📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

SIMULASI INTERAKSI DINAMIK MODEL KERETA PENUMPANG DENGAN JEMBATAN TIPE INVERTED ARCH BRIDGE MENGGUNAKAN PENDEKATAN KOMPUTASI

Jembatan busur tipe inverted arch bridge merupakan salah satu tipe konstruksi jembatan yang digunakan untuk bentang pendek hingga menengah. Jembatan ini dirancang untuk mengubah gaya vertikal menjadi gaya tarik ke struktur busur. Salah satu contoh dari jembatan ini adalah Jembatan Cikubang yang masih aktif digunakan sejak 1903. Keamanan dan kelayakan struktur jembatan ini dipengaruhi oleh interaksi dinamik antara kereta dan jembatan. Simulasi dan analisis dinamik dilakukan untuk memperoleh respons getaran yang timbul akibat interaksi kereta dengan jembatan. Untuk memperolehnya, telah dibangun model elemen hingga dari struktur jembatan menggunakan perangkat lunak Ansys untuk membuat model benda fleksibel. Model jembatan ini diverifikasi sesuai dengan standar yang berlaku. Kemudian model ini diintegrasikan dengan perangkat lunak dinamika benda jamak Universal Mechanism untuk melakukan simulasi interaksi dinamik kereta dengan jembatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kecepatan kereta ketidakteraturan rel, jumlah rangkaian kereta, dan dipped rail joint mempengaruhi respons interaksi dinamik kereta dan jembatan. Peningkatan kecepatan kereta dapat menurunkan defleksi dan percepatan jembatan sampai suatu batas kecepatan tertentu, kemudian akan meningkat saat kecepatan melampaui batas tersebut. Selain itu, adanya ketidakteraturan rel dan peningkatan jumlah kereta dapat menyebabkan peningkatan amplitudo getaran. Hal ini dapat menjadi tahap awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk melakukan pemantauan kesehatan jembatan (structural health monitoring) dan menentukan kapasitas pembebanan dinamik dalam merancang jembatan.

2025
👤 Penulis: Laura Angeli Valentina
🏷️ Simulasi Dinamik 🏷️ Jembatan Inverted Arch 🏷️ Kereta Penumpang

PRODUKSI BIBIT ASPARAGUS (ASPARAGUS OFFICINALIS) PADA BIOREAKTOR TIS-RITA DENGAN VARIASI FREKUENSI IMERSI DAN ANALISIS KONVERSI SELULOSA PADA ASPARAGUS DEWASA MENJADI KARBOKSIMETIL SELULOSA

Asparagus (Asparagus officinalis L.) merupakan tanaman pangan populer dengan produksi global tinggi, namun stok alaminya terus menurun akibat eksploitasi berlebihan tanpa upaya perbanyakan. Metode konvensional dinilai kurang efektif karena laju germinasi dan survivabilitas yang rendah, sehingga kultur jaringan in vitro menjadi alternatif untuk produksi cepat dan massal. Penggunaan bioreaktor seperti Temporary Immersion System (TIS) tipe RITA dinilai lebih ekonomis karena dapat mengurangi tenaga kerja dan mengurangi biaya pada kondisi operasi yang optimal. Pada penelitian kali dilakukan kultivasi tanaman asparagus secara In-Vitro dengan menggunakan bioreaktor TIS-RITA dengan lama perendaman (imersi) selama 2 menit dengan variasi frekuensi perendaman setiap 4 jam dan setiap 8 jam. Lalu dilakukan optimasi perakaran untuk meningkatkan survivabilitas bibit dengan variasi zat pengatur tumbuh IBA pada konsentrasi 1,5 ppm dan 3 ppm. Selain itu dilakukan eksplorasi produksi karboksimetil selulosa (CMC) untuk menambah nilai residu limbah asparagus. Pembuatan karboksimetil dilakukan dengan proses karboksimetilasi pada selulosa yang di ekstrak dengan ekstraksi alkali. Performa pertumbuhan pada bioreaktor TIS-RITA di analisis dengan melihat laju pertumbuhan relatif dengan nilai masing-masing variasi sebesar 0,038 ± 0,012 g/g/hari dan 0,045 ± 0,007 g/g/hari, laju elongasi dengan masing-masing sebesar 0,466 ± 0,119 cm/hari dan 0,536 ± 0,0932 cm/hari, dan laju multiplikasi sebesar 1,25 ± 0,43 pucuk/eksplan dan 1,805 ± 0,17 pucuk/eksplan. Lalu analisis medium dilakukan dengan perubahan konsentrasi sukrosa yaitu masing-masing sebesar 0,682 ± 0,591 g/L dan 0,682 ± 0,591 g/L, perubahan nilai konduktivitas masing sebesar 519 ± 483 mS/cm dan 1061± 1283, dan perubahan pH sebesar 0,39±0,47 dan 0,303±0,405. Perakaran terbentuk pada medium dengan IBA 1,5 ppm dan 3 ppm sebanyak 66,67% dan 100%. Selanjutnya ekstraksi menghasilkan selulosa sebesar 10,35 ± 2,33% dengan efisiensi ekstraksi sebesar 79,73%. Proses karboksimetilasi menghasilkan karboksimetil selulosa dengan nilai derajat substitusi, densitas, viskositas, dan kelarutan berturut-turut sebesar 0,3301 ± 0,108%; 2,82 ± 0,0005 g/cm3; 44,9 ± 1,47 cP dan 69,40 ± 11,83%. Penelitian ini menunjukkan bahwa bioreaktor TIS-RITA terbukti mampu mendukung pertumbuhan eksplan dan multiplikasi yang baik, serta proses ekstraksi menghasilkan karboksimetil selulosa dengan yield tinggi. Meskipun belum memenuhi standar industri, hasil penelitian ini memberikan dasar yang menjanjikan untuk pengembangan lebih lanjut dalam optimasi kultur in vitro dan pemanfaatan selulosa.

2025
👤 Penulis: Muhammad Dzaky Rakan Kautsar
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

ANALISIS DAMPAK INOVASI BERKELANJUTAN DALAM RANTAI PASOK NIKE TERHADAP NILAI MEREK

Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara inovasi berkelanjutan dalam rantai pasok Nike dan pembentukan nilai merek di benak konsumen, khususnya melalui dimensi kepercayaan dan loyalitas. Seiring berjalannya waktu, keberlanjutan menjadi aspek penting identitas merek modern. Studi ini menelaah bagaimana strategi Nike yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, terutama di tingkat produk, membentuk persepsi konsumen dan memengaruhi keterlibatan merek jangka panjang. Pendekatan metode campuran digunakan untuk memperoleh kedalaman dan kejelasan analisis. Penelitian diawali dengan fondasi kualitatif melalui tinjauan pustaka ekstensif, didukung tabel state-of-the-art (SOTA) yang memetakan teori utama, wawasan industri, dan perspektif akademis. Hal ini membantu membangun kerangka konseptual yang kuat yang berakar pada manajemen rantai pasok berkelanjutan, ekuitas merek, dan perilaku konsumen. Literatur menekankan peran penting inovasi produk dan transparansi dalam membentuk kredibilitas merek serta relevansinya di pasar yang digerakkan oleh keberlanjutan. Untuk melengkapinya, data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner terstruktur yang ditujukan kepada pengguna Nike, termasuk mahasiswa dan dosen yang memahami merek dan isu keberlanjutan. Respon dianalisis untuk mengidentifikasi bagaimana konsumen menafsirkan dan merespons upaya keberlanjutan Nike, terutama terkait tingkat kepercayaan dan loyalitas terhadap nilai-nilainya. Hasil penelitian mengungkap bahwa konsumen semakin memperhatikan keberlanjutan saat menilai kredibilitas merek. Inisiatif tingkat produk Nike seperti penggunaan material daur ulang dan kampanye Move to Zero dipandang progresif sekaligus autentik. Upaya ini membangun kepercayaan yang kemudian memperkuat loyalitas. Penelitian menunjukkan bahwa praktik rantai pasok berkelanjutan, ketika dikomunikasikan secara efektif dan tertanam dalam strategi produk, dapat berperan signifikan dalam meningkatkan nilai merek di pasar global yang kompetitif. Studi ini memberikan wawasan bahwa keberlanjutan, lebih dari sekadar pemenuhan aturan, merupakan aset strategis dalam membentuk hubungan merek-konsumen. Dengan memahami pengaruh inovasi berkelanjutan terhadap kepercayaan dan loyalitas konsumen, merek seperti Nike dapat semakin menyelaraskan tujuan lingkungan dengan keberhasilan bisnis.

2025
👤 Penulis: Putu Indra Narendra Wahana
🏷️ Inovasi Berkelanjutan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Ekuitas Merek

ANALISIS PERUBAHAN ZONA AGROKLIMAT OLDEMAN MASA DEPAN DI INDONESIA

Sektor pertanian, terutama subsektor tanaman pangan, memegang peran penting dan strategis. Namun, sektor pertanian di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang dapat mempengaruhi produktivitas, salah satunya adalah gagal panen akibat curah hujan yang tak menentu. Perubahan iklim global memberikan dampak signifikan terhadap pola curah hujan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan dan persebaran zona agroklimat Oldeman masa depan di Indonesia sebagai dampak dari adanya perubahan iklim menggunakan data proyeksi curah hujan dari model iklim global CMIP6 yang telah di-downscalling dalam NEX-GDDP-CMIP6. Dipilih 9 model yang dinilai baik untuk analisis curah hujan, serta digunakan skenario SSP2-4.5 dan SSP5-8.5. Dari sembilan model, dipilih empat model terbaik melalui metrik evaluasi RMSE dan korelasi Pearson. Model-model tersebut meliputi EC-EARTH3, ACCESS-CM2, MIROC-ES2L, dan CNRM-ESM2-1. Analisis dilakukan pada data curah hujan resolusi spasial 0.25°x0.25° dari periode historis (1984-2014) dan periode proyeksi near-future (2015-2040), mid-future (2041-2070), dan far-future (2071-2100). Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan zona agroklimat di berbagai wilayah, meliputi perluasan wilayah basah yang meliputi zona A, B, dan C1 di wilayah Sumatera bagian utara dan barat. Selain itu, terdapat indikasi beberapa wilayah yang akan mengalami kondisi lebih kering, ditandai oleh zona C1 yang terlihat berkurang dan bergeser menjadi zona C2 hingga D, contohnya di wilayah Sumatera bagian tengah. Terdapat pula wilayah dengan pola agroklimat yang cenderung stabil dan hanya mengalami perubahan yang sedikit sepanjang periode proyeksi, yaitu wilayah Jawa Tengah bagian timur, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Pada wilayah-wilayah dengan produksi padi terbesar, perubahan yang cukup signifikan terjadi pada wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat, meliputi perluasan zona basah A dan B. Wilayah Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Jawa Tengah bagian barat juga diproyeksikan memiliki perubahan yang cukup mencolok, meliputi bertambahnya kondisi kering dan basah di beberapa titik. Sementara itu, wilayah-wilayah lain cenderung memiliki pola yang mirip dengan periode historis.

2025
👤 Penulis: Nurul Hidayati
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGARUH LITERASI KEUANGAN, PERILAKU KONSUMEN, DAN PROFIL RISIKO TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN INVESTASI DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) DI KALANGAN INVESTOR GENERASI Z DI INDONESIA

Tren investasi di kalangan Generasi Z di Indonesia semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi keuangan dan akses yang mudah ke pasar modal. Namun, banyak di antara mereka yang belum memiliki pemahaman keuangan yang memadai, yang berpotensi menyebabkan keputusan investasi yang tidak bijaksana. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara literasi keuangan, perilaku konsumen, dan profil risiko terhadap pengambilan keputusan investasi saham di kalangan Generasi Z di Indonesia. Selain itu, metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui distribusi kuesioner online kepada 120 responden yang memiliki pengalaman investasi. Analisis data dilakukan melalui uji validitas, reliabilitas, deskriptif, dan korelasi Pearson menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil menunjukkan bahwa ketiga variabel independen memiliki hubungan yang sangat kuat dan signifikan dengan pengambilan keputusan investasi (r > 0.96, p < 0.001). Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi literasi keuangan, pengendalian perilaku dalam berinvestasi, dan kesesuaian profil risiko memainkan peran penting dalam membentuk keputusan investasi yang lebih rasional di kalangan Generasi Z.

2025
👤 Penulis: Fikri Arlizal
🏷️ Literasi Keuangan 🏷️ Perilaku Konsumen Investasi 🏷️ Analisis Risiko

ANALISIS TRAJEKTORI & OPERASI MISI CHANDRAYAAN-3 MENGGUNAKAN GENERAL MISSION ANALYSIS TOOL (GMAT)

Penelitian ini merekonstruksi trajektori dan menganalisis aspek operasional misi Chandrayaan-3 dengan menggunakan General Mission Analysis Tool (GMAT), didukung oleh skrip Python untuk pemrosesan dan visualisasi data. Simulasi ini secara komprehensif memodelkan dinamika multibenda, termasuk pengaruh gravitasi (Bumi, Bulan, dan Matahari), serta dilengkapi dengan analisis Line of Sight (LoS) terhadap stasiun bumi. Validasi kuantitaf parameter orbit hasil simulasi dengan data resmi Indian Space Research Organisation (ISRO) menunjukkan tingkat kesesuaian tinggi, dengan galat relatif di bawah 0,1%. Analisis operasional lebih lanjut mengungkap efisiensi strategi orbit raising maneuver bertahap berbasis efek Oberth dalam meminimalkan konsumsi bahan bakar, serta menegaskan kebutuhan krusial akan jaringan stasiun bumi global untuk menjamin komunikasi berkelanjutan dan mitigasi risiko blackout selama fase-fase kritis misi.

2025
👤 Penulis: Aflah Nurul Hadi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

FABRIKASI LAPIS TIPIS FOTOKATALIS RGO/ZNO/FE2O3 DENGAN METODE DROP CASTING UNTUK DEGRADASI TETRASIKLIN

Komposit reduced graphene oxide (rGO)/zinc oxide (ZnO)/besi(III) oksida (Fe?O?) terbukti mampu mendegradasi persistent organic pollutants (POPs). Untuk meningkatkan kinerja fotokatalitik, komposit difabrikasi dalam bentuk lapisan tipis yang menunjukkan peningkatan performa hingga 11 kali dibandingkan serbuk. Graphene oxide (GO) disintesis dengan metode Tour yang dimodifikasi dan direduksi menggunakan iradiasi gelombang mikro dengan variasi waktu (1, 3, dan 5 menit) untuk menghasilkan rGO. Lapisan tipis ZnO, rGO, dan rGO/ZnO/Fe?O? dibuat menggunakan metode drop casting dan digunakan untuk mendegradasi antibiotik tetrasiklin sebagai model POPs. Hasil karakterisasi X-ray diffraction (XRD) mengonfirmasi oksidasi grafit menjadi GO serta penurunan intensitas puncak GO seiring bertambahnya waktu reduksi. Spektroskopi Raman menunjukkan penurunan rasio intensitas D band terhadap G band, yang mengindikasikan semakin terbentuknya rGO seiring dengan meningkatnya waktu reduksi. Transmission electron microscopy (TEM) memperlihatkan GO dan rGO yang berupa lembaran tipis, yang menunjukkan proses eksfoliasi GO dan rGO yang berjalan baik. Scanning electron microscopy (SEM) penampang lintang menunjukkan ketebalan lapisan tipis ZnO sekitar 1,3 ?m, rGO 72–155 nm, dan komposit rGO/ZnO/Fe?O? 244–541 nm. Analisis energy-dispersive X-ray spectroscopy (EDS) mengonfirmasi distribusi C, Fe, dan Zn yang homogen. Uji fotokatalitik menggunakan visible light box dengan pemantauan UV-Vis menunjukkan degradasi TC oleh rGO/ZnO/Fe?O? sebesar 39,43% setelah 150 menit, meningkat signifikan dibandingkan film tanpa rGO (21,1%). Hasil ini menegaskan bahwa rGO berperan dalam meningkatkan efisiensi fotokatalitik, sedangkan konfigurasi lapisan tipis memungkinkan degradasi terjadi dengan penggunaan material lebih sedikit.

2025
👤 Penulis: Muhammad Hakeem Alvanneda
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

EKSPEKTASI KESEIMBANGAN KERJA DAN KEHIDUPAN YANG DIBENTUK MEDIA DI KALANGAN GEN Z INDONESIA: STUDI KUALITATIF MULTI-INDUSTRI

Studi kualitatif ini mengeksplorasi bagaimana pekerja Gen Z di Indonesia membentuk ekspektasi terhadap keseimbangan kerja dan kehidupan (work-life balance/WLB) melalui representasi media terhadap berbagai industri. Menggunakan teori kontrak psikologis, teori sinyal, dan employer branding sebagai kerangka utama, penelitian ini menelaah kesenjangan antara ekspektasi dan realitas pengalaman kerja Gen Z yang bekerja di sektor teknologi, industri kreatif, dan kesehatan. Data dikumpulkan melalui enam wawancara mendalam dengan pekerja Gen Z dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Temuan menunjukkan bahwa media sering kali menampilkan versi ideal dari keseimbangan kerja dan kehidupan—terutama dalam industri teknologi dan kreatif—namun gambaran tersebut hanya sebagian yang mencerminkan realitas di tempat kerja. Banyak responden yang menyesuaikan kembali ekspektasinya setelah memasuki dunia kerja, yang mengindikasikan pentingnya employer branding yang lebih autentik dan realistis di ruang digital.

2025
👤 Penulis: Jonathan Christiandri
🏷️ Gen Z 🏷️ Keseimbangan Kerja Dan Kehidupan 🏷️ Media Konten

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS NITROSO DRUG SUBSTANCE-RELATED IMPURITIES (NDSRIS) PADA SEDIAAN CARVEDILOL TABLET DENGAN MENGGUNAKAN INSTRUMEN UPLC MS-MS

Nitrosamine Drug Substance-Related Impurities (NDSRIs) merupakan cemaran genotoksik yang menjadi perhatian besar di kalangan industri farmasi karena sifat hazard tersebut. Carvedilol, senyawa yang mengandung gugus amina sekunder dalam strukturnya, berpotensi mengalami reaksi nitrosasi oleh pereaksi nitrosasi seperti nitrit selama proses sintesis, formulasi, atau penyimpanan, sehingga dapat membentuk cemaran N-Nitroso Carvedilol. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode analisis yang valid untuk mendeteksi dan mengkuantifikasi cemaran N-Nitroso Carvedilol pada sediaan tablet carvedilol menggunakan instrumen Ultra Performance Liquid Chromatography–Mass Spectrometry/Mass Spectrometry (UPLC-MS/MS) dengan pendekatan Analytical Quality by Design (AQbD). Optimasi dilakukan terhadap parameter kritis instrumen MS, yaitu suhu desolvasi, capillary voltage, dan laju alir, dengan menggunakan Design of Experiments (DoE) dan Response Surface Methodology. Metode analisis dikembangkan untuk mendeteksi senyawa N-Nitroso Carvedilol, suatu cemaran nitrosamin yang memiliki dua bentuk atropisomer akibat adanya hambatan rotasi pada ikatan tunggal aromatiknya. Pemisahan dan kuantisasi kedua isomer dilakukan secara efisien menggunakan kolom L1, CORTECS C18+ (90 Å, 1,6 µm, 2,1 mm × 100 mm) dengan fase gerak berupa campuran 0,1% asam asetat dalam air dan metanol secara gradien, laju alir 0,25 mL/menit, dan suhu kolom 40 °C. Validasi metode menunjukkan nilai batas deteksi sebesar 0,25 ng/mL, batas kuantifikasi sebesar 1,0 ng/mL, serta linearitas yang baik dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,999 untuk kedua isomer. Nilai persen perolehan kembali masingmasing isomer adalah 98,8% dan 97,5%, dengan nilai Relative Standard Deviation (RSD) sebesar 2,1% dan 3,9%. Metode tersebut kemudian diaplikasikan untuk pengujian tablet Carvedilol, dan terbukti mampu mendeteksi keberadaan N-Nitroso Carvedilol secara selektif dan andal. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa metode analisis cemaran NNitroso Carvedilol berhasil didapatkan serta memenuhi kriteria validasi sehingga dapat diaplikasikan untuk pemantauan kualitas sediaan tablet.

2025
👤 Penulis: Septiana Akbar
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Kimia 🏷️ Hidrologi

PRA-RANCANGAN SISTEM PRODUKSI BIBIT UNGGUL ASPARAGUS OFFICINALIS DALAM BIOREAKTOR MIST TERINTEGRASI DENGAN PRODUKSI EKSTRAK SENYAWA BIOAKTIF DAN PUPUK ORGANIK MENGGUNAKAN KONSEP BIOREFINERY

Asparagus (Asparagus officinalis L.) merupakan tanaman sayuran dan obat karena sifat diuretiknya. Tanaman ini sulit diperbanyak secara konvensional dari biji karena viabilitas rendah, pertumbuhan lambat, dan rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu, teknik kultur jaringan menggunakan bioreaktor ebb-and-flow dipilih untuk menghasilkan tanaman asparagus yang bebas dari penyakit serta dapat diotomatisasi untuk menghasilkan bibit yang banyak dalam waktu singkat. Bioreaktor ini terdiri dari dua wadah, yaitu wadah budidaya dan wadah penyimpanan media dengan siklus pemompaan otomatis. Pucuk hasil kultivasi ini dipanen setelah dua minggu, sebagian diambil untuk optimasi medium perakaran pada medium cair dengan hormon IBA (Indole-3-butyric acid) pada variasi konsentrasi 1,5 ppm dan 3 ppm. Sebagian pucuk lainnya serta hasil kultur padat digunakan untuk ekstraksi selulosa menggunakan metode Updegraff. Parameter yang dianalisis berupa performa pertumbuhan, perubahan komposisi medium dan kandungan selulosa. Potensi asparagus sebagai bahan baku Carboxymethyl Cellulose (CMC) dianalisis menggunakan asparagus dewasa dari pasar komersial setelah ekstraksi selulosa menggunakan metode alkaline treatment, bleaching menggunakan metode oxidative bleaching treatment, dan sintesis CMC melalui proses eterifikasi menggunakan natrium kloroasetat. Seluruh percobaan dilakukan sebanyak tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perendaman 2 menit setiap 4 jam dan 8 jam, secara berturut-turut kultur asparagus memberikan laju pertumbuhan relatif sebesar 51,13 ± 13,81 mg/g/hari dan 39,91 ± 2,39 mg/g/hari, laju peningkatan tinggi sebesar 0,70 ± 0,13 mm/hari dan 0,18 ± 0,05 mm/hari; indeks multiplikasi sebesar 0,21 ± 0,08 tunas/eksplan dan 0,49 ± 0,24 tunas/eksplan; perubahan kandungan sukrosa sebesar 1,52 ± 0,55 g/L dan 2,48 ± 2,00 g/L; perubahan konduktivitas medium sebesar 0,50 ± 0,32 mS/cm dan 0,13 ± 0,04 mS/cm; perubahan pH medium sebesar 1,20 ± 0,08 dan 1,14 ± 0,21; perakaran hingga hari ke-30 tidak tumbuh. Rendemen selulosa asparagus hasil kultivasi dalam kultur padat, bioreaktor ebb-and-flow pada perendaman 2 menit setiap 4 jam dan 8 jam, serta asparagus dewasa secara berturut-turut adalah 19,83 ± 0,63%, 18,48 ± 3,76%, 22,70 ± 8,40%, 12,98 ± 0,45%. Rendemen, derajat substitusi, persentase solubilitas, densitas, dan viskositas CMC yang dihasilkan asparagus dewasa secara berturut-turut sebesar 47,53 ± 1,76%, 0,13 ± 0,01, 9,07 ± 2,67%, 1,00 ± 0,01 g/cm3 , dan 0,96 ± 0,03 cP. Hasil perakaran, yang merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan transplantasi tanaman ke tanah, menunjukkan bahwa perlakuan perendaman 2 menit setiap 4 jam dan 8 jam dalam bioreaktor ebb-and-flow yang digunakan belum optimal untuk produksi bibit asparagus. Meskipun demikian, rendemen selulosa hasil kultur jaringan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan asparagus dewasa. Di sisi lain, karakteristik CMC belum memenuhi kriteria CMC komersial, yang umumnya memiliki solubilitas dan viskositas yang tinggi dalam air. Kata kunci : Asparagus officinalis L., bioreaktor ebb-and-flow, frekuensi perendaman, selulosa, carboxymethyl cellulose

2025
👤 Penulis: Olivia Putri Tantri
🏷️ Bioreaksi 🏷️ Ekstrak Selulosa 🏷️ Produksi Bibit Tanaman

ABSTRAK STUDI KEBIJAKAN PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK TERPUSAT SKALAPERMUKIMAN MENUJU KEBERLANJUTAN SANITASI AMAN DI KAWASAN PADAT PENDUDUK (STUDI KASUS: KELURAHAN SUKAWARNA, KELURAHAN CICAHEUM, KELURAHAN BANDUNG WETAN, KELURAHAN KARASAK, KOTA BANDUNG) Oleh Siti Fanira Nazhipah NIM: 25722005 (Program Studi Magister Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi) Pertumbuhan wilayah perkotaan memicu permasalahan sanitasi yang menurunkan daya dukung lingkungan. Keterbatasan lahan dan meningkatnya kepadatan penduduk menjadikan tingginya kebutuhan sanitasi menuntut pengelolaan yang berkelanjutan. Pemerintah Indonesia mendorong pembangunan IPAL-Komunal berbasis masyarakat di berbagai kota, termasuk Kota Bandung, untuk mendukung target SDGs, khususnya akses sanitasi aman 100%. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kebijakan pengelolaan air limbah domestik skala komunal di Kota Bandung untuk mendukung keberlanjutan sanitasi aman di kawasan padat penduduk. Studi dilakukan di empat kelurahan di Kota Bandung yaitu Karasak, Sukawarna, Bandung Wetan, dan Cicaheum dengan 174 responden dari pengelola dan pengguna. Keberlanjutan dinilai menggunakan RAPFISH pada lima aspek: teknis, kelembagaan, finansial, sosial, dan lingkungan. Hasil menunjukkan skor keberlanjutan berkisar 50,86–73,91 yang mencerminkan status cukup berkelanjutan. Analisis leverage mengidentifikasi faktor paling berpengaruh yaitu kondisi fisik IPAL, peran pemerintah, partisipasi masyarakat, dan persepsi terhadap kualitas lingkungan. Evaluasi kebijakan dengan evaluasi formatif berdasarkan enam kriteria William Dunn menunjukkan efektivitas kebijakan masih rendah. Selanjutnya, analisis SWOT menunjukkan seluruh lokasi berada pada kuadran I dengan skor IFAS antara 1,76–3,77 dan EFAS antara 1,57–2,97, yang mengarah pada strategi agresif berbasis kombinasi kekuatan dan peluang. Strategi kebijakan yang disarankan mencakup penguatan kelembagaan, pendampingan teknis, pengaturan tarif berbasis regulasi, serta peningkatan partisipasi dan edukasi masyarakat. Temuan ini menunjukkan perlunya kebijakan yang lebih adaptif dan kolaboratif untuk menjamin keberlanjutan sistem pengelolaan sanitasi di wilayah padat penduduk.

2025
👤 Penulis: Tidak diketahui
🏷️ Sanitasi Amaman 🏷️ Pengelolaan Air Limbah Komunal 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Sanitasi

DEGRADASI LIMBAH MIKROPLASTIK MENGGUNAKAN FOTOKATALIS POLYMERIC CARBON NITRIDE/SILVER PHOSPHATE (PCN/AG3PO4) YANG DIGERAKKAN DENGAN CAHAYA TAMPAK

Pencemaran mikroplastik telah menjadi isu lingkungan global yang mendesak akibat sifatnya yang persisten dan dampaknya yang merugikan bagi ekosistem serta kesehatan manusia. Fotokatalisis menggunakan cahaya tampak menawarkan solusi potensial untuk mengatasi masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis, mengkarakterisasi, dan mengevaluasi kinerja fotokatalis PCN/Ag?PO? dalam mendegradasi empat jenis mikroplastik yang umum ditemukan, yaitu High Density Polyethylene (HDPE), Low Density Polyethylene (LDPE), Polypropylene (PP), dan Polystyrene (PS). Fotokatalis PCN/Ag?PO? berhasil disintesis dan dikonfirmasi melalui analisis XRD yang menunjukkan pola khas dari kedua fasa dan FTIR yang mengidentifikasi gugus fungsi yang relevan. Uji degradasi fotokatalitik dilakukan dengan menyinari campuran mikroplastik dan fotokatalis di bawah cahaya tampak selama periode waktu 1, 5, dan 10 hari. Hasil penelitian setelah 10 hari penyinaran menunjukkan urutan efektivitas degradasi berdasarkan penurunan massa adalah PP > LDPE > HDPE > PS, dengan persentase degradasi masing-masing sebesar 3,83%, 3,48%, 2,48%, dan 2,33%. PP menjadi polimer yang paling mudah terdegradasi karena keberadaan atom karbon sekunder pada rantai utamanya yang lebih rentan terhadap serangan radikal. Sebaliknya, PS menunjukkan ketahanan tertinggi terhadap degradasi karena stabilitas tinggi dan efek halangan sterik yang diberikan oleh gugus fenil aromatiknya. Analisis FTIR pada mikroplastik pasca-degradasi mengonfirmasi terjadinya reaksi oksidasi melalui kemunculan puncak serapan gugus karbonil dan hidroksil. Lebih lanjut, analisis SEM menunjukkan adanya kerusakan morfologi, seperti peningkatan kekasaran, goresan, pembentukan lubang, dan fragmentasi.

2025
👤 Penulis: Dliya'uljihad Fie Z.
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

EFEKTIVITAS NANOPARTIKEL TEMBAGA DAN EKSTRAK SERAI (CYMBOPOGON CITRATUS L.) SEBAGAI INHIBITOR DAN BIOSIDA HIJAU UNTUK KOROSI MIKROBIOLOGI PADA BAJA API 5L X52 DI LINGKUNGAN AIR LAUT YANG TERPAPAR BAKTERI BACILLUS ARYABHATTAI SKC-5

Material baja karbon rendah API 5L X52 secara luas digunakan sebagai material utama penyusun pipeline dalam industri minyak dan gas di Indonesia karena memiliki weldability, sifat mekanik yang baik, harga yang ekonomis serta efektif dalam proses instalasi. Namun demikian, material ini memiliki kelemahan dalam ketahanan korosi mikrobiologi (MIC). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh keberadaan bakteri Bacillus aryabhattai SKC-5 serta penambahan inhibitor berupa nanopartikel tembaga yang diekstrak dengan ekstrak Kratom dan ekstrak tanaman Serai (Cymbopogon citratus L.) terhadap proses korosi mikrobiologi pada pipa baja API 5L X52 di dalam lingkungan air laut. Spesimen berupa pipa API 5L X52 direndam dalam medium air laut steril yang mengandung bakteri B.aryabhattai SKC-5 dan nanopartikel tembaga, serta ekstrak Serai selama 7 dan 14 hari. Kuantifikasi populasi bakteri dalam medium uji dilakukan menggunakan metode Total Plate Count (TPC) dan pengukuran Optical Density (OD). Laju korosi akibat aktivitas mikroorganisme dievaluasi melalui pengujian weight loss dan pengujian Elektrokimia (Ekstrapolasi Tafel dan EIS). Identifikasi produk korosi pada permukaan spesimen dilakukan untuk menentukan keberadaan bakteri dan nanopartikel tembaga yang menempel permukaan spesimen dengan menggunakan teknik karakterisasi Fourier Transform Infrared spectroscopy (FTIR), X-Ray Diffraction (XRD), dan Scanning Electron Microscope (SEM) yang dilengkapi dengan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan nanopartikel tembaga yang ditambahkan ekstrak Serai memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan tanpa penambahan ekstrak Serai. Keberadaan bakteri B. aryabhattai SKC-5 secara signifikan meningkatkan laju korosi pada baja API 5L X52. Namun, dengan penambahan inhibitor hijau Nanopartikel Tembaga yang disintesis dengan ekstrak Kratom dan ekstrak Serai yang diuji terbukti sangat efektif dalam menekan laju korosi. Analisis Tafel menunjukkan bahwa medium yang mengandung kombinasi nanopartikel tembaga yang disintesis dengan ekstrak kratom dan ekstrak serai (ABNS) dapat menurunkan laju korosi secara konsisten sebesar 94,12% pada durasi imersi 7 hari dan 99,84% pada durasi imersi 7 hari jika dibandingkan dengan medium kontrol AB. Selain itu, Analisis EIS menunjukkan bahwa medium yang mengandung kombinasi nanopartikel tembaga yang disintesis dengan ekstrak kratom dan ekstrak serai (ABNS) memberikan resistansi transfer muatan (Rct) tertinggi karena dapat membentuk lapisan pasif, yang menandakan laju korosi terendah. Kemudian, nanopartikel tembaga yang disintesis dengan ekstrak kratom dan ekstrak serai maupun ekstrak serai saja juga dapat bertindak sebagai biosida yang efektif dengan mengganggu metabolisme bakteri B. aryabhattai SKC-5, yang ditandai dengan penurunan jumlah bakteri sesil dan planktonik. Senyawa fitokimia dari ekstrak Kratom dan ekstrak serai, seperti Citral dan Mitraginin dapat merusak dinding sel bakteri dan menghambat produksi Extracellular Polymeric Substances (EPS), yang penting untuk pembentukan biofilm. Hal tersebut menekan pembentukan senyawa korosif hasil metabolisme bakteri seperti Iron Sulfide (FeS), Iron Sulphate (FeSO4), dan gugus fungsi S=O.

2025
👤 Penulis: Prasetyo Wibisono
🏷️ Korosi Mikrobiologi 🏷️ Inhibitor Nanopartikel Tembaga 🏷️ Bakteri Bacillus Aryabhattai Skc-5

ANALISIS KETINGGIAN INERTIAL SUBLAYER (ISL) DI WILAYAH PERKOTAAN JAKARTA BERDASARKAN DATA OBSERVASI MULTILEVEL

Estimasi ketinggian Inertial Sublayer (ISL) di wilayah urban tropis penting untuk memahami distribusi fluks dan dinamika atmosfer permukaan, terutama dalam konteks perencanaan lingkungan dan pengamatan atmosfer. Kawasan sekitar Radio Muara Jakarta sebagai area urban padat di wilayah tropis menawarkan karakteristik trubulensi yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi ketinggian ISL menggunakan pendekatan anemometric dan morfometrik berbasis observasi multilevel, serta mengevaluasi keterkaitan antara parameter permukaan dan struktur vertikal lapisan atmosfer. Data yang digunakan berasal dari observasi kecepatan angin dan fluktuasi turbulensi pada tiga tingkat ketinggian selama periode musim kering. Estimasi ketinggian ISL dilakukan melalui pendekatan anemometrik berdasarkan hubungan antara tinggi pergeseran titik nol ( ) dan profil kecepatan angin. Selain itu, pendekatan morfometrik diterapkan untuk menghitung menggunakan model geometri urban, mengikuti metode dari penelitian sebelumnya. Nilai-nilai tersebut juga dibandingkan dengan hasil dari model UMEP untuk analisis integratif. Hasil menunjukkan bahwa penelitian ini belum berhasil mengestimasi ketinggian ISL di wilayah urban sekitar Radio Muara Jakarta secara konvergen, karena seluruh metode yang digunakan menghasilkan rentang nilai yang berbeda signifikan. Melalui pendekatan anemometrik, ISL diperkirakan berada pada ketinggian sekitar 30-38 m atau 4-5 kali tinggi rata-rata kanopi bangunan ( ), dengan berkisar 17,5-56,5 m. Sementara itu, pendekatan morfometrik menghasilkan 10,24 m. Perbedaan besar ini menunjukkan sensitivitas masing-masing metode terhadap karakteristik permukaan dan turbulensi, sehingga diperlukan kajian lanjutan untuk memperoleh estimasi ISL yang lebih konsisten, mengingat parameter aerodinamik terbukti penting dalam menentukan ketinggian ISL.

2025
👤 Penulis: Windi Nuraini
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Perilaku Atmosfer 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

ANALISIS DESKRIPTIF KECUKUPAN ASUPAN NATRIUM DAN KALIUM PADA USIA 40 TAHUN KE ATAS DI KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN METODE FOOD RECALL 24 JAM

Latar Belakang: Asupan natrium dan kalium yang tidak seimbang dapat berdampak signifikan terhadap kesehatan, khususnya pada populasi dewasa. Ketidakcukupan asupan kalium dan kelebihan asupan natrium seringkali menjadi masalah gizi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data asupan natrium dan kalium pada kelompok usia 40 tahun ke atas di Kota Bandung untuk penilaian kecukupan asupan kedua mineral tersebut. Metode: Penelitian deskriptif observasional menggunakan pendekatan potong lintang yang melibatkan penduduk Kota Bandung berusia ?40 tahun serta besaran ukuran sampel menggunakan rumus Slovin. Data asupan makanan dikumpulkan melalui wawancara food recall 24 jam menggunakan pendekatan multi-tahap. Kuantifikasi natrium dan kalium dalam masing-masing sampel mengacu pada Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) dan website Fat Secret. Tingkat kecukupan gizi dikaji dari perbandingan asupan individu terhadap Angka Kecukupan Gizi (AKG). Analisis data menggunakan statistik deskriptif untuk asupan natrium dan kalium, serta pola makan tertentu. Hasil: Rata-rata total asupan harian natrium adalah 1874,67 ± 887,65 mg/hari pada hari kerja dan 1937,88 ± 880,42 mg/hari pada akhir pekan. Rata-rata total asupan harian kalium adalah 1918,32 ± 733,26 mg/hari pada hari kerja dan 2009,22 ± 769,16 mg/hari pada akhir pekan. Pada hari kerja, proporsi pemenuhan natrium berlebih (?120 %AKG) 54,59 %, cukup (90–119 %AKG) 19,27 %, defisit ringan (80–89 %AKG) 6,42 %, defisit sedang (70–79 %AKG) 6,65 %, dan defisit berat (<70 %AKG) 13,07 %; sedangkan pada akhir pekan masingmasing 55,40 %, 23,22 %, 6,21 %, 7,13 %, dan 8,05 %. Sementara itu, seluruh responden (baik hari kerja maupun akhir pekan) tidak ada yang memenuhi kecukupan %AKG kalium yang direkomendasikan. Pola makan memengaruhi asupan natrium dan kalium; responden yang tidak makan pagi memiliki asupan natrium dan kalium paling rendah. Kesimpulan: Lebih dari 50% responden usia 40 tahun ke atas di Kota Bandung mengalami kelebihan asupan natrium, sedangkan yang mengalami defisit sedang dan berat, kurang dari 20%. Hal tersebut, dapat menjadi indikasi awal perlunya upaya pengendalian asupan natrium, mengingat kelebihan asupan natrium merupakan salah satu faktor risiko penyebab hipertensi. Sebaliknya, inikasi defisiensi kalium yang dialami oleh seluruh responden, perlu menjadi perhatian dan ada upaya korektif, misalnya melalui suplementasi.

2025
👤 Penulis: Haristika Chresna Pamungkas
🏷️ Nutrisi 🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Analisis Data Kualitatif
Halaman 355 dari 6754
💬