📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PERFORMANCE EVALUATION OF SIGNALIZED INTERSECTION UNDER TRAFFIC FLOW USING VISSIM MICROSIMULATION AND HCM 2010. (CASE STUDY AREA D INTERSECTION, DODOMA CITY, TANZANIA)

Kinerja lalu lintas suatu jaringan jalan sangat dipengaruhi oleh arus lalu lintas yang melewati simpang. Simpang bersinyal tiga lengan Area D yang terletak di Jalan Dodoma–Jalan Emaus, Kota Dodoma, Tanzania, merupakan salah satu simpang yang mengalami permasalahan lalu lintas pada jam-jam puncak, khususnya pada hari kerja, sehingga kendaraan harus menghabiskan waktu yang cukup lama saat melintasi simpang ketika sinyal lalu lintas beroperasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja lalu lintas pada kondisi eksisting simpang bersinyal menggunakan US Highway Capacity Manual (US HCM 2010) dan PTV VISSIM Versi 11 selama jam puncak. Survei dilakukan dengan merekam volume lalu lintas pada pukul 06.00–10.00 dan 16.00–18.00, yang mewakili periode puncak pagi dan sore. Komposisi lalu lintas pada periode puncak pagi didominasi oleh kendaraan ringan (46,95%), sepeda motor (33,78%), dan kendaraan berat (19,27%), sedangkan pada periode puncak sore didominasi oleh kendaraan ringan (46,46%), sepeda motor (36,06%), dan kendaraan berat (17,48%). Perbaikan terhadap kondisi eksisting simpang dilakukan menggunakan metode mikro-analitis melalui tiga skenario, yaitu optimasi waktu sinyal, perbaikan geometrik, serta kombinasi optimasi waktu sinyal dan perbaikan geometrik. Berdasarkan metode analitis US HCM 2010, hasil evaluasi kondisi eksisting menunjukkan bahwa tundaan rata-rata simpang sebesar 55,16 detik/smp pada periode puncak pagi dan 64,92 detik/smp pada periode puncak sore. Panjang antrean rata-rata tercatat sebesar 131,2 m pada pagi hari dan 327,4 m pada sore hari. Tingkat pelayanan (Level of Service/LOS) simpang berada pada LOS E baik pada periode puncak pagi maupun sore. Analisis kondisi eksisting menggunakan metode mikro-analitis dengan perangkat lunak PTV VISSIM Versi 11 terlebih dahulu melalui proses kalibrasi dan validasi model menggunakan statistik GEH untuk memastikan keandalan hasil simulasi sehingga meningkatkan kredibilitas hasil penelitian. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tundaan rata-rata simpang sebesar 42,04 detik/smp pada periode puncak pagi dan 51,07 detik/smp pada periode puncak sore. Hasil tersebut menunjukkan bahwa estimasi tundaan menggunakan metode US HCM 2010 lebih tinggi dibandingkan hasil simulasi PTV VISSIM. Perbedaan ini disebabkan karena metode HCM mengasumsikan kondisi lalu lintas yang homogen dan disiplin lajur, sedangkan VISSIM mampu merepresentasikan perilaku lalu lintas yang heterogen serta interaksi antar kendaraan secara lebih realistis. Hasil evaluasi Skenario 1 (Optimasi v Waktu Sinyal) menunjukkan bahwa tundaan rata-rata berkurang menjadi 30,04 detik/smp pada periode puncak pagi dan 48,95 detik/smp pada periode puncak sore. Panjang antrean rata-rata menurun menjadi 82,22 m dan 207,3 m, dengan tingkat pelayanan meningkat menjadi LOS C pada pagi hari dan LOS D pada sore hari. Pada Skenario 2 (Perbaikan Geometrik), tundaan rata-rata berkurang menjadi 34,96 detik/smp pada periode puncak pagi dan 47,54 detik/smp pada periode puncak sore. Panjang antrean rata-rata masing-masing menjadi 94,25 m dan 296,6 m, sedangkan tingkat pelayanan meningkat menjadi LOS C pada pagi hari dan LOS D pada sore hari. Pada Skenario 3 (Kombinasi Optimasi Waktu Sinyal dan Perbaikan Geometrik) diperoleh hasil terbaik, dengan tundaan rata-rata sebesar 27,18 detik/smp pada periode puncak pagi maupun sore. Panjang antrean rata-rata berkurang secara signifikan menjadi 29,86 m pada pagi hari dan 89,45 m pada sore hari. Selain itu, tingkat pelayanan meningkat menjadi LOS C pada kedua periode puncak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario kombinasi memberikan peningkatan kinerja simpang yang paling efektif dibandingkan skenario lainnya, karena mampu menurunkan tundaan dan panjang antrean secara signifikan serta meningkatkan kapasitas dan efisiensi operasional simpang.

2026
👤 Penulis: Damian Jerome Kullaya
🏷️ Simulasi Mikro 🏷️ Manajemen Lalu Lintas 🏷️ Analisis Kinerja Jalan

MODEL SIKLUS PROGRAM PENGEMBANGAN UNTUK KEUNGGULAN OPERASIONAL DAN NILAI BERKELANJUTAN — STUDI KASUS PADA PT DA SEBAGAI PENGELOLA KAWASAN

Sumber Daya Manusia (SDM) adalah kunci utama untuk mempertahankan nilai aset perusahaan di industri real estat komersial yang sangat kompetitif. Namun, program pelatihan SDM yang ada sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan. Penelitian ini mengkaji penurunan kinerja operasional pada divisi Manajemen Real Estat PT DA, di mana indikator kinerja utama (KPI) turun drastis menjadi 89,43 pada tahun 2024. Data menunjukkan adanya "Kesenjangan Relevansi Pelatihan" yang kritis. Karyawan teknis di lapangan kekurangan pelatihan fungsional karena perusahaan lebih memprioritaskan pelatihan kepemimpinan umum untuk sekadar memenuhi target kuota pembelajaran. Budaya perusahaan yang hierarkis ini menciptakan paradoks antara tingginya volume pelatihan namun rendahnya nilai aplikatif, yang berujung pada defisit kompetensi teknis hingga lima puluh persen. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendiagnosis akar masalah tersebut dan merancang intervensi SDM yang tepat sasaran untuk memulihkan kinerja operasional perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus campuran terapan dengan kerangka pemecahan masalah yang diadaptasi dari konsep design thinking. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, dirancanglah sebuah matriks Analisis Kebutuhan Pelatihan (TNA) yang spesifik dan kamus kompetensi yang telah diperbarui untuk menargetkan kekurangan keahlian secara akurat. Selain itu, penelitian ini merumuskan kurikulum pembelajaran campuran (blended learning) dengan metode 70:20:10, yang memindahkan fokus belajar dari ruang kelas ke praktik langsung di lapangan melalui pengalaman kerja dan bimbingan sosial (mentoring). Sebagai hasil akhir, penelitian ini menciptakan "Model Umpan Balik Siklikal" (Cyclical Feedback Model). Model ini merupakan sistem evaluasi berkelanjutan yang menerapkan audit perilaku Kirkpatrick Level 3 untuk memastikan bahwa hasil pelatihan benar-benar diterapkan saat bekerja. Kerangka kerja ini menjamin strategi pelatihan perusahaan selalu sejalan dengan eksekusi operasional di lapangan, sehingga daya saing organisasi tetap terjaga.

2026
👤 Penulis: Setia Permana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Kebutuhan Pelatihan

KERANGKA VALUASI INOVASI BERORIENTASI PASAR UNTUK HILIRISASI INDUSTRI: INTEGRASI TRL–MRL–CRL DAN KEKAYAAN INTELEKTUAL DALAM STRATEGI INVESTASI BERDAULAT INDONESIA

Ambisi Indonesia untuk bertransformasi menjadi perekonomian industri maju yang digerakkan oleh inovasi serta mencapai status negara berpendapatan tinggi pada peringatan satu abad kemerdekaan tahun 2045 (yang dikenal sebagai visi Indonesia Emas) menuntut pergeseran fundamental dari ekstraksi sumber daya menuju penciptaan nilai berbasis kapabilitas. Meskipun terdapat pertumbuhan yang terukur dalam keluaran riset, registrasi paten, dan aktivitas inovasi di lingkungan perguruan tinggi maupun lembaga riset publik, kontribusi ekonomi dari inovasi-inovasi tersebut masih sangat kecil secara tidak proporsional dibandingkan potensinya. Sebagian besar kekayaan intelektual (KI) yang dihasilkan secara nasional masih belum termanfaatkan, belum cukup terkomersialisasi, atau terputus dari tujuan strategis transformasi industri. Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan struktural antara kapabilitas teknologi dan valorisasi ekonominya. Permasalahan utama yang diangkat dalam tesis ini adalah belum tersedianya kerangka valuasi terintegrasi dan berorientasi pasar yang mampu menerjemahkan keluaran riset, paten, dan inovasi teknologi menjadi aset strategis yang layak diinvestasikan dalam agenda transformasi industri Indonesia. Sistem penilaian inovasi yang ada saat ini masih didominasi oleh evaluasi Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TRL/TKT), sementara perhatian terhadap skalabilitas manufaktur, kesiapan komersial, posisi dalam ekosistem industri, dan efek pengganda makroekonomi masih kurang memadai. Akibatnya, banyak teknologi yang menjanjikan terjebak dalam "Lembah Kematian" (Valley of Death) antara tahap validasi laboratorium dan implementasi industri, dan tidak mampu menarik investasi strategis. Untuk menjawab kesenjangan struktural tersebut, tesis ini mengusulkan sebuah Market-Oriented Innovation Valuation Framework (Kerangka Valuasi Inovasi Berorientasi Pasar) baru yang mengintegrasikan: (1) Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TRL/TKT); (2) Tingkat Kesiapan Manufaktur (MRL); (3) Tingkat Kesiapan Komersial (CRL); (4) analisis paten dan kekayaan intelektual; (5) pemetaan Pohon Industri berbasis Kode HS; (6) analisis perdagangan global dan nilai tambah; (7) pemodelan pengganda Input–Output; serta (8) metodologi valuasi investasi yang disesuaikan dengan risiko. Kerangka ini memperkenalkan arsitektur valuasi inovasi komposit yang mampu menilai teknologi tidak hanya berdasarkan kematangan teknis, tetapi juga dari dimensi relevansi industri, peluang pasar, kelayakan manufaktur, dan potensi dampak ekonomi nasional. Kebaruan konseptual utama terletak pada integrasi Industrial Tree Analysis (Analisis Pohon Industri) dengan Intellectual Property Valuation (Valuasi Kekayaan Intelektual). Melalui pemetaan industri berbasis Kode HS, penelitian ini secara sistematis menghubungkan komoditas hulu, industri antara, dan produk hilir dalam sektor-sektor strategis, termasuk mineral kritis, sistem energi, industri pangan, teknologi kesehatan, dan manufaktur tingkat lanjut. Kerangka ini lebih lanjut mengembangkan mekanisme valuasi kuantitatif melalui model Risk-Adjusted Net Present Value (rNPV) yang diadaptasi untuk investasi teknologi mendalam (deep-technology) dan industri strategis. Kerangka yang diusulkan dirancang untuk menjadi fondasi sistem pendukung keputusan investasi Danantara, sehingga memungkinkan alokasi modal berbasis bukti menuju inovasi-inovasi yang memiliki nilai strategis nasional yang terukur.

2026
👤 Penulis: Nugroho Adi Sasongko
🏷️ Inovasi Industri 🏷️ Valuasi Kekayaan Intelektual 🏷️ Analisis Pohon Industri

PENGEMBANGAN MODEL INTENSI PELAPORANPELANGGARAN MELALUI WHISTLEBLOWING SYSTEM(WBS) DI LINGKUNGAN PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA BARAT

Penerapan tata kelola pemerintahan yang baik membutuhkan peran aktif pegawai dalam melaporkan dugaan pelanggaran. Namun, partisipasi penggunaan Whistleblowing System (WBS) di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat masih rendah jika dibandingkan dengan metode pelaporan manual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi intensi whistleblowing pegawai melalui aplikasi WBS Jawa Barat. Penelitian ini berfokus pada pengembangan model yang mengintegrasikan Theory of Planned Behavior (TPB) dan Technology Acceptance Model (TAM), serta mengeksplorasi peran variabel faktor organisasi dan nilai-nilai budaya untuk memahami perspektif pegawai secara komprehensif. Sebelum pengujian, variabel dan indikator divalidasi terlebih dahulu menggunakan Fuzzy Delphi Method (FDM) bersama panel pakar untuk memastikan relevansi instrumen. Pengambilan data dilakukan melalui kuesioner terhadap 173 pegawai di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat. Pengolahan data dilakukan dengan metode statistik Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menggunakan perangkat lunak SmartPLS 4 untuk mengetahui interaksi dan signifikansi hubungan variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor subjective norms, public service motivation, dan long-term orientation memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap intensi whistleblowing. Selain itu, perceived transparency dan perceived security terbukti secara signifikan membangun perceived trust pegawai terhadap mekanisme whistleblowing melalui WBS. Variabel whistleblowing education, public service motivation, dan perceived seriousness of wrongdoing juga secara signifikan mampu meningkatkan pemahaman pelaporan. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pemerintah daerah untuk tidak hanya berfokus pada ketersediaan aplikasi, tetapi juga aktif memperkuat dukungan sosial, meningkatkan motivasi pelayanan publik, dan membangun orientasi masa depan kepada pegawai. Dengan strategi tersebut, WBS Jawa Barat dapat berperan sebagai sarana pengawasan internal yang efektif dalam mencegah terjadinya pelanggaran serta mendukung perwujudan prinsip good governance di lingkungan pemerintahan.

2026
👤 Penulis: Annisa Ayu Wahdini Fatimah
🏷️ Whistleblowing System (Wbs) 🏷️ Theory Of Planned Behavior (Tpb) 🏷️ Technology Acceptance Model (Tam)

ANALISIS TERMODINAMIKA DAN STUDI TEKNO-EKONOMI CO-FIRING GAS ALAM DENGAN HIDROGEN STUDI KASUS PLTGU CILEGON

Jumlah emisi CO? global dari sektor energi terus meningkat setiap tahun. Gas alam dan batubara masih menjadi kontributor terbesar terhadap emisi karbon, sehingga keduanya menjadi sorotan utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Tren kenaikan emisi ini telah terbukti menjadi salah satu faktor utama pemicu perubahan iklim di berbagai negara, dengan dampak yang meluas terhadap lingkungan, kesehatan, dan perekonomian. Oleh karena itu, langkah yang harus ditempuh adalah mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Hidrogen muncul sebagai salah satu opsi strategis karena sifatnya yang bebas karbon, sehingga dapat menjadi solusi transisi energi untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emissions. Implementasi co-firing hidrogen dengan gas alam pada PLTGU tidak hanya mendukung program transisi energi di Indonesia, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya global menuju sistem energi yang berkelanjutan. Dalam penelitian ini, simulasi termodinamika terkait co-firing hidrogen dengan gas alam dilakukan menggunakan perangkat lunak Aspen Hysys. Model yang digunakan merepresentasikan PLTGU Cilegon dengan konfigurasi 1-on-1, berkapasitas total sekitar 370 MW, dan berbasis turbin Mitsubishi M701F. Variasi rasio hidrogen dalam campuran bahan bakar ditetapkan antara 0% hingga 30% basis volume, dengan mempertimbangkan keterbatasan tipe combustor dry low NOx (DLN) premixed. Temperatur keluaran combustor dijaga konstan pada 1.400 °C untuk memastikan stabilitas operasi dan menjaga keandalan sistem. Selain analisis teknis, dilakukan pula kajian tekno-ekonomi untuk menghitung total biaya pemanfaatan hidrogen dengan asumsi sistem penyimpanan bertipe compressed gas. Perhitungan biaya pokok produksi (BPP) digunakan sebagai dasar evaluasi kelayakan penggunaan hidrogen dalam skema co-firing pada PLTGU. Hasil analisis termodinamika menunjukkan bahwa ketika rasio hidrogen meningkat hingga 30%, daya total PLTGU naik dari 378.632 MW menjadi 379.461 MW. Perubahan total daya ini setara dengan peningkatan sekitar 0,22%. Efisiensi pembangkit juga mengalami kenaikan dari 58,19% menjadi 58,32%, atau meningkat sekitar 0,22%. Sementara itu, co-firing dengan hidrogen terbukti mampu menurunkan laju emisi CO? dari 139.213 kg/jam menjadi 124.750 kg/jam, dengan penurunan sekitar 10,39%. Temuan ini menegaskan bahwa hidrogen memiliki potensi nyata untuk mendukung pengurangan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi sistem pembangkit. Dari sisi tekno-ekonomi, hasil analisis menunjukkan bahwa total biaya investasi sistem penyimpanan hidrogen bertipe compressed gas mencapai USD 770 juta. Nilai Levelized Cost of Hydrogen Storage (LCHS) diperkirakan sekitar 8,98 USD/kg, dengan proyeksi total biaya utilisasi pada tahun 2026 sebesar 15,47 USD/kg. Berdasarkan hasil perhitungan ini, biaya pokok produksi listrik (BPP) mengalami kenaikan signifikan, yakni 3,61 kali lipat. Harga BPP naik dari Rp 1.042,99/kWh menjadi Rp 3.764,68/kWh. Analisis sensitivitas lebih lanjut menunjukkan bahwa biaya Inside Battery Limits (ISBL) merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap total biaya utilisasi hidrogen, karena menyumbang porsi terbesar dari capital expenditure cost (CapEx) untuk peralatan utama. Penerapan co-firing hidrogen pada PLTGU memang memberikan keuntungan dari sisi teknis berupa peningkatan efisiensi dan penurunan emisi, namun di sisi lain menimbulkan tantangan ekonomi yang cukup besar. Kenaikan biaya pokok produksi berpotensi memangkas keuntungan atau laba perusahaan, sehingga diperlukan strategi kebijakan yang mendukung agar hidrogen menjadi lebih kompetitif dibandingkan dengan gas alam maupun bahan bakar fosil lainnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemberian insentif ekonomi, seperti subsidi harga hidrogen hijau, bantuan investasi untuk sistem penyimpanan hidrogen, maupun skema kredit karbon. Dengan adanya dukungan kebijakan dan inovasi teknologi, diharapkan penggunaan hidrogen di masa depan dapat menjadi lebih ekonomis dan berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Ilham Pramadika
🏷️ Hidrologi 🏷️ Teknologi Energi Renenables 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi

PENGARUH CARA APLIKASI BIOSTIMULAN EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) TERHADAP KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN DAN HASIL BIOMASSA TANAMAN KALE (BRASSICA OLERACEA VAR. ACEPHALA)

Penurunan produksi tanaman kubis di Indonesia dari 1,50 juta ton (2022) menjadi 1,39 juta ton (2023) disebabkan oleh teknik budidaya yang kurang tepat dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang menurunkan kualitas dan nilai jual kale. Di sisi lain, penggunaan pupuk sintesis yang berlebihan menimbulkan konsekuensi negatif pada bidang pertanian. Biostimulan berbasis ekstrak daun kelor berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman, namun kajian mengenai metode aplikasi yang optimal pada tanaman kale masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh berbagai cara aplikasi biostimulan ekstrak daun kelor terhadap pertumbuhan, kandungan pigmen, dan hasil biomassa tanaman kale (Brassica oleracea var. Acephala), serta menentukan metode aplikasi yang paling efektif. Percobaan dilaksanakan di Screenhouse ITB Jatinangor pada Oktober–November 2025 menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan terdiri atas kontrol (C0), aplikasi foliar (C1), aplikasi melalui tanah (C2), dan kombinasi foliar + tanah (C3) menggunakan ekstrak daun kelor konsentrasi 1:30 (v/v). Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, indeks luas daun (ILD), kandungan klorofil (SPAD) dan karotenoid, serta biomassa segar dan kering. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA yang dilanjutkan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi melalui tanah (C2) secara signifikan meningkatkan tinggi tanaman pada 28 dan 35 HST. Tidak terdapat pengaruh signifikan perlakuan terhadap jumlah daun, diameter batang, ILD, serta kandungan klorofil dan karotenoid. Pada bobot kering akar, perlakuan C2 menghasilkan nilai tertinggi (0,95 g), sementara perlakuan kombinasi (C3) menghasilkan rasio tajuk-akar (Shoot-Root Ratio) tertinggi (3,82). Efektivitas biostimulan dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan tingginya kesuburan awal media tanam. Disimpulkan bahwa aplikasi melalui tanah paling efektif untuk mendukung pertumbuhan aksial dan pengembangan akar, aplikasi foliar cenderung meningkatkan kualitas fisiologis daun, sedangkan aplikasi kombinasi (tanah + foliar) optimal dalam memodifikasi alokasi biomassa ke bagian tajuk. Pemilihan metode aplikasi perlu disesuaikan dengan tujuan budidaya spesifik.

2026
👤 Penulis: Hasya Atqiya
🏷️ Pertumbuhan Tanaman 🏷️ Biostimulan Ekstrak Daun Kelor 🏷️ Optimalisasi Metode Aplikasi

PENGEMBANGAN MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN MULTI-KRITERIA UNTUK PEMILIHAN PENERIMA BANTUAN: STUDI KASUS BANTUAN PUPUK BAGI PETANI PERKEBUNAN

Pemilihan penerima bantuan pupuk bagi petani perkebunan masih menghadapi berbagai permasalahan, khususnya terkait subjektivitas pengambilan keputusan, dominasi pendekatan administratif, serta belum terintegrasinya sistem evaluasi yang mampu merepresentasikan hubungan multidimensional antar faktor penentu efektivitas bantuan. Oleh karena itu, diperlukan model pengambilan keputusan yang lebih objektif, sistematis, dan berbasis data. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pengambilan keputusan multi-kriteria untuk pemilihan penerima bantuan, dengan studi kasus pada bantuan pupuk bagi petani perkebunan tembakau di Provinsi Jawa Barat. Model yang dikembangkan mengintegrasikan metode Delphi, DEMATEL (Decision Making Trial and Evaluation Laboratory), dan EDAS (Evaluation based on Distance from Average Solution). Delphi digunakan untuk memvalidasi struktur kriteria melalui konsensus pakar, DEMATEL digunakan untuk menganalisis hubungan sebab-akibat serta tingkat pengaruh antar supporting criteria, sedangkan EDAS digunakan untuk mengevaluasi dan memeringkat alternatif kelompok tani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model akhir terdiri atas eligibility criteria, outcome criteria, dan supporting criteria. Analisis DEMATEL menunjukkan bahwa dimensi teknis dan agroteknologi serta kelembagaan dan administrasi merupakan faktor penggerak utama dalam sistem bantuan pupuk. Hasil EDAS menunjukkan bahwa kelompok tani dengan produktivitas tinggi, kualitas hasil panen yang baik, kapasitas kelembagaan yang kuat, dan penerapan budidaya yang optimal memperoleh prioritas tertinggi sebagai penerima bantuan. Penelitian ini menghasilkan model pengambilan keputusan multi-kriteria yang sistematis, objektif, dan berbasis data untuk mendukung pemilihan penerima bantuan pupuk secara lebih transparan dan tepat sasaran. Model ini juga dapat diposisikan sebagai kerangka evaluasi penerima bantuan yang adaptif, dengan penyesuaian indikator, kriteria, dan bobot sesuai karakteristik program bantuan yang diterapkan.

2026
👤 Penulis: Mia Lestari
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Sebab-Akibat

PERANCANGAN KEY PERFORMANCE INDICATORS BERBASIS BALANCED SCORECARD DI PEXA MEDIKA

Pexa Medika merupakan lembaga bimbingan belajar daring yang bergerak di bidang persiapan seleksi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Seiring pertumbuhan perusahaan, Pexa Medika menghadapi dua permasalahan utama yakni belum adanya perumusan dan pemetaan strategi secara terstruktur, serta belum tersedianya sistem pengukuran kinerja yang komprehensif dan sistematis. Kondisi ini menyebabkan arah inisiatif perusahaan masih bertumpu pada intuisi Chief Executive Officer (CEO) dan evaluasi kinerja hanya bergantung pada indikator finansial tunggal berupa pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang peta strategi berbasis Balanced Scorecard (BSC) serta Key Performance Indicators (KPI) yang selaras dengan strategi Pexa Medika sebagai fondasi sistem manajemen kinerja perusahaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) yang menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif secara komplementer. Pengumpulan data dilakukan melalui unstructured interview dan in-depth interview bersama CEO dan CFO Pexa Medika, focus group discussion (FGD), kuesioner evaluasi KPI, studi literatur, dan studi dokumentasi. Identifikasi strategi perusahaan dilakukan secara induktif menggunakan pendekatan affinity-based grouping terhadap hasil wawancara untuk menghasilkan strategi yang tervalidasi. Strategi tersebut kemudian diturunkan menjadi objektif strategis yang dipetakan ke dalam kerangka BSC melalui empat perspektif: Financial, Customer, Internal Business Process, serta Learning & Growth. Perancangan KPI dilakukan melalui penyusunan KPI usulan berbasis studi literatur, seleksi KPI melalui FGD dengan CEO, evaluasi oleh CEO dan COO, serta penetapan target dan pembobotan KPI melalui FGD bersama CEO. Penelitian menghasilkan peta strategi yang memuat 16 objektif strategis dari keempat perspektif BSC, yaitu 5 objektif di perspektif Financial, 5 objektif di perspektif Customer, 3 objektif di perspektif Internal Business Process, dan 3 objektif di perspektif Learning & Growth. Peta strategi menggambarkan hubungan sebab-akibat antar objektif dari perspektif Learning & Growth sebagai fondasi hingga perspektif Financial sebagai puncak pencapaian strategis, dan telah divalidasi oleh CEO melalui metode face validity. Dari proses perancangan KPI, dihasilkan 29 KPI final dari keempat perspektif BSC, dilengkapi dengan kamus data yang mendefinisikan setiap KPI secara operasional serta formulir pelaporan kinerja sebagai instrumen pemantauan pencapaian KPI secara berkala.

2026
👤 Penulis: Aditia Muhammad Rafael
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN AGEN ARTIFICIAL INTELLIGENCE UNTUK RISET HUKUM PIDANA INDONESIA BERBASIS RETRIEVAL-AUGMENTED GENERATION DAN KNOWLEDGE GRAPH

Volume putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia yang mencapai 30.908 perkara pada tingkat kasasi pada tahun 2024 menyulitkan praktisi hukum dalam menemukan preseden pidana yang relevan secara cepat dan akurat. Platform teknologi hukum yang tersedia di Indonesia umumnya bersifat tertutup, tidak fokus pada hukum pidana, dan rentan terhadap halusinasi karena hanya bergantung pada Large Language Model (LLM) tanpa landasan dokumen yang tepercaya. Penelitian ini bertujuan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi sistem agen Artificial Intelligence (AI) yang mengintegrasikan Retrieval-Augmented Generation (RAG, basis data vektor Milvus Lite) dan knowledge graph (basis data graf Neo4j) untuk membantu riset hukum pidana di Indonesia. Sistem dibangun di atas korpus Indo-Law yang berisi 22.630 putusan pidana tingkat pertama, dengan alur agen empat tahap yang mencakup penerimaan narasi, inferensi kategori melalui pemungutan suara tiga sinyal (LLM, vektor, dan kata kunci), pencarian hibrida dua tahap pada Milvus Lite dan Neo4j, serta penyusunan ringkasan faktual dengan dua LLM pembanding yaitu Gemini Flash Lite dan Llama 3.1 8B Instant. Evaluasi dilakukan pada 116 kasus uji yang terdiri atas 114 kasus stratified sampling dan dua kasus reliabilitas penanganan kondisi di luar cakupan korpus. Hasil pengujian menunjukkan akurasi pencarian Precision@5 sebesar 0,8070 dan NDCG@5 sebesar 0,8227 pada konfigurasi dengan Gemini Flash Lite sebagai pengindeks kategori, dengan faithfulness pasal sempurna sebesar 1,0000 dan waktu tanggap rata-rata tercepat 17,15 detik per kueri pada konfigurasi dengan Llama 3.1 8B Instant sebagai pengindeks kategori dan Gemini Flash Lite sebagai penyusun ringkasan. Pendekatan RAG dengan dukungan knowledge graph terbukti menekan halusinasi pasal dari 100% pada baseline LLM-only menjadi 0% pada konfigurasi terbaik, sekaligus menurunkan halusinasi nomor putusan dari rentang 57,89–97,37% menjadi 0,57–4,75%. Kesimpulannya, integrasi RAG dengan knowledge graph efektif menjadi landasan teknis bagi pembangunan asisten riset hukum pidana Indonesia yang andal, dapat dipertanggungjawabkan, dan responsif untuk skenario kerja praktisi.

2026
👤 Penulis: Tamara Mayranda Lubis
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

TRANSFORMASI LAPLACE DI RUANG LEBESGUE

Transformasi Laplace adalah operator integral linear yang memetakan fungsi dengan domain waktu t ke fungsi ke domain frekuensi kompleks s. Salah satu domain dan kodomain paling umum dari transformasi Laplace adalah ruang-ruang Lp(X) dengan X ? R. Sebagai konsekuensi dari ketakhinggaan dimensi ruang Lp(X), keterbatasan transformasi Laplace sebagai pemetaan dari dan ke ruang Lp(X) belum terjamin. Karya tulis ini memaparkan keterbatasan transformasi Laplace sebagai pemetaan antara pasangan ruang Lp(X). Kemudian, karya ini turut menelaah keterbatasan transformasi Laplace sebagai pemetaan dari ruang L1([0,?)) ke ruang L1([0, 1])- lemah dan keterbatasan transformasi Laplace di ruang yang lebih umum dari ruang Lp(X), yakni ruang invarian-penataulangan.

2026
👤 Penulis: Nathanael R.P. Widjaja
🏷️ Analisis Operator 🏷️ Ruang Lebesgue 🏷️ Transformasi Laplace

AI-ENABLEDSTRUCTURE–PROPERTYPREDICTIONOF WOVENCOMPOSITESFROMMESOSCALERVE REPRESENTATIONSACCOUNTINGFOR PREFORMING-INDUCEDDEFORMATION

Komposittenunbanyakdigunakandalamaplikasirekayasastrukturringan,tetapi sifatelastiknyasangatdipengaruhioleharsitekturskalameso,sepertigeometri yarn,fraksivolume,polatenun,dandeformasiakibatprosespreforming.Metode elemen hinggamampumenangkaphubunganstruktur–sifattersebut,tetapisimulasi berulangmembutuhkanbiayakomputasiyangtinggiuntukstudiparametrik dan pemilihanmaterialsecaracepat.Penelitianinimengembangkankerangka prediksi hubunganstruktur–sifatberbasisAIuntukkomposittenunmenggunakan representasi RVEskalamesoyangmemperhitungkandeformasigeometriakibat proses preforming.DatasetberbasismetodeelemenhinggadibangundiAbaqus denganmemvariasikanketebalankomposit,bentukpenampangyarn,fraksivolume, lebar yarn,jarakantar-yarn,materialserat,materialmatriks,danpolatenun. Kerangkaelemenhinggadivalidasiterhadapdataeksperimendariliteraturdengan rata-rata galatrelatifsekitar2,39%untuksifat-sifatyangberkaitandengan kekakuan.Selanjutnya,modelsurrogatehibridastatistik–neuraldikembangkan untuk memprediksi ????11, ????22, ????12, ????12, dan ????21 darigambarRVEdaninformasi geometri.Modelsurrogateakhirmenghasilkannilairata-rata ????2 sebesar 0,96untuk seluruhtargetsifatelastik,yangmenunjukkankesesuaianyangkuatterhadaphasil simulasi metodeelemenhingga.Dibandingkandenganmetodeelemenhingga konvensional,surrogateyangdikembangkanmencapaipercepatanprediksisekitar 60×, setaradenganpenguranganwaktukomputasisekitar98,3%persampel.Hasil ini menunjukkanbahwakerangkayangdiusulkandapatmenjadialatprediksisifat elastikkomposittenunberbasisAIyangakuratdanefisiendalamdomaindesain yangdihasilkan.

2026
👤 Penulis: Endrian Putra Hendrawan
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Struktur Komposit 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Tekstil

IMPLEMENTASI PURWARUPA SISTEM ASESMEN ADAPTIF BERBASIS ELO RATING DENGAN FITUR SOSIAL UNTUK MEMITIGASI OVERPERSONALIZATION

Perkembangan sistem asesmen adaptif bertujuan untuk mengoptimalkan jalur belajar individu melalui personalisasi konten pembelajaran. Namun, ketergantungan pada algoritma personalisasi yang agresif berisiko memicu fenomena overpersonalization, yang menciptakan filter bubbles akademik dan mengisolasi pemelajar dari keragaman perspektif. Kondisi ini dapat menyebabkan pengambilan sampel informasi yang selektif serta stagnasi pembelajaran (learning plateau). Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan purwarupa sistem asesmen adaptif kolaboratif. Sistem diimplementasikan menggunakan arsitektur client-server dengan algoritma Modified Elo Rating untuk memodelkan kemampuan kognitif pemelajar. Selanjutnya, mekanisme mitigasi diimplementasikan melalui deteksi stagnasi berbasis variansi perubahan skor (??) dan algoritma Constraint-Based Re-ranking untuk memasangkan pemelajar dengan sejawat yang memiliki tingkat kompetensi heterogen (Cohen’s d ? 0,5). Terakhir, evaluasi sistem dilakukan melalui Controlled Lab Study yang melibatkan sepuluh partisipan yang dibagi ke dalam kelompok intervensi dan kontrol pada domain pembelajaran SQL. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kelompok intervensi mencapai peningkatan hasil belajar yang signifikan dengan nilai Normalized Learning Gain (NLG) antara 0,57 hingga 0,69 (kategori sedang ke tinggi), sementara kelompok kontrol mengalami penurunan performa (NLG -0,21). Analisis trajektori kemahiran mengindikasikan intervensi kolaboratif mampu mengembalikan pertumbuhan belajar dengan rata-rata perbedaan gradien sebesar +0,67 setelah titik stagnasi terdeteksi. Algoritma re-ranking juga terbukti efektif menciptakan pasangan heterogen dengan rata-rata Cohen’s d sebesar 1,186. Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa integrasi intervensi sosial yang proaktif dan terautomasi menunjukkan indikasi efektif untuk memitigasi overpersonalization dalam lingkungan pembelajaran adaptif. Ke depannya penelitian dapat dikembangkan dengan rekalibrasi parameter stagnasi dan integrasi LLM untuk scaffolding peer review.

2026
👤 Penulis: Dama Dhananjaya Daliman
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Data

DEALCOHOLIZATION OF FERMENTED GRAPE (VITIS VINIFERA) BEVERAGE USING MEMBRANE TECHNOLOGY FOR FUNCTIONAL BEVERAGE PRODUCTION

Minuman fermentasi anggur (Vitis vinifera) diketahui mengandung senyawa bioaktif dengan potensi sifat fungsional yang mendukung kesehatan. Namun, keberadaan etanol masih menjadi keterbatasan utama, khususnya di wilayah dengan regulasi konsumsi alkohol yang ketat dan meningkatnya permintaan terhadap minuman rendah alkohol. Dealkoholisasi muncul sebagai solusi untuk menghasilkan minuman fermentasi rendah alkohol. Penelitian ini mengevaluasi dealkoholisasi berbasis teknologi membran menggunakan vacuum membrane distillation (VMD) dan forward osmosis (FO) untuk menurunkan kadar etanol sekaligus mempertahankan senyawa volatil dan fungsional. VMD diterapkan sebagai tahap pra-perlakuan untuk pemulihan senyawa volatil pada suhu 30°C dan 40°C menggunakan membran hollow-fiber polypropylene (PP), sedangkan FO dilakukan menggunakan membran thin-film composite (TFC) dengan draw solution 1 M CaCl?, sukrosa 65% b/v, dan campuran CaCl?–sukrosa pada 25°C dan 15°C. Konsentrasi etanol, senyawa volatil, sifat fisikokimia, total phenols content (TPC), aktivitas antioksidan, dan morfologi permukaan membran dievaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa VMD mampu memulihkan beberapa senyawa volatil, termasuk etil asetat, pentana, 3-metil-1-butanol, dan 2-metil-1-butanol. Operasi VMD pada suhu 30°C dinilai lebih menguntungkan karena membutuhkan energi yang lebih rendah. Dealkoholisasi dengan CaCl? mampu menurunkan konsentrasi etanol hingga 3,21%v/v dengan penurunan sebesar 69,6%, sedangkan proses terintegrasi VMD–FO menggunakan CaCl? mencapai penurunan etanol tertinggi sebesar 77,4%, menghasilkan minuman dengan kadar etanol 2,21%v/v. Total phenolic content sebagian besar tetap terjaga pada kisaran 213–400 mg GAE/L, sementara aktivitas antioksidan menunjukkan variasi yang bergantung pada perlakuan. Analisis SEM–EDS menunjukkan adanya deposit unsur kalsium (Ca) pada membran yang menggunakan CaCl?, mengindikasikan potensi reverse solute transport. Secara keseluruhan, VMD–FO merupakan pendekatan yang efektif untuk dealkoholisasi minuman fermentasi anggur karena memberikan penurunan etanol tertinggi sekaligus mempertahankan atribut mutu utama.

2026
👤 Penulis: Dian Pradayan Husen
🏷️ Dealkoholisasi Minuman Fermentasi Anggur 🏷️ Teknologi Membran 🏷️ Kontrol Kualitas Fungsi Fisikokimia

ANALISIS KRITERIA PENGAMBILAN KEPUTUSAN BID/NO-BID PADA TAHAP PRA-TENDER PERUSAHAAN BUMN KARYA

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kriteria dominan yang memengaruhi keputusan bid/no-bid pada tahap pra-tender di Perusahaan BUMN Karya, serta membandingkan prioritas kriteria tersebut antarperusahaan. BUMN Karya saat ini menghadapi tekanan finansial yang cukup besar, persaingan tender yang semakin ketat, serta risiko winner’s curse akibat memenangkan proyek dengan harga penawaran yang terlalu rendah. Oleh karena itu, tahapan pra-tender menjadi fase yang sangat krusial dalam menentukan kelayakan suatu peluang proyek. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods yang diawali dengan studi literatur dan pilot interview bersama pakar untuk memvalidasi kriteria awal menggunakan Thematic Analysis. Selanjutnya, data kuantitatif dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada 11 responden praktisi yang mewakili tujuh entitas BUMN Karya. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan metode Relative Importance Index (RII) untuk mengukur tingkat kepentingan setiap kriteria. Hasil penelitian menghasilkan 18 kriteria tervalidasi yang dikelompokkan ke dalam lima tema utama, yaitu karakteristik proyek, faktor internal perusahaan, situasi tender, faktor terkait klien, dan kondisi ekonomi. Analisis RII menunjukkan bahwa Ketentuan Pembayaran (RII = 1,000) dan Kemampuan Finansial Klien (RII = 0,982) merupakan faktor penentu utama (deal-breaker) dengan tingkat prioritas tertinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam pengambilan keputusan pra-tender, BUMN Karya lebih menitikberatkan pada aspek kelancaran cash flow dan mitigasi risiko finansial dibandingkan faktor teknis maupun tingkat persaingan eksternal. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi adanya perbedaan prioritas pembobotan antar-BUMN Karya yang menunjukkan variasi preferensi dan pertimbangan strategis masing-masing perusahaan dalam mengevaluasi peluang proyek pada tahap pra-tender.

2026
👤 Penulis: Nugtya Maitsaa Nahdah
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Risiko

ANALISIS PROSES DESAIN JEMBATAN SUNGAI UNTUK MENCAPAI KETANGGUHAN TERHADAP RISIKO MULTIBENCANA

Kegagalan jembatan sungai di Indonesia sering kali tidak disebabkan oleh bencana yang melampaui kapasitas desain, melainkan oleh proses desain yang belum berorientasi pada ketangguhan (robustness) terhadap risiko multi-bencana, terutama pada jembatan bentang pendek di tingkat kabupaten yang datanya terbatas dan sulit dievaluasi dengan pendekatan kuantitatif berbasis kurva fragility yang selama ini dominan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kerangka indikator proses desain berorientasi robustness, mengevaluasi kualitas proses desain pada dua kasus jembatan, serta mengidentifikasi faktor penyebab kesenjangan antara proses desain ideal dan praktik nyata. Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif (Yin, 2018) pada Jembatan Sibaganding dan Jembatan Bah Bolon di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, penelitian ini menghasilkan kerangka berisi sepuluh indikator pada tiga fase desain yang telah divalidasi oleh ahli struktur jembatan. Hasil evaluasi menunjukkan tidak ada indikator yang mencapai level tertinggi pada kedua jembatan, dengan kesenjangan yang teridentifikasi disebabkan oleh empat faktor sistemik: pagu anggaran yang mendahului investigasi teknis, review yang berorientasi kelengkapan dokumen, ketiadaan umpan balik jangka panjang, dan desain berbasis template sebagai respons rasional. Temuan ini menunjukkan bahwa kesenjangan tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan teknis, melainkan oleh kondisi sistem yang tidak memberi ruang penerapannya, sehingga kerangka ini berpotensi menjadi alat evaluasi mandiri bagi konsultan dan instansi pengelola jembatan kabupaten.

2026
👤 Penulis: Raymond G. Wijaya Saragih
🏷️ Desain Jembatan 🏷️ Ketangguhan Terhadap Risiko Multi-Bencana 🏷️ Analisis Studi Kasus Kualitatif
Halaman 44 dari 6754
💬