📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR UNTUK MENDUKUNG DESA WISATA
Pengembangan Desa Wonotoro, Kabupaten Probolinggo sebagai desa wisata menghadapi krisis air bersih akibat akses sumber air yang sulit, penurunan debit musim kemarau, dan ketiadaan data terintegrasi. Penelitian ini mengembangkan AQUAVISION, sistem informasi berbasis WebGIS dengan arsitektur Three-Tier (Django, GeoDjango, PostgreSQL/PostGIS, Leaflet.js) yang memadukan pemodelan potensi air tanah menggunakan AHP Weighted Overlay dengan parameter curah hujan, litologi, lineamen, elevasi, kemiringan, drainase, dan tutupan lahan, serta debit puncak aliran menggunakan metode SCS-CN dan rasional berbasis data topografi, curah hujan klimatologis 30 tahun, tutupan lahan, dan jenis tanah. Hasil menunjukkan zona potensi air tanah didominasi Moderate (58%) dan High (24%), sementara debit puncak tertinggi terjadi pada Februari (14,94 m³/s) dan terendah pada September (0,14 m³/s), yang mengindikasikan keterbatasan air permukaan saat kemarau. Karena keterbatasan data hidrogeologi dan debit observasi lapangan, validasi hasil pemodelan tidak dilakukan melalui verifikasi langsung dengan data aktual, melainkan menggunakan pendekatan komparatif terhadap penelitian referensi (Tesfa dan Sewnet, 2025 untuk GWPZ dan Nst, 2022 untuk debit puncak) dengan parameter topografi dan indeks Normalized Flow Variability (NFV) sebagai tolak ukur yang menunjukkan selisih relatif NFV hanya 2,36% di bawah ambang 25%. Pengujian sistem membuktikan seluruh fungsi berhasil diimplementasikan (feature completeness=1), performa sangat baik (GTmetrix Grade A dengan muat penuh 727ms–1,4s), kompatibel lintas perangkat, serta memperoleh penerimaan pengguna sangat baik (85,32–87,73%) pada standar ISO/IEC 25010. Kelayakan ekonomi menunjukkan BCR 3,6–16,5:1 dengan investasi desa hanya Rp6,5 juta.
KAJIAN FAKTOR-FAKTOR PENGHAMBAT DALAM MANAJEMEN KLAIM JASA KONSTRUKSI BERBASIS EPC (ENGINEERING, PROCUREMENT & CONSTRUCTION) DI PT X
Proyek konstruksi berbasis Engineering, Procurement, and Construction (EPC) memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan proyek konstruksi konvensional karena mengintegrasikan fase engineering, procurement, dan construction dalam satu kontrak terpadu. Karakteristik tersebut menjadikan manajemen klaim sebagai salah satu aspek penting dalam menjaga hak kontraktual perusahaan terhadap perubahan lingkup pekerjaan, keterlambatan, kondisi lapangan, dan berbagai peristiwa lain yang berdampak pada biaya maupun waktu pelaksanaan proyek. Berdasarkan data pengajuan klaim proyek EPC PT X periode 2021–2024, terdapat 71 pengajuan klaim konstruksi dari 17 proyek EPC dengan tingkat keberhasilan klaim sebesar 46%. Selain itu, sekitar 70% klaim yang disetujui memerlukan waktu lebih dari satu tahun untuk memperoleh persetujuan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa efektivitas manajemen klaim pada proyek EPC masih belum optimal dan memerlukan upaya perbaikan yang sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemetaan permasalahan klaim, menganalisis faktor-faktor penghambat manajemen klaim, serta menyusun rekomendasi peningkatan manajemen klaim pada proyek EPC di PT X. Data pengajuan klaim tahun 2021–2024 dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan Weighted Scoring Model (WSM) untuk mengidentifikasi pola permasalahan klaim serta menentukan proyek dengan performa manajemen klaim terbaik dan terendah. Faktor-faktor penghambat yang diperoleh dari studi literatur selanjutnya divalidasi oleh pakar dan dianalisis menggunakan metode Relative Importance Index (RII). Faktor prioritas hasil RII kemudian dievaluasi melalui wawancara, comparative analysis, dan gap analysis dengan membandingkan kondisi aktual perusahaan terhadap prosedur internal dan literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan klaim hanya mencapai 46%, sedangkan sekitar 70% klaim yang disetujui memerlukan waktu lebih dari satu tahun untuk memperoleh persetujuan. Klaim biaya merupakan jenis klaim yang paling dominan dan sebagian besar pengajuan klaim ditujukan kepada owner/pengguna jasa. Berdasarkan hasil Weighted Scoring Model (WSM), Proyek B teridentifikasi sebagai proyek dengan performa manajemen klaim terendah, sedangkan Proyek E memiliki performa manajemen klaim terbaik. Hasil analisis Relative Importance Index (RII) menunjukkan bahwa terdapat 13 faktor prioritas (RII ? 0,80) yang mempengaruhi efektivitas manajemen klaim EPC, meliputi kecukupan SDM ahli klaim, kesiapan strategi penyelesaian sengketa, keterlibatan manajemen pada klaim strategis, monitoring klaim sejak awal proyek, kejelasan dan konsistensi penerapan SOP klaim, pemanfaatan analitik untuk identifikasi dini potensi klaim, serta kompleksitas proyek dan kontrak EPC. Hasil wawancara dan gap analysis menunjukkan bahwa hambatan utama manajemen klaim bukan disebabkan oleh ketiadaan prosedur perusahaan, melainkan oleh kesenjangan implementasi yang meliputi keterbatasan kompetensi personel, belum optimalnya monitoring potensi klaim sejak awal proyek, lemahnya pengelolaan data dan dokumentasi klaim, serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi dalam mendukung pengelolaan klaim. Penelitian juga menunjukkan bahwa karakteristik EPC, seperti tingginya interdependensi antar fase engineering, procurement, dan construction serta ketatnya persyaratan prosedural klaim, turut meningkatkan kompleksitas pengelolaan klaim. Berdasarkan hasil penelitian, disusun empat program strategis peningkatan manajemen klaim EPC yang meliputi penguatan SDM dan kompetensi klaim EPC, penguatan pengelolaan kontrak dan risiko EPC, penguatan tata kelola klaim, serta penguatan monitoring, dokumentasi, pengelolaan data, dan digitalisasi klaim. Implementasi program-program tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan klaim, memperkuat kualitas pembuktian klaim, mengurangi potensi sengketa, serta meningkatkan tingkat keberhasilan klaim pada proyek EPC PT X secara berkelanjutan.
PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR UNTUK MENDUKUNG DESA WISATA
Pengembangan Desa Wonotoro, Kabupaten Probolinggo sebagai desa wisata menghadapi krisis air bersih akibat akses sumber air yang sulit, penurunan debit musim kemarau, dan ketiadaan data terintegrasi. Penelitian ini mengembangkan AQUAVISION, sistem informasi berbasis WebGIS dengan arsitektur Three-Tier (Django, GeoDjango, PostgreSQL/PostGIS, Leaflet.js) yang memadukan pemodelan potensi air tanah menggunakan AHP Weighted Overlay dengan parameter curah hujan, litologi, lineamen, elevasi, kemiringan, drainase, dan tutupan lahan, serta debit puncak aliran menggunakan metode SCS-CN dan rasional berbasis data topografi, curah hujan klimatologis 30 tahun, tutupan lahan, dan jenis tanah. Hasil menunjukkan zona potensi air tanah didominasi Moderate (58%) dan High (24%), sementara debit puncak tertinggi terjadi pada Februari (14,94 m³/s) dan terendah pada September (0,14 m³/s), yang mengindikasikan keterbatasan air permukaan saat kemarau. Karena keterbatasan data hidrogeologi dan debit observasi lapangan, validasi hasil pemodelan tidak dilakukan melalui verifikasi langsung dengan data aktual, melainkan menggunakan pendekatan komparatif terhadap penelitian referensi (Tesfa dan Sewnet, 2025 untuk GWPZ dan Nst, 2022 untuk debit puncak) dengan parameter topografi dan indeks Normalized Flow Variability (NFV) sebagai tolak ukur yang menunjukkan selisih relatif NFV hanya 2,36% di bawah ambang 25%. Pengujian sistem membuktikan seluruh fungsi berhasil diimplementasikan (feature completeness=1), performa sangat baik (GTmetrix Grade A dengan muat penuh 727ms–1,4s), kompatibel lintas perangkat, serta memperoleh penerimaan pengguna sangat baik (85,32–87,73%) pada standar ISO/IEC 25010. Kelayakan ekonomi menunjukkan BCR 3,6–16,5:1 dengan investasi desa hanya Rp6,5 juta.
PEMODELAN DINAMIKA NERACA BANK DI MALAYSIA MENGGUNAKAN SISTEM PERSAMAAN DIFERENSIAL DETERMINISTIK
Kesehatan finansial dan keberlanjutan operasional bank komersial ditentukan oleh interaksi dinamis antara Dana Pihak Ketiga (DPK), kredit, dan ekuitas. Perilaku jangka panjang dari ketiga komponen neraca ini dapat dikaji melalui sistem persamaan diferensial deterministik. Penelitian ini menerapkan kerangka tersebut pada sistem perbankan Malaysia. Data yang digunakan adalah laporan keuangan kuartalan Public Bank, AM Bank, dan Bank of China Malaysia untuk periode 2015–2025. Suku bunga DPK dan kredit diaproksimasi menggunakan deret Fourier, sedangkan parameter struktural model ditaksir dengan algoritma dual annealing. Titik kesetimbangan beserta kestabilannya kemudian dianalisis melalui nilai eigen matriks Jacobi. Sebagai pelengkap, analisis sensitivitas dilakukan untuk mengidentifikasi batas kritis penarikan simpanan dan kredit macet yang dapat memicu kolaps neraca bank. Analisis konsistensi dinamik diterapkan untuk membandingkan kesesuaian sifat dinamik model dengan model persamaan beda pada penelitian paralel. Pemodelan ini terbukti akurat dalam menggambarkan kondisi neraca bank, dengan galat Mean Absolute Percentage Error (MAPE) untuk seluruh komponen berhasil ditekan di bawah 10%. Selain akurat, hasil analisis kestabilan menunjukkan bahwa titik kesetimbangan operasi normal bersifat stabil asimtotik. Hal ini secara utuh merepresentasikan kondisi operasional perbankan yang sehat dan berkelanjutan.
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP LAJU EROSI DAN SEDIMENTASI DAS SERAYU HULU: ANALISIS KOMPARATIF SKENARIO SSP2-4.5, SSP3-7.0, DAN SSP5-8.5 MENGGUNAKAN MODEL SWAT+
DAS Serayu Hulu sebagai daerah tangkapan Waduk Mrica menghadapi permasalahan erosi dan sedimentasi yang tinggi serta berpotensi dipengaruhi oleh perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan karakteristik curah hujan, membandingkan laju erosi dan hasil sedimen pada kondisi baseline dan tiga skenario perubahan iklim (SSP2-4.5, SSP3-7.0, dan SSP5-8.5), serta mengkaji keterkaitan antara perubahan curah hujan dengan perubahan erosi dan hasil sedimen. Analisis dilakukan menggunakan model SWAT+ dengan data iklim historis CHIRPS dan proyeksi CMIP6 ensemble lima model yang telah dikoreksi bias menggunakan metode Quantile Mapping. Simulasi dilakukan pada periode Near Future, Mid Future, dan Far Future. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan diproyeksikan menurun pada Near Future, kemudian meningkat pada Mid Future hingga Far Future, terutama pada skenario SSP5-8.5. Perubahan tersebut diikuti oleh perubahan limpasan permukaan, laju erosi, dan hasil sedimen dengan pola yang serupa. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim berpotensi meningkatkan risiko degradasi lahan dan sedimentasi di DAS Serayu Hulu, sehingga diperlukan strategi pengelolaan DAS yang adaptif terhadap perubahan iklim.
PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI SUMBER DAYA AIR UNTUK MENDUKUNG DESA WISATA
Pengembangan Desa Wonotoro, Kabupaten Probolinggo sebagai desa wisata menghadapi krisis air bersih akibat akses sumber air yang sulit, penurunan debit musim kemarau, dan ketiadaan data terintegrasi. Penelitian ini mengembangkan AQUAVISION, sistem informasi berbasis WebGIS dengan arsitektur Three-Tier (Django, GeoDjango, PostgreSQL/PostGIS, Leaflet.js) yang memadukan pemodelan potensi air tanah menggunakan AHP Weighted Overlay dengan parameter curah hujan, litologi, lineamen, elevasi, kemiringan, drainase, dan tutupan lahan, serta debit puncak aliran menggunakan metode SCS-CN dan rasional berbasis data topografi, curah hujan klimatologis 30 tahun, tutupan lahan, dan jenis tanah. Hasil menunjukkan zona potensi air tanah didominasi Moderate (58%) dan High (24%), sementara debit puncak tertinggi terjadi pada Februari (14,94 m³/s) dan terendah pada September (0,14 m³/s), yang mengindikasikan keterbatasan air permukaan saat kemarau. Karena keterbatasan data hidrogeologi dan debit observasi lapangan, validasi hasil pemodelan tidak dilakukan melalui verifikasi langsung dengan data aktual, melainkan menggunakan pendekatan komparatif terhadap penelitian referensi (Tesfa dan Sewnet, 2025 untuk GWPZ dan Nst, 2022 untuk debit puncak) dengan parameter topografi dan indeks Normalized Flow Variability (NFV) sebagai tolak ukur yang menunjukkan selisih relatif NFV hanya 2,36% di bawah ambang 25%. Pengujian sistem membuktikan seluruh fungsi berhasil diimplementasikan (feature completeness=1), performa sangat baik (GTmetrix Grade A dengan muat penuh 727ms–1,4s), kompatibel lintas perangkat, serta memperoleh penerimaan pengguna sangat baik (85,32–87,73%) pada standar ISO/IEC 25010. Kelayakan ekonomi menunjukkan BCR 3,6–16,5:1 dengan investasi desa hanya Rp6,5 juta.
ANALISIS KEBERLANJUTAN PRODUKSI VANILI ORGANIK DI KABUPATEN LOMBOK UTARA DAN LOMBOK TIMUR
Vanili (Vanilla planifolia) merupakan komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi yang memiliki potensi besar di pasar global, khususnya untuk segmen organik. Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya Pulau Lombok, memiliki potensi pengembangan vanili organik, namun dihadapkan pada tantangan produktivitas yang rendah, fluktuasi harga, dan kerentanan terhadap perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan produksi vanili organik, mengidentifikasi peran dan hubungan antar stakeholder, serta merumuskan strategi pengembangan yang berkelanjutan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur menggunakan metode campuran (mixed method). Analisis keberlanjutan dilakukan menggunakan Multiaspect Sustainability Analysis (MSA) pada lima dimensi (lingkungan, ekonomi, sosial, kelembagaan, teknologi). Peran aktor dianalisis menggunakan metode MACTOR (Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives, and Recommendations), dan perumusan strategi dilakukan melalui Analisis Prospektif. Hasil analisis menunjukkan bahwa status keberlanjutan produksi vanili organik secara agregat adalah berkelanjutan dengan indeks 78,93. Dimensi lingkungan memiliki indeks tertinggi (94,50), sedangkan dimensi teknologi memiliki indeks terendah (47,57) dan berstatus kurang berkelanjutan, menjadi faktor pembatas utama. Analisis stakeholder menempatkan UD. Rempah Organik Lombok dan ICS sebagai aktor dominan, sementara petani berada pada posisi dependen. Faktor kunci penentu keberlanjutan di masa depan adalah dukungan dan peran pemerintah, penggunaan benih unggul, adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim, produktivitas, inovasi teknologi, tingkat adopsi GAP dan pascapanen vanili. Strategi prioritas yang dirumuskan adalah mendorong kebijakan daerah untuk menetapkan vanili sebagai komoditas unggulan dan penyediaan kebun induk benih unggul untuk meningkatkan produktivitas dan adopsi teknologi.
POTENSI ANTIDEPRESAN FRANKINCENSE ESSENTIAL OIL PADA MENCIT BALB/C JANTAN MELALUI ANALISIS ELEKTROKARDIOGRAM
Stres dapat memicu berbagai gangguan kesehatan mental, termasuk depresi apabila berlangsung dalam jangka panjang. Peningkatan jumlah pasien depresi secara global saat ini diikuti oleh maraknya penggunaan obat antidepresan sintetik. Namun, penggunaan jangka panjang obat tersebut kerap menimbulkan efek samping sehingga mendorong pengembangan terapi alternatif menggunakan bahan alam yang lebih aman, salah satunya melalui pemanfaatan minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi Frankincense Essential Oil (FEO) sebagai terapi alternatif antidepresan melalui metode inhalasi pada hewan model mencit yang diinduksi stres kronis. Pengaruh FEO dianalisis menggunakan elektrokardiogram (EKG) untuk menilai perubahan parameter elektrofisiologis jantung dalam mengurangi efek stres kronis tersebut. Penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit BALB/c jantan yang dibagi menjadi lima kelompok perlakuan, yaitu: (1) kontrol pelarut (akuades), (2) kontrol positif (oral fluoxetine), dan (3–5) kelompok inhalasi FEO dengan konsentrasi 0,33%, 0,67%, dan 1% yang ditentukan berdasarkan hasil uji pendahuluan, masing-masing terdiri atas lima ekor mencit (n = 5). Perlakuan dilakukan dengan metode chronic restraint stress selama 30 menit bersamaan dengan inhalasi FEO selama delapan hari berturut-turut yang diikuti dengan perekaman EKG pada hari ke-0, 2, 4, 6, dan 8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inhalasi FEO 0.33% memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan durasi kompleks QRS dan interval RR, serta menurunkan frekuensi denyut jantung (heart rate). Perubahan parameter ini dimediasi oleh senyawa volatil FEO melalui jalur olfaktorius dan respirasi dalam memodulasi sistem saraf otonom serta sumbu HPA sehingga dapat mereduksi peningkatan kerja kardiovaskular akibat stres. Pemberian FEO 0.33% memperlihatkan hasil yang serupa dengan kelompok perlakuan kontrol positif fluoxetine jika dibandingkan dengan kontrol pelarut. Berdasarkan hasil tersebut, inhalasi FEO 0.33% mengindikasi adanya pengaruh antidepresan dan berpotensi sebagai alternatif antidepresan berbasis bahan alam yang lebih aman.
PERANCANGAN UPAYA MITIGASI OSILASI DAYA (POWER SWING) MELALUI ANALISIS STRATEGI RESTORASI SISTEM PASCA GANGGUAN UNTUK PENINGKATAN RESILIENSI SISTEM SULAWESI BAGIAN SELATAN
Seiring dengan berkembangnya sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), meningkatnya kompleksitas sistem mempertinggi risiko terjadinya pemadaman massal yang memerlukan strategi restorasi yang sangat terkoordinasi dan cepat. Makalah ini mengusulkan kerangka restorasi pasca-blackout tiga tahap yang komprehensif untuk jaringan interkoneksi Sulbagsel, didemonstrasikan melalui Simulasi Quasi-Dynamic di DIgSILENT PowerFactory. Pada Tahap 1, seluruh unit pembangkit diklasifikasikan ke dalam kategori Black Start (BS) dan Non-Black Start (NBS) berdasarkan karakteristik mesin penggerak dan kondisi starting termal (Hot, Warm, dan Cold Start), yang menjadi dasar pembentukan enam island restorasi independen secara geografis berpusat pada unit BS yang terverifikasi, yaitu island Bakaru, Barru, Kendari, Sengkang, Poso, dan Makassar. Pada Tahap 2, Rencana Restorasi Jaringan (Network Restoration Plan/NRP) dikembangkan dengan mengenergisasi jalur cranking dari unit BS ke unit NBS secara berurutan dengan interval switching 10 menit, sambil memantau profil tegangan untuk mencegah overvoltage Ferranti. Pada Tahap 3, skema pemulihan beban bertahap dirancang sesuai ramp rate generator, diikuti sinkronisasi island yang terkoordinasi untuk mengintegrasikan kembali sistem interkoneksi secara penuh. Hasil menunjukkan bahwa pada kondisi beban puncak, strategi enam island awal mencapai restorasi penuh dalam 274 menit, yang berkurang menjadi 158 menit, peningkatan 42%, melalui penambahan lima unit Black Start. Pada kondisi beban dasar, restorasi diselesaikan dalam 128 menit. Kondisi sinkronisasi terpenuhi di seluruh titik interkoneksi dengan deviasi tegangan dalam ±3,5% jauh dalam batas regulasi.
PERANCANGAN KAMPUNG SUSUN NELAYAN PRODUKTIF DI PANTAI KALIBARU, JAKARTA UTARA
Kelurahan Kalibaru di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, memiliki potensi dan kontribusi pada sektor perikanan yang cukup besar. Jumlah nelayan di Jakarta Utara menurut laporan BPS tahun 2019 mencapai sekitar 25.235 orang dengan sebaran besar nelayan di titik pendaratan ikan, seperti Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, dan Kamal Muara. Kecamatan Cilincing adalah salah satu wilayah penghasil perikanan tangkap utama di Jakarta Utara dengan produksi ikan yang mencapai hampir 5,9 juta kg pada tahun 2017. Kalibaru terletak di inti kawasan industri dan pusat logistik, dikelilingi oleh Pelabuhan Tanjung Priok, Pelindo II, dan Kawasan Industri Marunda. Oleh karena itu, perekonomian masyarakat lokal Kalibaru sangat berkaitan dengan simpul-simpul ekonomi di sekitarnya, yang berpusat pada ekonomi perikanan, industri, dan sektor informal. Namun, Kelurahan Kalibaru menduduki peringkat ketujuh di DKI Jakarta sebagai kelurahan dengan jumlah RW kumuh tertinggi (Pendataan RW kumuh 2017 Provinsi DKI Jakarta). Kepadatan penduduk Kalibaru mencapai lebih dari 60.000 jiwa/km². Angka ini sangat tinggi dibandingkan kepadatan rata-rata DKI Jakarta, yakni sekitar 16.704 jiwa/km² sehingga mengakibatkan kualitas kehidupan yang buruk di lingkungan tersebut. Fenomena ini sejalan dengan tema Design for Resilient Communities dan berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan. Tugas akhir ini mengusulkan penataan kawasan permukiman kumuh Kalibaru melalui tipologi kampung susun produktif nelayan yang mengintegrasikan hunian vertikal dengan ruang usaha komersial. Pendekatan force-based approach digunakan untuk merespons dinamika isu dan konteks lingkungan, keterbatasan lahan, serta kebutuhan sosial-ekonomi nelayan. Metode perancangan meliputi analisis konteks dan isu lingkungan, serta observasi lapangan untuk memahami kondisi fisik area kumuh, kepadatan penduduk ekstrem, dan potensi lingkungan pesisir. Selanjutnya, dilakukan pemetaan kebutuhan penghuni, khususnya para nelayan, melalui wawancara dan studi literatur. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik nelayan, mulai dari ruang untuk menyimpan dan memperbaiki alat tangkap hingga area untuk mengolah hasil laut dan berdagang. Data ini kemudian menjadi dasar dalam tahap pengembangan konsep dan perancangan. Dengan memindahkan hunian dari horizontal ke vertikal, lahan dapat dimanfaatkan secara lebih efisien, menciptakan ruang terbuka dan menyediakan area komunal. Desain ini secara langsung mendukung pertumbuhan ekonomi nelayan melalui zona pada lantai dasar kampung susun yang dirancang untuk menampung fasilitas produktif, seperti tempat penyimpanan dan perbaikan alat tangkap, ruang pengolahan hasil laut, serta bangunan komersial terintegrasi untuk menjual hasil bahari. Integrasi hunian dan ruang usaha ini menciptakan ekosistem yang mandiri, di mana nelayan dapat bekerja dan tinggal di satu lokasi, meningkatkan efisiensi dan pendapatan nelayan. Hasil rancangan diharapkan mampu mewujudkan hunian layak yang berkelanjutan, sanitasi yang baik, ruang sosial yang terencana, serta berkontribusi pada ketahanan ekonomi komunitas pesisir.
DEALCOHOLIZATION OF FERMENTED GRAPE (VITIS VINIFERA) BEVERAGE USING MEMBRANE TECHNOLOGY FOR FUNCTIONAL BEVERAGE PRODUCTION
Minuman fermentasi anggur (Vitis vinifera) diketahui mengandung senyawa bioaktif dengan potensi sifat fungsional yang mendukung kesehatan. Namun, keberadaan etanol masih menjadi keterbatasan utama, khususnya di wilayah dengan regulasi konsumsi alkohol yang ketat dan meningkatnya permintaan terhadap minuman rendah alkohol. Dealkoholisasi muncul sebagai solusi untuk menghasilkan minuman fermentasi rendah alkohol. Penelitian ini mengevaluasi dealkoholisasi berbasis teknologi membran menggunakan vacuum membrane distillation (VMD) dan forward osmosis (FO) untuk menurunkan kadar etanol sekaligus mempertahankan senyawa volatil dan fungsional. VMD diterapkan sebagai tahap pra-perlakuan untuk pemulihan senyawa volatil pada suhu 30°C dan 40°C menggunakan membran hollow-fiber polypropylene (PP), sedangkan FO dilakukan menggunakan membran thin-film composite (TFC) dengan draw solution 1 M CaCl?, sukrosa 65% b/v, dan campuran CaCl?–sukrosa pada 25°C dan 15°C. Konsentrasi etanol, senyawa volatil, sifat fisikokimia, total phenols content (TPC), aktivitas antioksidan, dan morfologi permukaan membran dievaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa VMD mampu memulihkan beberapa senyawa volatil, termasuk etil asetat, pentana, 3-metil-1-butanol, dan 2-metil-1-butanol. Operasi VMD pada suhu 30°C dinilai lebih menguntungkan karena membutuhkan energi yang lebih rendah. Dealkoholisasi dengan CaCl? mampu menurunkan konsentrasi etanol hingga 3,21%v/v dengan penurunan sebesar 69,6%, sedangkan proses terintegrasi VMD–FO menggunakan CaCl? mencapai penurunan etanol tertinggi sebesar 77,4%, menghasilkan minuman dengan kadar etanol 2,21%v/v. Total phenolic content sebagian besar tetap terjaga pada kisaran 213–400 mg GAE/L, sementara aktivitas antioksidan menunjukkan variasi yang bergantung pada perlakuan. Analisis SEM–EDS menunjukkan adanya deposit unsur kalsium (Ca) pada membran yang menggunakan CaCl?, mengindikasikan potensi reverse solute transport. Secara keseluruhan, VMD–FO merupakan pendekatan yang efektif untuk dealkoholisasi minuman fermentasi anggur karena memberikan penurunan etanol tertinggi sekaligus mempertahankan atribut mutu utama.
PERENCANAAN TEMPAT EVAKUASI SEMENTARA (TES) TSUNAMI DI PANTAI GLAGAH, D.I. YOGYAKARTA
Pantai Glagah adalah salah satu destinasi wisata dan kawasan perikanan di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan risiko yang tinggi terhadap baya tsunami akibat kedekatannya dengan zona subduksi aktif Sunda Megathrust. Tingkat bahaya terhadap tsunami dibuat semakin kompleks dengan keberadaan Bandar Udara Internasional Yogyakarta, dua muara sungai, dan sebuah laguna yang menghasilkan pola genangan tsunami yang tidak merata. Dengan Delft3D, dilakukan pemodelan tsunami secara numerik dengan sistem lima (5) grid dengan pengujian tiga (3) skenario gempa. Simulasi menunjukkan bahwa tsunami skenario terburuk menghasilkan kedalaman inundasi maksimum yakni 7,14 m, dengan gelombang pertama datang dalam 30 menit. Hasil pemodelan kemudian digunakan untuk menentukan elevasi evakuasi, pembebanan struktur, dan penentuan lokasi Tempat Evakuasi Sementara (TES) yang optimum. Dalam analisis, analisis spasial dilakukan dengan mengevaluasi keberadaan TES eksisting dan identifikasi area paling rentan. Penelitian ini diahrapkan dapat menjadi contoh praktis untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap tsunami dan meningkatkan resiliensi komunitas lokal Pantai Glagah melalui mitigasi tsunami yang terintegrasi dengan infrastruktur.
KERANGKA HYBRID AHP-TOPSIS UNTUK SELEKSI KONTRAKTOR INFRASTRUKTUR PADA INDUSTRI PERTAMBANGAN: STUDI KASUS PT XYZ
Pemilihan kontraktor merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan proyek infrastruktur di industri pertambangan. Namun, proses pemilihan kontraktor umumnya masih didasarkan pada persyaratan kualifikasi minimum dan penawaran harga terendah, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan kapabilitas yang dibutuhkan untuk keberhasilan pelaksanaan proyek. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan evaluasi kontraktor yang lebih terstruktur untuk mendukung pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan, mengevaluasi, dan mengusulkan implementasi kerangka kerja Hybrid AHP TOPSIS untuk pemilihan kontraktor proyek infrastruktur di PT XYZ. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods yang mengombinasikan studi literatur, analisis dokumen, wawancara, serta metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Sebanyak sebelas responden ahli terlibat dalam penilaian AHP, dan bobot yang diperoleh digunakan dalam TOPSIS untuk mengevaluasi alternatif kontraktor pada tiga proyek infrastruktur yang telah selesai. Kerangka kerja yang diusulkan terdiri atas enam kriteria utama dan sembilan belas subkriteria, yaitu Technical, Health Safety Environment and Security (HSES), Financial, Performance History, Local Capability–Participation, dan Commercial. Hasil AHP menunjukkan bahwa Technical (25,1%) dan HSES (24,9%) merupakan dua kriteria dengan bobot tertinggi, dengan selisih yang sangat kecil. Temuan ini menunjukkan bahwa kapabilitas teknis dipandang sebagai prasyarat utama keberhasilan pelaksanaan proyek, sementara HSES tetap menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dalam pemilihan kontraktor. Kerangka kerja yang diusulkan menghasilkan peringkat kontraktor yang transparan dan konsisten pada ketiga studi kasus. Dibandingkan pendekatan yang berorientasi pada kualifikasi minimum dan harga terendah, kerangka kerja ini menyediakan proses evaluasi yang lebih komprehensif, transparan, dan dapat ditelusuri, serta tetap sesuai dengan tata kelola pengadaan PT XYZ. Dengan demikian, kerangka kerja Hybrid AHP-TOPSIS dapat menjadi alat bantu pengambilan keputusan untuk meningkatkan kualitas pemilihan kontraktor pada proyek infrastruktur pertambangan.
STUDI LAPANGAN DAN NUMERIK RESPON LATERAL FONDASI TIANG BOR PADA ABUTMEN JEMBATAN AKIBAT PEMBEBANAN TIMBUNAN BERTAHAP DI SEKITARNYA
Konstruksi abutmen jembatan di atas tanah lunak menghadirkan tantangan geoteknik yang signifikan, terutama ketika pekerjaan fondasi dan penimbunan dilakukan secara bersamaan. Umumnya penyelesaian soil improvement dan peningkatan stabilitas oprit terlebih dahulu lebih disukai. Namun dalam kenyataannya pekerjaan konstruksi timbunan & struktur abutment seringkali beriringan. Keberiringan pekerjaan penimbunan dan fondasi dapat menyebabkan akumulasi tegangan lateral yang signifikan, yang mengubah fungsi utama tiang dari penyalur beban aksial menjadi elemen penahan gaya lateral yang tidak direncanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons lateral fondasi tiang bor yang mengalami penimbunan bertahap disertai pengaruh Pre-fabricated Vertical Drain (PVD) di sekitar tiang serta adanya kontribusi dari lapisan penyangga (buffer layer) yang dipadatkan. Instrumentasi lapangan seperti inklinometer dan settlement plate, digunakan untuk mengamati perilaku tanah dan tiang yang telah terpasang di lapangan. Setelah dilakukan analisis back-calculation terhadap kondisi lapangan aktual menggunakan data monitoring instrumentasi lapangan, dilakukan studi parametrik dengan memvariasikan jarak timbunan, ketebalan lapisan penyangga, dan spasi antar-PVD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memperluas pemasangan PVD hingga dekat dengan tiang bor memberikan pengurangan yang signifikan terhadap deformasi lateral dan gaya dalam fondasi, yang efektivitasnya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jarak timbunan, menebalnya lapisan penyangga, dan semakin rapatnya jarak antar-PVD. Temuan ini berkontribusi pada peningkatan pemahaman interaksi tanah–struktur pada kondisi pembebanan bertahap, serta memberikan gambaran efektivitas pemanfaatan PVD dan peranan lapisan penyangga dalam kasus penimbunan bertahap di sekitar tiang fondasi eksisting.
PERANCANGAN STRATEGI DAN METODE DEDIESELISASI OPTIMAL BERBASIS PV
Banyak wilayah 3T Indonesia masih bergantung pada PLTD berbiaya tinggi yang tidak sejalan dengan transisi energi nasional. PLTS-BESS menjadi solusi potensial, namun sering gagal dini akibat degradasi baterai yang cepat. Penelitian ini menentukan kapasitas optimal PV-BESS untuk mini-grid Sikakap, Kepulauan Mentawai, serta mengevaluasi efektivitas strategi SoC derating dan current derating dalam memperlambat degradasi baterai LFP. Prediksi End of Life (EoL) dilakukan menggunakan model semi-empiris First-principle Based Semi-empirical Model (FBSM) yang memisahkan calendar aging dan cyclic aging, disimulasikan terhadap data operasional aktual selama satu tahun. Skenario baseline (SoC 20–80%) mencapai EoL pada tahun ke-22, dengan calendar aging mendominasi 87% degradasi. SoC derating terbukti efektif, dengan peningkatan tertinggi pada rentang 20–65% (28 tahun, +27,3%), sementara current derating tidak signifikan karena C-rate operasional yang sudah rendah. Berdasarkan matriks kriteria (efektivitas EoL, kemudahan implementasi, keandalan sistem/UEF, relevansi iklim tropis, efisiensi biaya), SoC derating 20–65% ditetapkan sebagai solusi terbaik (skor 4,20), meski UEF meningkat dari 21,70% menjadi 29,33%.