📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERSEPSI KARYAWAN TERHADAP PROGRAM KEBERLANJUTAN: MOTIVASI ATAU GREEN FATIGUE (KELELAHAN)
Peningkatan penerapan inisiatif Environmental, Social and Governance (ESG) telah mengubah sustainability menjadi prioritas strategis bagi organisasi di seluruh dunia. Perusahaan di berbagai industry semakin mengimplementasikan program sustainability seperti kebijakan penghematan energi, dekabonisasi, praktik green workplace, laporan keberlanjutan dan aktivitas operasional yang ramah lingkungan. Meskipun inisiatif tersebut bertujuan untuk meningkatkan kinerja lingkungan, reputasi perusahan, dan keberlanjutan bisnis dalam jangka waktu yang Panjang, implementasi sustainability yang semakin intensif ini juga menimbulkan tantangan organisai baru yang berkaitan dengan persepsi dan respons perilaku karyawan. Karyawan semakin terekspos terhadap target sustainability yang berkelanjutan di lingkungan kerja. Walaupun program sustainability dapat meningkatkan motivasi dan ketelibatan karyawan, tetapi implementasi sustainability yang berlebihan berpotensi menimbulkan kelelahan emosional, resistansi, overload pekerjaan dan green fatigue. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi karyawan terhadap program sustainability organisasi serta mengkaji apakah inisiatif sustainability mampu memotivasi karyawan atau justru berkontribusi terhadap green fatigue. Penelitian ini juga menganalisa peran komunikasi sustainability, dukungan organisasi, dan pandangan persepsi karyawan dalam membentuk respons karyawan terhadap implementasi sustainability di lingkungan kerja. Penelitian dilakukan karena sebagian besar studi sustainability sebelumnya lebih berfokus pada environmental performance, laporan ESG, dan hasil dari keberlanjutan organisasi, sementara penelitian mengenai respons perilaku karyawan terhadap program sustainability masih relative terbatas, khususnya dalam konteks organisasi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan survey berbasis kuesioner yang disebarkan kepada karyawan dari berbagai Perusahaan di Indonesia. Penelitian ini memperoleh 200 responden yang bekerja di lingkungan korporasi. Kuesioner menggunakan skala 1 sampai dengan 5 dan mengukur beberapa variable yaitu intensitas program sustainability, komunikasi sustainability, motivasi karyawan, pandangan karyawan, green fatigue, dan dukungan organisasi. Data yang terkumpul dianalisa menggunakan statistika deskriptif dan Structural Equation Modeling (SEM) untuk mengevaluasi hubungan antar variable dan menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa program sustainability organisasi secara umum menghasilkan respons positif dari karyawan. Karyawan menunjukan dukungan yang tinggi terhadap nilai nilai sustainability, memiliki kemauan untuk berpartisipasi dalam aktivitas sustainability, serta merasa bangga bekerja di organisasi yang meiliki orientasi sustainability. Inisiatif sustainability dipersepsikan sebagai praktik organisasi yang bermakna dan mampu meningkatkan employee engagement serta motivasi kerja. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya indikasi green fatigue, sustainability overload, tekanan beban kerja dan kelelahan emosional pada sebagian responden. Penelitian ini juga mengonfirmasi bahwa persepsi karyawan dan komunikasi sustainability memiliki peran penting dalam menentukan apakah program sustainability menghasilkan engagement yang positif atau justru resistansi dari karyawan. Penelitian ini memberikan kontribusi secara teoritis dengan memperluas literatur manajemen sustainability dan organizational behavior, khususnya terkait dengan green fatigue dan employee centered ESG implementation. Secara praktis, penelitian ini memberikan wawasan manajerial bagi organisasi untuk mengembangkan stategi sustainability yang lebih seimbang dengan mengintegrasikan tujuan lingkungan, kesejahteraan karyawan, komunikasi yang efektif dan dukungan organisasi. Penelitian ini merekomendasikan agar organisasi menerapkan pendekatan sustainability yang lebih human centered sehingga implementasi ESG tidak hanya meningkatkan sustainability performance tetapi juga menjaga motivasi karyawan, keterikatan organisasi dan organizational relience dalam jangka panjang
PERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN PEPAYA CALIFORNIA (CARICA PAPAYA L. VAR. CALINA) SKALA INDUSTRI MENENGAH DENGAN INOVASI RIPENING MENGGUNAKAN GAS ETILEN DAN CAHAYA LIGHT EMITTING DIODE (LED) MERAH UNTUK MENINGKATKAN KESERAGAMAN KEMATANGAN
Pepaya (Carica papaya L.) merupakan komoditas buah tropis Indonesia dengan produksi nasional mencapai 12.813.072,37 kuintal pada tahun 2025. Salah satu varietas pepaya yang banyak dibudidaya dan dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah pepaya calina (Carica papaya L. var calina) atau sering disebut sebagai pepaya california. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi karena kandungan vitamin C, karotenoid, dan enzim papain yang tinggi, serta masa panen awal 7-9 bulan setelah tanam. Tantangan utama dalam pascapanen pepaya california adalah ketidakseragaman kematangan (uneven ripening) yang ditandai belang warna dan pelunakan tidak merata, sehingga menurunkan daya tarik visual dan harga jual pada segmen pasar premium. Permasalahan ini mendorong perancangan sistem pascapanen dengan inovasi berupa proses ripening menggunakan gas etilen dan cahaya LED merah pada Pressurized Ripening Room (PRR) untuk menghasilkan pepaya matang secara seragam. Gas etilen meningkatkan laju respirasi, aktivitas enzim pendegradasi dinding sel, konversi pati menjadi gula sederhana, dan perubahan warna kulit buah. Penyinaran LED merah mengaktifkan dan meningkatkan biosintesis karotenoid sehingga mempercepat dan menyeragamkan perubahan warna hijau menjadi warna kuning atau jingga pada kulit pepaya. Pemilihan inovasi berdasarkan pada analisis komparatif Gross Profit Margin (GPM) terhadap 3 alternatif proses pematangan (ripening). Proses ripening alur eksisting dilakukan setelah proses pengemasan dan secara konvensional (tanpa kontrol distribusi gas etilen dan suhu) menghasilkan warna dan tingkat kematangan yang tidak seragam sehingga menurunkan harga jual. Pascapanen pepaya pada kondisi eksisting menghasilkan GPM sebesar 13,14%. Proses ripening alur inovasi I dilakukan sebelum proses pengemasan serta menggunakan gas etilen dan LED merah tanpa Pressurized Ripening Room (PRR). Inovasi I dapat meningkatkan GPM menjadi 21,31%, namun kematangan antar buah masih belum seragam karena proses ripening dilakukan secara konvensional sehingga distribusi etilen dan suhu tidak merata di setiap bagian buah. Proses ripening alur inovasi II menggunakan gas etilen dan LED merah dalam PRR, kemudian dilanjutkan proses grading II berbasis warna. Buah disusun di atas rak di dalam PRR sebelum proses pengemasan sehingga seluruh permukaan buah terpapar gas etilen, suhu, dan cahaya secara merata melalui sistem sirkulasi udara bertekanan positif. Inovasi II dapat menghasilkan GPM tertinggi sebesar 36,85%. Peningkatan ini dicapai karena PRR memastikan distribusi gas etilen dan suhu yang homogen, serta meningkatkan jumlah buah yang masuk ke kualitas premium dengan harga jual lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut, inovasi II dipilih sebagai rancangan industri pascapanen pepaya california.
PERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN PEPAYA CALIFORNIA (CARICA PAPAYA L. VAR. CALINA) SKALA INDUSTRI MENENGAH DENGAN INOVASI RIPENING MENGGUNAKAN GAS ETILEN DAN CAHAYA LIGHT EMITTING DIODE (LED) MERAH UNTUK MENINGKATKAN KESERAGAMAN KEMATANGAN
Pepaya (Carica papaya L.) merupakan komoditas buah tropis Indonesia dengan produksi nasional mencapai 12.813.072,37 kuintal pada tahun 2025. Salah satu varietas pepaya yang banyak dibudidaya dan dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah pepaya calina (Carica papaya L. var calina) atau sering disebut sebagai pepaya california. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi karena kandungan vitamin C, karotenoid, dan enzim papain yang tinggi, serta masa panen awal 7-9 bulan setelah tanam. Tantangan utama dalam pascapanen pepaya california adalah ketidakseragaman kematangan (uneven ripening) yang ditandai belang warna dan pelunakan tidak merata, sehingga menurunkan daya tarik visual dan harga jual pada segmen pasar premium. Permasalahan ini mendorong perancangan sistem pascapanen dengan inovasi berupa proses ripening menggunakan gas etilen dan cahaya LED merah pada Pressurized Ripening Room (PRR) untuk menghasilkan pepaya matang secara seragam. Gas etilen meningkatkan laju respirasi, aktivitas enzim pendegradasi dinding sel, konversi pati menjadi gula sederhana, dan perubahan warna kulit buah. Penyinaran LED merah mengaktifkan dan meningkatkan biosintesis karotenoid sehingga mempercepat dan menyeragamkan perubahan warna hijau menjadi warna kuning atau jingga pada kulit pepaya. Pemilihan inovasi berdasarkan pada analisis komparatif Gross Profit Margin (GPM) terhadap 3 alternatif proses pematangan (ripening). Proses ripening alur eksisting dilakukan setelah proses pengemasan dan secara konvensional (tanpa kontrol distribusi gas etilen dan suhu) menghasilkan warna dan tingkat kematangan yang tidak seragam sehingga menurunkan harga jual. Pascapanen pepaya pada kondisi eksisting menghasilkan GPM sebesar 13,14%. Proses ripening alur inovasi I dilakukan sebelum proses pengemasan serta menggunakan gas etilen dan LED merah tanpa Pressurized Ripening Room (PRR). Inovasi I dapat meningkatkan GPM menjadi 21,31%, namun kematangan antar buah masih belum seragam karena proses ripening dilakukan secara konvensional sehingga distribusi etilen dan suhu tidak merata di setiap bagian buah. Proses ripening alur inovasi II menggunakan gas etilen dan LED merah dalam PRR, kemudian dilanjutkan proses grading II berbasis warna. Buah disusun di atas rak di dalam PRR sebelum proses pengemasan sehingga seluruh permukaan buah terpapar gas etilen, suhu, dan cahaya secara merata melalui sistem sirkulasi udara bertekanan positif. Inovasi II dapat menghasilkan GPM tertinggi sebesar 36,85%. Peningkatan ini dicapai karena PRR memastikan distribusi gas etilen dan suhu yang homogen, serta meningkatkan jumlah buah yang masuk ke kualitas premium dengan harga jual lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut, inovasi II dipilih sebagai rancangan industri pascapanen pepaya california.
SINTESIS UIO-66 (ZR-MOF) BERBASIS MATERIAL KOMPOSIT AUNPS/SIO2 DENGAN PENDEKATAN METODE FOTOTERMAL
Metal-organic framework (MOF) UiO-66 umumnya disintesis secara solvotermal dengan waktu reaksi yang relatif lama (lebih dari 24 jam) dan konsumsi energi yang tinggi (sekitar 120 ?). Sementara itu, pemanfaatan nanopartikel emas (AuNPs) sebagai material fototermal untuk sintesis material masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menyintesis material komposit AuNPs/SiO2 dan mengevaluasi pemanfaatannya sebagai material fototermal berbasis cahaya tampak untuk sintesis UiO-66. AuNPs disintesis menggunakan metode Turkevich, kemudian dienkapsulasi dengan SiO2 melalui metode Stöber. Material AuNPs dan AuNPs/SiO2 dikarakterisasi menggunakan spektroskopi visible, particle size analyzer (PSA), difraksi sinar-X (XRD), dan spektroskopi inframerah transformasi Fourier (FTIR). Selanjutnya, material tersebut diaplikasikan sebagai sumber panas lokal pada sintesis fototermal UiO-66 dan dibandingkan dengan metode solvotermal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum sintesis AuNPs diperoleh pada mol rasio Na3Ct:HAuCl4 sebesar 3,5:1 dengan ukuran partikel dominan 50–55 nm dan puncak LSPR pada 524 nm. AuNPs/SiO2 memiliki homogenitas yang lebih baik dibandingkan AuNPs serta menunjukkan peningkatan laju pemanasan dan efisiensi konversi fototermal yang lebih tinggi. Sintesis fototermal menghasilkan UiO-66 dengan kristalinitas 62,58%, lebih tinggi dibandingkan metode solvotermal (49,81%). Spektra FTIR mengonfirmasi keberhasilan penambahan AuNPs/SiO2 melalui kemunculan pita ulur asimetrik Si–O–Si pada sekitar 1100 cm?¹. Kondisi sintesis paling efisien diperoleh menggunakan metode fototermal berbasis material komposit AuNPs/SiO2 dengan waktu enkapsulasi SiO2 selama 4 jam dan penyinaran 30 menit, menghasilkan %hasil 51,1 ± 0,7%. Meskipun lebih rendah dibandingkan metode solvotermal (65,9 ± 8,9%), metode ini memerlukan waktu sintesis yang lebih singkat (kurang dari 24 jam) dan konsumsi energi yang lebih rendah (sekitar 45 °C).
PERANCANGAN STRUKTUR BREAKWATER DI PELABUHAN TAMPERAN, PACITAN
Pelabuhan Tamperan di pesisir selatan Pacitan sering mengalami kendala gelombang ekstrem akibat pengaruh Samudra Hindia, sehingga perancangan struktur pemecah gelombang (breakwater) menjadi krusial untuk mengoptimalkan ketenangan kolam bagi operasional kapal purse seine 20–30 GT. Studi ini menggunakan QGIS untuk pengolahan data batimetri serta simulasi Delft3DWAVE untuk analisis pemodelan gelombang, dengan menetapkan parameter HHWL sebesar 2.53 meter dan tinggi gelombang ekstrem 4.41 meter. Desain terpilih adalah breakwater tipe sisi miring (rubble mound) dengan elevasi puncak 4.88 meter, panjang 140 meter, lebar puncak 2 meter, kemiringan 1:1.5, serta lapisan pelindung utama tetrapod 500 kg. Evaluasi stabilitas daya dukung tanah menggunakan formulasi Terzaghi menghasilkan nilai faktor keamanan (safety factor) sebesar 4.25, yang mengindikasikan bahwa desain telah memenuhi kriteria keamanan standar (???????? > 2,0).
PERANCANGAN WEBSITE NARATIF SEBAGAI MEDIA INFORMASI MENGENAI SENSORY PROCESSING ISSUES PADA ANAK UNTUK ORANG TUA
Sensory Processing Disorder (SPD) merupakan kondisi yang memengaruhi kemampuan anak dalam mengolah informasi dari pancaindra dan dapat berdampak pada perkembangan motorik, kognitif, sosial, dan emosional jika tidak ditangani sejak dini. Pemahaman orang tua mengenai gangguan ini masih terbatas, sehingga dibutuhkan media edukasi yang mudah diakses dan dipahami. Perancangan ini bertujuan untuk mengedukasi orang tua mengenai SPD melalui website naratif “A Very Sensory Day with Selly” dengan metode design thinking serta pengumpulan data melalui studi literatur, kuesioner, dan wawancara ahli. Media ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman orang tua terhadap pentingnya penanganan SPD
PERANCANGAN WEBSITE NARATIF SEBAGAI MEDIA INFORMASI MENGENAI SENSORY PROCESSING ISSUES PADA ANAK UNTUK ORANG TUA
Sensory Processing Disorder (SPD) merupakan kondisi yang memengaruhi kemampuan anak dalam mengolah informasi dari pancaindra dan dapat berdampak pada perkembangan motorik, kognitif, sosial, dan emosional jika tidak ditangani sejak dini. Pemahaman orang tua mengenai gangguan ini masih terbatas, sehingga dibutuhkan media edukasi yang mudah diakses dan dipahami. Perancangan ini bertujuan untuk mengedukasi orang tua mengenai SPD melalui website naratif “A Very Sensory Day with Selly” dengan metode design thinking serta pengumpulan data melalui studi literatur, kuesioner, dan wawancara ahli. Media ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman orang tua terhadap pentingnya penanganan SPD
ANALISIS EFEKTIVITAS MODUL OLAHRAGA KESEHATAN BERBASIS AEROBIK KATA FIT TERHADAP KECEMASAN DAN ENJOYMENT PADA MAHASISWA
Latar Belakang: Rendahnya partisipasi aktivitas fisik dan tingginya tingkat kecemasan menjadi masalah yang sangat mengkhawatirkan dan berpotensi mengganggu stabilitas performa akademik mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis efektivitas modul olahraga kesehatan berbasis aerobik dengan unsur bela diri Karate, yaitu Kata Fit, terhadap tingkat kecemasan dan enjoyment pada mahasiswa. Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one-group pretest-posttest. Sampel berjumlah 96 mahasiswa mata kuliah Olahraga dan Manajemen Stress tahun ajaran 2025/2026, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Intervensi Kata Fit dilakukan secara terstruktur selama 30 menit pada intensitas sedang (65- 77% HRmax) selama 4 minggu (satu minggu sekali). Tingkat kecemasan menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42) sedangkan tingkat enjoyment diukur menggunakan Physical Activity Enjoyment Scale (PACES). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan pre-test dan post-test mengikuti program Kata Fit pada mata kuliah Olahraga dan Manajemen Stress (p = 0,001). Skor rata-rata kecemasan subjek mengalami penurunan dari 13,52 ± 6,03 pada saat pre-test menjadi 11,78 ± 7,11 pada saat posttest (p = 0,001). Sebanyak 61 subjek mengalami penurunan skor kecemasan (r) = 0,324. Terdapat perbedaan skor enjoyment yang signifikan selama empat minggu pelaksanaan program (p = 0,002). Namun, enjoyment tidak memiliki hubungan dengan penurunan tingkat kecemasan (rs = 0,093; p = 0,367). Kesimpulan: Tingkat kecemasan mahasiswa mengalami perubahan setelah mengikuti program Kata Fit. Tingkat enjoyment mahasiswa selama mengikuti program Kata Fit tidak selalu sama pada setiap minggu pelaksanaan. Serta, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara rata-rata tingkat enjoyment selama mengikuti program Kata Fit dengan perubahan tingkat kecemasan mahasiswa.
STRATEGI PENGEMBANGAN LINI BISNIS SEBAGAI PERSIAPAN DALAM MENGHADAPI STREAMLINING BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) ASURANSI
PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), sebuah perusahaan BUMN asuransi yang tergabung dalam holding Indonesia Financial Group (IFG) sedang dihadapkan pada agenda besar yaitu perampingan BUMN asuransi yang dilakukan oleh Danantara. Menjelang agenda besar tersebut, kinerja Askrindo induk memperlihatkan trend yang kurang baik, ditandai dengan perolehan premi bruto pada tahun 2025 yang turun sebesar 20% yoy, sementara combined ratio meningkat menjadi 112% pada tahun 2025. Hal ini memperlihatkan kondisi yang tidak sejalan dengan industri, dimana data OJK menyatakan premi asuransi umum tumbuh 3% pada tahun 2025 dengan combined ratio yang dapat terjaga di level 71%. Portofolio bisnis Askrindo bertumpu pada lini bisnis finansial dimana pada tahun 2025 lini bisnis finansial memiliki porsi sebesar 88% dari keseluruhan portofolio. Untuk itu, rekomposisi portoflio melalui pengembangan lini bisnis non-finansial menjadi salah satu strategi utama perusahaan. Askrindo perlu mengoptimalkan lini bisnis yang dimiliki guna memberikan nilai tambah dalam mempertahankan keunggulan kompetitifnya pada saat dilakukannya konsolidasi BUMN asuransi. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, studi ini disusun untuk memberikan analisa mengenai bagaimana kinerja keuangan Askrindo dibandingkan dengan para pesaingnya di industri dan antar member holding IFG, apa lini bisnis yang akan dikembangkan dan apa strategi yang harus disusun untuk mengembangkan lini bisnis tersebut. Studi ini menggunakan beragam metode analisis dan framework untuk menjawab permasalahan yang terjadi, antara lain analisis benchmark keuangan, analisis situasi bisnis (SWOT, EFAS, IFAS dan SFAS), Analytic Hierarchy Process (AHP) dan matriks TOWS. Hasil analisis benchmark menunjukkan bahwa Askrindo memiliki kedudukan aset dan ekuitas terbesar di industri asuransi umum. Dari sisi profit, Askrindo berada pada posisi kedua terbesar dari kelima perusahaan yang diperbandingkan dalam studi ini. Pada level lini bisnis, dengan menggunakan SWOT, SFAS dan AHP, prioritas lini bisnis yang dikembangkan oleh Askrindo adalah lini bisnis Aneka (produk asuransi mikro), Suretyship dan Harta Benda. Strategi kunci yang akan diterapkan adalah penetrasi ke pasar ritel, pemanfaatan kemitraan strategis dan implementasi transformasi digital. Strategi ini diharapkan dapat mempertahankan keunggulan kompetitif Askrindo dalam menghadapi perampingan BUMN asuransi.
PERANCANGAN TYPEFACE DAN BUKU EKSPERIMENTAL DARI POLA GRANNY SQUARE CROCHET
Penelitian ini membahas perancangan typeface dan buku eksperimental yang terinspirasi dari pola granny square crochet, dengan tujuan menggabungkan estetika kerajinan tangan ke dalam desain tipografi. Pola granny square memiliki karakter yang potensial untuk dijadikan bentuk huruf. Penelitian ini merancang 5 set typeface berdasarkan pola granny square yang dipilih dan mengimplementasikannya dalam buku eksperimental berjudul CROCHETYPE. Metode perancangan ini menggunakan pendekatan Double Diamond dan akan dilanjutkan dalam membentuk huruf dan dieksplorasi, kemudian disusun ke dalam buku eksperimental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola granny square dapat diimplementasikan menjadi karakter huruf yang konsisten dan memiliki identitas visual yang khas. Buku eksperimental berfungsi sebagai media arsip dalam proses pembentukan typeface dan font. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dalam bidang desain komunikasi visual serta menunjukkan potensi penggabungan kerajinan tangan dengan desain grafis sebagai pendekatan kreatif yang dapat menjadi inspirasi praktis bagi desainer untuk terus bereksplorasi.
PERANCANGAN TYPEFACE DAN BUKU EKSPERIMENTAL DARI POLA GRANNY SQUARE CROCHET
Penelitian ini membahas perancangan typeface dan buku eksperimental yang terinspirasi dari pola granny square crochet, dengan tujuan menggabungkan estetika kerajinan tangan ke dalam desain tipografi. Pola granny square memiliki karakter yang potensial untuk dijadikan bentuk huruf. Penelitian ini merancang 5 set typeface berdasarkan pola granny square yang dipilih dan mengimplementasikannya dalam buku eksperimental berjudul CROCHETYPE. Metode perancangan ini menggunakan pendekatan Double Diamond dan akan dilanjutkan dalam membentuk huruf dan dieksplorasi, kemudian disusun ke dalam buku eksperimental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola granny square dapat diimplementasikan menjadi karakter huruf yang konsisten dan memiliki identitas visual yang khas. Buku eksperimental berfungsi sebagai media arsip dalam proses pembentukan typeface dan font. Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dalam bidang desain komunikasi visual serta menunjukkan potensi penggabungan kerajinan tangan dengan desain grafis sebagai pendekatan kreatif yang dapat menjadi inspirasi praktis bagi desainer untuk terus bereksplorasi.
EVALUASI KESESUAIAN LINGKUNGAN MENURUT PERSEPSI PENGGUNA PADA RUANG BAWAH TANAH DI STASIUN DUKUH ATAS, DAERAH KHUSUS JAKARTA
Pesatnya urbanisasi di Indonesia meningkatkan kebutuhan ruang perkotaan, sehingga pemanfaatan ruang bawah tanah menjadi alternatif penting dalam pengembangan kota. Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah stasiun bawah tanah sebagai bagian dari sistem perkeretaapian perkotaan. Ruang bawah tanah memiliki karakter khusus karena bersifat tertutup, bergantung pada sistem buatan, serta dapat memengaruhi kenyamanan, orientasi, rasa aman, dan pengalaman pengguna. Oleh karena itu, evaluasi kualitas lingkungan stasiun bawah tanah diperlukan agar ruang ini tidak hanya berfungsi sebagai prasarana transit, tetapi juga sebagai ruang pelayanan publik yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas lingkungan ruang bawah tanah Stasiun Dukuh Atas dengan pendekatan Environmental Suitability Evaluation. Pendekatan ini menilai kualitas ruang melalui lima kriteria, yaitu keselamatan, kemudahan, keberfungsian, kenyamanan, dan estetika. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan metode campuran. Data primer diperoleh melalui kuesioner terhadap 205 pengguna, observasi lapangan, dan wawancara semi-terstruktur dengan pengelola stasiun. Data sekunder diperoleh melalui artikel jurnal, laporan pendukung, serta informasi laman terkait preseden stasiun bawah tanah. Analisis dilakukan melalui analisis deskriptif kuantitatif, analisis fotografi, dan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas lingkungan Stasiun Dukuh Atas berada pada kategori baik dengan nilai rata-rata 3,88 dari 5,00. Kriteria tertinggi adalah kenyamanan sebesar 4,15, diikuti keselamatan (3,97), kemudahan (3,92), estetika (3,75), dan keberfungsian (3,60). Pada tingkat komponen, aspek dengan penilaian sangat baik meliputi petunjuk arah, kebersihan, kenyamanan pencahayaan, pengendalian keselamatan harian, dan kenyamanan termal. Namun, waktu perpindahan antarmoda, lanskap alami, dan ruang aktivitas rekreatif masih perlu ditingkatkan. Studi ini menyarankan peningkatan efisiensi perpindahan antarmoda, penyediaan ruang singgah sederhana, serta integrasi elemen hijau atau visual alami yang sesuai dengan standar keselamatan dan operasional stasiun bawah tanah
PRAKTIK EKONOMI SIRKULAR DAN KONDISI PENDUKUNGNYA PADA UMKM SHIBIRU: PERSPEKTIF TATA KELOLA KEWILAYAHAN DAN KAPASITAS SUMBER DAYA LOKAL
Transisi menuju ekonomi sirkular merupakan salah satu pendekatan untuk mengurangi permasalahan limbah di industri tekstil (Jia dkk., 2020). Meskipun demikian, literatur mengenai transisi ekonomi sirkular masih berfokus pada pengelolaan limbah pascakonsumsi di kawasan perkotaan (hilir), sementara dinamika adopsi praktik sirkular di sepanjang rantai pasok yang berada di perdesaan masih terbatas. Penelitian ini mengidentifikasi bagaimana tata kelola kewilayahan dan kapasitas sumber daya berperan dalam memengaruhi transisi ekonomi sirkular di hulu rantai pasok. Untuk menjawab kesenjangan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis tematik yang mengintegrasikan kerangka Supply Chain Taxonomy, hierarki strategi sirkular 9R, dan Territorial Circular Economy (TCE) dengan kasus studi pada Shibiru sebagai pelaku usaha di hulu rantai pasok batik. Analisis menunjukkan bahwa Shibiru berperan dalam beberapa tingkatan rantai pasok sekaligus (Tier 4 hingga Tier 1) serta sudah menerapkan berbagai strategi 9R meskipun tidak disadari oleh pelaku usahanya. Tata kelola kewilayahan di rantai pasok Shibiru berkembang secara bottomup yang mendorong transisi ekonomi sirkular melalui koordinasi informal, kedekatan geografis, dan kepercayaan antaraktor dalam dukungan institusional formal yang masih terbatas. Kapasitas sumber daya lokal mendukung keberlanjutan transisi ekonomi sirkular melalui inovasi berbasis trial and error, pertukaran pengetahuan, dan kemampuan beradaptasi terhadap keterbatasan tenaga kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi ekonomi sirkular di hulu rantai pasok perdesaan lebih ditentukan oleh kapasitas adaptif pelaku usaha dan tata kelola kewilayahan daripada kepatuhan regulasi, sehingga diperlukan kebijakan berbasis tempat (place-based policies) yang selaras dengan karakteristik tersebut.
EVALUASI STRATEGI PERFORASI BERDASARKAN PENGARUH SKIN PERFORASI TERHADAP KEMAMPUAN ALIR SUMUR PADA SUMUR VERTIKAL, BERARAH, DAN HORIZONTAL DI SUATU LAPANGAN DI SUMATRA SELATAN
This study evaluates the influence of perforation strategy on perforation skin and well deliverability in a mature offshore oil field located in Southeast Sumatra, Indonesia. In cased-and-perforated completions, perforation design plays a critical role in determining inflow efficiency because perforation-induced pressure losses may significantly reduce well productivity. Therefore, identifying an optimum perforation configuration is essential to minimize perforation skin and improve well deliverability. The objective of this study is to evaluate the effects of perforation density and phasing angle on perforation skin and well deliverability and to determine the optimum perforation configuration for wells with different trajectories. The study was conducted on three representative wells, namely RF-14 (horizontal well), KE-07 (deviated well), and FB-01 (vertical well). Reservoir, fluid, well, and completion data under current field conditions were collected and evaluated. Perforation skin was calculated using the Karakas and Tariq model for vertical and deviated wells and the Furui model for horizontal wells. The calculated perforation skin was combined with formation skin and incorporated into inflow performance analysis using PIPESIM. A systematic sensitivity analysis was performed by varying perforation density and phasing angle to investigate their impact on perforation skin and well deliverability. The optimum perforation configuration was selected based on minimum perforation skin and maximum well deliverability. The results indicate that perforation density and phasing angle affect perforation skin behavior and well deliverability. RF-14 achieved its optimum configuration at 8 spf and 90° phasing (m = 4), resulting in a perforation skin of approximately -1.41 and an AOF of 52,308 STB/D. KE-07 achieved its optimum configuration at 16 spf and 45° phasing, resulting in a perforation skin of approximately -1.229 and an AOF of 44,585 STB/D. FB-01 achieved its optimum configuration at 16 spf and 45° phasing, resulting in a perforation skin of approximately -1.159 and an AOF of 108,215 STB/D. The findings show that the optimum perforation configuration varies with well trajectory due to differences in flow geometry, convergence behavior, and reservoir anisotropy effects. The novelty of this study lies in the integrated evaluation of perforation density and phasing angle across vertical, deviated, and horizontal wells within the same mature oil field, providing a comparative understanding of trajectory-dependent perforation behavior and its impact on well deliverability.
STUDI FORMULASI DAN STABILITAS FISIK TABLET TRIPLE-LAYER FIXED-DOSE COMBINATION AMLODIPIN BESILAT DAN LOSARTAN KALIUM
Kombinasi amlodipin besilat (AML) dan losartan kalium (LST) memiliki prospek yang menjanjikan dalam penanganan hipertensi. Namun, kedua bahan aktif ini memiliki potensi interaksi yang dapat berpengaruh pada keamanan, khasiat, dan kualitas sediaan farmasi. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil stabilitas AML dan LST, serta strategi pemisahan fisik melalui formulasi tablet triple-layer dalam menjaga stabilitas keduanya. Studi degradasi dipercepat menunjukkan bahwa AML dan LST sangat rentan terhadap pengaruh asam, basa, dan oksidasi. Stabilitas fasa padatan AML dan LST ditinjau menggunakan PXRD dan DSC setelah penyimpanan pada kondisi uji stabilitas dipercepat (40±2 °C/75±5% RH) selama 12 minggu. AML menunjukkan profil stabilitas fisik tanpa perubahan signifikan pada difraktogram PXRD dan termogram DSC. LST mengalami transformasi fasa menjadi losartan kalium 3,5 hidrat, ditandai dengan munculnya puncak karakteristik baru pada sudut 2? = 5,7°; 6,8°; 8,9°; dan 13,3°. Pada termogram DSC ditemukan dua puncak endotermik masing-masing pada 93,3 dan 277,9°C serta pembentukan puncak eksotermik baru pada 178,9°C. Campuran fisik AML-LST (1:1 w/w) menghasilkan campuran eutektik yang dikonfirmasi melalui termogram DSC, disertai pelebaran dan hilangnya puncak karakteristik kedua bahan aktif pada difraktogram PXRD. Sementara itu, AML mengalami transformasi fasa selama proses granulasi basah menjadi amlodipin besilat dihidrat yang ditandai dengan munculnya puncak karakteristik baru pada sudut 2? = 4,82°; 10,36°; 13,34°; 18,42°; 21,36°; dan 24,94°. Kemudian, formula tablet triple-layer efektif dalam menjaga stabilitas AML dibandingkan sediaan tablet monolayer. Sedangkan stabilitas LST tidak menunjukkan perbaikan karena pada dasarnya degradasi LST dipengaruhi oleh kondisi kelembapan tinggi selama pengujian.