📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERANCANGAN STRUKTUR PEMECAH GELOMBANG PADA PENGEMBANGAN KOLAM D PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP
Pengembangan Kolam D Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap membutuhkan kondisi perairan yang terlindungi untuk mendukung aktivitas operasional pelabuhan. Pengaruh gelombang yang masuk ke area kolam dapat mengganggu keamanan kapal serta kegiatan tambat dan bongkar muat, sehingga diperlukan struktur pemecah gelombang sebagai bangunan pelindung. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrodinamika kawasan PPS Cilacap sebagai dasar dalam mengevaluasi efektivitas layout breakwater yang direncanakan oleh PT. Haskoning Indonesia dalam mereduksi pengaruh gelombang pada area Kolam D. Analisis distribusi gelombang dilakukan melalui pemodelan hidrodinamika menggunakan Delft3D pada kondisi eksisting dan setelah adanya penambahan struktur breakwater. Hasil pemodelan digunakan sebagai dasar perencanaan struktur pemecah gelombang tipe rubble mound serta analisis stabilitas daya dukung tanah terhadap struktur yang direncakan. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa tinggi gelombang maksimum pada kondisi eksisting sebesar 2.638 m dari arah timur. Setelah penambahan breakwater, tinggi gelombang pada area terlindungi berkurang menjadi 0.049–0.456 m. Struktur yang direncanakan memiliki panjang 1.450 m, elevasi puncak +5.5 m, lebar puncak 3.48 m, tinggi 11.5 m, dan kemiringan 1:2. Analisis stabilitas daya dukung tanah menghasilkan nilai faktor keamanan sebesar 4.65 sehingga struktur memenuhi kriteria keamanan perencanaan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa layout breakwater efektif dalam mereduksi gelombang dan memberikan perlindungan terhadap area Kolam D PPS Cilacap.
PEMANFAATAN MATERIAL BERBASIS LIMBAH KOPI SEBAGAI PRODUK AKUSTIK UNTUK MENDUKUNG LINGKUNGAN BELAJAR YANG INKLUSIF DI RUANG KELAS MONTESSORI
Sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, Indonesia menghasilkan volume kopi yang tinggi setiap tahunnya, yang turut meningkatkan jumlah limbah kopi. Pembuangan limbah kopi yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak lingkungan melalui emisi gas rumah kaca saat proses dekomposisi. Meskipun limbah kopi telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang, potensi karakteristik alaminya sebagai material akustik masih belum banyak dikembangkan. Penelitian ini mengkaji potensi material berbasis limbah kopi sebagai produk akustik serta penerapannya. Hasil studi menunjukkan koefisien absorpsi sebesar 0,21-0,76 pada frekuensi 630-2500 Hz, yang artinya material mampu menyerap suara sebanyak 21%-76% pada frekuensi sedang hingga tinggi. Selain itu, ditemukan bahwa konfigurasi bentuk permukaan tertentu dapat meningkatkan performa akustik, dengan peningkatan maksimum sebesar 0,27 dan rata-rata sebesar 0,05. Material ini diterapkan dalam desain produk akustik untuk ruang kelas Montessori yang merupakan lingkungan belajar inklusif bagi anak anak, termasuk anak dengan kebutuhan khusus (neurodivergent) yang memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap suara. Maka dari itu, kualitas akustik yang baik menjadi penting untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman. Pendidikan Montessori juga menekankan nilai kepedulian terhadap lingkungan sehingga pemanfaatan limbah kopi dalam ruang belajar akan mendorong penerapan praktik berkelanjutan serta meningkatkan kesadaran lingkungan anak-anak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai kontribusi pada pengembangan material akustik alami serta mendukung terciptanya ruang belajar yang lebih inklusif dan peduli terhadap lingkungan.
EVALUASI KEKUATAN STRUKTUR DAN DESAIN PERKUATAN FRP PADA PILAR SPUN PILE JEMBATAN SLAB ON PILE
Jembatan slab on pile yang didesain pada tahun 2011 menggunakan spun pile dengan rasio tulangan transversal (confinement) di bawah persyaratan minimum. Kondisi ini menyebabkan perilaku penampang spun pile menjadi getas pada kondisi ultimit. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons struktur jembatan terhadap kombinasi pembebanan dan pembebanan gempa berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, mengevaluasi kapasitas penampang dan daktilitas kurvatur spun pile eksisting, serta merancang perkuatan Fiber Reinforced Polymer (FRP) pada daerah confinement spun pile. Pemodelan struktur dilakukan menggunakan software SAP2000 dengan metode pembebanan gempa Respons Spppectrum Analysis (RSA), sedangkan analisis penampang dilakukan menggunakan software XTRACT untuk menghasilkan diagram interaksi aksial-momen (PMM) dan kurva momen-kurvatur (M-?). Desain perkuatan FRP mengacu pada ACI 440.2R-17 dan pemodelan tegangan-reganagn beton terkekang FRP menggunakan model Eid & Paultre (2008) yang mempertimbangkan kontribusi gabungan spiral eksisting dan FRP wrap. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur jembatan memenuhi persyaratan drift pada kondisi layan dan ekstrim. Penampang spun pile eksisting memiliki rasio confinement aktual sebesar 0.15%, berada di bawah persyaratan minimum 1.32% berdasarkan AASHTO LRFD Bridge Design 9th Edition. Hal ini menyebabkan penampang bersifat getas dengan daktilitas kurvatur 1.51-1.895. Desain perkuatan menggunakan CFRP Mapewrap C-1200 sebanyak 3 lapis menghasilkan total rasio confinement ekuivalen sebesar 1.63%, sehingga memenuhi persyaratan minimum. Setelah pemberian FRP, kapsitas aksial dan daktilitas kurvatur meningkat, mengubah perilaku penampang yang awalnya getas menjadi daktail.
ANALISIS NEUTRONIK DESAIN MOLTEN SALT REACTORFUJI DENGAN KOMBINASI ISOTOP U DAN PU SEBAGAI BAHAN FISIL AWAL
Molten salt reactor (MSR), termasuk dalam daftar reaktor generasi IV, menggunakan kombinasi bahan bakar dan pendingin yang terkandung dalam lelehan garam. Pada penelitian, studi neutronik dilakukan pada MSR tipe FUJI-12 dan FUJI-U3 yang dikembangkan oleh International Thorium Molten-Salt Forum (ITMSF) Jepang menggunakan modul PIJ dan CITATION dari SRAC2006.. Pendingin yang digunakan adalah FliBe atau LiF-BeF2 dan dicampur dengan berbagai kombinasi bahan bakar berbasis U dan Pu dalam kondisi terpisah maupun tergabung. Penelitian ini membahas tentang penentuan komposisi bahan bakar optimum yang mencapai kritikalitas sesuai dengan referensi pada desain FUJI-12 dan FUJI-U3. Selanjutnya dilakukan tiga skenario refuelling (pengembalian atomic number density isotop tertentu ke kondisi awal) setiap 40 hari sekali. Skenario refuelling yang digunakan adalah pengembalian bahan bakar (tanpa thorium), thorium, dan bahan bakar serta thorium. Proses refuelling disederhanakan dengan menggunakan bahasa pemrograman Bash berbasis Linux. Power Peaking Factor (PPF) merupakan parameter yang berhubungan dengan stabilitas, keamanan, dan efisiensi reaktor. PPF yang rendah menunjukkan reaktor memiliki distribusi rapat daya yang baik agar spek keselamatan reaktor dari segi pemerataan daya reaktor MSR meningkat. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah setiap varian bahan bakar memiliki skenario refuelling unggulan tersendiri yang dapat menjaga kondisi superkritis pada reaktor lebih lama, menjaga konsistensi PPF reaktor walaupun desain tidak mempertimbangkan pemerataan spektrum fluks neutron.
MODEL PENILAIAN FASILITAS PARIWISATA ALAM TERESTRIAL DALAM KERANGKA KERJA ARSITEKTUR BERKELANJUTAN. OBJEK STUDI : KAWASAN BANDUNG UTARA
Industri pariwisata Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat pada tahun 2022, ditandai dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. Perkembangan tersebut memberikan dampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat lokal, namun di sisi lain juga memunculkan berbagai tantangan seperti degradasi lingkungan, pencemaran, kemacetan, dan konflik sosial budaya. Oleh karena itu, pengembangan fasilitas pariwisata alam terestrial perlu dilaksanakan berdasarkan prinsip keberlanjutan. Sebagai aktivitas wisata yang memanfaatkan sumber daya alam daratan, pariwisata alam terestrial menuntut pengelolaan yang berorientasi pada pelestarian ekosistem, keberlanjutan lingkungan, serta peningkatan ketahanan kawasan terhadap gangguan dan bencana. Tanpa pengendalian dan regulasi yang memadai, aktivitas wisata dan pembangunan fasilitas pendukung berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan serta meningkatkan risiko kerusakan kawasan. Selain itu, kegiatan usaha pariwisata alam pada umumnya melibatkan konsumsi energi dan pemanfaatan sumber daya alam dalam jumlah besar sehingga memerlukan pendekatan pengelolaan yang lebih bertanggung jawab. Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah Indonesia dan pelaku industri pariwisata mengarahkan pembangunan pariwisata menuju konsep yang lebih berkelanjutan dan tangguh melalui penerapan prinsip arsitektur berkelanjutan termasuk resilient architecture. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan merumuskan model penilaian fasilitas pariwisata alam terestrial dalam kerangka arsitektur berkelanjutan. Tujuan utama tersebut dicapai melalui merumuskan model penilaian fasilitas pariwisata alam terestrial yang mengintegrasikan prinsip pariwisata berkelanjutan dan arsitektur berkelanjutan sehingga mampu merepresentasikan dimensi lingkungan, sosio-budaya, sosio-ekonomi, serta pengelolaan secara komprehensif, mendeskripsikan kesesuaian indikator kinerja dalam model penilaian fasilitas pariwisata alam terestrial dengan kondisi empiris fasilitas pariwisata alam terestrial pada studi kasus, mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan indikator kinerja dalam model penilaian fasilitas pariwisata alam terestrial, dan menentukan tingkat prioritas indikator kinerja dalam membangun model penilaian yang valid untuk mendukung perencanaan dan perancangan fasilitas pariwisata alam terestrial berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan pendekatan deskriptif-eksplanatori untuk merumuskan model penilaian fasilitas pariwisata alam terestrial dalam kerangka arsitektur berkelanjutan. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menghitung distribusi penerapan indikator kinerja berdasarkan data pengelola dan hasil observasi, menguji pengaruh indikator kinerja terhadap tingkat kepuasan pengunjung, serta menentukan prioritas indikator kinerja berdasarkan penilaian para ahli. Sementara itu, pendekatan kualitatif diterapkan melalui Directed Content Analysis dan Summative Content Analysis untuk mengidentifikasi tema, pola, dan keterkaitan yang bersumber dari teori dan penelitian terdahulu, sekaligus memperkaya model melalui integrasi parameter pendukung. Hasil penelitian ini menghasilkan suatu model penilaian fasilitas pariwisata alam terestrial berkelanjutan yang komprehensif, terdiri atas 75 indikator kinerja yang dikembangkan melalui sintesis standar internasional, standar nasional, dan berbagai penelitian terdahulu, serta diperkuat oleh parameter Green Building Council Indonesia (GBCI) untuk bangunan dan kawasan, serta prinsip-prinsip resilient architecture. Model yang dikembangkan tidak hanya mengakomodasi aspek keberlanjutan lingkungan, sosial, ekonomi, dan pengelolaan, tetapi juga memasukkan indikator yang mendukung ketahanan kawasan dan mitigasi bencana melalui penerapan prinsip resilient architecture. Penelitian ini juga mengembangkan metode analisis integratif yang mampu mengolah data nonlinier sehingga dapat mengidentifikasi kesenjangan antara perencanaan, implementasi, dan persepsi pengguna. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi teoritis, metodologis, dan praktis dalam pengembangan model penilaian fasilitas pariwisata alam terestrial yang berkelanjutan dan tangguh, serta dapat menjadi dasar bagi penyusunan strategi perencanaan, perancangan, dan pengelolaan destinasi wisata yang lebih bertanggung jawab, adaptif, dan berkelanjutan.
ABSTRAK ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF TEKNOLOGI PEMANFAATAN LUMPUR HASIL PENGOLAHAN IPAL DOSMESTIK DAN PENGERUKAN BADAN AIR DI PROVINSI DKI JAKARTA Oleh Dinna Rachmayanti NIM: 25724001 (Program Studi Magister Pengelolaan Infrastuktur Air Bersih dan Sanitasi) Peningkatan cakupan layanan sanitasi perkotaan dan intensitas kegiatan pengerukan badan air telah menyebabkan peningkatan volume lumpur yang memerlukan pengelolaan, sementara keterbatasan lahan pembuangan semakin membatasi kapasitas pengelolaan lumpur. Kondisi ini menuntut pengembangan strategi pengelolaan yang berorientasi pada pemulihan sumber daya dan ekonomi sirkular. Namun, pemilihan teknologi pemanfaatan lumpur masih menghadapi tantangan karena harus mempertimbangkan berbagai aspek teknis, lingkungan, ekonomi, dan keberlanjutan secara terpadu. Oleh karena itu, diperlukan suatu kerangka evaluasi yang mampu mendukung pengambilan keputusan secara objektif dan komprehensif. Penelitian ini mengembangkan suatu model evaluasi untuk menentukan alternatif teknologi pemanfaatan lumpur yang paling berkelanjutan dengan mengintegrasikan metode Vlsekriterijumska Optimizacija I Kompromisno Resenje (VIKOR) dan pembobotan entropi. Sistem evaluasi disusun berdasarkan 14 indikator yang dikelompokkan ke dalam 5 dimensi utama, yaitu karakteristik lumpur, dampak lingkungan, dampak ekonomi, perubahan entropi, dan tingkat pemanfaatan sumber daya. Model yang dikembangkan kemudian diterapkan pada studi kasus pengelolaan lumpur hasil pengolahan air limbah domestik dan pengerukan badan air di Provinsi DKI Jakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa teknologi komposting merupakan alternatif terbaik dengan nilai indeks VIKOR (Qj) sebesar 0,0000, diikuti oleh insinerasi (0,2864), anaerobic digestion (0,3222), black soldier fly larvae (BSFL) (0,3432), hydrothermal carbonization (HTC) (0,4644), dan landfill (1,0000), yang menunjukkan bahwa teknologi berbasis pemulihan sumber daya memiliki kinerja yang lebih unggul dibandingkan opsi pembuangan akhir. Temuan tersebut diperkuat oleh hasil validasi institusional yang mengindikasikan bahwa Provinsi DKI Jakarta memiliki tingkat kesiapan yang memadai untuk mengimplementasikan teknologi pemanfaatan lumpur melalui dukungan kelembagaan, infrastruktur dasar, dan komitmen terhadap pengelolaan lingkungan. Meskipun demikian, implementasi skala penuh masih memerlukan penguatan regulasi yang secara khusus mengatur pemanfaatan lumpur serta peningkatan investasi dan pendanaan jangka panjang. Secara keseluruhan, model evaluasi yang dikembangkan menyediakan kerangka pengambilan keputusan yang komprehensif dan dapat direplikasi untuk mendukung perumusan kebijakan pengelolaan lumpur yang berorientasi pada pemulihan sumber daya, keberlanjutan lingkungan, dan transisi menuju ekonomi sirkular.
GEOLOGI DAN PEMODELAN RESERVOIR STATIS 3D PADA FORMASI UPPER GABUS, LEMBU TREND COMPLEX, CEKUNGAN NATUNA BARAT
Kompleks Tren Lembu merupakan akumulasi gas-kondensat dan minyak bumi dengan struktur dan stratigrafi kompleks yang terletak di Cekungan Natuna Barat berumur Tersier, Indonesia. Secara administratif, Lapangan Lembu terletak pada Kepulauan Natuna, provinsi Kepulauan Riau, Indonesia dengan luas ±220 km². Lapangan ini dicirikan oleh heterogenitas reservoir yang tinggi dan kompartementalisasi struktural pada beberapa blok sesar. Penelitian ini berfokus pada Formasi Gabus Atas dengan tujuan untuk membangun model reservoir statis 3D yang valid dan mengestimasi nilai Gas Initially In Place (GIIP) secara akurat guna memitigasi ketidakpastian bawah permukaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa log tali kawat, seismik (3D), dan deskripsi keratan bor dan batuan inti. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data sumur termasuk korelasi stratigrafi sekuen dan analisis petrofisik; analisis data seismik; dan pemodelan reservoir yang meliputi analisis fasies dan lingkungan pengendapan, pembuatan model struktur tiga dimensi, pemodelan petrofisika, penentuan kontak hidrokarbon-air, dan perhitungan cadangan hidrokarbon. Hasil dari penerapan metode tersebut menghasilkan gambaran kondisi geologi dan jumlah cadangan hidrokarbon. Analisis struktural menunjukkan bahwa perangkap berupa antiklin berarah Barat-Timur yang dibatasi oleh sesar normal berarah NNW-SSE. Perhitungan volumetrik menghasilkan nilai probabilistik GIIP P50 sebesar 46 BCF untuk reservoir Lembu Peteng dan 29 BCF untuk reservoir Ibu Lembu. Penelitian ini juga memberikan data perhitungan volumetrik yang direkomendasikan sebagai sumur baru yaitu sebesar 21 BCF untuk reservoir Kakak Lembu, 27 BCF untuk reservoir Adik Lembu, dan 14 BCF Paman Lembu.
PENGEMBANGAN SISTEM DETEKSI DAN KLASIFIKASI KEGAGALAN AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN MEKANIK PADA MOTOR BRUSHLESS DIRECT CURRENT DENGAN FITUR CONTINUOUS TRAINING DAN CONTINUOUS DEPLOYMENT
Dalam satu dekade terakhir, penjualan mobil listrik telah meningkat secara signifikan. Dengan meningkatnya penjualan mobil listrik, pangsa pasar global motor brushless direct current (BLDC) juga terpengaruh secara langsung karena merupakan penggerak utama (prime mover) dari mobil listrik. Sebagai penggerak utama, perawatan motor BLDC menjadi penting karena kerusakan yang terjadi kepada motor akan berpengaruh langsung terhadap performa mobil listrik dan keselamatan penumpang. Karena itu, metode perawatan prediktif menjadi metode yang paling efektif dan efisien secara biaya dalam jangka panjang. Salah satu konsep dalam perawatan prediktif adalah prognostic health management (PHM), yang mempunyai 5 langkah utama yaitu: akuisisi data, pemrosesan sinyal, diagnosis, prognosis, dan pengambilan keputusan. Seiring dengan berkembangnya teknologi, diagnosis serta prognosis kegagalan pada mesin dipermudah dengan adanya kecerdasan buatan. Melalui proses deep learning, sebuah model kecerdasan buatan (AI model) mampu mempelajari pola dari suatu sistem yang kompleks dan non-linier. Namun, performa dan kapabilitas dari model untuk melakukan inferensi sangat bergantung kepada data masukan yang digunakan. Kondisi operasional dari motor BLDC yang sangat dinamis, mengakibatkan perubahan data melalui faktor yang bervariasi seperti noise, sensitivitas sensor yang menurun dan lainnya. Fenosmena tersebut disebut sebagai temporal data drift, yaitu pergeseran karakteristik data yang disebabkan oleh waktu. Temporal data drift menyebabkan penurunan performa model yang disebut sebagai temporal model degradation. Masalah ini mengarahkan tren riset ke suatu bidang baru bernama machine learning operations (MLOps), yaitu suatu praktik yang bertujuan untuk mengintegrasikan proses pengembangan dan perawatan model kecerdasan buatan menjadi satu proses yang kontinu, dengan menerapkan fitur continuous training, continuous delivery, dan continuous integration. Penelitian ini betujuan untuk mengembangkan sistem deteksi dan klasifikasi kegagalan ketidakseimbangan mekanik pada motor BLDC yang dilengkapi dengan fitur continuous training dan continuous delivery (CT/CD) dari MLOps. Untuk melatih model kecerdasan buatan yang mampu mendeteksi kegagalan yang terjadi pada motor, purwarupa motor yang dilengkapi dengan sensor dibangun. Hipotesisnya dengan diterapkannya MLOps, model kecerdasan buatan dapat beradaptasi terhadap data yang dinamis. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dalam aplikasi MLOps pada embedded system di bidang rekayasa dalam industri otomotif. Sebagai referensi, penelitian ini menggunakan model arsitektur MLOps bersifat open source yang dikembangkan oleh Yumo Luo di tahun 2023 dimana sistem MLOps digunakan untuk mempertahankan performa dari model kecerdasan buatan dalam lingkungan operasional yang dinamis. Karakteristik dari sistem MLOps open source yang bersifat modular dan fleksibel membuat sistem ini kompatibel untuk menunjang siklus hidup (life cycle) model pembelajaran mesin pada embedded system. Dengan diterapkannya MLOps pada kasus deteksi kegagalan juga memperluas cakupan penelitian yang dilakukan sebelumnya dengan menyediakan evaluasi dari kapabilitas sistem lewat studi kasus empiris. Tahapan penelitian mencakup dua tahap utama yaitu pengembangan model deteksi serta klasifikasi kegagalan dan pengembangan arsitektur MLOps. Pengembangan model deteksi dan klasifikasi diawali dengan membangun purwarupa yang merepresentasikan motor dalam keadaan ketidakseimbangan mekanik dengan menerapkan beban eksentrik pada cakram yang terpasang pada shaft yang terhubung ke rotor. Sejumlah eksperimen kemudian dilakukan untuk mengakuisisi sinyal getaran dari motor dalam keadaan fault. Eksperimen yang dilakukan mempunyai 3 variasi kecepatan, untuk merepresentasikan lingkungan operasional yang dinamis, dan 5 variasi beban. Total dataset yang diperoleh berjumlah 15 dataset dengan total poin data berjumlah 600.000. Data yang diperoleh melalui eksperimen kemudian dilatih menggunakan beberapa algoritma seperti convolutional neural network (CNN), long-short term memory (LSTM), dan long-short term memory – fully connected network (LSTM-FCN). Melalui pelatihan model ditemukan bahwa model yang dilatih dengan algoritma CNN mempunyai kompatibilitas yang paling tinggi untuk diterapkan pada sistem MLOps, dengan akurasi pelatihan dari CNN mencapai 99.46% dan waktu latih 14 detik. Melalui sistem MLOps, performa model saat melakukan inferensi dapat dimonitor. Penurunan performa model kemudian memicu suatu peringatan.
PERSEPSI SPASIAL DAN KLASIFIKASI PERILAKU IKAN BERBASIS COMPUTER VISION UNTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBERIAN PAKAN ADAPTIF PADA EDGE DEVICE
Pada pemeliharaan ikan budi daya yang ideal memerlukan pemantauan perilaku yang kontinu, namun pendekatan konvensional yang bersifat pemantauan manual serta sistem yang sudah ada sulit diterapkan pada skala rumahan maupun edge device. Tugas akhir ini mengembangkan subsistem Pemberian Pakan Adaptif yang mengintegrasikan persepsi spasial berbasis computer vision (mono-camera) dengan pengambilan keputusan pemberian pakan adaptif pada edge device. Deteksi dan pelacakan ikan dilakukan menggunakan YOLO dan ByteTrack, dikalibrasi dengan marker ArUco, serta digabungkan dengan depth estimation monokular berbasis transformer untuk memetakan posisi ikan ke dalam tensor okupansi volumetrik 3×3×2. Tiga indikator etologis, yaitu varians kinematik, Spatial Deviation Index berbasis Exponential Moving Average, dan mask temporal diurnal, kemudian diklasifikasikan melalui logic tree menjadi lima status (Acute Stress/????????, Lethargic/????????, Quiescent/Q, Feed Anticipatory/F, Normal Foraging/E) perilaku. Status perilaku ini menjadi dasar pengambilan keputusan pemberian pakan: sesi pakan di-trigger apabila mayoritas ikan menunjukkan perilaku mencari makan, dan dihentikan secara otomatis (fail-safe) saat ikan memberikan respons makan negatif. Sistem diuji pada Jetson Orin Nano dan mencapai akurasi persepsi planar 94,00% (F1 96,91%) serta volumetrik 82,16% (F1 90,21%), dengan skema inferensi multi-rate (10 Hz lateral, 1 Hz depth) yang menjaga suhu GPU stabil pada 56,7°C. Pada pengujian fungsi pemantauan dan pengendalian pakan semua spesifikasi tercapai. Alat ini dapat dikembangkan untuk smart aquaculture dan smart agriculture.
PEMODELAN KONSEP BANDGAP EKONOMI MENGGUNAKAN ALGORITMA CLUSTERING UNTUK EVALUASI EFEKTIVITAS KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP PEMERATAAN KESEJAHTERAAN EKONOMI DI WILAYAH INDONESIA
Ketimpangan ekonomi antarwilayah di Indonesia masih menjadi tantangan pembangunan, di mana kebijakan subsidi pemerintah yang bersifat seragam sering kali kurang efektif karena tidak mempertimbangkan kondisi spesifik tiap daerah. Penelitian ini mengembangkan konsep bandgap ekonomi, yaitu analogi dari teori bandgap material dalam fisika semikonduktor, untuk mengukur celah antara kondisi ekonomi aktual suatu wilayah dengan kondisi ideal yang ingin dicapai. Metode clustering K-Means++ digunakan untuk mengelompokkan 32 provinsi beserta kota/kabupaten di Indonesia (data tahun 2022) berdasarkan tujuh indikator kesejahteraan ekonomi, yaitu upah Minimum Provinsi, pengeluaran rumah tangga, tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, Gini Ratio, Indeks Pembangunan Manusia, dan Produk Domestik Regional Bruto. Hasil pemodelan menghasilkan dua kelompok wilayah, yaitu cluster dengan kebutuhan subsidi kecil dan cluster dengan kebutuhan subsidi besar, yang keabsahan pemisahannya dikonfirmasi melalui reduksi dimensi Principal Component Analysis (PCA). Pendekatan fungsi distribusi Fermi- Dirac kemudian diterapkan untuk mengubah tingkat kerentanan ekonomi wilayah menjadi indeks kebutuhan subsidi yang terukur, sehingga penentuan prioritas bantuan tidak lagi bersifat subjektif melainkan berbasis kuantifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi tidak selalu memiliki bandgap ekonomi kecil, karena kesejahteraan masyarakat turut dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, ketimpangan, dan tekanan biaya hidup. Model ini terbukti mampu mengidentifikasi wilayah prioritas subsidi secara objektif dan dapat menjadi dasar bagi perumusan kebijakan pemerataan ekonomi yang lebih tepat sasaran.
ALAT MEKANIS OTOMATIS UNTUK MENGATUR DAN MENGELUARKAN OBAT DALAM BERBAGAI UKURAN.
Ketidakpatuhan minum obat yang disebabkan oleh kompleksitas polifarmasi merupakan tantangan kritis dalam bidang kesehatan, khususnya bagi pasien lanjut usia yang membutuhkan dosis dan dimensi pil yang beragam. Sistem dispenser otomatis standar tidak memiliki adaptabilitas universal yang diperlukan untuk menangani beragam ukuran obat, sehingga menyebabkan kemacetan mekanis dan pengeluaran obat yang tidak konsisten. Makalah ini menyajikan perancangan dan validasi dispenser pil otomatis modular berpenggerak rantai yang direkayasa untuk mengakomodasi variasi geometri obat di dalam kemasan blister. Untuk memitigasi fluktuasi kecepatan kinematik dan getaran transversal yang disebabkan oleh efek poligon pada penggerak rantai, sebuah mekanisme penegang serpentine hasil cetak 3D yang dirancang khusus telah dimodelkan secara analitis dan diintegrasikan ke dalam sistem. Analisis videografi berkecepatan tinggi memvalidasi model kinematik teoretis, dengan menunjukkan variasi kecepatan operasional yang terstabilisasi sebesar 5,00%, yang mendekati prediksi teoretis. Pengujian keandalan tingkat sistem menggunakan konfigurasi pemuatan obat campuran secara acak pada 100 kali proses pengeluaran obat menghasilkan tingkat keberhasilan sebesar 99%. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa integrasi antara perhitungan celah rel pemandu (guide rail) dan gaya penegangan yang disesuaikan berhasil menekan aksi kordal (chordal action), sehingga menghasilkan solusi yang andal dan dapat diskalakan secara mekanis untuk regimen polifarmasi
MODEL TERINTEGRASI GOVERNMENT VALUE CAPTURE DALAM RANTAI NILAI NIKEL (STUDI EXPORT VALUE, SMELTER MARGIN, DAN PENERIMAAN NEGARA 2017–2024)
dan sejak pelarangan ekspor bijih 2014 dan 2019 menempuh hilirisasi secara agresif. Namun selama 2017–2024 muncul paradoks fiskal: nilai ekspor melonjak ~848% hingga Rp 1.260,58 triliun, tetapi rasio penerimaan negara terhadap nilai ekspor turun dari 27,21% (2018) ke 11,59% (2024) jauh di bawah tolok ukur global (World Bank 20–25%, Chile 40%, Norwegia 78%). Akar masalahnya diduga fragmentasi data dan lemahnya koordinasi antar-lembaga, bukan hilirisasi itu sendiri. Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi faktor integrasi data penyebab rendahnya penerimaan negara; (2) merancang Nickel Value Chain Integrated Monitoring System (NVIMS) untuk mendeteksi anomali dan ketidaksesuaian pencatatan; serta (3) membangun prototipe dan mensimulasikan kesenjangan penerimaan yang dapat ditangkap, dengan mengkaji lima determinan (Export Value, Smelter Margin, Production Volume, Downstream Level, dan repatriasi DHE). Metode memadukan data panel 112 perusahaan nikel 2017–2024 (896 firm year observations) dari enam institusi dan harga LME/SHFE serta tujuh wawancara, dengan rekonsiliasi silang, Fishbone, dan simulasi what-if. Hasil penelitian mengidentifikasi 94 anomali dan empat ketidaksesuaian sistemik lintas lembaga, volume produksi, ekspor (?Rp 28 triliun/tahun), nilai ekspor realisasi DHE (?USD 5,7 miliar/Rp 85,5 triliun), pendapatan SPT nilai ekspor (?Rp 86,8 triliun/tahun; effective tax rate perusahaan asing hanya 5,99% terhadap tarif 22%), serta royalti actual normatif (?Rp 36 triliun/tahun) total kebocoran ?Rp 198,2 triliun per tahun dari sepuluh perusahaan terbesar. NVIMS tujuh lapis (37 modul, 122 tools) dirinci lengkap pada Layer 1–3 yang memenuhi 21 dari 36 sel Zachman. Simulasi tiga skenario memproyeksikan penerimaan menjadi Rp 63,6/79,5/95,4 triliun (rasio 20/25/30%) dan akumulasi Rp 150–250 triliun dalam lima tahun (ROI >800×; Perpres No. 76/2025). Kontribusi penelitian: model holistik government value capture, dataset terkomprehensif (112 perusahaan, delapan tahun) pertama untuk industri nikel Indonesia, serta penggunaan ganda Zachman Framework menjembatani Enterprise Architecture dan Extractive Industry Fiscal Governance.
SYNESTHESIA OF DELIGHT: PERPUSTAKAAN UMUM BERBASIS EXPERIENTIAL DESIGN SCHEMAS SEBAGAI RUANG BELAJAR INFORMAL DI BANDUNG
Bandung merupakan Kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi yang didominasi oleh penduduk usia produktif. Berdasarkan data terbaru dari BPS (tahun 2024-2025), sekitar 65.62% atau sekitar 1.69 juta orang merupakan penduduk usia produktif di Bandung. Banyaknya jumlah penduduk ini perlu diwadahi dalam suatu ruang publik yang mendukung produktivitas dan tetap mementingkan kesejahteraan pengguna di dalamnya. Pertumbuhan minat baca penduduk indonesia juga ditandai dengan munculnya berbagai perpustakaan independen dan ruang baca swasta. Perkembangan minat baca dan produktivitas yang tidak diwadahi dalam ruang publik yang memadai ini kemudian memberikan celah bagi komersialisasi ruang publik dan pada akhirnya tidak inklusif. Dalam tugas akhir ini, solusi ruang yang diajukan adalah sebuah bangunan perpustakaan publik yang mampu mendefinisikan ulang konsep kaku perpustakaan konvensional atau pemahaman awam bahwa perpustakaan hanya sebagai gudang buku. Perpustakaan memiliki fungsi lain sebagai ruang rekreasi edukatif. Oleh karena itu, bangunan perpustakaan publik dalam tugas akhir ini juga difungsikan sebagai informal learning space. Dalam sintesisnya digunakan konsep experiential design schemas. Kerangka kerja ini menjadi alat untuk mengimplementasikan data spasial dan konsep yang ingin diterapkan ke dalam elemen arsitektural dengan melakukan gubahan dalam lima kelompok besar skema: kontras, gradient, flux, rhythm, dan sequence. Konsep-konsep dalam skema ini diterapkan untuk menghasilkan proses multisensori pada indra penerima dan menghasilkan pengalaman dalam penggunaan ruang. Perpustakaan publik dengan fungsi informal learning space ini mengorganisasikan elemen alami (angin dan cahaya matahari) dengankonsep dalam experiential design schemas sehingga bangunan dapat menjadi membran yang memfasilitasi interaksi antara pengguna dan elemen alami untuk meningkatkan kesejarhteraan pengguna. Bangunan ini terdiri dari 3 lantai utama dan rooftop. Lantai 1 merupakan area publik dengan cafe, lantai 2 berisi ruang baca dan ruang diskusi terbuka, serta lantai 3 berisi ruang baca dan lebih banyak ruang bersekat untuk privasi dan abience(ruang diskusi tertutup, pod individu, dan ruang multimedia). Ketiga lantai ini dihubungkan dengan satu elemen kunci dari konsep arsitektural yang digunakan, yaitu tangga multisensori. Kesimpulannya, bangunan perpustakaan publik dengan konsep eksperiensial desain skema ini mendemonstrasikan pendekatan konsep multisensori yang mampu meningkatkan kualitas belajar dan kesejahteraan pengguna di ruang publik yang dinamis.
STUDI VARIASI INTERVAL WAKTU PELACAKAN PADA SISTEM KOLEKTOR RADIASI SURYA GEOMETRI ATAP BERPELACAK DENGAN REFLEKTOR TEPI LUAR TERHADAP VARIABILITAS KATEGORI KURVA IRADIANS HARIAN BERBASIS CLEARNESS PEREZ DI BERBAGAI KOTA DI INDONESIA
Energi listrik menjadi salah satu sumber daya yang penting di seluruh dunia. Pemanfaatan energi harus sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan agar Bumi, manusia, dan seluruh penghuni Bumi lainnya tetap lestari. Pembangunan keberlanjutan sangat mendesak untuk dijadikan acuan dengan mempertimbangkan bahwa perubahan iklim dalam fase kritis dan ketimpangan sosial yang tak kunjung usai. Sumber energi dari matahari yang terbarukan melalui energi fotovoltaik berpotensi besar di Indonesia, mengingat bahwa durasi siang di keseluruhan wilayah indonesia dinilai relatif konsisten. Ketersediaan energi ini dapat dioptimalkan salah satunya melalui eksplorasi pada sistem kolektor radiasi surya bentuk atap berpelacak dengan tambahan reflektor diffuse lambertian di tepi luarnya. Data radiasi diperoleh dari National Solar Radiation Database (NSRDB) untuk rentang tahun 2016–2020, dengan mengambil sampel lokasi berupa area perkotaan di Indonesia pada berbagai wilayah dan jenis iklim. Pemilihan area perkotaan ini dimaksudkan untuk mendorong aksesibilitas masyarakat dalam mengadopsi PV. Dari data tersebut, setiap kota menunjukkan variabilitas kategori kurva iradians harian berbasis clearness Perez. Selanjutnya, evaluasi kinerja sistem penerima surya dilakukan melalui pendekatan simulasi untuk menghitung penerimaan radiasi terhadap berbagai tipe kurva distribusi tersebut pada variasi interval waktu pelacakan. Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan perspektif baru mengenai variabilitas pola iradians di area perkotaan, sekaligus memberikan penilaian performa sistem kolektor lanjut secara kontekstual tanpa menggeneralisasi kinerja sistem terhadap dinamika cuaca harian. Pada akhirnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem penerima surya terbukti dapat meningkatkan penerimaan radiasi matahari, meskipun hasil simulasi pada komparasi penyingkatan interval waktu pelacakan dari 120 menit ke 20 menit relatif hanya memberikan sedikit peningkatan.
STUDI PERBANDINGAN METODE INVERSI MAGNETOTELURIK 1D OCCAM DAN VERY FAST SIMULATED ANNEALING MENGGUNAKAN DATA SINTETIK DAN DATA LAPANGAN TANGKUBAN PARAHU
Metode magnetotelurik (MT) merupakan metode geofisika pasif yang digunakan untuk menginterpretasikan distribusi resistivitas bawah permukaan berdasarkan variasi alami medan elektromagnetik. Proses inversi data MT bersifat nonlinier dan memiliki solusi tidak tunggal, sehingga pemilihan algoritma inversi memengaruhi kualitas model resistivitas yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan membandingkan performa algoritma inversi Occam dan Very Fast Simulated Annealing (VFSA) pada inversi magnetotelurik satu dimensi (1D) menggunakan data sintetik dan data lapangan di daerah Tangkuban Parahu. Metode penelitian meliputi pemodelan ke depan MT 1D, implementasi algoritma Occam dan VFSA menggunakan MATLAB, serta evaluasi berdasarkan nilai Root Mean Square (RMS) error, waktu komputasi, jumlah iterasi, dan karakteristik model resistivitas hasil inversi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua algoritma berhasil merekonstruksi model resistivitas bawah permukaan. Pada data sintetik, VFSA memberikan performa lebih baik dengan RMS total mencapai 6,86 × 10??, sedangkan pada data lapangan Occam menghasilkan RMS total yang lebih rendah (3,0190–3,0790) serta model resistivitas yang lebih halus dan stabil. Sebaliknya, VFSA memiliki waktu komputasi yang lebih cepat dan mampu mempertahankan kontras resistivitas yang lebih tegas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Occam lebih sesuai untuk inversi data lapangan, sedangkan VFSA lebih efektif untuk data sintetik atau model dengan jumlah parameter yang relatif sedikit.