π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPRINSIP PERANCANGAN KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT LEUWIPANJANG KOTA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN ECOLOGICAL URBANISM
Kota Bandung menghadapi tantangan urban sprawl dan kemacetan sehingga memunculkan urgensi transformasi menjadi compact city. Ini dapat dicapai salah satunya melalui pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD). Berdasarkan berbagai rencana tata ruang, rencana transportasi, analisis potensial kawasan TOD, serta potensi eksisting kawasan sekitar Terminal Penumpang Tipe A Leuwipanjang, kawasan ini dinilai cocok untuk dikembangkan menjadi kawasan TOD. Namun, kawasan ini masih memiliki beberapa persoalan ekologis. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan prinsip perancangan kawasan TOD Leuwipanjang Kota Bandung dengan pendekatan ecological urbanism. Tujuan ini tercapai melalui perumusan prinsip normatif perancangan kawasan TOD dengan pendekatan ecological urbanism yang dikontekstualisasikan secara deskriptif-kualitatif dengan potensi dan persoalan eksisting pada wilayah studi. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 20 komponen yang perlu dirancang yang memenuhi minimal satu dari 8 kriteria perancangan kawasan TOD dengan pendekatan ecological urbanism. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi dalam merancang kawasan TOD Leuwipanjang Kota Bandung yang responsif terhadap isu lingkungan.
SIMULASI PENGKODEAN KANAL TIPE LINEAR BLOCK CODE PADA PROSES PENULISAN DAN PEMBACAAN DATA BIT STT-RAM
Sistem multiprocessing pada teknologi komputer terus berkembang sehingga membebani cara kerja sistem memori. Kemampuan sel memori semakin diuji dalam menghadapi kondisi ekstrem yang kerap terjadi ketika pasokan arus tidak dalam kondisi ideal. Dalam kondisi ekstrem banyak kemungkinan kegagalan pemrosesan data seperti writing dan reading. Teknologi spintronika, khususnya STT-RAM menjadi salah satu alternatif sel memori yang dapat menggantikan teknologi memori sebelumnya karena bersifat non-volatile dan melakukan pemrosesan dengan cepat sehingga lebih efisien. Akses terhadap fisik maupun penelitian STT-RAM terutama di Indonesia masih belum banyak ditemukan karena masih dalam tahap pengembangan. Proyek tugas akhir ini dibuat untuk melakukan penelitian dan pengembangan media pembelajaran STT-RAM berupa simulasi virtual laboratory. Penelitian ini berfokus pada efek proses transmisi data bit ketika bekerja pada kondisi ekstrem atau batas kritisnya. Dalam membuat virtual laboratory ini, pemodelan sistem STT-RAM menggunakan pendekatan stochastic switching karena STT-RAM masih rentan terhadap fluktuasi termal. Penelitian ini pun mengembangkan metode pengkodean kanal tipe linear block code yaitu LDPC, Hamming, dan Reed-Solomon sebagai salah satu cara untuk menekan nilai BER pada rentang kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemodelan STT-RAM yang menggunakan pengkodean kanal dapat menurunkan nilai BER. Pengujian dan analisis pada titik arus tulis kritis, menunjukkan bahwa penggunaan metode layered coding Reed-Solomon dan LDPC dapat menurunkan BER hingga 93,10%, sedangkan pada pengujian arus baca kritis diperoleh pengkodean LDPC paling optimal karena mampu menurunkan BER hingga 15,17%. Pengukuran tersebut dilakukan pada titik arus kritisnya sehingga akan terdapat perbedaan perhitungan efisiensi BER pada titik uji lainnya. Berdasarkan penelitian tugas akhir ini diharapkan dapat membantu pembaca dalam mengenali dan mempelajari efek yang diperoleh ketika STT-RAM bekerja pada kondisi tidak ideal.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI CDN TESTBED UNTUK EVALUASI PERFORMA DISTRIBUSI KONTEN BERBASIS NGINX
Content Delivery Network (CDN) merupakan solusi standar industri untuk mempercepat distribusi konten melalui jaringan server cache terdistribusi. Namun, performa CDN sangat bergantung pada strategi internal seperti kebijakan penghapusan cache (cache eviction). Pendekatan konvensional seperti Least Recently Used (LRU) kerap kurang optimal menghadapi pola akses modern yang dinamis, sementara penelitian optimasi CDN sering hanya divalidasi melalui simulasi, menimbulkan kesenjangan antara teori dan implementasi nyata. Penelitian ini merancang dan mengimplementasikan sebuah CDN testbed komprehensif untuk mengevaluasi kebijakan cache eviction berbasis machine learning. Sistem dibangun dengan tiga subsistem: server (NGINX sebagai cache server, Flask sebagai origin server, dan Gcore untuk GeoDNS), pemantauan (Grafana, Prometheus, dan Fluentd untuk metrik dan log), serta pembelajaran mesin (algoritma LRB untuk analisis log dan pengambilan keputusan cache). Hipotesisnya, testbed ini mampu menjadi platform evaluasi efektif untuk membandingkan kinerja kebijakan cache konvensional dan cerdas. Pengujian menunjukkan seluruh subsistem berfungsi sesuai rancangan: pemantauan memiliki selisih data <10% dibanding nilai aktual, dan server CDN menurunkan latensi signifikan (misalnya, waktu akses gambar dari 253 ms menjadi 51,75 ms). Pada uji kebijakan cache eviction dengan distribusi Zipf, LRB mencapai Cache Hit Ratio (CHR) rata-rata 90,15%, melampaui LRU (85,84%) dan LFU (83,26%). Pada distribusi uniform, LRB mencatat CHR 92,41% dibanding LRU (90,32%). Kontribusi utama penelitian ini adalah terwujudnya CDN testbed yang fungsional, terukur, dan dapat direproduksi, menjembatani kesenjangan antara penelitian simulasi dan implementasi produksi. Testbed ini memvalidasi keunggulan kebijakan cache berbasis machine learning serta menyediakan platform terbuka untuk riset optimasi CDN di masa depan.
OPTIMASI DATA RATE DAN POWER TRANSMISSION PADA KOMUNIKASI VEHICLE-TO-VEHICLE (V2V) MENGGUNAKAN ALGORITMA DEEP REINFORCEMENT LEARNING SOFT ACTOR-CRITIC (SAC)
Vehicular Ad-hoc Network (VANET) hadir sebagai solusi untuk tantangan kepadatan lalu lintas dengan memungkinkan komunikasi Vehicle-to-Vehicle (V2V) secara real-time, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kemampuan mengelola Channel Busy Ratio (CBR) dan menjaga Signal-to-Interference-plus-Noise Ratio (SINR) dalam kondisi yang dinamis. Penggunaan parameter komunikasi statis seperti power transmission dan data rate terbukti tidak efisien, sehingga penelitian ini mengatasi celah dalam literatur dengan melakukan optimasi gabungan antara data rate (melalui Modulation Coding Scheme - MCS) dan power transmission, sebuah masalah optimasi non-konveks yang kompleks. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini mengimplementasikan algoritma Deep Reinforcement Learning (DRL), khususnya Soft Actor-Critic (SAC), yang dipilih karena kemampuannya dalam eksplorasi dan stabilitas pembelajaran. Sebuah sistem simulasi lengkap dibangun menggunakan Python, terdiri dari subsistem mobilitas dan algoritma, di mana agen RL secara dinamis menyesuaikan power transmission dan data rate berdasarkan state jaringan (Power transmission, MCS, CBR, SINR, jumlah tetangga) untuk memaksimalkan fungsi reward yang menyeimbangkan efisiensi kanal dan keandalan sinyal. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem baseline dengan parameter statis mengalami kegagalan performa signifikan saat kepadatan lalu lintas meningkat, sementara agen SAC menunjukkan proses pembelajaran yang sukses dengan kurva loss yang konvergen dan perolehan reward kumulatif yang terus meningkat. Dengan demikian, penelitian ini berhasil mengimplementasikan sistem optimasi gabungan untuk data rate dan power transmission pada komunikasi V2V menggunakan algoritma SAC, yang menawarkan solusi cerdas dan adaptif untuk menjaga stabilitas dan keandalan jaringan VANET dalam lingkungan dinamis, sehingga memberikan kontribusi penting bagi pengembangan aplikasi keselamatan jalan raya dan sistem transportasi otonom di masa depan.
ANALISIS KINERJA LALU LINTAS MIKRO PADA CURBSIDE TERMINAL BANDARA STUDI KASUS BANDARA INTERNASIONAL HANG NADIM
Area curbside bandara merupakan salah satu elemen paling krusial dalam sistem transportasi sisi darat, karena menjadi titik pertemuan utama antara pergerakan kendaraan dan pejalan kaki. Aktivitas pickup dan drop-off penumpang yang berlangsung dalam intensitas tinggi, ditambah dengan kendaraan yang hanya melintas (through traffic), seringkali menimbulkan konflik arus, antrean panjang, serta keterlambatan, terutama pada jam sibuk. Permasalahan ini semakin kompleks karena keterbatasan ruang fisik di area curbside bandara yang tidak memungkinkan pelebaran jalan atau pembangunan infrastruktur baru secara masif. Oleh sebab itu, peningkatan kinerja lalu lintas di area curbside perlu dilakukan melalui strategi operasional yang memanfaatkan fasilitas eksisting. Penelitian ini dilakukan di Terminal 1 Bandara Internasional Hang Nadim dengan fokus pada kinerja lalu lintas kendaraan pickup/drop-off, kendaraan yang hanya melintas, serta pejalan kaki pada area zebra cross. Evaluasi kinerja dilakukan berdasarkan panjang antrean, waktu tempuh total, delay kendaraan, serta waktu tempuh pejalan kaki. Metodologi yang digunakan adalah pemodelan mikrosimulasi berbasis perangkat lunak dengan PTV Vissim. Simulasi mencakup kondisi eksisting dan beberapa skenario perbaikan, termasuk skenario pemisahan jalur (separated lane) dan penerapan double parking terbatas. Validasi model dilakukan dengan membandingkan hasil simulasi dengan data observasi lapangan pada aspek waktu tempuh kendaraan dan perilaku pejalan kaki. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, antrean dan waktu tempuh kendaraan masih dalam kategori normal, namun terjadi potensi keterlambatan yang signifikan ketika volume kendaraan meningkat. Skenario separated lane terbukti memberikan kinerja paling konsisten dengan mampu mengurangi waktu tempuh total dan delay kendaraan, terutama untuk kendaraan iii yang hanya melintas. Keunggulan utama skenario ini adalah memisahkan arus kendaraan yang berhenti untuk pickup/drop-off dari kendaraan yang melintas, sehingga konflik dapat diminimalkan. Sementara itu, skenario double parking terbatas menunjukkan efektivitas yang lebih rendah. Meskipun dapat menambah kapasitas parkir sesaat, skenario ini justru berpotensi menambah kepadatan lajur dan memperpanjang antrean, sehingga tidak lebih baik dibandingkan kondisi tanpa perbaikan. Simulasi proyeksi tahun mendatang dengan mempertimbangkan peningkatan demand akibat pengembangan Terminal 2 memperlihatkan bahwa skenario separated lane tetap menjadi strategi paling efektif untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas curbside. Distribusi delay kendaraan pada skenario ini relatif stabil dengan rentang yang masih sesuai rekomendasi ACRP, sementara skenario double parking hanya memberikan perbaikan terbatas. Analisis utilisasi curbside juga menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan lahan pada seluruh skenario masih berada di bawah ambang batas kritis, sehingga potensi overutilization belum menjadi isu. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strategi operasional tanpa perubahan besar pada infrastruktur, khususnya pemisahan jalur kendaraan, dapat meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan sistem lalu lintas sisi darat bandara. Temuan ini memiliki implikasi penting bagi perencanaan transportasi bandara, terutama pada konteks pengembangan terminal baru yang berpotensi meningkatkan volume kendaraan secara signifikan. Dengan mempertimbangkan keterbatasan ruang fisik di area curbside, rekomendasi penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pengelola bandara dalam merumuskan kebijakan manajemen lalu lintas yang lebih adaptif, efektif, dan berkelanjutan.
IMPLEMENTASI TIME DOMAIN REPETITION CODE (TDRC) PADA TAUTAN FREE SPACE OPTICS (FSO) ANTAR-HIGH ALTITUDE PLATFORM STATION (HAPS) PADA KANAL ATMOSFER
Penyediaan akses telekomunikasi yang merata dan berkualitas tinggi di daerah dengan kondisi geografis kompleks, seperti kepulauan atau pegunungan, sering menemui kendala dalam membangun infrastruktur konvensional. Wilayah ini acap kali menghadapi hambatan dalam mengembangkan menara telekomunikasi dan jaringan serat optik, yang menyebabkan kualitas serta jangkauan layanan telekomunikasi di sana jadi jauh tertinggal dari kawasan perkotaan. Ketimpangan digital ini berdampak signifikan pada pembangunan ekonomi dan sosial, membatasi akses masyarakat terhadap teknologi dan peluang, sehingga memperparah ketimpangan sosial ekonomi. Untuk menjembatani kesenjangan ini, Optical Wireless Communication (OWC), atau dikenal juga sebagai Free Space Optics (FSO), hadir sebagai teknologi transmisi data nirkabel berkecepatan tinggi yang menjanjikan, memanfaatkan spektrum optik yang luas demi kapasitas data tinggi dan latensi rendah. OWC telah diidentifikasi sebagai solusi potensial bagi konektivitas nirkabel berkecepatan tinggi, baik sebagai alternatif maupun pelengkap infrastruktur terestrial di area yang sulit dijangkau. Seiring meningkatnya kebutuhan akan cakupan jaringan yang lebih luas dan adaptasi yang tinggi, High Altitude Platform Station (HAPS) yang mengadopsi OWC sebagai media transmisi utamanya, mulai dilihat sebagai komponen kunci dalam evolusi jaringan nirkabel generasi mendatang. HAPS adalah platform udara yang dirancang untuk bisa beroperasi terus β menerus di stratosfer, sekitar 17 hingga 22 kilometer di atas permukaan laut. Dari ketinggian ini, HAPS mampu memberikan cakupan sinyal luas dan fleksibel, menjangkau ribuan kilometer persegi dari satu titik operasional. Dengan begitu, HAPS memiliki potensi besar memperluas akses komunikasi ke area terpencil dan kurang terlayani, melengkapi jaringan seluler dan satelit yang sudah ada. Dalam konteks jaringan HAPS yang komprehensif, komunikasi antar-platform HAPS (inter-HAPS communication) memiliki peranan penting dalam membangun jaringan yang terkoordinasi dan efisien. Berbeda dengan tautan ke stasiun bumi, inter-HAPS communication memungkinkan pertukaran data tanpa bergantung pada infrastruktur terestrial atau satelit, sehingga latensi minimal dan keandalan jaringan meningkat. Jaringan mesh yang terbentuk dari koneksi antar-HAPS ini memperluas cakupan serta mendukung fleksibilitas dan skalabilitas arsitektur jaringan telekomunikasi masa depan. Namun, implementasi OWC antar-HAPS sangat rentan terhadap gangguan dari kondisi stratosfer. Dinamika atmosfer seperti turbulensi dan atenuasi dapat menyebabkan ketidakstabilan posisi HAPS. Turbulensi atmosfer, yang timbul dari variasi suhu kecil, juga menyebabkan pelebaran radius berkas laser di luar efek difraksi dan fluktuasi spasial serta temporal berkas laser (scintillation). Kondisi ini sangat memengaruhi performa OWC yang memerlukan presisi tinggi, yang dapat mengakibatkan pergeseran posisi atau sudut sinar laser. Akhirnya, hal ini menurunkan kualitas sinyal secara signifikan, yang tercermin dari peningkatan Bit Error Rate (BER). Maka dari itu, tugas akhir ini berfokus pada pengembangan dan analisis metode mitigasi ketidakstabilan HAPS pada sistem komunikasi OWC antar-HAPS. Ketidakstabilan posisi platform HAPS dimodelkan secara khusus melalui pointing loss yang mengikuti distribusi Rayleigh, untuk merepresentasikan fluktuasi acak akibat dinamika atmosfer dan getaran platform. Pendekatan ini memungkinkan analisis yang lebih realistis terhadap dampak ketidakstabilan pada performa komunikasi optik, khususnya dalam hal peningkatan BER dan keandalan layanan. Dampak gangguan serta implementasi metode mitigasi dianalisis melalui simulasi end-to-end yang dikembangkan menggunakan MATLAB. Hasil analisis menunjukkan pointing loss secara drastis meningkatkan BER hingga 2 order of magnitude pada kondisi tidak stabil. Untuk mengatasi degradasi ini, metode mitigasi Time Domain Repetition Code (TDRC) dengan konfigurasi Multiple-Input Single-Output (MISO) diterapkan dan dianalisis. TDRC terbukti mampu menurunkan BER hingga 3 order of magnitude dari kondisi tidak stabil. Menariknya, TDRC bahkan menunjukkan performa yang lebih baik dari kondisi stabil, namun tidak lebih baik dari kondisi stabil dengan diversity. Meskipun metode mitigasi ini efektif, peningkatan data rate dan link range cenderung memperburuk BER karena kebutuhan bandwidth yang lebih besar dan akumulasi efek atmosfer. Secara keseluruhan, metode mitigasi TDRC ini terkonfirmasi sebagai solusi untuk memulihkan performa OWC pada kondisi tidak stabil, sekaligus meningkatkan keandalan komunikasi antar-HAPS secara signifikan. Penelitian ini memberikan sumbangan dalam pengembangan solusi praktis untuk pemerataan konektivitas global melalui teknologi HAPS-OWC.
ALOKASI DAYA BERBASIS GRAPH NEURAL NETWORK UNTUK EFSISIENI ENERGI PADA JARINGAN INDUSTRIAL IOT
Munculnya sistem Industrial Internet of Things (IIoT) menimbulkan tantangan dalam pengalokasian daya yang efisien dan berkelanjutan. Dalam lingkungan padat, setiap node harus menerima daya yang cukup untuk memenuhi datarate-nya, tanpa melebihi batas maksimum konsumsi daya sistem. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini mengusulkan strategi alokasi daya terpusat berbasis Graph Neural Network (GNN), yang dirancang untuk menjamin terpenuhinya dua batasan utama: minimum datarate per node dan total daya sistem yang terkendali. Pendekatan yang diajukan merepresentasikan jaringan komunikasi nirkabel sebagai graph, di mana node-node saling terhubung melalui hubungan interferensi dan kondisi channel. Model GNN yang digunakan dilatih dengan fungsi loss dinamis yang secara adaptif menyesuaikan penalti terhadap pelanggaran datarate dan batas daya. Hanya setelah kedua batasan tersebut dipenuhi secara konsisten, model akan mengalihkan fokusnya pada peningkatan energy efficiency dengan cara meminimalkan daya yang digunakan untuk mempertahankan datarate target, sehingga mengoptimalkan rasio datarate-per-daya sebagai metrik utama efisiensi. Pendekatan ini membedakan dirinya dari metode konvensional yang cenderung memaksimalkan sum-rate, dengan secara eksplisit mendorong konfigurasi alokasi daya yang lebih hemat energi dan tetap memenuhi batasan kualitas layanan (Quality-of-Service, QoS). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa metode GNN yang diusulkan secara konsisten melampaui baseline acak dalam hal pemenuhan datarate dan efisiensi energi, dengan tingkat keberhasilan rata-rata di atas 83% dan rasio efisiensi energi hingga lebih dari 800 kali lipat dibanding alokasi acak. Simulasi dilakukan pada skenario 10, 20, dan 30 node, dengan hasil CDF yang menunjukkan distribusi alokasi daya dan performa QoS yang stabil serta hemat energi. Temuan ini membuktikan bahwa model GNN mampu menggeneralisasi pola interferensi kompleks dan menghasilkan keputusan alokasi daya yang adaptif dan efisien, menjadikannya solusi potensial untuk diterapkan pada sistem IIoT industri yang padat dan membutuhkan efisiensi energi tinggi.
DESAIN LAYOUT DAN PEKERJAAN PENGERUKAN ALUR PELAYARAN DAN KOLAM PUTAR PELABUHAN SIBOLGA, SUMATERA UTARA
Pelabuhan Sibolga merupakan pelabuhan utama yang terletak di Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara dan memiliki peran strategis dalam mendukung konektivitas wilayah pantai barat Pulau Sumatera. Pelabuhan ini menjadi simpul penting bagi arus barang dan penumpang yang melayani daerah hinterland seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan sekitarnya. Dengan letaknya yang menghadap langsung ke Samudera Hindia, Pelabuhan Sibolga berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat logistik dan transportasi laut di wilayah barat Sumatera Utara. Pada Tugas Akhir ini, akan dilakukan desain layout dan pekerjaan pengerukan alur pelayaran dan kolam putar Pelabuhan Sibolga dengan kapal petikemas rencana ukuran 25,000 DWT untuk mencapai kedalaman yang sesuai, sehingga kapal dapat beroperasi dengan aman dan efisien. Dari hasil perancangan didapatkan kedalaman alur dan kolam putar yaitu 12 meter dari LLWL, lebar alur 201 meter, diameter kolam putar 390 meter, dan kemiringan tanah dasar perairan 14?. Dengan menggunakan metode cross section, didapatkan volume total keruk sebesar 2,009,907.79 m3. Pengerukan dilakukan dengan menggunakan 1 unit TSHD Willem Van Oranje dengan durasi pekerjaan selama 95 hari termasuk mobilisasi dan demobilisasi dengan estimasi biaya yang dibutuhkan sebesar Rp 264,439,338,060.58. atau sekitar Rp 131,567.96/m3.
DESAIN LAYOUT DAN PEKERJAAN PENGERUKAN ALUR PELAYARAN DAN KOLAM PUTAR PELABUHAN PONDOK DAYUNG TANJUNG PRIOK, JAKARTA
Pelabuhan Pondok Dayung merupakan pelabuhan yang dikelola oleh TNI AL berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta. Pada tahun 2025, Pelabuhan Pondok Dayung mampu menampung kapal kelas LPD dengan panjang (LOA) 122 meter, lebar (B) 22 meter, dan draft (D) 4,9 meter. Kondisi kedalaman perairan eksisting Pelabuhan Pondok Dayung rata-rata berkisar antara 6 β 7 meter dari LLWL. Pelabuhan Pondok Dayung direncanakan mampu menampung kapal dengan dimensi yang lebih besar, oleh karena itu pada Tugas Akhir ini akan dilakukan desain layout dan perencanaan pekerjaan pengerukan alur pelayaran dan kolam putar baru. Bahasan yang ada pada Tugas Akhir ini meliputi desain layout alur pelayaran dan kolam putar, estimasi volume keruk, estimasi durasi pekerjaan pengerukan, dan estimasi biaya pekerjaan pengerukan. Setelah melalui proses desain, didapatkan dimensi alur pelayaran dengan kedalaman 8 meter dari LLWL, lebar 99 meter, dan kemiringan tanah dasar perairan 1:1,5. Untuk kolam putar kedalamannya disamakan dengan alur pelayaran yaitu 8 meter dari LLWL serta diameternya sebesar 376,5 meter. Dengan menggunakan metode cross section, diperoleh estimasi volume keruk sebesar 328.053,373 m3. Pada perencanaan pekerjaan pengerukan ini, dibuat dua skenario, yaitu pengerukan menggunakan kapal backhoe dredger serta pengerukan menggunakan kapal CSD.
DESAIN DAN ANALISIS PIPA BAWAH LAUT PROYEK SEGARA WANA DI LEPAS PANTAI JAWA TIMUR
Kebutuhan minyak dan gas bumi di Indonesia terus meningkat, sementara produksi domestik menunjukkan tren penurunan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan bahwa produksi minyak mentah hanya mencapai 600 ribu barel oil per day (BOPD), jauh di bawah angka konsumsi sebesar 1,6 juta BOPD. Selisih antara produksi dan konsumsi gas alam juga semakin mengecil, membuat pembangunan infrastruktur pipa bawah laut menjadi kunci untuk mengoptimalkan distribusi energi dari fasilitas produksi lepas pantai ke konsumen. Oleh karena itu, studi ini menjadi sangat relevan dan krusial untuk memastikan sistem penyaluran yang efisien, aman, dan berkelanjutan. Dalam studi ini, analisis dimulai dengan menggunakan data lingkungan paling ekstrem di sepanjang jalur pipa. Data ini diolah melalui uji distribusi Kolmogorov-Smirnov untuk mendapatkan parameter desain lingkungan, termasuk tinggi gelombang signifikan, kecepatan arus, dan storm surge dengan periode ulang 1, 10, dan 100 tahun. Tahapan desain pipa mengikuti standar DNV-ST-F101 dengan mempertimbangkan kriteria kegagalan tekanan internal, tekanan eksternal. Penentuan tebal dinding pipa disesuaikan dengan katalog API 5L. Analisis kestabilan pipa bawah laut dilakukan sesuai standar DNV-RP-F109 untuk menentukan tebal lapisan selimut beton yang diperlukan agar pipa tetap stabil di dasar laut. Berdasarkan analisis, tebal beton yang diperlukan adalah 44 mm. Selanjutnya, studi ini juga menganalisis instalasi untuk mengoptimalkan konfigurasi lay barge dan memastikan tegangan serta regangan pada pipa memenuhi kriteria DNV-ST-F101. Analisis ini mempertimbangkan respons gerakan lay barge akibat delapan arah datang gelombang. Tahap desain terakhir adalah menentukan panjang bentang bebas maksimum yang diizinkan, yaitu 12.4 meter, berdasarkan kriteria screening fatigue dan ultimate limit state sesuai standar DNV-RP-F105, untuk mencegah kegagalan struktural.
STUDI PERBANDINGAN FATIGUE LIFE SEBELUM DAN SESUDAH MODIFIKASI DEK PADA ANJUNGAN LEPAS PANTAI TIPE JACKET TIGA KAKI DI SELAT MAKASSAR
Ketika suatu struktur anjungan lepas pantai mengalami modifikasi dek yang mengakibatkan penambahan massa, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap respons struktur, termasuk fatigue life. Pemeriksaan fatigue life penting dilakukan untuk memastikan nilainya masih melampaui design life struktur setelah mengalami modifikasi dek. Tugas Akhir ini menganalisis struktur anjungan lepas pantai tipe jacket tiga kaki di Selat Makassar pada kedalaman 51,10 m dengan menggunakan standar API RP-2A WSD 22nd Edition dan AISC 9th Edition 1989. Analisis yang dilakukan meliputi inplace, seismic, dan fatigue baik sebelum maupun sesudah modifikasi dek. Analisis inplace dilakukan pada struktur sesudah modifikasi dek untuk kondisi operating dan storm masing-masing untuk kedalaman minimum dan maksimum. Pada analisis inplace, sebelum dilakukan strengthening terdapat 20 member pada struktur yang tidak memenuhi kriteria member UC. Setelah dilakukan strengthening pada beberapa member, hasil analisis inplace menunjukkan bahwa nilai member unity check (UC), joint punching shear, defleksi, dan pile safety factor telah memenuhi kriteria desain. Selanjutnya, analisis seismic juga dilakukan pada struktur sesudah mengalami modifikasi dek dengan mempertimbangkan kondisi Extreme Level Earthquake (ELE) dengan periode ulang 475 tahun dan Abnormal Level Earthquake (ALE) dengan periode ulang 2000 tahun. Analisis seismic dilakukan untuk mengetahui respons struktur terhadap beban gempa. Hasil analisis seismic menunjukkan bahwa struktur juga memenuhi kriteria member UC, joint punching shear, pile safety factor, dan defleksi vertikal, meskipun terdapat beberapa joint dengan defleksi horizontal melebihi batas izin, tetapi masih dapat diterima karena platform bersifat unmanned. Kemudian, analisis fatigue dilakukan untuk mengetahui fatigue damage dan fatigue life akibat beban siklik dari struktur. Hasil analisis fatigue menunjukkan bahwa modifikasi dek menyebabkan penurunan signifikan pada fatigue life. Dari 264 joint yang ditinjau, 87,5% joint mengalami penurunan fatigue life, termasuk tiga joint (1699, 404, 407) yang semula tidak memenuhi design life sebesar 21 tahun. Setelah dilakukan pengurangan ketebalan marine growth dari 10 cm menjadi 5 cm pada elevasi tertentu, ketiga joint tersebut kembali memenuhi kriteria dengan fatigue life minimum sebesar 47,8 tahun pada joint 404. Selain itu, modifikasi dek sebesar 556 ton atau sekitar 17% dari berat struktur eksisting mengakibatkan penambahan periode natural struktur dari 3,36 detik menjadi 3,63 detik. Namun, secara keseluruhan struktur sesudah mengalami modifikasi dek masih memenuhi kriteria desain untuk beroperasi sesuai service life yang direncanakan.
DESIGN DAN ANALISIS ANJUNGAN LEPAS PANTAI TIPE MONOPOD PADA KONDISI IN-SERVICE DAN LIFTING
Pertumbuhan emisi gas rumah kaca (GRK) di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi tantangan serius bagi pencapaian target Net Zero Emission (NZE) tahun 2060. Salah satu upaya mitigasi emisi di sektor energi, khususnya industri hulu migas, adalah pengembangan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). Teknologi ini memerlukan infrastruktur pendukung berupa anjungan lepas pantai untuk menampung fasilitas penangkapan, kompresi, serta injeksi gas karbon dioksida (CO?) ke dalam reservoir bawah laut. Oleh karena itu, integritas struktur anjungan lepas pantai harus dipastikan agar mampu beroperasi secara aman dan berkelanjutan pada kondisi lingkungan ekstrem di laut. Penelitian ini berfokus pada evaluasi desain anjungan lepas pantai tipe monopod dengan mengacu pada standar API RP2A-WSD 22ed. Analisis dilakukan dalam dua kondisi utama, yaitu in-service dan pre-service. Analisis in-service mencakup in-place analysis pada kondisi operasional dan storm, seismic analysis pada kondisi Strength Level Earthquake (SLE) dan Ductility Level Earthquake (DLE), serta fatigue analysis berbasis metode deterministik. Sementara itu, analisis pre-service dilakukan pada tahap lifting deck untuk menentukan peralatan pengangkatan seperti sling, shackle, dan padeye yang sesuai. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memastikan integritas struktur anjungan dalam hal member stress check, joint punching shear, kapasitas pile, defleksi, umur layan, serta keamanan proses lifting.
ANALISIS PERBANDINGAN METODE ESTIMATOR LINIER PADA PEMODELAN GEOMETRI ENDAPAN SISA HASIL PENGOLAHAN TIMAH DI BLOK V PT XYZ
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan beberapa estimator linier dalam mengestimasi geometri dan volume pasir kuarsa dari material Sisa Hasil Pengolahan (SHP) di Blok V PT XYZ. Estimasi dilakukan menggunakan lima metode interpolasi spasial, yaitu Inverse Distance Weighting (IDW), Nearest Neighbour Point (NNP), Moving Average (MA), Ordinary Kriging (OK), dan Ordinary Cokriging (COK), dengan data utama berupa elevasi dasar SHP dari 150 titik bor yang telah tervalidasi. Data sekunder dari survei Ground Penetrating Radar (GPR) digunakan sebagai variabel tambahan dalam metode COK dan sebagai bahan validasi spasial. Pemodelan dilakukan menggunakan perangkat lunak Isatis dengan parameter seragam pada tiga variasi grid (12,5 x 12,5 m, 25 x 25 m, dan 50 x 50 m). Evaluasi hasil dilakukan melalui analisis penampang, histogram, crossplot validation, swath plot, perbandingan antara OK dan COK dilihat dari nilai estimasi dan variance estimasi, serta pengaruh spasi lubang bor. Hasil menunjukkan bahwa OK menghasilkan distribusi spasial yang halus dan relatif stabil, sedangkan NNP lebih fluktuatif namun kurang kontinyu. MA menghasilkan permukaan yang terlalu merata, sementara IDW memberikan hasil interpolasi paling konservatif. Dari segi volume, OK menghasilkan volume terbesar dan IDW paling kecil. Ordinary Cokriging (COK) memiliki kinerja cukup rendah akibat sebaran data GPR yang tidak strategis dan letak yang jauh dari lubang bor. OK dinilai lebih konsisten dalam menjaga keseimbangan antara kontinuitas spasial dan ketepatan estimasi secara keseluruhan data. Analisis spasi lubang bor menunjukkan bahwa pada zona dengan spasi lubang bor rapat (Β£50 m), COK lebih unggul berdasarkan hasil cross validation. Namun, pada zona dengan lubang bor jarang (>100 m), OK lebih konsisten dan memberikan estimasi yang lebih stabil.
DESAIN DAN ANALISIS PIPA BAWAH LAUT PROYEK YFJ DI PANTAI TUBAN, LAUT UTARA JAWA
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat diikuti oleh meningkatnya kebutuhan energi, terutama minyak dan gas bumi yang sebagian besar digunakan di sektor transportasi. Pada tahun 2023, konsumsi minyak nasional tercatat relatif stabil setelah sempat melonjak 6% pasca pandemi, sementara produksi migas nasional justru mengalami penurunan rata-rata 3,06% untuk minyak dan 1,87% untuk gas setiap tahunnya dalam periode 2013β2023. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk membangun kilang baru, salah satunya di wilayah Laut Utara Jawa, lepas pantai Tuban yang akan didukung oleh sistem pipa bawah laut sepanjang 43,8 km sebagai sarana penyaluran hidrokarbon dari fasilitas offshore menuju darat. Penelitian ini dilakukan untuk memastikan desain pipa bawah laut yang direncanakan dapat beroperasi dengan aman dan memenuhi standar. Tahapan penelitian dimulai dari pengumpulan dan pengolahan data lingkungan untuk mendapatkan parameter perencanaan, kemudian dilakukan perhitungan tebal dinding pipa berdasarkan DNV-ST-F101, ASME B31.8, dan API-RP-1111 dengan proses iterasi hingga hasil memenuhi batas utilisasi yang disyaratkan. Setelah itu, stabilitas pipa dianalisis dengan menentukan kebutuhan selimut beton sesuai DNV-RP-F109, dilanjutkan dengan analisis instalasi guna mengevaluasi konfigurasi roller, tensioner, dan stinger agar tegangan selama proses pemasangan tetap berada dalam batas aman, serta analisis bentang bebas berdasarkan DNV-RP-F105 untuk menilai kelayakan pipa terhadap risiko kelelahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tebal dinding pipa telah memenuhi standar kekuatan, penambahan selimut beton memberikan stabilitas yang memadai, konfigurasi instalasi dapat menjamin keamanan saat pemasangan, dan bentang bebas yang terbentuk masih sesuai dengan kriteria yang berlaku. Dengan demikian, sistem pipa bawah laut sepanjang 43,8 km di Laut Utara Jawa dinyatakan layak secara teknis untuk mendukung pembangunan kilang migas di Tuban.
ANALISIS REKUALIFIKASI OFFSHORE PLATFORM DENGAN MODIFIKASI EXTENSION DECK SERTA DESAIN DAN ANALISIS OFFSHORE LIFTING STRUKTUR EXTENSION DECK PADA PROYEK INFILL-WELL DI LAUT UTARA JAWA
Salah satu solusi jangka pendek untuk merespon target peningkatan produksi minyak dan gas bumi yang disusun pada dokumen Rencana Kinerja Tahunan 2023 yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi adalah dengan meningkatan produksi di lapangan produksi existing di lepas pantai. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuat infill-well atau sumur produksi tambahan serta memperpanjang masa layan dari struktur existing yang sudah ada untuk dapat terus digunakan hingga periode waktu tertentu. Adanya infill-well pada struktur berimplikasi kepada kebutuhan struktur tambahan untuk proses drilling dan produksi minyak dan gas bumi. Salah satu struktur tambahan yang biasanya dibangun untuk proses peningkatan produksi di lapangan existing adalah struktur extension deck yang diinstalasi pada struktur existing. Pada pengerjaan tugas akhir ini, dilakukan proses desain dari struktur extension deck untuk diinstalasi pada struktur struktur existing yang berlokasi di perairan utara Jawa. Penambahan struktur extension deck berpotensi untuk memengaruhi kekuatan dari struktur secara keseluruhan. Oleh karena itu, pada tugas akhir ini dilakukan analisis rekualifikasi dari struktur anjungan lepas pantai dengan cakupan analisis in-place, seismik, dan juga fatigue dengan merujuk kepada standar API RP-2A WSD edisi ke-21. Kemudian, studi dilanjutkan dengan melakukan analisis offshore lifting dari struktur extension deck yang sudah didesain yang terdiri atas extension main deck, cellar deck, dan wellhead access platform deck mengacu kepada estΓ‘ndar API RP-2A WSD edisi ke-21 dan DNV-ST-N001. Berdasarkan semua analisis yang dilakukan yang mencakup analisis rekualifikasi dan analisis offshore lifting, hasil analisis semuanya sudah memenuhi kriteria standar desain dengan nilai member unity check maksimum ketika in-place sebesar 1.03 di kondisi operating dan 0.691 di kondisi storm serta fatigue life terkecil berada di joint 203 yakni sebesar 181.65 yang memenuhi kriteria fatigue life mΓnimum sebesar 59 tahun.