📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenMENENUN KEHIDUPAN DI ATAS PASAR: HUNIAN VERTIKAL INKLUSIF BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI SADANG SERANG, BANDUNG
Urbanisasi yang terus meningkat di Kota Bandung menyebabkan kebutuhan hunian semakin tinggi di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga tanah dan rumah yang melampaui daya beli masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sehingga memperbesar backlog perumahan dan mendorong munculnya permukiman berkualitas rendah. Di sisi lain, kawasan Pasar Sadang Serang merupakan pusat aktivitas ekonomi masyarakat yang berada pada lokasi strategis, namun belum mampu mengakomodasi kebutuhan hunian yang layak bagi para pedagang dan masyarakat berpenghasilan rendah di sekitarnya. Perancangan Menenun Kehidupan di Atas Pasar mengusulkan regenerasi Pasar Sadang Serang melalui pengembangan kawasan mixed-use yang mengintegrasikan fungsi pasar tradisional dengan hunian vertikal inklusif bagi MBR. Integrasi ini bertujuan mempertahankan kedekatan masyarakat dengan sumber mata pencaharian sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan lahan perkotaan. Program hunian dilengkapi ruang usaha, ruang komunal, fasilitas publik, ruang bermain anak, serta area pelatihan yang mendukung interaksi sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Perancangan menerapkan pendekatan community-based design yang berorientasi pada manusia (people-oriented) dengan mengedepankan prinsip inklusivitas, konektivitas spasial, efisiensi penggunaan lahan, dan keberlanjutan lingkungan. Strategi desain diwujudkan melalui integrasi pasar dan hunian, sirkulasi terbuka yang meningkatkan interaksi sosial, aksesibilitas bagi seluruh pengguna termasuk penyandang disabilitas, sistem ventilasi alami dan desain pasif yang sesuai dengan iklim tropis, serta penyediaan ruang komunal yang memperkuat kehidupan bertetangga. Unit hunian dirancang dalam tipe 24 dan tipe 36 guna mengakomodasi kebutuhan berbagai kelompok keluarga MBR dengan tetap menjaga keterjangkauan biaya. Hasil perancangan diharapkan mampu menghadirkan model hunian vertikal yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal layak dan terjangkau, tetapi juga memperkuat keberlangsungan ekonomi pasar tradisional serta membangun komunitas yang inklusif, sehat, dan berkelanjutan. Proyek ini menjadi alternatif regenerasi pasar tradisional di kawasan perkotaan padat melalui integrasi fungsi hunian dan perdagangan yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 1 (No Poverty), SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities), dan SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth).
SIRKL* KINA: SIMPUL KREASI KOLABORATIF MELALUI ADAPTIVE REUSE DI KAWASAN PABRIK KINA
Kota Bandung memiliki sejarah panjang sebagai episentrum medis global, salah satunya ditandai oleh berdirinya Pabrik Kina pada tahun 1896. Saat ini, seiring dengan transisi Bandung menjadi Kota Kreatif UNESCO yang menaungi puluhan ribu pelaku ekonomi kreatif, terjadi peningkatan kebutuhan ruang kolaboratif di tengah masyarakat. Namun, berhentinya operasional Pabrik Kina menyisakan struktur raksasa yang terbengkalai. Proyek ini merespons tiga isu utama yang muncul akibat kondisi tersebut: stagnasi aset cagar budaya yang memicu degradasi ruang, memudarnya memori kolektif masyarakat terhadap identitas historis kawasan, serta karakter tipologi industri peninggalan yang tertutup dan terisolasi. Sebagai jawaban arsitektural atas tantangan tersebut, diajukan perancangan "Sirkl' Kina", sebuah Collaborative and Circular Creative Hub dengan pendekatan Adaptive Reuse. Pendekatan pelestarian ini bekerja dengan strategi mempertahankan cangkang fisik (shell) berupa dinding fasad dan struktur atap bentang lebar yang memiliki signifikansi historis, sembari menyuntikkan program ruang baru yang relevan di dalamnya. Tipologi pabrik industri yang sebelumnya kaku dan tertutup direkontekstualisasi menjadi fasilitas mixed-use yang permeabel, mencakup area komersial, ruang kerja kolaboratif, serta ruang pameran kultural. Design framework yang digunakan adalah force-based approach, di mana desain akhir merupakan hasil negosiasi dinamis antara kekuatan lingkungan (mempertahankan cangkang fisik bangunan), sosial (merawat memori kolektif), dan ekonomi (mewadahi ekosistem kreatif). Metodologi ini diimplementasikan melalui studi literatur, observasi lapangan, analisis komparatif, dan pemetaan sistem untuk mensintesis data menjadi konsep spasial yang efektif. Luaran yang diharapkan adalah sebuah rancangan arsitektural yang komprehensif dan inovatif, serta dapat berkontribusi sebagai fasilitas yang menyelamatkan artefak peninggalan industri dari kerusakan sekaligus mendukung transisi Bandung menuju kota kreatif
MODEL NUMERIK UNTUK EVOLUSI KETEBALAN ES MENGGUNAKAN METODE FTCS DAN CFDM
Proses pelelehan es di dalam pipa merupakan fenomena perubahan fase yang dipengaruhi oleh kondisi termal, difusi, serta bentuk geometri domain. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji model numerik pelelehan es dengan menggunakan metode Forward Time Centered Space (FTCS) orde empat dan Compact Finite Di!erence Method (CFDM) orde empat. Ketebalan es dimodelkan sebagai fungsi dua dimensi terhadap ruang dan waktu yang memenuhi persamaan adveksi-difusipelelehan. Beberapa formulasi laju pelelehan dikaji, yaitu baseline melting, heattransfer modification, sub-melting formulation, dan oscillatory sub-melting. Model tersebut diterapkan pada geometri lingkaran dan elips untuk melihat pengaruh bentuk domain terhadap distribusi ketebalan es, lokasi puncak, serta evolusi ketebalan maksimum terhadap waktu. Hasil simulasi tanpa difusi menunjukkan bahwa kedua metode numerik mampu mereproduksi solusi analitik dengan sangat baik. Pada kasus dengan difusi, FTCS dan CFDM menghasilkan profil ketebalan, nilai puncak, dan lokasi puncak yang sangat berdekatan. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada efisiensi komputasi, dengan metode FTCS yang secara umum membutuhkanwaktu simulasi lebih singkat dibandingkan CFDM. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa difusi berperan dalam meratakan distribusi ketebalan es dan menurunkan nilai puncak, sedangkan parameter heat-transfer dan parameter submelting memengaruhi intensitas perubahan ketebalan es. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan model numerik untuk proses pelelehan es dan fenomena perubahan fase lainnya pada sistem perpipaan.
KONSERVASI REPTIL DAN AMFIBI DENGAN PENDEKATAN BIOKLIMATIK-EDUKASI DI KABUPATEN BANDUNG BARAT
Reptil dan amfibi merupakan kelompok satwa yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sebagai pengendali populasi hama, indikator kualitas lingkungan, serta bagian dari rantai makanan. Namun, keberadaan kedua kelompok satwa ini terus mengalami penurunan akibat hilangnya habitat alami, perubahan iklim, perdagangan satwa liar, dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sebuah konservasi. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya upaya pelestarian yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan spesies, tetapi juga pada penyediaan fasilitas yang mampu mendukung kesejahteraan satwa, penelitian, penangkaran, serta edukasi publik. Oleh karena itu, tugas akhir ini mengangkat topik perancangan fasilitas konservasi reptil dan amfibi sebagai bentuk kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) 15: Life on Land, yang berfokus pada perlindungan ekosistem daratan, pelestarian keanekaragaman hayati, serta pengelolaan habitat yang berkelanjutan. Isu utama yang diangkat adalah masih terbatasnya fasilitas konservasi reptil dan amfibi di Indonesia yang mampu mengakomodasi kebutuhan biologis satwa secara optimal sekaligus memberikan pengalaman edukatif kepada masyarakat. Sebagian besar fasilitas yang ada masih berorientasi pada fungsi display atau penangkaran, sehingga aspek kesejahteraan satwa, penelitian, serta pembentukan kesadaran publik belum terintegrasi secara menyeluruh. Kondisi tersebut mendorong perlunya sebuah fasilitas yang mampu menghadirkan habitat buatan yang mendekati kondisi alami, sekaligus menjadi wadah konservasi, penelitian, dan pembelajaran dalam satu kesatuan. Tipologi yang dipilih adalah fasilitas konservasi reptil dan amfibi di Kabupaten Bandung Barat dengan fungsi utama sebagai pusat konservasi, penelitian, penangkaran, pelayanan kesehatan satwa, dan edukasi. Pemilihan lokasi didasarkan pada kondisi iklim yang relatif sejuk serta karakter lingkungan yang mendukung penerapan strategi arsitektur bioklimatik. Perancangan menggunakan Concept-Based Approach dengan pendekatan bioklimatik-edukatif. Pendekatan bioklimatik diterapkan untuk menciptakan kondisi mikroklimat yang sesuai bagi berbagai habitat reptil dan amfibi melalui pengelolaan suhu, kelembapan, pencahayaan alami, dan ventilasi, sedangkan pendekatan edukatif bertujuan membangun interaksi antara manusia dan satwa melalui pengalaman ruang yang informatif dan imersif. Metode yang digunakan dalam proses perancangan meliputi studi literatur, observasi lapangan pada tapak, analisis kondisi lingkungan dan pengguna, serta studi komparatif terhadap berbagai fasilitas konservasi reptil dan amfibi sebagai dasar penyusunan konsep desain. Melalui pendekatan tersebut, perancangan ini diharapkan mampu menghasilkan fasilitas konservasi yang berkelanjutan, responsif terhadap iklim lokal, mendukung kesejahteraan reptil dan amfibi, serta menjadi wadah penelitian dan edukasi yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati.
PENGALAMAN KULINER SEBAGAI PRAKTIK KULTURAL: SPASIALISASI PRAKTIK KULINER SUNDA MELALUI PUSAT PENGALAMAN BUDAYA KULINER DI BANDUNG
Bandung telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata utama di Indonesia dan memiliki identitas yang kuat sebagai kota kuliner. Budaya kuliner kota ini berkaitan erat dengan ekonomi kreatifnya, di mana makanan tidak hanya berfungsi sebagai sarana konsumsi, tetapi juga sebagai pengalaman sosial dan budaya. Topik ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, yang menempatkan arsitektur sebagai media dalam melestarikan warisan budaya takbenda melalui ruang publik yang inklusif sekaligus memperkuat identitas lokal dan pariwisata perkotaan yang berkelanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata kuliner semakin bergeser menuju aktivitas yang berorientasi pada pengalaman, di mana pengunjung mencari suasana, keterlibatan budaya, dan pengalaman spasial yang berkesan. Masjid Al-Jabbar merupakan salah satu destinasi wisata utama di Bandung. Meskipun memiliki peran penting sebagai salah satu ikon wisata utama Kota Bandung, Masjid Al-Jabbar mengalami penurunan jumlah kunjungan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir akibat terbatasnya ragam aktivitas di luar fungsi keagamaan serta belum adanya atraksi pendukung yang merepresentasikan identitas budaya lokal. Selain itu, meskipun kawasan sekitarnya menunjukkan permintaan yang tinggi terhadap aktivitas kuliner, fasilitas yang terorganisasi untuk mengakomodasi dan merayakan budaya kuliner Sunda masih terbatas. Sebagai alternatif, proyek ini mengusulkan sebuah Culinary Culture Experience Center yang berlokasi di kawasan sekitar Masjid Al-Jabbar. Tipologi ini dipilih karena mampu mengintegrasikan aktivitas kuliner, interpretasi budaya, dan interaksi publik dalam sebuah destinasi berbasis pengalaman yang menempatkan pengalaman kuliner sebagai praktik budaya yang hidup. Proyek ini dikembangkan melalui metode perancangan kualitatif yang meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis kontekstual, dan studi komparatif preseden untuk merumuskan strategi arsitektur yang responsif terhadap kondisi budaya, spasial, dan lingkungan tapak. Dengan menerapkan pendekatan Experiential Architecture dan Critical Regionalism, proyek ini menerjemahkan praktik kuliner Sunda ke dalam rangkaian pengalaman sensorik, sosial, dan spasial melalui program kuliner yang terkurasi, ruang terbuka publik, serta sirkulasi yang terintegrasi dengan lanskap. Rancangan mengadopsi komposisi paviliun bertingkat rendah yang dicirikan oleh pola pergerakan organik, pengalaman tepi perairan, reinterpretasi kontemporer arsitektur Sunda, serta penggunaan material kayu dan vegetasi secara ekstensif untuk menciptakan lingkungan yang imersif secara kultural. Proyek ini bertujuan mewujudkan sebuah destinasi kuliner Sunda yang melengkapi keberadaan Masjid Al-Jabbar, memperkuat identitas budaya lokal, serta mengakomodasi aktivitas kuliner dalam suatu tatanan ruang publik yang terorganisasi. Melampaui proposisi arsitekturalnya, proyek ini menunjukkan bagaimana arsitektur dapat menspasialisasikan praktik budaya dan mentransformasikan aktivitas kuliner menjadi media yang inklusif bagi pelestarian budaya, keterlibatan publik, dan pengembangan pariwisata di Kota Bandung.
ANALISIS DISTRIBUSI DOSIS BNCT PADA OTAK BERBASIS PHANTOM BOLA BERLAPIS MENGGUNAKAN SIMULASI MONTE CARLO PHITS
Boron Neutron Capture Therapy (BNCT) merupakan radioterapi berbasis neutron yang berpotensi memberikan dosis radiasi tinggi secara selektif pada tumor otak melalui reaksi ¹?B(n,?)?Li. Efektivitas terapi ini dipengaruhi oleh distribusi fluks neutron epitermal dan dosis radiasi pada jaringan target maupun jaringan sehat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh energi neutron sumber dan kedalaman jaringan terhadap fluks neutron termal dan dosis BNCT, hubungan konsentrasi Boron dengan dosis boron pada Gross Tumor Volume (GTV), serta selektivitas dosis melalui parameter Tumor-to-Brain Ratio (TBR) dan Tumor-toSkin Ratio (TSR). Simulasi dilakukan dengan metode Monte Carlo menggunakan PHITS pada phantom kepala berbasis bola berlapis (GTV, CTV, PTV, otak, tulang tengkorak, kulit) dengan komposisi material mengacu ICRP. Sembilan skenario disimulasikan dari kombinasi tiga energi neutron sumber (5,0×10??; 5,0×10??; 5,0×10?? MeV) dan tiga konsentrasi Boron (30, 40, 50 µg/g), dengan fluks dihitung via tally T-Track dan dosis via tally T-Deposit. Hasil menunjukkan energi neutron dan kedalaman berpengaruh signifikan terhadap fluks termal, dengan titik persilangan (crossing point) pada kedalaman 3–4 cm antara neutron berenergi rendah (unggul di kedalaman dangkal) dan tinggi (unggul di kedalaman besar). Dosis boron pada GTV berbanding lurus terhadap konsentrasi Boron, dengan gradien tercuram pada energi 5×10?? MeV. Nilai TBR berkisar 1,7– 2,8 dan TSR 1,75–3,5, keduanya meningkat seiring naiknya konsentrasi boron dan energi neutron. Kombinasi boron 50 µg/g dan energi 5×10?? MeV memberikan dosis boron GTV serta selektivitas (TBR/TSR) tertinggi, menjadi kondisi optimum pada model yang dikaji.
OPTIMISASI PORTOFOLIO ROBUST MEAN-VARIANCE BERBASIS ESG DENGAN TRADE-OFF BASED INTERACTIVE NAVIGATION (TBIN)
Investasi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) saat ini semakin berkembang sebagai pendekatan yang mempertimbangkan aspek keberlanjutan selain kinerja finansial. Namun, integrasi ESG ke dalam optimisasi portofolio masih menghadapi berbagai tantangan berupa ketidakpastian estimasi parameter dan banyaknya alternatif portofolio optimal. Penelitian ini bertujuan mengimplementasikan model robust mean-variance berbasis ESG dengan estimasi return dan risiko berbasis data serta Trade-Off Based Interactive Navigation (TBIN) sebagai sistem pendukung keputusan investor. Penelitian menggunakan data saham di Bursa Efek Indonesia yang dilengkapi informasi ESG dari Bloomberg. Evaluasi dilakukan melalui backtest rolling window out-of-sample. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas prediksi return yang dihasilkan model masih terbatas sehingga pendekatan robust optimization menjadi relevan untuk mengatasi ketidakpastian estimasi. Dibandingkan model mean-variance klasik, portofolio robust ESG menghasilkan kinerja yang lebih stabil dengan risiko penurunan nilai portofolio yang lebih terkendali. Selain itu, peningkatan parameter robustifikasi secara bertahap menggeser solusi dari portofolio mean-variance menuju portofolio ESG, sedangkan implementasi TBIN memungkinkan investor menavigasi trade-off antara return, risiko, dan ESG secara interaktif sesuai preferensinya. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi ESG sebagai representasi ketidakpastian dalam kerangka robust mean-variance dapat menghasilkan portofolio yang lebih stabil dibandingkan dengan model mean-variance klasik, serta mendukung proses pengambilan keputusan investasi melalui sistem navigasi interaktif.
PRESERVING COMMUNITY MARKET: REVITALISASI PASAR KIARACONDONG MELALUI PENGUATAN AKTIVITAS EKONOMI DAN PRODUKTIVITAS RUANG
Pasar tradisional merupakan salah satu pusat penggerak aktivitas ekonomi utama masyarakat di wilayah perkotaan, sekaligus menjadi pilihan masyarakat sekitar sebagai area perdagangan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Selain itu, pasar juga seringkali menjadi ruang interaksi dan aktivitas berbagai elemen lapisan masyarakat. Namun, keberadaannya saat ini sering dihadapkan pada permasalahan tata kelola, penurunan kualitas ruang, dan inefisiensi pemanfaatan lahan. Di kawasan Pasar Kiaracondong, ruang dagang yang tidak tertata dan sirkulasi yang buruk mengakibatkan kawasan ini tidak memiliki konektivitas yang baik terhadap lingkungan luar pasar maupun permukiman sekitarnya. Hal ini memicu penurunan tingkat kenyamanan, mobilitas, dan mematikan potensi ekonomi kawasan, sehingga pasar tradisional kerap memiliki citra buruk dan semakin ditinggalkan pengunjung jika dibandingkan dengan pasar modern. Merespons kondisi tersebut, perancangan ini mengusung gagasan "Preserving Community Market" yang berfokus pada revitalisasi Pasar Kiaracondong melalui penguatan aktivitas ekonomi dan produktivitas ruang. Pasar Tradisional dipilih sebagai tipologi bangunan yang dirancang ulang untuk menciptakan ruang dagang yang lebih adaptif, dinamis, dan optimal dalam pemanfaatan lahan. Ruang-ruang di dalam pasar dirancang serta dioptimalkan sebagai ruang sosial dan ekonomi yang fleksibel dan mampu mewadahi kepadatan aktivitas secara efektif tanpa mengurangi kenyamanan pengguna. Metode perancangan yang digunakan meliputi studi literatur mengenai revitalisasi pasar tradisional dan produktivitas tata ruang, observasi terhadap pola aktivitas dan pergerakan pengguna, serta analisis konfigurasi spasial untuk menilai efisiensi pemanfaatan lahan dan alur sirkulasi. Tujuan utama dari perancangan ini adalah menghadirkan model revitalisasi pasar tradisional yang mampu mempertahankan keberadaan komunitas lokal di sekitarnya, sekaligus meningkatkan daya saing melalui penciptaan ruang komersial yang produktif, terintegrasi, dan adaptif terhadap dinamika ekonomi perkotaan.
URBAN FOODSCAPE BANDUNG: INTEGRATED ARCHITECTURE TO RESTORE HUMAN–FOOD ATTACHMENT AND REDUCE FOOD DEPENDENCY
Urbanisasi di Kota Bandung menyebabkan meningkatnya ketergantungan terhadap pasokan pangan dari wilayah sekitar, sementara keterbatasan lahan produktif dan perubahan iklim meningkatkan kerentanan sistem pangan perkotaan. Kondisi tersebut turut mengurangi keterlibatan masyarakat dalam proses produksi pangan sehingga memunculkan keterputusan hubungan masyarakat dengan sistem pangan (urban food attachment). Penelitian ini bertujuan menghasilkan rancangan arsitektur yang mengintegrasikan sistem pangan perkotaan dengan aktivitas publik sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun kembali keterhubungan masyarakat terhadap sumber pangannya. Perancangan dilakukan melalui pendekatan adaptive reuse terhadap bangunan mangkrak The Maj Dago Apartment di Kota Bandung menjadi Urban Foodscape Bandung, yaitu pusat urban farming terpadu yang mengintegrasikan fungsi pembibitan, budidaya, panen, pengolahan, distribusi, konsumsi, edukasi, dan komunitas dalam satu sistem ruang. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi tapak, analisis preseden, serta pengembangan konsep dan simulasi desain. Strategi perancangan disusun berdasarkan alur siklus pangan (food journey), didukung penerapan sistem hidroponik berteknologi tinggi, prinsip ekonomi sirkular, pemanfaatan struktur eksisting, serta integrasi energi terbarukan melalui photovoltaic panel. Hasil perancangan berupa fasilitas urban farming terpadu yang menghubungkan aktivitas produksi pangan dengan ruang publik melalui pengalaman spasial yang berkesinambungan. Rancangan ini mengintegrasikan fungsi produksi, edukasi, distribusi, dan interaksi sosial dalam satu kesatuan sistem sehingga mendukung peningkatan ketahanan pangan perkotaan, pemanfaatan kembali bangunan eksisting, serta penguatan keterhubungan masyarakat dengan sistem pangan.
DINAMIKA ORBIT OBJEK TRANS-NEPTUNUS PELINTAS ORBIT JUPITER
Objek trans-Neptunus atau Trans-Neptunian Objects (TNO) merupakan populasi benda kecil Tata Surya yang memiliki orbit di luar orbit Neptunus. Sebagian TNO memiliki eksentrisitas tinggi dan jarak perihelion di sebelah dalam orbit Jupiter, sehingga dapat memasuki wilayah planet-planet raksasa. Penelitian ini menganalisis perubahan orbit 26 TNO pelintas orbit Jupiter melalui integrasi numerik sistem N-benda. Simulasi memodelkan Matahari dan delapan planet sebagai objek bermassa, sedangkan 26 TNO dimodelkan sebagai partikel uji tanpa massa. Kondisi awal diperoleh dari NASA JPL Horizons pada epoch 17 Agustus 2025. Integrasi dilakukan menggunakan perangkat lunak REBOUND dengan integrator IAS15 hingga 107 tahun atau sampai objek pertama kali memenuhi e ? 1. Analisis meliputi perubahan elemen orbit, waktu tercapainya e ? 1, papasan dekat dengan Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus, serta parameter Tisserand terhadap keempat planet tersebut. Hasil integrasi menunjukkan bahwa 21 dari 26 objek memenuhi e ? 1 sebelum akhir interval integrasi. Waktu pertama kali kriteria tersebut terpenuhi berada pada rentang 0.29780 hingga 6.29978 juta tahun. Objek-objek tersebut menunjukkan perubahan setengah sumbu panjang dari nilai positif menjadi negatif dan eksentrisitas yang melampaui satu, sehingga orbitnya berubah dari elips menjadi hiperbola. Lima objek, yaitu 2015 TN178, 2017 CW32, 2017 MB7, 2019 T1, dan 2021 DL1, tetap memiliki e < 1 hingga 107 tahun. Papasan dekat yang memenuhi kriteria d ? 3RH ditemukan pada 19 objek. Secara keseluruhan, tercatat 573 papasan dekat, yang terdiri atas 282 kejadian dengan Jupiter, 154 dengan Saturnus, 52 dengan Uranus, dan 85 dengan Neptunus. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa TNO pelintas orbit Jupiter memiliki perubahan elemen orbit, waktu tercapainya e ? 1, dan riwayat papasan dekat yang berbeda-beda. Nilai awal elemen orbit dan jumlah papasan dekat tidak secara tunggal membedakan objek yang memenuhi e ? 1 dan objek yang tetap terikat hingga akhir integrasi.
PENGARUH KINERJA PRASARANA FISIK DAN PRODUKTIVITAS TANAM TERHADAP ANGKA KEBUTUHAN NYATA OPERASI DAN PEMELIHARAAN (AKNOP) STUDI KASUS DAERAH IRIGASI GADUNG, JAWA BARAT
Pengelolaan sistem irigasi berperan penting guna mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya pada Daerah Irigasi yang memiliki peran strategis seperti Daerah Irigasi Gadung yang merupakan sub sistem dari Daerah Irigasi jatiluhur. Pengelolaan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi memerlukan perencanaan biaya yang sesuai dengan kondisi aktual jaringan agar pelayanan irigasi berlangsung efektif dan berkelanjutan. Penelitian terdahulu umumnya mengkaji kinerja sistem irigasi dan Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan (AKNOP) secara terpisah, sedangkan kajian yang mengintegrasikan kinerja prasarana fisik, produktivitas tanam, dan AKNOP dalam satu model kuantitatif masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kinerja prasarana fisik dan produktivitas tanam terhadap AKNOP pada jaringan utama Daerah Irigasi Gadung, Jawa Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi data panel terhadap data tahun 2020,2022, dan 2024 menggunakan perangkat lunak STATA. Variabel bebas terdiri atas kinerja prasarana fisik dan produktivitas tanam, sedangkan variabel terikat adalah AKNOP serta luas layanan sebagai variabel kontrol. Model terbaik yang diperoleh adalah Pooled Least Squares (PLS) atau Ordinary Least Squares (OLS). Hasil analisis diperoleh bahwa secara parsial kinerja prasarana fisik maupun produktivitas tanam tidak berpengaruh signifikan terhadap AKNOP. Namun, secara simultan model mampu menjelaskan variasi AKNOP sebesar 73,93% dengan persamaan ln(Y) = 14,10433 ? 0,007281 X? + 0,010107 X? ? 0,000442 Luas. Analisis skenario menunjukkan bahwa peningkatan kinerja prasarana fisik merupakan alternatif paling efektif dengan menurunkan nilai AKNOP menjadi Rp 1.345.622.329 atau 10,10% dibandingkan kondisi eksisting, lebih besar dibandingkan skenario peningkatan produktivitas tanam (11,85%) maupun skenario gabungan (19,31%). Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi kinerja prasarana fisik, produktivitas tanam, dan AKNOP dalam satu model analisis kuantitatif berbasis data aktual yang memberikan pendekatan evaluasi AKNOP.
ANALISIS REAKSI SAHAM SEKTOR MIGAS DI PASAR MODAL INDONESIA TERHADAP PERISTIWA DOMESTIK DAN GLOBAL TERKAIT ENERGI DENGAN METODE EVENT STUDY DAN INTERVENTION TIME SERIES
Sektor minyak dan gas bumi merupakan sektor yang sensitif terhadap informasi domestik dan global, seperti kebijakan energi, harga minyak dunia, nilai tukar, serta kondisi geopolitik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis reaksi saham sektor migas di pasar modal Indonesia terhadap peristiwa domestik dan global terkait energi menggunakan metode event study dan intervention time series. Analisis dilakukan pada sepuluh saham sektor migas yang terdaftar serta aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Metode event study digunakan untuk menguji reaksi pasar terhadap kenaikan harga BBM subsidi tahun 2022 melalui indikator abnormal return (AR), trading volume activity (TVA), dan security return variability (SRV). Selanjutnya, metode intervention time series digunakan untuk menganalisis pengaruh beberapa peristiwa energi terhadap AR saham sektor migas menggunakan model ARMA–GARCH dengan variabel intervensi pulse dan step. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaksi saham sektor migas tidak seragam antara agregat sektor dan individual emiten. Hasil event study menunjukkan adanya pola reaksi pasar melalui AR, TVA, dan SRV, meskipun tidak seluruh perubahan signifikan secara statistik. Sementara itu, hasil analisis intervensi dengan model utama ARMA(0,0)–GARCH(1,1) menunjukkan bahwa Perang Rusia–Ukraina, kenaikan harga BBM subsidi, dan Kepmen ESDM 91/2023 terkait HGBT berpengaruh signifikan terhadap AR agregat sektor. Pengaruh tersebut muncul dalam bentuk pulse sehingga respons pasar lebih mencerminkan reaksi sesaat pada event date bukan perubahan rata-rata AR yang berkelanjutan. Pada tingkat individual, respons saham bersifat heterogen dan bergantung pada karakteristik masing-masing emiten. Dengan demikian, kedua metode memberikan gambaran yang saling melengkapi mengenai reaksi pasar modal terhadap peristiwa energi.
PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO DENGAN KAPASITAS TERPASANG 2 X 0,75 MW PADA PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN CIJUREY PAKET I, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) di Bendungan Cijurey, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merupakan upaya pemanfaatan infrastruktur bendungan untuk mendukung penyediaan energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rancangan teknis PLTM serta mengevaluasi kelayakan ekonominya. Metodologi penelitian meliputi analisis hidrologi, perencanaan hidrolika bangunan, penentuan elevasi rumah pembangkit, serta analisis finansial. Elevasi powerhouse ditentukan berdasarkan pemodelan banjir rencana periode ulang 100 tahun dengan debit puncak sebesar 341,99 m³/s untuk menjamin keamanan infrastruktur. Hasil analisis menunjukkan daya bangkitan rata-rata sebesar 1.586,81 kW pada tahun basah, 1.002,36 kW pada tahun normal, dan 976,30 kW pada tahun kering. Produksi energi listrik tahunan masing-masing mencapai 7,69 GWh, 6,23 GWh, dan 5,00 GWh. Dengan biaya konstruksi sebesar Rp32.452.805.332, proyek ini dinilai layak secara finansial dengan NPV sebesar Rp6.620.704.916,16, IRR 13,48%, BCR 1,204, dan Payback Period 8,71 tahun.
KARAKTERISTIK SIFAT FISIS DAN MEKANIS LAMINATED VENEER BAMBOO (LVB) BERBAHAN DASAR STRIP BAMBU TALI (GIGANTOCHLOA APUS) BAGIAN LUAR, TENGAH, DAN DALAM
Bambu tali (Gigantochloa apus) merupakan material lignoselulosa yang melimpah di Indonesia dan berpotensi sebagai bahan baku Laminated Veneer Bamboo (LVB) untuk mendukung pengembangan material struktural ramah lingkungan. Perbedaan struktur anatomi pada bagian luar, tengah, dan dalam dinding bambu menyebabkan variasi distribusi serat dan vascular bundle yang memengaruhi karakteristik fisis dan mekanis produk LVB. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh posisi strip bambu terhadap karakteristik sifat fisis dan mekanis LVB, serta menentukan tipe strip yang menghasilkan performa terbaik berdasarkan persyaratan sifat mekanis material lantai. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan berupa tipe strip bambu yang terdiri atas strip bagian dalam, tengah, dan luar. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf 5% apabila menunjukkan perbedaan nyata. Kemudian diinterpretasikan menggunakan pendekatan visualisasi multidimensi berbasis bubble chart, radar/spider chart, dan heatmap desirability index untuk mengevaluasi hubungan antar parameter secara komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi strip bambu berpengaruh sangat nyata terhadap seluruh parameter yang diuji. Strip bagian luar memiliki kerapatan tertinggi dan porositas terendah dibandingkan bagian tengah dan dalam. Seluruh produk LVB memiliki kadar air yang memenuhi standar SNI 01-5008.2-2000 serta tidak mengalami delaminasi yang menunjukkan kualitas perekatan yang baik. Selain itu, LVB berbahan strip bagian luar menghasilkan daya serap air dan pengembangan tebal terendah, serta memiliki nilai Modulus of Elasticity (MOE), Modulus of Rupture (MOR), dan keteguhan rekat tertinggi. Berdasarkan klasifikasi PKKI 1961, LVB strip luar termasuk ke dalam kayu kelas kuat II dan memenuhi persyaratan sifat mekanis material lantai berdasarkan standar ISO 21629-1:2021. Dengan demikian, strip bagian luar bambu tali merupakan konfigurasi paling optimal dalam menghasilkan LVB dengan performa fisis dan mekanis terbaik.
RANCACILI 3.0: REKONFIGURASI RUANG TRANSISI PRIVAT-PUBLIK SEBAGAI STRATEGI PEMULIHAN SOSIAL PADA HUNIAN VERTIKAL
Pertumbuhan penduduk dan keterbatasan lahan di Kota Bandung memicu backlog perumahan hingga lebih dari 636.000 unit. Sebagai solusi, pemerintah menghadirkan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) untuk mengoptimalkan lahan melalui hunian vertikal. Namun, pendekatan rusunawa konvensional kerap memunculkan "paradoks hunian vertikal", sebagaimana terjadi di Rusunawa Rancacili, kawasan yang secara historis menjadi titik pendaratan bagi warga terdampak normalisasi bantaran sungai (Cikapundung/Citarum) maupun penggusuran permukiman padat di Kota Bandung. Sebagai hunian relokasi, kondisi rusunawa saat ini memicu trauma sosio-spasial, hilangnya ruang komunal dan interaksi, fragmentasi komunitas, potensi konflik antarwarga, hingga matinya ekosistem usaha mikro (UMKM) warga, yang diperparah oleh kondisi bangunan yang mangkrak dan kurang terawat. Merespons permasalahan tersebut, tugas akhir ini mengusulkan proyek "Rancacili 3.0: Rekonfigurasi Ruang Transisi Privat-Publik sebagai Strategi Pemulihan Sosial". Perancangan ini bertujuan meredefinisi standar hunian vertikal relokasi menjadi ekosistem kampung vertikal yang berdaya dan bermartabat. Pendekatan utama yang digunakan adalah Architecture as Repair, yang memosisikan arsitektur sebagai instrumen katalis pemulihan trauma relokasi sekaligus katalis perbaikan jaringan sosial-ekonomi penghuni. Strategi intervensi dirumuskan melalui tiga aspek utama, yaitu reintegrasi ekonomi mikro warga, penyediaan lingkungan hunian yang aman dan terpadu, serta optimalisasi ruang komunal untuk memfasilitasi interaksi sosial antarwarga. Rusunawa Rancacili dipilih sebagai studi kasus karena merepresentasikan kompleksitas persoalan nyata, yaitu desain rusunawa konvensional, kondisi bangunan yang kurang terawat, serta profil penghuni Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang sangat bergantung pada integrasi ruang dan ekonomi. Melalui tugas akhir ini, perancangan hunian vertikal diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan ruang tinggal dasar, tetapi juga dapat diimplementasikan sebagai model perbaikan struktur komunitas dan alat pemberdayaan masyarakat bagi kawasan permukiman padat perkotaan lainnya di Indonesia.