πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

ANALISIS PENGARUH KEGIATAN PENAMBANGAN NIKEL TERHADAP PERUBAHAN MUKA AIRTANAH PT XYZ, MALUKU UTARA

Aktivitas penambangan nikel dengan metode tambang terbuka di PT XYZ, Maluku Utara, berpotensi menimbulkan perubahan pada sistem airtanah lokal, khususnya pada muka airtanah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan muka airtanah akibat penambangan serta memprediksi debit air yang masuk ke pit. Metode yang digunakan adalah pemodelan airtanah dengan perangkat lunak Visual MODFLOW Classic, melakukan analisis kondisi steady-state pada fase sebelum penambangan dan kondisi transient setelah penambangan. Data penelitian meliputi topografi, litologi, parameter hidrolik, muka airtanah, curah hujan, dan data sungai yang diperoleh dari penelitian PT XYZ serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi muka airtanah sebelum penambangan dalam keadaan steady-state memperoleh koefisien korelasi 0,971 dengan Normalized RMS 12,393%, mengindikasikan bahwa model dapat merepresentasikan pola aliran airtanah dengan baik. Pada kondisi setelah penambangan, terjadi penurunan muka airtanah maksimum sekitar 9 meter disertai dengan pergeseran pola aliran akibat peningkatan gradien hidrolik. Debit airtanah yang masuk ke dalam pit mencapai nilai tertinggi pada tahun pertama operasi sebesar 6 L/s untuk Pit A dan 3 L/s untuk Pit B, kemudian mengalami penurunan seiring berjalannya waktu akibat proses adaptasi sistem akuifer.

2025
πŸ‘€ Penulis: Raihan Nashwan Maulana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMODELAN AIRTANAH MENGGUNAKAN METODE FINITE DIFFERENCE PADA TAMBANG TERBUKA BATUBARA PT XYZ DI KALIMANTAN TENGAH

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrogeologi pada area tambang batubara PT XYZ yang berlokasi di Kalimantan Tengah serta mengevaluasi dampak kegiatan penambangan terhadap sistem aquifer setempat. Metode yang digunakan adalah pemodelan aliran airtanah berbasis finite difference dengan perangkat lunak Visual MODFLOW, yang memungkinkan simulasi spasial dan temporal terhadap distribusi muka airtanah. Parameter utama yang dimasukkan dalam model meliputi sungai, recharge dan evapotranspirasi, selain parameter fisik aquifer seperti porositas, storativitas, dan konduktivitas hidraulik. Hasil simulasi menunjukkan bahwa aktivitas penambangan berpotensi menurunkan muka airtanah (drawdown) di sekitar area void serta memengaruhi arah aliran airtanah menuju zona bukaan tambang. Kondisi ini dapat berdampak pada ketersediaan airtanah bagi lingkungan sekitar dan meningkatkan risiko perubahan kualitas air. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perusahaan dalam merumuskan strategi pengelolaan airtanah yang lebih berkelanjutan, baik untuk mendukung operasi tambang maupun menjaga kelestarian lingkungan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Nanang Wahyu Aldiansyah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Risiko Lingkungan 🏷️ Pemodelan Airtanah

PEREDAMAN GELOMBANG OLEH PEMECAH GELOMBANG BERPORI TERENDAM

Wilayah pesisir memiliki peranan vital bagi aktivitas manusia, namun sangat rentan terhadap erosi yang mengancam keberlanjutan lingkungan. Salah satu pendekatan mitigasi yang banyak digunakan adalah pemecah gelombang, termasuk jenis berpori terendam. Studi ini mengkaji pengaruh pemecah gelombang berpori terendam melalui pendekatan analitik dan numerik. Kajian analitik dilakukan dengan menggunakan model berbasis teori potensial dan diselesaikan melalui metode separasi variabel. Sementara itu, kajian numerik memanfaatkan persamaan air dangkal yang dimodifikasi dengan penambahan gaya gesek dan porositas, kemudian diselesaikan menggunakan metode volume hingga pada grid setengahan. Untuk memastikan akurasi, koefisien gesek pada model numerik diaproksimasi dari solusi analitik dengan bantuan algoritma genetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa porositas, tinggi, dan lebar pemecah gelombang, serta koefisien gesek, memberikan pengaruh signifikan terhadap koefisien transmisi gelombang (Kt). Simulasi numerik menghasilkan nilai Kt yang sangat mendekati solusi analitik dengan koefisien determinasi (R2) tinggi. Selain itu, pendekatan empiris untuk koefisien gesek terbukti mampu memberikan estimasi yang akurat terhadap solusi analitik. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan koefisien gesek, lebar, dan tinggi pemecah gelombang menurunkan nilai Kt, sehingga meningkatkan redaman gelombang, sementara peningkatan porositas justru menaikkan Kt. Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting bagi perancangan pemecah gelombang berpori yang optimal guna mendukung perlindungan pesisir berkelanjutan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Albert Hosea
🏷️ Analisis Geologi 🏷️ Optimisasi Pemecah Gelombang Berpori Terendam 🏷️ Model Numerik Air Dangkal

JARINGAN SARAF BUATAN DARI REPRESENTASI KUIVER

Jaringan saraf buatan adalah bentuk khusus dari representasi suatu kuiver jaringan. Dengan konsep morfisma representasi kuiver dapat didefinisikan konsep morfisma jaringan saraf buatan. Dengan morfisma jaringan saraf buatan, dapat didefinisikan isomorfisma jaringan saraf buatan sehingga dapat didefinisikan jaringan saraf buatan yang isomorfik. Jaringan-jaringan saraf buatan yang saling isomorfik dapat membentuk kelas ekivalen dengan relasi ekivalen isomorfik. Himpunan kelas-kelas ekivalen ini akan disebut sebagai ruang moduli. Dalam disertasi ini telah dibuktikan bahwa jaringan saraf buatan yang isomorfik adalah syarat cukup untuk mengatakan bahwa jaringan saraf buatan tersebut memiliki fungsi jaringan saraf buatan yang sama. Dalam disertasi ini juga dikaji tentang sifat-sifat dari grup perubahan basis ruang moduli yang terbentuk. Lebih lanjut, dihitung juga dimensi dari ruang moduli yang terbentuk. Dari perhitungan dimensi tersebut diperoleh pemetaan yang disebut teleportasi titik saraf untuk mengurangi kompleksitas algoritma jaringan saraf buatan. Hasil lainnya berupa dimensi ruang moduli serta perhitungan untuk jaringan saraf buatan rekursif.

2025
πŸ‘€ Penulis: Lucky Cahya Wanditra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Representasi Kuiver 🏷️ Teleportasi Titik Saraf

TEORI GRUP DAN KUBUS RUBIK

Tugas akhir ini akan mempelajari Kubus Rubik dari sisi teori grup, yaitu melihat gerakan dan konfigurasi Kubus Rubik sebagai elemen dari suatu grup. Dengan teori grup juga kita bisa menyelesaikan Kubus Rubik.

2025
πŸ‘€ Penulis: Okta Pratama
🏷️ Teori Grup 🏷️ Kubus Rubik

OPTIMASI KONSENTRASI KARBON DAN WAKTU INDUKSI TERHADAP PRODUKSI BIOMASSA E. COLI BL21(DE3) PENGHASIL EKTOIN PADA MEDIUM M9 YANG DIMODIFIKASI DENGAN PENDEKATAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY

Ektoin adalah senyawa bernilai tinggi yang banyak digunakan dalam industri farmasi dan kosmetik karena kemampuannya melindungi sel dari stres lingkungan. Produksi ektoin dilakukan menggunakan Escherichia coli BL21(DE3) yang telah diinsersi dengan gen ekspresi ektoin (ectABC) dari Virgibacillus salarius. Upaya mengurangi biaya produksi dilakukan dengan menggunakan medium minimal M9 yang disuplementasi dengan high fructose corn syrup sebagai sumber karbon alternatif dan NH4Cl sebagai sumber nitrogen, serta laktosa sebagai agen penginduksi. Dengan asumsi bahwa peningkatan biomassa berkorelasi positif dengan peningkatan produksi ektoin, maka optimasi biomassa dapat merepresentasikan optimasi produksi ektoin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi karbon dan waktu induksi optimum untuk produksi biomassa Escherichia coli BL21(DE3), serta kinetika pertumbuhan pada kondisi optimum dari Escherichia coli BL21(DE3) melalui response surface methodology dengan desain Box-Behnken. Faktor yang digunakan pada percobaan ini yaitu konsentrasi karbon (1,56 – 5,56 g/L) dan waktu induksi (jam ke-8 hingga jam ke-12), dengan konsentrasi nitrogen tetap pada 1 g/L. Respon yang diamati pada penelitian ini yaitu biomassa maksimum dari Escherichia coli BL21(DE3). Penelitian diawali dengan pembuatan kurva tumbuh Escherichia coli BL21(DE3), dilanjutkan dengan kultivasi menggunakan variasi parameter sesuai desain percobaan. Kultivasi dilakukan dalam baffled flask berkapasitas 1000 mL dengan volume kerja 500 mL, kepadatan inokulum 106 CFU/mL, konsentrasi inokulum 10% (v/v), suhu 37?, dan agitasi 180 rpm dengan total waktu fermentasi hingga 48 jam setelah waktu induksi. Konsentrasi akhir laktosa untuk induksi adalah 5 g/L. Kurva pertumbuhan Escherichia coli BL21(DE3) pada sumber karbon glukosa memiliki laju pertumbuhan spesifik 0,453 jam-1 dan generation time 1,53 jam, sedangkan Escherichia coli BL21(DE3) pada sumber karbon high fructose corn syrup memiliki laju pertumbuhan spesifik 0,390/jam dan generation time 1,777 jam. Hasil analisis respon biomassa maksimum menunjukkan model yang signifikan (p-value <0,05) dengan R2 = 75,92%. Kondisi optimum untuk respon biomassa maksimum berada pada rentang 4 – 5,5 g/L pada waktu induksi jam ke-8. Validasi eksperimental dilakukan pada kondisi optimum untuk respon biomassa maksimum (konsentrasi karbon 5,196 g/L dan waktu induksi jam ke-8) menghasilkan laju pertumbuhan spesifik 0,239 jam-1 dan generation time 2,904 jam, dengan Yx/s senilai 0,423 g/g. Biomassa maksimum yang diperoleh senilai 0,98 g/L dengan galat sebesar 9,69% menunjukkan keakuratan model yang baik.

2025
πŸ‘€ Penulis: Shela Abigail Wardhani
🏷️ Optimisasi Proses Biokatalitik 🏷️ Kontrol Karbon Dan Nitrogen Dalam Media Fermentasi 🏷️ Kinematika Pertumbuhan Escherichia Coli Bl21(De3)

DEVELOPING AUTOMATION AND SYSTEM INTEGRATION FOR THE WEIGHING PROCESS AND DOCUMENTATION OF COAL SHIPMENTS UNDER THE FOBMV METHOD AT PT XYZ

Penelitian ini mengkaji dokumentasi pengiriman batubara di PT XYZ, sebuah perusahaan tambang milik negara, melalui metode Free on Board Mother Vessel (FOBMV). Proses penimbangan masih bergantung pada tiga sistem terpisah, Weighbridge Application (WBA), Internal Application System (IAS), dan External Verification Application (EVA), yang tidak terintegrasi serta mengandalkan input manual. Kondisi ini menimbulkan masalah berulang berupa ketidakakuratan data, inefisiensi proses, dan beban kerja berlebih, sehingga menghambat kelancaran operasi dan memperlambat pengambilan keputusan manajerial. Pendekatan mixed-method digunakan dengan menggabungkan wawancara dan observasi lapangan serta analisis kuantitatif melalui indikator seperti Tingkat kesalahan (error rate), Process Cycle Efficiency (PCE), dan Full-Time Equivalent (FTE). Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesalahan rata-rata 0,65%, 79% waktu siklus terserap oleh aktivitas non-value-added, serta kebutuhan tiga operator untuk mencapai target harian. Analisis akar masalah menegaskan bahwa penyebab utama berasal dari input manual dan ketiadaan integrasi sistem. Solusi yang diajukan, dikembangkan melalui pendekatan User-Centered Design (UCD), meliputi penerapan Radio Frequency Identification (RFID) untuk identifikasi dump truck, pembuatan Delivery Order (DO) otomatis, serta dokumen Surat Jalan Batubara (SJB) dengan kode QR. Integrasi melalui pemindaian QR di IAS dan mirroring basis data ke EVA menempatkan WBA sebagai sumber data tunggal (single source of truth). Implementasi solusi menghasilkan penurunan error sebesar 86%, peningkatan efisiensi empat kali lipat, serta pengurangan workload hingga 80%, sehingga memperkuat keandalan operasional di industri pertambangan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Faris Zharfan Arli
🏷️ Pertambangan 🏷️ Integrasi Sistem 🏷️ Kecerdasan Buatan

DESIGNING A REAL-TIME TKDN MONITORING DASHBOARD CONCEPT AS A DECISION SUPPORT SYSTEM ALIGNED WITH AKHLAK VALUES AT PT BUKIT ASAM

Peningkatan penekanan terhadap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam kebijakan pengadaan nasional menimbulkan kebutuhan mendesak akan sistem pelaporan yang akurat dan transparan di BUMN, termasuk PTBA. Proses pelaporan saat ini masih manual dan terfragmentasi, sehingga rawan inakurasi, inefisiensi, dan menurunnya akuntabilitas. Kondisi ini menegaskan pentingnya mekanisme pemantauan digital yang mampu mengintegrasikan data pengadaan sekaligus mendukung pengambilan keputusan etis berlandaskan nilai AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif). Penelitian ini berangkat dari proposisi bahwa dashboard terintegrasi, yang dikembangkan sebagai Decision Support System, dapat mengatasi keterbatasan pendekatan manual. Tahapan penelitian meliputi analisis kondisi eksisting, eksplorasi kebutuhan pemangku kepentingan terkait fitur visualisasi, aksesibilitas, dan transparansi, serta perumusan rancangan mock-up dashboard real-time berbasis User-Centered Design. Pendekatan ini memastikan bahwa rancangan sistem selaras dengan konteks kerja, kebutuhan aktual pengguna, serta prinsip tata kelola organisasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara semiterstruktur, observasi partisipatif, dan telaah dokumen. Analisis tematik diterapkan untuk mengidentifikasi kebutuhan sistem, yang kemudian dituangkan dalam desain mock-up. Hasil rancangan menunjukkan bagaimana integrasi dan visualisasi realtime dapat meningkatkan efisiensi pemantauan, mengurangi risiko human error, dan memperkuat penerapan nilai AKHLAK dalam proses pengadaan. Penelitian ini diharapkan membuktikan bahwa dashboard TKDN real-time tidak hanya meningkatkan akurasi dan ketepatan waktu pelaporan, tetapi juga mendukung tata kelola pengadaan yang transparan, kolaboratif, dan berbasis data. Secara akademis, penelitian ini memperluas penerapan Decision Support System di sektor pertambangan dengan menambahkan kontribusi penting dari prinsip UserCentered Design serta integrasi nilai etika perusahaan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Tania Citra Sarendra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KARAKTERISTIK BATUAN INDUK DAN PEMODELAN CEKUNGAN DI LAPANGAN NORTH AMAN, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH

Cekungan Sumatra Tengah merupakan cekungan dengan tipe belakang busur yang berada di sepanjang Sundaland bagian depan. Cekungan ini merupakan salah satu cekungan aktif, produktif, memiliki dua lapangan besar yaitu lapangan Minas dan Duri yang menyumbangkan 12 miliar barel minyak setara dengan 52% dari produksi total minyak di Indonesia. Sekarang ini, menjadi tantangan yang lebih berat untuk eksplorasi hidrokarbon karena kandungan hidrokarbon pada reservoir Cekungan Sumatra Tengah terus berkurang. Untuk itu, dibutuhkan konsep eksplorasi minyak dan gas bumi yang dapat mengenali karakteristik batuan induk sehingga dapat mengetahui persebaran dari hidrokarbon. Salah satu aspek yang sangat penting untuk memahami hal ini adalah membuat pemodelan cekungan terbaru sehingga dapat mengetahui persebaran dari hidrokarbon. Tujuan dari penelitian ini diantaranya mengevaluasi karakteristik batuan induk, merekonstruksi sejarah pengendapan, evolusi termal, dan generasi hidrokarbon serta menganalisa dan mengidentifikasi waktu kematangan, migrasi, dan ekspulsi batuan induk. Tahapan penelitian meliputi tahap persiapan dan studi literatur, pengumpulan data, analisis dan interpretasi data. Data yang digunakan terbagi menjadi dua yaitu data primer dan sekunder. Data primer yang digunakan adalah data geokimia yang terdiri atas Total Organic Carbon (TOC), pirolisis batuan, dan reflektansi vitrinit. Data geologi yaitu log talikawat. Data sekunder yang digunakan berupa data geofisika berupa seismik 2D. Analisis data geokimia yang terdiri atas Total Organic Carbon (TOC), pirolisis batuan, dan reflektansi vitrinit akan menghasilkan karakteristik pada batuan induk yang terdiri atas kekayaan batuan induk, temperatur maksimum dalam menghasilkan hidrokarbon, dan kematangan. Analisis data geologi yang terdiri atas data log gamma ray bertujuan untuk mengetahui jenis litologi, log densitas bertujuan untuk mengetahui densitas batuan, dan log sonic untuk mengetahui porositas batuan. Data seismik 2D yang digunakan bertujuan untuk mengetahui batas formasi, kedalaman asli, dan kehadiran struktur geologi pada daerah penelitian. Setelah semua data telah dianalisis dan diinterpretasi, pemodelan cekungan 1D dilakukan untuk mengetahui sejarah pemendaman daerah penelitian. Data yang diperlukan untuk pemodelan cekungan 1D adalah data geokimia dan geologi. Selanjutnya pemodelan cekungan 2D juga dilakukan untuk mengetahui kematangan batuan induk secara lateral. Data yang diperlukan untuk pemodelan cekungan 2D adalah data geokimia, geologi, dan geofisika. Evaluasi batuan induk dilakukan pada Formasi Lower Red Bed dan Formasi Brown Shale. Hasil evaluasi batuan induk pada Sumur A menunjukkan bahwa Formasi Lower Red Bed masuk ke dalam kategori luar biasa (14.38 – 63.8 wt%) dengan tipe kerogen I – III. Untuk Formasi Brown Shale dibagi menjadi dua yaitu Formasi Brown Shale Batubara dengan kualitas luar biasa (17.19 – 55.42 wt%) dengan tipe kerogen II – III dan Formasi Brown Shale dengan kualitas baik – baik sekali (1.32 – 4 wt%) dengan tipe kerogen I – III. Batuan induk Sumur B menunjukkan bahwa Formasi Lower Red Bed masuk ke dalam kategori baik – baik sekali (1.33 – 3.16 wt%) dengan tipe kerogen II – III, Formasi Brown Shale Batubara masuk ke dalam kategori baik sekali (2.29 – 3.16 wt%) dengan tipe kerogen II – III, dan Formasi Brown Shale baik sekali (2.6 – 2.71 wt%) dengan tipe kerogen II – III. Tingkat kematangan Sumur A Formasi Lower Red Bed menunjukkan awal matang (435 – 444?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.94 – 0.95%). Sedangkan Formasi Brown Shale Batubara menunjukkan awal matang (435 – 437?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.92 – 0.96%) dan Formasi Brown Shale menunjukkan awal – akhir matang (446 – 456?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.64 – 1.01). Untuk Formasi Lower Red Bed Sumur B menunjukkan tingkat kematangan belum – awal matang (413 – 447?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.55 – 1.15%). Formasi Brown Shale Batubara menunjukkan tingkat kematangan belum – awal matang (434 – 449?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.64 – 0.67%) Sedangkan untuk Formasi Brown Shale menunjukkan tingkat kematangan awal matang (446?C) dengan potensi menghasilkan minyak (0.57%). Analisis pemodelan cekungan 1D pada Sumur A menunjukkan bahwa batuan induk telah memasuki jendela minyak pada tahap akhir. Generasi hidrokarbon diperkirakan telah berlangsung sejak Miosen Tengah (14.25 juta tahun lalu) dan mengalami ekspulsi pada Pleistosen. Sedangkan untuk Sumur B menunjukkan bahwa batuan induk telah memasuki jendela minyak pada tahap akhir. Generasi hidrokarbon diperkirakan telah berlangsung sejak Miosen Tengah (15.49 juta tahun lalu) dan mengalami ekspulsi pada Pleistosen untuk Formasi Lower Red Bed. Sama halnya dengan pemodelan cekungan 1D, pemodelan cekungan 2D menunjukkan bahwa batuan induk daerah penelitian telah memasuki jendela minyak pada tahap akhir (late oil). Migrasi hidrokarbon menunjukkan bahwa hidrokarbon daerah penelitian mengalami migrasi lebih ke arah vertikal dan mengalami akumulasi pada Formasi Bangko.

2025
πŸ‘€ Penulis: Abdullah Azam
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT BERKELANJUTAN BERBASIS MULTIDIMENSI DI KELOMPOK TANI HUTAN, KECAMATAN CUGENANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT

Hutan rakyat memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan ekologis, ekonomi, dan sosial masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Sebagian petani hutan tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) yang mengelola usaha di bidang kehutanan, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Namun, rendahnya produktivitas, lemahnya kelembagaan, dan terbatasnya adopsi teknologi masih menjadi kendala dalam mewujudkan pengelolaan hutan rakyat yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat keberlanjutan pengelolaan hutan rakyat berbasis multidimensi di tingkat KTH serta merumuskan strategi pengelolaan yang berkelanjutan berdasarkan atribut pengungkit pada masing-masing dimensi, yaitu ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan teknologi. Penelitian dilakukan di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dengan fokus pada KTH. Data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner, wawancara mendalam, dan studi literatur, dengan jumlah responden sebanyak 50 orang yang diperoleh melalui metode convenience sampling. Analisis data menggunakan metode Multiaspect Sustainability Analysis (MSA) dengan bantuan perangkat ExSimPro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan pengelolaan hutan rakyat berada pada kategori rendah hingga sedang, dengan skor ekologi (40,00), ekonomi (28,13), sosial (40,00), kelembagaan (58,33), dan teknologi (20,00). Berdasarkan analisis leverage, diperoleh 15 atribut pengungkit yang selanjutnya dianalisis menggunakan gap analysis sehingga dirumuskan tujuh strategi utama penguatan keberlanjutan, yaitu: (1) penguatan sistem tanam atau silvikultur adaptif-konservatif sesuai kondisi lokal, (2) diversifikasi dan intensifikasi komoditas hutan rakyat berbasis potensi lokal, (3) penguatan posisi ekonomi petani melalui hilirisasi dan peningkatan nilai tambah, (4) revitalisasi peran kelembagaan KTH yang inklusif dan representatif, (5) peningkatan literasi dan kesadaran masyarakat terhadap hutan lestari, (6) penguatan kapasitas pembiayaan kelembagaan melalui akses modal mikro dan tata kelola keuangan, dan (7) modernisasi teknologi budidaya serta sistem pencatatan usaha hutan rakyat. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan integratif dalam merancang strategi pengelolaan hutan rakyat yang berkelanjutan di tingkat lokal. .

2025
πŸ‘€ Penulis: Najwa Diwanty Tasyabita
🏷️ Kehutanan Rakyat 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Hutan 🏷️ Analisis Multidimensi

OPTIMALISASI SISTEM INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA (IPLT) DURI KOSAMBI, DAERAH KHUSUS JAKARTA. BUKU DETAIL II: OPTIMALISASI SISTEM PENGOLAHAN IPLT UNIT II

Pengolahan lumpur tinja merupakan bagian integral dari pengelolaan sanitasi yang penting untuk secara terus menerus mendapat perhatian khusus dari negara. Dalam perkembangannya, suatu keniscayaan bahwa sebuah instalasi pengolahan lumpur tinja harus terus mengalami optimalisasi dan pengembangan sistem agar mampu menjawab tantangan zaman dan melaksanakan fungsi untuk melakukan pengolahan lumpur tinja yang terus meningkat jumlah timbulannya. Rata-rata debit harian yang masuk ke sistem pengolahan IPLT unit II sebesar 113,185 mΒ³/hari dari debit kapasitas perencanaan sistem pengolahan IPLT Unit II sebesar 300 mΒ³/hari (37,7%). Berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan, parameter TSS dan coliform pada efluen IPLT belum memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan. Oleh karena itu, perlu adanya optimalisasi sistem pengolahan IPLT unit II. Konfigurasi unit IPLT terpilih mengalami penambahan unit berupa bak penerima dengan saringan, gravity thickener, dan disinfeksi. Sedangkan untuk perbaikan unit dilakukan pada kolam anaerobik, kolam fakultatif, dan kolam maturasi. RAB CAPEX dan OPEX optimalisasi sistem pengolahan IPLT unit II sebesar Rp1.022.034.425 dan Rp933,777,488 per tahun. Nilai NPV sebesar Rp18,626,041,087 dan BCR sebesar 1.2096. Berdasarkan hasil tersebut, maka optimalisasi IPLT Duri Kosambi ini dikatakan layak diterima secara finansial.

2025
πŸ‘€ Penulis: Artanti Mirta Kusuma
🏷️ Optimalisasi Sistem Pengolahan Lumper Tinja 🏷️ Analisis Manajemen Rantai Pasok Sanitasi 🏷️ Efluen Lumpur Tinja

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA SEISMIK DINDING GESER BERANGKAI DENGAN REPLACEABLE COUPLING BEAM (RCB) DAN BALOK PERANGKAI TULANGAN DIAGONAL PADA STRUKTUR 12 LANTAI

Seiring berkembangnya teknologi, telah banyak diajukan konsep desain dinding berangkai yang ramah lingkungan, dalam artian mudah dan murah untuk diperbaiki setelah terjadi kerusakan pada elemen strukturalnya. Salah satunya adalah konsep penggunaan replaceable coupling beam (RCB) yang terbuat dari baja struktural. Studi ini bertujuan untuk membandingkan performa seismik dinding geser berangkai beton bertulang dengan balok perangkai beton bertulang yang ditulangi secara diagonal (diagonally reinforced coupling beam, DCB) dan RCB. Dua buah model matematik 3D yang merepresentasikan gedung 12 lantai di Jakarta dengan kelas situs tanah sedang (SD) dikembangkan menggunakan bantuan perangkat lunak CSI ETABS v.22.6 sebagai objek studi. Dinding geser berangkai yang dimuat pada arah-X masing-masing bangunan menggunakan sistem ganda β€œreinforced concrete ductile coupled walls” (RC-DCW) ASCE 7-22 dan β€œdinding geser baja dan beton komposit khusus” (hybrid coupled shear wall, HCW) SNI 1726:2019. Desain preskriptif model menggunakan metode analisis spektrum respons ragam SNI 1726:2019 dan evaluasi nonlinear model menggunakan metode nonlinear static procedure (NSP) ASCE 41-17. Elemen struktural didesain berdasarkan ACI 318-19 dan AISC 341-22. DCB didesain untuk mencukupi kebutuhan gaya geser ultimit pada level gempa desain. RCB yang tersusun dari dua elemen penting, yaitu link yang terkontrol geser dan embedded beam didesain menggunakan prinsip desain kapasitas sehingga kelelehan balok perangkainya terpusat pada shear link, selayaknya eccentrically braced frame (EBF). NSP menunjukkan bahwa seluruh balok perangkai, baik DCB dan RCB dapat leleh pada level gempa desain (BSE- 1N). Adapun kelelehan RCB dapat dipusatkan pada link dan embedded beam terjaga tetap elastik bahkan hingga level gempa MCER (BSE-2N) sehingga penggantian link setelah rusak dijamin dapat dilakukan. Praktik desain preskriptif HCW dengan RCB yang digunakan pada penelitian ini mampu membuat Demand to Capacity Ratio (DCR) deformasi elemen struktural, khususnya link, secara sigfinikan lebih baik daripada RC-DCW dengan DCB. Hasil studi mampu menunjukkan keandalan HCW dengan RCB sebagai suatu sistem struktur yang menawarkan kemudahan dalam perbaikannya pascagempa.

2025
πŸ‘€ Penulis: Santa Maria Michael Abadi
🏷️ Struktural 🏷️ Desain Preskriptif 🏷️ Desain Ramah Lingkungan

STUDI PALEOSEISMOLOGI DAN ANALISIS BAHAYA SEISMIK DETERMINISTIK ZONA SESAR MATANO SEGMEN PEWUSAI

Indonesia terletak pada zona tektonik yang kompleks, dikelilingi oleh batas pertemuan beberapa lempeng tektonik utama, sehingga menjadikannya salah satu wilayah dengan tingkat seismisitas tertinggi di dunia. Kondisi tektonik ini menegaskan pentingnya kajian mendalam mengenai sesar aktif sebagai langkah strategis dalam mitigasi bahaya dan pengurangan risiko gempabumi. Sesar Matano, yang membentang dari arah barat laut ke timur sepanjang ~170 km, merupakan salah satu sesar aktif di Sulawesi yang memiliki mekanisme pergerakan mendatar sinistral akibat pergerakan Lempeng Pasifik ke arah barat relatif terhadap lempeng Australia. Wilayah penelitian terletak di bagian barat Sesar Matano, tepatnya pada segmen Pewusai, yang tidak memiliki banyak informasi kegempaan seperti laju pergeseran, jejak sesar di permukaan, dan sejarah gempa purba. Sementara itu, identifikasi sesar aktif diperlukan untuk menentukan lokasi aman untuk pengembangan infrastruktur dan lainnya. Studi ini menggunakan studi paleoseismologi dalam menganalisis bukti keberadaan sesar aktif di daerah penelitian. Studi paleoseismologi ini meliputi studi penginderaan jauh menggunakan LiDAR, studi geolistrik resistivitas, uji paritan dan uji penanggalan radiokarbon. Analisis bahaya seismik deterministik (Deterministic Seismic Hazard Analysis/DSHA) juga dilakukan pada daerah penelitian guna memberikan informasi tentang bahaya gempabumi yang dapat digunakan untuk kebutuhan rekayasa ke depannya. Studi ini menghasilkan interpretasi garis sesar baru yang diidentifikasi pada Segmen Pewusai Sesar Matano, serta ditemukan bahwa interpretasi garis sesar ini berbeda dengan garis sesar PusGeN. Garis sesar baru diperoleh dari interpretasi gambar LiDAR dan diperdalam menggunakan hasil penampang resistivitas 2D. Garis interpretasi sesar menggunakan LiDAR berbelok ke arah timur dari garis interpretasi sesar PuSGeN sebelum kembali menyatu di bagian tenggara daerah penelitian. Hasil tersebut diperkuat dari citra LiDAR yang menunjukkan kelurusan struktur yang mengarah Barat Laut-Tenggara di bagian timur dari daerah penelitian. Hasil penampang resistivitas 2D menunjukkan bahwa ada indikasi sesar yang memanjang di sepanjang kelurusan garis sesar aktif hasil interpretasi menggunakan LiDAR. Dari hasil paritan dan uji penanggalan karbon, diidentifikasi dua peristiwa sesar permukaan dari hasil penggalian. Penanggalan sesar yang termuda adalah lebih muda dari 1030 AD dan 1115 AD, hasil tersebut menyatakan bahwa sesar pada tersebut termasuk dalam waktu Holosen (< 11.000 tahun BP). Hasil ini memperkuat interpretasi garis sesar adalah sesar aktif. Untuk bahaya seismik daerah penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian termasuk daerah bahaya tinggi karena memiliki nilai PGA senilai > 0,5 g.

2025
πŸ‘€ Penulis: I Dewa Gede Kaniskha Astaya K.
🏷️ Paleoseismologi 🏷️ Sesar Aktif 🏷️ Analisis Bahaya Seismic Deterministik

STRATEGI ADAPTIVE SOCIAL PROTECTION (ASP) DALAM MENINGKATKAN KETAHANAN TERHADAP RISIKO MULTIHAZARD DI KOTA AMBON STUDI KASUS : KECAMATAN TELUK AMBON DAN BAGUALA, KOTA AMBON

Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi Adaptive Social Protection (ASP) untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap risiko gempa bumi dan tsunami di Kecamatan Teluk Ambon dan Baguala. Analisis dilakukan melalui pemetaan risiko bencana, kajian dampak terhadap dimensi perlindungan sosial (pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan mobilitas), serta evaluasi efektivitas distribusi bantuan sosial. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis analisis spasial dan indeks. Data diperoleh melalui studi literatur, telaah dokumen resmi, serta pengolahan data sekunder dari instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 68% wilayah terbangun di lokasi studi berada dalam zona bahaya, estimasi populasi terpapar mencapai 71.960 jiwa dimana 32% di antaranya merupakan masyarakat miskin yang tercatat dalam DTKS. Dampak signifikan teridentifikasi pada dimensi sosial-ekonomi, meliputi penurunan pendapatan, kerusakan fasilitas kesehatan (86% berada di zona bahaya tsunami), ancaman terhadap 19.945 anak usia sekolah, serta gangguan mobilitas akibat keterpaparan 65% jaringan jalan, terutama pada jalan arteri dan kolektor yang berperan penting dalam konektivitas dan distribusi logistik. Selain itu, distribusi bantuan sosial terbukti masih rendah dan belum responsif terhadap risiko bencana karena lebih dari 90% penduduk miskin tidak terjangkau program bantuan sosial. Strategi ASP yang diusulkan dirancang adaptif sesuai tingkat risiko dan dampak sosial, mulai dari penguatan kapasitas komunitas di wilayah berisiko rendah, integrasi perlindungan sosial dengan infrastruktur kesiapsiagaan di wilayah berisiko menengah, hingga intervensi komprehensif lintas desa pada wilayah dengan risiko sangat tinggi. Dengan demikian, ASP berperan penting dalam mengurangi dampak bencana sekaligus menjaga keberlanjutan ketahanan sosialekonomi masyarakat pascabencana.

2025
πŸ‘€ Penulis: Chintya Chaterina Hattu
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Spasial

PERANCANGAN INTERIOR PUSAT LITERASI DENGAN PENDEKATAN RUANG KETIGA DI KOTA BANDUNG

Perancangan ini merupakan hasil dari penelitian kondisi perpustakaan di Indonesia, dan bagaimana dampaknya terhadap minat baca maupun minat untuk mengujungi perpustakaan. Seiring perkembangan zaman, informasi dapat diakses secara instan, padahal tidak semua informasi di internet memiliki kredibilitas. Oleh karena itu, perlu dilatih juga kemampuan literasi seseorang agar dapat menghadapi maraknya misinformasi. Mendorong masyarakat agar dapat membangun minat membaca dengan menjadikan perpustakaan yang pada umumnya dimiliki oleh instansi pendidikan dan dapat dikategorikan sebagai ruang kedua, menjadi ruang ketiga dimana seseorang dapat berinteraksi serta menjalin hubungan satu sama lain bahkan menciptakan sebuah rasa komunitas dan Sense of Belonging. Perancangan ini akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang sudah memiliki kegemaran membaca maupun menciptakan rasa kegemaran membaca pada masyarakat setempat. Dengan dua jenis konsep desain yang berbeda, pusat literasi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan macam-macam pengguna ketika berada di tempat berbasis literasi, seperti pengguna yang menginginkan interaksi, dan juga pengguna yang menginginkan tempat senyap agar dapat fokus membaca.

2025
πŸ‘€ Penulis: Riskha Irryani Suhendro
🏷️ Interior Desain 🏷️ Literasi Sosial 🏷️ Perpustakaan
Halaman 314 dari 6754
πŸ’¬