📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PREDIKSI KUALITAS AIR DANAU PASCATAMBANG PT XYZ DENGAN SKENARIO FLOODING MENGGUNAKAN AIR SUNGAI

Kegiatan penambangan batubara dengan metode tambang terbuka di PT XYZ menyisakan void yang menimbulkan tantangan terutama terkait isu kualitas air. Dinding void yang mengandung mineral sulfida berpotensi membentuk Air Asam Tambang (AAT) jika terkena air hujan, sehingga dapat mencemari lingkungan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengisian secara alami memerlukan waktu yang sangat lama dan menghasilkan kualitas air yang kurang baik (pH < 5). Oleh karena itu, diperlukan skenario alternatif untuk mempercepat pengisian void dan menghasilkan kualitas air yang lebih baik, sehingga dipilih skenario flooding. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas skenario tersebut dengan menggunakan air sungai, melalui perhitungan estimasi waktu pengisian danau serta prediksi kualitas air yang terbentuk. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan simulasi utama: pertama, simulasi hidrologi yang memodelkan neraca air dengan inflow berupa debit pemompaan, air hujan, dan limpasan, serta outflow berupa evaporasi; dan kedua, simulasi geokimia menggunakan PHREEQC yang melibatkan proses inverse modeling, forward modeling, dan mixing. Hasil pemodelan hidrologi menunjukkan bahwa estimasi waktu pengisian danau berkisar antara 541 hingga 625 hari, serta mengindikasikan bahwa selain debit pemompaan, variasi curah hujan merupakan parameter penting yang berdampak signifikan. Sementara itu, simulasi geokimia menyimpulkan bahwa skenario flooding sangat efektif dalam menetralkan potensi keasaman, dengan prediksi nilai pH akhir danau mencapai 6,379.

2025
👤 Penulis: Azar Alvi Dwi Bahtiar
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Manajemen Lingkungan

PREDIKSI KUALITAS AIR DANAU PASCATAMBANG PT XYZ DENGAN SKENARIO FLOODING MENGGUNAKAN AIR SUNGAI

Kegiatan penambangan batubara dengan metode tambang terbuka di PT XYZ menyisakan void yang menimbulkan tantangan terutama terkait isu kualitas air. Dinding void yang mengandung mineral sulfida berpotensi membentuk Air Asam Tambang (AAT) jika terkena air hujan, sehingga dapat mencemari lingkungan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengisian secara alami memerlukan waktu yang sangat lama dan menghasilkan kualitas air yang kurang baik (pH < 5). Oleh karena itu, diperlukan skenario alternatif untuk mempercepat pengisian void dan menghasilkan kualitas air yang lebih baik, sehingga dipilih skenario flooding. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas skenario tersebut dengan menggunakan air sungai, melalui perhitungan estimasi waktu pengisian danau serta prediksi kualitas air yang terbentuk. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan simulasi utama: pertama, simulasi hidrologi yang memodelkan neraca air dengan inflow berupa debit pemompaan, air hujan, dan limpasan, serta outflow berupa evaporasi; dan kedua, simulasi geokimia menggunakan PHREEQC yang melibatkan proses inverse modeling, forward modeling, dan mixing. Hasil pemodelan hidrologi menunjukkan bahwa estimasi waktu pengisian danau berkisar antara 541 hingga 625 hari, serta mengindikasikan bahwa selain debit pemompaan, variasi curah hujan merupakan parameter penting yang berdampak signifikan. Sementara itu, simulasi geokimia menyimpulkan bahwa skenario flooding sangat efektif dalam menetralkan potensi keasaman, dengan prediksi nilai pH akhir danau mencapai 6,379.

2025
👤 Penulis: Azar Alvi Dwi Bahtiar
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Manajemen Lingkungan

PREDIKSI KUALITAS AIR DANAU PASCATAMBANG PT XYZ DENGAN SKENARIO FLOODING MENGGUNAKAN AIR SUNGAI

Kegiatan penambangan batubara dengan metode tambang terbuka di PT XYZ menyisakan void yang menimbulkan tantangan terutama terkait isu kualitas air. Dinding void yang mengandung mineral sulfida berpotensi membentuk Air Asam Tambang (AAT) jika terkena air hujan, sehingga dapat mencemari lingkungan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengisian secara alami memerlukan waktu yang sangat lama dan menghasilkan kualitas air yang kurang baik (pH < 5). Oleh karena itu, diperlukan skenario alternatif untuk mempercepat pengisian void dan menghasilkan kualitas air yang lebih baik, sehingga dipilih skenario flooding. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas skenario tersebut dengan menggunakan air sungai, melalui perhitungan estimasi waktu pengisian danau serta prediksi kualitas air yang terbentuk. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan simulasi utama: pertama, simulasi hidrologi yang memodelkan neraca air dengan inflow berupa debit pemompaan, air hujan, dan limpasan, serta outflow berupa evaporasi; dan kedua, simulasi geokimia menggunakan PHREEQC yang melibatkan proses inverse modeling, forward modeling, dan mixing. Hasil pemodelan hidrologi menunjukkan bahwa estimasi waktu pengisian danau berkisar antara 541 hingga 625 hari, serta mengindikasikan bahwa selain debit pemompaan, variasi curah hujan merupakan parameter penting yang berdampak signifikan. Sementara itu, simulasi geokimia menyimpulkan bahwa skenario flooding sangat efektif dalam menetralkan potensi keasaman, dengan prediksi nilai pH akhir danau mencapai 6,379.

2025
👤 Penulis: Azar Alvi Dwi Bahtiar
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Manajemen Lingkungan

PREDIKSI KUALITAS AIR DANAU PASCATAMBANG PT XYZ DENGAN SKENARIO FLOODING MENGGUNAKAN AIR SUNGAI

Kegiatan penambangan batubara dengan metode tambang terbuka di PT XYZ menyisakan void yang menimbulkan tantangan terutama terkait isu kualitas air. Dinding void yang mengandung mineral sulfida berpotensi membentuk Air Asam Tambang (AAT) jika terkena air hujan, sehingga dapat mencemari lingkungan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengisian secara alami memerlukan waktu yang sangat lama dan menghasilkan kualitas air yang kurang baik (pH < 5). Oleh karena itu, diperlukan skenario alternatif untuk mempercepat pengisian void dan menghasilkan kualitas air yang lebih baik, sehingga dipilih skenario flooding. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas skenario tersebut dengan menggunakan air sungai, melalui perhitungan estimasi waktu pengisian danau serta prediksi kualitas air yang terbentuk. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan simulasi utama: pertama, simulasi hidrologi yang memodelkan neraca air dengan inflow berupa debit pemompaan, air hujan, dan limpasan, serta outflow berupa evaporasi; dan kedua, simulasi geokimia menggunakan PHREEQC yang melibatkan proses inverse modeling, forward modeling, dan mixing. Hasil pemodelan hidrologi menunjukkan bahwa estimasi waktu pengisian danau berkisar antara 541 hingga 625 hari, serta mengindikasikan bahwa selain debit pemompaan, variasi curah hujan merupakan parameter penting yang berdampak signifikan. Sementara itu, simulasi geokimia menyimpulkan bahwa skenario flooding sangat efektif dalam menetralkan potensi keasaman, dengan prediksi nilai pH akhir danau mencapai 6,379.

2025
👤 Penulis: Azar Alvi Dwi Bahtiar
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Manajemen Lingkungan

PREDIKSI KUALITAS AIR DANAU PASCATAMBANG PT XYZ DENGAN SKENARIO FLOODING MENGGUNAKAN AIR SUNGAI

Kegiatan penambangan batubara dengan metode tambang terbuka di PT XYZ menyisakan void yang menimbulkan tantangan terutama terkait isu kualitas air. Dinding void yang mengandung mineral sulfida berpotensi membentuk Air Asam Tambang (AAT) jika terkena air hujan, sehingga dapat mencemari lingkungan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa pengisian secara alami memerlukan waktu yang sangat lama dan menghasilkan kualitas air yang kurang baik (pH < 5). Oleh karena itu, diperlukan skenario alternatif untuk mempercepat pengisian void dan menghasilkan kualitas air yang lebih baik, sehingga dipilih skenario flooding. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas skenario tersebut dengan menggunakan air sungai, melalui perhitungan estimasi waktu pengisian danau serta prediksi kualitas air yang terbentuk. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan simulasi utama: pertama, simulasi hidrologi yang memodelkan neraca air dengan inflow berupa debit pemompaan, air hujan, dan limpasan, serta outflow berupa evaporasi; dan kedua, simulasi geokimia menggunakan PHREEQC yang melibatkan proses inverse modeling, forward modeling, dan mixing. Hasil pemodelan hidrologi menunjukkan bahwa estimasi waktu pengisian danau berkisar antara 541 hingga 625 hari, serta mengindikasikan bahwa selain debit pemompaan, variasi curah hujan merupakan parameter penting yang berdampak signifikan. Sementara itu, simulasi geokimia menyimpulkan bahwa skenario flooding sangat efektif dalam menetralkan potensi keasaman, dengan prediksi nilai pH akhir danau mencapai 6,379.

2025
👤 Penulis: Azar Alvi Dwi Bahtiar
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geokimia 🏷️ Manajemen Lingkungan

ANALISIS DISTRIBUSI DAN ASOSIASI MINERALOGI NIKEL, BESI, SKANDIUM DAN ALUMINIUM DALAM BIJIH NIKEL LIMONIT DAN PERILAKUNYA PADA PROSES PELINDIAN ASAM BERTEKANAN TINGGI DAN PEMURNIAN LARUTAN HASIL PELINDIAN

Permintaan global terhadap skandium (Sc) terus meningkat, terutama karena aplikasinya yang krusial dalam paduan logam ringan dan elektrolit padat dalam solid oxide fuell cell (SOFC). Namun, ketersediaannya di alam relatif terbatas dan bergantung pada sumber sekunder, salah satunya bijih nikel limonit. Bijih limonit merupakan salahsatu sumber potensial skandium dengan kadar Sc >50 g/t. Distribusi dan assosiasi mineralogi Sc dalam bijih limonit masih terus dikaji. Tantangan dalam proses ekstraksi dan pemurnian Sc dari bijih limonit timbul terutama karena kemiripan sifat kimianya dengan ion trivalen seperti Fe3+ dan Al3+, yang menyulitkan pemisahan logam-logam ini. Penelitian ini bertujuan untuk memahami distribusi dan asosiasi mineralogi Sc dengan Fe, Al, dan Ni dalam bijih limonit dan perilaku logam-logam ini pada proses pelindian bertekanan tinggi dan pemurnian larutan hasil pelindian. Sampel bijih limonit yang berasal dari daerah Morowali, Sulawesi Tengah, dilakukan High Pressure Acid Leaching (HPAL) menggunakan asam sulfat pada suhu 250 oC selama 1 jam untuk mendapatkan larutan hasil pelindian yang mengandung Sc, Ni, Co terlarut, dan beberapa logam pengotor. Tahap selanjutnya adalah presipitasi besi 2 tahap menggunakan Ca(OH)2 sebagai reagen presipitasi pada variasi pH untuk mengendapkan logam pengotor. Konsentrasi Ni, Co, Al, dan Sc terlarut dianalisis menggunakan Inductively Coupled Plasma-Mass Spectrometry (ICP-MS). Sementara, konsentrasi Fe terlarut diukur menggunakan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Karakterisasi dilakukan terhadap residu pelindian dan presipitat Fe-Al hidroksida menggunakan X-ray Diffraction (XRD), Field Emission Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive Spectroscopy (FESEM-EDS), dan Electron Probe Micro Analyzer (EPMA). Hasil percobaan menunjukkan bahwa Ni, Co, dan Sc berasosiasi dengan mineral goetit dalam bijih limonit. Proses pelindian pada suhu 250 oC selama 1 jam menghasilkan ekstraksi Ni = 91,2%, Co = 92,04%, dan Sc = 88,47%. Komponen utama residu pelindian adalah hematit, dimana sebagian Ni, Co, dan Sc terdeteksi dalam residu pelindian bersama hematit. Presipitasi Fe & Al tahap I pada pH 2,25, suhu 90 °C selama 120 menit berhasil mengendapkan 92,60% Fe dengan kehilangan Sc, Ni, dan Co yang minimal dalam presipitat. Presiptasi Fe & Al tahap II pada pH = 3,5, suhu 60 oC, selama 180 menit dapat mengkonsentrasikan Sc dalam presipitat hingga mencapai 334 g/t dengan efisiensi presipitasi = 86,71% disertai ko-presipitasi Ni = 5.49%, dan Co = 4,69%. Karakterisasi presipitat Fe & Al tahap II menunjukkan bahwa Sc dan Ni teradsorpsi pada permukaan amorf senyawa aluminium hidroksida.

2025
👤 Penulis: Indah Dwi Lestari
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI KOMPARATIF POTENSI SWABAKAR : PENGARUH PERINGKAT BATUBARA DAN KANDUNGAN ABU TERHADAP NILAI INDEKS R70 MENGGUNAKAN METODE PEMANASAN ADIABATIK SKALA LABORATORIUM

Fenomena swabakar merupakan salah satu permasalahan utama dalam industri pertambangan batubara karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi, penurunan kualitas batubara, dan risiko keselamatan kerja. Potensi swabakar umumnya dipengaruhi oleh faktor intrinsik batubara yang dapat diukur menggunakan indeks R70. Data primer diperoleh dari 3 sampel batubara melalui dua tahap pengujian, yaitu analisis proksimat dan uji pemanasan adiabatik sesuai SNI 9232:2023. Untuk memperluas cakupan analisis, diperoleh 36 set data sekunder dari studi terdahulu sehingga metode penelitian mengkombinasikan data hasil pengujian laboratorium dengan data sekunder menggunakan analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peringkat batubara dan nilai R70 memiliki hubungan non - linier batubara sub - bituminus cenderung memiliki potensi swabakar lebih tinggi dibandingkan batubara lignit dan batubara bituminus. Selain itu, ditemukan bahwa kandungan abu tidak berkorelasi signifikan terhadap nilai R70 sehingga tidak dapat dijadikan sebagai variabel utama untuk memprediksi potensi swabakar. Analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa kadar air (moisture) merupakan variabel paling dominan yang mepengaruhi peningkatan nilai R70, sedangkan pengaruh kandungan abu dan volatile matter relatif tidak signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa penilaian potensi swabakar batubara memerlukan pendekatan multi - parameter yang mempertimbangkan interaksi antar sifat intrinsik batubara.

2025
👤 Penulis: Mikha Rebecca Natalya Siregar
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI HUBUNGAN KOMPARATIF KARAKTERISTIK DEBU BATUBARA TERHADAP NILAI TEKANAN MAKSIMUM PADA UJI SKALA LABORATORIUM

Ledakan debu batubara merupakan fenomena berbahaya dengan tingkat keparahan yang diukur oleh Tekanan Ledakan Maksimum (Pmax) yang sangat bergantung pada karakteristik debu batubara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik proksimat seperti kadar air, zat terbang, kadar abu, dan karbon tertambat, serta peringkat batubara terhadap nilai Pmax. Metode yang digunakan adalah gabungan data primer dari uji laboratorium dan data sekunder dari studi literatur yang kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda untuk memodelkan pengaruh dari setiap karakteristik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa karakteristik memiliki tren pengaruh yang signifikan. Kadar karbon tertambat menunjukkan tren negatif terkuat dengan kemampuan menjelaskan variasi Pmax sebesar 55,09%, mengindikasikan perannya sebagai bahan bakar fasa padat yang bereaksi lebih lambat. Begitu juga dengan kadar zat terbang dan kadar air masing-masing menunjukkan tren positif yang signifikan dengan kemampuan menjelaskan variasi berturut-turut sebesar 35,19% dan 35,09%. Pada sisi lain, kadar abu tidak memberikan kontribusi yang signifikan secara statistik. Secara kolektif, model regresi berganda yang dikembangkan mampu menjelaskan 73,6% variasi pada Pmax menegaskan bahwa karakteristik proksimat merupakan prediktor penting dalam mengetahui potensi bahaya ledakan debu batubara.

2025
👤 Penulis: Gadis El Vina
🏷️ Kemantapan Proksimat Batubara 🏷️ Analisis Regresi Linier Berganda 🏷️ Ledakan Debu

STUDI KARAKTERISTIK KENAMPAKAN FISIK, MINERALOGI, DAN GEOKIMIA ENDAPAN NIKEL LATERIT DI BLOK TAMBANG UTARA DAERAH POMALAA, SULAWESI TENGGARA

Karakterisasi endapan nikel laterit yang terintegrasi pada profil spesifik di Blok Tambang Utara Pomalaa masih terbatas, meskipun geologi regionalnya telah banyak dipelajari. Penelitian ini menggunakan 26 data lapangan sekunder dan menganalisis 10 sampel representatif dari profil Pit Wrangler di Blok Tambang Utara Daerah Pomalaa, yang dianalisis menggunakan metode deskripsi megaskopis, analisis XRD, dan analisis XRF. Hasil penelitian menunjukkan adanya profil laterit berlapis di atas batuan induk ultramafik, yang secara fisik terdiferensiasi menjadi horizon-horizon dengan perubahan warna dan ukuran butir yang sistematis. Secara geokimia, terjadi proses pelindian masif unsur MgO dan SiO?, pengayaan residual Fe?O? hingga >75% di horizon limonit, dan pengayaan supergen NiO yang mencapai puncaknya sebesar 2,99% di horizon earthy saprolite. Analisis mineralogi mengonfirmasi transformasi batuan dasar yang kaya mineral silikat menjadi horizon saprolit yang didominasi oleh kelompok serpentin dan mineral lempung (halloysite), dan akhirnya menjadi horizon limonit yang kaya akan goetit dan hematit. Berdasarkan korelasi data, mineral pembawa nikel utama diidentifikasi sebagai mineral hidrosilikat sekunder (serpentin dan lempung) melalui mekanisme substitusi isomorfik, sehingga endapan ini diklasifikasikan sebagai tipe hidrosilikat (hydrous silicate deposit)

2025
👤 Penulis: Taskia Aulia Mukminin
🏷️ Geokimia 🏷️ Mineralogi 🏷️ Karakterisasi Endapan Nikel Laterit

STUDI PENGARUH KANDUNGAN AIR TERHADAP ADHESI BATUBARA DI AREA COAL HANDLING PLTU XYZ DAN PENANGANANNYA MELALUI PERLAKUAN KIMIA DENGAN MODIFIED INCLINED PLANE TEST.

Pada sistem coal handling di PLTU, kerap terjadi masalah yang disebabkan oleh batubara yang menempel pada permukaan alat akibat pengaruh gaya adhesi. Penelitian ini dilakukan untuk merespon permasalahan yang terjadi dengan mengidentifikasi parameter yang memengaruhi gaya adhesi batubara, mengevaluasi penggunaan jenis liner dan penambahan reagen kimia. Metode evaluasi yang digunakan pada penelitian ini yaitu modified inclined plane test. Metode ini dapat mengevaluasi sudut meluncur material terhadap material pelapis. Analisis dilakukan berdasarkan sudut initial sliding, mostly sliding dan completely sliding yang didapatkan serta melihat trendline dari sudut mostly sliding. Selain itu, dilakukan analisis terkait korelasi dari data analisis proksimat, Hardgrove Grindability Index, distribusi ukuran, X-Ray Diffraction dan X-Ray Fluorescence terhadap ketiga sudut meluncur. Analisis ini menggunakan hubungan antar variabel berdasarkan correlogram dan tingkat kemiripan (similarity) data berdasarkan cluster of variabel dengan metode Complete Linkage dengan ukuran jarak Correlation Coefficient Distance. Berdasarkan hal tersebut didapatkan variabel yang mempengaruhi gaya adhesi batubara dengan urutan pengaruh berdasarkan urutan nilai similarity yaitu kadar air (88,71 dan 76,38), distribusi ukuran (49,7), mineral lempung (45,42), serta HGI (43,72) dan ash (77,11). Selain itu berdasarkan analisis yang dilakukan, penggunaan liner SUS316 dan penambahan PAC (Poly Aluminium Chloride) paling optimal untuk mengurangi gaya adhesi batubara.

2025
👤 Penulis: Andre Nico Maulana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

IMPLEMENTASI DEEP LEARNING UNTUK ESTIMASI INVERSE HESSIAN PADA MULTISCALE FULL WAVEFORM INVERSION

Full Waveform Inversion (FWI) merupakan metode inversi nonlinier yang secara luas digunakan dalam pencitraan bawah permukaan dengan memanfaatkan informasi penuh dari gelombang seismik. Teknik ini bertujuan untuk merekonstruksi model kecepatan bawah permukaan dengan mengiterasikan solusi dari persamaan gelombang, menggunakan perbedaan antara data sintetik dan observasi sebagai dasar pembaruan model. FWI sangat bergantung pada efisiensi algoritma optimisasi untuk mencapai konvergensi yang baik, dan metode Newton dikenal sebagai pendekatan yang sangat akurat karena mempertimbangkan informasi kurvatur melalui matriks Hessian. Namun, implementasi penuh metode Newton terkendala oleh tingginya biaya komputasi dalam menghitung inverse Hessian secara eksplisit, terutama pada model skala besar. Sebagai alternatif, metode Quasi-Newton seperti Limited-memory Broyden–Fletcher–Goldfarb– Shanno (L-BFGS) dan Conjugate Gradient (CG) telah banyak diadopsi karena keseimbangan antara akurasi dan efisiensi komputasi yang ditawarkan. Meskipun demikian, keterbatasan dalam memperkirakan struktur Hessian secara tepat masih menjadi hambatan utama dalam mencapai hasil inversi yang optimal dan realistik dalam konteks geofisika. Dalam konteks ini, pemanfaatan teknologi terkini seperti Deep Learning (DL) dan High Performance Computing (HPC) menjadi sangat relevan. DL memiliki potensi untuk mempelajari struktur kompleks inverse Hessian secara implisit melalui pelatihan pada data sintetik, sehingga mampu mempercepat proses inversi dan meningkatkan resolusi hasil akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pendekatan hybrid yang menggabungkan FWI berbasis metode Newton dengan estimasi inverse Hessian menggunakan DL, dan membandingkan performanya dengan metode konvensional seperti L-BFGS dan CG. Evaluasi dilakukan berdasarkan konvergensi misfit, kualitas model akhir, serta efisiensi waktu komputasi. Dengan memanfaatkan jaringan saraf yang dilatih untuk meniru struktur inverse Hessian, diharapkan proses pembaruan model dapat dilakukan dengan presisi tinggi tanpa harus menghitung Hessian secara eksplisit. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru terhadap potensi integrasi kecerdasan buatan dalam metode inversi geofisika dan membuka jalan menuju sistem FWI yang lebih cepat, adaptif, dan akurat.

2025
👤 Penulis: Dziand Dafi Ginandjar
🏷️ Deep Learning 🏷️ Full Waveform Inversion 🏷️ Optimisasi Metode Newton

PENGARUH KEDALAMAN DAN KECEPATAN PEMOTONGAN PADA PEMODELAN PEMOTONGAN BATUAN MENGGUNAKAN PARTICLE FLOW CODE

Penelitian ini mengevaluasi efisiensi pemotongan batuan shalestone menggunakan pendekatan numerik Distinct Element Method (DEM) dengan perangkat lunak PFC2D, yang dikalibrasi menggunakan data sekunder dari uji laboratorium seperti UCS dan Small-Scale Linear Rock Cutting Tests. Fokus utama penelitian adalah menganalisis hubungan antara sifat fisik dan mekanik batuan, kedalaman, serta kecepatan pemotongan terhadap gaya potong dan energi spesifik. Hasil simulasi menunjukkan bahwa energi spesifik menurun seiring bertambahnya kedalaman pemotongan, menandakan peningkatan efisiensi, sementara peningkatan kecepatan pemotongan berbanding lurus dengan gaya potong akibat resistansi batuan yang meningkat. Secara keseluruhan, pendekatan numerik ini terbukti mampu merepresentasikan proses pemotongan secara makroskopik dan dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perencanaan teknis yang lebih efisien.

2025
👤 Penulis: Sabina Salsabiela
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Mekanik Batuan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS POROELASTIC REBOUND PASCAGEMPA CIANJUR 21 NOVEMBER 2022 MENGGUNAKAN DATA GNSS

Gempa Cianjur yang terjadi pada tanggal 21 November 2022 dengan magnitudo Mw 5,6 menyebabkan kerusakan lebih dari 56.548 bangunan dan banyak korban jiwa. Gempa Cianjur terjadi pada zona patahan yang belum terpetakan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kontribusi deformasi pascagempa yang disebabkan oleh mekanisme poroelastic rebound menggunakan data GNSS. Data dari empat stasiun GNSS di daerah Cianjur digunakan untuk membuat tren pergeseran dalam komponen horizontal dan vertikal dari hari ke-5 hingga ke-25 setelah gempa utama. Model sesar dibuat untuk mendapatkan nilai coseismic slip. Coseismic slip dihitung berdasarkan momen seismik gempa, rigiditas, panjang, dan lebar bidang sesar. Nilai pergeseran dari stasiun CJR1 pada hari ke-25 untuk komponen Timur-Barat bernilai 0,44 cm, komponen Utara-Selatan bernilai 0,46 cm, dan komponen vertikal bernilai 0,67 cm. Nilai pergeseran dari stasiun CJR2 pada hari ke-25 untuk komponen Timur-Barat bernilai 0,25 cm, komponen Utara-Selatan bernilai -0,30 cm, dan komponen vertikal bernilai 1,05 cm. Nilai pergeseran dari stasiun CJR3 pada hari ke-25 untuk komponen Timur-Barat bernilai 0,38 cm, komponen Utara-Selatan bernilai -0,74 cm, dan komponen vertikal bernilai 1,72 cm. Nilai pergeseran dari stasiun CJR4 pada hari ke-25 untuk komponen Timur-Barat bernilai -0,38 cm, komponen UtaraSelatan bernilai 0,16 cm, dan komponen vertikal bernilai 0,52 cm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa stasiun GNSS mengalami deformasi pascagempa dengan arah dan besar yang bervariasi pada komponen horizontal dan untuk komponen vertikal menunjukkan pergerakan uplift di semua stasiun, yang mengindikasikan terjadinya redistribusi tekanan pori. Nilai coseismic slip pada penelitian ini didapatkan sebesar 9,58 cm. Hasil model poroelastic rebound yang didapatkan menunjukkan bahwa pada gempa Cianjur 21 November 2022 tidak ada kontribusi poroelastic rebound yang signifikan. Poroelastic rebound mungkin saja sudah terjadi dan telah selesai dalam beberapa jam atau hari setelah terjadinya gempa bumi dan tidak sampai beberapa minggu.

2025
👤 Penulis: Yusuf Novianto Ramadhani
🏷️ Gempa Bumi Cianjur 21 November 2022 🏷️ Deformasi Pascagempa Menggunakan Data Gnss 🏷️ Analisis Porosilastik Rebound

PENGARUH KOMPOSISI AL DAN SISTEM KRISTAL TERHADAP SIFAT ELASTISITASDAN TERMAL PADA AL2O3, SIO2, DAN AL2SIO5 DENGAN SIMULASI FIRSTPRINCIPLE DAN MOLECULAR DYNAMIC

Kebutuhan pasar refraktori di dunia mencapai USD 34,33 miliar pada tahun 2024 dan diperkirakan akan mencapai sekitar USD 53,80 miliar pada tahun 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 4,60% dari tahun 2025 hingga 2034. Dalam menyuplai kebutuhan refraktori, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pembuatan refraktori. Beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam membuat refraktori adalah harus mempunyai stabilitas volume yang tinggi, memiliki koefisien muai termal yang rendah, dan mempunyai kemampuan untuk menahan panas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh sistem kristal senyawa Al2O3 (alumina) dan SiO2 (silika) terhadap sifat elastisitas dan termal, serta mempelajari pengaruh komposisi Al pada senyawa Al2SiO5 (aluminosilikat) terhadap sifat elastisitas dan termal. Struktur Al2O3 dan SiO2 dengan berbagai sistem kristal (trigonal, ortorombik, kubik, tetragonal, dan monoklinik) diuji melalui metode Molecular Dynamic (MD) untuk menentukan parameter kisi dan first-principle untuk menentukan sifat elastisitas dan sifat termal. Struktur Al2SiO5 dengan variasi komposisi Al (20,83% dan 33,33% atom) diuji melalui metode first-principle untuk mengetahui sifat elastisitas dan sifat termal. Pada MD, hasil simulasi terkait parameter kisi dan energi minimum dibandingkan dengan referensi, sedangkan pada first-principle, parameter kisi setimbang disimulasikan kembali untuk mendapatkan sifat elastisitas dan termal. Lalu, simulasi terkait charge density difference juga dilakukan agar bisa mengecek jenis ikatan dan distribusi elektron. Hasil simulasi menampilkan data parameter kisi setiap sistem kristal senyawa Al2O3 dan SiO2 yang berdekatan dengan referensi. Energi minimum terkecil dimiliki SiO2 dengan sistem kristal trigonal (-6,697 eV/atom). Modulus elastisitas terbesar dimiliki oleh Al2O3 dengan sistem kristal kubik (329 GPa). Hardness terbesar dimiliki oleh SiO2 dengan sistem kristal trigonal (41,6 GPa). Temperatur Debye pada SiO2 cenderung stabil dan lebih besar daripada Al2O3, terutama pada sistem kristal trigonal, namun sistem kristal tersebut memiliki kapasitas panas paling kecil dalam simulasi. Penurunan komposisi Al pada senyawa aluminosilikat (Al2SiO5) membuat modulus elastisitas mengecil tapi tak signifikan (dari 183 menjadi 170 GPa), menaikkan kegetasan dan hardness (dari 12,8 menjadi 24,98 GPa), menaikkan temperatur Debye yang berimbas pada penurunan kapasitas panas, serta cenderung menggunakan ikatan kovalen.

2025
👤 Penulis: Fairuz Aqila Sevemestyago
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

MEKANISME HANDOVER DAN ALOKASI DAYA PENGGUNA JAMAK PADA KONSTELASI SATELIT LEO MENGGUNAKAN UNSUPERVISED DNN

Komunikasi satelit Low earth orbit (LEO) menawarkan potensi konektivitas global dengan latensi rendah, namun dihadapkan pada tantangan optimasi yang kompleks akibat pergerakan satelit yang cepat dan keterbatasan daya yang melekat. Masalah seperti handover yang sering dan alokasi daya yang tidak efisien dapat secara langsung bberlebihan dan memberikan sanksi atas kegagalan dalam mencapai data rate minimum yang telah ditetapkan. Melalui mekanisme ini, model dilatih untuk mencapai throughput sistem yang optimal dan memastikan pemenuhan data rate minimum bagi User Terminal, sembari tetap mematuhi batasan daya maksimum yang diizinkan per satelit. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pendekatan unsupervised learning terbukti efektif dalam optimasi alokasi daya dan manajemen handover pada sistem komunikasi satelit LEO. Model ini berhasil mencapai throughput yang efisien dan memberikan kinerja yang andal dalam menjaga kualitas layanan bagi pengguna.erdampak negatif pada kualitas layanan (QoS) dan kinerja keseluruhan jaringan. Penelitian ini berfokus pada penerapan unsupervised learning sebagai solusi untuk optimasi alokasi daya dan manajemen handover pada sistem komunikasi satelit LEO. Untuk meneliti hal ini, sebuah lingkungan simulasi telah dibangun yang mereplikasi sistem komunikasi satelit LEO yang terdiri dari 5 pengguna dan mensimulasikan berbagai jumlah satelit dalam area cakupan seluas 1000 x 1000 km. Model unsupervised learning dirancang khusus untuk memproses data input yang merefleksikan kondisi jaringan, seperti posisi satelit, lokasi pengguna, dan besaran path loss. Tujuan utama dari model ini adalah untuk menghasilkan alokasi daya yang optimal serta indikator Handover yang efisien, dan dikembangkan untuk menentukan alokasi daya dan keputusan paling efektif. Perancangan fungsi loss merupakan aspek krusial dalam pelatihan model ini. Fungsi ini diformulasikan untuk mencapai dua tujuan utama: memaksimalkan throughput sistem secara keseluruhan dan meningkatkan jumlah User Terminal yang berhasil memenuhi target kualitas layanan yang ditentukan. Di samping itu, fungsi loss juga menerapkan penalti untuk mengendalikan penggunaan daya yang

2025
👤 Penulis: Elieser Nathanael
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Optimasi Alokasi Daya 🏷️ Manajemen Handover
Halaman 345 dari 6754
💬