📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

MERANCANG KERANGKA KERJA BERBASIS MANAJEMEN PENGETAHUAN UNTUK TRANSFER KETERAMPILAN OPERATOR DI MANUFAKTUR BARANG KONSUMEN YANG BERGERAK CEPAT (FMCG)

PT XYZ, perusahaan manufaktur biskuit di Bekasi, Jawa Barat, saat ini menghadapi risiko knowledge attrition yang kritis di area produksi wafer stick, di mana banyak operator senior diperkirakan akan memasuki masa pensiun dalam lima tahun ke depan. Tantangan demografis ini diperparah oleh lambatnya onboarding operator baru, durasi penggantian yang panjang, dan tingkat defect yang lebih tinggi, gejala-gejala yang menunjukkan akar masalah yang lebih dalam: pengetahuan kritis untuk kinerja operator yang optimal sebagian besar bersifat tacit, tersimpan di kepala operator berpengalaman, dan belum terdokumentasi dalam bentuk yang dapat ditransfer. Penelitian ini bertujuan merancang kerangka Knowledge Management (KM) terstruktur yang menjawab risiko tersebut melalui mekanisme transfer keterampilan yang sistematis dan berlandaskan teori yang mapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kasus dengan tiga pertanyaan penelitian: (1) bagaimana praktik knowledge management saat ini untuk transfer keterampilan operator; (2) bentuk pengetahuan kritis apa yang dibutuhkan untuk kinerja operator yang optimal; dan (3) kerangka KM seperti apa yang diharapkan oleh para informan sebagai kondisi ideal. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dengan sepuluh informan internal dari empat tingkat peran (manajemen, supervisor, operator senior/mentor, operator baru/mentee) dan satu informan eksternal sebagai benchmark dari organisasi manufaktur yang sebanding, dilengkapi dengan observasi lapangan melalui Gemba Walk dan studi dokumen Work Instruction (WI). Analisis tematik mengikuti pendekatan Braun dan Clarke (2006) yang dikombinasikan dengan struktur data hierarkis Gioia, Corley, dan Hamilton (2013), menghasilkan tiga tingkat analisis: konsep informan tingkat-1, tema peneliti tingkat-2, dan dimensi agregat. Triangulasi sumber dan teknis diterapkan untuk memastikan validitas temuan. Analisis tematik atas 127 kutipan menghasilkan 27 tema yang terorganisasi ke dalam kerangka lima enabler Milton dan Lambe (2016): Strategy, Governance, People, Process, dan Technology. Temuan menunjukkan bahwa praktik KM saat ini bersifat informal, bergantung pada individu, dan reaktif, kegiatan berlangsung setiap hari tetapi tidak didukung oleh sistem organisasi yang formal. Titik kritis utama adalah putusnya mode Externalization dalam siklus SECI (Nonaka & Takeuchi, 1995): operator senior mentransfer pengetahuan tacit melalui interaksi langsung, tetapi pengetahuan tersebut tidak pernah dikonversi menjadi bentuk eksplisit yang dapat disimpan secara independen dari kehadiran fisik senior. Arsitektur pengetahuan kritis mengikuti hirarki pembelajaran lima tingkat, Safety, Quality, Basic Operation, Troubleshooting, dan Change Over, yang dipetakan ke lima kelompok keterampilan Liker dan Meier (2007), dengan Troubleshooting teridentifikasi sebagai diferensiator kompetensi utama sekaligus celah dokumentasi terbesar. Analisis gap mengonfirmasi bahwa transformasi yang dibutuhkan adalah desain ulang sistemik yang menjawab seluruh lima enabler secara terintegrasi. Berdasarkan temuan diagnostik tersebut, penelitian ini mengusulkan KM House Framework for Operator Skill Transfer, sebuah arsitektur konseptual yang memposisikan Strategy sebagai atap yang memberikan arah strategis, Governance sebagai fondasi yang menopang beban struktural, Process dan People sebagai dua pilar yang menyangga kapabilitas operasional, Technology sebagai lapisan pembungkus yang menghubungkan seluruh komponen, dan siklus SECI sebagai mesin yang beroperasi di dalam pilar Process. Kerangka ini menempatkan penutupan mode Externalization yang putus sebagai prioritas utama, karena intervensi tunggal ini memungkinkan mode Combination dan Internalization di hilir untuk beroperasi pada skala organisasi. Kerangka yang diusulkan diterjemahkan ke dalam peta jalan implementasi selama 12 bulan yang terstruktur dalam empat fase Milton dan Lambe (2016): Assessment and Planning, Preparation and Design, Trials and Pilots, dan Roll-out and Embedding. Kontribusi penelitian ini meliputi tiga aspek. Secara teoretis, penelitian ini menyintesiskan tiga aliran literatur yang saling melengkapi menjadi satu kerangka koheren yang menjawab saling-ketergantungan kaskadik antar dimensi organisasi dalam praktik KM. Secara praktis, penelitian ini menghasilkan kerangka yang dapat dieksekusi serta rencana implementasi bertahap yang dapat langsung diadopsi oleh organisasi studi kasus, didukung oleh bukti empiris yang tertriangulasi dan benchmark eksternal dari konteks manufaktur yang sebanding. Secara metodologis, penelitian ini mendemonstrasikan penerapan metodologi Gioia dalam konteks manajemen pengetahuan (KM) industri, mengilustrasikan bagaimana pendekatan struktur data hierarkis dapat menghasilkan temuan diagnostik yang ketat dan wawasan berorientasi desain dari data kualitatif dalam lingkungan manufaktur..

2026
👤 Penulis: Susilo Dwi Raharjo
🏷️ Manajemen Pengetahuan 🏷️ Transfer Keterampilan Operator 🏷️ Hidrologi Manufaktur

PIVOT STRATEGIS SOCA: DARI PORTAL BERITA MENJADI CREATIVE HUB YANG ADAPTIF

Pada tahun 2024, SOCA berada dalam situasi "burning platform". Model "SOCA Lama" bertumpu pada volume, sekitar 4.500 artikel per bulan, demi memperebutkan pangsa dari 212,9 juta pengguna internet di Indonesia. Pendekatan itu berhenti membuahkan hasil pada dua sisi sekaligus: audiens beralih ke platform berbasis algoritma yang dirancang untuk video pendek dan ringkasan AI, bukan untuk penerbitan teks bervolume tinggi, sementara pengiklan memindahkan anggaran mereka ke platform teknologi global yang kini menyerap sebagian besar belanja iklan digital nasional. Penelitian ini menelusuri langkah pivot SOCA dalam merespons kedua tantangan tersebut. Empat tahap menjembatani transisi SOCA dari "News Factory" (Pabrik Berita) menuju "Matrix Creative Hub", bergerak dari diagnosis kualitatif menuju model operasi yang dapat diuji. Tahap pertama menerapkan Value-Focused Thinking (VFT) dari Ralph Keeney untuk menggali Tujuan-Tujuan Fundamental (Fundamental Objectives) kepemimpinan bagi SOCA yang baru. Tahap kedua mengaudit operasi internal SOCA, dengan memanfaatkan wawancara terhadap staf lintas divisi operasional untuk mengungkap kapasitas perusahaan dalam berubah serta hambatan (bottleneck) yang ditinggalkan oleh hierarki ruang redaksi lama. Tahap ketiga menerapkan Analytic Hierarchy Process (AHP) dari Thomas Saaty untuk memeringkat tiga kandidat model operasi: in-house (Tersentralisasi), Hybrid, dan Outsourced. Tahap keempat membangun Sistem Manajemen Kinerja berdasarkan Balanced Scorecard (BSC) dari Kaplan dan Norton, yang menerjemahkan pivot tersebut menjadi target-target terukur dengan penciptaan nilai ekonomi sebagai ukuran utamanya. Secara keseluruhan, keempat tahap ini menghasilkan cetak biru strategis yang utuh bagi "SOCA Matrix Creative Hub". Kata "Matrix" merujuk pada struktur organisasi yang sengaja dipilih untuk mematahkan "Editorial Silo Traps" (Jebakan Silo Redaksi) lama dan membangun ambideksteritas. "Creative Hub" adalah identitas merek yang baru, sedangkan "Matrix" adalah mesin operasi di baliknya, tempat tiga pilar Media, Event, dan Creative berpotongan. Struktur tersebut menjaga organisasi tetap gesit dengan membentuk "skuad" lintas fungsi yang memanfaatkan reputasi jurnalistik SOCA, sembari menjajaki pasar-pasar baru berbasis layanan. Model Hybrid tidak diasumsikan begitu saja sebagai jawaban; model ini diuji terhadap dua opsi lainnya melalui AHP. Di antara panel kepemimpinan senior (Chairman, CEO, dan COO), model ini menempati peringkat pertama dengan prioritas agregat sekitar 0,50, sementara opsi in-house dan outsourced tertinggal, kurang lebih seimbang di kisaran 0,25 masing-masing di bawah kriteria yang berorientasi biaya. CEO dan COO masing-masing menjalankan perbandingan berpasangan (pairwise) secara penuh dan independen, dan sampai pada hasil yang sama: Hybrid. Business Development Manager melakukan hal serupa, tetapi memberi bobot lebih pada pertumbuhan dibanding biaya, berbeda dari dua pemimpin lain yang menekankan biaya. Ia tetap sampai pada pilihan struktural yang sama: inti yang ramping (lean core) yang ditopang oleh mitra. Penelitian ini membingkai ulang visi di seputar mantra "Connect, Create, Capture", yang menunjukkan bagaimana perusahaan dapat menyiasati penjaga gerbang algoritmik (algorithmic gatekeepers) dan membangun aliran pendapatan berbasis komunitas. Pendekatan tersebut sekaligus berfungsi sebagai peta jalan yang dapat digunakan kembali oleh perusahaan media lain saat menghadapi "Media Winter" yang sama dan membangun stabilitas jangka panjang. setelah Pivot ini lebih dari sekadar satu kali restrukturisasi: ia merupakan ujian bagi kapabilitas dinamis (dynamic capabilities) SOCA. SOCA perlu terus beradaptasi jauh pivot ini: merasakan perubahan sejak dini (Sensing), menindaklanjutinya secara tegas (Seizing), dan menata ulang strukturnya tanpa menjadi rapuh (Transforming). Hybrid-Matrix adalah kendaraan bagi kesiapan tersebut, bukan tujuan akhirnya. Itulah sebabnya penelitian ini menyiapkan SOCA untuk pergeseran pasar berikutnya, sama besarnya dengan untuk pergeseran saat ini. Value-Focused Thinking dan AHP membuktikan nilainya sebagai cara yang terstruktur dan berbasis nilai untuk mengambil satu keputusan berisiko tinggi mengenai model operasi, secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Nilai yang lebih dalam muncul ketika rangkaian tersebut diperlakukan sebagai rutinitas yang dapat diulang perusahaan: proses VFT?AHP kemudian menjadi kapabilitas tersendiri, yaitu cara yang disiplin untuk menangani keputusan keputusan struktural yang masih akan datang. Inilah pula cara pertanyaan penelitian keempat, mengenai bagaimana meninggalkan SOCA dalam keadaan mampu terus beradaptasi, dijawab: sebagai argumen desain yang dijalin melalui ketiga tahap dan dituntaskan pada fase Transforming, alih-alih melalui putaran pengumpulan data yang terpisah.

2026
👤 Penulis: Danang Waluyajati
🏷️ Pendekatan Strategis 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Media Digital 🏷️ Analisis Bisnis Dan Operasional

EKSPLORASI PEWARNA ALAMI BIJI BUAH ALPUKAT (PERSEA AMERICANA MILL.) DENGAN INSPIRASI NILAI MOTTAINAI DAN TEKNIK SASHIKO UNTUK MENSWEAR

Ironitas terbesar dalam industri busana adalah bahwa di balik penciptaan produk yang bernilai estetis, industri ini juga menghasilkan limbah dalam jumlah yang besar. Salah satu upaya meminimalisir dampak negatif yang dihasilkan dari industri busana adalah dengan beralih dari pewarna sintetis ke pewarna alami. Pewarna alami paling mudah diperoleh dari tumbuhan, salah satunya adalah biji buah alpukat yang mengandung senyawa tanin yang memberikan warna merah muda atau kuning kecoklatan. Manusia umumnya langsung membuang biji buah alpukat ke tempat sampah sehingga menghasilkan limbah yang melimpah di Indonesia. Pada penelitian ini, biji buah alpukat akan diberikan kesempatan kedua dan hidup baru dalam industri tekstil melalui pemanfaatannya menjadi pewarna alami. Hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan selaras dengan filosofi mottainai yang berasal dari Jepang, yaitu upaya manusia untuk tidak menyia-nyiakan sumber daya di sekitarnya melalui prinsip reduce, reuse, recycle dan respect. Pengimplementasian nilai mottainai tidak hanya melalui material yang digunakan, namun juga melalui tekniknya. Penelitian ini menggabungkan pewarnaan biji buah alpukat dengan teknik sashiko dan siluet kimono laki-laki. Teknik sashiko diaplikasikan untuk memperkuat struktur kain agar lebih tahan lama. Sementara itu, siluet kimono laki-laki menjadi inspirasi utama dalam produk akhir karena nilainilainya yang selalu mengutamakan regenerasi. Berlandaskan nilai mottainai sebagai kerangka filosofis, penelitian ini mengintegrasikan pewarna alami biji buah alpukat, teknik sashiko, dan siluet kimono laki-laki dalam produk menswear semiformal.

2026
👤 Penulis: Ruth Puspita Maharani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

EKSPLORASI VISUAL LIMBAH KERAMIK DENGAN PENDEKATAN KINTSUGI UNTUK ELEMEN DEKORASI INTERIOR

Limbah keramik merupakan hasil samping industri keramik yang umumnya berasal dari produk cacat akibat deformasi bentuk, gagal glasir, serta produk pecah, yang belum dikelola secara optimal sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan kembali limbah keramik serta mengeksplorasi potensi visualnya melalui pendekatan kintsugi sebagai elemen dekorasi interior. Metode yang digunakan adalah metode eksploratif melalui studi pustaka, survei lapangan, serta eksplorasi teknik dan bentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah keramik memiliki potensi untuk diolah menjadi karya dekorasi interior yang bernilai estetis. Dari lima eksplorasi teknik yang dilakukan, penggunaan lem epoksi clear, bubuk sablon emas, gipsum casting, dan cat emas menghasilkan kualitas visual yang paling optimal karena mampu merekatkan keramik dengan kuat sekaligus menutup retakan secara rapi. Sementara itu, eksplorasi bentuk menunjukkan bahwa limbah keramik dapat dikembangkan baik dengan mempertahankan bentuk aslinya maupun direkonstruksi menjadi bentuk baru yang abstrak. Temuan tersebut kemudian diwujudkan dalam tiga seri karya, yaitu Utuh, Rumpang, dan Ubah, yang mengangkat nilai-nilai kintsugi berupa penerimaan terhadap ketidaksempurnaan, perawatan kerusakan, dan transformasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan kintsugi memiliki potensi sebagai alternatif pemanfaatan limbah keramik di Indonesia. Selain berkontribusi terhadap upaya pengurangan limbah, pendekatan ini juga mampu menghasilkan elemen dekorasi interior yang memiliki nilai estetis dan konseptual.

2026
👤 Penulis: Milli Amadea Purnama
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN JARINGAN DISTRIBUSI UNTUK EKSPANSI CENTRAL KITCHEN: STUDI KASUS PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA TOKO BAKMI KITA

Penelitian ini mengevaluasi jaringan distribusi yang diperlukan untuk mendukung ekspansi Toko Bakmi Kita dari satu menjadi sepuluh outlet pada 2029. Central Kitchen yang ada di Serang diproyeksikan melampaui kapasitas seiring peningkatan permintaan, sehingga menimbulkan risiko bottleneck produksi, stock out, ketidakkonsistenan kualitas produk, dan kenaikan biaya logistik. Penelitian ini bertujuan menentukan kebutuhan kapasitas, membandingkan alternatif jaringan distribusi, dan memilih model yang paling sesuai berdasarkan pertimbangan finansial dan nonfinansial. Penelitian menggunakan desain studi kasus tunggal eksplanatori dengan data replenishment historis, proyeksi permintaan, koordinat outlet, asumsi biaya, serta penilaian manajerial dari dua owner dan satu Head of Central Kitchen. Analisis menggabungkan perencanaan kapasitas, clustering geospasial K-Means, pemodelan biaya logistik berbasis Python, analisis sensitivitas, dan Analytic Hierarchy Process. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan sepuluh outlet membutuhkan area produksi Central Kitchen sebesar 382,21 m² dan area penyimpanan sebesar 140,00 m². Empat skenario dievaluasi. Dari sisi biaya, Skenario 3: Optimal CK–Direct memberikan hasil terbaik dengan total biaya logistik sekitar Rp2,08 miliar per bulan dan biaya per kilogram sebesar Rp181.464,28, atau lebih rendah 2,05% dibandingkan skenario dasar. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa perubahan permintaan memberikan dampak terbesar terhadap biaya logistik. Namun, hasil AHP memilih Skenario 2: Existing CK–Hub sebagai alternatif terbaik secara keseluruhan dengan prioritas normalisasi sebesar 0,395048. Kriteria Service and Product Quality serta Supply Reliability secara bersama-sama mewakili lebih dari 80% bobot keputusan. Oleh karena itu, Skenario 3 digunakan sebagai tolok ukur efisiensi biaya, sedangkan Skenario 2 direkomendasikan karena lebih mendukung konsistensi produk, ketersediaan stok, dan keandalan layanan. Implementasi bertahap mulai Q3 2026 direkomendasikan.

2026
👤 Penulis: Christian Wibisono
🏷️ Kepemilikan Dan Desain Jaringan Distribusi 🏷️ Analisis Biaya Logistik 🏷️ Manajemen Kualitas Produk

PENGARUH SIFAT MIKROEMULSI DAN VISKOSITAS FLUIDA PADA INJEKSI SURFAKTAN-POLIMER: EVALUASI MULTI SKALA TERINTEGRASI PADA PENDEKATAN EMPIRIS DAN SIFAT FISIK DI MATURE DELTAIC SANDSTONE RESERVOIR

Injeksi surfaktan–polimer (SP) merupakan salah satu metode chemical enhanced oil recovery (EOR) yang relevan untuk mature sandstone reservoir karena mengombinasikan penurunan interfacial tension (IFT) dengan peningkatan kontrol mobilitas fluida. Lapangan-X, suatu mature deltaic sandstone reservoir di Indonesia, telah berproduksi selama lebih dari empat dekade dan mencapai recovery factor (RF) sebesar 65,68% pada akhir history matching. Meskipun hasil penyaringan menunjukkan bahwa reservoir ini sesuai untuk penerapan SP, prediksi kinerja skala lapangan masih sering menggunakan formulasi empiris berbasis tabel yang belum sepenuhnya merepresentasikan perilaku fasa mikroemulsi dan perubahan reologi polimer akibat shear rate. Penelitian ini bertujuan membandingkan pendekatan empiris dan pendekatan berbasis informasi fisik dalam memprediksi mekanisme pendesakan serta tambahan perolehan minyak dari injeksi SP. Model empiris terlebih dahulu dikalibrasi terhadap data coreflood, khususnya respons penurunan tekanan dan perolehan minyak, kemudian melalui proses upscaling ke model skala lapangan. Model upscale mampu mempertahankan respons RF akhir model coreflood dengan perbedaan absolut sekitar 1%. Pada skala lapangan, pendekatan empiris merepresentasikan kinerja surfaktan melalui tabel IFT/capillary desaturation dan polimer melalui tabel pengali viskositas terhadap konsentrasi. Pendekatan kedua berbasis informasi fisik menggunakan korelasi Huh yang dikalibrasi berdasarkan data salinity scan untuk merepresentasikan perilaku fasa mikroemulsi, serta shear-rate-dependent rheology untuk menggambarkan perubahan viskositas polimer. Model geologi, sifat fluida, konfigurasi sumur, dan strategi injeksi dipertahankan sama agar perbedaan hasil dapat dikaitkan secara langsung dengan representasi mekanisme SP. Hasil simulasi menunjukkan bahwa waterflooding menghasilkan RF sebesar 72,90%. Kasus pertama injeksi SP berbasis empiris, yaitu injeksi polimer yang dilanjutkan dengan SP, menghasilkan RF sebesar 73,49%, sedangkan Kasus kedua yakni injeksi SP berbasis informasi fisik menghasilkan RF sebesar 73,55%. Tambahan RF terhadap waterflooding masing-masing hanya sebesar 0,59% dan 0,65%, dengan selisih antarmodel sebesar 0,06%. Meskipun RF akhir keduanya berdekatan, mekanisme yang diprediksi berbeda. Hasil penilitian menunjukkan pada pendekatan informasi fisik menurunkan IFT rata-rata menjadi 0,02 mN/m dari 0,81 mN/m pada pendekatan empiris, dan menurunkan saturasi minyak residual rata rata dari 0,105 di kasus pertamaa menjadi 0,047 di kasus kedua. Namun, pengaruh shear thinning menurunkan viskositas air rata-rata dari 0.6596 cP menjadi 0,4185 cP sehingga kontrol mobilitasnya lebih rendah dibandingkan pendekatan tabel. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kinerja Kasus ke 2 terutama dipengaruhi oleh tekanan dan laju injeksi, sedangkan dari sisi bahan injeksi dikontrol oleh salinitas efektif dan parameter tegangan antarmuka mikroemulsi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penambahan informasi fisik tidak selalu menghasilkan perbedaan RF yang besar, tetapi memberikan pemahaman mekanistik yang lebih baik terhadap mobilisasi minyak, propagasi chemical slug, injectivity, dan respons reologi polimer. Pendekatan empiris tetap memadai untuk tahap screening dan evaluasi awal, sedangkan pendekatan informasi fisik lebih sesuai untuk desain pilot dan implementasi lanjutan. Pada mature deltaic sandstone reservoir dengan RF dan water cut yang telah tinggi, keberhasilan injeksi SP lebih ditentukan oleh pemilihan area target, pengendalian laju dan tekanan injeksi, serta kesesuaian formulasi terhadap salinitas daripada sekadar peningkatan konsentrasi bahan kimia.

2026
👤 Penulis: Rudini Simanjorang
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Penelitian Eor

STRATEGIC ANALYSIS OF POST - MERGER FMC INTEGRATION IN THE TELECOMMUNICATIONS INDUSTRY: A CASE STUDY OF PT TELKOMSEL - INDIHOME B2C

Integrasi bisnis B2C IndiHome ke Telkomsel pada Juli 2023 menjadikan Telkomsel sebagai operator Fixed-Mobile Convergence (FMC) terbesar di Indonesia. Integrasi ini diharapkan memperkuat posisi kepemimpinan pasar, menciptakan peluang cross-selling, dan membuka sumber pertumbuhan baru melalui layanan konvergen. Namun, delapan belas bulan setelah integrasi, muncul pola yang berbeda. Meskipun pendapatan konsolidasi meningkat seiring masuknya pendapatan fixed broadband, bisnis seluler Telkomsel yang selama ini menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan justru mengalami tekanan. Pendapatan seluler menurun, Average Revenue per User (ARPU) stagnan, dan Revenue per Megabyte (RPMB) terus tergerus meskipun konsumsi payload dan jumlah pelanggan tetap bertumbuh. Kesenjangan antara pertumbuhan trafik data dan pertumbuhan pendapatan ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas integrasi FMC dalam menciptakan nilai yang berkelanjutan serta menunjukkan perlunya membedakan manfaat integrasi dengan tantangan eksekusi yang masih tersisa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab penurunan kinerja pendapatan seluler Telkomsel pascaintegrasi serta merumuskan rekomendasi strategis untuk memperbaiki kinerja pendapatan dan operasional. Penelitian ini menjawab tiga pertanyaan utama: (1) bagaimana perubahan indikator keuangan dan operasional utama Telkomsel setelah integrasi IndiHome, (2) faktor internal dan eksternal apa yang berkontribusi terhadap penurunan kinerja tersebut, dan (3) tindakan strategis apa yang diperlukan untuk meningkatkan kembali kinerja pendapatan dan operasional. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif eksplanatori yang didukung analisis kuantitatif deskriptif berdasarkan data sekunder dari laporan tahunan, publikasi perusahaan, publikasi industri, dan statistik pemerintah periode 2021–2024. Faktor internal dianalisis melalui Marketing Mix dan Revenue Driver Diagnostic, sedangkan faktor eksternal dianalisis menggunakan PESTEL, Porter’s Five Forces, serta competitor benchmarking terhadap Indosat Ooredoo Hutchison dan XL Axiata. Temuan-temuan tersebut kemudian disintesis melalui Kepner-Tregoe Problem Analysis (KTPA) dan Cause Mapping untuk mengidentifikasi akar penyebab utama. Selanjutnya, rekomendasi strategis dirumuskan menggunakan analisis SWOT dan diprioritaskan melalui Matriks Ansoff. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kinerja Telkomsel tidak disebabkan oleh melemahnya permintaan, berkurangnya basis pelanggan, maupun menurunnya keunggulan jaringan. Telkomsel tetap mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar dalam cakupan dan kualitas jaringan, ditunjukkan dengan konsumsi payload dan jumlah pelanggan terus meningkat. Tantangan utama terletak pada kemampuan perusahaan mengonversi pertumbuhan tersebut menjadi pertumbuhan pendapatan di tengah lanskap industri yang semakin menantang, ditandai oleh komoditisasi layanan konektivitas, meningkatnya penetrasi OTT, tekanan daya beli masyarakat, dan persaingan harga yang semakin agresif. Berdasarkan pengujian KTPA, penelitian ini mengonfirmasi tiga faktor sebagai akar penyebab utama yang paling mungkin menjelaskan penurunan kinerja tersebut. Pertama, strategi harga yang berorientasi pada kuota yang besar mendukung pertumbuhan trafik dan retensi pelanggan, sehingga menekan monetisasi dan mempercepat penurunan RPMB. Kedua, ketimpangan penciptaan dan penangkapan nilai antara operator telekomunikasi dan platform OTT menekan pertumbuhan pendapatan, di mana trafik digital terus berpindah ke ekosistem OTT sementara skema revenue sharing membatasi kontribusi revenue dari bisnis digital dan mempercepat penurunan pendapatan layanan legacy. Ketiga, monetisasi FMC belum mencapai ekspektasi karena program bundling konvergensi dan cross-selling belum menghasilkan peningkatan pendapatan yang cukup. Kondisi tersebut diperburuk oleh tumpang tindih portofolio produk, kompleksitas merek, dan dominasi pelanggan prabayar yang sangat sensitif terhadap harga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemulihan kinerja Telkomsel tidak memerlukan sumber keunggulan kompetitif baru, melainkan perbaikan eksekusi berdasarkan kekuatan yang telah dimiliki perusahaan, yaitu kepemimpinan jaringan, ekuitas merek, jangkauan distribusi, dan aset konvergensi. Tiga prioritas strategis direkomendasikan, yaitu memperkuat monetisasi melalui rasionalisasi harga dan migrasi pelanggan prabayar ke pascabayar, meningkatkan kualitas pendapatan digital, monetisasi data, serta mendorong terciptanya level playing field antara operator telekomunikasi dan OTT, serta memperluas pertumbuhan pada segmen enterprise, B2B2C, B2G, IoT, dan ekosistem digital yang relatif lebih tahan terhadap tekanan harga di pasar konsumen. Penelitian ini berkontribusi pada literatur manajemen strategis dan telekomunikasi dengan menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan tidak selalu mencerminkan kesehatan bisnis. Selain itu, penelitian ini menawarkan pendekatan diagnostik yang menggabungkan kerangka analisis strategis dengan analisis akar penyebab untuk membedakan masalah eksekusi dari tekanan pasar. Bagi praktisi, penelitian ini menyediakan metodologi yang dapat diterapkan untuk mengevaluasi kinerja dan merumuskan strategi pemulihan berbasis data yang tersedia secara publik.

2026
👤 Penulis: Pingkan Reinne Ticoalu
🏷️ Telekomunikasi 🏷️ Integrasi Bisnis 🏷️ Manajemen Pendapatan

PENGEMBANGAN STARTUP MATURITY INDEX UNTUK MENGATASI FENOMENA “BAKAR UANG” PADA USAHA RINTISAN DI INDONESIA

Tingkat kegagalan usaha rintisan (startup) di Indonesia tetap tinggi meskipun aliran modal ventura terus berlangsung, dan pola yang berulang di balik kegagalan tersebut adalah penskalaan dini, yang dikenal secara lokal sebagai fenomena bakar uang, yaitu ketika usaha rintisan berekspansi secara agresif dengan subsidi sebelum fondasi organisasinya mampu menopang ekspansi itu. Akibatnya adalah loyalitas pelanggan yang rapuh, unit ekonomi yang negatif, dan jalur yang berakhir pada habisnya kas alih-alih profitabilitas. Penelitian ini menjawab pola tersebut dengan mengembangkan Startup Maturity Index, sebuah instrumen penilaian mandiri yang memungkinkan usaha rintisan teknologi business-to-consumer tahap pertumbuhan di Indonesia menilai kesiapan mereka untuk melakukan penskalaan sebelum mengalokasikan modal untuk pertumbuhan. Indeks ini disusun atas enam dimensi kematangan organisasi, yaitu manajemen keuangan, perencanaan strategis, kapabilitas operasional, efektivitas pemasaran, manajemen talenta, dan keberlanjutan model bisnis, yang dinyatakan dalam tiga puluh enam butir yang diturunkan dari tinjauan sistematis atas literatur kematangan startup, penskalaan dini, dan kesiapan organisasi. Instrumen ini divalidasi melalui prosedur Modified Delphi dua putaran dengan panel delapan pakar senior yang berasal dari sisi operasional usaha teknologi konsumen dan dari sisi permodalan, yang mencakup modal ventura dan pengembangan ekosistem startup. Alih-alih bergantung pada rerata indeks validitas isi klasik, yang tidak dapat ditopang secara presisi oleh panel berjumlah delapan, penelitian ini memperlakukan kesepakatan panel sebagai bukti validitas yang utama, membaca konsensus dari proporsi pakar yang menyetujui setiap butir dan kestabilan dari sebaran penilaian mereka, serta melaporkan indeks validitas isi dan reliabilitas hanya sebagai pendukung. Putaran pertama menggali alasan pentingnya setiap dimensi dan butir, dengan konvergensi terkuat pada kapabilitas operasional dan efektivitas pemasaran serta divergensi paling penting pada manajemen talenta, ketika butir keberagaman yang semula diusulkan tidak terbaca sebagai sinyal kematangan dan diubah menjadi keputusan sumber daya manusia yang disengaja dan berbasis bukti untuk putaran kedua. Validasi menghasilkan pola yang jelas. Di seluruh panel, praktik yang membedakan startup yang matang adalah praktik yang tidak dapat dihasilkan secara cepat atau murah, seperti unit ekonomi yang terjaga, retensi tanpa pemberian diskon, dan perekrutan senior yang disengaja, sedangkan praktik yang ditunjukkan oleh organisasi mana pun yang dikelola dengan baik, terlepas dari tahapannya, tidak bertahan sebagai sinyal kematangan. Dengan membaca batas ini melalui teori pensinyalan, penelitian ini memisahkan tiga puluh enam butir menjadi dua puluh satu indikator kematangan inti yang diberi skor dan membentuk Indeks, serta lima belas indikator praktik bisnis umum yang dilaporkan sebagai daftar periksa pendukung dan tidak diberi skor. Uji beda non-parametrik memastikan bahwa pakar sisi operasional dan sisi permodalan menempatkan batas ini pada tempat yang sama. Kontribusi penelitian ini adalah sebuah diagnostik konsensus pakar yang tervalidasi isinya, yang membuat perbedaan antara kematangan khas startup dan kompetensi bisnis umum menjadi terlihat bagi para pendiri, investor, dan pembina ekosistem. Penelitian ini berhenti pada tahap validasi isi dalam pengembangan skala; penerapan Indeks pada sampel lapangan dan pengujian daya prediksinya diposisikan sebagai penelitian lanjutan.

2026
👤 Penulis: Prasetya Kusmana
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Pengembangan Startup

STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KINERJA PERUSAHAAN KONSTRUKSI MELALUI INTERGRASI SUPPLY CHAIN MANAGEMENT: STUDI KASUS PADA PT NINDYA KARYA

Sektor konstruksi memiliki peran kontribusi terbesar keempat terhadap PDB Indonesia yang mencerminkan pentingnya peran strategis sektor ini sekaligus urgensi untuk mempertahankan kinerjanya di tengah kompleksitas yang terus berkembang. Perusahaan konstruksi BUMN di Indonesia menghadapi kendala struktural berupa sistem digital yang terfragmentasi, margin yang tipis, serta gangguan rantai pasok yang melemahkan kondisi finansial dan upaya sektor konstruksi dalam mewujudkan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan. PT PTNK, perusahaan konstruksi BUMN dengan beberapa pilar bisnis, mencerminkan kondisi ini: sistem ERP yang ada tidak mampu mengintegrasikan proses rantai pasok (pengadaan, inventori, koordinasi vendor) dengan rekonsiliasi keuangan yang menghasilkan silo data, pembengkakan biaya, dan ketidakcapaian terhadap target kesiapan INDI 4.0 yang diwajibkan pemerintah. Penelitian ini mengembangkan strategi transformasi digital Supply Chain Management yang terintegrasi dan bertahap melalui pendekatan metode campuran: Relative Importance Index (RII) sebagai instrument peringkat variabel SCM kritis yang diidentifikasi oleh responden survei, Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam kerangka KBPMS menghasilkan bobot prioritas tervalidasi Direksi pada perspektif proses internal, kapabilitas sumber daya, dan hasil bisnis, serta analisis IFAS, SFAS, EFAS, dan Matriks TOWS menerjemahkan temuan ke dalam konteks strategis. Dari hasil analisis diperoleh 5 Modul SCM yang menjadi prioritas untuk dikembangkan terlebih dahulu yaitu Modul Digital Warehouse System, Integrated Vendor System, Secure Digital Platform, Digital Invoice Verification, dan Real-time Integrated System untuk Optimasi COGS yang dibagi dalam peta rencana tiga fase selama 36 bulan yang menurunkan inefisiensi biaya, mengintegrasikan pemantauan jejak karbon, dan mencapai kepatuhan INDI 4.0 sehingga mentransformasi rantai pasok menjadi fondasi strategis bagi kinerja konstruksi yang berkelanjutan. Integrasi rantai pasok menjadi fondasi strategis untuk kinerja konstruksi yang berkelanjutan. Terdapat beberapa batasan tertentu yang terkait dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini hanya berlaku untuk satu studi kasus, yaitu PTNK, sehingga tidak dapat digeneralisasikan ke perusahaan konstruksi lainnya. Hal ini dikarenakan metode pengambilan sampel yang digunakan) hanya mencakup orang-orang dari perusahaan PTNK. Batasan lainnya adalah bahwa perbandingan berpasangan AHP ditentukan oleh penilaian subjektif dari para responden.

2026
👤 Penulis: Cut Raisa
🏷️ Supply Chain Management 🏷️ Digitalisasi Perusahaan Konstruksi 🏷️ Pengendalian Biaya Dan Karbon

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI ESG RISK RATING: STUDI KASUS PADA PT PERTAMINA HULU ENERGI (PHE)

Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG) merupakan salah satu aspek yang semakin penting beberapa tahun belakangan. Sekarang, selain fokus pada kinerja keuangan, penting bagaimana perusahaan mengelola dampak lingkungan dan sosial, yang menjadi aspek penting bagi investor, regulator, konsumen, dan banyak pihak lainnya. Khususnya, bagi industri minyak dan gas, penting mempertimbangkan ini, mengingat besar dampak operasional pada lingkungan, masyarakat setempat, keselamatan pekerja, dan tata kelola perusahaan. Sebagai subholding hulu terbesar dari PT Pertamina (Persero) yang bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan energi Indonesia, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) diharapkan menggunakan praktik bisnis yang lebih sustainable. Oleh karena itu, identifikasi mengenai pengelolaan risiko ESG yang dilakukan dan aspek-aspek yang memerlukan peningkatan menjadi penting bagi pengembangan perusahaan. Tujuan penelitian adalah evaluasi implementasi pengelolaan risiko ESG di PT Pertamina Hulu Energi (PHE) berdasarkan metodologi MSCI ESG Ratings. Pertanyaan penelitian yang diajukan adalah: (1) Bagaimana risiko ESG dikelola dan diimplementasikan di PHE berdasarkan kerangka MSCI ESG Key Issues? dan (2) Aspek-aspek ESG apa yang harus diprioritaskan dalam peningkatan guna memperkuat kinerja ESG perusahaan? Penelitian ini berlandaskan atas Agency Theory dan Stakeholder Theory. Metode penelitian yang digunakan adalah metode study case. Data dikumpulkan melalui laporan keberlanjutan, laporan tahunan, informasi perusahaan, dan dokumen penilaian MSCI ESG sebagai sumber utama. Untuk kaya akan analisis, dilakukan survey dan wawancara semi-structured dengan peserta dari divisi Corporate Secretary (Corporate Communication and Sustainability), Health, Safety, Security and Environment (HSSE), Human Capital (HC), dan Supply Chain Management (SCM) di PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Divisi-divisi ini dipilih berdasarkan kompetensi dan tanggung jawab mereka dalam kebijakan dan implementasi ESG di perusahaan. Selanjutnya, data dianalisis berdasarkan metodologi MSCI ESG Ratings untuk industri eksplorasi dan produksi minyak dan gas. Penilaian dilakukan berdasarkan tujuh isu utama ESG, yaitu Carbon Emissions, Biodiversity & Land Use, Toxic Emissions & Waste, Community Relations, Health & Safety, Corporate Governance, dan Corporate Behavior, dengan mempertimbangkan level risiko dan efektivitasnya. Kemudian, dilakukan analisis kesenjangan (gap analysis) untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang memerlukan perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan telah merumuskan berbagai kebijakan, program, dan sistem manajemen ESG dalam aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Tahun 2025, perolehan MSCI ESG Rating PHE adalah BBB dengan Industry Adjusted Score 5,4 yang menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Performa yang baik diperlihatkan oleh aspek Community Relations, Biodiversity & Land Use, serta Toxic Emissions & Waste. Perusahaan telah melakukan banyak program pengembangan masyarakat, keanekaragaman hayati, sistem pengelolaan lingkungan, dan program pengurangan limbah. Selain itu, perusahaan juga menunjukkan tata kelola yang baik dengan melakukan Code of Conduct, Anti-Bribery Management System, serta struktur dewan yang mendukung praktik tata kelola perusahaan yang baik. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa aspek yang memerlukan perbaikan. Pertama, target pengurangan emisi tahun 2025 masih menggunakan pendekatan Business as Usual (BaU) dan belum menetapkan target absolut berdasarkan tahun dasar (baseline) yang tetap. Kedua, intensitas emisi perusahaan mengalami peningkatan selama periode analisis. Dalam aspek sosial, peningkatan performa Health and Safety bisa dicapai dengan menetapkan target keselamatan kerja yang terukur dan memiliki batas waktu. Selain itu, PHE juga memerlukan peningkatan mekanisme monitoring dan reporting mengenai implementasi hak asasi manusia. Dalam aspek tata kelola, transparansi mengenai remunerasi eksekutif serta insentif yang dikaitkan dengan pencapaian ESG dapat memperbaiki hasil penilaian MSCI. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat lima prioritas utama yang direkomendasikan untuk peningkatan kinerja ESG PHE, yaitu: (1) menetapkan target absolut pengurangan emisi karbon berdasarkan tahun dasar yang tetap; (2) menetapkan target kesehatan dan keselamatan kerja yang terukur dan berbatas waktu; (3) memperluas target kinerja lingkungan yang berkaitan dengan pengurangan emisi dan pengelolaan limbah; (4) meningkatkan transparansi tata kelola melalui pengungkapan remunerasi dan insentif berbasis ESG; serta (5) memperluas cakupan sertifikasi ISO 45001 pada seluruh lokasi operasional

2026
👤 Penulis: Sandra Zakiya Dwifitriana
🏷️ Evaluasi Pengelolaan Risiko Esg 🏷️ Pertamina Hulu Energi 🏷️ Msci Esg Ratings

DAMPAK PERATURAN PERUSAHAAN DAN PEMERINTAH TERHADAP HARGA LAYANAN PERUSAHAAN JASA DI INDUSTRI PANAS BUMI

Penelitian ini menguji pengaruh Tekanan Institusional, Biaya Transaksi, serta Kebijakan Internal dan Pengendalian Risiko terhadap Penetapan Harga Berbasis Informasi Nilai, serta hubungannya dengan Kinerja Perusahaan pada industri jasa panas bumi di Indonesia. Data survei dari 33 responden dianalisis menggunakan pendekatan regresi struktural berbasis skor komposit yang parsimonious. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Biaya Transaksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Penetapan Harga Berbasis Informasi Nilai, sedangkan Tekanan Institusional serta Kebijakan Internal dan Pengendalian Risiko tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan. Penetapan Harga Berbasis Informasi Nilai memiliki hubungan positif dengan Kinerja Perusahaan yang signifikan secara marginal pada tingkat 10 persen, tetapi tidak signifikan pada tingkat 5 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa kompleksitas transaksi meningkatkan kebutuhan akan artikulasi nilai dan justifikasi harga yang lebih jelas. Tekanan Institusional serta Kebijakan Internal dan Pengendalian Risiko ditafsirkan sebagai kondisi kontekstual, bukan moderator yang telah dikonfirmasi secara statistik

2026
👤 Penulis: Budy Nugraha
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGEMBANGAN DAN VALIDASI PROTOTIPE BERBANTUAN AI UNTUK LAYANAN KONSTRUKSI HUNIAN B2C MENGGUNAKAN DESIGN THINKING DAN UTAUT3: STUDI KASUS PADA PT ANGGARA PRIMA

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi prototipe berbantuan AI untuk layanan konstruksi hunian B2C pada PT Anggara Prima dengan menggunakan Design Thinking dan kerangka UTAUT3 yang diadaptasi. PT Anggara Prima merupakan perusahaan konstruksi yang selama ini lebih berfokus pada klien B2B dan B2G. Segmen hunian B2C perusahaan masih relatif kecil, namun memiliki potensi pertumbuhan yang kuat. Namun demikian, alur kerja awal layanan B2C perusahaan masih sangat bergantung pada koordinasi manual dan proses serah terima berurutan antara desainer, estimator, project manager, dan klien. Kondisi ini menyebabkan siklus proposal yang panjang, beberapa putaran revisi desain dan biaya, komunikasi anggaran yang kurang transparan, serta rendahnya kepercayaan pemilik rumah pada tahap awal perencanaan. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metodologi Design Thinking, yang terdiri dari tahap Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test. Pada tahap Empathize, ditemukan beberapa pain point dari sisi pemilik rumah maupun pemangku kepentingan internal. Pemilik rumah mengalami kesulitan dalam memvisualisasikan pilihan desain dan belum memiliki gambaran yang jelas mengenai anggaran konstruksi. Selain itu, customer journey belum terdefinisi dengan baik dan proses awal sering melibatkan beberapa putaran iterasi antara desain dan biaya. Dari sisi internal, koordinasi antarperan masih terfragmentasi. Temuan-temuan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam problem statements, pertanyaan How Might We, dan prioritas kebutuhan desain. Solusi yang dipilih kemudian dikembangkan menjadi prototipe semi-fungsional berbantuan AI yang terdiri dari tiga modul utama, yaitu modul generative layout berbantuan AI, modul i estimasi biaya parametrik, serta dasbor trade-off dan perjalanan proyek. Prototipe divalidasi menggunakan kerangka UTAUT3 yang diadaptasi dan dianalisis dengan SmartPLS melalui metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Model yang diadaptasi terdiri dari Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social Influence, Facilitating Conditions, dan Personal Innovativeness sebagai variabel independen, serta Adoption Intention sebagai variabel dependen. Sebanyak 105 respons valid diperoleh dari pemangku kepentingan internal dan eksternal. Hasil deskriptif menunjukkan persepsi pengguna yang sangat positif, dengan seluruh konstruk memperoleh nilai rata-rata di atas 4,50. Skor tertinggi terdapat pada Adoption Intention dan Personal Innovativeness, masing-masing sebesar 4,622, diikuti oleh Performance Expectancy sebesar 4,610. Hasil analisis menunjukkan bahwa Social Influence dan Personal Innovativeness memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap Adoption Intention, dengan koefisien jalur masing-masing sebesar 0,381 dan 0,332, serta p-value sebesar 0,009. Sementara itu, Performance Expectancy, Effort Expectancy, dan Facilitating Conditions tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap Adoption Intention. Nilai R-square model sebesar 0,678 menunjukkan bahwa variabel-variabel dalam UTAUT3 yang diadaptasi mampu menjelaskan 67,8% varians pada Adoption Intention. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan organisasi dan lingkungan sosial, serta keterbukaan pribadi pengguna terhadap teknologi berbasis AI, menjadi faktor penting yang mendorong adopsi atau dukungan terhadap prototipe. Penelitian ini menyimpulkan bahwa prototipe berbantuan AI memiliki potensi yang signifikan untuk meningkatkan proses awal layanan konstruksi hunian B2C PT Anggara Prima melalui peningkatan kejelasan desain, transparansi anggaran, struktur komunikasi, dan kepercayaan pelanggan. Namun, pengembangan teknis saja tidak cukup untuk memastikan keberhasilan implementasi. PT Anggara Prima perlu memperkuat dukungan internal, membangun database biaya yang terstruktur, menjalankan proyek percontohan, meningkatkan kepercayaan pengguna, serta tetap mempertahankan konsultasi manusia sebagai bagian dari proses layanan. Kombinasi Design Thinking dan UTAUT3 yang diadaptasi memberikan kerangka praktis untuk pengembangan dan validasi inisiatif transformasi digital yang berpusat pada pengguna dalam konteks SME residential construction

2026
👤 Penulis: Rinaldy Bonarahma
🏷️ Desain Thinkering 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Konstruksi 🏷️ Hidrologi Bisnis

TRANSFORMASI PEMASARAN STRATEGIS SUATU PERUSAHAAN SOVEREIGN SEKURITAS DALAM PENETRASI PASAR RITEL

Pasar modal Indonesia sedang mengalami ekspansi ritel yang signifikan. Meskipun memiliki akses ke 60 juta nasabah perbankan Sovereign Banking Group, pangsa pasar retail stagnan di angka 2%. Di saat yang sama, pesaing digital berhasil menjadi pemimpin pasar hanya dalam tiga tahun. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus abduktif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam lintas fungsi yang divalidasi dengan data sekunder SOVS dan pasar. Prosedur penelitian yang digunakan meliputi PESTEL, Porter’s Five Forces, Resource-Based View (VRIN), Marketing Mix (7Ps), dan evaluasi proksi Technology Acceptance Model (TAM), yang kemudian diformulasi melalui Matriks TOWS. Penelitian ini menghasilkan empat poin pembelajaran utama: (1) volume transaksi sangat terkonsentrasi pada 20-30% nasabah teratas (HNWI dan trader aktif); (2) menjaga nasabah lama (retensi) lebih penting dibandingkan menambah fitur aplikasi; (3) pemanfaatan basis nasabah bank harus focus kepada segmen khusus agar tidak berujung pasif; dan (4) promosi lewat papan iklan digital lebih hemat dibanding perang iklan di internet. Solusi dari pembelajaran tersebut dibentuk menjadi Peta Jalan Pemasaran Lima Pilar yang dibagi menjadi program jangka pendek (0-12 bulan) dan jangka panjang (12-36 bulan) dengan target pertumbuhan pasar 3-4%.

2026
👤 Penulis: Marvel Ganda Alvaro
🏷️ Pasar Modal Indonesia 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN OTOMASI ALUR KERJA WHATSAPP BERBASIS KECERDASAN BUATAN UNTUK MENINGKATKAN PROSES PERMINTAAN INFORMASI DAN PEMESANAN PELANGGAN: STUDI KASUS PADA LENYPW MAKEUP ARTIST

Dalam bisnis jasa personal seperti layanan penata rias, komunikasi memegang peranan penting dalam mengubah pertanyaan pelanggan menjadi pemesanan yang pasti. Pada kasus LenyPW Makeup Artist, sebagian besar komunikasi terkait pertanyaan dan pemesanan pelanggan dilakukan melalui WhatsApp. Namun, proses penanganan pertanyaan hingga pemesanan yang saat ini masih bersifat manual menimbulkan beberapa masalah operasional, seperti keterlambatan respons, jawaban yang tidak konsisten, pertanyaan berulang, data pelanggan yang tersebar, pengecekan ketersediaan secara manual, serta pelacakan prospek yang terbatas. Masalah-masalah ini dapat memengaruhi pengalaman pelanggan dan meningkatkan beban kerja administratif pemilik usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi titik permasalahan, merumuskan masalah, serta merancang dan memvalidasi prototipe solusi guna memperbaiki proses pertanyaan dan pemesanan pelanggan di LenyPW Makeup Artist. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan kerangka metodologi utama Design Thinking dan Lean Startup (siklus Build–Measure–Learn). Design Thinking digunakan untuk memahami masalah, mengidentifikasi titik permasalahan pelanggan maupun operasional, menentukan kebutuhan perbaikan proses, dan mengembangkan prototipe. Sementara itu, siklus Build–Measure–Learn dari Lean Startup digunakan untuk memvalidasi prototipe dan mengidentifikasi area perbaikan lebih lanjut. Pengumpulan data dilakukan melalui survei wawasan pelanggan, survei klien LenyPW, wawancara dengan admin, observasi proses, pengujian prototipe, kuesioner, tanggapan terbuka, serta evaluasi operasional oleh pemilik/admin. Prototipe dirancang sebagai admin virtual WhatsApp berbasis AI yang mendukung aktivitas awal pertanyaan dan pemesanan, termasuk memberikan informasi daftar harga, memandu pengecekan ketersediaan, mengumpulkan detail pemesanan, mengirimkan instruksi pembayaran, mendukung tindak lanjut, serta mencatat data pelanggan ke dalam basis data yang terstruktur. Prototipe ini diuji oleh 30 responden perempuan yang memiliki pengalaman mencari, menghubungi, atau memesan jasa penata rias, melalui simulasi pemesanan via WhatsApp. Hasil validasi menunjukkan bahwa prototipe tersebut diterima secara positif dari perspektif pelanggan. Skor hipotesis nilai mencapai 91,73% untuk kecepatan respons, 92,67% untuk kejelasan informasi, 92,00% untuk struktur pemesanan, 89,07% untuk kenyamanan dan kepercayaan pelanggan, serta 90,17% untuk proses pengalihan ke manusia. Dari perspektif operasional, prototipe ini juga dinilai bermanfaat dalam mengurangi tugas administratif yang berulang serta memperbaiki pengelolaan data pelanggan, status pemesanan, status pembayaran, tindak lanjut, koordinasi mitra, dan pencatatan prospek yang hilang (*lost leads*). Namun, penyempurnaan lebih lanjut diperlukan sebelum implementasi penuh, khususnya terkait respons yang terduplikasi, memori konteks, penanganan gambar dan bukti pembayaran, waktu respons, serta kejelasan pengalihan interaksi kepada manusia. Studi ini memberikan kontribusi dengan menunjukkan bagaimana otomatisasi alur kerja WhatsApp berbasis AI dapat mendukung usaha jasa berskala kecil—melalui peningkatan penanganan pertanyaan dan alur kerja pemesanan—tanpa menggantikan peran manusia dalam layanan pelanggan.

2026
👤 Penulis: Leny Putri Wahyudi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Desain Produk

HI-LO VERSUS EDLP: ARSITEKTUR PENETAPAN HARGA SEBAGAI STRATEGI EKUITAS MEREK DI PASAR MODERN TRADE DETERJEN CAIR INDONESIA

Selama dua belas bulan terakhir, saluran perdagangan modern Indonesia dalam kategori deterjen mengalami penurunan nilai sebesar 4%, tetapi volumenya stabil. Fenomena ini terjadi karena promosi kompetitif antar merek. Konsumen terbiasa membeli merek berkualitas dengan harga diskon yang akan menunda proses pembelian mereka. Akibat dampak situasi tersebut, Wings, produsen FMCG (Barang Konsumsi Cepat Laku) terbesar di Indonesia, menghadapi masalah pada Klingon dan SoSoft secara bersamaan. SoKlin, merek terkemuka di kategori ini dengan kesadaran merek sebesar 94,5%, diperkirakan akan mencapai titik kritis permanen dalam waktu enam bulan hingga satu tahun. Mereka hampir selalu melakukan aktivitas promosi di hampir semua saluran modern. Rencana aksi kompetitif SoKlin ini akan mengikis sinyal kualitas dan posisi pasar merek tersebut. Di sisi lain, alternatif ramah lingkungan premium, SoSoft, mencapai penetrasi uji coba sebesar 70% tetapi hanya dikonversi menjadi pembeli reguler sebesar 15%. Hal ini disebabkan oleh kegagalan dalam arsitektur harga SoKlin daripada masalah produksi atau distribusi. Studi ini mengeksplorasi bagaimana arsitektur penetapan harga (Hi-Low vs EDLP) memengaruhi persepsi ekuitas merek dan loyalitas konsumen di pasar deterjen cair perdagangan modern Indonesia, menggunakan SoKlin dan SoSoft dari Wings Group sebagai studi kasus. Studi ini menggunakan desain metode campuran simultan. Ini termasuk survei konsumen terstruktur (n=200), wawancara mendalam semi-terstruktur dengan enam belas praktisi industri (produsen dan pengecer) dan audit penetapan harga ritel dari enam merek di empat rantai perdagangan modern (Januari-Maret 2026). Empat temuan ditemukan dalam penelitian ini. Pertama, atribut kinerja fungsional seperti daya pembersih, aroma, dan formula ramah lingkungan secara konsisten lebih diutamakan daripada harga sebagai faktor pembelian utama. Kedua, Hi-Lo dikaitkan dengan Kualitas yang Dirasakan secara signifikan lebih tinggi daripada EDLP. Ketiga, mayoritas konsumen melaporkan kecurigaan kualitas ketika suatu merek selalu dalam promosi. Keempat, konsumen memilih promosi Hi-Lo meskipun mereka lebih menyukai harga stabil yang menunjukkan Paradoks Kepercayaan. Lima rekomendasi strategis dapat diimplementasikan. Matriks Penetapan Harga Misi-Saluran membedakan arsitektur Hi-Lo untuk supermarket dari EDLP yang terlihat untuk minimarket. Kerangka kerja Diet Promosi menyarankan SoKlin dapat memiliki maksimal 2 aktivitas promosi di supermarket per bulan dan 3 per bulan sebagai batas untuk memastikan Titik Balik Permanen tidak terlampaui. Reposisi harga untuk SoSoft untuk memastikan produk eco-premium. Manajemen Akun Utama dan Materi POS membantu mengeksekusi strategi di tingkat rak ritel. Penelitian kami mengkaji studi empiris Hi-Lo versus EDLP di luar pasar negara maju ke pasar negara berkembang Indonesia yang budaya tawar-menawarnya meningkatkan permintaan akan Utilitas Transaksi. Penelitian ini menciptakan Titik Balik Permanen dan Paradoks Kepercayaan berdasarkan penelitian empiris nyata, menawarkan Matriks Penetapan Harga Misi-Saluran sebagai arsitektur penetapan harga baru dalam penetapan harga terapan, mengintegrasikan pemasaran hijau dengan penelitian arsitektur penetapan harga di pasar negara berkembang di sektor FMCG dan menyajikan hasilnya di sini untuk pertama kalinya.

2026
👤 Penulis: Bayu Putra Barly
🏷️ Pemasaran Hijau 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Analisis Harga
Halaman 6 dari 6754
💬