📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenSTUDI EKSPERIMENTAL PERILAKU MONOTONIK DAN SIKLIK TANAH LEMPUNG LAUT TERKONSOLIDASI LEBIH DENGAN LAMINASI UNTUK DESAIN FONDASI LEPAS PANTAI
Perkembangan infrastruktur lepas pantai di Indonesia yang terus meningkat menuntut keandalan desain fondasi, yang sangat bergantung pada pemahaman perilaku tanah dasar laut, khususnya tanah lempung laut terkonsolidasi lebih (Overconsolidated Marine Clay, OCMC) yang umum dijumpai pada lingkungan sedimen laut. Pada beberapa lokasi, endapan OCMC tidak tersusun homogen, melainkan mengandung struktur laminasi berupa sisipan lanau dan pasir dengan ketebalan dan kontinuitas yang bervariasi. Kehadiran laminasi ini berpotensi mengubah perilaku mekanis tanah, baik pada pembebanan monotonik maupun siklik. Sementara itu, sebagian besar basis data dan model perilaku tanah yang digunakan dalam desain fondasi lepas pantai justru dikembangkan dari tanah lempung homogen, sehingga pengaruh laminasi terhadap respons OCMC belum dipahami secara memadai. Penelitian ini bertujuan mengkaji perilaku monotonik dan siklik tanah OCMC berlaminasi dari Teluk Bintuni, Indonesia, sekaligus mengevaluasi kesesuaian pendekatan Cyclic Contour Diagram (CCD) yang umum digunakan dalam analisis fondasi lepas pantai. Kajian difokuskan pada pengaruh struktur laminasi dan tingkat overkonsolidasi terhadap perkembangan regangan, kuat geser niralir, respons tekanan air pori, dan ketahanan siklik tanah. Penelitian ini juga menilai apakah CCD yang dikembangkan dari basis data Drammen Clay mampu merepresentasikan perilaku siklik tanah OCMC berlaminasi di lokasi penelitian. Program penelitian mencakup karakterisasi tanah melalui pengujian sifat indeks, identifikasi mineralogi dengan X-Ray Diffraction (XRD), serta identifikasi struktur internal sampel menggunakan Computed Tomography (CT-scan). Kondisi konsolidasi dievaluasi melalui interpretasi nilai Overconsolidation Ratio (OCR) dari data CPTu dan diverifikasi dengan hasil uji konsolidasi laboratorium. Perilaku monotonik dikaji melalui pengujian Direct Simple Shear (DSS) dan triaksial pada beberapa tingkat OCR, sedangkan perilaku siklik ditelaah melalui pengujian siklik DSS dan triaksial dengan berbagai kombinasi tegangan geser rata-rata dan tegangan geser siklik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tanah yang diteliti merupakan endapan OCMC dengan nilai OCR umumnya lebih besar dari dua, dengan struktur laminasi berupa sisipan lanau dan pasir non-plastis di dalam matriks lempung plastisitas tinggi. Hasil CT-scan memperlihatkan laminasi berbentuk sejajar hingga bergelombang. Pada pembebanan monotonik, peningkatan OCR menghasilkan kekakuan awal dan kuat geser niralir yang lebih tinggi, disertai kecenderungan perilaku yang lebih dilatif. Kuat geser niralir hasil DSS secara umum lebih rendah daripada hasil triaksial; perbedaan ini mengindikasikan adanya pengaruh anisotropi serta orientasi bidang geser terhadap struktur laminasi tanah. Pada pembebanan siklik, peningkatan amplitudo tegangan geser siklik mempercepat akumulasi regangan geser dan menurunkan jumlah siklus menuju kegagalan. Meskipun demikian, tanah OCMC berlaminasi dari Teluk Bintuni menunjukkan ketahanan siklik yang lebih tinggi dibandingkan Drammen Clay: pada rasio tegangan geser rata-rata, rasio tegangan geser siklik, dan tingkat OCR yang setara, jumlah siklus menuju kegagalan secara konsisten lebih besar daripada prediksi basis datanya. Temuan ini menunjukkan bahwa batas kegagalan siklik tanah OCMC berlaminasi berada pada posisi yang berbeda dari CCD referensi, sehingga baik CCD berbasis Drammen Clay maupun faktor penskalaan sederhana belum memadai untuk merepresentasikan perilaku siklik tanah di lokasi penelitian. Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian eksperimental yang mengintegrasikan karakterisasi struktur laminasi, perilaku monotonik, dan perilaku siklik tanah OCMC berlaminasi dari Indonesia dalam satu kerangka evaluasi CCD. Penelitian ini memperlihatkan bahwa keberadaan laminasi memengaruhi respons mekanis tanah dan dapat menghasilkan perilaku siklik yang berbeda secara nyata dari tanah lempung homogen yang menjadi basis pengembangan CCD saat ini. Hasil penelitian memperdalam pemahaman perilaku tanah laut berlaminasi, memperkaya basis data perilaku siklik OCMC, serta memberikan justifikasi teknis bagi pengembangan CCD yang bersifat site-specific untuk meningkatkan keandalan desain fondasi lepas pantai pada kondisi tanah yang serupa.
KAJIAN STRATEGI TRANSPORT DEMAND MANAGEMENT BERDASARKAN AKSESIBILITAS DAN PREFERENSI PERJALANAN COMMUTER DALAM PENGGUNAAN BUS RAPID TRANSIT DI DAERAH KHUSUS JAKARTA
Daerah Khusus Jakarta menghadapi permasalahan transportasi perkotaan berupa tingginya penggunaan kendaraan pribadi, kemacetan lalu lintas, serta rendahnya proporsi perjalanan menggunakan angkutan umum. Meskipun Bus Rapid Transit (BRT) Transjakarta telah berkembang menjadi sistem angkutan umum berbasis jalan terbesar di Indonesia, efektivitasnya dalam mendorong peralihan moda masih dipengaruhi oleh tingkat aksesibilitas layanan dan preferensi perjalanan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi Transport Demand Management (TDM) berdasarkan aksesibilitas dan preferensi perjalanan commuter dalam penggunaan BRT di Daerah Khusus Jakarta. Secara khusus, penelitian ini menganalisis konektivitas jaringan jalan, aksesibilitas halte BRT dan feeder terhadap asal–tujuan perjalanan, preferensi perjalanan pengguna BRT, serta merumuskan strategi TDM yang dapat meningkatkan penggunaan angkutan umum berbasis jalan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan paradigma positivistik. Data diperoleh melalui survei terhadap 410 responden commuter di Daerah Khusus Jakarta. Analisis dilakukan menggunakan metode Space Syntax untuk mengidentifikasi tingkat konektivitas dan integrasi jaringan jalan, metode Isochrone dan Service Area untuk mengevaluasi aksesibilitas halte BRT dan feeder, serta Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi preferensi perjalanan. Selanjutnya, strategi TDM disusun menggunakan analisis SWOT yang didukung matriks IFAS, EFAS, dan TOWS. Hasil analisis Space Syntax menunjukkan bahwa sebagian besar koridor BRT Transjakarta berada pada ruas jalan dengan tingkat konektivitas dan integrasi yang tinggi, khususnya pada kawasan Jakarta Pusat, sehingga berperan penting dalam struktur jaringan transportasi perkotaan. Analisis aksesibilitas menunjukkan bahwa sebagian besar asal dan tujuan perjalanan masyarakat telah terjangkau oleh halte BRT melalui akses berjalan kaki maupun layanan feeder. Namun demikian, masih terdapat ketimpangan aksesibilitas pada beberapa wilayah pinggiran Jakarta yang memiliki jangkauan pelayanan lebih rendah dan tingkat ketergantungan yang lebihiv tinggi terhadap kendaraan pribadi. Hasil survei menunjukkan bahwa hanya 11,22% responden yang menggunakan feeder menuju halte, sedangkan 47,56% responden masih menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai halte BRT. Hasil SEM-PLS menunjukkan bahwa Facilitating Condition berpengaruh positif dan signifikan terhadap Attitude (? = 0,352; p = 0,001) serta berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Disruption Response Perception (? = -0,262; p = 0,013). Information Perception berpengaruh positif dan signifikan terhadap Attitude (? = 0,291; p = 0,001), Disruption Response Perception (? = 0,295; p = 0,003), dan Usage Behaviour (? = 0,246; p = 0,008). Selain itu, Performance Expectancy (? = -0,204; p = 0,006), Effort Expectancy (? = 0,173; p = 0,033), dan Perceived Value of Time (? = -0,151; p = 0,028) terbukti berpengaruh signifikan terhadap Anxiety pengguna. Nilai koefisien determinasi menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan variasi konstruk Usage Behaviour sebesar 59,7%, Attitude sebesar 54,5%, Anxiety sebesar 50,9%, Future Transit Use sebesar 49,6%, dan Disruption Response Perception sebesar 44,6%. Berdasarkan hasil analisis aksesibilitas dan preferensi perjalanan, strategi TDM yang direkomendasikan meliputi peningkatan konektivitas first-mile dan last-mile menuju halte BRT, penguatan integrasi layanan feeder, penyediaan informasi perjalanan secara real-time, peningkatan keandalan dan kenyamanan layanan, serta penerapan kebijakan pengendalian penggunaan kendaraan pribadi yang terintegrasi dengan pengembangan angkutan umum. Strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan penggunaan BRT Transjakarta, mendorong peralihan moda dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, serta mendukung terwujudnya sistem transportasi perkotaan yang berkelanjutan di Daerah Khusus Jakarta.
ANALISIS KETIDAKPASTIAN DAN SENSITIVITAS PADA PROBABILISTIC SEISMIC HAZARD ANALYSIS (PSHA) STUDI KASUS DI JAKARTA
Jakarta sebagai pusat aktivitas nasional dan kota megapolitan, terletak di dekat zona subduksi dimana Lempeng Indo-Australia menunjam di bawah Lempeng Eurasia, serta dipengaruhi oleh beberapa sesar aktif utama di sepanjang Pulau Jawa. Kondisi tektonik ini menyebabkan tingginya bahaya seismik di wilayah Jakarta. Meskipun studi analisis bahaya gempa telah banyak dilakukan untuk Jakarta, masih sedikit penelitian yang mengkuantifikasi besarnya pengaruh dari variasi parameter PSHA. Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi pengaruh dari tiga parameter terpilih, yaitu: magnitudo maksimum deep background, kedalaman megathrust, dan Ground Motion Prediction Equations (GMPE). Sensitivitas parameter dievaluasi dengan memvariasikan parameter secara sistematis. Berdasarkan tingginya pengaruh model atenuasi, studi ini mengevaluasi setiap GMPE secara terpisah untuk melihat pengaruh spesifik dari masing-masing persamaan terhadap wilayah Jakarta. Oleh karena itu, kuantifikasi ketidakpastian aleatori dilakukan secara khusus pada model GMPE dengan menggunakan nilai standar deviasi dan rata-rata (mean). Hasil analisis menunjukkan bahwa di antara parameter yang diteliti, pemilihan model GMPE memiliki tingkat sensitivitas tertinggi, diikuti oleh nilai magnitudo maksimum deep background dan kedalaman megathrust. Evaluasi individu pada masing-masing GMPE memperlihatkan variabilitas yang signifikan, menegaskan bahwa pemilihan model atenuasi merupakan salah satu faktor yang paling krusial dalam mengontrol estimasi bahaya seismik di Jakarta.
ANALISIS KETIDAKPASTIAN DAN SENSITIVITAS PADA PROBABILISTIC SEISMIC HAZARD ANALYSIS (PSHA) STUDI KASUS DI JAKARTA
Jakarta sebagai pusat aktivitas nasional dan kota megapolitan, terletak di dekat zona subduksi dimana Lempeng Indo-Australia menunjam di bawah Lempeng Eurasia, serta dipengaruhi oleh beberapa sesar aktif utama di sepanjang Pulau Jawa. Kondisi tektonik ini menyebabkan tingginya bahaya seismik di wilayah Jakarta. Meskipun studi analisis bahaya gempa telah banyak dilakukan untuk Jakarta, masih sedikit penelitian yang mengkuantifikasi besarnya pengaruh dari variasi parameter PSHA. Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi pengaruh dari tiga parameter terpilih, yaitu: magnitudo maksimum deep background, kedalaman megathrust, dan Ground Motion Prediction Equations (GMPE). Sensitivitas parameter dievaluasi dengan memvariasikan parameter secara sistematis. Berdasarkan tingginya pengaruh model atenuasi, studi ini mengevaluasi setiap GMPE secara terpisah untuk melihat pengaruh spesifik dari masing-masing persamaan terhadap wilayah Jakarta. Oleh karena itu, kuantifikasi ketidakpastian aleatori dilakukan secara khusus pada model GMPE dengan menggunakan nilai standar deviasi dan rata-rata (mean). Hasil analisis menunjukkan bahwa di antara parameter yang diteliti, pemilihan model GMPE memiliki tingkat sensitivitas tertinggi, diikuti oleh nilai magnitudo maksimum deep background dan kedalaman megathrust. Evaluasi individu pada masing-masing GMPE memperlihatkan variabilitas yang signifikan, menegaskan bahwa pemilihan model atenuasi merupakan salah satu faktor yang paling krusial dalam mengontrol estimasi bahaya seismik di Jakarta.
HEALING RESORT DI DAERAH PENYANGGA PERKOTAAN UNTUK PENDERITA GANGGUAN DEPRESI RINGAN
Kesehatan mental merupakan isu yang semakin relevan dalam kehidupan masyarakat urban, seiring meningkatnya tekanan hidup, tuntutan pekerjaan, dan minimnya ruang pemulihan psikologis yang bersifat non-medis. Depresi ringan hingga sedang menjadi salah satu kondisi gangguan mental yang paling banyak dialami oleh masyarakat usia produktif, namun sering kali tidak tertangani secara optimal akibat keterbatasan fasilitas pemulihan yang aman, nyaman, dan bebas stigma. Oleh karena itu, diperlukan alternatif ruang pemulihan yang mampu mendukung kesejahteraan mental melalui pendekatan desain interior yang berorientasi pada pengalaman pengguna. Tugas Akhir ini bertujuan untuk merancang interior healing resort bagi penderita depresi ringan hingga sedang yang berlokasi di kawasan penyangga perkotaan. Healing resort dirancang sebagai fasilitas pemulihan non-klinis yang bersifat holistik, menenangkan, dan tidak menimbulkan kesan institusional. Metode perancangan yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan research by design, yang dilakukan melalui studi literatur, studi preseden, serta analisis kebutuhan pengguna dan konteks lokasi. Hasil analisis kemudian disintesis menjadi konsep desain interior yang menekankan integrasi ruang dalam dan luar, penggunaan material alami, pencahayaan alami, serta pengolahan suasana ruang yang mendukung proses pemulihan emosional. Perancangan ini diharapkan dapat menjadi alternatif fasilitas pemulihan kesehatan mental yang humanis dan kontekstual, sekaligus menunjukkan peran desain interior dalam mendukung kesejahteraan psikologis masyarakat urban melalui pendekatan biophilic.
ANALISIS PERKUATAN MINIPILE SEBAGAI RIGID INCLUSION UNTUK TIMBUNAN AREA HOPPER DI ATAS TANAH LUNAK PADA PROYEK PERTAMBANGAN BATUBARA DI KALIMANTAN
Area Hopper pada proyek pertambangan batubara berfungsi sebagai titik transfer material batubara menuju struktur hopper, yang mensyaratkan jalan akses dengan elevasi lebih tinggi agar muatan dapat dituang secara gravitasi. Konstruksi timbunan tersebut perlu dibangun di atas lapisan tanah lunak setebal 5 meter yang berpotensi mengalami masalah stabilitas dan penurunan berlebih. Penelitian ini menganalisis sistem perkuatan berupa minipile sebagai rigid inclusion yang dikombinasikan dengan LTP dan MSE Wall untuk mengatasi permasalahan tersebut. Analisis dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu perhitungan analitik menggunakan metode Adapted Terzaghi dan Hewlett & Randolph, serta pemodelan numerik menggunakan PLAXIS 2D dengan model konstitutif Hardening Soil dan Soft Soil, yang dikalibrasi melalui pendekatan aksisimetri sebelum diterapkan pada model plane strain aktual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkuatan minipile–LTP meningkatkan faktor keamanan stabilitas global timbunan dari kondisi tidak aman (SF<1) menjadi SF=1,201 pada fase operasional dan SF=1,843 pasca konsolidasi jangka panjang, disertai reduksi penurunan diferensial secara signifikan dibandingkan zona tanpa perkuatan. Fenomena soil arching effect pada LTP berhasil dibuktikan melalui nilai SRR yang berada di bawah 1 pada ketiga pendekatan (PLAXIS2D dan Hewlett & Randolph = 0,20; Adapted Terzaghi = 0,17), didukung visualisasi trajektori tegangan utama yang melengkung menuju kepala tiang. Distribusi gaya aksial pada minipile juga mengonfirmasi mekanisme transfer beban tersebut, ditandai oleh peralihan negative skin friction menjadi positive skin friction pada neutral point yang letaknya bervariasi mengikuti kekakuan lapisan tanah di sekitar tiang. Penelitian ini juga membuktikan bahwa peningkatan ?' LTP dan pengurangan spasi minipile akan menurunkan tegangan yang dialami tanah di antara tiang, serta membuktikan bahwa keberadaan lapisan stiff clay alami di atas soft clay dapat mereduksi kebutuhan tebal & ?' LTP yang disyaratkan. Selain itu, penggunaan geotekstil spesifikasi standar dapat diterapkan tanpa perlu menggunakan spesifikasi tinggi.
SPEKTROSKOPI ABSORPSI TERSATURASI (SAS) MONOKROMATIK DAN BIKROMATIK PADA RB-87 UNTUK STABILISASI FREKUENSI LASER
Spektroskopi atom beresolusi tinggi merupakan komponen penting dalam pengembangan referensi frekuensi optik presisi dan jam atom. Dalam konteks ini, spektroskopi absorpsi jenuh (SAS), yang menyediakan resolusi sub-Doppler pada temperatur ruang, menawarkan pendekatan yang menarik untuk menghasilkan referensi optik yang stabil. Namun, SAS monokromatik konvensional (mSAS) memiliki keterbatasan dalam jumlah referensi frekuensi yang dapat diakses. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, spektroskopi absorpsi jenuh bikromatik (bSAS) telah diusulkan, yang memungkinkan munculnya tambahan Lamb dip tanpa menyebabkan pelebaran linewidth yang signifikan. Pada penelitian ini, model teoretis spektrum mSAS dan bSAS pada atom alkali dikembangkan menggunakan dua pendekatan komplementer, yaitu pendekatan analitik dan numerik. Selain itu, dikembangkan pula suatu kerangka teoretis untuk memprediksi kestabilan frekuensi pada stabilisasi frekuensi laser berbasis SAS melalui analisis deviasi Allan yang mempertimbangkan kontribusi derau photon shot noise, relative intensity noise (RIN), dan sumber-sumber derau lainnya. Kedua model spektroskopi berhasil mereproduksi Lamb dip sub-Doppler yang sesuai dengan hasil eksperimen. Model numerik memprediksi linewidth Lamb dip dengan lebih akurat dibandingkan model analitik, dengan galat relatif RMS sebesar 26,2% dibandingkan 59,0%. Model kestabilan frekuensi berhasil mereproduksi perilaku kualitatif yang diharapkan dari mekanisme-mekanisme derau dominan, tetapi masih mengestimasi batas white noise eksperimen satu hingga tiga orde magnitudo lebih rendah dan belum mampu mereproduksi perilaku flicker noise yang teramati. Hasil penelitian ini memberikan landasan teoretis untuk pemodelan spektrum SAS dan kestabilan frekuensi laser sekaligus mengidentifikasi arah pengembangan model lebih lanjut.
PERANCANGAN ULANG INTERIOR KAMAR ASRAMA WANITA BERBASIS STUDI EVALUASI PASCA HUNI (STUDI KASUS: ASRAMA SANGKURIANG)
Bagi mahasiswa perantau, hunian sementara tidak hanya berperan sebagai tempat tinggal, namun juga sebagai ruang untuk mendukung perkembangan karakter. Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai salah satu institusi pendidikan terbaik di Jawa Barat berupaya untuk menyediakan solusi permasalahan hunian mahasiswa melalui fasilitas asrama kampus. Pengelola berusaha untuk mengakomodasi aktivitas sehari-hari serta mendukung perkembangan karakter, tetapi tidak jarang fasilitas yang disediakan belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan penghuni, khususnya mahasiswa wanita. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan penelitian untuk memahami tingkat kepuasan serta preferensi interior penghuni wanita terhadap asrama yang ditempati. Penelitian ini dilakukan di Asrama Sangkuriang dengan tujuan untuk memahami tingkat kepuasan penghuni, dengan mahasiswa wanita sebagai subjek utama penelitian. Metode yang digunakan adalah metode campuran kualitatif-kuantitatif, melalui teknik kuesioner dengan skala 1-4 yang didukung oleh observasi langsung pada Asrama Sangkuriang serta wawancara dengan penghuni wanita dan pihak pengelola asrama. Temuan awal menunjukan bahwa Asrama Sangkuriang memiliki tingkat ketidakpuasan pada aspek ukuran ruang serta penyediaan tempat penyimpanan. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan usulan perancangan interior melalui pendekatan compact design dalam bentuk visual tiga dimensi. Desain-desain yang dihasilkan berupaya tidak hanya untuk mengoptimalisasikan fungsi kamar hunian, namun juga menghasilkan rancangan yang representatif, responsif, dan sesuai preferensi berbagai karakteristik serta kebutuhan wanita. Penelitian ini ditujukan untuk menghasilkan rancangan sebagai rekomendasi untuk perancang dan pengelola berdasarkan evaluasi pasca huni. Hal ini mendukung peningkatan performa bangunan secara berkelanjutan serta menciptakan ruang yang adaptif dengan wanita sebagai pengguna utama bangunan.
PERANCANGAN ULANG FUNGSI PLANNING & GOVERNANCE PADA DIREKTORAT PRODUCT & TECHNOLOGY PT ASTRA DIGITAL ARTA BERDASARKAN ANALISIS PROSES BISNIS
PT Astra Digital Arta membentuk fungsi Planning & Governance (PnG) untuk mendukung perencanaan dan tata kelola pada Direktorat Product & Technology. Dalam pelaksanaannya, fungsi PnG masih berfokus pada koordinasi, monitoring administratif, dan pelaporan sehingga keterlibatannya dalam perencanaan strategis, pengawalan pengembangan produk digital, serta System Development Life Cycle (SDLC) belum optimal. Kondisi tersebut menyebabkan ketidaksesuaian antara fungsi yang dirancang dan peran yang dijalankan. Penelitian ini bertujuan merancang ulang fungsi PnG agar selaras dengan kebutuhan organisasi dan arah pengembangan bisnis perusahaan. Penelitian dilakukan melalui pemetaan proses bisnis dan Responsibility Assignment Matrix (RAM) existing, analisis kesenjangan, serta perancangan proses bisnis, Responsibility Assignment Matrix (RAM), job description, dan job specification usulan menggunakan Star Model. Data dikumpulkan melalui wawancara dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi PnG mengalami penyempitan peran dan belum terlibat secara optimal dalam perencanaan strategis maupun pengawalan pengembangan produk digital. Perancangan menghasilkan tiga strategic priorities dan tiga organizational capabilities yang diterjemahkan ke dalam usulan proses bisnis yang mencakup checkpoint pada tahapan System Development Lifecycle (SDLC), Responsibility Assignment Matrix (RAM), job description, dan job specification. Hasil perancangan diharapkan meningkatkan kesesuaian fungsi Planning & Governance dengan kebutuhan organisasi melalui proses bisnis pada Direktorat Product & Technology.
PERANCANGAN WELLNESS CENTER LANSIA BERBASIS HIDROTERAPI DI CIPANAS GARUT DENGAN PENDEKATAN WELL-BEING
Mengingat populasi lansia di Indonesia saat ini, khususnya di Jawa barat, menunjukkan peningkatan yang pesat, inovasi fasilitas bagi lansia yang berfokus pada kualitas hidup dan kemandirian, bukan hanya sekadar perawatan, sangatlah dibutuhkan. Namun sayangnya, fasilitas dalam pemenuhan kebutuhan lansia yang bersifat preventif maupun kuratif dalam penuaan sekunder, mendukung aspek sosial, serta ramah terhadap ergonomi lansia belum menjadi perhatian penting di Indonesia. Hal ini memungkinkan lansia berisiko mengalami isolasi sosial sehingga pemenuhan kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Salah satu langkah untuk melakukan pencegahan degenerasi tersebut adalah dengan melakukan terapi. Jenis terapi yang dianjurkan untuk lansia yang memiliki keterbatasan motorik adalah hidroterapi atau terapi air. Sementara itu, Cipanas Garut memiliki sebuah potensi alam yaitu sumber air panas alami yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung kegiatan terapi air (hydrothermal). Tujuan utama perancangan ini adalah menghasilkan desain interior wellness center berbasis hidroterapi sebagai fasilitas penampung kegiatan terapeutik dan hunian sementara lansia yang secara aktif mendukung karakter well-being di masa tua dan sebagai tindakan preventif dari penuaan sekunder. Metode perancangan yang digunakan adalah Design Thinking dengan pendekatan studi kualititaf-empiris yaitu penggunaan beberapa fasilitas hidroterapi di Garut sebagai studi kasus dan pembanding untuk menganalisis integrasi kegiatan hidroterapi, serta salah satu fasilitas serupa yaitu Rukun Place Bandung sebagai benchmark hunian sementara. Proses perancangan dimulai dengan studi literatur yang mendalam mengenai Universal Design dan Environmental Psychology bagi lansia. Proyek berlokasi di Cipanas kota Garut yang dikenal dengan potensi alam dan sumber air panas alami sebagai terapi kesehatan (wellness tourism). Peluang besar lainnya dari lokasi ini adalah belum adanya fasilitas yang serupa sehingga proyek ini dapat dikembangkan menjadi ide dan penelitian baru. Konsep desain yang diusung adalah Modern Tropis Heritage yang berlandaskan prinsip Kontrass Kognitif dan memanfaatkan keindahan alam Gunung Guntur. Konsep ini dipilih agar dapat menyelaraskan suasana dengan kondisi Cipanas yang alami sehingga terasa hangat dan terapeutik. Impelementasi desain akan difokuskan menjadi 3 elemen, yaitu unit terapi air panas (hidroterapi), dan unit hunian sementara, dan unit wellness pelengkap lainnya seperti unit workshop, spa, sauna, medical checkup, snoezelen room, perpustakaan, indoor garden, gym, yoga, dan salon. Unit terapi air panas yang merupakan poin utama dari perancangan ini, dirancang sebagai fasilitas yang meningkatkan kesehatan lansia. Sedangkan Unit hunian akan memaksimalkan ergonomis, keamanan, dan kemudahan sehingga kemandirian lansia meningkat. Terakhir, pelengkap kegiatan mencakup fasilitas yang mendorong karakter well-being dan relaksasi. Prinsip kontras kognitif yaitu penggunaan kontras luminan tinggi dan material alami akan digunakan untuk mendukung navigasi, stimulasi, dan kenyamanan lansia secara menyeluruh. Hasil rancangan ini diharapkan dapat menjadi solusi prototipe perancangan fasilotas lansia yang holistic di Jawa Barat.
EVALUASI FASILITAS TERMINAL PETI KEMAS MAKASSAR NEW PORT
Terminal Peti kemas Makassar New Port merupakan bagian dari rencana pengembangan Pelabuhan Makassar dengan tujuan mengakomodasi peningkatan arus pergerakan petikemas ke wilayah Indonesia Timur, mendukung perkembangan kawasan industri, serta mendukung kebijakan direct call ekspor produk-produk hasil pertanian dan perikanan dari Sulawesi Selatan ke Asia dan Eropa. Namun, realisasi arus peti kemas MNP cenderung fluktuatif dengan pandemi COVID-19 sebagai faktor utama penekannya, sehingga diperlukan evaluasi kecukupan fasilitas berdasarkan proyeksi yang diperbarui sesuai tren pertumbuhan aktual. Evaluasi dilakukan terhadap tiga komponen utama fasilitas terminal: (1) dermaga sebagai fasilitas sisi laut, (2) lapangan penumpukan, sistem penanganan peti kemas, dan tata letak lapangan sebagai fasilitas sisi darat, serta (3) jaringan jalan akses. Metode yang digunakan meliputi Berth Occupancy Ratio (BoR) untuk evaluasi dermaga, model antrian untuk evaluasi kinerja alat bongkar muat dan antrian kapal, Activity Relationship Chart (ARC) untuk evaluasi tata letak, serta MKJI 1997 untuk evaluasi kapasitas jalan akses. Hasil evaluasi menyatakan bahwa fasilitas berdasarkan rencana pengembangan dapat mengakomodasi proyeksi arus petikemas berdasarkan tren aktual hingga akhir periode tinjauan (2037) tanpa menimbulkan kongesti yang signifikan pada sistem operasional pelabuhan.
PERANCANGAN MUSEUM NALODO PALU DENGAN PENDEKATAN MULTISENSORY EXPERIENCE DESIGN
Kota Palu merupakan wilayah dengan tingkat risiko bencana geologi yang tinggi akibat kondisi geografisnya yang berada pada pertemuan lempeng tektonik aktif dan dilalui oleh Sesar Palu-Koro. Gempa bumi berkekuatan 7,4 SR yang terjadi pada 28 September 2018 diikuti oleh tsunami, likuefaksi, dan tanah longsor menimbulkan dampak fisik, sosial, dan psikologis yang mendalam bagi masyarakat Kota Palu dan sekitarnya. Dalam konteks sosio-kultural, masyarakat Kaili telah lama mengenal bencana geologi melalui istilah dan penamaan tempat (toponimi) yang diwariskan melalui budaya tutur. Salah satu istilah tersebut adalah Nalodo, yang dalam bahasa Kaili merujuk pada fenomena likuefaksi dan diangkat sebagai identitas Museum Nalodo Palu yang merepresentasikan kearifan lokal masyarakat Kaili. Namun, sebelum bencana 28 September 2018, pemahaman masyarakat mengenai fenomena likuefaksi masih terbatas dan belum didukung oleh edukasi kebencanaan yang dilakukan secara aktif dan menyeluruh. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya suatu fasilitas yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi kebencanaan, tetapi juga sebagai ruang memorial yang mampu merekam dan merefleksikan pengalaman kolektif masyarakat Kota Palu. Perancangan Museum Nalodo Palu bertujuan mewadahi fungsi edukasi kebencanaan di Kota Palu dan sekitarnya sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana serta menjadi ruang memorial untuk mengenang tragedi bencana 28 September 2018. Pendekatan Multisensory Experience Design diterapkan dengan mengutamakan pengalaman visual, auditori, dan taktil melalui pemanfaatan media interaktif, proyeksi digital, lanskap suara (soundscape), serta eksplorasi tekstur material untuk membangun interaksi dan ikatan emosional antara pengguna dan ruang. Perancangan museum ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran kebencanaan dan ruang refleksi yang memperkuat memori kolektif masyarakat Kota Palu serta berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana dan pembangunan kota yang tangguh dan berkelanjutan.
FORMULASI PRODUKSI BERAS ANALOG BERBASIS FERCAF MENGGUNAKAN EKSTRUDER SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN LOKAL
Ketergantungan impor beras mengancam ketahanan pangan Indonesia. Diversifikasi pangan melalui pemanfaatan surplus ubi kayu menjadi tepung FERCAF sebagai bahan baku beras analog merupakan solusi potensial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan formulasi beras analog berbasis FERCAF menggunakan ekstruder. Penelitian ini dilakukan dua tahap. Tahap pertama mengoptimasi komposisi tepung (FERCAF 100%, 85%, 70%), rasio maizena:kacang hijau (1:2), kadar air (16%, 18%, 20%), dan prekondisi (tanpa, 10 menit). Formulasi terbaik (70% FERCAF, 20% kacang hijau, 10% maizena, kadar air 20%, prekondisi 10 menit) dipilih berdasarkan karakteristik fisik dan uji hedonik. Tahap kedua menambahkan hidrokoloid CMC atau karagenan (3%, 4%) pada formulasi tersebut. Produk diuji dimensi, derajat pecah, warna, tekstur (TPA), daya rehidrasi, daya kembang, dan sensori oleh 50 panelis. Hasil menunjukkan penambahan CMC 3% menghasilkan beras analog terbaik: dimensi bulir seragam (0,22×0,78×0,25 cm), derajat pecah 16,55%, kapasitas rehidrasi 424,58%, daya kembang 156,69%, hardness 11.839,55 g, adhesiveness mendekati nol, dan nilai ?E terkecil (mentah 1,8; matang 2,8). Uji sensori mengonfirmasi penerimaan tertinggi dan 72% panelis memilihnya sebagai alternatif beras konvensional. Karagenan justru menghasilkan nasi terlalu kohesif dan gagal mempertahankan bulir. Kesimpulannya, formulasi optimum adalah 70% FERCAF, 20% tepung kacang hijau, 10% maizena, air 20%, prekondisi 10 menit, dan CMC 3%, menghasilkan beras analog dengan karakteristik mendekati beras komersial.
PERANCANGAN INTERIOR PUSAT INFORMASI GEOPARK CILETUH-PALABUHANRATU BERBASIS EDUKASI INTERAKTIF SEBAGAI STRATEGI KONSERVASI
Geopark Ciletuh-Pelabuhanratu merupakan kawasan geowisata berkelas internasional dengan nilai geologi, biologi, dan budaya yang tinggi. Status UNESCO Global Geopark (UGGp) yang disandang telah mendorong peningkatan signifikan pada pariwisata. Keistimewaan geologis yang memperlihatkan formasi batuan kuno di Jawa Barat serta fenomena amfiteater alam raksasa yang muncul akibat proses tektonik yang rumit membuat Geopark Ciletuh-Palabuhanratu menjadi destinasi yang berkembang pesat. Meskipun Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu telah menjadi destinasi unggulan, infrastruktur edukasi yang ada masih minim dan cenderung konvensional, sehingga tidak berhasil membangun pemahaman yang menyeluruh tentang konsep Geopark (konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan) di kalangan pengunjung dan stakeholder lokal. Penelitian ini bertujuan untuk merancang interior pusat informasi Geopark Ciletuh- Pelabuhanratu yang tidak hanya memberikan informasi tetapi juga menciptakan pengalaman dengan pendekatan edukasi yang interaktif sehingga dapat memperkuat hubungan pengunjung dengan konteks geologi dan budaya kawasan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, melibatkan studi literatur terkait UGGp dan penyampaian informasi yang interaktif. Dengan demikian, pusat informasi ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi tetapi juga sebagai wadah untuk meningkatkan kesadaran terkait konservasi. Perancangan ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan pengetahuan, kepuasan pengunjung dan memastikan perkembangan ekonomi lokal selaras dengan upaya perlindungan warisan alam Geopark Ciletuh-Palabuhanratu di masa mendatang.
USULAN KERANGKA KEPEMIMPINAN INOVASI UNTUK MENINGKATKAN PENCIPTAAN NILAI: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR PLASTIK DI INDONESIA
Inovasi telah menjadi kebutuhan penting bagi organisasi untuk mempertahankan daya saing dan mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan. Namun, banyak organisasi masih menghadapi tantangan dalam mentransformasikan inisiatif inovasi menjadi kapabilitas organisasi yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesiapan inovasi organisasi, mengidentifikasi kesenjangan kapabilitas, menganalisis akar penyebabnya, serta mengembangkan Proposed Innovation Leadership Framework. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif pada sebuah perusahaan manufaktur plastik di Indonesia melalui wawancara dengan para pemimpin kunci dan analisis dokumen organisasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa organisasi memiliki komitmen yang kuat terhadap inovasi dan telah mengimplementasikan berbagai inisiatif inovasi. Namun, masih terdapat tantangan dalam tata kelola, pembelajaran organisasi, keselarasan strategis, dan pengembangan kapabilitas yang membatasi kemampuan organisasi dalam membangun kapabilitas inovasi yang berkelanjutan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan suatu Innovation Leadership Framework untuk memperkuat kapabilitas inovasi, mendukung pengambilan keputusan strategis berbasis risiko, dan meningkatkan penciptaan nilai. Kerangka kerja ini menekankan keterlibatan kepemimpinan, tata kelola yang efektif, pembelajaran organisasi, serta pengembangan kapabilitas jangka panjang untuk menjadikan inovasi sebagai sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.