πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 101,300 dokumen

PENGEMBANGAN PROPOSISI NILAI PADA USAHA MINUMAN SEHAT MELALUI PENDEKATAN DESIGN THINKING UNTUK MENCAPAI KELAYAKAN KOMERSIAL AWAL: STUDI KASUS VSPARK

Penelitian ini membahas pengembangan dan validasi proposisi nilai Vspark sebagai usaha fruit-infused tea tahap awal dalam pasar minuman sehat siap minum. Meskipun Vspark memperoleh respons awal yang positif melalui pengujian kampus, bazar komunitas, aktivasi olahraga, dan siklus pre-order, minat mencoba belum secara konsisten berubah menjadi pembelian ulang. Kondisi ini menunjukkan bahwa proposisi nilai Vspark masih belum tervalidasi secara jelas. Berlandaskan konsep Problem-Solution Fit, Product-Market Fit, perilaku konsumen sebagai lensa pendukung, Design Thinking, dan Value Proposition Design, penelitian ini menggunakan kerangka terintegrasi untuk mendiagnosis dan menyempurnakan proposisi nilai Vspark. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif berbasis desain melalui 15 wawancara semi-terstruktur dan pengujian prototipe MVP dengan 10 partisipan, yang didukung oleh analisis tematik, SPA Framework, Strategy Canvas, Empathy Map, Value Proposition Canvas, Innovation Trifecta, evaluasi prototipe, wawancara lanjutan, dan Business Model Canvas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa segmen masuk yang paling layak adalah Practical Value Seeker, yaitu konsumen urban Gen Z dan younger Millennial yang mengevaluasi minuman sehat berdasarkan kepraktisan, keterjangkauan harga, kemudahan akses, kejelasan informasi produk, dan kesesuaian untuk konsumsi rutin. Diagnosis kesesuaian nilai mengidentifikasi tiga kesenjangan utama, yaitu pengalaman produk dan kemudahan penggunaan, kepercayaan dan transparansi, serta aksesibilitas dan nilai yang sepadan dengan harga. Hasil pengujian prototipe menunjukkan bahwa Prototype C memperoleh performa terbaik karena lebih mudah diminum, lebih sesuai untuk konsumsi harian, dan lebih sepadan dari sisi porsi. Sementara itu, Prototype B memberikan kontribusi pada sinyal kepercayaan, sedangkan Prototype A memberikan pembelajaran terkait kemudahan penggunaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Vspark perlu menyempurnakan proposisi nilainya menjadi fruit-infused tea yang ramah untuk konsumsi rutin, menyegarkan, lebih ringan, praktis, transparan, dan sepadan dengan harga untuk konsumsi sehari-hari. Penyempurnaan tersebut perlu didukung oleh informasi label yang lebih jelas, peningkatan kemudahan penggunaan terpilih, saluran distribusi yang terkontrol, dan strategi pilot sebelum ekspansi pasar yang lebih luas.

2026
πŸ‘€ Penulis: Vincent Nathaniel Jusuf
🏷️ Design Thinking 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Minuman Sehat 🏷️ Value Proposition Design

PENGEMBANGAN MODEL INTENSI UNTUK MENGADOPSI E-COMMERCE OLEH UMKM MAKANAN DAN MINUMAN DI PROVINSI JAWA BARAT

Adopsi e-commerce oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu bentuk transformasi digital yang berpotensi memperluas jangkauan pasar, meningkatkan efektivitas promosi, memperbaiki layanan pelanggan, serta mendukung peningkatan daya saing usaha. Meskipun demikian, tingkat pemanfaatan e-commerce oleh UMKM di Provinsi Jawa Barat belum sepenuhnya merata. Sebagian pelaku usaha telah menggunakan e-commerce sebagai kanal penjualan, tetapi masih terdapat UMKM yang belum pernah menggunakan atau pernah mencoba namun tidak lagi melanjutkan penggunaannya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses adopsi e-commerce tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan platform digital, tetapi juga dipengaruhi oleh kesiapan, persepsi, kemampuan, dan karakteristik internal maupun eksternal UMKM. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model intensi adopsi e-commerce oleh UMKM di Provinsi Jawa Barat serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap intensi untuk mengadopsi e-commerce. Model penelitian dikembangkan berdasarkan kerangka Technology-Organization-Environment (TOE) dengan mengintegrasikan faktor teknologi, organisasi, lingkungan, serta dimensi budaya yang relevan dalam konteks adopsi e-commerce. Konstruk eksogen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uncertainty avoidance, long-term orientation, digital literacy, owner/manager innovativeness, perceived cost, perceived benefits, social learning, dan government digital enablement support. Sementara itu, konstruk endogen yang digunakan adalah perceived benefits sebagai konstruk endogen perantara dan intention to adopt e-commerce by MSMEs. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada UMKM makanan dan minuman di Provinsi Jawa Barat. Data yang berhasil dikumpulkan dan dinyatakan valid berjumlah 143 responden. Mayoritas responden merupakan usaha mikro. Data penelitian dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4.0. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, dari sepuluh hipotesis yang diuji, terdapat lima hipotesis yang diterima yaitu: Digital literacy terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs, perceived benefits juga terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs, long-term orientation terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap ii perceived benefits, social learning terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap perceived benefits, dan government digital enablement support terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap perceived benefits. Kemudian, long-term orientation, government digital enablement support, dan social learning mempunyai pengaruh signifikan tidak langsung terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs. Sementara itu, uncertainty avoidance, long-term orientation, owner/manager innovativeness, perceived cost tidak terbukti secara empiris berpengaruh signifikan terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs. Dalam penelitian ini juga dilakukan analisis multigroup dan clustering untuk memperoleh pemahaman tambahan mengenai karakteristik UMKM. Hasil analisis multigroup menunjukkan bahwa long-term orientation dan owner/manager innovativeness terhadap intention to adopt memiliki perbedaan signifikan antara kelompok adopter dan non-adopter e-commerce. Pada kelompok adopter, hubungan kedua konstruk tersebut terhadap intention to adopt adalah negatif, sementara pada kelompok non-adopter hubungan kedua konstruk tersebut terhadap intention to adopt adalah positif. Selanjutnya, hasil clustering menghasilkan tiga kelompok UMKM, yaitu mayoritas usaha mikro pengguna aktif e-commerce, mayoritas usaha mikro bukan pengguna dan eks-pengguna e-commerce, serta mayoritas usaha dengan omzet lebih tinggi pengguna aktif e-commerce. Hambatan utama pada kelompok bukan pengguna dan eks-pengguna e-commerce yaitu keterbatasan sumber daya manusia, belum memahami cara menggunakan e-commerce, serta persepsi bahwa produk lebih cocok dijual secara offline. Manfaat utama dirasakan oleh kelompok pengguna aktif e-commerce adalah peningkatan penjualan dan kemudahan mengiklankan produk, diikuti oleh kemudahan promosi dan kemudahan pengiriman barang kepada pelanggan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Mirfan Mikra
🏷️ E-Commerce 🏷️ Adopsi Usaha Mikro Kecil Menengah (Umkm) 🏷️ Teknologi Digital Dalam Manajemen Bisnis

PERANCANGAN BOARDING SCHOOL SMP-SMA PUTRI DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORAL DESIGN DALAM MENDUKUNG PERKEMBANGAN HOLISTIK

Boarding school merupakan sistem pendidikan yang tidak hanya berfungsi sebagai tampat belajar formal, tetapi juga sebagai lingkungan tinggal yang berperandalam membentuk karakter serta menduung perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Pada jenjang SMP-SMA, siswi berada pada fase yang membutuhkan dukungan terhadap perkembangan intelektual, emosional, sosial, fisik, dan spiritual. Boarding school memiliki potensi untuk mendukung pendidikan holistik karena proses belajar berlangsung selama 24 jam melalui kegiatan akademik, kehidupan berasrama, dan interaksi sosial. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa peserta didik boarding school rentan mengalami homesickness, stress, kekurangan privasi, kecemasan, serta kesulitan beradaptasi apabila lingkungan belum mampu mengakomodasi kebutuhan perilaku dan psikologis penggunanya. Selain itu, banyak fasilitas boarding school yang masih berorientasi pada pemenuhan fungsi dasar saja sehingga belum optimal dalam mendukung perkembangan holistik peserta didik. Penelitian ini bertujuan merancang interior boarding school SMP-SMA putri dengan pendekatan behavioral design untuk menciptakan lingkungan yang adaptif, nyaman, aman dalam mendukung perkembangan holistik peserta didik. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, obeservasi lapangan, dan wawancara untuk mengidentifikasi karakteristik pengguna, pola aktivitas, kebutuhan ruang, serta aspek perilaku yang mempengaruhi pengalaman tinggal dan belajar di boarding school. Analisis difokuskan pada perancangan ruang kelas, asrama, area komunal, dan fasilitas penunjang untuk mendukung pengalaman belajar, interaksi sosial yang positif, dan kesejahteraan siswi. Data yang diperoleh menjadi dasar penyusunan konsep dan strategi perancangan interior.

2026
πŸ‘€ Penulis: Fahira Rahma Tazyida
🏷️ Interior Desain 🏷️ Pendidikan Holistik 🏷️ Behavioral Design

PETA SOSIAL SUBJEK REFORMA AGRARIA DALAM RANGKA PENATAAN AKSES KAWASAN KUMUH PERKOTAAN DI KAMPUNG BUGISAN, KOTA PEKALONGAN

Pemetaan sosial merupakan serangkaian proses untuk mengidentifikasi dan memahami kondisi subjek Reforma Agraria guna menentukan bentuk pendampingan usaha yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Pada kawasan kumuh perkotaan, pelaksanaan pemetaan sosial membutuhkan metodologi yang lebih terstruktur karena karakteristik wilayahnya kompleks, meliputi kepadatan permukiman, kerentanan sosial ekonomi, keterbatasan infrastruktur, dinamika kelembagaan lokal, serta kebutuhan integrasi antara data sosial dan data spasial. Tugas Akhir Capstone ini bertujuan untuk menyusun metodologi pemetaan sosial yang dapat digunakan sebagai panduan teknis operasional dalam mendukung Penataan Akses Reforma Agraria pada kawasan kumuh perkotaan. Metodologi dikembangkan berdasarkan Petunjuk Teknis Penanganan ARA Tahun 2025 yang disesuaikan dengan karakteristik kawasan kumuh perkotaan, mencakup enam tahapan utama: persiapan, pengumpulan data, pengolahan data, penyusunan data, inventarisasi data, dan pelaporan data. Tahap persiapan meliputi kajian karakteristik sosial-ekonomi subjek, Focus Group Discussion dengan pemangku kepentingan, observasi lapangan, penyusunan Dokumen Profil Sosial Ekonomi, penentuan subjek, geotagging prapelaksanaan, serta penyusunan instrumen adaptif. Tahap pengolahan dan penyusunan data mencakup tabulasi hasil wawancara, analisis statistik deskriptif, asesmen kelembagaan subjek, analisis SWOT, analisis pemangku kepentingan, pemilihan model penataan akses, serta penyusunan peta sosial berbasis lima indeks sosial multidimensi dan indeks spasial yang diolah menggunakan QGIS. Produk yang dihasilkan berupa dokumen metodologi yang dilengkapi alur kerja, instrumen adaptif, format tabulasi, mekanisme kendali mutu, serta ketentuan penyajian laporan dan peta sosial. Dokumen ini diharapkan dapat membantu pelaksana kegiatan dalam menjalankan pemetaan sosial secara lebih sistematis, terdokumentasi, dan sesuai dengan kebutuhan Penataan Akses Reforma Agraria pada kawasan kumuh perkotaan. Dengan demikian, metodologi yang dikembangkan dapat menjadi dasar awal bagi standardisasi pelaksanaan pemetaan sosial yang lebih terarah, terukur, dan dapat direplikasi pada lokasi serupa

2026
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Syahrezan Ismail
🏷️ Pemetaan Sosial 🏷️ Reformasi Agraria 🏷️ Penataan Akses Kawasan Kumuh Perkotaan

PENGEMBANGAN SENSOR KAPASITIF UNTUK MONITORING KETINGGIAN AIR TANAMAN PADI PADA SISTEM SMART AGRICULTURE DENGAN METODE ALTERNATE WETTING AND DRYING (AWD)

Metode Alternate wetting and drying (AWD) merupakan salah satu teknik irigasi hemat air pada budidaya padi yang memerlukan pemantauan ketinggian air secara akurat untuk menentukan waktu irigasi yang tepat. Sensor yang umum digunakan, seperti sensor ultrasonik dan sensor pelampung, memiliki keterbatasan berupa sensitivitas terhadap gangguan lingkungan, korosi, serta keausan mekanis. Oleh karena itu, pada penelitian ini dikembangkan sensor kapasitif berbasis geometri silinder konsentris untuk pengukuran ketinggian air pada sistem AWD. Sensor dirancang menggunakan dua elektroda silinder konsentris sepanjang 40 cm yang dihubungkan dengan IC FDC2214 sebagai konverter kapasitansi-ke-digital. Penelitian meliputi perancangan sensor, kalibrasi hubungan antara kapasitansi dan ketinggian air, serta karakterisasi kinerja sensor melalui pengujian sensitivitas, linearitas, error, dan standar deviasi. Selain itu, dilakukan analisis pengaruh variasi Total Dissolved Solids (TDS) dan perbandingan jari-jari sensor (R2/R1) terhadap hasil pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kapasitansi meningkat secara linier terhadap kenaikan ketinggian air. Variasi rasio R2/R1 memengaruhi sensitivitas, di mana rasio yang lebih kecil menghasilkan sensitivitas yang lebih besar. Pengujian TDS menunjukkan bahwa peningkatan kandungan padatan terlarut menyebabkan perubahan nilai kapasitansi yang memengaruhi hasil pengukuran. Secara keseluruhan, sensor kapasitif yang dikembangkan mampu digunakan sebagai alternatif sensor ketinggian air untuk mendukung implementasi AWD pada sistem smart agriculture.

2026
πŸ‘€ Penulis: Ryan Ramadhan
🏷️ Sensor Kapasitif 🏷️ Teknik Irigasi Hemat Air 🏷️ Smart Agriculture

PETA SOSIAL SUBJEK REFORMA AGRARIA DALAM RANGKA PENATAAN AKSES KAWASAN KUMUH PERKOTAAN DI KAMPUNG BUGISAN, KOTA PEKALONGAN

Pemetaan sosial merupakan serangkaian proses untuk mengidentifikasi dan memahami kondisi subjek Reforma Agraria guna menentukan bentuk pendampingan usaha yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Pada kawasan kumuh perkotaan, pelaksanaan pemetaan sosial membutuhkan metodologi yang lebih terstruktur karena karakteristik wilayahnya kompleks, meliputi kepadatan permukiman, kerentanan sosial ekonomi, keterbatasan infrastruktur, dinamika kelembagaan lokal, serta kebutuhan integrasi antara data sosial dan data spasial. Tugas Akhir Capstone ini bertujuan untuk menyusun metodologi pemetaan sosial yang dapat digunakan sebagai panduan teknis operasional dalam mendukung Penataan Akses Reforma Agraria pada kawasan kumuh perkotaan. Metodologi dikembangkan berdasarkan Petunjuk Teknis Penanganan ARA Tahun 2025 yang disesuaikan dengan karakteristik kawasan kumuh perkotaan, mencakup enam tahapan utama: persiapan, pengumpulan data, pengolahan data, penyusunan data, inventarisasi data, dan pelaporan data. Tahap persiapan meliputi kajian karakteristik sosial-ekonomi subjek, Focus Group Discussion dengan pemangku kepentingan, observasi lapangan, penyusunan Dokumen Profil Sosial Ekonomi, penentuan subjek, geotagging prapelaksanaan, serta penyusunan instrumen adaptif. Tahap pengolahan dan penyusunan data mencakup tabulasi hasil wawancara, analisis statistik deskriptif, asesmen kelembagaan subjek, analisis SWOT, analisis pemangku kepentingan, pemilihan model penataan akses, serta penyusunan peta sosial berbasis lima indeks sosial multidimensi dan indeks spasial yang diolah menggunakan QGIS. Produk yang dihasilkan berupa dokumen metodologi yang dilengkapi alur kerja, instrumen adaptif, format tabulasi, mekanisme kendali mutu, serta ketentuan penyajian laporan dan peta sosial. Dokumen ini diharapkan dapat membantu pelaksana kegiatan dalam menjalankan pemetaan sosial secara lebih sistematis, terdokumentasi, dan sesuai dengan kebutuhan Penataan Akses Reforma Agraria pada kawasan kumuh perkotaan. Dengan demikian, metodologi yang dikembangkan dapat menjadi dasar awal bagi standardisasi pelaksanaan pemetaan sosial yang lebih terarah, terukur, dan dapat direplikasi pada lokasi serupa

2026
πŸ‘€ Penulis: Khairina Schatz Muchsis
🏷️ Pemetaan Sosial 🏷️ Reformasi Agraria 🏷️ Penataan Akses

PETA SOSIAL SUBJEK REFORMA AGRARIA DALAM RANGKA PENATAAN AKSES KAWASAN KUMUH PERKOTAAN DI KAMPUNG BUGISAN, KOTA PEKALONGAN

Pemetaan sosial merupakan serangkaian proses untuk mengidentifikasi dan memahami kondisi subjek Reforma Agraria guna menentukan bentuk pendampingan usaha yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Pada kawasan kumuh perkotaan, pelaksanaan pemetaan sosial membutuhkan metodologi yang lebih terstruktur karena karakteristik wilayahnya kompleks, meliputi kepadatan permukiman, kerentanan sosial ekonomi, keterbatasan infrastruktur, dinamika kelembagaan lokal, serta kebutuhan integrasi antara data sosial dan data spasial. Tugas Akhir Capstone ini bertujuan untuk menyusun metodologi pemetaan sosial yang dapat digunakan sebagai panduan teknis operasional dalam mendukung Penataan Akses Reforma Agraria pada kawasan kumuh perkotaan. Metodologi dikembangkan berdasarkan Petunjuk Teknis Penanganan ARA Tahun 2025 yang disesuaikan dengan karakteristik kawasan kumuh perkotaan, mencakup enam tahapan utama: persiapan, pengumpulan data, pengolahan data, penyusunan data, inventarisasi data, dan pelaporan data. Tahap persiapan meliputi kajian karakteristik sosial-ekonomi subjek, Focus Group Discussion dengan pemangku kepentingan, observasi lapangan, penyusunan Dokumen Profil Sosial Ekonomi, penentuan subjek, geotagging prapelaksanaan, serta penyusunan instrumen adaptif. Tahap pengolahan dan penyusunan data mencakup tabulasi hasil wawancara, analisis statistik deskriptif, asesmen kelembagaan subjek, analisis SWOT, analisis pemangku kepentingan, pemilihan model penataan akses, serta penyusunan peta sosial berbasis lima indeks sosial multidimensi dan indeks spasial yang diolah menggunakan QGIS. Produk yang dihasilkan berupa dokumen metodologi yang dilengkapi alur kerja, instrumen adaptif, format tabulasi, mekanisme kendali mutu, serta ketentuan penyajian laporan dan peta sosial. Dokumen ini diharapkan dapat membantu pelaksana kegiatan dalam menjalankan pemetaan sosial secara lebih sistematis, terdokumentasi, dan sesuai dengan kebutuhan Penataan Akses Reforma Agraria pada kawasan kumuh perkotaan. Dengan demikian, metodologi yang dikembangkan dapat menjadi dasar awal bagi standardisasi pelaksanaan pemetaan sosial yang lebih terarah, terukur, dan dapat direplikasi pada lokasi serupa

2026
πŸ‘€ Penulis: Zharfan Fadhil
🏷️ Pemetaan Sosial 🏷️ Penataan Akses Reforma Agraria 🏷️ Kawasan Kumuh Perkotaan

PETA SOSIAL SUBJEK REFORMA AGRARIA DALAM RANGKA PENATAAN AKSES KAWASAN KUMUH PERKOTAAN DI KAMPUNG BUGISAN, KOTA PEKALONGAN

Pemetaan sosial merupakan serangkaian proses untuk mengidentifikasi dan memahami kondisi subjek Reforma Agraria guna menentukan bentuk pendampingan usaha yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Pada kawasan kumuh perkotaan, pelaksanaan pemetaan sosial membutuhkan metodologi yang lebih terstruktur karena karakteristik wilayahnya kompleks, meliputi kepadatan permukiman, kerentanan sosial ekonomi, keterbatasan infrastruktur, dinamika kelembagaan lokal, serta kebutuhan integrasi antara data sosial dan data spasial. Tugas Akhir Capstone ini bertujuan untuk menyusun metodologi pemetaan sosial yang dapat digunakan sebagai panduan teknis operasional dalam mendukung Penataan Akses Reforma Agraria pada kawasan kumuh perkotaan. Metodologi dikembangkan berdasarkan Petunjuk Teknis Penanganan ARA Tahun 2025 yang disesuaikan dengan karakteristik kawasan kumuh perkotaan, mencakup enam tahapan utama: persiapan, pengumpulan data, pengolahan data, penyusunan data, inventarisasi data, dan pelaporan data. Tahap persiapan meliputi kajian karakteristik sosial-ekonomi subjek, Focus Group Discussion dengan pemangku kepentingan, observasi lapangan, penyusunan Dokumen Profil Sosial Ekonomi, penentuan subjek, geotagging prapelaksanaan, serta penyusunan instrumen adaptif. Tahap pengolahan dan penyusunan data mencakup tabulasi hasil wawancara, analisis statistik deskriptif, asesmen kelembagaan subjek, analisis SWOT, analisis pemangku kepentingan, pemilihan model penataan akses, serta penyusunan peta sosial berbasis lima indeks sosial multidimensi dan indeks spasial yang diolah menggunakan QGIS. Produk yang dihasilkan berupa dokumen metodologi yang dilengkapi alur kerja, instrumen adaptif, format tabulasi, mekanisme kendali mutu, serta ketentuan penyajian laporan dan peta sosial. Dokumen ini diharapkan dapat membantu pelaksana kegiatan dalam menjalankan pemetaan sosial secara lebih sistematis, terdokumentasi, dan sesuai dengan kebutuhan Penataan Akses Reforma Agraria pada kawasan kumuh perkotaan. Dengan demikian, metodologi yang dikembangkan dapat menjadi dasar awal bagi standardisasi pelaksanaan pemetaan sosial yang lebih terarah, terukur, dan dapat direplikasi pada lokasi serupa

2026
πŸ‘€ Penulis: Kayla Annisa Supangkat
🏷️ Pemetaan Sosial 🏷️ Reformasi Agraria 🏷️ Penataan Akses

PERANCANGAN INDONESIA GASTRONOMI CENTER BERBASIS PENGALAMAN RUANG

Indonesia memiliki kuliner dengan warisan budaya dengan nilai sejarah, sosial, dan ekonomi yang tinggi , namun di tengah tengah gempuran makanan modern minat anak-anak terhadap makanan khas Indonesia jadi menurun. Diperlukannya media edukasi yang inovatif dan menarik untuk memperkenalkan serta melestarikannya kepada generasi muda sekarang. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah Gastronomi Center berbasis pengalaman ruang untuk mentransformasi paradigma museum dari ruang observasi menjadi ruang interaktif dan partisipatif. Konsep pengalaman ruang dipilih sebagai strategi utama perancangan untuk mengubah pengalaman berkunjung museum dari sekedar hanya melihat saja menjadi berinteraksi, bereksplorasi dan berkreasi. Pengunjung akan diajak untuk melakukan berbagai macam aktivitas seperti eksplorasi tekstur dari bahan-bahan masak lokal, storytelling interaktif tentang sejarah makanan, permainan edukatif berbasis teknologi, dan simulasi memasak. Metode perancangan yang digunakan meliputi studi literatur mengenai museum, gastronomi dan kuliner Indonesia, observasi perilaku masyarakat, serta analisis kebutuhan dan fasilitas pendukung. Diharapkan Indonesia Gastronomi Center ini dapat meningkatkan minat masyarakat terutama generasi muda terhadap makanan lokal. Dengan desain yang interaktif dan aktivitas yang menyenangkan dapat membantu meningkatkan indera anak-anak dan meningkatkan rasa ingin tahu mereka. Dan perancangan gastronomi center kuliner khas Indonesia ini dapat menjadi sarana edukasi dan rekreasi yang efektif, sehingga dapat menanamkan rasa cinta dan kesadaran terhadap pelestarian kuliner Indonesia pada generasi penerus.

2026
πŸ‘€ Penulis: Rayna Putri Shafira
🏷️ Kuliner 🏷️ Museum Digital 🏷️ Edukasi Makanan

PENYUSUNAN KERANGKA KERJA ANALISIS EMBODIED CARBON BERBASIS BIM PADA INFRASTRUKTUR JALAN TOL

Sektor konstruksi menyumbang sekitar 37% emisi CO? global, dan sebagian besar berasal dari embodied carbon material struktural yang hampir tidak pernah dihitung pada tahap perencanaan. Di Indonesia, pembangunan jalan tol terus berlangsung dalam skala besar tanpa mekanisme kuantifikasi jejak karbon yang terstandar, sementara target dekarbonisasi nasional membutuhkan data emisi yang dapat diukur dan diverifikasi. Penelitian ini menyusun dan mengevaluasi kerangka kerja analisis embodied carbon berbasis Building Information Modeling (BIM) untuk infrastruktur jalan tol, sebagai panduan bagi praktisi dalam mengintegrasikan analisis jejak karbon sejak tahap perencanaan awal. Studi kasus dilakukan pada Ramp 1 Junction Palembang, sebuah struktur jalan tol layang penuh sepanjang 2,796 km dengan komposisi pileslab 71,21% dan jembatan 28,79% di Provinsi Sumatera Selatan. Analisis embodied carbon dilakukan dalam lingkup A1–A3 (cradle-to-gate) menggunakan dua metode: perhitungan manual berbasis faktor emisi EPD sebagai metode referensi, dan perhitungan semi-otomatis menggunakan plugin Tally pada Autodesk Revit sebagai metode yang diuji. Perbandingan dilakukan melalui pengecekan konsistensi massa material dan uji statistik deskriptif (ME, MAE, RMSE, NRMSE, MAPE), serta penilaian kelayakan operasional berdasarkan lima parameter oleh tiga narasumber eksternal. Penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, pengecekan konsistensi massa membuktikan bahwa Tally membaca volume material dari model BIM dengan tepat, sehingga seluruh perbedaan hasil emisi antar metode bersumber dari perbedaan faktor emisi antar database, bukan dari kesalahan pembacaan geometri. Kedua, selisih total sebesar 5,55% dengan NRMSE 2,27% menunjukkan konsistensi yang kuat antara kedua metode pada skala proyek secara keseluruhan, meskipun MAPE admixture mencapai 72,87% akibat perbedaan definisi material antar database. Intensitas emisi yang dihasilkan sebesar 8.193 tCO?e/km/lane yang sudah melampaui seluruh studi referensi internasional, yang menunjukkan bahwa jalan tol layang di Indonesia memiliki intensitas karbon yang tinggi namun belum pernah diukur secara sistematis. Ketiga, penilaian kelayakan operasional menunjukkan bahwa metode semi-otomatis lebih unggul dalam efisiensi dan kemudahan estimasi, sementara metode manual lebih unggul dalam transparansi data, fleksibilitas database, dan aksesibilitas. Berdasarkan temuan tersebut, disusun kerangka kerja empat tahap yang terdiri dari persiapan model BIM, analisis dan optimasi desain awal, penyusunan database faktor emisi proyek, serta perhitungan akhir dan pelaporan. Kerangka ini menempatkan kedua metode secara strategis sesuai fase proyek. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan metodologi analisis embodied carbon berbasis BIM yang sesuai dengan konteks infrastruktur Indonesia, sekaligus mendorong pentingnya pembangunan database inventori siklus hidup nasional dan kewajiban EPD dalam dokumen tender.

2026
πŸ‘€ Penulis: Kristofer Febrianto Marpaung
🏷️ Analisis Embodied Carbon 🏷️ Infrastruktur Jalan Tol 🏷️ Kecerdasan Buatan

PETA SOSIAL SUBJEK REFORMA AGRARIA DALAM RANGKA PENATAAN AKSES KAWASAN KUMUH PERKOTAAN DI KAMPUNG BUGISAN, KOTA PEKALONGAN

Pemetaan sosial merupakan serangkaian proses untuk mengidentifikasi dan memahami kondisi subjek Reforma Agraria guna menentukan bentuk pendampingan usaha yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Pada kawasan kumuh perkotaan, pelaksanaan pemetaan sosial membutuhkan metodologi yang lebih terstruktur karena karakteristik wilayahnya kompleks, meliputi kepadatan permukiman, kerentanan sosial ekonomi, keterbatasan infrastruktur, dinamika kelembagaan lokal, serta kebutuhan integrasi antara data sosial dan data spasial. Tugas Akhir Capstone ini bertujuan untuk menyusun metodologi pemetaan sosial yang dapat digunakan sebagai panduan teknis operasional dalam mendukung Penataan Akses Reforma Agraria pada kawasan kumuh perkotaan. Metodologi dikembangkan berdasarkan Petunjuk Teknis Penanganan ARA Tahun 2025 yang disesuaikan dengan karakteristik kawasan kumuh perkotaan, mencakup enam tahapan utama: persiapan, pengumpulan data, pengolahan data, penyusunan data, inventarisasi data, dan pelaporan data. Tahap persiapan meliputi kajian karakteristik sosial-ekonomi subjek, Focus Group Discussion dengan pemangku kepentingan, observasi lapangan, penyusunan Dokumen Profil Sosial Ekonomi, penentuan subjek, geotagging prapelaksanaan, serta penyusunan instrumen adaptif. Tahap pengolahan dan penyusunan data mencakup tabulasi hasil wawancara, analisis statistik deskriptif, asesmen kelembagaan subjek, analisis SWOT, analisis pemangku kepentingan, pemilihan model penataan akses, serta penyusunan peta sosial berbasis lima indeks sosial multidimensi dan indeks spasial yang diolah menggunakan QGIS. Produk yang dihasilkan berupa dokumen metodologi yang dilengkapi alur kerja, instrumen adaptif, format tabulasi, mekanisme kendali mutu, serta ketentuan penyajian laporan dan peta sosial. Dokumen ini diharapkan dapat membantu pelaksana kegiatan dalam menjalankan pemetaan sosial secara lebih sistematis, terdokumentasi, dan sesuai dengan kebutuhan Penataan Akses Reforma Agraria pada kawasan kumuh perkotaan. Dengan demikian, metodologi yang dikembangkan dapat menjadi dasar awal bagi standardisasi pelaksanaan pemetaan sosial yang lebih terarah, terukur, dan dapat direplikasi pada lokasi serupa

2026
πŸ‘€ Penulis: Raden Ajeng Athala Zabrina R.H
🏷️ Reform Agraria 🏷️ Pemetaan Sosial 🏷️ Penataan Akses

PERANCANGAN PUSAT KEBUDAYAAN POP KOREA SEBAGAI TEMPAT HIBURAN DAN BELAJAR DI BANDUNG DENGAN PENDEKATAN TEORI TEMPAT KETIGA

Perkembangan budaya populer Korea (K-pop) di Indonesia memicu terbentuknya berbagai komunitas penggemar yang aktif menyelenggarakan kegiatan seperti acara kumpul sesama penggemar (fans gathering), dance cover, nonton dan nyanyi bersama, hingga K-market di berbagai daerah di Indonesia terutama kota-kota besar, termasuk Bandung. Berdasarkan hasil wawancara dengan dua komunitas penggemar K-pop yang khusus menyelenggarakan acara mengatakan bahwa minimnya ruang yang dikhususkan untuk penggemar K-pop berkumpul mengadakan acara. Hasil survei lapangan yang dilakukan pada acara komunitas penggemar K-pop yaitu Dopamin Market dengan kuesioner secara acak pada pengunjung yang datang (114 responden) menunjukkan alasan terbanyak menyukai K-pop untuk hiburan pelarian dari stress sekaligus sumber motivasi belajar. Namun, masih beredar di kalangan masyarakat Indonesia tentang stereotip negatif terhadap penggemar K-pop. Oleh karena itu, perancangan pusat kebudayaan pop Korea diperlukan sebagai sarana hiburan, berkumpul, dan belajar yang ditujukan tidak hanya untuk penggemar tetapi juga masyarakat awam. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan ruang aman (safe space) khusus untuk orang yang menggemari dan yang tertarik dengan K-pop sebagai tempat hiburan dan belajar di Bandung dengan pendekatan teori tempat ketiga (third place theory) yang mana ruang komunitas sebagai β€œruang ketiga” di luar rumah dan sekolah/kerja. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi fasilitas sejenis, serta survei dan wawancara pada komunitas Extraverse, Dopamin Market, dan T-Space.

2026
πŸ‘€ Penulis: Audita Nurrafa
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PERANCANGAN PUSAT KESEHATAN DAN RELAKSASI DENGAN PENDEKATAN MULTISENSORI SEBAGAI REPRESENTASI KEARIFAN LOKAL NUSANTARA

Perkembangan modern yang berlangsung cepat, disertai tekanan pekerjaan, kemacetan lalu lintas, penurunan kualitas lingkungan, serta tingginya paparan teknologi digital, berkontribusi terhadap meningkatnya tingkat stres dan kelelahan mental masyarakat urban, terutama pekerja kantoran. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan akan ruang yang mampu memulihkan keseimbangan fisik dan psikis secara menyeluruh. Perancangan Wellness Center menjadi salah satu solusi yang menawarkan pengalaman relaksasi dan penyembuhan diri melalui penciptaan ruang dengan atmosfer yang menenangkan. Pendekatan multisensori dalam desain Wellness Center berperan penting dalam membangun pengalaman ruang yang mendukung proses pemulihan, melalui aktivasi pancaindra seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan perasa. Metode perancangan meliputi studi literatur, observasi lapangan, serta analisis terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan konteks budaya Indonesia. Hasil perancangan menghasilkan konsep ruang yang memadukan nilai tradisional dengan prinsip desain modern untuk menciptakan suasana relaksasi yang imersif. Integrasi antara stimulus multisensori dan kearifan lokal diharapkan mampu menghadirkan pengalaman penyembuhan sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan budaya dalam kehidupan masyarakat modern.

2026
πŸ‘€ Penulis: Yasmin Syafiah Saline
🏷️ Kesehatan Mental 🏷️ Desain Multisensori 🏷️ Akar Budaya Indonesia

PERANCANGAN LIBING MUSEUM TATO : EDUKASI DAN PELESTARIAN TATO NUSANTARA

Tato tradisional Nusantara merupakan warisan budaya yang mengandung nilai identitas, spiritualitas, dan sejarah pada berbagai masyarakat adat di Indonesia, seperti Mentawai, Dayak, dan Papua. Namun, modernisasi dan stigma sosial terhadap tato menyebabkan berkurangnya pemahaman masyarakat terhadap makna budaya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, diperlukan sebuah wadah yang mampu mengedukasi sekaligus mendukung pelestarian tato Nusantara. Perancangan ini bertujuan menghadirkan Living Museum Tato sebagai sarana edukasi dan pelestarian budaya melalui pengalaman ruang yang interaktif dan imersif. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi, wawancara, dan analisis kebutuhan ruang. Konsep living museum diterapkan untuk menampilkan dokumentasi, sejarah, proses, dan perkembangan tato Nusantara secara kontekstual sehingga pengunjung dapat memahami tato sebagai praktik budaya yang hidup. Hasil perancangan menghadirkan Living Museum Tato sebagai ruang edukasi dan pelestarian budaya yang dirancang untuk memfasilitasi masyarakat dalam memahami sejarah, nilai budaya, serta perkembangan tato Nusantara melalui pengalaman ruang yang interaktif dan imersif.

2026
πŸ‘€ Penulis: Lintang Ardhi Nugroho
🏷️ Kebudayaan 🏷️ Edukasi Budaya 🏷️ Pelestarian Warisan Budaya

PERANCANGAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK KOTA DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING DAN INKLUSIVITAS: STUDI KASUS DI TAMAN TEGALLEGA, KOTA BANDUNG

Pertumbuhan kota yang pesat sering kali mengakibatkan menurunnya kualitas interaksi sosial dan keseimbangan ekologis di kawasan perkotaan. Dalam konteks tersebut, ruang terbuka hijau publik (RTH publik) memiliki peran vital sebagai wadah rekreasi, interaksi sosial, serta penunjang fungsi ekologis kota. Kota Bandung, sebagai kota metropolitan dengan kepadatan tinggi, menghadapi tantangan dalam mempertahankan proporsi dan kualitas RTH yang dapat diakses secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat. Salah satu ruang terbuka utama yang memiliki nilai sejarah, ekologis, sekaligus sosial adalah Taman Tegallega, yang saat ini menunjukkan gejala penurunan fungsi dan identitas akibat tekanan aktivitas urban, ketidakteraturan penggunaan ruang, dan kurangnya keterhubungan antar elemen ruang. Permasalahan tersebut mendorong perlunya perancangan ulang kawasan dengan pendekatan yang menempatkan manusia dan makna ruang sebagai pusat pengembangan, yaitu melalui konsep placemaking dan prinsip inklusivitas. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arah perancangan lanskap Taman Tegallega Bandung sebagai ruang terbuka hijau publik yang aktif, inklusif, dan memiliki identitas tempat yang kuat. Pendekatan placemaking digunakan untuk menggali potensi ruang melalui dimensi pengalaman, aktivitas, dan makna sosial pengguna, sementara prinsip inklusivitas diterapkan untuk memastikan akses dan keterlibatan setara bagi seluruh kelompok masyarakat tanpa memandang usia, gender, atau latar sosial. Secara khusus, penelitian ini berupaya menjawab bagaimana prinsip placemaking dan inklusivitas dapat diterjemahkan ke dalam elemen fisik dan non-fisik lanskap taman kota, agar ruang publik dapat berfungsi optimal sebagai ruang hidup bersama (shared space). Metode yang digunakan mencakup tahapan site inventory, site analysis, dan conceptual design. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara informal dengan pengguna taman, serta telaah literatur mengenai teori placemaking, desain inklusif, dan kebijakan tata ruang kota. Aspek yang dianalisis meliputi kondisi fisik (topografi, sirkulasi, vegetasi), aspek sosial (pola aktivitas, persepsi pengguna, interaksi sosial), serta aspek kebijakan (RTRW dan RDTR Kota Bandung). Analisis dilakukan dengan pendekatan opportunities and constraints serta significance and suitability, untuk mengidentifikasi potensi dan masalah utama kawasan sebagai dasar perumusan konsep perancangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Taman Tegallega memiliki posisi strategis di pusat Kota Bandung, dengan potensi ekologis dan sejarah yang kuat, namun menghadapi degradasi fungsi ruang akibat aktivitas yang tidak terkelola dan kurangnya integrasi antar zona. Taman ini cenderung berfungsi sebagai ruang transit ketimbang ruang interaksi, dengan distribusi aktivitas yang tidak merata dan area kosong yang belum termanfaatkan optimal. Berdasarkan telaah tata ruang, kawasan ini termasuk dalam zona β€œRuang Terbuka Non Hijau (Sarana Olahraga)” dalam RTRW Kota Bandung, yang mengizinkan aktivitas publik non-komersial namun tetap menekankan fungsi hijau dan sosial. Perancangan yang diusulkan menekankan tiga strategi utama, yaitu: (1) Rekontekstualisasi makna ruang publik melalui penerapan prinsip placemaking yang menghidupkan kembali identitas lokal dan memfasilitasi pengalaman ruang yang beragam; (2) Perancangan ruang yang inklusif dengan memastikan akses universal, keberagaman fasilitas, serta distribusi ruang yang adil bagi semua kelompok pengguna; dan (3) Penguatan sistem ekologis dan konektivitas kota melalui pengelolaan vegetasi adaptif, sirkulasi pedestrian dan sepeda yang terhubung, serta integrasi elemen biru-hijau. Pendekatan placemaking yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada fisik ruang, tetapi juga menekankan keterlibatan pengguna dalam membentuk identitas dan makna taman. Dengan demikian, rancangan Taman Tegallega diarahkan menjadi ruang hidup yang terbuka, nyaman, dan inklusif serta membangun tempat masyarakat merasa memiliki dan berinteraksi secara setara. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan simultan konsep placemaking dan inklusivitas dalam konteks perancangan ruang terbuka hijau publik kota yang padat, dengan menggabungkan dimensi sosial, ekologis, dan kebijakan tata ruang secara terpadu. Hasil penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan teori dan praktik perancangan lanskap perkotaan di Indonesia, terutama dalam mewujudkan ruang publik yang berkelanjutan, beridentitas, dan inklusif. Selain itu, hasilnya diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah, akademisi, dan praktisi dalam merumuskan kebijakan maupun rancangan ruang terbuka hijau publik di kawasan perkotaan lain dengan karakter sosial yang serupa.

2026
πŸ‘€ Penulis: Helmy Annas Kharisma
🏷️ Ruang Terbuka Hijau Publik 🏷️ Placemaking 🏷️ Inklusi Sosial
Halaman 79 dari 6754
πŸ’¬