📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

ADAPTASI TRANSFORMATIF KOMUNITAS NELAYAN MUARA ANGKE TERHADAP RENCANA PEMBANGUNAN MEGAPROYEK GIANT SEA WALL DENGAN PERSPEKTIF EKOLOGI POLITIK

Rencana pembangunan megaproyek Giant Sea Wall (GSW) di pesisir Jakarta Utara bertujuan mengendalikan banjir rob dan penurunan muka tanah. Namun, proyek ini menimbulkan ketidakpastian terhadap ruang hidup, akses laut, dan keberlanjutan penghidupan komunitas nelayan skala kecil di Muara Angke. Penelitian ini bertujuan menjelaskan strategi pengembangan adaptasi transformatif komunitas nelayan Muara Angke terhadap rencana pembangunan GSW dengan perspektif ekologi politik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus dan rekonstruksi historis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap informan kunci, ditambah dokumen kebijakan, arsip media, dan profil kelurahan. Analisis dilakukan secara bertahap: analisis isi dengan kerangka ekologi politik untuk mengidentifikasi dampak proyek dan adaptation services, serta analisis tematik berbasis kerangka Values Rules Knowledge (VRK) dan adaptation pathways untuk mendiagnosis konteks keputusan komunitas. Dari perspektif ekologi politik, proyek GSW dan reklamasi yang telah berjalan memproduksi kerentanan baru melalui dampak material dan ekologis: penurunan hasil tangkapan yang drastis, kerusakan habitat lamun, pendangkalan alur pelayaran yang membahayakan kapal, serta intensifikasi banjir rob yang mengganggu aktivitas dan kesehatan warga. Konstelasi aktor menunjukkan poros kuasa vertikal terpusat di tingkat nasional, jejaring negara korporasi melalui skema pendanaan multilateral dan kemitraan publik swasta, hierarki pengetahuan yang mendelegitimasi pengetahuan ekologis lokal, serta keberadaan jejaring perlawanan dari JRMK, RT/RW, dan LSM. Empat mekanisme eksklusi bekerja simultan, yaitu eksklusi melalui regulasi (kategorisasi nelayan legal ilegal), eksklusi melalui pasar (kenaikan biaya operasional), eksklusi melalui legitimasi (narasi solusi tunggal), dan eksklusi melalui paksaan spasial (pelanggaran jarak ideal berdasarkan pengetahuan lokal). Dampak terhadap penghidupan bersifat sistemik dan berlapis, dengan tingkat pendidikan nelayan tradisional yang rendah sehingga menyulitkan peralihan profesi. Identifikasi adaptation services menemukan tiga sumber yang masih tersedia namun belum dioptimalkan, yaitu kapasitas adaptif ekosistem (gotong royong sebagai modal sosial dan kemampuan mangrove bertransformasi secara otonom), layanan laten (pemanfaatan limbah cangkang kerang untuk bahan bangunan, fungsi ekologis mangrove, serta potensi koperasi nelayan terintegrasi), dan layanan baru (ekowisata mangrove yang diaspirasikan masyarakat). Sementara itu, analisis VRK menunjukkan bahwa masyarakat tidak sepenuhnya mengetahui dampak GSW, tidak menginginkan konsekuensi proyek, dan tidak diizinkan mencapai hasil yang diinginkan karena partisipasi bersifat prosedural serta status Proyek Strategis Nasional menciptakan kebijakan yang mengunci (lock-in). Jalur adaptasi eksisting bersifat reaktif dan berbasis strategi bertahan (coping), bukan transformatif. Namun, ditemukan opsi tanpa penyesalan (no-regrets options) yang sudah diakui masyarakat: penguatan koperasi, rehabilitasi mangrove untuk ekowisata, pemanfaatan limbah kerang, serta adopsi rumah panggung yang telah terbukti berhasil. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi tiga pilar teoritis (ekologi politik, adaptation services, dan kerangka VRK dalam adaptation pathways) yang sebelumnya belum pernah diterapkan secara simultan untuk menganalisis megaproyek pesisir di Asia Tenggara. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap khazanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang ekologi politik pesisir dan studi adaptasi transformatif, dengan menyediakan bukti empiris bahwa perencanaan infrastruktur keras cenderung maladaptif jika mengabaikan relasi kuasa, mekanisme eksklusi, serta konteks keputusan nilai, aturan, dan pengetahuan komunitas marginal. Rekomendasi jalur integratif resistensi produktif berbasis ekosistem dapat menjadi masukan bagi pembuat kebijakan dan masyarakat dalam merancang adaptasi yang lebih berkeadilan.

2026
👤 Penulis: Ilham Hakim
🏷️ Ekologi Politik Pesisir 🏷️ Adaptasi Transformatif Komunitas Nelayan 🏷️ Services Adaptasi Dan Jalur Adaptasi

PERANCANGAN KERANGKA KERJA PENETRASI PASAR UNTUK PUSAT DATA HIPERSKALA DI INDONESIA: STUDI KASUS ARSA GLOBAL DATA CENTRES

Tujuan dari tesis ini adalah untuk menyusun kerangka kerja penetrasi pasar bagi ARSA Global Data Center (ARSA GDC) Indonesia, yang sejak masuk ke Indonesia pada tahun 2020 hanya memiliki satu pelanggan. ARSA GDC memiliki infrastruktur yang kuat dan dukungan finansial yang baik, namun menghadapi kesulitan di pasar. Oleh karena itu, penelitian ini akan berfokus pada tiga hal utama, yaitu: siapa target pasar ARSA GDC, apa kebutuhan mereka, dan bagaimana strategi untuk memenangkan pasar. Pendekatan mixed-method akan digunakan dalam penelitian ini. Data akan dikumpulkan melalui wawancara dengan 8 pakar industri, serta didukung oleh survei terhadap 40 tenaga profesional di bidang IT. Konteks tambahan dan validasi juga akan menggunakan riset pasar sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori. Pertama, hyperscalers yang berfokus pada infrastruktur yang siap AI, liquid cooling, dan keberlanjutan. Kedua, institusi jasa keuangan (Financial Service Institution/FSI) yang berfokus pada kepatuhan dan dukungan audit. Ketiga, perusahaan (enterprise) yang berfokus pada layanan terkelola dan harga. Keempat, sektor terkait pemerintah yang berfokus pada kedaulatan data. Penelitian ini juga menemukan adanya kesenjangan besar terkait ARSA GDC. Mayoritas responden menganggap ARSA GDC memiliki rekam jejak lokal yang terbatas dan belum mengenal perusahaan tersebut. Hal ini menjadi tantangan besar dalam penetrasi pasar. Namun demikian, ARSA GDC masih memiliki peluang untuk berkembang. Pemain yang sudah ada seperti DCI Indonesia memiliki kekurangan di area penting seperti liquid cooling, densitas tinggi, dan keberlanjutan, sementara ARSA GDC justru memiliki keunggulan di area tersebut. Selain itu, ARSA GDC juga didukung oleh kekuatan finansial dari Kamal serta pendekatan carrier-neutral. Hal ini memberikan diferensiasi bagi ARSA GDC. Kerangka kerja penetrasi pasar yang diusulkan terdiri dari beberapa lapisan yang saling terhubung, yaitu: hyperscaler sebagai segmen utama, penawaran berbasis aset dengan fasilitas JKT1 dan JKT3, lima pilar arah strategis, tiga fase implementasi, serta KPI dan tata kelola untuk memantau pelaksanaan strategi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ARSA GDC sebaiknya memperoleh hyperscaler Tier-1 untuk membangun kepercayaan publik. Hal ini akan mempermudah pencapaian tujuan lainnya. Pada akhirnya, kerangka kerja yang diusulkan memberikan peta jalan yang jelas untuk menjadikan ARSA GDC sebagai platform infrastruktur digital yang berfokus pada AI dan berkelanjutan di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Fariz Pradana
🏷️ Pasar Data 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

LIMBAH SERAT BUAH LONTAR ( BORASSUS FLABELLIFER L.) SEBAGAI SUBSTITUSI PARSIAL PADA BATAKO BERBASIS TANAH KAPURAN (CALCAREOUS SOIL) UNTUK MATERIAL DINDING RUMAH SEDERHANA DI KUPANG

Peningkatan kebutuhan material bangunan yang ramah lingkungan mendorong pengembangan material konstruksi berbasis biomassa lokal sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan. Kota Kupang memiliki potensi tanah kapuran (calcareous soil) dan limbah serat buah lontar yang melimpah, namun pemanfaatannya sebagai material bangunan masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh substitusi parsial serat buah lontar terhadap karakteristik material, sifat fisik, mekanik, ketahanan api, performa termal, dampak lingkungan, serta potensi implementasinya sebagai material dinding rumah sederhana. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan variasi kadar serat sebesar 0%, 2,5%, 5%, dan 7,5% terhadap berat tanah kapuran. Pengujian meliputi karakterisasi material penyusun, densitas, penyerapan air, susut pengeringan, kuat tekan, reaksi terhadap api, konduktivitas termal, tahanan termal (R-value), transmitansi termal (U-value), analisis mikrostruktur menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), analisis korelasi Pearson, Life Cycle Assessment (LCA) berbasis cradle-to-gate (A1–A3), analisis keseimbangan pasokan–kebutuhan biomassa, serta robustness assessment berbasis Multi-Criteria Decision Making (MCDM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar serat menyebabkan penurunan kuat tekan dari 9,1 MPa pada BSL-0 menjadi 7,2 MPa, 6,3 MPa, dan 4,1 MPa pada BSL-2,5, BSL-5, dan BSL-7,5, namun seluruh variasi masih memenuhi persyaratan SNI 03-0349-1989 untuk batako non-struktural. Penambahan serat juga meningkatkan performa ketahanan api, sementara variasi BSL-2,5 menghasilkan konduktivitas termal terendah sehingga memberikan kemampuan isolasi termal terbaik. Analisis SEM menunjukkan bahwa penurunan kuat tekan dipengaruhi oleh terbentuknya interfacial transition zone, peningkatan porositas, dan penggumpalan serat pada kadar tinggi. Analisis LCA menunjukkan bahwa batako berbasis tanah kapuran berserat lontar memiliki embodied carbon yang lebih rendah dibandingkan material dinding konvensional, sedangkan analisis pasokan–kebutuhan membuktikan bahwa ketersediaan limbah serat buah lontar di Kota Kupang mampu mendukung produksi batako untuk pembangunan rumah sederhana secara berkelanjutan. Sintesis seluruh parameter melalui robustness assessment menetapkan variasi BSL-2,5 sebagai komposisi optimum karena memberikan keseimbangan terbaik antara performa mekanik, karakteristik fisik, performa termal, ketahanan api, dampak lingkungan, dan potensi implementasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah serat buah lontar berpotensi menjadi biomassa lokal yang layak dikembangkan sebagai material dinding rendah karbon untuk mendukung pembangunan perumahan berkelanjutan di daerah tropis kering.

2026
👤 Penulis: Yudith Arunika Cempaka Wella
🏷️ Limbah Serat Buah Lontar 🏷️ Material Bangunan Berbasis Biomassa 🏷️ Kecerdasan Buatan

MEMPERTAHANKAN VISIBILITAS MEREK DI ERA AI OVERVIEW: PENDEKATAN AWAL TIKTOK-AUGMENTED SEO UNTUK NOOK

Peluncuran Google AI Overviews pada 2024 mengubah lanskap pencarian global karena menyediakan jawaban instan yang mengurangi klik ke situs web. Meskipun meningkatkan pengalaman pengguna, hal ini memicu penurunan lalu lintas (traffic) web di seluruh dunia. Studi kasus pada perusahaan co-living Nook di Indonesia ini meneliti dampaknya terhadap visibilitas merek sekaligus mengusulkan respons strategis. Penelitian ini menggunakan desain Action Research dalam dua fase berurutan. Fase 1 menganalisis data Google Search Console selama 12 bulan untuk melacak titik penurunan terbesar. Fase 2 menerapkan intervensi lintas saluran dalam dua siklus tindakan (Desember 2025 dan Januari 2026) melalui tahapan Rencana, Tindakan, Pengamatan, dan Refleksi, yang didukung oleh data kuantitatif digital dan wawancara informan kunci. Fase 1 menunjukkan penurunan terpusat pada subdomain blog Nook (-59,9% klik), menandakan adanya masalah kesenjangan kesadaran (awareness gap). Fase 2 menguji pengalihan anggaran dari SEO ke Iklan Kesadaran TikTok. Hasilnya, jangkauan TikTok melonjak 58,8%, pencarian merek naik 6,8%, Pangsa Suara Organik tumbuh 2,1 poin persentase, dan prospek (leads) SEO meningkat 24,6%, meskipun tren traffic blog turun 11,4%. Studi ini mengusulkan kerangka kerja SEO awal yang diintegrasikan dengan TikTok sejak awal. Iklan kesadaran TikTok dirancang untuk memperluas jangkauan dan memicu pencarian merek di Google, yang pada gilirannya memperkuat otoritas merek serta peringkat kata kunci non-merek. Strategi ini terbukti berdampak positif pada performa SEO keseluruhan, meskipun temuan ini masih bersifat indikatif karena keterbatasan waktu dua bulan dan desain kasus tunggal.

2026
👤 Penulis: Farhan Dwi Sarjono
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Pemasaran Digital

REDESAIN GEDUNG RAWAT JALAN DAN FASILITASNYA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. MOEWARDI SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN HEALING ENVIRONMENT BERBASIS EVIDENCE-BASED DESIGN

Gedung Wijaya Kusuma merupakan pusat rawat jalan utama di RSUD dr. Moewardi (RSDM). Berdasarkan hasil Evaluasi Pasca Huni (EPH) yang telah dilakukan RSDM, gedung tersebut memiliki nilai performansi yang sangat buruk. Data statistik menunjukkan gedung ini melayani lebih dari 2000 pasien dengan beban rata – rata kunjungan dalam satu hari 7386 orang per hari. Sehingga memicu masalah kapasitas ruang, sirkulasi, kebisingan, privasi serta kebutuhan area tunggu yang memadai. Sehingga penelitian ini bertujuan merumuskan ulang program ruang dan desain fasilitas yang efisien dan nyaman menggunakan metode perancangan berlandaskan kerangka kerja Evidence-Based Design (EBD). Pengumpulan data dilakukan melalui prosedur Place-Centered Mapping serta penggunaan Kuesioner Skala Likert dengan fokus pada kelompok penunggu pasien. Dilakukan juga pengolahan data udara menggunakan metode fotogrametri melalui perangkat lunak Agisoft Metashape Professional. Semua data dalam penelitian dipadukan dengan (EPH) dari pihak manajemen rumah sakit untuk merumuskan program ruang dan kebutuhan fasilitas gedung rawat jalan. Hasil sintesis data menghasilkan enam kriteria utama perancangan yaitu Sense of Personal Control & Privacy, Positive Distractions, Social Support, Eliminating Environmental Stressors, Connecting Patients to Natural Views, Engenders Feelings. Setiap kriteria diwujudkan dalam implementasi desain yang berfokus pada efisiensi dan kenyamanan, tujuanya perancangan baru ini mampu menyelesaikan masalah overkapasitas sebelumnya sekaligus menciptakan ruang penyembuhan (healing environment) yang optimal bagi pengguna di dalamnya.

2026
👤 Penulis: Airla Prasetudia Hanugrapasca
🏷️ Desain Gedung Rawat Jalan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

OPTIMALISASI ELEMEN FISIK DAN RAGAM KEGIATAN DALAM MEMBENTUK PERSEPSI PLACE ATTACHMENT PENGUNJUNG TEBET ECO PARK JAKARTA

Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik di Jakarta sering dikembangkan dengan fokus pada perluasan kuantitas dan estetika visual, sehingga mengabaikan interaksi psikologis antara ruang dan manusianya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh elemen fisik dan ragam kegiatan terhadap pembentukan persepsi place attachment pengunjung di Tebet Eco Park Jakarta guna merumuskan arahan intervensi spasial. Studi ini memadukan pemetaan keruangan secara empiris dengan pemodelan kausalitas yang mengaitkan aspek psikologi dan arsitektur. Penelitian ini menggunakan metode campura dengan pendekatan deduktif, melibatkan sampel pengunjung yang pernah beraktivitas di Tebet Eco Park dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Analisis data dilakukan melalui reduksi dimensi dengan factor analysis, perbandingan karakteristik antarzona dengan one-way ANOVA yang divisualisasikan melalui pemetaan spasial, pemodelan pengaruh antarvariabel dengan regresi linear berganda dan Exploratory Structural Equation Modeling, serta analisis konten kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa place attachment berbeda secara signifikan di setiap area. Zona komunal dan lanskap ekologis mendominasi ikatan emosional, sementara jalur sirkulasi mencatat tingkat keterikatan terendah. Model statistik membuktikan bahwa ketersediaan amenitas dan perabot taman menjadi faktor fisik paling kuat dalam memicu tingginya aktivitas pasif dan rekreasi sosial. Rutinitas rekreasi menetap inilah yang pada akhirnya menumbuhkan ikatan batin pengunjung secara perlahan, sedangkan penyediaan perkerasan keras (hardscape) yang berlebihan justru menurunkan tingkat kenyamanan. Arahan intervensi spasial disusun secara menyeluruh melalui pemerataan fasilitas dasar dan penyesuaian desain spesifik yang merespons karakter tiap zona. Penelitian ini memberikan wawasan penting bahwa identitas emosional suatu ruang kota tidak muncul seketika dari keindahan arsitekturalnya, melainkan terbangun dari kelengkapan fasilitas taman inklusif yang mampu mewadahi interaksi sosial secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Salsa Nabila
🏷️ Psikologi Lokasi 🏷️ Manajemen Ruang Terbuka Hijau 🏷️ Hidrologi Lingkungan

DISEQUILIBRIUM SUPPLY DAN DEMAND LOGAM EMAS DI INDONESIA : ANALISISEKONOMI, EKONOMI POLITIK, DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN MENGGUNAKAN STUDIKASUS : PT ANEKA TAMBANG TBK.

Indonesia memiliki cadangan emas sekitar ±3.444 ton, namun menghadapi paradoks struktural berupa tingginya ketergantungan impor emas meskipun memiliki potensi sumber daya yang besar. Selama periode 2021–2025, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM) mengimpor rata-rata 28,04 ton emas per tahun, sementara pasokan domestik riil hanya mencapai 5,36 ton per tahun, dengan ketergantungan impor sebesar 94,4% pada tahun 2024 dan arus keluar devisa kumulatif lebih dari US$10 miliar. Penelitian ini bertujuan menganalisis peningkatan supply emas dari sumber lokal untuk memperkuat industri pengolahan emas dalam memenuhi demand emas domestik di Indonesia melalui identifikasi faktor-faktor struktural dan institusional penyebab ketidakseimbangan supply-demand, pengembangan model matematis supply–demand, simulasi berbagai skenario kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), serta pengukuran dampak finansial, ekonomi, dan kelembagaan dari implementasi kebijakan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Applied Policy Modeling Research (APMR) yang mengintegrasikan model matematis supply–demand, analisis ekonomi politik kelembagaan, dan simulasi skenario kebijakan berbasis data operasional PT ANTAM periode 2021–2025 serta laporan McKinsey (2025). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gap struktural rata-rata sebesar 25,63 ton per tahun bukan disebabkan oleh keterbatasan geologi, melainkan oleh tujuh hambatan institusional, terutama distorsi fiskal dan belum tersedianya mekanisme Domestic Market Obligation (DMO) emas. Utilisasi Pabrik Logam Mulia (PLM) Pulogadung yang hanya mencapai 38,4% dari kapasitas terpasang sebesar 100 ton per tahun mengindikasikan bahwa permasalahan utama terletak pada aspek tata kelola. Analisis elastisitas menunjukkan nilai Ed sebesar +3,33 pada tahun 2024, yang mengonfirmasi karakteristik permintaan emas sebagai instrumen investasi yang bersifat procyclical. Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario DMO Hybrid merupakan alternatif kebijakan yang paling optimal dengan potensi reduksi impor rata-rata sebesar 51,5%, penghematan devisa sebesar US$5,03–9,60 miliar dalam lima tahun, peningkatan utilisasi PLM, serta penguatan hilirisasi emas nasional. Penelitian ini merekomendasikan penerbitan Peraturan Menteri ESDM mengenai DMO Emas berbasis model hybrid, revisi PMK Nomor 51 Tahun 2025 untuk mengurangi distorsi fiskal, pembangunan sistem informasi nasional supply-demand emas, serta transformasi ANTAM menuju hybrid sourcing model yang terintegrasi dengan agenda hilirisasi nasional tahun 2025–2030.

2026
👤 Penulis: Ahmad Syauqi
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN KAWASAN TEPI AIR SEBAGAI DESTINASI WISATA DI TANJUNGPANDAN BELITUNG DENGAN PENDEKATAN URBAN REGENERATION

Pariwisata perkotaan menjadi strategi pembangunan utama kota kontemporer. Di Kabupaten Belitung, moratorium timah 2023–2024 menggeser orientasi ekonomi ke sektor pariwisata, didukung status destinasi prioritas nasional dan UNESCO Global Geopark. Sebagai gerbang wisata, Tanjungpandan memiliki aset strategis kawasan tepi air (5,2 km) dan simpul warisan budaya (heritage nodes). Namun, kawasan ini masih sekadar menjadi titik transit singkat akibat degradasi lingkungan, terputusnya koneksi tepi air dengan heritage nodes, kerentanan banjir, dan terbengkalainya sejarah kota. Penelitian ini bertujuan merancang tepi air Tanjungpandan sebagai destinasi wisata melalui pendekatan urban regeneration yang mengintegrasikan aspek fisik-ekologis, spasial-fungsional, dan sosio-kultural. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data lapangan, analisis makro-mikro, analisis potensi-masalah, gap analysis, studi preseden, serta analisis SWOT-TOWS. Hasil perancangan berupa kerangka desain hingga masterplan seluas ±32,9 hektar dengan lima zona tematik. Melalui strategi Stitching Mechanism, desain ini merajut kembali tepi air dengan heritage nodes, mengaktifkan marina, dan menerapkan infrastruktur biru-hijau untuk mitigasi banjir. Kebaruan studi ini terletak pada model regenerasi yang memadukan pariwisata, resiliensi lingkungan, dan identitas lokal pada kota yang bertransisi dari ekonomi ekstraktif. Kesimpulannya, urban regeneration mampu mereposisi Tanjungpandan dari sekadar titik transit menjadi destinasi wisata yang tangguh, berkelanjutan, dan beridentitas lokal.

2026
👤 Penulis: Elvira Andrianti
🏷️ Urban Regeneration 🏷️ Pariwisata Perkotaan 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN RUANG TERBUKA BERBASIS INFRASTRUKTUR HIJAU DI KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTABARU YOGYAKARTA

Kawasan Cagar Budaya (KCB) Kotabaru Yogyakarta merupakan pusat aktivitas beridentitas Garden City yang kini mengalami dinamika perkembangan fungsi ruang. Transformasi tersebut memicu berbagai persoalan spasial pada ruang terbuka publik, khususnya di sekitar simpul Stadion Kridosono dan koridor sekitarnya. Permasalahan utama meliputi belum optimalnya pemanfaatan stadion sebagai ruang terbuka publik inti, konflik kebutuhan ruang antara area publik dan permukiman, alih fungsi ruang hijau menjadi lahan terbangun, tingginya dominasi kendaraan, serta jaringan jalur pejalan kaki yang belum terintegrasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi penataan ulang untuk mengoptimalkan kawasan tersebut sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sekaligus pusat aktivitas komunal. Perancangan ini menerapkan pendekatan infrastruktur hijau untuk menempatkan RTH sebagai inti pengembangan kawasan. Melalui fragmental process sebagai metode perancangan, studi ini mengintegrasikan analisis deskriptif dan perhitungan Indeks Hijau-Biru Indonesia (IHBI). Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, digitasi citra satelit, dan kompilasi data sekunder. Sebagai respons desain, diterapkan empat prinsip utama: activate the public realm, historic identity, enhancing green infrastructure, dan seamless connectivity. Strategi perancangan diwujudkan melalui pemertahanan struktur ruang eksisting, rekonfigurasi jaringan sirkulasi kendaraan dan pedestrian, optimalisasi Stadion Kridosono sebagai simpul utama, penciptaan koridor jalan yang aktif, serta pengintegrasian elemen hijau. Strategi tersebut disimulasikan pada Stadion Kridosono dan tiga koridor utama, yaitu Jalan Suroto, Jalan Yos Sudarso, dan Jalan Lempuyangan. Simulasi ini menghasilkan rancangan aksis ruang terbuka yang menerus dan berpusat di Kridosono. Melalui penerapan infrastruktur hijau, perhitungan IHBI menunjukkan peningkatan persentase RTH di KCB Kotabaru sebesar 5,67% (dari 13,53% menjadi 19,20%), serta menyumbang kenaikan proporsi RTH skala Kota Yogyakarta sebesar 0,13% (dari 18,69% menjadi 18,82%). Ruang-ruang ini tidak hanya berhasil ditransformasikan menjadi wadah aktivitas publik harian, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kapasitas ruang terbuka hijau, sekaligus melestarikan identitas historis Kotabaru sebagai kawasan perkotaan berkonsep Garden City.

2026
👤 Penulis: Bardah Afwillah
🏷️ Ruangan Terbuka Hijau 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGARUH INFRASTRUKTUR JALAN DAN PERMINTAAN PERGERAKAN TERHADAP KETIMPANGAN EKONOMI ANTARWILAYAH DI PROVINSI JAWA BARAT

Ketimpangan ekonomi antarwilayah merupakan tantangan mendasar dalam pembangunan daerah, termasuk di Provinsi Jawa Barat yang tercatat sebagai kontributor Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar kedua secara nasional. Meskipun demikian, lebih dari separuh output ekonomi provinsi ini masih terkonsentrasi pada empat kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, dan Kota Bandung, sementara wilayah selatan relatif tertinggal. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jawa Barat mengidentifikasi bahwa persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur jalan, tetapi juga belum optimalnya pemanfaatan infrastruktur tersebut untuk aktivitas ekonomi. Studi terdahulu masih banyak berfokus pada dimensi kuantitas jalan dari sisi penyediaan (supply-side), sehingga belum memadai mengintegrasikan dimensi kualitas jalan maupun sisi permintaan pergerakan (demand-side) sebagai indikator pemanfaatan infrastruktur secara nyata. Penelitian ini bertujuan mengisi celah tersebut dengan menganalisis pengaruh infrastruktur jalan, meliputi dimensi kuantitas dan kualitas, serta permintaan pergerakan terhadap ketimpangan ekonomi antarwilayah di Provinsi Jawa Barat periode 2015-2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori dan data panel seimbang yang mencakup 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat selama sepuluh tahun pengamatan, menghasilkan 270 observasi. Ketimpangan ekonomi antarwilayah diukur menggunakan Indeks Theil, dihitung dari rasio PDRB per kapita atas dasar harga konstan (ADHK) tiap wilayah terhadap rata-rata provinsi, ditimbang dengan pangsa penduduk. Indeks Theil dipilih karena bersifat decomposable secara aditif dan mampu mengidentifikasi kontribusi ketimpangan hingga tingkat kabupaten/kota. Variabel independen infrastruktur jalan terdiri atas kepadatan jalan sebagai indikator kuantitas dan kemantapan jalan sebagai indikator kualitas, sementara permintaan pergerakan diproksikan melalui tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sektor transportasi darat terhadap jumlah kendaraan bermotor terdaftar. Sebagai variabel kontrol digunakan kepadatan penduduk, realisasi investasi, dan rata-rata lama sekolah. Model diestimasi menggunakan regresi data panel Fixed Effects, dipilih berdasarkan hasil Uji Chow, Hausman, dan Mudlak yang konsisten mengarah pada model tersebut, dengan clustered robust standard errors untuk mengatasi autokorelasi yang teridentifikasi melalui Uji Wooldridge. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemantapan jalan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketimpangan ekonomi antarwilayah, yang mengindikasikan bahwa peningkatan kualitas infrastruktur jalan berkontribusi dalam menurunkan biaya distribusi dan mendorong pemerataan pembangunan, dengan manfaat yang relatif lebih besar dirasakan oleh wilayah yang sebelumnya tertinggal. Sebaliknya, kepadatan jalan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap ketimpangan, yang mengindikasikan bahwa penambahan kuantitas jaringan jalan semata belum cukup untuk mendorong pemerataan apabila tidak disertai peningkatan kualitas. Permintaan pergerakan berpengaruh positif terhadap ketimpangan ekonomi antarwilayah, dan signifikansinya menguat setelah dilakukan pengendalian terhadap pengaruh pandemi COVID-19. Temuan ini menunjukkan bahwa meningkatnya intensitas mobilitas cenderung terkonsentrasi pada wilayah yang telah menjadi pusat kegiatan ekonomi, sehingga memperkuat konsentrasi ekonomi alih-alih mendorong pemerataan. Dari variabel kontrol, kepadatan penduduk juga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ketimpangan, sementara realisasi investasi dan rata-rata lama sekolah belum menunjukkan pengaruh yang signifikan dalam model ini. Serangkaian uji ketahanan (robustness check) yang meliputi penambahan dummy pandemi COVID-19, estimasi pada sub-periode pra dan pascapandemi, model dengan variabel lag satu periode, serta uji diagnostik spasial Moran's I terhadap residual model, secara konsisten menunjukkan bahwa arah dan signifikansi variabel utama tidak mengalami perubahan, sehingga memperkuat validitas temuan utama penelitian ini. Temuan ini memberikan kontribusi akademis dengan mengintegrasikan dimensi kuantitas dan kualitas infrastruktur jalan bersama sisi permintaan pergerakan dalam satu model empiris di level kabupaten/kota. Pendekatan ini belum banyak diteliti dalam konteks Provinsi Jawa Barat. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan agar kebijakan pembangunan infrastruktur tidak hanya berfokus pada penambahan panjang jaringan jalan, tetapi memprioritaskan peningkatan kualitas jalan, khususnya di wilayah selatan yang masih tertinggal, disertai pengembangan transportasi publik agar manfaat aktivitas ekonomi tersebar lebih merata ke seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat.

2026
👤 Penulis: Mega Tri Wulandari
🏷️ Ketimpangan Ekonomi Antarwilayah 🏷️ Infrastruktur Jalan 🏷️ Pemanfaatan Infrastruktur

PRINTED IMAGERY: PUSAT GAYA HIDUP DI KOTA BARU PARAHYANGAN DENGAN TEKNOLOGI 3D CONSTRUCTION PRINTING

Perkembangan metode konstruksi di Indonesia diwarnai dengan hadirnya inovasi otomatisasi melalui teknologi 3D Construction Printing (3DCP) yang mampu menawarkan solusi konstruksi yang cepat, efisien, dan presisi sesuai dengan data digital desain. Kelebihan ini menjadikan 3DCP relevan untuk kebutuhan konstruksi yang mengedepankan kecepatan, fleksibilitas desain, dan prinsip keberlanjutan. Namun, penerapan teknologi 3DCP di Indonesia saat ini masih sangat terbatas sehingga diperlukan media perancangan yang dapat memperkenalkan sekaligus menonjolkan potensinya. Proyek perancangan ini berfokus dalam menjawab batasan teknologi secara arsitektural dan mengeksplorasi kemampuan 3DCP dalam mewujudkan arsitektur yang fungsional serta kaya akan narasi dan pengalaman spasial. Prinsip 3DCP yang mampu mencetak geometri amorf dapat menghadirkan dinding yang mengalir disertai kekayaan tekstur hasil fabrikasi. Dengan potensi tersebut, proyek ini mengangkat paradoks “tirai dan beton” sebagai konsep utama yang menganalogikan bentuk visual sebuah kain tipis yang tertiup angin untuk menciptakan kontras antara persepsi visual kain yang jatuh dan mengalir dengan sifat dinding beton yang kaku. Penerapannya diwujudkan dalam tipologi lifestyle center di kawasan gerbang utama Kota Baru Parahyangan untuk mengenalkan kebaharuan pada masyarakat secara strategis sekaligus membentuk sebuah urban magnet yang memperkuat nilai kawasan. Proses perancangan didukung dengan observasi lapangan, analisis komparatif, dan simulasi desain. Proyek ini diharapkan dapat membuktikan bahwa adaptasi teknologi masa depan dapat secara harmonis menciptakan kedalaman artikulasi spasial arsitektur tanpa mengorbankan kualitas sensorik ruang bagi manusia.

2026
👤 Penulis: Fayza Rizwi Nafisa
🏷️ Teknologi 3D Construction Printing 🏷️ Arsitektur Digital 🏷️ Kebijakan Perencanaan Kota

ANALISIS KORESPONDENSI BERGANDA DALAM MENGEVALUASI KETERCAPAIAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Capaian literasi matematika siswa Indonesia masih jauh di bawah rata-rata internasional sehingga diperlukan pendekatan evaluasi yang mampu mengkaji struktur hubungan antarvariabel penilaian secara multidimensi. Penelitian ini menerapkan Analisis Komponen Utama (AKU), Analisis Korespondensi (AK), dan Analisis Korespondensi Berganda (AKB) pada data ketercapaian pembelajaran matematika dari 157 SMA di Provinsi Jawa Barat. Data tersebut mencakup tiga dimensi penilaian, yaitu proses kognitif, tingkat kesulitan soal, dan konten materi. Hasil AKU menunjukkan bahwa Komponen Utama Pertama (KU1) mampu menjelaskan lebih dari 83% variansi pada tiga dimensi penilaian sehingga dapat diinterpretasikan sebagai ukuran capaian keseluruhan tiap sekolah. Hasil AK mengungkap bahwa penalaran dan pemecahan masalah berkorelasi positif, tetapi berlawanan dengan konsep. Sementara itu, soal bertipe mudah dan sukar berkorelasi negatif dan membentuk dua kutub yang berlawanan. Adapun geometri dan trigonometri berasosiasi searah, tetapi berlawanan dengan data, peluang, dan statistika. Hasil AKB dengan inersia terkoreksi kumulatif sebesar 87,6% menunjukkan bahwa soal bertipe sukar cenderung menuntut penalaran dan pemecahan masalah. Sementara itu, soal matematika lanjutan dan trigonometri cenderung bersifat lebih prosedural. Di sisi lain, soal aljabar berasosiasi dengan pemahaman konsep dasar. Selain itu, status sekolah negeri dan swasta tidak menunjukkan perbedaan profil yang ekstrem. Tiga metode tersebut secara bersamasama memberikan gambaran komprehensif mengenai ketercapaian pembelajaran matematika sebagai dasar perancangan strategi peningkatan yang lebih tepat sasaran.

2026
👤 Penulis: Elsa Rahmayani Nasution
🏷️ Analisis Korespondensi 🏷️ Komponen Utama 🏷️ Pembelajaran Matematika

REHABILITASI KESEHATAN MENTAL DENGAN PRINSIP HEALING ARCHITECTURE SEBAGAI RESPON ISU DEPRESI DI KOTA BANDUNG

Sebanyak 28 juta masyarakat Indonesia berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental, dengan 87% penderita depresi tercatat tidak mencari pengobatan (Kemenkes, 2023). Kelompok usia 15–24 tahun tercatat memiliki prevalensi depresi tertinggi, sebesar 2%. Kondisi ini dipicu oleh keterbatasan tenaga profesional di Indonesia, dengan rasio psikiater mencapai 1 banding 250.000 penduduk, berbeda dari standar WHO sebesar 1:30.000. Stigma yang ada dan tumbuh di masyarakat membentuk kecenderungan penderita mengisolasi diri dan menunda pencarian bantuan profesional. Di Kota Bandung, kemacetan kronis akibat 2,2 juta kendaraan untuk 2,4 juta jiwa serta keterbatasan ruang terbuka hijau (12,3% dari standar minimum 30%) menjadi faktor tambahan yang memicu stres pada masyarakat perkotaan. Kondisi tersebut menjadi latar belakang bagi kebutuhan fasilitas yang dapat mengakomodasi layanan kesehatan mental secara terbuka dan terintegrasi dengan aktivitas publik. Penentuan tipologi didasarkan pada kebutuhan ruang yang mengaburkan batas antara fasilitas kesehatan mental dan ruang publik, sebagai respon terhadap tiga isu utama: akses layanan psikologis bagi kaum muda, ruang interaksi sosial dan dukungan komunitas, serta tekanan psikologis di lingkungan perkotaan. Fungsi tersebut diimplementasikan melalui integrasi layanan psikologi dan psikiatri dengan area komersial, restoran, pusat kebugaran, dan spa dalam satu bangunan. Kawasan Jalan Dipati Ukur, yang berbatasan dengan Jalan Teuku Umar, ditentukan sebagai tapak perancangan. Melalui prinsip cahaya alami, elemen biofilik, keseimbangan ruang, dan kontrol sensoris, Healing Architecture diwujudkan ke dalam tiga pilar respons desain. Pendekatan ini menciptakan lingkungan binaan yang aksesibel bagi layanan rehabilitasi, terintegrasi secara fungsi, dan memulihkan kondisi psikologis. Proses perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis perilaku pengguna, serta studi komparatif terhadap tipologi fasilitas sejenis di tingkat nasional dan internasional, dengan hasil berupa gubahan massa yang merespons batas tapak melalui subtraksi volume tengah, pemisahan massa untuk sirkulasi, dan penyesuaian elevasi untuk penetrasi cahaya matahari, serta zonasi vertikal dengan tingkat privasi yang meningkat pada lantai atas. Perancangan proyek bertujuan mewujudkan fasilitas yang mengintegrasikan fungsi klinis, wellness, dan publik sebagai respon terhadap isu kesehatan mental pada kelompok muda. Luaran yang dituju berupa tipologi bangunan yang berkontribusi pada peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental, pengurangan stigma sosial, serta penguatan sistem dukungan bagi generasi muda di Kota Bandung

2026
👤 Penulis: Toriq Ihza Faruq Asshara
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

OPTIMASI SITUS AKTIF CO3O4 DENGAN DOPAN METAL TRANSISI UNTUK REAKSI REDUKSI OKSIGEN SEBAGAI MATERIAL FUEL CELL UNGGUL

Fuel cell merupakan teknologi energi bersih yang dapat mengonversi energi kimia menjadi energi listrik dengan emisi rendah. Salah satu tantangan utamanya adalah reaksi reduksi oksigen atau oxygen reduction reaction (ORR) di katoda yang berlangsung lambat, sehingga diperlukan katalis yang aktif, stabil, dan ekonomis. Penelitian ini mengkaji permukaan Co?O?(100) pristine dan dopan Ni Co?O?(100) sebagai kandidat katalis ORR menggunakan metode Density Functional Theory (DFT) dengan koreksi Hubbard U. Fokus penelitian diarahkan pada 2 mekanisme ORR tahap awal, yaitu jalur disosiatif dan asosiatif dari jalur 4 elektron, serta adsorpsi spesies tahap awal ORR, serta perbandingan selisih energi pada jalur disosiatif dan asosiatif. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa penambahan dopan Ini berpengaruh terhadap kemampuan adsorpsi spesies antara tahapan awal mekanisme ORR. Berdasarkan diagram selisih energi, jalur asosiatif pada permukaan dopan Ni lebih stabil dibandingkan dengan jalur disosiatif. Hasil ini menunjukkan bahwa dopan Ni lebih berperan dalam menstabilkan pembentukan intermediat pada jalur asosiatif tahap awal ORR.

2026
👤 Penulis: 'Izzah Huwaidah
🏷️ Katalis 🏷️ Reaksi Reduksi Oksigen 🏷️ Analisis Fungsi Density

NEUROARCHITECTURE FOR BIRTH AND BEYOND: DESIGNING SPACES FOR MATERNAL WELL-BEING AND POSITIVE BIRTH EXPERIENCE

Tingginya prevalensi kecemasan dan depresi pascapersalinan di Indonesia menunjukkan bahwa kesehatan mental ibu masih menjadi aspek yang kurang diperhatikan dalam sistem perawatan maternal, padahal kondisi ini berdampak langsung pada keberlanjutan kesehatan generasi berikutnya sebagaimana ditekankan dalam SDG 3 (Good Health and Well-Being). Fenomena fear tension pain syndrome memperlihatkan bagaimana rasa takut dan kecemasan ibu terhadap proses persalinan dapat memicu ketegangan tubuh yang justru memperbesar persepsi nyeri, sementara lingkungan binaan fasilitas kesehatan maternal konvensional yang cenderung klinis, bising, dan minim privasi belum dirancang untuk mendukung regulasi hormonal alami tubuh, khususnya keseimbangan oksitosin dan kortisol selama persalinan. Kondisi ini melatarbelakangi eksplorasi neuroarsitektur sebagai topik utama perancangan, yakni pendekatan arsitektural yang menempatkan respons neurologis dan psikofisiologis pengguna sebagai dasar pertimbangan desain ruang perawatan maternal. Tipologi bangunan yang dipilih adalah fasilitas perawatan maternitas yang berlokasi di kawasan Jalan Parahyangan Raya, Bandung, dengan pertimbangan kebutuhan fasilitas kesehatan ibu dan anak yang berorientasi pada kenyamanan psikologis, bukan sekadar fungsi medis semata. Pendekatan yang digunakan adalah neuroarsitektur yang diintegrasikan dengan prinsip biophilic design guna menciptakan lingkungan yang secara neurologis mendukung penurunan kadar kortisol dan peningkatan oksitosin melalui elemen spasial seperti pencahayaan alami, kualitas akustik, sirkulasi organik, dan area transisi privat-publik. Metode perancangan mencakup studi literatur terhadap teori neuroarsitektur, kajian preseden fasilitas maternitas, serta analisis tapak dan konteks lingkungan sekitar untuk merumuskan strategi massa dan zonasi ruang yang responsif terhadap kebutuhan psikofisiologis pengguna. Tujuan perancangan ini adalah menghasilkan rancangan arsitektur fasilitas maternitas yang menurunkan tingkat kecemasan dan nyeri persalinan melalui pendekatan neurosains lingkungan, sekaligus mendorong terciptanya pengalaman melahirkan yang positif. Luaran yang diharapkan berupa produk rancangan arsitektur yang aplikatif serta kontribusi teoretis bagi pengembangan wacana neuroarsitektur dalam konteks fasilitas kesehatan maternal di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Nabila Utami
🏷️ Neuroarsitektur 🏷️ Kesehatan Mental Ibu 🏷️ Biophilic Design
Halaman 67 dari 6754
💬