📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenSTUDI KOMPARATIF METODE BOUNDARY ELEMENT DAN FREEGSNKE UNTUK PENYELESAIAN PERSAMAAN GRAD-SHAFRANOV PADA REAKTOR FUSI MAST-U
Penyelesaian persamaan Grad-Shafranov dilakukan untuk mensimulasikan reaktor fusi tokamak dalam keadaan setimbang. Penelitian ini melakukan studi komparatif antara solver Metode Elemen Batas (Boundary Element Method, BEM) yang dikembangkan Itagaki [Itagaki et al., 2004] dengan solver Finite Difference Method FreeGSNKE yang telah tervalidasi, untuk reaktor Fusi MAST-U shot 45292 pada bagian magnetic confinement. Kriteria profil arus toroidal yang digunakan berupa Solov’ev, Nath, dan Luxon-Brown. Dari perbandingan hasil tersebut diperoleh code BEM menghasilkan profil yang nilai maksimumnya berada di ujung. Hal tersebut disebabkan proses penen- tuan nilai matriks untuk fitting-nya menggunakan fungsi argmin(·). Digunakan metode lain selain mencocokan (fitting), yaitu menghitung setiap titik tanpa melakukan pen- cocokan sama sekali. Metode baru ini sukses memetakan profil medan elektromagnet dan digunakan pada percobaan penentuan konstanta optimum tiap rumus profil arus, pengaruh tebakan awal, serta perbandingan performa komputasi BEM (Itagaki) dengan FDM (FreeGSNKE). Rumus Luxon-Brown terbukti lebih relevan dengan nilai konstanta optimum ?0 = 0,5815 dan ?m = ?n = 1. Dibandingkan BEM, FreeGSNKE lebih akurat dalam menentukan sumbu magnetik karena memakai metode turunan pada interpolasi fluks, dan sekitar 1,6× lebih cepat berkat iterasi Newton-Krylov. Penelitian ini mene- gaskan bahwa keterbatasan code BEM bersumber dari implementasi numeriknya, bukan dari lokalitas konstanta yang digunakan ataupun tebakan iterasi pertama.
BRIDGING THE GAP: REIMAJINASI KOMPLEKS PARLEMEN SEBAGAI CIVIC COMMONS BAGI MASYARAKAT SIPIL
Meningkatnya krisis kepercayaan publik terhadap Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) telah menjadi salah satu persoalan demokrasi yang menahun di Indonesia. Gedung Parlemen yang dibangun bukan untuk kepentingan diskusi publik – melainkan sebagai persiapan Konferensi Asia Afrika Baru (CONEFO) – kini berkembang menjadi bangunan yang semakin dicirikan oleh keterpisahan fisik, visual, dan simbolik dengan masyarakat akibat penerapan sistem keamanan yang ketat, aksesibilitas yang terbatas, serta organisasi ruang yang berorientasi ke dalam. Kondisi tersebut memperkuat persepsi parlemen sebagai institusi pemerintahan yang eksklusif, sehingga membatasi interaksi publik dan memperlemah hubungan antara negara dengan masyarakat sipil. Indikator Politik pada Januari 2025 juga menempatkan DPR di peringkat ke-10 dari 11 lembaga dalam hal kepercayaan publik. Proyek ini mengusulkan reimajinasi pada kompleks parlemen sebagai sebuah civic commons, yaitu ruang bersama sebagai upaya menjembatani fungsi-fungsi parlemen untuk berjalan berdampingan dengan ruang publik yang inklusif untuk mendorong transparansi, partisipasi, edukasi, dan aktivitas masyarakat sehari-hari. Alih-alih dipandang semata sebagai fasilitas pemerintahan, kompleks parlemen diposisikan kembali sebagai destinasi sipil yang mampu mengakomodasi aktivitas kelembagaan sekaligus keterlibatan publik. Perancangan menggunakan pendekatan concept-based design, yang menerjemahkan gagasan civic commons ke dalam strategi spasial melalui penataan ulang aksesibilitas, lanskap, sirkulasi, dan distribusi program tanpa menghilangkan fungsi utama parlemen sebagai lembaga negara. Usulan desain menghadirkan dua massa utama, yaitu Commons Block dan Chamber Block, yang dihubungkan melalui lanskap sipil terintegrasi berisi fasilitas edukasi, ruang dialog publik, program budaya, area demonstrasi, serta ruang rekreasi. Melalui transformasi ini, proyek berupaya mendefinisikan kembali hubungan antara arsitektur, tata kelola pemerintahan, dan masyarakat dengan menunjukkan bahwa lingkungan binaan dapat menjadi media untuk memperkuat nilai-nilai demokrasi tanpa mengurangi kebutuhan akan keamanan institusional. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis preseden gedung parlemen dunia, serta eksplorasi desain berbasis simulasi spasial dan partisipatif. Melalui rancangan ini, diharapkan tercipta sebuah gedung parlemen yang tidak hanya efisien secara fungsional, tetapi juga mampu membangun kembali kepercayaan publik dengan menghadirkan ruang demokrasi yang transparan, partisipatif, berkelanjutan, dan terhubung erat dengan masyarakat sipil Indonesia.
PERANCANGAN INDUSTRI KEMASAN BIOPLASTIK BERBASIS PATI UBI JALAR DENGAN PENAMBAHAN GLISEROL DAN KITOSAN
Perancangan industri kemasan bioplastik berbasis pati ubi jalar ini disusun sebagai upaya pengembangan alternatif kemasan ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik konvensional. Plastik konvensional masih banyak digunakan dalam sektor pangan karena praktis, ringan, dan murah, namun sulit terdegradasi secara alami sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Ubi jalar dipilih sebagai bahan baku utama karena mengandung pati yang mampu membentuk film, berasal dari sumber daya terbarukan, mudah diperoleh, serta berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Sistem pascapanen yang dirancang mencakup proses produksi bioplastik mulai dari penerimaan dan sortasi ubi jalar, pencucian, pengupasan, penghancuran, pencampuran ubi jalar dengan air, pengendapan pati, ekstraksi pati basah, pengeringan, penggilingan, pengayakan, pembuatan larutan pati dan kitosan, penambahan gliserol, pencetakan, pengeringan bioplastik, pemotongan, pembentukan kemasan, pemasangan strip perekat, pengemasan, penyimpanan, hingga distribusi. Alur proses dirancang secara berurutan untuk menjaga efisiensi produksi, higienitas, serta kestabilan mutu produk akhir. Inovasi yang dikembangkan adalah kemasan bioplastik berbasis pati ubi jalar dengan penambahan kitosan dan gliserol. Pati ubi jalar berperan sebagai bahan utama pembentuk film, kitosan berfungsi memperbaiki struktur film dan memberikan potensi sifat antimikroba, sedangkan gliserol berperan sebagai plasticizer untuk meningkatkan fleksibilitas bioplastik. Inovasi ini dipilih karena memiliki keseimbangan antara kualitas produk, kemudahan proses produksi, biaya bahan, dan potensi keuntungan dibandingkan alternatif formulasi lainnya. Dengan adanya penambahan kitosan dan gliserol, produk yang dihasilkan diharapkan memiliki karakteristik yang lebih baik dibandingkan bioplastik berbasis pati murni yang cenderung rapuh dan sensitif terhadap air. Kapasitas produksi yang dirancang adalah 14,4 kg bioplastik per hari atau sekitar 960 unit kemasan per hari. Produk akhir berupa kemasan bioplastik kering yang telah dipotong, dibentuk, diberi strip perekat, dikemas, dan siap didistribusikan kepada konsumen. Keunggulan produk ini terletak pada penggunaan bahan alami dan terbarukan, sifatnya yang biodegradable, lebih ramah lingkungan, serta berpotensi digunakan sebagai alternatif kemasan untuk produk pangan dan hortikultura. Produk juga dirancang agar memiliki nilai 3 fungsional, tidak hanya sebagai pembungkus, tetapi juga sebagai kemasan berkelanjutan yang mendukung pengurangan limbah plastik. Dari aspek fasilitas dan utilitas, industri bioplastik dirancang dengan pembagian area produksi yang terdiri dari area basah, area kering, area penyimpanan, area utilitas, dan area pendukung pekerja. Pembagian area ini bertujuan untuk menjaga kelancaran alur produksi, meminimalkan kontaminasi silang, serta meningkatkan keamanan dan kenyamanan kerja. Kebutuhan utilitas utama meliputi air untuk proses pencucian, sanitasi, dan formulasi larutan, serta listrik untuk pengoperasian peralatan produksi. Analisis kelayakan finansial menunjukkan bahwa rancangan sistem pascapanen bioplastik berbasis pati ubi jalar layak untuk direalisasikan. Dengan asumsi harga jual sebesar Rp3.500 per unit, kapasitas penjualan 960 unit per hari atau 350.400 unit per tahun, umur proyek selama 10 tahun, WACC sebesar 14,21%, serta inflasi 2,7% per tahun, diperoleh pendapatan tahun pertama sebesar Rp1.226.400.000. Investasi awal (CAPEX) yang dibutuhkan sebesar Rp214.673.018, dengan nilai Gross Profit Margin (GPM) sebesar 8%, Net Present Value (NPV) sebesar Rp250.698.127, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 37,79%, Break Even Point (BEP) sebesar 298.784 unit per tahun, Payback Period (PP) selama 2,27 tahun, dan Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 1,08. Nilai NPV yang positif, IRR yang lebih tinggi daripada WACC, BCR yang melebihi satu, serta periode pengembalian modal yang lebih singkat dibandingkan umur proyek menunjukkan bahwa sistem pascapanen yang dirancang memiliki prospek finansial yang baik dan layak untuk dikembangkan sebagai usaha skala kecil hingga menengah. Selain itu, hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kuantitas penjualan dan harga kitosan merupakan variabel yang paling memengaruhi kelayakan finansial, sehingga strategi pemasaran, kepastian penyerapan pasar, dan efisiensi penggunaan bahan perlu menjadi perhatian utama dalam implementasi sistem ini.
RANCANGAN MODEL PREDIKSI KEPATUHAN WAJIB PAJAK KENDARAAN BERMOTOR MENGGUNAKAN TEKNIK DATA MINING (STUDI KASUS: PROVINSI JAWA BARAT)
Kepatuhan pajak kendaraan bermotor (PKB) menjadi tantangan bagi pemerintah daerah karena karakteristik wajib pajak yang kompleks dan heterogen. Kondisi ini menyulitkan pemerintah daerah dalam mengidentifikasi serta menerapkan kebijakan yang efektif, yang selama ini masih dilakukan dengan pendekatan konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pendukung kebijakan berbasis data dengan mengintegrasikan clustering, classification, dan explainable artificial intelligence (XAI). Model ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan kebijakan yang masih bersifat umum tanpa mempertimbangkan karakteristik masing-masing. Analisis dimulai dengan pengelompokan wajib pajak menggunakan metode k-prototype clustering berdasarkan denda dan pemutihan. Jumlah cluster optimal ditentukan menggunakan metode elbow, dengan hasil k = 3 dan nilai silhouette score sebesar 0,939. Selanjutnya, status kepatuhan wajib pajak diprediksi menggunakan beberapa algoritma, yaitu logistic regression, k-nearest neighbor, decision tree, random forest, dan XGBoost, dengan penerapan hyperparameter tuning menggunkaan GridSearchCV untuk mengoptimalkan kinerja model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa XGBoost-SMOTE memiliki kinerja terbaik dengan nilai accuracy (0,804) dan F1-score (0,601). Untuk memastikan transparansi dalam proses prediksi, digunakan metode SHapley Additive exPlanations (SHAP) guna menginterpretasikan hasil prediksi model serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi, dengan hasil yaitu pkb pokok, merek kendaraan, status kepatuhan tahun sebelumnya, denda tahun sebelumnya, dan kategori layanan tahun sebelumnya.
PERANCANGAN INTERIOR LIVING HERITAGE & VILLAGE DENGAN PENDEKATAN CRAFT-BASED SPATIAL NARRATIVE SEBAGAI UPAYA REGENERASI TENUN IKAT PEWARNA ALAM DI DESA WANGGA, SUMBA TIMUR
Tenun ikat pewarna alam Sumba Timur merupakan identitas budaya dan warisan kriya masyarakat yang saat ini menghadapi tantangan regenerasi akibat keterbatasan akses pasar, ketimpangan nilai ekonomi pengrajin, serta menurunnya minat generasi muda terhadap profesi menenun. Permasalahan spasial turut muncul akibat belum tersedianya fasilitas yang mampu mengintegrasikan fungsi produksi, edukasi, dan hospitalitas secara berkelanjutan, sementara pariwisata konvensional cenderung menempatkan budaya sebagai objek konsumsi tanpa memberikan dampak ekonomi yang merata bagi komunitas lokal. Perancangan interior Living Heritage dan Village di Desa Wangga ini bertujuan menghasilkan fasilitas pusat kriya dan akomodasi yang mampu memperkuat posisi pengrajin sekaligus menghadirkan pengalaman edukatif yang menghubungkan wisatawan dengan nilai budaya tenun Sumba Timur. Metode perancangan menggunakan pendekatan kualitatif dan Double Diamond yang meliputi riset lapangan, analisis aktivitas, hingga pengembangan desain interior. Fokus area perancangan mencakup lobby dan Discovery Hub, Motif Dyeing Workshop Area, Tenun Workshop Area, Circular Business Hub, serta Village House. Konsep desain yang diusung adalah Ammu Tinung dengan pendekatan Craft-Based Spatial Narrative yang mentransformasikan makna Mamuli sebagai simbol perempuan dan rahim budaya ke dalam tiga tahapan narasi ruang, yaitu fase inisiasi dan penyambutan, metode dan edukasi, serta ekonomi dan regenerasi. Strategi interior diimplementasikan melalui pengalaman ruang yang imersif, transformasi elemen budaya Sumba ke dalam desain interior, serta penerapan sistem rotasi pengrajin dari lima desa tenun utama di Sumba Timur. Inovasi perancangan terletak pada Circular Business Hub yang menghubungkan aktivitas hospitalitas dengan peluang bisnis tanpa memutus narasi budaya yang dibangun. Melalui perancangan ini, interior berperan sebagai media regenerasi budaya sekaligus penguat ekosistem ekonomi komunitas pengrajin tenun Sumba Timur.
PENGARUH KOMBINASI BIOSTIMULAN DAN REDUKSI PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF, KARAKTER FISIOLOGIS, DAN FENOLOGI TANAMAN JAGUNG MANIS ( ZEA MAYS SACCHARATA )
Jagung manis ( Zea mays saccharata ) merupakan tanaman dengan kebutuhan hara tinggi, khususnya nitrogen, sehingga penggunaan pupuk NPK secara intensif sering dilakukan namun berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kombinasi berbagai dosis biostimulan dengan tingkat reduksi pupuk NPK terhadap pertumbuhan vegetatif, karakter fisiologis, dan fenologi tanaman jagung manis varietas F1 Paragon, serta menentukan kombinasi perlakuan yang paling optimal. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan delapan perlakuan kombinasi dosis biostimulan dan reduksi pupuk NPK dengan jumlah ulangan sebanyak empat kali. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat basah dan kering tajuk, berat basah dan kering akar, kandungan klorofil relatif (SPAD), serta waktu muncul bunga jantan dan bunga betina. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan uji Duncan pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi dosis biostimulan dan dosis pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap sebagian besar parameter pertumbuhan vegetatif tanaman jagung manis, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan klorofil relatif (SPAD) dan waktu muncul bunga. Perlakuan biostimulan 4 g/L dengan 75% NPK memberikan respon pertumbuhan vegetatif terbaik dan mampu mempertahankan kondisi fisiologis serta fenologi tanaman dengan baik. Dengan demikian, kombinasi dosis biostimulan dan reduksi pupuk NPK berpotensi meningkatkan efisiensi pemupukan tanpa menurunkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung manis
TEMPA: PERANCANGAN PUSAT KOMUNITAS PENGRAJIN BESI MULTIFUNGSI BERBASIS KEARIFAN LOKAL DAN TEKNOLOGI BANGUNAN DI DESA MEKARMAJU
Penggunaan alat dan perkakas telah menjadi aspek yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masa modern. Khususnya perkakas logam yang digunakan pada berbagai aplikasi, dan teknik tempa tradisional memegang peran penting dalam proses perkembangannya. Desa Mekarmaju merupakan salah satu tempat yang masih menjaga warisan tradisional ini hidup hingga saat ini. Banyak dari masyarakat di desa ini menggantungkan hidupnya pada usaha pembuatan alat dan perkakas secara tradisional, seperti cangkul, pisau dan golok. Akan tetapi, kelangsungan industri lokal ini berhadapan dengan masalah tata ruang, keselamatan kerja, dan kesehatan. Kondisi kerja yang mengharuskan pekerja berdekatan dengan tungku pembakaran yang menghasilkan gas buang berbahaya dan proses pengikisan yang menghasilkan debu halus yang bisa terhirup dapat berakibat buruk bagi kesehatan pengrajin. Selain itu gerakan berat berulang yang dilakukan para penempa apabila tidak dibarengi dengan ergonomi yang baik dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik pengrajin. Dari sisi Sosial-Ekonomi, banyak generasi muda yang enggan meneruskan profesi ini salah satunya karena lingkungan kerja yang kurang sehat. Ditambah lagi dengan menurunnya minat masyarakat luas pada kerajinan lokal. Menanggapi permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah Pusat Komunitas Pengrajin Besi Multifungsi yang menyediakan ruang produksi yang lebih sehat dan menciptakan ruang pertunjukan kesenian pengrajin dan showcase serta fasilitas penunjang wisata guna mengenalkan dan meningkatkan minat masyarakat dan generasi muda pada kerajinan tempa. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif melalui observasi langsung untuk memahami kebiasaan kerja dan permasalahan yang ada pada proses kerja yang ada di lapangan, dilengkapi dengan kajian literatur mengenai teknologi bangunan serta kesehatan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pengrajin sudah memiliki bentuk adaptasi lokal untuk memitigasi suhu tinggi yang dihasilkan dari proses pemanasan, yaitu menggunakan bilah bambu sebagai penutup dinding untuk memaksimalkan sirkulasi udara alami. Perancangan ini mengadaptasi kearifan lokal tersebut dan melengkapinya dengan sistem cerobong asap untuk mengarahkan aliran udara panas bersama dengan gas buang hasil pembakaran dengan lebih optimal. Untuk menangani permasalahan debu logam yang dihasilkan dari proses grinding, perancangan ini memperkenalkan elemen air di sekitar ruang produksi untuk meningkatkan kelembaban udara yang terbukti dapat menekan kadar partikel besi yang mengambang di udara ditambah efek mendinginkan udara sekitar. Perbaikan fasilitas kerja, ditambah dengan penambahan fasilitas wisata ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang profesional dan atraktif. Sebagai kesimpulan, perancangan Pusat Komunitas Pengrajin Besi Multifungsi ini dapat menjadi purwarupa bagi pengembangan ruang produksi yang lebih sehat di Desa Mekarmaju. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya memahami dan menghormati kearifan lokal yang ada dalam membuat pengembangan sebuah ruang yang berkelanjutan bagi komunitas pengrajin.
PENGEMBANGAN DAN VALIDASI METODE ANALISIS PENETAPAN KADAR ALFA-TOKOFEROL ASETAT DALAM SEDIAAN SERUM KOSMETIK MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Photoaging merupakan proses penuaan dini pada kulit yang disebabkan oleh akumulasi radikal bebas akibat paparan radiasi ultraviolet secara terus menerus. Salah satu senyawa antioksidan yang poten dan banyak digunakan untuk mencegah kerusakan kolagen serta menjaga kelembapan kulit adalah Vitamin E dalam bentuk turunannya yaitu ?-tokoferol asetat karena memiliki stabilitas fisikokimia yang lebih baik. Untuk menjamin efikasi, keamanan, dan perlindungan konsumen, kadar ?-tokoferol asetat di dalam sediaan kosmetik serum yang beredar dipasaran harus dipastikan kesesuaiannya dengan klaim etiket menggunakan metode analisis yang tervalidasi. Dalam hal ini, dilakukan pengembangan dan validasi metode analisis yang tervalidasi. Dalam hal ini, dilakukan pengembangan dan validasi metode analisis penetapan kadar ?-tokoferol asetat dalam sediaan serum kosmetik dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS. Hasil optimasi menunjukkan metode yang optimum menggunakan spektrofotometer Beckman Coulter DU720, dengan kuvet kuarsa pada panjang gelombang maksimum 285 nm menggunakan pelarut etanol proanalisis. Hasil validasi metode menunjukkan spesifisitas yang baik dengan tidak adanya interferensi serapan komponen matriks serum blanko pada panjang gelombang maksimum analit. Linearitas dari metode pada rentang 50 – 175 ?g/mL dengan perolehan persamaan regresi y = 0,00442x – 0,0163, nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,9996, dan nilai koefisien variansi regresi linear (Vx0) sebesar 1,259%. Batas deteksi dan batas kuantitasi dari metode adalah 4,674 dan 14,164 ?g/mL. Persentase perolehan kembali (% recovery) untuk sampel serum adalah 98,78 - 101,65%. Hasil presisi intraday dan interday seluruhnya memenuhi persyaratan dengan nilai %SBR ? 2% dan nilai HORRAT ? 2. Ketegaran metode baik dan memenuhi persyaratan. Penetapan kadar dengan menggunakan metode adisi standar tervalidasi menunjukkan kadar ?-tokoferol asetat pada produk komersial Sampel A, Sampel B, dan Sampel C berturut-turut adalah 0,402; 0,105; dan 4,188%. Dari nilai persentasi kadar tersebut, maka sampel A dan B memenuhi persyaratan rentang kelaziman ?- tokoferol asetat dalam sediaan serum dan sampel C memenuhi persyaratan konsentrasi zat aktif sebagai serum anti-aging.
STUDI PENGEMBANGAN LAYANAN ANGKUTAN SUNGAI DAN DANAU: KASUS ANGKUTAN PERAIRAN WADUK SAGULING, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Indonesia memiliki kekayaan perairan darat yang berpotensi besar sebagai jalur transportasi alternatif, namun pemanfaatannya masih belum optimal. Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu perairan darat dengan aktivitas angkutan air relatif sibuk sekaligus menjadi penghalang geografis bagi masyarakat sekitarnya akibat terbatasnya akses jalan darat. Kesenjangan antara potensi dan pengelolaan yang belum optimal melatarbelakangi penelitian ini, dengan tujuan mengidentifikasi potensi pengembangan layanan angkutan sungai dan danau di Perairan Waduk Saguling melalui tiga sasaran: karakteristik dan pola pelayanan sistem, cakupan pelayanan aktual dan pascapengembangan pelabuhan baru, serta proyeksi kebutuhan penumpang dan barang. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods, dengan data primer dari wawancara dan data sekunder dari instansi pemerintah. Karakteristik sistem angkutan dianalisis secara deskriptifeksploratif, cakupan pelayanan dianalisis melalui isochrone surface area, sedangkan proyeksi penumpang dan barang dihitung melalui sebagian dari fourstep transport model dan statistical forecasting. Hasil menunjukkan pengelolaan angkutan masih terhambat transisi kewenangan kelembagaan yang belum tuntas. Ditemukan juga 39 pelabuhan bayangan di luar 8 pelabuhan resmi dan terdapat penurunan kapal tradisional dari 244 menjadi 70 unit (2019 2025). Cakupan pelayanan aktual masih rendah (17,90% permukiman perdesaan, 8,22% permukiman perkotaan dalam radius sepuluh menit), dengan enam blank spots teridentifikasi. Dua belas pelabuhan baru diproyeksikan meningkatkan cakupan hingga 67,54% (kawasan perdesaan) dan 87,82% (kawasan perkotaan), dengan populasi catchment area hingga 743.159 jiwa, peningkatan penumpang harian 89 154%, serta volume barang lebih dari dua kali lipat. Kebaruan penelitian terletak pada estimasi pemilihan moda berbasis proporsi luas wilayah tangkapan sebagai alternatif saat data terbatas, sekaligus mengintegrasikan analisis geospasial dan pemodelan permintaan transportasi dalam satu kerangka, sehingga memberikan kerangka metodologis yang dapat direplikasi pada kajian transportasi perairan darat lain serta basis rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah.
USULAN DESAIN TRANSFORMASI HILIR TERINTEGRASI PERTAMINA MELALUI SINERGI SUBHOLDING KILANG, LOGISTIK, DAN PEMASARAN: PENDEKATAN REFINERY OF THE FUTURE
Sektor hilir minyak dan gas Indonesia menghadapi tekanan yang semakin kuat akibat volatilitas pasar minyak mentah dan produk, penurunan margin kilang, risiko pengangkutan dan persediaan, tuntutan transisi energi, serta mandat berkelanjutan untuk menjaga ketahanan energi nasional. Sebelum integrasi, rantai nilai hilir Pertamina dijalankan melalui tiga subholding yang saling bergantung, yaitu PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) untuk kegiatan kilang dan petrokimia, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) untuk kegiatan komersial dan perdagangan, serta PT Pertamina International Shipping (PIS) untuk logistik kelautan terintegrasi. Meskipun spesialisasi tersebut memperjelas tanggung jawab masing-masing entitas, struktur ini juga menciptakan titik-titik serah terima yang menyebabkan perencanaan, insentif, data, dan pengambilan keputusan belum sepenuhnya selaras. Penelitian ini mengkaji bagaimana transformasi hilir terintegrasi dapat mengurangi kebocoran nilai dan meningkatkan kinerja end-to- end Pertamina melalui pendekatan Refinery of the Future. Tujuan penelitian ini adalah mengusulkan desain transformasi yang menghubungkan operasi kilang, logistik, persediaan, distribusi, dan permintaan pasar dalam satu model operasi yang terkoordinasi. Penelitian ini mengidentifikasi sumber utama kebocoran margin, inefisiensi logistik, ketidakseimbangan persediaan, dan keterlambatan pengambilan keputusan; mengevaluasi kebutuhan model operasi, tata kelola, digitalisasi, dan manajemen kinerja dalam integrasi; serta merumuskan roadmap implementasi yang layak. Proposisi yang mendasari penelitian ini adalah bahwa integrasi secara hukum saja tidak akan menciptakan nilai yang berkelanjutan apabila tidak didukung oleh logika ekonomi bersama, hak pengambilan keputusan yang jelas, perencanaan terintegrasi, visibilitas data yang andal, dan kesiapan organisasi. Penelitian ini memiliki keterbatasan berupa terbatasnya akses terhadap data transaksi internal yang terperinci, sifat ilustratif dari sebagian interpretasi kuantitatif, serta tidak dilakukannya perancangan ulang teknik secara rinci maupun pengujian kinerja setelah integrasi. Kontribusi penelitian ini terletak pada kontekstualisasi konsep Refinery of the Future sebagai arsitektur bisnis hilir terintegrasi bagi perusahaan energi milik negara yang harus menyeimbangkan kinerja komersial, kewajiban pelayanan publik, dan ketahanan energi. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan metode campuran. Bukti penelitian dikumpulkan dari laporan tahunan perusahaan dan materi internal integrasi, wawancara semi-terstruktur dengan personel senior yang relevan dalam fungsi kilang, logistik, komersial, dan digital, kuesioner terstruktur kepada pekerja dari ketiga subholding, observasi lapangan di Pertamina Digital Hub, serta sejumlah data keuangan dan operasional terpilih. Bukti kualitatif dianalisis secara tematik berdasarkan isu ketidakselarasan, kebocoran margin, inefisiensi logistik, ketidakseimbangan persediaan, fragmentasi digital, tata kelola, dan kapabilitas. Bukti kuantitatif dianalisis secara deskriptif dan dibandingkan dengan temuan kualitatif melalui triangulasi. Analisis mengidentifikasi lima akar permasalahan yang saling terkait. Pertama, mandat dan struktur insentif berbasis entitas mendorong optimalisasi lokal, bukan penciptaan nilai hilir secara keseluruhan. Kedua, perbedaan ritme perencanaan antara produksi kilang, penjadwalan kapal, persediaan, dan komersialisasi melemahkan sinkronisasi permintaan-pasokan. Ketiga, persediaan terapung, keterbatasan dermaga, risiko demurrage, ketidaksesuaian ukuran muatan dan kapal, serta menurunnya produktivitas kargo terhadap DWT menunjukkan bahwa kinerja logistik dan modal kerja membutuhkan pengendalian terintegrasi. Keempat, kapabilitas digital telah tersedia pada sebagian organisasi, tetapi definisi data bersama, visibilitas lintas fungsi, tata kelola, dan adopsinya belum lengkap. Kelima, profitabilitas tidak merata di sepanjang rantai nilai: KPI membukukan kerugian yang signifikan pada tahun 2024, sementara PPN dan PIS tetap menghasilkan laba, sehingga menunjukkan perlunya pengelolaan margin secara end-to-end. Hasil survei pekerja menunjukkan dukungan yang kuat terhadap integrasi dan manfaat operasional serta logistik yang diharapkan, namun masih terdapat perhatian terhadap perubahan budaya, integrasi teknologi, birokrasi, keterlibatan pekerja, dan pemahaman atas konsep Refinery of the Future. Berdasarkan temuan tersebut, desain yang diusulkan terdiri atas empat elemen yang saling memperkuat, yaitu model operasi crude-to-customer; tata kelola dan hak pengambilan keputusan yang terpadu; arsitektur KPI terintegrasi; serta downstream command center yang didukung oleh lapisan data single-source-of- truth. Pada tahap awal, command center perlu memprioritaskan sinkronisasi permintaan-pasokan, visibilitas persediaan secara end-to-end, dan profitability cockpit yang menghubungkan faktor penggerak margin dari kilang, pengangkutan, persediaan, dan realisasi pasar. Implementasi direkomendasikan dalam tiga fase, yaitu menstabilkan tata kelola, prioritas data, dan minimum viable product untuk command center; mengintegrasikan rutinitas perencanaan, sistem terpilih, dan tinjauan realisasi nilai; serta melembagakan analitik prediktif, optimalisasi logistik, dan pengembangan kapabilitas. Jalur implementasi ini mendukung sasaran internal integrasi Pertamina berupa potensi peningkatan laba bersih hingga sekitar USD 340 juta pada tahun 2029, dengan tetap bergantung pada keberhasilan pelaksanaan dan validasi lebih lanjut.
PENGARUH KONSENTRASI BIOSTIMULAN DAN REDUKSI PUPUK KIMIA NPK TERHADAP KOMPONEN HASIL DAN KUALITAS JAGUNG MANIS (ZEA MAYS SACCHARATA) VARIETAS F1 PARAGON
Jagung manis (Zea mays saccharata) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang permintaannya terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk, namun produktivitasnya masih menghadapi kendala akibat degradasi kesuburan tanah dan penggunaan pupuk kimia secara intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi konsentrasi biostimulan dan tingkat reduksi pupuk kimia NPK yang paling optimal dalam meningkatkan komponen hasil dan kualitas jagung manis. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan SITH ITB, Desa Haurngombong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada September–Desember 2025 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan delapan perlakuan dan empat ulangan, terdiri atas kombinasi konsentrasi biostimulan (2, 4, dan 6 g/L) dengan tingkat reduksi pupuk NPK (75%, 50%, dan tanpa NPK) serta kontrol 100% NPK tanpa biostimulan. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% (? = 0,05) dan dilanjutkan dengan uji Duncan apabila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi biostimulan 4 g/L dengan reduksi NPK sebesar 50–75% (perlakuan P4 dan P5) menghasilkan komponen hasil terbaik yang ditunjukkan oleh peningkatan panjang, diameter, dan bobot tongkol, baik berkelobot maupun tanpa kelobot, serta mampu mempertahankan kualitas jagung manis melalui penurunan kadar air dan peningkatan nilai °Brix serta gula reduksi dibandingkan kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa aplikasi biostimulan pada konsentrasi 4 g/L yang dikombinasikan berpotensi menjadi strategi budidaya jagung manis yang lebih efisien dan berkelanjutan
TRANSFORMASI SPASIAL DAN SOSIAL DALAM REDESAIN KAWASAN HUNIAN DI KEBON BIBIT, TAMANSARI, BANDUNG
Perkembangan dari tahun ke tahun mengakibatkan kawasan hunian strategis di tengah kota mengalami pertumbuhan kependudukan dan tempat tinggal yang pesat. Fenomena tersebut terjadi di pemukiman Kebon Bibit, Tamansari, yang terletak di kawasan strategis Kota Bandung. Pertumbuhan populasi dan tingginya kebutuhan akan tempat tinggal memicu kepadatan penduduk serta pembangunan rumah tinggal yang seadanya, sehingga mengabaikan kualitas lingkungan sekitar. Akibatnya, kebutuhan ruang terbuka hijau semakin mendesak namun tidak memiliki lahan yang cukup, serta sirkulasi dan aksesibilitas kawasan menjadi sangat terbatas. Terlebih lagi, pemukiman ini tumbuh berbasis komunitas yang hidup dan berkegiatan sehari-hari di dalamnya, namun tidak tersedia ruang komunal yang mampu menampung kegiatan sosial bagi berbagai kelompok usia. Berkaitan dengan Sustainable Development Goal (SDG) Nomor 11 mengenai kota dan pemukiman yang berkelanjutan, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan sebuah solusi desain arsitektur berupa ruang komunal terpadu di hunian masyarakat bersama terhadap keterbatasan lahan. Pendekatan yang digunakan dalam Tugas Akhir ini adalah menganalisis pola aktivitas sosial masyarakat setempat. Hasil dari perancangan ini berupa hunian sosial yang memadukan kegiatan-kegiatan sosial di dalamnya untuk menjadikan kehidupan tempat tinggal sehari-hari lebih berkualitas yang mengintegrasikan fungsi sosial, sirkulasi lingkungan yang lebih sehat, dan area hijau. Melalui rancangan ini, pemukiman Kebon Bibit diharapkan mampu bertransformasi menjadi hunian yang aktif secara sosial, aman dan nyaman secara spasial, dan berkelanjutan tanpa menghilangkan identitas komunitas yang telah terbentuk.
STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI RAMAH LINGKUNGAN DALAM MENDUKUNG PERWUJUDAN KOTA CIMAHI SEBAGAI PUSAT INDUSTRI NON-POLUTIF
Kota Cimahi memiliki karakteristik sebagai kota industri dengan sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) sebagai sektor yang dominan. Di sisi lain, aktivitas industri TPT berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan sehingga pengembangan industri perlu diarahkan pada penerapan prinsip industri ramah lingkungan untuk mendukung perwujudan Kota Cimahi sebagai pusat industri nonpolutif. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan industri ramah lingkungan pada industri TPT di Kota Cimahi. Penelitian menggunakan pendekatan rasionalistik dengan metode analisis deskriptif kualitatif melalui studi dokumen, observasi, dan wawancara. Analisis dilakukan melalui tiga sasaran penelitian, yaitu identifikasi struktur industri Kota Cimahi, analisis kesenjangan antara kondisi eksisting dan kondisi ideal industri ramah lingkungan, serta perumusan strategi pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri TPT menjadi sektor yang dominan pada struktur industri Kota Cimahi dan memiliki rantai nilai yang relatif lengkap dari tahap hulu, antara, hingga hilir. Analisis kondisi eksisting menunjukkan bahwa penerapan industri ramah lingkungan pada industri sampel telah dilakukan pada berbagai tingkat kematangan, sedangkan analisis kondisi ideal berdasarkan dokumen perencanaan menunjukkan adanya arahan pengembangan yang mencakup seluruh tingkat kematangan industri ramah lingkungan. Perbandingan antara kondisi eksisting dan kondisi ideal menunjukkan adanya kesenjangan pada setiap tingkat kematangan yang berkaitan dengan komitmen lingkungan, aktivitas pengelolaan lingkungan, sistem pendukung, inovasi dan teknologi, serta kolaborasi dan keberlanjutan. Berdasarkan kesenjangan tersebut, diidentifikasi kebutuhan pengembangan yang dijadikan dasar dalam perumusan strategi pengembangan industri ramah lingkungan untuk mendukung transformasi industri TPT yang lebih berkelanjutan di Kota Cimahi.
PENGEMBANGAN MODEL ADOPSI SISTEM INFORMASI PEMERINTAH G2G INTEGRASI PERSEPSI PENGGUNA DAN DATA LOG (STUDI KASUS SISTEM INFORMASI MANAJEMEN ASET DAERAH PROVINSI JAWA BARAT)
Sistem Informasi Manajemen Aset Daerah (SIMADA) merupakan sistem e-government G2G (government-to-government) bersifat mandatori di Provinsi Jawa Barat menunjukkan tingkat adopsi yang rendah, dengan hanya 20,77% akun pengguna yang aktif dan 9,50% yang memanfaatkan seluruh kelompok fitur sistem. Penelitian ini mengembangkan model adopsi Unified Model of Electronic Government Adoption (UMEGA) yang diperluas dengan konstruk organisasional seperti training, leader's awareness, dan leader's commitment, serta mengintegrasikan data kuesioner dengan data log sistem untuk mengukur penggunaan aktual secara objektif. Pengujian model dilakukan menggunakan PLS-SEM terhadap pegawai yang memiliki akses SIMADA di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performance expectancy dan leader's commitment secara signifikan memengaruhi behavioral intention, sedangkan training merupakan satu-satunya faktor yang terbukti memengaruhi use behavior berdasarkan data log. Effort expectancy tidak terbukti signifikan memengaruhi behavioral intention, yang mengindikasikan bahwa dalam konteks sistem mandatori, tekanan dan pengaruh dari leader's commitment membuat kemudahan penggunaan sistem menjadi pertimbangan yang kurang relevan bagi pegawai. Temuan lainnya adalah behavioral intention tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap use behavior, mengindikasikan adanya kesenjangan antara niat dan penggunaan aktual pada konteks sistem mandatori. Penelitian ini merekomendasikan strategi peningkatan adopsi SIMADA melalui penguatan pelatihan terstruktur, komitmen pimpinan, dan monitoring berbasis data log sebagai indikator objektif keberhasilan implementasi sistem G2G.
EVALUASI METODE PENGUKURAN LATERAL FRACTION (LF) DAN INTERAURAL CROSS-CORRELATION (IACC) BERBASIS MIKROFON AMBISONIK
Evaluasi kualitas akustik ruang tidak hanya ditentukan oleh parameter energi dan peluruhan waktu, tetapi juga oleh parameter spasial yang menggambarkan kesan ruang secara komprehensif. Dua parameter objektif spasial yang esensial berdasarkan standar ISO 3382-1 adalah Lateral Fraction (LF) dan Interaural Cross-Correlation (IACC). Secara konvensional, pengukuran LF menuntut kombinasi mikrofon omnidireksional dan bidireksional yang tersusun secara koinsiden, sedangkan ekstraksi IACC mensyaratkan perangkat binaural fisis seperti Head and Torso Simulator (HATS). Mengingat tingginya keterbatasan biaya, kompleksitas konfigurasi fisis, serta sensitivitas orientasi dari instrumen referensi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan kelayakan instrumen alternatif yang lebih praktis, yakni mikrofon ambisonik komersial Zoom H3-VR, untuk karakterisasi parameter LF dan IACC. Pengujian fisis dilakukan di dalam Anechoic Chamber Laboratorium Adhiwijogo, Program Studi Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung, guna mengamankan kondisi medan bebas (free-field) tanpa interferensi akustik ruangan. Karakterisasi dilakukan dengan mengakuisisi sinyal eksitasi Exponential Sine Sweep (ESS) yang kemudian dikonversi dari ranah fisis A-format menjadi matriks ortogonal B-format. Kanal W dan Y pada matriks tersebut dialokasikan secara langsung untuk kalkulasi nilai LF, sementara keseluruhan sinyal B-format diproses secara komputasional melalui dekoding binaural untuk mensintesis nilai IACC. Seluruh perolehan nilai dari instrumen ini kemudian dikomparasikan terhadap nilai rujukan analitis dari simulasi medan bebas EASE 5 dengan mengevaluasi selisih deviasi, bias, rentang galat maksimum, serta batas toleransi Just Noticeable Difference (JND). Hasil analisis komparatif menunjukkan bahwa ekstraksi nilai IACC dari perangkat Zoom H3-VR memiliki tingkat validitas yang tinggi pada pita frekuensi 125–500 Hz, menyentuh batas ambang toleransi pada 1 kHz, dan mulai menyimpang secara signifikan pada pita 2 kHz serta 4 kHz. Tercatat 26 dari 78 titik data pengujian melampaui ambang batas JND, dengan konsentrasi galat tertinggi pada rentang frekuensi 1–4 kHz yang dipicu oleh keterbatasan resolusi First-Order Ambisonics (FOA) serta fenomena spatial aliasing. Pada evaluasi parameter LF, instrumen ini mencatatkan nilai galat keseluruhan yang sangat rendah yakni sebesar 0,035, dengan penyimpangan yang hanya terjadi secara fokal pada sudut 90° di pita frekuensi rendah. Kesimpulannya, Zoom H3-VR terbukti layak difungsikan sebagai instrumen alternatif yang valid untuk pengukuran parameter spasial LF dan IACC pada pita frekuensi rendah hingga menengah, sementara pengukuran IACC pada frekuensi tinggi mensyaratkan koreksi tambahan atau validasi silang dengan instrumen standar ISO 3382.