📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPERANCANGAN WELLNESS CENTER SEBAGAI PUSAT TERAPI DAN EDUKASI DENGAN PENDEKATAN MULTISENSORI UNTUK WANITA
Perancangan ini berangkat dari fenomena tingginya tingkat stres pada wanita urban di Indonesia yang dipengaruhi oleh tekanan beban ganda, tuntutan sosial, serta tantangan biologis yang seringkali kurang mendapat perhatian. Kondisi ini menunjukkan urgensi akan hadirnya fasilitas pemulihan non-medis yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat relaksasi, tetapi juga sebagai ruang terapi dan edukasi yang dirancang secara khusus untuk menjawab kebutuhan fisik, mental, dan emosional wanita secara berkelanjutan. Perancangan ini berfokus pada pengalaman pemulihan holistik melalui pendekatan multisensori, yaitu dengan mengoptimalkan stimulasi indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa sebagai media terapi. Pendekatan ini diterapkan melalui pengolahan elemen interior seperti warna, material, tekstur, pencahayaan, aroma, suara, serta pengalaman konsumsi herbal yang dirancang untuk mendukung relaksasi tubuh, edukasi, dan peningkatan kepercayaan diri.
PERANCANGAN DESAIN INTERIOR ASRAMA DI BOARDING SCHOOL SMA BERBASIS TEORI SELF-DETERMINATION
Boarding school merupakan lingkungan pendidikan yang mengintegrasikan kegiatan akademik, pembinaan karakter, dan kehidupan sehari-hari siswa dalam satu sistem selama 24 jam. Meskipun mampu mendukung pembentukan disiplin dan keterhubungan sosial, kehidupan berasrama juga berpotensi menimbulkan tekanan psikologis akibat keterbatasan ruang pribadi, rutinitas yang padat, serta minimnya fasilitas untuk regulasi emosi dan pengembangan diri. Berdasarkan observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner pada siswa SMA Dwiwarna Islamic Boarding School, ditemukan bahwa sebagian besar siswa telah merasa terpenuhi dari aspek fasilitas dasar dan penerimaan sosial, namun masih mengalami homesick, kejenuhan, kesulitan memperoleh privasi, serta merasa kurang bebas menjadi diri sendiri. Tujuan perancangan ini adalah merancang fasilitas interior asrama yang mampu mendukung kesejahteraan psikologis siswa melalui pemenuhan kebutuhan dasar menurut Self-Determination Theory, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Objek perancangan berlokasi di SMA Dwiwarna Islamic Boarding School, Parung, Bogor, dengan fokus pada pengembangan fasilitas non-akademik di lingkungan asrama tanpa menghilangkan nilai-nilai pendidikan Islam yang diterapkan sekolah. Metode perancangan menggunakan pendekatan mixed method melalui studi literatur, observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, serta penyebaran kuesioner kepada siswa dan alumni untuk mengidentifikasi kebutuhan pengguna, aktivitas, serta permasalahan ruang. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif sebagai dasar penyusunan program ruang, konsep desain, serta implementasi interior. Konsep perancangan mengintegrasikan Self-Determination Theory dengan prinsip desain Islami melalui lima kata kunci, yaitu Warmth, Authentic, Spirited, Neutral, dan Balance. Implementasi konsep diwujudkan melalui penggunaan material alami, warna netral yang hangat, pencahayaan yang mendukung suasana ruang, serta penyediaan ruang dengan tingkat privasi dan interaksi yang beragam. Hasil perancangan menghasilkan lima fasilitas utama, yaitu Communal Area sebagai pusat interaksi sosial, Silent Zone sebagai ruang belajar dan refleksi diri, Relaxing Zone sebagai ruang restoratif untuk regulasi emosi, Bedroom yang mendukung keseimbangan antara privasi dan kehidupan komunal, serta Free Space sebagai ruang multifungsi yang fleksibel untuk berbagai aktivitas siswa. Perancangan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan asrama yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional, tetapi juga mendukung kesejahteraan psikologis, meningkatkan motivasi intrinsik, mengurangi kejenuhan dan homesick, serta membantu siswa berkembang secara mandiri tanpa mengesampingkan identitas dan nilai-nilai Islam yang menjadi karakter SMA Dwiwarna Islamic Boarding School.
ANALISIS POTENSI PENERAPAN BUILDING INFORMATION MODELLING (BIM) UNTUK MENDUKUNG INSPEKSI PADA MANAJEMEN ASET GEDUNG: STUDI KASUS GEDUNG X
Manajemen aset gedung memerlukan proses inspeksi yang efektif untuk mendukung pemeliharaan sepanjang siklus hidup bangunan. Namun, pengelolaan aset di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan sehingga pemeliharaan cenderung bersifat reaktif. Di sisi lain, Building Information Modelling (BIM) memiliki potensi sebagai platform pengelolaan informasi aset, tetapi implementasinya masih berfokus pada tahap desain dan konstruksi. Sebagai langkah dalam mengembangkan pemanfaatan BIM pada tahap operasi dan pemeliharaan gedung, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi tahapan inspeksi yang berpotensi didukung oleh BIM serta mengidentifikasi manfaat dan tantangan penerapan BIM dalam mendukung proses inspeksi. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods melalui studi kasus dengan mengevaluasi kesiapan BIM untuk operasi dan pemeliharaan, serta menganalisis potensi penerapan BIM menggunakan metode Fuzzy Synthetic Evaluation dan Simple Additive Weighting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh tahapan inspeksi memiliki potensi tinggi untuk didukung oleh BIM, dengan tahap pengolahan data dan analisis sebagai tahapan yang paling berpotensi. Evaluasi kesiapan BIM menunjukkan Pemanfaatan informasi BIM hingga tahap operasi dan pemeliharaan perlu direncanakan sejak awal proyek melalui penyusunan BIM Execution Plan (BEP). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penerapan BIM memberikan berbagai manfaat dan tantangan pada aspek model, organisasi, informasi, standar, dan integrasi.
OPTIMASI POLA OPERASI WADUK KAREDOK SEBAGAI REGULATING DAM WADUK JATIGEDE UNTUK PLTA DAN IRIGASI DI KABUPATEN SUMEDANG
Waduk Karedok merupakan regulating dam bagi Waduk Jatigede yang berfungsi meredam fluktuasi debit keluaran PLTA Jatigede sekaligus memenuhi kebutuhan air irigasi Daerah Irigasi (DI) Rentang seluas ±90.000 ha dan air baku. Penelitian ini bertujuan mengoptimasi pola operasi Waduk Karedok melalui pendekatan berbasis skenario menggunakan perangkat lunak Water Evaluation and Planning (WEAP). Model disusun berdasarkan sistem aliran Waduk Jatigede–Waduk Karedok menggunakan data inflow hasil analisis hidrologi metode NRECA berdasarkan data curah hujan periode 2005–2024 yang telah dikalibrasi terhadap data observasi AWLR. Selanjutnya dilakukan analisis sensitivitas terhadap perubahan kapasitas tampungan melalui rekonstruksi kurva kapasitas menggunakan metode trapesium, serta simulasi lima skenario operasi berdasarkan variasi prioritas pemenuhan kebutuhan air dan kapasitas tampungan. Kinerja setiap skenario dievaluasi menggunakan indikator reliability, demand coverage, unmet demand, dan Hydropower Generation kemudian dipilih skenario terbaik sebagai dasar penyusunan kurva pola operasi waduk rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Skenario 1, yaitu prioritas irigasi dengan kapasitas tampungan eksisting, memberikan kinerja terbaik dengan nilai reliability sebesar 79,17% pada DI Rentang, 79,38% pada Irigasi Karedok, 95,83% pada PLTA Parakan Kondang, serta pemenuhan kebutuhan air baku sebesar 100%. Skenario tersebut menghasilkan estimasi pendapatan total sektor irigasi dan PLTA sebesar Rp 7.867.650.272.768,- per tahun dan menjadi dasar penyusunan kurva pola operasi waduk rekomendasi sebagai acuan pengoperasian Waduk Karedok yang lebih optimal.
ANALISIS MODEL PATERSON DALAM PREDIKSI INDEKS KEKASARAN PERMUKAAN JALAN BERDASARKAN DATA KONDISI LAPANGAN DI PROVINSI BANTEN
Indeks Kekasaran Permukaan Jalan (International Roughness Index, IRI) merupakan indikator utama kinerja fungsional perkerasan. Nilai IRI di masa mendatang umumnya diprediksi menggunakan Model Paterson yang dikembangkan dari basis data internasional, namun keandalannya pada kondisi lokal Indonesia yang beriklim tropis basah dengan curah hujan tinggi dan mengalami beban lalu lintas berat belum sepenuhnya teruji. Penelitian ini bertujuan menganalisis akurasi Model Paterson dalam memprediksi IRI, mengidentifikasi faktor penyebab deviasi prediksi, serta memodelkan hubungan antara IRI dan lendutan. Penelitian dilakukan pada ruas Jalan Nasional bertipe perkerasan lentur di Provinsi Banten menggunakan data IRI hasil pengukuran ROMDAS dan data lendutan Falling Weight Deflectometer, yang menghasilkan 385 segmen untuk periode satu tahun dan 146 segmen untuk periode dua tahun. Akurasi prediksi dievaluasi terhadap nilai IRI lapangan dan dilengkapi uji sensitivitas koefisien lingkungan, kalibrasi konstanta model, serta analisis regresi log-linear. Hasil penelitian menunjukkan Model Paterson hanya menangkap sekitar 52% variasi IRI pada periode satu tahun dan cenderung memberikan nilai lebih rendah daripada kondisi lapangan, dengan ketelitian yang menurun nyata pada periode dua tahun. Uji sensitivitas membuktikan deviasi prediksi bukan berasal dari koefisien lingkungan, melainkan dari karakteristik struktural perkerasan dan faktor lokal yang belum terakomodasi dalam model asli. Kalibrasi konstanta model dari 1,04 menjadi 1,1147 berhasil mengoreksi bias pada periode satu tahun, namun belum cukup meningkatkan akurasi pada periode 2 tahun. Hubungan antara IRI dan lendutan secara statistik terbukti sangat lemah. Sebagai alternatif, Model regresi lokal sederhana yang dikalibrasi langsung dengan data lapangan secara statistik lebih stabil dibandingkan Model Paterson. Kebaruan penelitian ini adalah pembuktian bahwa peningkatan akurasi prediksi IRI lebih efektif dicapai melalui kalibrasi lokal, dibandingkan penyesuaian koefisien, sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan manajemen perkerasan jalan di Indonesia.
ANALISIS KONDISI PERKERASAN JALAN TERDAMPAK BANJIR MENGGUNAKAN MODEL MARKOV CHAIN DAN SIMULASI MONTE CARLO (STUDI KASUS : JALAN NASIONAL PROVINSI BANTEN)
Model deteriorasi perkerasan berperan penting dalam sistem manajemen aset jalan karena digunakan untuk memperkirakan perubahan kondisi jalan dan menentukan kebutuhan penanganan di masa mendatang. Proses deteriorasi perkerasan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lalu lintas, kondisi lingkungan dan banjir, sehingga diperlukan pendekatan yang mampu mengakomodasi ketidakpastian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh banjir dan lalu lintas terhadap perubahan kondisi perkerasan jalan berdasarkan nilai International Roughness Index (IRI) dan Pavement Condition Index (PCI), serta memprediksi kondisi perkerasan di masa mendatang menggunakan pendekatan Markov Chain Monte Carlo (MCMC). Data yang digunakan meliputi nilai IRI dan PCI tahun 2020–2024, data lalu lintas, curah hujan, riwayat penanganan, dan kejadian banjir pada ruas jalan nasional di Provinsi Banten. Prediksi dilakukan menggunakan Matriks Probabilitas Transisi (MPT) yang dikombinasikan dengan simulasi Monte Carlo menggunakan beberapa distribusi probabilitas, yaitu uniform, beta simetris, beta right-skewed, dan beta left-skewed. Pemilihan distribusi terbaik dilakukan melalui validasi terhadap data historis menggunakan metode Mean Absolute Percentage Error (MAPE). Hasil proyeksi kemudian dibandingkan dengan model HDM-III Paterson dan IRMS V.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruas jalan yang terdampak banjir mengalami penurunan kondisi yang lebih cepat dibandingkan ruas yang tidak terdampak banjir. Selain mampu menggambarkan ketidakpastian kondisi perkerasan melalui distribusi probabilitas, model MCMC menghasilkan proyeksi penurunan kondisi yang lebih mendekati data observasi dibandingkan model HDM-III Paterson dan IRMS V.3.
ANALISIS KINERJA CAMPURAN AC-WC MODIFIKASI PG70 ELASTOMER DENGAN PENAMBAHAN ANTI-STRIPPING AGENT PADA KONDISI PENUAAN DAN KELEMBAPAN
Campuran AC-WC sebagai lapis aus pada perkerasan lentur menerima langsung beban lalu lintas dan paparan lingkungan, sehingga memerlukan ketahanan yang memadai terhadap kelembapan, deformasi permanen, dan kehilangan massa akibat pelepasan butir. Pada kondisi tropis, keberadaan air dapat melemahkan ikatan aspal-agregat, sedangkan penuaan dapat mengubah kekakuan binder dan respons campuran terhadap berbagai mekanisme kerusakan. Penggunaan aspal modifikasi PG70 elastomer dan anti-stripping agent (ASA) menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja campuran. Namun, efektivitas ASA perlu dievaluasi secara multiparameter karena setiap pengujian membaca mekanisme kerusakan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan menentukan kadar optimum ASA pada Kadar Aspal Optimum (KAO) berdasarkan Marshall Immersion serta mengevaluasi efektivitasnya terhadap kinerja campuran AC-WC modifikasi PG70 elastomer pada kondisi penuaan dan kelembapan. Penelitian dilakukan pada skala laboratorium menggunakan campuran AC-WC dengan aspal PG70 elastomer dan ASA cair Wetbond-SP. KAO ditentukan melalui pengujian Marshall dan analisis volumetrik, sedangkan kadar optimum ASA ditentukan melalui Marshall Immersion pada variasi 0,2%, 0,3%, 0,4%, dan 0,5% terhadap berat aspal. Kelayakan kadar ASA terpilih juga dievaluasi melalui pengujian kompatibilitas ASA dengan aspal PG70. Setelah KAO dan kadar ASA optimum diperoleh, campuran tanpa ASA dan campuran dengan ASA optimum diuji pada kondisi unaged, short-term aging, dan long-term aging. Evaluasi tingkat campuran dilakukan melalui Indirect Tensile Strength dan Tensile Strength Ratio (ITS/TSR), Hamburg Wheel Tracking Device (HWTD) pada wet conditioning 60°C hingga 10.000 passes, dan Cantabro Loss Test. Pengujian Dynamic Shear Rheometer (DSR) digunakan sebagai analisis pendukung pada tingkat binder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KAO campuran diperoleh sebesar 5,90%, sedangkan kadar optimum ASA ditetapkan sebesar 0,3% terhadap berat aspal berdasarkan Stabilitas Marshall Sisa tertinggi, yaitu 97,46%, dibandingkan campuran tanpa ASA sebesar 91,72%. Kelayakan kadar tersebut juga dievaluasi ii melalui hasil kompatibilitas yang menunjukkan bahwa sistem aspal PG70 dengan ASA 0,3% terhadap berat aspal masih stabil, homogen, dan memiliki kemampuan pelapisan awal yang memadai terhadap pengaruh air. Pada pengujian ITS/TSR, campuran dengan ASA menunjukkan nilai TSR lebih tinggi dibandingkan campuran tanpa ASA pada seluruh kondisi penuaan, yaitu 95,21% terhadap 93,05% pada unaged, 89,79% terhadap 88,94% pada short-term aging, dan 95,18% terhadap 92,75% pada long-term aging. Pada pengujian HWTD, penambahan ASA secara konsisten menurunkan rut depth akhir, yaitu dari 19,03 mm menjadi 14,93 mm pada unaged, dari 6,46 mm menjadi 5,81 mm pada short-term aging, dan dari 20,17 mm menjadi 15,12 mm pada long-term aging, dengan pengaruh paling menonjol pada long-term aging berupa penurunan rut depth akhir sekitar 25%. Interpretasi HWTD tetap dibaca melalui kombinasi rut depth akhir, SIP, dan bentuk kurva deformasi. Pada Cantabro Loss Test, campuran dengan ASA juga menunjukkan kehilangan massa lebih rendah pada seluruh kondisi penuaan, yaitu 0,79%, 3,24%, dan 2,55%, dibandingkan campuran tanpa ASA sebesar 1,68%, 3,45%, dan 3,10%. Secara keseluruhan, penambahan ASA Wetbond-SP 0,3% terhadap berat aspal menunjukkan kontribusi multiparameter terhadap kinerja campuran AC-WC modifikasi PG70 elastomer pada sistem material yang diteliti. Kontribusi tersebut terlihat dari peningkatan retensi kuat tarik, penurunan rut depth akhir, dan berkurangnya kehilangan massa dibandingkan campuran tanpa ASA. Dengan demikian, hasil penelitian ini diposisikan sebagai perbaikan relatif pada kondisi laboratorium yang sama dan masih memerlukan verifikasi apabila diterapkan pada material atau kondisi pelaksanaan yang berbeda.
KLASIFIKASI ALZHEIMER’S DISEASE DAN FRONTOTEMPORAL DEMENTIA MENGGUNAKAN MACHINE LEARNING BERBASIS FITUR TOPOLOGI VISIBILITY GRAPH PADA DATA EEG DENGAN STIMULASI FOTIK
Penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer's Disease (AD) dan Frontotemporal Dementia (FTD) memerlukan diagnosis dini non-invasif, namun banyak studi klasifikasi Electroencephalogram (EEG) melaporkan akurasi tinggi yang belum tentu valid akibat kebocoran data. Penelitian ini menganalisis fitur topologi Visibility Graph (VG) yang membedakan kelompok pada EEG stimulasi fotik, mengevaluasi kinerja model, serta mengukur pengaruh kebocoran data terhadap estimasi kinerja. Data sekunder berupa rekaman EEG dari 88 subjek (36 AD, 23 FTD, 29 kontrol sehat/CN) dengan stimulasi fotik pada 5, 10, 15, dan 20 Hz. Setelah pra-pemrosesan standar dan dekomposisi spektral, tiap epoch ditransformasikan menjadi VG; dari graf diekstraksi dua belas fitur topologi, diseleksi secara statistik (p<0,01), dan direduksi dengan Principal Component Analysis. Klasifikasi memakai Logistic Regression, Support Vector Machine, Linear Discriminant Analysis, dan Artificial Neural Network pada empat tugas (AD vs CN, FTD vs CN, AD vs FTD, dan tiga kelas). Evaluasi memakai Leave-One-Subject-Out (LOSO), dengan 8-fold cross-validation dan Repeated Random Sub-sampling 85/15 sebagai pembanding. Analisis stabilitas menunjukkan pola pita khas (theta pada AD vs CN, delta pada FTD vs CN), dengan fitur efisiensi, bilangan independensi, dan average clustering paling sering terpilih. AD vs CN paling dapat dibedakan (akurasi 64,29%; AUC 0,78), sedangkan FTD vs CN paling sulit (55,32%). Penempatan seleksi fitur di luar validasi meningkatkan akurasi rata-rata secara semu sekitar 42 poin. Fitur VG memiliki daya pisah moderat namun tidak terbias, menegaskan pentingnya validasi yang bersih dari kebocoran data.
PERANCANGAN “KULA” FAMILY WELLNESS CENTER DI BANDUNG DENGAN PENDEKATAN DESAIN BIOFILIK
Kesehatan menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Namun, berdasarkan survey Kementrian Kesehatan pada 2025, sebanyak 50,5 juta orang yang telah mengikuti Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan tingginya proporsi kurang aktivitas fisik pada orang dewasa, yakni 95,8 persen. Isu ini dapat mengakibatkan dampak negatif dalam jangka panjang, seperti obesitas, peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan tumbuh kembang anak, dan lain-lain. Sebagai solusi jangka panjang dari isu tersebut, diperlukan adanya perancangan fasilitas kesehatan untuk keluarga yang terintegrasi sebagai pendukung pola hidup sehat. Perancangan “Kula” Family Wellness Centre merupakan fasilitas yang mampu menjadi solusi dari isu tersebut melalui penyediaan berbagai fasilitas yang menunjang pola hidup sehat secara keseluruhan, dimulai dari kegiatan fisik hingga pemenuhan nutrisi. Dalam perancangan fasilitas ini, digunakan pendekatan desain biofilik yang mampu memberikan dampak positif terhadap kesehatan pengguna ruangnya sebagai. Berdasarkan pendekatan tersebut dihasilkan suatu rancangan ruang publik yang ditujukan untuk membantu masyarakat dalam memahami serta menerapkan pola hidup sehat yang berkelanjutan dalam lingkup keluarga.
REDEFINISI PERPUSTAKAAN UMUM SUKABUMI: PERANCANGAN RUANG LITERASI PUBLIK YANG INKLUSIF DENGAN PENDEKATAN BUDAYA SUNDA
Perpustakaan umum berperan penting dalam peningkatan literasi masyarakat, namun tingkat literasi Indonesia masih rendah dan menghadapi kesenjangan antarwilayah, termasuk di Jawa Barat. Kabupaten Sukabumi sebagai wilayah terluas di Jawa Barat memiliki skor Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat yang jauh tertinggal dari Kota Sukabumi. Kondisi ini diperparah oleh stigma perpustakaan sebagai ruang kaku dan minim keterlibatan masyarakat, serta budaya Sunda yang belum terintegrasi ke dalam struktur aktivitas maupun pengelolaan ruang. Perancangan ini bertujuan meredefinisi Perpustakaan Umum Sukabumi sebagai ruang literasi publik yang inklusif dan berakar pada budaya Sunda. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, observasi, wawancara, dan pemetaan kebutuhan pengguna, dengan pendekatan Community-Led Library serta Local Identity Approach yang menggali falsafah Sunda seperti Lemah Cai, Tritangtu, dan Leuit Si Jimat. Hasil identifikasi menunjukkan perpustakaan eksisting belum mewadahi aktivitas belajar, interaksi, dan kolaborasi secara optimal. Konsep desain dirumuskan melalui falsafah Sareundeuk Saigel, Sabobot Sapihanean, diterjemahkan ke dalam prinsip Engagement, Flexibility, Transparency, dan Informality. Program ruang disusun berdasarkan tahapan perkembangan literasi manusia, sementara zonasi mengadaptasi kosmologi Tritangtu dan pola Kampung Sunda melalui Leuit, Balé Baca, dan Saung Talu, didukung material alami yang merepresentasikan kedekatan dengan alam. Perancangan ini diharapkan memperkuat fungsi sosial perpustakaan dan memperluas keterlibatan masyarakat Sukabumi dalam literasi.
PERANCANGAN COFFEE CENTER SEBAGAI PUSAT PENGOLAHAN KOPI DAN WISATA EDUKASI
Kabupaten Bandung merupakan daerah dengan potensi pertanian dan wisata yang besar. Namun, petani kopi masih menghadapi permasalahan seperti rantai distribusi yang panjang, fasilitas pascapanen yang terbatas, serta minimnya akses pendidikan mengenai kopi. Semua permasalahan ini menyebabkan pendapatan petani yang rendah dan tidak maksimalnya potensi dari kopi daerah itu sendiri. Tujuan dari proyek ini yaitu untuk merancang Coffee Center sebagai pusat yang menyediakan fasilitas pasca panen bagi petani serta memberikan fasilitas edukasi bagi petani, pelaku kopi, hingga wisatawan yang datang. Hal ini dapat meningkatkan jumlah konsumsi dari kopi rakyat, memperbaiki harga tawar petani, serta meningkatkan potensi wisata daerah. Coffee Center tidak hanya dirancang sebagai tempat produksi kopi, tetapi juga berfungsi sebagai tempat untuk belajar serta wadah untuk interaksi antar petani dan pengunjung. Dengan konsep ruang yang informatif dan terbuka, fasilitas tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kualitas dan harga kopi, tetapi mempunyai fungsi lain sebagai media edukasi yang dapat memperkenalkan kopi daerah kepada wisatawan. Dengan melakukan survey lapangan, wawancara, dan literatur review, hal ini merupakan cara untuk menganalisis kondisi nyata sehingga dapat mengetahui berbagai jenis aktivitas, kebutuhan ruang, serta potensi dari pengembangan fasilitas. Perancangan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani kopi serta memperkuat citra kopi rakyat sebagai produk unggulan daerah.
TOWARD A SOVEREIGN NATIONAL DIGITAL MARKETPLACE IN INDONESIA: THE STRATEGIC ROLE OF NATIONAL BANK
Platform marketplace tertutup berkepemilikan asing kini menguasai lebih dari 95% transaksi e-commerce marketplace Indonesia. Struktur ini membawa konsekuensi fiskal yang berat: estimasi aliran keluar kekayaan bersih (net wealth outflow) tahunan sebesar Rp197–303 triliun sepanjang trajektori 2022–2025, hubungan platform asimetris yang mengunci usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan pengikisan bertahap peran bank nasional dalam aliran transaksi, hubungan merchant, dan pembiayaan UMKM. Efek gabungannya mengancam baik relevansi jangka panjang sektor bank nasional maupun tujuan kedaulatan digital (digital sovereignty) Indonesia secara lebih luas. Tiga pertanyaan muncul dari gambaran ini. Bagaimana struktur platform tertutup melemahkan posisi strategis bank nasional (lapisan diagnostik)? Model tata kelola mana yang paling sesuai untuk membangun marketplace digital nasional yang berdaulat (lapisan desain tata kelola)? Dan peran strategis apa yang harus dimainkan bank nasional dalam mengatasi disintermediasi platform, serta bagaimana peran tersebut harus dioperasionalisasikan (lapisan operasionalisasi strategis)? Penelitian ini merupakan studi kasus tunggal kualitatif-interpretif atas satu bank umum milik negara berskala besar — dianonimkan sebagai "Bank" — salah satu dari empat pilar Himpunan Bank-Bank Milik Negara (HIMBARA). Data primer berasal dari tiga wawancara semi-terstruktur dengan Senior Vice President dari Digital Banking, Business Transformation, dan Transaction Banking, dipilih melalui purposive elite sampling. Wawancara tersebut dilengkapi Focus Group Discussion (FGD) multi pemangku kepentingan yang diselenggarakan Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, lembaga pengelola investasi negara Indonesia) pada 15 Januari 2026, yang menghadirkan tiga kementerian sektoral, operator marketplace bisnis ke bisnis (B2B) milik negara, dan perwakilan industri domestik. Analisis mengikuti analisis konten tematik enam-fase Braun and Clarke, dengan triangulasi lintas-sumber atas tiga saluran data primer dan korpus sekunder regulasi Indonesia, publikasi regulator, serta literatur kebijakan komparatif. Jaminan mutu dipetakan terhadap empat uji studi kasus Yin. Tiga temuan dihasilkan. Pertama, tekanan terhadap Bank tampak secara empiris sebagai pola disintermediasi tiga lapisan: lapisan transaksional telah tererosi secara substansial, lapisan komersial dalam tekanan aktif melalui eksklusi data UMKM, dan lapisan kepercayaan masih awal namun paling signifikan secara strategis. Dua temuan pertama dilaporkan dengan kepercayaan tinggi di bawah triangulasi tiga-sumber; temuan lapisan kepercayaan dilaporkan sebagai temuan awal (preliminary). Kedua, Indonesia Open Network (ION) — arsitektur perdagangan berbasis protokol terbuka yang diadaptasi dari Open Network for Digital Commerce (ONDC) India dan dikelola oleh badan koordinator netral — merupakan model tata kelola yang paling sesuai. Baik jalur konsolidasi platform yang dikendalikan negara (metode Tiongkok) maupun jalur kompetitor tertutup independen (metode Amerika Serikat) secara empiris ditolak. Ketiga, peran strategis Bank di dalam ION adalah jangkar infrastruktur tiga lapisan: penyediaan settlement dan escrow, pembiayaan tertanam (embedded financing) berbasis data transaksi lintas-platform, serta layanan kepercayaan dan identitas (trust-and identity services) di lapisan infrastruktur. Partisipasi aktif teridentifikasi sebagai postur strategis yang dibenarkan secara substantif, menghasilkan rangkaian nilai komersial (value-loop) yang membentuk kasus ekonomi institusional Bank. Bagi Bank, tesis ini merekomendasikan partisipasi bertahap — settlement dan escrow terlebih dahulu, embedded financing diskalakan seiring akumulasi data merchant, layanan kepercayaan dan identitas dibangun sepanjang rangkaian. Bagi aktor kebijakan Indonesia, tesis merekomendasikan pembentukan badan koordinator netral-jaringan, penetapan penanggungjawab koordinasi lintas kementerian, dan mobilisasi Danantara sebagai saluran kapital di bawah Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2025. Kontribusi penelitian menyatukan literatur ekonomi platform, disintermediasi perbankan, dan Digital Public Infrastructure ke dalam satu kerangka analitis untuk ekonomi e-commerce berkembang, didukung argumen makroekonomi terkuantifikasi mengenai potensi recapture (pemulihan) nilai bagi marketplace berdaulat.
PERANCANGAN INTERIOR MUSEUM GASTRONOMI NUSANTARA BERBASIS INTERPRETASI KULINER MULTISENSORI
Indonesia memiliki kekayaan kuliner tradisi yang amat beragam, namun menghadapi ancaman akibat ketergantungan impor pangan serta pergeseran gaya hidup generasi muda yang cenderung mengonsumsi makanan modern maupun instan. Perubahan pola konsumsi ini berisiko mengikis keberagaman pangan lokal dan identitas budaya Nusantara. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sarana rekreasi edukatif yang mampu memperkenalkan serta melestarikan narasi gastronomi Indonesia secara interaktif dan relevan dengan generasi modern. Tujuan perancangan ini adalah mewujudkan museum gastronomi modern bernama Gastro Loka. Museum ini dirancang untuk merekonstruksi dan mempresentasikan identitas kuliner tradisi dari berbagai penjuru Nusantara melalui pendekatan spasial yang tidak sekadar visual, melainkan juga menyentuh aspek sensori manusia secara menyeluruh. Metode perancangan yang digunakan meliputi pengumpulan data melalui studi literatur, observasi, serta analisis kualitatif terhadap karakteristik kuliner lokal, perilaku pengunjung, dan standar museum interaktif. Pendekatan perancangan menerapkan interpretasi kuliner multisensori yang mengintegrasikan aspek pencahayaan, materialitas, akustik, tekstur, dan pengalaman olfaktori ke dalam ruang interior. Konsep desain museum mengusung tema "Kelana Rasa Nusantara", yang mengarahkan alur eksplorasi pengunjung melalui rangkaian program spasial yang saling terintegrasi. Implementasi desain diwujudkan melalui pembagian zona utama, meliputi galeri pameran interaktif untuk narasi sejarah dan tradisi pangan, area workshop untuk edukasi pembuatan hidangan secara langsung, hingga restoran gastronomy fine dining yang menyajikan reinterpretasi kuliner Nusantara. Seluruh elemen interior dan tata pamer dirancang terpadu guna menstimulasi emosi dasar pengunjung serta membangun kembali kebanggaan terhadap kekayaan pangan lokal.
PERANCANGAN INTERIOR MUSEUM GASTRONOMI NUSANTARA BERBASIS INTERPRETASI KULINER MULTISENSORI
Indonesia memiliki kekayaan kuliner tradisi yang amat beragam, namun menghadapi ancaman akibat ketergantungan impor pangan serta pergeseran gaya hidup generasi muda yang cenderung mengonsumsi makanan modern maupun instan. Perubahan pola konsumsi ini berisiko mengikis keberagaman pangan lokal dan identitas budaya Nusantara. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sarana rekreasi edukatif yang mampu memperkenalkan serta melestarikan narasi gastronomi Indonesia secara interaktif dan relevan dengan generasi modern. Tujuan perancangan ini adalah mewujudkan museum gastronomi modern bernama Gastro Loka. Museum ini dirancang untuk merekonstruksi dan mempresentasikan identitas kuliner tradisi dari berbagai penjuru Nusantara melalui pendekatan spasial yang tidak sekadar visual, melainkan juga menyentuh aspek sensori manusia secara menyeluruh. Metode perancangan yang digunakan meliputi pengumpulan data melalui studi literatur, observasi, serta analisis kualitatif terhadap karakteristik kuliner lokal, perilaku pengunjung, dan standar museum interaktif. Pendekatan perancangan menerapkan interpretasi kuliner multisensori yang mengintegrasikan aspek pencahayaan, materialitas, akustik, tekstur, dan pengalaman olfaktori ke dalam ruang interior. Konsep desain museum mengusung tema "Kelana Rasa Nusantara", yang mengarahkan alur eksplorasi pengunjung melalui rangkaian program spasial yang saling terintegrasi. Implementasi desain diwujudkan melalui pembagian zona utama, meliputi galeri pameran interaktif untuk narasi sejarah dan tradisi pangan, area workshop untuk edukasi pembuatan hidangan secara langsung, hingga restoran gastronomy fine dining yang menyajikan reinterpretasi kuliner Nusantara. Seluruh elemen interior dan tata pamer dirancang terpadu guna menstimulasi emosi dasar pengunjung serta membangun kembali kebanggaan terhadap kekayaan pangan lokal.
DINAMIKA EVAPOTRANSPIRASI PADA TAHUN 2015 – 2025 DI PEGUNUNGAN MALABAR BERDASARKAN ALGORITMA SEBAL
Hutan tropis berperan vital dalam siklus hidrologi hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), namun konversi lahan dapat menurunkan kapasitas tata air tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika temporal Evapotranspirasi Aktual (ETa) dan Forest Canopy Density (FCD) pada tiga kelas tutupan lahan (hutan alam, agroforestri kopi, perkebunan monokultur) di Pegunungan Malabar, hulu DAS Citarum, periode 2015–2025; menganalisis kekuatan hubungan FCD–ETa pada berbagai skala temporal; serta mengkaji keterkaitan pola elevasi dan ketersediaan energi radiasi dengan ETa pada masing-masing kelas tutupan lahan. ETa diestimasi menggunakan algoritma SEBAL berbasis citra Landsat 8/9. Hasil menunjukkan hutan alam mendominasi kawasan pada 2025 (43%; FCD 82,79%), diikuti agroforestri (32,1%; FCD 65,88%) dan perkebunan (24,1%; FCD 50,22%). Two-Way ANOVA menunjukkan tutupan lahan [F(2,60)=57,803; p<0,001] dan musim [F(1,60)=21,509; p<0,001] berpengaruh signifikan tanpa interaksi bermakna [F(2,60)=0,911;p=0,408], dengan hierarki ETa Hutan Alam > Agroforestri > Perkebunan (Tukey HSD). Hutan alam relatif stabil dengan peningkatan pada 2023, mengindikasikan kondisi energy-limited; agroforestri menunjukkan tren pemulihan pasca-2018 hingga mencapai 75% kapasitas hutan alam; perkebunan paling rentan terhadap anomali curah hujan 2017–2019. FCD berkorelasi kuat dan konsisten terhadap ETa pada seluruh skala temporal (rtahunan = 0,945; rpenghujan = 0,903; rkemarau = 0,930). Hutan alam pada elevasi tertinggi menerima radiasi terendah namun ETa tertinggi (rasio ET/Radiasi 0,607, tertinggi dibanding agroforestri 0,453 dan perkebunan 0,357), mengindikasikan FCD berperan lebih besar dibandingkan radiasi dalam mempengaruhi ETa. Temuan ini menjadikan FCD indikator relevan untuk pengelolaan tata air hulu DAS Citarum.