📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

ANALISIS POTENSI LIKUEFAKSI PADA ENDAPAN ALUVIAL KUARTER DI AREA DERMAGA GOSPIER, SURABAYA BERDASARKAN UJI PENETRASI STANDAR (SPT)

Proyek Revitalisasi Dermaga Gospier terletak di wilayah Tanjung Perak, Surabaya dan berada pada endapan aluvial berumur Kuarter yang bersifat lunak dan belum terkonsolidasi, membuat daerah tersebut lebih rentan terhadap gempabumi. Karenanya, diperlukan analisis terhadap potensi likuefaksi dalam proses pembangunan Dermaga Gospier. Penelitian dilakukan untuk menganalisis potensi likuefaksi serta besar displacement akibat lateral spreading dan settlement pada sedimen Kuarter yang terdapat di area Dermaga Gospier. Penelitian dilakukan menggunakan data Uji Penetrasi Standar (SPT) pada lima titik bor (BH1, BH2, BH3, BH4, dan BH5) dengan nilai PGA yang didapatkan melalui Analisis Deterministik Bahaya Gempabumi (DSHA). Analisis potensi likuefaksi dilakukan dengan menggunakan metode Tokimatsu-Yoshimi, NCEER, Idriss-Boulanger, serta Liquefaction Potential Index (LPI) dan Liquefaction Severity Index (LSI). Analisis lateral spreading dilakukan menggunakan metode Lateral Displacement Index (LDI) oleh Zhang dkk., sedangkan untuk analisis settlement menggunakan metode Ishihara-Yoshimine. Hasil analisis likuefaksi menunjukkan bahwa dari 5 titik bor hanya BH1, BH2, dan BH3 yang berpotensi mengalami likuefaksi, dengan lapisan tanah yang berpotensi berupa lapisan pasir dengan kandungan butiran halus rendah. Hasil perhitungan Liquefaction Potential Index (LPI) menunjukkan kategori medium (6,32) hingga high (32,26). Hasil perhitungan Liquefaction Severity Index (LSI) menunjukkan bahwa kategori very low (14,21) hingga moderate (46,31). Hasil perhitungan Lateral Displacement Index (LDI) menunjukkan nilai LDI terendah sebesar 1,38 m dan nilai LDI tertinggi mencapai 4,32 m. Hasil perhitungan settlement menunjukkan nilai terendah sebesar 10,74 cm dan nilai tertinggi sebesar 24,18.

2026
👤 Penulis: Nazmi Nursalma Patia
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Likuefaksi 🏷️ Manajemen Risiko Gempa

PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL MONETISASI SAMPAH DOMESTIK MELALUI BOARD GAME SEBAGAI MEDIA UTAMA UNTUK GENERASI Z

Permasalahan sampah di Indonesia menunjukkan kondisi paradoksal. Pada satu sisi, timbulan sampah nasional terus meningkat dan sampah dari aktivitas domestik atau rumah tangga menjadi salah satu penyumbang dominan dengan persentase sebesar 39,63%. Di sisi lain, sistem pengelolaan sampah di tingkat sumber masih belum berjalan optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya dapat dipahami sebagai masalah teknis pengangkutan dan pembuangan, tetapi juga berkaitan dengan perilaku, literasi, serta keterlibatan masyarakat dalam mengelola material pascakonsumsi. Kompleksitas tersebut semakin terlihat ketika industri daur ulang masih membutuhkan pasokan limbah sebagai bahan baku, sementara sampah domestik yang tersedia belum sepenuhnya terpilah, bernilai, atau siap masuk ke dalam rantai pengelolaan. Akibatnya, terjadi ketimpangan antara melimpahnya sampah yang dihasilkan, rendahnya pemahaman masyarakat mengenai cara memilah dan mengolahnya, serta belum optimalnya kesadaran bahwa sampah memiliki potensi nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat. Penelitian perancangan ini bertujuan untuk merancang kampanye sosial berbasis board game sebagai media utama untuk memperkenalkan potensi monetisasi sampah domestik kepada Generasi Z. Fokus perancangan tidak ditempatkan pada pembuktian praktik circular economy secara menyeluruh, melainkan pada upaya membangun pemahaman awal mengenai nilai ekonomi sampah domestik sebagai titik masuk menuju kesadaran pengelolaan material yang lebih berkelanjutan. Pemilihan Generasi Z sebagai audiens didasarkan pada posisi mereka sebagai generasi yang akan menghadapi dampak jangka panjang dari persoalan lingkungan, sekaligus memiliki karakter sosial yang relatif peka terhadap isu keberlanjutan. Namun, kesadaran sosial tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan tindakan nyata apabila tidak disertai dorongan yang relevan dengan kebutuhan dan kepentingan personal mereka. Oleh karena itu, penelitian ini menempatkan motivasi finansial sebagai pintu masuk pesan kampanye, dengan gagasan bahwa sampah tidak hanya perlu dikurangi atau dibuang secara benar, tetapi juga dapat dipahami sebagai material yang memiliki potensi insentif ekonomi. Metode perancangan yang digunakan mengacu pada kerangka Double Diamond, yang terdiri atas tahap discover, define, develop, dan deliver. Tahap discover dilakukan melalui pengumpulan data mengenai persoalan sampah domestik, perilaku Generasi Z, kampanye lingkungan terdahulu, serta ekosistem pengelolaan sampah di wilayah Bandung. Tahap define digunakan untuk merumuskan masalah komunikasi, insight audiens, dan posisi kampanye. Tahap develop berfokus pada pengembangan konsep kampanye, mekanisme permainan, alur edukasi, serta integrasi informasi mengenai nilai ekonomi sampah ke dalam pengalaman bermain. Tahap deliver menghasilkan rancangan kampanye sosial dengan board game sebagai media utama yang menyimulasikan proses pemilahan, penghitungan nilai material, relasi dengan stakeholder pengelola sampah, serta peluang perubahan sampah menjadi keuntungan ekonomi. Dalam perancangan strategi komunikasi, model AISAS digunakan untuk memetakan alur Attention, Interest, Search, Action, dan Share melalui tiga tahapan kampanye, yaitu conditioning, informing, dan reminding. Prinsip tangential learning dan tangible learning digunakan untuk mendukung proses pembelajaran yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga partisipatif dan berbasis pengalaman. Sementara itu, kerangka MDA digunakan untuk merancang aspek mechanics, dynamics, dan aesthetics dalam media board game. Hasil kajian terhadap kampanye sejenis menunjukkan bahwa banyak kampanye lingkungan masih berfokus pada peningkatan awareness, penyampaian pesan moral, atau partisipasi berbasis user-generated content. Strategi tersebut dapat memperluas jangkauan pesan, tetapi belum selalu memberikan pemahaman praktis mengenai bagaimana sampah dapat dipilah, dihitung, dan dipahami sebagai material bernilai. Pada beberapa kampanye, partisipasi audiens berhenti pada unggahan, tantangan media sosial, atau ajakan memilah sampah tanpa menghadirkan simulasi ekonomi yang konkret. Berdasarkan celah tersebut, perancangan ini menawarkan pendekatan berupa integrasi pesan monetisasi sampah domestik ke dalam pengalaman bermain board game. Board game tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan atau edukasi pasif, tetapi sebagai ruang simulatif yang memperlihatkan hubungan antara sampah domestik, proses pemilahan, nilai material, aktor pengelola, dan potensi monetisasi. Novelti penelitian terletak pada penggabungan isu monetisasi sampah domestik, karakteristik Generasi Z, dan board game sebagai media utama kampanye sosial berbasis simulasi. Kontribusi penelitian berada pada perancangan strategi kampanye lingkungan dalam desain komunikasi visual yang tidak hanya membangun kesadaran, tetapi juga memperkenalkan kemungkinan tindakan yang lebih konkret, relevan, dan bernilai secara ekonomi. Dengan memuat pemetaan stakeholder pengelolaan sampah di sekitar Bandung, Jawa Barat, perancangan ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan praktis bagi audiens untuk memahami jalur awal pengelolaan sampah domestik secara lebih nyata.

2026
👤 Penulis: Lentya Permata Sari Arya Pati
🏷️ Generasi Z 🏷️ Kampanye Lingkungan 🏷️ Board Game

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU YANG MEMPENGARUHI PROFITABILITAS DI PERTAMINA PAPUA

Penelitian ini menginvestigasi determinan profitabilitas pada Lapangan Papua Pertamina, lapangan minyak marginal yang mengalami imbal hasil negatif persisten (Return on Assets -20,25%, Net Profit Margin -25,43%) sepanjang periode 2019-2023. Studi ini membahas apakah profitabilitas terutama digerakkan oleh faktor internal yang dapat dikontrol manajemen atau kondisi eksternal yang digerakkan pasar, menyediakan panduan berbasis bukti untuk strategi transformasi yang dapat diterapkan pada operasi lapangan marginal secara global. Penelitian menggunakan metodologi kuantitatif dengan menganalisis 60 observasi bulanan dari Januari 2019 hingga Desember 2023, menguji enam faktor internal (rasio utang terhadap aset, rasio lancar, perputaran aset, biaya angkat per barel, volume produksi, utilisasi aset) dan dua faktor eksternal (harga minyak mentah Brent, pandemi COVID-19). Kerangka regresi tiga model secara sistematis memisahkan faktor operasional internal (Model 1), kondisi pasar eksternal (Model 2), dan efek kombinasi (Model 3) untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai pengaruh internal, pengaruh eksternal, dan implikasi alokasi sumber daya strategis. Temuan empiris menetapkan bahwa faktor internal yang dapat dikontrol manajemen menjelaskan 89,12% varians profitabilitas (R² = 0,8912, F = 72,34, p < 0,001), sementara faktor eksternal yang digerakkan pasar menjelaskan 52,34% varians (R² = 0,5234, F = 31,23, p < 0,001). Kesenjangan daya penjelas 37 poin persentase mengkuantifikasi dominasi faktor internal. Biaya angkat muncul sebagai determinan dominan dengan koefisien -9,12 (p < 0,001), mengindikasikan setiap kenaikan satu dolar per barel mengurangi Return on Assets sebesar 9,12 poin persentase. Harga minyak menunjukkan koefisien positif +1,34 (p < 0,001), namun perbandingan mengungkapkan pengurangan biaya memberikan dampak profitabilitas 6,8 kali lebih besar daripada kenaikan harga ekuivalen. Model kombinasi (R² = 0,9600, F = 89,45, p < 0,001) memvalidasi rasio koefisien 7,3:1 antara efek biaya angkat dan harga minyak, menetapkan bahwa manajemen biaya 7,3 kali lebih kuat daripada pergerakan harga dalam menentukan profitabilitas. Analisis R-squared inkremental menunjukkan faktor internal berkontribusi 9,4 kali lebih besar daya penjelas dibandingkan faktor eksternal ketika ditambahkan ke model dasar. Semua delapan hipotesis terkonfirmasi dengan hubungan arah yang diharapkan dan pengujian diagnostik komprehensif memvalidasi kualitas model. Rasio utang terhadap aset menunjukkan dampak negatif kuat (? = -92,45, p < 0,001), rasio lancar mendemonstrasikan efek likuiditas positif (? = +24,56, p < 0,05), perputaran aset menunjukkan pengaruh efisiensi (? = +47,89, p < 0,001), biaya angkat menampilkan dampak negatif dominan (? = -9,12, p < 0,001), volume produksi berkontribusi moderat (? = +0,0034, p < 0,10), utilisasi aset mempengaruhi secara positif (? = +0,52, p < 0,05), harga minyak memberikan pengaruh positif eksternal (? = +1,34, p < 0,001), dan COVID-19 mendemonstrasikan disrupsi parah (? = -34,12, p < 0,001). Mean Variance Inflation Factor sebesar 1,62 mengindikasikan tidak ada multikolinearitas, uji Breusch-Pagan mengkonfirmasi homoskedastisitas, uji Breusch-Godfrey menunjukkan tidak ada autokorelasi, uji Jarque-Bera memvalidasi normalitas, uji Augmented Dickey-Fuller mengkonfirmasi stasioneritas, dan uji F mendeteksi tidak ada pola musiman. Rekomendasi strategis yang diturunkan dari bukti empiris menyarankan pengalokasian 80-85% sumber daya transformasi terhadap perbaikan operasional internal dan 15-20% terhadap manajemen risiko eksternal, mencerminkan rasio koefisien terkuantifikasi 7,3:1 dan rasio kontribusi inkremental 9,4:1. Empat inisiatif prioritas mencakup: Prioritas 1 pengurangan biaya angkat menargetkan penghematan $7-9 per barel melalui optimasi kimia, efisiensi energi, produktivitas tenaga kerja, pemeliharaan preventif, dan perbaikan logistik, memproyeksikan perbaikan +62 hingga +80 poin persentase Return on Assets dengan investasi $4- 6 juta selama 12-24 bulan; Prioritas 2 peningkatan efisiensi aset menargetkan perbaikan perputaran aset dari 0,42 menjadi 0,55-0,60 melalui debottlenecking dan intervensi sumur, memproyeksikan perbaikan +7 hingga +8 poin persentase dengan investasi $3-5 juta; Prioritas 3 optimasi struktur keuangan mengurangi rasio utang terhadap aset dari 0,50 menjadi 0,42-0,45, memproyeksikan perbaikan +4 hingga +7 poin persentase; Prioritas 4 manajemen risiko harga minyak melalui hedging collar mencakup 50-70% produksi. Implementasi gabungan memproyeksikan transformasi Return on Assets dari -20% menjadi +35-55% dalam 24 bulan, memvalidasi kelayakan pemulihan profitabilitas melalui perbaikan yang dikontrol manajemen. Penelitian ini berkontribusi dengan mengkuantifikasi kepentingan relatif determinan internal versus eksternal melalui kerangka tiga model yang novel, menetapkan bahwa ekonomi biaya per unit mendominasi pertimbangan volume untuk lapangan marginal, dan menyediakan metodologi yang dapat digeneralisasi untuk alokasi sumber daya di industri ekstraktif padat modal.

2026
👤 Penulis: Muhamad Husein
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Keuangan Pertambangan 🏷️ Efisiensi Operasional

FABRIKASI DAN KARAKTERISASI SCAFFOLD BIOMIMETIK BERBASIS KEPOMPONG LABA-LABA ARGIOPE SP. UNTUK APLIKASI PENUTUPAN LUKA

Pengembangan scaffold biomimetik struktur matriks ekstraseluler (ECM) alami merupakan salah satu pendekatan penting dalam mendukung proses penutupan luka. Kepompong laba-laba Argiope sp., yang kaya akan spidroin dan memiliki struktur nanofibril alami, dipilih sebagai model biomimetik dalam fabrikasi scaffold berbasis electrospinning untuk aplikasi penutupan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi properti fisik dan biologis kepompong Argiope sp., mengembangkan scaffold dengan electrospinning dan mengkarakterisasi properti fisik dan biologis scaffold hasil electrospinning dan mengevaluasi kemampuan scaffold hasil electrospinning dalam mendukung proliferasi sel melalui pengujian in vitro menggunakan sel HDF. Scaffold yang dihasilkan diharapkan mampu meniru nanostruktur kepompong yang berpotensi diaplikasikan sebagai scaffold pendukung dalam proses penyembuhan luka pascaoperasi. Kepompong Argiope sp. yang telah disterilkan dikarakterisasi secara struktural menggunakan scanning electron microscopy (SEM) untuk mengevaluasi morfologi serat dan ukuran pori. Spidroin diekstrak dari kepompong Argiope sp., dianalisis menggunakan SDS– PAGE, dan selanjutnya dikarakterisasi dengan liquid chromatography–highresolution mass spectrometry (LC-HRMS) untuk mengidentifikasi komposisi protein. Scaffold electrospinning difabrikasi dari campuran polyvinyl alcohol– spidroin serta dilakukan proses physical dan chemical crosslinking melalui perlakuan panas dan metanol untuk meningkatkan stabilitas struktur scaffold. Struktur scaffold hasil electrospin dikarakterisasi menggunakan SEM, sedangkan kandungan proteinnya dikonfirmasi dengan Attenuated Total Reflectance Fourier 2 Transform Infrared Spectroscopy (FTIR-ATR). Selain itu, tingkat hidrofobisitas scaffold juga dievaluasi melalui uji sudut kontak (contact angle test) dan laju degradasi scaffold dianalisis. Evaluasi in vitro dilakukan dengan mengkultur human dermal fibroblasts (HDFs) pada kepompong yang telah disterilkan dan scaffold spidroin hasil electrospinning selama 72 jam, kemudian dianalisis menggunakan SEM dan uji immunocytochemistry dengan pewarnaan DAPI dan rhodamine phalloidin untuk menilai adhesi sel, morfologi, dan penyebaran sel. Analisis SEM menunjukkan bahwa kepompong Argiope sp. tersusun atas fiber tipis aciniform yang saling terhubung dan fiber yang tebal tubiliform, dengan diameter masingmasing 0,60 ± 0.06 dan 3,75 ± 0.28 ?m, sehingga membentuk pori-pori yang sesuai untuk fibroblas masuk ke bagian dalam. Analisis proteomik mengkonfirmasi keberadaan spidroin fungsional yang berperan dalam pembentukan kepompong, seperti spidroin aciniform dan tubuliform. HDF melekat dan menyebar dengan baik di atas serat kepompong Argiope sp. Scaffold hasil electrospinning memiliki fiber yang homogen dengan diameter sebesar 0,62 ?m yang mendekati ukuran fiber aciniform pada kepompong Argiope sp, namun menunjukkan stabilitas yang terbatas dalam lingkungan terendam cairan. Chemical crosslinking meningkatkan stabilitas scaffold hingga mampu mempertahankan struktur selama sekitar 12 jam, sedangkan physical crosslinking melalui perlakuan panas memungkinkan scaffold mempertahankan strukturnya lebih dari satu minggu dalam kondisi terendam cairan oleh karena itu, scaffold yang dicrosslink melalui heat treatment dipilih untuk digunakan pada pengujian-pengujian selanjutnya. Proses crosslinking pada kedua scaffold mempengaruhi struktur fiber dengan peningkatan diameter fiber hingga sebesar 0,88 ?m, namun tetap mempertahankan pori-pori yang interconnected. Selain itu, uji contact angle menunjukkan bahwa scaffold hasil electrospinning memiliki sudut kontak 84,036° yang menunjukkan sifat moderately hydrophobic. Evaluasi in vitro pada scaffold electrospin menunjukkan perlekatan dan penyebaran HDF yang baik di sepanjang fiber scaffold, dengan inti sel yang tetap mempertahankan morfologi, mendukung proliferasi sel dan bersifat non-sitotoksik dan biokompatibel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepompong Argiope sp. berhasil terkarakterisasi secara fisik dimana terdiri dari fiber aciniform dan tubiliform dan mengandung pori-pori yang membentuk struktur tiga dimensi. 3 Kepompong Argiope sp. juga berhasil terkarakterisasi secara biologis yang menunjukkan bahwa kepompong tersebut mengandung aciniform spidroin, major ampullate spidroin dan tubiliform spidroin. Ekstrak dari kepompong Argiope sp. terkarakterisasi dan mengandung domain N-terminal dan C-terminal spidroin dan spidroin-1-like protein. Scaffold campuran PVA dan ekstrak spidroin berhasil difabrikasi dengan electrospinning yang mengandung fiber sebanding dengan fiber aciniform pada kepompong Argope sp. Scaffold tersebut dicrosslink dengan pemanasan agar tidak terdegradasi dalam air. Scaffold hasil electrospinning setelah crosslinking tetap mengandung spidroin berdasarkan hasil FTIR-ATR. Contact angle scaffold hasil electrospinning bernilai pada 84.036° dan dapat dinyatakan bahwa scaffold tersebut moderately hydrophobic. Berdasarkan hasil uji in vitro dengan pengamatan scanning electron microscopy (SEM), uji immunocytochemistry (ICC) dan uji proliferasi menunjukkan bahwa scaffold maupun kepompong Argiope sp. dapat mendukung adhesi dan proliferasi sel HDF.

2026
👤 Penulis: Francis Sjarifudin
🏷️ Kepompong Laba-Laba 🏷️ Scaffold Bioinjeksiabel 🏷️ Penyembuhan Luka Pascaoperasi

PERANCANGAN INTERIOR PERPUSTAKAAN ANAK DI BANDUNG DENGAN PENDEKATAN PLAY-BASED LEARNING

Literasi dini merupakan fondasi yang sangat penting bagi perkembangan intelektual dan sosial anak. Pada tahap ini, anak belajar melalui pengalaman yang aktif, eksploratif, dan menyenangkan. Namun, tingkat literasi anak di Indonesia masih tergolong rendah dan menunjukkan kecenderungan menurun dari tahun ke tahun, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih menarik dan menyenangkan untuk menumbuhkan minat baca sejak usia dini. Perpustakaan memiliki potensi besar tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai lingkungan belajar yang mendukung aktivitas bermain, interaksi sosial, dan eksplorasi sensorik. Sayangnya, banyak perpustakaan anak masih menerapkan penataan ruang yang konvensional sehingga belum mampu mengakomodasi aktivitas berbasis bermain maupun cara belajar alami anak. Ruang yang tidak mendorong keterlibatan melalui kegiatan bermain cenderung mengurangi rasa ingin tahu serta keterikatan emosional anak terhadap aktivitas literasi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan konsep perancangan interior perpustakaan anak dengan menggunakan pendekatan Play-Based Design, yang menempatkan aktivitas bermain sebagai inti dari proses belajar dan keterlibatan anak. Melalui penerapan zonasi ruang yang mendorong eksplorasi, kolaborasi, dan refleksi, pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan keterikatan emosional serta partisipasi anak dalam kegiatan literasi. Hasil penelitian ini diharapkan menghasilkan rancangan interior yang adaptif, menyenangkan, dan mampu mendukung terbentuknya budaya literasi yang berkelanjutan sejak usia dini.

2026
👤 Penulis: Malika Najati
🏷️ Interior Perpustakaan Anak 🏷️ Play-Based Design 🏷️ Literasi Dini

MODEL REGENERASI PENGETAHUAN TEKTONIKA LOKAL PADA MASJID TRADISIONAL ACEH UNTUK KETANGGUHAN SEISMIK

Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan tingkat risiko seismik yang tinggi. Berbagai peristiwa gempa besar telah menyebabkan kerusakan signifikan pada bangunan publik, terutama yang dibangun dengan praktik konstruksi swadaya masyarakat. Di sisi lain, sejumlah Masjid Tradisional Aceh yang menggunakan sistem konstruksi kayu justru mampu bertahan terhadap beban gempa dengan tingkat kerusakan yang relatif rendah. Fenomena ini menunjukkan adanya pengetahuan tektonika lokal yang berkembang melalui pengalaman adaptif masyarakat dalam merespons risiko seismik. Namun, pengetahuan tersebut masih berada dalam bentuk implisit, belum sepenuhnya diformalkan sebagai sistem pengetahuan konstruksi, dan belum dioperasionalkan sebagai dasar pengembangan desain arsitektur masa kini yang tangguh terhadap gempa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh dalam membentuk respons dan ketangguhan seismik bangunan, merumuskan Unit Pengetahuan Tektonika Lokal (UPTL) yang berkontribusi terhadap mekanisme ketangguhan seismik, serta menyusun model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai kerangka konseptual dan operasional bagi pengembangan desain arsitektur masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan desain sekuensial melalui tiga tahap. Tahap pertama berfokus pada identifikasi data empiris melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, catatan lapangan, dokumentasi, serta pengukuran dengan Terrestrial Laser Scanning pada lima objek studi Masjid Tradisional Aceh. Tahap kedua melakukan evaluasi performa seismik melalui analisis numerik multiskala, yaitu analisis pushover dan time history pada skala bangunan serta finite element analysis (FEA) pada skala sambungan balok-kolom. Tahap ketiga melakukan sintesis dan translasi pengetahuan melalui perumusan unit pengetahuan, kriteria desain, parameter desain, serta penyusunan model konseptual-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketangguhan seismik Masjid Tradisional Aceh terbentuk melalui kerja terpadu antara keteraturan geometri, sistem struktur inti-perimeter, sistem rangka kayu, sambungan mortise–tenon, sistem tumpuan, dan strategi material ringan. Karakteristik tersebut tidak bekerja sebagai elemen tunggal, melainkan sebagai sistem tektonika yang saling terkait dalam mengendalikan respons bangunan terhadap beban gempa. Penelitian ini merumuskan 21 UPTL yang dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu geometri bangunan, sistem struktur, sistem konstruksi, dan material bangunan. Unit-unit tersebut kemudian diturunkan menjadi 39 kriteria desain dan 80 parameter desain. Model regenerasi dikembangkan melalui pendekatan konseptual-parametrik dengan lima alternatif konfigurasi modul. Selanjutnya, dua model dengan konfigurasi 16 modul dan 25 modul dipilih sebagai model konseptual siap uji. Hasil uji model menunjukkan bahwa kedua model memenuhi kategori Immediate Occupancy pada analisis pushover dan time history. Pada skala sambungan, hasil finite element analysis menunjukkan bahwa logika sambungan mortise–tenon masih dapat dipertahankan ketika material ditranslasikan ke kayu rekayasa, meskipun respons deformasi dan tegangan lokal bervariasi pada setiap sambungan. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh dapat menjadi dasar pengembangan desain bangunan tangguh gempa yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap keterbatasan praktik konstruksi masyarakat. Temuan ini juga menegaskan bahwa pelestarian arsitektur tradisional perlu diarahkan tidak hanya pada bentuk fisik, tetapi juga pada pemahaman logika konstruksi, sistem sambungan, strategi material, dan mekanisme performa yang terkandung di dalamnya. Kebaruan penelitian terletak pada tiga aspek. Pertama, penelitian ini memformalkan pengetahuan tektonika lokal Masjid Tradisional Aceh menjadi UPTL yang dapat ditranslasikan ke dalam kriteria desain dan parameter desain. Kedua, penelitian ini merumuskan model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai pendekatan alternatif dalam pengembangan arsitektur tangguh gempa yang berakar pada kearifan lokal, dengan menempatkan pengetahuan konstruktif tradisional sebagai sistem pengetahuan yang dapat diregenerasi dan dioperasionalkan, bukan sekadar dilestarikan. Ketiga, penelitian ini mengintegrasikan dokumentasi empiris, pengetahuan implisit, analisis numerik multiskala, dan pemodelan konseptual–parametrik untuk mengungkap mekanisme performa seismik pada sistem struktur dan sambungan tradisional secara terukur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Masjid Tradisional Aceh tidak hanya dapat dipahami sebagai objek warisan arsitektur, tetapi sebagai sistem pengetahuan konstruksi yang memiliki logika performatif terhadap risiko gempa. Ketangguhan seismiknya terbentuk melalui relasi antarelemen tektonika yang bekerja secara terpadu, sedangkan model regenerasi yang dirumuskan menunjukkan bahwa pengetahuan lokal tersebut dapat diformalkan menjadi perangkat desain dan diuji secara numerik tanpa mereproduksi bentuk tradisional secara literal. Kesimpulan ini menempatkan model regenerasi pengetahuan tektonika lokal sebagai pendekatan alternatif bagi pengembangan desain masjid masa kini yang tangguh, adaptif, dan kontekstual terhadap kondisi praktik konstruksi masyarakat.

2026
👤 Penulis: Riza Aulia Putra
🏷️ Teknologi Informasi Dalam Desain Arsitektur 🏷️ Analisis Seismik 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENENTUAN PREMI ASURANSI KEBAKARAN LAHAN GAMBUT DENGAN SKENARIO PERUBAHAN IKLIM DI PROVINSI RIAU

Kebakaran lahan gambut di Provinsi Riau merupakan bencana tahunan yang menimbulkan dampak ekologis dan ekonomi yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi probabilitas terjadinya kebakaran lahan gambut secara spasio-temporal serta mengkuantifikasi risiko kerugian ekonomi yang ditimbulkannya. Prediksi peluang kebakaran dilakukan berdasarkan variabel iklim menggunakan pendekatan Machine Learning berbasis Convolutional Long Short Term Memory (ConvLSTM) untuk memodelkan parameter iklim (temperatur, curah hujan, dan kelembapan tanah) di wilayah Riau. Estimasi tingkat kerugian ekonomi dilakukan menggunakan pendekatan Simulasi Monte Carlo. Hasil simulasi digunakan untuk menghitung total kerugian agregat untuk setiap iterasi. Barisan data kerugian agregat kemudian berguna untuk mengestimasi harga premi murni asuransi kebakaran lahan gambut dengan periode bulanan dan tahunan. Pengukuran risiko dari kerugian agregat dilakukan menggunakan metrik Value at Risk (VaR), Tail Value at Risk (TVaR), dan Tail Variance (TV) pada tingkat kepercayaan 75%, 85%, dan 95%. Dipertimbangkan juga perhitungan premi dengan berbagai jenis modifikasi asuransi (deductible, policy limit, coinsurance, dan gabungan). Untuk mengatasi dinamisnya perubahan iklim, dilakukan analisis sensitivitas perubahan iklim terhadap premi asuransi. Perhitungan premi murni beserta modifikasinya dilakukan kembali dalam kondisi perubahan iklim. Perubahan iklim dibagi menjadi 2, yaitu pemanasan dan pengeringan serta pendinginan dan pembasahan. Hasil estimasi premi menunjukkan bahwa perubahan iklim mengakibatkan adanya perubahan peluang kebakaran yang menyebabkan peningkatan dan penurunan harga premi.

2026
👤 Penulis: Nadya Cleva
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Risiko Asuransi 🏷️ Hidrologi

FORMULASI STRATEGI TRANSFORMASI OPERASIONAL INDUSTRI PERTAHANAN MENGGUNAKAN INTEGRASI DELPHI-AHP DAN KERANGKA TRIPLE BOTTOM LINE: STUDI KASUS PT LEN INDUSTRI (PERSERO)

Pembentukan Holding BUMN Industri Pertahanan (DEFEND ID) pada tahun 2021 menandai tonggak sejarah yang signifikan bagi lanskap pertahanan Indonesia, menempatkan PT Len Industri (Persero) sebagai perusahaan induk yang bertugas memimpin ekosistem teknologi pertahanan nasional. Meskipun berhasil mencapai pendapatan komersial yang substansial dan memenuhi mandat strategis untuk menyokong kebutuhan alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpalhankam) domestik, PT Len Industri (Persero) menghadapi kerentanan struktural dan operasional yang krusial. Beroperasi dalam lingkungan manufaktur High-Mix Low-Volume (HMLV) yang sangat kompleks, perusahaan saat ini berjuang mengatasi kesenjangan kinerja operasional yang persisten. Masalah yang paling menonjol adalah Cost of Poor Quality (COPQ) yang mengalami peningkatan, menyerap antara 2,4% hingga 3,9% dari Cost of Revenue dari tahun 2022 hingga 2025. Erosi profitabilitas yang tersembunyi ini diperburuk oleh tingginya rasio penolakan (reject) dan pengerjaan ulang (rework), kekurangan kompetensi teknis, dan tidak adanya mekanisme transfer pengetahuan formal, yang menciptakan kerapuhan sistemik dalam kapasitas organisasi untuk mempertahankan kualitas. Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi transformasi operasional berbasis bukti yang berfokus pada dua pilar penting: pelembagaan Budaya Perbaikan Berkelanjutan (Continuous Improvement Culture) dan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (Human Capital Enhancement). Untuk memastikan evaluasi keberlanjutan organisasi yang komprehensif, strategi yang diusulkan dievaluasi menggunakan kerangka pengukuran kinerja Triple Bottom Line (TBL) tertimbang, yang mengintegrasikan dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang disesuaikan secara khusus dengan konteks industri pertahanan HMLV. Penelitian ini menggunakan paradigma pragmatisme melalui desain sekuensial eksploratori metode campuran (mixed-methods). Data kualitatif primer dikumpulkan secara cermat melalui wawancara semi-terstruktur dengan Dewan Direksi PT Len Industri (Persero) dan pengguna akhir utama dari Kementerian Pertahanan. Setelah eksplorasi kualitatif, metode Modified Delphi dua putaran yang melibatkan panel yang dikurasi dengan cermat yang terdiri dari 12 pakar digunakan. Proses ini bertujuan untuk memvalidasi dan menghitung bobot rasio penerapan (applicability-ratio) dari indikator kinerja TBL. Selanjutnya, Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk mengevaluasi, menimbang, dan memprioritaskan intervensi strategis yang diusulkan secara sistematis. Metode Modified Delphi berhasil memvalidasi kerangka kerja kuat yang terdiri dari 35 indikator kinerja TBL tertimbang yang dikontekstualisasikan untuk sektor pertahanan. Temuan menunjukkan bahwa metrik seperti COPQ dan Reject Rate (Ekonomi), Technology and Manufacturing Readiness Level (TRL/MRL), Transfer Pengetahuan (Sosial), dan Kepatuhan Regulasi Lingkungan (Lingkungan) muncul sebagai prioritas dengan bobot tertinggi. Evaluasi garis dasar (baseline) terhadap target strategis 2029 menunjukkan bahwa 12 dari 35 indikator saat ini berada jauh di bawah target, membenarkan kebutuhan mendesak untuk intervensi struktural. Lebih lanjut, analisis AHP secara kuantitatif menetapkan bahwa pelembagaan Budaya Perbaikan Berkelanjutan (bobot 60,2%) memegang prioritas dasar di atas Peningkatan Kapasitas SDM (bobot 39,8%). Di antara alternatif strategis yang dievaluasi, penerapan Lean Six Sigma Enterprise (LSS) menempati peringkat sebagai prioritas global teratas (31,31%), diikuti oleh Digital Manufacturing Integration (26,68%). Secara bersamaan, Knowledge Management System (KMS) dan Supply Chain Optimization (SCO) diidentifikasi melalui Matriks Prioritas sebagai langkah cepat (Quick Wins) yang sangat layak diterapkan dan memberikan dampak strategis yang substansial. Sebagai kesimpulan, tesis ini menyintesis temuan-temuan tersebut ke dalam peta jalan (roadmap) transformasi operasional 3 tahun yang preskriptif dan bertahap. Tahun fondasi pertama menekankan implementasi komprehensif metodologi 5S, manajemen visual, dan pembentukan Kantor Keunggulan Transformasi (Transformation Excellence Office). Tahun akselerasi kedua berfokus pada Value Stream Mapping dan integrasi Lean Six Sigma Green/Black Belt. Tahun kematangan terakhir melembagakan Total Productive Maintenance (TPM) dan budaya Kaizen yang mandiri. Untuk menjamin eksekusi yang berkelanjutan, studi ini sangat merekomendasikan integrasi inisiatif-inisiatif ini melalui arsitektur tata kelola yang kuat yang dikendalikan oleh sistem penyelarasan strategis Hoshin Kanri. Pada akhirnya, penelitian ini menyediakan kerangka kerja TBL pertama yang divalidasi secara empiris untuk industri pertahanan milik negara di Indonesia, menawarkan model strategis yang dapat direplikasi untuk produsen pertahanan sejenis.

2026
👤 Penulis: Hasful Anwar Fathoni
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN PROGRAM NUMERIK UNTUK MENGESTIMASI NILAI MAGNITUDO MUTLAK ASTEROID MENGGUNAKAN FUNGSI FASE TIGA PARAMETER

Magnitudo mutlak (H) adalah parameter astronomi fundamental yang merepresentasikan kecerlangan intrinsik suatu benda langit. Untuk asteroid, nilai H menjadi sangat penting karena digunakan untuk menurunkan parameter fisis diameter, yang diperlukan dalam banyak aplikasi praktis seperti distribusi ukuran dan properti fisis populasi asteroid. Estimasi nilai H dari magnitudo tampak memerlukan pendekatan matematis yang kompleks guna mengompensasi fluktuasi akibat jarak geometris dan sudut fase orbit, khususnya akibat lonjakan kecerlangan non-linear dari efek oposisi di daerah sudut fase orbit kecil. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan pipeline komputasi numerik berbasis bahasa pemrograman Python untuk mengotomatisasi pemrosesan data fotometri deret waktu serta menghitung parameter kurva fase asteroid menggunakan model fungsi fase tiga parameter (H–G1–G2). Alur pemrosesan data diawali dengan interpolasi data efemeris, yang dilanjutkan dengan pengelompokan data observasi berdasarkan rentang sudut fase orbit menggunakan metode binning seragam dan algoritma Ck-means. Estimasi periode rotasi dilakukan melalui analisis spektral periodogram Lomb- Scargle. Morfologi kurva cahaya dari setiap kelompok sudut fase kemudian dicocokkan menggunakan deret Fourier untuk menghitung nilai magnitudo representatif (a0). Pada tahap akhir, nilai a0 dari seluruh rentang sudut fase orbit diekstrapolasi menggunakan metode kuadrat terkecil non-linear berbasis algoritma Levenberg-Marquardt untuk mendapatkan nilai magnitudo mutlak dan parameter kemiringan fungsi fase orbit. Keandalan program komputasi ini divalidasi menggunakan sampel pengamatan empiris dari lima asteroid yang mewakili berbagai kelas taksonomi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa implementasi algoritma non-linear berhasil mencegah distorsi galat dan mengonversi parameter fisis secara rasional. Penggunaan model tiga parameter terbukti memperhitungkan lonjakan kecerlangan yang disebabkan oleh efek oposisi di sudut fase kecil. Lebih lanjut, distribusi nilai parameter kemiringan G1 dan G2 yang dihitung oleh program terbukti memiliki korelasi fisis terhadap distribusi kelas taksonomi asteroid. Program komputasi yang dikembangkan terbukti tangguh, akurat, dan fleksibel untuk memfasilitasi analisis data fotometri asteroid.

2026
👤 Penulis: M. Fadhlan Dhafin Harashta
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Fisika Astronomi 🏷️ Data Mining Komputer

STUDI ARAH ALIRAN AIR BAWAH PERMUKAAN DI KAWASAN KAMPUS ITB JATINANGOR MENGGUNAKAN METODE SELF-POTENTIAL (SP)

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan arah aliran air bawah permukaan, mengidentifikasi karakteristik litologi akuifer, mengestimasi kedalaman perlapisan, serta menentukan zona recharge dan discharge di kawasan Kampus ITB Jatinangor. Metode yang digunakan adalah integrasi antara metode pasif SelfPotential (SP) untuk analisis lateral dan data sekunder Time-Domain Electromagnetic (TDEM) untuk analisis vertikal. Pengukuran SP dilakukan menggunakan konfigurasi fixed-base dengan menerapkan koreksi base-shift sepanjang lintasan pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai anomali SP di lokasi penelitian bervariasi antara -15 mV hingga 105 mV. Zona resapan (recharge zone) teridentifikasi di dataran tinggi bagian utara kampus, tepatnya di area lapangan bola, yang ditandai oleh anomali SP rendah hingga negatif (mencapai -15 mV) akibat mekanisme potensial elektrokinetik (streaming potential) saat air meresap secara vertikal. Sebaliknya, zona luapan (discharge zone) berada di dataran rendah bagian selatan kampus yang berimpit dengan lokasi dua danau ITB Jatinangor, ditandai oleh akumulasi anomali SP positif tinggi berkisar antara 65 mV hingga 105 mV akibat penumpukan kation. Berdasarkan kontras anomali tersebut, arah aliran air tanah terindikasi kuat bergerak secara lateral dari utara menuju selatan. Analisis vertikal melalui inversi 1D data TDEM (RMSE 5,27%) berhasil memvalidasi sistem hidrogeologi ini dengan mengidentifikasi struktur selangseling (interbedded) vulkanik, berupa lapisan akuifer terbuka (unconfined aquifer) pasir jenuh air pada kedalaman 7,0–13,0 meter (22,8 ?·m). Di bawahnya, ditemukan lapisan kedap air (aquitard) berupa lempung pada kedalaman 13,0–18,0 meter (8,7 ?·m) yang menyekat rangkaian sistem akuifer tertutup (confined aquifer) berupa pasir jenuh air pada kedalaman 18,0–25,0 meter (25,4 ?·m) dan 33,0–45,0 meter (13,6 ?·m). Integrasi kedua metode ini memberikan indikasi kualitatif yang kuat mengenai model hidrogeologi yang utuh dan konsisten di kawasan Kampus ITB Jatinangor.

2026
👤 Penulis: Adi Tio Nugroho
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Geofisika

STUDI KARAKTERISTIK FISIK DAN KIMIA SERTA POTENSI RESOURCE RECOVERY LUMPUR DARI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK DI PROVINSI DKI JAKARTA.

ABSTRAK ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF TEKNOLOGI PEMANFAATAN LUMPUR HASIL PENGOLAHAN IPAL DOSMESTIK DAN PENGERUKAN BADAN AIR DI PROVINSI DKI JAKARTA Oleh Dinna Rachmayanti NIM: 25724001 (Program Studi Magister Pengelolaan Infrastuktur Air Bersih dan Sanitasi) Peningkatan cakupan layanan sanitasi perkotaan dan intensitas kegiatan pengerukan badan air telah menyebabkan peningkatan volume lumpur yang memerlukan pengelolaan, sementara keterbatasan lahan pembuangan semakin membatasi kapasitas pengelolaan lumpur. Kondisi ini menuntut pengembangan strategi pengelolaan yang berorientasi pada pemulihan sumber daya dan ekonomi sirkular. Namun, pemilihan teknologi pemanfaatan lumpur masih menghadapi tantangan karena harus mempertimbangkan berbagai aspek teknis, lingkungan, ekonomi, dan keberlanjutan secara terpadu. Oleh karena itu, diperlukan suatu kerangka evaluasi yang mampu mendukung pengambilan keputusan secara objektif dan komprehensif. Penelitian ini mengembangkan suatu model evaluasi untuk menentukan alternatif teknologi pemanfaatan lumpur yang paling berkelanjutan dengan mengintegrasikan metode Vlsekriterijumska Optimizacija I Kompromisno Resenje (VIKOR) dan pembobotan entropi. Sistem evaluasi disusun berdasarkan 14 indikator yang dikelompokkan ke dalam 5 dimensi utama, yaitu karakteristik lumpur, dampak lingkungan, dampak ekonomi, perubahan entropi, dan tingkat pemanfaatan sumber daya. Model yang dikembangkan kemudian diterapkan pada studi kasus pengelolaan lumpur hasil pengolahan air limbah domestik dan pengerukan badan air di Provinsi DKI Jakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa teknologi komposting merupakan alternatif terbaik dengan nilai indeks VIKOR (Qj) sebesar 0,0000, diikuti oleh insinerasi (0,2864), anaerobic digestion (0,3222), black soldier fly larvae (BSFL) (0,3432), hydrothermal carbonization (HTC) (0,4644), dan landfill (1,0000), yang menunjukkan bahwa teknologi berbasis pemulihan sumber daya memiliki kinerja yang lebih unggul dibandingkan opsi pembuangan akhir. Temuan tersebut diperkuat oleh hasil validasi institusional yang mengindikasikan bahwa Provinsi DKI Jakarta memiliki tingkat kesiapan yang memadai untuk mengimplementasikan teknologi pemanfaatan lumpur melalui dukungan kelembagaan, infrastruktur dasar, dan komitmen terhadap pengelolaan lingkungan. Meskipun demikian, implementasi skala penuh masih memerlukan penguatan regulasi yang secara khusus mengatur pemanfaatan lumpur sertapeningkatan investasi dan pendanaan jangka panjang. Secara keseluruhan, model evaluasi yang dikembangkan menyediakan kerangka pengambilan keputusan yang komprehensif dan dapat direplikasi untuk mendukung perumusan kebijakan pengelolaan lumpur yang berorientasi pada pemulihan sumber daya, keberlanjutan lingkungan, dan transisi menuju ekonomi sirkular.

2026
👤 Penulis: Dinna Rachmayanti
🏷️ Lumpur Industri 🏷️ Pemanfaatan Sumber Daya 🏷️ Evaluasi Teknologi

KUANTIFIKASI PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG (IPOMOEA REPTANS VAR. BANGKOK LP-1) SEBAGAI RESPONS TERHADAP APLIKASI BIOSTIMULAN EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) SECARA FOLIAR

Produksi tanaman kangkung di Indonesia menunjukkan tren penurunan sehingga diperlukan upaya peningkatan produktivitas melalui pendekatan pertanian berkelanjutan. Salah satu inovasi yang berkembang adalah pemanfaatan biostimulan berbasis bahan alami, seperti ekstrak daun kelor (Moringa oleifera), yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Namun, informasi mengenai efektivitas aplikasi foliar ekstrak daun kelor pada tanaman kangkung masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi ekstrak daun kelor secara foliar terhadap pertumbuhan vegetatif, kandungan pigmen fotosintesis, biomassa, serta menentukan konsentrasi paling efektif pada tanaman kangkung (Ipomoea reptans var. Bangkok LP-1). Penelitian dilaksanakan pada Oktober–November 2025 di Screenhouse SITH ITB Jatinangor menggunakan Rancangan Acak Lengkap satu faktor dengan empat taraf perlakuan, yaitu P0 (kontrol), P1 (1:10), P2 (1:20), dan P3 (1:30), masing-masing lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan vegetatif, kadar klorofil (SPAD), kadar karotenoid, biomassa basah dan kering (total, tajuk, dan akar), serta rasio tajuk akar. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa aplikasi ekstrak daun kelor tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif, indeks luas daun, kadar klorofil, dan rasio tajuk akar, namun berpengaruh nyata terhadap kadar karotenoid dan biomassa tanaman. Uji lanjut DMRT menunjukkan bahwa perlakuan P1 (1:10) menghasilkan kadar karotenoid tertinggi sebesar 0,146 mg g?¹ dan berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya. Pada parameter biomassa, perlakuan P1 menghasilkan bobot basah total, tajuk, dan akar masing-masing sebesar 111,82 g, 71,83 g, dan 39,99 g, serta bobot kering total, tajuk, dan akar sebesar 11,60 g, 6,35 g, dan 5,24 g, yang menunjukkan akumulasi biomassa tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya, dengan perbedaan nyata terutama pada biomassa total berdasarkan uji lanjut DMRT, sementara komponen tajuk dan akar menunjukkan pola respons yang serupa. Hasil ini menunjukkan bahwa respons utama tanaman terhadap aplikasi ekstrak daun kelor lebih tercermin pada peningkatan akumulasi biomassa dan kandungan karotenoid dibandingkan pada perubahan parameter pertumbuhan vegetatif yang diamati. Berdasarkan hasil penelitian, aplikasi ekstrak daun kelor secara foliar pada konsentrasi 1:10 (P1) merupakan perlakuan paling efektif dalam meningkatkan kandungan karotenoid dan biomassa tanaman kangkung, tanpa memberikan pengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan vegetatif pada kondisi penelitian ini.

2026
👤 Penulis: Hazmi Abdul Jalil
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

RENCANA IMPLEMENTASI KAWASAN EKO-INDUSTRI MINERAL STRATEGIS YANG DIDUKUNG KECERDASAN BUATAN DI BANGKA BELITUNG

Studi kasus akhir ini membahas Bangka Strategic Mineral Eco Estate (BSMEE) sebagai model implementasi hilirisasi mineral strategis di Bangka Belitung. Provinsi ini memiliki sejarah panjang dalam pertambangan timah serta potensi mineral ikutan, seperti logam tanah jarang, zirkon, kuarsa berkadar tinggi, dan ilmenit. Namun, ekosistem mineral yang ada masih terfragmentasi antara kegiatan pertambangan, pengolahan, logistik, perencanaan kawasan industri, tata kelola data, dan koordinasi kelembagaan. Akibatnya, nilai tambah mineral belum sepenuhnya tertangkap di tingkat daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif melalui telaah kebijakan, analisis data sekunder, kajian literatur eco-industrial park, serta masukan dari wawancara pemangku kepentingan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama bukan terletak pada ketiadaan sumber daya mineral atau kawasan industri, melainkan pada lemahnya keterhubungan antara pasokan bahan baku, kapasitas pengolahan, infrastruktur, sistem data, dan kewenangan kelembagaan. Karena itu, BSMEE tidak hanya diposisikan sebagai kawasan industri, tetapi sebagai ekosistem mineral yang terkoordinasi. Model yang diusulkan menggabungkan klaster industri, infrastruktur bersama, industrial symbiosis, sistem Big Data and AI, dan tata kelola bertahap. Implementasinya perlu dimulai dari penyelarasan kelembagaan, pemetaan bahan baku dan produk samping, standardisasi data, pengembangan dasbor digital awal, serta persiapan anchor tenant sebelum masuk ke investasi hilir berskala besar. Penelitian ini memberikan kerangka praktis untuk mendorong Bangka Belitung dari wilayah berbasis mineral hulu menuju ekosistem mineral strategis yang lebih terintegrasi, terlacak, dan bernilai tambah.

2026
👤 Penulis: Odi Ariyanto
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PENGEMBANGAN MODEL PERAMALAN REALISASI INVESTASI PROVINSI JAWA BARAT MENGGUNAKAN PENDEKATAN WEIGHTED HYBRID SARIMAX–GAM UNTUK MENDUKUNG PERENCANAAN DAERAH

Realisasi investasi merupakan penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi regional di Jawa Barat yang memiliki karakteristik data kompleks, pola musiman kuat, serta rentan terhadap guncangan ekonomi nonlinear. Ketidakpastian ini menyulitkan pemerintah daerah dalam menetapkan target realisasi yang akurat karena pendekatan tradisional sering kali gagal menangkap dinamika guncangan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kerangka kerja peramalan investasi melalui model weighted hybrid yang mengintegrasikan Seasonal Autoregressive Integrated Moving Average with Exogenous Factors (SARIMAX) dan Generalized Additive Models (GAM). Model ini menggabungkan SARIMAX yang menangkap struktur tren, musiman, dan variabel makroekonomi, dengan fleksibilitas GAM dalam mengakomodasi fluktuasi nonlinear kompleks. Variabel eksogen yang dilibatkan meliputi Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Kosntan (PDRB ADHK), Upah Minimum Provinsi (UMP), Nilai Tukar (Kurs) USD/IDR, dan Incremental Capital Value Added Ratio (ICVAR). Hasil penelitian menunjukkan model weighted hybrid SARIMAX-GAM secara signifikan mengungguli model tunggal dengan tingkat akurasi sangat tinggi, ditunjukkan oleh nilai Mean Square Error (MSE) sebesar 8,62 dan Mean Absolute Percentage Error (MAPE) sebesar 3,75% pada skenario 4-variabel. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur mengenai integrasi pemodelan deret waktu klasik dengan pembelajaran mesin yang dapat diinterpretasi (interpretable machine learning) untuk analisis ekonomi regional. Secara praktis, model ini dikembangkan untuk membantu pemerintah memitigasi risiko salah target melalui proyeksi investasi moderat sebagai landasan kebijakan proaktif dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa depan.

2026
👤 Penulis: Mustika Ladia Putri
🏷️ Model Peramalan Investasi 🏷️ Analisis Ekonomi Regional

ANALISIS DOSIMETRI TARGETED RADIONUCLIDE THERAPY (TRT) 177LU-DOTATATE PADA KASUS KANKER HATI BERBASIS SIMULASI MONTE CARLO

Targeted Radionuclide Therapy (TRT) menggunakan radiofarmaka 177LuDOTATATE telah menjadi modalitas yang sangat menjanjikan untuk pengobatan kanker yang mengekspresikan reseptor somatostatin tipe 2 (SSTR2), termasuk lesi kanker pada organ hati. Keberhasilan klinis dari terapi ini sangat bergantung pada akurasi dosimetri internal untuk memprediksi efektivitas terapi dan meminimalkan toksisitas pada jaringan sehat. Selama ini, pedoman dosimetri konvensional berbasis formalisme Medical Internal Radiation Dose (MIRD) sering kali mengandalkan asumsi distribusi aktivitas yang seragam (homogen) untuk menghasilkan estimasi dosis rata-rata pada level organ. Namun, transisi menuju era pengobatan presisi menuntut pemetaan dosimetri pada level voksel untuk menangkap variasi deposisi dosis lokal yang sesungguhnya. Simulasi Monte Carlo diakui sebagai standar emas untuk memenuhi kebutuhan tersebut karena kemampuannya dalam memodelkan interaksi fisika radiasi di dalam medium anatomi pasien yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan kerangka kerja dosimetri spesifik-pasien berdasarkan pedoman MIRD Pamphlet No. 23 menggunakan program Monte Carlo Geant4 Application for Tomographic Emission versi 10 (GATE 10). Secara spesifik, studi ini mengevaluasi disparitas dosimetri akibat penerapan asumsi pemodelan organ sumber berdistribusi aktivitas homogen berbanding heterogen. Selain itu, penelitian ini juga mengkuantifikasi dan membandingkan proporsi deposisi dosis internal lesi (Self-Dose) dengan paparan dosis lintas organ (Cross-Dose) terhadap dosis total yang diterima oleh lesi kanker hati. Penelitian dilakukan menggunakan simulasi Monte Carlo berbasis voksel pada GATE 10 dengan mengintegrasikan data klinis SPECT/CT. Alur kerja komputasi mencakup kuantifikasi citra SPECT/CT, penentuan faktor kinetika peluruhan melalui pemodelan Time Activity Curve (TAC), serta konstruksi geometri anatomi tiga dimensi berbasis data CT. Sebuah lesi kanker di organ hati ditetapkan sebagai target. Untuk menjamin presisi validasi statistik, ambang batas konvergensi ditetapkan dan dicapai pada 1,1 × 1010 partikel primer. Delapan skenario model dieksekusi guna mengevaluasi deposisi energi, yang meliputi kontribusi Self-Dose dari lesi kanker, serta paparan Cross-Dose dari organ limpa, ginjal kanan, dan ginjal kiri. Distribusi aktivitas pada masing-masing sumber dimodelkan secara homogen maupun heterogen. Luaran dosimetri dievaluasi secara kuantitatif dengan mengekstraksi nilai klinis dosis maksimum (????????????????????), minimum (????????????????), dan ratarata (D?), serta divalidasi secara kualitatif melalui analisis peta isodosis aksial dan differential Dose Volume Histogram (dDVH). Hasil simulasi menunjukkan bahwa kerangka kerja MIRD Pamphlet No. 23 berhasil diimplementasikan dengan perolehan tingkat ketidakpastian statistik yang acceptable (< 10%). Analisis terhadap lesi kanker menyingkap bahwa secara makroskopis, dosis rata-rata pada skema Self-Dose memiliki nilai yang berbeda antara asumsi homogen (68,61 Gy) dan heterogen (64,97 Gy). Menariknya, nilai luaran dari kedua model berbasis voksel ini teramati lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi dosis level organ konvensional menggunakan metode analitik MIRD (51,4 Gy). Lebih lanjut, tinjauan mikroskopis level voksel membongkar disparitas yang ekstrem. Pemodelan heterogen mengidentifikasi keberadaan hot spots dengan ???????????????????? mencapai 142,84 Gy, yang secara artifisial diredam menjadi hanya 82,56 Gy pada model homogen. Lebih lanjut, model heterogen mengekspos zona cold spots pada dosis terendah 1,87 × 10?7 Gy yang gagal dideteksi oleh asumsi homogen (7,38 × 10?5 Gy). Divergensi kurva dDVH dan visualisasi isodosis mengonfirmasi bahwa asumsi distribusi yang seragam secara fatal mendistorsi akurasi dosimetri spasial pada lesi kanker. Di sisi lain, evaluasi komprehensif menunjukkan bahwa deposisi energi total pada target didominasi secara mutlak oleh Self-Dose (> 99,99%). Kontribusi Cross-Dose termarginalisasi pada fraksi yang sangat rendah secara klinis (< 0,01%). Dominasi ini dikendalikan oleh jangkauan lintas pendek dari partikel ???? ? 177Lu (< 2 mm), yang mendeposisikan nyaris 100% energi kinetiknya di dalam organ sumber. Berlawanan dengan skema Self-Dose, nilai kuantitatif maupun spektrum dDVH pada skenario Cross-Dose terbukti selaras antara model homogen dan heterogen. Keselarasan ini merupakan manifestasi fisis dari efek spatial blurring, ketika partikel ? pelepas Cross-Dose mengalami atenuasi di dalam medium serta reduksi intensitas yang mematuhi inverse square law saat menempuh jarak spasial yang jauh dari organ eksternal. Sebagai kesimpulan, kajian dosimetri Monte Carlo level voksel ini menegaskan bahwa penerapan pemodelan distribusi aktivitas heterogen spesifik-pasien merupakan syarat mutlak untuk evaluasi Self-Dose pada lesi kanker. Hal ini esensial untuk menghindari underestimate tingkat toksisitas dan mencegah luputnya deteksi terhadap sel kanker penyintas yang dapat memicu kekambuhan kanker. Sebaliknya, dalam mengevaluasi kontribusi Cross-Dose dari organ berjarak jauh, metode homogen terbukti masih valid dan akurat akibat redaman spasial, sehingga pendekatan ini dapat diandalkan untuk menyederhanakan perhitungan dan meningkatkan efisiensi komputasi dosimetri klinis.

2026
👤 Penulis: Fajar Miraz Fauzi
🏷️ Dosimetri Spesifik-Pasien 🏷️ Kanker Hati 🏷️ Simulasi Monte Carlo
Halaman 70 dari 6754
💬