📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenDEPOSISI SELEKTIF TRIMETILALUMINIUM (TMA) PADA PERMUKAAN LAPISAN TUNGGAL MOS2 DAN MOSE2
Atomic Layer Deposition (ALD) merupakan metode deposisi lapisan tipis yang memiliki kontrol ketebalan hingga skala atom. Selektivitas deposisi pada material dua dimensi seperti MoS? dan MoSe? dipengaruhi oleh mekanisme adsorpsi dan dekomposisi prekursor. Penelitian ini bertujuan menghitung adsorpsi selektif trimetilaluminium (TMA) pada monolayer MoS? dan MoSe?, membandingkan kebolehjadian dekomposisi TMA, serta menganalisis pengaruh cacat vakansi terhadap proses tersebut menggunakan metode Density Functional Theory (DFT). Optimasi struktur dilakukan menggunakan fungsional vdW-DF-ob86 dengan kpoint 16×16×1. Hasil menunjukkan bahwa konfigurasi adsorpsi paling stabil adalah orientasi Lay, dengan energi interaksi sebesar ?0,665 eV pada MoS? dan ?0,652 eV pada MoSe?. Keberadaan cacat vakansi menurunkan kekuatan adsorpsi awal menjadi ?0,495 eV pada MoS? dan ?0,491 eV pada MoSe?. Analisis diagram tingkat energi menunjukkan bahwa mekanisme dekomposisi kedua lebih menguntungkan secara termodinamika dibandingkan mekanisme pertama. Pada permukaan pristine, energi akhir MoS? lebih rendah dibandingkan MoSe?, sedangkan pada permukaan cacat energi akhir MoSe? menjadi lebih rendah daripada MoS?. Hasil ini menunjukkan bahwa cacat vakansi memodifikasi jalur reaksi dan meningkatkan stabilisasi produk akhir, khususnya pada MoSe?, sehingga berpotensi meningkatkan selektivitas deposisi TMA pada proses ALD.
EVALUASI SIMULASI MULTISKALA KEJADIAN WIND GUST DI BANDARA SOEKARNO-HATTA DENGAN MODEL WRF-ARW
Pada tanggal 22 September 2025 pukul 22.00 WIB, Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengalami cuaca ekstrem berupa angin kencang dengan kecepatan maksimum mencapai 49 knot (25,2 m/s) yang terindikasi sebagai kejadian wind gust. Fenomena ini bersifat lokal dan berlangsung singkat sehingga sulit direpresentasikan secara langsung oleh model cuaca numerik konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan simulasi multiskala WRF- ARW yang memanfaatkan Large-Eddy Simulation (WRF-LES) dalam merepresentasikan kejadian wind gust di wilayah Bandara Soekarno-Hatta, baik secara temporal maupun spasial. Simulasi dilakukan menggunakan data inisialisasi National Centers for Environmental Prediction Final (NCEP-FNL) dan data topografi Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS), dengan empat skema multiskala yang memiliki ukuran domain dan resolusi yang berbeda (A, B, C1, dan C2) yang mencakup resolusi dari skala meso hingga skala mikro (30 – 40 m). Keluaran model diverifikasi terhadap data observasi AWS, citra satelit Himawari-9, dan data radiosonde. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian wind gust terjadi sekitar pukul 15.00 UTC yang ditandai oleh lonjakan kecepatan angin maksimum hingga sekitar 14 m/s, penurunan temperatur mendadak dari 28 – 29°C menjadi 22°C, dan perubahan tekanan udara yang signifikan, yang mengindikasikan adanya outflow dari sistem konvektif aktif di wilayah Jawa bagian barat. Seluruh skema model memerlukan koreksi lag waktu antara 40 hingga 120 menit untuk mendekati pola observasi. Dari keempat skema LES yang diuji, Skema A domain 5 (resolusi 30 m) menunjukkan performa terbaik dalam merepresentasikan kecepatan angin yang mirip dengan observasi dengan korelasi tertinggi (r = 0,76), bias terendah (0,10), dan RMSE terendah (2,12 m/s). Hasil analisis spasial dan temporal menunjukkan bahwa hasil model cukup merepresentasikan kejadian wind gust, meskipun nilai kecepatan angin absolut pada seluruh skema masih belum sepenuhnya mendekati observasi.
PERANCANGAN SISTEM MANAJEMEN TALENTA MELALUI PERANCANGAN SISTEM ASESMEN KOMPETENSI DAN MANAJEMEN KINERJA UNTUK PENGEMBANGAN, KARIER, DAN SUKSESI PEGAWAI PKS PT TANI PRIMA MAKMUR
PT Tani Prima Makmur (PT TPM) merupakan perusahaan pengolahan kelapa sawit yang menghadapi tantangan dalam pengelolaan sumber daya manusia akibat belum terintegrasinya sistem asesmen kompetensi, manajemen kinerja, pemetaan talenta, serta karier dan suksesi pegawai. Kondisi ini menyebabkan hasil dari satu proses SDM belum dimanfaatkan secara optimal sebagai masukan bagi proses SDM lainnya, sehingga pengelolaan talenta di PT TPM belum berjalan secara sistematis dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem manajemen talenta yang terintegrasi bagi pegawai Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT TPM, melalui perancangan empat subsistem yang saling terhubung, yaitu sistem asesmen kompetensi, sistem manajemen kinerja, sistem pemetaan talenta, serta sistem karier dan suksesi. Perancangan dilakukan dengan pendekatan Body of Knowledge (BoK) Teknik Industri, mencakup Work Design and Measurement, Engineering Economic Analysis, Engineering Management, dan Systems Design and Engineering untuk mengintegrasikan seluruh subsistem. Sistem asesmen kompetensi dirancang berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan kamus kompetensi Spencer dan Spencer. Sistem manajemen kinerja dirancang menggunakan pendekatan HR Scorecard dengan cascading Key Performance Indicators (KPI) dari tingkat strategis hingga individu, dilengkapi metode pembobotan serta mekanisme penilaian kinerja berbasis skala nilai. Sistem pemetaan talenta dirancang menggunakan matriks 9-Box Grid berdasarkan dimensi kinerja dan potensi, sedangkan sistem karier dan suksesi dirancang melalui pemetaan jalur karier, matriks suksesi posisi kunci, dan Individual Development Plan (IDP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat subsistem yang dirancang telah sesuai dengan kebutuhan organisasi PT TPM serta selaras dengan landasan teori dan praktik terbaik industri. Integrasi antar subsistem memungkinkan hasil asesmen kompetensi menjadi masukan bagi penilaian kinerja, hasil kinerja dan potensi menjadi dasar pemetaan talenta, serta hasil pemetaan talenta menjadi dasar perencanaan suksesi dan pengembangan karier pegawai. Rancangan sistem manajemen talenta terintegrasi ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi PT TPM dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber daya manusia serta mendukung keberlanjutan kepemimpinan dan kompetensi organisasi di masa mendatang.
KEHENINGAN STRATEGIS: ANALISIS RESPON BOIKOT COCA-COLA DI INDONESIA
Pada Oktober 2023, konflik Israel-Palestina memicu kembali boikot terhadap perusahaan minuman multinasional (selanjutnya dikenali sebagai Perusahaan). Respons Perusahaan terhadap boikot tersebut masih terbatas, menunjukkan bahwa mereka mempertahankan netralitas dan status quo. Indonesia, pasar pro-Palestina dengan mayoritas Muslim, menderita dampaknya, terbukti dari penurunan penjualan yang berkelanjutan setidaknya selama tiga kuartal berturut-turut pada tahun 2024. Penelitian yang ada mengenai respons perusahaan terhadap boikot makro di Indonesia masih terbatas, dengan sebagian besar studi berfokus pada reaksi konsumen. Studi ini mengkaji bagaimana pelanggan memandang sikap diam strategis Perusahaan dan mengusulkan strategi yang lebih baik yang mungkin memberikan hasil yang lebih baik. Penelitian ini menggunakan desain metode campuran sekuensial eksploratif. Baik studi kuantitatif maupun kualitatif dirancang sesuai dengan respons strategis Al-Shebil (Asosiasi Merek-Negara dan Intensitas Boikot) yang dikombinasikan dengan tindakan taktis Grundmann dan Nilsson (Komunikasi, Pemasaran & Operasi, Manajemen Pemangku Kepentingan, dan Strategi Internal). Responden survei adalah distributor grosir Perusahaan untuk menangkap persepsi pelanggan. Fase kualitatif dilakukan melalui wawancara dengan manajer distributor grosir untuk menjelaskan temuan awal dari fase kuantitatif. Studi ini menemukan bahwa sikap diam strategis Perusahaan yang dianalisis melalui tindakan taktis Grundmann dan Nilsson tidak efektif dalam mengurangi dampak boikot. Temuan ini memberikan wawasan berharga bagi perusahaan multinasional yang menghadapi boikot sosial-politik serupa. Penelitian ini memberikan implementasi praktis bagi bisnis untuk mengembangkan respons boikot adaptif yang menanggapi tekanan pasar langsung dan keberlanjutan merek jangka panjang.
PENGEMBANGAN KONSEP DESAIN SEPATU TRAIL RUNNING UNTUK PELARI DENGAN RIWAYAT ANKLE SPRAIN/INSTABILITAS PERGELANGAN KAKI BERDASARKAN PENDEKATAN BIOMEKANIK
Trail running merupakan salah satu cabang olahraga lari yang dilakukan pada lintasan alam terbuka dengan karakteristik medan yang tidak rata, berbatu, berlumpur, serta memiliki variasi elevasi yang tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga ini mengalami pertumbuhan popularitas yang signifikan di Indonesia maupun dunia seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap aktivitas luar ruang. Namun, karakteristik medan yang dinamis menyebabkan pelari menghadapi risiko cedera yang lebih tinggi dibandingkan lari di permukaan datar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ankle sprain merupakan salah satu cedera muskuloskeletal yang paling sering dialami pelari trail dengan prevalensi mencapai sekitar 30% dari keseluruhan kasus cedera. Risiko tersebut semakin tinggi pada individu yang memiliki riwayat Chronic Ankle Instability (CAI), yaitu kondisi ketidakstabilan pergelangan kaki yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera berulang. Di sisi lain, perkembangan desain alas kaki trail running saat ini lebih banyak berfokus pada peningkatan performa melalui pengurangan bobot, peningkatan responsivitas bantalan, dan efisiensi energi, sehingga aspek pencegahan cedera belum menjadi fokus utama dalam proses pengembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan konsep desain sepatu trail running yang mampu meningkatkan stabilitas pergelangan kaki dan membantu mengurangi risiko terjadinya maupun berulangnya ankle sprain pada pelari. Penelitian menggunakan metode campuran (mixed-methods) yang mengombinasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Tahapan penelitian meliputi studi literatur mengenai biomekanika cedera pergelangan kaki dan desain alas kaki olahraga, survei terhadap pelari trail di Indonesia untuk mengidentifikasi pengalaman cedera dan preferensi produk, serta wawancara mendalam dengan pelari trail, fisioterapis olahraga, dan praktisi industri alas kaki guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kebutuhan pengguna dan peluang inovasi desain. Hasil analisis menunjukkan bahwa mekanisme cedera yang paling dominan terjadi akibat gerakan inversi berlebih ketika kaki kehilangan kestabilan pada permukaan yang tidak rata. Selain itu, ditemukan bahwa banyak pengguna menginginkan sepatu yang mampu memberikan rasa aman dan stabil tanpa mengorbankan kenyamanan, fleksibilitas, serta performa saat berlari. Berdasarkan sintesis temuan biomekanika, kebutuhan pengguna, dan kajian produk eksisting, penelitian ini menghasilkan konsep desain dengan pendekatan “lateral-stabilizing” yang mengintegrasikan geometri sol bertorsi rendah untuk menurunkan kecenderungan kaki terguling, penguatan sidewall dan outsole flare pada sisi lateral untuk meningkatkan resistansi terhadap gaya inversi, serta sistem penguncian zonal pada area tumit dan collar guna memaksimalkan kontrol pergerakan kaki di dalam sepatu. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan konsep alas kaki trail running yang secara khusus menempatkan pencegahan cedera sebagai dasar perancangan melalui integrasi strategi stabilisasi lateral dan pendekatan biomekanika pengguna. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian desain produk olahraga berbasis keselamatan pengguna serta menjadi referensi bagi industri alas kaki dalam mengembangkan produk yang lebih preventif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan pelari di lingkungan medan ekstrem.
PENGARUH KEMIRINGAN HULU TERHADAP PUNCAK PELIMPAH ITB GOLDEN RATIO TIPE B MENGGUNAKAN PEMODELAN NUMERIK
Pelimpah ITB Golden Ratio Tipe B merupakan struktur hidraulis inovatif yang memanfaatkan proporsi rasio emas (?????1.618) untuk memudahkan proses desain dan konstruksi. Penelitian ini menginvestigasi dampak hidrodinamika dari variasi kemiringan hulu (Vertikal, 3:1, 3:2, dan 3:3) terhadap kapasitas debit, distribusi tekanan pada mercu, dan profil aliran bilangan Froude. Simulasi tiga dimensi dilakukan menggunakan perangkat lunak FLOW-3D (model turbulensi RNG ?????????), yang divalidasi dengan data model fisik laboratorium dan rumus analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kemiringan hulu memberikan pengaruh yang sangat kecil dan dapat diabaikan terhadap kinerja hidraulis secara keseluruhan. Pada tinggi muka air desain (????????=2.0 m), mercu ITB Golden Ratio mencapai koefisien debit tak berdimensi (????????) yang sangat stabil sebesar 0,778. Selain itu, mercu ini menghasilkan tekanan negatif maksimum sebesar -17,41 kPa yang masih berada jauh di dalam batas aman operasi. Secara khusus, kurva dari geometri ini mampu mempertahankan konformitas streamline pada kondisi muka air ekstrem, sehingga berhasil mencegah lonjakan tekanan negatif yang berbahaya serta anomali lonjakan debit yang umumnya terjadi pada desain Ogee konvensional. Pelimpah ITB Golden Ratio Tipe B terbukti menjadi alternatif desain mercu yang sangat efisien, aman, dan adaptif secara geometris.
KONTROL PEMADATAN TANAH DI INDONESIA BERDASARKAN PERSAMAAN MATEMATIS SOIL STIFFNESS INDEX SEBAGAI FUNGSI TINGKAT ENERGI KOMPAKSI DAN DERAJAT SATURASI
Kontrol pemadatan tanah di lapangan secara konvensional dilakukan menggunakan parameter kadar air dan kepadatan kering yang mengacu pada hasil pengujian Proctor di laboratorium. Namun, pendekatan ini memiliki keterbatasan mendasar, yakni kurva pemadatan akan bergeser seiring dengan perubahan tingkat energi pemadatan, sehingga parameter kadar air menjadi kurang representatif sebagai acuan kontrol pemadatan ketika terdapat variasi CEL antara kondisi lapangan dan laboratorium. Sebagai alternatif yang lebih andal, Tatsuoka et al. (2021) mengusulkan penggunaan indeks kekakuan tanah sebagai parameter kontrol pemadatan yang direpresentasikan sebagai fungsi dari kepadatan kering dan derajat saturasi. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan persamaan empiris estimasi nilai California Bearing Ratio (CBR) rendaman dan tidak direndam yang spesifik untuk tanah-tanah di Indonesia, serta melakukan normalisasi persamaan tersebut menggunakan parameter derajat pemadatan relatif ([Dc]1Ec) dan selisih derajat saturasi (?Sr) guna mereduksi persebaran data akibat perbedaan jenis tanah dan variasi tingkat energi pemadatan. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji korelasi antara indeks plastisitas (PI) dan kepadatan kering maksimum (?d)max pada berbagai tingkat energi pemadatan, serta mengevaluasi karakteristik derajat saturasi optimum (Sr)opt untuk tanah-tanah di Indonesia. Penelitian ini juga mempertimbangkan pengaruh karakteristik ekspansivitas tanah, yang diidentifikasi melalui pengujian MBV dan XRD, terhadap perilaku CBR rendaman. Penelitian ini menggunakan kombinasi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengujian laboratorium terhadap tiga sampel tanah yang diambil dari Sentul, Sadang, dan Cimahi, meliputi pengujian indeks propertis, MBV, XRD, pemadatan dengan tiga variasi tingkat energi, yakni 1 Ec, 4.5 Ec, dan 6 Ec, serta pengujian CBR rendaman dan tidak direndam. Data sekunder terdiri dari 218 sampel iii pemadatan dari 68 lokasi, 74 sampel CBR rendaman, dan 25 sampel CBR tidak direndam yang bersumber dari arsip Laboratorium Mekanika Tanah Institut Teknologi Bandung serta penelitian terdahulu. Seluruh pengujian dilaksanakan mengacu pada standar ASTM yang berlaku. Berdasarkan analisis terhadap 221 sampel dari 71 lokasi di Indonesia, diperoleh nilai derajat saturasi optimum (Sr)opt rata-rata sebesar 92.59% dengan standar deviasi 3.89%, serta specific gravity Gs rata-rata sebesar 2,58. Nilai (Sr)opt yang relatif konsisten terhadap variasi jenis tanah dan tingkat energi pemadatan ini memperkuat dasar ilmiah penggunaan derajat saturasi sebagai parameter kontrol pemadatan yang lebih representatif dibandingkan kadar air. Selain itu, ditemukan korelasi logaritmik antara indeks plastisitas dan kepadatan kering maksimum pada setiap tingkat energi pemadatan, yang direpresentasikan melalui persamaan empiris sebagai berikut: (?d)max = ?0.369 ln(PI) + 0.062 CEL + 2.503 (g/cm³). Persamaan empiris estimasi nilai CBR sebagai fungsi dari ?d dan Sr yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah CBRsoaked = 2.92/(1+exp((Sr – 97.40)/8.40)) × (?d/?w – 0.01)4,27 untuk kondisi rendaman, dan CBRunsoaked = 126.83/(1+exp(Sr/24.51)) × (?d/?w – 0.01)4,27 untuk kondisi tidak direndam. Setelah melalui proses normalisasi menggunakan parameter [Dc]1Ec dan ?Sr, diperoleh koefisien CCBR sebesar 7.62 untuk kondisi rendaman dan 11.57 untuk kondisi tidak direndam. Persamaan empiris yang telah dinormalisasi menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mereduksi persebaran data dibandingkan persamaan sebelumnya, sehingga lebih andal untuk diterapkan pada berbagai jenis tanah dan variasi tingkat energi pemadatan di lapangan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan metode kontrol pemadatan tanah di lapangan yang lebih praktis, konsisten, dan akurat untuk proyek-proyek konstruksi di Indonesia, khususnya pada kondisi variasi tingkat energi pemadatan yang beragam.
PENGARUH NOISE DALAM BUžEK-HILLERY QUANTUM CLONING MACHINE MENGGUNAKAN OPERATOR KRAUS
Proses duplikasi merupakan sebuah proses melakukan penggandaan informasi dari sebuah sistem kepada sistem yang lain. Namun untuk melakukan duplikasi keadaan kuantum sembarang tak dapat dilakukan sebagaimana tertera pada No-Cloning Theorem. Akan tetapi, No-Cloning Theorem tak membatasi duplikasi tak sempurna sehingga muncul Quantum Cloning Machine yang memungkinkan untuk mendapatkan hasil duplikasi yang mendekati keadaan yang diinginkan diantaranya adalah Bu!ek-Hillery Quantum Cloning Machine. Dalam keadaan riil, sistem kuantum dapat berinteraksi dengan lingkungan yang menyebabkan adanya gangguan (noise) yang dapat dimodelkan dengan operator Kraus. Penelitian ini akan mengamati pengaruh beberapa tipe noise pada Bu!ek-Hillery Quantum Cloning Machine meliputi bit flip, phase flip, noise depolarizing dan amplitude damping. Penelitian ini dilakukan secara analitik untuk mendapatkan persamaan untuk tiap noise serta komputasi untuk kasus-kasus input tertentu, yaitu keadaan basis dan keadaan superposisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum, noise akan menurunkan nilai fidelitas dan amplitude overlap untuk masing-masing qubit namun dalam beberapa kasus nilai fidelitas dan amplitude overlap dapat membesar bahkan melebihi nilai ketika tak ada gangguan sama sekali.
REDESAIN TERMINAL LEUWIPANJANG SEBAGAI PUSAT TRANSPORTASI TERINTEGRASI BERBASIS PERILAKU PENGGUNA
Terminal Leuwipanjang merupakan salah satu simpul transportasi utama di Kota Bandung yang memiliki peran penting dalam mendukung sistem mobilitas masyarakat. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan terhadap transportasi publik yang efisien, revitalisasi terminal telah dilakukan untuk memperbaiki citra, keamanan, serta kenyamanan pengguna. Meskipun revitalisasi tersebut berhasil menghadirkan fasilitas komersial dan area publik yang lebih tertata, fungsi terminal sebagai pusat transportasi yang terintegrasi masih belum optimal, terutama dalam mengakomodasi alur pergerakan yang intuitif dan sinkronisasi data antar-moda bagi masyarakat. Penelitian perancangan ini bertujuan untuk merancang ulang interior Terminal Leuwipanjang sebagai pusat transportasi terintegrasi berbasis perilaku pengguna yang mampu memfasilitasi kebutuhan mobilitas sekaligus memberikan kejelasan orientasi bagi masyarakat. Metode perancangan yang digunakan meliputi pendekatan kualitatif dengan studi lapangan, observasi perilaku kedatangan dan keberangkatan, serta analisis interaksi penumpang terhadap elemen fisik (artifact), layanan (service), dan lingkungan (environment). Melalui pendekatan perilaku, desain dikembangkan untuk meminimalisir beban kognitif pengguna dalam mencari informasi dan melakukan transpor antar-moda. Implementasi desain difokuskan pada pengoptimalan alur sirkulasi bebas hambatan yang didasarkan pada pemetaan persepsi waktu tunggu dan efisiensi ruang tunggu multifungsi. Dengan mengacu pada model konseptual kepuasan penumpang, redesain ini berupaya menjembatani kesenjangan antara ekspektasi pengguna dengan realitas fasilitas di lapangan. Konsep integrasi informasi diterapkan melalui tata ruang yang adaptif dan inklusif, memastikan ketersediaan data real-time yang mudah dijangkau di seluruh titik krusial terminal. Dengan pendekatan ini, Terminal Leuwipanjang diharapkan mampu mentransformasi fungsi terminal menjadi simpul transportasi modern yang fungsional, responsif terhadap pola perilaku pengguna, serta mampu menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya kota dan pemukiman berkelanjutan, sesuai dengan SDGs 11.
OPTIMASI PARAMETER MODEL COCOMO II UNTUK ESTIMASI USAHA PERANGKAT LUNAK MENGGUNAKAN HYBRID BIOGEOGRAPHY-BASED OPTIMIZATION DAN LÉVY FLIGHT
Estimasi upaya perangkat lunak (Software Effort Estimation / SEE) merupakan aktivitas penting dalam manajemen proyek perangkat lunak karena memengaruhi perencanaan biaya, sumber daya dan waktu pengembangan. Namun, parameter bawaan Constructive Cost Model II (COCOMO II) tidak selalu sesuai dengan karakteristik setiap dataset sehingga diperlukan proses kalibrasi parameter untuk meningkatkan akurasi estimasi. Penelitian ini mengusulkan pendekatan Hybrid Biogeography-Based Optimization (BBO)–Lévy Flight untuk mengoptimalkan parameter COCOMO II. BBO digunakan untuk melakukan eksplorasi global ruang pencarian, sedangkan Lévy Flight diterapkan sebagai mekanisme post-optimization solution refinement. Evaluasi dilakukan menggunakan dataset NASA93 dan COCOMOSDR dengan skema 5-Fold Cross Validation, serta dibandingkan dengan BBO standar, parameter bawaan COCOMO II dan lima algoritma metaheuristik lainnya. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa pendekatan Hybrid BBO–Lévy Flight menurunkan nilai MMRE sebesar 4,59% pada dataset NASA93 dan 18,82% pada dataset COCOMOSDR, serta meningkatkan PRED(25) sebesar 2,17% dan 26,66% dibandingkan BBO standar. Pengujian Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan bahwa peningkatan performa signifikan secara statistik (p < 0,05), sedangkan analisis Rank-Biserial Correlation menunjukkan small effect pada dataset NASA93 dan large effect pada dataset COCOMOSDR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Hybrid BBO–Lévy Flight efektif untuk kalibrasi parameter COCOMO II dan mampu meningkatkan akurasi estimasi usaha perangkat lunak serta mempertahankan efisiensi komputasi pada dataset dengan karakteristik yang berbeda.
PENGEMBANGAN ALGORITMA EMPIRIS BERBASIS CITRA SENTINEL-2 UNTUK PEMANTAUAN KLOROFIL-A DI PERAIRAN CIREBON
Perairan Cirebon merupakan wilayah pesisir dengan aktivitas antropogenik tinggi yang meningkatkan masukan nutrien dan sedimen, sehingga menyebabkan kondisi optik perairan menjadi lebih kompleks. Hal ini membuat algoritma estimasi klorofil-a dari wilayah lain kurang representatif jika diterapkan secara langsung. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi algoritma empiris berbasis citra Sentinel-2 untuk estimasi klorofil-a serta menganalisis distribusi spasial-temporalnya di Perairan Cirebon. Data yang digunakan berupa klorofil-a in situ dari 17 stasiun pengamatan (April 2025–April 2026) dan citra Sentinel-2 MSI Level-2A. Pengembangan algoritma dilakukan menggunakan metode Empirical Multivariate Regression Model (EMRM) dengan tiga skema kombinasi band (VNIR, RE, dan VRE) dengan beberapa bentuk model yaitu multivariat linear regresi, log-log, eksponensial, dan polinomial. Hasil menunjukkan model terbaik diperoleh pada skema Multiband VRE dengan model eksponensial menggunakan band B2, B4, B5, dan B7, dengan nilai R2 = 0,803, RMSE = 1,111 mg/m3, MAPE = 31,196%, dan bias = -0,201. Algoritma direkomendasikan untuk konsentrasi klorofil-a 0–30 mg/m3, sedangkan nilai >30 mg/m3 dikategorikan sebagai out of range karena tidak terwakili dalam data in-situ dan menunjukkan penurunan akurasi. Pada wilayah sangat dekat pesisir (<1 km), algoritma masih berpotensi mengalami overestimate akibat kondisi optically complex. Distribusi klorofil-a hasil estimasi Sentinel-2 konsisten dengan data in-situ, baik secara spasial maupun temporal, dengan konsentrasi lebih tinggi di nearshore dibanding offshore. Konsentrasi tertinggi terjadi pada Musim Barat (DJF) sebesar 5,882 mg/m3 dan terendah pada Musim Timur (JJA) sebesar 2,115 mg/m3. Pola ini dipengaruhi oleh peningkatan limpasan sungai pada Musim Barat yang membawa nutrien ke perairan pesisir. Secara umum, berdasarkan rata-rata klorofil-a in-situ (5,300 mg/m3) dan estimasi (4,081 mg/m3), Perairan Cirebon diklasifikasikan sebagai meso-oligotrofik hingga mesotrofik dengan produktivitas primer rendah hingga sedang.
KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN FISIOLOGI BIBIT SEBAGAI ACUAN PEMILIHAN SPESIES UNTUK REHABILITASI HUTAN
Deforestasi hutan tropis Indonesia ditandai dengan penurunan tutupan hutan primer dari 55,7% menjadi 45,2% luas daratan antara tahun 2000–2022, dan program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang diamanatkan Permen LHK Nomor 23 Tahun 2021 belum mencapai target dengan mortalitas bibit di lapangan mencapai 40–70% pada tahun pertama penanaman. Kegagalan ini bersumber dari ketidaksesuaian spesies dengan kondisi tapak dan minimnya data ekofisiologi lokal untuk mendukung seleksi spesies berbasis bukti ilmiah. Bibit yang tampak sehat di persemaian tidak menjamin kemampuan bertahan di lapangan, karena morfologi tidak mencerminkan kapasitas fisiologis aktual dalam menghadapi cekaman di tapak terbuka. Penelitian ini dilaksanakan di Persemaian Aklimatisasi ITB Kampus Jatinangor selama sebelas minggu, mengkaji tiga spesies hutan tropis untuk rehabilitasi, yaitu Khaya anthotheca (KA), Altingia excelsa (AE), dan Intsia bijuga (IB). Pengukuran morfologi mencakup tinggi, diameter batang, jumlah, ketebalan daun, dan Specific Leaf Area (SLA). Pengukuran fisiologi dilakukan menggunakan IRGA CI-340 pada intensitas cahaya 1.500 ?mol/m²/s, mencakup laju fotosintesis neto, transpirasi, konduktansi stomata, suhu daun, dan Water Use Efficiency (WUE), dilanjutkan kalkulasi Relative Growth Rate (RGR) dan uji ANOVA-Tukey HSD. KA sebagai spesies pionir mencatat konduktansi stomata tertinggi, suhu daun terendah, dan akselerasi pertumbuhan batang tertinggi pada periode akhir. AE sebagai spesies transisi menunjukkan tekanan termal kumulatif dengan kompensasi struktural parsial. IB sebagai spesies klimaks menerapkan strategi trade-off antara pertumbuhan primer dan sekunder disertai kapasitas re-growth daun pascagugur. Berdasarkan integrasi data morfofisiologi dan dinamika pertumbuhan, ketiga spesies direkomendasikan untuk ditanam secara bertahap sesuai zonasi suksesional sebagai dasar program rehabilitasi hutan tropis berbasis data ilmiah.
PERANCANGAN INTERIOR EDUTOURISM CENTER SEBAGAI PUSAT EDUKASI-REKREASI TANAMAN HIAS DESA CIHIDEUNG, KABUPATEN BANDUNG BARAT DENGAN PENDEKATAN SENSORY DESIGN
Desa Cihideung, Kabupaten Bandung Barat, dikenal sebagai pusat hortikultura terbesar di Jawa Barat dengan kekayaan tanaman hias yang potensial. Namun, model pariwisata yang berkembang saat ini masih bersifat konvensional dan pasif sehingga durasi kunjungan wisatawan cenderung rendah dan potensi edukasi hortikultura tidak tergarap maksimal. Di sisi lain, masyarakat urban, khususnya dewasa muda di Kota Bandung, menghadapi peningkatan tekanan psikologis akibat kepadatan lingkungan perkotaan yang minim akses terhadap alam. Perancangan Interior Edutourism Center ini bertujuan untuk mengintegrasikan fungsi pusat edukasi hortikultura yang partisipatif dan fasilitas pemulihan yang didasari oleh hubungan kedekatan dengan alam. Metode perancangan yang digunakan adalah Problem-Based Design dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara, studi preseden, serta studi literatur. Pendekatan utama yang diterapkan adalah prinsip Sensory Design untuk menghadirkan alur pengalaman ruang yang imersif yang merangsang berbagai indra manusia yang sejalan dengan prinsip Biophilic Design berbasis tanaman hias lokal untuk menciptakan suasana restoratif yang menenangkan. Perancangan ini tidak hanya menjadi upaya konservasi tanaman hias, tetapi juga menjadi ruang restoratif bagi masyarakat urban untuk melepaskan penat dan katalisator pemberdayaan ekonomi komunitas petani lokal melalui ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
PENANGANAN SEDIMENTASI DI AREA PELABUHAN BATU BARA, SUNGAI BERAU, KALIMANTAN TIMUR
Pelabuhan Batu Bara di Sungai Berau, Kalimantan Timur, mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, yang menurunkan kapasitas barging dari 7.000–7.200 ton (2024) menjadi 6.000–6.400 ton (2025) dan kedalaman efektif jetty dari 5,5–6 m menjadi ±4 m. Penelitian ini menganalisis karakteristik hidrologi-hidraulika penyebab sedimentasi serta merumuskan solusi penanganannya. DAS Berau memiliki luas 14.368 km² dengan CN 70,69 dan debit normal 821–1.111 m³/s. Pemodelan HEC-RAS menunjukkan kecepatan aliran di sekitar jetty 0,5 m/s (Q2) hingga 0,7 m/s (Q25); meski Q25 melampaui kecepatan kritis erosi lanau halus, probabilitas kejadiannya rendah (±4%/tahun) sehingga flushing alami tidak berlangsung berkelanjutan. Pada debit andalan 50%, laju sedimentasi tahunan mencapai 10–15 cm/tahun. Solusi yang dirumuskan adalah pengerukan menggunakan Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD), sesuai karakteristik material clayey silt, dengan luas area 12.150 m², kedalaman 2 m, dan volume keruk 24.300 m³. Hasil kerukan dibuang ke dumping area >12 mil laut sesuai Permenhub No. PM 125 Tahun 2018, dengan estimasi biaya ±Rp 6,74 miliar (±Rp 277.346/m³) dan pengerukan pemeliharaan setiap 4–6 tahun. Selain itu, teridentifikasi lahan kritis berpotensi erosi sangat berat di dekat badan sungai, sehingga direkomendasikan rehabilitasi vegetasi, pemulihan riparian buffer zone, dan pengaturan tata guna lahan untuk mendukung penanganan sedimentasi secara berkelanjutan.
REDESAIN TERAS MALIOBORO 1 SEBAGAI PUSAT EKONOMI KREATIF BERBASIS BUDAYA YOGYAKARTA
Malioboro dikenal sebagai ikon Yogyakarta yang berperan penting sebagai salah satu pusat perekonomian, hiburan, wisata, dan kuliner Kota Yogyakarta. Kawasan Malioboro dipenuhi oleh pedagang kaki lima (PKL), pertokoan, penduduk lokal, dan wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Kebijakan penataan kawasan menghadirkan Teras Malioboro guna mewadahi aktivitas para PKL Malioboro, namun kehadirannya. Namun, relokasi ini menimbulkan tantangan baru, dimana Teras Malioboro belum sepenuhnya mengakomodir kepentingan pelaku usaha (Sumiyar Mahanani et al, 2023), timbulnya dinamika antara kepastian legalitas yang diberikan oleh pemerintah terhadap para pedagang kaki lima dengan keberlanjutan vitalitas ruang, serta Teras Malioboro masih dianggap belum optimal dalam merefleksikan identitas kultural. Fasilitas ini berisiko menjadi sekadar pusat komersial fungsional yang kehilangan koneksi mendalam dengan identitas budaya Yogyakarta akibat tantangan-tantangan tersebut. Melalui metode wawancara, observasi, kuesioner, dan studi literatur, penelitian ini meredesain Teras Malioboro 1 yang menekankan pengalaman ruang serta penguatan identitas visual berbasis budaya lokal. Hasil rancangan ini diharapkan mampu mentransformasi Teras Malioboro 1 menjadi pusat perdagangan sekaligus ruang kreatif berbudaya yang berkelanjutan dan berakar pada kearifan lokal.