan juga dilakukan berdasarkan benchmarking dengan acuan Consumer Electronics PCF oleh American Productivity & Quality Center. Proses bisnis usulan dari kedua pendekatan menghasilkan proses bisnis perbaikan yang dipetakan dengan PCF dan matriks RACI. Proses bisnis perbaikan memiliki 9 NVA, berkurang seperempat dari proses bisnis existing yang memiliki 36. Proses bisnis usulan yang tidak memiliki klasifikasi nilai tambah terdapat 11 pada proses bisnis perbaikan. Proses bisnis perbaikan mengimplikasikan penyesuaian SOP, pengkajian sumber daya manusia, peningkatan sistem ERP, serta pertimbangan terhadap jaringan produksi serta strategi perusahaan dalam jangka panjang.
PERANCANGAN KORIDOR RAMAH LANSIA PADA KAWASAN BERORIENTASI TRANSIT LEBAK BULUS, JAKARTA
Transformasi demografis menuju pepulasi menua menjadi tantangan global, termasuk di Indonesia. Kawasan Berorientasi Transit (TOD) Lebak Bulus di Jakarta Selatan, sebagai kawasan gerbang selatan kota Jakarta yang strategis, menghadapi masalah aksesibilitas, integrasi antar moda transportasi yang belum optimal, dan ruang publik yang tidak inklusif bagi lansia. Perancangan ini bertujuan merancang koridor Jalan Pasar Jumat yang responsif terhadap kebutuhan lansia pada Kawasan Berorientasi Transit dengan pendekatan Age-Friendly Urban Design. Perancangan ini berfokus untuk menciptakan koridor yang mendukung mobilitas, interaksi sosial, dan kualitas hidup lansia melalui integrasi sistem transportasi dan ruang publik untuk lansia. Metode perancangan menggunakan pendekatan sinoptik melalui tahapan sistematis analisis data kualitatif dan observasi lapangan, sintesis, serta perumusan konsep desain yang mengintegrasikan prinsip-prinsip TOD dengan konsep kota ramah lansia. Kerangka analisis mencakup evaluasi kondisi eksisting, identifikasi kebutuhan spesifik lansia, dan pengembangan strategi desain terintegrasi. Studi ini mengembangkan prinsip-prinsip normatif kawasan berorintasi transit yang ramah lansia: lingkungan sosial aktif, kenyamanan sensori, aksesibilitas inklusif, kawasan campuran yang layak huni, serta infrastruktur yang aman dan terhubung. Pada konteks spesifik Kawasan Berorientasi (TOD) Lebak Bulus, implementasi prinsip-prinsip tersebut difokuskan pada tiga aspek: konektivitas tanpa hambatan antar moda transportasi, penyediaan ruang untuk interaksi sosial, serta pendekatan desain yang mendukung gaya hidup aktif lansia. Hasil perancangan menghasilkan koridor transit yang aksesibel, aman, dan mendukung mobilitas serta kualitas hidup lansia. Solusi desain tidak hanya mengatasi permasalahan teknis aksesibilitas, tetapi juga menciptakan lingkungan perkotaan yang inklusif bagi seluruh generasi. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa model TOD ramah lansia ini dapat menjadi acuan pengembangan kawasan transit di wilayah berorientasi transit Indonesia dengan karakteristik serupa.
EXPERIMENTAL VALIDATION AND MACHINE LEARNING OPTIMIZATION OF A BIOMIMETIC LATTICE CRASH BOX
Economic growth inevitably increases the number of vehicles and, consequently, accidents, making it essential to enhance vehicle safety by improving crashworthiness. The principle of biomimetics has been applied to the crash box structure and gave good results. This research designs a lattice crash box, optimized using machine learning and validated through LS-DYNA simulations and additive manufacturing experiments. The crash box structure will use twisted octet lattice structure. The lattice structure modeling is made with a height of 7.5 cm with a 2x2x2 configuration. The comparison between experimental validation and numerical results with a maximum error value of 6.05% with the load displacement, mean crushing force, and deformation shows a very similar result. The numerical simulations on the baseline model shows a SEA value of 17.52 kJ. Artificial neural network (ANN) was used as optimization processes with 100 samples and produced a mean absolute error value of 1.15%. Global sensitivity analysis (GSA) using the SHapley Additive exPlanations (SHAP) method reveals that the parameters with the greatest influence on SEA are the structure’s ratio. The Non-dominated Sorting Genetic Algorithm-II (NSGA-II) identified an optimal structure with a Ti-6Al-4V material, a ratio of 2, and a diameter of 3.25 mm. This design was predicted to achieve an SEA of 46.05 kJ/kg. Verification through simulation yielded an SEA of 47.47 kJ/kg, corresponding to a relative error of 3%. Compared to the baseline, the optimization achieved a 170.95% improvement in SEA.
ASSESSING THE EFFECTS OF FOREST TYPES ON CARBON SEQUESTRATION AND WATER PROVISION IN WEST SUMATRA PROVINCE, INDONESIA
Tropical forests provide a vital role in regulating ecosystem services by maintaining dynamic balance of hydrological and carbon cycles through carbon sequestration and water provision. However, these services are increasingly disrupted by deforestation, land use change, and climate variability. West Sumatra Province, Indonesia, represents this challenge, having lost significant forest cover over the past two decades, in parallel with rising CO? emissions and more than half of the province classified as low in water provision potential. This study assesses how different forest types influence carbon sequestration and water provision, evaluate the key driving factors, and analyse the interconnections between the two services in terms of synergies and trade-offs. The research applied a mixed methological framework using the Carnegie-Ames-Stanford Approach (CASA) model for quantifying carbon sequestration through Net Primary Productivity (NPP) of forest ecosystems and the InVEST Annual Water Yield model for estimating water provision. The analysis spanned the period of 2003–2023 and covered seven forest types: primary and secondary dryland forests, primary and secondary mangrove forests, primary and secondary swamp forests, and plantation forests. Results show forested areas declined by approximately 14% due to cropland and industrial plantation expansion alongside significant reduction of carbon sequestration reflected by NPP. Total carbon sequestration of forests peaked in 2008 but fell by 64% in 2013 and continued to decline, resulting in a deficit of 11 million tons of CO? sequestration required to balance emissions in 2023 which equivalent to around 8.7 km² of plantation forests. Conversely, water provision remained relatively stable with only minor fluctuations which interpreted to a weak relationship with changes in carbon sequestration. Although no outright water shortages were identified, water availability was only moderate in dryland forests as the largest occupancy. Correlation analyses identified solar radiation and photosynthetically active radiation as the principal determinants of carbon sequestration, while precipitation and reference evapotranspiration most strongly influenced water provision. The findings also indicated that climate conditions had the greatest impact on carbon sequestration, but forest type was the primary factor of water provision. Swamp and mangrove forests provided the greatest synergiesiii demonstrating high efficiency in both carbon sequestration and water provision, but the productivity level declined over time as the impact of deforestation. Plantation forests were effective in sequestering carbon but limited in providing water provision reflecting their high-water demand. Dryland forests, while spatially dominant, had low potential on both services for the primary forest and only supported to water provision for the secondary forest. Therefore, forest management strategies should be developed to optimize both carbon sequestration and water provision by considering site-specific characteristics, species composition, and management practices.
REDESIGN AND MANUFACTURING OF A LOW-COST TRANSRADIAL BIONIC HAND WITH AN UNDERACTUATED MECHANISM
This study presents the redesign and optimization of a low-cost underactuated transradial bionic hand using a whiffle tree mechanism. The goal is to improve finger synchronization and grasping dexterity without increasing system complexity or cost. Experimental characterization revealed significant differences in activation force and displacement among fingers, necessitating non-uniform load distribution. Using CAD modeling and Simulink Simscape simulation, multiple design iterations were evaluated through parameter estimation. The seventh test configuration achieved the most natural and dexterous motion, enabling a realistic spherical grip. It featured a 0.86 mm extension of the right vertical bar and an 8.84 mm extension of the left vertical bar, which allowed all four fingers to actuate smoothly and wrap around objects with improved contact. The design successfully grasped a pen and a half-filled water bottle, demonstrating enhanced functionality compared to prior designs. Although the optimized geometry reduced compatibility with the original locking mechanism, it significantly improved grasping performance. The results confirm that targeted geometric optimization can enhance the dexterity of affordable prosthetic hands, offering a viable path toward accessible and functional bionic solutions.
PERANCANGAN FASILITAS WISATA EDUKASI MINAT KHUSUS MENGENAI SITUS CAGAR BUDAYA GUNUNG PADANG DENGAN PENDEKATAN EDU-TOURISM
Situs Cagar Budaya Gunung Padang merupakan sebuah situs arkeologis berupa punden berundak yang terbentuk dari susunan balok batuan. Sampai saat ini, Situs Cagar Budaya Gunung Padang yang berlokasi di Kabupaten Cianjur ini telah menjadi objek wisata terkenal. Terdapat permasalahan seperti kerusakan pada situs, sehingga pemerintah berencana untuk menutup situs sebagai objek wisata dan merancang fasilitas wisata baru yaitu Proyek Megalitikum Gunung Padang. Namun, sayangnya proyek tersebut tidak berlanjut dan terbengkalai sampai saat ini. Hal ini mengakibatkan dibutuhkannya fasilitas wisata yang terkonsep dengan tepat untuk menanggapi permasalahan pada Situs Cagar Budaya Gunung Padang dibandingkan proyek pemerintah. Tesis ini berfokus untuk mensimulasikan rancangan dari sebuah fasilitas wisata edukasi minat khusus yang dapat merespons keberadaan Situs Cagar Budaya Gunung Padang, serta menghadirkan alternatif konseptual dari Proyek Megalitikum Gunung Padang. Pembelajaran mengenai cagar budaya, fasilitas wisata edukasi minat khusus, pendekatan Edu-tourism yang didukung teori Multi-sensory Architecture serta teori Eco-cultural, serta 15 studi preseden dilakukan untuk menghasilkan kriteria perancangan yang sesuai dengan fokus kasus. Pada tesis perancangan ini terdapat dua belas kriteria perancangan yang terkelompok menjadi tiga, yaitu kelompok kriteria perancangan dengan pendekatan Edu-tourism, teori Multi-sensory Architecture, dan teori Eco-cultural. Keseluruhan kriteria tersebut kemudian diimplementasikan dalam dua skala konsep, yaitu (1) Konsep Perancangan Tapak: zonasi tapak, sirkulasi tapak, lanskap tapak, dan pengolahan kontur tapak; dan (2) Konsep Perancangan Bangunan: massa bangunan, zonasi bangunan, sirkulasi bangunan, struktur dan material bangunan, serta sistem dan utilitas bangunan. Terdapat juga Konsep Perancangan Alur Wisata yang dirancang agar tersedianya atraksi yang menjadi daya tarik utama pada rancangan. Tesis ini dapat berkontribusi pada perancangan dan pengembangan fasilitas wisata, khususnya wisata berbasis edukasi minat khusus yang memiliki fokus topik. Kontribusi tesis perancangan ini terletak pada berbagai studi dan analisis yang dilakukan, serta kriteria perancangan yang telah dirumuskan.