📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenSTUDI PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN KRATOM (MITRAGYNA SPECIOSA) SEBAGAI GREEN CORROSION INHIBITOR UNTUK BAJA DALAM LARUTAN ASAM KLORIDA: PENGARUH TEMPERATUR LARUTAN
Korosi merupakan fenomena yang merugikan dan menjadi musuh utama dari ketahanan logam atau paduan logam. Untuk mengendalikan proses korosi terdapat beberapa metode, salah satunya yaitu dengan menggunakan inhibitor. Beberapa jenis inhibitor bersifat tidak ramah lingkungan sehingga dikembangkanlah Green Corrosion Inhibitor (GCI). GCI dapat bersumber dari ekstrak tumbuhan ( biji, daun, akar, buah), biopolimer, dan lain-lain. Pada penelitian ini digunakan daun kratom (Mitragyna speciosa) sebagai sumber GCI. Daun kratom diketahui memiliki senyawa-senyawa yang berpotensi untuk dijadikan inhibitor korosi yaitu alkaloid, flavonoid, dan senyawa fenolik. Potensi ekstrak daun kratom sebagai GCI untuk baja API 5L grade X52M dalam larutan HCl 1M dipelajari pada penelitian ini. Daun kratom yang digunakan didapatkan dari petani kratom di Kalimantan dan sampel baja API 5L grade X52M didapatkan dari PT Krakatau Posco. Serangkaian percobaan pengujian korosi dengan metode uji rendam dan uji elektrokimia telah dilakukan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi inhibitor dan temperatur larutan terhadap efisiensi inhibisi ekstrak daun kratom. Uji perendaman dilakukan pada variasi temperatur 25, 35, 45, dan 55°C dengan variasi konsentrasi inhibitor 0, 1, 3, 5, 7, dan 9 gram per liter (gpl) dan direndam dalam larutan HCl 1 M selama 48 jam. Pada uji elektrokimia, dilakukan beberapa pengujian meliputi Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS) dan Potentiodynamic Polarization (PDP) yang dilakukan pada temperatur 25, 45 dan 55°C. Selain itu dilakukan karakterisasi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM), Fourier Transform Infra-red Spectroscopy (FTIR), dan Ultraviolet-Visible Spectroscopy (Uv-Vis). Efisiensi inhibitor tertinggi berdasarkan uji perendaman didapatkan pada temperatur 45°C dengan penambahan 7 gpl inhibitor yaitu sebesar 95,51%. Model adsorpsi mengikuti model Langmuir dengan mekanisme adsorpsi gabungan fisisorpsi dan kemisorpsi yang diindikasikan oleh nilai ?Gads yang berada pada rentang -40 kJ/mol sampai -20 kJ/mol. Hasil uji elektrokimia menunjukkan nilai Rct tertinggi yaitu 997,70 ? dengan efisiensi inhibitor sebesar 86,77% berdasarkan uji EIS dan PDP pada kondisi penambahan 7 gpl inhibitor temperatur 25°C. Hasil karakterisasi SEM menunjukkan bahwa penambahan inhibitor dapat meminimalisir kerusakan sampel akibat proses korosi. Hasil karakterisasi FTIR produk korosi uji perendaman pada temperatur 25, 45, dan 55°C memiliki kemiripan lembah untuk bilangan gelombang tertentu dengan ekstrak daun kratom yang mengindikasikan terjadinya proses adsorpsi senyawa dari ekstrak daun kratom pada permukaan baja dan hal ini dikonfirmasi oleh uji Uv-Vis pada larutan sebelum dan sesudah perendaman.
DESAIN DECK EXTENSION DAN PENAMBAHAN PILE PADA MODIFIKASI STRUKTUR ANJUNGAN LEPAS PANTAI DI LAUT UTARA JAWA
ABSTRAK – Kebutuhan energi nasional di Indonesia menjadi aspek yang perlu diperhatikan. Hingga saat ini, bahan bakar fosil, termasuk minyak dan gas bumi, masih memegang peranan penting dalam bauran energi nasional. Indonesia memiliki potensi eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi di wilayah lepas pantai. Sehingga, banyak anjungan lepas pantai di indonesia yang telah beroperasi mulai dari tahun 1970. Oleh karena itu, fasilitas penunjang untuk eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi , yakni struktur anjungan lepas pantai, sudah mengalami penurunan produksi. Evaluasi kembali struktur dan modifikasi, yakni penambahan sumur sisipan, menjadi opsi untuk menjaga bahkan meningkatkan nilai produksi. Penambahan sumur sisipan memerlukan struktur penunjang, seperti halnya ekstensi dek dan jika diperlukan penambahan pile. Pada tugas akhir ini, dilakukan desain ekstensi dek dan penambahan pile yang mengacu pada standar API RP 2A-WSD. Untuk mengetahui kelayakan struktur terhadap kombinasi pembebanan dan kondisi lingungan pada saat di lapangan, dilakukan analisis in-place sebelum dan setelah modifikasi serta analisis seismic dengan kondisi ductility level earthquake (DLE). Selanjutnya, dilakukan tinjauan instalasi, yakni operasi pengangkatan untuk ekstensi dek dan perhitungan pengelasan sambungan ekstensi dek. Untuk operasi pengangkatan, diawali dengan menentukan hook point. Setelah itu, didapatkan nilai unity check dan gaya sling pada operasi lifting dengan dynamic load factor dengan standar API RP 2A-WSD untuk setiap elevasi ekstensi dek. Lalu, dilanjutkan pemilihan tali sling dengan OSHA CFR 1910.184 dan shackle dengan Shackle Crosby berdasarkan nilai gaya sling. Sehingga, dapat melakukan perhitungan desain padeye dengan memenuhi kapasitas tegangan izin. Untuk perhitungan pengelasan, diawali dengan pemilihan elektroda pengelasan dari AWS D1.1/D1.1M, yakni E6013. Lalu, dilanjutkan dengan meninjau gaya dan momen dari sambungan setiap ekstensi dek untuk melakukan pemeriksaan sambungan. Pemeriksaan sambungan ini menghasilkan unity check yang harus memenuhi kapasitas tegangan las izin berdasarkan AWS D1.1/D1.1M. Untuk setiap analisis dan perhitungan, sudah memenuhi standar yang ditentukan. Oleh karena itu, modifikasi struktur anjungan lepas pantai dengan desain ekstensi dek dan penambahan pile sudah memenuhi standar dan kriteria.
DESAIN SUBSEA PROTECTION STRUCTURE DENGAN FONDASI SUCTION PILE
Struktur subsea merupakan salah satu alternatif struktur lepas pantai yang bisa ditempatkan di laut dalam. Menggunakan fondasi tipe piling pada laut dalam akan membutuhkan waktu dan biaya yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan tipe fondasi suction pile sehingga pada struktur subsea digunakan alternatif fondasi tipe suction pile. Subsea protection structure merupakan struktur subsea sehingga menggunakan fondasi suction pile. Beberapa struktur subsea, seperti subsea isolation valve, membutuhkan struktur proteksi tambahan untuk melindungi dari beban-beban accidental seperti jangkar kapal. Salah satu konsekuensi dari beban accidental akibat jangkar kapal adalah jangkar kapal tersangkut di struktur proteksi dan terjadi tarikan jangkar. Evaluasi struktur terhadap beban tarikan jangkar dilakukan berdasarkan standar DNV-RP-F111. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, gaya accidental tarikan jangkar menyebabkan gaya reaksi pada joint suction pile yang paling besar sehingga fondasi suction pile akan didesain berdasarkan gaya tersebut. Jangkar yang digunakan dalam Tugas Akhir ini didapat dari Jurnal Techno Bahari berdasarkan desain kapal dari Jurnal Teknik Perkapalan dengan berat 3.63 ton dan volume 2.28 m³ menghasilkan impact energy 164.52 kJ. Untuk desain fondasi suction pile, berdasarkan standar DNV-RP-E303 dan API RP 2SK, akan memperhitungkan kondisi tanah beserta hasil analisis tarikan jangkar. Berdasarkan hasil evaluasi tarikan jangkar tersebut dengan 100% energi absorbed, didapatkan gaya maksimum di joint suction pile adalah (Fx, Fy, Fz, Mx, My, Mz) = (195.04 kN, 272.22 kN, -89.82 kN, 447.99 kNm, 605.41 kNm, 224.04 kNm). Kemudian dilakukan desain dan analisis fondasi suction pile dengan hasil diameter 5 meter dan kedalaman penetrasi 5.7 meter. Safety factor fondasi suction pile tersebut adalah 3.218 dari safety factor required bernilai 2 dan defleksi maksimum yang terjadi adalah 24.283 mm dari defleksi izin 25 mm. Selanjutnya hasil analisis in- place, UC maksimum yang terjadi adalah 0.828. Terakhir, dari hasil analisis dropped anchor, subsea protection structure memiliki kapasitas sisa sebesar 48.37% dari 100% total energi terabsorpsi akibat tumbukan jangkar.
DESAIN TANGGUL DAN JETTY PENGENDALI BANJIR DI MUARA SUNGAI CITARUM HILIR, JAWA BARAT
Sungai Sungai Citarum merupakan salah satu sungai terpenting di Pulau Jawa yang memiliki peran vital dalam mendukung sektor pertanian, industri, dan pemukiman. Sungai ini mengalir sejauh 297 km dari Situ Cisanti di Kabupaten Bandung hingga Muara Gembong di pesisir utara Jawa Barat. Sepanjang alirannya, Sungai Citarum menghadapi permasalahan banjir yang semakin meningkat baik dari sisi intensitas, frekuensi, maupun cakupannya. Berbagai faktor turut memengaruhi kondisi ini, seperti tingginya curah hujan, pasang surut air laut, penyempitan badan sungai akibat perubahan tata guna lahan, serta keterbatasan infrastruktur pengendalian banjir. Sistem pengendalian banjir yang ada saat ini dinilai belum mampu merespons kompleksitas permasalahan tersebut secara optimal. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang sistem penanggulangan banjir di wilayah hilir Sungai Citarum, khususnya pada segmen antara Waduk Jatiluhur hingga muara, melalui pembangunan tanggul dan jetty sebagai infrastruktur utama. Analisis dilakukan melalui pengumpulan data lingkungan seperti curah hujan, topografi, pasang surut, dan karakteristik tanah. Perhitungan debit banjir menggunakan Metode Hidrograf Satuan Sintesis Nakayasu, sementara pemodelan hidraulik dilakukan dengan perangkat lunak HEC-RAS. Data pasang surut diperoleh dari program ERGTide, dan analisis stabilitas tanggul dilakukan dengan bantuan perangkat lunak GEO5 menggunakan debit banjir dengan periode ulang 10 tahun sebagai dasar perencanaan. Hasil studi menunjukkan bahwa desain tanggul dan jetty yang disesuaikan dengan kondisi wilayah dapat meningkatkan efektivitas pengendalian banjir, khususnya di daerah hilir yang rawan genangan. Rancangan ini diharapkan dapat memberikan solusi teknis yang aplikatif untuk menurunkan risiko banjir secara signifikan serta mendukung keberlanjutan permukiman dan infrastruktur di sepanjang Sungai Citarum.
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI SANITASI DENGAN PENDEKATAN WATER-SENSITIVE DESIGN (STUDI KASUS PERMUKIMAN KUMUH KOTA BIMA, KOTA PONTIANAK DAN KOTA MANADO)
Pertumbuhan penduduk di perkotaan, dapat menimbulkan pertumbuhan pemukiman kumuh. Salah satu penyebab dari kondisi ini adalah infrastruktur sanitasi yang tidak memadai. Pemenuhan sanitasi yang memadai dan berkelanjutan dilakukan salah satunya dengan penyediaan teknologi. Pendekatan Water-Sensitive Design (WSD) menawarkan kerangka kerja yang menjanjikan untuk memenuhi tantangan ini. Menekankan keberlanjutan, integrasi siklus air alami, dan meminimalkan dampak lingkungan. Pendekatan ini melibatkan evaluasi menyeluruh terhadap tantangan pengelolaan air yang ada dan kelangsungan jangka panjang sistem air dan sanitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengembangan teknologi sanitasi yang berkelanjutan pada suatu pemukiman kumuh dengan memperhatikan aspek WSD, karakteristik kawasan dan dukungan pemangku kepentingan. Melalui penelitian ini diharapkan teknologi sanitasi yang dikembangkan dengan pendekatan WSD dapat diaplikasikan oleh pengguna secara berkelanjutan, sehingga dapat memenuhi kebutuhan sarana sanitasi dan mengurangi pencemaran pada lingkungan. Tiga lokasi kota studi dipilih sebagai studi kasus, berdasarkan kajian Bank Dunia tahun 2018 mengenai lokasi-lokasi kota yang memiliki pemukiman kumuh dan memiliki masalah sensitivitas air. Kota studi tersebut adalah Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat; Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, dan Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian pengembangan teknologi dilakukan dalam tiga tahapan utama. Tahapan pertama melalui identifikasi dan observasi terhadap karakteristik kawasan dan masalah sanitasi dari setiap lokasi studi pemukiman kumuh. Identifikasi menggunakan kuesioner tertutup berbasis Environmental Health and Risk Asessment (EHRA). Identifikasi juga dilakukan terhadap peran serta pemangku kepentingan dalam mendukung pengelolaan sanitasi di pemukiman kumuh dengan menggunakan metode analisis pemangku kepentingan, power interest matrix dan social network analysis (SNA). Hasil identifikasi mendapatkan semua pemukiman kumuh berada pada lokasi yang spesifik dan memiliki masalah sensitivitas air. Lokasi pemukiman kumuh kerap terjadi banjir, dengan keterbatasan pengolahan air limbah domestik dapat menyebabkan masalah pencemaran pada sumber air dan lingkungan. Sementara itu, identifikasi pemangku kepentingan mendapatkan instansi pemerintah menjadi aktor kunci kelompok pemangku kepentingan dalam menangani permasalahan sanitasi di pemukiman kumuh. Tahapan kedua adalah pengujian yang diawali dengan pemilihan lokasi fokus dan teknologi sanitasi yang sesuai kondisi lokasi. Tambelan Sampit, Kota Pontianak terpilih sebagai lokasi fokus uji coba pengembangan teknologi, dengan memperhatikan risiko sanitasi dan dukungan pemangku kepentingan. Teknologi sanitasi terpilih yakni Tripikon-S, dipilih sebagai solusi yang sesuai untuk kondisi sanitasi di Tambelan Sampit, Pontianak, sebuah wilayah dengan tipologi pemukiman di tepi sungai. Tripikon-S memiliki kemampuan untuk mengurangi pencemaran dengan pembangunan yang mudah, sesuai kondisi lokasi, biaya yang lebih murah, dan pemeliharaan yang memadai. Modifikasi Tripikon-S dengan pendekatan WSD melalui penambahan filter ijuk dan media terlekat, menggunakan media alami seperti batu apung dan media buatan bioball. Pada pengujian batch anaerob untuk sampel blackwater artifisial, penyisihan organik COD rata-rata 84%-98%. Pada pengujian dengan aliran kontinu, dengan sampel limbah blackwater dan mixed wastewater artifisial penyisihan organik COD berkisar antara 30%-60%. Tripikon-S diuji coba di pemukiman kumuh Tambelan Sampit, Pontianak, pada skala lapangan dengan penambahan bioball dan ijuk pada sistem Tripikon-S. Hasil pengujian lapangan menunjukkan penyisihan COD mencapai 80% dan total coli mencapai 100%, menunjukkan potensi Tripikon-S untuk daur ulang air dan peningkatan kualitas air buangan dibandingkan praktik yang umum dilakukan warga di lokasi studi. Tahap terakhir adalah evaluasi potensi keberlanjutan, mencakup evaluasi penerimaan dan optimalisasi pemberdayaan masyarakat untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan sanitasi dalam jangka panjang. Penggunaan model UTAUT dengan pendekatan SEM-PLS mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap teknologi ini. Hasil penelitian, faktor social influence dan facilitating condition menjadi faktor kunci dalam mendorong perubahan perilaku dan adopsi teknologi sanitasi. Sementara, faktor pendukung partisipasi pemberdayaan masyarakat untuk keberlanjutan pengelolaan air limbah domestik menggunakan teknologi sanitasi adalah opportunity structure atau keberadaan kesempatan oleh pemangku kepentingan, dengan demikian dukungan dari pihak lain selain rumah tangga pemilik rumah akan mendukung pengembangan teknologi sanitasi di pemukiman kumuh, terutama di lokasi studi di Kota Pontianak. Pengembangan teknologi sanitasi dengan pendekatan WSD di pemukiman kumuh telah dibuktikan di lokasi studi terpilih dapat digunakan dan diterima masyakat ketika teknologi dipilih berdasarkan hasil identifikasi lokasi, melalui tahapan ujicoba dan pembangunan telah dikomunikasikan dengan pemangku kepentingan serta masyarakat.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI GRAFENA TERDOPING KLORIN MENGGUNAKAN AMONIUM KLORIDA (NH4CL) SEBAGAI SUMBER DOPING MELALUI METODE PENGELUPASAN ELEKTROKIMIA
Diperlukan perangkat penyimpan energi yang memiliki performa tinggi untuk menunjang penggunaan sumber daya terbarukan. Grafena menjadi kandidat menjanjikan untuk meningkatkan performa dari berbagai macam perangkat penyimpan energi berkat karakteristiknya yang stabil dan luas permukaan yang tinggi. Modifikasi struktur grafena seperti doping heteroatom mulai dikembangkan untuk meningkatkan performa grafena. Klorin adalah salah satu dopan heteroatom yang potensial, tetapi karakteristiknya masih jarang ditelusuri. Penelitian ini dilakukan untuk mensintesis dan menentukan pengaruh parameter sintesis seperti konsentrasi pemberian doping klorin dari amonium klorida (NH4Cl) sebagai sumber dopan klorin secara in situ serta pengaruh tegangan bias yang digunakan dalam proses eksfoliasi elektrokimia menggunakan asam sulfat (H2SO4). Penambahan amonium klorida dan tegangan ditemukan dapat meningkatkan derajat pengelupasan dari grafena yang disintesis. Peningkatan ini dibuktikan secara kuantitatif menggunakan metode Scherrer dari pola difraksi XRD sehingga didapatkan ukuran kristal dan dapat diaproksimasi jumlah lapisan grafena yang disintesis. Ditemukan bahwa parameter optimal dalam meningkatkan derajat pengelupasan grafena adalah dengan menambahkan 0,06M amonium klorida dengan tegangan bias 7,5V. Selain itu, keberadaan atom klorin juga terdeteksi melalui karakterisasi spektrum XRF dan spektrum EDS. Gugus fungsi dari grafena yang disintesis juga dianalisis menggunakan FTIR. Didapatkan dari perhitungan persentase relatif gugus fungsi oksigennya bahwa pemberian amonium klorida meningkatkan derajat oksidasi grafena yang disintesis. Selain itu, tegangan bias juga dapat mempengaruhi derajat oksidasi dari grafena yang disintesis.
REKONSTRUKSI BIDANG GESER BERDASARKAN JOINT ROUGHNESS COEFFICIENT DAN HUBUNGANNYA DENGAN KUAT GESER BATUAN
Kekuatan batuan selalu menjadi faktor utama yang harus diperhatikan dalam bidang mekanika batuan. Kekuatan batuan ini sendiri yang menjadi dasar untuk mengetahui bagaimana batuan akan berinteraksi ketika dihadapkan terhadap suatu situasi tertentu. Salah satu cara untuk menggambarkan kekuatan batuan tersebut adalah dengan melakukan uji kuat geser batuan dan uji tekan satu arah. Joint Roughness Coefficient merupakan sebuah indeks yang menghubungkan antara kekasaran permukaan bidang geser batuan dengan parameter kuat geser batuan. Penelitian ini dilakukan dengan cara merekonstruksi profil permukaan joint berdasarkan parameter statistika profil Joint Roughness Coefficient yang kemudian dibuat menjadi cetakan dengan cara dicetak secara 3 dimensi dengan alat 3D Printing. Cetakan kemudian digunakan untuk membuat bidang geser pada sampel dan sampel akhirnya akan diuji kuat geser di laboratorium. Masing-masing parameter kuat geser batuan akan dibandingkan dengan nilai JRC dari permukaan dan ditemukan bahwa JRC memiliki hubungan dengan parameter kekuatan geser, baik sudut gesek dalam dan kohesi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang hubungan yang lebih tepat antara nilai Joint Roughness Coefficient dan parameter kuat geser batuan secara matematis, khususnya pada batuan berbasis gipsum.
PEMBUATAN SLOPE STABILITY CURVE DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
Slope Stability Curve merupakan grafik yang memunculkan nilai Faktor Keamanan (FK) berdasarkan ketinggian dan sudut dari lereng keseluruhan tambang. Pemberian rekomendasi dimensi lereng tambang dilakukan melalui proses analisis kestabilan lereng yang membutuhkan waktu hingga mencapai tingkat keamanan yang diinginkan. Hoek & Bray (1981) memperkenalkan suatu alat praktis yang dapat digunakan sebagai rekomendasi awal dimensi lereng yang tepat. Namun, alat tersebut masih bersifat secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk membuat Slope Stability Curve dengan menggunakan metode elemen hingga dalam kondisi massa batuan spesifik dan analisis tertentu. Penelitian ini menggunakan 90 data pemodelan numerik dan data sekunder dari berbagai penelitian di dunia. Slope Stability Curve yang dibuat berdasarkan kondisi massa batuan spesifik dan analisis tertentu memiliki tingkat akurasi yang tinggi hingga 96.7% untuk nilai FK 1. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan metode yang bervariatif sebagai pengembangan Slope Stability Curve yang lebih akurat untuk pemberian rekomendasi dimensi lereng keseluruhan tambang.
PERENCAANAAN ASPEK TRANSPORTASI REVITALISASI TEMPAT PELELANGAN IKAN DAN SENTRA KULINER KAMPUNG BAHARI TAMBAK LOROK
Perencanaan revitalisasi Tempat Pelelangan Ikan dan Sentra Kuliner di Kampung Bahari Tambak Lorok akan menimbulkan perubahan fungsi lahan di daerah sekitar. Pergerakan baru yang terjadi harus diperhitungkan untuk menjamin fasilitas transportasi yang tersedia mampu untuk melayani kebutuhan yang ada. Perencanaan dilakukan dar trip rate analysis untuk memperoleh pergerakan lalu lintas tambahan (trip generation), analisis dampak lalu lintas ruas jalan dan simpang, desain perkerasan dan geometri jalan akses, dan perencanaan sirkulasi, desain ramp, dan layout ruang parkir. Trip rate analysis memperoleh bangkitan dan tarikan tambahan kontribusi perubahan fungsi lahan, dengan data fungsional pembanding pasar dan sentra kuliner. Hasil bangkitan dan tarikan akan menjadi input pembebanan lalu lintas tambahan. Analisis dampak lalu lintas dilakukan pada kondisi eksisting dan kondisi masa layan 20 tahun pada simpang dan ruas jalan akses dengan menggunakan metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997). Bangkitan dan tarikan trip rate sebesar 99 kendaraan/jam dan 120 kendaraan/jam pada fungsi pasar dan 290 kendaraan/jam dan 238 kendaraan/jam pada fungsi sentra kuliner, secara signifikan menurunkan Indeks Tingkat Pelayanan (ITP) ruas dan simpang mencapai indeks F. Sehingga dilakukan intervensi pada geometri simpang dan ruas jalan berupa pelebaran, perubahan tipe simpang, dan alternatif jalan akses. Desain perkerasan dengan acuan Manual Desain Perkerasan Jalan (MDPJ) menggunakan perkerasan lentur AC-WC pada lajur baru hasil perubahan geometri dan perkerasan kaku pada lajur eksisting. Analisa ruang parkir menghasilkan kebutuhan Satuan Ruang Parkir (SRP) sebanyak 247 SRP, gambar layout sirkulasi dan ruang parkir mengacu pada Pedoman Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir Dirjen Perhubungan Darat.
STUDI KOMPARASI KARAKTERISTIK BATUBARA SERTA SAWDUST SEGAR DAN TER-TOREFAKSI DALAM IMPLEMENTASI COAL SWITCHING DAN CO-FIRING PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP
Indonesia kini masih bergantung pada batubara sebagai sumber energi utama pembangkit listrik. Namun, ketersediaan batubara dengan kualitas yang sesuai spesifikasi desain semakin menipis. Oleh karenanya, studi pemanfaatan batubara berkualitas lebih rendah sebagai alternatif bahan bakar dalam skenario coal switching menjadi penting untuk dikaji. Di sisi lain, biomassa juga berpotensi menjadi bahan bakar campuran dalam skenario co-firing untuk mendukung transisi energi bersih. Karena kualitas biomassa segar relatif rendah, maka dilakukan thermal treatment, via torefaksi, untuk meningkatkan kualitasnya. Namun, perbedaan karakteristik bahan bakar tersebut menimbulkan tantangan teknis dalam implementasinya. Penelitian ini berfokus untuk mempelajari karakteristik fisik dan kimia batubara rank sedang (MRC), batubara rank rendah (LRC), sawdust sebelum, dan sesudah torefaksi, serta melihat pengaruhnya terhadap performa PLTU dan potensi dampak lingkungannya melalui pendekatan eksperimental dan simulasi. Serangkaian karakterisasi dilakukan terhadap MRC, LRC, dan sawdust, berupa analisis proksimat, ultimat, bulk density, nilai kalor, ash analysis, grindability, HGI, dan stabilitas termal dengan instrumen thermogravimetric analysis (TGA). Selanjutnya, sawdust ditorefaksi pada temperatur 200 °C dan 250 °C dengan gas nitrogen selama 30 menit menghasilkan produk TRF-200 dan TRF-250. Produk dianalisis kembali untuk menentukan perubahan sifat kimianya. Data yang diperoleh digunakan dalam perhitungan performa PLTU dan estimasi jumlah emisi CO2, SO2, serta fly ash dan bottom ash (FABA). Selain itu, karakteristik abu juga dianalisis dengan indeks risiko dan perangkat lunak FactSage. Hasil menunjukkan perbedaan karakteristik yang signifikan pada bahan bakar untuk bulk density (MRC: 881 kg/m3; sawdust: 217 kg/m3; TRF-200: 238 kg/m3) yang berimplikasi pada kebutuhan penyimpanan dan transportasi. Selain itu, proses torefaksi mampu meningkatkan nilai kalor (4.441 menjadi 5.033 kkal/kg, db), HGI (33 menjadi 74), stabilitas termal, serta menurunkan volatile matter (83,97 menjadi 73,70%, db) pada TRF-200. Hal ini meningkatkan efisiensi pembakaran dan memperbaiki grindability sawdust. Dalam skenario coal switching, nilai specific fuel consumption (SFC) dalam basis as received meningkat (MRC: 0,551 ton/MWh; LRC: 1,143 ton/MWh). Pada skenario co-firing dengan TRF-200, nilai SFC menurun secara linear (rasio: 0–20%; SFC: 0,551–0,541 ton/MWh). Dari sisi lingkungan, coal switching meningkatkan emisi CO2 116,1%, SO2 146,0%, dan jumlah FABA 163,9%. Co-firing dengan TRF-200 mampu mengurangi dampak lingkungan dengan menurunnya emisi CO2, SO2, dan jumlah FABA seiring meningkatnya rasio pencampuran (rasio: 0–20%; CO2: 100–76,5%; SO2: 100–92,9%; FABA: 100–89,1%). Hasil indeks risiko dan simulasi FactSage menunjukkan bahwa abu sawdust lebih berpotensi terjadi slagging-fouling.
STRATEGI TRANSFORMASI PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PROYEK KONSTRUKSI MENUJU TAKT PLANNING DAN TAKT CONTROL
Industri konstruksi di Indonesia masih banyak mengandalkan metode perencanaan dan pengendalian konvensional seperti bar chart, kurva S, dan Critical Path Method (CPM) yang kurang adaptif terhadap dinamika lapangan dan lemah dalam sinkronisasi aliran kerja. Kondisi ini kerap menyebabkan keterlambatan, pemborosan sumber daya, dan inefisiensi. Penelitian ini mengkaji transformasi metode konvensional menuju takt planning dan takt control, yaitu pendekatan yang menekankan ritme kerja terukur, sinkronisasi antar zona, dan pengendalian berbasis siklus pendek. Metode penelitian meliputi kajian literatur, studi kasus pada proyek yang telah menginisiasi takt (Proyek X) dan proyek konvensional (Proyek Y), wawancara mendalam, serta analisis kesenjangan dan kendala penerapan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan mendasar dalam aspek perencanaan, koordinasi, dan respons terhadap variabilitas. Berdasarkan temuan tersebut, disusun panduan strategis transformasi yang membagi proyek ke dalam tiga tingkat kesiapan, yaitu: (1) belum menerapkan takt, (2) sudah menginisiasi takt, dan (3) telah menerapkan takt planning namun belum takt control. Untuk setiap tingkat kesiapan, dirumuskan tahapan preparation, initiation, execution, dan stabilization. Tujuan utama panduan ini adalah memastikan proyek dapat mengimplementasikan takt secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. Panduan ini diharapkan dapat digunakan oleh praktisi konstruksi di Indonesia sebagai acuan praktis dalam melakukan transformasi manajemen proyek secara bertahap sesuai kondisi riil di lapangan.
ANALISIS PERBANDINGAN METODE ESTIMATOR LINIER PADA PEMODELAN GEOMETRI ENDAPAN SISA HASIL PENGOLAHAN TIMAH DI BLOK III PT XYZ
Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan elevasi batas bawah (bedrock) sisa hasil pengolahan (SHP) timah di wilayah Blok III PT XYZ dengan geostatistik berbasis data bor dan data Ground Penetrating Radar (GPR). Data yang digunakan meliputi 67 lubang bor dan data GPR berupa elevasi batas bawah. Setelah dilakukan validasi dan pengolahan data, dilakukan interpolasi menggunakan lima metode, yaitu Inverse Distance Square (IDS), Moving Average (MA), Nearest Neighborhood Point (NNP), Ordinary Kriging (OK), dan Ordinary Cokriging (COK) pada tiga ukuran grid berbeda yaitu 12.5×12.5 m, 25×25 m, dan 50×50 m. Hasil analisis statistik menunjukkan hasil interpolasi memiliki nilai skewness agak menceng ke kanan namun masih normal dan nilai mean yang konsisten antara -0.98 hingga -1.15. Validasi model menggunakan swath plot menunjukkan bahwa seluruh metode interpolasi masih mirip dengan data asli. Berdasarkan cross-validation, metode COK memiliki performa terbaik dengan slope tertinggi (0.63), intercept paling mendekati nol (-0.65), dan korelasi kuat (? = 0.71). Estimasi volume SHP yang dihasilkan berkisar antara 2.9 hingga 3.1 juta m³. COK memberikan estimasi volume paling mendekati baseline pada dua dari tiga ukuran grid. Jadi, Ordinary Cokriging direkomendasikan sebagai metode utama dalam pemodelan geometri batas bawah sisa hasil pengolahan timah.
STUDI PEMANFAATAN BAKTERI CITROBACTER FREUNDII SEBAGAI AGEN BIOREMEDIASI AIR ASAM TAMBANG DENGAN VARIASI PH DALAM CLOSED SYSTEM SKALA LABORATORIUM
Air Asam Tambang (AAT) merupakan limbah pertambangan yang bersifat sangat asam dan mengandung logam terlarut serta ion sulfat dalam konsentrasi tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Salah satu metode penanganannya adalah bioremediasi menggunakan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi Citrobacter freundii sebagai agen bioremediasi AAT pada tiga variasi pH awal, yaitu pH 1, 3, dan 5, dalam skala laboratorium. Percobaan dilakukan dengan menyesuaikan pH larutan sintetis AAT, melakukan kultivasi bakteri yang terdiri dari inokulasi dan inkubasi C. freundii menggunakan Organic Medium 79, dan memantau parameter Optical Density (OD), pH, Eh, kadar Fe dan Mn terlarut, serta konsentrasi sulfat selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pH 1, C. freundii tidak mampu tumbuh optimal, ditandai dengan nilai OD rendah (0,042–0,126 × 10? cells/mL) dan nilai Eh yang relatif stabil dan sangat oksidatif (334–340 mV). Pada pH 3 dan 5, bakteri mengalami pertumbuhan yang baik dengan peningkatan OD dan perubahan pH. Nilai Eh mengalami penurunan signifikan pada pH 3, sedangkan pada pH 5 penurunan berlangsung lebih lambat. Kadar Fe, Mn, dan sulfat terlarut tertinggi ditemukan pada pH 3, sementara pada pH 5 ketiganya cenderung lebih rendah akibat dominasi proses presipitasi dan penurunan kelarutan ion. Penelitian ini menyimpulkan bahwa C. freundii berpotensi digunakan untuk bioremediasi AAT pada pH menengah hingga mendekati netral, dengan efektivitas tertinggi pada pH 3.
EVALUASI TAMAN DENGAN KRITERIA RUANG TERBUKA PUBLIK RAMAH ANAK : STUDI KASUS ALUN-ALUN BANDUNG DAN ALUN-ALUN UJUNGBERUNG
Menurunnya kualitas ruang terbuka publik akhir-akhir ini dirasakan oleh masyarakat, khususnya kelompok anak-anak, yang memandang ruang publik tidak hanya sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan berkumpul dan berinteraksi, tetapi juga sebagai tempat untuk bermain. Kebutuhan ini perlu dipenuhi, terutama karena anak-anak masih berada dalam tahap perkembangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi ruang terbuka publik berdasarkan kriteria ruang publik ramah anak dengan mengambil 2 studi kasus taman publik di kota Bandung. Penelitian menggunakan metode dengan pendekatan evaluasi semu (pseudoevaluation). Metode kuesioner, observasi, dan wawancara digunakan untuk mengumpulkan data, dan dianalisis dengan mengkombinasikan metode kualitatif dan kuantitatif (mixed-methods) dalam mengevaluasi studi kasus. Hasil utama dari penelitian ini berupa perumusan kriteria ruang terbuka publik ramah anak, dengan jabaran substansi berupa 7 kriteria terdiri atas keamanan dan kesehatan, pemanfaatan aktivitas (exploratory to play), komunitas, aksesibilitas dan mobilisasi, paparan terhadap alam (contact with nature), kenyamanan, dan inklusivitas, beserta total 18 indikatornya yang merupakan turunan dari masingmasing kriteria. Kriteria ruang terbuka publik ramah anak digunakan dalam mengevaluasi studi kasus taman terpilih, yaitu Alun-Alun Bandung dan Alun-Alun Ujung Berung. Hasil evaluasi menujukkan kategori ketercapaian taman Alun-Alun Bandung berada pada klasifikasi “tercapai kurang baik” dengan perolehan skor 65.7%, sementara Alun-Alun Ujungberung berada pada klasifikasi “tidak tercapai” dengan perolehan skor 60.15%.
PENYELESAIAN PERSAMAAN AIR DANGKAL SECARA ANALITIK DAN NUMERIK MENGGUNAKAN FORMULASI CARRIER–GREENSPAN UNTUK ESTIMASI TINGGI RUN-UP GELOMBANG
Wilayah pesisir rentan terhadap bencana tsunami yang dapat menimbulkan risiko terhadap keselamatan jiwa dan kerusakan infrastruktur, termasuk pemukiman, fasilitas publik, jalur transportasi dan jaringan listrik. Salah satu parameter penting dalam kajian dinamika gelombang pesisir adalah run-up, yaitu ketinggian maksimum muka air laut ketika gelombang mencapai daratan. Tinggi run-up di pantai miring dapat dianalisis dengan menyelesaikan persamaan air dangkal untuk profil pantai miring. Solusi persamaan air dangkal dapat diperoleh dengan menerapkan transformasi hodograf sehingga diperoleh persamaan diferensial parsial linear yang lebih sederhana yang selanjutnya disebut formulasi Carrier-Greenspan. Pada tugas akhir ini, formulasi Carrier-Greenspan diselesaikan di domain transformasi dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan analitik dengan menggunakan teknik pemisahan variabel dan juga pendekatan numerik dengan menggunkan metode beda hingga. Solusi yang diperoleh dapat dikembalikan ke dalam domain fisis dengan menerapkan metode Newton-Raphson. Karena tugas akhir ini khusus membahas tinggi run-up, analisis difokuskan pada posisi garis pantai. Solusi yang diperoleh menggunakan pendekatan numerik dibandingkan dengan solusi analitik. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa pola run-up numerik konsisten terhadap hasil analitik dengan galat relatif run-up 0–0,02%. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan numerik dapat menghampiri solusi analitik dengan cukup baik sehingga metode ini dapat digunakan sebagai alternatif ketika solusi analitik sulit didapatkan.