📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 101,300 dokumenPEMODELAN INVERSI 3D ANOMALI TIME-LAPSE MICROGRAVITY MENGGUNAKAN METODE STOKASTIK PADA LAPANGAN “ARUNIKA
Aktivitas produksi hidrokarbon menyebabkan perubahan distribusi fluida reservoir yang berdampak pada perubahan massa bawah permukaan, yang dapat dipantau menggunakan metode time-lapse microgravity (TLM) karena metode ini sensitif terhadap perubahan densitas. Penelitian ini bertujuan memodelkan distribusi perubahan densitas fluida reservoir pada Lapangan Arunika menggunakan inversi stokastik tiga dimensi, dengan tahap awal berupa pemodelan sintetik untuk tiga skenario mekanisme produksi, yaitu solution gas drive (???????? = ?0,015 ????/ ????????³), gas cap drive (???????? = ?0,0075 ????/????????³), dan water drive (???????? = +0,005 ????/????????³), yang selanjutnya diikuti oleh pengolahan dan inversi data anomali TLM lapangan. Hasil pemodelan sintetik menunjukkan bahwa perubahan densitas negatif menghasilkan anomali gravitasi negatif, sedangkan perubahan densitas positif menghasilkan anomali gravitasi positif. Pada data lapangan, peta anomali TLM menunjukkan nilai sekitar ?0,0030 hingga +0,0009 mGal dan didominasi oleh anomali negatif. Hasil inversi stokastik menunjukkan perubahan densitas minimum sebesar ?0,063036 g/cm³, maksimum sebesar +0,047953 g/cm³, rata-rata sebesar ?0,001463 g/cm³, dan simpangan baku sebesar 0,006996 g/cm³, dengan nilai rata-rata negatif yang mengindikasikan dominasi penurunan densitas bawah permukaan, sejalan dengan pola anomali gravitasi negatif pada data lapangan. Nilai misfit menurun dari sekitar 0,045 mGal menjadi 0,018–0,021 mGal dan relatif stabil hingga akhir iterasi. Distribusi perubahan densitas negatif terutama terlihat pada kedalaman 450 m dan 550 m, dan overlay dengan data sumur produksi menunjukkan bahwa beberapa sumur berproduksi tinggi berada dekat dengan zona densitas negatif, yang mengindikasikan bahwa zona perubahan densitas negatif berkaitan dengan deplesi fluida reservoir akibat aktivitas produksi hidrokarbon.
ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN BERBASIS KOMUNITAS :STUDI KASUS PROGRAM KAMPUNG IKLIM (PROKLIM) DI KAMPUNG CIBUNUTDAN KAMPUNG TAKAKURA SUKAMISKIN, KOTA BANDUNG
Program Kampung Iklim (ProKlim) kerap dihadapkan pada ancaman ketergantungan proyek (project dependency) pasca-pendampingan eksternal. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan model keberlanjutan ProKlim pasca-predikat Lestari di kawasan perkotaan yang dibedakan oleh fondasi sosialnya, yakni Kampung Cibunut (stabil-homogen) dan Kampung Takakura (dinamis-heterogen) di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus komparatif. Analisis dilakukan menggunakan kerangka Community-Based Environmental Management (CBEM), tipologi sosiologi (Gemeinschaft-Gesellschaft), serta konsep modal sosial (bonding, bridging, linking). Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi, yang didukung oleh data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan capaian administratif tertinggi belum menjamin ketangguhan substantif yang seragam akibat perbedaan tipologi sosial. Di Kampung Cibunut, keberlanjutan berakar pada ikatan paguyuban dan bonding capital yang melahirkan "gotong royong emosional" serta inovasi subsisten, namun rentan akibat minimnya linking capital. Sebaliknya, Kampung Takakura merepresentasikan masyarakat patembayan yang digerakkan "profesionalitas rasional" purnatugas. Mereka sukses meretas pendanaan CSR skala besar lewat bridging dan linking capital, namun dibayangi ancaman krisis regenerasi kultural dan mentalitas transaksional warga. Studi ini menyimpulkan bahwa tidak ada model tunggal (one-size-fits-all) untuk keberlanjutan iklim perkotaan. Resiliensi sejati menuntut keseimbangan kapasitas struktural dan kohesi sosial. Sebagai solusi, direkomendasikan "Model Keberlanjutan Iklim Urban Berbasis Adaptasi Karakter" yang mencakup reorientasi penilaian kontekstual, peran pemerintah sebagai broker modal sosial, dan sistematisasi regenerasi.
PERENCANAAN HUNIAN VERTIKAL MELALUI KONSOLIDASI LAHAN VERTIKAL PERUMAHAN PUPR DI KAWASAN TOD LEBAK BULUS, JAKARTA SELATAN
Kawasan inti Transit Oriented Development Lebak Bulus di Jakarta Selatan memperlihatkan paradoks pemanfaatan ruang. Lokasi yang telah terlayani Moda Raya Terpadu, TransJakarta, dan akses jalan tol justru masih didominasi perumahan dinas Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dengan intensitas rendah, sementara harga hunian vertikal di sekitarnya mencapai Rp19 sampai Rp28 juta per meter persegi. Nilai lahan pada inti kawasan transit tidak lagi sesuai dengan pemanfaatan eksistingnya. Studi ini menata ulang aset negara seluas 5,8 hektare melalui intensifikasi ruang yang menyisakan lahan untuk menyediakan hunian vertikal terjangkau bagi 63 keluarga penyewa, 18 squatters, dan 159 keluarga aparatur sipil negara, tanpa pembebasan lahan dan tanpa menghilangkan hak tinggal mereka. Kebaruan studi terletak pada penerapan internalisasi kenaikan nilai lahan (land value capture) untuk peremajaan rumah dinas berstatus Barang Milik Negara dengan pola kepemilikan majemuk di kawasan transit, berbeda dengan peremajaan kolektif yang umumnya dibahas pada lahan privat bernilai tinggi. Studi bertujuan merancang ulang penggunaan lahan kawasan perumahan PUPR agar sesuai dengan nilai lahannya melalui konsolidasi lahan sesuai prinsip perancangan kawasan berorientasi transit. Pendekatan bersifat deskriptif deduktif dengan desain metode campuran convergent parallel serta metode perancangan fragmental. Data primer dihimpun melalui observasi lapangan dan wawancara semi terstruktur terhadap empat narasumber, sedangkan data sekunder berasal dari dokumen tata ruang, citra satelit bangunan, serta data kependudukan dan kepemilikan lahan. Analisis dilaksanakan berjenjang, mencakup identifikasi kondisi kawasan, perhitungan konsolidasi lahan melalui dua pendekatan, simulasi kelayakan finansial melalui arus kas terdiskonto selama 42 tahun, serta penerjemahan delapan elemen perancangan kota menjadi rancangan kawasan. Hasil identifikasi menunjukkan dominasi Barang Milik Negara sebesar 68,2 persen sehingga konsolidasi berlangsung dengan akuisisi minimum. Konsolidasi lahan menghasilkan kebutuhan 344 unit hunian yang mengakomodasi seluruh kelompok penghuni. Sebanyak 97,30 persen pemilik perorangan berstatus surplus sehingga apartemennya bersifat swadana dan tidak menambah beban pinjaman pemerintah.iv Uji kelayakan finansial pada tingkat diskonto 18 persen menghasilkan nilai bersih sekarang positif, yaitu Rp45,50 miliar tanpa pinjaman dan Rp66,45 miliar pada rasio pinjaman 80 persen, dengan rasio penutupan layanan utang di atas satu sejak tahun pertama dan pelunasan pinjaman pada tahun 2043. Pada aspek kelembagaan, struktur dua badan berupa Badan Layanan Umum untuk hunian sewa milik negara dan perseroan terbatas khusus untuk kawasan komersial dinilai paling seimbang, sedangkan rancangan kawasan mencapai Koefisien Lantai Bangunan 6,60 hingga 9,90 dengan fungsi campuran serta jaringan pejalan kaki dan ruang terbuka menerus menuju simpul transit.
ANALISIS LAJU ANGKUTAN SEDIMEN SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP EROSI TIKUNGAN DAN PERUBAHAN MORFOLOGI SUNGAI PADA RUAS HILIR SUNGAI BENENAIN PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Sungai Benenain merupakan sungai dengan karakteristik morfologi yang dinamis akibat interaksi antara aliran, angkutan sedimen, dan geometri alur. Pada ruas hilir, kelengkungan sungai menyebabkan distribusi energi aliran yang tidak seragam sehingga memengaruhi proses erosi dan deposisi, khususnya pada tikungan sungai. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju angkutan sedimen dan implikasinya terhadap perubahan dasar sungai serta erosi pada tikungan, sekaligus mengevaluasi skenario penanganan yang sesuai dengan karakteristik hidrodinamika dan morfologi lokal. Analisis dilakukan pada ruas hilir Sungai Benenain sepanjang ±5,96 km selama periode 2019–2023 menggunakan formulasi angkutan sedimen Van Rijn serta pemodelan hidrodinamika dan morfologi satu dimensi (1D) dan dua dimensi (2D) dengan HEC-RAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan debit dari 1,5 m³/det menjadi 100 m³/det meningkatkan laju angkutan sedimen total dari 0,007715 ton/hari menjadi 868,882805 ton/hari, dengan dominasi angkutan sedimen dasar. Peningkatan kecepatan dan tegangan geser juga diikuti oleh degradasi dasar hingga ?0,7621 m, yang menunjukkan keterkaitan antara energi aliran, mobilisasi sedimen, dan perubahan morfologi sungai. Pada tiga tikungan kritis, perbedaan geometri alur menghasilkan distribusi kecepatan, tegangan geser, serta zona erosi–deposisi yang berbeda. Evaluasi skenario menunjukkan bahwa kombinasi krib–revetment lebih sesuai diterapkan pada Tikungan 1 dan Tikungan 2, sedangkan revetment lebih sesuai pada Tikungan 3. Skenario tersebut mampu mengurangi konsentrasi energi aliran pada tebing luar dan menghasilkan respons perubahan dasar yang lebih terkendali. Hasil penelitian menegaskan bahwa penanganan erosi tikungan tidak dapat diterapkan secara seragam, tetapi perlu ditentukan berdasarkan keterkaitan antara angkutan sedimen, karakteristik hidrodinamika, dan respons morfologi lokal pada setiap tikungan.
PERANCANGAN PERPUSTAKAAN DAERAH KOTA MAGELANG SEBAGAI JEMBATAN SOSIAL DI ERA DIGITAL
Perpustakaan berperan sebagai pusat pembelajaran, penyedia informasi, serta ruang publik yang mendukung perkembangan intelektual masyarakat. Dalam konteks masyarakat kontemporer, perpustakaan tidak lagi dipahami semata sebagai tempat membaca, melainkan sebagai ruang yang mewadahi aktivitas belajar, interaksi sosial, dan pertukaran pengetahuan secara inklusif bagi pengguna lintas usia dan latar belakang. Transformasi ini menuntut perpustakaan untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan pengguna, khususnya di era digital yang menekankan fleksibilitas ruang dan keberagaman aktivitas. Permasalahan literasi yang masih rendah sering kali diposisikan sebagai keterbatasan kemampuan individu atau minimnya minat baca masyarakat. Namun, pendekatan tersebut cenderung mengabaikan faktor lingkungan belajar yang berperan besar dalam membentuk pengalaman literasi. Kualitas ruang, ketersediaan fasilitas, kenyamanan, serta relevansi layanan perpustakaan menjadi aspek penting yang mempengaruhi sejauh mana masyarakat terdorong untuk memanfaatkan perpustakaan secara berkelanjutan. Dengan demikian, persoalan literasi tidak dapat dilepaskan dari kualitas dan kesiapan fasilitas perpustakaan sebagai sarana pendukung utama. Kesenjangan dalam pemenuhan fasilitas perpustakaan berpotensi menurunkan efektivitas fungsi perpustakaan sebagai ruang belajar dan ruang publik. Ketidaksesuaian antara kebutuhan pengguna dengan fasilitas yang tersedia dapat membatasi ragam aktivitas literasi, kolaborasi, dan interaksi sosial yang seharusnya dapat difasilitasi oleh perpustakaan modern. Kondisi ini menegaskan bahwa peningkatan literasi masyarakat perlu diawali dengan perbaikan kualitas ruang dan fasilitas perpustakaan, bukan semata-mata berfokus pada perubahan perilaku pengguna. Dalam konteks tersebut, Perpustakaan Kota Magelang menjadi contoh kasus yang relevan untuk dikaji, mengingat tingginya jumlah pengguna yang memanfaatkan perpustakaan ini belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan dan kualitas fasilitas yang memadai. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara kondisi fasilitas perpustakaan dengan pengalaman pengguna serta efektivitas fungsi perpustakaan dalam mendukung kegiatan literasi. Diharapkan kajian ini dapat memberikan landasan pemikiran bagi pengembangan dan peningkatan kualitas fasilitas Perpustakaan Kota Magelang agar mampu berfungsi secara optimal sebagai ruang literasi dan ruang publik yang inklusif.
KAJIAN DINAMIKA INTERMEDIASI NEGARA DALAM PEMBANGUNAN IKM MANUFAKTUR: STUDI KASUS PERKAMPUNGAN INDUSTRI KECIL PULO GADUNG
Penelitian ini mengkaji dinamika intermediasi negara dalam pembangunan IKM (Industri Kecil Menengah) manufaktur khususnya di subsektor industri otomotif di Indonesia melalui studi kasus Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulo Gadung, Jakarta. PIK yang diresmikan pada tahun 1982, yaitu era orde baru, pernah menjadi ikon kebijakan pembinaan industri kecil nasional, namun mengalami kemunduran tajam pasca-reformasi 1998. Penelitian ini berargumen bahwa kemunduran PIK sebagai kawasan industri yang diperuntukkan khusus industri kecil menengah ini, bukan disebabkan oleh kegagalan model kawasan industri kecil itu sendiri, melainkan oleh runtuhnya arsitektur kelembagaan yang memungkinkan negara menjalankan fungsi intermediasi secara efektif. Fungsi intermediasi dimaksud berbicara mengenai elemen fungsional yang seharusnya ada di kawasan industri buatan, yaitu antara lain agregasi pengetahuan antar pelaku IKM, fasilitasi jaringan antara IKM dengan industri besar dan program pemerintah, serta koordinasi lintas sektor yang menghubungkan kebijakan nasional dengan eksekusi di tingkat kawasan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus tunggal dan kerangka analisis Multi-Level Perspective (MLP), penelitian ini menelusuri transisi kawasan industri PIK dari era Orde Baru hingga pasca-reformasi melalui wawancara semi-terstruktur dengan pelaku IKM dan pengelola kawasan yaitu UPK PPUKMP (Unit Pengelola Kawasan Pusat Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah Serta Pemukiman), serta penelusuran dokumen historis dan literatur akademik. Analisis MLP menunjukkan bahwa terdapat dua tekanan lanskap yang bekerja secara simultan, yaitu liberalisasi ekonomi yang didorong WTO (World Trade Organization)/IMF (International Monetary Fund) dan desentralisasi melalui UU No. 22 Tahun 1999, menyebabkan runtuhnya mekanisme koordinasi hierarkis yang selama ini menjadi tulang punggung fungsi intermediasi negara. Ketika BPLIP (Badan Pengelola Lingkungan Industri dan Permukiman) digantikan oleh unit dengan kapasitas dan otoritas yang lebih terbatas, kawasan industri PIK kehilangan aktor kelembagaan yang mampu menjembatani IKM dengan industri besar, program pemerintah, dan rantai pasok otomotif. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya celah struktural antara mandat nasional yaitu salah satunya pada Kementerian Perindustrian dan kewenangan eksekusi Pemerintah Daerah yang tidak diisi oleh mekanisme koordinasi yang memadai. Sebagai pengalaman komparatif, penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis elemen kelembagaan dalam konteks pembangunan IKM yaitu dari Thailand, Malaysia, dan China untuk menunjukkan bahwa efektivitas pembinaan IKM bergantung bukan pada banyaknya program, melainkan pada keberadaan aktor intermediari yang secara eksplisit dirancang untuk menjembatani mandat nasional dengan eksekusi di tingkat kawasan. Penelitian ini merekomendasikan redesain fungsi UPK PPUKMP sebagai lembaga perantara yang fleksibel, pembangunan platform koordinasi lintas kewenangan, dan penunjukan orkestrator tunggal dalam pembinaan IKM manufaktur. Kebaruan konseptual pada penelitian ini terletak pada penempatan definisi kawasan industri PIK pada tujuan awalnya yaitu sebagai arena intermediasi negara dalam suatu rangkaian kebijakan pembangunan IKM. berangkat dari situ, penelitian ini melihat pergeseran yang terjadi sampai pada kondisi hari ini. Selain itu, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan literatur tentang kebijakan industri dan pembangunan IKM di Indonesia, khususnya dengan mengisi celah analitik mengenai bagaimana perubahan arsitektur kelembagaan di level makro berdampak pada mekanisme intermediasi yang bekerja secara konkret di level kawasan industri kecil. Selain itu, melalui pengalaman komparatif Thailand, Malaysia, dan China, penelitian ini turut berkontribusi pada diskusi mengenai keragaman lintasan pembangunan industri di Asia dengan menunjukkan bahwa efektivitas pembinaan IKM sangat dipengaruhi oleh konfigurasi kelembagaan yang spesifik pada masing-masing konteks nasional. Dalam konteks Indonesia, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pelemahan aktor intermediari di tingkat kawasan menjadi salah satu faktor penting yang membedakan lintasan pembangunan IKM manufaktur Indonesia dari negara-negara pembanding.
PERANCANGAN SPESIFIKASI TEKNIS BANTAL PREMIUM BERDASARKAN FAKTOR PENILAIAN KONSUMEN PADA ULASAN DARING
Pasar bantal premium di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas tidur. Dalam mengembangkan produk bantal premium, perusahaan perlu memahami kebutuhan konsumen secara akurat agar spesifikasi produk yang dirancang mampu memenuhi ekspektasi pasar. Namun, proses identifikasi kebutuhan konsumen umumnya dilakukan melalui survei atau wawancara yang memerlukan waktu dan biaya yang relatif besar. Penelitian ini bertujuan merancang spesifikasi teknis bantal premium bagi KWALA berdasarkan faktor penilaian konsumen yang diperoleh dari ulasan daring. Penelitian menggunakan pendekatan data mining dan pengembangan produk. Data berupa ulasan daring produk bantal premium dikumpulkan dari media e-commerce dan diolah melalui tahapan CRISP-DM. Identifikasi kebutuhan konsumen dilakukan menggunakan pemodelan topik latent Dirichlet allocation (LDA), sedangkan tingkat kepentingan kebutuhan dihitung menggunakan metode TF-MONO. Selanjutnya, kebutuhan konsumen diterjemahkan menjadi spesifikasi teknis melalui quality function deployment (QFD) fase I atau house of quality (HoQ). QFD fase II dan TRIZ digunakan untuk menghasilkan alternatif konsep produk yang kemudian dievaluasi menggunakan Pugh chart. Konsep terpilih divalidasi melalui analisis implementasi dan pengukuran intensi pembelian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling memengaruhi penilaian konsumen terhadap bantal premium adalah kenyamanan, keempukan, ukuran, kelembutan, dan ketebalan. Faktor kenyamanan memiliki bobot kepentingan tertinggi sebesar 1,52, diikuti keempukan sebesar 0,75. Proses QFD menghasilkan 13 engineering characteristics yang menjadi dasar penyusunan spesifikasi teknis produk. Spesifikasi utama yang diusulkan meliputi rata-rata tekanan 1185,58 Pa, kedalaman indentasi 14,10 cm, kenaikan temperatur maksimum 1,70°C, indentation force deflection 7,60 N, denier 0,8 den, dimensi 70 cm × 50 cm, permukaan 300 thread count, koefisien gesek statis 0,55, ketebalan 22,20 cm, berat isi 1800 gram, dan loft retention 92%. Evaluasi konsep menghasilkan dua alternatif yang layak diimplementasikan. Konsep utama menggunakan cover Tencel Lyocell bermotif strip horizontal dan filling gel-coated microfiber, dengan 75% responden memiliki intensi membeli. Konsep alternatif juga dirancang menggunakan cover cotton 300TC strip horizontal untuk meminimalisir kenaikan biaya material. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan ulasan daring dapat digunakan secara efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan menghasilkan spesifikasi teknis lebih sesuai dengan preferensi pasar
NIMA: SEBUAH PUSAT PROMOSI DAN BUDIDAYA PERIKANAN DI TEPI WADUK DARMA
Waduk Darma di Kabupaten Kuningan merupakan kawasan perairan multifungsi yang berperan sebagai sumber irigasi, destinasi wisata, sekaligus sentra budidaya perikanan air tawar melalui lebih dari 6.500 unit Keramba Jaring Apung (KJA). Potensi tersebut belum didukung oleh fasilitas yang mampu mengintegrasikan aktivitas produksi perikanan, mitigasi risiko budidaya, serta kegiatan wisata dan edukasi. Di sisi lain, fenomena upwelling (umbalan) yang terjadi secara berkala menyebabkan penurunan kualitas air dan kematian ikan secara massal sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi para pembudidaya. Infrastruktur pascapanen, logistik, dan ruang publik yang tersedia juga masih terbatas sehingga belum mampu meningkatkan nilai tambah hasil perikanan maupun kualitas pengalaman wisata kawasan. Tugas akhir ini mengusulkan NIMA (Adaptive Fishery Hub) sebagai sebuah pusat promosi dan budidaya perikanan di tepi Waduk Darma yang berfungsi sebagai titik temu antara aktivitas ekonomi, sosial, dan ekologi. Perancangan menggabungkan tiga fungsi utama, yaitu fasilitas Pusat Pemasaran dan Promosi Hasil Perikanan (P3HP), pusat penyelamatan ikan berbasis Recirculating Aquaculture System (RAS) yang didukung sistem pemantauan kualitas air, serta ruang publik dan wisata edukatif yang memperlihatkan proses budidaya dan pengolahan hasil perikanan secara aman tanpa mengganggu operasional. Pendekatan perancangan menggunakan Concept-Based Approach dengan konsep Adaptive Confluence, yang memaknai bangunan sebagai antarmuka antara manusia dan alam, air dan daratan, serta aktivitas produksi dan rekreasi dalam satu ekosistem yang adaptif terhadap perubahan lingkungan. Konsep tersebut diwujudkan melalui strategi pemisahan sirkulasi publik dan logistik, penerapan alur pengolahan yang higienis, respons terhadap fluktuasi muka air waduk, serta pembentukan ruang transisi yang memungkinkan interaksi visual antara pengunjung dan aktivitas perikanan. Massa bangunan disusun mengikuti karakter tapak dan orientasi terbaik ke arah waduk untuk memperkuat hubungan visual dengan lanskap sekaligus mendukung efisiensi operasional. Hasil perancangan menghadirkan sebuah fasilitas terpadu yang tidak hanya meningkatkan efisiensi rantai pasok dan nilai tambah produk perikanan, tetapi juga memperkuat ketahanan sektor budidaya terhadap fenomena upwelling melalui sistem mitigasi berbasis teknologi. Di sisi lain, proyek ini membangun identitas baru kawasan Waduk Darma sebagai destinasi wisata edukatif yang menghubungkan masyarakat, nelayan, dan wisatawan dalam pengalaman ruang yang informatif, interaktif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, NIMA diharapkan menjadi model pengembangan kawasan perikanan tepi waduk yang mampu mengintegrasikan produktivitas ekonomi, pelestarian lingkungan, dan penguatan kualitas ruang publik.
CLIMATE CHANGE SCIENCE CENTER: PERANCANGAN SARANA EDUKASI PERUBAHAN IKLIM DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU DI KOTA BANDUNG
Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata pada daerah tertentu dalam jangka waktu yang panjang. Perubahan pada iklim dapat terjadi secara alamiah karena perubahan aktivitas matahari dan kejadian luar biasa pada alam, seperti bencana. Sejak 1800-an, aktivitas manusia menjadi faktor utama perubahan iklim. Kegiatan ini menghasilkan gas-gas yang membuat lapisan seperti penahan yang menghalau sinar matahari untuk terpantul keluar bumi. Akibatnya, sinar matahari terperangkap dan suhu bumi meningkat. Perubahan suhu rata-rata ini memicu perubahan lain pada bumi, termasuk iklim. Konsekuensi dari perubahan iklim sudah cukup terlihat saat ini, tidak hanya pada keadaan lingkungan, tapi juga pada kualitas kehidupan manusia. Berdasarkan survei oleh Peoples’ Climate Vote 2024 oleh University of Oxford dan GeoPoll, 60% responden merasa lebih khawatir terhadap perubahan iklim daripada tahun sebelumnya dan 54% merasa membutuhkan pembelajaran yang lebih banyak mengenai perubahan iklim. Pengetahuan masyarakat terhadap perubahan iklim adalah hal yang baik. Namun, masih banyak lapisan masyarakat yang tidak mengetahui usaha apa yang harus diambil untuk menghadapi perubahan iklim. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang untuk mengambil tindakan demi menjaga kestabilan iklim. Untuk menjawab permasalahan ini, dibutuhkan edukasi mengenai perubahan iklim yang terbuka untuk semua orang sebagai salah satu langkah menghadapi ancaman iklim global. Selain itu, sebagai upaya mengatasi perubahan iklim, perlu ada usaha dalam menerapkan sistem ramah lingkungan dalam perancangan bangunan. Proyek ini merupakan desain dari sarana edukasi informal berbasis ekshibisi sebagai upaya peningkatan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap isu perubahan iklim dan upaya reduksi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan bangunan melalui penerapan arsitektur hijau. Ekshibisi utama pada bangunan didesain untuk menyampaikan penyebab dan akibat dari perubahan iklim pada setiap elemen yang ada di bumi. Alur ekshibisi menggunakan konsep ‘Freedom-to-Wonder’. Dengan konsep ini, pengunjung bebas untuk mengunjungi setiap bagian ekshibisi. Setiap bagian ekshibisi terhubung untuk menciptakan aliran sirkulasi yang mengalir secara alami. Sebagai upaya menghadapi perubahan iklim, proyek ini menggunakan pendekatan arsitektur hijau, seperti integrasi solar panel, daur ulang air hujan, penggunaan sistem penghawaan ramah lingkungan, pemilihan material, roof garden, dan rain garden untuk menyerap air hujan di kawasan proyek. Design framework yang digunakan dalam merancang proyek ini adalah concept-based design. Proyek ini terletak di Jl. Ir. H. Juanda, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung dengan luas tanah ±10.000 m2. Metode yang digunakan untuk mendukung perancangan bangunan ini adalah studi literatur, studi preseden, dan analisis perilaku pengguna. Proyek ini menjawab SDGs No. 4: Quality Education, No. 7: Affordable and Clean Energi, dan No. 13: Climate Action. Proyek ini diharapkan bisa meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai iklim saat ini melalui ekshibisi interaktif dan terlibat secara langsung dalam upaya mengurangi dampak buruk pemanasan global dan perubahan iklim.
PENGARUH STRUKTUR SPASIOTEMPORAL IRADIASI PROTON TERHADAP YIELD SPESIES RADIOLISIS AIR MELALUI SIMULASI MONTE CARLO TOPAS-NBIO
Terapi proton FLASH pada laju dosis ultra-tinggi (UHDR, ?40 Gy/s) dilaporkan menurunkan toksisitas jaringan normal tanpa mengorbankan kontrol tumor, namun mekanisme radiokimianya masih belum sepenuhnya dipahami. Penelitian ini mengkaji bagaimana struktur spasial jejak proton dan struktur temporal berkas memodulasi dinamika radikal, dengan membandingkan skema FLASH dan konvensional. Simulasi radiokimia Monte Carlo berbasis track-structure dilakukan menggunakan TOPAS-nBio dengan pendekatan Independent Reaction Time (IRT). Berkas proton monoenergetik 100 MeV dimodelkan dalam air cair melalui dua tahap. Tahap spasial mengkarakterisasi jejak proton dan distribusi radial spesies dalam target bola berjari-jari 5 µm pada empat waktu cut-off (10 ps–10 ms) melalui dimensi radial jejak R90, yaitu jari-jari yang melingkupi 90% spesies. Tahap temporal membandingkan skema konvensional (1.000 pulsa, 1 Gy/s) dan FLASH (10 pulsa, 100 Gy/s) pada dosis total identik 10 Gy, dengan analisis sensitivitas memvariasikan interval pulsa (1 s–1 µs) dan lebar pulsa (10 ps–10 ms). G-value (molekul/100 eV) untuk ???????????? ? , •OH, dan H?O? dievaluasi. R90 meningkat dari ~0,09 µm pada 10 ps menjadi >3 µm pada 10 ms, membatasi rentang waktu terjadinya tumpang tindih inter-track. Pada skema FLASH, G-value akhir (plateau) •OH dan ???????????? ? menurun menjadi 1,47 dan 1,35 dibandingkan 2,07 dan 2,08 pada konvensional (penurunan 28,7% dan 35,1%), sementara G(H?O?) meningkat 7,68%. Interval pulsa sangat pendek (~1 µs) mendorong akumulasi radikal antarpulsa. Hasil ini menunjukkan bahwa struktur spasial jejak dan struktur temporal berkas sama-sama mengatur evolusi radiokimia, pemadatan temporal pada skema FLASH menekan yield radikal reaktif dibandingkan konvensional.
SAPA LAMORA: LEMBAGA REHABILITASI NON-KUSTODIAL MELALUI ARSITEKTUR REHABILITATIF BAGI ANAK BERHADAPAN DENGAN HUKUM (ABH-PELAKU) DI KOTA BANDUNG
Penanganan Anak Berhadapan dengan Hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) telah bergeser dari pendekatan “Retributive Justice” menjadi “Restorative Justice” yang berarti penegakan hukum sebagai media pemulihan hubungan antara pelaku dengan korban, bukan sekadar pemidanaan dengan tetap mempertimbangkan hak-hak pelaku maupun korban. Namun, perubahan tersebut tidak didukung dengan fasilitas sesuai standar “Restorative Justice”. Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH-Pelaku) saat ini ditempatkan di LPKA Bandung (Lembaga Pembinaan Khusus Anak) yang berlokasi di Jl. Pacuan Kuda No.3, Sukamiskin, Kec. Arcamanik, Kota Bandung. LPKA tersebut menampung seluruh anak yang terlibat tindak pidana di Jawa Barat. Mirisnya, provinsi besar seperti Jawa Barat dengan jumlah ABH-Pelaku yang terhitung cukup banyak hanya memiliki satu LPKA. Saat ini, LPKA Kota Bandung sudah melebihi kapasitas seharusnya yang dapat ditampung. Di sisi lain, LPKA tersebut masih bersifat kustodial yang menyerupai penjara konvensional dengan terdapat strap sel dan ornamen-ornamen jeruji besi di area lapas. Dalam hal ini, bidang arsitektur turut andil untuk membantu proses pemulihan ABH-Pelaku melalui bangunan SAPA LAMORA, yaitu Lembaga Rehabilitasi Non-Kustodial melalui Arsitektur Rehabilitatif. Bangunan ini mengusung topik design for inclusivity dengan berfokus pada proses rehabilitasi baik secara pasif maupun aktif untuk mempersiapkan anak kembali ke masyarakat dan menghilangkan dendam antara pelaku dengan korban. Di samping itu, proyek ini menjawab SDG nomor 10, yaitu Reduced Inequalities dan SDG nomor 16, yaitu Peace, Justice, and Strong Institutions. Metode yang digunakan untuk perancangan proyek ini ialah studi literatur, observasi lapangan, analisis komparatif, serta benchmarking. Pada akhirnya, yang ingin dicapai melalui proyek ini ialah peningkatan kualitas diri baik secara fisik, mental, jasmani, maupun rohani bagi ABH-Pelaku sehingga tidak muncul trauma kepada anak dan anak bisa bebas dalam kondisi siap menjalani kehidupan dengan dibekali keterampilan dan pengetahuan, serta diterima oleh masyarakat dengan baik. Melalui proyek ini, diharapkan hilangnya dendam antara pelaku, korban, maupun pihak-pihak lain yang terlibat sehingga potensi residivisme dapat diminimalisir. Hasil studi akan dituangkan dalam bentuk model desain dan konsep yang dapat memvisualisasikan solusi rehabilitasi yang inklusif dan suportif bagi ABH-Pelaku di Kota Bandung.
PENERAPAN TEKNIK SAINS DATA DALAM PROSES IDENTIFIKASI KAWASAN TERDUGA KUMUH DI KOTA BANDUNG
Pendataan kawasan kumuh memerlukan data spasial yang akurat dan mutakhir dalam mendukung perencanaan serta penanganan yang tepat sasaran. Namun, proses identifikasi kawasan kumuh masih menghadapi tantangan berupa ketepatan data, konsistensi definisi, dan keterbatasan pemantauan perubahan kondisi kawasan secara berkala. Keterbatasan ini berdampak pada efektivitas perencanaan dan penentuan priortas penanganan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun model deteksi kawasan terduga kumuh berbasis Convolutional Neural Network (CNN), mengidentifikasi karakteristik morfologi kawasan kumuh, serta menganalisis distribusi spasialnya di Kota Bandung. Model dikembangkan menggunakan pendekatan transfer learning ResNet50V2 dengan data citra satelit resolusi tinggi yang diproses melalui teknik tiling. Selain itu, penelitian ini merupakan bagian dari memperkuat framework konsep U-DEVELOP yang berfungsi sebagai tahap awal dalam mendukung peningkatan kualitas permukiman kumuh dengan bantuan AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model memiliki performa yang baik dengan nilai akurasi 88,18%, F1-score 87,79%, dan AUC 0,9512. Analisis Grad-CAM menunjukkan bahwa model mampu mengenali karakteristik morfologi kawasan kumuh berupa kepadatan bangunan tinggi, ketidakteraturan pola permukiman, heterogenitas tekstur, variasi atap bangunan, dan minimnya ruang terbuka. Secara spasial, kawasan terdeteksi cenderung terkonsentrasi pada sempadan sungai, rel kereta api, dan sekitar pusat kota. Hasil validasi lapangan menunjukkan kesesuaian yang baik antara hasil deteksi dan kondisi eksisting. Temuan ini menunjukkan bahwa CNN berpotensi digunakan sebagai alat deteksi awal kawasan terduga kumuh secara cepat, sistematis, dan berbasis karakteristik spasial lokal.
REINTEGRATING THE SEA AND THE CITY: MERAK PORT AS A WATERFRONT TRANSIT HUB FOR MOBILITY AND PUBLIC LIFE
Transformasi kawasan pelabuhan sebagai pintu gerbang kota menghadirkan peluang untuk mengintegrasikan fungsi transportasi, ruang publik, dan identitas kultural dalam satu lanskap arsitektural yang inklusif. Studi ini berfokus pada Pelabuhan Merak di Cilegon, Banten, sebagai simpul mobilitas strategis yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatra, sekaligus salah satu pelabuhan penumpang tersibuk di Indonesia dengan arus pergerakan harian yang sangat dinamis. Secara potensial, pelabuhan ini dapat memperkuat interkonektivitas regional, mempercepat perputaran ekonomi, serta menjadi ruang interaksi sosial yang berkelanjutan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa peran pelabuhan masih terfokus pada aspek transportasi teknis, sementara kebutuhan dasar pengguna, kenyamanan, dan kualitas sirkulasi antar moda belum terakomodasi dengan baik. Kondisi seperti jarak yang jauh antara Stasiun Merak, terminal penumpang, drop-off point, pool travel-bus, dan dermaga, seringkali menimbulkan pergerakan tidak efisien, mengurangi kualitas pengalaman pengguna dan membatasi aksesibilitas masyarakat. Situasi ini menegaskan pentingnya reposisi fungsi pelabuhan sebagai ruang publik yang inklusif, efisien, dan terhubung dengan kota. Tugas akhir ini mengarahkan pengembangan terminal penumpang di Pelabuhan Merak bertransformasi menjadi waterfront transit hub yang tidak hanya memusatkan sirkulasi manusia dalam jaringan transportasi laut, darat, dan rel, tetapi juga memperluas fungsi terminal penumpang menjadi ruang publik multi-fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh penumpang reguler, penumpang eksekutif, pelaku usaha lokal, maupun masyarakat umum. Pendekatan arsitektural dirumuskan dengan merespons tekanan sosial, ekonomi, dan ekologis yang bekerja pada kawasan pesisir, serta diperkaya dengan prinsip biophilic design untuk menghadirkan integrasi elemen alam dalam pengalaman ruang yang sehat, nyaman, dan terhubung dengan laut. Melalui pendekatan ini, rancangan tidak hanya menawarkan solusi atas aksesibilitas, inklusivitas, dan konektivitas antar moda, tetapi juga mendorong transformasi Pelabuhan Merak dari sekadar infrastruktur transportasi menjadi ruang publik waterfront yang hidup, tangguh menghadapi fluktuasi kepadatan penumpang, dan berkontribusi pada terwujudnya lingkungan perkotaan yang lebih adil, inklusif, serta berkelanjutan.
PUSAT REHABILITASI SOSIAL GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU BERBASIS RUMAH SINGGAH DI PARONGPONG, JAWA BARAT
Proses pemulihan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) memerlukan waktu yang cukup panjang. Dalam fase pasca-rawat di Rumah Sakit Jiwa, keluarga sering kali memiliki resiliensi yang rendah dalam menerima kembali anggota keluarganya. Kondisi ini dapat menyebabkan ODGJ kambuh akibat lingkungan yang tidak mendukung serta lemahnya pengawasan keluarga. Menanggapi hal tersebut, tugas akhir ini mengangkat topik perancangan rumah singgah bagi ODGJ sebagai fasilitas transisi yang berfungsi menjembatani proses pemulihan dari RSJ menuju kehidupan bermasyarakat. Keberadaan rumah singgah menjadi penting sebagai wadah antara yang mampu memberikan pengawasan, pendampingan, dan penguatan fungsi sosial sebelum ODGJ kembali hidup mandiri. Topik ini dipilih karena relevansinya dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya panel design for inclusivity, yang menekankan pentingnya peningkatan kualitas kesehatan mental masyarakat sekaligus mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap kelompok marjinal melalui penyediaan infrastruktur sosial yang inklusif. Hal tersebut berkaitan dengan pencapaian SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 10 (Reduced Inequalities), dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities). Permasalahan yang diidentifikasi mencakup ODGJ pasca-rawat yang memerlukan rehabilitasi sosial serta pengawasan konsumsi obat, ODGJ korban pasung yang membutuhkan penanganan manusiawi, serta ODGJ terlantar yang belum memperoleh fasilitas penampungan layak. Selain itu, isu terkait praktik pasung di beberapa panti ODGJ juga menjadi pertimbangan dalam perancangan. Dengan demikian, rumah singgah dipilih sebagai tipologi bangunan karena dapat mengakomodasi fungsi rehabilitasi, pengasuhan, dan reintegrasi sosial dalam satu kesatuan. Perancangan menggunakan pendekatan healing environment dan therapeutic architecture, dengan prinsip menciptakan ruang yang menenangkan, aman, dan mendukung pemulihan psikologis pengguna. Tapak yang dipilih berlokasi di Jl. Pasirsereh, Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, dengan pertimbangan kebutuhan pengguna, prinsip humanis, serta jaraknya yang relatif dekat dengan RSJ Cisarua. Kerangka desain yang digunakan adalah force-based framework, yang menekankan identifikasi isu sosial sebagai dasar perancangan. Metode yang diterapkan meliputi studi literatur, observasi lapangan untuk memahami konteks kasus di Jawa Barat, serta analisis studi kasus sejenis di dalam maupun luar negeri sebagai acuan standar perancangan. Hasil yang diharapkan dari tugas akhir ini adalah rancangan rumah singgah yang adaptif dan inklusif yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah penampungan, tetapi juga sebagai sarana rehabilitasi sosial dan pemberdayaan.
PERANCANGAN LAMPU MEJA DENGAN TEKNIK COILING BAMBU TALI (GIGANTOCHLOAD APUS)
Bambu Tali Gigantochloa apus merupakan salah satu material alam yang telah lama dimanfaatkan secara luas di Indonesia dalam pembuatan berbagai produk fungsional. Kendati demikian, pemanfaatan material ini umumnya masih terbatas pada ranah konvensional, sehingga nilai ekonomi serta daya saingnya di pasar modern relatif rendah. Di sisi lain, Bambu Tali memiliki karakteristik fisik yang sangat unggul, terutama pada tingkat kelenturan serat dan elastisitas alaminya yang tinggi. Potensi keunggulan karakter material inilah yang melatarbelakangi penelitian ini untuk mengeksplorasi penerapan teknik coiling atau lilitan, sebuah metode pembentukan yang memanfaatkan fleksibilitas material, namun sejauh ini belum banyak dioptimalkan dalam pengembangan produk interior modern. Melalui metode eksperimentasi material dan eksplorasi bentuk, penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah produk lampu meja yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen pencahayaan, tetapi juga mampu meningkatkan nilai tambah material lokal. Pendekatan desain dilakukan dengan mengintegrasikan teknik manufaktur lokal yang adaptif ke dalam struktur produk modern. Proses perancangan melibatkan beberapa tahapan, mulai dari analisis karakteristik serat bambu, eksperimen modularitas teknik coiling, hingga perwujudan produk akhir yang memenuhi standar ergonomi, fungsionalitas, serta estetika visual. Hasil perancangan ini membuktikan bahwa integrasi antara material lokal dan inovasi teknik coiling mampu menghasilkan desain produk kontemporer yang memiliki nilai tinggi atau high-value design. Melalui pendekatan ini, produk yang dihasilkan berhasil menampilkan keunikan tekstur dan ekspresi visual yang modern tanpa kehilangan esensi nilai budaya materialnya. Eksplorasi ini diharapkan dapat memberikan tolok ukur baru bagi industri desain produk berbasis bambu di Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa material lokal mampu ditransformasikan menjadi produk gaya hidup modern kelas atas yang kompetitif di pasar global.