📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERENCANAAN MITIGASI TSUNAMI AKIBAT GEMPA ZONA SUBDUKSI SELATAN JAWA DI TELUK PACITAN, JAWA TIMUR
Teluk Pacitan yang berada di Provinsi Jawa Timur merupakan kawasan pesisir di selatan Jawa yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia dan berada pada pengaruh zona subduksi selatan Jawa. Katalog Tsunami Indonesia 416-2025, menunjukkan bahwa Jawa Timur mengalami total 11 kali gempa yang merupakan sumber dari kejadian tsunami. Pemodelan tsunami dilakukan dengan menggunakan perangkat Delft-3D dan Delft-Dashboard dengan skenario sumber gempa mengacu pada PUSGEN 2024. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gelombang tsunami tiba di Teluk Pacitan dalam waktu sekitar 21 – 31 menit, dengan tinggi gelombang maksimum di depan teluk mencapai sekitar 10 meter. Luas daerah yang tergenang diperoleh sebesar 67.8 ha. Beberapa rencana mitigasi diterapkan pada studi ini. Penerapan skenario greenbelt dapat mereduksi luas genangan sebesar 4.6%. Sementara itu, analisis variasi tinggi tsunami wall menunjukkan bahwa dengan tinggi 5 meter dapat memberikan efektivitas terbaik berdasarkan rasio pengurangan kerugian terhadap biaya investasi, dengan nilai rasio 0.376. Pada skenario ini, estimasi kerugian bangunan menurun dari Rp143,18 miliar menjadi Rp76,47 miliar.
PERENCANAAN MITIGASI TSUNAMI AKIBAT GEMPA ZONA SUBDUKSI SELATAN JAWA DI TELUK PACITAN, JAWA TIMUR
Teluk Pacitan yang berada di Provinsi Jawa Timur merupakan kawasan pesisir di selatan Jawa yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia dan berada pada pengaruh zona subduksi selatan Jawa. Katalog Tsunami Indonesia 416-2025, menunjukkan bahwa Jawa Timur mengalami total 11 kali gempa yang merupakan sumber dari kejadian tsunami. Pemodelan tsunami dilakukan dengan menggunakan perangkat Delft-3D dan Delft-Dashboard dengan skenario sumber gempa mengacu pada PUSGEN 2024. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gelombang tsunami tiba di Teluk Pacitan dalam waktu sekitar 21 – 31 menit, dengan tinggi gelombang maksimum di depan teluk mencapai sekitar 10 meter. Luas daerah yang tergenang diperoleh sebesar 67.8 ha. Beberapa rencana mitigasi diterapkan pada studi ini. Penerapan skenario greenbelt dapat mereduksi luas genangan sebesar 4.6%. Sementara itu, analisis variasi tinggi tsunami wall menunjukkan bahwa dengan tinggi 5 meter dapat memberikan efektivitas terbaik berdasarkan rasio pengurangan kerugian terhadap biaya investasi, dengan nilai rasio 0.376. Pada skenario ini, estimasi kerugian bangunan menurun dari Rp143,18 miliar menjadi Rp76,47 miliar.
ANALISIS ROBUSTNESS DAN INTERPRETABILITAS MODEL ENSEMBLE DEEP LEARNING PADA KLASIFIKASI KANKER PAYUDARA LINTAS DOMAIN
Penelitian ini bertujuan menganalisis ketahanan (robustness) dan kemampuan interpretabilitas (interpretability) model ensemble deep learning untuk klasifikasi tiga kelas citra USG payudara secara lintas domain (cross-domain). Tiga arsitektur pendukung (Shallow CNN, ResNet50, dan Swin-Tiny) dilatih menggunakan dataset BUSI dan dievaluasi pada dataset RS Kota Baru melalui pengujian zero-shot dan adaptasi fine-tuning. Categorical Focal Loss diterapkan guna menangani ketidakseimbangan data dan memprioritaskan metrik malignant recall. Model ensemble dibangun dengan mengintegrasikan ekstraksi fitur backbone menuju algoritma classifier machine learning klasik seperti KNN dan XGBoost. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa perpaduan fitur Swin-Tiny dengan classifier KNN menghasilkan performa generalisasi lintas domain terbaik. Penerapan Focal Loss terbukti efektif menekan angka false negative melalui peningkatan malignant recall yang signifikan. Selain itu, analisis Gradient-weighted Class Activation Mapping (Grad-CAM) mengonfirmasi bahwa Swin-Tiny secara konsisten memusatkan atensi pada area lesi yang relevan secara klinis dibandingkan ResNet50. Kesimpulannya, model ensemble berbasis Swin Transformer mampu memberikan prediksi diagnostik yang tangguh dan stabil di berbagai domain rumah sakit sekaligus mempertahankan transparansi keputusan klinis bagi tenaga medis.
ANALISIS RISIKO PAJANAN DEBU MIKROPLASTIK TERESPIRASI TERHADAP GANGGUAN KESEHATANPERNAPASAN PADA PEKERJA DI INDUSTRI PVC COMPOUND DI KABUPATEN TANGERANG
Industri polyvinyl chloride (PVC) compound di Kabupaten Tangerang yang meliputi pencampuran, penggilingan, dan ekstrusi resin PVC beserta bahan aditifnya berpotensi melepaskan partikel respirabel dust, termasuk mikroplastik terespirasi, ke udara lingkungan kerja. Partikel tersebut dapat terhirup oleh pekerja dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pernapasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsentrasi respirabel dust dan karakteristik mikroplastik terespirasi di udara kerja, menilai fungsi paru pekerja beserta hubungannya dengan pajanan, serta menghitung tingkat risiko kesehatan menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian menggunakan desain observasional cross-sectional terhadap 40 responden (30 kelompok terpajan dan 10 kelompok kontrol). Data dikumpulkan melalui pengukuran gravimetri respirable dust, identifikasi jenis polimer dengan Fourier Transform Infrared (FTIR) ATR, serta uji fungsi paru menggunakan spirometer, kemudian dianalisis melalui perhitungan Chronic Daily Intake (CDI) dan Hazard Quotient (HQ). Hasil menunjukkan konsentrasi respirable dust pada kelompok terpajan sebagian besar masih di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) 3 mg/m³, namun dua titik (S29 dan S30) melewati nilai ambang batas, yaitu 3,7 dan 3,2 mg/m³, dan berbeda signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p=0,002). Mikroplastik dominan teridentifikasi sebagai polyethylene, yaitu chlorosulfonated polyethylene turunan polietilena yang lazim digunakan sebagai bahan aditif atau pemodifikasi dalam PVC compound dengan nilai kecocokan spektrum (hit quality) 93 yang menunjukkan tingkat keyakinan identifikasi yang tinggi. Jumlah mikroplastik pada kelompok terpajan (27–480 partikel/sampel) jauh lebih tinggi daripada kelompok kontrol (27–58 partikel/sampel), dengan bentuk pelet (5.475 partikel) dan fiber (2.467 partikel) paling dominan. estimasi asupan (CDI) mikroplastik PE melalui inhalasi pada kelompok terpajan berkisar 22,7–579,7 partikel/kg.hari dibandingkan 25,6–55,0 partikel/kg.hari pada kelompok kontrol. Karakterisasi risiko memperoleh rata-rata HQ kelompok terpajan sebesar 1,2579±1,7782 (maksimum 7,2494), dengan 8 dari 30 pekerja (26,6%) berada pada kategori tidak aman (HQ>1), sedangkan seluruh kelompok kontrol tergolong aman. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara CDI mikroplastik dan penurunan fungsi paru (FVC p=0,919; FEV? p=0,928). Penelitian merekomendasikan pengendalian teknis berupa Local Exhaust Ventilation berfiltrasi HEPA dan surveilans kesehatan berkala.
PENGARUH VARIASI FREKUENSI PENGAPLIKASIAN BIOSTIMULAN BERBASIS RUMPUT LAUT TERHADAP KOMPONEN HASIL DAN KUALITAS JAGUNG MANIS (ZEA MAYS SACCHARATA) VARIETAS F1 PARAGON
Penelitian ini menganalisis pengaruh frekuensi aplikasi biostimulan berbasis rumput laut terhadap pertumbuhan vegetatif, laju pertumbuhan, komponen hasil, dan mutu kimia jagung manis (Zea mays saccharata). Percobaan dilaksanakan di Kebun Pendidikan SITH ITB, Haurngombong, Sumedang, pada September– Desember 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat taraf frekuensi (kontrol; 1×/minggu; 2×/minggu; 1×/2 minggu) dosis 2 g/L. Data dianalisis dengan ANOVA (? = 0,05) dan uji lanjut Duncan; laju pertumbuhan tanaman dianalisis melalui Laju Pertumbuhan Mutlak (LPM) dan Laju Pertumbuhan Relatif (LPR). Aplikasi 2×/minggu memberikan LPM tinggi tanaman tertinggi (36,4 cm/minggu; sekitar 14% di atas kontrol) serta tinggi tanaman, jumlah daun, panjang, dan bobot tongkol tanpa kelobot terbaik, sedangkan mutu (karbohidrat dan °Brix) tertinggi dicapai pada 1×/minggu. Respons antioksidan (DPPH) tidak selaras dengan mutu gula, menunjukkan adanya trade-off metabolik. Frekuensi aplikasi optimal perlu disesuaikan dengan target produksi yang diinginkan.
DINAMIKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PROSES PERANCANGAN BANGUNAN PUBLIK DI KOTA PADANG
Arsitektur di Kota Padang merupakan visualisasi sejarah dan kekuasaan yang tercermin melalui dominasi penggunaan elemen atap tradisional pada bangunan modern. Fenomena arsitektural ini didorong regulasi Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2015 yang mewajibkan simbol kearifan lokal, sehingga memicu penyeragaman visual yang repetitif di ruang publik. Penelitian ini menawarkan cara pandang baru, di mana arsitektur dilihat sebagai rekaman jejak perdebatan, kompromi, dan komunikasi antara idealisme arsitek dengan realita klien institusional. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif-analitis pada studi kasus Kantor DPRD Kota Padang dan Bagindo Aziz Chan Youth Center, penelitian ini mengungkap dinamika tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa wujud arsitektural seperti atap bagonjong atau adaptasi Kajang Padati tidak murni lahir dari visi desain yang holistik maupun respons terhadap konteks ruang, melainkan juga didikte oleh keputusan top-down. Proses perancangan sering kali terhambat oleh administrasi, intervensi selera pemimpin daerah, dan pemotongan anggaran secara tiba-tiba. Kondisi ini memaksa arsitek menurunkan kualitas eksplorasi desain menjadi sekadar pemenuhan regulasi yang cukup memuaskan demi mendapatkan persetujuan. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki signifikansi nyata dengan memberikan wawasan praktis bagi profesi arsitek dan konsultan perancang. Dengan memahami pengambilan keputusan desain, perancang dituntut untuk memiliki kemampuan negosiasi untuk menyampaikan gagasan desain juga memenuhi visi klien yang memiliki kepentingan berbeda.
PEMETAAN HAMBATAN DAN STRATEGI AKSELERASI KARIER MANAJER PROYEK PEREMPUAN DI KONTRAKTOR BUMN KONSTRUKSI INDONESIA MELALUI PENDEKATAN DEKOMPOSISI KOMPETENSI
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan spesifik yang dihadapi perempuan dalam mencapai posisi Manajer Proyek (L1P) di BUMN Konstruksi Indonesia melalui pendekatan dekomposisi kompetensi standar PMI Talent Triangle (ways of working, power skills, dan business acumen). Industri konstruksi yang kaku dengan dominasi budaya maskulin sering menciptakan fenomena glass ceiling yang menghambat mobilitas karier vertikal perempuan. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) yang terbagi dalam tiga fase: wawancara mendalam untuk validasi kompetensi, kuesioner dengan skala Likert untuk analisis Importance-Performance Analysis (IPA), serta perumusan strategi taktis menggunakan analisis SWOT-TOWS. Hasil penelitian mengidentifikasi empat subkompetensi yang termasuk dalam kategori Krusial—Sulit Dicapai (KSD) sebagai prioritas utama perbaikan, dengan skor (Tingkat Krusialitas; Tingkat Hambatan) sebagai berikut: Servant Leadership (4,643; 3,357), Conflict Management (4,679; 3,500), Emotional Intelligence (4,607; 3,571), dan Agility (4,607; 3,321). Sebagai solusi strategis, penelitian ini merumuskan program Project Manager – Graduate Development Program (PM-GDP) dan Project Manager – Medium Development Program (PM-MDP) sebagai jalur akselerasi karier terstruktur selama enam tahun. Temuan ini menjadi rujukan bagi manajemen BUMN Konstruksi untuk merumuskan kebijakan yang lebih inklusif, memitigasi hambatan kultural dan struktural, serta memastikan kesetaraan peluang pengembangan karier bagi perempuan di sektor publik.
IDENTIFIKASI BADAI GEOMAGNETIK BERDASARKAN EFEK RUSSELL – MCPHERRON PADA PERIODE 2008-2025
Badai geomagnetik merupakan gangguan global pada medan magnet Bumi yang dipicu oleh interaksi angin surya dengan magnetosfer dan diketahui menunjukkan pola musiman berupa peningkatan aktivitas pada periode ekuinoks (Maret dan September). Salah satu mekanisme yang menjelaskan pola ini adalah efek Russell-McPherron (R-M), yaitu efek geometris akibat transformasi koordinat GSE ke GSM yang menyebabkan komponen By medan magnet antarplanet (IMF) terproyeksi menjadi komponen Bz southward. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik kejadian badai geomagnetik, menganalisis perbedaan pola musiman pada fase minimum dan maksimum siklus Matahari, serta mengevaluasi kontribusi efek R-M pada periode 2008–2025 menggunakan data OMNIWeb NASA resolusi per jam. Identifikasi badai dilakukan dengan kriteria Dst ? ?50 nT, menghasilkan 515 kejadian badai yang didominasi kategori Moderate (89.71%). Analisis korelasi menunjukkan Kp memiliki keterkaitan paling kuat dengan Dst (r = ?0.52), sedangkan clock angle dan cone angle hampir tidak berkorelasi linear dengan intensitas badai. Proporsi kejadian badai pada bulan ekuinoks terhadap total kejadian per fase menurun konsisten seiring meningkatnya aktivitas Matahari, dari 46.15% pada fase minimum hingga 23.19% pada fase maksimum. Evaluasi lebih lanjut menunjukkan bahwa efek R-M tidak termanifestasi sebagai IMF Bz yang selalu lebih negatif pada ekuinoks, melainkan sebagai peningkatan efektivitas orientasi IMF dalam menghasilkan komponen southward sehingga menurunkan ambang batas terjadinya badai periode tersebut. Kontribusi efek ini terbukti jauh lebih besar pada fase minimum dibandingkan fase maksimum, karena pada fase maksimum, badai dapat dipicu sepanjang tahun oleh sumber lain seperti CME yang sering kali sudah membawa komponen Bz southward yang kuat tanpa bergantung pada geometri musiman.
ANALISIS RISIKO PAJANAN DEBU KAYU DAN PENURUNAN FUNGSI PARU-PARU PADA PEKERJA KAYU DI LINGKUNGAN PANDAI BESI
Industri pandai besi sektor informal di Desa Mekarmaju tidak hanya melibatkan penempaan logam, tetapi juga pengolahan kayu untuk gagang dan sarung pisau yang menghasilkan debu kayu respirabel secara masif. Tanpa penggunaan alat pelindung diri yang memadai, pajanan kronis ini berisiko memicu inflamasi dan penurunan fungsi paru pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kesehatan akibat pajanan debu kayu terhadap fungsi paruparu pada pekerja kayu di lingkungan pandai besi Desa Mekarmaju. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 30 pekerja terpapar dan 10 kontrol. Metodologi meliputi pengukuran konsentrasi debu respirabel menggunakan personal sampling pump selama 8 jam kerja, uji fungsi paru melalui spirometri, kuesioner karakteristik individu, serta analisis gugus fungsi kimia debu menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR). Risiko kesehatan dievaluasi melalui perhitungan Chronic Daily Intake (CDI), Hazard Index (HI), dan Odds Ratio (OR). Hasil menunjukkan rata-rata konsentrasi debu pada pekerja kayu sebesar 1,823 ± 2,6199 mg/m³, dengan 16,67% sampel melebihi NAB (3 mg/m³). Analisis statistik mengonfirmasi hubungan negatif yang signifikan antara dosis pajanan (CDI) dengan penurunan nilai Forced Vital Capacity (FVC) dan Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV1) (p < 0,001). Karakterisasi risiko mengungkap bahwa 46,67% pekerja memiliki nilai HI > 1 (rata-rata 2,9335), yang mengindikasikan tingkat pajanan membahayakan kesehatan. Peluang pekerja mengalami fungsi paru abnormal mencapai 43,5 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (OR = 43,5; 95% CI: 4,1–461).
PEMODELAN JASA EKOSISTEM SEBAGAI STRATEGI MITIGASI BENCANA BANJIR MELALUI SKENARIO PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI DAS BATANG TORU (STUDI KASUS: SIKLON SENYAR 2025)
DAS Batang Toru mengalami tekanan deforestasi yang masif dan tercatat sebagai salah satu wilayah paling terdampak bencana hidrometeorologi Siklon Senyar pada November 2025. Upaya rehabilitasi ekosistem pascabencana yang tercantum dalam rencana induk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi belum dilengkapi arahan teknis dan prioritas wilayah yang berbasis proyeksi tutupan lahan di masa depan. Penelitian ini bertujuan merumuskan arahan dan prioritas intervensi penataan ruang sebagai upaya rehabilitasi ekosistem DAS Batang Toru berdasarkan dinamika dan skenario perubahan tutupan lahan serta jasa ekosistem dalam mengatur banjir. Metode penelitian terdiri atas empat tahap: (1) Klasifikasi tutupan lahan periode 2000 hingga 2025 dilakukan menggunakan algoritma Random Forest berbasis citra Landsat, (2) Proyeksi tutupan lahan tahun 2040 melalui pendekatan Cellular Automata berbasis Weight of Evidence di perangkat lunak Dinamica EGO pada tiga skenario, yaitu Business-as-Usual, Arahan Pola Ruang (APR), dan Konservasi (KR), (3) Kapasitas retensi banjir melalui model Urban Flood Risk Mitigation dalam platform InVEST pada kondisi curah hujan normal dan ekstrem, dan (4) Arahan prioritas intervensi yang dirumuskan melalui eksplorasi kawasan dan wawancara pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan DAS Batang Toru kehilangan 17.911 hektare tutupan hutan dalam 25 tahun terakhir, didorong oleh ekspansi konsesi industri ekstraktif di hulu dan hilir DAS. Pemodelan skenario menunjukkan tujuh dari sebelas variabel spasial berpengaruh signifikan terhadap perubahan lahan, di mana skenario Arahan Pola Ruang tidak menunjukkan perbaikan berarti dibandingkan dengan skenario Business-as-Usual. Selain itu, pada kondisi curah hujan normal, DAS masih mampu menahan 72 hingga 80 persen volume hujan, namun pada intensitas ekstrem yang sebanding dengan Siklon Senyar kapasitas tersebut turun menjadi 35 hingga 42 persen. Temuan tersebut turut menggambarkan kerentanan struktural DAS Batang Toru terhadap kejadian hidrometeorologi ekstrem. Penelitian ini menghasilkan peta zonasi empat kategori prioritas intervensi, yaitu zona proteksi, degradasi, pemulihan, dan kritis sebagai dasar arahan rehabilitasi ekosistem dan revisi kebijakan tata ruang di DAS Batang Toru.
ANALISIS PERILAKU SAMBUNGAN BAJA DENGAN SISTEM MERO PADA STRUKTUR SPACE FRAME MELALUI PENDEKATAN ELEMEN HINGGA
Sambungan MERO biasanya digunakan pada konstruksi baja dengan bentuk space frames, hanya saja efek sambungan pada saat proses analisis struktur masih sering diabaikan. Untuk mencari hasil yang lebih realistis, efek sambungan harus dipertimbangkan pada saat melakukan desain analisa struktur. Perilaku sambungan MERO tergolong kompleks, hal ini dikarenakan sambungan ini terdiri dari beberapa bagian dengan properti material yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perilaku sambungan MERO yang kompleks tersebut dengan metode elemen hingga. Analisis awal adalah dengan melakukan validasi desain dan perilaku sambungan terhadap studi eksperimental terdahulu. Dari studi terdahulu didapatkan bahwasanya saat sambungan dikenakan pembebanan tarik, bagian bolt yang berperan aktif, sedangkan saat sambungan dikenakan pembebanan tekan, bagian sleeve yang berperan aktif. Hal ini berkaitan dengan pola distribusi beban sambungan dan mode keruntuhan yang dihasilkan. Pada saat pembebanan tekan, mode keruntuhan yang cenderung muncul adalah deformasi pada bagian sleeve. Sedangkan pada saat pembebanan tarik, mode keruntuhan yang muncul adalah necking pada bagian bolt. Namun pada salah satu spesimen, terdapat mode keruntuhan yang tidak diinginkan, yaitu retak pada bagian ball node pada saat kondisi pembebanan tekan. Pada penelitian ini dibuat variasi diameter bolt dan sleeve pada sambungan MERO untuk meninjau perilaku sambungan yang didasarkan pada hasil kurva load displacement beserta mode keruntuhannya. Hasil analisis menunjukkan bahwasanya variasi diameter sleeve dan bolt berpengaruh signifikan terhadap perilaku sambungan saat ditinjau dari kurva load displacement dan mode keruntuhan yang dihasilkan. Diameter sleeve dan bolt yang lebih besar pada sambungan memberikan peningkatan pada nilai kekakuan awal dan beban maksimum sambungan yang dihasilkan seiring bertambahnya luas penampang pada bagian tersebut. Untuk mengatasi mode keruntuhan yang tidak diinginkan maka dilakukan modifikasi properti material, dengan mengubah material ball node menjadi sama dengan properti material sleeve, dan modifikasi geometri, dengan mengurangi jumlah lubang pada ball node. Hasil analisis menunjukkan bahwasanya kedua modifikasi ini dapat mengubah mode keruntuhan yang semula berupa deformasi pada ball node menjadi deformasi pada sleeve. Modifikasi geometri yang dilakukan bahkan dapat meningkatkan nilai kekakuan awal sambungan sebanyak 49,16% dan nilai beban maksimum sebanyak 45,43%.
PERANCANGAN INTEGRASI EWIC DAN TAMAN KEHATI SEBAGAI URBAN ECOTOURISM HUB MELALUI PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU DAN AKSESIBILITAS KAWASAN DI KOTA CIMAHI
Kawasan Ekowisata Cimahi memiliki potensi sebagai ruang publik ekologis melalui keberadaan Ecowisata Cimahi (EWIC), Taman Keanekaragaman Hayati, hutan bambu, destinasi wisata lain di sekitarnya, dan aktivitas lokal. Namun, EWIC–Taman Kehati belum terintegrasi secara spasial, fungsional, visual, dan pengalaman ruang, sedangkan akses menuju kawasan belum mendukung keterbacaan, keselamatan, kenyamanan pejalan kaki, dan pengalaman kedatangan. Perancangan ini bertujuan mengintegrasikan EWIC–Taman Kehati sebagai Urban Ecotourism Hub melalui penataan ruang terbuka hijau dan aksesibilitas kawasan untuk memperkuat fungsi edukasi-konservasi, rekreasi, aktivasi lokal, identitas, dan kualitas ruang publik. Perancangan ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan metode prosedural fragmental process. Metode perancangan yang diterapkan meliputi problem solving dan optimizing melalui metode analisis evaluasi semu (pseudo-evaluation) untuk mengidentifikasi kesenjangan (gap) antara prinsip normatif dengan kondisi eksisting. Data diperoleh melalui observasi, pemetaan, dokumentasi, wawancara, studi literatur, dan studi preseden. Hasil analisis menunjukkan bahwa ruang inti masih terfragmentasi, zonasi aktivitas belum operasional, fasilitas dan aktivitas belum terhubung, jalur pedestrian serta sistem sirkulasi dan parkir belum memadai, signage dan wayfinding belum konsisten, serta lanskap bambu memerlukan perlindungan dan pengendalian aktivitas. Hasil perancangan diwujudkan melalui tema “Terobosan: Ngamumule Awi – Living Ecology of Urban Ecotourism” dengan prinsip Caring Ecology, Connected Journey, dan Living Locality. Strategi desain meliputi pembagian zona aktif–transisi–konservasi, penguatan koridor akses dan pengalaman kedatangan, penyediaan pusat informasi, Bangunan Fasilitas Terpadu, jalur pedestrian dan interpretasi, sistem parkir terkendali, signage–wayfinding, ruang komunal dan Pasar Awi Campernik, serta konservasi hutan bambu dengan desain rendah dampak. Perancangan ini menghasilkan sistem kawasan yang menghubungkan konservasi, edukasi, rekreasi, aksesibilitas, dan kehidupan lokal, sehingga EWIC–Taman Kehati dapat berfungsi sebagai hub ekowisata perkotaan yang terintegrasi, mudah dipahami, beridentitas, dan berkelanjutan.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN HARGA LAHAN RESIDENSIAL DI SEKITAR GERBANG TOL PAMULIHAN JALAN TOL CISUMDAWU
Beroperasinya Gerbang Tol Pamulihan pada Jalan Tol Cisumdawu sejak awal 2022 mengubah aksesibilitas Kecamatan Pamulihan dan Tanjungsari, dua kecamatan agraris peri-urban yang sebelumnya relatif terisolasi dari Kota Bandung, hal ini berpotensi mendorong kapitalisasi nilai lahan, meskipun kajian mengenai hal ini pada konteks peri-urban Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan harga lahan residensial di sekitar Gerbang Tol Pamulihan melalui tiga sasaran, yaitu mengidentifikasi faktor yang memengaruhi harga lahan, pola persebarannya, dan model harga lahannya, pada radius dua kilometer yang mencakup lima desa dengan seratus responden. Penelitian menggunakan analisis konten dari lima penelitian terdahulu untuk menyintesis variabel, analisis spasial dengan Inverse Distance Weighting untuk memetakan pola persebaran harga lahan dari tahun 2017 sampai 2026, serta regresi linear berganda dengan Ordinary Least Square mengikuti kerangka Hedonic Pricing Model untuk membentuk model harga lahan. Hasil analisis konten menyaring enam belas variabel yang melalui backward elimination menghasilkan enam variabel signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen, yaitu bentuk lahan, lebar jalan depan lahan, luas bangunan, jarak ke gerbang tol, jarak ke SMA terdekat, dan jarak ke jalan nasional. Rata-rata harga lahan naik 130,2 persen dari tahun 2017 ke 2026, dengan model regresi yang memenuhi seluruh uji asumsi klasik dan menghasilkan Adjusted R Square sebesar 0,627. Temuan menarik adalah jarak ke gerbang tol berpengaruh positif terhadap harga lahan, menunjukkan donut effect, karena lahan yang terlalu dekat titik akses tol menghadapi eksternalitas negatif berupa kebisingan dan kemacetan. Variabel aksesibilitas jalan, baik lebar jalan depan lahan maupun jarak ke jalan nasional, terbukti lebih dominan dibandingkan kedekatan langsung dengan gerbang tol, sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi dasar empiris bagi Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam menentukan arahan zonasi kepadatan permukiman di kawasan sekitar Gerbang Tol Pamulihan.
KETERGANTUNGAN PADA BENCHMARK DAN ABNORMAL RETURN DI PASAR MODAL INDONESIA: DAMPAK REKONSTITUSI INDEKS GLOBAL, KESENJANGAN TATA KELOLA, DAN KERANGKA KEBIJAKAN PENGAWASAN - KEPERILAKUAN
Penelitian ini mengkaji pola abnormal return yang terkait dengan peristiwa rekonstitusi indeks MSCI di Indonesia serta implikasinya terhadap tata kelola benchmark dan kebijakan pasar modal, dilatarbelakangi oleh meningkatnya pengaruh indeks acuan global terhadap arus modal, perilaku investor, dan valuasi di pasar negara berkembang dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi. Berlandaskan pada Market Microstructure Theory sebagai lensa analitis, bersama Efficient Market Hypothesis, Behavioral Finance, dan Teori Investasi dan Manajemen Portofolio, penelitian ini menggunakan studi peristiwa tiga lapis terhadap lima saham Indonesia yang terafiliasi konglomerasi, menggunakan MSCI Indonesia Index sebagai benchmark utama dan indeks komposit serta sektoral sebagai spesifikasi pendukung, dilengkapi dengan analisis peristiwa eksklusi dan kajian tata kelola komparatif, untuk menilai apakah abnormal return terkait MSCI mencerminkan price pressure atau strategic pre-positioning. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama. Pertama, peristiwa inklusi MSCI menghasilkan CAAR pra-pengumuman sebesar +72,9% pada spesifikasi utama MSCI Indonesia Index (t = 5,618, ? = 0,01) selama 120 hari, dikuatkan oleh spesifikasi komposit (+54,4%, ? = 0,10) dan sektoral (+49,9%), sementara peristiwa standar tidak menghasilkan CAAR positif yang berkelanjutan, lebih konsisten dengan strategic pre-positioning dibanding price pressure. Kedua, interim freeze MSCI Januari 2026 yang digunakan sebagai proksi eksklusi menghasilkan reaksi negatif yang persisten pada spesifikasi utama tanpa pemulihan, sementara spesifikasi komposit dan sektoral hanya menunjukkan respons negatif jangka pendek yang diikuti pemulihan, mengindikasikan modal domestik dan modal internasional menafsirkan freeze tersebut secara berbeda. Ketiga, pengumuman eksklusi MSCI 13 Mei 2026 memberikan bukti langsung efek yang tajam dan berkelanjutan: AAR sebesar ?10,2% pada spesifikasi utama pada T = 0, dengan CAAR memburuk menjadi ?56,5% pada T+5, mencapai titik terdalam ?76,0% pada T+7, sebelum mereda menjadi ?41,0% pada T+10, dikuatkan oleh spesifikasi sektoral (?9,3% menjadi ?25,0%) dan komposit (?8,9% menjadi ?27,8%). Keempat, kajian tata kelola mengidentifikasi empat kesenjangan yang saling memperkuat, yaitu kesenjangan deteksi pengawasan, institutional stewardship, tata kelola administrasi benchmark, dan informasi-perilaku investor ritel. Penelitian ini mengusulkan empat mekanisme pelengkap bagi OJK, yaitu BENS, Institutional Stewardship Code, Benchmark Administrator Regulation, serta Framing, Disclosure, and Retail Literacy Reform.
PENGARUH SUHU TERHADAP SINTESIS HIJAU PARTIKEL KITOSAN DARI SELONGSONG LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS) MENGGUNAKAN EKSTRAK TANAMAN MATA LELE (LEMNA MINOR)
Larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens) merupakan agen biokonversi yang berpotensi sebagai sumber kitosan alternatif karena tingginya kandungan kitin, terutama pada limbah selongsong larvanya. Kitosan ini dapat diubah menjadi partikel yang memiliki pengaplikasian yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh suhu pada proses sintesis hijau (green synthesis) partikel kitosan dari selongsong larva lalat tentara hitam menggunakan ekstrak air tanaman mata lele (Lemna minor) dengan variasi suhu 40°C, 50°C, dan 60°C. Ekstraksi kitosan dilakukan melalui proses penghilangan lemak, mineral, dan protein untuk mengisolasi kitin, yang kemudian ditransformasi melalui deasetilasi menggunakan NaOH. Dari ekstraksi tersebut didapatkan kitosan dengan derajat deasetilasi berdasarkan fourier transform infrared mencapai 87,27% dengan yield 13,95 ± 2,13% dan tingkat kelarutan dalam asam asetat 2 mg/mL. Ekstrak tanaman mata lele diperoleh melalui maserasi air untuk mengekstrak kandungan fenolik dan flavonoid. Hasil uji spektrofotometri menunjukkan kandungan total fenolik 3,32 ± 0,12 mg GAE/L dan total flavonoid 3,80 ± 0,18 mg QE/L yang mengindikasikan potensinya sebagai agen taut silang (crosslinker), penstabil, dan penudung (capping). Sintesis partikel dilakukan dengan mencampurkan larutan kitosan dan ekstrak tanaman dengan rasio volume 1:1 di dalam incubator shaker pada agitasi 110 rpm selama 1 jam, dengan variasi suhu 40°C, 50°C, dan 60°C. Hasil karakterisasi scanning electron microscope memperlihatkan morfologi partikel berbentuk bundar, sementara analisis dynamic light scattering dan potensial zeta menunjukkan rata-rata ukuran partikel berkisar dari 175,67 hingga 278,33 nm dengan muatan zeta +31,73 hingga +41,50 mV. Dari hasil pengukuran juga teramati bahwa peningkatan suhu sejalan dengan peningkatan ratarata ukuran dan muatan zeta partikel. Dari penelitian ini, didapatkan bahwa senyawa fenolik dan flavonoid pada ekstrak tanaman mata lele terbukti dapat digunakan dalam sintesis hijau partikel kitosan dari selongsong lalat tentara hitam, di mana ukuran dan stabilitas nanopartikelnya dipengaruhi oleh suhu.