📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenEVALUASI KINERJA INTEGRASI ANTARMODA DENGAN PENDEKATAN MULTI-CRITERIA DECISION ANALYSIS (STUDI KASUS: KAWASAN TOD DUKUH ATAS)
Kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas mengintegrasikan lima moda transportasi publik (MRT, KRL, LRT Jabodebek, KA Bandara, dan BRT Transjakarta) melalui enam titik simpul transportasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja integrasi antarmoda berdasarkan lima dimensi, yaitu jaringan, fisik, temporal, tarif, dan informasi, serta merumuskan rekomendasi prioritas perbaikan. Pendekatan yang digunakan adalah Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), di mana bobot kriteria dan sub-kriteria dihitung menggunakan Eigenvector Method (EVM) dan Logarithmic Least Squares Method (LLSM) sebagai dua teknik pembobotan dalam AHP. Bobot dari 22 responden pada empat klaster (akademisi, regulator, operator, dan pengguna rutin) dikombinasikan dengan hasil penilaian kinerja pada 15 lintasan transfer untuk menghasilkan indeks kinerja integrasi setiap lintasan. Hasil penelitian menunjukkan Integrasi Temporal (bobot 0,284) sebagai kriteria dengan tingkat kepentingan tertinggi, diikuti Integrasi Jaringan (0,205), Tarif (0,186), Fisik (0,180), dan Informasi (0,144), dengan Waktu Tunggu, Pembayaran Terintegrasi, dan Jarak Transfer sebagai sub-kriteria dengan bobot tertinggi. Indeks kinerja integrasi rata-rata kawasan sebesar 0,771. Analisis sensitivitas menunjukkan model relatif stabil terhadap perubahan bobot, sementara analisis kesenjangan mengidentifikasi pembayaran terintegrasi, jarak transfer, waktu transfer, dan tarif integrasi sebagai prioritas perbaikan utama.
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAN FRAKSI CENDAWAN ENDOFIT KNUFIA SP. KPO 3.13B TERHADAP BERBAGAI MIKROORGANISME UJI
Jerawat merupakan salah satu gangguan pada kulit yang penyebabnya seringkali dikaitkan dengan adanya pertumbuhan C. acnes pada kulit. Jerawat dan kondisi infeksi lainnya umumnya ditangani dengan antibiotik. Akan tetapi, penggunaan antibiotik secara tidak rasional dapat meningkatkan potensi terjadinya resistensi antibiotik. Oleh karena itu, dibutuhkan substitusi selain antibiotik yang memiliki aktivitas antimikroba sehingga tingkat kejadian resistensi berkurang. Cendawan endofit diketahui mengandung metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antimikroba dari ekstrak dan fraksi cendawan endofit Knufia sp. KPO 3.13b terhadap E. coli, S. aureus, C. acnes, dan C. albicans. Penelitian dilakukan dengan memisahkan bagian biomassa dan media fermentasi menggunakan sentrifugasi yang kemudian diekstraksi menggunakan ultrasound-assisted extraction (UAE) untuk biomassa dan ekstraksi cair-cair (ECC) untuk media fermentasi. Aktivitas antimikroba ekstrak diuji dilakukan melalui mikrodilusi untuk menentukan KHM dan drop test untuk menentukan KBM. Ekstrak kemudian difraksinasi menggunakan kromatografi cair vakum (KCV) dan aktivitas antimikrobanya diuji kembali menggunakan metode yang sama. Fraksi yang aktif disubfraksinasi menggunakan kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP) dan subfraksi yang diperoleh diidentifikasi golongan senyawanya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kedua ekstrak tidak memiliki aktivitas terhadap E. coli dan C. albicans, tetapi menunjukkan aktivitas pada S. aureus dan C. acnes dengan KHM 2048 µg/mL, serta KBM 2048 µg/mL terhadap C. acnes. Beberapa fraksi menampilkan aktivitas antimikroba terhadap S. aureus dan C. acnes dengan fraksi media 3 menunjukkan aktivitas bakteriostatik tertinggi (KHM 256 µg/mL). Fraksi media 4 menunjukkan aktivitas bakterisidal tertinggi hanya pada C. acnes dengan KBM 1024 µg/mL. Fraksi media 3 disubfraksinasi dan teridentifikasi didominasi oleh senyawa yang diduga golongan steroid/triterpenoid.
PERANCANGAN KOMIK DIGITAL UNTUK MENINGKATKAN KEPEDULIAN GENERASI Z USIA 18-22 TAHUN TERHADAP POLUSI UDARA
Polusi udara merupakan permasalahan lingkungan yang semakin serius dan berdampak langsung terhadap kesehatan serta kualitas hidup masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan. Generasi z, khususnya kelompok usia 18–22 tahun, menjadi kelompok yang rentan terdampak sekaligus memiliki potensi besar sebagai agen perubahan karena kedekatan mereka dengan media digital dan budaya visual. Oleh karena itu, diperlukan media komunikasi visual yang mampu menyampaikan isu polusi udara secara relevan, menarik, dan mudah dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk merancang komik digital sebagai media edukasi guna meningkatkan kepedulian generasi z terhadap polusi udara. Metode perancangan yang digunakan meliputi studi literatur mengenai polusi udara dan komik digital di platform Webtoon, serta analisis target audiens sebagai dasar pengembangan konsep visual dan naratif. Hasil perancangan berupa komik digital dengan pendekatan cerita fiksi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda, didukung oleh gaya ilustrasi yang ekspresif, visual yang komunikatif, serta alur naratif yang mampu membangun keterlibatan emosional pembaca. Melalui pendekatan visual dan cerita yang kontekstual, perancangan komik digital ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, pemahaman, serta sikap kritis generasi z terhadap permasalahan polusi udara sekaligus mendorong perilaku yang lebih peduli terhadap lingkungan.
PERUMUSAN KRITERIA DAN INDIKATOR WARISAN PUSAKA BUDAYA TAKBENDA KOTA PUSAKA INDONESIA. STUDI KASUS KOTA AMBON
Pelestarian warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) semakin mendapat perhatian dalam pembangunan kota berkelanjutan karena berperan sebagai pembentuk identitas, memori kolektif, dan karakter suatu kota. Meskipun demikian, sistem penilaian Kota Pusaka di Indonesia masih berorientasi pada warisan budaya bendawiwi, sementara indikator penilaian warisan budaya takbenda belum dirumuskan secara operasional. Kondisi ini menyebabkan belum adanya instrumen yang objektif untuk menilai kelayakan suatu kota sebagai Kota Pusaka berdasarkan aspek budaya takbendawi. Penelitian ini bertujuan merumuskan kriteria dan indikator warisan budaya takbenda sebagai dasar penilaian Kota Pusaka Indonesia, serta menguji penerapannya pada Kota Ambon sebagai studi kasus. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dukungan analisis kuantitatif. Perumusan kriteria dan indikator dilakukan melalui sintesis teori, regulasi internasional dan nasional, serta penelitian terdahulu mengenai warisan budaya takbenda. Analisis mengacu pada Konvensi UNESCO 2003 tentang Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Cagar Budaya, serta berbagai kajian mengenai pelestarian budaya hidup (living heritage). Selanjutnya, objek budaya non-ragawi Kota Ambon diidentifikasi dan dinilai berdasarkan kriteria yang telah dirumuskan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warisan budaya takbenda dapat dinilai melalui enam kriteria utama dan dijabarkan ke dalam empat belas indikator operasional yang dapat digunakan untuk menilai keberadaan dan kekuatan suatu objek budaya non-ragawi. Berdasarkan hasil inventarisasi, Kota Ambon memiliki 18 objek budaya non-ragawi yang tersebar dalam lima kategori Objek Pemajuan Kebudayaan, hasil penilaian menunjukkan bahwa sebagian besar objek budaya memiliki tingkat keberlanjutan dan keterikatan komunitas yang kuat sehingga Kota Ambon memenuhi ambang batas kelayakan sebagai Kota Pusaka berbasis budaya takbenda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa warisan budaya takbenda dapat digunakan sebagai dasar penilaian Kota Pusaka secara objektif melalui pendekatan berbasis kriteria dan indikator yang terukur.
PENGEMBANGAN PROSEDUR PENGUJIAN FATIGUE SKALA PENUH SEBAGAI DASAR EVALUASI UMUR FATIGUE GERBONG DATAR 54 TON
Gerbong datar 54 ton yang diproduksi oleh PT. INKA merupakan gerbong angkutan barang yang beroperasi pada lintas Prabumulih–Kertapati. Selama operasi, irregularitas jalur rel menghasilkan pembebanan dinamik yang menimbulkan tegangan acak pada struktur gerbong dan berpotensi menyebabkan kegagalan fatigue. Untuk mengevaluasi ketahanan fatigue struktur, akan dilakukan pengujian fatigue dinamik menggunakan test rig yang dirancang sesuai spesifikasi gerbong. Analisis benda jamak dilakukan untuk memperoleh respons perpindahan gerbong pada variasi kualitas lintasan TQI 20, 35, dan 50, serta pada geometri jalur lurus, R674, R1133, dan R3842. Spektrum perpindahan yang dihasilkan memiliki frekuensi pencuplikan 200 Hz sehingga tidak dapat digunakan secara langsung sebagai masukan test rig. Oleh karena itu, dilakukan reduksi dimensi menggunakan Proper Orthogonal Decomposition (POD) untuk mengekstraksi mode dominan. Rekonstruksi sinyal menggunakan dua mode utama mampu mempertahankan 94,7% hingga 97,7% energi sinyal. Sinyal hasil rekonstruksi selanjutnya diproses menggunakan peak-valley filtering untuk mengidentifikasi turning points, kemudian diinterpolasi menggunakan metode Piecewise Cubic Hermite Interpolating Polynomial (PCHIP) sehingga diperoleh sinyal baru dengan frekuensi pencuplikan 2 Hz dan 4 Hz. Mengingat keterbatasan aktuator pada test rig, dilakukan pembatasan perpindahan vertikal hingga 35 mm serta penskalaan perpindahan lateral hingga maksimum 5 mm. Selain itu, geometri jalur lurus dipilih sebagai representasi seluruh variasi geometri jalur. Berdasarkan hasil analisis fatigue, sinyal dengan TQI 35 dan TQI 50, perpindahan vertikal maksimum 35 mm, dan perpindahan lateral maksimum 5 mm dipilih sebagai drive signal untuk pengujian fatigue dinamik. Perbandingan antara drive signal hasil pemrosesan dengan sinyal referensi menunjukkan adanya penyimpangan yang relatif besar akibat proses reduksi frekuensi dan pembatasan perpindahan. Meskipun demikian, sinyal yang dihasilkan tetap memenuhi batasan operasional test rig dan dapat digunakan sebagai masukan pada pengujian fatigue dinamik.
PERANCANGAN WAHANA ANIMASI EDUKASI SAINTEK BERBASIS FULLDOME DALAM UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN SESAR LEMBANG PADA SISWA SMP.
Wilayah Bandung dan sekitarnya merupakan kawasan rawan gempa bumi akibat aktivitas Sesar Lembang. Namun, literasi kebencanaan dan kesiapsiagaan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) masih belum optimal karena keterbatasan media pembelajaran yang mampu memvisualisasikan konsep geologi dan mitigasi bencana secara menarik serta mudah dipahami. Penelitian ini bertujuan merancang media edukasi mitigasi bencana gempa bumi berbasis animasi ilmiah fulldome imersif bagi siswa SMP. Proses perancangan menggunakan pendekatan Design Thinking yang didukung oleh studi pustaka, wawancara dengan pakar kebencanaan dan praktisi fulldome, serta observasi terhadap kebutuhan pengguna. Data dianalisis secara kualitatif untuk menghasilkan konsep dan rancangan media. Hasil penelitian berupa animasi fulldome imersif yang memvisualisasikan proses terjadinya gempa bumi, aktivitas Sesar Lembang, dan langkah-langkah mitigasi melalui pengalaman visual 360°. Penyampaian materi menggunakan alur cerita edukatif dan visual yang disesuaikan dengan karakteristik siswa SMP. Media yang dirancang diharapkan dapat menjadi alternatif pembelajaran mitigasi bencana yang lebih interaktif serta berpotensi meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan kesiapsiagaan siswa terhadap gempa bumi. Animasi juga dilengkapi dengan penjelasan mengenai penyebab gempa, dampak aktivitas Sesar Lembang, serta tindakan mitigasi sebelum, saat, dan setelah gempa yang disusun sesuai dengan tujuan pembelajaran siswa SMP.
AKTIVITAS PENGHAMBATAN ENZIM TIROSINASE OLEH EKSTRAK KULIT BUAH, DAUN, DAN PERASAN BUAH JERUK NIPIS (CITRUS X AURANTIIFOLIA (CHRISTM.) SWINGLE) SERTA FRAKSI TERPILIH
Hiperpigmentasi kulit merupakan masalah yang dipicu oleh aktivitas berlebih dari enzim tirosinase dalam biosintesis melanin akibat paparan sinar ultraviolet. Selain berperan dalam melanogenesis, enzim tirosinase juga bertanggung jawab atas pencoklatan yang terjadi pada buah dan sayuran. Pencarian inhibitor tirosinase alami yang aman dan efektif menjadi fokus penting dalam industri kosmetik dan farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi ekstrak etanol daun, kulit buah, dan perasan buah jeruk nipis (Citrus x aurantiifolia (Christm.) Swingle) serta fraksi terpilih sebagai inhibitor enzim tirosinase secara in vitro. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak yang menunjukkan aktivitas terbaik kemudian difraksinasi menggunakan metode ekstraksi cair-cair bertingkat dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air. Aktivitas inhibisi enzim tirosinase dilakukan secara in vitro menggunakan metode microplate assay yang diukur absorbansinya pada panjang gelombang 475 nm. Asam kojat digunakan sebagai kontrol positif dengan IC?? sebesar 2,806 ± 0,186 µg/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jeruk nipis memiliki aktivitas inhibisi tirosinase terbaik di antara ketiga ekstrak dengan persentase inhibisi 24,591 ± 0,689% pada konsentrasi 400 µg/mL, diikuti oleh ekstrak kulit buah 15,696 ± 0,493% dan perasan buah 11,576 ± 0,299%. Analisis statistik dengan uji Kruskal-Wallis menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antar kelompok ekstrak (p = 0,015). Fraksi etil asetat dari daun jeruk nipis menunjukkan aktivitas inhibisi tirosinase terbaik dengan IC?? sebesar 251,917 ± 1,841 µg/mL dan persentase inhibisi 60,91% pada konsentrasi 400 µg/mL. Uji Kruskal-Wallis pada data fraksi menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p = 0,025). Analisis KLT mengindikasikan keberadaan senyawa fenolik dan flavonoid dengan menunjukkan nilai Rf yang serupa dengan kuersetin pada ekstrak dan fraksi etil asetat. Fraksi etil asetat memiliki kadar fenol total (8,810 ± 0,361 g GAE/100 g) dan kadar flavonoid total (2,118 ± 0,036 g QE/100 g) yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak etanol. Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif sangat kuat antara kadar fenolik dan flavonoid dengan aktivitas inhibisi tirosinase (r = 0,998 dan 0,978; p < 0,01). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ekstrak dan fraksi etil asetat daun jeruk nipis mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang berperan sebagai inhibitor enzim tirosinase, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen antitirosinase alami yang lebih aman
PERANCANGAN SISTEM OPERASIONAL HAULING BATTERY ELECTRIC VEHICLE PT SAPTAINDRA SEJATI
PT Saptaindra Sejati (SIS) sebagai kontraktor pertambangan batubara menghadapi tuntutan transisi armada hauling dari truk diesel menuju Battery Electric Vehicle (BEV) untuk menurunkan emisi dan biaya operasional. Namun, penerapan BEV dengan mekanisme battery swapping memunculkan kompleksitas baru berupa kebutuhan infrastruktur pengisian daya dan potensi antrean yang dapat mengganggu pencapaian target produksi. Tugas akhir ini bertujuan menghasilkan rancangan dasar sistem operasional hauling BEV pada Jobsite ADMO PT SIS yang mencakup konfigurasi infrastruktur pendukung sekaligus sistem informasi operasional untuk mengoordinasikan eksekusi armada di lapangan. Perancangan dilakukan melalui dua subtopik yang terintegrasi. Subtopik simulasi membangun model Discrete Event Simulation (DES) atas sistem hauling diesel eksisting sebagai baseline yang divalidasi secara statistik, kemudian memodelkan sistem BEV dengan battery swapping dan menentukan konfigurasi optimal, yaitu jumlah battery swapping station pada setiap Change Shift Area, jumlah charging station, dan jumlah armada BEV aktif, menggunakan optimasi berbasis simulasi OptQuest dengan kebijakan dispatcher dinamis. Subtopik sistem informasi mengidentifikasi kebutuhan fungsional melalui user persona dan user journey map, membangun model pemilihan antrian sebagai basis fitur pengarahan operator, serta merancang dan mengevaluasi prototype mixed-fidelity dari sistem informasi operasional battery swap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi infrastruktur BEV usulan mampu menekan total waktu antrean secara signifikan dibandingkan sistem diesel eksisting sekaligus tetap memenuhi target produksi tahunan perusahaan. Model pemilihan antrian yang dikembangkan berhasil menjadi dasar fitur pengarahan operator pada swap station dan charging station, dan prototype sistem informasi dinilai aplikatif untuk mendukung serta mengintegrasikan eksekusi operasional armada BEV. Rancangan terintegrasi ini menjadi dasar pengambilan keputusan strategis bagi PT SIS dalam melaksanakan transisi armada diesel menuju BEV secara efisien dan terukur.
PERANCANGAN GAME DENGAN TEMA SISTEM IMUN TUBUH MANUSIA UNTUK AUDIENS 18-23 TAHUN
Sistem imun tubuh manusia merupakan mekanisme pertahanan alami tubuh manusia untuk menghadapi ancaman asing yang dapat membahayakan tubuh. Pengetahuan mengenai sistem imun tubuh manusia seringkali sulit dipahami oleh audiens awam karena sifatnya yang sering dianggap rumit dan membosankan. Media konvensional seringkali dirasa terlalu monoton dan tidak memiliki daya tarik yang dapat membuat dewasa muda, khususnya usia 18-23 tahun tertarik untuk mempelajari topik ini. Perancangan ini bertujuan untuk menciotakan sebuah game yang mengutamakan aspek hibutan dan kesenangan (entertain anda happiness) sebagai daya tarik utamanya, dimana pemahaman mengenai sistem imun hadir sebagai dampak dari proses bermain. Perancangan ini menerapkan strategi personifikasi, dimana aspek yang ada pada sistem imun tubuh manusia akan diterjemahkan menjadi karakter dan objek di dalam game, dengan menyeimbangkan aspek tantangan dan keseruan yang diberikan. Hasil akhir perancangan ini diharapkan berupa game yang interaktif dan imersif, dimana pemain bisa berfokus pada kemenangan dan kesenangan dari mekanik dan visual, namun secara tidak langsung memperoleh pengetahuan mengenai cara kerja sistem imun tubuh manusia.
ANALISIS PREFERENSI PELANGGAN TERHADAP ATRIBUT MOBILE BANKING BNI (WONDR BY BNI): PENDEKATAN CHOICE-BASED CONJOINT
Sektor perbankan digital di Indonesia telah mengalami transformasi besar. Empat bank terbesar berdasarkan modal inti di Indonesia, bersaing secara agresif untuk menarik klien melalui aplikasi mobile banking mereka. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk akan meluncurkan platform mobile banking unggulannya, "Wondr by BNI", pada tahun 2024. Penelitian ini memiliki tiga tujuan yang saling berkaitan: mengukur nilai utilitas nasabah (estimasi part-worth) untuk atribut-atribut mobile banking beserta levelnya; mengidentifikasi kombinasi profil fitur yang paling disukai pasar secara umum maupun segmen nasabah yang berbeda; serta menghasilkan rekomendasi strategis berbasis data untuk memperkuat proposisi nilai kompetitif Wondr. Desain penelitian kuantitatif dengan metode Choice-Based Conjoint (CBC) analysis diterapkan. Sebanyak 230 pengguna mobile banking aktif di kawasan metropolitan Jabodetabek menyelesaikan dua belas tugas pilihan (sepuluh tugas desain dan dua tugas holdout), menghasilkan 2.276 total observasi pilihan. Biaya transfer menjadi atribut dominan (dengan tingkat kepentingan relative = 26.9%), dimana transfer gratis menjadi pendorong utama yang mempengaruhi pilihan nasabah. Terdapat perbedaan preferensi pada berbagai segmentasi: Kesiapan teknologi sedang terpengaruh dengan harga, kesiapan teknologi rendah terpengaruh dengan promosi dan kesingkatan, dan kesiapan teknologi tinggi berpengaruh kepada keamanan dan fitur tampilan. Temuan-temuan ini mendukung imperatif strategis bagi BNI. Perusahaan harus mempertimbangkan biaya transfer mengingat hal tersebut memiliki kepentingan realtif tertinggi di studi ini. Untuk ekosistem mobile banking ekspansinya harus dilakukan bertahap, dengan pertama membangun fitur dasar pada aspek transaksional sebelum melakukan ekspansi kepada fitur pinjaman, gaya hidup maupun investasi. Studi ini juga menggabungkan teori Lancaster dan TRI 2.0 untuk membuat studi yang komprehensif dan mengisi kesenjangan penelitian.
PERANCANGAN BUKU EKSPERIMENTAL TENTANG GASTRONOMI PECINAN SEMARANG SEBAGAI REFLEKSI AKULTURASI TIONGHOA-INDONESIA UNTUK DEWASA MUDA
Pecinan Semarang merupakan salah satu kawasan pecinan paling signifikan di Indonesia, menyimpan kekayaan gastronomi yang lahir dari proses akulturasi panjang antara budaya Tionghoa dan Jawa selama berabad-abad. Kuliner yang berkembang di kawasan ini bukan sekadar produk cita rasa, melainkan arsip hidup yang merekam negosiasi budaya, migrasi, dan identitas komunitas Peranakan Tionghoa yang telah berakar di Semarang sejak abad ke18. Namun, pengetahuan tentang nilai historis dan kultural di balik gastronomi ini semakin jauh dari jangkauan dewasa muda akibat arus globalisasi, dominasi budaya populer asing, dan terputusnya transmisi pengetahuan antargenerasi. Perancangan ini bertujuan merancang sebuah buku eksperimental tentang gastronomi Pecinan Semarang sebagai medium pelestarian sekaligus dokumentasi budaya Peranakan Tionghoa untuk audiens dewasa muda usia 18–25 tahun. Metode perancangan yang digunakan adalah Double Diamond (Design Council, 2005), mencakup studi literatur, observasi lapangan, wawancara komunitas, dan kuesioner audiens. Hasil perancangan berupa prototipe buku eksperimental fisik yang memanfaatkan eksplorasi material kertas, kolateral, dan tata letak eksperimental sebagai bagian integral dari pengalaman membaca yang taktil dan immersif. Buku ini sekaligus menjadi wadah dokumentasi narasi personal komunitas Pecinan Semarang dan pengetahuan kultural yang selama ini tidak terdokumentasikan secara luas
PERANCANGAN GAME INTERAKTIF DENGAN TEMA PEMBUANGAN SAMPAH DI KOTA CHIBA, JEPANG UNTUK WARGA NEGARA INDONESIA
WNI (Warga Negara Indonesia) yang baru datang ke Kota Chiba Jepang sering kesulitan memahami sistem pembuangan sampah. Kebanyakan warga akan diberikan poster cara membuang sampah, tapi caranya hanya interaksi satu arah. Penelitian ini bertujuan untuk menggunakan Game Based Learning (GBL) untuk membantu WNI memahami system pembuangan sampah dengan cara seru, interaktif, dan mudah dipahamin. Penelitian ini menemukan bahwa 12 dari 19 WNI sebelum datang ke Jepang hanya mempunyai sedikit ilmu sistem pembuangan sampah di Jepang. Game Kubun ini akan menggunakan mekanik simulasi dan puzzle untuk memberi tantangan kepada mahasiswa. Gamenya akan ditujukan untuk WNI berumur 20-30 tahun. Perancangan ini berharap dapat membantu mahasiswanya belajar sistem pembuangan Chiba dengan cara efektif dan menyenangkan. Menggunakan metode System Usability Score (SUS) untuk menilai berhasil, Game Kubun memdapatkan nilai 65,6 yang artinya berhasil mencapaikan tujuannya dengan adanya ruang untuk perbaikan.
PERANCANGAN ULANG KAWASAN PASAR KEBAYORAN LAMA, KOTA JAKARTA SELATAN
Kawasan Pasar Kebayoran Lama memiliki beberapa permasalahan, seperti fasilitas yang kurang memadai, sirkulasi kawasan yang kurang baik, serta permasalahan pedagang informal yang berjualan di pinggir jalan hingga mengganggu aktivitas masyarakat sekitar. Padahal, kawasan pasar ini memiliki beragam potensi yang bisa dioptimalisasi agar bisa memenuhi fungsinya sebagai sumber pendapatan dan penggerak ekonomi daerah, serta menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi paling penting di masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian berupa konsep perancangan ulang kawasan Pasar Kebayoran Lama perlu dilakukan untuk mengatasi persoalan dan meningkatkan kualitas lingkungan sehingga tercipta kawasan yang dapat memenuhi kebutuhan kegiatan perdagangan dan jasa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan perancangan yang dilakukan secara fragmental dengan teknik problem solving yang mengacu pada elemen perancangan perkotaan Shirvani (1985). Penelitian ini juga melakukan sintesis teori untuk merumuskan kriteria dan prinsip normatif yang diambil dari pedoman perancangan pasar rakyat. Sintesis teori menghasilkan enam kriteria utama perancangan pasar rakyat, yaitu comfortable, clean and healthy, connected, safe, secure, dan organized. Hasil analisis potensi dan persoalan kawasan menunjukkan bahwa fasilitas dan sarana yang tersedia di kawasan Pasar Kebayoran Lama masih belum cukup memadai. Untuk menanggapi hal tersebut, dihasilkan rumusan prinsip perancangan yang secara spesifik menyesuaikan kebutuhan serta potensi kawasan, sehingga terbentuk konsep dan ilustrasi desain perancangan ulang yang lebih baik. Perancangan ini menawarkan sebuah solusi yang memadukan tiga zona utama kawasan pasar yang bersifat aksesibel, tertata, dan hidup selama 24 jam. Konsep perancangan ini diharapkan dapat menjadi referensi komprehensif bagi penelitian selanjutnya, serta menjadi solusi relevan untuk mengupayakan pelestarian pasar tradisional serta keberlanjutan lingkungan kawasan Pasar Kebayoran Lama.
LAYANAN KILAT HOMESPOT: SOLUSI DECISION LATENCY UNTUK MENINGKATKAN PROFITABILITAS BANK BRI
Bisnis KPR umumnya dianggap terkendala oleh proses yang lambat dan prosedur yang rumit. Studi ini menemukan kendala yang lebih mendasar: decision latency, yaitu jeda antara minat awal nasabah dan komitmen yang sesungguhnya. Di Bank Rakyat Indonesia (BRI), jeda ini terlihat dari jarak antara target Service Level Agreement (SLA) 3–5 hari dan waktu proses aktual yang dapat mencapai 11–16 hari. Selama masa tunggu tersebut, ketidakpastian mengenai kelayakan finansial dan rendahnya keyakinan dalam memilih properti menimbulkan keraguan, melemahkan keterikatan, dan menurunkan konversi, sehingga sebagian besar potensi permintaan tidak berujung pada pencairan kredit. Studi ini berlandaskan pada teori transformasi digital perbankan, inovasi teknologi properti, customer journey mapping, Technology Acceptance Model (TAM), dan kerangka kualitas layanan SERVQUAL. Teori-teori tersebut disintesiskan ke dalam kerangka konseptual kognitif–emosional terintegrasi KNOW–FEEL–DECIDE, di mana kejelasan finansial (KNOW), keyakinan emosional (FEEL), dan integrasi sistem yang mulus (DECIDE) bersama-sama memperpendek jarak antara niat dan tindakan. Value Proposition Canvas kemudian memetakan pains dan gains nasabah ke fitur solusi yang diusulkan, sehingga setiap konstruk teoretis terhubung secara eksplisit dengan desain platform dan pertumbuhan bisnis. Penelitian ini menggunakan desain Sequential Explanatory Mixed Methods. Pada fase kualitatif dilakukan wawancara mendalam dengan 10 responden yang terdiri atas pegawai BRI, pengembang perumahan, dan nasabah; pengumpulan data dilanjutkan hingga saturasi tematik tercapai, ditandai dengan tidak munculnya tema baru pada wawancara terakhir. Temuan kualitatif kemudian dioperasionalisasikan menjadi konstruk terukur dan hipotesis formal yang diuji secara kuantitatif menggunakan TAM dan SERVQUAL, sehingga solusi yang diusulkan tetap berpijak pada pengalaman nyata pengguna sekaligus tervalidasi secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perceived Usefulness (PU) berpengaruh paling kuat terhadap Behavioural Intention (BI), yang menandakan bahwa kejelasan keputusan merupakan pendorong utama tindakan nasabah; Perceived Ease of Use (PEOU) memperkuat PU secara signifikan, sementara persepsi kualitas layanan membentuk Customer Satisfaction (CS) secara signifikan, yang pada gilirannya berpengaruh langsung terhadap BI. Temuan ini melandasi Homespot Flash Service yang mengintegrasikan pra-persetujuan kredit berbasis AI, visualisasi properti melalui Virtual Reality (VR), dan integrasi sistem end-to end. Dengan memangkas waktu proses Consumer Loan Factory (CLF) dari 11–16 hari menjadi SLA 3–5 hari, atau percepatan tiga hingga empat kali, solusi ini menopang kenaikan konversi konservatif sekitar 5%, yang dengan asumsi Net Interest Margin (NIM) sekitar 3,5% menghasilkan Net Present Value (NPV) positif, Benefit–Cost Ratio (BCR) tinggi, dan periode pengembalian yang singkat. Studi ini menyimpulkan bahwa pertumbuhan KPR tidak hanya bergantung pada permintaan pasar atau suku bunga, tetapi juga pada kemampuan bank membantu nasabah memutuskan lebih cepat dan lebih yakin; memangkas decision latency mengubah permintaan terpendam menjadi pencairan kredit. Direkomendasikan agar BRI mengimplementasikan Homespot Flash Service melalui piloting bertahap pada kelompok pemangku kepentingan kecil terlebih dahulu sebelum perluasan yang lebih besar, memperdalam pemanfaatan AI di luar pra-persetujuan, serta, sebagai penelitian lanjutan, melakukan eksperimen terkontrol yang membandingkan pengguna dan non-pengguna platform untuk menguji perbedaan waktu keputusan dan konversi secara statistik.
ANALISIS PROGRAM PEMELIHARAAN JALAN TERDAMPAK BANJIR (STUDI KASUS : JALAN PAUH-SAROLANGUN, JAMBI)
In addition to traffic loading, flooding has a significant impact on pavement deterioration. If not promptly addressed, flooding can accelerate pavement deterioration, preventing the road from maintaining its intended level of service throughout its design life. Therefore, flood management should not only focus on evaluating pavement damage but should also include an appropriate maintenance program to preserve pavement performance, optimize the remaining service life, and minimize long term maintenance costs. This study employed the Integrated Road Management System (IRMS) V.3 to develop a road maintenance program based on the structural condition of the pavement. Pavement deflection data and Remaining Service Life (RSL) were used to determine maintenance recommendations using the Decision Tree specified in Bina Marga Guideline No. 07/P/BM/2021. To improve the reliability of the analysis, the RSL obtained from IRMS V.3 was compared with that calculated using the AASHTO 1993 method. In addition, the drainage system performance of floodaffected road sections was evaluated. The maintenance program was then developed under two budget scenarios and two scenarios for the timing of floodcause mitigation. The results indicate that the flooding was not caused by inadequate drainage system performance, as the existing drainage channels along the flood affected road sections were capable of conveying the design flood discharge. The structural evaluation showed that the Remaining Service Life (RSL) estimated using the IRMS V.3 method was more optimistic than that obtained using the AASHTO 1993 method due to differences in the calculation approach, including the use of temperature uncorrected pavement deflection and the exclusion of the subgrade resilient modulus (MR). The analysis of the flood affected road sections indicates that flooding has the potential to accelerate pavement deterioration. However, it cannot be identified as the dominant deterioration factor because accelerated deterioration was also observed in road sections that were not affected by flooding. Based on the maintenance program scenarios, implementing flood cause mitigation in the first year was identified as the most recommended strategy, as it resulted in better pavement performance, reflected by a lower International Roughness Index (IRI), and lower total maintenance costs at the end of the analysis period