📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenEVALUASI KOMPARATIF MODEL SVR, RANDOM FOREST, DAN AARTIFICIAL NEURAL NETWORK YANG DIOPTIMALKAN ALGORITMA GENETIKA UNTUK ESTIMASI KEBUTUHAN AIR
Sektor pertanian mengonsumsi porsi terbesar dari cadangan air tawar global, sehingga peningkatan efisiensi manajemen air melalui pertanian presisi berbasis Internet of Things (IoT) menjadi sangat krusial. Estimasi evapotranspirasi (ET) yang akurat merupakan komponen utama dalam menentukan kebutuhan air tanaman. Namun, perhitungannya secara konvensional seringkali terkendala oleh keterbatasan data parameter kelingkungan di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengevaluasi komparasi performa algoritma machine learning—yakni Support Vector Regression (SVR), Random Forest (RF), Artificial Neural Network (ANN), dan hibrida Genetic Algorithm - Machine Learning (GA-ML)—dalam memprediksi nilai ET menggunakan data mikroklimat. Suhu, kelembapan, kecepatan angin, curah hujan, dan intensitas cahaya dikumpulkan melalui sensor mikroklimat di perkebunan kopi di Malang selama periode September 2023 hingga Januari 2024. Model dievaluasi menggunakan berbagai skenario set fitur untuk menguji ketahanannya terhadap potensi ketiadaan atau kegagalan sensor di lapangan. Kinerja model diukur menggunakan Mean Squared Error (MSE) dan koefisien determinasi (R²). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model hibrida ANN yang dioptimasi oleh Algoritma Genetika (ANN_GA_Features) memberikan performa prediksi terbaik secara absolut dengan nilai R² 0.999494 dan MSE 0.000013. Walaupun demikian, ANN sangat sensitif terhadap hilangnya fitur utama seperti intensitas, suhu, dan kelembaban. Sebaliknya, model RF menunjukkan stabilitas (robustness) saat dihadapkan pada skenario ketiadaan data penting, dengan tetap mampu mempertahankan R² sebesar 0.978939 ketika data intensitas cahaya dihilangkan. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan model ANN-GA dengan akurasi yang tinggi, serta penggunaan RF untuk sistem IoT low-cost dengan ketersiediaan sensor terbatas. Selain itu, perangkat lunak dan keras cerdas untuk irigasi dapat dioptimalkan efisiensi biayanya dengan memprioritaskan sensor kelembapan dan intensitas cahaya, serta mereduksi sensor angin dan curah hujan di lingkungan dengan komoditas dan kondisi mikroklimat serupa.
ANALISIS DAMPAK KEBERADAAN FLYOVER TERHADAP KINERJA SIMPANG BERSINYAL IBRAHIM ADJIE - TERUSAN JAKARTA KOTA BANDUNG
Pertumbuhan kendaraan bermotor yang pesat di Kota Bandung meningkatkan beban lalu lintas pada Simpang Ibrahim Adjie – Terusan Jakarta Antapani, simpang bersinyal empat lengan yang telah dilengkapi Flyover Jaksa Agung R. Soeprapto untuk mengalihkan sebagian arus menerus timur–barat, namun efektivitasnya terhadap kinerja simpang secara keseluruhan belum dievaluasi secara terukur. Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja lalu lintas eksisting simpang, mengukur dampak keberadaan flyover melalui perbandingan kondisi dengan dan tanpa flyover, serta membandingkan hasil analisis antara metode Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023 dan pemodelan mikrosimulasi PTV Vissim, pada periode jam puncak pagi dan sore dengan parameter derajat kejenuhan, tundaan, panjang antrean, dan rasio kendaraan henti. Hasil penelitian menunjukkan dampak flyover bersifat kondisional terhadap periode waktupada sore hari, ketika arus mendekati kapasitas, ketidakberadaan flyover meningkatkan panjang antrean sebesar 102,0–115,6% dan tundaan sebesar 72,1–206,1%; sedangkan pada pagi hari dampaknya tidak konsisten akibat perbedaan filosofi pengaturan waktu sinyal antar skenario. Perbandingan kedua metode menunjukkan kesesuaian tinggi pada kondisi arus rendah, namun deviasi meningkat signifikan seiring derajat kejenuhan mendekati satu, terutama pada panjang antrean. Keterbatasan geometrik lajur Belok Kiri Jalan Terus turut menjadi faktor deviasi tambahan yang hanya mampu direpresentasikan model mikroskopik PTV Vissim.
ANALISIS MODEL LOTKA-VOLTERRA TIGA DIMENSI PADA KOMPETISI PERUSAHAAN ASURANSI JIWA DI INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan dan menganalisis dinamika kompetisi antarperusahaan asuransi jiwa di Indonesia menggunakan model Lotka–Volterra tiga dimensi. Model ini diformulasikan untuk merepresentasikan interaksi dan pengaruh timbal balik antarperusahaan berdasarkan data pendapatan premi bulanan. Parameter-parameter model diestimasi menggunakan data historis sehingga mencerminkan karakteristik pertumbuhan internal masing-masing perusahaan serta pengaruh kompetitif dari perusahaan lain. Selanjutnya, dilakukan analisis titik ekuilibrium dan kestabilan sistem untuk mengidentifikasi kondisi keseimbangan kompetisi antarperusahaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem memiliki titik ekuilibrium yang merepresentasikan kondisi kompetisi tertentu, dengan sifat kestabilan yang menggambarkan kecenderungan sistem dalam jangka panjang. Selain itu, analisis dinamika sistem menunjukkan bahwa perubahan kinerja satu perusahaan dapat memengaruhi perkembangan perusahaan lain, sehingga kompetisi antarperusahaan asuransi jiwa bersifat dinamis dan saling berkaitan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kuantitatif mengenai pola kompetisi dalam industri asuransi jiwa di Indonesi
INTERVENSI INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI DALAM RANGKA PENERAPAN KONSEP 15-MINUTE NEIGHBORHOOD PADA KAMPUNG KOTA DI SEKITAR KAWASAN TOD MRT JAKARTA
Pembangunan TOD MRT Jakarta membawa level baru pada mobilitas DKI Jakarta. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa MRT Jakarta menjadi moda transportasi paling modern andalan masyarakat. Akan tetapi, di balik itu pelayanan first and last mile (FLM) travel masih sering kurang dipertimbangkan sehingga kualitas FLM pada layanan MRT Jakarta belum sepenuhnya memuaskan bagi pengguna. Di sisi lain, masih terdapat area pinggiran berupa kampung kota di sekitar kawasan TOD MRT Jakarta yang masih terhambat aksesibilitasnya terhadap infrastruktur perkotaan, salah satunya infrastruktur perkotaan. Konsep 15-minute neighborhood berpotensi untuk menjembatani kedua permasalahan aksesibilitas yang terjadi dengan menerapkan prinsip perancangan kawasan yang dapat mengakses fungsi - fungsi sosial perkotaan hanya dengan 15 menit durasi perjalanan melalui moda berjalan kaki atau bersepeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk intervensi infrastruktur transportasi yang dapat diterapkan pada kampung kota di sekitar kawasan TOD MRT Jakarta dalam rangka menerapkan konsep 15-minute neighborhood. Tujuan ini dicapai melalui tiga tahap, identifikasi kecamatan potensial, identifikasi bentuk dan kuantitas kebutuhan infrastruktur transportasi, serta estimasi biaya dan metode pembiayaan yang dibutuhkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Tanah Abang dan Kecamatan Setiabudi memiliki tingkat aksesibilitas kawasan permukiman terhadap layanan dasar fungsi sosial perkotaan paling tinggi sehingga berpotensial untuk menerapkan konsep 15-minute neighborhood. Meskipun begitu, didapatkan bahwa masih terdapat kebutuhan untuk menyediakan jalur khusus pejalan kaki dan pesepeda serta penerapan traffic calming pada jalan lingkungan dan gang-gang permukiman untuk memprioritaskan mobilitas pejalan kaki dan pesepeda. Penyediaan infrastruktur transportasi ini dinilai masih dapat dipenuhi melalui APBD DKI Jakarta dengan tetap terbuka pada peluang kontribusi dari pihak swasta.
KARAKTERISTIK DAN EVOLUSI ATENUASI DEBU GALAKSI PEMBENTUK BINTANG REDSHIFT TINGGI 1 < Z < 7 PADA SURVEI JADES
Atenuasi debu merupakan fenomena fundamental dalam evolusi galaksi yang menyebabkan peredupan cahaya akibat mekanisme hamburan dan penyerapan oleh debu antarbintang. Penelitian ini mengarakterisasi evolusi atenuasi debu pada galaksi pembentuk bintang (starforming galaxies) terhadap redshift, sekaligus mengeksplorasi korelasinya terhadap laju pembentukan bintang (star formation rate, SFR) dan metalisitas galaksi. Analisis dilakukan pada dua wilayah: awan kelahiran bintang menggunakan Balmer decrement, dan di awan antar bintang (interstellar Medium, ISM) dari katalog Spectral Energy Distribution (SED) fitting. Data bersumber dari katalog spektroskopi JWST Advanced Deep Extragalactic Survey (JADES) menggunakan instrumen NIRSpec mode Micro-shutter Assembly (MSA). Sampel mencakup 314 galaksi pada 1 < z < 7. Hasil menunjukkan pemerahan di awan kelahiran bintang dan di awan antar bintang berperilaku berbeda terhadap total massa bintang di galaksi. Korelasi antara Balmer decrement dan massa bintang melemah signifikan seiring bertambahnya redshift, sementara korelasi antar-indikator SFR tetap kuat di seluruh rentang redshift. Metalisitas gas turut mengonfirmasi ambang kritis pertumbuhan debu di sekitar 12 + log(O/H) ? 8, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa atenuasi debu pada redshift tinggi memerlukan pendekatan multi-parameter, tidak cukup dijelaskan oleh massa bintang saja. Studi ini memberikan batasan observasional bagi evolusi atenuasi debu pada fase awal pembentukan struktur alam semesta.
PENGEMBANGAN GENTENG BETON DENGAN SUBSTITUSI LIMBAH BIOMASSA SERBUK SABUT KELAPA (COIR PITH) UNTUK MENGURANGI DAMPAK PADA LINGKUNGAN
Penambangan pasir sebagai agregat halus terus meningkat seiring pertumbuhan sektor konstruksi dan menimbulkan tekanan terhadap lingkungan. Di sisi lain, Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia menghasilkan limbah biomassa coir pith (serbuk sabut kelapa) dalam jumlah besar yang belum banyak dimanfaatkan. Penelitian ini mengembangkan genteng beton dengan substitusi parsial agregat halus menggunakan coir pith sebagai upaya mendukung konservasi pasir alam sekaligus memberikan nilai tambah pada limbah biomassa kelapa. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik coir pith sebagai material substitusi agregat halus, menganalisis pengaruh substitusinya terhadap karakteristik fisik, mekanis, dan termal genteng beton, menghitung reduksi embodied carbon, serta mengevaluasi performa termal bangunan rumah tinggal. Genteng beton dibuat menggunakan semen, air, superplasticizer, dan pasir dengan empat variasi substitusi coir pith berbasis volume, yaitu 0% (CP-0 sebagai kontrol), 2% (CP-2), 4% (CP-4), dan 6% (CP-6) serta variasi 5%. sebagai data validasi. Substitusi dilakukan berbasis volume absolut karena disparitas berat jenis yang ekstrem antara coir pith dan pasir. Coir pith diberi perlakuan pre-wetting sebelum pencampuran untuk mengendalikan kebutuhan air campuran sekaligus memicu efek internal curing. Pengujian karakteristik mengacu pada SNI 0096:2007, meliputi beban lentur, penyerapan air, rembesan air, densitas, dan konduktivitas termal. Reduksi embodied carbon dihitung pada batas cradle-to-gate (A1–A3), sementara performa termal bangunan rumah tipe 36 disimulasikan menggunakan EnergyPlus/OpenStudio pada dua skenario, yaitu kondisi free-running tanpa penghuni dan kondisi dengan beban pendinginan. Hasil pengujian menunjukkan coir pith memiliki modulus kehalusan setara pasir (2,81 berbanding 2,80), namun berat jenisnya jauh lebih rendah (0,12 berbanding 2,60) dengan kadar air dan penyerapan air yang jauh lebih tinggi, menegaskan karakternya sebagai agregat ringan organik yang berpori. Seluruh variasi memenuhi persyaratan minimum beban lentur SNI 0096:2007, dengan nilai tertinggi pada CP-2 yang meningkat hingga 46,7% terhadap kontrol sebelum menurun pada kadar substitusi lebih tinggi. Sebaliknya, seluruh variasi belum memenuhi persyaratan maksimum penyerapan air SNI 0096:2007 sebesar 10%, sehingga penyerapan air menjadi kendala utama yang membatasi kelayakan substitusi. Pengujian rembesan air menunjukkan seluruh variasi lolos dengan performa setara. Densitas cenderung menurun sejalan dengan karakter material ringan, sementara konduktivitas termal menurun konsisten seiring bertambahnya kadar coir pith, dengan nilai terendah pada CP-6 sekitar 0,346 W/m·K dibanding 0,467 W/m·K pada kontrol, atau turun sekitar 26%. Pada aspek lingkungan, substitusi coir pith menurunkan embodied carbon meskipun dalam proporsi kecil, yaitu sekitar 0,18% pada CP-6, dan menekan penggunaan pasir hingga sekitar 9,86 kg per unit rumah tipe 36. Simulasi termal menunjukkan penurunan konduktivitas termal genteng memperpanjang durasi kenyamanan termal ruang pada kondisi free-running, serta menghasilkan penghematan neto energi pendinginan tahunan sebesar 316,12 kWh atau 1,03% pada kondisi dengan beban pendinginan. Secara keseluruhan, substitusi coir pith berpotensi menghasilkan genteng beton yang lebih ringan dengan performa termal lebih baik dan penggunaan pasir yang lebih hemat, meskipun tingginya penyerapan air masih menjadi kendala yang perlu ditangani sebelum diterapkan secara luas. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa data karakteristik coir pith pada produk genteng beton non-struktural sekaligus memetakan batas kelayakan substitusinya sebagai dasar bagi penelitian lanjutan.
PENGEMBANGAN AI BERBASIS ADVERSARIAL COLLABORATION UNTUK DECISION SUPPORT PERSIDANGAN HUKUM
Peradilan pidana membutuhkan proses pengambilan keputusan yang konsisten, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Namun, meningkatnya kompleksitas perkara dan beban penanganan kasus menyebabkan inkonsistensi putusan. Di sisi lain, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai decision support system pada domain hukum menghadapi berbagai tantangan, meliputi keterbatasan legal knowledge, rendahnya kemampuan penalaran hukum, serta kecenderungan menghasilkan hallucination. Oleh karena itu, Tugas Akhir ini bertujuan mengevaluasi pendekatan Multi-Agent Adversarial Collaboration dalam menghasilkan argumentasi hukum yang komprehensif dan halusinasi yang rendah, membandingkan kinerjanya dengan sistem benchmark, serta mengidentifikasi komponen yang paling berkontribusi terhadap analisis putusan hukum. Tugas Akhir ini menggunakan metodologi CRISP-DM yang meliputi tahapan business understanding untuk mengidentifikasi kebutuhan sistem analisis hukum, data understanding untuk memahami data, serta data preparation untuk menyusun legal knowledge base. Pada tahap modelling, data diproses melalui chunking, embedding, dan indexing untuk membangun legal knowledge base. Selanjutnya, dibangun sistem Decision Support Persidangan Hukum berbasis Multi-Agent Adversarial Collaboration yang didukung retrieval, memory, validation layer, dan judge layer Pada tahap evaluasi, sistem memperoleh nilai Context Precision sebesar 0,9280, Context Recall sebesar 0,8453, MRR sebesar 0,7663, dan Precision@2 sebesar 0,7011. Evaluasi kualitas argumentasi menghasilkan nilai Faithfulness sebesar 0,7276 pada KUHP dan 0,7011 pada yurisprudensi.Validasi ahli hukum menunjukkan argumentasi yang dihasilkan memiliki skor rata-rata 3.26.. Selain itu, sistem Multi-Agent menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan sistem benchmark dengan Macro F1-Score sebesar 0,72 pada penentuan pasal KUHP dan nilai error prediksi lama hukuman sebesar 0,2908. Hasil ablation study mengidentifikasi memory sebagai komponen yang paling berkontribusi. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, sistem terbukti menghasilkan analisis hukum yang komprehensif, mengurangi hallucination, dan meningkatkan kualitas prediksi putusan.
STUDI GEOLOGI DAN GEOKIMIA FLUIDA PANAS BUMI DAERAH CIATER, KABUPATEN SUBANG, PROVINSI JAWA BARAT
Sistem Panas Bumi Ciater merupakan salah satu daerah prospek untuk pengembangan pemanfaatan energi panas bumi secara langsung (direct use). Meskipun demikian, pemahaman mengenai karakteristik sistem dan sumber dayanya masih memerlukan studi lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik sistem dan mengestimasi potensi sumber daya panas bumi di daerah Ciater. Metode penelitian meliputi integrasi data pemetaan geologi dan geokimia fluida panas bumi yang diperoleh dari Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (PSDMBP-ESDM). Integrasi kedua data tersebut menjadi dasar pengembangan model konseptual Sistem Panas Bumi Ciater. Litologi daerah penelitian yang berkembang sejak fase Pra-Sunda hingga Tangkuban Parahu Muda dari tua ke muda tersusun atas Satuan Basalt Pilotaksitik (35%), Satuan Basalt Vesikular (15%), serta tuf litik dan tuf gelas Satuan Piroklastik (50%). Struktur geologi dominan berorientasi timur laut-barat daya (NE-SW) yang mengontrol permeabilitas reservoir dan jalur migrasi fluida ke permukaan. Sistem Panas Bumi Ciater berasosiasi dengan sistem utama Gunung Tangkuban Parahu. Zona upflow Sistem Panas Bumi Ciater berada di area selatan, sementara zona outflow berada di area utara. Manifestasi panas bumi di daerah penelitian berupa mata air panas. Fluida hidrotermal dominan berasal dari air meteorik lokal yang mendapat pengaruh gas magmatik Tangkuban Parahu. Air panas Ciater bertipe klorida-sulfat tidak setimbang (immature water). Sistem Ciater diklasifikasikan sebagai sistem entalpi sedang dengan estimasi temperatur reservoir 170±10? berdasarkan diagram pencampuran SiO2. Dengan estimasi sumber daya spekulatif sebesar 25±5 MWe berdasarkan metode hilang panas alamiah, sistem ini berpotensi untuk dikembangkan dalam pemanfaatan panas bumi secara langsung (direct use).
PREFERENSI PEMILIHAN MODA WISATA DI KOTA PAGAR ALAM
Transportasi merupakan aspek penting dalam menunjang mobilitas wisatawan menuju destinasi wisata. Kota Pagar Alam merupakan salah satu wilayah yang menjadi destinasi utama di kawasan Provinsi Sumatra Selatan, namun layanan transportasi wisata masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi pemilihan moda transportasi wisata di Kota Pagar Alam. Stated Preference (SP) adalah pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode survei daring dengan responden sebanyak 307 responden. Analisis ini digunakan dengan Model Multinomial Logit (MNL) dengan alternatif moda berupa angkutan pariwisata, sewa mobil, dan sewa motor. Variabel yang dianalisis meliputi biaya perjalanan, waktu tempuh, amenitas, jenis kelamin, umur dan tingkat pendapatan. Kebaruan dari penelitian ini adalah atribut amenitas yaitu pemberian snack dan minuman yang akan dianalisis bersama biaya perjalanan dan waktu tempuh dalam model pemilihan moda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya perjalanan dan waktu tempuh memiliki pengaruh negatif terhadap probabilitas pemilihan moda, sedangkan amenitas yang berupa snack dan minuman memiliki pengaruh positif signifikan terhadap angkutan pariwisata. Berdasarkan hasil probabilitas pemilihan moda, angkutan pariwisata memiliki probabilitas tertinggi dibandingkan alternatif lainnya. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa wisatawan cenderung beralih ke moda sewa motor ketika terjadi peningkatan biaya dan waktu perjalanan pada angkutan pariwisata. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah agar dapat merancang sistem angkutan wisata yang sesuai dengan keinginan wisatawan serta memperkaya kajian terkait pemilihan moda transportasi wisata.
PENGARUH VARIASI KECEPATAN PENGADUKAN PADA SINTESIS HIJAU NANOPARTIKEL KITOSAN DARI EKSUVIA LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS) MENGGUNAKAN EKSTRAK TANAMAN MATA LELE (LEMNA MINOR)
Biokonversi limbah organik menggunakan lalat tentara hitam (Hermetia illucens) menghasilkan produk samping berupa eksuvia larva yang kaya akan kitin, sebuah prekursor biopolimer kitosan. Modifikasi kitosan menjadi nanopartikel dapat meningkatkan reaktivitas dan bioaktivitas material secara signifikan untuk berbagai aplikasi. Namun, metode sintesis konvensional umumnya mengandalkan agen kimia yang berpotensi toksik dan tidak berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis nanopartikel kitosan dari eksuvia larva H. illucens melalui pendekatan sintesis hijau (green synthesis) menggunakan ekstrak tanaman mata lele (Lemna minor) sebagai agen sintesis, serta mengevaluasi pengaruh kecepatan pengadukan terhadap karakteristik akhir nanopartikel dengan variasi kecepatan pengadukan 55, 110, dan 220 rpm. Tahapan penelitian meliputi ekstraksi kitosan, preparasi dan purifikasi ekstrak L. minor, sintesis nanopartikel kitosan, serta karakterisasi nanopartikel. Hasil pengujian pada ekstrak mata lele menunjukkan kadar total fenolik sebesar 3,32 ± 0,12 mg GAE/L dan flavonoid 3,80 ± 0,18 mg QE/L, yang dapat berperan sebagai agen pentaut dan penstabil dalam pembentukan nanopartikel. Proses deasetilasi dari kitin eksuvia lalat tentara hitam menghasilkan perolehan kitosan sebesar 13,95 ± 2,13% dengan derajat deasetilasi 87% dan kelarutan 2 mg/mL dalam asam asetat 1%. Pada karakterisasi nanopartikel, didapatkan bahwa peningkatan kecepatan pengadukan berbanding lurus dengan reduksi ukuran partikel, namun berbanding terbalik dengan nilai potensial zeta dan perolehan pembentukan nanopartikel yang mengindikasikan bahwa gaya geser mekanis dari pengadukan dapat mencegah aglomerasi partikel. Kondisi sintesis optimum dicapai pada kecepatan pengadukan 220 rpm, yang menghasilkan nanopartikel dengan ukuran rata-rata terkecil (174,00 ± 24,51 nm) dan stabilitas suspensi yang baik (-32,53 ± 1,98 mV). Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode sintesis hijau menggunakan ekstrak L. minor bisa menjadi alternatif berkelanjutan untuk proses sintesis nanopartikel kitosan dari eksuvia lalat tentara hitam.
PENYEIMBANGAN PERLINDUNGAN PASAR DAN EFISIENSI OPERASIONAL: PENYESUAIAN STRATEGIS INDUSTRI BAJA NASIONAL INDONESIA
Sektor baja Indonesia saat ini berpusat pada dua ekosistem utama yang saling bersaing, yaitu PT Krakatau Steel (KRAS) dan grup, produsen baja milik negara di Jawa, dan pabrik-pabrik baja terintegrasi yang didirikan melalui penanaman modal asing di Kawasan Industri Indonesia Morowali (IMIP). Konfigurasi ini memunculkan tantangan dalam analisis menggunakan kerangka persaingan konvensional, dikarenakan ancaman terbesar bagi produsen nasional kini datang dari dalam negeri dan bukan dari impor, sehingga tidak dapat terjangkau oleh tarif dan tindakan pengamanan perdagangan. Dengan melakukan analisis terhadap utilisasi pabrik Hot Strip Mill 1 (HSM-1) milik KRAS selama periode 2015–2024, tesis ini menguji proposisi utama, yaitu ketidakmampuan KRAS untuk menutupi biaya operasional bersifat struktural dan peningkatan efisiensi internal saja tidak cukup untuk mengembalikan daya saing. Hal ini didorong oleh komposisi biaya dan utilisasi pabrik yang rendah, dan dapat diperparah dengan masuknya Morowali baru-baru ini, Studi ini mensintesis dua kerangka teori untuk melakukan evaluasi masalah dan memberikan solusi. Studi ini menggunakan pendekatan paradigma Structure Conduct-Performance (SCP) dalam proses evaluasi masalah dan mengacu pada Developmental State Model dalam pembuatan rekomendasi solusi. Proses penyusunan rekomendasi mengadopsi mekanisme kendali timbal balik Amsden sebagai prinsip operasinya, di mana negara hanya memberikan dukungan berdasarkan tolok ukur kinerja yang terukur. Studi ini memiliki tiga tujuan yaitu mengukur hal-hal yang mendorong penurunan utilisasi HSM-1, mengukur kelemahan biaya terstruktur yang dimiliki KRAS, dan merancang intervensi pada tingkat ekosistem industri yang dapat mengembalikan kemampuan keberlangsungan usaha sekaligus menjaga disiplin dalam berkompetisi. Selanjutnya, metode penelitian campuran sekuensial eksplanatori digunakan dalam studi ini untuk melakukan analisis dua tahap. Tahapan kuantitatif dilakukan untuk membangun dasar empiris dengan menggunakan empat instrumen, berlandaskan pada analisis Cost-Volume-Profit (CVP) dan model selisih biaya bayangan. Model CVP mengklasifikasikan setiap unit biaya spesifik di seluruh interval operasi KRAS untuk memperoleh titik impas volume produksi, margin pengaman, dan efek pengaruh operasi dari data-data laporan keuangan yang sudah diaudit. Model selisih biaya bayangan membandingkan KRAS dengan Morowali sebagai acuan biaya terendah, analisis regresi kemudian mengukur pola kesesuaian, dan analisis skenario mengolah diagnosis menjadi pilihan kebijakan. Tahap kualitatif berupa wawancara ahli kemudian memvalidasi dan menyempurnakan temuan ini. Analisis CVP menunjukkan bahwa HSM-1 hanya mencapai titik impas dalam empat dari sepuluh tahun. Dengan biaya tetap rata-rata USD 350–560 juta per tahun dan besaran margin yang terkendala oleh slab impor, fasilitas tersebut membutuhkan volume 0.3–49.8 persen di atas nilai-nilai yang telah dicapai untuk mencapai titik impas di tahun-tahun lainnya. Tesis ini menunjukkan bahwa hal ini menunjukkan ciri-ciri Perangkap Profitabilitas-Utilisasi. Model selisih biaya bayangan menunjukan KRAS berada USD 125–200 per ton di atas basis biaya Morowali. Analisis skenario menunjukkan bahwa intervensi modal negara bertahap melalui Danantara, dimulai dengan pengaktifan kembali tanur tiup dan fasilitas pengolahan baja senilai sekitar USD 90 juta, menurunkan ambang batas titik impas dari sekitar 1.518 menjadi 1.248 ribu ton. Pengurangan 270 kt ini terbagi antara pemulihan harga yang didorong oleh tarif (119 kt) dan biaya variabel yang lebih rendah dari slab dalam negeri (151 kt). Hasil ini mendukung strategi Ekspansi dan Bertahanmelalui integrasi pembuatan baja hulu, penegakan konten lokal sebesar 40 persen, penutupan celah reklasifikasi tarif pada baja paduan impor, dan pencapaian pendanaan dengan pengkondisian kinerja. Tesis ini menerapkan paradigma SCP untuk menganalisis kegagalan pasar ekosistem ganda di mana ancaman utama bersifat domestik daripada lintas batas. Tesis ini juga mengusulkan konsep Perangkap Profitabilitas-Utilisasi sebagai konstruksi yang berlandaskan CVP serta mengintegrasikan mekanisme kendali timbal balik Amsden dengan SCP untuk menentukan kapan intervensi negara untuk membangun daya saing yang tepat dan bukan ketergantungan, dengan model yang dapat diterapkan untuk industri padat modal di pasar negara berkembang.
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN SKRINING KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK DAN FRAKSI BIOAKTIF DARK SEPTATE ENDOPHYTE (DSE) KNUFIA SP. CPPS-9
Penggunaan antimikroba dalam mengatasi infeksi secara global telah banyak disalahgunakan akibat penggunaan yang tidak tepat sehingga telah banyak memicu fenomena Antimicrobial Resistance (AMR) yang berbahaya. Eksplorasi sumber potensial antimikroba alternatif menjadi solusi dalam menghadapi permasalahan ini. Jamur endofit mampu menghasilkan beragam metabolit sekunder melalui simbiosis mutualisme dengan sel inang sehingga dapat menjadi sumber potensial antimikroba alami. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antimikroba pada ekstrak dan fraksi DSE Knufia sp. CPPS-9 terhadap E. coli, S. aureus, dan C. albicans serta mengidentifikasi kandungan kimia dalam ekstrak, fraksi bioaktif, dan subfraksi terpilih. Hasil fermentasi DSE Knufia sp. CPPS-9 dipisahkan melalui sentrifugasi menjadi fase biomassa dan supernatan. Ekstraksi fase biomassa dilakukan dengan Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE) menggunakan metanol, sedangkan fase supernatan dilakukan dengan Ekstraksi Cair-Cair (ECC) menggunakan etil asetat. Ekstraksi dilakukan sebanyak tiga siklus untuk optimasi yield. Fraksinasi dilakukan menggunakan kromatografi radial dengan fase gerak sistem gradien dari nonpolar ke polar. Pemisahan fraksi didasarkan pada pita yang muncul di bawah UV 366 nm. Diperoleh 8 fraksi gabungan biomassa dan 5 fraksi gabungan supernatan. Subfraksinasi fraksi terpilih dilakukan menggunakan KLT preparatif. Setiap ekstrak, fraksi, dan subfraksi dipantau menggunakan KLT dengan reagen spesifik. Pengujian aktivitas antimikroba ditentukan melalui KHM dan KBM pada ekstrak dan fraksi melalui metode broth microdilution dan drop test. Ekstrak dan fraksi biomassa serta supernatan menunjukkan aktivitas antimikroba lemah hingga moderat terhadap S. aureus, sementara terhadap C. albicans aktivitas lemah hanya teramati pada fraksi supernatan. Tidak ada aktivitas yang teramati terhadap E. coli pada seluruh ekstrak dan fraksi. Hasil identifikasi golongan senyawa pada ekstrak, fraksi, dan subfraksi BM1 diduga mengandung senyawa golongan steroid/triterpenoid, terpenoid, dan kumarin. Hasil penelitian ini menunjukkan DSE Knufia sp. CPPS-9 berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif antimikroba sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi senyawa aktifnya.
USULAN STRATEGI KOMUNIKASI DANA LESTARI LULUSAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG BERDASARKAN FAKTOR YANG MEMENGARUHI INTENSI BERKONTRIBUSI MELEBIHI KEWAJIBAN
Sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH), sebagian besar pendanaan operasional Institut Teknologi Bandung (ITB) berasal dari pembiayaan non-APBN dan non-UKT, salah satunya dari dana lestari yang dikelola oleh BPUDL ITB. Salah satu segmen dengan jumlah donatur terbanyak bagi BPUDL ITB adalah mahasiswa yang wajib berkontribusi melalui program Dana Lestari Lulusan ITB. Namun, penghimpunan dana donasi tersebut belum pernah mencapai target dan mayoritas lulusan ITB hanya membayar nominal minimum tanpa inisiatif melebihkan nominal donasi (upselling). Oleh karena itu, diperlukan identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi intensi calon lulusan ITB untuk berkontribusi melebihi kewajiban minimum (intention to contribute beyond obligation) sebagai dasar perumusan usulan strategi komunikasi bagi BPUDL ITB. Penelitian ini mengacu pada penelitian Arnett dkk. (2003), Brady dkk. (2002), dan Chen dkk. (2021). Model penelitian ini diolah dengan metode partial least square structural equation modeling (PLS-SEM) dan dengan memakai data 210 responden mahasiswa ITB yang sedang mengerjakan tugas akhir/tesis/disertasi. Hasil analisis menunjukkan delapan hipotesis yang berpengaruh signifikan. Konstruk identity salience dan trust berperan sebagai mediator terhadap intention to contribute beyond obligation. Tingkat kepentingan dan performa setiap faktor tersebut diukur menggunakan importance-performance map analysis (IPMA). Konstruk identity salience, trust, dan perceived need dipilih sebagai prioritas dengan kepentingan tertinggi. Analisis multigroup analysis (MGA) menunjukkan content quality dan platform reputation lebih berperan membentuk trust pada calon lulusan yang belum mengenal program, sedangkan institutional credibility lebih berperan dominan pada calon lulusan yang sudah mengenal program. Hasil penelitian ini adalah usulan strategi komunikasi bagi BPUDL ITB melalui kerangka source-message-channel. Pada level pesan (message), dirumuskan tiga prioritas: (1) pengaktifan identity salience melalui konten transformational appeal yang mengasosiasi kontribusi dengan identitas dan pengalaman selama di ITB; (2) peningkatan trust melalui konten informational appeal sesuai dengan tingkat pengetahuan calon lulusan; dan (3) penguatan persepsi calon lulusan atas kebutuhan ITB terhadap bantuan dari mahasiswanya. BPUDL ITB tetap berperan sebagai sumber pesan utama yang didukung saluran pesan yang berasal dari kolaborasi dengan akun resmi ITB dan saluran di tingkat fakultas dan program studi karena kredibilitas dan kedekatannya dengan calon lulusan ITB.
PENGARUH VARIASI RASIO KITOSAN DAN EKSTRAK TANAMAN PADA SINTESIS HIJAU PARTIKEL KITOSAN DARI SELONGSONG LARVA LALAT TENTARA HITAM (HEMERTIA ILLUCENS) MENGGUNAKAN EKSTRAK TANAMAN MATA LELE (LEMNA MINOR)
Larva lalat tentara hitam (LTH, Hermetia illucens) dan tanaman mata lele (Lemna minor) berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku sintesis hijau partikel kitosan yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi produktivitas L. minor, karakteristik kitosan dari eksuvia larva LTH, serta perolehan, morfologi, ukuran, kestabilan, dan aktivitas antimikroba partikel kitosan yang disintesis dengan variasi rasio volumetrik kitosan:ekstrak L. minor (1:1, 1:2, 2:1). Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan relatif L. minor sebesar 0,14 ± 0,016 frond.hari?¹ dengan waktu pelipatgandaan 5,47 ± 0,61 hari, serta kandungan fenolik dan flavonoid total ekstrak berturut-turut 3,32 ± 0,12 mg GAE/L dan 3,80 ± 0,18 mg QE/L. Kitosan yang diekstraksi dari eksuvia LTH memiliki perolehan 13,95 ± 2,13% dengan derajat deasetilasi 87,3%. Sintesis partikel kitosan menghasilkan perolehan 10,88–29,13% tanpa perbedaan signifikan antarrasio (p > 0,05), morfologi sferis pada seluruh perlakuan dengan indikasi aglomerasi pada rasio kitosan rendah, serta ukuran partikel (179,83–287 nm) dan potensial zeta (+32,17 hingga +39,9 mV) yang dipengaruhi signifikan oleh rasio kitosan:ekstrak (p < 0,05). Analisis FTIR mengonfirmasi keberhasilan inkorporasi senyawa fitokimia ke dalam struktur partikel kitosan melalui interaksi nonkovalen. Aktivitas antimikroba terhadap E. coli dan S. aureus tergolong sangat rendah pada seluruh perlakuan, diduga akibat konsentrasi partikel yang rendah (<2 mg/mL). Penelitian ini menunjukkan bahwa rasio kitosan:ekstrak tanaman berpengaruh terhadap karakteristik fisik partikel kitosan, meskipun optimasi lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan bioaktivitasnya.
KEWAJIBAN IMBALAN PASCAKERJA PSAK 219 MENGGUNAKAN PROJECTED UNIT CREDIT MULTIPLE DECREMENT DENGAN MODIFIKASI TINGKAT DISKONTO
Pengukuran kewajiban imbalan pascakerja sesuai PSAK 219 dipengaruhi oleh asumsi aktuaria dan tingkat diskonto yang digunakan. Umumnya menggunakan pendekatan Single Decrement (SD) dan satu tingkat diskonto untuk seluruh peserta, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan berbagai kemungkinan penyebab keluar peserta sebelum usia pensiun normal maupun perbedaan karakteristik sisa masa kerja peserta. Maka, penelitian ini bertujuan untuk menyusun tabel Multiple Decrement (MD) dari tabel SD, menentukan tingkat diskonto berdasarkan segmentasi Masa Kerja Yang Akan Datang (MKYAD) menggunakan kurva imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang diterbitkan oleh IBPA, serta menganalisis pengaruhnya terhadap nilai Current Service Cost (CSC) dan Present Value of Defined Benefit Obligation (PVDBO) menggunakan metode Projected Unit Credit (PUC). Tabel MD disusun menggunakan asumsi Uniform Distribution of Decrements (UDD) dengan mempertimbangkan empat penyebab decrement, yaitu meninggal dunia, cacat, mengundurkan diri, dan pensiun normal. Tingkat diskonto ditentukan berdasarkan nilai Average Remaining Working Lifetime (ARWL) pada setiap kelompok MKYAD dan mengacu pada kurva imbal hasil IBPA, dengan interpolasi linear untuk tenor yang tidak tersedia. Asumsi yang digunakan meliputi mortalitas TMI IV 2019, tingkat cacat sebesar 1% dari mortalitas, tingkat pengunduran diri berdasarkan kelompok usia, usia pensiun normal 57 tahun, dan tingkat kenaikan gaji sebesar 5% per tahun. Hasil penelitian sesuai tanggal valuasi 2 Oktober 2025 menunjukkan bahwa kelompok MKYAD jangka pendek, menengah, dan panjang memiliki ARWL masing-masing sebesar 5,81 tahun, 14,71 tahun, dan 27,35 tahun dengan tingkat diskonto 5,7343%, 6,7312%, dan 6,8733%. Penggunaan model MD menghasilkan nilai kewajiban yang lebih rendah dibandingkan model SD. Model MD menghasilkan total CSC sebesar Rp 3.811.103.682 dan PVDBO sebesar Rp 44.187.464.043, atau lebih rendah masing-masing sebesar 25,90% dan 37,98% dibandingkan model SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model MD dan tingkat diskonto berbasis segmentasi MKYAD menghasilkan pengukuran kewajiban imbalan pascakerja yang lebih mencerminkan karakteristik peserta.