📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

EKSTRAKSI INULIN DARI UMBI GEMBILI (DIOSCOREA ESCULENTA) DAN DAHLIA (DAHLIA PINNATA) SERTA APLIKASINYA SEBAGAI PREBIOTIK

Inulin merupakan prebiotik yang banyak digunakan dalam industri pangan fungsional, namun pemanfaatannya di Indonesia masih bergantung pada sumber impor. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan potensi umbi gembili (Dioscorea esculenta) dan umbi dahlia (Dahlia pinnata) sebagai sumber inulin, menentukan kondisi optimum ekstraksi, mengevaluasi aktivitas prebiotik inulin hasil ekstraksi terhadap pertumbuhan Lactobacillus plantarum, serta mengkaji aplikasinya pada minuman fermentasi. Ekstraksi inulin dilakukan dengan variasi temperatur dan rasio pelarut terhadap padatan, kemudian dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis dan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umbi dahlia menghasilkan yield ekstraksi yang lebih tinggi (10,00–14,10%) dibandingkan umbi gembili (7,65–11,70%). Kondisi optimum diperoleh pada temperatur 70°C dan rasio pelarut terhadap padatan 20:1 (v/b), dengan kadar inulin tertinggi sebesar 82,85 mg/g untuk umbi gembili dan 85,88 mg/g untuk umbi dahlia. Analisis FTIR mengkonfirmasi keberadaan gugus fungsi khas inulin pada kedua ekstrak, dengan inulin dahlia menunjukkan kemiripan spektrum lebih tinggi terhadap inulin komersial. Pengujian aktivitas prebiotik menunjukkan bahwa inulin dahlia menghasilkan pertumbuhan Lactobacillus plantarum yang lebih tinggi, dengan nilai TPC mencapai 9,25 log CFU/mL pada media MRS dan 9,33 log CFU/mL pada minuman sari apel fermentasi setelah 48 jam inkubasi. Selain itu, penambahan inulin meningkatkan viskositas minuman fermentasi hingga 35,85 cP dan menurunkan pH hingga 3,13. Secara keseluruhan, umbi dahlia memiliki potensi yang lebih baik sebagai sumber inulin prebiotik alami dan bahan baku pangan fungsional fermentasi dibandingkan umbi gembili.

2026
👤 Penulis: Marllyne Erythrina Sianipar
🏷️ Prebiotik 🏷️ Ekstrak Inulin 🏷️ Minuman Fermentasi

KAJIAN KELAYAKAN EKONOMI KORIDOR 5 METRO JABAR TRANS DENGAN ANALISIS MANFAAT DAN BIAYA SOSIAL

Metro Jabar Trans (MJT) merupakan sistem Bus Rapid Transit (BRT) yang dikembangkan untuk meningkatkan aksesibilitas dan mendukung mobilitas berkelanjutan di Kawasan Cekungan Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan ekonomi operasional MJT Koridor 5 rute Unpad Dipatiukur–Unpad Jatinangor menggunakan pendekatan Social Cost-Benefit Analysis (SCBA) pada periode analisis 2026–2045. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi, mengukur, dan memonetisasi berbagai komponen biaya dan manfaat sosial yang timbul akibat operasional koridor. Komponen biaya meliputi biaya modal, biaya operasional, dan biaya tambahan waktu perjalanan, sedangkan manfaat mencakup pendapatan operasional, peningkatan produktivitas masyarakat, penghematan ongkos transportasi, penghematan biaya operasional kendaraan, pengurangan kecelakaan lalu lintas, reduksi emisi, serta pengurangan kemacetan. Hasil analisis menunjukkan bahwa MJT Koridor 5 layak secara ekonomi dengan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp837,765 miliar, Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,53, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 67,46%, dan Payback Period (PP) selama 1,09 tahun atau sekitar 1 tahun 3 hari. Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat sosial yang dihasilkan MJT melebihi biaya yang dikeluarkan, sehingga pengembangan dan pengoperasian koridor ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap sistem transportasi perkotaan yang lebih efisien, dan berkelanjutan di Kawasan Cekungan Bandung.

2026
👤 Penulis: Muhammad Hariz Wanira Putra
🏷️ Ekonomi Transportasi 🏷️ Analisis Manfaat-Biaya Sosial 🏷️ Mobilitas Berkelanjutan

EKSPLORASI KOMBINASI GOM ARABIK DAN MALTODEKSTRIN SEBAGAI CARRIER AGENT PADA SPRAY DRYING TEH KOMBUCHA

Teh merupakan salah satu minuman yang paling populer di masyarakat dalam berbagai bentuk produk. Salah satunya adalah teh kombucha yang banyak diminati masyarakat karena dianggap memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Saat ini komersialisasi teh kombucha masih terkendala akibat kestabilan produk yang rendah, masa simpan yang terbatas, dan risiko kontaminasi. Metode spray drying menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kendala tersebut. Namun, tantangan utama metode ini adalah memastikan viabilitas probiotik teh kombucha terjaga selama bahan mengalami pemrosesan termal. Oleh karena itu, diperlukan bahan tambahan carrier agent (penyalut) untuk melindungi bakteri probiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi jenis carrier agent gom arabik dan maltodekstrin (0:1; 0,2:0,8; 0,4:0,6; 0,5:0,5; 0,6:0,4; 0,8:0,2; 1:0 b/b) terhadap properti dan kualitas bubuk kombucha instan, khususnya viabilitas (ketahanan) probiotik dan daya larut (solubilitas). Rasio carrier agent adalah 1:1 (b/b) terhadap padatan teh kombucha. Kondisi spray dry yang digunakan konstan pada temperatur udara masuk 120°C dan laju alir umpan 400 ml/jam. Viabilitas probiotik diukur berdasarkan kemampuan bakteri asam laktat (Lactobacillus sp.) membentuk koloni yang diukur dengan metode Total Plate Count (TPC). Perolehan produk dan kadar air diukur untuk meninjau pengaruh dari proses pengeringan. pH dan warna dari larutan umpan dan hasil rekonstitusi produk diukur untuk meninjau perubahan kualitas sensori produk. Peningkatan konsentrasi maltodekstrin dalam campuran bahan penyalut berpengaruh signifikan (p<0,05) terhadap viabilitas probiotik, daya larut, perolehan, pH, dan warna, tetapi tidak berpengaruh signifikan (p>0,05) pada kadar air. Peningkatan konsentrasi maltodekstrin menyebabkan penurunan viabilitas probioitik, namun meningkatkan daya larut bubuk.

2026
👤 Penulis: Ida Ayu Shantya Widyasari
🏷️ Spray Drying 🏷️ Probiotik Teh Kombucha 🏷️ Penyalut Produk

KAJIAN POTENSI TIMBULAN DAN PENGELOLAAN SAMPAH MENGANDUNG BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN RUMAH TANGGA DI KOTA CIREBON

Kota Cirebon sebagai pusat ekonomi dan jasa di wilayah Jawa Barat bagian timur menghadapi peningkatan timbulan sampah spesifik B3 (SSB3) dan sampah yang mengandung Limbah B3 (SSLB3) akibat pertumbuhan penduduk dan konsumsi rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menentukan timbulan, proyeksi, komposisi dan karakteristik, serta mengevaluasi pengelolaan SSB3 dan SSLB3. Metode yang digunakan meliputi penyebaran kuesioner kepada 100 responden (rumus Slovin, tingkat kepercayaan 90%), pengukuran timbulan sampah pada 40 rumah tangga terpilih, observasi lapangan, dan wawancara. Hasil menunjukkan rata-rata timbulan SSB3 dan SSLB3 sebesar 0,0434 kg/orang/hari, dengan timbulan sampah infeksius rumah tangga sebesar 0,0085 kg/orang/hari yang didominasi pembalut bekas dan masker. Proyeksi timbulan meningkat dari 14.620 kg/hari (2021) menjadi 17.935 kg/hari (2030), seiring proyeksi penduduk mencapai 413.240 jiwa. Komposisi sampah kemasan/sisa B3 didominasi obat nyamuk pada aktivitas kamar (35,09%) dan sampah elektronik didominasi kulkas (57,26%). Karakteristik sampah didominasi oleh sifat beracun, infeksius, mudah menyala, korosif, reaktif, dan mudah meledak, dengan baterai, lampu CFL, obat kadaluwarsa, dan elektronik besar tergolong risiko tinggi. Pengelolaan menunjukkan kondisi yang belum optimal: 96,7% masyarakat belum memilah sampah B3 dan belum tersedianya TPS khusus B3. Untuk pengembangan pengelolaan SSB3 dan SSLB3 diperlukan peningkatan regulasi teknis, edukasi masyarakat, dan pengembangan fasilitas sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2020. Kata kunci: Kota Cirebon,

2026
👤 Penulis: Nida Ul Hasanah
🏷️ Pengelolaan Sampah 🏷️ Hidrologi Lingkungan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

EKSPLORASI KOMBINASI GOM ARABIK DAN MALTODEKSTRIN SEBAGAI CARRIER AGENT PADA SPRAY DRYING TEH KOMBUCHA

Teh merupakan salah satu minuman yang paling populer di masyarakat dalam berbagai bentuk produk. Salah satunya adalah teh kombucha yang banyak diminati masyarakat karena dianggap memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Saat ini komersialisasi teh kombucha masih terkendala akibat kestabilan produk yang rendah, masa simpan yang terbatas, dan risiko kontaminasi. Metode spray drying menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kendala tersebut. Namun, tantangan utama metode ini adalah memastikan viabilitas probiotik teh kombucha terjaga selama bahan mengalami pemrosesan termal. Oleh karena itu, diperlukan bahan tambahan carrier agent (penyalut) untuk melindungi bakteri probiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi jenis carrier agent gom arabik dan maltodekstrin (0:1; 0,2:0,8; 0,4:0,6; 0,5:0,5; 0,6:0,4; 0,8:0,2; 1:0 b/b) terhadap properti dan kualitas bubuk kombucha instan, khususnya viabilitas (ketahanan) probiotik dan daya larut (solubilitas). Rasio carrier agent adalah 1:1 (b/b) terhadap padatan teh kombucha. Kondisi spray dry yang digunakan konstan pada temperatur udara masuk 120°C dan laju alir umpan 400 ml/jam. Viabilitas probiotik diukur berdasarkan kemampuan bakteri asam laktat (Lactobacillus sp.) membentuk koloni yang diukur dengan metode Total Plate Count (TPC). Perolehan produk dan kadar air diukur untuk meninjau pengaruh dari proses pengeringan. pH dan warna dari larutan umpan dan hasil rekonstitusi produk diukur untuk meninjau perubahan kualitas sensori produk. Peningkatan konsentrasi maltodekstrin dalam campuran bahan penyalut berpengaruh signifikan (p<0,05) terhadap viabilitas probiotik, daya larut, perolehan, pH, dan warna, tetapi tidak berpengaruh signifikan (p>0,05) pada kadar air. Peningkatan konsentrasi maltodekstrin menyebabkan penurunan viabilitas probioitik, namun meningkatkan daya larut bubuk.

2026
👤 Penulis: Seannali Budi Adikoputri
🏷️ Spray Drying 🏷️ Probiotik Teh Kombucha 🏷️ Penyalut Produk

PERAN MODAL MANUSIA PADA PELAKU USAHA BATIK DALAM MENDUKUNG TRANSISI PRAKTIK EKONOMI SIRKULAR DI KAMPUNG BATIK KAUMAN, KOTA PEKALONGAN

Industri batik sebagai bagian dari industri tekstil menghadapi tantangan lingkungan berupa tingginya penggunaan bahan baku, air, energi, dan limbah produksi. Ekonomi sirkular menjadi pendekatan untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui penerapan prinsip 9R. Keberhasilan transisi praktik ekonomi sirkular tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan kebijakan, tetapi juga oleh modal manusia pelaku usaha. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi peran modal manusia pada pelaku usaha batik dalam mendukung transisi praktik ekonomi sirkular di Kampung Batik Kauman, Kota Pekalongan. Penelitian menggunakan pendekatan mixedmethods dengan sifat deskriptif-eksploratif dan pendekatan deduktif. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan statistik deskriptif terhadap 20 pelaku usaha batik untuk mengidentifikasi penerapan prinsip 9R, sedangkan analisis kualitatif dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, studi dokumen, dan pengkodean tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ekonomi sirkular telah diterapkan pada seluruh tahapan produksi, namun masih didominasi oleh prinsip reduce, reuse, repair, dan recycle, sedangkan prinsip ekonomi sirkular dengan tingkat hierarki yang lebih tinggi masih terbatas. Modal manusia pelaku usaha didukung oleh pengetahuan praktis, keterampilan teknis, dan pengalaman pelatihan, tetapi belum sepenuhnya berkembang menjadi kapasitas yang sistematis dalam mengelola aliran material, mengukur efisiensi penggunaan sumber daya, serta mengevaluasi proses produksi. Peran modal manusia dipengaruhi oleh faktor pendorong berupa komitmen kepemimpinan, pola pikir organisasi, model bisnis inovatif, jejaring dan kolaborasi, dukungan pemerintah, ketersediaan sumber daya, serta kapasitas modal manusia, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan finansial, keterbatasan teknologi, rendahnya pengetahuan dan kesadaran, kompleksitas rantai pasok, keterbatasan regulasi dan insentif, serta keterbatasan infrastruktur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa modal manusia telah berperan sebagai modal awal dalam mendukung transisi praktik ekonomi sirkular, namun masih berada pada tahap praktis-transisional sehingga masih memerlukan penguatan kapasitas melalui peningkatan pengetahuan konseptual, keterampilan pengelolaan produksi yang terukur, serta pelatihan yang lebih spesifik.

2026
👤 Penulis: Muhamad Rafli Permadi
🏷️ Ekonomi Sirkular 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENGARUH POLA KERJA FLEKSIBEL GENERASI Z TERHADAP PERILAKU PERJALANAN DAN PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI DI KOTA BANDUNG (STUDI KASUS: KECAMATAN COBLONG, BANDUNG WETAN, DAN SUMUR BANDUNG)

Normalisasi pola kerja fleksibel remote work, hybrid work, dan freelance pascapandemi COVID-19 berpotensi mengubah karakteristik perjalanan harian secara signifikan, khususnya di kalangan Generasi Z yang kini mendominasi angkatan kerja perkotaan. Namun implikasinya terhadap sistem transportasi perkotaan di Indonesia masih belum banyak diteliti secara empiris. Penelitian ini mengkaji pengaruh pola kerja fleksibel Generasi Z terhadap perilaku perjalanan dan pemilihan moda transportasi di Kecamatan Coblong, Bandung Wetan, dan Sumur Bandung tiga kecamatan pusat Kota Bandung dengan konsentrasi ekosistem kerja fleksibel tertinggi. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan sequential explanatory design, menggabungkan survei kuesioner terhadap 97 responden Gen Z pekerja fleksibel yang dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi Spearman, ChiSquare, dan regresi logistik multinomial, dengan wawancara mendalam kepada 10 informan yang diolah melalui analisis tematik dan triangulasi.vi Temuan menunjukkan bahwa kerja fleksibel tidak mengurangi total mobilitas Gen Z melainkan mentransformasikan karakternya 89,1% responden tetap bepergian pada hari tidak ada kewajiban ke kantor, dengan pola perjalanan multi-tujuan yang didominasi kuliner (74,2%), co-working space (67,0%), dan belanja (63,9%). Meskipun rebound effect tidak terkonfirmasi secara statistik (rho = -0,005, p = 0,958), pergeseran karakter perjalanan dari komuter terjadwal menuju mobilitas yang lebih cair tergambar jelas secara deskriptif. Sepeda motor pribadi mendominasi pilihan moda kerja (68,0%) maupun non-kerja (63,9%), dengan kepemilikan kendaraan sebagai prediktor terkuat (?² = 28,3, p < 0,001) jauh melampaui pengaruh jenis pekerjaan yang terbukti tidak signifikan (p = 0,720). Faktor biaya dan fleksibilitas waktu menempati posisi teratas kepentingan pemilihan moda, merevisi dugaan awal bahwa teknologi dan kenyamanan lebih dominan bagi Gen Z. Gap analysis mengidentifikasi empat kesenjangan struktural: temporal, spasial, moda, dan kebijakan yang mencerminkan ketidaksesuaian antara sistem transportasi berbasis asumsi 9-to-5 dengan kebutuhan mobilitas Gen Z yang lebih cair dan beragam. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi tipologi kerja fleksibel sebagai determinan perilaku perjalanan dalam konteks kota berkembang Indonesia, memberikan dasar empiris bagi pembaruan kebijakan transportasi Kota Bandung yang responsif terhadap perubahan sosial angkatan kerja muda.

2026
👤 Penulis: Arsya Alaysia
🏷️ Poliwork Generasi Z 🏷️ Mobilitas Perkotaan 🏷️ Kebijakan Transportasi

ANALISIS POTENSI PENGGUNAAN DATA SATELIT GRAVIMETRI DALAM PEMANTAUAN DINAMIKA HIDROLOGI DI INDONESIA

Siklus hidrologi memiliki peran krusial dalam keberlangsungan hidup dan sistem iklim di Bumi. Di Indonesia, dengan karakteristik iklim tropis maritim yang kompleks, pemantauan dinamika hidrologi menjadi tantangan tersendiri, terutama karena pendekatan pemantauan konvensional masih terbatas dan berfokus pada dinamika di atas permukaan Bumi. Upaya mengatasi keterbatasan tersebut, pemanfaatan data satelit gravimetri GRACE (Gravity Recovery and Climate Experiment) dan GRACE-FO (Follow On) menawarkan solusi potensial karena kemampuannya dalam mendeteksi perubahan Total Water Storage (TWS) yang merepresentasikan total massa air di darat, mencakup air permukaan, kelembapan tanah, dan air tanah. Namun, kelangsungan pemanfaatan data GRACE di wilayah Indonesia terhambat oleh adanya kekosongan data akibat masa transisi misi selama 11 bulan, serta gangguan noise sinyal nonhidrologi berskala masif akibat gempa bumi besar seperti gempa Sumatra-Andaman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengoreksi gangguan sinyal gempa pada data pengamatan GRACE, melakukan gap-filling untuk mengembalikan kontinuitas deret waktu observasi, serta menganalisis pola dinamika hidrologi tahunan dan semitahunan di Indonesia beserta keterkaitannya dengan fenomena iklim. Penelitian ini menggunakan data observasi anomali TWS dari CSR GRACE/GRACE-FO RL06.3 Mascon dengan rentang rentang waktu dari April 2002 hingga Juni 2025. Proses awal pengolahan difokuskan pada koreksi gempa bumi di perairan Andaman-Sumatra dengan menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA) yang identik dengan Empirical Orthogonal Function (EOF) untuk mengekstraksi dan mengeliminasi sinyal co-seismic serta postseismic. Setelah dikoreksi, prosedur algoritma climSSA (climate adjustment scheme using Singular Spectrum Analysis) yang dipadukan dengan parameter iklim turunan seperti curah hujan dan potensi evaporasi diaplikasikan untuk merekonstruksi bulan-bulan yang tidak memiliki data observasi. Deret waktu anomali TWS kontinu kemudian didekomposisi menggunakan regresi harmonik untuk mengekstraksi komponen tren linier jangka panjang, pola tahunan, dan pola semitahunan. Hasil observasi divalidasi keandalannya menggunakan perhitungan water budget closure dengan data meteorologis, dan selanjutnya dikorelasikan menggunakan pendekatan lag correlation terhadap empat indeks iklim utama, yaitu El Niño Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), Australian Monsoon Index (AUSMI), dan Indian Monsoon Index (IMI). Kajian ini juga dilengkapi dengan mendeteksi anomali hidrologis berbasis GRACE-DSI (Drought Severity Index) dan perhitungan estimasi anomali Groundwater Storage (GWS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan koreksi gempa bumi berhasil mereduksi anomali tren nonhidrologi secara drastis, utamanya di perairan laut Andaman-Sumatra, sehingga data TWS menjadi lebih stabil dan homogen merepresentasikan variasi massa murni hidrologi. Rekonstruksi data menggunakan metode climSSA terbukti sangat efektif, ditunjukkan oleh pencapaian nilai cross validation dengan simulasi Monte Carlo sebesar 0,93 dan tingkat kesalahan (RMSE) sangat kecil, yaitu 0,68 cm. Melalui dekomposisi harmonik, teridentifikasi bahwa dinamika hidrologi di sebagian besar wilayah Indonesia didominasi oleh pola tahunan yang merespons sistem monsun, sedangkan pola semitahunan hanya mendominasi wilayah lintang ekuatorial seperti Sumatra bagian Barat dan Utara, serta Papua bagian Utara. Validasi menggunakan persamaan water budget closure menegaskan validitas GRACE dengan nilai korelasi moderat menuju kuat dan nilai RMSE yang rendah pada kisaran 7,578 cm. Dalam kaitannya dengan variabilitas iklim, ENSO terbukti menjadi pengontrol iklim global paling dominan yang memengaruhi dinamika TWS di area Indonesia bagian Tengah hingga Timur, sementara intervensi IOD lebih dominan menyetir variasi TWS di wilayah Indonesia bagian Tengah ke Barat. Lebih lanjut, indeks kekeringan GRACE-DSI sukses memetakan rentetan defisit hidrologis ekstrem seperti El Niño tahun 2015-2016 dan 2019, yang memperlihatkan adanya keterlambatan respons air di daratan (lag) berkisar 5 hingga 12 bulan sesudah terjadinya kekeringan curah hujan (meteorologis). Analisis komponen air tanah (GWS) mengungkap adanya laju degradasi cadangan air tanah yang nyata di ekosistem gambut Sumatra dan Kalimantan yang mengalami tren penyusutan sekitar -0,08 cm/tahun, berbanding terbalik dengan wilayah rawa dataran rendah alami seperti Merauke yang masih mengalami tren akumulasi air tanah sebesar 0,65 cm/tahun. Namun, terdapat pola unik di daerah Pantura yang dikenal masif proses ekstraksi air tanahnya terdeteksi memiliki tren naik 0,31 cm/tahun. Secara keseluruhan, integrasi koreksi spasial gempa bumi dan rekonstruksi data climSSA memegang peran penting dalam memaksimalkan potensi data satelit gravimetri GRACE/GRACE-FO. Identifikasi komprehensif atas dinamika hidrologi regional dan cadangan air tanah ini sangat krusial agar dapat diimplementasikan menjadi acuan dan landasan data ilmiah bagi pemangku kebijakan dalam rangka mitigasi bencana hidrometeorologi di masa yang akan datang.

2026
👤 Penulis: Rafly Maharazi
🏷️ Hidrologi 🏷️ Data Satelit Gravimetri Grace/Grace-Fo 🏷️ Analisis Dinamika Massa Air

ANALISIS RISIKO LOW BACK PAIN AKIBAT AKTIVITAS MANUAL HANDLING PADA PEKERJA BAGIAN SUB-ASSY PRODUKSI H225 DI KP4 PT DIRGANTARA INDONESIA, BANDUNG

Aktivitas manual handling yang dilakukan tanpa mempertimbangkan prinsip ergonomis dapat meningkatkan beban mekanis pada tulang belakang, khususnya pada bagian lumbal dan berpotensi memicu low back pain (LBP) pada pekerja industri. Penelitian ini menganalisis hubungan antara faktor pekerjaan, faktor non-pekerjaan, serta risiko ergonomi dengan keluhan LBP pada pekerja subassembly di sebuah industri manufaktur kedirgantaraan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan penilaian postur kerja menggunakan Rapid Entire Body Assessment (REBA), serta pengukuran tingkat disabilitas menggunakan Oswestry Disability Index (ODI) dan pengukuran intensitas nyeri serta gangguan aktivitas menggunakan Brief Pain Inventory (BPI). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank dan regresi linear berganda. Sebagian besar pekerja mengalami keluhan LBP dalam kategori ringan, ditandai dengan dominasi disabilitas minimal berdasarkan ODI serta tingkat nyeri dan gangguan aktivitas ringan berdasarkan BPI. Faktor pekerjaan tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan LBP (p > 0,05), sedangkan faktor non-pekerjaan, seperti riwayat nyeri punggung sebelumnya dan kondisi medis, berhubungan signifikan dengan tingkat disabilitas, intensitas nyeri, dan gangguan aktivitas (p < 0,05). Risiko ergonomi berdasarkan REBA berhubungan signifikan dengan intensitas nyeri, tetapi tidak dengan disabilitas maupun gangguan aktivitas. Analisis regresi linear berganda dengan transformasi logaritmik menunjukkan bahwa model disabilitas [ln(ODI+1)] signifikan (p=0,014; Adj.R²=22,2%) dan model intensitas nyeri [ln(BPI Severity+1)] signifikan (p=0,009; Adj.R²=25,0%), sedangkan model gangguan aktivitas [ln(BPI Interference+1)] tidak signifikan (p = 0.094; Adjusted R² = 10.8%). Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa kejadian LBP dipengaruhi juga oleh faktor lain di luar variabel penelitian. Oleh karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan melalui perbaikan ergonomi kerja serta pengendalian faktor individu untuk meningkatkan keselamatan dan produktivitas pekerja.

2026
👤 Penulis: Putri Defriska Mastiur Siagian
🏷️ Low Back Pain 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Industri Khusus 🏷️ Ergonomi Kerja

PENGARUH FERMENTASI SUBSTRAT PADAT MENGGUNAKAN BACILLUS SUBTILIS TERHADAP HIDROLISAT PROTEIN TEPUNG LARVA LALAT TENTARA HITAM (HERMETIA ILLUCENS L.) BEBAS LEMAK

Larva Lalat Tentara Hitam (Hermetia illucens L.) memiliki potensi sebagai sumber protein alternatif bernilai tinggi untuk pangan dan pakan berkelanjutan, namun masih terkendala oleh tingginya kandungan lemak serta kompleksitas struktur protein yang membatasi ketersediaan hayatinya. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kadar, perolehan, derajat hidrolisis, karakteristik, dan bioaktivitas protein H. illucens melalui penghilangan lemak, fermentasi substrat padat menggunakan Bacillus subtilis pada 45°C, ekstraksi alkali menggunakan NaOH 0,25 M, serta hidrolisis enzimatis menggunakan bromelain. Variasi waktu fermentasi (0–4 hari) meningatkan kadar protein dari 47,15% menjadi 51,07 ± 0,06%, dengan kondisi optimum pada hari ke-4. Kurva pertumbuhan B. subtilis menunjukkan laju pertumbuhan spesifik sebesar 0,181 jam?¹ dan waktu penggandaan 3,82 jam, yang mendukung proses biokonversi substrat. Ekstraksi alkali meningkatkan perolehan protein dari 42,73% menjadi 65,26 ± 4,48%, dengan nilai optimum pada hari ke-2 fermentasi, sedangkan hidrolisis enzimatis meningkatkan derajat hidrolisis dari 46,65% menjadi 49,63 ± 1,84%, dengan nilai tertinggi pada hari ke-4. Analisis SDS-PAGE menunjukkan terjadinya penurunan berat molekul protein setelah fermentasi dan hidrolisis, yang mengindikasikan degradasi protein menjadi peptida berukuran lebih kecil. Fermentasi juga meningkatkan kandungan asam amino esensial. Hidrolisat protein yang dihasilkan menunjukkan aktivitas antioksidan dengan nilai IC?? sebesar 194,46 ± 6,68 ppm serta tidak menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap E.coli dan S.aureus. Sebagai kesimpulan, kombinasi fermentasi, ekstraksi alkali, dan hidrolisis enzimatis efektif meningkatkan kualitas protein H. illucens melalui peningkatan kadar protein, perolehan protein, derajat hidrolisis, perubahan profil molekul protein, serta menghasilkan hidrolisat protein yang memiliki potensi bioaktif untuk aplikasi pangan dan pakan fungsional.

2026
👤 Penulis: Imanuel Ryu Orestes
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS HISTORIS DAMPAK KEBIJAKAN TATA RUANG WILAYAH DAN URBANISASI TERHADAP PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN HUTAN BAKAU DAN POTENSI PENYIMPANAN KARBON DI JAKARTA UTARA

Fenomena urbanisasi yang berlangsung masif di wilayah perkotaan pesisir berpotensi memberikan tekanan terhadap ekosistem pesisir, khususnya hutan bakau yang memiliki peran peran penting dalam menyerap dan menyimpan karbon sebagai salah satu upaya dalam memitigasi perubahan iklim. Sebagai bagian dari wilayah ibu kota DKI Jakarta yang memiliki tingkat urbanisasi tinggi sekaligus wilayah yang memiliki ekosistem hutan bakau di pesisirnya, Jakarta Utara mengalami perkembangan perkotaan yang pesat dan menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan antara pembangunan dengan pelestarian ekosistem hutan bakau. Dalam hal ini, arah kebijakan tata ruang wilayah menjadi faktor penting bagi perkembangan kota sekaligus perlindungan kawasan pesisir. Namun, kajian yang mengintegrasikan analisis historis arah kebijakan tata ruang, dinamika urbanisasi, perubahan tutupan lahan hutan bakau, dan penyimpanan karbon di Jakarta Utara masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis dampak arah kebijakan tata raung wilayah terhadap dinamika urbanisasi, dampak urbanisasi terhadap perubahan tutupan lahan hutan bakau, serta mengestimasi penyimpanan karbon pada ekosistem hutan bakau di Jakarta Utara secara historis selama periode 1995 – 2025. Penelitian ini menggunakan mix method dengan desain concurrent triangulation. Analisis dilakukan melalui content analysis terhadap dokumen RTRW DKI Jakarta dan RTRW Jabodetabek-Punjur, analisis spasial menggunakan Google Earth Engine dan ArcGis Pro, analisis statistik deskriptif, serta pemodelan InVEST Carbon Storage and Sequestration. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah kebijakan tata ruang wilayah DKI Jakarta mengalami perubahan orientasi pembangunan dari sektor industri menuju sektor jasa dan diarahkan untuk dapat menjadi seperti kota besar dunia. Arah pembangunan tersebut mendorong dinamika urbanisasi melalui pengembangan pusat-pusat kegiatan ekonomi, peningkatan aksesibilitas transportasi, serta penyediaan kawasan permukiman yang meningkatkan daya tarik Jakarta Utara sebagai tujuan migrasi. Dinamika urbanisasi selama periode 1995 – 2025 ditunjukkan oleh meningkatnya persentase lahan terbangun, kepadatan penduduk, dan kontribusi PDRB sektor tersier. Dinamika urbanisasi yang terjadi selamaviii periode tersebut berdampak pada berkurangnya luas tutupan lahan bakau. Namun, tidak terjadi secara masif. Meskipun pada periode 2005 – 2015 sempat mengalami konversi luas 70,56 Ha menjadi lahan terbangun, yang diidentifikasi menjadi lahan reklamasi, tetapi kemudian sejak tahun 2005 hingga 2025 luas hutan bakau mengalami peningkatan luas sebesar 105 Ha. Peningkatan tersebut dikarenakan adanya kegiatan penanaman kembali yang dilakukan oleh Komunitas setempat dan Pemerintah DKI Jakarta. Perubahan luas hutan bakau ini memengaruhi dinamika nilai penyimpanan karbon, di mana cadangan karbon ikut menurun pada periode 1995 – 2005 dari 267.389 ton C menjadi 212.143 ton C diakibatkan berkurangnya luas hutan bakau, kemudian kembali meningkat dari 212.143 ton C menjadi 289.487 ton C di tahun 2005 – 2025.

2026
👤 Penulis: Annisa Rezkya Adinda
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN DECISION SUPPORT SYSTEM PROSES PAIRING MATCHING DAN MIDDLE END WEBSITE SEBAGAI KANAL TERINTEGRASI OPERASIONAL JASA LOGISTIK PT SERASI LOGISTICS INDONESIA

PT Serasi Logistics Indonesia (PT SLI) merupakan perusahaan penyedia jasa logistik terintegrasi dengan tiga lini layanan utama, yaitu warehouse management, freight forwarding, dan trucking solutions. Penelitian ini difokuskan pada layanan trucking solutions, khususnya proses pairing matching unit dan driver yang masih dilakukan secara manual menggunakan Microsoft Excel. Kondisi tersebut menyebabkan proses penugasan membutuhkan waktu lama, visibilitas ketersediaan unit dan driver belum aktual, serta berisiko tidak memenuhi service level agreement (SLA) customer. Selain itu, koordinasi antar Divisi Sales & Account, Operations, dan Finance & Administration masih bergantung pada komunikasi informal sehingga menimbulkan keterlambatan informasi terkait status order, UJP, perjalanan, POD, dan billing. Penelitian ini bertujuan merancang Decision Support System (DSS) untuk mendukung prioritisasi order dalam proses pairing matching serta merancang middle-end website operasional sebagai kanal terintegrasi pada proses pre-shipment, on-shipment, dan post-shipment. Metodologi yang digunakan mengacu pada System Development Life Cycle (SDLC). DSS dirancang menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan bobot kriteria dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) untuk menghasilkan peringkat prioritas order. Kriteria yang digunakan meliputi status AFFCO, kategori customer, profit, dan waktu tunggu order. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan DSS mampu menghasilkan prioritas order secara terstruktur dengan nilai consistency ratio AHP sebesar 0,07. Simulasi DSS menunjukkan bahwa order dengan waktu tunggu mencapai 20 menit dapat dinaikkan prioritasnya sesuai SLA pairing matching. Selain itu, rancangan middle-end website mengintegrasikan modul booking order, pairing matching, UJP, shipment tracking, e-POD, billing checklist, dan operational dashboard. Hasil verifikasi dan validasi menunjukkan bahwa rancangan telah memenuhi kebutuhan utama pengguna serta mampu mendukung percepatan penugasan, koordinasi lintas divisi, dan transparansi operasional bagi internal perusahaan maupun customer.

2026
👤 Penulis: Rafly Akbar
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Keputusan

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB BURNOUT PADA PEKERJA INDUSTRI GARMEN PT X YANG DAPAT MEMENGARUHI PERILAKU KESELAMATAN KERJA

Industri tekstil dan garmen memiliki tuntutan kerja tinggi serta kondisi lingkungan yang kompleks, sehingga berisiko menimbulkan burnout pada pekerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor penyebab burnout dan menguji pengaruh faktor fisik lingkungan kerja (kebisingan, iklim kerja panas, PM2,5, PM10 dan pencahayaan) terhadap tingkat burnout. Selain itu, penelitian ini menilai hubungan burnout dengan perilaku keselamatan kerja, yang mencakup safety compliance dan safety participation. Penelitian dilakukan pada pekerja produksi di bagian garmen PT X dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert, burnout diukur menggunakan Maslach Burnout Inventory–General Survey (MBI-GS), faktor penyebab burnout menggunakan Job Demands–Resources (JDR) Model dan perilaku keselamatan kerja melalui instrumen yang diadaptasi dari penelitian terdahulu. Faktor fisik lingkungan kerja diperoleh melalui pengukuran langsung di area produksi. Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), uji bootstrapping dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa job demands (tekanan kerja, risiko dan bahaya) serta job resources (pengetahuan keselamatan, dukungan sosial) berpengaruh signifikan terhadap burnout. Faktor fisik lingkungan kerja, khususnya iklim kerja panas, PM2,5, PM10 dan intensitas pencahayaan, terbukti berpengaruh signifikan terhadap burnout, dengan PM2,5 sebagai faktor dominan. Sebaliknya, kebisingan berkorelasi negatif namun tidak signifikan. Burnout juga memiliki hubungan negatif signifikan dengan perilaku keselamatan kerja, yang berarti semakin tinggi burnout, semakin rendah kepatuhan dan partisipasi pekerja terhadap keselamatan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan beban kerja, penguatan dukungan sosial, serta pengendalian paparan PM2,5 sebagai strategi pencegahan burnout dan peningkatan budaya keselamatan kerja di industri garmen.

2026
👤 Penulis: Putri Ferencia Laurentza
🏷️ Burnout 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Industri Garmen 🏷️ Hidrologi

ANALISIS POTENSI PENERAPAN SPONGE CITY BERDASARKAN KARAKTERISTIK BIOFISIK DAN HIDROLOGI PERKOTAAN DKI JAKARTA

DKI Jakarta sebagai wilayah pesisir menghadapi tekanan hidrologi ganda yang saling memperkuat: risiko banjir yang dinamis dan land subsidence yang berlangsung progresif. Luas genangan banjir menurun dari 18.540,88 Ha (2015) menjadi 14.689,43 Ha (2025), namun dominasi wilayah terdampak berpindah dari Jakarta Utara menuju Jakarta Selatan yang mencatatkan proporsi genangan berbahaya tertinggi. Kondisi ini diperparah oleh laju penurunan muka tanah ratarata -1,86 cm/tahun yang merusak elevasi dan kapasitas tampung saluran drainase eksisting, membuktikan bahwa grey infrastructure konvensional tidak lagi memadai. Diperlukan transformasi menuju intervensi hidrologi yang menahan dan meresapkan air langsung dari sumbernya, sebagaimana prinsip Sponge City. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi penerapan konsep Sponge City di DKI Jakarta melalui pendekatan spasial-kuantitatif berdasarkan kondisi biofisik dan hidrologi untuk menentukan wilayah prioritas implementasi. Metode yang digunakan adalah Spatial Multi-Criteria Evaluation (SMCE) berbasis Weighted Linear Combination (WLC) yang mengintegrasikan empat parameter dengan bobot melalui Rank Order Centroid (ROC), yaitu tutupan lahan (52,08%), kemiringan lereng (27,08%), curah hujan (14,58%), dan jenis tanah (6,25%). Model diuji melalui analisis sensitivitas One-at-a-Time (OAT) pada delapan skenario variasi bobot, serta validasi spasial terhadap 1.291 titik genangan banjir. Hasil pemodelan di-overlay dengan Peta Pola Ruang RDTR untuk mengidentifikasi zona prioritas, kemudian diinterseksi dengan peta penggunaan lahan eksisting guna merumuskan rekomendasi infrastruktur yang kontekstual terhadap regulasi tata ruang Jakarta. Hasil menunjukkan kawasan terbangun mendominasi hingga 89,38% wilayah, sementara tutupan lahan resapan alami menyusut drastis, yaitu semak belukar (- 80,88%), lahan pertanian (-58,78%), dan tanah terbuka (-47,65%). Indeks Potensi Sponge City menunjukkan 59,29% wilayah DKI Jakarta berada pada Kelas 4 (Potensi Sangat Tinggi), terkonsentrasi di Jakarta Selatan (91,5%) dan Jakarta Timur (71,1%). Pemadatan tanah perkotaan turut mereduksi kapasitas infiltrasiv sehingga jenis tanah Dystric Nitisols direklasifikasi dari HSG B menjadi HSG C. Model terbukti konsisten terhadap variasi pembobotan (fluktuasi luas hanya 0,182%) dan tervalidasi kuat, dengan 73,59% titik genangan eksisting berada tepat pada zona prioritas hasil pemodelan. Dibandingkan kajian Sponge City Jakarta yang umumnya deskriptif pada skala kawasan mikro atau tinjauan literatur, penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pendekatan spasial-kuantitatif skala kota yang menjadikan dua ancaman bencana sebagai justifikasi urgensi dan menerjemahkannya ke dalam parameter biofisikhidrologi terukur untuk pemodelan SMCE. Penelitian ini membuktikan bahwa wilayah dengan urgensi tertinggi atau 93,71% area prioritas merupakan kawasan budidaya aktif yang didominasi permukiman padat (42,93%) dan jaringan jalan (13,44%), bukan lahan kosong yang dapat dikonversi bebas. Temuan ini mengubah paradigma implementasi dari penyediaan ruang baru menjadi strategi integrasi infrastruktur resapan seperti permeable pavement, biopori, dan rainwater harvesting ke dalam lingkungan terbangun eksisting. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi pada ilmu perencanaan wilayah dan kota melalui penerapan evaluasi multikriteria spasial pada kota pesisir dengan tekanan bencana hidrologi ganda. Secara praktis, penelitian ini menghasilkan basis data spasial dan justifikasi regulasi (Pergub DKI 109/2021, Permen ATR/BPN 14/2022, Pergub DKI 20/2024) yang dapat menjadi pedoman pemangku kebijakan dalam menentukan lokasi prioritas dan jenis infrastruktur Sponge City sesuai tipologi fisik dan pola pemanfaatan ruang di setiap zona DKI Jakarta

2026
👤 Penulis: Nadhilah Anargya Athaillah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Wilayah

PENENTUAN DISTRIBUSI UKURAN NANOPARTIKEL EMAS DALAM LARUTAN KOLOID MELALUI INVERSI SPEKTRUM ABSORBANSI UV-VIS

Distribusi ukuran partikel merupakan salah satu parameter yang menentukan sifat optik nanopartikel. Karakterisasi menggunakan TEM dan PSA memerlukan biaya yang relatif tinggi serta proses yang lama sehingga diperlukan metode alternatif yang lebih efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan distribusi ukuran nanopartikel emas (AuNP) melalui inversi spektrum absorbansi UV-Vis yang dapat dilakukan in situ menggunakan spektrometer UV-Vis. Inversi dilakukan dengan menggunakan hubungan antara absorbansi dalam pengukuran dan perhitungan teoretis, yaitu melalui teori Mie dan Hukum Beer-lambert. Dua metode inversi, yaitu non-negative least squares (NNLS) dan projected steepest descent (PSD), diterapkan pada spektrum absorbansi sintetis dan spektrum absorbansi eksperimen larutan AuNP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua metode inversi berhasil merekonstruksi distribusi ukuran partikel. Pada inversi spektrum sintetis, rata-rata galat relatif ukuran partikel hasil metode NNLS dan PSD secara berturut-turut adalah 1.6% dan 15.8%, sementara pada inversi spektrum eksperimen berturut-turut sebesar 4.4% dan 5.7%. Namun, keakuratan hasil inversi dipengaruhi oleh pemilihan parameter awal yang berupa kandidat ukuran partikel, khususnya dalam menginversi spektrum eksperimen. Selain itu, ditemukan bahwa kurva absorbansi yang sama dapat dibentuk dari distribusi ukuran partikel yang berbeda sehingga solusi inversi tidak selalu bersifat unik.

2026
👤 Penulis: Eliza Putri Hapsani
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Sistem Optika 🏷️ Hidrologi Nanopartikel
Halaman 60 dari 6754
💬