📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPENILAIAN KESESUAIAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH (STUDI KASUS: JAKARTA UTARA)
Penurunan muka tanah merupakan ancaman kritis bagi kawasan perkotaan pesisir, yang diperparah oleh faktor antropogenik berupa tingginya intensitas pembangunan dan beban bangunan makro di atas lapisan tanah lunak. Regulasi rencana tata ruang pada umumnya belum mengintegrasikan aspek geo-lingkungan, khususnya daya dukung tanah, dalam pengaturan intensitas pemanfaatan ruang, sehingga berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara arahan pemanfaatan ruang dan kapasitas tanah. Kota Administrasi Jakarta Utara dipilih sebagai kasus studi karena merepresentasikan kawasan bertanah lunak dengan tekanan pembangunan tinggi, sekaligus telah memiliki Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022 sebagai acuan intensitas pemanfaatan ruang yang dapat diuji kesesuaiannya. Penelitian ini bertujuan menilai kesesuaian rencana intensitas pemanfaatan ruang dalam RDTR tersebut terhadap nilai daya dukung tanah di wilayah kajian. Metode yang digunakan adalah metode campuran bersifat eksploratif-evaluatif dengan pendekatan fisik dan geo-lingkungan, melalui teknik desk study terhadap data sekunder spasial dan teknis tanah yang diolah dengan analisis deskriptif kualitatif, spasial, dan kuantitatif. Analisis batas nilai intensitas difokuskan pada zona-zona yang berkaitan langsung dengan tekanan aktivitas manusia, seperti zona peruntukan industri, perumahan, dan zona lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas tekanan bangunan aktual di Jakarta Utara tidak melampaui daya dukung tanah, meski masih terdapat beberapa bangunan yang melebihinya. Sementara itu, evaluasi terhadap ketentuan RDTR Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022 menunjukkan bahwa batas lantai maksimal yang ditetapkan justru melebihi kemampuan tanah. Kedua temuan ini menunjukkan bahwa arahan intensitas ruang dalam RDTR DKI Jakarta Tahun 2022 belum sepenuhnya selaras dengan kapasitas geo-lingkungan wilayah terkait, sehingga direkomendasikan peninjauan kembali ketentuan intensitas pemanfaatan ruang yang diintegrasikan langsung berbasis zonasi daya dukung tanah untuk memitigasi risiko penurunan muka tanah yang lebih masif.
STRATEGI TATA KELOLA PERSAMPAHAN KOTA AMBON: STUDI PERBANDINGAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN PEMERINTAH DAN BERBASIS KOMUNITAS
Kota Ambon sebagai ibu kota Provinsi Maluku menghadapi permasalahan persampahan seperti keterbatasan infrastruktur, belum meratanya pelayanan persampahan sampai keterbatasan lahan TPA. Di tengah kondisi tersebut muncul inisiatif dari komunitas masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi tata kelola persampahan berbasis reguler dan berbasis komunitas, membandingkan efektivitas kedua tata kelola tersebut, serta merumuskan strategi tata kelola persampahan yang efektif. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Uritetu sebagai representasi tata kelola persampahan berbasis reguler, Negeri Laha dan Negeri Ema sebagai representasi tata kelola berbasis komunitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis statistik deskriptif untuk menganalisis data kuesioner dari 95 responden yang mencakup lima variabel penelitian: struktur kelembagaan, desain institusional, tingkat partisipasi, pola kolaborasi dan efektivitas dimensi teknis, didukung oleh data wawancara mendalam dan observasi lapangan. Serta analisis SWOT untuk merumuskan strategi tata kelola persampahan Kota Ambon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola berbasis reguler di Kelurahan Uritetu mengungguli aspek cakupan pengangkutan sampah dan keseragaman regulasi, namun lemah pada pengelolaan sampah di sumber dan partisipasi aktif masyarakat. Sebaliknya, tata kelola berbasis komunitas di Negeri Laha dan Negeri Ema unggul pada dimensi pembangunan kepercayaan, komitmen bersama, dan keterlibatan langsung masyarakat, meskipun menghadapi keterbatasan infrastruktur dan kelembagaan. Perbandingan kedua tata kelola persampahan menunjukkan belum ada satu pun yang unggul secara menyeluruh. Berdasarkan analisis SWOT, posisi strategis tata kelola persampahan Kota Ambon berada pada kuadran I dengan strategi SO, terdapat lima strategi utama yang diarahkan untuk memanfaatkan kekuatan internal sistem pengelolaan sampah baik reguler maupun praktik baik komunitas dengan memanfaatkan peluang eksternal yang cukup signifikan.
WELL STIMULATION USING FRACWISE AI PLATFORM: INTEGRATING WELL-STIMULATION SCREENING AND FRACTURING SIMULATION IN MNR#1 INTERVAL, FIELD MLK SOUTH SUMATRA
Indonesia’s domestic energy demand continues to rise, while national production targets require more effective development of low-quality and heterogeneous reservoirs. This study presents FracWise, an AI enabled operational stimulation intelligence platform applied to the MNR#1 interval, MLK Field, South Sumatra, to integrate well-stimulation screening, fracturing simulation, field benchmark validation, and techno-economic decision support. The workflow uses open-hole logs, Mechanical Earth Model logs, DataFRAC responses, pre-job design, actual post-job results, and benchmark reports to evaluate hydraulic fracturing, acid fracturing, matrix acidizing, and multi-stage fracturing. The results confirm that MNR#1 is a technically viable stimulation target because its oil-bearing sandstone, low permeability, stress contrast, and shale barriers support contained fracture growth. FracWise reproduces key fracture-geometry behavior by linking half-length, width, conductivity, proppant placement, and time-series response. Hydraulic fracturing remains the most practical option for the existing vertical well, while multi-stage fracturing provides the strongest economic upside when operational and completion constraints allow.
PENINGKATAN PROSES PENELITIAN & PENGEMBANGAN UNTUK MEMPERSINGKAT WAKTU PENGEMBANGAN PRODUK BARU DAN MEMPERCEPAT PENETRASI PASAR:STUDI KASUS PADA PT. DNA FARMASI TBK.
Departemen R&D PT DNA Farmasi Tbk mengalami permasalahan bisnis yaitu rendahnya pencapaian New Product Development (NPD) pada periode 2023–2025 dimana hanya mencapai 33% dari target Perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penyebab tersebut serta menyusun strategi perbaikan untuk mempercepat pengembangan produk Obat Iron-Chelating. Keterlambatan pengembangan produk baru, berdampak pada menurunnya ketepatan waktu peluncuran produk, tertundanya kontribusi pendapatan, dan melemahnya daya saing perusahaan dalam industri farmasi yang sangat kompetitif dan ketat dari sisi regulasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran, yaitu metode kualitatif dan kuantitatif, dengan kerangka DMAIC dari Lean Six Sigma yang dipadukan dengan prinsip Quality by Design (QbD), Root Cause Analysis (RCA), dan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Tahapan penelitian dimulai dengan analisis kondisi aktual melalui data Key Performance Indicator, pemetaan proses, dan wawancara pemangku kepentingan untuk memperoleh baseline kinerja. Pada tahap Analyze, penelitian ini menggunakan Pareto analysis, stakeholder analysis, Current Reality Tree (CRT), dan PESTEL analysis untuk mengidentifikasi faktor dominan penyebab keterlambatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pencapaian NPD tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan oleh kombinasi beberapa masalah utama. Berdasarkan hasil analisis tersebut, alternatif solusi kemudian diprioritaskan dan diterjemahkan ke dalam strategi Lean Six Sigma QbD, karena mampu menjawab tiga kebutuhan utama sekaligus, yaitu penguatan basis ilmiah pengembangan produk melalui QbD, penyederhanaan alur kerja melalui Lean, dan pengurangan variasi proses melalui Six Sigma. Hasil pilot project menunjukkan bahwa strategi tersebut mampu menurunkan lead time pada tahapan penting, terutama pada pengembangan laboratorium, penyusunan dokumen pengembangan, dan persiapan pengajuan registrasi.
KERANGKA KERJA CERDAS UNTUK PEMELIHARAAN PREDIKTIF PADA LAPANGAN MINYAK: PEMANFAATAN PEMBELAJARAN MESIN UNTUK PENGELOMPOKAN RISIKO KOROSI SUMUR DAN PREDIKSI KEGAGALAN ESP
This study presents an intelligent framework for oilfield predictive maintenance that integrates machine learning to cluster tubing corrosion risk and forecast Electrical Submersible Pump (ESP) failures in the mature Offshore South East Sumatra fields, where 119 tubing leak incidents have been recorded across 92 wells, most occurring before the ESP's targeted run life. Principal Component Analysis (PCA) was applied to nine corrosion-related parameters to reduce dimensionality, followed by K-Means and Gaussian Mixture Model (GMM) clustering to segment wells into Low, Moderate, and High corrosion risk regimes. The K Means model achieved a silhouette score of 0.417 and a Davies-Bouldin Index of 1.077, outperforming GMM. For ESP failure prediction, six baseline classification algorithms were evaluated, together with a seventh soft-voting ensemble that combined them, and a hyperparameter-tuned XGBoost model achieved the best performance with a PR-AUC of 0.64 and ROC-AUC of 0.704 against unseen test data, addressing the dataset's 75:25 class imbalance through cost-sensitive learning. SHapley Additive exPlanations (SHAP) were used to interpret model outputs, identifying bottom-hole temperature, differential pressure, fluid velocity, and CO2 partial pressure as the dominant drivers of ESP failure. The clustering, classification, and SHAP outputs were integrated into a rule-based, web-based application that automatically generates well level corrosion risk diagnostics, ESP success probability, and optimized tubing material and workover recommendations. Validation on a blind test set of two wells withheld from training demonstrated the framework's capability to deliver actionable, well-specific intervention strategies, though this small validation sample reflects workflow feasibility rather than statistically robust field performance; the approach nonetheless offers a practical, data-driven pathway to enhance tubing and ESP reliability and reduce unnecessary workover costs in mature oilfield operations.
DAMPAK ESG DAN TATA KELOLA SIBER TERHADAP RESILIENSI BANK MELALUI RISIKO OPERASIONAL: STUDI PADA BANK KBMI 3 DAN KBMI 4 DI INDONESIA
Penelitian ini menguji hubungan antara Environmental, Social, and Governance (ESG), tata kelola siber, risiko operasional, dan stabilitas bank sebagai aspek terukur dari resiliensi bank di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data panel dari 17 bank KBMI 3 dan KBMI 4 selama periode 2019–2024, dengan total 102 observasi bank-tahun. ESG dan tata kelola siber diukur menggunakan indeks berbasis pengungkapan yang disusun dari laporan tahunan dan laporan keberlanjutan. Stabilitas bank diukur menggunakan logaritma natural Z-score, sedangkan risiko operasional diukur menggunakan aset tertimbang menurut risiko operasional dibagi dengan total aset tertimbang menurut risiko. Data dianalisis menggunakan Fixed Effects Model dengan robust standard errors dan variabel dummy tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ESG tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap stabilitas bank maupun risiko operasional. Risiko operasional memiliki hubungan positif dan signifikan dengan stabilitas bank. Temuan utama penelitian ini adalah bahwa tata kelola siber secara signifikan memoderasi hubungan antara ESG dan risiko operasional. Koefisien interaksi yang negatif menunjukkan bahwa tata kelola siber yang lebih kuat mengurangi pengaruh marginal ESG terhadap risiko operasional. Hasil moderasi tersebut juga tetap konsisten pada Random Effects Model. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan Kerangka Pemantauan ESG–Tata Kelola Siber–Risiko Operasional berbasis KRI sebagai alat pemantauan risiko operasional terkait ESG dan siber. Kerangka tersebut menggabungkan indikator leading untuk memberikan peringatan dini dan indikator lagging untuk memantau insiden aktual serta efektivitas pengendalian. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa ESG perlu dipertimbangkan bersama dengan tata kelola siber dan manajemen risiko operasional, bukan sebagai faktor yang berdiri sendiri.
SINTESIS TURUNAN DIBENZILIDENA ASAM USNAT DALAM MED IA AIR
(+)-Asam usnat (C1sH1601) merupakan metabolit sekunder yang diisolasi dari l umut kerak atau lichen, khususnya pada genus Usnea. (+)-Asam usnat memiliki beragam bioaktivitas , seperti antibakteri, antivirus, antiprotozoa, antikanker, dan anti-inflamasi. Nam un,(+)-asam usnat ini perlu dilakukan modifikasi struktur untuk meningkat bioaktivita s dan bioavailabilitas (ketersediaan hayati). Dari strukturnya, (+)-asam usnat ini memiliki kerangka dibenzofuran yang unik dan kaya akan gugus fungsional, salah satunya gugus asetil sebagai tempat dilakukan modifikasi struktur. Modifikasi struktur dilakukan melalui reaksi kondensasi Claisen-Schmidt dengan surfaktan dalam media air sebagai pengganti pelarut Surfaktan merupakan senyawa amfifilik yang mengandung ekor hidrofobik dan kepala hidrofilik. Surfaktan dalam media air ini menerapkan konsep green chemislly yang lebih ramah lingkungan, ekonomis, dan menghindari pelarut organik toksik. Tujuan dilakukannya penelitian ini ialah menyintesis turunan dibenzilidena asam usnat mela lui reaksi kondensasi Claisen-Schmidt dalam media air. Optimasi pelarut dilakukan dengan mereaksikan (+)-asam usnat dan 2,4-dimetoksibenzaldehid dengan variasi jenis surfaktan pada konsentrasi 2% bib, seperti SDS ( Sodium Dodecyl Sulfate), Tween-80 (Polysorbate-80), TPGS 750-M ( Tocopheryl Polyethylene Glycol Succinate 750-M), Triton X-100, dan CTAB ( Cety ltrimethylammoniu m bromide). Dari variasi jenis surfaktan ini, CTAB menunjukan hasil yang terbaik dengan rendemen sebesar 35,2%. Selanjutnya, variasi konsentrasi CTAB dilakukan pada 2, 4, 8, dan 10% bib dan hasilnya menunjukan bahwa CTAB 2% bib memiliki hasil yang optimum Senyawa yang terbentuk hasil optimasi menggunakan 2,4- dimetoksibenzaldehid ialah (2E, 2'£) -1, l '-((R) -3, 7,9-trihydroxy-8,9b-dimethyl- l-oxo-l,9b dihydrodiben=o[b,dlfuran-2, 6-diyl)bis(3-(2,4-dime thoxyphenyl)prop- 2-en-l-one). Setelah itu, sintesis turunan dibenzilidena asam usnat dilakukan dengan variasi benza ldehid menggunakan CTAB 2% bib. Rendemen turunan dibenzil idena asam usnat dengan variasi benzaldehid , yaitu 18,0% untuk (2E,2'E) -l,l '-((R) -3, 7,9-trihydroxy-8, 9b-dimethyl-l-oxo-l, 9b-dihydrodibenzo [b,d)furan-2,6-diyl)bis(J -(4-chloropheny l)prop-2-en-l-one); 53,4% untuk (2E,2'E)-l,1'-((R) - 3, 7,9-trihydroxy-8,9b-dimethyl -l-ox o-l,9b-dihydrodiben=o{b,d}furan -2,6-diyl)bis(3-(4- bromopheny l)prop-2-en-l-one); dan 22,0% untuk (2E,2'E) -l, l'-((R) -3,7,9-trihydroxy-8,9b dimethyl-1-oxo-l, 9b-dihydrodiben=o[b,dJfuran-2, 6-diyl)bis(3-(2,4, 5-trimethoxyphenyl)prop - 2-en-l-one). Senyawa-senyawa tersebut telah berhasil dikarakterisasi menggunakan NMR CH NMR dan 13C NMR) dan ATR-FTIR
PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL TENTANG BAHAYA KEBOCORAN DATA PRIBADI ANAK (USIA 7-12 TAHUN) BAGI ORANG TUA MILENIAL DI WILAYAH URBAN
Era Pascapandemi Covid-19 telah memperluas peran dan user teknologi sehingga kini gawai menjadi instrumen utama dalam aktivitas edukasi dan hiburan, khususnya bagi anak-anak. Namun, fenomena ini membawa risiko signifikan berupa kebocoran data pribadi anak yang sering kali terjadi tanpa disadari oleh orang tua. Beberapa data menunjukkan bahwa titik lemah utama penyebab terjadinya kebocoran data pribadi anak disebabkan oleh Human Error (kesalahan manusia) karena tingkat kesadaran yang rendah. Hal tersebut mendorong terjadinya kejahatan siber, seperti social engineering, hingga penipuan lain yang berbasis Artificial Intelligence (AI). Meskipun risiko kejahatan siber terus meningkat, tingkat kesadaran digital orang tua milenial dalam memitigasi kebocoran data masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan merancang kampanye sosial bersama Save the Children Indonesia berjudul “Guardians of the Privacy” untuk meningkatkan kesadaran proteksi data pribadi anak di wilayah urban. Metode perancangan bersifat kualitatif menggunakan design thinking process dengan pesan dan visual yang komunikatif, preventif, dan persuasif untuk merancang meningkatkan kesadaran orang tua milenial dalam melindungi data pribadi anak. Dengan itu, diharapkan agar kampanye menjadi solusi praktis yang mampu mengubah perilaku orang tua agar lebih peka terhadap setiap jejak data yang ditinggalkan.
KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS SMART UNTUK MEMPRIORITASKAN INISIATIF EFISIENSI ENERGI: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN RETAIL DI INDONESIA
ESG menjadi topik penting bagi industri retail karena aktivitas perusahaan retail secara langsung berpengaruh terhadap lingkungan dan masyarakat. Efisiensi Energi merupakan salah satu aspek ESG yang paling penting karena operasional toko bergantung pada fasilitas yang mengonsumsi energi. PT Prima Retail Lestari (PT PRL), perusahaan retail di Indonesia, saat ini menghadapi masalah dan perlu menilai kembali inisiatif Efisiensi Energinya di bawah batasan anggaran dan operasional. Perusahaan telah menerapkan beberapa inisiatif. Namun, masing-masing inisiatif memiliki implikasi dan faktor implementasi yang berbeda. Dengan kondisi ekonomi yang ada saat ini, PT PRL tidak dapat menerapkan semua inisiatif dan perlu menentukan inisiatif mana yang harus diprioritaskan. Masalah utama dari studi ini adalah tidak adanya kerangka kerja pengambilan keputusan yang terstruktur untuk mengevaluasi dan memprioritaskan inisiatif Efisiensi Energi. Proses prioritas ini perlu dianalisis karena prioritas bukanlah hal yang dapat disepakati dari hasil diskusi saja. Tanpa kerangka kerja yang terstruktur, perusahaan akan sulit melakukan komparasi antar alternatif sehingga dapat merugikan pengalokasian sumberdaya dan investasi terhadap ESG. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan kemudian menerapkan prioritas inisiatif ESG melalui kerangka pengambilan keputusan multi-kriteria yang terstruktur, yang mempertimbangkan aspek finansial dan non finansial. Studi ini menggunakan metode SMART untuk membantu dalam prioritas inisiatif Efisiensi Energi di PT PRL. Pendekatan ini akan membantu identifikasi kriteria, dan pengembangan kerangka pengambilan keputusan, serta menentukan inisiatif mana yang harus diprioritaskan. Data pada studi ini diperoleh dari wawancara semi-terstruktur, kuesioner, dan analisis dokumen internal. Studi dimulai dengan memahami proses pengambilan keputusan saat ini dan mengidentifikasi tantangan, kemudian menggunakan SMART sebagai alat pengambilan keputusan. Hasil studi ini adalah kerangka kerja pengambilan keputusan terstruktur dan prioritas yang diusulkan berdasarkan analisis SMART yang dilakukan. Kerangka kerja yang diusulkan dapat diintegrasikan ke dalam proses perencanaan ESG PT PRL untuk mendukung pengambilan Keputusan di masa mendatang.
PERENCANAAN KLASIFIKASI TENAGA KEPENDIDIKAN BERBASIS AKTIVITAS PADA UNIT KERJA PENDUKUNG INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadapi permasalahan inefisiensi komposisi sumber daya manusia, khususnya rasio dosen dan tenaga kependidikan (tendik) yang belum sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan. Hingga saat ini, belum terdapat model acuan yang mengklasifikasikan jenis tendik berdasarkan karakteristik aktivitas di setiap unit kerja. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan proses bisnis saat ini dan proses bisnis yang seharusnya dilakukan oleh setiap unit kerja, memetakan peran pada setiap proses bisnis dengan matriks RAOSI, serta mengklasifikasikan tenaga kependidikan berbasis aktivitas pada empat Unit Kerja Pendukung (UKP) ITB, yaitu Ditmawa, DSDM, DKST, Ditkeu. Penelitian ini menggunakan kerangka workforce planning ISO 30409:2016 dengan pendekatan task-based segmentation. Pemetaan proses bisnis dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan pejabat struktural di setiap direktorat yang divalidasi dengan peraturan yang berlaku serta standar acuan. Model klasifikasi dikembangkan berdasarkan empat dimensi penilaian yaitu Strategic Value, Uniqueness, Needs Private Information Access, dan Repetitiveness and Standardization of the Task. Penilaian dilakukan melalui kuesioner berskala ordinal 1–4 yang diisi oleh pejabat struktural, dengan hasil yang kemudian divalidasi kepada pimpinan masing-masing unit. Proses bisnis saat ini berjumlah 236 (Ditmawa), 261 (DSDM), 243 (DKST), dan 344 (Ditkeu). Setelah evaluasi kesesuaian, proses bisnis yang seharusnya dilakukan bertambah menjadi 347, 309, 360, dan 421 untuk masing-masing direktorat. Dari keseluruhan proses bisnis dengan operate pada level staf, hasil klasifikasi menunjukkan dominasi kategori tendik tetap di seluruh unit yaitu 162 aktivitas di Ditmawa, 84 di DSDM, 165 di DKST, dan 199 di Ditkeu. Sisanya terdistribusi pada kategori KJP/MK, dan TAD. Penelitian ini menghasilkan model klasifikasi tenaga kependidikan berbasis aktivitas yang dapat digunakan sebagai acuan oleh DSDM ITB dalam perencanaan, rekrutmen, dan penempatan tenaga kependidikan, serta menjadi landasan implementasi pada seluruh Unit Kerja Pendukung di ITB.
DESIGN OF A BLOCKAGE PREVENTION DEVICE FOR OPEN DRAINAGE CHANNELS IN PERI-URBAN SOUTH JAKARTA
Saluran drainase terbuka di kawasan pinggiran kota Jakarta Selatan mengalami penumpukan sampah padat secara kronis akibat tidak adanya mekanisme pencegatan fisik antara rumah tangga dan saluran utama. Di Jagakarsa, Ciganjur, dan Pondok Labu, saluran dengan lebar 30 hingga 50 sentimeter rutin tersumbat oleh sampah plastik mengambang seperti kemasan makanan, bungkus, dan gelas sekali pakai. Pemeliharaan jarang dilakukan dan bersifat reaktif karena kondisi fisik gang yang sempit, bau yang kuat, dan ketidakjelasan tanggung jawab membuat interaksi dengan saluran terlalu berat untuk dilakukan secara konsisten. Penelitian ini menggunakan pendekatan riset desain kualitatif, mengumpulkan data melalui observasi etnografis, wawancara mendalam dengan lima informan warga, dan dokumentasi lapangan. Temuan lebih mengarah pada tidak adanya sistem pencegatan dan pengangkatan sampah yang sederhana dan mudah dilakukan, dibandingkan kurangnya kesadaran, sebagai penyebab kegagalan pemeliharaan. Tiga alternatif desain produk dikembangkan dan dievaluasi melalui pengujian fisik skala kecil. Arah desain akhir yang dipilih adalah Fan Mesh Drain Interceptor — jaring berbentuk kipas yang fleksibel, digantung dari batang teleskopik yang dapat disesuaikan dengan lebar saluran. Sampah mengambang ditangkap secara pasif seiring aliran air, dan mekanisme penutup berbasis tali memungkinkan satu orang warga untuk mengangkat dan membuang sampah yang terkumpul dalam satu gerakan tanpa kontak langsung. Pengujian mengonfirmasi bahwa alternatif ini menunjukkan performa terkuat dalam kriteria penangkapan sampah, hambatan aliran, kestabilan, dan kemudahan interaksi pemeliharaan.
PEMURNIAN AFINITAS BERBASIS MEMBRAN UNTUK PENGAYAAN ANTIBODI IGY ANTI-PLASMODIUM FALCIPARUM LACTATE DEHYDROGENASE (PFLDH) DAN EVALUASINYA SEBAGAI KANDIDAT BIORESEPTOR RAPID DIAGNOSTIC TEST MALARIA
Deteksi dini malaria sangat penting dilakukan untuk mempercepat penanganan pasien, mencegah penyebaran penyakit, serta menurunkan angka kematian. Salah satu metode deteksi malaria secara cepat adalah Rapid Diagnostic Test (RDT) berbasis deteksi antigen Plasmodium falciparum Lactate Dehydrogenase (PfLDH). RDT umumnya menggunakan antibodi IgG mamalia sebagai komponen penangkap maupun pendeteksi antigen, namun dalam pengembangannya diperlukan waktu yang relatif lama dan biaya yang tinggi. Oleh karena itu, antibodi IgY hasil imunisasi ayam menggunakan protein rekombinan PfLDH berpotensi dikembangkan sebagai bioreseptor pada RDT malaria. Penelitian ini bertujuan untuk memurnikan, mengkarakterisasi, dan mengevaluasi potensi IgY anti-PfLDH sebagai kandidat bioreseptor pada pengembangan RDT malaria. Pemurnian dilakukan menggunakan metode affinity purification berbasis membran nitroselulosa, kemudian dikarakterisasi melalui analisis konsentrasi protein, SDS-PAGE, indirect ELISA, dan dot blot. Selanjutnya, IgY hasil pemurnian dikonjugasikan dengan gold nanoparticle (AuNP) dan dievaluasi melalui pengujian direct binding strip test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses affinity purification menghasilkan fraksi IgY anti-PfLDH dengan konsentrasi 0,22 mg/mL sebanyak 0,1 mL yang diperoleh dari 1 mL IgY crude extract konsentrasi 1 mg/mL. Analisis SDS-PAGE menunjukkan pita protein khas IgY pada kisaran ±65 kDa yang merepresentasikan heavy chain IgY. Hasil indirect ELISA menunjukkan peningkatan aktivitas pengikatan terhadap protein rekombinan PfLDH sekitar 4,47 kali dibandingkan sebelum pemurnian dengan titer endpoint fraksi murni 1:800. Uji dot blot menunjukkan IgY hasil pemurnian mampu mengenali antigen PfLDH secara spesifik pada sampel darah tanpa memberikan sinyal terhadap kontrol non-target, sedangkan konjugat IgY-AuNP menghasilkan sinyal pada membran nitroselulosa melalui direct binding strip test. Berdasarkan hasil tersebut, IgY anti-PfLDH hasil pemurnian menunjukkan aktivitas pengikatan yang lebih tinggi serta kemampuan mengenali PfLDH secara spesifik, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bioreseptor pada Rapid Diagnostic Test malaria.
PENDORONG NIAT KONSUMEN MENGGUNAKAN LAYANAN TAKSI LISTRIK DI INDONESIA: STUDI TAM-TPB PADA GREEN SM DENGAN KEPEDULIAN LINGKUNGAN DAN KEPERCAYAAN
Pasar kendaraan listrik di Indonesia tumbuh dengan cepat, namun apa sebenarnya yang menggerakkan niat konsumen untuk menggunakan layanan mobilitas listrik berbasis layanan, di mana pengendara mengakses kendaraan melalui operator alih-alih memilikinya sendiri, masih belum dipahami dengan baik. Kesenjangan ini paling terasa di pasar negara berkembang seperti Indonesia, di mana sensitivitas harga, keterbatasan infrastruktur, dan hambatan kepercayaan membentuk dinamika adopsi yang cukup berbeda dari yang terlihat di pasar maju. Green SM hadir di Indonesia pada Desember 2024 sebagai operator taksi listrik pertama di tanah air dengan armada listrik penuh yang terintegrasi serta infrastruktur pengisian daya tersendiri. Posisi itu membedakannya dari operator yang sudah lebih dulu ada, yang baru memulai transisi ke kendaraan listrik setelah Green SM meluncur, dan menghilangkan hambatan adopsi yang biasanya dilimpahkan kepada konsumen perorangan. Meski model yang membedakan ini sudah ada, yang masih belum jelas adalah faktor-faktor mana yang paling kuat menentukan apakah konsumen Indonesia benar-benar berniat menggunakan layanan tersebut. Pertanyaan inilah yang mendesak untuk dijawab, baik bagi peneliti maupun praktisi. Studi ini menjawab tiga pertanyaan penelitian. Pertama, konstruk mana yang paling kuat membentuk Sikap (Attitude) terhadap layanan Green SM. Kedua, konstruk mana yang paling kuat menggerakkan Niat Perilaku (Behavioral Intention) untuk menggunakan layanan tersebut. Ketiga, bagaimana temuan empiris dapat menjadi dasar strategi pemasaran yang efektif bagi Green SM di Indonesia. Sebuah kerangka teoretis terintegrasi dikembangkan untuk menjawab ketiga pertanyaan ini. Kerangka tersebut menggabungkan Technology Acceptance Model dengan Theory of Planned Behavior, dan memperluasnya dengan Kepercayaan (Trust) dan Kepedulian Lingkungan (Environmental Concern) sebagai penentu tambahan Sikap konsumen. Tujuh hipotesis disusun dari kerangka tersebut. Kegunaan yang Dirasakan (Perceived Usefulness) dan Kemudahan Penggunaan yang Dirasakan (Perceived Ease of Use) diharapkan berpengaruh positif terhadap Sikap. Sikap, Norma Subjektif (Subjective Norm), dan Kontrol Perilaku yang Dirasakan (Perceived Behavioral Control) diharapkan berpengaruh iv positif terhadap Niat Perilaku. Kepedulian Lingkungan dan Kepercayaan juga diharapkan masing-masing berpengaruh positif terhadap Sikap. Survei kuantitatif cross-sectional dilakukan terhadap pengguna ride-hailing aktif di Jabodetabek yang pernah menggunakan layanan tersebut dalam enam bulan menjelang pengumpulan data. Pengambilan sampel screened convenience memastikan bahwa sampel terdiri dari pengguna yang mampu mengevaluasi proposisi layanan. Partial Least Squares Structural Equation Modeling digunakan sepanjang proses analisis, termasuk evaluasi measurement model dan pengujian hipotesis struktural dengan bootstrap resampling dan bias-corrected confidence intervals. Measurement model terbukti kokoh, menunjukkan reliabilitas dan validitas yang kuat di semua konstruk. Selanjutnya, structural model menjelaskan sebagian besar variansi pada Sikap maupun Niat Perilaku, yang menegaskan daya jelas model untuk perilaku konsumen yang kompleks. Sebagian besar hipotesis didukung oleh data. Kepercayaan muncul sebagai prediktor terkuat Sikap, yang menandai kredibilitas sebagai hambatan utama bagi pemain baru di industri yang sensitif terhadap keselamatan. Kegunaan yang Dirasakan juga signifikan dalam memprediksi Sikap, yang berarti nilai fungsional memang penting, tetapi belum cukup membuat Green SM tampil berbeda dari alternatif yang ada. Sikap ternyata menjadi penggerak terkuat Niat Perilaku, sehingga menjadi prediktor paling jelas dari Niat Perilaku yang dinyatakan. Norma Subjektif juga signifikan dalam memprediksi Niat Perilaku, sejalan dengan dinamika sosial kolektivis yang menjadi ciri Indonesia. Tiga hipotesis tidak didukung. Kemudahan Penggunaan yang Dirasakan dan Kontrol Perilaku yang Dirasakan menunjukkan ceiling effect yang muncul dari familiaritas digital yang tinggi dan persepsi aksesibilitas ride-hailing yang seragam tinggi dalam sampel pengguna urban berpengalaman. Kepedulian Lingkungan tidak berpengaruh langsung terhadap Sikap, sejalan dengan value action gap yang banyak didokumentasikan di pasar negara berkembang yang sensitif terhadap harga. Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan utama Green SM terletak pada kesenjangan kepercayaan dan nilai fungsional, bukan pada kesenjangan kesadaran lingkungan. Dari sini muncul tiga solusi yang dilandasi analisis. Pertama, program trust-building yang dibangun di atas sertifikasi pengemudi dan transparansi layanan. Kedua, kampanye komunikasi nilai fungsional yang menyisipkan manfaat lingkungan ke dalam framing kegunaan. Ketiga, program social amplification yang memanfaatkan insentif referral dan kemitraan korporat untuk membangun normative endorsement. Penelitian ini memberikan salah satu pengujian empiris paling awal terhadap kerangka TAM-TPB terintegrasi dalam konteks mobilitas listrik berbasis layanan di pasar negara berkembang. Penelitian ini menunjukkan bahwa model berbasis layanan dapat menghilangkan hambatan adopsi EV tradisional secara struktural dengan menginternalkan pengelolaannya. Penelitian ini juga mendukung Kepercayaan sebagai konstruk dominan bagi pemain baru di kategori layanan yang sensitif terhadap keselamatan. Dan menyumbang bukti bahwa Kepedulian Lingkungan beroperasi sebagai penggerak Sikap secara tidak langsung, bukan langsung, di pasar negara berkembang yang sensitif terhadap harga.
SINTESIS TURUNAN FEROSENIL CALKON MELALUI REAKSI KONDENSASI CLAISEN-SCHMIDT
Ferosenil calkon merupakan golongan senyawa hibrida logam yang terbentuk dari penggabungan kerangka calkon dengan gugus ferosenil. Kelompok senyawa tersebut dilaporkan memiliki potensi aktivitas biologis, khususnya sebagai kandidat agen antikanker terhadap sel triple negative breast cancer (TNBC). Dalam langkah untuk memperkaya pustaka senyawa ini sebagai fondasi pengembangan lebih lanjut, pada penelitian ini telah disintesis 10 senyawa turunan ferosenil calkon melalui reaksi kondensasi Claisen-Schmidt antara asetilferosen dengan variasi prekursor aldehid. Reaksi dilakukan menggunakan NaOH sebagai katalis basa dalam etanol pada rentang suhu reaksi 50—70 °C dengan rentang waktu reaksi 2 hingga 24 jam. Terdapat tujuh senyawa baru yang belum pernah dilaporkan, yaitu 1-ferosenil- 3-(3-hidroksi-4-metoksifenil)-2-propen-1-on (1b); 1-ferosenil-3-(2,4,6-trimetoksifenil)-2- propen-1-on (1c); 1-ferosenil-3-(4-bromofenil)-2-propen-1-on (1d); 1-ferosenil-3-(3,4- diklorofenil)-2-propen-1-on (1e); 1-ferosenil-3-(1H-tiofen-2-il)-2-propen-1-on (1f); 1- ferosenil-3-(benzo[b]tiofen-2-il)-2-propen-1-on (1g); dan etil 5-[3-ferosenil-3-oksoprop-1-en- 1-il]-2,4-dimetil-1H-pirol-3-karboksilat (1j). Selain itu telah berhasil disintesis tiga senyawa turunan ferosenil calkon lainnya yang sudah pernah dilaporkan, yaitu 1-ferosenil-3-(3,4- dimetoksifenil)-2-propen-1-on (1a); 1-ferosenil-3-(1H-pirol-2-il)-2-propen-1-on (1h); dan 1- ferosenil-5-fenilpenta-1,4-dien-1-on (1i). Produk hasil sintesis memiliki kisaran rendemen dari 27,1% hingga 94,9%, telah dikarakterisasi dan dikonfirmasi menggunakan FTIR, 1H- NMR, 13C-NMR dan MS.
PERENCANAAN KLASIFIKASI TENAGA KEPENDIDIKAN BERBASIS AKTIVITAS PADA UNIT KERJA PENDUKUNG INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadapi permasalahan inefisiensi komposisi sumber daya manusia, khususnya rasio dosen dan tenaga kependidikan (tendik) yang belum sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan. Hingga saat ini, belum terdapat model acuan yang mengklasifikasikan jenis tendik berdasarkan karakteristik aktivitas di setiap unit kerja. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan proses bisnis saat ini dan proses bisnis yang seharusnya dilakukan oleh setiap unit kerja, memetakan peran pada setiap proses bisnis dengan matriks RAOSI, serta mengklasifikasikan tenaga kependidikan berbasis aktivitas pada empat Unit Kerja Pendukung (UKP) ITB, yaitu Ditmawa, DSDM, DKST, Ditkeu. Penelitian ini menggunakan kerangka workforce planning ISO 30409:2016 dengan pendekatan task-based segmentation. Pemetaan proses bisnis dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan pejabat struktural di setiap direktorat yang divalidasi dengan peraturan yang berlaku serta standar acuan. Model klasifikasi dikembangkan berdasarkan empat dimensi penilaian yaitu Strategic Value, Uniqueness, Needs Private Information Access, dan Repetitiveness and Standardization of the Task. Penilaian dilakukan melalui kuesioner berskala ordinal 1–4 yang diisi oleh pejabat struktural, dengan hasil yang kemudian divalidasi kepada pimpinan masing-masing unit. Proses bisnis saat ini berjumlah 236 (Ditmawa), 261 (DSDM), 243 (DKST), dan 344 (Ditkeu). Setelah evaluasi kesesuaian, proses bisnis yang seharusnya dilakukan bertambah menjadi 347, 309, 360, dan 421 untuk masing-masing direktorat. Dari keseluruhan proses bisnis dengan operate pada level staf, hasil klasifikasi menunjukkan dominasi kategori tendik tetap di seluruh unit yaitu 162 aktivitas di Ditmawa, 84 di DSDM, 165 di DKST, dan 199 di Ditkeu. Sisanya terdistribusi pada kategori KJP/MK, dan TAD. Penelitian ini menghasilkan model klasifikasi tenaga kependidikan berbasis aktivitas yang dapat digunakan sebagai acuan oleh DSDM ITB dalam perencanaan, rekrutmen, dan penempatan tenaga kependidikan, serta menjadi landasan implementasi pada seluruh Unit Kerja Pendukung di ITB.