📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR TERHADAP BAHAYA TSUNAMI
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.
PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.
HUBUNGAN KEPADATAN DAN KETERATURAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) DI TROTOAR DENGAN RESPONS AFEKTIF PEJALAN KAKI: PENDEKATAN FACIAL EMOTION RECOGNITION (FER)
Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di trotoar menimbulkan perdebatan karena dampaknya terhadap kualitas ruang pejalan kaki. Pengaruh tersebut bersifat kondisial bergantung pada tingkat kepadatan dan keteraturannya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan kepadatan dan keteraturan PKL di trotoar dengan respons afektif. Penelitian kuantitatif ini mengumpulkan data melalui observasi, image sorting untuk mendapatkan persepsi kepadatan dan keteraturan PKL, serta data respons afektif melalui FER dan kuesioner yang dianalisis menggunakan RM-ANOVA pada 20 responden. Hasilnya menunjukkan bahwa FER dan kuesioner menghasilkan pola yang sejalan, di mana afektif positif paling tinggi terbentuk pada kondisi kepadatan PKL sedang dan teratur, sedangkan afektif negatif muncul pada kepadatan PKL tinggi dan tidak teratur. Pembentukan kedua afektif tersebut dipengaruhi oleh beberapa aspek, seperti tingkat keteraturan, orientasi PKL, jumlah dan jarak PKL, sirkulasi pejalan kaki, dan keterisian trotoar oleh PKL. Hasil penelitian menunjukkan perlunya mempertimbangkan kepadatan dan keteraturan PKL melalui aspek-aspeknya dalam revitalisasi trotoar di DKI Jakarta yang direncanakan mengakomodasi PKL.
PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.
PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR TERHADAP BAHAYA TSUNAMI
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.
PEMBANGUNAN DASHBOARD RISIKO OPERASI INFRASTRUKTUR PESISIR TERHADAP BAHAYA TSUNAMI
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan tsunami yang tinggi akibat aktivitas tektonik pada zona subduksi. Infrastruktur pesisir strategis, seperti pelabuhan dan fasilitas industri pesisir, memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi logistik nasional sehingga kerusakan akibat tsunami dapat menimbulkan dampak operasional, ekonomi, dan sosial yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara terintegrasi untuk mendukung proses mitigasi dan pengambilan keputusan. Proyek capstone ini bertujuan untuk mengembangkan Dashboard Indonesia Tsunami Risk Monitoring for Coastal Infrastructure (INAMI) sebagai platform visualisasi dan informasi risiko tsunami pada infrastruktur pesisir. Dashboard dikembangkan dengan mengintegrasikan hasil pemodelan bahaya tsunami, analisis kerentanan, dan analisis keterpaparan infrastruktur. Data bahaya tsunami diperoleh dari hasil simulasi menggunakan perangkat lunak COMCOT dengan pendekatan skenario terburuk (worst-case scenario), sedangkan analisis risiko dilakukan melalui integrasi komponen bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability) menggunakan pendekatan fragility curve, dan keterpaparan (exposure). Hasil analisis kemudian diolah menjadi dataset spasial yang disajikan melalui dashboard berbasis web. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa Dashboard INAMI mampu menyajikan informasi bahaya dan risiko tsunami secara interaktif, terstruktur, dan mudah diakses oleh pengguna. Sistem yang dikembangkan diharapkan dapat mendukung kegiatan mitigasi bencana, evaluasi risiko, serta pengambilan keputusan pada pengelolaan infrastruktur yang berisiko terdampak tsunami.
PERANCANGAN FASILITAS EDUWISATA BUDIDAYA RUMPUT LAUT MELALUI PENDEKATAN COMMUNITY BASED TOURISM (CBT) DI TANJUNG PALLETTE, KABUPATEN BONE
Sektor pariwisata memegang peranan krusial dalam pembangunan nasional, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pengembangan pariwisata diarahkan pada pendekatan berkelanjutan yang mengintegrasikan fungsi edukatif dan ekonomi berbasis potensi lokal. Kabupaten Bone, sebagai salah satu daerah terluas di Provinsi Sulawesi Selatan, memiliki potensi besar baik di sektor pariwisata dengan total kunjungan sebesar 83.957 kunjungan. Aktivitas pariwisata utamanya berpusat di Tanjung Pallette dan menjadi kawasan wisata yang paling banyak dikunjungi di Kabupaten Bone yaitu 37.700 kunjungan pada tahun 2021. Selain memiliki potensi besar di sektor pariwisata, Kabupaten Bone juga memiliki potensi besar budidaya rumput laut. Pada tahun 2023, budidaya rumput laut Kabupaten Bone mencapai 416 ribu ton dengan nilai jual yang signifikan. Tanjung Pallette sebagai kawasan wisata juga menjadi tempat budidaya rumput dan menjadi mata pencaharian bagi 90% masyarakat lokal yang ada disana. Namun, aktivitas budidaya tersebut justru menjadi masalah bagi sektor pariwisata. Hal ini terjadi karena pengembangan kawasan wisata Tanjung Pallette tidak sesuai dengan karakteristik kawasan dan ketiadaan integrasi antara aktivitas pariwisata yang berpusat di Tanjung Pallette dengan budidaya rumput laut yang dilakukan oleh mayoritas penduduk setempat. Selain itu, tidak ada keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat lokal terhadap aktivitas pariwisata. Oleh karena itu, diperlukan sebuah solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sebuah solusi yang dapat menyatukan sektor pariwisata dan budidaya rumput laut demi menciptakan nilai tambah dan keberlanjutan serta memperkuat pengembangan karakteristik kawasan wisata Tanjung Pallette. Untuk itu, tesis ini berfokus pada perancangan fasilitas eduwisata budidaya rumput laut di Tanjung Pallette. Fasilitas ini dirancang untuk menjadi jembatan yang menyatukan pariwisata dengan aktivitas budidaya rumput laut. Tujuannya adalah menciptakan destinasi wisata yang unik tanpa menghilangkan aktivitas budidaya, memberikan manfaat ekonomi dan sosial secara langsung bagi masyarakat lokal, serta memberikan pengalaman edukatif bagi wisatawan agar dapat belajar dan berinteraksi langsung dengan proses budidaya rumput laut dari awal hingga akhir. Perancangan ini menggunakan pendekatan Community Based Tourism (CBT). Dengan pendekatan ini, masyarakat lokal tidak hanya menjadi objek tetapi juga subjek utama dalam pengelolaan pariwisata. Keterlibatan aktif masyarakat lokal mulai dari proses perencanaan hingga operasional agar menumbuhkan rasa kepemilikan dan memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pariwisata dapat dirasakan secara langsung dan merata. Pendekatan ini juga memastikan keberlanjutan sosial dan lingkungan, di mana praktik budidaya rumput laut dan aktivitas pariwisata dapat saling mendukung tanpa merusak ekosistem pesisir. Secara keseluruhan, perancangan fasilitas eduwisata ini bertujuan untuk menciptakan model pariwisata yang terpadu dan berkelanjutan. Fasilitas ini akan menjadikan budidaya rumput laut dari pengganggu pariwisata menjadi daya tarik utama. Dampaknya diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat Tanjung Pallette, serta menjadikan Kabupaten Bone sebagai contoh pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal.
PERUBAHAN PERMUKIMAN DAN PERAN KAPASITAS LOKAL DALAM KEBERLANJUTAN PERMUKIMAN ADAT DI PERI-URBAN: STUDI KASUS KAMPUNG MAHMUD, KABUPATEN BANDUNG
Permukiman adat di kawasan peri-urban menghadapi tekanan transformasi yang berasal dari urbanisasi, perkembangan ekonomi, dan migrasi penduduk. Tekanan tersebut dapat menggeser bentuk fisik, struktur sosial, serta nilai-nilai adat yang menjadi identitas permukiman. Kampung Mahmud, yang berada di Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, merupakan salah satu permukiman adat di kawasan peri-urban yang mengalami perubahan signifikan, terutama setelah dibangunnya jembatan utama pada tahun 2007 dan penetapan kampung sebagai bagian dari desa wisata religi. Berbeda dengan kajian permukiman adat yang umumnya berfokus pada kampung dengan lembaga adat formal seperti Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Naga, atau Kampung Baduy, Kampung Mahmud memiliki karakter khas berupa ketiadaan aturan adat tertulis maupun lembaga adat formal, kepemimpinan adat yang berbasis keturunan langsung dari pendiri kampung, serta identitas yang berbasis pada nilai spiritual keagamaan. Karakter khas ini menempatkan Kampung Mahmud sebagai kasus yang menarik untuk memahami bagaimana keberlanjutan permukiman adat dapat dijaga tanpa mengandalkan lembaga adat formal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan permukiman yang terjadi di Kampung Mahmud beserta faktor pendorongnya, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan kampung sebagai permukiman adat, serta menganalisis peran kapasitas lokal dalam menjaga keberlanjutan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, dokumentasi visual, pemetaan sederhana, wawancara mendalam, serta kuesioner pendukung yang datanya diinterpretasikan secara kualitatif dan secara kuantitatif dengan distribusi sederhana. Sampel penelitian mencakup 45 unit hunian yang terbagi atas tiga kategori, yaitu hunian vernakular dan semi-vernakular, hunian transisi, dan hunian non-vernakular, masing-masing 15 unit, serta 10 informan kunci yang dipilih secara purposive. Kerangka teoretis yang digunakan terdiri atas teori Ekistics (Doxiadis, 1970) untuk membaca lima unsur pembentuk permukiman, teori transformasi lingkungan binaan (Habraken, 1998) untuk membaca perubahan hunian, konsep kapasitas lokal (UNDP, 2009; Epps, 2002) dan pendekatan SARC (Sashkova, 2024) untuk membaca peran masyarakat, serta indikator keberlanjutan permukiman adat (Scott, 1998) untuk menilai tingkat keberlanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan permukiman Kampung Mahmud terjadi pada seluruh unsur Ekistics dengan kecepatan paling tinggi pada periode setelah tahun 2007. Pada unsur alam, sawah hampir hilang, kebun menyusut, dan buruan imah berkurang drastis. Pada unsur manusia, terjadi pergeseran komposisi penduduk dan menurunnya minat generasi muda terhadap praktik adat. Pada unsur masyarakat, kepemimpinan adat tetap dipegang oleh sesepuh, sedangkan struktur formal dipegang oleh RT dan RW. Pada unsur cangkang, mayoritas hunian sudah mengalami transformasi parsial menuju non-vernakular. Pada unsur jaringan, terjadi penguatan jaringan wisata religi dan pelemahan jaringan pengetahuan tradisional. Berdasarkan lima indikator keberlanjutan Scott (1998), penilaian dilakukan secara mandiri untuk setiap indikator dan menunjukkan bahwa satu indikator masih terjaga, yaitu keberagaman fungsi dan struktur, sementara empat indikator lainnya mengalami pelemahan pada aspek-aspek tertentu, yaitu keberlanjutan pada dimensi lingkungan alam, ketahanan sosial-budaya pada regenerasi pengetahuan kepada generasi muda, kemampuan inovasi bertahap pada tradisi pembangunan dengan material lokal, serta jaringan sosial dan lembaga lokal pada praktik pembangunan hunian meskipun kegiatan keagamaan kolektif masih berjalan. Pemetaan peran kapasitas lokal ke dalam lima elemen pembentuk permukiman menunjukkan bahwa kapasitas lokal bekerja secara utuh hanya pada elemen jaringan, sedangkan pada empat elemen lainnya, yaitu alam, manusia, masyarakat, dan cangkang, kapasitas lokal bekerja terbatas pada aspek-aspek tertentu, dan keberlangsungan kampung sebagai permukiman adat sangat bergantung pada berlanjutnya jaringan pengetahuan informal dan jaringan wisata religi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan permukiman adat di kawasan peri-urban tidak bergantung pada bentuk fisik yang dipertahankan secara kaku, melainkan pada kapasitas lokal masyarakat yang bekerja sesuai jenis ruang yang berubah. Kapasitas lokal tersebut tidak harus hadir dalam bentuk lembaga adat formal, melainkan dapat berupa peran simbolik tetua adat, kesadaran masing-masing penghuni, dan musyawarah bersama dalam pengelolaan ruang umum. Namun, kemampuan beradaptasi ini memiliki batasan ketika tekanan datang dari luar sistem kampung, sehingga memerlukan dukungan eksternal. Kebaruan penelitian ini terletak pada tiga temuan, yaitu kapasitas lokal dapat berjalan tanpa lembaga adat formal, kapasitas lokal bekerja secara selektif sesuai jenis ruang, serta pemetaan peran kapasitas lokal ke dalam lima elemen Ekistics. Hasil penelitian ini menjadi rujukan bahwa permukiman adat di Indonesia tidak harus selalu memiliki aturan adat tertulis atau lembaga adat formal, sehingga pendekatan pelestarian dan kebijakan dapat lebih sesuai dengan karakter masing-masing permukiman.
UPCYCLING THE TIDE: EKOWISATA BAHARI SUKU BAJO BERBASIS BLUE ECONOMY SEBAGAI RESPON PARADOKS PESISIR DI KABUPATEN BONE
Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, memiliki potensi pariwisata bahari yang besar tetapi menghadapi dua permasalahan paradoks yang fundamental, yaitu degradasi ekosistem laut akibat akumulasi masif sampah dan hilangnya adat istiadat Suku Bajo di Bone yang seharusnya melestarikan laut. Kabupaten Bone menghasilkan 149.743 ton sampah tahunan dengan tingkat pengurangan hanya 14,8%, sehingga menyebabkan pencemaran pesisir yang krusial. Kondisi ini diperparah dengan temuan sampah plastik sebanyak 2,35 buah/m² di perairan laut Sulawesi pada tahun 2020. Ironisnya, krisis ini terjadi di wilayah Suku Bajo di Kelurahan Bajoe, di mana lebih dari 100 ton sampah rumah tangga mencemari lingkungan mereka sendiri, sementara kearifan bahari mereka sebagai penjaga laut semakin terkikis. Tesis ini bertujuan merancang fasilitas Ekowisata Bahari dengan pendekatan Blue Economy dalam menyelaraskan isu lingkungan, sosial, dan ekonomi. Pendekatan ini diwujudkan salah satunya melalui konsep upcycling yang secara fungsional mentransformasi sampah plastik laut menjadi material bangunan inovatif untuk digunakan dalam pembangunan rancangan sekaligus dipasarkan (Value Creation), sehingga menciptakan rantai nilai ekonomi baru yang lahir langsung dari proses pemulihan lingkungan. Perwujudan prinsip dalam Blue Economy juga hadir untuk memastikan manfaatnya dirasakan secara adil dan merata, dengan memposisikan komunitas Suku Bajo sebagai subjek dan aktor utama. Fasilitas yang dirancang menyediakan ruang-ruang untuk merevitalisasi kearifan bahari serta memberdayakan ekonomi komunitas melalui keterlibatan langsung dalam operasional wisata dan upcycling (Inclusivity). Aspek Sustainability juga diwujudkan dengan mengangkat kembali identitas budaya mereka melalui adopsi prinsip arsitektur vernakular pesisir yang bioklimatik. Rancangan ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah destinasi wisata yang otentik dan integratif, di mana keindahan pesisir dan narasi regenerasi lingkungan berdasarkan daya tarik Suku Bajo menjadi aspek utamanya, serta memberikan dampak positif bagi kesejahteraan komunitas Suku Bajo.
INVESTIGASI EMISI KARBON MATERIAL BIOMASSA PADA BANGUNAN KAYU REKAYASA PRODUK INDUSTRI DI INDONESIA
Sektor bangunan dan konstruksi merupakan salah satu kontributor terbesar emisi karbon global, menyumbang sekitar 37% emisi CO? dunia pada tahun 2022. Di Indonesia, industri manufaktur dan konstruksi menyumbang sekitar 21,46% emisi sektor energi nasional, sebagian besar berasal dari penggunaan material konvensional beremisi tinggi seperti beton dan baja. Pemerintah Indonesia menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% secara mandiri dan hingga 43,20% dengan dukungan internasional pada tahun 2030 melalui kerangka Nationally Determined Contributions (NDC). Pencapaian target tersebut membutuhkan transisi menuju material konstruksi rendah karbon. Kayu rekayasa produk industri muncul sebagai alternatif yang menjanjikan karena bersifat terbarukan, efisien dalam pemanfaatan bahan baku, serta mampu menyimpan karbon biogenik dalam jangka panjang. Namun, data emisi karbon kayu rekayasa di Indonesia masih sangat terbatas, belum terdokumentasi secara sistematis, dan belum terdapat Environmental Product Declaration (EPD) terverifikasi dari produsen lokal. Kondisi ini menyulitkan perencana dan pengambil kebijakan dalam menilai potensi material kayu rekayasa untuk mengurangi emisi karbon secara objektif. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi besaran emisi karbon material kayu rekayasa produk industri di Indonesia pada tahap sebelum bangunan digunakan, yaitu modul A1 hingga A5 yang mencakup pasokan bahan baku, transportasi bahan baku, manufaktur, transportasi produk ke lokasi konstruksi, dan proses konstruksi. Metode yang digunakan adalah Life Cycle Assessment (LCA) mengacu pada ISO 14040/14044, dan EN 15978:2011, dengan perhitungan karbon biogenik mengikuti EN 16449:2014. Tiga studi kasus dianalisis, yaitu Glulam pada Rumah Pluit Samudra di Jakarta, CLT pada Show Unit Modular di Pejaten, dan Blockwood pada Rumah Pascabencana Gasol di Cianjur, dengan unit fungsional 1 m³ produk terpasang. Data primer diperoleh melalui kunjungan lapangan, wawancara produsen, dan dokumen produksi, sedangkan data sekunder dilengkapi dari basis data emisi internasional dan EPD terverifikasi. Perhitungan Life Cycle Inventory (LCI) dilakukan secara manual berbasis Microsoft Excel agar setiap titik data dapat ditelusuri secara transparan. Hasil penelitian menunjukkan total emisi Global Warming Potential (GWP)-fosil pada modul A1-A5 sebesar 987,26 kg CO?e/m³ untuk Glulam, 904,29 kg CO?e/m³ untuk CLT, dan 840,55 kg CO?e/m³ untuk Blockwood. Modul A3 (manufaktur) menjadi penyumbang emisi terbesar pada seluruh studi kasus akibat konsumsi listrik selama proses produksi dan penggunaan perekat. Modul A1 menjadi kontributor terbesar kedua, tetapi perhitungannya menggunakan data asumsi dari literatur dan EPD terverifikasi. Penyimpanan karbon biogenik tertinggi ditemukan pada CLT sebesar 1.047,60 kg CO?e/m³, sedangkan Glulam dan Blockwood masing-masing 654,76 kg CO?e/m³. Setelah memperhitungkan karbon biogenik, CLT menghasilkan emisi neto -143,33 kg CO?e/m³ atau berperan sebagai penyerap karbon (carbon sink), sementara Glulam dan Blockwood tetap memiliki emisi neto positif namun jauh lebih rendah dibandingkan material konvensional setara seperti beton struktural. Kebaruan penelitian ini terletak pada penyediaan basis data emisi karbon material kayu rekayasa produk industri di Indonesia yang disusun berdasarkan data primer dari produsen lokal pada tiga jenis produk dengan karakteristik yang berbeda. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah berupa penyediaan nilai acuan awal yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan basis data emisi material bangunan nasional, penyusunan informasi lingkungan produk kayu rekayasa lokal, serta sebagai referensi bagi pengembangan kebijakan dan pengambilan keputusan dalam pemilihan material bangunan berdasarkan kinerja emisi karbon di Indonesia.
THE PSYCHOLOGY OF PLACE PADA DESAIN FASILITAS KULINER URBAN (STUDI PERSEPSI, MEMORI, DAN EKSPEKTASI PENGUNJUNG USIA PRODUKTIF DI DKI JAKARTA)
Pergeseran fungsi fasilitas kuliner urban menjadi ‘tempat ketiga’ bagi masyarakat usia produktif untuk memulihkan diri dari stres di wilayah megapolitan DKI Jakarta tidak diimbangi oleh praktik desain arsitektur yang saat ini hanya berfokus pada daya tarik visual semata dan mengabaikan pemenuhan kebutuhan psikologis pengguna. Pengabaian terhadap kebutuhan pengalaman psikologis karena mengejar tren desain Instagrammability berdampak pada cepat ditinggalkannya fasilitas kuliner tersebut oleh pengunjung, yang pada akhirnya memicu tingginya tingkat kegagalan bisnis kuliner. Merespons masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengoperasionalkan model The Psychology of Place dalam merumuskan kriteria desain arsitektur pada fasilitas kuliner urban yang mampu memenuhi kebutuhan psikologis pengunjung secara terukur dan berbasis bukti untuk desain yang berpusat pada manusia. Pengumpulan data dilakukan melalui pendekatan sequential mixed methods yang melibatkan penyebaran kuesioner daring terbuka kepada 300 responden pada tahap eksplorasi-kualitatif dan kuesioner berskala kepada 410 responden pada tahap eksplanatori-kuantitatif. Analisis data menggunakan teknik Conventional Content Analysis untuk tahap kualitatif untuk mengeksplorasi keberagaman komponen dalam model place fasilitas kuliner urban pada konteks DKI Jakarta, Correspondence Analysis dan Hierarchical Clustering untuk mengukur korelasi antara atribut sosial-ekonomi dan demografi dengan preferensi desain, serta Structural Equation Modeling dan regresi multivariat untuk tahap kuantitatif untuk menguji hubungan struktural antar komponen place. Penelitian ini menjabarkan dan menguraikan konsep conceptions dalam model The Psychology of Place yang sebelumnya abstrak menjadi tiga dimensi waktu, yaitu persepsi atau kondisi psikologis-emosional saat kunjungan, memori personal masa lalu, dan ekspektasi terhadap desain fasilitas kuliner urban di masa depan. Pengujian membuktikan bahwa physical attributes memengaruhi emosi positif dan sentimental dan memori tentang produk kuliner dan fisik lingkungan baik secara langsung maupun melalui activities sebagai perantara untuk memori tentang momen khusus dan reduksi emosi negatif. Tata ruang dalam yang efisien dan fungsional serta selubung dan tapak bangunan yang ikonik dan aksesibel mampu meningkatkan emosi positif pengunjung fasilitas kuliner urban. Emosi sentimental pengunjung saat berada di dalam tempat tersebut dipicu oleh penggunaan langgam dan material desain klasik-tradisional. Lebih lanjut, emosi positif dari kualitas tempat tersebut mendorong terbentuknya ekspektasi dari pengunjung terhadap pengalaman kuliner yang memuaskan desain fasilitas kuliner urban yang mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan subjektif masyarakat berusia produktif, sementara emosi sesaat terbukti tidak akan membentuk memori jangka panjang tanpa adanya kaitan dengan elemen desain arsitektural (physical attributes). Temuan penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan bidang studi arsitektur dengan memberikan kerangka panduan Evidence-Based Design yang terukur bagi arsitek dalam merencanakan dan merancang fasilitas kuliner yang berkelanjutan dan responsif terhadap pengalaman psikologis masyarakat urban.
PERSEPSI PENGGUNA TENTANG INKLUSIVITAS RUANG PUBLIK PASCA-REVITALISASI: STUDI KASUS KAWASAN OLAHRAGA GELORA BUNG KARNO (GBK)
Revitalisasi Kawasan Olahraga Gelora Bung Karno (GBK) pada tahun 2018 telah mentransformasi fasilitas olahraga ini menjadi ruang publik urban berskala masif di Jakarta. Namun, peningkatan infrastruktur fisik tidak selalu berbanding lurus dengan pemerataan akses secara sosial, memunculkan kesenjangan antara ketersediaan fasilitas dan keleluasaan pengguna dari berbagai latar belakang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persepsi pengguna terhadap tingkat inklusivitas GBK pasca-revitalisasi serta mengidentifikasi mekanisme pembentukan pengalaman yang terjalin dari interaksi antara pengguna dan ruang fisik. Menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif, penelitian ini mengintegrasikan analisis konten tematik dari narasi pengguna, pemetaan deskriptif, dan triangulasi statistik berskala makro terhadap data persepsi dari 108 responden usia produktif. Hasil analisis mengungkap bahwa pengalaman inklusivitas di GBK beroperasi dalam tiga lapisan hierarkis yaitu Infrastruktur Dasar, Kesetaraan Akses, dan Kenyamanan Psikologis. Di balik skor persepsi penerimaan sosial yang tinggi, ditemukan empat kondisi pembatas berupa kualitas akses masuk, keterjangkauan layanan komersial, dinamika penyelenggaraan acara, dan tingkat keakraban kawasan, yang secara halus menciptakan diferensiasi pengalaman bagi kelompok tertentu. Temuan ini merumuskan konsep inti Inklusivitas Bersyarat (Conditional Inclusivity), di mana hak publik atas ruang tetap terfasilitasi secara formal, namun keleluasaan beraktivitas dan terbentuknya rasa memiliki (sense of belonging) masih tertahan oleh faktor tata kelola ekonomi dan mobilitas. Sebagai kontribusi praktis, penelitian ini merumuskan sepuluh kriteria desain untuk mengoptimalkan keadilan dan pengalaman keruangan pada kawasan olahraga multifungsi pasca-revitalisasi.
KAJIAN PRINSIP ADAPTIVE REUSE DALAM PELESTARIAN BANGUNAN CAGAR BUDAYA STUDI KASUS: KANTOR POS BESAR BANDUNG
Sejumlah bangunan cagar budaya di Indonesia saat ini mengalami penurunan fungsi pemanfaatan yang menyebabkan keterbengkalaian serta mengancam keberlanjutan dari nilai historis dan arsitekturalnya. Adaptive reuse menjadi salah satu upaya pelestarian dengan penggunaan kembali bangunan cagar budaya dengan mengadaptasi fungsi baru tanpa menghilangkan signifikansi budayanya. Namun, penerapan adaptive reuse di Indonesia juga masih menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pelestarian nilai historis dengan kebutuhan kontemporer. Kantor Pos Besar Bandung merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang telah menerapkan adaptive reuse dengan tetap mempertahankan fungsi pelayanan kantor pos, sehingga fungsi baru hasil adaptasi dapat berjalan berdampingan dengan fungsi utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai historis Kantor Pos Besar Bandung sebagai landasan pelestarian, menganalisis penerapan adaptive reuse pada revitalisasi bangunan tersebut, serta memahami peran arsitek dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi evaluatif melalui studi kasus tunggal, yaitu Kantor Pos Besar Bandung. Data penelitian diperoleh melalui studi literatur, observasi lapangan, studi dokumen, dan wawancara dengan narasumber yang terdiri atas arsitek, pengelola gedung, dan komunitas filatelis. Sedangkan evaluasi terhadap penerapan adaptive reuse pada proses revitalisasi bangunan cagar budaya, dilakukan berdasarkan sintesis literatur, analisis tematik, dan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan adaptive reuse pada Kantor Pos Besar Bandung diwujudkan melalui lima prinsip utama yaitu nilai historis dan arsitektural, adaptasi spasial dan integrasi fisik, standardisasi teknis dan regulasi, aktivasi dan keterlibatan sosial, serta viabilitas ekonomi dan lingkungan. Kelima prinsip tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan adaptive reuse ditentukan oleh kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara nilai historis, kebutuhan fungsi baru, pemenuhan standar teknis, keterlibatan berbagai aktor, serta keberlanjutan pengelolaan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa arsitek berperan sebagai pengambil keputusan sekaligus mediator dalam menyeimbangkan kepentingan pelestarian, kebutuhan operasional, aspek teknis, serta keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Selain itu, penelitian ini memberikan pemahaman mengenai penerapan adaptive reuse pada bangunan cagar budaya yang tetap mempertahankan fungsi utamanya melalui integrasi fungsi pendamping tanpa menghilangkan identitas bangunan.
INTERACTIVE PLATFORM FOR THREE-DIMENSIONAL REPRESENTATION OFMULTIBEAM-SURVEYED UNDERWATER ARCHAEOLOGICAL SITES IN PANGGANGDISTRICT, SERIBU ISLANDS
Proyek tugas akhir ini menyajikan pengembangan sistem dokumentasi digital terintegrasi untuk dua situs arkeologi bawah air, yaitu bangkai kapal KM Tabularasa dan KM Poso, yang berlokasi di Kecamatan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Data batimetri resolusi tinggi diperoleh menggunakan Norbit WBMS X MBES dengan frekuensi standar 400 kHz, mengacu pada standar IHO S-44 Special Order yang telah disesuaikan, serta strategi survei pencitraan bangkai kapal multi-arah. Strategi ini menggabungkan jalur survei utama (main line), silang (cross line), dan miring (oblique line) untuk meningkatkan cakupan akustik terhadap struktur bangkai kapal yang kompleks, termasuk sisi lambung dan fitur dek. Data yang diperoleh diproses melalui alur kerja hidrografi yang lengkap, meliputi kalibrasi patch-test, koreksi pasang surut, koreksi sound velocity profile, pembersihan point cloud, registrasi swath-to-swath menggunakan algoritma PPP dan Fine Iterative Closest Point, gridding DEM, serta pembuatan mesh PSR. Produk spasial yang dihasilkan diintegrasikan ke dalam DIVE (Diving Into Vessel Exploration), sebuah platform WebGIS Storymap berbasis browser yang menggabungkan antarmuka peta 2D interaktif Leaflet dengan penampil point cloud dan mesh 3D berbasis Three.js. Platform ini didukung oleh frontend Next.js, GeoServer untuk publikasi data raster yang sesuai standar OGC, serta server tile 3D berbasis Potree. Modul Video Pengembangan WebGIS juga dihasilkan untuk mendukung reproduksibilitas metodologi dan transfer pengetahuan di lingkungan komunitas geodesi dan geomatika. Evaluasi pengguna yang melibatkan empat puluh enam responden untuk platform WebGIS dan dua puluh tujuh responden untuk modul video menghasilkan skor kelayakan terbobot sebesar Qw = 3.701 (92.532%) dan Qv =3.775 (94.369%), yang keduanya dikategorikan sebagai Sangat Layak. Proyek ini menunjukkan bahwa integrasi survei MBES definisi tinggi, visualisasi tiga dimensi, dan WebGIS Storymap yang dapat diakses publik dapat mendukung dokumentasi arkeologi bawah air, penelitian, pendidikan, pengambilan keputusan pemerintah, dan pengembangan ekowisata bahari.
INTERACTIVE PLATFORM FOR THREE-DIMENSIONAL REPRESENTATION OFMULTIBEAM-SURVEYED UNDERWATER ARCHAEOLOGICAL SITES IN PANGGANGDISTRICT, SERIBU ISLANDS
Proyek tugas akhir ini menyajikan pengembangan sistem dokumentasi digital terintegrasi untuk dua situs arkeologi bawah air, yaitu bangkai kapal KM Tabularasa dan KM Poso, yang berlokasi di Kecamatan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Data batimetri resolusi tinggi diperoleh menggunakan Norbit WBMS X MBES dengan frekuensi standar 400 kHz, mengacu pada standar IHO S-44 Special Order yang telah disesuaikan, serta strategi survei pencitraan bangkai kapal multi-arah. Strategi ini menggabungkan jalur survei utama (main line), silang (cross line), dan miring (oblique line) untuk meningkatkan cakupan akustik terhadap struktur bangkai kapal yang kompleks, termasuk sisi lambung dan fitur dek. Data yang diperoleh diproses melalui alur kerja hidrografi yang lengkap, meliputi kalibrasi patch-test, koreksi pasang surut, koreksi sound velocity profile, pembersihan point cloud, registrasi swath-to-swath menggunakan algoritma PPP dan Fine Iterative Closest Point, gridding DEM, serta pembuatan mesh PSR. Produk spasial yang dihasilkan diintegrasikan ke dalam DIVE (Diving Into Vessel Exploration), sebuah platform WebGIS Storymap berbasis browser yang menggabungkan antarmuka peta 2D interaktif Leaflet dengan penampil point cloud dan mesh 3D berbasis Three.js. Platform ini didukung oleh frontend Next.js, GeoServer untuk publikasi data raster yang sesuai standar OGC, serta server tile 3D berbasis Potree. Modul Video Pengembangan WebGIS juga dihasilkan untuk mendukung reproduksibilitas metodologi dan transfer pengetahuan di lingkungan komunitas geodesi dan geomatika. Evaluasi pengguna yang melibatkan empat puluh enam responden untuk platform WebGIS dan dua puluh tujuh responden untuk modul video menghasilkan skor kelayakan terbobot sebesar Qw = 3.701 (92.532%) dan Qv =3.775 (94.369%), yang keduanya dikategorikan sebagai Sangat Layak. Proyek ini menunjukkan bahwa integrasi survei MBES definisi tinggi, visualisasi tiga dimensi, dan WebGIS Storymap yang dapat diakses publik dapat mendukung dokumentasi arkeologi bawah air, penelitian, pendidikan, pengambilan keputusan pemerintah, dan pengembangan ekowisata bahari.