📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenANALISIS MANAJEMEN PROYEK PADA PENERAPAN PERLINDUNGAN PANTAI ALAMI TAMAN MANGROVE PEKALONGAN
Kawasan Taman Mangrove Pekalongan merupakan wilayah pesisir Pantai Utara Jawa yang terdampak abrasi, erosi, rob, dan penurunan muka tanah sehingga memerlukan perlindungan sementara untuk mendukung pertumbuhan mangrove sebagai pelindung pantai alami. Penelitian ini menganalisis penerapan tanggul geobag geotextile melalui penyusunan metode konstruksi, Work Breakdown Structure (WBS), estimasi volume, produktivitas, penjadwalan, biaya, stakeholder management, dan risk management. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur sepanjang ±1.700 m membutuhkan 8.557 unit geobag geotextile, matras kayu dan matras geotextile masing-masing 16.320 m², serta pekerjaan cut and fill/base raising sebesar 19.800 m³. Jadwal konstruksi utama disusun selama 559 hari kerja atau 668 hari kalender, dengan masa layanan struktur dua tahun dan pekerjaan demobilisasi sekitar 36 hari kalender. Total biaya proyek sebesar Rp6.500.919.890, terdiri atas fase mobilisasi Rp889.394.000 (13,68%), fase instalasi Rp5.572.802.846 (85,72%), dan fase demobilisasi Rp38.723.044 (0,60%), serta biaya mitigasi area cleaning geotextile sebesar Rp40.468.500. Analisis stakeholder mengidentifikasi 36 stakeholder yang memerlukan strategi pelibatan berbeda berdasarkan Impact of Change dan Level of Influence. Analisis risiko mengidentifikasi 35 risiko, dengan 24 risiko negatif berada di atas batas acceptable risk sebelum treatment; Degree of Centrality menunjukkan bahwa komunikasi dan koordinasi stakeholder menjadi risk driver utama, sedangkan jadwal menjadi titik akumulasi dampak. Berdasarkan hasil tersebut, tanggul geobag geotextile layak direncanakan sebagai struktur perlindungan transisi apabila didukung pengendalian teknis, biaya, jadwal, stakeholder, dan risiko secara terintegrasi.
INOVASI VEGAN LEATHER DARI LIMBAH PANGAN DAN PERTANIAN: SOLUSI BERKELANJUTAN UNTUK INDUSTRI FASHION
Tingginya beban lingkungan industri penyamakan kulit mendorong urgensi pengembangan material komposit alami berkelanjutan. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh konsentrasi NaOH (5% dan 10%) serta rasio cairanterhadappadatan (10:1 dan 20:1 mL/g) pada proses ekstraksi alkali serat daun nanas (pineapple leaf fiber, PALF) terhadap karakteristik kulit vegan (vegan leather) berbasis matriks lateks karet alam. Komposit nonanyaman (nonwoven) hasil fabrikasi dikarakterisasi secara komprehensif, dengan kain PALF anyaman (woven, W0) digunakan sebagai variasi struktur lembaran serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaOH dari 5% ke 10% dan ekspansi rasio cairan terhadap padatan dari 10:1 ke 20:1 mL/g secara signifikan meningkatkan efisiensi delignifikasi serat. Fenomena ini meningkatkan interaksi antarmuka seratmatriks, di mana perlakuan NaOH 10% dengan rasio 20:1 mL/g menghasilkan kadar selulosa sebesar 88,66%, kuat tarik komposit nonanyaman sebesar 2,43 MPa, dan reduksi absorpsi air hingga 5,48% akibat struktur yang lebih homogen berdasarkan pengamatan Scanning Electron Microscopy (SEM). Pada kondisi tersebut, kulit vegan menunjukkan stabilitas yang baik dengan laju biodegradasi terkendali sebesar 8,97% massa hilang setelah 28 hari. Sebagai pembanding, variasi woven menghasilkan kuat tarik 7,78 MPa dan kuat sobek 66,44 N/mm. Dapat disimpulkan bahwa manipulasi parameter termokimia ekstraksi alkali secara langsung merekayasa sifat fungsional komposit kulit vegan untuk aplikasi mode ringan (lightweight fashion).
PENGEMBANGAN DESAIN ALAS KAKI KONTEMPORER MELALUI TRANSFORMASI KAIN TRADISIONAL UIS KARO DENGAN ANALISIS MENGGUNAKAN METODE ATUMICS
Uis Karo merupakan wastra tradisional masyarakat Karo, Sumatera Utara, yang sarat akan nilai filosofis dan fungsi adat. Namun, eksistensinya kini menghadapi tantangan relevansi akibat rendahnya kesadaran masyarakat luas dibandingkan wastra daerah lain, serta adanya jarak dengan generasi muda karena minimnya inovasi produk turunan yang adaptif. Penelitian ini bertujuan menganalisis elemen fundamental Uis Karo untuk merumuskan peluang inovasi yang relevan dengan selera generasi muda, sehingga dapat menjadi medium pelestarian sekaligus pengenalan nilai budaya Karo secara aplikatif. Alas kaki dipilih sebagai objek perancangan karena posisinya yang strategis sebagai produk fashion harian berdaya konsumsi tinggi dan sarana ekspresi diri yang kuat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran (kualitatif dan kuantitatif) melalui pendekatan transformasi budaya ATUMICS (Artifact, Technique, Utility, Material, Icon, Concept, Shape). Pengumpulan data dilakukan lewat studi literatur, kuesioner, observasi artefak, serta wawancara mendalam bersama praktisi budaya dan target pengguna. Hasil analisis preferensi pasar menunjukkan kebutuhan terhadap produk yang mengedepankan aspek autentisitas budaya, namun dikemas dalam visual kontemporer yang unik, nyaman, fungsional untuk berbagai aktivitas, serta bermaterial tahan lama. Berdasarkan analisis ATUMICS, perancangan ini mempertahankan elemen Concept (kepercayaan perlindungan) dan Icon (motif atau ornamen tradisional Suku Karo), serta mempertahankan elemen Utility (fungsi penutup tubuh dan cara pakai) dan Shape (bentuk geometris khas) Uis Karo yang dikombinasikan dengan elemen modern, namun mentransformasikan elemen Material dan Technique menjadi menggunakan elemen alas kaki kontemporer sepenuhnya. Perancangan ini secara sengaja menghindari penggunaan fisik kain tenun asli demi alasan etika budaya, durabilitas teknis produk, dan preferensi pengguna. Hasil akhir perancangan ini mewujud sebagai produk alas kaki fungsional yang tidak hanya bertindak sebagai pelindung kaki, melainkan juga instrumen edukasi dan pelestarian Uis Karo yang adaptif serta memiliki nilai kebaruan kompetitif di pasar global.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015–2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SUBSISTEM UNIT KOMUNIKASI, SUBSISTEM KONTROL ROTASI, DAN SUBSISTEM CATU DAYA, UNTUK PLATFORM KATETERISASI JARAK JAUH
abstrak bisa dilihat di filenya
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015–2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
PERANCANGAN KIT MEDIA INTERAKTIF SEBAGAI SARANA PENDUKUNG ADAPTASI KRISIS TRANSISI PADA LANSIA AWAL PASCAPENSIUN
Masa pensiun merupakan fase transisi yang berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan psikologis pada lansia awal, seperti kehilangan peran sosial atau kesulitan dalam regulasi emosi yang dapat berkembang menjadi late-life crisis. Perancangan ini bertujuan untuk merancang sebuah media yang dapat mendukung adaptasi psikologis lansia awal pascapensiun. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur, wawancara dengan psikolog, serta observasi media serupa guna memahami kebutuhan, karakteristik, dan kondisi psikologis lansia pascapensiun. Proses perancangan menggunakan metode Design Thinking melalui tahapan empathize, define, ideate, prototype, dan test. Konsep yang digunakan adalah media fisik berupa kit, dipilih karena sesuai dengan kondisi fisik dan kognitif lansia serta memungkinkan integrasi aktivitas sensori dan taktil melalui berbagai komponen yang saling terintegrasi, meliputi buku validasi emosi berbasis narasi, kartu aktivitas harian, jurnal refleksi, dan aromaterapi. Perancangan ini diharapkan dapat menjadi media pendukung yang membantu lansia mengelola emosi, meningkatkan adaptasi psikologis, serta mempertahankan kesejahteraan mental dan kualitas hidup pada masa pensiun.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015–2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015–2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
PERANCANGAN PUSAT PELAYANAN KOTA TONDO-TALISE DI KOTA PALU, SULAWESI TENGAH DENGAN PENDEKATAN INFILL DEVELOPMENT BERBASIS MITIGASI BENCANA
Kota Palu, ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah, mengalami kebuntuan ekspansi kota yang berkepanjangan pascabencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi tahun 2018, yang merusak identitas spasial kota sekaligus memperkuat konsentrasi fungsi perkotaan di kawasan selatan. Di sisi lain, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) 2023–2043 telah menetapkan Tondo-Talise sebagai lokasi Pusat Pelayanan Kota baru, namun kepadatan penduduk dan kelengkapan fasilitas kawasan belum memungkinkan perwujudannya secara penuh. Oleh karena itu, perancangan ini menggunakan pendekatan infill development dengan memanfaatkan lahan yang belum termanfaatkan secara optimal di dalam jaringan kota yang sudah terbangun, untuk membentuk Activity Centre sebagai fase awal Pusat Pelayanan Kota yang realistis, sekaligus memastikan lokasi terpilih aman dari Zona Rawan Bencana tingkat tinggi. Dengan metode fragmental process, penelitian ini mengintegrasikan analisis spasial multikriteria berbasis GIS dengan analisis driving force multiskala (makro, meso, mikro) untuk menentukan lokasi infill optimum seluas 177,18 hektare sekaligus merumuskan prinsip perancangan normatif yang mencakup struktur urban, mobilitas, ruang publik, ekonomi lokal, dan hunian tangguh bencana. Sebagai respons desain, dirumuskan konsep “Rising from the Ridge” melalui tiga subtema Resilient, Common Needs, dan Hillside yang menerjemahkan kontur tapak menjadi tiga karakter ruang (Pulse, Breath, dan Serenity), dengan memperlakukan zona rawan bencana tingkat tinggi sebagai batasan mutlak perancangan. Strategi perancangan diwujudkan melalui rencana zonasi mixed-use yang terdiri atas zona Civic Core (37,91 ha), Urban Settlement (30,76 ha), dan Commercial Buffer (12,41 ha) pada 81,08 hektare lahan buildable, sementara area berkontur curam dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau dan kawasan konservasi. Strategi ini disimulasikan secara detail pada Blok Civic Core, yang menunjukkan integrasi fungsi mixed-use, komersial, fasilitas publik, dan perkantoran dengan intensitas bangunan bertingkat, sistem sirkulasi, ruang terbuka hijau, dan titik evakuasi. Rancangan yang dihasilkan mentransformasikan kawasan terdampak bencana yang belum termanfaatkan menjadi pusat aktivitas baru yang tangguh dan inklusif, memulihkan identitas spasial masyarakat yang hilang tanpa memerlukan perluasan lahan baru di luar batas terbangun kota.
ANALISIS DIAGRAM FUNDAMENTAL LALU LINTAS PADA LALU LINTAS HETEROGEN
Alokasi dan pemanfaatan lajur pada jalan bebas hambatan multilajur menimbulkan heterogenitas kondisi arus lalu lintas yang tidak dapat ditangkap secara memadai oleh pendekatan pemodelan berbasis data agregat. Meskipun diagram fundamental telah banyak digunakan untuk analisis arus lalu lintas dan estimasi kapasitas, sebagian besar studi menggabungkan pengamatan dari seluruh lajur ke dalam satu aliran tunggal, sehingga mengaburkan perbedaan kinerja operasional antarlajur. Tugas akhir ini mengembangkan diagram fundamental pada ruas jalan tol tiga lajur dengan mengkalibrasi lima model makroskopis, terdiri dari tiga model single regime dan dua model multi-regime, yang diterapkan secara terpisah pada masing-masing lajur maupun pada konfigurasi agregat. Kinerja model dievaluasi menggunakan R², RMSE, dan MAPE, serta estimasi kapasitas dibandingkan antara konfigurasi per lajur dan agregat maupun terhadap nilai normatif Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI 2023). Hasil analisis mengkonfirmasi perbedaan kecepatan dan arus yang signifikan secara statistik pada seluruh pasangan lajur yang berdekatan, menolak asumsi homogenitas lajur yang mendasari standar kapasitas jalan bebas hambatan Indonesia saat ini. Dari sisi kinerja model, tidak ada model single regime yang mampu secara bersamaan memenuhi boundary condition dan akurasi empiris, sementara model multi-regime Greenshields–Greenberg mengatasi keterbatasan ini dengan mencatat akurasi tertinggi di antara kelima model. Dari sisi kapasitas, estimasi per lajur secara konsisten melebihi estimasi agregat, dan seluruh model menghasilkan kapasitas empiris yang jauh di bawah nilai normatif PKJI 2023, mencerminkan keterbatasan standar normatif yang mengasumsikan kondisi geometrik ideal dan perilaku lalu lintas homogen yang tidak representatif terhadap kondisi aktual di lapangan.
PETA ESTIMASI STOK KARBON PADA SEKTOR KAWASAN HUTAN BERBASIS PENGINDERAAN JAUH DI KABUPATEN LEBAK
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memiliki kawasan hutan seluas 82.049 hektar dengan potensi simpanan karbon yang signifikan bagi mitigasi perubahan iklim. Persoalan utamanya, hingga saat ini belum tersedia data stok karbon yang memadai terstandarisasi maupun terpetakan secara spasial untuk wilayah tersebut, sehingga pengelolaan kawasan hutan yang berbasis data sulit dilakukan. Ketiadaan basis data inilah yang mendasari perlunya sebuah pendekatan estimasi yang akurat sekaligus dapat diakses secara terbuka. Untuk menjawab persoalan tersebut, estimasi stok karbon dilakukan menggunakan tiga metode sebagai pembanding, yaitu Tier 1 berbasis faktor default IPCC 2019, Tier 2 dengan faktor spesifik Indonesia dari dokumen National Forest Reference Level KLHK, serta metode berbasis NDVI mengacu pada model empiris Istomo et al. (2024). Data utama yang digunakan meliputi citra Landsat 8 OLI dan tutupan lahan MapBiomas periode 2015–2024, Peta RBI skala 1:25.000, serta data validasi lapangan sesuai SNI 7724:2011, yang diolah melalui Google Earth Engine, QGIS, dan Python. Penentuan wilayah prioritas konservasi dan restorasi dilakukan melalui klasifikasi kuartil terhadap nilai rata-rata stok karbon per satuan luas selama periode pengamatan. Hasil validasi RMSE menunjukkan metode Tier 2 memiliki akurasi tertinggi (RMSE 1,98 tC/piksel) dengan ketidakpastian estimasi 31,54 - 33,57%, sehingga dipilih sebagai dasar analisis. Metode Tier 1 menghasilkan estimasi 17,16 juta tC, sementara Tier 2 menunjukkan tren peningkatan dari 8,72 juta tC (2015) menjadi 9,88 juta tC (2024). Berdasarkan klasifikasi terhadap 20 kelompok hutan, kawasan terbagi menjadi tiga zona pengelolaan: konservasi (5 kawasan), restorasi (5 kawasan), dan monitoring (10 kawasan). Seluruh hasil disajikan melalui platform WebGIS yang telah lolos Black Box Testing pada seluruh 10 fitur utamanya, sehingga ketersediaan data stok karbon yang sebelumnya menjadi kendala kini dapat terpenuhi dalam bentuk yang terstandarisasi, spasial, dan mudah diakses.
SIMULASI TERMODINAMIKA DAN ANALISIS TEKNO-EKONOMI PEMANFAATAN BIOMETANA SEBAGAI BAHAN BAKAR CO-FIRING: STUDI KASUS TURBIN GAS PLTGU TANJUNG PRIOK BLOK 1-2
Peningkatan emisi gas rumah kaca dari sektor ketenagalistrikan memicu urgensi transisi menuju bahan bakar rendah karbon yang berkelanjutan. Penelitian ini menyajikan kajian komprehensif mengenai simulasi proses termodinamika dan anlisis kelayakan tekno-ekonomi pemanfaatan biometana yang berasal dari timbulan sampah makanan di wilayah DKI Jakarta sebagai bahan bakar campuran (co-firing) pada unit turbin gas PLTGU Tanjung Priok Blok 1-2. Evaluasi teknis dilakukan melalui pemodelan simulasi menggunakan perangkat lunak Aspen HYSYS untuk memprediksi sifat termodinamika produk hasil pembakaran. Validasi model dengan baseline gas alam 100% menunjukkan akurasi tinggi dengan nilai kesalahan relatif (relative error) di bawah 1% terhadap data komisioning aktual pembangkit. Berdasarkan pendekatan konversi reaktor anaerobic digestion dan sistem pemurnian menggunakan teknologi membrane separation dengan efisiensi 95%, total timbulan sampah makanan Jakarta sebesar 1,67 juta ton/tahun mampu memproduksi biometana sebesar 137,4 juta m3/tahun atau setara laju alir massa konstan 3,12 kg/s. Kuantitas hulu tersebut secara teknis mengunci batasan porsi substitusi input energi termal maksimum sebesar 38,08% pada ruang bakar turbin. Hasil simulasi pembakaran campuran menunjukkan bahwa performa pembangkit tetap stabil dengan efisiensi termal pada tingkat 33,02%, disertai dengan penurunan relatif kecil daya output generator hanya sebesar 0,29% (dari posisi baseline 129,59 MW bergeser menuju 129,20 MW). Dari aspek lingkungan, bauran optimum ini memangkas pelepasan karbon fosil secara drastis dengan potensi reduksi emisi neto mencapai 264.536 ton CO2/tahun. Sementara dari aspek ekonomi pembebanan modal infrastruktur terpadu menghasilkan nilai biaya pokok listrik biometana (LCOE biometana) sebesar 127,51 USD/MWh. Ketika diintegrasikan dengan biaya pokok gas fosil komersial HGBT (78,92 USD/MWh), nilai pokok keekonomian akhir skema bauran (LCOE co-firing) berada pada level 97,42 USD/MWh. Pemodelan finansial dengan parameter skema penjualan kredit karbon menemukan titik impas keekonomian terhadap tarif gas bumi konvensional dapat dicapai secara mandiri tanpa subsidi langsung pada harga kredit bursa karbon sebesar 29,75 USD/ton CO2. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teknologi co-firing biometana layak diimplementasikan serta memberikan rekomendasi konkret bagi perumusan kebijakan fiskal penjaminan investasi hijau ketenagalistrikan nasional.
DIFERENSIASI LAYANAN DAN STRATEGI PROMOSI UNTUK MEMPERTAHANKAN PERTUMBUHAN LAYANAN TERKELOLA: STUDI KASUS PT CARIVA MITRA INOVASI
Perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi perusahaan teknologi informasi. Namun, peluang tersebut diikuti tekanan persaingan, perubahan kebutuhan pelanggan, dan tantangan dalam membangun kesadaran pasar. PT Cariva Mitra Inovasi merupakan perusahaan teknologi informasi yang berkembang dan menyediakan layanan transformasi cloud serta managed services melalui kemitraan dengan vendor teknologi global. Meskipun telah memiliki kapabilitas teknis dan memperoleh tanggapan positif dari pelanggan, perusahaan masih kesulitan mencapai target bisnis managed services dan meningkatkan awareness di kalangan calon pelanggan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor diferensiasi utama yang dipertimbangkan pelanggan dan calon pelanggan dalam memilih penyedia IT managed services, sekaligus merumuskan rekomendasi strategi promosi. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan pelanggan dan nonpelanggan, serta data sekunder. Data dianalisis melalui initial coding, focused coding, sintesis kode, dan pembentukan tema dengan menggunakan SERVQUAL, Importance–Performance Analysis, VRIN, Porter’s Five Forces, analisis pesaing, dan kerangka pemasaran. Hasil penelitian menemukan enam faktor diferensiasi, yaitu nilai komersial, kepercayaan dan jaminan risiko; tata kelola, transparansi dan kejelasan komunikasi; penyelesaian insiden dan keandalan SLA; proaktivitas dan perbaikan berkelanjutan; responsivitas dan ketersediaan layanan; serta kapabilitas teknis dan keahlian optimasi. Perusahaan menunjukkan kinerja baik pada aspek responsivitas, komunikasi, kolaborasi, penanganan insiden, keandalan SLA, proaktivitas, pelaporan, dan dukungan teknis. Namun, masih diperlukan peningkatan pada fleksibilitas komersial, sertifikasi organisasi, komunikasi berorientasi bisnis, kualitas pelaporan, eskalasi pihak ketiga, inovasi proaktif, dan kompetensi engineering. Untuk meningkatkan awareness pasar, perusahaan perlu menerapkan strategi promosi berbasis kepercayaan dan kredibilitas melalui testimoni pelanggan, program referral, peningkatan visibilitas kemitraan dan sertifikasi, partisipasi tender, serta jejaring profesional.
PERANCANGAN SISTEM TANDA MUSEUM NASIONAL INDONESIA
Museum Nasional Indonesia merupakan salah satu museum tertua di Indonesia, yang menyimpan kurang lebih 190.000 benda-benda/objek sejarah yang terdiri atas 7 jenis koleksi yang terbagi kedalam 2 gedung, yang dinamakan gedung A dan gedung B. Area Gedung A merupakan bangunan bersejarah di dalam Gedung A, menjadikannya sebuah cagar budaya yang dipertahankan oleh museum. Area gedung A memuatsegmen pameran tetap arca Hindu ruang pamer dan wahana ImersifA. Museum Nasional juga telah dilengkapi dengan gedung penyimpanan atau storage untuk menyimpan benda-benda budaya. Untuk mempermudah pengunjung dalam mengakses ruangan-ruangan tersebut, maka kehadiran sign system bersifat penting. Perancangan ini dilakukan untuk membantu menjawab permasalahan sign system, serta menyediakan informasi seputar koleksi yang ada di Museum Nasional Indonesia. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggabungkan wawancara, observasi langsung, dan kajian pustaka sebagai metode pengumpulan data. Metode perancangan yang digunakan meliputi metode Design Thinking, melalui pengembangannya menjadi prinsip perancangan sign system oleh Ali Weiss. Hasil akhir yang ingin dicapai dalam perancangan berupa Main sign yang menggabungkan fungsi Orientational dan Directional sign, Identificational sign, Informational sign (dalam format digital dan juga cetak untuk koleksi Rotunda), dan juga Statutory sign.