📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERANCANGAN SISTEM INFORMASI PENGAJUAN INFRASTRUKTUR TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DI BADAN POM MENGGUNAKAN METODE SOFTWARE DEVELOPMENT LIFE CYCLE (SDLC)
Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) memiliki 78 Unit Kerja yang tesebar di Indonesia. Salah satunya adalah Unit Kerja Pusat Data Obat dan Makanan (Pusdatin) yang bertugas dalam mengelola sistem informasi di Badan POM. Tim Perencanaan merupakan bagian dari Unit Kerja Pusdatin yang bertugas dalam mengelola proses pengajuan infrastruktur di Badan POM. Terdapat beberapa permasalahan yang timbul dalam proses ini, terutama pada permasalahan tidak adanya pemanfaatan data yang dikumpulkan lebih lanjut dan media pengajuan menggunakan beberapa tautan. Permasalahan-permasalahan yang ada kemudian dilakukan analisis menggunakan gap analysis dan fishbone diagram. Didapatkan akar permasalahan bahwa sistem pengajuan infrastruktur TIK di Badan POM saat ini belum terintegrasi. Tujuan utama dari penelitian ini adalah merancang sistem informasi yang membantu Tim Perencanaan Pusdatin melaksanakan pengajuan infrastruktur dan kontrol infrastruktur TIK di Badan POM. Metode yang digunakan yaitu Software Development Life Cycle (SDLC). Pemilihan metode ini cocok untuk digunakan karena sistematis dan tepat untuk sistem yang tidak fleksibel dan terbatas waktu dalam pengerjaan. Metode SDLC merupakan metode sistematik dan sekuensial dengan melakukan analisis, desain, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan. Pemodelan sistem menggunkan aplikasi PowerDesigner. Desain sistem dilakukan dengan menggunakan aplikasi Figma. Tahapan penelitian hanya dilakukan hingga desain disertai dengan verifikasi dan validasi sistem informasi. Verifikasi memastikan sistem informasi memenuhi kebutuhan functional dan non-functional yang telah diidentifikasi. Sedangkan, verifikasi memastikan sistem informasi sesuai dengan keinginan problem owner. Lalu, dilakukan analisis implikasi manajerial yang menganalisis dampak sistem informasi usulan terhadap manajerial.
RANCANG BANGUN DASHBOARD DAN SISTEM OTOMASI BERBASIS WEB DALAM PENGEMBANGAN SOCIAL MEDIA BOT INSTAGRAM
Promosi pariwisata di era digital semakin bergantung pada platform media sosial seperti Instagram, di mana influencer berperan krusial dalam membangun persepsi positif dan mendorong interaksi audiens. Namun, pengelolaan akun secara manual untuk berinteraksi secara konsisten dengan calon wisatawan sering kali tidak efisien dan kurang responsif. Untuk menjawab tantangan tersebut, dikembangkan sebuah proyek capstone untuk membangun "Nusava," yaitu prototipe social media bot cerdas yang dirancang untuk memanfaatkan influencer pariwisata. Sistem ini bekerja dengan mengintegrasikan tiga komponen utama: Large Language Model (LLM), data mining, dan sebuah sistem operasional inti. Tugas akhir ini menyusun perancangan, implementasi, dan pengujian komponen operasional inti tersebut, yang terdiri dari dashboard berbasis web dan sistem otomasi yang terintegrasi. Dashboard yang dibangun dengan frontend Next.js dan backend Django menyediakan antarmuka pengguna untuk konfigurasi persona bot, pemantauan kinerja melalui analitik real-time, serta pengelolaan konten terjadwal. Komunikasi antara frontend dan backend menggunakan arsitektur RESTful API yang memastikan pertukaran data yang akurat dan responsif. Sementara itu, sistem otomasi dirancang dengan menerapkan paradigma trigger pattern. Pemicu berbasis event-driven digunakan untuk memberikan respons langsung terhadap interaksi pengguna, seperti membalas direct message menggunakan respons yang dihasilkan oleh LLM. Di sisi lain, pemicu berbasis schedule untuk tindakan berkala seperti unggahan konten dan pembaruan statistik, sehingga mengoptimalkan interaksi dan jangkauan. Hasil dari tugas akhir ini menunjukkan keberhasilan dalam pengembangan sistem dashboard yang terintegrasi dengan bot dalam pemantauan kinerja bot Nusava. Tugas akhir ini juga bertujuan mengoptimalkan sistem otomasi social media bot yang dapat menunjang promosi pariwisata. Dengan implementasi trigger pattern berbasis event-driven dan scheduled, sistem ini mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menjalankan aksi media sosial
PERANCANGAN SITUS WEB PADA LEMBAGA TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (LETMI ITB) UNTUK MENINGKATKAN PENJENAMAAN PERUSAHAAN
PT. LETMI ITB merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa atau layanan pelatihan dan konsultasi di bidang manajemen dan teknik industri. Perusahaan ini memiliki situs web sebagai salah satu metode penjenamaan perusahaan kepada calon klien potensial, terutama secara daring. Namun, penggunaan situs web telah lama non-aktif sejak terakhir dilakukan pembaruan pada tahun 2012. Selama ini, metode penjenamaan perusahaan dilakukan berdasarkan basis relasi dari para anggota PT. LETMI ITB melalui metode komunikasi mouth-to-mouth. Untuk meningkatkan penjenamaan perusahaan dan memperluas jangkauan klien yang dapat mencapai informasi mengenai PT. LETMI ITB, maka dilakukan perancangan ulang terhadap tampilan situs web perusahaan. Metode yang digunakan dalam perancangan ulang situs web ini adalah design thinking. Metode ini terdiri atas lima tahap yaitu empathize, define, ideate, prototyping, dan test. Kelima tahap tersebut melibatkan aspek persepsi dan perspektif pengguna situs web. Pada tahap empathize dilakukan wawancara terhadap narasumber pengurus perusahaan mengenai keadaan situs web dan penggunaannya serta observasi secara langsung pada situs web tersebut. Pada tahap define dan ideate dilakukan analisis terhadap produk web kompetitor di bidang konsultasi serta dilakukan perancangan ide untuk desain user interface dan fitur dari situs web yang baru. Pada tahap prototyping dilakukan perancangan UI/UX dari ide-ide yang sebelumnya telah ditentukan dengan hasil perancangan menjadi gambaran kasar bagi produk akhir. Dan terakhir dilakukan uji coba pada tahap test menggunakan metode usability testing. Pada tahap ini prototipe diuji coba dan dievaluasi oleh pengguna untuk menghasilkan umpan balik bagi pengembangan situs web tersebut. Hasil usability testing menunjukkan bahwa pengguna mampu mencapai 100% success rate dalam uji coba situs web. Sementara untuk hasil dari time completion, diperoleh nilai rata-rata waktu untuk uji skenario 1 sebesar 10,8 detik, uji skenario 2 sebesar 6,6 detik, dan uji skenario 3 sebesar 10 detik. :
PERANCANGAN SITUS WEB PADA LEMBAGA TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (LETMI ITB) UNTUK MENINGKATKAN PENJENAMAAN PERUSAHAAN
PT. LETMI ITB merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa atau layanan pelatihan dan konsultasi di bidang manajemen dan teknik industri. Perusahaan ini memiliki situs web sebagai salah satu metode penjenamaan perusahaan kepada calon klien potensial, terutama secara daring. Namun, penggunaan situs web telah lama non-aktif sejak terakhir dilakukan pembaruan pada tahun 2012. Selama ini, metode penjenamaan perusahaan dilakukan berdasarkan basis relasi dari para anggota PT. LETMI ITB melalui metode komunikasi mouth-to-mouth. Untuk meningkatkan penjenamaan perusahaan dan memperluas jangkauan klien yang dapat mencapai informasi mengenai PT. LETMI ITB, maka dilakukan perancangan ulang terhadap tampilan situs web perusahaan. Metode yang digunakan dalam perancangan ulang situs web ini adalah design thinking. Metode ini terdiri atas lima tahap yaitu empathize, define, ideate, prototyping, dan test. Kelima tahap tersebut melibatkan aspek persepsi dan perspektif pengguna situs web. Pada tahap empathize dilakukan wawancara terhadap narasumber pengurus perusahaan mengenai keadaan situs web dan penggunaannya serta observasi secara langsung pada situs web tersebut. Pada tahap define dan ideate dilakukan analisis terhadap produk web kompetitor di bidang konsultasi serta dilakukan perancangan ide untuk desain user interface dan fitur dari situs web yang baru. Pada tahap prototyping dilakukan perancangan UI/UX dari ide-ide yang sebelumnya telah ditentukan dengan hasil perancangan menjadi gambaran kasar bagi produk akhir. Dan terakhir dilakukan uji coba pada tahap test menggunakan metode usability testing. Pada tahap ini prototipe diuji coba dan dievaluasi oleh pengguna untuk menghasilkan umpan balik bagi pengembangan situs web tersebut. Hasil usability testing menunjukkan bahwa pengguna mampu mencapai 100% success rate dalam uji coba situs web. Sementara untuk hasil dari time completion, diperoleh nilai rata-rata waktu untuk uji skenario 1 sebesar 10,8 detik, uji skenario 2 sebesar 6,6 detik, dan uji skenario 3 sebesar 10 detik. :
IMPLEMENTASI EBPF PADA LOAD BALANCER DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA LEAST CONNECTION PADA KUBERNETES
Load balancer berguna untuk melakukan pendistribusian lalu lintas jaringan yang masuk pada sebuah sistem. Dalam implementasinya khususnya pada kubernetes, sangat mudah dilakukan dan dapat dibuat pada berbagai layer. Pada kubernetes, load balancer secara default menggunakan iptables yang mana menyimpan chain rules dalam melakukan pemilihan servis yang disimpan. Terdapat kelemahan pada iptables dalam melakukan pemilihan dan perubahan pada servis yang disimpan karena harus melakukan pencocokan satu per satu pada chain rules sehingga memiliki kompleksitas O(n) dalam melakukan pemilihannya. Dalam perubahan chain rules, chain rules harus di-restore secara keseluruhan untuk menyimpan perubahannya sehingga jika menyimpan banyak chain rules akan menyebabkan adanya overhead. Dalam mengatasi hal tersebut, terdapat teknologi yang bernama eBPF yang memiliki eBPF maps yang dapat berjalan pada kernel space yang mana dalam melakukan pemilihan dan perubahan elemen di dalamnya hanya perlu menggunakan key. Pada kubernetes, terdapat sebuah teknologi yang bernama Cilium yang memiliki fungsi untuk melakukan manajemen jaringan dan memiliki fondasi eBPF di dalamnya, sehingga ip tables dapat sepenuhnya diganti menggunakan eBPF maps. Walaupun begitu, dalam implementasi load balancer pada Cilium khususnya pada OSI layer ke empat sangat terbatas dalam melakukan pemilihan algoritmanya dan hanya terbatas pada algoritma yang bersifat stateless karena Cilium memfokuskan pada load balancer dengan throughput yang tinggi dan latensi yang sangat rendah. Dalam implementasi load balancer kali ini akan digunakan eBPF dan algoritma least connection pada kubenetes dan hasilnya LB dapat berjalan dengan mengonsumsi cpu yang lebih rendah dibandingkan dengan iptables dan berjalan dengan kinerja yang lebih stabil.
PENGEMBANGAN MODEL EVALUASI SUBSIDI ANGKUTAN UDARA PERINTIS PENUMPANG
Program angkutan udara perintis penumpang merupakan instrumen strategis dalam membangun konektivitas wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia. Layanan ini membuka aksesibilitas transportasi udara bagi masyarakat di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur, jarak tempuh yang jauh, dan moda transportasi alternatif yang minim. Di tengah peran strategisnya, kebijakan subsidi untuk rute perintis memerlukan evaluasi yang tepat agar dana publik yang digunakan dapat memberikan manfaat maksimal. Namun, evaluasi kelayakan rute bersubsidi yang dilakukan selama ini umumnya masih menggunakan pendekatan deskriptif dan indikator tunggal seperti tingkat okupansi penumpang. Pendekatan tersebut kurang mempertimbangkan keterkaitan multidimensi antara besaran subsidi, cakupan populasi, dan kondisi aksesibilitas wilayah, sehingga berisiko menghasilkan penilaian yang kurang objektif dan tidak sepenuhnya mencerminkan kebutuhan konektivitas riil di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka evaluasi subsidi angkutan udara perintis yang lebih objektif, kuantitatif, dan kontekstual melalui penerapan Data Envelopment Analysis (DEA). DEA dipilih karena kemampuannya dalam mengukur efisiensi relatif antar unit layanan dengan mempertimbangkan hubungan simultan antara variabel input dan output. Dalam kerangka yang dikembangkan, variabel input mencakup nilai subsidi, cakupan populasi, dan indeks kesinambungan yang merupakan suatu indikator komposit yang merepresentasikan kebutuhan konektivitas wilayah. Indeks kesinambungan ini dibangun menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA) dari tiga komponen utama: waktu tempuh, frekuensi penerbangan, dan biaya perjalanan. Pemilihan ketiga komponen ini didasarkan pada kemampuannya untuk menggambarkan tingkat keterpencilan dan keterbatasan akses transportasi secara langsung, sehingga indeks yang dihasilkan ringkas namun relevan secara kontekstual. Variabel output dalam model ini adalah tingkat okupansi penumpang. Integrasi indeks kesinambungan ke dalam kerangka DEA menjadi kebaruan utama penelitian ini, karena memungkinkan evaluasi yang tidak hanya berfokus pada efisiensi teknis, tetapi juga memasukkan dimensi urgensi layanan berdasarkan kondisi aksesibilitas aktual. Dengan demikian, model ini memberikan perspektif yang lebih adil terhadap rute yang melayani wilayah dengan keterbatasan akses tinggi. ii Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat rute ber okupansi rendah yang tetap dinilai efisien karena menggunakan subsidi yang relatif kecil dan melayani daerah dengan akses transportasi yang sangat terbatas. Sebaliknya, ada rute dengan okupansi tinggi yang tidak termasuk kategori efisien akibat konsumsi subsidi yang tidak sebanding dengan manfaat konektivitas yang diberikan. Temuan ini menegaskan bahwa penggunaan indikator tunggal seperti okupansi tidak cukup untuk menilai efisiensi subsidi rute perintis. Model yang dikembangkan juga terbukti sensitif terhadap variasi indeks kesinambungan, sehingga mampu mengakomodasi perbedaan karakteristik antarwilayah dan memberikan hasil evaluasi yang lebih kontekstual. Dari sisi metodologis, penelitian ini memberikan kontribusi berupa pengayaan DEA dengan dimensi aksesibilitas berbasis PCA yang dirancang sesuai karakteristik layanan udara perintis di wilayah 3T. Dari sisi praktis, kerangka evaluasi ini dapat menjadi alat bantu bagi pembuat kebijakan dalam menetapkan prioritas subsidi secara lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan.
PENGEMBANGAN MODUL VISUALISASI ROLLING SPHERE METHOD DAN PERHITUNGAN BIAYA PADA PERANGKAT LUNAK SISTEM PROTEKSI PETIR
karena iklim tropis dan letak geografisnya, sehingga sistem proteksi petir sangat penting. Perancangan sistem proteksi petir saat ini masih dilakukan secara manual dan kurang akurat, sehingga diperlukan perangkat lunak yang mampu mengakomodasi variabel iklim dan melakukan visualisasi otomatis untuk perlindungan yang lebih efektif. Perencanaan biaya proteksi juga harus mempertimbangkan ukuran bangunan, metode, dan karakteristik petir setempat agar optimal. Perangkat lunak proteksi petir dikembangkan dengan metode SDLC, mengintegrasikan data petir dan kondisi bangunan di Indonesia untuk analisis akurat. Visualisasi 3D rolling sphere method setelah dilakukan pemasangan tiang proteksi memudahkan dalam melihat daerah lindung. Perhitungan biaya dilaksanakan berdasarkan jumlah dan tipe komponen utama sistem proteksi yakni air terminal, down conductor, dan grounding system. Selain itu, biaya instalasi dihitung dari jumlah pekerja dan durasi pengerjaan, yang pengguna dapat sesuaikan secara fleksibel sesuai kebutuhan proyek. Rincian biaya yang dihasilkan memberi gambaran menyeluruh mengenai pengeluaran untuk pembangunan sistem proteksi petir sambil tetap memperhatikan aspek keselamatan dan standar teknis yang berlaku. Pendekatan ini memberikan solusi proteksi petir yang efektif dan efisien. Hasil pengembangan dan pengujian menunjukkan perangkat lunak proteksi petir telah memenuhi kebutuhan fungsional dan mampu melakukan perencanaan sistem proteksi petir dengan waktu sekitar 10 menit mulai dari analisis risiko, visualisasi RSM, penempatan tiang, hingga perhitungan biaya. Perangkat lunak ini berhasil menjadi sebuah one stop solution untuk melakukan perancangan sistem proteksi petir. Hasil pengujian juga menunjukkan kemudahan penggunaan dan kelengkapan fitur seperti analisis risiko, penentuan penempatan tiang, serta perhitungan biaya. Oleh karena itu, perangkat lunak ini dapat membantu pengguna dalam mempercepat proses perancangan sistem proteksi petir secara signifikan.
QUESTION ANSWERING MENGGUNAKAN LARGE LANGUAGE MODELS UNTUK DIALOG DENGAN CODE- SWITCHING
Code-switching merupakan fenomena pencampuran lebih dari satu bahasa dalam sebuah percakapan oleh pembicara multibahasa yang seringkali terjadi di kehidupan sehari-hari. Hal tersebut muncul sebagai urgensi diperlukannya sebuah produk Natural Language Processing (NLP) untuk menyelesaikan permasalahan code-switching. Penelitian ini mengembangkan sebuah code-switching benchmark dataset dengan tugas Question Answering (QA) sebagai solusi untuk masalah tersebut. Dataset yang dihasilkan mencakup variasi pasangan Bahasa Jawa- Indonesia-Inggris dan Indonesia-Inggris dengan total 200 instan dialog. Sementara itu, tugas QA yang diujikan tersusun atas pertanyaan pilihan ganda dan isian singkat dengan kategori answerable dan unanswerable. Dalam penelitian ini, dihasilkan instan data tugas QA yang jumlahnya mencapai 2000 pertanyaan. Selanjutnya, dataset digunakan untuk menguji Large Language Models (LLM) dari beberapa aspek, seperti cakupan bahasa (model multibahasa, regional, dan Indonesia); penalaran; dan instruksi. Pengujian dilakukan menggunakan metrik evaluasi akurasi untuk pertanyaan pilihan ganda dan exact match untuk pertanyaan isian singkat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa LLM masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan tugas QA dengan konteks dialog code- switching dari dataset yang dihasilkan. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa beberapa keunikan khusus dari setiap LLM berpengaruh dalam proses penyelesaian tugas QA dari dataset.
KAJIAN PERUBAHAN SIFAT FISIK DAN MEKANIK BETON PADA PEMANASAN JENUH AIR HINGGA TEMPERATUR100 °C SKALA LABORATORIUM
Aktivitas tambang bawah tanah di beberapa wilayah dapat terjadi di bawah muka air tanah (MAT). Kondisi ini juga dapat terjadi pada tambang bawah tanah di Indonesia dengan sumber air panas dengan suhu ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemanasan dalam kondisi jenuh air terhadap sifat fisik dan mekanik batuan, serta mengembangkan model numerik untuk memprediksi perilaku batuan pada kondisi tersebut. Sampel batuan beton diuji melalui pengujian sifat fisik dan mekanik pada variasi temperatur 25 °C hingga 100 °C. Penelitian ini menggunakan sampel beton dengan perbandingan semen dan pasir 1:3 sebagai sampel yang kemudian diuji melalui pengujian sifat fisik dan mekanik, meliputi uji kuat tekan (UCS), uji Point Load Index (PLI), Uji Kuat Tarik tak langsung (Brazilian Test) dan uji triaxial terhadap variasi temperatur. Perbandingan hasil pengujian pada sampel tanpa perlakuan pemanasan dengan temperatur tinggi (100 °C) pada kondisi jenuh air menunjukkan bahwa densitas (?) menurun sebesar 8,82%, porositas (n) meningkat sebesar 26,74%, void ratio (e) meningkat sebesar 37,31%, compressive strength (?c) menurun sebesar 52,30%, Modulus Young (E) menurun sebesar 49,24%, kohesi (c) menurun sebesar 44,87% dan sudut gesek dalam (?) menurun sebesar 24,21%. Pemodelan numerik dilakukan untuk memprediksi peningkatan strain, yang berubah akibat paparan temperatur tinggi dalam kondisi jenuh air. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kemunculan retakan (crack) akibat variasi temperatur, dan kemunculan pori batuan dilakukan pengujian lanjutan berupa Scanning Electron Microscope (SEM)
ANALISIS KESTABILAN LERENG HIGHWALL DAN LOWWALL TAMBANG BATUBARA PT XYZ DI SUMATERA SELATAN
PT XYZ merupakan perusahaan pertambangan batubara yang beroperasi di Sumatera Selatan dan sedang mengembangkan desain pit baru dalam rencana penambangan jangka panjang (Life of Mine/LOM). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kestabilan lereng highwall dan lowwall berdasarkan aspek geoteknik menggunakan metode kesetimbangan batas (Limit Equilibrium Method) dan pendekatan probabilistik. Lima penampang dianalisis menggunakan perangkat lunak Slide2, dengan metode Bishop untuk highwall dan metode Janbu untuk lowwall. Parameter geoteknik diperoleh dari data 11 titik bor dan hasil uji laboratorium, serta memperhitungkan beban seismik sebesar 0,15. Nilai yang dianalisis mencakup Faktor Keamanan (FK) dalam kondisi statis dan dinamis serta Probabilitas Kelongsoran (PK), mengacu pada Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018. Hasil analisis menunjukkan bahwa tiga penampang highwall tidak memenuhi kriteria keamanan (FK ? 1,3 statis dan ? 1,1 dinamis; PK ? 5%), sementara dua penampang lowwall dinyatakan aman. Oleh karena itu, dilakukan redesain pada area highwall dengan cara melebarkan bench dari 10 meter menjadi 43 meter ke arah depan, tanpa mengubah tinggi bench dan sudut lereng tunggal, karena bagian belakang lereng berupa outpit dump. Hasil redesain menunjukkan peningkatan nilai FK dan penurunan PK yang signifikan, sehingga memenuhi kriteria keamanan yang berlaku.
PRODUKSI HIDROGEN DARI LIMBAH KALENG ALUMINIUM MELALUI REAKSI HIDROLISIS DALAM LARUTAN ALKALI.
Menghadapi tantangan ganda perubahan iklim dan pengelolaan limbah, penelitian ini menginvestigasi produksi hidrogen sebagai pembawa energi bersih melalui hidrolisis limbah kaleng aluminium dalam larutan alkali Natrium Hidroksida (NaOH). Latar belakang penelitian ini adalah urgensi untuk mengembangkan teknologi produksi hidrogen yang efisien dan berkelanjutan sebagai alternatif metode konvensional berbasis bahan bakar fosil. Pemanfaatan limbah kaleng aluminium tidak hanya menawarkan jalur produksi energi yang ramah lingkungan, tetapi juga mendukung prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah. Namun, implementasi metode ini dihadapkan pada masalah efisiensi yang sangat dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara berbagai parameter proses. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi operasional terbaik dari parameter proses suhu reaksi, konsentrasi NaOH, volume larutan, dan ukuran partikel aluminium guna memaksimalkan volume dan efisiensi produksi hidrogen. Pendekatan eksperimental sistematis diterapkan dengan menggunakan desain matriks Taguchi orthogonal array L9 untuk menganalisis pengaruh empat faktor pada tiga level variasi: suhu (30°C, 50°C, 70°C), konsentrasi NaOH (0,25 M, 0,5 M, 1 M), volume larutan (25 mL, 50 mL, 100 mL), dan ukuran partikel aluminium (3 mm, 6 mm, 8 mm). Reaksi hidrolisis dilakukan dalam reaktor laboratorium tertutup yang terkontrol, dan volume gas produk reaksi diukur secara presisi menggunakan metode water displacement. Analysis of Variance (ANOVA) digunakan untuk mengkuantifikasi kontribusi statistik setiap faktor terhadap variasi hasil, sementara Gas Chromatography (GC) digunakan untuk memvalidasi kemurnian produk gas. Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa konsentrasi larutan NaOH merupakan faktor dengan kontribusi yang paling dominan sebesar 52,29%. Suhu reaksi menjadi faktor paling berpengaruh kedua dengan kontribusi 29,94%, diikuti oleh volume larutan sebesar 17,04%. Ukuran partikel aluminium menunjukkan kontribusi paling kecil, yaitu hanya 0,73%. Melalui analisis rasio Signal-to-Noise (S/N) dengan pendekatan larger the better, kondisi proses optimal untuk memaksimalkan produksi hidrogen berhasil diidentifikasi pada suhu 70°C,ii konsentrasi NaOH 1 M, volume larutan 100 mL, dan ukuran partikel 8 mm. Analisis GC mengonfirmasi bahwa hidrogen (H?) adalah produk gas dominan, dan ditemukan korelasi positif yang kuat antara konsentrasi NaOH dan kemurnian hidrogen; kemurnian tertinggi sebesar 89,131% dicapai pada konsentrasi NaOH 1 M. Kajian hasil penelitian menunjukkan pencapaian yield hidrogen yang sangat tinggi pada kondisi optimal, yaitu mencapai efisiensi 99,43%. Jika dibandingkan dengan penelitian sejenis yang menggunakan paduan aluminium komersial standar, efisiensi ini secara signifikan lebih unggul. Meskipun sudah ada beberapa penelitian mengenai produksi hidrogen dari limbah kaleng aluminium, namun belum ada publikasi yang menampilkan nilai kontribusi faktor yang mempengaruhi proses dengan menggunakan desain Taguchi dan ANOVA. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting untuk pengembangan awal produksi hidrogen dengan metode hidrolisis yang ramah lingkungan dan juga jadi solusi pengelolaan limbah kaleng minuman.
PREDIKSI TEMPERATUR EFEKTIF PADA TAMBANG BAWAH TANAH MENGGUNAKAN ADAPTIVE NEURO-FUZZY INFERENCE SYSTEM (ANFIS)
Temperatur efektif merupakan parameter penting dalam menentukan tingkat kenyamanan termal dan keselamatan kerja di lingkungan tambang bawah tanah. Estimasi yang tidak akurat terhadap parameter ini dapat memicu heat stress dan penurunan produktivitas pekerja, khususnya dalam kondisi lingkungan yang panas dan lembab. Penelitian ini menyajikan pendekatan pemodelan prediktif dengan memanfaatkan metode Adaptive Neuro-Fuzzy Inference System (ANFIS) untuk memprediksi temperatur efektif berdasarkan parameter lingkungan tambang bawah tanah, yaitu dry-bulb temperature, wet-bulb temperature, kelembaban relatif, dan kecepatan udara rata-rata. Model ANFIS dikembangkan menggunakan fuzzyinference system tipe Sugeno, dilatih dan diuji dengan pendekatan hybrid optimization menggunakan 200 data sekunder. Setelah model berhasil dibuat, dilakukan prediksi terhadap nilai temperatur efektif pada 20 data baru dengan hasil prediksi yang kemudian dibandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan persamaan empiris yang dikembangkan oleh Li dan Chan (2000) dan dievaluasi berdasarkan Root Mean Square Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE), Mean Absolute Percentage Error (MAPE), R-Square (R²), dan Variance Accounted For (VAF). Model yang dikembangkan menunjukkan performa prediktif yang kuat dengan nilai RMSE 0,29, MAE 0,25, MAPE 0,98%, R² 0,98, dan VAF 97,12%. Hasil ini membuktikan bahwa ANFIS merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memprediksi temperatur efektif, serta berpotensi mendukung pemantauan sistem ventilasi guna meningkatkan kenyamanan termal dalam kegiatan operasional tambang bawah tanah
ANALISIS PENGARUH VARIASI MOISTURE TERHADAP LAJU PEMANASAN SENDIRI (R70) BATUBARA PERINGKAT RENDAH DENGAN METODE PEMANASAN ADIABATIK SKALA LABORATORIUM
Penelitian ini menganalisis pengaruh variasi moisture terhadap laju pemanasan sendiri batubara peringkat rendah (sub-bituminus C) dari Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, menggunakan metode pemanasan adiabatik skala laboratorium. Sampel dipreparasi menjadi ukuran -60 +80 mesh dan diuji pada tiga variasi moisture: 8%, 11%, dan 14%. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan moisture secara signifikan menurunkan nilai R70, mengindikasikan penurunan potensi swabakar. Pada sampel A, R70 menurun drastis dari 17,34°C/jam (risiko Extremely High) pada 8% moisture menjadi 2,85°C/jam (risiko Medium) pada 14% moisture. Penurunan kadar moisture sebesar 1% menyebabkan penurunan R70 sebesar 15.57%, konsisten dengan studi Beamish dkk. (2005). Analisis regresi linear berganda mengkonfirmasi bahwa moisture, calorific value, dan ash content berpengaruh negatif sterhadap R70, sementara volatile matter berpengaruh positif. Kesimpulan menunjukkan bahwa peningkatan kadar moisture efektif mengurangi risiko swabakar batubara peringkat rendah.
STUDI KANDUNGAN SULFUR DALAM BATUBARA FORMASI BALIKPAPAN DAERAH KUTAI BARAT CEKUNGAN KUTAI BAWAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Batubara memainkan peran penting sebagai sumber energi di Indonesia, namun kualitasnya sangat dipengaruhi oleh kandungan sulfur, yang memengaruhi efisiensi pembakaran dan emisi yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan sulfur batubara dari Formasi Balikpapan, Daerah Kutai Barat, Cekungan Kutai Bawah, Provinsi Kalimantan Timur. Metode penelitian yang digunakan mencakup analisis proksimat, sulfur total, kandungan kalori, dan densitas relatif pada 13 sampel batubara yang diperoleh melalui pengeboran touch coring yang kemudian dilakukan regresi linear dan analisis deskriptif. Hasil analisis menunjukkan kadar sulfur bervariasi antara 1,17% hingga 5,16%, dengan penurunan kadar sulfur pada lapisan yang lebih dalam. Korelasi positif yang sangat kuat ditemukan antara sulfur dan abu, densitas relatif dengan abu dan sulfur, serta korelasi negatif yang sangat kuat antara nilai kalori dan abu. Dominasi batulanau dan batupasir, dengan sisipan batulempung serta ditemukannya pirit pada Seam P4, P5, dan P6 pada kedalaman 212,62–253,24 meter mengindikasikan sulfur dominan berjenis piritik, yang terbentuk di lingkungan pengendapan kaya besi. Kandungan sulfur piritik mempengaruhi kualitas dan sifat fisik batubara, seperti peningkatan abu, sulfur total, densitas relatif, serta penurunan nilai kalori, yang penting untuk memahami karakteristik batubara dalam konteks pemanfaatan energi.
PENGARUH KEKASARAN BIDANG DISKONTINUITAS DENGAN RENTANG JOINT ROUGHNESS COEFFICIENT 11-20 TERHADAP KUAT GESER MATERIAL GYPSUM
Teknologi pencetakan 3D telah memberikan dampak yang besar di berbagai sektor. Dengan metode ini, objek dapat dibuat dengan menumpuk lapisan material secara bertahap, menghasilkan benda dengan struktur yang rumit dan detail yang tinggi. Penelitian ini menhubungkan antara kuat geser batuan dengan hasil cetak 3D berupa gypsum yang memiliki kekasaran yang berbeda-beda. Kekasaran ini dibentuk melalui pemodelan statistika dan disesuaikan dengan Joint Roughness Profiles 6,7,8,9 dan 10 yang selanjutnya dicetak secara 3D. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi 3D printing mampu mereproduksi profil kekasaran bidang secara akurat sesuai klasifikasi JRC. Analisis regresi mengindikasikan bahwa sudut gesek dalam merupakan parameter dominan yang mempengaruhi hubungan antara JRC dan kuat geser, dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,64 pada kondisi peak dan 0,72 pada kondisi residual. Selain itu, hasil uji memperlihatkan bahwa tegangan geser meningkat seiring bertambahnya JRC, baik pada kondisi peak yang berkisar antara 0,17 hingga 0,40 kN maupun kondisi residual yang berkisar antara 0,10 hingga 0,21 kN.