📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERANCANGAN MODEL FINANSIAL PENGEMBANGAN BUDIDAYA MIKROALGA DI KABUPATEN SUBANG
Tim proyek yang terdiri dari PT X dan dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB memiliki rencana untuk mengindustrialisasi budidaya mikroalga menggunakan sistem photobioreactor (PBR), sebagai pengembangan dari skala laboratorium menuju implementasi di wilayah Kabupaten Subang. Inisiatif ini bertujuan mendukung skema Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) melalui pemanfaatan mikroalga untuk memperoleh carbon credit yang dapat diperdagangkan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model finansial dan mengevaluasi kelayakan proyek budidaya mikroalga di Kabupaten Subang sebagai bagian dari upaya mendukung implementasi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). Model finansial dirancang berdasarkan data teknis dan asumsi pasar dari tim proyek, kemudian digunakan untuk menghitung indikator kelayakan finansial seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Hasil awal menunjukkan bahwa proyek tidak layak secara finansial, terutama karena struktur pendapatan yang terbatas. Oleh karena itu, dilakukan strategi perbaikan berupa penambahan sumber pendapatan dari produk turunan, yaitu biofertilizer. Model bisnis alternatif dirancang dan diintegrasikan ke dalam model finansial baru, yang hasilnya menunjukkan peningkatan kelayakan proyek.
STUDI GEOKIMIA UNSUR JEJAK PADA ENDAPAN EMAS OROGENIK DI SEKAYAM, KALIMANTAN BARAT
Daerah Sekayam, Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi endapan emas orogenik yang berasosiasi dengan zona deformasi dan alterasi hidrotermal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur jejak yang berasosiasi dengan mineralisasi emas menggunakan pendekatan analisis geokimia unsur jejak dan mengklasifikasikan batuan berdasarkan pola unsur tanah jarang (REE) untuk memahami karakter litologi dan sumber batuannya. Sebanyak 10 sampel batuan dari berbagai zona (milonitik, urat, sedimen, dan sesar) dianalisis menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF), X-ray Diffraction (XRD), Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS), dan Loss on Ignition (LOI). Hasil analisis XRF dan ICP-MS menunjukkan bahwa unsur As, Sb, dan S memiliki korelasi positif dengan Au, hal ini mengindikasikan presipitasi emas bersama mineral pembawa seperti arsenopirit dan stibnit, unsur K yang berkorelasi positif dengan Au merefleksikan proses serisitisasi akibat fluida hidrotermal kaya K+, serta hasil XRD dan LOI menunjukkan alterasi pada lokasi penelitian yaitu serisitisasi, karbonatisasi, dan silisifikasi. Analisis pola REE memperlihatkan bahwa zona milonitik dan sesar mengalami pengayaan LREE (light rare earth elements) signifikan akibat pengaruh fluida metasomatik, sementara zona urat cenderung mengalami deplesi REE akibat mobilisasi oleh fluida. Pola REE dan multi-elemen tiap sampel dikomparasi dengan batuan dari Pegunungan Schwaner , Kompleks Luk Ulo, Kompleks Meratus, dan Area Mineralisasi Emas Timburu untuk menginterpretasi kesamaan litologi sumber berupa material busur magmatik yang telah terdeformasi dan teralterasi.
REDUKSI BIJIH NIKEL SAPROLIT DENGAN REDUKTOR GAS 25%H2-75%AR DALAM REAKTOR FLUIDIZED BED
Demi mewujudkan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di tahun 2030, produsen nikel perlu beralih ke teknologi yang lebih ramah lingkungan. Salah satu upaya untuk mewujudkan teknologi ramah lingkungan adalah dengan menggunakan reduktor berbasis hidrogen. Peningkatan efektivitas dari teknologi ramah lingkungan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan fluidized bed sebagai reaktor dalam proses reduksi. Fluidisasi menciptakan kontak antar gas dan partikel yang lebih efisien sehingga dapat memfasilitasi proses reduksi dalam sistem heterogen. Serangkaian percobaan yang telah dilakukan meliputi preparasi dan karakteristik bijih nikel saprolit, penentuan besaran laju alir gas dan set-up reaktor, proses reduksi nikel saprolit dalam reaktor fluidized bed menggunakan vertical tube furnace (VTF), proses peleburan produk reduksi nikel saprolit menggunakan VTF, serta karakterisasi hasil percobaan. Variasi set-up reaktor dan besaran laju alir gas antara 2,5 dan 7,5 L/menit dievaluasi pada temperatur kamar dan temperatur reduksi untuk menentukan fluidisasi partikel bijih nikel saprolit yang optimum. Bijih nikel saprolit kemudian direduksi dengan menggunakan gas 25%H2 – 75%Ar dengan laju alir gas sebesar 5 L/menit pada variasi temperatur reduksi maksimum 500-900? selama 2 jam pada temperatur maksimum. Hasil reduksi dilebur pada temperatur 1550? selama 2 jam dalam kondisi inert dengan mengalirkan gas argon pada laju alir sebesar 1 L/menit. Sampel hasil percobaan dikarakterisasi menggunakan X-ray diffraction (XRD), X-ray fluorescence (XRF), inductive coupled plasma (ICP), scanning electron microscope-energy dispersive spectroscopy (SEM-EDS), SEM-EDS dengan perangkat lunak automated material identification and classification system (AMICS), dan particle size analysis (PSA) sementara hasil peleburan dikarakterisasi menggunakan SEM-EDS. Besaran laju alir gas dan set-up reaktor memengaruhi fluidisasi partikel dan proporsi partikel bijih nikel saprolit yang terbawa bersama aliran gas. Besaran laju alir gas juga memengaruhi profil temperatur dalam reaktor fluidized bed. Data kehilangan berat dari hasil reduksi menunjukkan kehilangan air kristal yang meningkat dengan tingkat reduksi yang relatif konstan seiring dengan peningkatan temperatur. Hasil analisa XRF dan ICP menunjukkan peningkatan kadar besi dan nikel seiring dengan meningkatnya temperatur. Hasil analisa XRD menunjukkan puncak intensitas fasa feronikel dan logam besi mulai terlihat pada temperatur reduksi 700?. Ukuran P80 pada produk reduksi meningkat seiring dengan peningkatan temperatur reduksi. Logam hasil peleburan produk reduksi didominasi oleh nikel sebanyak lebih dari 90%. Besi yang terkandung dalam logam hasil peleburan meningkat seiring dengan peningkatan temperatur reduksi.
ANALISIS FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA USIA DEWASA MENGGUNAKAN REGRESI LOGISTIK
Diabetes Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2) adalah penyakit metabolik kronis yang terjadi ketika tubuh tidak efektif menggunakan insulin. DM Tipe 2 merupakan tantangan kesehatan global, diperkirakan 589 juta orang dewasa hidup dengan diabetes pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko paling berpengaruh pada populasi dewasa (18-59 tahun) menggunakan metode regresi logistik. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan data sekunder dari Behavioral Risk Factor Surveillance System (BRFSS) tahun 2015. Setelah pra-pemrosesan, dilakukan analisis deskriptif dan uji Chi-Square untuk menyaring variabel prediktor. Berdasarkan nilai AIC, dibangun dua model regresi logistik terbaik. Model pertama tanpa interaksi dengan prediktor General Health, High Blood Pressure, BMI, dan High Cholesterol. Model kedua dengan interaksi mencakup variabel-variabel tersebut serta variabel Smoke, Heavy Alcohol Consumption, dan interaksi antara High Blood Pressure dan Smoker. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti kesehatan umum yang buruk, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, BMI tinggi, dan kebiasaan merokok secara signifikan meningkatkan risiko DM Tipe 2. Pengujian multikolinearitas menunjukkan bahwa antar variabel tidak memiliki multikolinearitas yang tinggi. Kedua model memiliki akurasi klasifikasi yang baik (75,60% dan 73,16%) dan nilai AUC yang kuat (0,842 dan 0,844), mengonfirmasi kemampuan prediksi yang efektif. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil membangun model prediktif yang valid dan memberikan bukti ilmiah kuat untuk mendukung strategi pencegahan DM Tipe 2 yang lebih efektif.
ANALISIS UKURAN SELECTIVE MINING UNIT (SMU) DENGAN MENGGUNAKAN METODE UNIFORM CONDITIONING (UC) PADA ENDAPAN NIKEL LATERIT
Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ukuran selective mining unit (SMU) terhadap estimasi kadar dan tonase pada endapan nikel laterit dengan menggunakan metode Uniform Conditioning (UC). Ukuran SMU berperan penting dalam membedakan bijih dari limbah selama pemodelan sumber daya sehingga pemilihan dimensi SMU yang tepat sangat penting untuk menjamin perencanaan tambang yang akurat dan bernilai ekonomi. Penelitian ini difokuskan pada data bor dalam domain limonit dan saprolit, di mana pengaruh dilusi internal dan variabilitas bijih paling signifikan. Metodologi yang digunakan melibatkan teknik geostatistik, termasuk Ordinary Kriging dan Gaussian Anamorphosis, yang dilanjutkan dengan penerapan metode Uniform Conditioning untuk memperkirakan sumber daya yang dapat dipulihkan pada berbagai skenario ukuran SMU. Pra-pemrosesan data mencakup analisis statistik, top-cut capping, pemodelan geologi, dan pembuatan variogram. Beberapa skenario ukuran SMU yang dievaluasi berkisar dari 5 × 5 meter hingga 25 × 25 meter untuk mengamati dampaknya terhadap distribusi kadar tonase pada berbagai kondisi batas kadar (cut off). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran SMU yang lebih kecil cenderung menghasilkan kadar rata-rata yang lebih tinggi karena pengurangan dilusi internal dan peningkatan representasi terhadap variabilitas bijih. Namun, hal ini diimbangi dengan penurunan tonase, terutama pada batas kadar yang rendah. Menariknya, ketika batas kadar melebihi kadar rata-rata endapan, ukuran SMU yang lebih kecil justru berkontribusi terhadap peningkatan tonase bijih. Temuan ini menunjukkan bahwa pemilihan ukuran SMU secara langsung memengaruhi persepsi nilai ekonomi suatu endapan.
STUDI OPTIMASI PEMOMPAAN AIR SUMP PADA TAMBANG TERBUKA BATUBARA PT XYZ: PERBANDINGAN SKENARIO ARAH PEMOMPAAN DAN ANALISIS BIAYA OPERASIONAL
Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan sistem pemompaan air sump pada tambang terbuka batubara PT XYZ dengan membandingkan dua skenario arah pemompaan. Data curah hujan harian diolah menjadi data akumulasi pada interval 2, 4, 7, 14 hari dan bulanan untuk memahami karakteristik curah hujan di lokasi penelitian. Melalui analisis statistik deskriptif terhadap data curah hujan bulanan, dipilih tiga kondisi utama: persentil ke-75 (P75) sebagai kondisi operasional normal, persentil ke-90 (P90) untuk beban puncak, dan curah hujan maksimum sebagai kejadian ekstrem yang menjadi dasar perhitungan kebutuhan pemompaan. Metodologi penelitian melibatkan perhitungan kebutuhan pompa, konsumsi bahan bakar, dan biaya kapital pipa berdasarkan dua skenario pemompaan: Skenario 1 mengalirkan air dari Sump 1, 2, dan 3 ke Settling Pond 01 serta Sump 4 dan 5 ke Settling Pond 02; Skenario 2 mengalirkan Sump 3 dan 5 ke Settling Pond 02 dan Sump 1, 2, dan 4 ke Settling Pond 01. Evaluasi dilakukan untuk menilai efisiensi teknis dan biaya pada ketiga kondisi curah hujan tersebut. Hasil menunjukkan bahwa Skenario 1 lebih efisien secara teknis, dengan kebutuhan jumlah pompa dan jam operasi yang lebih rendah, sehingga cocok apabila prioritas utama adalah minimasi beban kerja peralatan. Namun, dari sisi biaya operasional dan konsumsi bahan bakar, Skenario 2 terbukti lebih hemat, dengan penghematan biaya operasional sebesar 5–10% dan pengurangan konsumsi bahan bakar per jam sekitar 5–8%, terutama pada kondisi beban puncak dan hujan maksimal. Oleh karena itu, pilihan skenario terbaik perlu mempertimbangkan prioritas antara efisiensi teknis dan efisiensi biaya dalam pengelolaan sistem pemompaan tambang.
KONTROL MINERALOGI PADA KEKUATAN BATUAN TERALTERASI HIDROTERMAL, PROSPEK KERTA, PROVINSI BANTEN, INDONESIA
Penelitian ini mengkaji kontrol mineralogi terhadap kekuatan batuan pada sistem batuan teralterasi hidrotermal di Prospek Kerta, Banten, dengan mengintegrasikan petrografi sayatan tipis dan X-ray Diffraction (XRD) untuk karakterisasi mineralogi, pengukuran ukuran butir dari fotomikrograf menggunakan ImageJ, serta data uji mekanik (UCS dan kuat tarik tak langsung) pada delapan litologi dari satu lubang bor geoteknik; analisis dilakukan secara deskriptif-semi kuantitatif. Rentang hasil menunjukkan UCS 4,41–71,96 MPa dan Tensile Strength 4,29–14,79 MPa; nilai tertinggi dijumpai pada Volcanic Breccia dan Sinter Breccia, sedangkan yang terendah pada Siltstone. Ukuran butir cenderung berbanding terbalik dengan kekuatan batuan, meskipun Siltstone menjadi anomali karena kandungan mineral lempung dan void yang tinggi. Komposisi mineral menunjukkan korelasi positif antara kandungan Kuarsa dan kekuatan batuan, sedangkan K-Feldspar berkorelasi negatif. Secara alterasi, mayoritas litologi mengalami Silisifikasi (moderate–intense) yang cenderung membuat batuan menjadi lebih kuat, sementara Undiff Tuff yang didominasi Kloritisasi memperlihatkan kekuatan relatif lebih rendah. Temuan ini menegaskan bahwa komposisi mineral (terutama Kuarsa), derajat/tipe alterasi, dan tekstur (ukuran butir) merupakan pengendali utama variasi kekuatan batuan, serta mendukung penerapan zonasi geoteknik berbasis mineralogi pada batuan hidrotermal teralterasi.
ANALISIS PERSEBARAN KONSENTRASI PM2.5 BERDASARKAN TIPE PROPAGASI MADDEN-JULIAN OSCILLATION PADA MUSIM DJF DI BENUA MARITIM INDONESIA
PM2.5 merupakan partikel udara berukuran ?2.5 mikrometer yang berisiko tinggi terhadap kesehatan manusia. Indonesia termasuk negara dengan tingkat polusi PM2.5 yang cukup tinggi, dan variabilitas konsentrasinya dipengaruhi oleh fenomena atmosfer skala intraseasonal seperti Madden–Julian Oscillation (MJO). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persebaran konsentrasi PM2.5 berdasarkan kategori propagasi MJO, yakni slow, fast, stand, dan jump, pada musim DJF (Desember–Januari–Februari) di wilayah Benua Maritim Indonesia. Data yang digunakan meliputi kejadian MJO dari Istiqomah (2023) dan data reanalisis MERRA-2 periode 1980–2018. Konsentrasi PM2.5 dihitung dari parameter aerosol dengan satuan ?g m?³, kemudian dihitung klimatologi normal, klimatologi MJO, serta selisih dan anomali tiap kategori MJO terhadap kondisi normal. Hasil menunjukkan bahwa masing-masing kategori MJO memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pola spasial konsentrasi PM2.5. Kategori slow cenderung diikuti peningkatan PM2.5 di wilayah barat dan tengah Indonesia, fast menunjukkan penurunan di beberapa wilayah barat, stand menunjukkan pola lokal yang bervariasi, dan jump tidak menunjukkan perubahan signifikan secara regional. Dengan demikian, klasifikasi propagasi MJO berperan dalam memengaruhi variasi spasial PM2.5 di Indonesia.
PERANCANGAN KAWASAN INDUSTRI PERIKANAN KARANGANTU, BANTEN DENGAN KONSEP BLUE GREEN INFRASTRUCTURE
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu di Kecamatan Kasemen, Banten, memiliki potensi strategis sebagai pusat kegiatan perikanan dan ekonomi maritim di wilayah pesisir utara Kota Serang. Kawasan ini didukung oleh posisi geografis yang menguntungkan, dikelilingi Teluk Banten, Sungai Cibanten, lahan mangrove, dan tambak, serta memiliki fasilitas pelabuhan yang menunjang aktivitas perikanan tangkap. Namun, PPN Karangantu menghadapi berbagai permasalahan, seperti sedimentasi alur pelayaran, keterbatasan infrastruktur, sirkulasi transportasi yang kurang memadai, drainase yang tidak berfungsi, serta kurangnya fasilitas Unit Pengolahan Ikan (UPI) modern. Selain itu, tata guna lahan yang belum optimal menyebabkan genangan air dan limbah perikanan yang mencemari lingkungan. Permasalahan ini diperparah dengan kurangnya integrasi antara komunitas nelayan dan koperasi dalam tata kelola kawasan. Sebagai solusi, konsep Blue Green Infrastructure (BGI) diusulkan dalam perancangan ulang kawasan PPN Karangantu. Pendekatan BGI menekankan integrasi elemen air dan vegetasi untuk menciptakan sistem yang berkelanjutan, adaptif terhadap perubahan iklim, serta mendukung kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Lima prinsip utama BGI yang diterapkan meliputi keberlanjutan, integrasi zona fungsional, adaptabilitas, kolaborasi dengan masyarakat lokal, serta keamanan dan kenyamanan pengguna. Rancangan meliputi pengembangan fasilitas pelabuhan, revitalisasi hutan mangrove, sistem drainase berbasis bioswale, penggunaan energi terbarukan, serta pengelolaan limbah organik. Selain itu, pengembangan jalur sirkulasi internal, area parkir hijau, dan sistem navigasi terpadu diintegrasikan untuk mendukung aktivitas bisnis, rekreasi, dan ekowisata. Dengan demikian, perancangan ulang PPN Karangantu diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi kawasan, mendukung ketahanan pangan, serta menciptakan lingkungan pelabuhan yang fungsional, ramah lingkungan, dan berdaya saing
EVALUASI JARINGAN DRAINASE KOTA PEKALONGAN BERDASARKAN DATA DIGITAL TERRAIN MODEL ATAU PEMODELAN BANJIR
Kota Pekalongan sering mengalami banjir rob serta banjir akibat tingginya curah hujan, yang berdampak negatif terhadap aktivitas masyarakat dan infrastruktur kota. Kondisi ini diperparah oleh penurunan muka tanah yang signifikan setiap tahunnya, sehingga sistem drainase yang ada belum mampu berfungsi secara optimal dalam mengatasi permasalahan banjir. Dalam tugas akhir ini, dilakukan penelitian untuk mengevaluasi arah aliran dan kondisi keberfungsian saluran drainase di Kota Pekalongan. Penelitian bertujuan menganalisis kondisi sistem drainase dengan memanfaatkan data Digital Terrain Model (DTM) dan data pemodelan banjir. Data DTM digunakan untuk menentukan arah aliran air pada masing-masing segmen drainase, sedangkan data pemodelan banjir dianalisis untuk mengidentifikasi tinggi dan sebaran genangan pada segmen-segmen tersebut. Metode yang digunakan meliputi analisis spasial menggunakan perangkat lunak GIS untuk mengidentifikasi kesesuaian arah aliran terhadap rencana masterplan drainase serta mendeteksi segmen yang rawan genangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya segmen-segmen drainase yang memiliki arah aliran tidak sesuai dengan perencanaan masterplan, serta segmen- segmen yang rawan terhadap banjir. Temuan ini dapat dijadikan dasar dalam perencanaan perbaikan dan pemeliharaan sistem drainase guna meminimalkan potensi banjir di Kota Pekalongan.
STRATEGI KEUANGAN FC BARCELONA: MEMPENGARUHI DAYA SAING DAN KEBERLANJUTANNYA SELAMA KRISIS
Studi ini menganalisis krisis keuangan FC Barcelona pada periode 2020-2024 serta dampak kebijakan keuangan, aturan permainan, dan guncangan eksternal terhadap keberlanjutan dan daya saing klub. Pilihan yang didorong oleh motif politik dan pengeluaran gaji yang berlebihan serta biaya transfer di bawah sistem tata kelola yang dimiliki oleh masyarakat menyebabkan krisis dengan menunda reformasi keuangan yang diperlukan. Goncangan eksternal akibat pandemi COVID-19 menyebabkan defisit pendapatan yang besar, lebih dari 50% dari pendapatan hari pertandingan pada tahun 2020, sementara aturan permainan seperti batas gaji La Liga dan regulasi Financial Fair Play UEFA membatasi perpanjangan kontrak dan perekrutan pemain baru. Sebagai taktik untuk menutupi kekurangan likuiditas, klub menggunakan “leverage ekonomi” seperti penjualan hak tiket dan media masa depan, yang memberikan kelonggaran sementara dengan mengorbankan pendapatan di masa depan. Temuan menunjukkan bahwa keunggulan olahraga jangka pendek dicari melalui pola pikir elit sepak bola yang mengutamakan pemenang, namun hal ini dilakukan di tengah stabilitas fiskal. Penelitian ini merekomendasikan penerapan model gaji berbasis kinerja, percepatan digitalisasi sebagai bentuk diversifikasi pendapatan, penerapan proyeksi fiskal berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk pengendalian utang yang lebih baik, serta reorganisasi tata kelola menuju peningkatan dinamisme. Langkah-langkah ini akan memastikan stabilitas ekonomi sambil mempertahankan identitas budaya FC Barcelona, dengan ambisi olahraga didukung secara berkelanjutan melalui ekonomi.
KERANGKA KERJA MACHINE LEARNING UNTUK PENILAIAN STOKASTIK BATAS HOSTING CAPACITY GABUNGAN PHOTOVOLTAIC DAN ELECTRIC VEHICLE PADA JARINGAN DISTRIBUSI TEGANGAN MENENGAH
Peningkatan penetrasi Photovoltaic (PV) dan Electric Vehicle (EV) yang masif menimbulkan tantangan signifikan terhadap keamanan dan keandalan operasi jaringan distribusi, sehingga dibutuhkan metode screening hosting capacity (HC) yang cepat dan akurat. Metode tradisional berbasis simulasi terlalu perlahan untuk melakukan penilaian terhadap permintaan interkoneksi dalam skala besar, sementara pendekatan machine learning (ML) yang ada berfokus pada satu tipe Distributed Energy Resource (DER), dan jarang terdapat analisis yang mengkombinasikan dampak dari integrasi PV dan EV secara simultan. Penelitian ini mengusulkan sebuah kerangka kerja baru yang memanfaatkan klasifikasi XGBoost, yang dilatih menggunakan set data komprehensif dari simulasi Monte Carlo stokastik, untuk melakukan penilaian HC gabungan PV-EV yang cepat dan andal. Metodologi ini menghasilkan batas HC dua dimensi yang kontinu, memberikan pandangan holistik mengenai batas operasional jaringan terhadap semua jenis pelanggaran. Kerangka kerja ini secara unik mengintegrasikan parameter yang dapat diatur untuk toleransi risiko probabilistik dan tingkat konservatisme model yang dapat ditentukan oleh perencana, memungkinkan proses screening yang fleksibel dan selaras dengan kebijakan operasional. Kerangka kerja ini divalidasi pada berbagai topologi jaringan dan menunjukkan akurasi serta generalisasi yang tinggi, dengan skor Recall secara konsisten melebihi 0,95. Hasil analisis batas HC menunjukkan bahwa faktor pembatas utama untuk PV adalah tegangan lebih (overvoltage), sedangkan untuk EV adalah tegangan kurang (undervoltage) atau beban lebih (overloading). Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa intervensi seperti On-Load Tap Changer (OLTC) dan skema Time-of-Use (TOU) dapat secara substansial meningkatkan HC untuk EV hingga lebih dari 500%. Studi ini juga menemukan wawasan baru, seperti potensi penetrasi PV yang sangat tinggi untuk menyebabkan undervoltage, sebuah fenomena yang umumnya tidak dipertimbangkan dalam studi HC.
DESAIN DAN ANALISIS INSTALASI SUBSEA UMBILICAL CABLE DAN RIGID PIPELINE SERTA ANALISIS FATIGUE AKIBAT FREE SPAN DI PERAIRAN LAUT BALI
Kerusakan lelah (fatigue) akibat vortex-induced vibration pada bentang bebas (free span) merupakan salah satu ancaman utama bagi integritas pipa bawah laut. Studi ini menginvestigasi pengaruh dari dua parameter operasional, yaitu persentase corrosion allowance terpakai dan variasi seabed gap (e) terhadap umur lelah pipa. Pendekatan yang digunakan adalah analisis sensitivitas melalui skrip Python yang dikembangkan berdasarkan metodologi analisis fatigue pada single span sesuai standar DNV-RP-F105. Kasus uji memodelkan penggunaan corrosion allowance sebesar 0%, 50%, dan 100%, serta variasi seabed gap sebesar 0.5 m, 1.0 m, dan 2.0 m pada rentang panjang bentang 30–70 m. Umur lelah dihitung berdasarkan akumulasi kerusakan Palmgren-Miner dengan kurva S-N F3 (seawater with cathodic protection), dengan fokus pada vortex-induced vibration single-mode. Hasil menunjukkan bahwa di bentang kritis (saat umur lelah < 50 tahun), penggunaan 100% corrosion allowance dapat menurunkan umur lelah hingga 54% yang memperpendek batas bentang kritis dari 52 m menjadi 49 m. Sementara itu, peningkatan nilai seabed gap dari 0.5 m ke 2.0 m menurunkan umur lelah hingga 67%, menggeser batas bentang kritis dari 54 m menjadi 49 m. In-line Response Model teridentifikasi sebagai mode dominan (governing mode), sedangkan efek kedalaman terhadap tren penurunan umur lelah terbukti tidak signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa umur lelah pipa bawah laut sangat sensitif terhadap berkurangnya ketebalan dinding pipa akibat korosi dan jarak antara pipa dengan dasar laut sehingga kedua parameter tersebut penting untuk diperhatikan.
DESAIN DAN ANALISIS RESPONS FATIGUE PADA INSTALASI PIPA BAWAH LAUT PENGANGKUT CO2 DALAM IMPLEMENTASI CARBON CAPTURE, UTILIZATION, AND STORAGE (CCUS) DI LAUT JAWA
Pipa bawah laut memegang peranan vital untuk mentransportasikan CO? dalam implementasi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). CO? mempunyai risiko kebocoran tinggi, terutama saat instalasi yang melibatkan aktivitas manusia, sehingga menjaga integritas pipa menjadi prioritas. Salah satu ancaman utama adalah kerusakan fatigue akibat siklus tegangan berulang saat laybarge tidak dapat beroperasi atau harus standby karena cuaca buruk atau gangguan peralatan sehingga pipa yang menggantung mengalami siklus tegangan berulang. Studi ini mengusulkan metodologi estimasi waktu allowable barge standby time terhadap umur fatigue untuk instalasi pipa bawah laut dengan metode S-Lay, sebuah pendekatan yang belum banyak dilaporkan dalam konteks proyek CCUS di Indonesia. Studi parametrik dilakukan untuk dua skenario kedalaman dan menggunakan delapan arah gelombang. Analisis ini mengevaluasi data tegangan riwayat waktu lalu menggunakan metode rainflow counting melalui skrip Python untuk mengurai siklus tegangan. Akumulasi kerusakan fatigue kemudian dihitung sesuai aturan Palmgren-Miner dengan acuan kurva S-N di air laut dengan proteksi katodik tipe D berdasarkan DNV-RP-C203. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari keempat lokasi yang ditinjau (laybarge, stinger, sagbend, dan seabed), stinger memiliki laju kerusakan fatigue tertinggi. Untuk menjaga kerusakan fatigue tidak melebihi 3.3% dalam semua kondisi, barge standby time ditetapkan maksimal 4 hari berdasarkan skenario terburuk. Selain itu, waktu standby yang dihasilkan pada kedalaman maksimum relatif lebih singkat karena pipa yang menggantung lebih panjang dan lebih responsif terhadap beban lingkungan. Kondisi ini menyebabkan siklus tegangan kumulatif di area kritis (stinger) meningkat, mempercepat akumulasi kerusakan fatigue dan memperpendek waktu menuju batas kritis.
IMPLEMENTASI LEARNING-BASED CACHE REPLACEMENT PADA TESTBED CONTENT DELIVERY NETWORK MENGGUNAKAN MACHINE LEARNING
Meningkatnya permintaan akses konten melalui internet mendorong penggunaan Content Delivery Network (CDN) untuk mengurangi latensi dan meningkatkan pengalaman pengguna. Namun, efisiensi penyimpanan cache pada CDN konvensional masih dapat ditingkatkan. Penelitian ini mengusulkan pendekatan cache replacement berbasis machine learning dengan menggunakan algoritma Learning Relaxed Belady (LRB) untuk mengoptimalkan alokasi konten dalam sistem CDN. Model ini dilatih menggunakan data log akses pengguna yang memuat informasi waktu akses, lokasi, jenis konten, dan ukuran file. Dengan memanfaatkan prediksi interval waktu ke akses selanjutnya, sistem dapat melakukan eviksi konten secara cerdas dan melakukan preloading konten yang diprediksi akan segera diakses. Sistem CDN testbed diimplementasikan dengan tiga subsistem utama: server CDN berbasis Nginx, subsistem pemantauan dengan Grafana dan Prometheus, serta subsistem machine learning yang menggunakan LightGBM. Evaluasi performa dilakukan melalui metrik Cache Hit Ratio (CHR) dan perbandingan dengan metode LRU dan LFU. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pendekatan LRB dapat meningkatkan performa CDN berdasarkan CHR sebanyak 5% dibanding algoritma LRU dan 8% dibanding algoritma LFU, serta memenuhi target CHR di atas 80%. Selain itu, pendekatan LRB memiliki kestabilan yang lebih baik dibanding dua algoritma pembandingnya berdasarkan pengukuran standar deviasi yang paling rendah pada pengujian simulasi traffic menggunakan distribusi zipf dan uniform. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi machine learning dalam cache replacement dapat menjadi solusi adaptif yang efektif untuk mengelola distribusi konten di jaringan CDN modern.