📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

KOMUNITAS BURUNG PADA EMPAT TUTUPAN LAHAN SEPANJANG SUNGAI CI GEDE GUNUNG SAWAL, CIAMIS, JAWA BARAT

Gunung Sawal merupakan gunung hutan hujan tropis di Ciamis, Jawa Barat. Gunung Sawal merupakan habitat bagi satwa endemik dari beragam taksa, salah satunya adalah avifauna (burung) yang memiliki beragam jasa ekologi bagi manusia. Gunung ini dilewati oleh beragam sungai yang merupakan zona riparian, salah satunya adalah Sungai Ci Gede, yang membentang dari area non konservasi hingga Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan perbedaan komunitas burung di area non konservasi dan konservasi serta area prioritas konservasi di sepanjang Sungai Ci Gede, Gunung Sawal. Penelitian dilakukan pada empat tutupan lahan, yaitu kebun (KB), agroforestri (AG), Suaka Margasatwa area peralihan (PR), dan area curug (CR). Penelitian dilaksanakan pada tanggal 27 Juni – 12 Juli 2025, menggunakan metode pengamatan point count radius 50 meter dengan total 12 titik pengamatan. Pengamatan pagi dilakukan selama 12 periode (15 menit/periode) dalam rentang waktu pukul 06:00 – 10:00 WIB. Perbedaan komunitas burung dianalisis dengan menghitung taxonomic diversity (diversity index, Non-metric Multidimensional Scaling (NMDS), dan Shannon Entropy Heatmap) serta functional diversity (Multifaceted Functional Diversity (MFD). Penentuan area prioritas konservasi dianalisis menggunakan Conservation Value Index (CVI). Berdasarkan hasil penelitian, tercatat 49 spesies, 28 famili, dan 1.919 individu burung. Analisis NMDS menunjukkan bahwa terdapat komunitas burung yang berbeda pada area konservasi (PR dan CR) dan non konservasi (KB dan AG) yang kekerabatannya divisualisasikan dengan Heatmap Shannon Entropy. Keanekaragaman spesies tertinggi dijumpai pada tutupan lahan agroforestri (AG) (H’ = 2,511). Analisis MFD menunjukkan adanya keragaman relung spesies berdasarkan traits fungsional berupa feeding guild dan stratum vegetasi. Komunitas burung yang merupakan spesies forest-dependent hanya ditemui di area konservasi (Suaka Margasatwa area peralihan (PR) & area curug (CR)). Sedangkan spesies generalis dapat ditemukan di seluruh tutupan lahan. Analisis CVI menunjukkan bahwa kebun (KB) merupakan tutupan lahan dengan dengan nilai prioritas konservasi tertinggi, yaitu 12.602 karena terdapat perjumpaan dengan elang jawa (Nisaetus bartelsi Stresseman, 1994) dengan status konservasi IUCN Endangered (EN).

2026
👤 Penulis: Kayra Prajna Setiadi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

ANALISIS MULTI-LEVEL PERSPECTIVE PADA KASUS PROGRAM PENGEMBANGAN LEMBAGA PENGELOLA SAMPAH TINGKAT KAWASAN DI KOTA BANDUNG

Krisis persampahan di Kota Bandung, khususnya pasca keterbatasan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, menunjukkan perlunya transformasi sistem pengelolaan sampah yang selama ini didominasi pendekatan angkut-buang. Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, dikembangkan Program Pembentukan Lembaga Pengelola Sampah Tingkat Kelurahan (PSTK) yang bertujuan memperkuat pengelolaan sampah organik berbasis pada kelurahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses pembentukan dan pengembangan PSTK sebagai inovasi kelembagaan dalam transisi pengelolaan sampah perkotaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus pada PSTK di Kelurahan Panjunan dan Kelurahan Nyengseret, Kota Bandung. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan kerangka Multi-Level Perspective (MLP), Microfoundations of Sustainability Transitions, Institutional Complexity, dan Niche Configurations untuk memahami interaksi antara inovasi, aktor, institusi, serta dinamika perubahan dalam sistem pengelolaan sampah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PSTK berkembang sebagai institutional niche yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengolahan sampah organik, tetapi juga sebagai inovasi tata kelola yang mengintegrasikan perubahan perilaku, penguatan kapasitas masyarakat, dan pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis kelurahan. Perkembangan PSTK berlangsung dalam situasi institutional complexity yang ditandai oleh interaksi antara logika lingkungan, logika administratif negara, logika komunitas, dan logika ekonomi sirkular yang memengaruhi arah pengembangan kelembagaan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa transisi yang terjadi tidak mengarah pada penggantian rezim pengelolaan sampah yang telah ada, melainkan pada proses incremental regime adaptation, yaitu adaptasi rezim melalui integrasi inovasi kelembagaan yang berkembang pada level niche. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan analisis transisi persampahan melalui integrasi perspektif MLP, microfoundations, dan institutional complexity untuk menunjukkan bahwa niche dalam transisi pengelolaan sampah tidak selalu berbentuk inovasi teknologi, tetapi dapat berupa inovasi kelembagaan yang berperan sebagai arena negosiasi berbagai logika kelembagaan dalam mendorong transformasi sistem pengelolaan sampah perkotaan.

2026
👤 Penulis: Mochamad Andi Nurfauzi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Institusi Komunitas

PERANCANGAN INDUSTRI PRODUKSI TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM) KERING IRISAN DAN BUBUK

Tomat merupakan komoditas hortikultura dengan produksi tinggi di Indonesia, namun memiliki kadar air yang sangat tinggi (93–95%) sehingga mudah mengalami kerusakan dan kehilangan hasil (food loss) selama penyimpanan dan distribusi. Kondisi ini menyebabkan umur simpan tomat relatif pendek serta fluktuasi harga saat panen raya. Salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan pascapanen adalah melalui proses pengeringan yang dapat menurunkan kadar air, menghambat pertumbuhan mikroorganisme, memperpanjang umur simpan, serta meningkatkan nilai tambah tomat. Namun, untuk menghasilkan tomat kering dengan mutu yang baik, proses pengeringan perlu didukung oleh tahapan pengolahan yang tepat. Oleh karena itu, diperlukan perancangan proses yang terintegrasi guna menjaga kualitas produk selama pengolahan hingga penyimpanan. Perancangan industri ini bertujuan menghasilkan produk tomat kering dalam bentuk irisan dan bubuk yang berkualitas, aman, serta memiliki umur simpan yang lebih panjang. Sistem produksi dirancang secara terintegrasi mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi. Inovasi yang diterapkan meliputi pre-treatment menggunakan kalium metabisulfit (K?S?O?) dan kalsium klorida (CaCl?), pengeringan menggunakan food dehydrator, serta pengemasan vakum. Pre-treatment berfungsi untuk mempertahankan warna, tekstur, dan kandungan nutrisi, sedangkan food dehydrator akan memberikan hasil pengeringan yang lebih merata dan terkontrol. Pengemasan vakum digunakan untuk menghambat oksidasi dan pertumbuhan mikroorganisme sehingga dapat memperpanjang umur simpan tomat kering. Kapasitas produksi dirancang menggunakan 579 kg tomat segar per batch yang akan menghasilkan 248 kemasan irisan tomat kering serta 58 kemasan tomat bubuk, dengan bobot masing-masing 100 gram dan total produksi sekitar 984 kg per bulan. Sistem produksi menerapkan konsep zero waste, yaitu irisan tomat yang tidak memenuhi standar estetika diolah menjadi bubuk sehingga pemanfaatan bahan baku lebih optimal. Produk yang dihasilkan memiliki kadar air rendah, mutu mikrobiologis stabil, umur simpan lebih panjang, serta kandungan nutrisi dan antioksidan yang tetap terjaga. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri ini layak dijalankan dengan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp3.016.032.531, Internal Rate of Return (IRR) 34%, Benefit Cost Ratio (BCR) 1,9, dan Payback Period (PP) selama 2 tahun 3 bulan. Analisis sensitivitas menunjukkan usaha masih layak pada kenaikan biaya bahan baku hingga 54% serta penurunan harga jual maupun volume penjualan hingga 13%.

2026
👤 Penulis: Nabila Rahma Faiza Heryanto
🏷️ Produksi Hidroponik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS PROGRAM PEMELIHARAAN JALAN BERDASARKAN PAVEMENT CONDITION INDEX (PCI), INTERNATIONAL ROUGHNESS INDEX (IRI), DAN PRESENT SERVICEABILITY INDEX (PSI) (STUDI KASUS: TOL CISUMDAWU SEKSI CIMALAKA–PASEH)

Jalan Tol Cisumdawu Seksi Cimalaka-Paseh merupakan ruas jalan tol dengan perkerasan kaku yang memerlukan program pemeliharaan untuk dapat mempertahankan kondisi fungsional perkerasan agar dapat melayani dengan optimum. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi perkerasan jalan berdasarkan Pavement Condition Index (PCI), International Roughness Index (IRI), dan Present Serviceability Index (PSI), memprediksi penurunan kondisi perkerasan selama 5 tahun, serta menyusun program pemeliharaan jalan berdasarkan decision tree sesuai SE Dirjen Bina Marga No. 09/SE/Db/2021. Selanjutnya dilakukan evaluasi kesesuaian penerapan decision tree pada jalan tol dan dilakukan penyesuaian nilai ambang batas IRI sesuai dengan Standar Pelayanan Minimum Jalan Tol pada decision tree. Berdasarkan hasil penilaian kondisi eksisting pada tahun 2024, lajur L2, L1, dan R1 memiliki nilai IRI rata-rata sebesar 3,9 m/km, sedangkan lajur R2 4,1 m/km. Adapun hasil penilaian PCI 2025 adalah “Sangat Baik” dengan nilai rata-rata di atas 85 pada keempat lajur. Sementara itu, nilai PSI tahun 2024 menunjukkan bahwa kenyamanan berkendara lajur L2 dan R1 dinilai “Cukup” dengan nilai PSI 2,0 dan pada lajur L1 dan R2 dinilai “Buruk” dengan nilai 1,9. Hasil predikisi menunjukkan adanya kecenderungan penurunan kondisi perkerasan selama periode analisis. Program pemeliharaan didominasi oleh pemeliharaan rutin dan preventif dengan estimasi kebutuhan biaya paling tinggi pada tahun 2025 sebesar Rp 1,723 Miliyar. Program pemeliharaan mampu memperlambat laju deteriorasi perkerasan, namun perlu dilakukan penyesuaian ambang batas IRI berdasarkan SPM jalan tol. Usulan penyesuaian ambang batas IRI pada decision tree mampu membuat nilai IRI memenuhi ambang batas SPM, namun dibutuhkan biaya pemeliharaan yang sangat besar pada tahun awal.

2026
👤 Penulis: Sisca Rizki Utami
🏷️ Kepeliharan Jalan Tol 🏷️ Analisis Kondisi Perkerasan 🏷️ Decision Tree Dalam Manajemen Pemeliharaan

ANALISIS DINAMIKA SENTIMEN BERITA DALAM PREDIKSI PERGERAKAN HARGA SAHAM UBER MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION

Pasar saham merupakan sistem kompleks nonlinear dimana dinamika pergerakan harganya sangat dipengaruhi oleh berbagai macam variabel termasuk data nonkuantitatif seperti informasi, opini publik, dan sentimen pasar. Keterbatasan model finansial dalam melakukan prediksi harga saham mendorong fokus pengembangan arsitektur model yang menggunakan integrasi data kualitatif dan kuantitatif pasar saham. Dalam penelitian ini, dirancang arsitektur model untuk memprediksi pergerakan harga saham Uber Technologies Inc. menggunakan algoritma backpropagation yang mengintegrasikan data sentimen berita dengan data historis harga saham. Data berita finansial dikumpulkan dengan menggunakan Google News API dalam rentang lima tahun dari 28 Desember 2020 hingga 5 Januari 2026. Reaksi pasar saham terhadap berita dianalisis dengan Event Study Methodology untuk meninjau abnormal return dalam tiga rentang waktu. Hasil prediksi menunjukkan bahwa model berhasil memprediksi harga saham dengan nilai ???? 2 sebesar 0,9684, ???????????? sebesar 3,7791, ???????????????? sebesar 1,9439, dan ???????????? sebesar 1,3868. Pengujian korelasi Spearman menunjukkan tidak adanya hubungan antara sentimen berita dengan pergerakan harga saham Uber (???????? = 0,0223 dan ???????????????????????? = 0,4291 ). Analisis dinamika pergerakan harga saham yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tren naik-turun saham Uber tidak digerakkan oleh sentimen berita harian saja, tetapi oleh berbagai macam faktor struktural. Fitur sentimen akan bermanfaat jika digunakan secara nonlinear bersama indikator teknikal lainnya.

2026
👤 Penulis: Sean Maximilliano Raffaele M
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Sentimen Berita 🏷️ Manajemen Pasar Saham

PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO BAGONG, KABUPATEN TRENGGALEK, JAWA TIMUR.

Kebutuhan listrik di Indonesia terus meningkat sehingga diperlukan pemanfaatan energi terbarukan yang lebih berkelanjutan. PLTMH Bagong yang berlokasi di Desa Sengon, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu potensi energi air yang dapat dikembangkan untuk mendukung penyediaan listrik. PLTMH Bagong direncanakan sebagai pembangkit tipe storage dengan memanfaatkan air dari Waduk Bendungan Bagong. Selain berfungsi mereduksi debit banjir rencana periode ulang 100 tahun dari 311.41 m³/s menjadi 217.94 m³/s, tampungan bendungan juga menyediakan debit andalan maksimum dengan probabilitas 80% sebesar 1.88 m³/s untuk pembangkitan listrik. Berdasarkan hasil perhitungan, PLTMH Bagong mampu menghasilkan daya maksimum sebesar 0.88 MW, daya minimum sebesar 0.08 MW, dan produksi energi tahunan sebesar 4.55 GWh. Dari aspek ekonomi, biaya konstruksi PLTMH Bagong direncanakan sebesar Rp16.198 miliar, dengan nilai Payback Period sebesar 9.95 tahun dan Benefit Cost Ratio sebesar 1.76. Nilai tersebut menunjukkan bahwa PLTMH Bagong layak secara ekonomi dan berpotensi memenuhi kebutuhan listrik sekitar 2872 penduduk per tahun.

2026
👤 Penulis: Gefira Nur Shabrina
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Ekonomi Pembangkit Listrik Mikrohidro

DEVELOPMENT OF A NUMERICAL FRAMEWORK FOR FITNESS FOR SERVICE ASSESSMENT OF FATIGUE CRACK GROWTH IN STEAM TURBINE COMPONENTS

Steam turbines are critical components in geothermal power plants because their reliability directly affects power generation continuity. Turbine blades operate under centrifugal load, steam pressure, cyclic excitation, wet steam, and corrosion, which may promote pitting and fatigue crack growth. Once a pit behaves as a crack like flaw, the component requires a defect based assessment to estimate whether it can continue operating safely. This research develops a numerical framework for Fitness for Service (FFS) assessment of fatigue crack growth in steam turbine components. The framework integrates steady computational fluid dynamic (CFD) pressure loading, global finite element analysis (FEA), local cracked submodeling, stress intensity factor (SIF) post-processing, and Paris law based remaining life calculation. A simplified American Iron and Steel Institute (AISI) grade 410 steam turbine blade was used as the main assessment case. The CFD pressure field was applied using a blade passing frequency (BPF) based pressure multiplier to represent cyclic pressure fluctuation. The global model identified the critical stress hotspot, while the local extended finite element method (XFEM) cracked submodel was used to calculate mixed mode stress intensity factors. The result shows that the blade crack reaches the critical region between 6 mm and 7 mm, with an estimated remaining life of approximately 23 years from an initial crack length of 1 mm. A comparative shroud case produced a much lower crack driving force. Analytical validation using an edge cracked plate showed differences below 2%, indicating that the proposed framework is reliable at the analytical benchmark level.

2026
👤 Penulis: Ahmad Faizun
🏷️ Kedalaman Karat Penuaan 🏷️ Analisis Keandalan (Fitness For Service) 🏷️ Hidrologi Teknik

EVALUASI DISTRIBUSI AIR BERDASARKAN RENCANA OPERASIONAL DAN DATA OBSERVASI MENGGUNAKAN PEMODELAN PASOKAN AIR DAN HIDROLIK DI SISTEM BENDUNGAN IR. H. DJUANDA – SALURAN TARUM UTARA

Sistem distribusi air dari Bendungan Ir. H. Djuanda menuju Bendung Curug, Bendung Walahar, hingga Saluran Tarum Utara merupakan infrastruktur strategis yang berperan dalam penyediaan air untuk sektor irigasi, domestik, dan industri di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Sistem ini melayani lebih dari 230.000 ha daerah irigasi serta memasok air baku bagi kawasan industri dan kebutuhan domestik di Provinsi Jawa Barat. Keandalan sistem sangat bergantung pada kesesuaian antara debit rencana, debit operasional, dan debit aktual di lapangan. Namun, kompleksitas operasi jaringan, perubahan karakteristik aliran, serta keterbatasan sistem pemantauan menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian debit (discharge imbalance, ?Q) yang berpotensi menurunkan akurasi neraca air, keandalan distribusi, dan tingkat pemenuhan kebutuhan air. Penelitian terdahulu umumnya mengevaluasi aspek hidrologi, hidraulik, atau distribusi air secara terpisah sehingga belum mampu menjelaskan penyebab ketidaksesuaian debit secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan memvalidasi faktor-faktor penyebab ketidaksesuaian debit, mengembangkan pendekatan Integrated Discharge Evaluation yang mengintegrasikan analisis hidrologi, hidraulik, dan distribusi air, mengevaluasi pengaruh ketidaksesuaian debit terhadap kinerja distribusi air, serta menyusun skenario operasional untuk meningkatkan keandalan dan efisiensi distribusi air pada Sistem Jatiluhur. Penelitian menggunakan data operasional Bendungan Ir. H. Djuanda, Bendung Curug, Bendung Walahar, serta Saluran Tarum Barat (STB), Saluran Tarum Timur (STT), dan Saluran Tarum Utara (STU) selama periode 2021 hingga 2025. Validasi lapangan dilakukan melalui pengukuran debit menggunakan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) pada 18 titik pengamatan. Analisis hidrologi dilakukan menggunakan metode F.J. Mock untuk mengestimasi kontribusi aliran sungai, sedangkan rekonstruksi hidraulik dilakukan menggunakan HEC-RAS dengan simulasi unsteady flow. Evaluasi distribusi air dan skenario operasional dilakukan menggunakan River Basin Simulation Model (RIBASIM). Selain itu, dilakukan analisis manfaat ekonomi pemanfaatan air pada sektor irigasi, domestik, dan industri berdasarkan hasil simulasi distribusi air. Hasil penelitian menunjukkan kehilangan debit sebesar 31,42 m³/s pada ruas Bendungan Ir. H. Djuanda hingga Bendung Curug dan sebesar 30,37 m³/s pada ruas Bendung Curug hingga Bendung Walahar. Ketidaksesuaian debit dipengaruhi oleh kombinasi faktor hidrologi, hidraulik, operasional, dan keterbatasan sistem pemantauan. Faktor dominan meliputi ketidakpastian debit pelepasan Bendungan Ir. H. Djuanda sebesar ±28,60 m³/s (±9%), deviasi debit Sungai Cikao sebesar ±2,82 m³/s (±27%), kontribusi aliran Sungai Cilangkap, Sungai Ciampel, dan Sungai Cibarukbuk, penurunan kapasitas efektif saluran akibat sedimentasi, pembuangan debit melalui PHTB, keberadaan gorong-gorong menuju Cipule, serta pengambilan air untuk irigasi nonteknis yang belum termonitor secara memadai. Faktor-faktor tersebut meningkatkan ketidakpastian neraca air dan menyebabkan deviasi antara debit hasil simulasi, data operasional, dan hasil pengukuran lapangan. Evaluasi distribusi air menunjukkan bahwa Saluran Tarum Utara memiliki tingkat keandalan terendah dengan rasio pemenuhan kebutuhan air sebesar 83,42 hingga 99,45% pada kondisi eksisting. Skenario Operasional 2 memberikan kinerja terbaik dengan meningkatkan rasio pemenuhan kebutuhan air menjadi 97,26 hingga 99,98% serta meningkatkan manfaat ekonomi pemanfaatan air dari Rp3,39 triliun menjadi Rp4,05 triliun atau sekitar 19,5% dibandingkan kondisi eksisting. Penelitian ini menghasilkan pendekatan Integrated Discharge Evaluation sebagai kerangka evaluasi terpadu yang mengintegrasikan validasi hidrometri lapangan, analisis hidrologi, rekonstruksi hidraulik, evaluasi distribusi air, dan analisis skenario operasional dalam satu pendekatan sistematis. Pendekatan ini mampu mengidentifikasi penyebab utama ketidaksesuaian debit, mengevaluasi dampaknya terhadap keandalan distribusi air, serta mendukung penyusunan strategi operasi yang lebih adaptif, efisien, dan berbasis data. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi metodologis bagi pengembangan evaluasi sistem distribusi air skala besar sekaligus menyediakan rekomendasi praktis untuk meningkatkan akurasi neraca air, efektivitas sistem pemantauan, dan keandalan pengelolaan distribusi air pada Sistem Jatiluhur maupun sistem distribusi air sejenis di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Maulya Wijayanthi Sulistiyani
🏷️ Hidrologi 🏷️ Distribusi Air 🏷️ Integrasi Hidraulik-Hidrologi

ANALISIS HUBUNGAN FAKTOR IKLIM TERHADAP RISIKO DEMAM BERDARAH DI SULAWESI

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang ditularkan oleh nyamuk Aedes dan penyebarannya dipengaruhi oleh faktor iklim, seperti suhu, curah hujan, dan kelembapan relatif. Hubungan antara faktor iklim dan kejadian DBD bersifat kompleks karena menunjukkan pola nonlinier serta efek keterlambatan (lag), sehingga diperlukan pendekatan pemodelan yang mampu mengakomodasi karakteristik tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan nonlinier dan efek lag antara faktor iklim dan kejadian DBD, menentukan spesifikasi model Distributed Lag Nonlinear Model (DLNM) terbaik, mengevaluasi kemampuan prediktif model, serta menginterpretasikan hubungan antara faktor iklim dan kejadian DBD berdasarkan estimasi Relative Risk (RR). Penelitian ini menggunakan data bulanan periode Januari 2019 hingga Oktober 2024 pada Kota Palu, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Buton Selatan, Kabupaten Buton Utara, dan Kabupaten Buton. Variabel respons berupa jumlah kasus DBD, sedangkan variabel prediktor meliputi suhu rata-rata, curah hujan, dan kelembapan relatif. Pemodelan dilakukan menggunakan Distributed Lag Nonlinear Model (DLNM) dalam kerangka Bayesian dengan distribusi Negative Binomial dan pendekatan Integrated Nested Laplace Approximation (INLA). Pemilihan model terbaik didasarkan pada nilai Mean Leave-One-Year-Out Cross Validation (LOYO CV) dan Deviance Information Criterion (DIC), sedangkan evaluasi model dilakukan menggunakan probabilitas outbreak, Receiver Operating Characteristic (ROC), Area Under the Curve (AUC), dan Confusion Matrix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara faktor iklim dan kejadian DBD bersifat nonlinier dengan efek lag hingga lima bulan, dengan pola yang berbeda pada setiap wilayah. Model terbaik di Kota Palu melibatkan curah hujan dan kelembapan relatif, di Kabupaten Buton Selatan dan Kabupaten Buton hanya melibatkan curah hujan, sedangkan di Kabupaten Buton Utara hanya melibatkan kelembapan relatif. Adapun di Kabupaten Buton Tengah tidak ada variabel iklim yang terpilih, sehingga model terbaiknya hanya memuat komponen temporal berupa efek musiman dan efek antar tahun. Secara umum, variabel suhu tidak terpilih pada satu pun wilayah, sedangkan curah hujan menjadi variabel iklim yang paling dominan. Evaluasi menggunakan LOYO CV menunjukkan bahwa model mampu menggambarkan pola temporal kejadian DBD, meskipun kemampuan prediktifnya bervariasi antarwilayah. Selain itu, estimasi Relative Risk menunjukkan bahwa besarnya risiko DBD dipengaruhi oleh tingkat paparan faktor iklim dan waktu lag. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan DLNM berbasis Bayesian mampu menggambarkan hubungan kompleks antara faktor iklim dan kejadian DBD serta berpotensi mendukung sistem peringatan dini dan pengendalian DBD yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim di masing-masing wilayah.

2026
👤 Penulis: Nona Tjie Sapulette
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

OPTIMASI ALOKASI AIR PERMUKAAN UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR PADA DAS CIWULAN PROVINSI JAWA BARAT

DAS Ciwulan menghadapi tantangan serius dalam pemenuhan air akibat fluktuasi debit musiman yang ekstrem dan penurunan kinerja infrastruktur irigasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis neraca air, menilai efektivitas teknis dan ekonomi infrastruktur, serta menghasilkan roadmap pembangunan optimal menggunakan metode Binary Programming dengan Excel Solver (Evolutionary) berdasarkan data debit andalan Q80, kebutuhan air, dan anggaran 2026 2030. Hasil optimasi merekomendasikan pelaksanaan seluruh 6 proyek dengan jadwal: Embung dan Rehabilitasi DI Cibanjaran (2026), DI Biuk (2027), DI Ciramajaya (2028), Normalisasi Sungai (2029), dan DI Padawaras (2030), dengan total investasi Rp 122,50 miliar. Model berhasil menghilangkan seluruh defisit air (dari 0,90 m³/dtk pada Agustus menjadi 0 m³/dtk), meningkatkan keandalan sistem dari 91,67% menjadi 100%, dengan nilai fungsi tujuan Rp 382,47 miliar, pendapatan pertanian Rp 504,97 miliar, dan BCR 2,51 yang berarti setiap Rp 1 investasi menghasilkan Rp 2,51 manfaat ekonomi. Rata-rata utilisasi anggaran mencapai 77,56% dengan sisa anggaran kumulatif Rp 35,18 miliar, sementara analisis sensitivitas menunjukkan model memiliki ketahanan terhadap penurunan anggaran hingga 5% dan memerlukan kapasitas embung minimum 1,8 m³/dtk untuk mencapai defisit nol.

2026
👤 Penulis: Nadiyah Hazimah Nur Jilan
🏷️ Optimasi Alokasi Air Permukaan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Air 🏷️ Analisis Keandalan Sistem Irigasi

PENGEMBANGAN KERANGKA CASH FLOW WATERFALL UNTUK ANALISIS STRUKTUR PEMBIAYAAN SUKUK BERDASARKAN KARAKTERISTIK AKAD

Total penerbitan sukuk global pada tahun 2024 mencapai USD205,1 miliar, sementara di Indonesia, per April 2026, terdapat 311 seri sukuk korporasi dengan nilai outstanding sebesar Rp92,82 triliun. Perkembangan tersebut mendorong berbagai penelitian mengenai pricing, yield, dan perilaku pasar sukuk. Namun, penelitian yang mengkaji mekanisme distribusi arus kas berdasarkan karakteristik akad masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengembangkan model stokastik untuk mengevaluasi mekanisme pembayaran sukuk sesuai karakteristik akad. Penelitian dilakukan dengan membangun model arus kas sukuk Ijarah dan Mudharabah. Arus kas perusahaan penerbit dimodelkan menggunakan Geometric Brownian Motion, kemudian diintegrasikan ke dalam konstruksi cash flow waterfall yang merepresentasikan mekanisme pembayaran masing-masing akad. Melalui simulasi Monte Carlo, performa mekanisme pembayaran dievaluasi berdasarkan Holder Internal Rate of Return, Issuer Benefit Ratio, dan Repayment Success Probability pada berbagai kondisi ekonomi. Khusus untuk sukuk Mudharabah, dilakukan optimisasi multiobjektif menggunakan NSGA-II untuk memperoleh nisbah bagi hasil yang memaksimalkan Holder IRR dan IB Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik akad memengaruhi distribusi manfaat ekonomi dan profil risiko yang tercermin pada ukuran performa struktur pembiayaan. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa peningkatan drift meningkatkan stabilitas struktur pembiayaan, sedangkan peningkatan volatilitas menurunkan stabilitasnya. Selain itu, diperoleh nisbah bagi hasil optimal untuk sukuk Mudharabah dari perspektif perusahaan penerbit.

2026
👤 Penulis: Nisa Najma Dliya
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Struktur Pembiayaan Sukuk 🏷️ Hidrologi

PENGARUH EKSTRAKSI ALKALI DAN STRUKTUR LEMBARAN SERAT UNTUK MENINGKATKAN PERFORMA VEGAN LEATHER BERBASIS SERAT DAUN NANAS (PALF).

Tingginya beban lingkungan industri penyamakan kulit mendorong urgensi pengembangan material komposit alami berkelanjutan. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh konsentrasi NaOH (5% dan 10%) serta rasio cairan-terhadap-padatan (10:1 dan 20:1 mL/g) pada proses ekstraksi alkali serat daun nanas (pineapple leaf fiber, PALF) terhadap karakteristik kulit vegan (vegan leather) berbasis matriks lateks karet alam. Komposit non-anyaman (non-woven) hasil fabrikasi dikarakterisasi secara komprehensif, dengan kain PALF anyaman (woven, W0) digunakan sebagai variasi struktur lembaran serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaOH dari 5% ke 10% dan ekspansi rasio cairan terhadap padatan dari 10:1 ke 20:1 mL/g secara signifikan meningkatkan efisiensi delignifikasi serat. Fenomena ini meningkatkan interaksi antarmuka serat-matriks, di mana perlakuan NaOH 10% dengan rasio 20:1 mL/g menghasilkan kadar selulosa sebesar 88,66%, kuat tarik komposit non-anyaman sebesar 2,43 MPa, dan reduksi absorpsi air hingga 5,48% akibat struktur yang lebih homogen berdasarkan pengamatan Scanning Electron Microscopy (SEM). Pada kondisi tersebut, kulit vegan menunjukkan stabilitas yang baik dengan laju biodegradasi terkendali sebesar 8,97% massa hilang setelah 28 hari. Sebagai pembanding, variasi woven menghasilkan kuat tarik 7,78 MPa dan kuat sobek 66,44 N/mm. Dapat disimpulkan bahwa manipulasi parameter termokimia ekstraksi alkali secara langsung merekayasa sifat fungsional komposit kulit vegan untuk aplikasi mode ringan (lightweight fashion).

2026
👤 Penulis: Ariel Attalla Kautsar
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

STRATEGI MITIGASI RISIKO BANJIR TERHADAP KERENTANAN BANGUNAN BERBASIS GIS DAN KAPASITAS ADAPTIF STUDI KASUS: DESA CITEUREUP, DAYEUHKOLOT

Banjir masih menjadi salah satu ancaman bencana yang paling sering dihadapi masyarakat Indonesia, dan Desa Citeureup di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, menjadi salah satu wilayah yang secara rutin mengalaminya. Diapit tiga aliran sungai dan berada di dataran rendah Cekungan Bandung, wilayah ini nyaris tidak pernah luput dari genangan setiap musim hujan tiba. Kajian kerentanan banjir yang ada selama ini kebanyakan masih dilakukan pada skala kawasan atau administratif, sehingga variasi kondisi antar bangunan yang sebenarnya cukup beragam justru tidak terlihat. Padahal, dua rumah yang bersebelahan bisa memiliki tingkat ketahanan yang jauh berbeda terhadap banjir, tergantung material, ketinggian lantai, riwayat perbaikan, maupun kesiapan penghuninya untuk beradaptasi. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan fisik hunian terhadap banjir di Desa Citeureup berdasarkan karakteristik bangunan, kondisi lingkungan, dan analisis spasial menggunakan GIS, mengidentifikasi tingkat ketangguhan eksisting hunian terhadap banjir, yang mencakup kapasitas bertahan, tingkat kerusakan, kecepatan pemulihan, dan kesiapan adaptasi bangunan serta merumuskan rekomendasi strategi peningkatan resiliensi hunian terhadap banjir yang sesuai dengan tingkat kerentanan, tingkat resiliensi eksisting, dan hasil analisis spasial GIS di Desa Citeureup. Penelitian ini memadukan metode kuantitatif dan kualitatif dalam satu rangkaian desain sekuensial eksplanatori. Seluruh 45 unit bangunan di RT 01 dijadikan objek kajian dengan teknik total sampling, mengingat jumlah populasinya yang relatif kecil sehingga memungkinkan untuk diteliti secara menyeluruh. Untuk menjawab tujuan pertama, tingkat kerentanan bangunan dinilai melalui empat belas parameter yang terbagi dalam tiga dimensi, yaitu kondisi bangunan, kondisi lingkungan, dan kondisi banjir. Setiap parameter diklasifikasikan dan diberi skor, kemudian dibobot berdasarkan penilaian sejumlah pakar, lalu digabungkan melalui teknik weighted overlay hingga menghasilkan Indeks Kerentanan (VI). Untuk menjawab tujuan kedua, tingkat ketangguhan eksisting dinilai dari empat sisi, yaitu kapasitas bangunan bertahan, tingkat kerusakan, kecepatan pemulihan, dan kesiapan adaptasi, yang kemudian membentuk Indeks Resiliensi (RI). Hubungan antara VI dan RI diuji dengan korelasi Spearman untuk melihat sejauh mana kerentanan fisik berkaitan dengan resiliensi eksisting, sedangkan pola-pola dari hasil wawancara digali lebih dalam melalui hierarchical cluster analysis menggunakan JMP. Hasil dari kedua tahap tersebut kemudian menjadi dasar bagi tujuan ketiga, yaitu perumusan rekomendasi strategi peningkatan resiliensi, yang selanjutnya divalidasi bersama tujuh validator dari kalangan warga dan akademisi untuk memastikan kesesuaiannya dengan kondisi lapangan.Hasil pemetaan menunjukkan bahwa sebagian besar rumah di RT 01 secara fisik cukup rentan, terutama karena ketinggian lantai yang rendah dan mayoritas bangunan hanya satu lantai sehingga ruang evakuasi vertikal terbatas. Dari sisi material, dinding, lantai, dan struktur bangunan justru sudah relatif tahan air, sehingga kerentanan yang muncul lebih banyak dibentuk oleh faktor arsitektural ketimbang kualitas material itu sendiri. Kondisi lingkungan pun turut memperberat keadaan, karena topografi yang datar, tanah dengan daya serap rendah, serta permukiman padat tanpa ruang terbuka membuat air sulit surut dengan cepat. Secara keseluruhan, tingkat kerentanan wilayah ini berada pada kisaran sedang hingga tinggi, sedangkan tingkat ketangguhan eksistingnya bertahan pada level menengah, dengan kesiapan adaptasi sebagai dimensi paling lemah. Ketika VI dan RI diuji korelasinya, diperoleh nilai rho -0,4415 dengan p = 0,0030, yang berarti hubungan keduanya signifikan secara statistik meskipun tidak terlalu kuat, sehingga mengonfirmasi bahwa resiliensi rumah tangga tidak semata ditentukan oleh kondisi fisik bangunan, melainkan juga oleh faktor sosial dan kesiapan adaptif penghuninya. Berdasarkan temuan tersebut, rekomendasi strategi mitigasi disusun sesuai karakteristik masing-masing kelompok rumah, dengan strategi berbasis modal sosial, seperti gotong royong dan pembentukan tim siaga banjir RT, mendapat penilaian kelayakan paling tinggi dari para validator. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan penilaian kerentanan dan resiliensi pada skala bangunan individual dengan proses perumusan rekomendasi strategi yang divalidasi langsung bersama masyarakat, dalam satu kerangka analisis GIS yang jarang ditemukan pada kajian sejenis di kawasan Cekungan Bandung. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa metode skoring manual dengan pembobotan pakar tetap mampu menghasilkan gambaran kerentanan dan resiliensi yang informatif, sekaligus menawarkan model rekomendasi strategi peningkatan resiliensi yang berpotensi diterapkan pada permukiman padat rawan banjir lain di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Rr Nafisa Alya Fathinnisa
🏷️ Banjir 🏷️ Geografi Desa 🏷️ Analisis Geografis

PERAN KOMUNIKASI PROAKTIF PELANGGAN DALAM MEMBANGUN KEPERCAYAAN PADA PENGIRIMAN LAST-MILE: STUDI PENGALAMAN DIGITAL PADA KILAT EKSPRESS INDONESIA

Ekspansi cepat ekonomi digital di Indonesia telah secara fundamental mengubah fungsi sektor logistic dan pengiriman last-mile, penyedia logistic pihak ketiga tidak hanya lagi menjadi sekedar pengangkut barang, tetapi menjadi pemain utama untuk pengalaman berbelanja pelanggan e-commerce. Dalam lanskap pasar yang sangat terkomoditasi dan kompetitif ini, kepercayaan business-to-business (B2B) antara penyedia logistik dan penjual platform e-commerce muncul sebagai penentu penting untuk retensi klien jangka panjang dan juga pangsa pasar. Penelitian ini menyelidiki turunnya kepercayaan B2B yang terjadi secara tiba-tiba dikarenakan restrukturisasi organisasi strategis di Kilat Ekspress Indonesia pada Februari 2025. Perusahaan mengalihkan manajemen komunikasi untuk penjual prioritas dari tim Shipper Support Management (SSM) yang berdedikasi dan kosultatif kepada tim Customer service (CS) yang terpusat dan sangat terstandarisasi, hal ini didorong terutama oleh motif efisiensi biaya. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendiagnosis akar penyebab operasional dan relasional dari churn (berhentinya) penjual prioritas, dan untuk merumuskan strategi komunikasi proaktif yang tetap layak secara finansial agar dapat memulihkan kembali kepercayaan institusional. Untuk mencapai hal ini, penelitian ini mengadopsi metodologi kualitatif interpretivis, yang dirancang untuk mengungkap realita yang dikonstruksi secara sosial dan friksi operasional sehari-hari yang dialami oleh pemangku kepentingan internal dan eksternal. Wawancara semi-terstruktur dilakukan dengtan informan elit internal, termasuk Key Account Manager dan agen garis depan Customer Service, serta kelompok eksternal yang terdiri dari penjual prioritas yang masih aktif maupun yang sudah berhenti. Untuk memastikan ketelitian manajemen data, transparansi, dan keabsahan data, seluruh transkrip wawancara diproses menggunakan perangkat lunak analisis NVivo dan dikodekan secara sistematis berdasarkan Metodologi Gioia. Data empiris kemudian ditriangulasi dengan tiga kerangka akademis utama: Expectancy Disconfirmation Theory, Signaling Theory, dan Commitment-Trust Theory. Temuan kualitatif secara definitive mengungkapkan bahwa pengejaran efisiensi operasional jangka pendek melalui transisi ke CS secara tidak sengaja menyebabkan depersonalisasi saluran komunikasi yang parah. Penghapusan kepemilikan akun yang berdedikasi, dikombinasikan dengan penerapan Service Level Agreement (SLA) yang kaku dan hanya reaktif mencegah agen garis depan untuk melakukan komunikasi proaktif atau penyelesaian masalah secara mendalam. Akibatnya, penjual prioritas mengalami diskonfirmasi harapan negative yang mendalam. Alih-alih bertindak sebagai mitra logistic yang kolaboratif, orientasi layanan yang reaktif memaksa penjual untuk menanggung beban dalam memantau kegagalan pengiriman. Secara krusial, data menunjukkan bahwa kekosongan komunikasi ini membuat penjual sangat rentan terhadap friksi operasional dan penipuan eksternal, yang akhirnya memutuskan kepercayaan institusional dan mendorong klien-klien menguntungkan untuk beralih ke pesaing. Untuk mengatasi deficit kepercayaan yang kritis ini tanpa mengabaikan Batasan anggaran Perusahaan, penelitian ini mengusulkan penerapan Model Dukungan Relasional Bertingkat (Tiered Relational Support Model). Memanfaatkan Prinsip Pareto Bersama dengan metrik Customer Lifetime Value (CLV), Solusi bisnis dalam penelitian ini merekomendasikan untuk pemulihan kembali tim SSM secara strategis khusus untuk 20% penjual prioritas yang mempunyai imbal hasil tertinggi. Justifikasi finansial juga menegaskan bahwa perlindungan pendapatan dari mempertahankan penjual-penjual ini jauh lebih besar daripada biaya untuk melayani mereka. Untuk mengimbangi dampak anggaran dari pemulihan ini, penelitian ini selanjutnya merekomendasikan penerapan system komunikasi proaktif otomatis berbasis API untuk mengelola 80% sisa basis penjual berskala kecil, yang secara drastic akan mengurangi volume tiket masuk. Pada akhirnya, strategi ini menjembatani kesenjangan kritis antara efisiensi biaya operasional dan ekuitas relasional, memberikan Kilat Ekspress Indonesia peta jalan implementasi 12 minggu yang konkret dan dapat ditindaklanjuti untuk mengamankan retensi klien bernilai tingi di pasar logistic digital yang sangat kompetitif.

2026
👤 Penulis: Randy Agastya Noerlan
🏷️ Logistik Digital 🏷️ Kepatuhanan Pelanggan E-Commerce 🏷️ Komunikasi Proaktif

PERANKINGAN PERFORMA PADA PRODUK ASURANSI JIWA DENGAN METODE ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP) DAN TECHNIQUE FOR ORDER PREFERENCES BY SIMILARITY TO IDEAL SOLUTION (TOPSIS)

Evaluasi kinerja produk pasca-peluncuran (Post Implementation Review / PIR) merupakan mekanisme penting bagi perusahaan asuransi jiwa untuk memastikan produk yang telah dipasarkan memenuhi ekspektasi profitabilitas, kepatuhan regulasi, dan kualitas layanan. Namun, proses evaluasi ini bersifat multikriteria dengan data kuantitatif maupun kualitatif, serta belum memiliki kerangka pembobotan terstruktur untuk membandingkan performa antarproduk secara simultan. Penelitian ini menyimulasikan penerapan model perankingan performa produk asuransi jiwa yang mengintegrasikan metode Analytic Network Process (ANP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) pada lima produk fiktif yang dirancang berdasarkan karakteristik industri. Model evaluasi terdiri atas 5 klaster dan 13 subkriteria yang mencakup dimensi keuangan, respons nasabah, manajemen risiko, operasional, serta pasar dan distribusi, dengan penilaian perbandingan berpasangan oleh 8 pakar yang disimulasikan menggunakan Large Language Model (Claude, Anthropic) di bawah protokol isolasi antarpersona. Dalam skenario simulasi ini, hasil pembobotan ANP menunjukkan dominasi dua dari lima klaster dengan bobot agregat 39,9% dan 34,9%, sementara bobot subkriteria tertinggi mencapai 16,8%. Pemeringkatan TOPSIS menunjukkan hanya satu dari lima produk memiliki koefisien kedekatan relatif (Ci) di atas threshold, dan analisis gap terbobot mengidentifikasi subkriteria yang paling memengaruhi posisi setiap produk. Analisis sensitivitas terhadap 216 skenario perturbasi bobot serta validasi silang metode SAW (?s = 0,90) mengonfirmasi hasil perankingan bersifat robust dalam lingkup simulasi. Karena seluruh objek dan penilaian bersifat simulatif, hasil numerik ini merupakan demonstrasi penerapan kerangka, bukan penilaian atas produk nyata; validasi dengan pakar manusia dan data nyata menjadi arah pengembangan selanjutnya. Kerangka ANP-TOPSIS terbukti dapat menjadi instrumen evaluasi PIR yang terstruktur, mampu mengidentifikasi dimensi kelemahan per produk, dan memberikan landasan kuantitatif bagi prioritas tindakan korektif.

2026
👤 Penulis: Anita Aulia
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Multikriteria 🏷️ Perbandingan Produk Asuransi Jiwa
Halaman 58 dari 6754
💬